Anda di halaman 1dari 224

ISLAM VS LIBERALISME

(SUARA DAKWAH ISLAM DARI TWIN TOWER 1 KLCC)


Ir. Achmad Nurhono, Msc
--- A Muslim with Geoscientist profession ---
DAFTAR ISI

DARI PENYUSUN

SERIAL ISLAM VS LIBERALISME

KATA PENGANTAR
Serial Ke-1 Luthfi dan Rusdhie

Serial Ke-2 Kebebasan : Muslim atau Liberal

Serial Ke-3 Tiga Makna Kebebasan dalam Islam

Serial Ke-4 Kebebasan Menista atau Menista Kebebasan

Serial Ke-5 Blasphemy

Serial Ke-6 Pornografi dan Liberalisme

Serial Ke-7 Seks Bebas Demi kebebasan

Serial Ke-8 Solusi tentang Ahmadiyah di Indonesia

Serial Ke-9 HAM dan Kebebasan

Serial Ke-10 DUHAM dimata Prof. Hamka

Serial Ke-11 Kebebasan Konsep Penting Worldview Barat

Serial Ke-12 Kritik Reinterpretasi dan liberalisasi Penafsiran

Serial Ke-13 Diabolisme Intelektual

Serial Ke-14 Makna Kebebasan, Bebas dari Tuhan

Serial Ke-15 Pemikiran Liberal di Dunia Arab

Serial Ke-16 Liberalisasi Syariat Islam

Serial Ke-17 Bayani, Irfani dan Burhani


Serial Ke-18 Proyek Politik Pemikiran

Serial Ke-19 Kanker Epistemologis

Serial Ke-20 Liberalisasi Syariat ala Na'im, Abu Zayd, dan Shahrur

Serial Ke-21 Upaya Meliberalkan Guru Agama

Serial Ke-22 Prof.Azyumardi : Pendidikan Islam di IAIN adalah Islam Liberal

Serial Ke-23 Novel KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat

Serial Ke-24 Langkah2 Perjuangan Seorang Profesor Pendukung Kesesatan

Serial Ke-25 Darmogandul dan Kebebasan - Misi Kristen di Jawa

Serial Ke-26 Pemikiran Modern Ala Barat: Paradigma Baru Pendidikan Islam di Indonesia

Serial Ke-27 Liberalisme: Dari Ideologi Menjadi Teologi

Serial Ke-28 Liberalisasi Syariat ala Sa’id al-Asymawi dan Na’im

Serial Ke-29 Religius Humanis dan HAM dalam Islam

Serial Ke-30 Salah Paham terhadap Ibn Rusyd dan Al-Ghazali + Ibn Rusyd tidak Liberal

Serial Ke-31 Liberalisasi Pemikiran Islam : Gerakan Bersama Misionaris, Orientalis, dan
Kolonialis
DARI PENYUSUN

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi Rabbi Al-Alamiin. Asy-syhadu an Laa ilaaha illallaah wa asy-syhadu anna


Muhammadan Rasulullah.

Segala Puji bagi Allah tuhan semesta alam yang telah memberikan kita ni’mat yang tak akan
tergantikan apapun yaitu ni’mat Iman dan Islam. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah
bagi baginda yang mulia, nabi akhir zaman yang tiada nabi dan rasul setelah beliau Muhammad
saw. Begitu juga teriring do’a keselamatan untuk para keluarga nabi ra, para sahabatnya ra,
para tabi’ut tabiin dan para ulama-ulama rahimahullah hingga akhir zaman yang atas berkat
ilmu yang mereka sampaikan kita bisa menapaki jalan kebenaran yang dibawa Nabi
Muhammad saw.

Buku ini adalah kumpulan hasil dakwah tulisan Bapak Ir. Achmad Nurhono, Msc., seorang
muslim yang berpofesi sebagai geoscientist, yang beliau kirimkan untuk teman-temannya
melalui surat elektronik (email) memuat pikiran-pikiran dari tokoh-tokoh Muslim yang bergelut
dalam perang pemikiran dengan para pengusung paham liberalisme, pluralisme, sekularisme,
dan semacamnya.
Ditulis secara serial dan dinukil dari karya asli para tokoh ISTAC, INSIST, dan para pengusung
“Worldview Islam” semisal Prof. Naquib al-Attas, Dr. Wan Mohd Nor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasy,
Dr. Adian Husaini, Dr Nirwan Syafrin, dan lain lainnya.

Meski tema “Islam vs Liberalisme” yang diusung serial ini termasuk dalam kategori ilmiah yang
sangat serius, penulis buku dalam hal ini telah mampu merangkum secara lebih sederhana dan
menjelaskan ide-ide serta essai para tokoh-tokoh “Worldview Islam” tersebut sehingga bisa
lebih dipahami oleh orang awam.

Saya sengaja dengan mohon kepada Pak Achmad agar tulisannya di“copy left”kan sehingga bisa
disebarluaskan ke khalayak ramai. Akhir kata, apabila banyak ditemukan kesalahan dan
ketidaktepatan penyusunan buku ini, semata-semata karena kekurangtelitian saya dalam
menyusun naskah dari pak Achmad Nurhono.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.
m.s.@2011
SERIAL ISLAM VS LIBERALISME
KATA PENGANTAR

…”niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat "(QS.Al-Mujadallah, 58 : 11).
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya” (QS.At-Taubah, 9:122).
“Ketika kita hidup untuk kepentingan pribadi, maka hidup ini tampak sangat pendek dan
kerdil. Ia bermula saat kita mulai mengerti dan akan berakhir bersama berakhirnya usia kita
yang terbatas. Tapi, apabila kita hidup untuk orang lain, yakni hidup untuk memperjuangkan
sebuah fikrah, maka kehidupan ini terasa panjang dan memiliki makna yang dalam. Ia
bermula bersama mulainya kehidupan manusia dan membentang beberapa masa setelah
kita berpisah dengan permukaan bumi (Sayyid Quthb).
Alhamdulilah wa Syukuri-LLah, hanya berkat taufiq dan hidayah-Nya, izin dan ridho-Nya, serta
‘iradah”-Nya lah, maka tulisan berseri dalam kajian “Islam versus Liberalisme” ini dapat ditulis.
Selain itu berkat pengaruh bimbingan dakwah, dan tulisan-tulisan pemikiran Islam yang
inspiratip dari para cendekiawan Islam Indonesia, sahabat, ustad dan sekaligus ulama pewaris
Nabi Muhammad saw. , yang merupakan murid-murid terbaik Prof Dr. Naquib Al-Attas, seperti
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Adian Husaini, Dr. Syamsuddin Arif, Dr. Nirwan Syafrin, Dr. Anis
Malik Toha, dll, maka tulisan berseri inipun dapat dibuat. Tidak lupa pula, pengaruh dorongan
dan motivasi dari kawan-kawan IATMI-KL, eks-Unocal dimanapun mereka berada yang tidak
bisa disebutkan satu-persatu namanya, adalah sungguh pendorong dan pemberi semangat
spiritual kami dalam menulis artikel berseri ini. Hanya rasa syukur mendalam dan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnyalah yang patut disampaikan, dengan harapan dan iringan
do’a semoga semua amal perbuatan tersebut dibalas setimpal oleh Allah SWT. dan bernilai
ibadah yang diberkahi dan diridhoi oleh Allah SWT,Amin.
Apakah sesungguhnya motif menulis serial Gazful Fikri “Islam versus Liberalisme” ini ?
Proyek besar yang telah lama digagas dan dirintis oleh para tokoh pemikir dan pembaharu
Muslim baik di Timur Tengah mapun di belahan bumi seperti di anak benua Indo-Pakistan, di
dunia Melayu, dan di-dunia Barat adalah “Membangun Kembali Peradaban Islam”. Dengan
segala kekurangan dan kelebihan, kegagalan dan keberhasilan yang dicapai oleh para
pendahulu, kita berkewajiban untuk mengambil pelajaran dari mereka dan menyusun strategi
baru bagi kelanjutan proyek tersebut.
Proyek ini semakin penting untuk dibahas kembali dan perlu terus direalisasikan secara
perlahan-lahan. Sebab “stigmatisasi” masyarakat Barat terhadap Islam dan umat Islam dengan
"fundamentalisme, terrorisme, ekslusifisme" dsb. yang marak akhir-akhir ini berangkat dari
asumsi bahwa Islam hanyalah denominasi agama dan kepercayaan yang menghasilkan
fanatisme. Akibat stigma ini umat Islam bersikap responsif dan reaktif sehingga cenderung
hanyut ke dalam bahasa-bahasa peperangan psikis (psy-war) yang tidak produktif bagi dialog
peradaban. Mereka seakan melupakan fakta bahwa Islam adalah sebuah agama yang telah
terbukti mampu berkembang menjadi peradaban yang bermartabat yang kaya dengan konsep
dan sistem kehidupan yang teratur selama berabad-abad lamanya.
Masyarakat dunia kini memerlukan dialog dalam bahasa peradaban, bukan hanya dalam bahasa
agama. Disini identitas jatidiri masing-masing peradaban perlu diperkenalkan kembali, untuk
kemudian ditemukan sisi perbedaan dan persamaan agar dapat ditentukan bentuk kerjasama
dan batas-batas toleransi yang dapat dan harus dipegang bersama.
Secara internal proyek pembangunan peradaban Islam merupakan jawaban komprehensif bagi
berbagai persoalan yang menggelayuti kehidupan umat Islam dewasa ini. Oleh karena itu
diperlukan pembahasan yang agak radikal (dari radiksnya), yaitu dengan merujuk konsep-
konsep dasarnya di atas mana peradaban Islam pernah dibangun dan akan kita bangun kembali.
Tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini sebenarnya bukanlah hanya dalam bidang
ekonomi, politik, sosial dan budaya saja, tetapi sejatinya lebih pada tantangan pemikiran. Sebab
persoalan yang ditimbulkan oleh bidang-bidang eknomi, politik, sosial dan budaya ternyata
bersumber dari pemikiran. Dan dari antara tantangan pemikiran yang paling serius saat ini
adalah di bidang pemikiran keagamaan. Tantangan yang telah lama kita sadari adalah
tantangan internal yang berupa kejumudan, fanatisme, taklid, bid’ah, khurafat dan sebagainya.
Sedangkan tantangan eksternal yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah masuknya paham
liberalisme, sekulerisme, pluralisme agama, relativisme dan lain sebagainya ke dalam wacana
pemikiran keagamaan.
Tantangan eksternal umat Islam dewasa ini dirasakan semakin kompleks dan bervariasi
bentuknya, namun dalam perspektip strategi “Ghazful Fikri” (Perang Pemikiran) strategi
pengembangan paham liberalisme Barat dirasakan sangatlah gencar-gencarnya muncul ditahun
2000 dan 2001, khususnya ketika terjadi tragedi runtuhnya “World Trade Center” (WTC) pada
11 September 2001. Tregedi ini sejatinya merupakan “Grand Design” George W. Bush untuk
menabuh genderang perlawanan terhadap radikalis Islam dengan amunisi liberalisme Barat.

Setelah “amunisi” liberalisme Barat tersebut berhasil memakan korban baik fisik maupun
pemikiran di negara-negara Islam, maka kemudian strategi tersebut diekspansikan ke
Indonesia. Caranya sama, yakni dengan mengembangkan strategi “stigmatisasi terorisme”. Bom
Bali dan banyak bom yang meledak dibanyak tempat di Indonesia adalah bukti konkritnya.
Banyak bukti baik temuan pakar ahli bom yang meragukan kejadian Bom Bali. Tapi dengan cara
inilah, masyarakat dunia bersama konspirasi media masa internasional Barat akan mengklaim
adanya terorisme di Indonesia. Secara tidak langsung, Barat telah berhasil mengantongi
ligitimasi dunia untuk melawan terorisme yang pada hakikatnya adalah melawan Islam dan
umat Islam.

Dengan logika pembenaran konsep sekularisme-empirisme-rasionalisme-prakmatisme


melawan “terorisme”, Barat sejatinya memiliki muatan tiga “amunisi” pada strategi Ghazful
Fikri yang ampuh. Pertama, westernisasi (pembaratan), Kedua, kolonialisasi dan Ketiga,
globalisasi. Ketiga hal inilah yang sekarang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Barat.
Dalam westernisasi contohnya, Barat sebagai Negara adidaya memaksakan negara-negara
berkembang (development country) untuk “mengkonsumsi” nilai-nilai universalitas (universal
value) versi Barat seperti demokrasi, kapitalisme, free sex (seks bebas), gender equality
(kesetaraan gender)dan lain sebagainya. Sedangkan melalui proses Globalisasi, Barat sengaja
memposisikan bangsa-bangsa yang lemah untuk menerima kultur, tradisi, konsep, sistim dan
nilai-nilai yang dianggap global (universal) untuk diadopsi. Dan untuk “Kolonialisasi”, kini
bentuknya lebih soft (ringan), tidak lagi dengan senjata namun dengan pemikiran dan bentuk
kerjasama yang intinya “menjajah”. Seks bebas, dimana agama Kristen, Islam dan agama-agama
lain sangat menentangnya. Namun, Barat tidak memasukkannya menjadi nilai-nilai universal.
Agak berbeda dengan nilai-nilai HAM yang sering dipaksakan di negara-negara Islam. Barat
sering memaksakan ide dan gagasannya kepada dunia Islam menjadi nilai-nilai universal, tapi
jarang mau memakai nilai-nilai Islam menjadi nilai universal.

Proyek pengembangan ketiga "amunisi" di atas itulah yang sedang dilakukan Barat. Dan untuk
bidang pemikiran, Barat memasarkan bidang-bidang filsafat seperti rasionalisme, empirisme,
dikotomi, pragmatisme, relativisme, liberalism, sekularisme, pluralisme agama dan nilai-nilai
universal lainnya. Kini, di Indonesia sedang sangat gencar-gencarnya dipasarkan produk
tersebut. Di Indonesia gerakan tersebut sedikit banyaknya telah mendapat pengikut. Gerakan
liberalisme memang cukup marak karena disokong dana dari luar dengan jumlah yang sangat
banyak. “Jadi, siapa yang tidak tergiur uang”. Banyak orang Indonesia yang dikuliahkan ke Barat
dengan beragam fasilitas dan didanai untuk penerbitan buku-buku liberal dan mendistorsikan
fakta di media. Malah terdapat sejumlah pemimpin ormas besar dan beberapa pejabat Negara.
Peneliti dan Direktur INSISTS, Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi bersama staff ahlinya yang kebanyakan
bergelar Phd. dalam bidang pemikiran Islam, mencatat lebih dari seratus orang di Indonesia
yang telah menjadi liberal. Bahkan tak sedikit adalah alumni pondok pesantren.

