Anda di halaman 1dari 10

Pajak Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi di Indonesia

A. Latar Belakang
Sejak tahun 1983, Indonesia telah mencanangkan pajak sebagai sumber
pemasukan dana alternatif untuk mendampingi posisi dominan dari minyak dan gas
bumi.1 Pajak tersebut mempunyai fungsi sebagai alat atau instrumen yang digunakan
untuk memasukkan dana yang sebesar-besarnya ke kas Negara untuk menopang
penyelenggaraan dan aktifitas pemerintahan.2 Salah satu pajak yang merupakan
sumber penerimaan berasal dari pajak pada pengusahaan tambang minyak.
Hingga saat ini, dengan pertimbangan bahwa Negara Indonesia belum
memiliki kemampuan teknologi untuk mengeksplorasi, mengekploitasi, dan
mengolah hasil minyak, serta belum memiliki modal dan sumber daya manusia yang
memadai, maka pengusahaan tambang minyak masih diusahakan dalam bentuk kerja
sama dengan investor. Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi, kerjasama dalam bentuk kerja sama Kontrak Production Sharing (kontrak
bagi hasil).
Kontrak Production Sharing merupakan suatu penggabungan usaha antara
pemerintah yang diwakili oleh Badan Pelaksana sebagai Badan Hukum Milik Negara
dengan perusahaan lainnya untuk mengeksplorasi dan memproduksi minyak dan gas
bumi. Ciri yang menonjol dari Kontrak Production Sharing adalah manajemen dan
kepemilikan aset berada pada Pemerintah yang diwakili oleh Badan Pelaksana, serta
yang dibagi adalah hasil produksi setelah dikurangi biaya operasi.
Dengan mempergunakan kontrak bagi hasil tersebut, Negara akan
memperoleh sejumlah bagian hasil sesuai dengan porsi pembagian yang disepakati
dengan kontraktor dalam perjanjian tersebut. Perolehan tersebut merupakan
penerimaan Negara dari sektor migas. Selain itu, Negara juga memperoleh

1
Y.Sri Pudyatmoko,SH.M.Hum, , Pengantar Hukum Pajak (Edisi Revisi), CV.Andi Offset, 2006,
Yogyakarta, Hal.19
2
Chidir Ali, ASH, Hukum Pajak Elementer, PT Eresco 1993, Bandung, Hal 134

1
penerimaan berupa pajak yang dikenakan atas hasil pembagian yang diterima oleh
kontraktor.

B. Permasalahan
1. Jenis-jenis pajak apa saja yang dapat dipungut dari pengusahaan migas di
Indonesia?
2. Bagaimana mekanisme pemungutan pajak yang berlaku pada pengusahaan
migas?
3. Potensi-potensi perpajakan apa saja yang dapat diterapkan pada pengusahaan
migas di Indonesia?

C. Pajak Migas di Indonesia


Badan Usaha atau Badan Usaha Tetap (kontraktor) yang melaksanakan
kegiatan usaha hulu berupa ekplorasi dan eksploitasi wajib membayar sejumlah
penerimaan Negara Berupa Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak. Pembayaran
pajak tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang berlaku pada saat kontrak kerjasama ditandatangani atau ketentuan
perpajakan yang berlaku.5
Ketentuan Pasal 1 angka 1 UU No.28 Tahun 20076, menyebutkan:
“Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”
Kewajiban kontraktor migas untuk membayar pajak juga diatur dalam PP No.
35 Tahun 1994 tentang Syarat-syarat dan Pedoman Kerjasama Kontrak Bagi Hasil
Minyak dan Gas Bumi, Pasal 17:
(1) Kontraktor wajib menyerahkan dari bagiannya secara prorata untuk memenuhi
kebutuhan bahan bakar minyak dan atau gas dalam negeri sesuai kebijaksanaan
yang ditetapkan Menteri.
(2) Kontraktor wajib membayar pajak-pajak sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku atas perolehan bagiannya.

