Anda di halaman 1dari 1

tema utama REPUBLIKA ● AHAD, 6 MARET 2011 B6 tema utama REPUBLIKA ● AHAD, 6 MARET 2011 B7

Sejarah Hukum
Jinayah (al-jinayah) berasal dari kata jana-yajni manfaat dari ketaatan manusia kendati hal itu
yang berarti akhaza (mengambil) atau sering dilakukan oleh seluruh manusia.
pula diartikan kejahatan, pidana, atau kriminal. Allah justru menetapkan diri-Nya untuk
Jinayah didefinisikan sebagai perbuatan yang senantiasa memberikan rahmat kepada
diharamkan atau dilarang karena dapat seluruh hamba-Nya. Sebagaimana Dia telah
menimbulkan kerugian atau kerusakan agama, mengutus para rasul sebagai rahmat untuk
jiwa, akal, atau harta benda. semesta alam untuk menyelamatkan manusia

Pidana Islam
Dalam Islam dikenal dengan istilah al- dari kejahiliahan, mencerahkan mereka dari
Ahkam al-Jina’iyah atau hukum pidana. Al- kesesatan, mencegah mereka dari kemaksi-
ahkam al-jina’iyah bertujuan untuk melindungi atan, dan mendorong mereka agar senantiasa
kepentingan dan keselamatan umat manusia taat kepada-Nya.
dari ancaman tindak kejahatan dan pelang-
garan sehingga tercipta situasi kehidupan Tujuan penetapan
yang aman dan tertib. Hukum Islam sejalan dengan hukum kon-
vensional bahwa tujuan penetapan tindak
HUKUM PIDANA Oleh Nidia Zuraya sedikit.
Dasar larangan dan hukuman pidana dan hukuman adalah untuk melindungi
“Sedangkan hukum pidana Islam tidak
Menurut Audah, perbuatan-perbuatan yang kepentingan dan kemaslahatan masyarakat,
DIBERLAKUKAN DEMI ebagai agama yang sempurna,
dilahirkan laksana anak kecil yang kemudi-
dikategorikan sebagai tindak pidana adalah menjaga sistem masyarakat, dan menjamin
an tumbuh dan berkembang, tetapi

S
suatu perintah dan larangan yang apabila keberlangsungan hidup mereka. Kendati memi-
MENYELAMATKAN ajaran Islam mengatur secara
jelas berbagai aspek kehidupan
dilahirkan langsung laksana pemuda, yang
dilanggar akan mengakibatkan dampak yang liki tujuan yang sama, namun dalam hal men-
diturunkan langsung dari Allah SWT “Hukum Islam diturunkan bukan untuk wilayah suatu negara hukum meskipun
buruk, baik bagi sistem ataupun aturan capai tujuan tersebut kedua sistem hukum
JIWA, HARTA, manusia. Penegakan hukum
dan keadilan merupakan bagian
kepada Rasulullah SAW secara sempurna
dan komprehensif,” ujar Audah.
suatu golongan atau sebagian kaum
ataupun sebagian negara, melainkan untuk
hukum tiap negara biasanya berbeda.
masyarakat, akidah, kehidupan individu, memiliki cara yang berbeda.
Perbedaan antarhukum negara terus
keamanan harta, kehormatan diri (nama baik), Dalam Islam, akhlak adalah sendi utama
KETURUNAN, AGAMA, kehidupan yang juga diatur dan
mendapat perhatian dalam ajaran Islam.
Mustafa Zarqa, seperti dikutip dalam
Ensiklopedi Islam, membagi pertumbuhan
seluruh manusia, baik orang Arab maupun
orang dari etnis lainnya, baik di Barat
berlangsung hingga akhir abad ke-18 M
(Revolusi Perancis) ketika munculnya teori perasaan-perasaannya, maupun berbagai per- membangun masyarakat. Karena itu, hukum
timbangan lain yang harus dipelihara. Islam sangat memperhatikan pemeliharaan
DAN AKAL. Termasuk di antaranya masalah hukum
pidana yang diatur melalui al-Ahkam al-
dan perkembangan hukum Islam ke dalam
tujuh periode. Pertama, periode risalah,
maupun Timur,” papar Audah.
Hukum Islam diperuntukkan bagi
filsafat, ilmu pengetahuan dan sosial. Sejak
itu—sampai kini—hukum konvensional Pensyariatan hukuman terhadap setiap akhlak sehingga setiap perbuatan yang
Jinayah (hukum pidana Islam). ● Pengangkatan hakim wanita di Palestina tindak pidana dalam hukum Islam bertujuan menyentuh dan bertentangan dengan akhlak
yakni selama hidup Rasulullah SAW. Kedua, seluruh manusia yang berbeda-beda kecen- mengalami perkembangan besar, di
Hukum pidana Islam tumbuh lebih cepat periode al-Khulafa ar-Rasyidun (empat derungannya, berlainan kebiasaan, tradisi, antaranya berdiri di atas dasar yang tidak untuk mencegah manusia melakukan tindakan utama tersebut akan dijatuhi hukuman.
dibanding hukum pidana konvensional. khalifah utama) sampai pertengahan abad dan sejarahnya. Singkatnya, hukum Islam dimiliki oleh hukum-hukum konvensional tersebut. Seandainya tidak ada hukuman, Akan tetapi, tidak demikian dengan hukum

