Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

Pandangan Agama, Hukum dan Etika Kedokteran


tentang Abortus

Disusun oleh :

• Fucha Dessy Arjilene (1010341005)

• Anggi Trianita (1010342003)

• Addina Ainul Haq (1010342005)

• Amalia Pascadwita Yusril (10103420)

• Aulia Putri Evindra (101034

Dosen pembimbing :

DR. Mardenis

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN
1
UNIVERSITAS ANDALAS

2011

KATA PENGANTAR

Segala puji kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya serta kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Pandangan
Agama, Hukum dan Etika Kedokteran tentang Abortus”. Salawat dan salam tidak lupa kami
kirimkan kepada nabi Muhamad SAW yang telah membawa kita dari zaman kebodohan ke
zaman yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan sekarang ini. Selanjutnya kami
ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah mengarahkan kami dalam
pembuatan makalah ini. Makalah ini dibuat sebagai tugas kelompok pendidikan
kewarganegaraan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan kita semua. Sebagai manusia
yang tidak luput dari kesalahan, kami mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan makalah
ini. Untuk itu, kami dengan senang hati akan menerima kritikan dan saran terhadap makalah
kelompok kami. Sekian, terima kasih.

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………..…………...3

Bab I Pendahuluan………………………………………………………….………………….4

Bab II Pembahasan……………………………………………………………………………..6

2.1 Aborsi Menurut Perspektif Agama……………………………………………………..6

2.2 Aborsi Menurut Perspektif HAM……………………………………………………….9

2.3 Aborsi Menurut Perspektif Etika Kedokteran…………………………..…………...12

Bab III Penutup……………………………………………………………….……………….14

3
BAB I

PENDAHULUAN

Apabila orang berbicara mengenai hak asasi manusia, tentu saja mengenai hak asasi
manusia yang hidup, sebab orang yang mati tidak mempunyai hak asasi lagi. Segala pembicaraan
mengenai hak asasi manusia, misalnya hak untuk berbicara dan mengekspresikan pendapat, hak
untuk memilih agama, hak untuk merasa aman, hak untuk memilih pemimpin dan sebagainya,
dibicarakan dalam kerangka dan demi manusia yang hidup.

Hidup adalah syarat sine qua non (syarat mutlak) untuk mewujudkan dan
mengembangkan seluruh potensi, aspirasi dan mimpi-mimpi seorang manusia. Hidup adalah
syarat dasar untuk memperkembangkan diri menjadi individu dan pribadi sehingga menjadi
dewasa. Oleh karena itu, hak untuk hidup adalah hak pertama dari semua hak asasi manusia
lainnya.

Dewasa ini, hampir setiap hari gencar didengung-dengungkan agar kita menghormati
hak asasi manusia. Bahkan, kini semakin disadari bahwa kejahatan yang paling menakutkan
ialah kejahatan melawan hak asasi manusia,dan dalam hal ini dicontohkan dengan aborsi.

Pengertian Aborsi

Menurut Encyclopedia Britania “ The American College Of Obstericians and


Gyneologist “ ada dua jenis aborsi :

1. Accident abortion, yaitu penghentian kehamilan sebelum kematangan yang terjadi selama
alami, tanpa perlakuan medis.
2. Therapeutic abortion, artinya bahwa penghentian kehamilan melakukan perlakuan tenaga
medis, melalui operasi atau penggunaan RU486 atau beberapa terapi lainnya.

4
3. Aborsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengguguran kandungan (Moeliono,
1997). Makna aborsi lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri
kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim. Kata
aborsi dan abortus sering digunakan secara bergantian walaupun sesungguhnya ada
perbedaan dari keduanya. Makna abortus sendiri lebih menjelaskan kepada proses
terpencarnya embrio (cikal bakal janin) sehingga tidak memungkinkan lagi hidup, sering juga
disebut keguguran, atau terhentinya pertumbuhan yang normal. Pada kenyataannya orang
lebih sering menggunakan kata abortus dalam arti keguguran (pengguguran kandungan).
Aborsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengguguran kandungan (Moeliono,
1997). Makna aborsi lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri
kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim. Kata
aborsi dan abortus sering digunakan secara bergantian walaupun sesungguhnya ada
perbedaan dari keduanya. Makna abortus sendiri lebih menjelaskan kepada proses
terpencarnya embrio (cikal bakal janin) sehingga tidak memungkinkan lagi hidup, sering juga
disebut keguguran, atau terhentinya pertumbuhan yang normal. Pada kenyataannya orang
lebih sering menggunakan kata abortus dalam arti keguguran (pengguguran kandungan).

