Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Golongan Fluorokuinolon adalah antibiotik yang sangat aktif, memiliki spektrum luas

dan banyak digunakan baik pada manusia maupun hewan.2 Fluorokuinolon memiliki kelebihan

karena dapat melawan berbagai jenis patogen multiresisten disebabkan cara kerjanya yang

melalui target – target yang berbeda dari golongan antimikroba lain. Mekanisme resistensi

fluorokuinolon juga tidak seperti kebanyakan mekanisme resistensi dari antibiotik lain, yaitu

tidak melalui plasmid atau integron.1

Saat ini, fluorokuinolon semakin banyak digunakan untuk terapi empiris disebabkan

resistensi terhadap antimikroba empiris yang biasa dipakai.1,2 Siprofloksasin, yang pertama kali

diperkenalkan pada tahun 1987 merupakan golongan fluorokuinolon yang paling banyak

digunakan. Siprofloksasin memiliki spektrum lebih luas terhadap bakteri gram negatif daripada

kuinolon generasi pertama, namun aktivitasnya terhadap gram positif lebih lemah, terutama

terhadap Streptococcus pneumoniae.4

Faktor harga yang murah dan kenyamanan pemakaian, dimana golongan siprofloksasin

cukup diminum sekali atau dua kali sehari mengakibatkan pemakaian siprofloksasin amat

meningkat, bahkan mengakibatkan pemakaian yang tidak rasional. Harga Netto Apotik (HNA)

siprofloksasin generik adalah Rp 864,00 per butir (SK Menkes No. 12/Menkes/SK/I/2005),

sedangkan di pasaran obat ini biasa dijual hanya Rp 11.000,00 per box isi 50 tablet, yang berarti

per butirnya dihargai Rp 550,00.5 Hal ini mengindikasikan persaingan harga yang tidak sehat

akibat tidak adanya regulasi harga jual yang seyogianya merupakan tugas dan tanggung jawab

pemerintah. Industri farmasi turut berperan dalam penyalahgunaan siprofloksasin melalui


pemberian diskon yang sangat besar, bahkan mencapai 90% . Salah satu contoh dampak dari

diskon besar-besaran ini adalah laporan dari satu puskesmas yang menggunakan seluruh

anggaran belanjanya dalam satu tahun untuk pembelian siprofloksasin dengan diskon 90%. Hal

ini akan semakin mendorong pemakaian siprofloksasin yang tidak pada tempatnya, sehingga

pada akhirnya akan merugikan masyarakat sebagai konsumen kesehatan.5,6

Fenomena lain, yaitu kian gencarnya peresepan siprofloksasin untuk mengobati infeksi

saluran nafas atas yang didapat dari komunitas walaupun siprofloksasin memiliki aktivitas sangat

lemah terhadap Streptococcus pneumoniae.4,7 Di Inggris dilaporkan dua kasus infeksi

pneumokok sistemik yang mengancam nyawa, dimana infeksi tersebut berasal dari saluran nafas

atas dan sebelumnya fluorokuinolon telah diresepkan sebagai terapi antibiotik empiris.7

Sebagai akibat pemakaian yang tidak rasional, resistensi terhadap siprofloksasin makin

meningkat. Di Amerika, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan kasus

strain Neisseria gonorrhoeae yang resisten terhadap fluorokuinolon, padahal diketahui bahwa

siprofloksasin dan ofloksasin merupakan golongan fluorokuinolon yang diremendasikan untuk

terapi gonore tanpa komplikasi.8 Di Amerika, terjadi ledakan salmonella yang resisten terhadap

fluorokuinolon.9 Namun, data dari Laboratorium Klinik Mikrobiologi FKUI tahun 2004

menunjukkan seluruh Salmonella typhi yang diisolasi masih sensitif terhadap siprofloksasin.10

BAB II

PEMBAHASAN
A, Etiologi

Antibiotik fluorokuinolon (kuinolon) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960.

Kuinolon yang pertama, yaitu asam nalidiksat memiliki keterbatasan oleh karena aktivitas

intrinsik yang rendah dan cepatnya terjadi resistensi. Penambahan fluor pada molekul kuinolon

menghasilkan fluorokuinolon - pertama kali diperkenalkan sebagai siprofloksasin pada 1987 –

yang memiliki spektrum lebih luas terhadap bakteri gram negatif, namun aktivitas terhadap gram

positif lemah, terutama terhadap Streptococcus pneumoniae.3

Siprofloksasin hidroklorida dibuat dalam bentuk tablet dan suspensi, merupakan

antimikroba sintetik berspektrum luas. Nama kimianya adalah garam monohidroklorida

monohidrat dari 1-siklopropil-6-fluoro-1, 2-dihidro-4-oksi-7-(1-piperazinil)-3-asam

kuinolinkarboksilat., dengan berat molekul 385,8 . Formula empirisnya adalah

C17H18FN3O3●HCl●H2O. Struktur kimia siprofloksasin adalah sebagai berikut :14

Gambar1. Struktur kimia siprofloksasin

B, Farmakokinetik

Absorpsi siprofloksasin oral diserap dengan baik melalui saluran cerna. Bioavailabilitas

absolut adalah sekitar 70%, tanpa kehilangan yang bermakna dari metabolisme fase pertama.