Hakikat Tindak Pidana


Menurut Abdul Qadir Audah dalam At- pertama Hijriah. Ketiga, dari pertengahan adalah hukum bagi seluruh keluarga, sebelumnya. perintah dan larangan tersebut tidak memiliki konvensional yang cenderung mengabaikan
Tasyri al-Jinai al-Islamy Muqaran bil bil abad pertama Hijriah sampai permulaan kabilah, masyarakat, dan negara. Menurut Audah, berbeda dengan hukum arti apa pun dan tidak memberikan pengaruh. persoalan akhlak. Hukum konvensional baru
Qanunil Wad’iy, hukum pidana konvension- abad kedua Hijriah. Sedangkan hukum konvensional dicip- konvensional, hukum Islam lahir dengan “Karena itu, kenyataan bahwa hukuman memperhatikan persoalan akhlak ini apabila
al tak ubahnya seperti bayi yang baru lahir, Keempat, dari awal abad kedua Hijriah takan oleh suatu masyarakat sesuai dengan sempurna, tidak ada kekurangan di dalam- dapat melahirkan rasa aman dan pengendalian suatu perbuatan telah membawa kerugian
tumbuh dari kecil dan lemah lalu tumbuh sampai pertengahan abad keempat Hijriah. kebutuhan dalam mengatur kehidupan nya; bersifat komprehensif, yakni (atas manusia) merupakan suatu perkara yang langsung bagi individu (perseorangan),