Abortus sendiri terbagi dua yaitu abortus spontan dan abortus provocatus.
Abortus spontan sering disebut dengan keguguran. Sedangkan abortus provocatus sendiri
terbagi menjadi dua. Pertama, abortus provocatus artificial adalah pengguguran kandungan
menggunakan alat-alat medis dengan alasan kehamilan membahayakan dan dapat membawa
maut bagi ibu, misalnya karena ibu berpenyakit berat tertentu. Tindakan abortus ini lebih
sering disebut abortus terapeutik, diizinkan menurut ketentuan profesional seorang dokter
untuk menyelamatkan ibu yang mengandung. Kedua, abortus provocatus criminalis adalah
pengguguran kandungan tanpa alasan medis yang sah dan dilarang oleh hukum. Termasuk
dalam abortus jenis ini adalah abortus yang terjadi atas permintaan pihak perempuan kepada
seorang dokter untuk menggugurkan kandungannya.

Menurut pengertian tersebut di atas maka sangat jelas upaya untuk melegalkan
praktik aborsi (kecuali aborsi terapeutik) adalah melanggar hukum dan tidak dapat
dibenarkan demi hukum apapun juga rasionalisasinya.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Aborsi menurut perspektif agama

1. Agama Islam

Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa :

1. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada


dinding rahim ibu (nidasi).
2. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur, baik yang bersifat darurat
ataupun hajat.

Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilah yang


membolehkan aborsi adalah:

1. Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium


lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat
lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter.
2. Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu.

Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat


membolehkan aborsi adalah:

>Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetic yang kalau lahir
kelak sulit disembuhkan.

>Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang
didalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama.

6
>Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum
janin berusia 40 hari.

3. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat


zina.

Al-Qur’an dan Aborsi: Manusia - berapapun kecilnya - adalah ciptaan Allah yang
mulia. Agama Islam sangat menjunjung tinggi kesucian kehidupan. Banyak sekali ayat-ayat
dalam Al Qur’an yang menerangkan tentang larangan aborsi. Salah satunya, Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan umat manusia.”(QS 17:70). Didalam agama
Islam, setiap tingkah laku kita terhadap nyawa orang lain, memiliki dampak yang sangat
besar. Firman Allah: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-
sebab yang mewajibkan hukum qishash, atau bukan karena kerusuhan di muka bumi, maka
seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara
keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan
nyawa manusia semuanya.” (QS 5:32)

Ketiga: Umat Islam dilarang melakukan aborsi dengan alasan tidak memiliki uang
yang cukup atau takut akan kekurangan uang.
Banyak calon ibu yang masih muda beralasan bahwa karena penghasilannya masih belum
stabil atau tabungannya belum memadai, kemudian ia merencanakan untuk menggugurkan
kandungannya.. Ayat Al-Quran mengingatkan akan firman Allah yang bunyinya: “Dan
janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki
kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang
besar.” (QS 17:31)

2. Agama Kristen

Secara singkat di dalam Al Kitab dapat disimpulkan bahwa aborsi dalam


bentuk dan alasan apapun dilarang karena :

1. Apabila ada sperma dan ovum telah bertwmu maka unsure kehidupan
telah ada.

7
2. Abortus pada janin yang cacat tidak diperbolehkan karena Tuhan
mempunyai rencana lain pada hidup seorang manusia
3. Anak adalah pemberian Tuhan.
4. Bila terjadi kasus pemerkosaan, diharapkan keluarga serta orang-
orang terdekat dapat memberi semangat.

Aborsi untuk menyembunyikan aib tidak dibenarkan.