Berikut ini adalah konsentrasi serum maksimal dan area di bawah kurva (area under the curve,

AUC) dari siprofloksasin yang diberikan pada dosis 250 ~ 1000 mg.
Konsentrasi serum maksimal dicapai 1 sampai 2 jam setelah dosis oral. Konsentrasi rata-

rata 12 jam setelah dosis 250, 500 dan 750 mg adalah 0,1; 0,2 dan 0,4 mg/mL.14

Distribusi ikatan siprofloksasin terhadap protein serum adalah 20-40% sehingga tidak

cukup untuk menyebabkan interaksi ikatan protein yang bermakna dengan obat lain. Setelah

administrasi oral, siprofloksasin didistribusikan ke seluruh tubuh. Konsentrasi jaringan seringkali

melebihi konsentrasi serum, terutama di jaringan genital, termasuk prostat. Siprofloksasin

ditemukan dalam bentuk aktif di saliva, sekret nasal dan bronkus, mukosa sinus, sputum cairan

gelembung kulit, limfe, cairan peritoneal, empedu dan jaringan prostat.14,15 Siprofloksasin juga

dideteksi di paru-paru, kulit, jaringan lemak, otot, kartilago dan tulang. Obat ini berdifusi ke

cairan serebro spinal, namun konsentrasi di CSS adalah kurang dari 10% konsentrasi serum

puncak. Siprofloksasin juga ditemukan pada konsentrasi rendah di aqueous humor dan vitreus

humor.13 Empat metabolit siprofloksasin yang memiliki aktivitas antimikrobial yang lebih rendah

dari siprofloksasin bentuk asli telah diidentifikasi di urin manusia sebesar 15% dari dosis oral.14

Ekskresi Waktu paruh eliminasi serum pada subjek dengan fungsi ginjal normal adalah

sekitar 4 jam. Sebesar 40-50% dari dosis yang diminum akan diekskresikan melalui urin dalam

bentuk awal sebagai obat yang belum diubah. Ekskresi siprofloksasin melalui urin akan lengkap

setelah 24 jam . Dalam urin semua fluorokuinolon mencapai kadar yang melampaui konsentrasi

hambat minimal (KHM) untuk kebanyakan kuman patogen selama minimal 12 jam.14 Klirens
ginjal dari siprofloksasin, yaitu sekitar 300 mL/menit, melebihi laju filtrasi glomerulus yang

sebesar 120 mL/menit. Oleh karena itu, sekresi tubular aktif memainkan peran penting dalam

eliminasi obat ini. Pemberian siprofloksasin bersama probenesid berakibat pada penurunan 50%

klirens renal siprofloksasin dan peningkatan 50% pada konsentrasi sistemik.14

C, Interaksi Obat

Siprofloksasin sediaan tablet bila diberikan bersama makanan, akan mengalami terjadi

keterlambatan absorpsi, sehingga konsentrasi puncak baru akan dicapai 2 jam setelah pemberian.

Pada siprofloksasin sediaan suspensi, tidak terjadi keterlambatan absorpsi bila diberikan bersama

makanan sehingga konsentrasi puncak dicapai dalam 1 jam. Bila diberikan bersama dengan

antasid yang mengandung magnesium hidroksida atau aluminium hidroksida dapat mengurangi

bioavailabilitas siprofloksasin secara bermakna.11

D. Spektrum Antibakteri Siprofloksasim

Siprofloksasin bersifat bakterisid, terutama aktif terhadap bakteri gram negatif dan

memiliki aktivitas lemah terhadap gram positif.


E. Penggunaan Siprofloksasin yang Dianjurkan

Berikut ini merupakan keadaan dimana penggunaan siprofloksasin memiliki tempat, baik

sebagai lini pertama maupun lini kedua.

Infeksi Saluran Kemih tanpa Komplikasi

Kebanyakan infeksi saluran kemih (ISK) tanpa komplikasi terjadi pada wanita dengan

kehidupan seksual aktif. Escerichia coli merupakan penyebab terbanyak, diikuti oleh

Staphylococcus saprophyticus. Terapi standar yang digunakan selama ini adalah trimetoprim-

sulfametoksazol, namun E. coli mengalami peningkatan resistensi terhadap obat ini, sehingga

siprofloksasin mulai menjadi pilihan utama untuk infeksi saluran kemih tanpa komplikasi.15

McCarty (1999) melakukan studi untuk membandingkan siproflokasin (Cipro) 100 mg

dua kali sehari, ofloksasin (Floxin) 200 mg dua kali sehari dan trimetoprim-sulfametoksazol

(Bactrim, Septra) 160/800 mg dua kali sehari dan menemukan bahwa ketiganya memiliki

efektivitas yang sebanding dalam tatalaksana ISK tanpa komplikasi.16

Studi lain dari Iravani (1999) membandingkan siprofloksasin 100 mg/dua kali sehari

selama 3 hari dengan trimetoprim-sulfametoksazol 160/800 mg/dua kali sehari selama 7 hari,

dan nitrofurantoin (Furantadin) 100 mg dua kali sehari. Follow-up setelah 4-6 minggu

menunjukkan bahwa siprofloksasin menghasilkan eradikasi bakteri yang lebih baik.17

Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Fang (1991) melakukan uji klinis acak untuk membandingkan siprofloksasin dengan

aminoglikosid parenteral untuk terapi infeksi saluran kemih dengan komplikasi. Kriteria inklusi

meliputi (1) gejala infeksi saluran kemih, yaitu disuria, frekuensi dan urgensi, nyeri suprapubik;

(2) konfirmasi mikrobiologik adanya infeksi dengan piuria (≥ 8 leukosit/mm3) dan bakteriuria

( minimal 105 CFU/mL, yang dideteksi pada spesimen urin porsi tengah) dan (3) adanya bakteri
sensitif in vitro terhadap antibiotik yang akan diuji. Siprofloksasin 500 mg diberikan setiap 12

jam selama 7-10 hari. Gentamisin merupakan aminoglikosid terpilih, diberikan sebanyak 1-1,7

mg/kg intramuskular atau intravena setiap 8 jam selama 7 hari, dosis ini disesuaikan dengan

disfungsi ginjal. Alternatif dari gentamisin adalah tobramisin dan amikasin. Tobramisin dipilih

bila patogen penyebab diduga P. aeruginosa, sedangkan amikasin dipilih bila organisme diduga

resisten terhadap gentamisin.

