Anda di halaman 1dari 6

PENERAPAN JUST IN TIME PADA INDUSTRI FASHION SEBAGAI

PENJAMINAN KUALITAS (QUALITY ASSURANCE)

ABSTRAKSI

Sistem Just in Time telah menjadi satu pendekatan umum dalam pengelolaan
bahan baku/persediaan. Semakin sederhana proses produksi, semakin mudah sistem JIT
ini dilakukan. JIT menekankan pengurangan persediaan melalui proses pengurangan
faktor-faktor yang tidak menentu dalam proses produksi, misalnya mesin, pekerja, dan
salur proses produksi itu sendiri.pendekatan JIT dalam hal perencanaan dan
pengawasan dsapat dilihat sebagai penyelesaian urutan proses produksi yang
mengedepankan kualitas sehingga produksi dapat selesai tepat waktu. JIT menekankan
pada keterlibatan pekerja, mengurangi ketidakpastian, dan perbaikan secara terus
menerus. Pada industri busana ini, penerapan JIT dilakukan dengan memastikan bahan
baku yang akan digunakan, kontrol kualitas yang dimulai dari bahan baku dan setiap
bagian proses produksi.

PENDAHULUAN

Supply Chain Management mengemukakan dua perbedaan sistem dasar, yaitu


push system dan pull system. Push system terjadi saat perusahaan dapat memproduksi
barang dalam jumlah besar (mencapai economics of scale) yang nantinya akan
didstribusikan kepada konsumen. Sedangkan pull system terjadi saat perusahaan
menginginkan tingkat efisiensi yang tinggi. Perusahaan tidak memproduksi barang/jasa
sampai terjadi pesanan konsumen terhadap produk perusahaan. Dengan kata lain, pull
system menghendaki produksi barang/jasa dan penambahan nilai suatu produk terjadi
saat permintaan konsumen sudah ada, sehingga perusahaan tidak memerlukan
persediaan (inventory). Sistem Tarik (Pull dimulai dari perkiraan tingkat output yang
akan diperlukan, kemudian ditarik kebelakang untuk menentukan berapa barang yang
diproduksi, kebutuhan bahan baku, sumberdaya yang diperlukan serta kebutuhan tenaga
kerjanya. Konsep sistem tarik inilah yang menjadi dasar penerapan Just in Time (JIT).

Penelitian ini ingin mengetahui apakah sistem JIT dapat diterapkan pada industri
busana dalam rangka meningkatkan kualitas produk yang lebih baik, meningkatkan
efektifitas dan efisiensi dari proses bahan baku, pengerjaan proses produksi, hingga
barang tersebut sampai di tangan konsumen.

Filosofi Just in Time:

 Menghilangkan kegagalan/kesalahan dalam segala bentuk


 Percaya bahwa biaya persediaan dapat dikurangi
 Perbaikan secara terus menerus

Konsep Just in Time dapat diartikan sebagai serangkaian aktivitas produksi


dengan menggunakan barang sediaan (inventory) berupa bahan baku minimal yang
kemudian diproses menjadi barang jadi. Konsep ini juga didasarkan pada asumsi bahwa
tidak ada barang yang diproduksi sampai produksi barang itu dibutuhkan (Davis Mark
M, 1999: 398). Intinya adalah menyediakan informasi yang tepat, pada orang yang
tepat, dan pada waktu yang tepat sehingga mereka (perusahaan dan supplier) dapat
langsung merespon pasar segera setelah informasi (order) diterima.

Untuk mendapatkan proses produksi yang terus menerus dan stabil, diperlukan
keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan keluaran. Untuk itu, perencanaan
agregat sangat dibutuhkan untuk menyeimbangkan dan menetapkan tingkat keluaran
secara menyeluruh di dalam jangka waktu pendek atau menengah dalam menghadapi
permintaan yang berfluktuasi.

Untuk mendapatkan proses produksi yang terus menerus dan stabil, diperlukan
keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan keluaran. Untuk itu, perencanaan
agregat sangat dibutuhkan untuk menyeimbangkan dan menetapkan tingkat keluaran
secara menyeluruh di dalam jangka waktu pendek atau menengah dalam menghadapi
permintaan yang berfluktuasi.