5
Pasal 31 ayat (1), (2), (3) dan (4), UU No.22 Tahun 2001, Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 66
6
Undang-undang tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, LN Tahun 2007 No.85, TLN No.4740

2
1. Pajak pengusahaan migas di Indonesia
Sampai saat ini, pajak yang dikenakan pada pengusahaan migas di
Indonesia hanya berupa Pajak Penghasilan (PPh).7 Pengenaan pajak penghasilan
kontraktor ini terkait erat dengan besarnya bagian kontraktor dari pembagian hasil
produksi minyak dan gas bumi antara Negara dengan kontraktor.8 Hal ini sesuai
dengan Pasal 1 UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana
telah diubah beberapa kali, terakhir dengan UU No. 17 Tahun 2000, yang
menyebutkan bahwa Pajak Penghasilan dikenakan terhadap orang pribadi atau
perseorangan dan badan berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau
diperolehnya selama satu tahun pajak.
Besarnya pajak penghasilan tersebut pada awalnya sebesar 56%, namun
pada Tahun 1984, Indonesia mengeluarkan peraturan pajak baru yang
menetapkan pajak penghasilan dalam kontrak bagi hasil adalah sebesar 48% dan
diberlakukan untuk kontrak bagi hasil yang ditandatangani pada Tahun 1988.9
Sementara itu, untuk kontrak bagi hasil yang ditandatangani setelah tahun 2000,
sesuai dengan UU Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000, ditentukan bahwa
tarif PPh yang diberlakukan adalah sebesar 44%. Hal ini dengan pertimbangan
bahwa kontraktor (migas) adalah merupakan suatu "bentuk usaha tetap" (BUT)10,
sehingga pajak penghasilan yang harus dibayar adalah 30% x penghasilan bersih11
+ 20% x (70% dari penghasilan bersih)12, sehingga beban pajaknya adalah 44%

7
Pajak Migas Perlu Segera Direvisi, diakses dari http://www.antikorupsi.org tanggal 17 Juli 2008
8
Rudi M Simamora, Hukum Minyak dan Gas Bumi, Djambatan 2000, hal 63
9
Mumu Muhajir, Analisis Atas Ketentuan Pokok PSC, diakses dari http://kataloghukum.blogspot.com
tanggal 11 Juli 2008
10
UU No.17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, Pasal 2 ayat (5) huruf g menyatakan bahwa
bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat
tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari
dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat
berupa pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk
eksplorasi pertambangan
11
Ibid, Pasal 17 ayat (1) huruf b menyebutkan Penghasilan Kena Pajak bagi wajib pajak badan atau
bentuk usaha tetap diatas Rp100.000.000,00 sebesar 30%
12
Ibid, Pasal 26 ayat (4) Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha
tetap di Indonesia dikenakan pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali penghasilan tersebut

3
dari penghasilan bersih. PPh dibayarkan langsung oleh kontraktor kepada
Pemerintah.13

2. Prinsip perhitungan dan pemungutan pajak migas


Terdapat beberapa prinsip terkait pajak yang diterapkan dalam kontrak bagi
hasil, yaitu antara lain:
1) “Prosentase pembagian adalah angka akhir setelah dipotong pajak dan
perhitungan cost recovery”.
Hasil produksi setelah dikurangi biaya operasi dibagi antara Negara dan
kontraktor dengan pembagian umumnya 85% untuk Negara dan 15% untuk
kontraktor pada hasil produksi minyak dan 65% untuk Negara dan 35% untuk
kontraktor pada hasil produksi gas.14

2) ”Kontraktor wajib membayar pajak penghasilan secara langsung kepada


pemerintah Indonesia”, sebelumnya pajak penghasilan dibayarkan oleh
Pertamina atas nama kontraktor kepada Pemerintah.
3) Dalam kontrak bagi hasil yang lama, bagi hasil yang diterapkan adalah
85%:15% dengan tarif pajak yang berlaku pada umumnya adalah 48%.
Dengan demikian pembagian pendapatan antara Negara dan kontraktor adalah
71,15% dan 28,85% sehingga setelah dikurangi pembayaran kewajiban pajak
dan pengembalian biaya operasi pembagian tetap menjadi 85% dan 15%.
Contoh perhitungannya adalah sebagai berikut:
(a) Hasil produksi minyak = 1000
(b) Cost recovery = 350

ditanamkan kembali di Indonesia, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri
Keuangan.
13
Pada awalnya pajak penghasilan dibayarkan oleh Pertamina atas nama kontraktor kepada
Pemerintah. Namun pada Tahun 1976, Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan IRS (Internal
Revenue Service) baru yang membuat perusahaan minyak Amerika tidak masuk dalam daftar
perusahaan yang mendapatkan tax credit (istilahnya foreign tax credit). Hal ini disebabkan karena
pembayaran pajak penghasilan yang dilakukan oleh kontraktor (tapi dilakukan oleh Pertamina) tidak
bisa diperhitungkan sebagai tax credit. Untuk membantu perusahaan Amerika tersebut, maka
pemerintah Indonesia berbaik hati melakukan perubahan pada isi kontrak kerja sama bagi hasil
(sehingga disebut kontrak bagi hasil generasi kedua) dengan mewajibkan pada kontraktor untuk
membayar pajak penghasilannya langsung kepada pemerintah.
14
Rudi M Simamora, Op.Cit, hal 96