Parameter yang diukur ada dua, yaitu penyembuhan klinis; didefinisikan sebagai resolusi

gejala pasien dan demam serta penyembuhan bakteriologik didefinisikan sebagai urin kultur

steril. Penilaian klinis maupun bakteriologis dilakukan dalam jangka pendek (5-9 hari pasca

terapi) dan jangka panjang (28-30) hari pasca terapi. Pada hari ke-5-9 pasca terapi, didapatkan

bahwa respon bakterial siprofloksasin secara signifikan lebih baik daripada aminoglikosid (p=

0,0005). Namun, pada hari 28-30, angka respon menjadi sama. Hasil dari penelitian ini

menyatakan bahwa siprofloksasin lebih efektif pada infeksi saluran kemih dengan komplikasi

dibandingkan dengan obat standar yaitu aminoglikosid parenteral untuk pasien dengan bakteri

yang relatif resisten.21

Demam Tifoid

Wallace (1993) melakukan uji klinis acak membandingkan seftriakson (3 g, parenteral, 1

kali sehari selama 7 hari) dengan siprofloksasin (500 mg, diberikan oral dua kali sehari selama 7

hari) untuk terapi demam tifoid dengan kultur darah positif. Hasilnya, kegagalan klinis

ditemukan pada 6 pasien (27%) kelompok seftriakson, sedangkan pada kelompok siprofloksasin

tidak ditemukan (p=0,01). Terapi untuk keenam pasien tersebut diganti dengan siprofloksasin

dan pasien menjadi afebris serta gejala menghilang dalam 48 jam. Kesimpulan dari studi ini
adalah bahwa siprofloksasin merupakan pilihan terapi yang bermanfaat pada daerah dimana

strain multi resisten mungkin ditemukan.23

Girgis (1999) melakukan uji klinis acak pada 123 pasien dewasa dengan demam dan

gejala-gejala demam tifoid tanpa komplikasi dengan tujuan membandingkan efikasi klinis dan

bakteriologis dari azitromisin dan siprofloksasin untuk demam tifoid. Resistensi multi obat

terhadap ampisilin, kloramfenikol dan trimetoprim-sulfametoksazol ditemukan pada 21 isolat

dari 64 pasien dengan kultur positif. Dari ke-64 pasien ini, 36 menerima azitromisin oral 1 g 1x

sehari pada hari pertama, dilanjutkan 500 mg oral 1 x sehari selama 6 hari berikutnya. Sebanyak

28 pasien menerima siprofloksasin 500 mg oral 2x sehari selama 7 hari. Hasilnya menyatakan

bahwa azitromisin dan siprofloksasin sama efektif, baik secara klinis maupun bakteriologis,

untuk terapi demam tifoid yang disebabkan oleh organisme yang sensitif ataupun S. typhi

resisten multi obat.24

Penyakit Menular Seksual

Thorpe (1996) melakukan uji klinis acak tersamar untuk membandingkan efikasi

sefuroksim asetil dengan siprofloksasin untuk terapi gonore tanpa komplikasi yang disebabkan

oleh Neiserria gonorrhoeae penghasil penisilinase (Penicillinase-producing N. gonorrhoeae,

PPNG). Sebanyak 832 pasien dilibatkan dalam studi ini, 417 pasien diberikan sefuroksim asetil

oral dosis tunggal 100 mg; sedangkan 415 pasien lain diberikan siprofloksasin 500 mg oral dosis

tunggal. Hasil dari studi ini menyatakan bahwa terapi sefuroksim asetil oral dosis tunggal

memberikan efektivitas yang sama dengan siprofloksasin oral dosis tunggal dalam eradikasi

PPNG dari laki-laki maupun wanita dengan gonore tanpa komplikasi (uretral dan

endoservikal).25
De los Reyes (2001) melakukan uji klinis acak terhadap 105 pekerja seks komersial di

Manila dan Cebu untuk menilai sensitivitas gonokok terhadap siprofloksasin dan

membandingkan efikasi siprofloksasin versus sefiksim oral untuk terapi gonore yang disebabkan

strain resisten atau strain dengan penurunan sensitivitas terhadap siprofloksasin. Studi yang

dilaksanakan pada kurun waktu 1996-1997 ini merupakan kelanjutan dari studi serupa yang

dilakukan pada Oktober 1994, dimana ditemukan penurunan sensitivitas atau resistensi

siprofloksasin pada 42 (46%) dari 92 isolat gonokok. Pasien diacak untuk menerima

siprofloksasin 500 mg oral dosis tunggal atau sefiksim 400 mg oral dosis tunggal. Hasilnya,

didapatkan angka resistensi yang lebih besar dari penelitian sebelumnya; 72 (63%) dari 115

isolat memilki KHM siprofloksasin ≥1.0 ug/mL, termasuk di dalamnya 49% dengan MIC ≥4.0

ug/mL. Dari kultur yang dilakukan 28 hari pasca terapi, diperoleh isolat N. gonorrhoeae pada 24

(32,3%) dari 72 subyek di kelompok siprofloksasin dan 1 (3,8%) dari 26 subyek yang menerima

sefiksim (p<.01) Studi ini menyatakan bahwa sefiksim (sefalosporin generasi ketiga) merupakan

terapi oral dosis tunggal yang efektif untuk terapi gonore di Filipina.26

Bronkitis Kronik Ekaserbasi Akut

Pemilihan antimikroba haruslah ditujukan pada patogen yang paling mungkin Berikut ini

merupakan patogen yang sering dijumpai pada bronkitis kronik ekaserbasi bakterial akut :
Pemilihan antibiotika untuk bronkitis kronik eksaserbasi akut dengan FEV1 < 35%

ditujukan pada kuman yang sering ditemukan yaitu Pseudomonas aeruginosa dan

Enterobacteriaceae sp. Siprofloksasin dan levofloksasin merupakan antimikroba yang efektif

terhadap P. aeruginosa dan E. cloacae.27

Bronkiektasis Terinfeksi

Ahmad Widiatmoko (2003) dalam tesisnya menyampaikan bahwa pada pemeriksaan

sputum terhadap 50 penderita bronkiektasis eksaserbasi akut ditemukan 80,9 % bakteri gram

negatif dan 19% diantaranya adalah Pseudomonas aeruginosa. 28 Di RS Persahabatan periode

Januari – Juni 2005 didapatkan bahwa sensitivitas Pseudomonas sp dari sampel sputum terhadap

siprofloksasin sebesar 81,76%, ceftazidime 83,13%, amikasin 86,67%.29

Guidelines dari European Respiratory Society (ERS) 2005 merekomendasikan pemilihan

antibiotik pada bronkiektasis sebagai berikut :

