Anda di halaman 1dari 10

Apakah Metamorfosis itu ?

Dari sekian banyak hewan yang ada di dunia ini, ada


beberapa hewan yang hidupnya harus melewati beberapa tahapan berbeda
sebelum menjadi dewasa. Tahapan tersebut bisa terlihat dari perubahan bentuk
tubuh hewan. Tahapan-tahapan ini disebut juga dengan “Metamorfosis”. Hewan
yang mengalami metamorfosis cukup banyak, di antaranya adalah Katak, Kupu-
kupu dan serangga. Sebelum mengetahui tahapan metamotphosis pada katak,
kupu-kupu dan serangga. sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu jenis-jenis
metamorphosis. Apa saja jenis metamorphosis dan proses metamorphosis pada
hewan? Jenis-jenis metamorphosis

1. Metamorphosis tidak sempurna

Metamorphosis tidak sempurna umumnya terjadi pada hewan jenis serangga


seperti capung, belalang, jangkrik dan lainnya. Mengapa dikatakan tidak
sempurna ? Jawabannya adalah karena hewan tersebut hanya melewati 2 tahapan,
yaitu dari telur menjadi nimfa kemudian menjadi hewan dewasa.

1. Metamorphosis sempurna

Metamorphosis sempurna kebalikan dari metamorphosis sempurna. Contoh proses


metamorphosis sempurna terjadi pada katak dan kupu-kupu. Seperti terlihat pada
gambar di bawah.

 Metamorfosis Katak
Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur, kemudian telur tersebut akan
menetas setelah 10 hari. Setelah menetas, telur katak tersebut menetas menjadi
Berudu. Setelah berumur 2 hari, Berudu mempunyai insang luar yang berbulu
untuk bernapas. Setelah berumur 3 minggu insang berudu akan tertutup oleh kulit.
Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang berudu akan terbentuk kemudian
membesar ketika kaki depan mulai muncul. Umur 12 minggu, kaki depannya mulai
berbentuk, ekornya menjadi pendek serta bernapas dengan paru-paru. Setelah
pertumbuhan anggota badannya sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi
katak dewasa.

Metamorfosis Kupu-kupu

  Pertama-tama, kupu-kupu akan bertelur.


Telur tersebut akan menetas menjadi Larva (ulat), ulat tersebut akan berubah
bentuknya menjadi panjang. Ulat tersebut nantinya akan menempel pada pohon
dan daun-daunan sehingga menjadi kepompong. Setelah beberapa lama, dari
kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Kemudian
tidak berapa lama menjadi kupu-kupu dewasa.
http://lianaindonesia.wordpress.com/2006/09/23/metamorphosis/

