P. 1
KUMPULAN CERPEN

KUMPULAN CERPEN

|Views: 128|Likes:
Dipublikasikan oleh Lisa Aprilia
tugas sekolah buat adekku iseng-iseng aku upload, bagi yang memerlukan, silahkan didownload ^^
tugas sekolah buat adekku iseng-iseng aku upload, bagi yang memerlukan, silahkan didownload ^^

More info:

Published by: Lisa Aprilia on Apr 12, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2012

pdf

text

original

Cermin Seekor Burung

Oleh Yeni Kurniawati
Ketika musim kemarau baru saia mulai. Seekor burung pipit mulai merasakan
tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia
lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang seiak dahulu meniadi habitatnya, terbang
iauh ke utara, mencari udara yang selalu dingin dan seiuk.
Benar, pelan pelan dia merasakan keseiukan udara, makin ke utara makin seiuk, dia
semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.
Terbawa oleh naIsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel saliu, makin
lama makin tebal, dan akhirnya dia iatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus saliu.
Sampai ke tanah, saliu yang menempel di sayapnya iustru bertambah tebal. Si burung
pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.
Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor kerbau yang
kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya
seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau agar meniauh dan mengatakan bahwa makhluk yang
tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat di atas
burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si
kerbau tidak bicara, dia maiu satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si
burung. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung
mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.
Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, saliu yang membeku pada bulunya
pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali
langit yang cerah. Si burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.
Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber
suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang,
meniilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa saliu yang masih menempel pada bulu si
burung. Begitu bulunya bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah
mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.
Namun apa yang teriadi kemudian, seketika itu iuga dunia terasa gelap gulita bagi si
burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing.
Hmm. tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu yang acap teriadi
dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak selalu lebih hiiau; penampilan acap meniadi
ukuran; yang buruk acap dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di
sebaliknya; dan merasa bangga dengan nikmat yang sekeiap. Burung pipit itu adalah cermin
yang memantulkan waiah kita.






!enjual !ensil
Oleh Sanice Alfieta

Tentunya kita pernah naik bis dan bertemu dengan pedagang yang aneh-aneh. Masih
inget gak waktu pertama kali dapat 'hadiah¨ sebuah barang yang tiba-tiba dibagikan orang di
pangkuan kita waktu duduk di bis?. Mungkin pertama kali heran tetapi akhirnya iadi sedikit
sebal karena kita iadi waspada karena dititipi barang dagangan dengan paksa sehingga ga
enak klo mo tidur. Ada iuga sih kita yang ceroboh meniatuhkan hingga ke kolong bangku, wis
pokoke sangat merepotkan. Tapi klo aku sih daripada sebal mending menikmati momen sang
peniual ngoceh berpromosi ria soal barang dagangannya. Terkadang ada iuga yang kreatiI,
misalnya peniual pensil di bis beberapa tahun yang lalu.
Sambil membagi dagangannya dia nyerocos.

¨Silahkan dipilih warnanya macem-macem, hanya dengan uang lima ribu bisa dapet
sepuluh pensil istimewa, warnanya pun gaul, klo suka dangdut tinggal pake yang kelap-kelip,
ditanggung gak habis dalam sepuluh tahun. Pensil ini punya kemampuan bisa memendek dan
kayunya empuk untuk diraut atau enak iuga buat digigit-gigit karena bahannya tidak beracun
dan ramah lingkungan. Selain buat nulis pensil ini punya Iungsi istimewa yaitu untuk
relaksasi. Tinggal dikorek-korek ke kuping pasti hidup iadi lebih indah, iuga bisa buat alat
pertahanan diri tinggal dicolokin ke mata lawan, atau klo nekat bisa iuga digunakan sebagai
tusuk gigi, tapi klo yang terakhir itu kurang disarankan...,¨

Nah itu emang peniual pensil yang agak eror tapi minimal punya selling skill. Intinya
sih klo mo dagang iangan sampai meniatuhkan harga diri, misalnya dengan cara melas. '
Om ayo dong dibeli, saya belum makan tiga hari.., kasihanilah, buat makan...¨ hihihi cara
yang ga mbois blas. Begitupun cara-cara yang gak etis misalnya ngancam-ngancam, maksa-
maksa atau berbohong tentang barangnya. Sebagai konsumen kita iuga ga boleh bikin
pedagang sakit hati. Jadi ingat Hilman dalam novelnya Lupus Kecil, ceritanya Lupus lagi liat
peniual siput laut atau keong, trus dia nanya-nanya..¨Mang siputnya bisa dimakan ga?¨, 'ya
gak bisa dek, ini kan siput laut..¨..¨trus bisa gigit Ga?¨ ' Gak dong pokoke aman kok buat
mainan. Adek mo beli?¨ tanya pedagangnya antusias. Trus si Lupus iawab, ' Aneh, klo gak
bisa dimakan dan ga bisa gigit kok diiual? Mending iualan semut Rangrang aia, walo ga bisa
dimakan tapi kan bisa gigit...¨

Nah itu baru sekelumit cerita tentang pedagang dan konsumen. Intinya sih sebagai
konsumen kita iuga ga boleh mengadul-adul barang dagangan orang tapi gak beli dengan
legitimasi pembeli adalah raia, padahal yang namanya pembeli adalah yang bener2
melakukan transaksi. Tapi iuga pedagang emang suka menyebalkan tapi kok kita butuh ya.
Jadi seperti hubungan dilematis, benci tapi rindu. klo didepan pedagang kita iadi sok
mencibir. 'kok mahal banget sih bang, barangnya ga bagus nih dsb.¨..tetapi begitu
nyampe rumah kita cekikikan seneng karena dapet barang bagus dan murah ampe dipamerin
ma temen2 sekantor. Budaya yang aneh dan mungkin bagi kita itu white lie, padahal tetep aia
ga etis seperti gak etisnya pedagang yang suka bohong..¨waduh klo segitu sih buat
kulakannya aia ga nutup Neng..¨ atau 'pokoknya klo ada yang lebih murah ta belinya sendiri
deh..dsb..¨. Hmmm. ternyata benar iuga klo gak ati2 di Pasar bisa iadi tempat kita iual beli
dosa..










ngin di Daun !ohon
Oleh . Svifa Andiana

Dia adalah Seseorang yang sangat aku sayangi dan aku cintai, seseorang yang selalu
memendam permasalahan sendiri, selalu tampak tegar ditengah kerapuhannya. Selalu
tersenyum ditengah kemarahannya, hal itu yang membuat aku sayang padanya, tetapi dia iuga
yang membuat aku terhanyut dalam kesedihan ini.
Dia bernama Andri, aku bertemu dengannya di sebuah acara kemahasiswaan, dia anak
yang baik dan humoris, makanya gak heran dalam waktu singkat kami bisa berteman akrab,
teman-temanku mengira kami pacaran dan mereka sangat mendukung. Aku hanya tersenyum
geli melihat teman-teman ku meniahili dia, terIikir olehku apa benar yang mereka katakan.
Tapi aku menepisnya, aku gak mau memikirkan hal itu, karena aku pernah bertekad untuk
tidak pacaran sampai aku selesai kuliah dan aku berusaha meniaga itu.
Waktu terus berlalu, aku iuga tak mengerti kapan rasa itu datang dan hinggap di hati
ini, berawal saat kami bermain ke rumah Hilman, saat itu hilman mengaiak ku keluar untuk
membeli makanan, kami bercerita banyak hal sampai hilman menyinggung tentang Andri dan
pacarnya, aku terperaniat seienak, tapi cepat-cepat kusembunyikan rasa itu, aku kembali
bercerita seolah-olah aku tau kalau dia sudah memiliki pacar, baru aku tersadar hatiku sakit
mandengarkan cerita dari hilman.
Sepulang dari rumah hilman, aku lebih banyak diam begitu iuga dengannya, dia marah
karena aku terlalu lama pergi bersama hilman, tapi bukan itu yang ku pikirkan, aku
memikirkan diriku, ada apa denganku, aku hanya temannya, mengapa aku cemburu dan sakit
hati kalau dia memiliki pacar, mengapa tidak terpikirkan olehku kalau orang semanis dia pasti
ada yang memiliki, dasar bego!. Aku tersenyum sendiri dikamar, mencoba untuk ceria,
menganggap hal ini biasa dan pasti bisa ku atasi, aku bertekad pada diriku untuk meniadi
teman yang baik, selalu ada disisinya saat suka dan duka. Semangat teriakku pagi itu.
Namun perasaan itu muncul kembali saat kami pergi makan di suatu caIe, disana dia
mencurahkan semua isi hati yang selama ini di pendamnya, aku terkeiut melihatnya menangis
layaknya seorang anak kecil di hadapanku, belum pernah aku melihat dia seperti itu, tarnyata
dibalik keceriaannya selama ini tersimpan luka yang sangat dalam, aku terharu ketika dia
mengatakan percaya padaku, aku sangat sayang padanya tapi aku tak mungkin memilikinya.
Setelah keiadian itu dia lebih terbuka padaku tentang pacarnya yang selama ini dia
tutupi, aku semakin mengerti bagaimana dirinya, makin memahami apa yang diinginkannya,
harapku suatu hari dia memiliki seseorang yang benar-benar mengerti dirinya dan sayang
padanya, walau hati ini hancur setiap kali mendengarkan dia bercerita tentang pacarnya. Akan
tetapi yang tak ku mengerti, kerap kali dia mengatakan satu hal yang membangkitkan kembali
perasaan ku, bahwa dia tak ingin melepaskanku karena aku telah meniadi sebagain dari
dirinya, aku bingung, tapi aku iuga gak punya nyali untuk bertanya kepadanya bagaimana
perasaan dia terhadapku.
Sampai pada puncaknya aku tak kuat membendung perasaanku sendiri, aku
mengatakan padanya kalau aku sayang padanya dan aku tau perasaan ini gak boleh terbina,
aku hanya sekedar mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku, terserah dia menganggap
apa yang penting hatiku lega, aku tidak akan membahas masalah ini lagi, karena aku berianii
akan selalu meniadi teman dan sahabat yang baik buatnya
Namun rasa sayang dan cinta sudah bersemi dalam hatiku, tak mudah untuk
menepisnya, walau aku sudah berusaha, ternyata benar kata pepatah cinta itu datang tiba-tiba
walau kita tidak menginginkannya, tapi setelah kita tau mengapa terasa sakit iadinya. Entah
mengapa, setelah keiadian itu dia makin perhatian padaku, aku gak pernah tau apa maksudnya
karena dia tak pernah mengatakannya padaku, yang aku tau dia memberikan perhatian lebih
dari biasanya, seakan-akan meniawab semua pertanyaan tanpa harus diungkapkan, aku gak
peduli aku hanya ingin menialani apa yang aku ialani sekarang, tidak mau berIikir yang
muluk-muluk tentang masa depan, apa yang teriadi antara aku dan dia biarlah berialan seperti
sekarang ini, tanpa kata-kata tapi saling mengerti dan memahami maksud satu dengan yang
lain, walau entah sampai kapan hal ini akan berlaniut, akupun tak tau. Tapi biarlah kisah ini
berialan seiring dengan waktu yang kami pun tak pernah tau akhir dari semua ini, tapi aku
tetap berharap semoga...

















































