Anda di halaman 1dari 11

”PERTANGGUNGJAWABAN ATAS KASUS

AKATSUKI MARU”

Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur II


Mata Kuliah Hukum Lingkungan Internasional

Oleh:

AA NANDA SARASWATI ( 0510110001 )


CALYNA SALSABILA ( 051011 )
MELATI WARNA DEWI ( 0510110118 )
THERESIA NUSANTARA ( 0510110184 )
NAFILA ( 0510113164 )

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS HUKUM
MALANG
2008
BAB I
PENDAHULUAN

IDENTIFIKASI MASALAH YURIDIS


• Kapal tanker Jepang ’Akatsuki Maru’ yang memuat plutonium (bahan
baku nuklir) akan memasuki wilayah Indonesia.
• Menanggapi hal ini, pemerintah Indonesia keberatan kapal tersebut
melaksanakan hak lintas damai di laut wilayah Indonesia karena
muatannya membahayakan lingkungan.
• Namun pemerintah Jepang menolak dengan alasan bahwa hak lintas damai
adalah hak setiap kapal asing.
• Tiga hari sebelum kapal ’Akatsuki Maru’ memasuki laut wilayah
Indonesia di Indonesia terjadi bencana alam berupa goncangan pada dasar
laut.
• Pada waktu melakukan lintas damai kapal Jepang menabrak karang dan
plutonium yang diangkutnya tumpah ke perairan nusantara.
• Pencemaran tersebut juga melanda Singapura dan Malaysia.
• Singapura dan Malaysia meminta ganti rugi ke Jepang. Namun Jepang
menyalahkan Indonesia.
• Jepang menyalahkan Indonesia berdasarkan prinsip Hukum Internasional
atas kelalaiannya sedangkan Indonesia menyatakan dirinya bebas dari
tanggung jawab karena itu hal tersebut terjadi karena bencana alam.
• Badan Nuklir Internasional PBB mengecam indonesia atas pencemaran
tersebut.
• Malaysia dan Singapura sepakat mengajukan masalah tersebut ke
Mahkamah Internasional PBB namun ditolak karena merasa tidak
berwenang.
• Pemerintah Indonesia berupaya melakukan penyelesaian melalui jalur
diplomatik berdasarkan UNCLOS dan UU no 37 tahun 1999 namun tidak
membuahkan hasil.
RUMUSAN MASALAH
1. Apakah Pemerintah Indonesia bertanggungjawab atas kecelakaan yang
terjadi atas kapal Akatsuki Maru di wilayah perairan Indonesia tersebut?
2. Apakah Pemerintah Jepang bertanggungjawab atas pencemaran laut yang
terjadi?

ASUMSI YURIDIS
1. Pemerintah Indonesia bertanggungjawab atas kecelakaan yang terjadi atas
kapal Akatsuki Maru di wilayah perairan Indonesia tersebut.
2. Pemerintah Jepang bertanggungjawab atas pencemaran laut yang terjadi.
BAB II
PEMBAHASAN DAN PEMBUKTIAN

TANGGUNGJAWAB PEMERINTAH INDONESIA ATAS KECELAKAAN


KAPAL AKATSUKI MARU DI WILAYAH PERAIRAN INDONESIA

Kecelakaan yang terjadi atas kapal Jepang Akatsuki Maru akibat


menabrak karang setelah terjadi bencana alam Indonesia merupakan
tanggungjawab Pemerintah Indonesia. Alasan Pemerintah Indonesia yang
menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia tidak bertanggungjawab atas kecelakaan
tersebut karena kejadian tersebut terjadi diakibatkan bencana alam tidak dapat
dijadikan alasan pembenar.

Pasal 35 UU no 23 th 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup


(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban
membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan
dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
disebabkan salah satu alasan di bawah ini:
a. adanya bencana alam atau peperangan; atau
b. adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia; atau
c. adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Dalam kasus tabrakan Kapal Akatsuki Maru, Pemerintah Indonesia


menggunakan pasal 35 ayat (2) poin a UU no 23 tahun 1997 di atas sebagai alasan
pembenaran untuk tidak bertanggungjawab atas tabrakan tersebut.
Seperti kita ketahui bahwa kecelakaan tersebut terjadi 3 hari setelah terjadi
bencana alam di perairan Indonesia. Dalam waktu 3 hari ini pemerintah Indonesia
seharusnya melakukan tindakan-tindakan yang sepatutnya dilakukan demi
menjamin keselamatan kapal-kapal yang akan berlayar melalui alur laut tersebut.
Indonesia seharusnya melaksanakan prinsip due dilligent ( Prinsip kehati-
hatian) untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan akibat bencana alam tersebut.
Akibat terjadinya bencana alam tersebut pasti akan merusak alur laut untuk
pelayaran-pelayaran di perairan Indonesia. Salah satu bentuk prinsip kehati-hatian
yang seharusnya dilakukan Indonesia yaitu dengan membuat alur laut sementara
untuk mencegah kecelakaan yang tidak diinginkan dan untuk menjamin
keselamatan pelayaran melalui perairan Indonesia.