Secara definitip, Strategi "Al-Ghazful Fikri" adalah serangan dalam pemikiran, budaya, mental,
dan konsep yang dilakukan secara terus menerus dengan sistimatik, teratur serta terencana
dengan baik. Hal ini dilakukan sehingga muncul perubahan kepribadian, gaya hidup dan tingkah
laku pada umat Islam. Tujuan utamanya adalah untuk merusak aqidah, merusak akhlaq,
menghancurkan pemikiran Islam, melarutkan kepribadian Islam, dan menjadikan Muslim keluar
dari agamanya. Pelaku "Al-Ghazful Fikri" secara umum terdiri dari orang-orang Yahudi, Nasrani,
Majusi, Musyrikin, Munafikin, Atheis, dan orang kafir. Cara-cara yang banyak dilakukan oleh
mereka untuk menyerang umat Islam agar umat Islam lupa pada identitas aslinya adalah
melalui propaganda, pendidikan, pengajaran, buku, media cetak, internet, website, olahraga,
yayasan, lembaga-lembaga, hiburan, filem dan musik.

Strategi "Al-Ghazful Fikr" untuk merusak ajaran Islam dan umat Islam, secara umum bentuknya
dapat dikelompokkan dalam 4 strategi besar (Grand Strategy), yaitu :

1. Strategi "Tasykik", yaitu strategi yang berfokus pada berbagai usaha untuk mendangkalkan
aqidah Islam.

2. Strategi "Tasywih", yaitu strategi yang berfokus pada berbagai usaha untuk penodaan
ajaran Islam.
3. Strategi "Tadzwib", yaitu strategi yang berfokus pada segala usaha untuk melakukan
persenyawaan/asimilasi ajaran Islam yang prinsipil dengan ajaran dari luar Islam
(Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, kapitalisme, komunisme, animisme, kebatinan, atau
isme2 lainnya yang ada didunia).

4. Strategi "Tagrib", yaitu strategi yang berfokus pada segala usaha untuk menyimpangkan
perilaku umat Islam menjadi berperilaku tidak Islami, yang tidak disiplin terhadap nilai-nilai
Rabbani dan nilai-nilai ajaran Islam (Al-Qur'an dan As-Sunnah).

Dampak lebih jauh yang lebih parah lagi akibat keberhasilan program Ghazful Fikri ini adalah
dengan munculnya fenomena kuat pada umat Islam yang cenderung tidak memiliki lagi jati
dirinya sebagai pribadi Muslim, bahkan sudah semakin asing pemahamannya dengan
worldview (Pandangan Hidup) Islam dan Peradaban Islam. Artinya, sekarang ini, makin banyak
umat Islam yang tidak mengenali lagi peradabannya sendiri. Bahkan, sebagian pemikir dan
intelektual Muslim bangga dengan peradaban dan pemikiran yang didapatkan dari Barat.
Bahkan, lembaga pendidikan tinggi pun kini banyak yang menerapkan pemikiran orientalis ke
dalam studi Islam. Fenomena untuk menerapkan cara berpikir posmodernisme yang
mengusung doktrin liberalisme, pluralisme, relativisme, nihilisme, feminisme-gender,
humanisme, dan sebagainya telah banyak diagung-agungkan. ''Padahal, peradaban Barat itu
tidak jelas asal usulnya''. Artinya, tidak berasal dari satu sumber atau satu tempat kelahiran.
Barat adalah peradaban yang cara berpikirnya dipengaruhi oleh filsafat Yunani, sistem
hukumnya diilhami oleh Romawi, cara hidupnya didasari oleh tradisi bangsa-bangsa Eropa yang
berbeda-beda, seperti Jerman, Prancis, Inggris, Celtic, dan sebagainya. Sedangkan,
kepercayaannya dipengaruhi oleh agama Kristen dan Yahudi.

Kenyataan dan tantangan seperti ini, memang sungguh sangatlah memprihatinkan, memalukan
bahkan membahayakan khususnya bagi usaha mengembangkan dakwah Islamiyah yang benar
di Indonesia. Apalagi jika ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat kebangkitan Islam dan
peradaban Islam yang cemerlang paling tidak di negeri Indonesia sendiri dan kawasan Asian.
Karenanya introspeksi secara serius dan gugatan akan pertanyaan-pertanyaan kritis dan krusial
patutlah diajukan kepada seluruh umat Islam Indonesia dimanapun mereka berada dimuka
bumi ini. Dapatkah umat Islam Indonesia ikut berpartisipasi secara aktip-dinamis-kreatip untuk
merintis dan membagun tumbuh suburnyanya peradaban Islam yang cemerlang dimasa depan
dengan tradisi keilmuan Islam yang kokoh dan benar bersumberkan pada
worldview(pandangan hidup/alam) Islam ber-asaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah ? Lingkungan
pendukung efektip-efisien-profesional bagaimanakah yang dapat mencapai tujuan mulia
tersebut, yang paling tidak mencakup kesatuan yang utuh antara komponen guru-guru yang
merupakan ulama pewaris Nabi yang otoritatip dalam ilmunya, lingkungan keluargha-
masyarakat-bangsa-negara mikro-makro, lokal-regional, nasional-internasional yang
mendukung suburnya program kajian tradisi keilmuan Islam, kesinambungan proses belajar
mengajar nilai-nilai Islam yang benar, dan murid-murid potensial calon-calon generasi
pemimpin (future leader) dan penggerak utama masa depan umat Islam Indonesia ?
Karenanya sudah saatnya umat Islam Indonesia harus menelaah kembali secara serius dan
bertanggung jawab dengan cara berpikir yang komprehensif tentang peradaban Islam. ''Sebab,
peradaban Islam itu adalah peradaban ilmu. Ia sangat kuat dan nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya sangat tinggi.

Bagaimana sesungguhnya esensi dari Peradaban Islam itu ?

Pertanyaan ini sejatinya adalah sebuah pertanyaan yang fenomenal yang harus menguggat dan
menyentak kesadaran dalam dan pemikiran Islam setiap orang yang mengaku dirinya Muslim.
Pertanyaan ini tidak pernah muncul di zaman Ibn Sina, Imam al-Ghazali atau Ibn Rusyd.
Kenapa? Sebab, peradaban Islam saat itu begitu kokoh dan dominan. Pertanyaan ini memang
harus muncul sekarang ini karena kuatnya pengaruh arus globalisasi, liberalisasi, dan
westernisasi telah menghilangkan berbagai identitas, termasuk identitas harga diri kepribadian
muslim bahkan juga semakin hilangnya identitas peradaban Islam.

Tidak sedikit umat Islam yang tidak lagi mengenali peradabannya sendiri. Substansi peradaban
Islam ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, dahan-dahannya menjulang
tinggi ke langit, dan memberi rahmat bagi alam semesta (Lihat Al-Qur’an surah Ibrahim 24-25).
Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis. Karena faktor ilmu yang
bersumber dari konsep-konsep seminal dalam Alquran, peradaban pun berkembang. Dari
pemahaman terhadap Al-qur’an, lahirlah tradisi intelektual Islam. Dari tradisi yang membentuk
komunitas itu, lahirlah konsep-konsep keilmuan dan akhirnya disiplin keilmuan Islam. Dari ilmu,
lahirlah sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya Islam. Jadi, peradaban Islam sejatinya
adalah peradaban ilmu.

Lantas, bagaimana caranya dan darimana memulainya untuk membangun identitas


kepribadian Muslim kharismatik dan peradaban Islam yang sudah hilang tersebut ?

Caranya, tidak lain adalah dengan melacak atau menelusuri kembali konsep-konsep kunci
dalam Islam (searching for Islamic key words). Artinya, kita harus mencari dan mendefinisikan
ulang konsep-konsep penting dalam Islam yang relevan dan dibutuhkan masyarakat sekarang.
Selain itu, konsep-konsep Islam yang telah tercampur dengan konsep-konsep Barat itu perlu
dibersihkan secara epistemologis. Ini jangan diartikan sebagai anti-Barat. Sebab, ini adalah
suatu proses wajar dalam setiap peradaban. Barat sendiri ketika mentransfer ilmu pengetahuan
Islam di abad pertengahan juga melakukan hal yang sama.

Dalam konteks menghadapi tantangan pemikiran Islam kontemporer, seperti proses liberalisasi
pemikiran Islam dewasa ini, maka tantangan pemikiran kita ada dua. Pertama, Negasi. Kedua,
Afirmasi. Negasi artinya melakukan penolakan konsep-konsep asing yang bertentangan dan
merusak peradaban Islam. Ini bukan hanya sekadar menolak atau membuang, tapi juga
memproses secara epistemologis bagaimana cara menghilangkan konsep-konsep itu dari alam
pikiran Muslim.Maka dari itu, kajian kritis Barat dalam bentuk oksidentalisme diperlukan. Tidak
salah pula jika kita belajar dari Barat sendiri bagaimana mereka mengkritik konsep-konsep yang
tidak dapat diterima nalar. Seperti kritikan PP Grasse dalam L'homme Accusation yang
mengkritik teori evolusi Darwin atau Oswald Spengler dalam The Decline of The West.
Afirmasi adalah melakukan identifikasi konsep-konsep penting dalam Islam. Logika
sederhananya, kalau Muslim menolak konsep-konsep Barat atau asing lainnya, Muslim harus
dapat memberikan alternatifnya. Sebab, umat Islam sekarang sudah merasa enjoy dengan
konsep-konsep dan sistem pemikiran dan peradaban Barat. Mengkritik Barat sekarang ini
seperti mengkritik saudara kita sendiri. Begitulah keadaannya.

Peradaban Islam pernah berjaya. Sejak kapan era itu dimulai? Contohnya seperti apa?

Kejayaan peradaban Islam yang sebenarnya terjadi sejak Nabi berhasil mendirikan negara
Madinah. Kemudian, mencapai puncak kejayaannya ketika konsep-konsep seminal dalam
Alquran ditafsirkan dan dikembangkan menjadi disiplin ilmu dengan tradisi intelektual yang
begitu semarak. Itu bermula dari zaman kekhalifahan Umayyah di Damaskus dan juga di
Cordoba serta dilanjutkan zaman kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Contoh kejayaan itu
dapat dilihat dari bermunculannya ilmuwan-ilmuwan Muslim dalam berbagai disiplin ilmu
dengan karya-karyanya yang monumental.

Seiring dengan berkembangnya ilmu itu, berkembang pula kehidupan sosial, politik, ekonomi,
pendidikan, dan agama. Masyarakat menjadi sejahtera lahir dan batin. Dalam kehidupan publik,
sejarawan mencatat bahwa ketika London gelap gulita di malam hari dan di Prancis becek di
waktu hujan, di Cordoba dan Baghdad jalan-jalannya mulus dan di malam hari terang
benderang. Koleksi buku seorang ulama di Baghdad mencapai 400 ribu judul, sementara isi
perpustakaan raja Prancis hanya 400 judul buku.

Bagaimana caranya agar umat Islam sekarang mengembalikan kejayaan Islam itu?

Kejayaan peradaban Islam dapat dikembalikan dengan menghidupkan lagi tradisi intelektual
dan keilmuan Islam yang sekarang tampak meredup. Dikatakan meredup karena karya-karya
Muslim belum mencapai tingkat produktivitas dan kualitas yang tinggi dan yang dapat
dimanfaatkan seluas-luasnya oleh peradaban lain. Tradisi intelektual dan keilmuan Islam yang
kuat akan menghasilkan konsep-konsep yang kuat pula. Kuat landasan teorinya dan kuat
metodologinya.

Cendekiawan Muslim tidak dapat melakukan hal itu, kecuali menguasai ilmu pengetahuan Islam
dan juga ilmu pengetahuan asing, baik dari Barat, Cina, maupun Jepang. Namun, penguasaan
ilmu pengetahuan Islam perlu didahulukan. Karena, dengan itu, Muslim dapat melakukan
proses adapsi dan bukan adopsi buta terhadap konsep-konsep dari ilmu pengetahuan asing
tersebut. Jika proses itu di balik, yang terjadi bukan mengembalikan kejayaan peradaban Islam,
tapi justru menjadikan peradaban Islam terpuruk di bawah hegemoni pengetahuan asing
seperti saat ini. Yang lahir bukan peradaban Islam, tapi peradaban asing, seperti Barat.

Karenanya, kembali lagi ingin digaris bawahi bahwa “Peradaban Islam” adalah peradaban yang
dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan dari pandangan hidup Islam. Maka dari
itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu
pengetahuan Islam. Orang mungkin memprioritaskan pembangunan ekonomi dari pada ilmu,
dan hal itu tidak sepenuhnya salah, sebab ekonomi akan berperan meningkatkan taraf
kehidupan. Namun, sejatinya faktor materi dan ekonomi menentukan setting kehidupan
manusia, sedangkan yang mengarahkan seseorang untuk memberi respon seseorang terhadap
situasi yang sedang dihadapinya adalah faktor ilmu pengetahuan. Lebih penting dari ilmu dan
pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat, adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai
individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di
masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini bukan sekedar teori tapi
telah merupakan fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam. Di Barat ide-
ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam
Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan merubah pemikiran
masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam
Syafii, Hanbali, Ibn Sina, Imam al-Ghazzali,Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, dan lain sebagainya
mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun
peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak
berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain. Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan
Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam.