Pasien dikatakan memiliki faktor risiko untuk Pseudomonas aeruginosa apabila didapati

minimal dua dari faktor-faktor berikut : 1) riwayat dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu

dekat; 2) sering (lebih dari 4 kali dalam setahun) atau baru mendapat antibiotik (dalam 3 bulan

terakhir); 3) penyakit berat (FEV1 < 30%) dan 4) Riwayat isolasi P. aeruginosa sewaktu

ekaserbasi atau ditemukan koloni P. aeruginosa pada pasien.30


F. Penggunaan Siprofloksasin yang Bukan Merupakan Pilihan Utama

Penggunaan siprofloksasin yang tidak tepat, baik dalam hal indikasi, dosis, durasi

pemberian telah mengakibatkan resistensi berbagai bakteri terhadap siprofloksasin. Berikut ini

merupakan keadaan-keadaan dimana siprofloksasin tidak dianjurkan sama sekali ataupun tidak

dianjurkan sebagai terapi lini pertama :

Infeksi Akut Saluran Nafas Atas

Siprofloksasin merupakan fluorokuinolon pertama yang digunakan secara ekstensif untuk

mengatasi infeksi respiratorik yang diperoleh dari komunitas. Selain dari aktivitas yang sangat

baik terhadap patogen respiratorik tipikal seperti Haemophilus influenzae dan Moraxella

catarrhalis, siprofloksasin juga menunjukkan penetrasi yang tinggi ke dalam jaringan paru dan

cairan tubuh, memiliki efikasi klinis dan keamanan yang baik serta dosis dua kali sehari yang

meningkatkan kepatuhan pasien.38

Siprofloksasin terutama efektif terhadap bakteri gram negatif, sedangkan penggunaan

siprofloksasin untuk bakteri gram positif amat terbatas. Siprofloksasin menunjukkan potensi

yang lemah melawan Streptococcus pneumoniae, yang merupakan patogen penting pada infeksi

respiratorik komunitas Oleh karena itu, penggunaan siprofloksasin untuk mengobati infeksi

saluran nafas atas akut merupakan suatu penggunaan yang salah dan berdampak memicu

resistensi siprofloksasin.38 Pada banyak kasus telah dilaporkan terjadi kegagalan siprofloksasin

yang diberikan sebagai terapi infeksi pneumokok, terutama di saluran nafas, dan selanjutnya

terjadi komplikasi mengancam nyawa. Komplikasi yang timbul selama terapi siprofloksasin

mencakup bakteremia pneumokok, meningitis dan artritis. Pada beberapa kasus juga dilaporkan

bahwa penggunaan siprofloksasin untuk mengobati infeksi gram negatif diikuti oleh superinfeksi

dengan S. pneumoniae.7
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)

Pada OMSK telah terjadi banyak perubahan-perubahan yang menetap sehingga resolusi

spontan sangat sulit terjadi. Telah terjadi gangguan vaskularisasi di telinga tengah sehingga

antibiotik secara sistemik sukar mencapai sasaran dengan optimal. Yusra (2004) melakukan

penelitian gambaran jenis kuman dan kepekaan antibiotik terhadap otitis media supuratif kronik

tipe benigna dan maligna. Didapatkan bahwa kuman aerob yang terbanyak ditemukan adalah

Pseudomonas aeruginosa, diikuti dengan Stafilokokus aureus pada OMSK benigna dan Proteus

sp pada OMSK maligna.

Dilaporkan bahwa sensitivitas P. aeruginosa terhadap siprofloksasin mencapai 93,1%.39

Mengingat bahwa patogen pada OMSK adalah terutama gram negatif, yaitu Pseudomonas

aeruginosa yang tidak sensitif terhadap antibiotik “klasik” seperti penisillin G, amoksisilin,

eritromisin, tetrasiklin dan kloramfenikol, maka pemilihan antibiotik sebaiknya melihat keadaan

kasus per kasus. Bila diduga ada kuman anaerob dapat dipilih metronidazol, klindamisin, atau

kloramfenikol. Bila sukar menentukan kuman penyebab, dapat dipakai campuran

trimetoprim+sulfametoksazol atau amoksisilin+klavulanat. Pada penderita berusia lebih dari 18

tahun dapat dipilih siprofloksasin atau ofloksasin. Obat tetes dapat dipakai sebagai obat tunggal

lini pertama, pilihan utama adalah ofloksasin, baik pada orang dewasa atau anak.40

Rinosinusitis

Siprofloksasin tidak diindikasikan sebagai terapi lini pertama. Untuk sinusitis kronik,

siprofloksasin dapat digunakan sebagai antibiotik alternatif bila tidak ada perbaikan dengan

antibotik lini pertama.41 (Level of evidence IV) Penelitian yang dilakukan oleh Nash dan Wald

mendapatkan bahwa S.pneumonia merupakan kuman terbanyak pada sinusitis pada semua usia,

dengan persentase 30-40% isolat, diikuti oleh H. influenza dan M. catarrhalis masing-masing 20
% kasus.42 Siprofloksasin memiliki aktivitas yang sangat baik melawan H. influenzae dan M.

catarrhalis, namun rasio AUC-MIC untuk S. pneumoniae hanya 10-20, dimana target rasio

AUC-MIC fluorokuinolon terhadap S. pneumoniae berkisar 25-30. Siprofloksasin dikombinasi

dengan terapi untuk gram positif (misalnya, klindamisin) dapat juga digunakan untuk

rinosinusitis.43

Infeksi Tenggorok

Sebagian besar penyebab tonsilofaringitis adalah bukan bakteri, maka pemberian

antibiotik secara empirik seharusnya tidak dilakukan. Sedangkan untuk tonsilofaringitis

bakterial, kuman penyebab sebagian besar gram positif. Antibiotik tidak perlu diberikan pada

anak dengan tonsilofaringitis bila kuman Streptokokus grup A tidak didapatkan atau tidak sesuai

dengan kriteria klinik untuk infeksi bakterial. Penisilin tetap merupakan obat pilihan untuk

mengobati tonsilofaringitis bakterialis, khususnya bila disebabkan oleh Streptokokus grup A.44