dalam Hukum Islam


besar dan bertambah kuat sedikit demi Kelima, dari pertengahan abad keempat antarmereka. Dengan demikian, hukum menghukumi setiap keadaan dan tidak ada telah dipahami dan hasilnya sesuai yang keamanan, atau sistem umum masyarakat.
NYTIMES.COM Hijriah sampai jatuhnya Baghdad pada konvensional dapat berkembang dengan keadaan yang luput dari hukumnya; men- diharapkan,” papar Audah. Contohnya, perbuatan zina. Hukum konven-
pertengahan abad ketujuh Hijriah. Kenam, cepat manakala tatanan masyarakatnya cakup segala perkara individu, masyarakat, Menurut dia, hukuman juga dapat mence- sional nyaris tidak menghukum perbuatan zina
dari pertengahanan abad ketujuh Hijriyah juga berkembang dan maju dengan cepat. dan negara. gah manusia untuk berbuat tindak pidana, kecuali bila terjadi pemaksaan salah satu pihak
sampai munculnya Majallah al-Ahkam al- Para ahli hukum sepakat bahwa awal Hukum Islam mengatur hukum keluarga, menolak kerusakan di muka bumi, dan men- (perkosaan). Bahaya perbuatan tersebut
Adliyah (Kodifikasi Hukum Perdata Islam) mula berkembangnya hukum konvensional hubungan antarindividu, menyusun hukum, dorong manusia untuk menjauhi perkara yang menurut hukum konvensional menyentuh
di zaman Turki Usmani. Ketujuh, sejak berawal dari sebuah keluarga dan kabilah. administrasi, politik, dan segala hal yang membahayakan. Dalam hal ini, walaupun secara langsung kebaikan individu dan kea-
Oleh Nidia Zuraya
munculnya kodifikasi hingga era modern. Seperti hukum keluarga yang dipimpin oleh berkaitan dengan masyarakat. Hukum DALAM ISLAM, hukuman ditetapkan untuk mewujudkan
kemaslahatan umum, hakikat pidana itu
manan umum sekaligus.
Sementara itu, aturan hukum Islam selalu
Menurut Audah, hukum Islam, terma- seorang kepala keluarga, hukum kabilah Islam juga mengatur hubungan antarne-
Dalam kitab al-Ahkam as-Sultaniyyah, Al- sendiri bukanlah suatu kebaikan, melainkan menghukum perbuatan zina dalam keadaan
suk di dalamnya hukum pidana Islam, dipimpin oleh seorang kepala suku atau gara dalam keadaan perang dan damai. AKHLAK ADALAH Mawardi mengungkapkan, dalam hukum suatu perusakan bagi pelaku itu sendiri dan bentuk apa pun. Karena, menurut hukum
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW kabilah. Hukum Islam dibuat untuk tidak ter-
Islam, tindak pidana (delik, jarimah) diartikan (seperti hukuman mati, potong tangan, dan Islam, perbuatan tersebut masuk ke dalam kat-
dalam masa yang pendek, yakni dimulai Hukum ini terus berkembang hingga pengaruh oleh perkembangan dan perubah- SENDI UTAMA sebagai perbuatan-perbuatan yang dilarang lainnya). egori tindak pidana yang menyentuh sisi
sejak masa kerasulan Nabi Muhammad akhirnya membentuk sebuah negara yang an waktu, yang tidak menuntut adanya
oleh syarak atau agama yang diancam oleh “Meskipun begitu, hukum Islam tetap akhlak. Apabila akhlak telah rusak, otomatis
SAW dan berakhir dengan kewafatannya merupakan penyatuan antara hukum-hukum pengubahan kaidah-kaidah umumnya dan MEMBANGUN Allah dengan hukuman hudud (hukum atau mewajibkan adanya hukuman. Sebab, masyarakatnya juga akan rusak dan hancur.