Dari sudut pandang agama Kristen: Alkitab dan Aborsi: Tuhan tidak pernah
memperkenankan anak manusia dikorbankan. Apapun alasannya. Kedua: Membunuh
satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa
sama artinya dengan menyelamatkan semua orang.

Yeh 16:20-21 ~ Bahkan, engkau mengambil anak-anakmu lelaki dan perempuan yang
engkau lahirkan bagiKu dan mempersembahkannya kepada mereka menjadi makanan
mereka. Apakah persundalanmu ini masih perkara enteng bahwa engkau menyembelih
anak-anakKu dan menyerahkanNya kepada mereka dengan mempersembahkannya
sebagai korban dalam api?

Yer 1:5 ~ “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal
engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau,
Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

3. Hindu

Aborsi dalam Teologi Hinduisme tergolong pada perbuatan yang disebut "Himsa karma"
yakni salah satu perbuatan dosa yang disejajarkan dengan membunuh, meyakiti, dan
menyiksa. Oleh karena itulah perbuatan aborsi disetarakan dengan menghilangkan
nyawa, maka aborsi dalam Agama Hindu tidak dikenal dan tidak dibenarkan.

4. Budha

8
Dalam agama budha perlakuan aborsi tidak dibenarkan karena suatu karma harus
diselesaikan dengan cara yang baik, jika tidak maka akan timbul karma yang lebih buruk
lagi

2.2. Aborsi menurut perspektif HAM

Apabila orang berbicara mengenai hak asasi manusia, tentu saja mengenai
hak asasi manusia yang hidup, sebab orang yang mati tidak mempunyai hak asasi lagi.
Segala pembicaraan mengenai hak asasi manusia, misalnya hak untuk berbicara dan
mengekspresikan pendapat, hak untuk memilih agama, hak untuk merasa aman, hak untuk
memilih pemimpin dan sebagainya, dibicarakan dalam kerangka dan demi manusia yang
hidup. Bahkan ada orang yang menyatakan bahwa manusia berhak untuk mati atas
kehendak sendiri (euthanasia). Akan tetapi bagaimanapun juga, hak untuk mati inipun
hanya dipunyai oleh manusia yang hidup. Maka “hak untuk hidup” menjadi syarat
utama dan mendasar ketika membicarakan mengenai hak asasi manusia. Oleh karena itu,
sebelum orang ribut mengenai pelaksanaan hak asasi manusia, orang harus lebih dulu
menghormati hak yang paling mendasar yaitu hak untuk hidup.

Hidup adalah syarat sine qua non (syarat mutlak) untuk mewujudkan dan
mengembangkan seluruh potensi, aspirasi dan mimpi-mimpi seorang manusia. Hidup
adalah syarat dasar untuk memperkembangkan diri menjadi individu dan pribadi sehingga
menjadi dewasa. Oleh karena itu, hak untuk hidup adalah hak pertama dari semua hak
asasi manusia lainnya. Penghormatan terhadap hak untuk hidup adalah kondisi dasar
supaya manusia bisa berfungsi dengan semestinya.

Ditinjau dari perspektif HAM, seorang wanita mempunyai hak untuk memperoleh
pelayanan aborsi karena merupakan bagian dari hak kesehatan reproduksi yang sangat

9
mendasar. Di dalam Undang-undang No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Pasal 72 juga
memuat ketentuan mengenai jaminan setiap orang untuk melakukan reproduksi. Namum
dalam hal ini Aborsi merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dihindari bagi wanita
yang tidak menginginkan kehamilannya karena adanya beberapa alasan tertentu.
Reproduksi merupakan fungsi dari makhluk hidup untuk menurunkan generasi
penerusnya, dengan secara alamiah dilengkapi dengan organ-organ yang secara biologis
untuk itu. Demikian juga manusia, penentuan perilaku reproduksi berasal dari hormon-
hormon yang dimilikinya dan juga adanya alat-alat reproduksi, yang antara betina dan
jantan berbeda, untuk memfungsikannya dengan melakukan hubungan seksual. Hak
reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan individual
untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah, jarak, dan waktu
kelahiran anak, serta untuk memiliki informasi dan cara-cara untuk melakukannya.
Terkait dengan ini adalah hak seksual, yakni bagian dari hak asasi manusia untuk
memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab terhadap semua hal yang berhubungan
dengan seksualitas, termasuk kesehatan seksual dan reproduksi, bebas dari paksaan,
diskriminasi dan kekerasan.