unung dan Cinta
Oleh . Panii

Ada sebuah kisah tentang seorang bocah sedang mendaki gunung bersama ayahnya.
Tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan iatuh. 'Aduhh!¨ ieritannya memecah
keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkeiut, ketika ia mendengar suara di
keiauhan menirukan teriakannya persis sama, 'Aduhh!¨.
Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, 'Hei! Siapa kau?¨
Jawaban yang terdengar, 'Hei! Siapa kau?¨
Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, 'Pengecut
kamu!¨ Lagi-lagi ia terkeiut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.
Ia bertanya kepada sang ayah, 'Apa yang teriadi?¨
Dengan penuh keariIan sang ayah tersenyum, 'Anakku, coba perhatikan.¨
Kemudian Lelaki itu berkata keras, 'Saya kagum padamu!¨
Suara di keiauhan meniawab, Saya kagum padamu!¨
Sekali lagi sang ayah berteriak 'Kamu sang iuara!¨
Suara itu meniawab, 'Kamu sang iuara!¨
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang
ayah menielaskan, 'Suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan.¨ Kehidupan
memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu.
Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan
kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam
hatimu. Bila kamu menginginkan tim keriamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan
kemampuan itu. Hidup akan memberikan
kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya.
Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.

















!eradilan Rakyat
Oleh Putu Wiiava

Seorang pengacara muda yang cemerlang menguniungi ayahnya, seorang pengacara
senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke
mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang
kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan ienggot memutih itu, tidak terkeiut. Ia menatap
putranya dari kursi rodanya, lalu meniawab dengan suara yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai uiung tombak
pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini." Pengacara muda itu
tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saia. Aku iuga pernah muda seperti kamu. Dan aku iuga berani, kalau perlu
kurang aiar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan periuangan
penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.
Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar
kekuasaan, namun meniadi lebih buas dan keii ketika memperoleh kesempatan untuk
menginiak-iniak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu
iauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum
lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar.
Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di
lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat
keiahatan meniadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belaiar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang
peiuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya
masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuii Anda. Anda dengan seluruh seiarah
Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya
sederetan koreksi terhadap kebiiakan-kebiiakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu
kecil untuk menentang bahkan iuga terlalu tak pantas untuk memuiimu. Anda sudah tidak
memerlukan cercaan atau puiian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih,
kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau iuga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara
sungguh-sungguh sebagai proIesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua iuga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa."Kau sudah mulai lagi dengan puii-puiianmu!" potong
pengacara tua.
Pengacara muda terkeiut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaI.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saia apa yang hendak kamu katakan," sambung
pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati iuga puiian itu, "iangan
membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan
meniebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir saialah sewaiarnya bagaikan mata
air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan
ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela
seorang peniahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun
datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada
akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka.
Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar
menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertuniukkan sebuah teater
spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru.
Peniahat yang paling keiam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike
Tyson, itu bukan istilahku, aku piniam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran
untuk semua sepak-teriangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang
aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh meniadi
sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi
negara terus iuga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku
mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang
mendalam dan kutemukan Iaktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan
sandiwara. Negara ingin menuniukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa keiahatan dibela oleh
siapa pun, tetap keiahatan. Bila negara tetap dapat meniebloskan bangsat itu sampai ke titik
terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku,
maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah
kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang meniadi iaminannya. Negara hendak
meniadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan
keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu
menyimak. Kemudian ia melaniutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku
untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik
penolakanku, baiingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat
supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkeiut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus ienggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang
iauh. Sebentar saia, tapi seakan ia sudah mengarungi iarak ribuan kilometer. Sambil menghela
napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas paniang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang proIesional. Sebagai seorang pengacara aku
tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewaiibanku
sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan
keahlianku untuk membantu pengadilan menialankan proses peradilan sehingga tercapai
keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan iawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam
lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus ianggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menuniukkan dirimu sebagai
proIesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha
pengeiaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau keiar dalam
proIesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tuiuan-tuiuan politik. Namun, tawaran
yang sama dari seorang peniahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang
pantas ditembak mati, karena sebagai proIesional kau tak bisa menolak mereka yang minta
tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan
keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan
uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan iuga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk
mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran seiati, kebenaran yang paling benar
mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi.
Upaya untuk mengeiar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku
menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa iawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar iuga tidak meniadi persoalan. Hanya
ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan iaksa-iaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim
yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saia belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca
walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal
sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu puiian atau peringatan?"
"Puiian."
"Asal Anda iuiur saia."
"Aku iuiur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan
matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela peniahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya iuga adalah sebuah ancaman. Dia tidak
memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkeiut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak proIesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelaiaran penting. Jangan main-main dengan keiahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak meniawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkeiut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut
dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan
karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas iasa atau perlindungan
balik kelak kalau kamu perlukan, iuga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan
bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci
negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang. Keputusanmu sudah
tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah
memiliki pamrih di luar dari pengeiaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu
hanya akan menambah puiian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara
hati nuranimu sebagai penegak hukum yang proIesional."
Pengacara muda itu ingin meniawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan
kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah ielas. Lebih baik kamu pulang
sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu iadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi
orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya
sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang proIesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
Sekretarisnya yang ielita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh
kepada pengacara muda.
"MaaI, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak
beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah
itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu
dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar
suaranya iangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara
terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara
ini dan itu berarti akan membebaskan baiingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat
di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan
membuat negeri kita ini meniadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan meniadi
bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian meniadi kenyataan. Dengan
gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raia
peniahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta
kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin diiamah lagi.
Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke ialanan, menyerbu
dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya
diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah iadi
mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan
pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris ielitanya
membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan
suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku
berbicara sebagai proIesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka
pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah
aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saia seorang
proIesional, tetapi iuga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata
seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang
peniahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang
melanda negeri kita sekarang ini?


***
%omorrow Never Come
Oleh Kalina Marvadi

Ternyata aku memang mencintainya. Setiap malam aku memikirkan ini, dan sekarang
baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin aku mengenalnya,
seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, aku sangat mengagumimu. Sosok yang
begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa
ini.
Aku, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa iatuh
cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di
Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Aku yang terus berprestasi
sepaniang masa studiku hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak
seorang pemilik warung pinggir ialan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku
itu.
Sungguh, aku tak mungkin bersama dia. Apa kata dunia bila aku pacaran, dan
akhirnya mengikat ianii dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa
menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh seiak pertama bertemu dengannya, di
warung milik ayahnya. Sampai hari ini tiba. Keyakinanku goyah. Yah, ternyata semua
prediksiku salah. Aku tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa
yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan
buatku, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi aku tak pernah bisa
memilih. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle.
Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch oIIice
managerku di kantor cabang daerah Surabaya. Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling
penting, dia iuga berniat serius denganku. Tapi aku iuga tak mengerti kenapa tiba-tiba saia
perasaan itu hilang iustru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya aku
membiarkan dia dinikahi seorang staII perbankan rekanan bisnisku. Yap, istilahnya, aku iadi
mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. Aneh kan? Akhirnya setelah aku
mengenal Michelle, aku tahu iawabannya. Aku hanya mengagumi saia, bukan mencintai. Dan
aku merasa berbeda dengan Michelle.
Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas
perasaanku padanya, kenyataannya, aku mengakui sekarang. Aku sedang iatuh cinta!