atau berakhir ketika Allah SWT menurun- keluarga dan kabilah, di mana hukum teori-teori dasarnya. Karena itu, seluruh
ketetapan Allah SWT) atau takzir (putusan hukuman dapat membawa kemaslahatan yang Sumber hukum Islam adalah Allah SWT.
kan firman-Nya, “Pada hari ini telah Aku antarkabilah atau hukum antarkeluarga kaidah dasarnya terdiri atas nas-nas yang MASYARAKAT. hukum yang ditetapkan oleh hakim). hakiki bagi masyarakat sekaligus memelihara Karena itu, siapa saja yang merujuk kembali
sempurnakan agamamu untukmu, dan berbeda satu sama lain. Di sinilah peran bersifat umum dan fleksibel yang dapat
Larangan-larangan syarak tersebut, kemaslahatan tersebut,” tuturnya. kepada hukum Islam, ia akan mendapati
telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan negara untuk menetapkan suatu hukum menghukumi setiap kondisi dan kasus yang
menurut Al-Mawardi, bisa berupa menger- Penetapan suatu hukuman cenderung bahwa sebagian perbuatan dianggap sebagai
telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” yang harus dipatuhi oleh seluruh individu, baru meskipun kesempatan terjadinya
jakan perbuatan yang memang dilarang atau mengarah kepada hal-hal yang tidak disukai tindakan pidana dan telah ditetapkan hukum-
(QS Al-Maidah [5]: 3) keluarga, dan kabilah yang masuk ke dalam tidak dimungkinkan. ■ ed: heri ruslan
meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. manusia, yakni selama hukuman itu mem- nya berdasarkan Alquran, sebagian yang lain
Abdul Qadir Audah dalam At-Tasyri al-Jinai al- berikan kemaslahatan masyarakat dan mence- berdasarkan perbuatan dan perkataan (hadits)
Islamy Muqaran bil Qanunil Wad’iy mene- gah hal-hal yang disukai mereka, selama hal Rasulullah SAW, dan ada juga sebagian yang
gaskan, pengertian tindak pidana menurut itu dapat merusak mereka. Hal itu ditegaskan lain ditetapkan oleh penguasa.
hukum Islam sangat sejalan dengan penger- dalam hadis Rasulullah SAW, “(Jalan menuju) Walaupun demikian, hukum Islam tidak
tian tindak pidana (delik) menurut hukum kon- Ali Bek Badawi dalam al-Ahkam al-’Ammah surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak membiarkan penguasa tersebut berbuat seke-
vensional kontemporer. fil Qanun al-Jina’i menyebutkan, dalam hukum disukai, sedangkan neraka dikelilingi dengan hendaknya, tetapi harus berlandaskan kepada
Pengertian tindak pidana dalam hukum konvensional, suatu perbuatan atau tidak hal-hal yang disukai.” kaidah (prinsip) dan jiwa hukum Islam yang
konvensional adalah segala bentuk perbuatan berbuat dikatakan sebagai tindakan pidana Allah SWT yang mensyariatkan hukum, umum. Karena itu, hakim tidak boleh melarang
yang dilarang oleh hukum, baik dengan cara apabila diancamkan hukuman terhadapnya kata Audah, sama sekali tidak terkena dampak apa yang dihalalkan oleh Allah SWT atau seba-
melakukan perbuatan yang dilarang maupun oleh hukum pidana konvensional. dari kemaksiatan yang dilakukan oleh seluruh liknya, tidak boleh membolehkan apa yang
meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan, manusia. Allah juga tidak mendapatkan dilarang oleh-Nya. ■ ed: heri ruslan

