Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap individu merupakan bagian dari kelompok, karena didalam kelompok tersebut
ia dipengaruhi oleh orang lain dan oleh lingkungannya, namun sekaligus ia juga
mempengaruhi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Sehubungan dengan hal tersebut
kehadiran manusia lain merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk melestarikan hidupnya
dan mengembangkan diri. Karena dalam suatu kelompok individu selalu berkomunikasi
dan saling memberikan pengaruhnya kepada individu lain ditengah kelompoknya.
Berdasarkan hal tersebut peran kepemimpinan merupakan suatu hal yang penting dalam
rangka mengembangkan kelompok.

Kelompok menurut kartini Kartono (1994:98) dalam Trimiyati (2010:11) adalah


kumpulan yang terdiri dari dua atau lebih individu, dan kehadiran masing-masing individu
mempunyai arti serta nilai, dan ada dalam situasi saling mempengaruhi. Berdasarkan
penjelasan tersebut, maka unsur esensial didalam kelompok adalah saling ketergantungan
dengan anggota lainnya.Yaitu saling ketergantungan, dalam setiap individu harus bekerja
sama dengan orang lain, dan harus selalu mengingat keberadaan dan kepentingan orang lain.
Di dalam kelompok masing- masing anggota saling menjaga kekompakan.

Oleh karena individu dalam kelompok timbul suatu kekuatan saling pengaruh
mempengaruhi diantara sesama anggota dan pemimpin. Maka akan muncul dinamika
kelompok dalam wujud bermacam-macam usha dan tingkah laku. Untuk menggerakkan
dinamika kelompok tersebut dibutuhkan seseorang pemimpin yang berkualitas
kemampuannya dibandingkan anggota lainnya.

Secara sederhana, memimpin sama dengan mempengaruhi. Yang dipengaruhi adalah


diri sendiri (memimpin diri sendiri) atau orang lain. Kepemimpinan ditentukan oleh besar dan
kuatnya pengaruh. Oleh sebab itu, kepemimpinan tidak tergantung jabatan. Seseorang yang
tidak memiliki jabatan dapat saja pada kenyataannya adalah seorang pemimpin; sebaliknya
seorang yang punya jabatan, tetapi tidak memiliki pengaruh bukanlah pemimpin sejati.
Keterampilan kepemimpinan dan mengelola kelompok adalah kiat-kiat untuk mendapatkan
dan memperkuat pengaruh untuk mengarahkan anggotanya ke pencapaian tujuan bersama.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. KETERAMPILAN KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK

a. Definisi Kepemimpinan

Keberhasilan maupun kegagalan dari suatu organisasi, apakah perusahaan, lembaga


pemerintah, rumah sakit, ataupun organisasi sosial lainnya, akan selalu dikaitkan dengan
pemimpin dari organisasi dimaksud. Dengan kata lain, kepemimpinan merupakan unsur
kunci dalam menentukan efektivitas maupun tingkat produktifitas suatu organisasi.

Banyak definisi kepemimpinan yang dikemukakan para ahli, beberapa diantaranya


dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. K. Hemphill (dalam M. Thoha, 1996:227) dalam Trimiyati (2010:2)

Kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertindak yang menghasilkan suatu pola
yang konsisten dalam rangka mencari jalan pemecahan dari suatu persoalan
bersama.

2. Prof. Kimball Young (dalam Kartini Kartono, 1994:50) dalam Trimiyati (2010:3)
Kepemimpinan adalah bentuk dominasi didasari kemauan pribadi yang sanggup
mendorong atau mengajak orang lain unuk berbuat sesuatu, berdasarkan akseptasi
atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat
bagi situasi khusus.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat ditarik suatu pengertian bahwa kepemimpinan
merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi, menggeakkan, dan mengarahkan
tingkah laku orang lain atau kelompok untuk mencapai tujuan kelompok dalam situasi
tertentu.

b. Definisi Kelompok

Ada beberapa ahli yang mendefinisikan tentang kelompok, diantaranya :

1. Sherif dan Burgon (1978) dalam khairilusman (2008), memberikan batasan kelompok
sebagai suatu unit sosial dan organisme hidup yang menyerupai individu. Kelompok

2
adalah unit sosial yang terdiri dari sejumlah individu yang mempunyai hubungan
saling tergantung satu sama lain sesuai dengan status dan peranannya. Secara tertulis
atau tidak, mereka telah mengadakan norma yang mengatur tingkah laku anggota
kelompoknya.