Sebagai proses pembelajaran untuk diambil hikmah mulia yang terpendam, maka perlu
disimnak kejadian sejarah pada abad ke-9 M dizaman ke-emasan Peradaban Islam, dipintu
gerbang Universitas Granada tertera slogan Universitas itu, “Dunia hanya terdiri dari empat
unsur : Pengetahuan Orang Bijak, keadilan penguasa, Do’a orang Saleh dan Keberanian
Kesatria”. Dunia hanya akan jaya jika dipenuhi orang-orang alim, saleh, adil dan para mujahid
dakwah. Warisan ini akan sangat berguna untuk mengembangkan kejayaan peradaban Islam.
Keberanian yang dilandasi ilmu, kekuatan iman dan taqwa, serta keadilan merupakan modal
dasar untuk memperoleh kejayaan bagi Islam dan umat Islam (“Izzul Islam wal Muslimin wal
Muslimat”).

Akhir kata, dengan semangat kekuatan iman dan taqwa, kerendahan hati dan ketulusan jiwa
raga yang suci bersih, niatan beribadah semata-mata untuk meraih ridho Allah SWT.,
bersamaan dengan kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi akan mati-hidupnya misi, visi
dan eksistensi perjuangan dakwah Islamiyah dalam tantangan gempuran sistimatik gerakan
liberalisasi, sekulariasi dan pluralism agama, maka serial Ghazful Fikri berjudul “Islam versus
Liberalisme” inipun disusun. Harapannya adalah bahwa tulisan-tulisan berseri ini sungguh dapat
menghantarkan turunnya berkah dan rahmat Allah SWT, sehingga pada gilirannya kelak dengan
izin dan ridho-Nya, suatu saat dapat membantu memperkaya, memantapkan dan mencerahkan
pemikiran Islam umat dan kehidupan beragama umat Islam Indonesia pada umumnya, dan
lebih khusus lagi kepada kedua anak kami tercinta yaitu ananda Fathimah Zahra Achmad Lc.
Msc, dan ananda Luqman Hakim Achmad serta isteri tercinta Dra.Tjut Mutia Nurhono, beserta
adik-adik saudara-saudari, sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat kami lainnya, Amin 3X, Ya
Rabbal Alamin.

Twin Tower I, 28th Floor, KLCC, Malaysia.

Achmad Nurhono diusia umur 53 tahun (14 April 2011)


SERIAL KE-1
LUTHFI DAN RUSDHIE
Assalamu’alaikum wr wb,
Yth sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang selalu dirahmati dan diberkahi Allah SWT.
Dikirimkan catatan bang Adian tempo dulu, yang terasa masih sangat relevan berkaitan dengan
perkembangan yang sangat memperihatinkan akhir-akhir ini (kekerasan antar umat beragama)
yang mengatasnamakan "kebebasan beragama" yang justru sejatinya menghancurkan sendi-
sendi kerukuman umat beragama di Indonesia. Banyak masalah, persoalan, pesan , hikmah dan
pelajaran berharga yang umat Islam harus ambil dalam perkembangan akhir-akhir ini. Ini
menjadi serial pertama Islam vs Liberalisme, berjudul “Luthfi dan Rusdhie”

Semoga ada manfaat dalam mencerahkan pemahaman pemikiran Islam umat tentang
"worldview Islam" yang bersumberkan tauhid, khususnya dalam pemahaman yang benar, serta
bagaimana seharusnya yang benar dan beradad dalam menempatkan "kebebasan
berpendapat" untuk kerukunan umat bergama di Indonesia dalam konteks perspektip
pemahaman "worldview Islam".
Wassalamu' alaikum wr wb,
A.Nurhono

”Luthfi dan Rusdhie”

Atas nama ”Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tak ada
peraturan menghakimi aliran sesat atau tidak.
"Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad,
meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.” (Luthfi Assyaukanie)

Pada 26 Juni 2007, Harian Media Indonesia menurunkan artikel Luthfi Assyaukani, salah satu
aktivis Jaringan Islam Liberal, berjudul ”Salman Rushdie dan Citra Islam”. Melalui artikel ini,
penulisnya mengecam gelombang protes kaum Muslimin atas penganugerahan gelar
bangsawan Inggris untuk Salman Rushdie, pengarang novel Ayat-Ayat Setan yang sangat
menyinggung perasaan kaum Muslim.

Menurut Luthfi, penulisan novel semacam Ayat-Ayat Setan adalah bagian dari kebebasan
berekspresi yang seharusnya tidak perlu disikapi secara emosional. ”Reaksi kaum Muslim
terhadap kebebasan berekspresi tampaknya memiliki pola yang sama: mengumbar kemarahan
dan kekerasan.”

Lebih jauh ia membandingkan respon kaum Muslim itu dengan sikap kaum Kristen terhadap
penodaan agama. ”Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon
serupa dalam dunia Kristen atau agama-agama lain, kelihatan betul bahwa kaum Muslim
tampak sangat berlebihan,” tulisnya lagi.
Luthfi mengaku tidak nyaman melihat reaksi kaum Muslim terhadap masalah kebebasan
berekspresi. Dia katakan: ”Kita tidak ingin menjadi komunitas agama yang aneh sendirian di
dunia ini. Agama-agama lain memiliki sikap yang jauh lebih elok dibandingkan reaksi-reaksi
yang diperlihatkan kaum Muslim selama ini dalam setiap isu menyangkut kebebasan
berekspresi atau kebebasan berpendapat.”

”Setiap ada kasus-kasus yang menyangkut kebebasan berekspresi yang menimpa Islam, saya
selalu merasa waswas dengan reaksi yang akan muncul. Beberapa hari lalu saya benar-benar
tersudut dan malu dengan pertanyaan seorang teman non-Muslim: ”Bukankah Islam agama
pemaaf? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Kenapa setelah 20 tahun kaum Muslim masih terus
saja membenci Rushdie?”

Demikian tulis Luthfi Assyaukanie.

*****

Siapakah Salman Rushdie? Nama Salman Rushdie mencuat ketika pada 26 November 1988,
Viking Penguin menerbitkan novelnya berjudul The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel ini
segera memicu kemarahan umat Islam yang luar biasa di seluruh dunia. Novel ini memang
sungguh amat sangat biadab. Rushdie menulis tentang Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim,
istri-istri Nabi (ummahatul mukminin) dan juga para sahabat Nabi dengan menggunakan kata-
kata kotor yang sangat menjijikkan. Tahun 2008 lalu, saya membeli Novel ini dalam edisi bahasa
Inggrisnya di sebuah toko buku di Jakarta.

Dalam novel setebal 547 halaman ini, Nabi Muhammad saw, misalnya, ditulis oleh Rushdie
sebagai ”Mahound, most pragmatic of Prophets.” Digambarkan sebuah lokasi pelacuran
bernama The Curtain, Hijab, yang dihuni pelacur-pelacur yang tidak lain adalah istri-istri Nabi
Muhammad saw. Istri Nabi yang mulia, Aisyah r.a., misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai
”pelacur berusia 15 tahun.” (The fifteen-year-old whore ’Ayesha’ was the most popular with the
paying public, just as her namesake was with Mahound). (hal. 381).

Banyak penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang
digunakan Rushdie dalam melecehkan dan menghina Nabi Muhammad saw dan istri-istri beliau
yang tidak lain adalah ummahatul mukminin. Maka, reaksi pun tidak terhindarkan. Fatwa
Khomaini pada 14 Februari 1989 menyatakan: Salman Rushdie telah melecehkan Islam, Nabi
Muhammad dan al-Quran. Semua pihak yang terlibat dalam publikasinya yang sadar akan isi
novel tersebut, harus dihukum mati. Pada 26 Februari 1989, Rabithah Alam Islami dalam
sidangnya di Mekkah, yang dipimpin oleh ulama terkemuka Arab Saudi, Abd Aziz bin Baz,
mengeluarkan pernyataan, bahwa Rushdie adalah orang murtad dan harus diadili secara in
absentia di satu negara Islam dengan hukum Islam.

Pertemuan Menlu Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 13-16 Maret 1989 di Riyadh juga
menyebut novel Rushdie sebagai bentuk penyimpangan terhadap Kebebasan Berekspresi. Prof.
Alaeddin Kharufa, pakar syariah dari Muhammad Ibn Saud University, menulis sebuah buku
khusus berjudul Hukm Islam fi Jaraim Salman Rushdie. Ia mengupas panjang lebar pandangan
berbagai mazhab terhadap pelaku tindak pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. Menurut
Kharufa, jika Rushdie menolak bertobat, maka setiap Muslim wajib menangkapnya selama dia
masih hidup.

Prof. Mohammad Hashim Kamali, dalam bukunya Freedom of Expression in Islam, (Selangor:
Ilmiah Publishers, 1998), menggambarkan cara Rushdie menggambarkan istri-istri Rasulullah
saw sebagai “simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.”
Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan al-Quran, tulis Hasim Kamali, “are not only
blasphemous but also flippant.”

Manusia yang tindakannya begitu biadab terhadap Nabi Muhammad saw dan istri-istri beliau
itulah, yang kemudian dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Inggris. Seorang yang dimata
umat Islam dicap sebagai penjahat besar justru disanjung dan diberi penghargaan. Dan saat
umat Islam bereaksi, membela kehormatan Nabi-nya yang mulia, umat Islam lalu dituduh
reaksioner, emosional, yang dalam istilah Luthfi Assyaukani disebut: “kelihatan betul bahwa
kaum Muslim tampak sangat berlebihan.”

*****

Di bulan Rabi’ulawwal 1431 Hijriah, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, seorang aktivis
liberal membuat pernyataan yang mengherankan. Hari itu, Rabu (17/2/2010), sebagai saksi ahli
pihak penggugat kasus UU Penodaan Agama, UU No. 1/PNPS/1965, Luthfi Assyaukanie
membuat pernyataan:

”Setiap pemunculan agama selalu diiringi dengan ketegangan dan tuduhan yang sangat
menyakitkan dan seringkali melukai rasa kemanusiaan kita. Ketika Rasulullah Muhammad SAW
mengaku sebagai nabi, masyarakat Mekah tidak bisa menerimanya. Mereka menuduh nabi
sebagai orang gila dan melempari beliau dengan kotoran unta. Para pengikut nabi dikejar-kejar,
disiksa dan bahkan dibunuh seperti yang terjadi pada Bilal bin Rhabah sang muadzin dan
keluarga Amar bin Yasar. Hal serupa juga terjadi pada Lia Aminuddin ketika dia mengaku
sebagai nabi dan mengakui sebagai jibril. Orang menganggapnya telah gila dan sebagian
mendesak pemerintah untuk menangkap dan memenjarakannya. Kesalahan Lia Aminuddin
persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha
menyebarluaskannya.” (Dikutip dari Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi,
www.mahkamahkonstitusi.go.id).

Di sejumlah media, saksi ahli yang juga dikenal sebagai pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) ini
diberitakan mengaku, menyampaikan ungkapannya dengan sadar. Bahkan, ia mengaku sempat
merevisi draf untuk MK hingga beberapa kali. Menurut dia, Islam pada awalnya adalah salah,
menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar oleh kelompok mayoritas kaum Quraisy
itu. Lalu, hal yang sama terjadi sekarang pada kasus Lia Eden. Itulah pendapat Luthfi
Assyaukanie, yang juga doktor bidang studi Islam, lulusan Melbourne University.

Dalam keyakinan kaum Muslim, Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Beliau seorang
yang pintar, jujur, amanah, dan menyampaikan risalah Allah SWT kepada semua manusia.
Beliau adalah uswah hasanah, suri tauladan yang baik. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi
seluruh alam. KaumMuslimin sangat mencintai Nabi Muhammad saw. Selama 24 jam, ratusan
juga kaum Muslim di seluruh dunia tidak berhenti berdoa untuk Sang Nabi yang sangat mulia
ini. Bahkan, tidak sedikit kaum Muslim rela mati demi kehormatan Sang Nabi.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menulis sebuah kitab khusus berjudul ”Ash-Sharimul Maslul ’Ala
Syatimir Rasul”. (Pedang Yang Terhunus untuk Penghujat Nabi). Kitab ini merekam pendapat
semua mazhab tentang kedudukan orang yang melecehkan Nabi Muhammad saw. Sahabat-
sahabat Nabi saw bersedia menjadi perisai bagi Sang Nabi demi melindunginya dari serangan
panah kaum kafir di medan Perang Uhud. Shalawat untuk Sang Nabi, kekasih dan utusan Allah,
menjadi rukun keabsahan shalat setiap Muslim.

Logikanya, menghina presiden atau raja saja ada sanksi hukumnya. Presiden SBY sempat marah
karena diserupakan dengan kerbau oleh para demonstran. Sebab, SBY bukan kerbau, dan tidak
patut disamakan dengan kerbau. Meskipun ada sejumlah persamaan antara SBY dengan
kerbau. SBY memiliki dua mata. Kerbau juga bermata dua. SBY mulutnya satu. Kerbau juga
bermulut satu. Tapi, menyamakan SBY dengan kerbau adalah tindakan yang sangat tidak patut.
Presiden SBY juga tidak terima dikatakan punya istri lagi dan sempat membawa kasus itu ke
pengadilan. Jika menghina Presiden saja ada sanksi hukumnya, bagaimana dengan penghinaan
kepada utusan Allah, Tuhan yang mencipta alam semesta? Utusan Presiden saja harus
dihormati; apalagi utusan Allah. Jika ada yang mengaku-aku sebagai utusan Presiden, padahal
dia berbohong, maka patutlah ia diberi sanksi hukum. Bagaimana dengan orang yang mengaku
sebagai utusan Allah, padahal dia adalah penipu?!

Bagi orang Muslim, persoalan mendasar semacam ini sudah jelas sejak awal. Seorang disebut
Muslim karena dia membaca dan meyakini syahadat: bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan
bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika orang tidak mengakui Muhammad saw sebagai
Nabi, maka jelas dia bukan Muslim. Tentulah, mengimani Sang Nabi itu ada konsekuensinya.
Kaum Yahudi dan Nasrani menolak mengakui kenabian Muhammad saw, setelah datang bukti-
bukti yang jelas pada mereka. Sebab, mengakui kenabian Muhammad saw memiliki
konsekuensi yang berat bagi mereka.