● Berdasarkan karakter khususnya

RAGAM TINDAK PIDANA


Oleh Nidia Zuraya
Berdasarkan karakter khususnya, tindak
indak pidana adalah perbuatan ter- pidana terbagi menjadi: tindak pidana yang

T larang yang dijatuhi hukuman. Akan


tetapi, tindak pidana itu sendiri dapat
dibagi menjadi beberapa bagian.

● Berat ringannya hukuman


bermakna memberikan pendidikan (pendisi-
plinan). Maksudnya adalah memberikan
pidana tidak disengaja, kecenderungan untuk
berbuat salah tidak ada. Itulah sebabnya,
memberikan kesaksiaan atau tidak mau
mengeluarkan zakat.
menganggu masyarakat umum, tindak pidana
yang menganggu individu, tindak pidana
biasa, dan tindak pidana politik.
Tindak pidana masyarakat adalah suatu
tindak pidana yang hukumannya dijatuhkan
hukuman yang bertujuan mengoreksi atau hukuman yang diberikan kepada pelaku Kedua, tindak pidana tunggal dan tindak
Berdasarkan berat ringannya hukuman, merehabilitasi pelaku kejahatan. tindak pidana disengaja lebih berat dari pelaku pidana berangkai. Tindak pidana tunggal yaitu demi menjaga kepentingan (kemaslahatan)
hukum pidana Islam mengenal tiga macam Hukum Islam tidak menentukan macam- tindak pidana tidak disengaja. tindak pidana yang dilakukan dengan satu masyarakat, baik tindak pidana tersebut
golongan kesalahan. Pertama, tindak pidana macam hukuman untuk tiap-tiap tindak pidana perbuatan, seperti pencurian, meminum mengenai individu, masyarakat, maupun
hudud, yang sering diartikan sebagai hukum takzir, tetapi hanya menyebutkan sekumpulan ● Berdasarkan waktu terungkapnya minuman keras, baik tindak pidana ini terjadi mengancam keamanan dan sistem
atau ketetapan Allah SWT. Orang yang melaku- hukuman dari yang paling ringan sampai yang Ada dua jenis tindakan pidana berdasarkan seketika maupun yang dilakukan secara terus- masyarakat. Para fukaha berpendapat bahwa
kan tindak pidana ini akan dikenai hukuman paling berat. Dalam hal ini, hakim diberi kebe- waktu terungkapnya, yaitu tindakan pidana menerus. Tindak pidana hudud, kisas, dan diat penjatuhan hukuman atas tindak pidana jenis
sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah basan untuk memilih hukuman-hukuman yang yang tertangkap basah dan tindakan pidana termasuk ke dalam kategori tindak pidana ini menjadi hak Allah. Maksudnya, terhadap
Oleh Nidia Zuraya akhir ini, padahal hukum konvensional lebih ● Kaidah hukum bentuk masyarakat. SWT, tidak bisa ditambah atau dikurangi. sesuai dengan macam tindak pidana takzir yang tidak tertangkap basah. Tindak pidana tunggal. hukuman tersebut tidak ada pengampunan,
tua dari hukum Islam. Lebih dari itu, hukum Hukum konvensional adalah kaidah-kaidah Dasar hukum konvensional yang demikian Hukuman yang diberikan kepada para serta keadaan si pelaku. Singkatnya, yang tertangkap basah yaitu tindak pidana Sedangkan tindak pidana berangkai yaitu peringanan, atau penundaan eksekusinya.
ukum Islam tidak sama dengan Islam lebih banyak mencapai sesuatu yang yang terbaru untuk masyarakat pada saat itu, sejak kelahirannya telah berubah setelah pelaku tindak pidana hudud merupakan hak hukuman-hukuman tindak pidana takzir tidak yang terungkap pada saat tindak pidana itu perbuatan yang dilakukan berulang-ulang Tindak pidana perseorangan adalah suatu