2. Slamet Santosa (1992:75) dalam khairilusman (2008), kelompok adalah suatu unit
yang terdapat beberapa individu yag mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan
kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepi.

Kesimpulan dari kedua pendapat ahli tentang definisi kelompok adalah kelompok tidak
terlepas dari elemen keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

c. Keterampilan Kepemimpinan dalam kelompok

Pemimpin tidak sekedar cukup hanya bermodalkan rasa percaya diri dan pesona diri
yang hebat, tapi juga wajib bermodalkan keterampilan dasar kepemimpinan untuk bisa
menyatu dengan yang dipimpin. Berikut ini ada enam keterampilan yang perlu dimiliki setiap
orang untuk bisa memperkuat dasar-dasar kepemimpinan dirinya.

1. Keterampilan Presentasi.

Seorang pemimpin harus kreatif melakukan presentasi kepada


pengikutnya. Presentasi ini harus meliputi visi, misi, goal, action plan, dan fokus. Di
mana, dalam setiap presentasi pemimpin harus secara cerdas mampu
mentransformasikan nilai-nilai yang kuat dan positif kepada rencana tindakan yang
jelas. Pemimpin harus memanfaatkan keterampilan presentasi ini untuk
mengkomunikasikan dan meyakinkan kepada para pengikut, bawahan, tim, atau
kelompoknya tentang ide dan visi yang harus diperjuangkan bersama.

2. Keterampilan Membangun Tim Yang Kuat.


Pemimpin yang sesungguhnya adalah seorang pekerja tim. Jadi, keterampilan
membangun tim adalah keterampilan yang sangat strategis untuk mensukseskan
kepemimpinan yang sedang diperjuangkan tersebut. Pemimpin harus bersikap bijak
dan profesional dalam merakit sebuah tim yang tangguh dan dinamis. Pemimpin
harus menciptakan sebuah tim yang kreatif dan strategis untuk membangun kinerja
organisasi yang hebat. Pemimpin harus membangun tim yang mampu meningkatkan
3
rasa percaya diri organisasi untuk berprestasi secara maksimal. Ingat! Pemimpin
besar meraih hasil-hasil yang luar biasa melalui timnya yang kuat, dan yang
bertanggung jawab secara total pada fungsi dan peran kerja masing-masing.

3. Keterampilan Negosiasi.

Negosiasi adalah bagian dari komunikasi yang terfokus untuk mencari kesepakatan.
Jadi, peran seorang pemimpin sebagai seorang negosiator ulung tidaklah boleh
diabaikan. Pemimpin harus bijak dan cerdas melihat semua tantangan yang ada, dan
cerdas menggunakan keterampilan negosiasi tersebut untuk mentransformasikan
semua tantangan menjadi peluang yang menguntungkan organisasi yang di pimpin.
Pemimpin adalah seorang negosiator untuk mendapatkan kesepakatan terbaik, bukan
seorang negosiator yang ngotot dan tak mau kompromi terhadap tantangan.

4. Keterampilan Bersikap Baik.


Seorang pemimpin tidak zamannya lagi memanfaatkan kekuasaan dan posisi
kepemimpinannya untuk bersikap arogan dan bersikap diktator terhadap pengikut.
Sekarang ini zamannya pemimpin harus merangkul semua kekuatan dan potensi
sukses pengikutnya untuk dijadikan sebagai kekuatan kepemimpinan yang ia miliki.
Oleh karena itu, pemimpin wajib bersikap baik dengan sikap tulus dan jujur kepada
setiap orang, di mana pun dan kapan pun.

5. Keterampilan Memotivasi.
Seorang pemimpin adalah seorang motivator yang harus mampu membangkitkan
energi positif dari pengikut dan bawahannya, untuk secara proaktif bergairah dan
bersemangat tinggi dalam meraih prestasi yang hebat. Oleh karena itu, pemimpin
wajib memiliki keterampilan untuk memotivasi pengikutnya, dan menggerakan para
pengikut untuk melakukan hal-hal terpenting buat kesuksesan organisasi. Motivasi
bukan berarti sekedar berteriak-teriak dengan semangat tinggi, tapi lebih kepada cara
untuk merangkul hati dan pikiran positif para pengikut. Lalu, membangun harapan
dan rasa percaya diri mereka untuk menjadi lebih hebat.