Sebagian masyarakat Madinah ketika itu ada juga yang berpura-pura beriman, tetapi mereka
sangat membenci Nabi Muhammad saw. Bahkan, mereka tak henti-hentinya mencerca,
menfitnah, dan berusaha mencelakai Nabi Muhammad saw. Manusia-manusia yang mengaku
Islam tetapi hatinya sangat membenci Islam itulah yang disebut kaum munafik, yang ciri-cirinya
banyak disebutkan dalam al-Quran. Manusia pasti masuk dalam salah satu dari tiga kategori ini:
Mukmin, kafir, dan munafik. (QS al-Baqarah: 2-20). Tentu, kita berharap, masuk kategori
Mukmin, yang yakin akan kenabian Muhammad saw, mencintai beliau, menghormati beliau,
dan berusaha sekuat tenaga kita menjadikan beliau sebagai suri tauladan kita sehari-hari.

Dalam perspektif inilah, wajar jika ada yang terbengong-bengong ketika menyimak pidato
seorang yang mengaku Islam, tetapi berani menista Nabi Muhammad saw, menyamakan
derajat Nabi yang mulia dengan Lia Eden. Padahal, untuk Sang Nabi saw, setiap saat umat Islam
dan para Malaikat pun membacakan shalawat untuknya. Hinaan dan cercaan itu dilakukan atas
nama ”Kebebasan Beragama”.

Tahun 2007, Lia Eden mengaku sebagai Malaikat Jibril dan mengancam akan mencabut nyawa
Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Bagir Manan. Dalam sebuah suratnya bertanggal 25
November 2007, Lia Eden, menulis: “Atas nama Tuhan Yang Maha Kuat. Aku Malaikat Jibril
adalah hakim Allah di Mahkamah Agungnya... Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan
mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan
Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku.”

Tahun 2003, Lia Eden masih mengaku ”berkasih-kasihan dengan Melaikat Jibril”. Dalam
bukunya, Ruhul Kudus (2003), sub judul ‘’Seks di sorga’’, diceritakan kisah pacaran dan
perkawinan antara Jibril dengan Lia Eden: ‘’Lia kini telah mengubah namanya atas seizin
Tuhannya, yaitu Lia Eden. Berkah atas namanya yang baru itu. Karena dialah simbol
kebahagiaan surga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di hadapan
semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang merona karena rayuanku padanya.
Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Surga suami istri pun dinikmatinya.’’

Manusia seperti Lia Eden inilah yang dikatakan telah melakukan kesalahan sama dengan yang
dilakukan Nabi Muhammad saw. Bagaimana mungkin orang yang mengaku Islam bisa berkata
seperti itu? Lia Eden adalah pembohong. Sedangkan Nabi Muhammad tidak pernah berbohong
sepanjang hidupnya. Lia ditolak oleh umat Islam. Nabi Muhammad saw ditolak oleh kaum kafir.
Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati. Beliau tidak salah. Lia Eden adalah Nabi palsu. Dia
jelas-jelas salah. Bukan hanya itu, Lia Eden telah bersikap tidak beradab, karena mengaku
mendapatkan wahyu dari Jibril dan bahkan akhirnya mengaku sebagai Malaikat Jibril.

Kini, atas nama ”Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tidak
ada lagi peraturan yang menghakimi satu aliran sesat atau tidak. Bahkan, Lia Eden disetarakan
kedudukannya dengan Nabi Muhammad saw. Padahal, Nabi Muhammad saw adalah Nabi
sejati. Menurut kaum pemuja paham Kebebasan, keyakinan keagamaan seseorang harus
dilindungi, karena itu masuk dalam arena ”forum internum”. Yang boleh dibatasi oleh negara
hanyalah ”forum externum”. Selama tidak mengganggu ketertiban umum, misalnya, maka hak
untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi. Keyakinan dan hak
kaum Ahmadiyah untuk mengekspresikan dan menyebarkan ajaran agamanya harus dilindungi,
sebab mereka juga manusia yang punya hak yang sama dengan kaum beragama lainnya.

Di sinilah letak absurditas dan tidak masuk akalnya logika kaum pemuja paham Kebebasan ini.
Mereka hendak memaksakan agar semua orang Muslim bersikap ”netral agama” dalam melihat
segala sesuatu. Ketika melihat soal agama, meskipun secara formal mengaku Muslim, golongan
ini melepaskan dirinya dari ke-islaman-nya sendiri. Dia berpikir dan bersikap netral. Dia tidak
mau menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Semuanya dianggap sama. Tidak ada
istilah mukmin, kafir, muslim, sesat, dan sebagainya. Bagi mereka, semuanya sama. Yang
penting agama. Maka, tidak aneh, jika mereka akan sampai pada kesimpulan, bahwa
kedudukan Nabi Muhammad saw disamakan dengan Lia Eden, Mirza Ghulam Ahmad, Mosadeg,
dan nabi-nabi palsu lainnya.

Bagi kelompok semacam ini, yang terpenting adalah ”Kebebasan”, bukan Kebenaran. Tentu
saja, paham ini sangat merusak. Jika seorang kena paham semacam ini, bubarlah Islamic
worldview atau pandangan-alam Islam-nya. Pandangan alam, menurut Prof. Syed Muhammad
Naquib al-Attas adalah ”Islamic vision on truth and reality”. Seorang Muslim pasti memiliki
pandangan-alam yang berbeda dengan orang kafir. Bagi seorang Muslim, Muhammad saw
adalah seorang Nabi yang ma’shum. Maka, wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada beliau
(al-Quran) adalah benar. Bagi kaum Yahudi, Muhammad saw bukanlah Nabi, tetapi
pembohong, karena mengaku menerima wahyu yang ditulisnya dari sumber kitab-kitab Yahudi.
Karena itulah, Dr. Abraham Geiger, seorang tokoh Yahudi Liberal, menulis buku ”What did
Muhammad Borrow from Judaism”.

Kaum Nasrani pasti juga tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi dan al-Quran sebagai
wahyu. Sebab, jika mereka mengakui itu, sama saja dengan menyatakan, bahwa agama mereka
adalah salah. Karena al-Quranlah, satu-satunya Kitab yang secara sangat terperinci menjelaskan
kekeliruan paham keagamaan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya al-Quranlah satu-satunya Kitab
Suci yang menegaskan posisi Nabi Isa a.s. sebagai Nabi dan Rasul Allah, bukan sebagai Tuhan,
anak Tuhan, atau salah satu dari Tiga oknum dalam Trinitas.

Karena itu, dalam perspektif Islamic worldview ini, kita sering dibingungkan dengan posisi kaum
Pemuja Kebebasan, dimanakah sebenarnya posisi mereka? Islam bukan; Kristen bukan, Yahudi
bukan; Hindu Budha juga bukan! Lalu dimana posisi mereka? Posisi mereka adalah netral
agama. Posisi tidak beragama. Artinya, meskipun mereka mengaku beragama, tetapi mereka
tidak mau menggunakan ajaran agamanya sebagai dasar untuk memandang atau menilai
realitas kehidupan. Agama adalah urusan privat antara dirinya dengan Tuhan. Agama adalah
laksana baju. Kapan saja bisa ditukar atau diganti. Ketika masuk Istana atau ruang sidang
parlemen, agama harus ditaruh di luar ruangan. Jangan dibawa-bawa. Ketika mengajar filsafat,
agama jangan dibawa-bawa. Sebab, filsafat adalah berfikir bebas, sebebas-bebasnya di luar
batas agama. Ketika membahas masalah kebebasan, agama juga harus disingkirkan. Paham
seperti inilah yang dipuja-puja dan dibanggakan, yang katanya melahirkan manusia hebat dan
bermartabat.

Dalam perspektif Islam, paham netral agama jelas keliru.

*****
Syahdan, suatu malam, saat hujan turun dengan derasnya dan petir sambar menyambar,
datang sebuah mimpi aneh. Mimpi ini benar-benar mimpi. Saya belum pernah bermimpi seperti
ini. Tampak dalam mimpi saya, seorang anak kecil berlarian di pematang sawah di pelosok
kampung daerah ujung Bekasi. Kulitnya dipenuhi dengan kudis dan kurap. Ingusnya hampir tak
berhenti meleleh. Lidahnya sering menjulur-julur. Tampak ia kehausan dan kelaparan.
Pakaiannya lusuh. “Bisa bantu saya, Mas. Saya Kemi,” katanya, saat saya lewat dihadapannya.

Saya ulurkan tangan memberi uang sekedarnya. Belum sempat dia mengucapkan terimakasih,
saya terbangun! Tangis anak saya memotong mimpi. Pada hari lain, mimpi itu datang lagi.
”Masih ingat saya Mas,” sapa seorang pemuda. Tentu saja saya terkejut. Saya pandangi wajah
anak muda itu. Pemuda di hadapan saya ini seorang ”perlente”. Jasnya keren. Jamnya berkilau
keemasan. Mukanya ”klimis”. Rambut keritingnya tersisir rapi. Wajahnya beberapa kali saya
lihat di media massa. ”Saya Kemi, Mas! Yang dulu Mas kasih bantuan. Terimakasih Mas, atas
bantuannya,” ujarnya memperkenalkan.

” Lho, kamu?” saya nyaris tak percaya. ”Kamu yang sekarang jadi penghujat Nabi
Muhammad!?” masih dengan nada tak percaya. ”Memangnya kenapa Mas? Sekarang kan
zaman kebebasan. Saya kan kerja untuk LSM Kebebasan! Ini untuk kerja saja Mas. Itung-itung
nebus masa kecil yang sengsara!” katanya, seperti tanpa beban.

”Kan kamu pernah ngaji di pesantren!” saya masih keheranan. Saya tatap wajah anak muda itu
dalam-dalam. Ia agak salah tingkah.

”Ya, itu kan dulu! Sekarang zaman sudah beda Mas, yang penting uang; hidup enak. Saya dulu
miskin, disepelekan orang. Sekarang saya bisa berbangga dan membantu orang tua. Saya tidak
miskin lagi. Kalau pulang kampung, banyak yang bisa saya bantu,” ujar Kemi lagi.

”Tapi, kan kamu jual iman, namanya. Apa kamu tidak takut pada Allah. Tidak kasihan sama
orang tua kamu, yang mengharapkan agar kamu jadi anak shaleh?”

”Ah Mas ini, kayak tidak tahu saja! Orangtua saya juga tidak tahu aktivitas dan pemikiran saya
yang sebenarnya.”

”Kamu keterlaluan, bertobatlah sebelum terlambat!”

”Bagaimana caranya bertobat Mas. Apa Mas mau ganti penghasilan saya yang puluhan juta
rupiah sebulan? Saya sudah terlanjur Mas. Mungkin, ini sudah menjadi jalan hidup saya.
Mungkin sudah takdir saya begini.”

”Masih ada kesempatan untuk bertobat! Kamu diperalat oleh hawa nafsu, oleh setan. Kamu
menyangka memperjuangkan kebebasan, padahal itu kebebasan ala iblis! Itu bukan kebebasan
dalam ajaran Islam. Masak orang yang melecehkan Islam dan mengaku Nabi kamu belain.
Kasihan kamu dan orang tua kamu. Kamu disekolahkan agama jauh-jauh ke luar negeri, tetapi
hasilnya malah kamu jadi begini. Kamu jadi perusak agama. Sadar nggak sih kamu dengan apa
yang kamu lakukan!”

”Terus terang Mas, kadangkala saya juga sempat terlintas pikiran seperti itu. Ingin juga ke
pesantren kembali, berjuang bersama dengan para kyai saya dulu. Tetapi, pikiran seperti itu
segera saya tepis, karena tidak realistis. Saya harus berperan seperti ini! Ini tuntutan Mas!”

”Tuntutan dari siapa?” saya mendesak Kemi untuk mengaku.

”Tidak bisa saya sebutkan, Mas! Pokoknya saya harus menyampaikan, bahwa Islam itu sudah
usang. Islam harus dikecilkan. Islam tidak boleh tampil. Apalagi sampai diterapkan di tengah
masyarakat dan tataran kenegaraan. Ini sangat berbahaya. Saya juga harus mengatakan bahwa
Liberalisme dan Sekularisme itulah yang cocok bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia, agar
negara ini menjadi negara yang maju dan hebat seperti Amerika,” Kemi mulai terbuka.

”Sepertinya, kamu tidak yakin dengan pikiranmu sendiri,” saya memancing agar Kemi mau
mengungkap lebih jauh lagi.

”Semula saya memang tidak yakin. Semula saya menjadi begini hanya karena pergaulan saja.
Tapi, lama-lama saya merasakan sulit sekali keluar dari pemahaman seperti ini. Apalagi
kebutuhan saya sudah dicukupi semua. Doakan saja Mas, siapa tahu, suatu ketika saya bisa
berubah. Tapi, entahlah, apa bisa atau tidak,” ujarnya lirih, sambil menghela nafas.

”Tapi, kenapa kamu sampai berani menghina Nabi Muhammad?”

”Begini Mas cerita sebenarnya...”

Belum sempat Kemi meneruskan kata-katanya, seorang wanita bule tiba-tiba muncul dan
membentaknya: ”Kemi!” Aneh, Kemi langsung diam. Tampak dia hanya menunduk. Termangu,
sambil menggosok-gosok tangan kanannya ke celana. Lalu, dia berujar pelan, sambil sesekali
menengok ke arah saya:

“Sorry, Mam! Saya baru saja menyatakan pada Mas ini, bahwa sebenarnya Nabi Muhammad itu
pelanggar HAM. Dia sebenarnya hanya ngaku-ngaku saja menjadi Nabi. Sama seperti Mirza
Ghulam Ahmad dan Lia Eden. Kalau Muhammad boleh menyiarkan agamanya, mengapa
Ghulam Ahmad dan Lia Eden tidak boleh? Umat Islam bisanya hanya marah saja. Umat Islam
tidak menghargai Kebebasan Beragama. Umat Islam bisanya mengumbar emosi. Tidak santun.
Saya kadang kala malu jadi orang Islam. Tidak seperti orang-orang Kristen dan Yahudi dan
agama-agama lain, yang lebih ramah dan sabar dalam menghadapi kasus penodaan agama. Ya
kan, Mas!? Saya kan tadi ngomong seperti itu!”