4
(c) Equity to be split (ETBS) = 650 (1000 – 350)
(d) Bagian Negara sebelum pajak = 71.15% x 650 = 462,50
(e) Bagian Kontraktor sebelum pajak = 28.85% x 650 = 187,50
(f) Pajak = 90 (48% x 187,50)
(g) Bagian kontraktor setelah pajak = 187,50 – 90 = 97,50 (15% x ETBS)
(h) Bagian Negara setelah pajak = 462,50 + 90 = 552,50 (85% x ETBS)
Atas dasar ketentuan UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah dirubah dengan UU No.17 Tahun 2000, dimana tarif pajak
penghasilan untuk kontraktor sebagai bentuk usaha tetap adalah sebesar 44%,
maka pembagian pendapatan antara Negara dan kontraktor adalah sekitar
73,15% dan 26,85% sehingga setelah dikurangi pembayaran kewajiban pajak
dan pengembalian biaya operasi pembagian tetap menjadi 85% dan 15%.
Contoh perhitungannya adalah sebagai berikut:
(a) Hasil produksi minyak = 1000 barel
(b) Cost recovery = 350 barel
(c) Equity to be split (ETBS) = 650 barel (1000 – 350)
(d) Bagian Negara sebelum pajak = 73,15% x 650 = 475,47 barel
(e) Bagian Kontraktor sebelum pajak = 26,85% x 650 = 174,52 barel
(f) Pajak = 76,78 (44% x 174,52)
(g) Bagian kontraktor setelah pajak = 174,52–76,78 = 97,74 (15% x ETBS)
(h) Bagian Negara setelah pajak = 475,47 + 76,78 = 552,25 (85% x ETBS)
(contoh perhitungan untuk atas pengusahaan minyak)
Perhitungan sederhana di atas menunjukkan besaran pajak yang dikenakan
sangat mempengaruhi bagian Pemerintah dan bagian kontraktor. Pada contoh
perhitungan pertama dimana bagi hasil 85:15 dengan tarif pajak 48% maka
bagian Negara sebenarnya 71,15% : 28,85%, sedangkan pada contoh
perhitungan kedua dimana bagi hasil 85:15 dengan pajak 44% maka yang
dibagi sebenarnya adalah 73,15% : 26,85%. Hal ini menunjukkan dengan
menggunakan prinsip bagi hasil yang sama, penurunan tarif pajak justru akan
meningkatkan bagian Pemerintah dan mengurangi bagian kontraktor.15

15
Chandar Budi, Memahami Pajak Migas, diakses dari http://www.sinarharapan.co.id tanggal 15 Juli
2008

5
Perhitungan-perhitungan tersebut memiliki konsekuensi menurunnya tingkat
investasi sektor migas karena penurunan pajak justru berakibat pada
menurunnya bagian kontraktor. Pada prakteknya, kontraktor akan membayar
pajak tersebut setelah menjual terlebih dahulu bagiannya.
4) Pasal 6 ayat (1) UU No. 17 Tahun 2000 mengatur bahwa pajak-pajak selain
pajak penghasilan boleh dikurangkan sebagai biaya.
Dalam kontrak kerja sama diatur beberapa kewajiban yang harus dipenuhi
kontraktor, antara lain bonus yang wajib dibayar kepada pemerintah, yang
berupa:
(a) Signature bonus, yaitu kompensasi yang harus dibayar kepada pemerintah
RI saat KKS telah disetujui;
(b) Production bonus, pembayaran oleh kontraktor apabila secara akumulatif
produksi telah mencapai tingkat tertentu, dan;
(c) Pembayaran lain, kewajiban kontraktor untuk menyediakan peralatan atas
jasa yang diperlukan oleh pemerintah RI dalam tahun pertama kontrak.
Berpedoman pada Pasal 6 ayat (1) UU No.17 Tahun 2000 tersebut, meskipun
pengeluaran kena pajak kontrak kerja sama sebagaimana disebutkan di atas
tidak boleh dimasukkan dalam operating cost, untuk penghitungan PPh, pajak
atas pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dibebankan sebagai biaya.16