6. Keterampilan Mengorganisasi.

4
Seorang pemimpin adalah seorang organisator yang ulung. Kemampuan pemimpin
dalam mengorganisasi semua kekuatan yang ada akan menjadikan kepemimpinan itu
kuat dan solid. Melalui kebersamaan dalam organisasi yang solid dan kuat, pemimpin
pasti membawa setiap orang menuju puncak harapan.

Keterampilan kepemimpinan adalah kiat-kiat untuk mendapatkan dan memperkuat


pengaruh. Ada 4 inti keterampilan kepemimpinan, yaitu :

5
Mendengarkan, Mendengarkan secara aktif dan objective berarti dengan sengaja mau
mendengarkan dan menghindari pengaruh persepsi pribai terhadap isi pesan
yang disampaikan si pembicara. Tataplah mata pembicara, berikan respon
sebagai tanda anda mengerti akan apa yang dikatakannya dan tanyakan maksud
yang belum anda pahami. Dengan mendengarkan secara aktif dan objective,
anda menghargai si pembicara sehingga harga dirinya naik dan sebagai
imbalannya, dia akan hormat kepada anda.

Mempertanyakan, Mempertanyakan adalah cara terbaik untuk mencari


penyelesaian suatu masalah. Bertanya secara efektif dapat membangkitkan
pengaruh dari dalam diri orang yang anda hadapi. Dengan demikian,
wibawa atau charisma anda terhadapnya timbul sebagai pengakuan batin.
Mempertanyakan juga mendorong orang untuk berpikir dan mengambil
keputusan sendiri, sehingga ia akan lebih bertanggungjawa.

Memotivasian menginspirasi
Memotivasi dan menginspirasi terutama dengan keteladanan dan
kepeloporan. Sikap dan keberaniannya secara nyata akan memotivasi dan
menginspirasi orang-orangsekitarnya.

Bicara efektif
Tidak berbelit-belit, jelas, tenang dan yakin sehingga mempermudah
pendengar untuk menangkap isi pesan secara utuh dan sesuai dengan
maksud anda. Bicara efektif tidak sama dengan bicara panjang dan lancer.
Biasanya, bicara efektif justru singkat dan padat.

Keterampilan terkait dengan kepemimpinan fasilitatif, Jenkins & Jenkins menyebut 3


(tiga) tipe keterampilan yang seyogyanya dimiliki pemimpin, yakni 1) facilitating the
environment, 2) facilitating diagnosis, dan 3) facilitating resolution.

Keterampilan pertama mengacu pada keterampilan membangun trust dalam organisasi


atau tim. Ketika memfasilitasi pertemuan, pemimpin yang fasilitatif harus mampu
membangun situasi saling menghargai di antara anggota dan kepercayaan di antara anggota
organisasi bahwa pendapat mereka didengarkan dan dipertimbangkan secara serius. Menurut

6
Jenkins & Jenkins, pertanyaan kuncinya adalah “What social/psychological atmosphere is
needed to get this job done?”

Keterampilan kedua mengacu pada kemampuan untuk menjawab pertanyaan


diagnostis, “What is going on here?” Di sini, pemimpin harus dapat memahami tantangan dan
peluang yang ada. Dalam proses fasilitasi, misalnya dalam sebuah pertemuan dengan
anggota, pemimpin harus memhami isi pertemuan (meskipun bukan ahlinya), dan informasi
apa yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan. Dari sisi metodologi fasilitasi, pemimpin
harus menyiapkan langkah-langkah yang partisipatif. Dan terakhir, pemimpin harus
memperhitungkan nilai-nilai yang dianut dan karakteristik lain dari anggota-anggota yang
terlibat.

Keterampilan terakhir, memfasilitasi resolusi kolektif, mengacu pada pertanyaan,


“What can be done to improve the situation?” Menurut Jenkins & Jenkins, resolusi semacam
itu adalah kombinasi dari tiga hal, yakni situasi masa datang yang bisa dimunculkan, solusi
yang disepakati organisasi, dan komitmen untuk mewujudkan kedua hal pertama. Tidak
seperti fasilitator umumnya, di sini, pemimpin fasilitatif harus mampu mengelola content (isi
dialog), proses, dan orangnya.