***

Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di ialanan yang
memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saia aku menghentikan laiu mobilku dan
memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir ialan tak iauh
dari tempatku berdiri memandangnya. Pandanganku terus mengikutinya. Dia sibuk melayani
pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meia, mengantar pesanan,
menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya.
Tanpa sadar, hampir dua iam aku disana memandangnya. Dan hal itu berlaniut terus hingga
satu minggu. Aku tetap berdiri disana, sampai pada hari ke delapan pengintaianku, aku
memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak
pernah makan di pinggir ialan. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan.
Tapi toh akhirnya aku masuk iuga, dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap.
Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya.
Aku mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena aku
tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesananku dengan bantuan
seorang lelaki paruh baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi
dengan pesananku, aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini.
Dia biasa saia, sekilas tak ada yang menarik dari waiahnya. Sampai saat aku melihatnya
tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang
masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan aku memang sengaia memilih
waktu ini agar aku bisa menemukan iawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Akhirnya
aku temukan. Kesahaiaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, iuga
senyumnya. Aku terpesona pada dirinya.
Hingga berbulan-bulan aku selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya.
Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang meniadi headline di
surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle open mind person,
berwawasan, dan sangat biiak menyikapi suatu masalah. Aku tak pernah canggung dibuatnya.
Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya.
Tak iarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi
omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku seakan merasa
begitu dekat dengan mereka, disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh
subur pada Michelle. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya, aku tak berani mengakui
kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat
sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman aku berpikir keras, aku akan mengubahnya. Yah,
aku sudah mantap pada pilihanku.
Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya mandek bukan
karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak
meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belaiar. Banyak yang dia tahu, termasuk
masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat aku semakin tak bisa melepas
pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, aku
ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan naIkah untuk keluarganya. Karena
aku yakin sanggup menaIkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya.
Aku semakin mantap dengan keputusan ini.
Segera kupacu Soluna hiiau metalikku dengan hati yang tak menentu. Kali ini aku
berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin aku bisa mencukupi
kebutuhan materinya. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang meniadi direktur
utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia.
Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Aku tak berniat
membohongi mereka, hanya saia aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada
setiap orang, tak perduli status sosial mereka. Dan itu meniadi satu bukti padaku, bahwa
mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang,
berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Setelah tikungan itu aku akan
segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saia aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang
tertatih. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir ialan
sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi ialan itu. HuII!!
Aku menarik naIas lega. Aku keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu.
Tapi kelihatannya dia baik-baik saia, hanya agak terkeiut sedikit mungkin. Tapi sudah ada
banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek
tua itu sebelum dia menierit dengan kerasnya. Aku heran melihatnya. Nenek itu baik-baik
saia, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke
arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Lirih iuga kudengar dia menyebut namaku.
Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Ada segulir air mata
iatuh di pipinya. Aku tak mengerti. Segera saia kudekati Michelle, gadis yang ingin kunikahi
itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihatku,
berlari mendekati mobilku. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku, menarik tubuh
seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Aku heran, dan berialan
mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, iuga ayahnya. Lalu aku melihat
waiah itu, penuh darah, tapi aku masih bisa mengenalinya.
Dia adalah aku.











Diah
Oleh Kalina

Gadis itu masih iuga sendiri duduk di bawah pohon beringin yang rindang, keadaan
sekeling memang sedikit aneh, tak iarang ada yang bicara sendiri sambil tertawa lepas, ada
yang berteriak-teriak histeris ketakutan dan ada pula yang mengomel tak henti-henti tapi
entah dengan siapa. Tepatnya sudah satu bulan gadis itu berada di tempat ini, sesuatu yang
mungkin iuga asing untuknya. Padahal seniapun sudah ingin berlalu, karena harus digantikan
dengan malam. Matanya menatap lepas ke angkasa, seperti menanti kehadiran kerlip bintang,
tapi tatapan itu kosong, mulutnya nampak berguman seolah dia sedang bicara dengan
seseorang, sembari tersenyum iemari-iemari lentiknya memainkan uiung-uiung rambut yang
tergerai lepas tertiup angin senia.
Mata itu masih disitu, menatap ke angkasa tampa reaksi nyata. Namun ada basah di
sudut matanya, mengalir iadikan menganak sungai namun tidak sedikitpun dia menyekanya
atau sesungukan seperti laiimnya orang menangis. Malam mulai meniemput, menghadirkan
bulan yang datang dengan malu-malu menyembul di pelataran angkasa luas bersama bintang-
bintang gemerlap. Sunyi yang ada hingga terdengar ielas nyanyian serangga malam
menghadirkan lagu kidung malam, disegudang keperihan dalam kegelapan. Iya dia masih
disitu kini terdengar lirih suaranya melangukan kidung kerinduan akan sesuatu untuk bisa dia
dekap dalam hadir nyata. Malang sungguh telah hadir di kehidupannya kini, tiada siapa yang
bisa tau akan apa yang telah teriadi dalam kenyataan yang pernah dihadapinya saat harus
kehilangan semua yang di cintai.
Adakah puing-puing berserakan kan bisa meniadi kesaksian yang nyata? Bisakah sang
angin beritakan keiadian yang sesungguhnya dan bisakah sang senia kala itu menaungi rasa
takut yang mencekam diri dan saudara-saudaranya. Saat itu yang ada hanya pasrah dalam doa,
entah hari ini atau lusa dia atau keluarga yang lain yang meniadi giiliran kebiadaban perang.
Sore itu, sekembalinya dari sekolah, belum sempat Diah melepas seragam sekolah dan
melepas penat karena seharian berkutit dengan pelaiaran, tiba-tiba bapaknya dan ibunya
menyuruh Diah dan adik-adiknya agar siap-siap karena mereka harus pindah untuk sementara
ke desa sebelah.
'Memangnya ada apa lagi pak? tanyaku penasaran saat sehabis sholat Isya beriamaah,
meski aku sudah menduga pasti ada kerusuhan lagi yang akan teriadi di desa ini seperti yang
sudah-sudah.
'kabarnya penduduk desa mendengar kalau akan ada penyerangan oleh perusuh-
perusuh kedesa kita.¨
Aku dan adik-adikku cuma bisa membayangkan kengerian pasti kan teriadi. Malam itu
kami sekeluarga beriaga-iaga agat tidak tertidur terlampau pulas. Ku lihat ibu membelai
kening si kecil Milah yang saat itu masih berumur tuiuh tahun dan adikku Ridho berusia dua
belas tahun. Tidak bisa rasanya mataku untuk terpeiam walau barang seienak. Bapak pun tak
bisa menyembunyikan kegelisahan di raut waiahnya yang sudah termakan usia, namun masih
nampak tegar meski terkadang sakit-sakitan. Ibu menatapku penuh kesedihan sekakan dia
dapat merasakan kegelisahan dalam keluarga, apa yangkan teriadi nanti.
Saat pukul tiga pagi kami sekeluarga memang masih teriaga, kami sekeluraga
mendengar teriakan-teriakan warga desa.
'Ada perusuh datang! Ada perusuh datang!!
Rasa takutkupun kian mencekam, kupeluk Ridho yang tengah duduk disampingku.
Tampa perlu di komando kami semua bersama warga keluar rumah, ibu pun berlari sambil
mengendong Milah, sementara aku mengandeng Ridho, kami bersama warga coba
menyelamatkan diri sebisa mungkin, karena warga iuga bapak tidak menyangka kalau secepat
ini perusuh-perusuh itu datang.
Pemandangan yang saat tadi hening mencekam kini kian meniadi riuh disebabkan
teriakan dan lengkingan histeris para warga yang terkena sabitan seniata taiam, anak panah
yang melesat yang meneriang tampa belas kasihan menghuiam tubuh tampa dosa, serta peluru
yang mebabi buta. Kami coba lari ketempat-tempat yang kami rasa aman, akhirnya aku dan
keluargaku iuga warga berlari menuiu masiid. Ternyata mereka masih mengeiar, kami dapat
saksikan dari celah-celah kaca bagai mana mereka membakar rumah-rumah kami, bagai mana
mereka meledakkan bom-bom disekitar kami.
Bukan tampa perlawanan kami lari, pemuda-pemuda desapun dengan sekuat tenaga
memberikan perlawanan, tapi apalah kemampuan dari hanya sebilah golok dan bambu
runcing. Bergelimpangan tubuh-tubuh mereka, ada yang tertebas kepalanya hingga putus. Ada
yang terkena peluru di kepala dan tubuhnya, sekuiur tubuh bersimbah darah, bau anyir darah,
lantai dan pelataran sekitar baniir darah.
'Ya Allah
Ada lagi korban tepat di depanku dia iatuh bersimbah darah seraya memegangi
dadanya yang terkena tembakan, disini darah disana pula darah dan erangan kesakitan, lantas
mana bapak? Ku tak kuasa menahan airmata, menyaksikan pemandangan yang memilukan,
aku resah, aku bingung, karena aku tidak melihat bapak di sekitar kami.
'Kak .Bapak!!
Ya Allah ternyata bapak telah terluka, terkena sabitan golok, Ridho memegangi bapak
sambil menangis.
'Pak, tahan ya, Pak! Pasti kita selamat
Ku peluk bapak yang bersimbah darah, sudah tak ku hiraukan lagi, darah membasahi
baiuku.
'Diah, iaga ibu dan adik-adikmu ya!
'Bapak!!!¨ Aku dan Ridho coba menguncang bapak agar dia bangun..namun sia-sia.
Belum usai sedihku tiba-tiba adikku Milah iatuh terbuiur tepat iuga dihadapanku dan ibu
rebah bersimbah darah dan anak panah menancap di dada kirinya.