Berkaitan dengan masalah reproduksi yang dimiliki setiap orang terutama wanita
maka tentunya akan membuka peluang bagi seorang wanita untuk melakukan aborsi
apabila ia tidak menginginkan janin yang dikandungnya apalagi jika dikaitkan dengan hak
wanita atas tubuh ynag dimilikinya dimana setiap wanita berhak menentukan apa yang
dilakukan pada tubuhnya. Apakah HAM seperi ini yang dimaksudkan oleh undang-
undang?. Bagaimana jika dikaitkan dengan hak janin untuk hidup, bukankan manusia juga
awalnya adalah janin yang diberikan hak untuk hidup sehingga dapat tumbuh menjadi
manusia. Tentuanya hak yang dimaksud adalah hak yang memang dapat dipertanggung
jawabkan kepada hukum walaupun hak tersebut berhubungan dengan hal paling pribadi
dalam diri seseorang termasuk hak untuk bereproduksi tetap harus sesuai dengan hukum
yang berlaku dan tidak bertentangan nilai-nilai norma kemasyarakatan.

10
Tinjauan Tentang Aborsi Dikaitkan Dengan Hak Janin Untuk Hidup

Berbicara mengenai aborsi, tentu tidak lepas dari janin yang dikandung. Janin
nantinya akan berkembang menjadi makhluk hidup yang baru yang terbentuk berdasarkan
struktur genetik. Pengguguran merupakan tindakan yang sengaja mengeluarkan buah
kandungan dari rahim seorang ibu, sehingga mematikan proses perkembangan dan
pertumbuhan janin sebelum tiba saat kelahirannya. Tindakan yang tidak menaruh rasa
hormat terhadap nilai kehidupan janin diakibatkan oleh mereka yang hanya melihat segi
kepentingan pribadi saja dan tidak memandang bahwa janin itu adalah manusia yang utuh
dan mempunyai hak untuk hidup, merupakan suatu kejahatan durhaka.

Bagaimanapun pengguguran yang dilakukan secara langsung dan sengaja tidak


dibenarkan sebab merampas hak janin. Dan setiap pengguguran yang disengaja apa pun
bentuknya merupakan suatu tindakan yang tidak dapat diizinkan, sebab memperkosa hak
fetus atas kehidupan. Bagaimanapun juga hidup janin yang masih dalam kandungan
statusnya bukanlah lebih rendah jika dibandingkan dengan hidup yang sudah dilahirkan.
Oleh karena itu ia juga harus dihormati dan sebagaimana layaknya seorang manusia pada
umumnya sebagai pribadi yang sedang berkembang dan bertumbuh.

Bagaimanapun juga hidup janin yang masih dalam kandungan statusnya bukanlah
lebih rendah jika dibandingkan dengan hidup yang sudah dilahirkan. Oleh karena itu ia
juga harus dihormati dan sebagaimana layaknya seorang manusia pada umumnya sebagai
pribadi yang sedang berkembang dan bertumbuh.

Dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia juga
sebenarnya telah dimuat perlindungan terhadap hak janin. Dalam Pasal 53 dikatakan
bahwa setiap anak sejak dalam kandungan, berhak untuk hidup, mempertahankan hidup,
dan meningkatkan taraf kehidupannya. Anak dalam kandungan yang dimaksud adalah
janin yang nantinya akan tumbuh menjadi anak dan berkembang selayaknya manusia.
Janin merupakan awal kehidupan yang harus dihormati oleh setiap manusia dan dijaga