B. MENGELOLA KELOMPOK

Terbentuknya kelompok karena adanya persamaan dalam kebutuhan akan


berkelompok, dimana individu memiliki potensi dalam memenuhi kebutuhan dan setiap
individu memiliki keterbatasan, sehingga individu akan meminta atau membutuhkan bantuan
individu yang lain untuk mengatasinya.

Kelompok merupakan tujuan yang diharapkan dalam proses dinamika kelompok,


karena jika hal tersebut tercapai, maka dapat dikatakan salah satu tujuan proses transformasi
dapat berjalan dengan baik. Indikator yang dijadikan pedoman untuk mengukur tingkat
perkembangan kelompok yang juga dapat digunakan pemimpin untuk pengelolaan kelompok
adalah sebagai berikut:

1. Adaptasi
Setiap individu terbuka untuk memberi dan menerima informasi yang baru. Setiap
kelompok, tetap selalu terbuka untuk menerima peran baru sesuai dengan hasil
dinamika kelompok tersebut. Di samping itu proses adaptasi juga berjalan dengan
7
baik yang ditandai dengan kelenturan setiap anggota untuk menerima ide, pandangan,
norma dan kepercayaan anggota kelompok lain tanpa merasa integritasnya terganggu.

2. Pencapaian tujuan
Setiap anggota mampu menunda kepuasan dan melepaskan ikatan dalam rangka
mencapai tujuan bersama, mampu membina dan memperluas pola, serta individu
mampu terlibat secara emosional untuk mengungkapkan pengalaman, pengetahuan
dan kemampuannya.

Perkembangan kelompok dapat ditunjang oleh bagaimana komunikasi dalam


kelompok. Perkembangan kelompok dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

a. Tahap pra afiliasi


Merupakan tahap permulaan dengan diawali adanya perkenalan dimana semua
individu akan saling mengenal satu dengan yang lain, kemudian berkembang
menjaadi kelompok yang sangat akrab dengan mengenal sifat dan nilai masing-
masing anggota.

b. Tahap Fungsional
Tahap ini tumbuh ditandai adanya perasaan senang antara satu dengan yang lain,
tercipta homogenitas, kecocokan dan kekompakan dalam kelompok. Maka akan
terjadi pembagian dalam menjalankan fungsi kelompok.

c. Tahap Disolusi
Tahap ini terjadi apabila keanggotaan kelompok sudah mempunyai rasa tidak
membutuhkan lagi dalam kelompok, tidak tercipta kekompakan karena perbedaan
pola hidup, sehingga percampuran yang harmonis tidak terjadi dan akhirnya
terjadi pembubaran kelompok.

Perkembangan kelompok sebenarnya banyak dikemukakan oleh para ahli. Clark


(1994)dalam Retno (2008:22) mengemukakan perkembangan kelompok ke dalam tiga fase,
yaitu:

a. Fase orientasi
Individu masih mencari/dalam proses penerimaan dan menemukan persamaan serta
perbedaan satu dengan lainnya. Pada tahap ini belum dapat terlihat sebagai kesatuan
kelompok, tapi masih tampak individual.

8
b. Fase bekerja
Anggota sudah mulai merasa nyaman satu dengan lainnya, tujuan kelompok mulai
ditetapkan. Keputusan dibuat melalui mufakat daripada voting. Perbedaan yang ada
ditangani dengan adaptasi satu sama lainnya dan pemecahan masalah daripada dengan
konflik. Ketidaksetujuan diselesaikan secara terbuka.

c. Fase terminasi
Fokus pada evaluasi dan merangkum pengalaman kelompok. Ada perubahan perasaan
dari sangat frustasi dan marah menjadi sedih atau puas, tergantung pada pencapaian
tujuan dan pembentukan kelompok (kesatuan kelompok)

Tuckman dan Jensen membagi perkembangan kelompok dalam 6 fase, dimana


terdapat perbedaan perilaku tim dan perilaku pemimpin sebagai berikut:

Fase Perilaku tim Perilaku pemimpin

Orientation Ragu, belum familiar, belum Mendefinisikan misi kelompok, tipenya


saling percaya, belum ada masih memberi instruksi, membuat
partisipasi skema tujuan

Forming Menerima satu sama lain, Rencana/fokus pada masalah, role model
belajar ketrampilan yang positif, mendorong adanya
komunikasi, mulai partisipasi
termotivasi