Sistem JIT ini membutuhkan kerjasama dan usaha yang besar antara perusahaan
dan supplier, karena perusahaan akan melakukan pemesanan bahan baku kepada
supplier setiap terjadi order/permintaan konsumen, sehingga kapabilitas supplier yang
besar sangat diperlukan untuk selalu siap melakukan pengiriman bahan baku.

Alasan yang mendorong diterapkannya sistem JIT adalah (Hanna, 2001: 575):
 Ketidakpastian supplier yang dapat menyediakan bahan baku sesuai
pesanan tepat waktu
 Ketidakpastian/kerumitan operasional produksi (dalam hal set-up mesin,
proses produksi yang terlalu panjang)

Just in time pertama kali ditemukan oleh Taiichi Ohno yang diterapkan dalam
sistem produksi Toyota Motor Company di Jepang. Taiichi Ohno mendefinisikan just in
time sebagai berikut: “… bahwa dalam suatu rangkaian proses produksi, suku cadang
yang diperlukan untuk perakitan tiba pada ujung lini rakit pada waktu yang diperlukan
dan hanya dalam jumlah yang diperlukan.

Sistem just in time berusaha menghilangkan segala pemborosan dan segala


sesuatu yang tidak memberi nilai tambah dengan menyediakan sumber daya pada
tempat dan waktu yang tepat. Sistem ini akan mengakibatkan persediaan lebih sedikit,
jumlah pekerja lebih sedikit, dan biaya produksi yang lebih rendah serta produk dapat
diserahkan ke pelanggan tepat waktu. Kualitas yang sangat tinggi merupakan hasil dari
suatu sistem pengendalian mutu yang sangat baik. Pengendalian kualitas dilakukan
sejak bahan baku diperoleh perusahaan dari supplier, kemudian melewati tahapan
proses produksi, dan menjadi bahan jadi yang siap didistribusikan kepada konsumen.

Pengendalian yang baik sangat diperlukan agar bahan baku produksi selalu
tersedia secara tepat waktu, sumber pemborosan dapat dihilangkan serta tingkat sediaan
yang rendah. Dengan sistem ini, tingkat sediaan ditekan serendah mungkin (zero
inventories) dan kualitas produksi senantiasa dijaga dengan menekan kerusakan
serendah mungkin (zero defect).
Tantangannya adalah bagaimana membina hubungan yang baik dan kuat dengan
supplier sehingga supplier selalu siap menerima informasi pesanan perusahaan
kemudian menyediakannya tepat waktu.

Tujuan yang ingin dicapai dengan jumlah persediaan yang rendah adalah untuk
meminimalkan investasi dalam persediaan, bereaksi cepat terhadap perubahan
permintaan yang mungkin terjadi, dan menghindari kualitas persediaan yang kurang
baik. Terdapat tiga prinsip utama just in time dalam pengendalian kualitas, yaitu output
yang bebas cacat adalah lebih penting daripada output itu sendiri, segala kesalahan dan
kerusakan dapat dicegah, dan tindakan pencegahan adalah lebih murah daripada
pekerjaan mengulang (Suparjo).

PENERAPAN SISTEM JUST IN TIME

Sistem Just in Time membutuhkan desain pengerjaan produksi dengan proses


produksi yang minimum. Setiap unit kerja dipandang sebagai keseluruhan fungsi proses
produksi, yang masing-masing dapat melakukan dan bertanggung jawab terhadap
kontrol kualitas. Implikasinya adalah bahwa desain sistemnya harus dapat
menghubungkan sistem logistik terhadap output hasil produksi.

Pengendalian kualitas dalam just in time dilakukan sepanjang proses, mulai dari
penentuan pemasok sampai barang diterima konsumen. Setiap barang diharapkan
memenuhi standar kualitas saat diterima konsumen. Setiap mesin produksi diharapkan
siap dipakai saat akan memproduksi barang, dansetiap pengantaran pesanan diharapkan
tiba tepat waktu. Oleh karenanya, proses produksi adalah hal yang sangat signifikan
dalam sistem ini. Perusahaan akan memberi perhatian utama pada kualitas, tindakan
pencegahan kesalahan dan kerusakan, dan membangun kerjasama yang baik terhadap
setiap elemen pengerjaan produksi.