Pedoman dari Bagian THT FKUI-RSCM menyatakan bahwa lini pertama adalah penisilin,

sedangkan alternatifnya adalah eritromisin dan klindamisin.45

F. Interaksi Siprofloksasin dengan Obat Lain yang Berdampak Negatif

Interaksi Siprofloksasin dengan Antasid

Siprofloksasin sering menimbulkan gangguan gastrointestinal, seperti mual, kembung,

dan muntah sehingga para dokter sering memberikan siprofloksasin bersama dengan antasid

untuk meredakan keluhan-keluhan tersebut. Pemberikan siprofloksasin bersama antasid dapat

menurunkan bioavailabilitas siprofloksasin secara bermakna. Frost (1992) melakukan studi untuk

membandingkan efek antasida aluminium klorida dan kalsium karbonat terhadap bioavailabilitas

siprofloksasin. Siprofloksasin (Cipro) 750 mg oral diberikan kepada 12 pasien menggunakan

desain cross-over acak tiga cara. Tiga terapi yang diberikan meliputi Cipro sendiri, empat tablet
kalsium karbonat 850 mg diberikan 5 menit sebelum Cipro, dan tablet aluminium hidroksida 600

mg diberikan 5 menit sebelum Cipro. Bioavailabilitas Cipro bila diberikan bersama kalsium

karbonat adalah sebesar 60% dari nilai kontrol. Bila diberikan bersama aluminium hidroksida,

bioavailabilitas relatif sekitar 15%. Studi ini menyatakan bahwa antasid yang mengandung baik

aluminium maupun kalsium tidak boleh diberikan bersama dengan Cipro.65

Interaksi Siprofloksasin dengan Sukralfat

Sukralfat merupakan garam aluminium sakarosa oktasulfat, yang memiliki efek protektif

terhadap mukosa gastrointestinal. Sukralfat dapat menghambat aktivitas antimikrobial

fluorokuinolon melalui ikatan kelasi, sehingga level maksimum serum dicapai dalam waktu yang

lebih lambat dan konsentrasi serum yang dicapai pun menjadi lebih rendah secara bermakna.

Garrelts (1990) melakukan uji klinis untuk mengevaluasi efek sukralfat terhadap bioavailabilitas

siprofloksasin pada 8 subyek sehat, menggunakan desain menyilang acak. Sukralfat

mengakibatkan area di bawah kurva konsentrasi-waktu pada 0-12 jam menurun dari 8,8 menjadi

1,1 ug.h/ml (p<0,005). Konsentrasi serum maksimum siprofloksasin juga menurun dari 2.0

menjadi 0.2 ug/ml (p<0,005). Hasil dari studi ini menyimpulkan bahwa pemberian sukralfat

menurunkan konsentrasi serum secara bermakna. Oleh karena itu, siprofloksasin dan sukralfat

tidak boleh diberikan bersamaan.66

Interaksi Siprofloksasin dengan Teofilin

Batty KT melakukan uji klinis untuk mengevaluasi mekanisme interaksi antara


siprofloksasin dan teofilin pada sembilan subyek sehat. Subyek diberikan teofilin 3,4 mg/kg pada
60 jam sebelum dan setelah pemberian siprofloksasin 500 mg 2x/hari. Hasilnya, siprofloksasin
mengurangi klirens oral teofilin sebesar 19%. Penulis ini menyatakan bahwa variabilitas inter-
individual dalam hal inhibisi metabolisme teofilin oleh siprofloksasin dapat disebabkan oleh
perbedaan kadar ekspresi CYP1A2 dan/atau derajat inhibisi CYP1A2 dan CYP3A4 hepar.67
Siprofloksasin menghambat enzim mikrosom hepar yaitu sitokrom P450IA2 (CYPIA2)77
dan makrolid seperti eritromisin dan klaritromisin menghambat CYPIIIA4.58 Kedua enzim
tersebut berperan pada metabolisme teofilin sehingga inhibisi kedua jalur metabolik tersebut
akan mengakibatkan penurunan klirens teofilin dan berdampak pada peningkatan area di bawah
kurva teoflilin. Namun, efek ini dilaporkan kecil bila teofilin hanya diberikan bersama
siprofloksasin.68,69
Gillum (1996) melakukan uji klinis desain menyilang empat periode pada 5 orang dewasa
untuk membandingkan efek siprofloksasin, klaritomisin, dan kombinasi dari kedua obat tersebut
terhadap farmakokinetik teofilin. Rejimen terapi yang diberikan adalah sebagai berikut: (1)
siprofloksasin 500 mg + teofilin 400 mg pada hari ke-6, (2) klaritromisin 1000 mg + teofilin 400
mg pada hari ke-6, (3) siprofloksasin + klaritromisin + teofilin pada hari ke-6, dan (4) teofilin
dosis tunggal pada hari ke-6. Walaupun tidak ada periode washout di antara rejimen terapi,
terdapat jarak 1 minggu antara tiap dosis teofilin, yang dianggap cukup untuk menghilangkan
efek residu. Kadar teofilin dalam darah diperiksa pada 0 (dasar); 0,25; 0,50; 1,0; 2,0; 4,0; 6,0;
8,0; 12,0; 24,0; 36,0 dan 46 jam. Hasilnya, area di bawah kurva konsentrasi-waktu untuk teofilin
selama terapi kombinasi tidak berbeda dengan bila diberikan siprofloksasin saja.70

G. Bentuk Sediaan
Antibiotika ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan Spirofloksasin 250 mg,
500 mg, 750 mg bahkan ada yang 1.000 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan
Spirofloksasin 200 mg/100 ml.

Gambar 2. Tablet siprofloksasin 250 mg


Gambar 3 Kaptab siprofloksasin 500 mg

Gambar 4 Infus siprofloksasin

H. Efek Samping
Efek samping siprofloksasin biasanya ringan dan jarang timbul antara lain:

- Gangguan saluran cerna : Mual,muntah,diare dan sakit perut

- Gangguan susunan saraf pusat : Sakit kepala,pusing,gelisah,insomnia dan euforia

- Reaksi hipersensitivitas : Pruritus dan urtikaria

- Peningkatan sementara nilai enzim hati,terutama pada pasien yang pernah mengalami

kerusakan hati.
I. Kontra Indikasi

- Penderita yang hipersensitivitas terhadap siprofloksasin dan derivat quinolone lainnya

- tidak dianjurkan pada wanita hamil atau menyusui,anak-anak pada masa pertumbuhan,karena

pemberian dalam waktu yang lama dapat menghambat pertumbuhan tulang rawan.

