Anda di halaman 1dari 44

SJ-5112 Perancangan Geometrik Jalan

Road Location Sony S Wibowo, PhD


Route Location (Penentuan Rute Jalan)

o Rute jalan adalah koridor rencana jalan yang


terpilih
o Koridor rencana jalan adalah bidang memanjang
untuk menggambarkan trase jalan yang
menghubungkan dua titik awal dan titik akhir
jalan.
o Trase Jalan adalah garis-garis yang merupakan
rencana sumbu jalan.
Kegiatan dalam Route Location

o Tahapan Persiapan
 Peta
 Penentuan rencana rute di peta
o Site Visit dan Survey:
 Identifikasi kondisi rute di peta dengan kondisi rute
lapangan
 Pencatatan kondisi lapangan
o Kompilasi dan analisis
 Perbaikan rute dan gambarkan di peta
 Persiapan untuk survey detail
Faktor Pertimbangan (dalam Route Location)

o Medan dan Topografi


o Perpotongan dengan sungai
o Daerah Lahan Kritis
o Daerah Aliran Sungai
o Material Konstruksi Jalan
o Galian dan Timbunan
o Pembebasan Tanah
o Lingkungan
o Sosial
Pengaruh Medan dan Topografi

o Jarak terpendek belum tentu merupakan jalan


yang optimum
o Pada daerah berbukit, jarak terpendek mungkin
memiliki kelandaian besar sehingga perlu
diteliti panjang kritisnya
o Pada jalan yang landai, perlu diperhatian
masalah drainase jalan
Pengaruh medan terhadap rute dengan jarak terpendek

A B

Garis Kontur
Jalan dengan jarak terpendek
Jalan dengan kelandaian minimum
Perpotongan dengan Sungai

o Usahakan perpotongan dengan sungai pada


badan sungai yang lurus.
o Rencana jalan memotong sungai tidak selalu
harus tegak lurus.
o Mencari bagian sungai yang paling sempit
sebagai lokasi jembatan belum tentu yang paling
optimal, karena bisa membutuhkan jalan yang
lebih panjang.
Perpotongan Jalan dan Sungai

Penyeberangan
Penyeberangan Terpendek/tegak lurus
Miring
Daerah Lahan Kritis

o Rencana jalan sebaiknya menghindari lahan


kritis, seperti
 daerah rawan longsor,
 daerah patahan,
 daerah genangan atau rawa-rawa
o Dengan teknologi, lahan kritis dapat diatasi
tetapi berimplikasi terhadap tingginya biasa
konstruksi dan biaya pemeliharaan
Daerah Aliran Sungai

o Daerah aliran sungai adalah daerah yang air


hujannya mengalir ke sungai tersebut.
o Jalan yang dibuat diatas punggung, biasanya
tidak terjadi perpotongan dengan aliran air.
o Perpotongan dengan aliran air perlu jembatan,
gorong-gorong atau lainnya .
Daerah Aliran Sungai dan Punggungan

S u n g a i/a n a k s u n g a i

P u n g g u n g an
Galian dan Timbunan

o Jalan yang dirancang dibangun di permukaan tanah


eksisting dapat meminimumkan pekerjaan galian
dan timbunan
o Galian atau timbunan yang terlalu dalam/tinggi
akan membutuhkan penanganan khusus terhadap
dinding galian / timbunan untuk menghindari
terjadinya longsor.
o Pekerjaan galian dan timbunan diusahakan
seimbang.
 Tidak semua bahan galian dapat dimanfaatkan sebagai
bahan timbunan; tergantung dari karakteristik tanahnya
serta persyaratan material untuk timbunan.
Pembebasan Tanah

o Pekerjaan jalan umum adalah proyek pemerintah


 Tidak semua tanah dikuasai oleh negara.
o Tanah milik masyarakat perlu dibebaskan dengan
memberikan ganti yang layak kepada pemilik.
o Di daerah perkotaan, harga tanah bisa sangat tinggi
dan proses pembebasan perlu waktu cukup lama.
o Tanah negara dibawah pengawasan dan
pengelolaan suatu instansi negara (tanah hutan,
perkebunan dsb.)
 perlu koordinasi antar instansi agar tidak menimbulkan
permasalahan.
Lingkungan dan Sosial
o Lalu lintas pengguna jalan menghasilkan polusi udara, suara,
getaran
 berdampak buruk bagi lingkungan
 menurunkan kualitas lingkungan hidup masyarakat.
o Di daerah hutan lindung atau cagar alam tidak disarankan
dibangun jalan untuk kendaraan bermotor.
o Kecenderungan tumbuh pemukiman/kegiatan lain di sisi jalan,
dapat memultiplikasi dampak lingkungan.
o Adanya kerugian ekonomi masyarakat sekitar, perubahan
kehidupan sosial akibat adanya jalan baru.
o Usahakan lokasi jalan tidak melewati daerah-daerah sensitif bagi
kehidupan sosial masyarakat.
o Perhatikan dampak-dampak yang akan timbul dan identifikasi
penanganan yang terbaiknya
Peta
Peta untuk Perencanaan Jalan

o Memiliki petunjuk arah Utara


o Memiliki koordinat atau grid-grid sebagai
sumbu X (arah Barat – Timur) dan sumbu Y
(arah Utara – Selatan)
o Memiliki sekala dan legenda yg jelas
o Memiliki garis kontur (profil topografi)
U