3. Potensi-potensi perpajakan dalam sektor migas

Sebagaimana diuraikan di atas, hingga saat saat ini penerimaan dari sektor
migas di luar penerimaan bagi hasil, baru didapat dari pajak penghasilan yang
dibebankan atas bagian kontraktor yang diperoleh dari bagi hasil. Dengan
perkembangan harga migas belakangan ini, khususnya harga minyak di pasar
dunia, berkembang berbagai wacana untuk mengoptimalkan penerimaan negara
dari sektor migas, seperti mekanisme pembayaran pajak dengan natura, Windfall
profit tax, dan Farm in-farm out tax.

16
klikPAJAK, Menyimak Kebijakan PPh Dalam UU Migas, diakses tanggal 4 Juli 2008

6
a). Mekanisme pembayaran pajak dengan natura
Memperhatikan proses perhitungan bagi hasil migas pada contoh
sebelumnya dan dikaitkan dengan mekanisme pembayaran pajak penghasilan
dan melihat kondisi pasar minyak pada saat ini dimana harga minyak sedang
melambung tinggi, maka mekanisme pembayaran pajak dengan natura/bentuk
minyak (barel) akan lebih meningkatkan penerimaan Negara, karena bagian
Negara seluruhnya akan berupa minyak dan penerimaan pajak tetap
terealisasi.
Marihot P.Siahaan menyatakan bahwa cara pembayaran pajak dapat
dilakukan dengan empat cara, yaitu:17
1). Pembayaran pajak dengan menggunakan natura (barang)
Cara pembayaran pajak seperti ini dapat dilihat pada sistem tanam paksa
(cultustelsel) pada jaman Hindia Belanda yang pada dasarnya merupakan
pajak tanah. Masyarakat tidak membayar pajak dalam bentuk uang namun
dalam bentuk natura, dengan cara menyerahkan hasil tanah.
2). Pembayaran dengan menggunakan uang tunai
Pembayaran dengan natura dianggap sudah tidak praktis lagi, mengingat
saat ini uang sudah menjadi alat pembayaran yang universal dan paling
umum digunakan dalam masyarakat, pembayaran pajak dewasa ini juga
dilakukan dalam bentuk uang.
3). Pembayaran dengan menggunakan benda dan cara tertentu
Sebagai sarana membayar pajak, digunakan benda tertentu dan bukan
uang tunai. Contoh pemungutan bea materia, di mana pajak terutang yang
timbal karena dibuat dokumen yang membuktikan adanya peristiwa atau
perbuatan hukum tidak dibayar dengan sejumlah uang tertentu melainkan
dengan menggunakan benda materia maupun cara lain yang ditentukan
oleh pejabat yang berwenang.
4). Pembayaran pajak dengan pemungutan oleh pihak lain.
Cara ini umumnya digunakan dalam PPN, Pajak hotel, Pajak restoran dan
pajak tidak langsung lainnya, dimana beban pajak dapat dialihkan kepada
pihak lain.

17
Mariot P.Siahaan, Utang Pajak, Pemenuhan Kewajiban dan Penagihan Paksa dengan Surat Paksa,
PT Raja Grafindo Persada, Jakarta 2004, hal 179.

7
Meskipun secara teori dan historis, pemungutan pajak dalam bentuk
natura dimungkinkan, namun mengingat bahwa ketentuan perpajakan yang
berlaku di Indonesia hingga saat ini hanya mengenal pembayaran pajak dalam
bentuk uang, kecuali untuk pajak bea materai, maka pembayaran pajak
penghasilan hasil bagi migas dalam bentuk natura (minyak) tidak
dimungkinkan.