Saya bengong dan nyaris tak percaya dengan apa yang saya lihat. Kemi, pemuda kampung yang
dulu kudisan, miskin, sekarang jadi pemuda ”keren”, pintar, disanjung sampai manca negara
sebagai pejuang Kebebasan Beragama. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai idola. Saya
mencoba merenungkan, sedalam-dalamnya. Benarkah hanya karena masalah uang, dia jadi
begini? Atau, ada masalah lain? Ah, peduli setan soal motif tindakan Kemi. Juga, apakah yang
disampaikan Kemi itu bisa dipercaya atau tidak, itu tidaklah terlalu penting.

Saya pun mencoba merenung-renung, siapa wanita bule yang dipanggil ”Mam” dan begitu
ditakuti Kemi. Wanita setengah baya itu matanya tajam mengawasi gerak-gerik dan ucapan
Kemi. Pakaiannya menampakkan dia seorang terpelajar. Wajahnya lumayan cantik, untuk
ukuran rata-rata orang bule.

Tak tahan dengan segala keanehan dan kejengkelan di hadapan saya, tiba-tiba saya berteriak
sekeras-kerasnya: ”Kemiiii...., kamu pen..........!”
”Mas, mas.....bangun....bangun....! Saya tersadar. Bangun. Lama saya duduk termangu;
merenungkan mimpi ini. Benarkah ini hanya mimpi? Alhamdulillah, ini benar-benar mimpi.
Segera saya baca doa bangun tidur:

(Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada
Allah akan bangkit Alhamdulillahilladzi ahyanaa ba’da maa amatanaa wa-ilaihin nusyuur).
SERIAL KE-2
KEBEBASAN: MUSLIM ATAU LIBERAL
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang Insya Allah selalu dirahmati dan diberkahi
Allah SWT. dimanapun itu berada dimuka bumi ini
Atas izin Allah SWT, Alhamdulilah, dapat kembali lagi dikirimkan tulisan serial ke 2,"Kebebasan :
Muslim atau Liberal", dari paket kajian berseri "Islam versus Liberalisme".

Semoga bermanfaat dalam ikut membangun tumbuhnya worldview pemikiran Islam yang
kokoh bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah, dalam menyongsong tumbuh suburnya
bangunan peradaban Islam yang agung di-Indonesia dimasa mendatang,
Amin 3X, Ya Rabbal Alamin.

Wassalamu' alaikum wr wb,


A.Nurhono

Kebebasan: Muslim atau Liberal


“Amerika Serikat adalah contoh negara sekular yang baik dan mempunyai kedudukan yang
khusus di dunia dengan menawarkan kesempatan dan harapan bagi umat manusia untuk
mengembangkan agama-agama,”

Begitulah pernyataan seorang pegiat paham kebebasan beragama di Indonesia dalam


pengantar buku berjudul Membela Kebebasan Beragama: Percakapan tentang Sekularisme,
Liberalisme, dan Pluralisme, (Jakarta: LSAF dan Paramadina, 2010). Lebih jauh, aktivis yang juga
pendiri Nurcholish Madjid Society ini, menyebutkan: ”Jadi, contoh di Amerika Serikat
sekularisme menghasilkan suatu perkembangan agama yang pesat sekali.”

Buku yang mempromosikan kebebasan beragama di Indonesia ini merekam pembicaraan


puluhan tokoh tentang paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Beberapa diantara
mereka – seperti Abdurrahman Wahid, M. Dawam Rahardjo, Musdah Mulia – tercatat sebagai
penggugat UU No. 1/PNPS/1965 ke Mahkamah Konstitusi. Sejumlah pemikir di sini juga secara
terbuka mendukung paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme untuk dikembangkan di
Indonesia.

Bagi mereka, ketiga paham itu wajib dikembangkan di Indonesia dan menjadi prasyarat mutlak
tegaknya demokrasi di Indonesia. “Demokrasi tidak akan mampu berdiri tegak tanpa disangga
dengan sekularisme, termasuk pluralisme dan liberalisme. Bahkan khusus sekularisme – yaitu
pemisahan secara relatif agama dan negara – adalah salah satu faktor terpenting dalam
membangun demokrasi dan civil society yang kuat,” tulis si aktivis liberal tersebut. Katanya
lagi, “Liberalismelah yang dapat menjaga dan mempertahankan kesehatan dan keseimbangan
agama, karena berpikir liberal, rasional dan kritis merupakan sesuatu yang tidak dapat dinafikan
bagi cita-cita dan kemajuan.”

Menurut dia, kebebasan beragama itu hanya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik jika
ide sekularisme, liberalisme, dan pluralisme itu berkembang dengan baik juga di Indonesia.
Kalau sekularismenya itu berjalan dengan buruk, misalnya negara terlalu ikut campur dalam
urusan agama dan ikut terlibat dalam menilai suatu agama itu sesat atau menyimpang, dan
atau melakukan suatu kasus diskriminasi agama, pada saat itulah sebenarnya negara tidak
melindungi kebebasan beragama warga negaranya. “Karena itu negara harusnya netral agama,”
seru aktivis liberal, penulis Ensiklopedi Nurcholish Madjid ini.
Dalam pandangan kaum penganut “sipilis” (sekularisme, pluralism dan liberalism, red), negara
netral agama adalah negara yang tidak memihak atau melebihkan satu agama atas agama lain.
Negara juga tidak boleh memihak satu aliran agama tertentu. Dalam kamus negara sekular,
tidak dikenal istilah mukmin, kafir, sesat, halal atau haram, mayoritas atau minoritas. Semua
warga negara dipandang sama, apapun paham dan aliran agamanya.

Karena ketakjuban dan keimanan yang sangat kuat terhadap trilogi sekularisme, pluralisme,
liberalisme – yang kini populer di kalangan kaum Muslim dengan istilah “sipilis” -- maka sang
aktivis liberal ini lalu menyuarakan kebenciannya terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
pada 2005 menfatwakan paham “sipilis” sebagai “barang haram”. Kata sang aktivis liberal:
“Fatwa MUI ini tampak eksklusif, tidak pluralis, bahkan cenderung diskriminatif.”
Menurutnya, salah satu yang memicu masalah kebebasan beragama di Indonesia yang kuat
belakangan ini adalah adanya fatwa MUI tentang pengharaman sekularisme, liberalisme, dan
pluralisme. “Sampai hari ini ide sekularisme, liberalisme dan pluralisme telah menjadi suatu ide
yang “menakutkan” bagi sebagian kalangan masyarakat Indonesia – terutama pasca keluarnya
fatwa MUI,” kata pegiat paham “sipilis” ini.

*****
Alkisah, pada 25 November 2007, Lia Eden, pendiri agama Salamullah, mengirimkan surat
kepada Ketua Mahkamah Agung Prof. Bagir Manan. Surat itu berkop: ”GOD’S KINGDOM:
TAHTA SUCI KERAJAAN TUHAN, EDEN”. Lia murka kepada Mahkamah Agung RI yang
menetapkan pengukuhan penahanan terhadap Muhammad Abdul Rahman. Dengan
menggunakan nama “Jibril Ruhul Kudus” Lia membubuhkan tanda tangannya: “LE2”. Ia
menulis dalam surat yang juga ditembuskan ke sejumlah Ormas Islam: “Atas nama Tuhan Yang
Maha Kuat. Aku Malaikat Jibril adalah hakim Allah di Mahkamah Agungnya... Akulah Malaikat
Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan
dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku.”

Mungkin, hanya di Indonesia saja “Malaikat Jibril” punya tanda tangan dan berprofesi
mencabut nyawa manusia. Dalam suratnya tahun 2007 tersebut, Lia sudah secara tegas
menyatakan sebagai “Malaikat Jibril”. Tahun 2003, ia masih mengaku ”berkasih-kasihan dengan
Melaikat Jibril”. Dalam bukunya, Ruhul Kudus (2003), sub judul ‘’Seks di sorga’’, diceritakan
kisah pacaran dan perkawinan antara Jibril dengan Lia Eden: ‘’Lia kini telah mengubah
namanya atas seizin Tuhannya, yaitu Lia Eden. Berkah atas namanya yang baru itu. Karena
dialah simbol kebahagiaan surga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di
hadapan semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang merona karena rayuanku
padanya. Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Surga suami istri pun
dinikmatinya.’’

Orang Muslim yang masih normal – tidak mengidap paham ”sipilis” -- tentu akan menyatakan
bahwa paham seperti itu sesat dan tidak baik untuk dikembangkan di tengah masyarakat.
Paham ini adalah satu bentuk kemunkaran. Kata Nabi Muhammad saw: ”Barangsiapa diantara
kamu yang melihat kemunkaran, maka ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubah
dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman.”
Dalam pandangan Islam, kesesatan yang disebarluaskan adalah satu bentuk kemunkaran.
Maka, ulama wajib bertindak tegas. Ketika MUI ditanya, apakah aliran seperti Lia Eden ini sesat,
maka MUI dengan tegas menyatakan, bahwa ajaran Salamullah yang dibikin Lia Eden adalah
ajaran sesat. Tapi, gara-gara menjalankan tugas kenabian, mengeluarkan fatwa sesat terhadap
kelompok Lia Eden, Ahmadiyah, dan sejenisnya, MUI dihujani cacian. Ada yang bilang, MUI
tolol. Sebuah jurnal keagamaan yang terbit di Semarang menurunkan laporan utama: ”Majelis
Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan.” Ada praktisi hukum angkat bicara di sini, ”MUI bisa
dijerat KUHP Provokator.” Sejumlah kelompok juga datang ke Komnas HAM menuntut
pembubaran MUI.

Bagi kaum liberal, tidak ada kamus “sesat” atau “benar”, yang penting kebebasan! Padahal,
setiap hari seorang Muslim diwajibkan berdoa agar ditunjukkan jalan yang lurus dan dijauhkan
dari jalan orang yang sesat dan dimurkai Allah. Jadi, memang ada jalan yang benar dan ada
jalan yang sesat. Tidak mungkin semuanya benar atau semuanya sesat. Juga, tidak mungkin,
semuanya pemikiran dan tindakan dibolehkan.

Tahun 2007, seorang tokoh Ahmadiyah di Indonesia menerbitkan buku dengan judul ”Syarif
Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa” (2007). Dijelaskannya kepercayaan kaum
Ahmadi, yaitu: ”Imam Mahdi dan Isa yang Dijanjikan adalah seorang nabi yang merupakan
seorang nabi pengikut atau nabi ikutan dengan ketaatannya kepada YM. Rasulullah Saw. yang
akan datang dan akan merubah masa kegelapan ini menjadi masa yang terang benderang.” Dan
apabila Imam Mahdi itu sudah datang, maka diperintahkanlah umat Islam untuk
menjumpainya, walaupun harus merangkak di atas gunung salju.” (hal. 69).
Pada tahun 1989, Yayasan Wisma Damai – sebuah penerbit buku Ahmadiyah – menerjemahkan
buku berjudul Da’watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, karya Hazrat Mirza Bashiruddin
Mahmud Ahmad, khalifah Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah (1914-1965). Buku ini
aslinya dalam bahasa Urdu. Tahun 1961, terbit edisi Inggrisnya dengan judul ”Invitation to
Ahmadiyyat”.

Buku ini menegaskan: ”Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang tidak
dapat menjumpai Allah Ta’ala di luar Ahmadiyah.” (hal. 377). Umat Islam dipaksa untuk
beriman bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi dan Masih al-Mau’ud. Lalu, umat Islam diberi
ultimatum: ”Jadi, sesudah Masih Mau’ud turun, orang yang tidak beriman kepada beliau akan
berada di luar pengayoman Allah Taala. Barangsiapa yang menjadi penghalang di jalan Masih
Mau’ud a.s, ia sebenarnya musuh Islam dan ia tidak menginginkan adanya Islam.” (hal. 374).

Sementara itu, bagi umat Islam, posisi kenabian Muhammad saw sebagai Nabi terakhir adalah
ajaran final. Sepeninggal beliau saw, sudah tidak ada lagi Nabi, meskipun banyak sekali yang
mengaku sebagai nabi. Dalam kaputusan tahun 1937, Majelis Tarjih Muhammadiyah mengutip
hadits Rasulullah saw, “Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya
nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban).
Tentu, bagi penganut paham “sipilis” tidak ada bedanya antara mukmin dan kafir. Tidak ada
beda antara tauhid dan syirik. Bagi mereka, agama bukan hal penting. Yang penting adalah
kebebasan! Negara diminta bersikap netral, tidak memihak antara iman dan kufur. Umat Islam
juga diminta menghormati paham-paham yang menyimpang dari ajaran Islam. Semua dianggap
sama, sederajat. Yang penting tidak mengganggu orang lain secara fisik. Bagi mereka, iman
tidak penting, sebab agama apa pun dianggap sama saja; sebagai jalan yang sama-sama sah
menuju Tuhan – siapa pun dan apa pun Tuhannya.

*****

“The idea of God negates our freedom,” pekik seorang filosof terkenal Jean Paul Sartre.
Dengan pengalaman sejarahnya yang kelam saat berinteraksi dengan agama (Kristen),
peradaban Barat kemudian memutuskan untuk menolak campur tangan agama dalam
kehidupan. Agama diletakkan sebagai soal privat semata. Meskipun, sebenarnya, prinsip ini pun
juga tidak mutlak. Di Inggris, Raja Inggris tetap menjabat sebagai Kepala Gereja Anglikan. Di
Swiss, umat Islam ditolak untuk membangun menara masjid. Wacana pelarangan cadar di
sejumlah negara Eropa juga mencuat. Padahal, kata mereka, ini urusan privat, dan tidak boleh
dicampuri negara.

Paham “Kebebasan” (liberty/freedom) secara resmi digulirkan oleh kelompok Free Mason yang
mulai berdiri di Inggris tahun 1717. Kelompok ini kemudian berkembang pesat di AS mulai
tahun 1733 dan berhasil menggulirkan revolusi tahun 1776. Patung liberty menjadi simbol
kebebasan. Prinsip freedom dijunjung tinggi. Tahun 1789, gerakan kebebasan berhasil
menggerakkan Revolusi Perancis juga dengan mengusung jargon “liberty, egality, fraternity”.
Pada awal abad ke-20, gerakan kebebasan ini menyerbu Turki Utsmani.