Storming Semangat tim berkembang, Evaluasi gerakan kelompok, fokus pada


mulai membangun tujuan, penyelesaian konflik, menentukan
kepercayaan, konflik mungkin tujuan
muncul, terkadang tidak sabar
dan frustasi

Norming Kenyamanan meningkat, Fokus pada tujuan, menyertai proses,


identifikasi tanggung jawab, memberikan dorongan pada tim
interaksi tim efektif, resolusi
konflik

Performing Tujuan yang jelas, adanya Beraksi seperti anggota kelompok,


kohesi/kesatuan, pemecahan dorongan meningkatkan tanggung jawab,
masalah mengukur hasil

9
Terminating Angota tersebar, tim akhirnya Perayaan dan penghargaan, memperkuat
mencapai tujuan kesuksesan.

Untuk mengelola kelompok, pemimpin harus mengetahui posisi serta perannnya didalam
kelompok dan dapat menempatkan diri sebagai pemimpin yang memiliki tugas dalam
membantu anggota kelompok untuk mengelola kelompok agar tujuan bersama dapat tercapai.
Hal yang harus diketahui pemimpin sebagai salah satu pertimbangan untuk pengelolaan
dalam kelompok yaitu, perkembangan kelompok serta indikatornya sepertinya yang telah
dijelaskan diatas. .

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Kepemimpinan masa depan dituntut memiliki keterampilan berpikir yang metodis


dengan memanfaatkan otak dan hati dalam mengaktualisasikan terobosan cara berpikir dalam
mengikuti pembaharuan. Oleh karena itu sebagai daya dorong untuk meningkatkan

10
keterampilan kepemimpinan haruslah memiliki informasi,pengetahuan serta wawasan yang
luas.

Ilmu (informasi) dan pengetahuan (pengalaman) memberikan ruang gerak


kepemimpinan dalam menggerakkan otak dan hati dalam proses berpikir untuk memotivasi
semangat baru kepemimpinan dalam mengantisipasi perubahan-perubahan dengan
memahami situasi permasalahan dalam era globalisasi dan perubahan lingkungan seperti
gelombang politik, ekonomi dunia, timbulnya blok-blok ekonomi, globalisasi pemasaran,
pencemaran lingkungan, teknologi, standard kehidupan, modal intelektual, sumber daya yang
terbatas dan perubahan-perubahan faktor internal.

Dengan memiliki kompetensi dalam manajemen berdasarkan informasi, mengelola


dengan pandangan internasional, mengelola teknologi, mengelola kelugasan organisasi, maka
kepemimpinan dalam pembaharuan dapat melangkah melaksanakan pembaharuan dengan
perencanaan perubahan yang berencana.

Perubahan yang berencana mengandung arti keterampilan kepemimpinan mampu


menggerakkan sumber daya secara produktif untuk memenuhi semua kepentingan
steakholders yang seimbang. Oleh karena itu pemimpin puncak memainkan peranan penting
untuk menggerakkan pembaharuan yang sejalan dengan prinsip-prinsip keterampilan
kepemimpinan (kolaborasi , komitmen, komunikasi, kreativitas individu, kreativitas
kelompok, inovasi organisasi, kesadaran, kecerdasan dan akal) yang mendorong agar
perencanaan pembaharuan sesuai dengan tuntutan perubahan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

. (2009). Keterampilan Dasar Seorang Pemimpin. [Online]. Tersedia :


http://kecerdasanmotivasi.wordpress.com/2009/04/01/6-keterampilan-dasar-seorang-
pemimpin/ [27 Oktober 2010]

.(2009) Mengembangkan Keterampilan Memimpin. [Online]. Tersedia :


http://lead.sabda.org/mengembangkan_keterampilan_memimpin_.html [27 Oktober
2010]

11
Friska. (2004). Kepemimpinan Dalam Organisasi. [Online]. Tersedia :
http://digilib.usu.ac.id/download/fe/manajemen-friska.pdf [26 Oktober 2010]

Retno. (2008). Dinamika Kelompok. [Online]. Tersedia :


http://khairilusman.files.wordpress.com/2008/07/dinamika_kelompok2.doc [26
Oktober 2010]

Trimiyati. (2009). kepemimpinan organisasi sosial. [Online]. Tersedia:


http://trimiyati.web.ugm.ac.id/wordpress/wp-content/libtik-xiii.pdf [26 Oktober 2010]

12