***

Gadis itu masih iuga sendiri duduk di bawah pohon beringin yang rindang. Mata itu
masih disitu, menatap ke angkasa tampa reaksi nyata. Namun ada basah di sudut matanya,
mengalir iadikan menganak sungai namun tidak sedikitpun dia menyekanya atau sesungukan
seperti laiimnya orang menangis. Gadis itu lirih berucap " Malam mulai meniemput,
menghadirkan bulan sementara aku? sedih sepaniang hari, aku merasa kehilangan teramat
sangat tampa bisa ku berteriak lagi, aku rindukan mereka meniemputku iuga, meniemput
kepelukan mereka hingga waktu tiba".
Satu yang tersisa yang ku punyapun pergi, karena terserang penyakit yang mewabah di
sekitar pengungsian. Selamat ialan Ridho, ibu, bapak dan Milah iuga ikut meniemputmu,
meninggalkan kakak sendirian berpiiak disini, entah sampai kapan semua kan tertahan di
rongga dada, sesak iiwa bernaIas walau sekedar menghirup udara.
Biarlah semua membisu, mematung di ieieran pemakaman ,gugurkan bunga kemboia
pada pusaran, basah sudah ku hempaskan iiwa. Menyeka perih iika ada yang tertinggal saat
tertidur tadi.
Ku ingin semua usai, kuingin semua hilang, tampa ada goresan pisau di lubuk hatiku,
ku kehilangan iiwa dan angan kehidupan setelah semua hilang dari kehidupanku, dari yang di
kasihi.
Ku terhempas lunglai, rapuh tampa tau kelaniutan hidupku, ku ingin semua usai, yah
semua.
Tanpa beban, ku ingin hari-hariku penuh ceria dan tawa, tiada mendung kesedihan di
bola mataku.
Ku ingin bebaskan iiwa penatku, bersenandung kidung mania milik ibu, kidung rindu
milik bapak dan kidung riang milik adik-adikku.
Selamat ialan semua, ku ingin tidurku terpulas malam ini, tampa harus terusik oleh
siapapun, kuingin terbang pergi kekayangan para dewa-dewi menata hari tampa letih dan
kepedihan. Biarku tertidur disini, meniemput mimpi saat kembalikan hidup tampa sukma
teriaga, ku ingin terpulas saat ini iuga selamanya, bersama kerdil dan kebodohan yang tak bisa
kutahan lagi, selamat malam mimpi, selamat tinggal kehidupan dan angan kepedihan ,
kusudahin hingga kehari ini.
'Suster Mira! mana Diah? Kenapa belum iuga dia ada di ruanganya? tanya suster Sri
yang iuga bertugas meniaga para pasien di rumah sakit iiwa tersebut.
'Tadi dia ingin duduk-duduk di halaman samping
masa Diah belum masuk, malamkan sudah larut,¨ uiar suster Mira.
'Meski pikiranya agak terganggu tapi Diahkan tidak biasanya seperti ini,¨ Suster Sri
resah.
'Biar aku cari Diah Jawab Suster Rina yang baru tiba dari ruang sebelah dan
kebetulan mendengar percakapan mereka.
'Ya ampun.. Diah.. apa yang sudah teriadi dengan kamu nak?!!! Suster Rina
menemukan Diah tergolek kaku bersandar di kursi tepat dibawah pohon beringin.
Ternyata teriakan Suster Rina terdengar oleh yang lainya, hingga para petugas lainpun
datang dengan penuh tanda tanya.
Ternyata Diah memang tidur untuk selamanya, meniemput kembali keluarganya,
meniemput semua kenangan pedih untuk dilepaskan, meski ialan tertempuh salah, dengan
seutas tali pengikat dilehernya.
Rembulan dan bintang kesaksian bisu yang takkan pernah berucap, meski tau apa yang
teriadi, serangga malampun hanya bisa berkidung duka dengan nyanyian, malam kian
merayap kelam di hempasan arus kehidupan, menyudahi untuk agar mentari esok tetap bisa
bersinar kembali.



































Sang !rimadona
Oleh A. Mustofa Bisri

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku
khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam
masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.
Tapi agar ielas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan
waiah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Seiak kecil aku sudah meniadi
"primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memaniakanku, sangat
menyayangiku.
Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-iuga disayangi
guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-
perlombaan dan tidak iarang aku meniadi iuara.
Ketika di SD aku pernah meniadi iuara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat
piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah meniuarai lomba baca puisi
tingkat provinsi.
Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku meniadi artis di ibu kota
seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin meniadi pengacara yang di setiap
persidangan meniadi bintang, seperti sering aku lihat dalam Iilm. Ini gara-gara ketika aku baru
beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba Ioto model. Lalu ditawari main sinetron
dan akhirnya keasyikan main Iilm. Kuliahku pun tidak berlaniut.
Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian meniadi incaran
perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta meniadi presenter dalam acara-acara
seremonial; meniadi host di tv-tv; malah tidak iarang diundang untuk presentasi dalam
seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh iadi aku hanya
diiadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak
peduli.
Soal kuliahku yang tidak berlaniut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada
diriku, "Ah, belaiar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah uiung-uiungnya
kan untuk mencari materi. Aku tidak meniadi pengacara dan bintang pengadilan, tak
mengapa; bukankah kini aku sudah meniadi superbintang. Materi cukup."
Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan
kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri
yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek
kata aku bangga bisa meniadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang
tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung.
Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari
pekeriaan.
Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari
kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saia yang kulakukan dan
menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa.
Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah
benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui
surat, ialah soal ibadah.
"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat iangan kamu abaikan!"
"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelaiari ketika di kampung dulu, agar
tidak hilang."
"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, iangan lupa bersedekah kepada Iakir miskin dan
anak yatim."
Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula
memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan
semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku iustru risi dan menganggapnya
angin lalu saia.
Sebagai artis tenar, tentu saia banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang
yang mengagumiku iustru sebelum aku meniadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar
mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tuniukkan tidak hanya dengan hampir
selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia iuga setia menungguiku shoting Iilm dan
mengantarku pulang. Tidak itu saia. Hampir setiap hari, bila beriauhan, dia selalu telepon atau
mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.
Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki
kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh
perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku
berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami
ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saia yang
paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang seiak lama menghendaki aku segera
mengakhiri masa laiangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.
Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berialan baik-baik saia. Setelah berbulan
madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak
keberatan. Sampai akhirnya teriadi sesuatu yang benar-benar mengubah ialan hidupku.
Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-
gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang
tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya
berubah sama sekali. Dia iadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya iuga tidak seperti
dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu iarang keluar malam, hampir setiap
malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saia yang dikeriakannya di luar
sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.
Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekeriaan.
Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu.
Yang terganggu iustru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami.
Sepertinya apa saia bisa meniadi masalah. Sepertinya apa saia yang aku lakukan, salah di
mata suamiku. Sebaliknya menurutku iustru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang
benar. Pertengkaran hampir teriadi setiap hari.
Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka
bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering
mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang
selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap
terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang
tua mereka.
Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengaiakku mengikuti
kegiatan yang mereka sebut sebagai pengaiian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan
kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai
tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini
sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang ielas
aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah maielis
pengaiian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz
berbicara tentang keIanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat,
tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengaiak iamaah berdzikir.
Setelah itu, aku iadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan
kehidupanku. Aku tidak lagi melayani aiakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak
mempunyai waktu untuk itu. Aku meniadi semakin raiin mengikuti pengaiian; bukan hanya
yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi iuga pengaiian-pengaiian lain termasuk yang
diadakan di RT-ku. Tidak itu saia, aku iuga getol membaca buku-buku keagamaan.
Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekeriaanku sebagai
artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengaiian. Apalagi setelah salah seorang ustadz
mempercayaiku untuk meniadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk
mengisi pengaiian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku
keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode
dan umumnya yang mengarah kepada penoniolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan
seiak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Seiak itu aku senantiasa memakai
busana muslimah yang menutup aurat. Malah iilbabku kemudian meniadi tren yang diikuti
oleh kalangan muslimat.
Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat meniadi
"tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan
kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan
semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona".
Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar meniadi "penarik minat"
seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah
keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari
panitia yang sengaia menyelenggarakan Iorum sekadar untuk memintaku berbicara tentang
bagaimana perialanan hidupku hingga dari artis bisa meniadi seperti sekarang ini.
Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang
sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku
ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin iarang di rumah. Kalau pun di
rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin
menyebalkan saia kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak
kerasan lagi berada di rumahku sendiri.
Lalu teriadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaia, aku
menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok
gania. Semula aku diam saia, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku
pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya
dan berianii akan menghentikannya.
Namun beberapa lama kemudian aku terkeiut setengah mati. Ketika aku baru naik
mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini
milik siapa, Bu?"
"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini gania. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini
sudah keterlaluan.
Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil
menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berianii kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram
itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di
kamarnya. Aku sempat berpikir, iangan-iangan kelakuannya yang kasar itu akibat
kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih iauh aku mengkhawatirkan
pengaruhnya terhadap anak-anak.
Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta
cerai saia, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring
maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama Ians-Iansku yang
menyatakan kagum dan memuii-muii keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana
mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan
keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan
anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak
orang tua yang bercerai. Aku bingung.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi
kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan
demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar
pusing!












Rhapsody Seorang Bidadari
Oleh Anonim

Sore itu aku berialan-ialan di tepi sungai, lelah aku setelah seharian bekeria di sawah.
Rasanya lega sekali, padi-padi yang selama ini kurawat sudah mulai berisi. Kelopak-kelopak
itu sudah mulai gemuk dan paniang berulir. Bahkan beberapa hari ini sudah banyak yang
mulai merunduk ke tanah, melihat dan mengagumi darimana dia berasal dan mendapatkan
penghidupan. Mungkin itu yang dimaksud oleh nenek moyang untuk meniru ilmu padi,
semakin berisi tetapi semakin merunduk. Bukan merunduk tidak percaya diri, tetapi
merunduk mengagumi Ilahi, sumber segala ilmu dan pengetahuan. Hari sudah mulai gelap,
remang-remang cahaya lampu dari seberang sungai sudah mulai kulihat. Tiba-tiba aku
melihat bayangan seseorang berambut paniang berialan menuiu sungai, memakai kemben dan
meniiniing keraniang kecil.

Langkahnya pelan meniemput air sungai, dan berhenti ketika air telah mencapai uiung
atas kembennya. Rambut paniangnya segera diurai dan dia mulai merendamkan dirinya di air
sungai yang mulai dingin. Mataku tak berkedip-kedip seiak tadi, iarak yang memisahkan aku
dengannya memang tidak terlalu iauh. Sayup-sayup kudengar dia menyanyi, detak iantungku
berdegup keras, suaranya magis, apalagi didukung oleh suasana sore yang terhiasi oleh iingga
cakrawala. Putri-putri kraton yang tertulis di lontar-lontar Maiapahit yang katanya cantik nan
gemulai itu aku belum pernah melihatnya, tapi sepertinya yang didepan mataku ini tak kalah
indah dengan putrid-putri itu, hanya saia kecantikan dan gemulainya tidak tertulis di lontar,
tapi tertulis di alam, dengan tinta-tinta sang cakrawala. Dia berputar-putar, bermain air,
terkadang menyelam, mengambil pasir halus dari dasar, dan diusapkannya di seluruh
badannya.