H hukum konvensional. Menurut


Abdul Qadir Audah dalam At-Tasyri
al-Jinai al-Islamy Muqaran bil
Qanunil Wad’iy, sejatinya hukum Islam tidak
dapat dianalogikan dengan hukum konven-
tidak dapat dicapai oleh hukum konvensional.
Sebagai hukum hasil ciptaan manusia,
hukum konvensional merepresentasikan
kekurangan, kelemahan, dan ketidakmam-
puan manusia serta sedikitnya kecerdasan
tetapi terbelakang untuk masyarakat masa
depan. Ini karena hukum konvensional tidak
berubah secepat perkembangan masyarakat
dan tidak lain merupakan kaidah-kaidah yang
temporal yang sejalan dengan kondisi
Perang Dunia I, di mana banyak negara yang
mulai menyerukan untuk menggunakan
sistem baru yang dapat digunakan oleh
hukum untuk mengarahkan masyarakat pada
arah tertentu sebagaimana juga dipakai untuk
Tuhan yang tidak bisa dihapuskan, baik oleh
perseorangan yang menjadi korban tindak
pidana itu sendiri maupun oleh masyarakat
yang diwakili lembaga negara.
Dalam hukum Islam, dikenal tujuh macam
mempunyai batasan tertentu.
Jenis tindak pidana takzir tidak ditentukan
banyaknya, seperti halnya tindak pidana
hudud dan kisas yang sudah ditentukan
jumlah dan jenisnya. Hukum Islam sendiri
dilakukan atau beberapa saat setelah tindak
pidana tersebut dilakukan, sedangkan tindak
pidana yang tidak tertangkap basah yaitu
tindak pidana yang tidak terungkap pada saat
tindak pidana tersebut dilakukan atau
(berangkai). Perbuatan itu sendiri tidak terma-
suk ke dalam kategori tindak pidana, tetapi
berulang-ulangnya perbuatan itulah yang
menjadikannya sebagai tindakan pidana.
Bentuk tindak pidana seperti ini banyak terda-
tindak pidana yang hukumannya dijatuhkan
untuk memelihara kemaslahatan individu.
Meskipun demikian, sesuatu yang menyentuh
kemaslahatan individu otomatis menyentuh
kemaslahatan masyarakat. Contohnya, tindak
sional. Betapa tidak. Hukum Islam merupakan mereka. Hukum konvensional tentunya sarat masyarakat yang juga temporal. Jika kondisi mencapai tujuan-tujuan tertentu. tindak pidana hudud, yaitu zina, qazaf (menu- hanya menentukan sebagian tindak pidana terungkapnya tindak pidana tersebut dalam pat dalam tindak pidana takzir, di mana pidana pencurian dan qazaf (menuduh orang
produk Sang Pencipta, sedangkan hukum dengan perubahan dan pergantian atau yang masyarakatnya berubah, secara otomatis Negara yang pertama mengadopsi teori ini duh orang berbuat zina), meminum minuman takzir, seperti riba, mengkhianati janji, memaki waktu yang lama. petunjuknya diperoleh dari ketentuan yang lain berbuat zina).
konvensional hasil pemikiran manusia. dinamakan dengan perkembangan (evolusi) hukum-hukum mereka juga turut mengalami adalah negara Komunis Soviet lalu diikuti oleh keras, mencuri, hirabah (orang yang memerangi orang, dan menyuap. Menurut para fukaha (ahli fikih), tertangkap mengharamkan perbuatan tersebut. Sejak awal, syariah membedakan antara

Perbedaan “Ketika keduanya dianalogikan, ibarat


membandingkan bumi dan langit dan manusia
dengan Tuhan,” ungkap Audah. Berikut ini
seiring dengan perkembangan masyarakat,
tingkatan, kedudukan, dan situasi mereka.
“Karena itu, hukum konvensional selalu
perubahan.
Adapun hukum Islam merupakan kaidah-
kaidah yang dibuat oleh Allah SWT yang ber-
Turki dengan ajaran sekuler Kemal Attaturk,
Italia dengan ajaran fasisnya, Jerman dengan
Nazinya, kemudian diikuti juga oleh negara-
Allah dan Rasul-Nya), murtad, dan orang yang
memberontak terhadap penguasa yang sah.
Kedua, tindak pidana kisas dan diat (ganti
Adapun sebagian besar dari tindak pidana
takzir diserahkan kepada penguasa untuk
menentukannya. Meski demikian, hukum
basah adalah terungkapnya pelaku tindak
pidana pada waktu tindak pidana itu
dilakukan. Dalam hukum Islam, tak ada
Ketiga, tindak pidana terjadi seketika (tem-
poral) dan tindak pidana terjadi dalam waktu
lama (nontemporal). Para fukaha tidak pernah
tindak pidana biasa dan tindak pidana politik.
Menurut hukum Islam, pemisahan ini untuk
menjaga kemaslahatan dan keamanan
perbedaan dasar antara hukum Islam dan rugi). Tindakan pidana ini berkenaan dengan Islam tidak memberikan wewenang kepada membahas tentang tindak pidana yang terjadi masyarakat serta memelihara sistem dan