Beberapa hal yang ingin dieliminasi/dihilangkan dalam proses produksi adalah


(Beasley):

 Produksi yang terlalu berlebihan, dikarenakan memproduksi melebihi


yang sebenarnya dibutuhkan
 Waktu menunggu, yaitu saat seorang pekerja harus menunggu terlalu
lama untuk mengerjakan bagiannya karena pekerja sebelumnya tidak
menyelesaikan bagiannya tepat waktu
 Transportasi/distribusi barang dalam suatu pabrik
 Waktu proses produksi yang terlalu lama
 Persediaan barang
 Barang produksi yang gagal/rusak

Dalam operasi perusahaan terdapat empat jenis pemborosan, yaitu sumberdaya


produksi yang terlalu banyak, jumlah produksi yang berlebihan, jumlah sediaan yang
terlalu banyak, dan investasi modal yang tidak perlu. Untuk mencapai pengurangan
biaya, produksi harus cepat dan fleksibel sehingga mampu menyesuaikan diri dengan
perubahan permintaan pasar tanpa kelebihan waktu yang tidak berguna.
JIT merupakan sistem produksi yang tepat pada perusahaan yang:

 Mempunyai suatu standart produk


 Mempunyai jumlah produksi yang terjangkau untuk dapat dilakukan
 Mempunyai produk yang berkualitas baik
 Mempunyai tingkat fleksibilitas sekaligus kediplinan yang tinggi
terhadap jam kerja
 Membutuhkan waktu yang singkat dalam instalasi mesin poduksi

Element dalam JIT antara lain:

 Mengadakan pertemuan secara teratur


 Mendiskusikan permasalahan pekerjaan dan mencari solusi
 Terbuka terhadap konsultasi dan kerjasama dalam tim
 Memodifikasi mesin, misalnya mengurangi waktu instalasi
 Mengurangi persediaan
 Mengemukakan permasalahan daripada menutupinya
 Menghindari kesalahan

Dengan demikian maka just in time dapat lebih menghemat biaya karena tidak
ada pemborosan. Perusahaan akan mampu menciptakan produk yang berkualitas tinggi
sesuai permintaan pelanggan, karena telah melewati quality control yang ketat pada
setiap lininya. Selain kualitas yang baik, pelanggan akan terpuaskan karena produk
dapat diserahkan tepat waktu, karena telah melewati serangkaian standar waktu yang
telah ditetapkan pada setiap lininya. Dan yang tidak kalah pentingnya, kinerja
perusahaan akan lebih efisien dan efektif karena tidak ada sumberdaya yang
menganggur serta mampu memberikan hasil yang optimal kepada pemilik perusahaan
(share holder).

Manfaat pelaksanaan JIT adalah:

 Kualitas produk yang lebih baik


 Meningkatkan tanggung jawab setiap pekerja terhadap hasil produksi
 Mengurangi pengulangan pekerjaan karena kesalahan produksi
 Mengurangi waktu penyiapan/penginstalan mesin
 Mengurangi barang persediaan
 Menghemat biaya (karena kesalahan produksi berkurang)
 Pekerja ahli lebih banyak, karena setiap pekerja dituntut mengerjakan
semuanya secara benar
 Membina hubungan yang baik dengan supplier

Davis, Mark M (1999: 417) menegemukakan hubungan antara Just in Time


dengan Penjaminan Kualitas (Quality Assurance):

Kesadaran tinggi Imbal balik


terhadap penyebab kegagalan
kegagalan produk produk
Sedikit material
yang terbuang

Pengawasan
Pengawasan kualitas
persediaan JIT
PENERAPAN SISTEM JUST IN TIME PADA INDUSTRI BUSANA

Just in Time pada industri busana penting untuk dilakukan dengan tujuan
pencapaian efektivitas dan efisiensi produksi. Proses produksi dalam industri busana
mempunyai prasyarat kondisi yang mendukung untuk penerapan JIT, sebab mempunyai
komponen mesin, serangkaian proses tahapan produksi (flow chart), dan mempunyai
standart kualitas produksi. Mempunyai persediaan (inventory) yang menumpuk akan
menyebabkan ketidakefisienan, karena perubahan pasar mode yang selalu terjadi setiap
saat, sehingga perusahaan tidak dapat memproduksi pakaian dengan mode yang sama
dalam jumlah yang banyak.