Rupanya dia sadar seiak tadi ada mata yang mengagumi geraknya, dan mulai menatap
balik ke arahku. Aku meniadi kikuk, dan kulambaikan tangan ke arahnya. Dia iuga
melambaikan tangan ke arahku, sambil tak henti-hentinya masih bernyanyi-nyanyi kecil. Dia
melambaikan tangan lagi, mengaiakku untuk turun mandi. Walaupun dingin, kupaksakan diri
iuga untuk mengakrabkan diriku dengan air sungai. Aku berenang ke seberang, menelusuri
riak-riak air yang memancarkan aroma-aroma eksotis. Bayang waiahnya semakin ielas,dan
suara nyanyiannya semakin keras terdengar. Waiahnya bulat, dengan pandangan taiam
berwarna biru. Ternyata dia menyanyi Asmaradahana, tembang2 ritmis tentang cinta seorang
anak manusia. Dia sudah mulai nakal melempar2kan air ke mukaku, sambil tertawa2 renyah,
akupun membalasnya. Kami tertawa2, akrab seakan telah bersatu di kehidupan sebelumnya.
Reinkarnasi kedua yang tinggal melaniutkan saia. Hanya aku heran, kenapa aku baru bertemu
dia sekarang, bukankah dia adalah salah satu penduduk desa seberang. Dia tertawa lagi,
tertawa lagi, kadang kuberanikan diri memandang tepat lurus ke waiahnya, saat itulah dia
berhenti tertawa, dia tersenyum, senyum yang bukan berasal dari bumi, aku tahu pasti. Dia
menyelam, beberapa lama sehingga aku kebingungan di kegelapan, kumenoleh ke kanan kiri
untuk mencari sosoknya, tapi tak muncul2 iuga. Tiba2 bukkkk.............ada benda serupa pasir
menabrak punggungku, aku secepat kilat menoleh, hampir saia waiah kami bertabrakan.
Ternyata rambutnya tadi yang menabrak punggungku, dan dia kini tepat beberapa senti di
depanku. Begitu dekat hingga aku mendengar naIasnya, seperti angin2 harapan dari oase yang
meneriang padang pasir. Dia sendiri sepertinya kaget, tidak menyangka akan menabrak
punggungku dari belakang. Aku baru sadar sekarang betapa cantik makhluk yang berada di
depanku ini. Rambut paniangnya yang hitam legam sedikit mengkilat oleh sinar rembulan
yang sudah mulai mengggantikan tugas sang mentari.

" Cantikkkkk......" tiba2 suara serak seorang lelaki membahana dari atas sungai,
menimbulkan suara sambung menyambung. Gadis itu langsung beraniak, menuiu ke tepian
lagi. Tapi dia celingukan, seperti sedang mencari sesuatu. Ah ya, sepertinya dia lupa dimana
menaruh keraniang kecilnya, ternyata bidadari bisa iuga lupa, aku langsung menghambur ke
darat, kucoba mengingat2 dimana dia tadi meletakkan keraniang kecil itu. Sinar rembulan
yang tidak begitu terang semakin mempersulit pandangan. Tapi segera kulihat keraniang tadi
di balik batu di uiung sana, rupanya karena keasyikan bermain, kita sudah agak iauh dari
tempat semula. Aku segera berlari mengambil keraniang kecil dari anyaman bambu itu, dan
segera menyerahkan kepadanya.
" Terima kasih ya sudah menemaniku.." dan diapun pergi..............

Dua belas purnama sudah aku mengenalnya, dan kehidupanku selalu diwarnai oleh
canda dan kisahnya. Jika malam diwarnai rembulan, kami akan selalu pergi ke sungai itu,
bermain dan bernyanyi, tersenyum dan tertawa. Dia memang cantik, seperti namanya. Tapi
semakin lama aku mengenalnya, kecantikan itu semakin membuatku tergila2. Karena cantik
yang terpancar lebih kuat iustru dari sikapnya, melebihi kecantikan raganya yang memang
sudah luar biasa. Tapi dia selalu mengelak ketika kubilang bahwa dirinya cantik, apalagi
kalau kubilang bahwa dia adalah seorang yang sangat cerdas, dia pasti mengalihkan
pembicaraan. Apakah dia kira aku nggombal, padahal belum pernah dalam hidupku aku
bilang bahwa hobiku nggombal. Hobi yang elitis itu memang tidak pas denganku, aku hanya
ingin iuiur. Aku hanya bicara apa adanya, tidak mengurangi tidak menambahi.

Tapi memang sebenarnya kata2 tak cukup mampu melukiskan keindahannya, tapi aku
terus mencoba, walau aku tak tahu apa itu sampai pada tuiuannya. Tapi begitulah, aku hanya
makhluk biasa, yang bisa terpesona oleh keindahan dan kecantikan, yang bisa menggelepar
oleh suara halus dan rayuan. Aku sering mengaiaknya untuk bicara tentang masa depan.
Bicara tentang langkah2 manusia di bumi, tentang segala tingkah dan perbuatan. Dan diapun
menimpali, dengan kata2nya yang lembut, diucapkan dengan yakin. Protes2nya terhadap
manusia yang sewenang2 terhadap alam, terhadap keadaan yang membelenggu anak bangsa
untuk maiu, atau terhadap nada sinis sebagian manusia iika seorang wanita ingin berkarya.
Dan kalau keadaan sudah meniadi terlalu serius, kitapun bercanda lagi. Bicara tentang kucing
yang hari ini tidak mau makan karena sedang iatuh cinta dengan kucing tetangga, atau tentang
aniing yang nakal mengikuti kemanapun tuannya melangkahkan kaki. Tertawa lagi,
menertawakan segala yang bisa ditertawakan. Melepaskan segala beban, karena beban kadang
memang tak perlu terlalu dipikirkan. Asal sebagai manusia kita sudah melaksanakan yang
terbaik yang bisa kita lakukan.

Suatu malam aku bertanya padanya, maukah dia memberikan senyum surgawinya
untukku, tidak hanya untuk saat ini, tapi untuk sepaniang perialananku menempuh kehidupan.
Dia terdiam, menerawang......, dan akhirnya dia bilang dia iuga takut kehilanganku. Lalu
kutanya, maukah dia bersama denganku mencari arti dibalik semua ayat2 Tuhan yang tertulis
maupun yang tercipta, mengarungi kapal bersama menuiu teluk bahagia di uiung sana. Rona
waiahnya berubah, dia kelihatan bingung, lama sekali dia terdiam, mengarahkan pandangan
ke bumi, seakan menembus dan bertanya kepada bumi akan galaunya, kemudian ke langit,
bertanya kepada bintang2 akan risaunya.Di remang2 rembulan, dia membisikkan kepadaku,
bahwa dia tak mau mengecewakanku.
" Biarkan aku sendiri beberapa purnama ini...", dan kemudian dia pergi, melewati
rumpun2 padi yang kekuningan, dan menyeberangi sungai iernih itu. Pergi ke desanya yang
diseberang. Aku hanya bisa terpaku di sini, keiadian itu begitu cepat, sampai aku tidak sempat
mengucapkan sepatah kata pun. Aku berteriak2 memanggilnya, tapi suaraku ditelan oleh
anggun langkahnya.

Dia mungkin belum tahu, bahwa dia tak pernah mengecewakanku, dan tak akan
pernah. Karena seperti yang aku bilang dulu ketika aku pertama kali menyatakan bahwa aku
cinta padanya, bahwa cintaku apa adanya, kelebihan dan kekurangan itu adalah keniscayaan,
bahkan bagi seorang bidadari seperti dia. Tak ada yang mampu memalingkan aku dari
cintanya, karena cintaku bukan karena cantiknya, tapi karena kecantikan hatinya. Cintaku
bukan pada keluarbiasaannya, tetapi karena usahanya untuk tetap meniadi biasa. Dan aku tahu
setiap yang hidup akan beraniak tua, tapi aku yakin kecantikan hatinya abadi. Biarlah semua
manusia silau akan aroma harum dan tebaran pesonanya, aku hanya akan mengagumi dia
seperti adanya. Beberapa purnama, sungguh waktu yang sangat lama kurasakan. Aku hanya
ingin dia kembali lagi, setiap malam yang berhiaskan rembulan bermain bersamaku, biarlah
masa depan tetap meniadi masa depan.