b). Windfall profit tax

Perolehan keuntungan tak terduga (windfall profit) yang diperoleh


perusahaan minyak multinasional di Indonesia menyusul lonjakan harga
minyak dunia merupakan potensi tambahan pendapatan negara dari
keuntungan tak terduga yang diperoleh kontraktor migas asing. Windfall profit
adalah keuntungan tambahan yang diperoleh kontraktor asing bukan dari hasil
kerja tambahan maupun investasi, melainkan semata-mata dipicu oleh gejolak
harga pasar yang diramalkan semakin membesar dan selama ini dinikmati
secara sepihak oleh kontraktor.
Menggunakan asumsi faktual seputar aktivitas pengusahaan minyak di
Indonesia yaitu produksi 1,0 juta barel per hari (bph) atau 360 juta bph/tahun
dan harga minyak 110 dolar AS per barel serta menggunakan basis harga
US$70/barel, maka pendapatan "windfall profit" dari selisih harga pasar
terhadap basis harga dasar yang diterima kontraktor minyak asing mencapai
US$5,8M atau sekitar Rp53 trilyun. Kalau kemudian dikenakan 44% pajak,
maka Indonesia akan memperoleh Rp23 trilyun. Pengenaan pajak atas
windfall profit sudah dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Amerika
Serikat (AS) dan Venezuela.18

c). Farm in-farm out tax


Dalam bisnis perminyakan, sangat lazim terjadi pengalihan pengelolaan
ladang minyak dari satu kontraktor ke kontraktor lain atau dikenal dengan
farm in-farm out. Sebagai contoh ketika Blok Cepu hangat dibicarakan
beberapa waktu lalu, sebenarnya hak eksplorasi Blok Cepu sendiri dibeli oleh

18
Pemerintah Didesak Tagih Windfall Profit, diakses dari http://www.antara.co.id tanggal 15 Juli 2008

8
ExxonMobil dari Grup Humpuss. Kadang pengalihan bisa juga terjadi pada
sumur minyak. Misalnya, pengalihan sumur minyak Sukawati dari Pertamina
yang dibeli ExxonMobil. Modus utama terjadinya pengalihan tersebut adalah
modus ekonomi, dimana ada keuntungan dari setiap pengalihan tersebut.
Secara perpajakan, pengalihan itu bisa dikategorikan sebagai
pengalihan aset atau capital gain yang merupakan objek pajak dan dapat
dikenai PPh atas pengalihan hak yang juga bersifat final.19 Hal ini sesuai
dengan Pasal 4 ayat (1) huruf d UU No.17 Tahun 2000 tentang Perubahan
Ketiga UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, menyebutkan
bahwa:
Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apapun, termasuk keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan
harta termasuk:
1). Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutusan, dan
badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
2). keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya
karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota;
3). keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, atau pengambilalihan usaha;
4). keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan
atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha,
pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang
bersangkutan.

Potensi-potensi tersebut di atas, belum dimungkinkan untuk diterapkan


mengingat belum adanya peraturan perundang-undangan yang dapat
dipergunakan sebagai dasar hukum penerapan pajak-pajak tersebut.

19
Pajak Migas Perlu Segera Direvisi, diakses dari http://www.antikorupsi.org tanggal 17 Juli 2008

9
D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Hingga saat ini, penerimaan Negara berupa pajak dari sektor migas yang
diberlakukan di Indonesia hanya berupa pajak penghasilan atas bagian kontraktor
yang diperoleh dari bagi hasil dengan Negara. Besaran/tarif pajak penghasilan
sebagaimana diatur dalam UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan,
sebagaimana diubah dengan UU No.17 Tahun 2000 adalah sebesar:
a. 48% yang diberlakukan bagi kontrak-kontrak kerja sama bagi hasil yang
ditandatangani sejak Tahun 1988;
b. 44% yang diberlakukan bagi kontrak-kontrak kerja sama bagi hasil yang
ditandatangani sejak Tahun 2000.
2. Mekanisme pemungutan dan perhitungan pajak penghasilan pengusahaan migas
yang selama ini diberlakukan adalah kontraktor membayar langsung pajaknya
kepada Pemerintah
3. Indonesia sebagai Negara penghasil minyak sebenarnya masih memiliki potensi-
potensi perpajakan lainnya selain pajak penghasilan yang dapat menjadi alternatif
meningkatkan penerimaan Negara dari sektor migas, antara lain:
a. Pembayaran pajak penghasilan olen kontraktor dalam bentuk natura, yaitu
berupa minyak hasil produksi.
b. windfall profit tax; dan
c. farm in-farm out.
Mengingat ketiadaan peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan dasar
hukum penerapan pembebanan pajak-pajak tersebut, maka potensi penerimaan
Negara dari pajak-pajak tersebut belum dapat dioptimalkan.
.

10