Karena trauma terhadap dominasi agama dalam kehidupan, orang-orang Barat, meskipun
beragama Kristen, enggan menjadikan hukum-hukum agama sebagai pedoman hidup mereka.
Para pengagum dan penjiplak konsep kebebasan ala Barat ini, kemudian ingin menerapkan
begitu saja konsep itu ke dalam kehidupan kaum Muslim. Padahal, konsep kebebasan antara
Barat dan Islam sangatlah berbeda. Islam memiliki konsep ”ikhtiyar” yakni, memilih yang baik.
Umat Islam tidak bebas memilih yang jahat. Sebab, tujuan hidup seorang Muslim adalah
menjadi orang yang taqwa kepada Allah. (lihat wawancara dengan Prof. Dr. Wan Mohd Nor
Wan Daud).
Sedangkan Barat tidak punya batasan yang pasti untuk menentukan mana yang baik dan mana
yang buruk. Semua diserahkan kepada spekulasi akal dan dinamika sosial. Perbedaan yang
mendasar ini akan terus menyebabkan terjadinya ”clash of worldview” (benturan pandangan
alam) dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dua konsep “kebebasan” yang kontradiktif
ini tidak bisa dipertemukan. Sebab, tempat berpijaknya sudah berbeda. Maka seorang harus
menentukan, ia memilih konsep yang mana. Ia memilih Islam atau liberal.

Kaum Muslim yang masih memegang teguh aqidahnya, pasti akan marah membaca novel The
Stanic Verses-nya Salman Rushdie. Novel ini sungguh biadab; menggambarkan sebuah komplek
pelacuran di zaman jahiliyah yang dihuni para pelacur yang diberi nama istri-istri Nabi
Muhammad saw. Bagi Islam, ini penghinaan. Bagi kaum liberal, itu kebebasan berekspresi. Bagi
Islam, pemretelan ayat-ayat al-Quran dalam Tadzkirah-nya kaum Ahmadiyah, adalah
penghinaan, tapi bagi kaum liberal, itu kebebasan beragama. Berbagai ucapan Mirza Ghulam
Ahmad juga bisa dikategorikan sebagai penghinaan dan penodaan terhadap Islam. Sebaliknya,
bagi kaum liberal, Ahmadiyah adalah bagian dari ”kebebasan beragama dan berkeyakinan.”
Bagi Islam, beraksi porno dalam dunia seni adalah tercela dan dosa. Bagi kaum liberal, itu
bagian dari seni dan kebebasan berekspresi, yang harus bebas dari campur tangan agama.
Jadi, pilihlah: Menjadi Muslim atau Liberal!
SERIAL KE-3
TIGA MAKNA KEBEBASAN DALAM ISLAM
Assalamu’ alaikum wr wb,
Alhamdulilah sahabat-sahabat Muslimin dan muslimat, mulai menyadari atau bahkan ada yang
mulai bertanya-tanya akan bahaya gerakan Liberalisme, Plularisme dan Sekularisme di
Indonesia.

Salah satu gerakan yang paling sistimatis di Indonesia membendung bahaya gerakan sistimatis
dan paling ilmiah di Indonesia ,paling tidak adalah apa yang sudah dilakukan oleh murid-murid
Prof.Dr.Al-Attas dengan mendirikan INSISTS, yang di Jakarta mereka selalu mengadakan diskusi
sabtuan setiap minggunya.

Bagi yang baru sadar atau sudah merasakan bahaya gerakan ini, bahkan perlulah usaha
sistimatis untuk membendung gerakan ini, maka saran yang sangat kuat kami, pertama adalah
kumpulkan amunisi konsep-konsep Islam yang tangguh dan sistimatis,ilmiah dan sangat kokoh,
maka cobalah download atau copy dan bahkan buatkan file-file khusus, masuklah ke website
dibawah ini , jangan sampai tidak meng copy bagian makalah-makalah tokoh INSISTS ya, Insya
Allah akan sangat bermanfaat dan tercerahkan :
http://www.insistnet.com

Dari sana, mulailah kmdn menyusun langkah dakwah yang sistimatis, dimulai dari diri kita,
keluarga, kantor dan kawan-kawan dan seterusnya, begitu terus berkembang semakin luas dan
semakin luas. Yang harus menjadi catatan serius adalah bangunlah jaringan dakwah yang
menumbuhkan kecintaan yang dalam terhadap bangunan perdaban Islam berdasarkan
Islmaisasi ilmu bersumberkan worldview Islam berdasarkan Tauhid yang merujuk pada Al-
Quran dan As-Sunnah.

Bagi yang rajin mengumpulkan tulisan-tulisan kami sejak 3-4 tahun terkahir, bisa diforwardkan
pada kawan-kawan yang baru saja tercerahkan. Sebagai catatan ringan melengkapi hal ini,
bacalah tulisan serial ke-3 : Islam Versus Liberalisme : berjudul “ Tiga Makna Kebebasan dalam
Islam :” dan Bagaimana dakwah dapat menbangun “Knowledge Society” : Selamat membaca
semoga semakin mantap dan semakin tercerahkan utk ikut berjuangan membendung gerakan
dakwah Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme di Indonesia.

Salam perjuangan dakwah Islamiah dari KL,


Wassalamu’ alaikum wr wb,
A.Nurhono
Tiga Makna Kebebasan dalam Islam
Oleh: Dr. Syamsuddin Arif
(Peneliti INSISTS/Dosen Universitas Islam Internasional Malaysia)

Akhir-akhir ini kebebasan menjadi lafaz sakti yang senantiasa kita dengar, sekabur apapun
maknanya. Istilah kebebasan dan kemerdekaan umumnya dipahami sebagai padanan kata
freedom dan liberty. Artinya keadaan dimana seseorang bebas dari dan untuk berbuat atau
melakukan sesuatu. Yang disebut pertama adalah kebebasan negatif, dimana segala bentuk
pengaturan dan pembatasan berupa suruhan, larangan ataupun ajaran, dianggap berlawanan
dengan kebebasan; manakala yang kedua (‘bebas untuk’) dinamakan kebebasan positif, dimana
seseorang boleh menentukan sendiri apa yang ia kerjakan. Demikian menurut Isaiah Berlin
dalam Two Concepts of Liberty (1958).

Bagi seorang Muslim, kebebasan mengandung tiga makna sekaligus. Pertama, kebebasan identik
dengan ‘fitrah’ yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah, dicemari, dan dirusak oleh
sistem kehidupan disekelilingnya. Seperti kata Nabi saw: ‘kullu mawludin yuladu‘ala l-fitrah’.
Setiap orang terlahir sebagai mahluk dan hamba Allah yang suci bersih dari noda kufur, syirik
dan sebagainya. Namun orang-orang disekelilingnya kemudian mengubah statusnya tersebut
menjadi ingkar dan angkuh kepada Allah.

Maka orang yang bebas ialah orang yang hidup selaras dengan fitrahnya, karena pada
dasarnya ruh setiap manusia telah bersaksi bahwa Allah itu Tuhannya. Sebaliknya, orang yang
menyalahi fitrah dirinya sebagai abdi Allah sesungguhnya tidak bebas, karena ia hidup dalam
penjara nafsu dan belenggu syaitan.

Ahli tafsir abad keempat Hijriah, ar-Raghib al-Ishfahani, dalam kitabnya menerangkan dua arti
‘bebas’ (hurr): Pertama, bebas dari ikatan hukum; kedua, bebas dari sifat-sifat buruk seperti
rakus harta sehingga diperbudak olehnya.
Pengertian kedua inilah yang disinyalir Nabi saw dalam sebuah hadis sahih:
‘Celakalah si hamba uang’ (ta‘isa ‘abdu d-dinar’) (Lihat: Mufradat Alfazh al-Qur’an, hlm. 224).
Makna kedua dari kebebasan adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak (masyi’ah)
atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-
masing. Apakah jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim) ataukah jalan yang lekuk.

Apakah jalan yang terjal mendaki ataukah jalan yang mulus menurun. Apakah jalan para nabi
dan orang-orang sholeh, ataukah jalan syaitan dan orang-orang sesat. ‘Siapa yang mau beriman,
dipersilakan. Siapa yang mau ingkar, pun dipersilakan’ (fa-man sya’a fal-yu’min, waman sya’a
fal-yakfur), firman Allah dalam al-Qur ’an (18:29).

Kebebasan disini melambangkan kehendak, kemauan dan keinginan diri sendiri. Bebasnya
manusia berarti terpulang kepadanya mau senang di dunia ataukah di akhirat (lihat al-Qur ’an
17:18-19 dan 42:20). Terserah padanya apakah mau tunduk atau durhaka kepada Allah.
Apakah mau menghamba kepada sang Khaliq atau mengabdi kepada makhluk. Sudah barang
tentu, kebebasan ini bukan tanpa
konsekuensi dan pertanggungjawaban. Dan benarlah firman Allah bahwa tidak ada paksaan
dalam agama – ‘la ikraha fi d-din’
(2:256). Setiap manusia dijamin kebebasannya untuk menyerah ataupun
membangkang kepada Allah, berislam ataupun kafir. Mereka yang berislam dengan sukarela
(thaw‘an) lebih unggul dari mereka yang berislam karena terpaksa (karhan), apatah lagi
dibandingkan dengan mereka yang kafir dengan sukarela.

Ketiga, kebebasan dalam Islam berarti ‘memilih yang baik’ (ikhtiyar). Sebagaimana dijelaskan
oleh Profesor Naquib al-Attas, sesuai dengan akar katanya, ikhtiar menghendaki pilihan yang
tepat dan baik akibatnya (Lihat: Prolegomena to the Metaphysics of Islam, hlm. 33-4). Oleh
karena itu, orang yang memilih keburukan,kejahatan dan kekafiran itu sesungguhnya telah
menyalahgunakan kebebasannya. Sebab, pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr). Disini
kita dapat mengerti mengapa dalam dunia beradab manusia tidak dibiarkan bebas untuk
membunuh manusia lain.

Jadi, dalam tataran praktis, kebebasan sejati memantulkan ilmu dan adab, manakala
kebebasan palsu mencerminkan kebodohan dan kebiadaban. Kebebasan seyogianya dipandu
ilmu dan adab supaya tidak merusak tatanan kehidupan. Supaya membawa kebahagiaan di
dunia dan di akhirat.

Dalam kerangka inilah seorang Muslim memahami firman Allah: ‘Siapa yang mengerjakan
kebaikan, maka ia telah berbuat baik untuk dirinya. Sebaliknya, siapa yang berbuat jahat, maka
ia berlaku jahat kepada dirinya jua (41:46). Maka janganlah kebebasan itu menyebabkan
kebablasan.

MEMBANGUN ‘KNOWLEDGE SOCIETY’


Dr. Syamsuddin Arif
Dosen IIUM, Peneliti INSISTS, Ketua HISSI Malaysia

Bermula kejayaan dan kejatuhan bangsa itu lantaran ilmu. Naik harkat dan martabatnya pun
berkat iman dan ilmu. Runtuh dan terpuruknya, lemah dan hina karena tiada ilmu. Sejarah
adalah saksi bagi kebenaran sunnatullah ini. Ilmu laksana cahaya bagi manusia, penerang
akalnya, pembangkit peradaban, pembawa kebahagiaan. Namun, ilmu tidak datang dengan
sendirinya. Ia mesti dicari, ditekuni dan dihayati. Ilmu sejati pusaka para nabi itulah yang paling
tinggi, ilmu-ilmu lain fardhu kifayah walaupun tetap berarti. Berikut ini saya uraikan makna
budaya ilmu dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk menghidupkan kembali budaya ilmu
yang dulu pernah tumbuh subur di kalangan umat Islam dan kini nyaris punah.
Makna Budaya Ilmu

Istilah ‘budaya ilmu’ dipopulerkan oleh Professor Dr Wan Mohd Nor Wan Daud lewat buku-
buku maupun ceramah-ceramahnya selama hampir dua dasawarsa terakhir ini. Menurutnya,
‘budaya ilmu’ ialah (i) kondisi dimana setiap anggota dan lapisan masyarakat melibatkan diri
secara langsung maupun tidak langsung dalam pelbagai kegiatan ilmiah pada setiap
kesempatan: gemar membaca, mempelajari, meneliti, mendiskusikan aneka persoalan
keilmuan. ‘Budaya ilmu’ terwujud (ii) apabila setiap orang sebagai individu maupun sebagai
entitas kolektif (masyarakat, bangsa, umat) membuat segala pilihan, keputusan dan tindakan
yang diambilnya atas dasar ilmu, melalui proses investigasi, riset, dan konsultasi. Ciri lain dari
‘budaya ilmu’ adalah (iii) sikap menjunjung tinggi ilmu, situasi dimana ilmu menempati
kedudukan tertinggi dalam tata nilai setiap pribadi dan masyarakat pada semua lapisan, yang
diejawantahkan dengan penghargaan tinggi kepada setiap individu maupun lembaga yang aktif
mencari, meneliti, mengembangkan dan menyebarkan ilmu.[1] Inilah yang yang disebut sebagai
‘the learning society’ yang memancarkan ‘the culture of knowledge and learning’.

Asas-asas budaya ilmu dalam pengertian di atas sesungguhnya terperi dalam ajaran Nabi
Muhammad saw. “Wahai Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu” (QS 20:114) adalah doa yang
difirmankan Allah SWT kepada beliau. “Apakah sama, mereka yang berilmu dan tak berilmu?”
(QS 39:9) dan “Hanya mereka yang berilmu dari kalangan hamba Allah yang gentar kepadaNya”
(QS 35:28) merupakan petikan beberapa ayat kitab suci al-Qur’an yang menekankan betapa
pentingnya ilmu. Demikian pula banyaknya pesan-pesan Rasulullah saw berkenaan ilmu dan
keilmuan. “Ilmu tidak akan dicabut dari manusia, tetapi orang-orang berilmu akan diambil
Allah, maka dengan kepergian mereka hilanglah ilmu. Akibatnya muncul orang-orang jahil tak
berilmu yang tampil sebagai tokoh panutan, mereka sesat dan menyesatkan manusia lain pula,”
adalah satu dari sejumlah sabda baginda mengenai ilmu. Maka tak menghairankan jika ilmu
menjadi tema sentral peradaban Islam. Hal ini bukannya impian atau khayalan, akan tetapi
fakta sejarah yang sangat gamblang. Dalam studinya yang cukup mendalam, seorang pakar
filologi dari Yale University menyimpulkan bahwa rahasia kegemilangan peradaban Islam itu
terletak pada ilmu. Ilmu merupakan konsep yang sangat menonjol dan paling hebat perannya
dalam melahirkan dan membentuk corak dan watak peradaban Islam: ‘one of those concepts
that have dominated Islam and given Muslim civilization its distinctive shape and complexion’,
tulis Franz Rosenthal. Satu ciri yang tak ditemukan pada peradaban bangsa-bangsa lain di dunia
adalah posisi ilmu di dalam Islam sebagai ‘dominant concept’, ‘a unique cultural term’, ‘a
powerful and, perhaps, the most effective rallying force’, tegasnya.[2] Menariknya, beliau
menyebutnya sebagai ‘peradaban Islam’ dan bukan peradaban Arab, Persia, Turki, Berber, atau
Timur, sebab menurutnya, peradaban tersebut melibatkan dan menaungi pelbagai suku
bangsa, etnik maupun agama. Kontributornya tidak hanya Arab dan Muslim, tetapi juga Persia
(seperti Ibn Sina dan Imam al-Ghazali), Turki (seperti Imam al-Bukhari dan al-Farabi), Nasrani
(seperti ..... ), juga Yahudi (semisal Ibn Kammunah dan Musa ibn Maymun).