11
karena janin nantinya akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang kelak juga
akan menghasilkan hal yang sama. Jadi berapapun usia janin, berapapun dikatakan usia
awal kehidupan janin, janin harus tetap dipertahan hidup sepanjang tidak membahayakan
kondisi sang ibu dan memang dapat terlahir kedunia tanpa mengancam nyawa ibu dan
janin.
Dalam Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia (PBB) disebutkan, ”Martabat yang
tertera dalam pribadi manusia dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota
keluarga manusia menjadi dasar kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian di dunia.” Kita
juga tegas mengakui martabat dan hak asasi manusia ini. Mengingat janin adalah manusia,
maka ia memiliki martabat dan mengembangkan hak-hak asasi yang sama dengan kita,
terutama hak untuk hidup. Menyerang janin dengan aborsi berarti menyerang martabat
yang melekat pada kemanusiaan sesama. Kita tidak bisa tinggal diam saat martabat
sesama dirampas orang lain. Kita harus menjadi suara bagi janin yang belum dapat
bersuara. Dilaporkan, terjadi 30 juta-50 juta praktik aborsi per tahun di 56 negara yang
melegalisasi hal itu. Ini merupakan serangan kemanusiaan karena manusia membunuh
sesamanya yang lemah. Jika kita melegitimasi serangan ini, tidak ada alasan lagi bagi kita
untuk menolak perang, pembunuhan, perbudakan, penindasan, dan masalah etika sosial
lainnya.

2.3. Aborsi menurut perspektif Etika Kedokteran

Kenyataannya kebutuhan terhadap praktek aborsi sangatlah tinggi.Data


menyebutkan satu juta wanita Indonesia melakukan aborsi setiap tahunnya. Dari
jumlah tersebut sekitar 50% berstatus belum menikah, 10%-21% di antaranya
dilakukan remaja, 8%-10% kegagalan KB, dan 2%-3% kehamilan yang tidak
diinginkan oleh pasangan menikah.

Tingginya animo masyarakat untuk melakukan praktek aborsi yang tidak


diimbangi dengan pengetahuan hukum dan nilai agama sering kali masalah aborsi
dianggap enteng dan prakteknya dilakukan secara sembunyi-sembunyi sekalipun tidak
jarang merenggut nyawa sang ibu ataupun berbuntut perkara hukum.

12
Perlindungan terhadap kesehatan perempuan berkaitan dengan hak-hak
reproduksinya yang diatur dalam UU No. 7 Tahun 1984 semangatnya untuk
memberikan hak bagi kaum perempuan untuk mendapatkan perlindungan dan
pelayanan kesehatan bukan meliberalkan hak reproduksi perempuan yang
disalahpahami kebebasan untuk memutuskan kapan dan akankah perempuan
mempunyai anak sekalipun dengan melakukan aborsi sebagai pilihan bebas
menyangkut hak-hak reproduksinya.

Dalam pandangan medis, aborsi (abortus atau abortion) yang dibolehkan adalah
abortus berdasarkan indikasi medis (abortus artificialis therapicus). Selebihnya, aborsi
yang dilakukan tanpa indikasi medis dikategorikan sebagai abortus kriminal (abortus
provocatus criminalis). Adapun indikasi medis yang dimaksudkan adalah berdasarkan
kesehatan ibu yang dibatasi pengertiannya pada jiwa ibu.

Bila keselamatan jiwa ibu terancam dengan adanya kehamilan itu, aborsi dapat
dilakukan. Pengertian ini kemudian diadopsi dalam KUHP dan menjadi dasar
penghukuman bagi siapa saja yang melakukan aborsi dan diancam hukuman penjara.
Ancaman ini tidak saja tertuju pada si wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang
yang terlibat termasuk para bidan/dokter, juru obat, maupun orang yang menganjurkan
aborsi. Dari sini jelas bahwa persepsi hukum dan medis adalah menghargai kehidupan
sejak masa konsepsi sehingga aborsi yang dilakukan sejak dini sekalipun dianggap
identik dengan pembunuhan.

Jika dilihat dalam etika kedokteran maka dokter yang melakukan aborsi tersebut
telah melanggar kode etik kedokteran yang berlaku di Indonesia karena dalam Kode
Etik jelas termuat bahwa seorang dokter dilarang melakukan aborsi kecuali untuk
alasan medis. Sehingga dokter tersebut seharusnya dilaporkan kepada MKEK agar
mendapat tindakan dari majelis tersebut sehingga ke depannya tidak akan terjadi lagi

13
BAB III

PENUTUP

14