Metamorfosis Katak & Kupu-kupu


Posted on Agustus 7, 2010 by mgmp ipa rayon ampibabo

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana hewan secara fisik mengalami perkembangan
biologis setelah dilahirkan atau menetas. Proses ini melibatkan perubahan bentuk atau struktur
melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel (Mysience, 2008). Metamorfosis biasanya terjadi
pada fase berbeda-beda, dimulai dari larva atau nimfa, kadang-kadang melewati fase pupa, dan
berakhir sebagai spesies dewasa. Ada dua macam metamorfosis utama pada serangga,
hemimetabolisme dan holometabolisme.
Fase spesies yang belum dewasa pada metamorfosis biasanya disebut larva. Tapi pada
metamorfosis kompleks pada kebanyakan spesies serangga, hanya fase pertama yang disebut
larva dan terkadang memiliki nama yang berbeda.
Pada hemimetabolisme, perkembangan larva berlangsung pada fase pertumbuhan berulang dan
ekdisis (pergantian kulit), fase ini disebut instar. Hemimetabolisme juga dikenal dengan
metamorfosis tidak sempurna.
Pada holometabolisme, larva sangat berbeda dengan dewasanya. Serangga yang melakukan
holometabolisme melalui fase larva, kemudian memasuki fase tidak aktif yang disebut pupa, atau
chrysalis, dan akhirnya menjadi dewasa.
Holometabolisme juga dikenal dengan metamorfosis sempurna. Sementara di dalam pupa,
serangga akan mengeluarkan cairan pencernaan, untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan
sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi
dari hancuran tubuh larva. Proses kematian sel disebut histolisis, dan pertumbuhan sel lagi
disebut histogenesis.
Lama serangga menghabiskan waktunya pada fase dewasa atau pada fase remajanya tergantung
pada spesies serangga itu. Misalnya mayfly yang hanya hidup pada fase dewasa hanya satu hari,
dan cicada, yang fase remajanya hidup di bawah tanah selama 13 hingga 17 tahun. Kedua spesies
ini melakukan metamorfosis tidak sempurna.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini antara lain :
- Bagaimanakah mekanisme metamorfosis pada katak ?
- Bagaimanakah mekanisme metamorfosis pada kupu-kupu?
- Hormon-hormon apa saja yang berperan dalam metamorfosis katak dan kupu-kupu?
1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini yaitu mengetahui mekanisme metamorfosis pada katak dan
kupu-kupu, serta mengetahui hormon-hormon apa saja yang berperan dalam metamorfosis katak
dan kupu-kupu.
1.4 Manfaat
Manfaat aplikatif yang bisa diambil dari penyusunan makalah ini yaitu dapat digunakan sebagai
salah satu usaha dalam peningkatan ekonomi masyarakat misalnya pada industri kain sutra, pada
industri ini digunakan bahan baku berupa kepompong dari ulat sutra, sehingga dengan
mengetahui fase-fase metamorphosis terutama pada kupu-kupu maka dapat diperoleh kain sutra
dengan kualitas yang baik karena diambil pada fase yang tepat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian metamorfosis
Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana hewan secara fisik mengalami perkembangan
biologis setelah dilahirkan atau menetas, melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui
pertumbuhan sel dan differensiasi sel. Metamorphosis berasal dari bahasa Yunani yaitu Greek =
meta (diantara, sekitar, setelah), morphe` ( bentuk), osis (bagian dari), jadi metamorphosis
merupakan perubahan bentuk selama perkembangan post-embrionik. Hewan yang mengalami
metamorfosis cukup banyak, di antaranya adalah katak, kupu-kupu dan serangga.
2.2 Jenis – jenis Metamorphosis
Jenis-jenis metamorphosis adalah sebagai berikut :
1. Metamorphosis tidak sempurna merupakan metamorphosis yang melewati 2 tahapan yaitu dari
telur menjadi nimfa kemudian menjadi hewan dewasa. Biasanya metamorfosis ini terjadi pada
serangga seperti capung, belalang, jangkrik dan lainnya.Berikut adalah proses metamorfosis
tidak sempurna :

Gambar 2.1. Metamorfosis tidak sempurna pada capung (E-smart, 2008).

2. Metamorphosis sempurna merupakan metamorphosis yang melewati tahapan-tahapan mulai


dari telur-larva-pupa-imago (dewasa). Contoh metamorphosis sempurna terjadi pada katak dan
kupu-kupu. Berikut adalah proses metamorfosis sempurna :

Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur, kemudian telur tersebut akan menetas setelah
10 hari. Setelah menetas, telur katak tersebut menetas menjadi Berudu. Setelah berumur 2 hari,
Berudu mempunyai insang luar yang berbulu untuk bernapas. Setelah berumur 3 minggu insang
berudu akan tertutup oleh kulit. Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang berudu akan terbentuk
kemudian membesar ketika kaki depan mulai muncul. Umur 12 minggu, kaki depannya mulai
berbentuk, ekornya menjadi pendek serta bernapas dengan paru-paru. Setelah pertumbuhan
anggota badannya sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi katak dewasa. Selain pada
katak, metamorphosis sempurna juga terjadi pada kupu-kupu.
Pertama-tama, kupu-kupu akan bertelur. Telur tersebut akan menetas menjadi Larva (ulat), ulat
tersebut akan berubah bentuknya menjadi panjang. Ulat tersebut nantinya akan menempel pada
pohon dan daun-daunan sehingga menjadi kepompong. Setelah beberapa lama, dari kepompong
tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Kemudian tidak berapa lama menjadi
kupu-kupu dewasa.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Metamorfosis Katak
Pada metamorfosis amphibi banyak sekali mengalami perubahan baik secara morfologi maupun
fisiologi.
a. Proses Morfologi
Pada amphibi, metamorfosis umumnya digabungkan dengan perubahan persiapan yang mana
dari organisme aquatik untuk menjadi organisme daratan. Pada urodela (salamander), perubahan
ini meliputi berkurangnya ekor dan rusaknya insang bagian dalam dan berubahnya struktur kulit.
Pada anura, perubahan metamorfosis berlangsung secara dramatis dan kebanyakan organ-
organnya telah termodifikasi. Perubaan ini meliputi hilangnya gigi dan insang internal pada anak
katak, seperti hilangnya ekor, kemudian akan terjadi proses pembentukan seperti berkembangnya
anggota tubuh dan morfogenesis kelenjar dermoid. Perubahan lokomosi terjadi dari pergerakan
ekor menjadi terbentuknya lengan depan dan lengan belakang. Gigi yang digunakan untuk
mencabik tanaman hilang dan digantikan dengan perubahan bentuk baru dari mulut dan
rahangnya, otot dari lidah juga berkembang, insang mengalami degenerasi, paru-paru membesar,
otot dan tulang rawan berkembang untuk memompa udara masuk dan keluar pada paru-paru.
Mata dan telinga berdiferensiasi. Telinga bangian tengah berkembang dan membran timfani
terletak pada bagian telinga luar.
b. Proses Biokimia
Penambahan secara nyata pada perubahan morfologi, yang terpenting adalah terjadinya
transformasi biokimia selama metamorfosis. Pada berudu, fotopigmen ratina yang utama adalah
porphyropsin. Selama metamorfosis, pigmen ini merubah karakterisik fotopigmen dari darat dan
vertebrata perairan. Pengikatan hemoglobin (Hb) dengan O2 juga mengalami perubahan. Enzim
yang terdapat pada hati juga mengalami perubahan, hal ini disebabkan adanya perubahan habitat.
Kecebong bersifat ammonotelik yaitu mensekresikan amonia, sedangkan katak dewasa bersifat
ureotelic yaitu mensekresikan urea. Selama metamorfosis, hati mensintesis enzim untuk siklus
urea agar dapat membentuk atau menghasilkan urea dari CO2 dan amonia.

c. Perubahan spesifik
organ tubuh yang berbeda juga akan merespon beda pada stimulasi hormon. Stimulus yang sama
menyebabkan beberapa jaringan degenerasi dan menyebabkan diferensiasi dan perkembangan
yang berbeda. Respon hormon thyroid lebih spesifik pada bagian-bagian tubuh tertentu. Pada
ekor, T3 menyebabkan kematian dari sel-sel epidermal. Meskipun terjadi kematian dari sel-sel
epidermal pada ekor, kepala dan epidermis tubuh tetap melanjutkan fungsinya.
3.2 Hormon yang berperan dalam metamorfosis katak
Metamorfosis ini dikontrol hormon thyroid. Perubahan metamorfosis dari perkembangan katak
dengan mensekresikan hormon thyroxin (T4) dan triiodothronine (T3) dari thyroid selama
metamorfosis. Peranan hormon T3 lebih penting, hal ini disebabkan perubahan metamorfosis
pada thyroidectomized berudu memiliki konsentrasi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan
hormon T4.
Koordinasi dari perubahan perkembangan dan respon molekul hormon thyroid. Salah satu
masalah utama dari metamorfosis adalah koordinasi saat perkembangan. Pada dasarnya, ekor
tidak mengalami degenerasi sampai terbentuk dan berkembangnya organ-organ lokomosi.
Seperti berkembangnya kaki dan tangan untuk pergerakan dan insang tidak akan mengalami
perubahan fungsi sampai berkembang otot paru-paru. Hal ini menunjukkan bahwa koordinasi
metamorfosis yang berbeda pada jaringan dan organ akan memberikan respon yang berbeda pada
hormon. Untuk menjamin sistem kerja ini, 2 organ yang sensitif terhadap thyroksin yaitu thyroid
dan kelenjar pituitary, akan meregulasi produksi hormon thyroid. Hormon thyroid berfungsi
untuk membentuk hubungan timbal balik dengan kelenjar pituitary yang menyebabkan interior
pituitary menginduksi thyroid untuk menghasilkan T3 dan T4 lebih banyak. Selain itu, hormon
thyroid juga berfungsi untuk transkripsi dan mengaktivasi transkripsi pada beberapa gen. Seperti
transkripsi gen untuk albumin, globin dewasa, keratin kulit dewasa diaktivasi oleh hormon
thyroid. Respon T3 adalah aktivasi transkripsi gen reseptor hormon thyroid (TR). TR berikatan
dengan sisi yang spesifik pada kromatin sebelum hormon thyroid dibentuk. Ketika T3 dan T4
masuk kedalam sel, dan berikatan dengan ikatan reseptor kromatin, hormon reseptor kompleks
dirubah dari aktivator transkripsi. Belum diketahui mekanisme dari hormon thyroid dengan
respon yang berbeda pada jaringan yang berbeda (proliferasi, diferensiasi, kematian sel).
Pembentukan anggota tubuh tidak tergantung hormon thyroid, hal ini terjadi pada pembelahan
holoblastic dimana gastrulasi diawali pada posisi subequatorial, pembentukan neural dibagian
permukaan dan kuncup anggota tubuh juga terbentuk dibagian permukaan. Pembentukan
anggota tubuh tidak tergantung pada hormon thyroid.