- Hati-hati bila digunakan pada penderita usia lanjut

- Pada penderita epilepsi dan penderita yang pernah mendapat gangguan SSP hanya digunakan

bila manfaatnya lebih besar dibandingkan denag risiko efek sampingnya.

BAB III
Simpulan

Siprofloksasin tidak efektif pada infeksi tenggorok (faringitis, tonsilitis)

Siprofloksasin tidak dianjurkan sebagai terapi lini pertama pada keadaan berikut :
Infeksi Saluran Napas Atas
Infeksi jaringan lunak dan tulang
Anak
Penggunaan siprofloksasin yang dianjurkan adalah untuk keadaan berikut :
1. Infeksi saluran cerna yang disebakan oleh Shigella dysentriae dan Salmonella typhi resisten
multi obat.
2. Infeksi saluran kemih dengan atau tanpa komplikasi.
3. Penyakit menular seksual, yaitu gonore, terutama yang disebabkan oleh PPNG (Penicillinase
Producing-Neisseria gonorrhoeae).
4. Terapi empiris pada infeksi saluran napas bawah yang diduga disebabkan oleh Pseudomonas
aeruginosa
Interaksi siprofloksasin dengan obat lain yang menimbulkan dampak negatif
1. Siprofloksasin jangan diberikan bersama dengan antasid karena akan menurunkan konsentrasi
serum siprofloksasin secara bermakna.
2. Siproflosasin jangan diberikan bersama dengan sukralfat karena akan menurunkan konsentrasi
serum siprofloksasin secara bermakna.
3. Pemberian siprofloksasin bersama dengan teofilin harus diwaspadai karena akan
mengakibatkan konsentrasi teofilin dalam darah lebih tinggi.