[1]
Lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991),
34-5.
[2]
Lihat Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant, edisi baru (Leiden: E.J. Brill, 2007), 2 dan 340-1.
Pembudayaan Ilmu

Dalam sejarah Islam, pembudayaan ilmu telah dirintis oleh Nabi Muhammad saw. Beliau
memberantas buta-huruf dengan menganjurkan para Sahabat belajar baca-tulis, menyuruh
Zayd bin Tsabit belajar bahasa Ibrani (Hebrew) dan Suryani (Syriac) kepada ulama Bani Isra’il
(Ahlul Kitab). Beliau juga melantik sejumlah Sahabatnya menjadi juru tulis pencatat wahyu al-
Qur’an dan Ĥadis, penulis surat-surat diplomatik dan sebagainya. Beliau sendiri aktif
mengajarkan al-Qur’an, memberikan ceramah, nasihat, fatwa dan pengadilan (qadha’). Imam
al-Bukhārī meriwayatkan bahwa giap seminggu sekali Rasulullah menyediakan waktu satu hari
khusus bagi kaum ibu termasuk istri dan putri-putrinya untuk belajar dan bertanya tentang
pelbagai persoalan agama. Bimbingan khas diberikan kepada beberapa orang dewasa (semisal
Abu Hurayrah ra) maupun kanak-kanak (sepertil ‘Abdullah bin ‘Abbas ra) dan ahli keluarganya
(‘A’isyah binti Abī Bakr ra). Pendek kata, pendidikan, pengajaran, pembahasan dan penyebaran
ilmu telah dimulai sejak abad pertama Hijriah. Di satu sisi, ini disebabkan sentuhan ayat-ayat
suci al-Qur’an yang menggugah jiwa dan mengobarkan semangat. Di sisi lain, situasi itu
memacu perkembangan budaya ilmu di dunia Islam secara pesat luar biasa.

Proyek pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakr dan Khalifah
‘Utsman mustahil terlaksana sekiranya tradisi ilmu di kalangan Sahabat Nabi saw. belum
terwujud. Khalifah Umar ibn al-Khattab yang dikenal sebagai ahli strategi perang dan
negarawan ulung sangat menghargai ahli ilmu, sedang Khalifah Ali dikagumi ketajaman nalar
dan kedalaman ilmunya, disamping kepahlawanannya. Ada banyak riwayat yang bisa kita simak
tentang kegiatan ilmiah para tokoh generasi awal umat Islam. Abu’l-Aswad ad-Du’alī, misalnya,
merumuskan ilmu linguistik (tata bahasa, morfologi dan orthografi) atas petunjuk Khalifah ‘Ali
ra. Ilmu tafsir diletakkan dasar-dasarnya oleh ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Kegiatan mencatat dan
mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw dalam bentuk skroll dilakukan oleh ‘Abdullah ibn ‘Amr
(dinamakan as-Shahīfah as-Shadiqah). Upaya mendokumentasi dan mengoleksi hadits
dilanjutkan oleh generasi sesudah mereka semisal, ‘Urwah ibn az-Zubayr (w. 94 H), Muhammad
ibn Syihab az-Zuhrī (w. 124 H), Hammam ibn Munabbih (w. 132 H) dan banyak lagi. Kurun
kedua hijriah pun menyaksikan lahirnya tokoh-tokoh ilmuwan dengan kepakaran masing-
masing. Imam Abu Hanīfah (w. 150 H) di Kufah menulis kitab al-Fiqh al-Akbar (mengenai
teologi), Imam al-Awza‘ī (w. 157 H) di Damaskus mengarang kitab as-Siyar (prinsip-prinsip
hubungan internasional), Imam Malik (w. 179 H) di Madinah menyusun kitab al-Muwatta’
(kompilasi hukum Islam), dan Imam as-Syafi‘ī (w. 204 H) di Baghdad merumuskan ilmu ushul
fiqh (jurisprudensi Islam) dalam kitabnya yang masyhur: al-Risalah. Jika pakar linguistik al-Khalil
ibn Ahmad (w. 175 H) menerbitkan kitab al-‘Ayn, kamus pertama di dunia, maka muridnya
Sibawayh (w. 177 H) menyusun ilmu tata bahasa dalam al-Kitab.

Di abad berikutnya kita saksikan gerakan penerjemahan buku-buku ilmiah mengenai pelbagai
cabang ilmu dari bahasa Yunani (Greek), Suryani (Syriac), Parsi dan Sansekerta ke dalam bahasa
Arab.
Tak lama kemudian sampailah umat Islam ke puncak tertinggi peradaban manusia: mereka
menjadi penunjuk dan penerang jalan bagi umat lain dalam pendakian ilmiah. Segala pelosok
ilmu pengetahuan mereka telusuri, segala persoalan keilmuan mereka tangani, ‘dari persoalan
gajah hingga persoalan semut’, dengan pendekatan rasional, empiris, detil, kritis lagi kreatif.
Ada yang mempelajari seluk-beluk bahasa seperti, .... , mengupas .... seperti ... Saintis al-Biruni
tidak hanya berhasil mengukur lingkaran bola bumi dan memberikan koordinat wilayah-wilayah
penting saat . Studi empirisnya mengenai tradisi agama dan budaya bangsa India yang
direkamnya dalam kitab ‘Aja’ib al-Hind ...

Budaya ilmu yang diamalkan oleh umat Islam sejak zaman Nabi saw hingga abad ketiga-belas
Hijriah menampakkan ciri-ciri menarik dan patut digarisbawahi:

1. Kegigihan

Orang-orang Islam pada zaman dahulu memperlihatkan semangat yang menyala-nyala dalam
mencari ilmu. Dengan kemauan yang kuat dan tekad bulat mereka hadapi pelbagai bahaya dan
mau bersusah-payah menanggung derita demi secercah ilmu. Semangat gigih dan berkobar-
kobar itu telah mendorong mereka pergi mengembara ke negeri-negeri yang jauh dan asing
untuk belajar. Kisah Katsir ibn Qays yang diriwayatkan Imam Ibn Majah menarik disimak: ia
datang jauh-jauh dari Madinah ke Damaskus semata-mata untuk menemui Abu Darda’ r.a. dan
mencatat hadis secara langsung dari beliau. Riwayat para pemburu ilmu dan lika-likunya
menempuh perjalanan jauh untuk berguru telah direkam dengan baik oleh al-Khathib al-
Baghdadi (w. 463 H) dalam kitab ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits dan kitab Tarikh Baghdad.

Imam Ibn al-Jawzi (w. 597 H) ditinggal mati ayahnya sejak usia tiga tahun. Kendati dibesarkan
sebagai yatim, usaha beliau untuk mencari ilmu begitu hebat. Siang malam beliau habiskan
untuk membaca dan menulis. Di puncak karirnya pernah beliau berucap di atas mimbar:
“Dengan jari-jari tanganku ini aku telah menulis sebanyak 2000 buku.” Menjelang wafat beliau
berpesan supaya air mandiannya dihangatkan dengan api pembakaran sisa-sisa rautan
penanya. Masih dikenang ucapan beliau yang terkenal: “Dengan wadah tinta ke liang kubur
(ma‘a l-mahbarah ila l-maqbarah).”

Kesungguhan mencari ilmu dicontohkan oleh Ibn al-Ikhsyid (w. ). Suatu hari, ketika membaca
pengantar kitab al-Hayawan, beliau tertarik pada sebuah judul buku dalam daftar kepustakaan
al-Jahizh, yakni kitab al-Farq bayn an-Nabi wa l-Mutanabbi (tentang perbedaan antara nabi
sejati dan nabi gadungan). Ia berusaha mendapatkan kitab tersebut, tetapi tidak berhasil.
Ketika ia datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, ia berdiri di tengah khayalak ramai
seraya berseru: “Semoga Allah merahmati siapa yang sudi menunjukkan kepadaku di mana
adanya buku Perbedaan antara Nabi Sejati dan Nabi Palsu karangan Abu Utsman ‘Amr ibn al-
Jahizh!” (Lihat: Yaqut, Mu‘jam al-Udaba’, 6:72-73).

Pakar hadis Bakr ibn Qutaybah pernah meringkuk dalam penjara selama dua tahun atas
tuduhan bersekongkol dengan seorang tokoh oposisi pemerintah. Namun, beliau tetap aktif
mengajarkan hadis dari dalam penjara. Setiap hari murid-muridnya akan berkumpul di dekat
lubang angin bilik penjaranya. Sambil berdiri beliau memberikan pelajarannya kepada mereka
yang berkerumun di balik jendela selnya (Lihat: Ibn Khallikan,Wafayat al-A‘yan, 1:128).

“Aku datang menemui Abu Rayhan al-Biruni [w. 443/1051] pada hari ketika beliau akan
menghembuskan nafasnya yang terakhir,” kata al-Faqih ‘Ali ibn ‘Isa al-Walwaliji. “Dalam
keadaan sakit itu al-Biruni masih saja bertanya: ‘Bagaimanakah cara pembagian harta pusaka
untuk nenek-nenek perempuan yang engkau terangkan kepadaku tempo hari?’ Aku pun
menjawab: ‘Apakah kita akan membicarakan soal itu dalam keadaan seperti ini?’ Dan al-Biruni
tak bergeming: ‘Ya, aku ingin meninggalkan dunia ini dengan memahami masalah tersebut.
Bukankah itu lebih baik daripada aku mati tanpa mengerti persoalan itu.” (Yaqut, Mu‘jam al-
Udaba’, 6:309).

2. Ketulusan

Sikap ikhlas dan tulus termasuk nilai-nilai keilmuan yang diamalkan dan dijunjung tinggi para
ilmuwan muslim. Ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw yang sangat menekankan
keikhlasan dan kejujuran. “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu bergantung niatnya, dan
bagi setiap orang apa yang diniatkannya,” sabda beliau nomor satu dalam himpunan hadis
sahih susunan Imam al-Bukhari. Tujuan utama mencari ilmu bukan untuk mendapatkan job
atau pekerjaan dengan gaji lumayan. Bagi seorang muslim, mencari ilmu adalah kewajiban yang
tujuan finalnya meraih keridhoan Allah. Sabda Nabi saw, siapa yang pergi dari rumah-nya demi
mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah (fi sabilillah) sampai ia kembali ke rumahnya. Para
malaikat beserta ikan-ikan di laut memohonkan ampunan dosa bagi para penuntut ilmu. Pesan-
pesan inilah yang mengobarkan semangat mencari, menyebarkan dan mengembangkan ilmu.
Aktivitas keilmuan merupakan kewajiban dan kebajikan paling tinggi yang pahalanya bakal
mengalir terus. Sebaliknya, niat keliru akan menghapuskan pahala dan bahkan dapat membawa
celaka. Ibn Hazm pun mengingatkan: “Seseorang yang memperoleh ilmu tinggi tetapi
menggunakannya untuk mencari kekayaan dan bukan untuk tujuan yang semestinya,
hakikatnya mengidap penyakit rohani yang sukar disembuhkan, menuai banyak keburukan dan
kerugian yang membinasakan.” (Dipetik dari Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya
Ilmu, 60)

3. Kejujuran

Sikap jujur dan benar pula amat penting dalam perkara-perkara keilmuan. “Hai orang-orang
beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan sertailah orang-orang yang jujur” (QS surah at-
Tawbah 119); “Ucapkanlah perkataan yang benar!” (QS al-Ahzab ... ). Ayat-ayat suci ini tegas
sekali menyuruh kita untuk jujur dan berkata benar. Sebaliknya, sikap berpura-pura, double
standard, secara angkuh menolak kebenaran (bathar al-haqq), melakukan manipulasi (tahrif),
distorsi (tabdil), pemutarbalikkan serta pengaburan (talbis) ataupun pembelokkan (ilhad)
sangatlah dikecam dan dikutuk. Rasulullah saw memperingatkan siapa yang berdusta atas nama
beliau maka tempatnya kelak di neraka. Itulah sebabnya mengapa para ilmuwan muslim super
hati-hati dan ekstra teliti dalam mengumpulkan dan menyaring ilmu. Prosedur yang ketat dan
standar yang tinggi mereka terapkan untuk menguji validitas setiap klaim ilmiah.
Membangun Budaya Ilmu

Bagi masyarakat muslim zaman ini, dimana budaya hedonisme (suka bersenang-senang dan
berfoya-foya) dan budaya konsumerisme (gemar membeli aneka barang menghabiskan uang)
telah merasuk dan merusak masyarakat kita, sebuah upaya terencana dan berterusan perlu
dilakukan untuk menyalakan dan mengobarkan kembali api budaya ilmu yang makin hari makin
redup ini. Di antara langkah-langkah kongkrit yang mungkin kita lakukan adalah:

Tingkat Individu

1. Mencari Ilmu dengan Berguru

Tradisi menimba ilmu dari guru yang mumpuni dan otoritatif perlu dihidupkan kembali.