Bunga
Oleh Jasmine Lanuaba

Perempuan kecil itu selalu muncul di Pura desa, waiahnya seperti api mengkilap.
Senyumnya selalu menyebar dan membuat orang-orang yang melihatnya selalu ingin
mencubit pipinya yang putih seperti keiu.
"Aku ingin menari, bisakah kau menabuh untukku?" perempuan kecil itu selalu
ditemani tiga orang anak lelaki yang diam-diam menganguminya.Bahkan tanpa perempuan
kecil itu, mereka merasa seluruh waktu mereka tak akan pernah memiliki nilai.
Perempuan kecil itu sangat piawai menari. tubuhnya seperti sebongkah api, yng siap
membakar orang-orang sekelilingnya. Tariannya patah-patah, dia tidak memiliki guru tari.
Jadi dialah guru sekaligus penarinya.
"Kau mau menari tari oleg?"
"Ya."
"Kenapa geraknya seperti tari panyembrama?"
"Aku ingin menggabungkan semua tari iadi satu." Perempuan kecil itu tertawa. Tiga
lelaki kecil yang mengiringi perempuan kecil itu tak kuasa menolak. Mereka pun menabuh
dengan cara aneh. Perempuan kecil itu terus menari...
"Aku menyukai matanya yang bulat," sahut anak lelaki berambut lurus. Usianya
sepuluh tahun.Namanya Made. Lelaki kecil itu seorang anak pengempon Pura yang sangat
sakti. Ibunya bisa mengobati beragam penyakit mistik, dan bisa membaca masa depan.
"Aku menyukai kakinya, begitu runcing, mirip kaki Nicole Kidman...," sahut lelaki
dua belas tahun, tubuhnya paling tinggi diantara semua anak lelaki, mungkin karena usianya
paling tua diantara anak-anak yang lain.Namanya Nyoman, ayahnya seorang petinggi polisi di
Denpasar.
"Apa yang kau suka dari Bunga,Gus Putu?" tanya anak-anak itu pada lelaki sembilan
tahun, yang memiliki waiah sangat tampan, tubuhnya gagah, orang-orang senang memandang
waiahnya yang terlihat sangat berkarakter Bali. Kulitnya hitam legam, matanya selalu bersinar
taiam setiap menatap orang yang memandangnya.Konon di dalam roh itu bersemayam dua
orang, roh lelaki dan perempuan sakti yang menguasai Jagat Bali, mereka sepasang kekasih
yang tidak pernah menikah.
"Hai kenapa kau diam?"tanya Nyoman
" Aku tak bisa menilai anak perempuan."
"Dasar tolol kamu Gus Putu. Tidak cantikkah Bunga menurutmu?"
"Cantik."
"Lalu...."
"Maksud Made?"
"Cantik itu kan ada alasannya. Misalnya, rambutnya yang indah, matanya yang bulat,
kulitnya yang putih. Atau seluruh yang dimiliki Bunga memikatmu!"
"Hust!" Gus Putu berkata sambil mendelik.
Pikiran bocah sembilan tahun itu terus berkerut.Ada yang terasa sangat
mengganggunya.
Dia sangat heran, kenapa orang-orang sering memandang Bunga dengan tatapan yang
aneh? Adakah keistimewaannya yang luar biasa? Gus Putu iadi ingat kata-kata yang
diucapkan orang tua Made.
"Made sini! Sudah Meme katakan berkali-kali, kau iangan bergaul dengan anak
pelacur itu! Anak tidak ielas Bapaknya! Kau bisa tertular kesialan yang dibawa seiak
kelahirannya. Percalah pada Meme, Made. Kau iangan sering-sering bertemu dengan
perempuan kecil itu?!" suara Ibunya Made masih tertanam di otaknya Gus Putu. Mungkinkah
seorang anak perempuan seperti Bunga bisa menularkan kesialan? Memang orang-orang
sering bercerita, Ibu Bunga seorang pelacur di komplek dekat lingkungan rumah mereka.
Tak ada seorang pun tahu, diantara puluhan perempuan-perempuan yang datang dan
pergi dari komplek itu ibu Bunga. Karena petugas sering mengobrak-abrik tempat itu,
anehnya besoknya tempat itu berialan seperti biasa lagi. Konon, kata orang-orang kampung,
komplek itu adalah komplek pelacuran tertua di Bali. Pemiliknya Made Kocol, lelaki yang
tidak ielas umurnya, dia memang terlihat tua tapi tubuhnya tetap gagah. Kata orang-orang
iuga dia sudah menikah sepuluh kali, istrinya semua mati tua. Anak dan cucunya banyak.
Bahkan dia mungkin tidak mengenalnya.Atau mungkin saia tanpa sadar dia menikahi
keturunannya sendiri, darahnya sendiri. Konon itulah yang membuatnya tetap muda. Ada
yang mengatakan umurnya sudah di atas seratus!
Diantara perempuan-perempuan menor yang datang dan pergi itu yang mana ibu
Bunga? Bunga pun tidak pernah mau bercerita siapa ibunya, apakah perempuan tuiuh tahun
itu tahu? Atau dia memang tidak tahu? Tak ada orang bisa mengorek keterangan dari si gadis
kecil yang cantik itu.Dia pendiam, dan terlihat selalu ceria, tak ada beban berat terlihat dari
matanya. Mata itu tetap cemerlang, dia pun tidak peduli, kalau ada anak-anak perempuan
yang iri pada kecantikannya sering mengeieknya.
"Untuk apa lahir cantik,kalau tidak punya Bapak. Mana hidup di daerah mesum.
Otaknya isinya pasti mesum saia...." Bunga tetap tidak peduli, seolah dia kehilangan
telinganya. Dan dia bahagia bisa berteman dengan Gus Putu, Made dan Nyoman. Tiga lelaki
yang sering menabuh untuknya. Bunga pun akan menari.Sampai matahari iatuh, dan bunga-
bunga kamboia di Pura tidak lagi beriatuhan.
Gus Putu iuga sering dimaki ibunya. Kata ibunya perempuan kecil itu bisa merusak
hidupnya. Gus Putu tidak habis pikir merusak apa?
Yang sering membuat Gus Putu gelisah adalah kekaguman Made dan Nyoman yang
berlebihan pada Bunga.
"Kelak, kalau aku dewasa, aku yang akan mengawini Bunga."
"Aku yang lebih dulu mengawininya!" Made protes
"Aku!" Nyoman mendelik! Hampir saia mereka saling melempar alat-alat tabuh. Gus
Putu mendelik.
"Kalian masih kecil, SD saia belum tamat!" Gus Putu menatap Bunga, Bunga masih
tetap menari di bawah guguran bunga-bunga kamboia. Mereka bertiga terdiam, melihat
perempuan kecil itu masih menari, sementara mereka bertengkar. Mata gadis kecil itu
terpeiam. Ketiga lelaki itu terdiam, melihat gerak gemulai gadis kecil itu. Roh para dewatakah
telah turun?
Dan menanam taksunya di tubuh perempuan kecil itu?
***
Pagi-pagi ibunya Gus Putu ribut.Sampai setangkup roti baka isi sosis tidak bisa ditelan
lelaki kecil itu. Tetapi dia berusaha memasukkan keratan roti itu pelan-pelan, roti itu terasa
seperti potongan besi yang turun ke tenggorokannya.
"Perempuan sial itu memang lebih baik mati! Anakku terus-terusan bergaul
dengannya, bisa Aii bayangkan kalau mereka terus berdekatan seperti itu. Apa Aii mau
punya menantu dengan keturunan tidak ielas!" Ibunya berkata pada ayahnya yang sibuk
mengaduk iuice buah. Lelaki itu terdiam.
"Kita ini keluarga terhormat! Aii saia punya iabatan Bupati, target kita lima tahun lagi
karier Aii makin mulus. Siapa tahu bisa iadi Gubernur, atau Menteri." Perempuan itu terus
bicara, satu demi satu lumatan roti Gus Putu meluncur dengan kasar, dia tersedak sampai
matanya mengeluarkan air.
Bunga mati! Mayatnya ditemukan orang-orang terapung di sungai! Tubuhnya penuh
bekas siksaan. Mulutnya disumbal celana dalam miliknya, tangangnya patah, karena dipaksa
ditekuk ke belakang dan diikat color celana pendek lelaki dewasa. Dan yang lebih mengerikan
bagian bawah gadis kecil itu robek, dan terus mengeluarkan darah. Setan dari mana telah
merenggut perempuan itu?
"Aii tahu, perempuan sial itu diperkosa ramai-ramai. Vaginanya robek, dan terus
mengeluarkan darah. Tubuhnya penuh gigitan, dia memang terkutuk. Makanya mati pun dia
tetap terkutuk!" Perempuan itu mengerang penuh dendam.
Lelaki kecil itu terus tersedak, ibu dan ayahnya bingung. Mereka sibuk menelpon
dokter, menyuruh sopir dan pembantu mengambil ini-itu. Lelaki kecil itu terus terbatuk,
sambil menangis diam-diam. Air matanya terus mengalir, rasa sedih yang dalam mengupas
seluruh tubuhnya.
Perempuan kecil yang sering dicurikan sosis, ham sapi, roti dan buah-buahan yang
iumlahnya begitu banyak di rumahnya. Lelaki kecil itu masih ingat dengan ielas ekpresi
Bunga ketika menelan sosis, dan makanan yang menurutnya teramat mewah. Perempuan kecil
itu menggigitnya pelan-pelan, matanya terpeiam, dalam hitungan menit ludes 3 tumpuk roti
isi sosis dan keiu. Lalu dia menyentuh buah-buahan yang dibawa lelaki kecil itu,
menciumnya, mengelusnya dengan iemarinya yang kecil.
"Harum sekali, pasti rasanya enak. Apa setumpuk buah-buahan ini iuga untukku?"
tanyanya sambil mencium segerombolan anggur hiiau, mengusapnya, dan meletakkan
dipipinya. Mata perempuan kecil itu berbinar, lalu dengan cekatan tangannya yang mungil
memeluk Gus Putu, dan mencium pipinya. matanya berkaca-kaca.
"Ada buah seindah ini, pasti rasanya nikmat?"
"Cobalah?"Lelaki kecil itu berkata terbata-bata. Tiba-tiba saia dia merasa tubuhnya
disiram air panas, iuga menggigil. Rasa apa ini? Musim apa yang berkecamuk dalam
tubuhnya?
Perempuan kecil itu tersenyum, dengan ringan meniatuhkan tubuhnya di rumput, lalu
mengunyah sebuah anggur hiiau. Matanya yang berkaca-kaca berubah penuh kegembiraan.
Aneh sekali, Bunga begitu mudah berubah? Baru satu menit menangis sudah senang
lagi? Luar biasa mahluk satu ini, apa karena dia berwuiud perempuan?
Gus Putu muntah! Seluruh makanan yang masuk ke perutnya keluar. Orang-orang
panik, dokter belum iuga datang.
Hyang Jagat! Bunga mati! Dia diperkosa 3 lelaki,apa isi otak lelaki-lelaki itu? Apakah
benar yang memperkosa Bunga mahluk lelaki? Apakah di bumi ini ada lelaki yang iahatnya
melebihi setan?Bukankah Gus Putu iuga lelaki? Apa yang salah pada tubuh lelaki sehingga
tega memperkosa perempuan kecil tuiuh tahun? Bagaimana rasanya menikmati tubuh
perempuan tuiuh tahun? Bahagiakah mereka setelah memakan tubuh kecil itu?
Dulu, Gus Putu tidak pernah mau mendengarkan berita kriminal di TV. Aneh rasanya
melihat potongan-potongan tubuh diumbar. Peniahat ditembak di depan mata. Bahkan ibunya
bisa menikmati beragam adegan kekerasan, bau mayat, dan darah di TV sambil menelan
semangkuk sop.
Seiak kematian Bunga, Gus Putu selalu asik menonton acara kekerasan itu.Biar bisa
dibayangkan seperti apa lagak para setan itu. Kenapa mesti lelaki yang melakukannya? Dia
iuga mendengan hukuman yang diberikan hanya 5 tahun. Gila! Belum lagi ada potongan di
peniara, bisa iadi lelaki-lelaki itu hanya meringkuk 2 tahun atau 3 tahun. Lalu setelah itu apa
Bunga akan kembali datang?
TV diganti chanelnya, perempuan-perempuan berdemo. Gus Putu meringsut, tak ada
perempuan yang berdemo untuk membuat keputusan: hukum mati para pemerkosa anak-anak!

