Penjelasan dalam UNCLOS


Pasal 22 UNCLOS
(1) Negara Pantai dimana perlu dengan memperhatikan keselamatan
navigasi, dapat mewajibkan kapal asing yang melaksanakan hak lintas damai
melalui laut teritorialnya untuk mempergunakan alur laut dan skema pemisah
sebagaimana yang dapat ditetapkan dan yang harus diikuti untuk pengaturan lintas
kapal.
(2) Khususnya kapal tanki, kapal bertenaga nuklir, atau barang atau bahan
lain yang karena sifatnya berbahaya atau beracun dapat diharuskan untuk
membatasi lintasannya pada alur laut demikian.

Penjelasan diatas terdapat pula pada undang-undang nasional indonesia yaitu


UU no 6 tahun 1996 tentang perairan Indonesia yang tercantum dalam penjelasan
pasal 14
”Agar pengawasan terhadap kapal-kapal asing yang melaksanakan hak lintas
damai di perairan Indonesia dapat dilaksanakan dengan baik, serta untuk men-
jamin keselamatan pelayaran, Pemerintah Indonesia menetapkan alur laut dan
skema pemisah lalu lintas di laut teritorial dan perairan kepulauannya. Lintas
damai melalui alur-alur yang ditetapkan khususnya diperlukan bagi lintas
kapal tanki, kapal bertenaga nuklir, dan kapal yang mengangkut muatan yang
ber-bahaya atau beracun, termasuk limbah radio aktif.”

Dari pasal diatas, kita ketahui bahwa untuk pelayaran-pelayaran khusus


yang salah satunya yaitu pelayaran untuk kapal dengan muatan yang berbahaya
harus melalui alur-alur khusus yang telah ditetapkan oleh Indonesia, bukan
melalui alur-alur yang biasa dilalui untuk pelayaran Internasional.

Pasal 53 ayat (7) UNCLOS


Suatu negara kepulauan, apabila keadaan menghendaki, setelah untuk itu
mengadakan pengumuman sebagaimana mestinya, dapat mengganti alur laut dan
skema pemisah lalu lintas yang telah ditentukan atau ditetapkannya sebelumnya
dengan alur laut atau skema pemisah lalu lintas lain.

Ketentuan dalam pasal 53 ayat (7) diatas diatur pula dalam UU no 6 tahun 1996
tentang perairan Indonesia yaitu dalam penjelasan pasal 19 ayat (3)
“Untuk menegakkan kedaulatan dan keamanan negara serta dengan
memperhatikan keselamatan pelayaran, apabila diperlukan, Pemerintah Indonesia
dapat sewaktu-waktu mengganti alur laut dan skema pemisah lalu lintas yang
telah ditetapkan. Penggantian alur-alur laut dan skema pemisah lalu lintas ini
harus diumumkan secara wajar, misalnya dalam bentuk pengumuman kepada para
pelaut (notice to mariners).”

Berdasarkan pasal 22 ayat (1) dan (2) serta pasal 53 ayat (7) diatas,
pemerintah Indonesia seharusnya melakukan tindakan antisipasi dengan merubah
alur laut yang rusak akibat bencana alam dengan menentukan alur laut sementara
untuk menghindari terjadi kecelakaan tersebut. Penggantian tersebut lalu
diberitahukan kepada kapal Akatsuki Maru yang akan berlayar di perairan
Indonesia sehingga kapal tersebut dapat melintas melalui alur baru yang aman
bagi pelayarannya sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kecelakaan ini adalah sepenuhnya tanggungjawab Indonesia karena
kelalaiannya karena Akatsuki Maru sudah melaksanakan ketentuan-ketentuan
yang seharusnya untuk melintas secara damai di perairan Indonesia.
Untuk keselamatan pelayaran, Negara pantai harus secepatnya
mengumumkan bahaya apapun bagi navigasi dalam laut teritorialnya yang
diketahuinya. 1

1
Rosmi Hasibuan, S.H. M.H. Hak Lintas damai dalam pengaturan hukum laut Internasional.
TANGGUNGJAWAB PEMERINTAH JEPANG ATAS PENCEMARAN
LAUT YANG TERJADI.