3.3 Metamorfosis Kupu – kupu


Metamorfosis pada insekta sering kali diikuti dengan pengerusakan pada jaringan-jaringan pada
fase larva digantikan dengan jaringan-jaringan dari sel-sel yang baru yang telah berdiferensiasi.
Insekta tumbuh dengan cara molting yaitu pertumbuhan kutikula baru dengan meningkatkan
ukuran tubuh. Ada tiga jenis pertumbuhan pada insecta:
1. Ametabola, yaitu tahapan yang tidak melalui tahap larva, contoknya pada ngengat dan kutu
loncat.
2. Hemimetabola, yaitu metamorfosis yang melalui tahapan pro-nimpha yang terjadi persis
setelah penetasan. Setelah itu, insekta mengalami tahap nimpha. Pada metamorfosis
hemimetabola, sayap rudimen, organ genitalia, dan struktur ciri-ciri perkembangan lainnya sudah
terbentuk tapi belum sempurna. Namun, organ-organ ini tumbuh dengan sempurna pada akhir
molting. Contohnya dapat ditemui pada belalang dan kutu busuk.
3. Holometabola, yaitu metamorfosis yang dimulai dengan tahapn larva setelah penetasan. Larva
yang mengalami molting akan tumbuh dan berukuran besar. Tahapan diantara larva yang
mengalami molting dinamakan instar. Setelah tahap instar tahapan yang terakhir terbentuk pupa.
Selama pembentukan pupa, terjadi proses pembentukan struktur hewan dewasa.
3.4 Hormon yang berpengaruh pada metamorfosis kupu – kupu
Molting dan metamorfosis dikontrol oleh beberapa hormon efektor diantaranya yaitu:
a) Juvennile hormon, disekresikan oleh corpora allata. Sel sekretori corpora allataaktif selama
larva molting. Selama hormon juvennil terbentuk hidroksi ekdison menstimulasi molting dan
menghasilkan larva instar yang baru.hormon juvennil juga berungsi untuk mencegah perubahan
induksi ekdison pada ekspresi gen yang penting saat terjadi metamorfosis
b) 20-hidroxyecdysone, berfungsi untuk menginisiasi dan mengkordinir atau mengatur tiap
tahapan molting dan meregulasi perubahan ekspresi gen yang terjadi selama metamorfosis
melalui proses ekdisis.
c) Prothoracicotropic (PTIH), proses molting diinisiasi di otak, dimana sel neurosekretori
menghasilkan hormon Prothoracicotropic (PTIH) yang merespon neural, hormonal, atau sinyal
lingkungan. PTIH adalah hormon peptida yang menstimulasi ekdison dari kelenjar prothoracic.