Bapak Meninggal
Oleh Rifan Nazhip

Di ruangan berukuran tiga kali empat meter ini, duduk melingkar beberapa lelaki yang
menghadapi mayat Bapak. MaaI, sebenarnya dia belum berstatus mayat.
Hanya saia dia sekarang sekarat dengan napas satu-satu. Sudah hampir empat hari dia
demikian. Tapi nyawanya tetap tak terlepas dari iasad. Kasihan iuga. Orang-orang meniadi
kebingungan.
Dia sebenarnya bukan bapak kandungku. Dia adalah adik Ibu. Berhubung seiak
berumur satu tahun bapak kandungku meninggal dunia karena malaria, akhirnya aku
memanggilnya Bapak. Dia sudah lama tinggal di rumah kami, dan menurut Ibu dia tak akan
pergi ke mana-mana. Masih tetap di rumah kami, meski dia kelak menikah. Nyatanya, sampai
dia sekarat, Bapak belum menikah-menikah iuga.
Lelaki yang bersorban dan baiu gamis putih itu --biasa dipanggil orang desa, Haii
Mahmud-- sudah beberapa kali mencoba mendoakan agar Allah sudi membebaskan ruh dari
iasad Bapak, sehingga Bapak lepas dari siksaan. Tapi kekuatan doanya tak mempan. Irul,
lelaki di sebelah Haii Mahmud, pun telah merapalkan iampi-iampi yang dia dapat ketika
berguru di Tanah Jawa, kemudian memukul-mukulkan pelan daun kelor ke iasad Bapak.
"Siapa tahu dia memiliki ilmu yang tak benar!" katanya. Namun tetap saia Bapak bernapas
pendek-pendek. Sekali-dua berhenti, sehingga seluruh orang di ruangan ini menganggap
nyawanya sudah "lewat". Tapi, tak lama dadanya tetap turung-naik lagi dengan gerakan yang
amat memilukan.
Apa keiahatan Bapak sehingga di uiung hayatnya harus menanggung beban
sedemikian berat? Menurut Haii Mahmud, dan diamini Sutan Ali, mungkin Bapak pernah
melakukan dosa yang amat besar, sehingga Allah menyiksanya sedemikian rupa sebelum
meninggal.
"Tapi, aku meminta, apa yang teriadi di sini hanya beredar di benak kita masing-
masing. Jangan sampai membocorkannya ke khalayak ramai. Malu! Lagi pula kita berdosa
mengata-ngatai orang, apalagi sedang sekarat begini," kata Haii Mahmud tadi pagi setelah
semua selesai mengopi dan sarapan ubi rebus.
"Tapi, orang-orang sudah ramai membicarakan kondisi Harmaen." Lauddin
menimpali. Dia tetangga sebelah rumahku. Aku mengamini apa yang dibicarakan lelaki yang
kerap kupanggil "Mang" itu. Orang-orang kampung sudah sibuk membicarakan masalah yang
menimpa Bapak. Banyak sudah berspekulasi, mungkin akibat Bapak belum menikah hingga
usianya kepala lima, maka Allah berang dan menghukumnya. Ada pula yang mengatakan
karena Bapak suka mengintip perempuan mandi seiak dia akil-baliq sampai sakit-sakitan
belakangan ini. Persangkaan yang satu ini kurang kusetuiui. Bagaimana pun, Bapak tak
mungkin melakukan pekeriaan hina seperti itu. Mengintip perempuan mandi? Untuk apa?
Kalau memang berhasrat pada keelokan tubuh perempuan, kenapa Bapak tak menikah-
menikah seiak dulu?
"Bagaimana, Haii? Aku bingung kalau sampai beberapa hari ke depan, kondisi
Harmaen tetap begini. Sudah beberapa hari ini aku absen ke ladang. Mungkin rumput lalang
sekarang sudah lebih tinggi dari batang cabe. Lagi pula, sawah yang kami garap anak-
beranak, sekarang hanya dikeriakan istri dan dua anakku. Ah, aku bingung!" ucap Rastapi.
Meskipun dia mengatakan bingung, tapi dapat kuhitung selama hampir tiga hari berselang,
ketika Rastapi ikut meniagai Bapak, tiga puluh batang sigaret di pinggan diembatnya. Belum
lagi kalau sarapan, dia selalu menambahkan susu di kopinya. Kemudian menghabiskan begitu
banyak potongan ubi rebus. Manakala tiba makan siang dan malam, orang-orang yang
menunggui Bapak segera pulang ke rumah masing-masing. Tapi Rastapi mengatakan
tanggung. Itulah yang membuat Ibu terpaksa menyuruh Bedah, kakakku, agar memasak nasi
lebih banyak, kemudian membeli ikan kaleng untuk tambahan lauk.
"Apakah bapakmu tak pernah shalat, Bir?" LatieI, teman sebayaku, yang kebetulan
ikut bersamaku senia ini menunggui iasad Bapak, mencoba mengemukakan prasangkanya.
"Bapak paling taat melaksanakan shalat," bantahku. "Bahkan, dia sangat berang kalau
suatu kali mengetahui aku belum shalat." Teringat aku saat Bapak menghantam pantatku
dengan rotan, ketika aku lupa shalat isya. Untung saia Ibu melerai. Namun hampir seminggu
aku mendendam kepadanya. Berulang-ulang dia mencoba meminta maaI kepadaku lewat Ibu.
Berulang-ulang aku tak menanggapinya. Sehingga Ustadz Naen yang mengetahui aku
bermusuhan dengan Bapak, mengingatkanku. Apa yang telah Bapak lakukan memang benar.
Aku yang kala itu sudah berusia sepuluh tahun, memang harus dipukul atau dicambuk apabila
lupa shalat. Kata ustadz, shalat adalah tiang agama. "Coba, kalau rumahmu tak memiliki
tiang, apakah dia dapat berdiri kokoh hingga sekarang? Begitu pula kalau kamu tak
melaksanakan shalat, maka ibadahmu yang lainnya akan sia-sia. Tak bisa kau bangun
rumahmu di sorga." Utstadz menceramahiku.
Sebetulnya aku tak Iaham apa yang dia ucapkan. Namun, aku memutuskan menerima
maaI Bapak.
"Apa ada yang kurang dari perlengkapan Harmaen, Bi?" tanya seorang perempuan
sebaya Bapak kepada Ibu yang telah membengkak matanya sebab terlalu lama menangis.
Ibu menatap perempuan itu. "Sudah cukup, Is! Bahkan saat dia mulai sakit-sakitan,
aku sudah membelikan semuanya. Bukannya ingin dia cepat-cepat meninggal. Melainkan
persiapan agar tak tergopoh-gopoh saat Allah memanggilnya."
"Lalu, apa penyebab sehingga Harmaen susah meninggal? Lihatlah, sekali-sekali
waiahnya seperti menahan sakit yang amat sangat. Apa Bibi tak kasihan?"
"Siapa yang tak kasihan, Is. Aku selalu menyayanginya dari dulu hingga sekarang.
Akan tetapi, aku tak tahu apa penyebab dia susah meninggal."
"Dia tak pernah menceritakan apa-apa kepada Bibi? Misalnya, tentang ilmu-ilmu
hitam yang pernah dipelaiarinya?" Perempuan itu menyelidik. Seperti intel saia dia. Ibu
menanggapi dengan gelengan pelan. "Apa dia memiliki hutang yang cukup banyak kepada
seseorang atau beberapa orang?" Ibu menoleh.
Dia menggeleng lebih kencang dan tegas. Perempuan itu tertunduk. Dia membisu.
Pikirnya, Ibu mulai kesal diberondong pertanyaan yang seolah menyudutkan itu.
Azan Maghrib tiba-tiba mengoyak tingkap yang memantul-mantul dihempas angin.
Aku berdiri, menutupkan tingkap itu. Di luar masih ada seorang-dua warga yang duduk-
duduk di bawah tarup. Sementara sebagian besar telah berangkat menuiu masiid. Haii
Mahmud telah meminta kesediaan warga tadi pagi. Bahwa apabila selepas maghrib Bapak
belum meninggal, maka semua diminta mengaii Yasin. Siapa tahu itu makbul, meskipun
akhirnya semakin memperlebar pengetahuan warga tentang susahnya Bapak meninggal.
Aku tahu dalam batas sebulan --setelah Bapak meninggal (bila dia benar-benar
meninggal)-- warga masih membincangkannya sambil menanam padi di sawah. Atau saat
menderes karet. Atau bersenda-gurau di lepau-lepau yang menyuguhkan kopi yang ramah.
Aku yakin pula, seluruh keluarga di rumah ini akan meniadi keluarga pingitan. Kami
pasti tak ingin mendengar cerita-cerita warga tentang prosesi meninggalnya Bapak, yang
seolah langsung mengoyak-ngoyak telinga.
"Shalat Maghrib dulu, Bu!" kataku kepada Ibu yang masih duduk memperhatikan
waiah Bapak. Para lelaki yang tadi sama-sama berkumpul di situ, telah berangkat ke masiid.
"Sebentar lagi, Her!" tolak Ibu halus.
"Kalau Ibu tak shalat dan mendoakan Bapak, bagaimana Allah berbaik hati
melepaskan siksaan sakaratul Bapak?" tegasku. Ibu mengelus kepala Bapak. Dia beraniak,
dan pergi ke dapur. Sementara aku menunggu Ibu selesai mengambil air wudhuk, dan kami
shalat Maghrib beriamaah di sebelah Bapak.
Suara ribut kemudian mengakhiri Maghrib yang temaram. Aku dan Ibu sudah duduk
di posisi semula. Ruangan yang sempit, kemudian disesaki warga. Ruangan di bawah tarup,
pun demikian. Semakin tak terbendung lagi berita tentang masalah yang menimpa Bapak. Aib
tak mungkin ditutup-tutupi lagi. Dan aku menebak bahwa sebagian besar warga yang berniat
yasinan hanya ingin melihat kondisi Bapak lebih dekat. Sekaligus sekadar berbisik-bisik atau
lebih tepatnya berghibah.
Nyatanya, setelah yasinan, kondisi Bapak tetap seperti itu. Bahkan dia seakan
menahan sakit yang lebih dan lebih lagi saat yasinan berlangsung. Mendadak dengan mata
berkaca-kaca, Ibu mengaiak Haii Mahmud berbicara empat mata di bilik Ibu.
Aku bingung. Sebenarnya apa yang hendak mereka perbincangkan? Saat keduanya
keluar dari bilik, air mata Ibu semakin deras mengalir. Sementara warna waiah Haii Mahmud
berubah-ubah. Sekali pucat, sekali merah, sekali ke kondisi asal. Namun yang pasti, berselang
seperempat iam, seketika Bapak menghembuskan napas terakhirnya. Membesarlah tangis Ibu.
Bersesunggukan para warga. Sementara aku hanya sedikit meneteskan air mata. Aku hanya
merasa sedikit kehilangan Bapak. Sebab dia bukan Bapak kandungku. Hanya sekadar
panggilan.
Tapi apa yang diperbincangkan Ibu di bilik berdua Haii Mahmud, membuatku
penasaran. Bagaimanapun, meninggalnya Bapak, tak bisa terlepas dari hasil perbincangan di
antara mereka.
Besok siangnya setelah iasad Bapak dikubur di pemakaman umum, aku menemui Haii
Mahmud yang sedang duduk di pinggir luar pemakaman, di atas tunggul kayu. "Pak Haii,
bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada Bapak?" tanyaku. Aku duduk di sebelahnya
sambil menatap lalu-lalang para peziarah.
"Bapak turut berdukacita atas meninggalnya bapakmu, Nak. Sekarang apa yang
hendak Anak tanyakan?"
"Saya ingin tahu apa yang Pak Haii dan Ibu bicarakan tadi malam di bilik Ibu.
Anehnya, setelah itu, Bapak saya langsung meninggal dunia."
Haii Mahmud tersenyum. "Sebenarnya ini kisah lucu, tapi bisa dipetik hikmahnya.
Ibumu bercerita bahwa saat mengandung dirimu, dia mengidam makan mangga muda.
Anehnya, mangga muda itu harus mangga curian. Jadilah Harmaen mencuri mangga dari
kebunku. Kau tahu aku sangat kesal. Bahkan sempat aku mendoakan agar maling itu
mendapat balasan atas perbuatannya. Tapi semuanya sudah kulupakan, hingga ibumu
bercerita tadi malam, bahwa mungkin itulah penyebab Harmaen susah meninggal. Saya tak
tahu apakah karena saya memaaIkan si maling mangga itu, atau memang aialnya tiba, hingga
Harmaen bisa dikubur hari ini."




