Skala 1: 1000
Garus Kontur pada Peta

o Garis yang menghubungkan titik-titik dengan


ketinggian yang sama.
o Garis tertutup (didalam/diluar gambar) dan berupa
garis menerus.
o Mempunyai angka ketinggian yang bulat dan tiap
garis tinggi kelima dipertebal.
o Garis yang agak rapat berarti puncak (A) atau
lembah kecil (depression) (B).
o Garis kontur tidak bisa berpotongan satu sama lain,
kecuali kalau ada dataran yang menonjol
(overhang) seperti di C
Tipikal Peta untuk Perancangan
Ilustrasi Perhitungan
Perhitungan Sudut Tikungan (1/3)

α1-2 αB-2

∆1

αA-1

α2-B

∆2

Perhitungan Jarak
Perhitungan jarak dilakukan dengan menggunakan persamaan :
di-j = Jarak antara titik i dan titik j, (m)
xi = Koordinat x titik i, (m)
d i− j = (x j − xi ) + (y j − y i )
2 2
xj = Koordinat x titik j, (m)
X : Arah Timur Peta yi = Koordinat Y titik i, (m)
Y : Arah Utara Peta
yj = Koordinat x titik j, (m)
Perhitungan Sudut Tikungan (2/3)

 Azimuth adalah suatu sudut yang dibentuk oleh suatu


garis di sebuah titik dengan garis yang menuju arah
utara.
 Besarnya azimuth ini ditentukan dengan besar tangen
sudut yang dibentuk oleh kedua garis tersebut.

 xB − x A 
α A− B = arctan   dimana :
 yB − y A  α= Azimuth dari titik A ke arah titik B
xA= koordinat x titik A
yA= koordinat y titik A
xB= koordinat x titik B
yB= koordinat x titik B
Perhitungan Sudut Tikungan (3/3)

o Perhitungan Sudut Tikungan


 Berdasarkan sketsa gambar, maka perhitungan sudut
tikungan adalah sebagai berikut :

∆C = αC − α A (Sudut Tikungan 1)

∆D = α D − αC (Sudut Tikungan 2)
Ilustrasi Hasil pada Peta Kontur

1
2

A(X,Y) B(X,Y)
Klasifikasi Medan
Kemiringan Medan atau Klasifikasi Medan

o Kemiringan medan ditentukan oleh kemiringan


melintang tanah.
o Kemiringan melintang tanah adalah kemiringan
melintang tanah asli yang diukur tegak lurus
terhadap sumbu jalan (dengan garis sepanjang
ROW jalan rencana).
o Umumnya Kemiringan melintang tanah diukur
tiap jarak 50 m.
o Kemiringan medan merupakan sebagian besar
kemiringan melintang garis-garis tersebut
Penentuan Klasifikasi Medan (Terrain)
o Buat segmen–segmen pada garis sumbu jalan rencana
tiap 50 meter pada peta,
o Tiap segmen tarik garis tegak lurus (ke kiri dan kanan)
garis rencana sumbu jalan, minimal selebar ROW jalan
(L)
o Tentukan ketinggian tanah asli di kedua ujung garis
tersebut sehingga didapat z1 dan z2.
o Kemiringan tiap segmen (ei) adalah perbandingan
antara selisih ketinggian (z1 – z2) dengan panjang
segmen (L),
o Kemiringan medan adalah nilai rata – rata kemiringan
tiap segmen sepanjang garis rencana jalan (ei).
Ilustrasi Penentuan Kemiringan Medan (1/2)
Ilustrasi Penentuan Kemiringan Medan (2/2)

Ketinggian titik (m)


Titik Kemiringan (%)
Kiri Kanan

1 21,00 20,50 0,83

2 24,00 23,00 1,67

3 25,00 24,00 1,67


Rata-rata = 2,40 %
4 26,00 25,50 0,83 Maksimum = 6,67 %
Minimum = 0,83 %
5 28,00 27,50 0,83

6 32,50 28,50 0,67

7 31,50 28,50 5,00

8 27,50 26,50 1,67


Klasifikasi Medan

Kemiringan Medan
Jenis Medan Notasi
(%)