BAB IV
KESIMPULAN
Metamorphosis pada katak dan kupu-kupu merupakan metamorphosis sempurna dimana
metamorphosisnya melewati tahapan-tahapan mulai dari telur-larva-pupa-imago (dewasa).
Hormon yang berpengaruh pada metamorfosis katak adalah hormon thyroid dengan
mensekresikan hormon thyroxin (T4) dan triiodothronine (T3) dari thyroid selama metamorfosis.
Hormon yang berpengaruh pada metamorfosis kupu – kupu antara lain Juvennile hormon, 20-
hidroxyecdysone, dan prothoracicotropic (PTIH).

http://musyawarahipa.wordpress.com/2010/08/07/metamorfosis-katak-kupu-kupu/

MeTamOrFosiS kAtaK
Pada metamorfosis, amphibi banyak sekali mengalami perubahan baik secara morfologi maupun
fisiologi.

a. Proses Morfologi
Pada amphibi, metamorfosis umumnya digabungkan dengan perubahan persiapan yang mana dari
organisme aquatik untuk menjadi organisme daratan. Pada urodela (salamander), perubahan ini
meliputi berkurangnya ekor dan rusaknya insang bagian dalam dan berubahnya struktur kulit. Pada
anura, perubahan metamorfosis berlangsung secara dramatis dan kebanyakan organ-organnya telah
termodifikasi. Perubaan ini meliputi hilangnya gigi dan insang internal pada anak katak, seperti
hilangnya ekor, kemudian akan terjadi proses pembentukan seperti berkembangnya anggota tubuh dan
morfogenesis kelenjar dermoid. Perubahan lokomosi terjadi dari pergerakan ekor menjadi terbentuknya
lengan depan dan lengan belakang. Gigi yang digunakan untuk mencabik tanaman hilang dan digantikan
dengan perubahan bentuk baru dari mulut dan rahangnya, otot dari lidah juga berkembang, insang
mengalami degenerasi, paru-paru membesar, otot dan tulang rawan berkembang untuk memompa
udara masuk dan keluar pada paru-paru. Mata dan telinga berdiferensiasi. Telinga bangian tengah
berkembang dan membran timfani terletak pada bagian telinga luar.

b. Proses Biokimia
Penambahan secara nyata pada perubahan morfologi, yang terpenting adalah terjadinya transformasi
biokimia selama metamorfosis. Pada berudu, fotopigmen ratina yang utama adalah porphyropsin.
Selama metamorfosis, pigmen ini merubah karakterisik fotopigmen dari darat dan vertebrata perairan.
Pengikatan hemoglobin (Hb) dengan O2 juga mengalami perubahan. Enzim yang terdapat pada hati juga
mengalami perubahan, hal ini disebabkan adanya perubahan habitat. Kecebong bersifat ammonotelik
yaitu mensekresikan amonia, sedangkan katak dewasa bersifat ureotelic yaitu mensekresikan urea.
Selama metamorfosis, hati mensintesis enzim untuk siklus urea agar dapat membentuk atau
menghasilkan urea dari CO2 dan amonia.
c. Perubahan spesifik
organ tubuh yang berbeda juga akan merespon beda pada stimulasi hormon. Stimulus yang sama
menyebabkan beberapa jaringan degenerasi dan menyebabkan diferensiasi dan perkembangan yang
berbeda. Respon hormon thyroid lebih spesifik pada bagian-bagian tubuh tertentu. Pada ekor, T3
menyebabkan kematian dari sel-sel epidermal. Meskipun terjadi kematian dari sel-sel epidermal pada
ekor, kepala dan epidermis tubuh tetap melanjutkan fungsinya.
3.2 Hormon yang berperan dalam metamorfosis katak
Metamorfosis ini dikontrol hormon thyroid. Perubahan metamorfosis dari perkembangan katak dengan
mensekresikan hormon thyroxin (T4) dan triiodothronine (T3) dari thyroid selama metamorfosis.
Peranan hormon T3 lebih penting, hal ini disebabkan perubahan metamorfosis pada thyroidectomized
berudu memiliki konsentrasi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan hormon T4.
Koordinasi dari perubahan perkembangan dan respon molekul hormon thyroid. Salah satu masalah
utama dari metamorfosis adalah koordinasi saat perkembangan. Pada dasarnya, ekor tidak mengalami
degenerasi sampai terbentuk dan berkembangnya organ-organ lokomosi. Seperti berkembangnya kaki
dan tangan untuk pergerakan dan insang tidak akan mengalami perubahan fungsi sampai berkembang
otot paru-paru. Hal ini menunjukkan bahwa koordinasi metamorfosis yang berbeda pada jaringan dan
organ akan memberikan respon yang berbeda pada hormon. Untuk menjamin sistem kerja ini, 2 organ
yang sensitif terhadap thyroksin yaitu thyroid dan kelenjar pituitary, akan meregulasi produksi hormon
thyroid. Hormon thyroid berfungsi untuk membentuk hubungan timbal balik dengan kelenjar pituitary
yang menyebabkan interior pituitary menginduksi thyroid untuk menghasilkan T3 dan T4 lebih banyak.
Selain itu, hormon thyroid juga berfungsi untuk transkripsi dan mengaktivasi transkripsi pada beberapa
gen. Seperti transkripsi gen untuk albumin, globin dewasa, keratin kulit dewasa diaktivasi oleh hormon
thyroid. Respon T3 adalah aktivasi transkripsi gen reseptor hormon thyroid (TR). TR berikatan dengan
sisi yang spesifik pada kromatin sebelum hormon thyroid dibentuk. Ketika T3 dan T4 masuk kedalam sel,
dan berikatan dengan ikatan reseptor kromatin, hormon reseptor kompleks dirubah dari aktivator
transkripsi. Belum diketahui mekanisme dari hormon thyroid dengan respon yang berbeda pada jaringan
yang berbeda (proliferasi, diferensiasi, kematian sel). Pembentukan anggota tubuh tidak tergantung
hormon thyroid, hal ini terjadi pada pembelahan holoblastic dimana gastrulasi diawali pada posisi
subequatorial, pembentukan neural dibagian permukaan dan kuncup anggota tubuh juga terbentuk
dibagian permukaan. Pembentukan anggota tubuh tidak tergantung pada hormon thyroid.