Musim Hujan Musim !lastik
Oleh Bolang

Pagi aia udah huian apalagi nanti siang, siap siap ahh , nanti sebelum sekolah cari
plastik dulu di tempat sampah . Cuci trus bawa dech ke sekolah biar baiu , sepatu dan buku
gak basah . ini dia plastik yang besar . kemudian ada seseorang sedang memandangiku . lalu
aku melihatnya ternyata Quinsha, anak dari pemilik sekolahku . aku tak pernah bergaul
dengannya karena aku sungkan . Lalu, dia menyapaku.
'Hei. kamu kan Seruni , ya kan !anak ..?Hmm ya sudahlah . '
'Ada apa . Ya ? kalau saya boleh tau '
'Gak ada apa apa kok . Kamu lagi buang sampah iuga ya .? '
'Ndak lagi cari plastik bekas buat ngamanin buku buku . Nanti kalau huian, buku
saya tidak basah¨
' Oo. ni dah 06.30 nanti telat lho ! '
' Ooo.. Iyaa , maaI ya mbak !¨
'Rumah kamu mana nanti bareng aia , kalau deket '
' Belakang rumah mbak . gubuk reot itu .¨
Keesokan harinya, Shasha akan berangkat sekolah bersama ayahnya
'Wahh sarapan dah iadi ya . aku buatin bekal ya, Bi ?¨
'Iya, Non ¨
' Buat apa, Sha?¨
'Buat makan lah¨
' Ya sudah kalau gitu¨
'Yuk berangkat ¨
' Papa tunggu dulu ya ,aku cari Seruni dulu .¨
' Seruni yang rumahnya belakang rumah kita ini ?¨
' Iya lah mana lagi . '
Shasha mendatangi rumah Seruni bermaksud ingin mengaiak berangkat bersama
'Ibuk . assalamuallaikum! Seruni udah berangkat buk ? '
'Udah, non !¨
'Naik apa? Aku gak dengar ada kendaraan lewat depan rumah ?¨
'Jalan kaki .¨
'Hah. mmm ya udah buk , saya permisi dulu .!¨
' Iya '
' Pa. buru ngebut ya. soalnya Seruni udah berangkat ialan kaki, kasihan tau !¨
'Ok . lho kan iauh banget '
' makanya.?!'
'Ok yuk '
Di tengah perialanan, mereka bertemu Seruni yang sedang ialan kaki
'Hmmm. itu nggak, Sha!?¨
'Ee iya iya bener . buruan pa deketin¨
' Pim..pim ' (Suara klakson mobil Quinsha)
'Iya ada apa ? Ee . mbak Shasha !¨
¨Buruan naik ! '
'Nggak usah, Mbak! masak anak gembel kaya saya naik mobil beginian , nggak
cocok lah '
'Udah masuk ..! Kamu masih anggep aku temen kan ?¨
'Ii. iya '
'Non, saya turun sini aia gak enak sama temen temen '
'Tunggu dulu, nie surat beasiswa kamu , dan ini surat lomba kamu. Aku yang
ngedampingin. Jadi, aku minta nanti siang kamu ke rumah aku ya . kita belaiar bareng !¨
'Iya, kalau keriaan rumah saya udah kelar .¨
'Ya udah kalo mau turun . ati ati ya..!¨
' Iya ,Non .¨
'Jangan panggil non ,panggil aia Shasha , ya!¨
'Iya .¨
'oh ya , ini iuga bekal buat kamu ya .! Di makan, kamu pasti tadi belum sarapan
kan ? iangan ditolak ! da. Aku duluan ya.!¨
Di sekolah, Seruni bertemu dengan teman sekampungnya. Dia heran karena Seruni
datang lebih awal, tidak seperti biasanya.
'Runi, kamu kok udah nyampe?¨ kata Uiang (temen satu kampungnya ) 'Aku yang
diboncengi naik motor aia baru nyampe .¨
'Ahh,nggak iuga . '
'klau gitu nanti kamu pulang sendiri aia ya . nggak nebeng aku terus, aku males
satu motor sama kamu temen temen iadi ngatain aku temennya gembel . Aku kan malu iadi
nanti kalau bapakku iemput kamu ngumpet .Awas lu !¨
Pada waktu istirahat aku memakan bekal yang dikasih oleh Shasha . rasanya enak
banget. Lalu ketika aku hendak menyantapnya lalu Zizka meniatuhkan bekal itu dari bangku
iatuh ke baiuku. Sayur yang hangat menumpahi baiuku lalu menginiak bekal dari Shasha.
Kemudian, Shasha pun datang
'Ada apa ini ?¨
'Ni masak anak gembel kaya` dia bisa bawa bekal enak kaya gini . Gak mungkin kan
,ya udah aku buang aia dari pada dia makan barang haram .¨
' Enak aia, bekal itu pemberian dariku tau. !aku gak mau temenan sama kamu lagi
tau..!!! '
'Udah bel masuk tuh, kamu balik ke kelas aia, sha! Gak papa kok , bener !¨
'Ya udah ya.!¨
Tet.tet.tet` bunyi bel sekolah menandakan waktunya pulang . huian deras banget
aku membungkus bukuku,mencopot sepatu dan ganti baiu. Semuanya aku masukkan ke
kantong plastik yang kuambil dari tempat sampah Shasha tadi pagi , oh ya tadi aku kan udah
ianii mau belaiar bareng Quinsha. Aku harus cepat pulang nanti Quinsha nunggu lama aku
gak usah nunggu huian reda deh. Jantungku berdetak kencang. Seiak keiadian musibah
tetanggaku yang mati tersambar petir aku iadi takut banget sama yang namanya kilat / petir .
tapi aku harus terus melangkah, aku tidak boleh mengecewakan Shasha yang sudah baik sama
aku ! di ialan, tiba tiba kepalaku pusing banget lalu aku pingsan di ialan. Dari keiauhan
Nampak mobil Shasha melintas
' Eee. tunggu siapa tuh, Pa ? itu bukannya Seruni ya ? '
'Udah masukin mobil aia¨
Lalu papa Shasha mengundang dokter dan Seruni diperiksa ternyata itu karena ia
belum makan aia dan masuk angin. Ketika Seruni bangun , ia sudah terbaring di kamar
Shasha lalu di suapin Shasha makan dan minum obat. Lalu, istirahat seienak dan belaiar
setelah itu . Shasha mengantar Seruni pulang. Sesampainya di rumah Seruni , Shasha
memberi ias huian dan sepeda lamanya . Aku pun bertanya, 'kenapa ? ini kan sepeda kamu?¨
'Di rumah tidak terpakai, iadi buat kamu aia . Aku punya yang baru kok iadi mulai besok kita
berangkat bareng , ok ?¨
Aku mengucapkan banyak terima kasih sama Shasha yang telah amat teramat baik
sama aku . Dari saat itu, aku terus bersama. Aku dan Shasha sering memenangkan lomba
cerdas-cermat dimana mana. hubungan kami berakhir ketika Shasha diaiak mamanya untuk
meneruskan kuliah di luar negeri . Aku dan Shasha hanya bisa berkomunikasi lewat email dan
telepon saia . Sampai dewasa aku tidak pernah melupakanya . Sekarang aku meniadi orang
yang cukup sukses . Kadang mellihat anak anak di sekitarku memakai plastik untuk seniata
huian aku sering tertawa sendiri . Aku kemudian membagikan ias huian kepada mereka
dengan cuma cuma . Itulah hidup tidak selalu pahit saia .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->