BAB IV
Daftar Pustaka

1. Scheld WM. Mantaining Fluoroquinolon Class Efficacy: Review of Influencing Factors.


Emerging Infectious Disease. Vol 9, No.1, January 2003
2. Piddock LJV. Fluoroquinolone Resistance. BMJ 1998; 317: 1029-1030
3. Hooper DC. Emerging Mechanism of Fluoroquinolone Resistance. Emerging Infectious
Disease. Vol. 7, No. 2, March-April 2001
4. Legg JM, Bint AJ. Will pneumococci put quinolones in their place? Journal of Antimicrobial
Chemotherapy 1999; 44: 425-427
5. Review terhadap SK Menkes mengenai Penurunan HNA obat generik
6. Kepustakaan sedang dicari oleh dr. Husniah
7. Korner JR, Reeves SD, MacGowan PA. Lesson of the Week: Dangers of Oral fluoroquinolon
treatment in community acquired upper respiratory tract infections. BMJ 1994; 308: 191-192
8. Fluoroquinolone-Resistant Neisseria gonorrhoeae – San Diego, California, 1997. Morbidity
and Mortality Weekly Report, Centers for Disease Control and Prevention. May 29, 1998;
Vol.47, No.20
9. Olsen SJ, DeBess EE, McGivern TE, et al. A Nosocomial Outbreak of Fluoroquinolone-
Resistant Salmonella Infection. N Engl J Med 2001; Vo.344, No. 21
10. Sudiro TM, Karuniawati A, editor. Hasil Uji Resistensi Bakteri terhadap Berbagai
Antibiotika tahun 2004 di Laboratorium Klinik Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
11. The Human Health Impact of Fluoroquinolone-Resistant Campylobacter. FDA
12. Goossens H, Sprenger MJW. Community Acquired Infections and Bacterial Resistance. BMJ
1998; 317 654-657
13. Ciprofloxacin. Available at: www.rxlist .com. Cited at July 21, 2006
14. Setiabudy R. Antimikroba Lain. Dalam: Ganiswara SG. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4.
Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1995: 682-5
15. Yusra, Gambaran Jenis Kuman dan Kepekaan Antibiotik terhadap Otitis Media Supuratif
Kronik tipe Benigna dan Tipe Maligna. (Tesis). Departemen Patologi Klinik, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2005
16. Helmi, Diagnosis dan Penatalaksanaan Otitis Media. Disampaikan pada Simposium Satelit
Penanganan Mutakhir Kasus Telinga Hidung Tenggorok, Jakarta, 12 April 2003.
17. Soetjipto D. Penatalaksanaan Baku Sinusitis. Disampaikan pada Kursus, Pelatihan dan Demo
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional, Makasar, 10-12 Juni 2000
18. Antimicrobial Treatment Guidelines for Acute Bacterial Rhinosinusitis 2004. Supplement to
Otolaryngology-Head and Neck Surgery. January 2004;130(1)
19. Zuniar. Gambaran Mikrobiologik Aerob Permukaan dan Bagian Dalam Tonsil dengan
Peradangan Kronis. (Hasil Penelitian) Program Pendidikan Dokter Spesialis Bidang Studi Ilmu
Penyakit THT. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2001
20. Sanchez-Recio MM, Colino CI, Navarro AS. A retrospective analysis of
pharmacokinetic/pharmacodynamic indices as indicators of the clinical efficacy of ciprofloxacin.
Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2000; 45: 321-328
21. Zhanel GG, Roberts D, Waltky A, et al. Pharmacodynamics activity of fluoroquinolones
against siprofloksasin-resistant Streptococcus pneumoniae. Journal of Antimicrobial
Chemotherapy 2002;49: 807-812
22. Ida Sri Iswar, The Susceptibility Pattern of Urine Bacteria from the Surgery Departement at
Sanglah Hospital, 2004. [Free Papers]. Disampaikan pada Simposium Evidence Based Use of
Antimicrobials in the Era of Alarming Resistance, Jakarta, 2-3 July 2005.
23. Juniastuti, Kuntaman, Eddy Mudihardi, Debora K, Purwanta M. Bacterial Isolates causing
UTI and the Resistance Patterns in Deptartement of Clinical Microbiology, Dr. Soetomo General
Hospital, Surabaya. [Free Papers]. Disampaikan pada Simposium Evidence Based Use of
Antimicrobials in the Era of Alarming Resistance, Jakarta, 2-3 July 2005.
24. Laporan studi Antimicrobial Resistance in Indonesia (AMRIN)
25. Budayanti NS, Pola Kepekaan Isolat Neisseria gonorrhoeae di Laboratorium Mikrobiologi
FK Unud. [Free Papers]. Disampaikan pada Simposium Evidence Based Use of Antimicrobials
in the Era of Alarming Resistance, Jakarta, 2-3 July 2005
26. Miro, Nurio MD. Controlled multicenter study on chronic suppurative otitis media treated
with topical application of ciprofloxacin 0,2 % solution in a single-dose containers or
combination of polimixin B, neomycin, hydrocortison suspension. Otolaryngology-Head &Neck
Surgery. 123(5);617-623. November 2000
27. Nash D, Wald E. Sinusitis. Pediatrics in Review 2001;22:111-7
28. Weis M, Hendrick K, Tillotson G, Gravelle K. Multicenter comparative trial of ciprofloxacin
versus cefuroxim axetil in the treatment of acute rhinosinusitis in a primary care setting. Clinical
Therapy, 1998;20(5):921-32
29. Esposito S, D’Errico G, Montanoro C. Oral Ciprofloxacin for treatment of acute bacterial
pharyngotonsilitis. Journal of Chemotherapy.1990 April; 2(2):108-12)
30. Basran GS, Joseph J, Abbas AM, Hughes C, Tillotson GS. Treatment of acute exacerbations
of chronic obstructive airways disease-a comparison of amoxycillin and ciprofloxacin. [Abstract]
J Antimicrob Chemother 1990;Suppl F:19-24
31. Anzueto A, Niederman MS, Haverstock DC, Tillotson GS, Bronchitis Study Group. Efficacy
of ciprofloxacin and clarithromycin in acute bacterial exacerbations of complicated chronic
bronchitis: interim analysis. [Abstract] Clinical Therapeutics 1997; 19(5): 989-1001
32. Anzueto A, Niederman MS, Tillotson GS, Bronchitis Study Group. Etiology, susceptibility
and treatment of acute bacterial exacerbations of complicated chronic bronchitis in the primary
care setting: ciprofloxacin 750 mg BID versus clarithromycin 500 mg BID. [Abstract] Clinical
Therapeutics, September-October 1998; 20(5): 885-900
33. Chan TH, Ho SS, Lai CK, Cheung SW, Chan RC, et al. Comparison of Oral Ciprofloxacin
and Amoxycillin in Treating Infective Exacerbations of Bronchiectasis in Hong Kong. [Abstract]
Chemotherapy Mar-Arpil 1996; 42(2): 150-6
34. Chemotherapy and Management of tuberculosis in the United Kingdom: recommendations
1998. Joint Tuberculosis Committee of the British Thoracic Society. Thorax 1998;53:536-548
35. Humma, Larisa M. Prevention and Treatment of Drug-resistant tuberculosis. Am J Helath-
Syst Pharm. 1996;53:2291-8
36. Yew WW. Management of Multidrug-Resistant Tuberculosis: Chemotherapy and Beyond.
Clinical Pulmonary Medicine, September 2001;8(5):265-272
37. Berning, Shaun E. The Role of Fluoroquinolones in Tuberculosis Today. [Article] Drugs,
2001;1(1):9-18
38. Kennedy N, Berger L, Curram J, Fox R, Gutmann J, et al. Randomized controlled trial of a
drug regimen that includes ciprofloxacin for the treatment of pulmonary tuberculosis. Clinical
infectious diseases, May 1996;22(5):827-33
39. Kennedy N, Fox R, Kisyombe GM, et al. Early bactericidal and sterilizing activities of
ciprofloxacin in pulmonary tuberculosis. Am Rev Respir Dis, 1993;148:1547-51