http://agetzu.blogspot.com/2008/12/metamorfosis-katak.html

Metamorphosis
September 23, 2006

lianaindonesia Uncategorized 33 Comments

Apakah Metamorfosis itu ? Dari sekian banyak hewan yang ada di dunia ini, ada
beberapa hewan yang hidupnya harus melewati beberapa tahapan berbeda
sebelum menjadi dewasa. Tahapan tersebut bisa terlihat dari perubahan bentuk
tubuh hewan. Tahapan-tahapan ini disebut juga dengan “Metamorfosis”. Hewan
yang mengalami metamorfosis cukup banyak, di antaranya adalah Katak, Kupu-
kupu dan serangga. Sebelum mengetahui tahapan metamotphosis pada katak,
kupu-kupu dan serangga. sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu jenis-jenis
metamorphosis. Apa saja jenis metamorphosis dan proses metamorphosis pada
hewan? Jenis-jenis metamorphosis

1. Metamorphosis tidak sempurna

Metamorphosis tidak sempurna umumnya terjadi pada hewan jenis serangga


seperti capung, belalang, jangkrik dan lainnya. Mengapa dikatakan tidak
sempurna ? Jawabannya adalah karena hewan tersebut hanya melewati 2 tahapan,
yaitu dari telur menjadi nimfa kemudian menjadi hewan dewasa.

1. Metamorphosis sempurna

Metamorphosis sempurna kebalikan dari metamorphosis sempurna. Contoh proses


metamorphosis sempurna terjadi pada katak dan kupu-kupu. Seperti terlihat pada
gambar di bawah.

 Metamorfosis Katak
Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur, kemudian telur tersebut akan
menetas setelah 10 hari. Setelah menetas, telur katak tersebut menetas menjadi
Berudu. Setelah berumur 2 hari, Berudu mempunyai insang luar yang berbulu
untuk bernapas. Setelah berumur 3 minggu insang berudu akan tertutup oleh kulit.
Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang berudu akan terbentuk kemudian
membesar ketika kaki depan mulai muncul. Umur 12 minggu, kaki depannya mulai
berbentuk, ekornya menjadi pendek serta bernapas dengan paru-paru. Setelah
pertumbuhan anggota badannya sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi
katak dewasa.

Metamorfosis Kupu-kupu

  Pertama-tama, kupu-kupu akan bertelur.


Telur tersebut akan menetas menjadi Larva (ulat), ulat tersebut akan berubah
bentuknya menjadi panjang. Ulat tersebut nantinya akan menempel pada pohon
dan daun-daunan sehingga menjadi kepompong. Setelah beberapa lama, dari
kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Kemudian
tidak berapa lama menjadi kupu-kupu dewasa.