Hukum Islam dan


akan kekurangan dan mustahil sampai pada sifat selalu kekal (permanen) untuk mengatur negara lainnya. Pada akhirnya, tujuan hukum larangan untuk menganggap adanya keadaan
hukum konvensional: tingkat kesempurnaan selama pembuatnya urusan-urusan masyarakat. Berbeda dengan konvensional saat ini adalah untuk menjadi kejahatan terhadap orang, seperti membunuh penguasa untuk dapat menentukan tindak tertangkap basah. Hal ini karena tujuannya seketika dan yang terjadi dalam waktu yang eksistensi mereka. Karena itu, tidak semua
tidak mungkin disifati dengan kesempurnaan hukum konvensional, kaidah-kaidah dan nas- sebuah aturan yang mengatur dan meng- dan menganiaya. Bagi pelaku tindak pidana ini pidana dengan sekehendak hati, tetapi harus untuk mempermudah proses penyelidikan lama (secara terus-menerus). Alasannya, para tindak pidana yang diperbuat untuk tujuan
● Sumber hukum (manusia), dan ia mustahil dapat memahami nas hukum Islam harus bersifat umum dan arahkan masyarakat menurut pandangan akan dikenai hukuman kisas atau diat dari sesuai dengan kepentingan masyarakat dan kebenaran. fukaha hanya terfokus pada jenis tindak politik disebut tindak pidana politik meskipun