Proses produksi dimulai dengan adanya informasi order/pesanan dari konsumen


yang disampaikan kepada bagian pemasaran. Tahapan selanjutnya adalah melakukan
pesanan bahan baku/material kepada supplier. Dalam sistem JIT industri busana, pihak
supplier harus mempunyai kesiapan dalam menerima pesanan perusahaan, baik
kesiapan dalam hal jenis bahan baku (kain) maupun jumlah bahan baku yang
diperlukan. Supplier harus memenuhi order sesuai informasi (right information), sesuai
jenis bahan baku yang diperlukan (right thing) dan tepat waktu saat dibutuhkan (right
time).

Setelah bahan baku dikirim, pengawasan kualitas dilakukan untuk menghindari


kerusakan bahan baku. Kemudian sampling dibuat dan dikirimkan kepada bagian
produksi sebelum nantinya dibuat produksi nyatanya. Sampling ini sangat penting
karena sampel yang dihasilkan merpakan standart produk yang akan dibuat, oleh
karenanya kontrol kualitas sangat diperhatikan. Setelah mendapat persetujuan dari
bagian produksi, maka produksi segera dilakukan untuk menghasilkan produksi yang
tepat waktu kepada konsumen.

Di setiap bagian produksi (marking, cutting, sewing dan finishing) pengawasan


kualitas dilakukan terus menerus, dengan implikasi setiap pekerja ahli dibidangnya,
sehingga tidak ada hasil produksi yang gagal/rusak. Setiap pekerja bertanggung jawab
pada proses produksi yang dikerjakannya, karena kesalahan yang terjadi akan
mengakibatkan pengulangan, membuat pekerja lain dalam proses produksi selanjutnya
menunggu lebih lama dan menunda pengiriman pesanan kepada konsumen tepat pada
waktunya. Selain itu membuat kesalahan dalam proses produksi akan berdampak pada
pemborosan barang persediaan, sehingga meminimalkan kesalahan adalah suatu
keharusan.
.

KESIMPULAN

Banyak keuntungan yang akan didapat ketika perusahaan industri busana


menerapkan sistem JIT. Namun untuk mencapai keberhasilan dalam JIT, dibutuhkan
implementasi dan komitmen yang baik pada setiap bagian produksi. Setiap bagian
dalam proses produksi (termasuk pekerja dan mesin produksi) harus selalu dalam
keadaan siap untuk dipakai dan berproduksi, karena kepuasan konsumen adalah hal
yang sangat menentukan baik tidaknya kinerja perusahaan dalam mengimplementasikan
sistem JIT ini. Apalagi dengan selalu berkembangnya mode pakaian dalam industri ini,
yang membuat perusahaan harus selalu siap mengantisipasi perubahan mode.

Hal lain adalah adanya hubungan yang baik, kuat dan saling menguntungkan
antara supplier dan perusahaan sehingga pengiriman pesanan bahan baku (kain) dapat
dilakukan tepat waktu dan memenuhi standart bahan baku yang disyaratkan. Dalam hal
ini supplier dianggap sebagai mitra kerja, lebih daripada hubungan supplier itu sendiri.

Akhirnya, jika setiap bagian merasa sebagai komponen penting dalam sistem JIT
dan terpaut hubungannya satu sama lain, maka perwujudan JIT sebagai penjaminan
mutu pada industri busana akan tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Davis, Mark M et. Al, 1999. Fundamentals of operation Management. Third Ed. USA:
McGraw Hill

Index.html

Hanna, Mark D & Newman, W. Rocky, 2001. Integrated Operation Management. First
Ed. New Jersey: Prentice Hall. Inc