Hak pelayaran Internasional yang diberikan pada kapal-kapal asing sudah


pasti menimbulkan potensi pencemaran pada lingkungan laut Indonesia. Terkait
dengan pernyataan tersebut maka timbul pertanyaan tentang tanggungjawab atas
pencemaran yang terjadi di perairan Indonesia.
Dalam kasus Akatsuki Maru diatas, memang benar bahwa Pemerintah
Indonesia harus bertanggungjawab atas tabrakan yang terjadi, karena Indonesia
lalai melaksanakan prinsip kehati-hatian sehingga terjadilah bencana yang tidak
diinginkan. Namun, selain bencana tabrakan tersebut, akibat lain yang timbul
adalah pencemaran laut yang terjadi pada wilayah perairan Indonesia, yang
meluas pula hingga wilayah perairan Singapura dan Malaysia. Lalu, siapa yang
harus bertanggungjawab atas pencemaran tersebut?
Dalam kasus pencemaran yang terjadi di laut, seharusnya yang
bertanggungjawab adalah Permerintah Indonesia karena penyebab pencemaran
tersebut berasal dari kelalaian Indonesia sendiri. Namun disisi lain Pemerintah
Jepang juga ikut bertanggung jawab, karena Kapal Akatsuki tersebut adalah kapal
berbendera Jepang. Hal tersebut didasarkan atas prinsip umum dalam ganti rugi
dalam pencemaran laut adalah tanggung jawab mutlak (strict liability). Strict
liability artinya kewajiban membayar ganti rugi timbul sesegera terjadinya
kerugian itu, dengan tidak mempersoalkan salah atau tidaknya kapal yang
bersangkutan.
Pasal 35 UU no 23 th 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, yang
menggunakan bahan berbahaya dan beracun, dan/atau menghasilkan limbah
bahan berbahaya dan beracun, bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian
yang ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan
seketika pada saat terjadinya.
Pasal 34 UU no 23 th 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup tentang ganti
rugi
(1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan
hidup, mewajibkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk membayar
ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu.

Hal ini berarti Pemerintah Jepang seharusnya ikut bertanggung jawab dan
memberikan ganti rugi kepada Pemerintah Indonesia. Namun apabila Malaysia
dan Singapura menuntut ganti rugi maka mereka dapat menuntut ganti rugi
kepada Pemeintah Indonesia.
BAB III
PENUTUP

1. Pemerintah Indonesia bertanggungjawab atas kecelakaan yang


terjadi atas kapal Akatsuki Maru di wilayah perairan Indonesia tersebut.
Indonesia seharusnya melaksanakan prinsip due dilligent ( Prinsip
kehati-hatian) untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan akibat bencana
alam tersebut. Akibat terjadinya bencana alam tersebut pasti akan merusak
alur laut untuk pelayaran-pelayaran di perairan Indonesia. Salah satu bentuk
prinsip kehati-hatian yang seharusnya dilakukan Indonesia yaitu dengan
membuat alur laut sementara untuk mencegah kecelakaan yang tidak
diinginkan dan untuk menjamin keselamatan pelayaran melalui perairan
Indonesia.
Berdasarkan pasal 22 ayat (1) dan (2) serta pasal 53 ayat (7) UNCLOS,
pemerintah Indonesia seharusnya melakukan tindakan antisipasi dengan
merubah alur laut yang rusak akibat bencana alam dengan menentukan alur
laut sementara untuk menghindari terjadi kecelakaan tersebut. Penggantian
tersebut lalu diberitahukan kepada kapal Akatsuki Maru yang akan berlayar
di perairan Indonesia sehingga kapal tersebut dapat melintas melalui alur baru
yang aman bagi pelayarannya sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.

2. Pemerintah Jepang dan Pemerintah Indonesia bertanggung jawab


atas pencemaran laut yang terjadi.
Dalam kasus pencemaran yang terjadi di laut, seharusnya yang
bertanggungjawab adalah Permerintah Indonesia karena penyebab
pencemaran tersebut berasal dari kelalaian Indonesia sendiri. Namun disisi
lain Pemerintah Jepang juga ikut bertanggung jawab, karena Kapal Akatsuki
tersebut adalah kapal berbendera Jepang. Hal tersebut didasarkan atas prinsip
umum dalam ganti rugi dalam pencemaran laut adalah tanggung jawab mutlak
(strict liability). Strict liability artinya kewajiban membayar ganti rugi timbul
sesegera terjadinya kerugian itu, dengan tidak mempersoalkan salah atau
tidaknya kapal yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA

UU no 23 th 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

UU no 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia

United Nation Convention on the Law of the Sea 1982

Hasibuan, Rosmi. Hak Lintas damai dalam pengaturan hukum laut Internasional

www. Google.com ”Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan Laut dengan

Adanya Hak Pelayaran Internasional di Perairan Indonesia”