Datar D < 10 %
Perbukitan B 10 % - 25 %
Pegunungan G > 25 %
Volume Jam Perencanaan
(VJP)
Volume Lalu lintas Rencana

o Lintas Harian Rata-rata, LHR, (avarage Daily Traffic)


bervariasi menurut minggu, bulan dan tahun.
o LHR tahunan (Annual Avarage Daily Traffic/AADT),
yaitu rata-rata tahunan volume lalu lintas per hari yaitu
jumlah lalu-lintas dalam satu tahun dibagi jumlah hari
dalam satu tahun atau 365 hari.
o Satuan LHR adalah kendaraan/hari untuk total dua
arah
o Volume Lalu Lintas Harian Rencana (VLHR) adalah
prakiraan volume lalu lintas harian pada akhir tahun
rencana lalu lintas dalam kendaraan/hari atau satuan
mobil penumpang/hari (smp/hari)
Volume Jam Perencanaan

o Volume Jam Perencanaan merupakan suatu volume lalu lintas per jam
yang dipakai sebagai dasar perencanaan.

o Volume Jam Perencanaan (VJP) adalah prakiraan volume rencana lalu


lintas pada jam sibuk tahun rencana lalu lintas,dinyatakan dalam smp/jam,

o Volume lalu lintas untuk perencanaan geometrik umumnya ditetapkan


dalam Satuan Mobil Penumpang per Satuan Waktu (smp/waktu)

o Masing-masing jenis kendaraan harus dikonversikan kedalam smp dengan


dikalikan dengan nilai ekivalensi mobil penumpang (emp).

o VJP digunakan untuk menghitung jumlah lajur jalan dan fasillitas lalu
lintas lainnya yang diperlukan.

o VJP = VLHR x K, dimana K adalah faktor volume lalu lintas jam sibuk
Faktor K
Kecepatan
Kecepatan (1/2)

o Kecepatan menurut ketentuan perencanaan dapat


berupa :
 Kecepatan Rencana,
 kecepatan yang ditetapkan untuk perancangan dan
mengkorelasikan semua bentuk-bentuk fisik suatu jalan seperti
tikungan, kemiringan jalan, jarak pandangan, dan lain-lainnya
 Kecepatan rencana merupakan kecepatan aman maksimum
yang dapat diadakan pada suatu bagian tertentu jalan,
sedemikian rupa sehingga bentuk fisik jalan yang menentukan
jalannya kendaraan.
 Kecepatan jalan (Running Speed)
 kecepatan pada suatu bagian suatu jalan yang merupakan hasil
pembagian jarak yang di tempuh dengan waktu selama
kendaraan dalam keadaan bergerak.
Kecepatan (2/2)

 Overall travel speed


 kecepatan menerus rata-rata pada suatu bagian tertentu jalan
yang merupakan hasil pembagian jarak yang ditempuh dengan
waktu keseluruhan (waktu bergerak dan waktu berhenti)

o Pemilihan kecepatan rencana harus dilakukan


seksama, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
antara lain sifat terrain, fungsi dan kelas jalan yang
bersangkutan, dan biaya pembangunan.
o Sekali kecepatan rencana dipilih berarti seluruh
bagian-bagian jalan sudah terikat.
Kecepatan Jalan vs Kecepatan Rencana

Sumber: AASHTO (2001)


Ketentuan Perancangan
Geometrik Jalan
Pertimbangan Perencanaan
o Pilih jalur jalan yang pendek,
o Perhatikan topografi dan geologi sehingga:
 Jalur tidak banyak tikungan yang tajam,
 Tidak banyak tanjakan dan turunan,
 Tidak melalui daerah patahan, hindari daerah gempa dan daerah
tidak stabil,
 Tidak banyak memotong tali air dan sungai
o Ikuti aturan perancangan seperti jarak pandangan, kecepatan,
dan faktor lainnya yang berpengaruh pada perancangan
alinyemen vertikal, alinyemen horisontal, dan penampang
melintang jalan,
o Usahakan pekerjaan tanah (galian dan timbunan) sesedikit
mungkin
Prosedur Umum
Persyaratan Umum (1/2)

o Bentuk geometrik jalan harus dapat memberikan


pelayanan optimal bagi lalu lintas sesuai fungsinya.
o Perencanaan geometrik jalan mempunyai tiga
tujuan utama yaitu:
 Memberikan keamanan dan kenyamanan, seperti: jarak
pandangan, ruang yang cukup bagi manuver kendaraan
dan koefisien gesek permukaan yang pantas.
 Menjamin suatu perancangan yang ekonomis
 Memberikan suatu keseragaman geometrik jalan
sehubungan dengan jenis medan (terrain)
Persyaratan Umum (2/2)

o Untuk perancangan jalan baru, perlu ditetapkan


lokasi trase jalan yang didasarkan atas survei lokasi
dan prinsip-prinsip umum aliemen.
o Survei lokasi bertujuan untuk menentukan rute
terbaik:
 yang menghubungkan titik awal dan akhir,
 yang menghasilkan kombinasi alinemen yang optimum,
 yang berimplikasi suatu perancangan dengan biaya daur
hidup (life cycle cost) yang minimum. Biaya daur hidup
terdiri dari biaya pembangunan, biaya pemeliharaan
selama masa pelayanan, serta biaya operasi kendaraan.
end of this section