40. Ziganshina LE, Vizel AA, Squire SB. Fluoroquinolones for Treating Tuberculosis [Review].
The Cochrane Database of Systematic Reviews, Vol.3, 2005.
41. Hanafiah MA. Efikasi Siprofloksasin dengan Kombinasi OAT Lainnya dalam Pengobatan
Tuberkulosis Paru yang Resisten terhadap Rifampisin dan Isoniazid. [Tesis]. Bagian
Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
42. Berning, Madsen SE, Iseman L, Peloquin CA. Am J Respir Crit Care Med, Jun
1995;151(6):2006-9
43. Pneumonia Komuniti, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2003:19-21
44. Rizzato G, Allegra L, Dotti A, Ferliga M, Marcobruni N, Grassi V, et al. Efficacy and
tolerability of a teicoplanin-ciprofloxacin combination in severe community-acquired
pneumonia. [Abstract]. Clinical Drug Investigation 1997;14(5):337-45
45. Johnson RH, Levine S, Traub SL, Echols RM, Haverstock D, Arnold E, Kowalsky SF.
Sequential intravenous/oral ciprofloxacin compared with parenteral ceftriaxone in the treatment
of hospitalized patients with community-acquired pneumonia. [Abstract]. Infectious Diseases in
Clinical Practice 1996; 5(4):265-72
46. Mouton Y, Beuscart C, Leroy O, Ajana F, Charrel J. Evaluation of ciprofloxacin versus
amoxicillin + clavulanic acid or erythromycin for the empiric treatment of community-acquired
pneumonia. [Abstract]. Pathologie-biologie 1991; 39(1): 34-7
47. Pneumonia Nosokomial, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksaan di Indonesia. Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia. Indah Offset Citra Grafika. Jakarta 2005:5
48. Torres A, Bauer TT, Léon-Gil C, Castillo F, Alvarez-Lerma F, Martinez Pellús, et al.
Treatment of severe nosocomial pneumonia: a prospective randomised comparison of
intravenous ciprofloxacin with imipenem/cilastatin. Thorax 2000; 55:1033-9
49. Fink MP, Snydman DR, Niederman MS, Leeper KV, Johnson RH, Heard SO, et al.
Treatment of severe pneumonia in hospitalized patients, result of a multicenter, randomized,
double-blind trial comparing intravenous ciprofloxacin with imipenem-cilastatin. Antimicrobial
Agents and Chemotherapy 1994; 38(3): 547-57
50. Pichler H, Diridl G, Wolf D. Ciprofloxacin in the treatment of acute bacterial diarrhea: a
double blind study. Eur J Clin Microbiol 1986 April;5(2): 241-3
51. Wallace MR, Yousif AA, Mahroos GA, Mapes T, Threlfall EJ, Rowe B, et al. Ciprofloxacin
versus ceftriaxone in the treatment of multiresistant typhoid fever. Eur J Clin Microbiol Infect
Dis Dec 1993;12(12):907-10
52. Girgis NI, Butler T, Frenck RW, Sultan Y, Brown FM, Trible D, et al. Azithromycin versus
Ciprofloxacin for Treatment of Uncomplicated Typhoid Fever in a Randomized Trial in Egypt
That Included Patients with Multidrug Resistance. Antimicrobial Agents and Chemotherapy,
June 1999;43(6):1441-1444
53. Mehnert-Kay SA. Diagnosis and Management of Uncomplicated Urinary Tract Infections.
Am Fam Physician 2005; 72: 451-6, 458
54. McCarty JM, Richard G, Huck W, Tucker RM, Tosiello RL, et al.; for the Ciprofloxacin
Urinary Tract Infection Group. A randomized trial of short-course ciprofloxacin, ofloxacin, or
trimetoprim/sulfamethoxazole for the treatment of acute urinary infection in women. [Abstract]
Am J Med 1999; 106:292-9
55. Iravani A, Klimberg I, Briefer C, Munera C, Kowalsky SF, Echols RM. A trial comparing
low-dose, short-course ciprofloxacin and standard 7 day therapy with co-trimoxazole or
nitrofurantoin in the treatment of uncomplicated urinary tract infection. J Antimicrob Chemother
1999; 43(suppl A):S67-75
56. Vogel T, Verreault, Gordeau M, Morin M, Grenier-Gosselin L, Rochette L. Optimal duration
of antibiotic therapy for uncomplicated urinary tract infection in older women: a double-blind
randomized controlled trial. CMAJ 2004;170(4):469-73
57. Navarro MDS, Marinero MLS, Navarr AS. Pharmakokinetic/Pharmacodyamic modeling of
ciprofloxacin 250 mg/12h versus 500 mg/24h for urinary infections. Journal of Antimicrobial
Chemotherapy 2002;50:67-72
58. Hooton TM, Scholes D,Gupta K, Stapleton AE, Roberts PL, Stamm WE. Amoxicillin-
Clavulanate vs Ciprofloxacin for the Treatment of Uncomplicates Cystitis in Women, A
Randomized Trial. JAMA, February 23, 2005;293(8):949-955
59. Fang G, Brennen C, Wagener M, Swanson D, Hilf M, et al. Use of Ciprofloxacin versus Use
of Aminoglycosides for Therapy of Complicated Urinary Trict Infection: Prospective,
Randomized Clinical and Pharmacokinetic Study. Antimicrobial Agents and Chemotherapy,
Sept 1991; 1849-1855
60. Allais JM, Preheim LC, Cuevas TA, Roccaforte JS, Mellencamp MA, Bittner MJ.
Randomized, Double-Blind Comparison of Ciprofloxacin and Trimethoprim-Sulfamethoxazole
for Complicated Urinary Tract Infections. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, Sept 1998;
1327-1330
61. Thorpe EM, Schwebke JR, Hook III EW, Rompalo A, Cormack WM, Mussari KL, et al.
Antimicrobial Agents and Chemotherapy, Dec 1996; 2775-2780
62. De los Reyes MRA, Pato-Mesola V, Klausner JD, Manalastas R, Wi T, Tuazon CU, et al. A
Randomized Trial of Ciprofloxacin versus Cefixime for Treatment of Gonorrhea aftyer Rapid
Emergence of Gonococcal Ciprofloxacin Resistance in The Philippines. Clinical Infectious
Diseases 2001; 32: 1313-8
63. Licitra CM, Brooks RG, Sieger BE. Clinical Efficacy and Levels of Ciprofloxacin in Tissue
in Patients with Soft Tissue Infection. Antimicrobial Agents and Chemotherapy May
1987;31(5):805-807
64. Gentry LO, Rodriguez GG. Oral Ciprofloxacin Compared with Parenteral Antibiotics in the
Treatment of Osteomyelitis. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Jan 1990:34(10):40-43
65. Greenberg RN, Newman MT, Shariaty S, Pectol RW. Ciprofloxacin, Lomefloxacin, or
Levofloxacin as Treatment for Chronic Osteomyelitis. Antimicrobial Agents and Chemotherapy,
Jan 2000;44(1):164-66
66. Gendrel D. Fluorquinolones in paediatrics: a risk for the patient of for the community?
[Abstract]. Lancet Infect Dis. 2003 Sep; 3(9): 537-46
67. Thomsen LL, Paerregaard A. Treatment with Ciprofloxacin in Children with Typhoid Fever.
Scand J Infect Dis 1998; 30: 355-357
68. Schaad UB, Wedgwood J, Ruedeberg A, Kraemer R, Hampel B. Ciprofloxacin as
antipseudomonal treatment in patients with cystic fibrosis. Pediatr Infect Dis J. Jan 1997; 16(1):
106-11
69. Chalumeau M, Tonnelier S, PharmD, d’Athis P, Treluyer J, Gendrel D, et al.
Fluoroquinolone Safety in Pediatric Patients: A Prospective, Multicenter Comparative Cohort
Stufy in France. Pediatrics,June 2003;111(6)e714-719. Available at
http://www.pediatrics.og/cgi/content/filll/111/6/e714
70. Dutta P, Rasaily R, Saha MR, Mitra U, Bhattacharya SK, Bhattacharya MK, et al.
Ciprofloxacin for treatment of severe typhoid fever in children. Antimicrobial Agents and
Chemotherapy, May 1993;37(5):1197-1199