Konvensional Pada prinsipnya, perbedaan yang paling


mendasar antara hukum Islam dan hukum
konvensional adalah sumber hukumnya.
dengan baik apa yang akan terjadi meskipun
dapat memahami apa yang telah terjadi,’’
paparAudah.
fleksibel sehingga mampu memenuhi segala
kebutuhan umat meskipun sampai akhir
zaman dan kondisi masyarakat telah berkem-
para pemimpinnya.
Sementara dasar hukum Islam tidak hanya
mengatur urusan dan kehidupan masyarakat
individu yang menjadi korban. Kadar jumlah
hukuman yang diberikan ditentukan oleh sang
korban, namun tidak memiliki aturan batasan
tidak boleh berlawanan dengan ketentuan
serta prinsip-prinsip umum hukum Islam. ● Berdasarkan cara melakukannya
Berdasarkan cara melakukannya, tindak
pidana: tindak pidana hudud, kisas, dan diat.
Ketiga jenis tindak pidana ini sudah tetap, di
mana tindakan-tindakan yang mengakibatkan
sebagian tindak pidana biasa yang diperbuat
dalam kondisi politis tertentu disebut tindak
pidana politik.
Kedua hukum tersebut dengan jelas merepre- Adapun hukum Islam yang merupakan bang. Di samping kaidah dan nas hukum sebagaimana halnya pada hukum konvensional. minimal ataupun maksimal. ● Berdasarkan niat pelaku pidana terbagi menjadi tiga kelompok. hukuman tersebut tidak akan mengalami Tidak ada perbedaan antara tindak pidana
sentasikan sifat pembuat masing-masingnya. ciptaan Allah SWT merepresentasikan sifat Islam harus juga bersifat mulia dan luhur Tetapi, lebih dari itu, hukum Islam juga berper- Adapun tindak pidana kisas dan diat ini Dilihat dari niat pelakunya, tindak pidana Pertama, tindak pidana positif dan tindak perubahan. Demikian pula dengan hukuman biasa dan tindak pidana politik dari aspek
Hukum konvensional bersumber dari hasil kekuasaan, kesempurnaan, keagungan, dan sehingga tidak mungkin terlambat atau an sebagai pembentuk individu-individu yang terbagi dalam lima macam, yakni pembunuhan terbagi menjadi tindak pidana disengaja (doleus pidana negatif. Pembagian kelompok pertama yang telah ditentukan tidak akan berubah. karakteristiknya. Keduanya sama dalam hal
pemikiran manusia yang ditetapkan untuk pengetahuan-Nya yang mengetahui hal-hal ketinggalan zaman. saleh, masyarakat yang saleh, membentuk yang disengaja, pembunuhan yang menyeru- delicten) dan tidak disengaja (culpose delicten). ini didasarkan atas tinjauan apakah tindak Hudud, kisas dan diat adalah bentuk tindak macam dan cara melakukannya. Hanya saja
memenuhi segala kebutuhan mereka yang yang telah terjadi dan akan terjadi di masa format negara, dan tatanan dunia yang ideal. pai disengaja, pembunuhan tersalah, pengani- Dalam tindak pidana disengaja, si pelaku pidana yang diperbuat itu terjadi berupa per- pidana temporal. Tidak satu pun yang tergo- yang membedakan antara satu dan yang lain
bersifat temporal. Hukum ini juga dibuat mendatang. Karena itu, menurut Audah, ● Dasar hukum Atas dasar inilah, hukum Islam lebih tinggi ayaan yang disengaja, dan penganiayaan yang dengan sengaja melakukan perbuatannya serta buatan nyata ataukah dengan sikap tidak long tindak pidana nontemporal. terletak pada motifnya. Tindak pidana politik
dengan kemampuan akal manusia yang memi- Allah telah menciptakan hukum Islam yang Dasar dalam hukum konvensional disusun daripada seluruh tingkatan hukum dunia pada tersalah. Penganiayaan yang dimaksud di sini mengetahui bahwa perbuatannya tersebut dila- berbuat, atau apakah perbuatan itu diperin- Sementara itu, tindak pidana takzir, di dilakukan dengan niat untuk mewujudkan
liki keterbatasan dan kekurangan untuk meliputi segala sesuatu untuk masa sekarang untuk mengatur urusan dan kehidupan saat diturunkannya dan hal tersebut masih adalah perbuatan yang tidak sampai menghi- rang, sedangkan dalam tindak pidana tidak tahkan ataukah dilarang. kalangan fukaha ada yang menganggapnya tujuan-tujuan politis atau yang memotivasinya
memahami perkara gaib dan menghukumi dan masa mendatang karena ilmu-Nya masyarakat, bukan mengarahkan mereka. tetap seperti itu hingga sekarang. Prinsip- langkan jiwa sang korban, seperti pemukulan disengaja, si pelaku sengaja mengerjakan Tindak pidana positif terjadi karena sebagai tindak pidana temporal dan ada juga adalah motivasi politis.
perkara yang belum terjadi. meliputi segala sesuatu. Karena itu, hukum yang disusun akan prinsip dasar dan teori-teori hukum Islam ini dan pelukaan. perbuatan yang dilarang, tetapi perbuatannya melakukan suatu perbuatan yang dilarang, yang menganggpnya tindak pidana nontempo- Adapun tindak pidana biasa memiliki motivasi
Sedangkan hukum Islam bersumber dari Ketetapannya tidak akan berubah hingga berubah dan mengalami perkembangan baru dapat disadari dan dipahami oleh bang- Ketiga, tindak pidana takzir. Berupa keja- tersebut terjadi akibat kekeliruannya. seperti mencuri, zina, dan pemukulan, sedang- ral. Walaupun demikian, para fukaha yang biasa. Tetapi, tidak menutup kemungkinan
Allah SWT. Sejak diturunkan, hukum Islam kapan pun dan di manapun, sebagaimana dije- seiring dengan berkembangnya masyarakat sa-bangsa non-Muslim setelah berabad-abad hatan yang tidak termasuk dalam hudud Tindak pidana disengaja menunjukkan kan tindak pidana negatif terjadi karena tidak mengabaikan masalah ini karena lembaga beralih menjadi motivasi politis. Artinya, tindak
mempunyai teori hukum yang terbaru yang laskan dalam Alquran surah Yunus ayat 64: “.… tersebut. Artinya, masyarakatlah yang mem- lamanya dan bahkan hingga masa kini. karena bentuk hukumannya diserahkan adanya kesengajaan untuk berbuat tindak melakukan suatu perbuatan yang diperin- legislatif telah diberi wewenang seluas- pidana biasa terkadang terkontaminasi oleh
baru dicapai oleh hukum konvensional akhir- Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah ....” bentuk hukum, bukannya hukum yang mem- ■ ed: heri ruslan kepada kebijakan hakim. Istilah takzir ini pidana dari si pelaku, sedangkan pada tindak tahkan, seperti seseorang yang tidak mau luasnya dalam memutuskan perkara tersebut. tindak pidana politik. ■ ed: heri ruslan