2. Menimba Ilmu dengan Membaca

Motivasi untuk membaca buku-buku bermutu harus selalu dikampanyekan. Para siswa dan
mahasiswa semestinya diperkenalkan dan digalakkan membaca karya-karya tokoh ilmuwan
secara langsung, disamping membaca karya saduran, ulasan atau bahan bacaan apa saja
sekehendak mereka. Mereka sebaiknya diarahkan supaya membaca langsung kitab ar-Risalah
karya Imam as-Syafi‘i, kitab al-Jabr wa l-Muqabalah karya al-Khwarizmi, kitab al-Manazhir karya
Ibn al-Haytsam, dan sebagainya.

3. Menebar Ilmu dengan Menulis

Para [maha]siswa hendaklah melatih diri atau dilatih menuangkan hasil bacaan dan kajian
mereka ke dalam tulisan berupa ulasan buku (book review), artikel pendek dan sebagainya.
Lokakarya menulis perlu secara rutin diadakan. Ibn Sina berkata: “Aku mulai mengarang kitab
al-Qanun fi at-Thibb di saat usiaku 16 tahun.” Kitab tersebut menjadi ‘text-book’ yang
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dipakai selama 400 tahun di Eropa.

4. Mengasah Ilmu dengan Diskusi

Sudah semestinya para penuntut ilmu saling berbagi ilmu dan bertukar informasi melalui
pelbagai forum resmi maupun santai. Ilmu akan bertambah dengan berbagi, semakin dalam
dengan diskusi dan semakin tajam dengan berdebat. Ad-Darawardi berkaata: “Aku pernah
melihat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik duduk di Masjid Nabawi selepas shalat isya’ dan
mula membincangkan satu-satu masalah tanpa bertikam lidah, tanpa memburukkan pihak lain,
dan tanpa mengeraskan suara. Perbincangan itu berlalu hingga masuk waktu subuh dan di
tempat itu pula mereka akan mendirikan shalat subuh.”
Tingkat Institusi

Pihak pemerintah hendaknya menyediakan pelbagai kemudahan bagi para penuntut ilmu
dengan (i) mengusahakan pengadaan bahan-bahan bacaan penting di perpustakaan sekolah
dan universiti, (ii) menganjurkan penyelenggaraan aneka forum keilmuan seperti seminar,
simposium, workshop dan sebagainya. Selain itu juga (iii) perlu disokong penerbitan hasil-hasil
kajian yang telah dilakukan. Ibn Jubayr mencatat bahwa di Baghdad saja terdapat sejumlah
tigapuluh institusi pengajian ilmu, masing-masing dengan bangunan yang indah dan yang
termegah ialah Universitas Nizhamiyyah yang didirikan Nizham al-Mulk sendiri, dan mempunyai
beberapa aset waqaf yang cukup besar untuk membiayai para maha-guru, pelajar serta
pegawai-pegawainya. (Rihlah Ibn Jubayr, 229). Jangan ditanya soal kelengkapan perpustakaan
di institusi-institusi semacam Nizhamiyyah, Mustanshiriyyah dan sebagainya. Belum lagi
diceritakan perihal perpustakaan pribadi para sultan, tokoh-tokoh ulama dan para saudagar
buku semacam Ibn an-Nadim. Wallahu a‘lam.
SERIAL KE-4
KEBEBASAN MENISTA ATAU MENISTA KEBEBASAN
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan muslimat yang diberkahi dan dirahmati Allah SWT
dimanapun itu berada dimuka bumi ini,

Salam silaturrahim, dengan iringan do’a semoga kesehatan lahir-bathin, kelancaran rezeki yang
penuh berkah Allah, dan berbagai macam kemudahan selalu dianugerahkan kepada kita
semuanya dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, kantor, bangsa maupun dakwah umat
Islam, Amin3X, Ya Rabbal Alamin.

Alhamdulilah, Kembali dapat dikirimkan tulisan serial ke-4 “Islam vs Liberalisme”, berjudul : “
kebebasan Menista atau Menista Kebebasan”.

Selamat membaca serial ke -4 ini. Semoga bermanfaat dan semakin mencerahkan pemikiran
Islam sahabat-sahabat semuanya, sehingga pada sisa perjalanan hidup yang diberikan Allah
kepada kita semuanya, dapat dipergunakan untuk ikut berpartisipasi membangun “Izzul Islam
wal muslimin wal muslimat” menuju tercapainya kejayaan peradaban Islam di Indonesia.

Wassalamu'alaikum wr wb,
A.Nurhono

Kebebasan Menista atau Menista Kebebasan


AKTIVIS dan pendukung Liberalisme yang tergabung dalam AKKBB pada tanggal 27 Januari 2010
lalu mengajukan usulan ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar Peraturan Presiden No
1/PNPS/1965 yang sudah di-undangkan menjadi UU No 1/PNPS/1969 tentang larangan
penistaan agama itu dicabut. Jika ini dicabut berarti agama-agama baru dapat muncul,
penghinaan terhadap agama tidak ada hukum dan aturannya lagi. Apakah benar kebebasan
sudah tidak perlu diatur lagi dalam undang-undang? Apakah manusia zaman sekarang sudah
dewasa dan dijamin tidak akan menista agama lagi.

Nampaknya usulan kelompok liberal tersebut selain berdasarkan UUD 45 dipastikan pasal 19
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang diakui undang-undang hak asasi manusia
dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). ICCPR mengakui hak bebas
bicara sebagai hak untuk berpendapat tanpa gangguan. Namun sebenarnya ketika DUHAM itu
disusun tidak satupun pihak agamawan, apalagi Islam di-libatkan. Kini kebebasan berbicara itu
“clash” dengan kebebasan beragama dengan segala rukun-rukunnya. Suara kebebasan itu
memang datang dari Barat. Sebelum DUHAM wacana kebebasan sudah menjadi topik
pembahasan para pemikir. Bagi yang pernah belajar filsafat akan mengenang Socrates (470-339
SM), orang yang menyuarakan kebebasan tanpa batas. Tapi ternyata ajaran kebebasan yang
dibawa filosof ini dianggap merusak moral anak muda Athena dan telah mengakibatkan
kegusaran pada politisi dan pemimpin agama atau kepercayaan Yunani. Ia akhirnya dihukum
mati.

John Stuart Mill misalnya mengartikan kebebasan berbicara menjadi kebebasan menyebarkan
informasi, pendapat, termasuk mencari, menerima dan memberi informasi dan ide. Di Perancis
telah ada Deklarasi Hak-hak Manuisia dan Warganegara (1789), yang merupakan dokumen
kunci Revolusi Perancis. Akan tetapi, kebebasan yang dimaksud di situ adalah kebebasan yang
bertanggung jawab yang diatur oleh hukum.

Ini berarti sejak awal sudah ada kesadaran bahwa sebesar apapun hak kebebasan orang untuk
berbicara, ia akan dibatasi kebebasan orang lain. Kebebasan tidak boleh menghina,
merendahkan, melecehkan, menyudutkan ras, agama dan kepercayaan lain juga tidak boleh
merusak kehormatan atau melukai perasaan orang lain. Pemerintah Jepang pernah
memperketat kebebasan berbicara dan media. Akibatnya, gempa berskala 7.9 richter yang
mengorbankan ribuan orang tidak dapat dilaporkan. Kasus korupsi, bunuh diri pasangan juga
tidak dapat dilaporkan media. Setelah perang Dunia ke II kebebasan mulai dibuka. Tapi, yang
muncul justru terbitnya buku, komik dan gambar porno dipajang di super market dan dapat
dibeli bebas oleh anak-anak. Akhirnya, tahun 1995 surat kabar terkemuka Asahi Shimbun
memberi julukan Jepang sebagai “Porn Paradise.” Di Indonesiapun setelah era reformasi, eforia
kebebasan yang keblabasan dan tidak terkendali telah semakin menyuburkan fenomena
industri pornografi dan pornoaksi (melalui media maya internet, video, komik, HP,gambar,
clipping, dll) yang melanda sangat dasyatnya kepada banyak generasi muda Indonesia bahkan
melanda juga kepada para remaja dibanyak kota-kota besar di Indonesia. Karena semua tidak
mampu membendung kebebasan, berbagai pihak bertanya “Suara siapa yang akhirnya
didengar?” Artinya siapa yang akan ditaati kalau bukan undang-undang. Sebab dalam
perjalanan sejarahnya kebebasan telah melampau batas-nya dan dalam kaitannya dengan
agama yang terjadi adalah menista.

Pada tahun 1951 misalnya, Roberto Rossellini seorang neo-realist membuat film berjudul The
Miracle. Film yang berdurasi 40 menit itu bercerita tentang Saint Joseph yang menghamili gadis
petani yang percaya bahwa dirinya adalah Bunda Maria. Ini menurut pihak gereja adalah
penghinaan. Film lain yang dianggap menista agama adalah The Last Temptation of Christ and
Monty Python’s Life of Brian.

Pada tahun 1966, seorang penulis Belanda bernama Gerard Reve dituduh melakukan penistaan
agama, karena sebuah prosa yang ia tulis menggambarkan percintaan dengan Tuhan,
berinkarnasi selama tiga tahun sebagai keledai. Andres Serrano seorang fotografer merekayasa
sebuah gambar seakan ada salib yang terbenam dalam air kencing. Gambar seni itu diberi judul
Piss Christ. Demikian pula lukisan Chris Ofili yang berjudul Black Madonna menggambarkan
Bunda Maria berkulit hitam dikelilingi gambar-gambar dari film-film blaxploitation dan men
close-up kemaluan wanita dari majalah porno lalu ditempelkan. Ini juga penghinaan.
Tahun 2004, sebuah web site di America membuat karton berjudul Jesus Dress Up. Didalamnya
menggambarkan Jesus yang disalib dengan berpakaian celana pendek dan diberi baju piyama
setan. Lebih dari 25.000 orang protes keras atas karton tersebut. Kasus buku karton Gerhard
Haderer tahun 2003 di Yunani berjudul The Life of Jesus; Ekspressi seni Marithé and François
Girbaud tahun 2005 yang memparodikan lukisan keagamaan Leonardo The last Supper. Dan
yang paling mutakhir terjadi tahun 2008, ketika festival punk di Linköping, Swedia membuat
poster yang menggambarkan setan yang sedang, maaf, memberaki Jesus di tiang salib. Di dalam
poster itu ditulis “Punx against christ”. Pimpinan redaksi koran yang menerbitkan poster
tersebut mendapat ancaman hukuman bunuh. Itu semua adalah penistaan agama atas nama
kebebasan berbicara, berpendapat, berkreasi seni dan berekspresi.

Penistaan serupa juga terjadi dialami oleh umat Islam. Tahun 1989 Salman Rushdie, warga
Inggris keturunan India, menulis novel berjudul The Satanic Verses yang isinya menghina nabi
dan al-Qur’an. Tahun 1997 Tatiana Soskin tertangkap di Hebron ketika mencoba menempelkan
gambar Nabi Muhammad dalam bentuk babi sedang membaca al-Qur’an. Pada tahun 2002
peraih hadiah Pulitzer Doug Marlette menyebarkan gambar Nabi Muhamamd yang sedang
mengendarai truk yang membawa roket nuklir.

Tahun 2004 Theo van Gogh and Ayaan Hirsi Ali produser film asal Belanda membuat film
berjudul Submission. Film berdurasi 10 menit itu menggambarkan kekerasan terhadap wanita
dalam masyarakat Islam. Dalam film itu ditunjukkan empat wanita bugil yang me-ngenakan
baju transparan. Pada tubuh wanita itu ditulis ayat-ayat Qur’an.

Tahun 2005 Runar Sogaard asal Swedia menulis bahwa Nabi Muhammad mengindap kelainan
seks (paedaphile) karena menikahi Aisha dibawah umur. Pada tahun yang sama surat kabar
Denmark Jyllands-Posten menerbit-kan karton Nabi Muhammad yang melecehkan. Setahun
kemudian di Jerman seorang aktivis Penistaan serupa juga terjadi dialami oleh umat Islam.
Tahun 1989 Salman Rushdie, warga Inggris keturunan India, menulis novel berjudul The Satanic
Verses yang isinya menghina bernama Manfred van H mengirim paket ke masjid-masjid dan
media berisi kertas toilet yang diberi tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Tahun 2007 di Swedia seorang
seniman bernama Lars Vilks, dalam sebuah pameran seni tahun menampilkan gambar yang
bertema “The Dog in Art “ dengan menggambarkan Nabi Muhammad dikelilingi anjing. Dan
yang paling mutakhir adalah ulah politisi Belanda Geert Wilders dengan filmnya yang berjudul
Fitnah. Filmnya menggambarkan kekerasan dalam Islam dan dianggap ancaman bagi Barat.

Orang-orang Sikh juga mengalami penista-an yang sama. Di tahun 2004, sebuah teater di
Birmingham berrencana untuk menampilkan pertunjukan yang berjudul Behzti artinya
pencemaran atau aib. Cerita yang ditulis oleh Gurpreet Kaur Bhatti asal India itu
menggambarkan kekerasan seksual dan pembunuhan di kuil Sikh. Karena dianggap penistaan
dan diprotes maka pertunjukan itu batal dilaksanakan.

Tentu yang tahu dan merasa bahwa suatu pembicaraan, tulisan, gambar atau lainnya
merupakan penistaan adalah pemeluknya. Tapi masalahnya di Barat hak agama untuk
berkeberatan tidak mendapat tempat semesti-nya. Maka, dari seluruh penistaan itu tidak
semua, atau bahkan mungkin tidak ada yang sampai ke pengadilan dan diberi hukuman.
Padahal banyak Negara yang memiliki undang-undang anti-penistaan.

Di Negara bagian Massachusetts di Amerika Serikat misalnya terdapat undang-undang yang


melarang penistaan. Babnya diberi judul “Kejahatan terhadap Kesucian, Moralitas, Kepantasan
dan Ketertiban”. Pasal 36 berbunyi: Barang siapa dengan se-ngaja menistakan nama suci Tuhan
dengan mengingkari, memaki atau dengan sengaja mencela Tuhan, cipataanNya, kekuasaanNya
atau akhir dari dunia, atau dengan sengaja memaki, mencela Jesus atau Roh Kudus, atau
dengan memaki firman Tuhan yang terdapat dalam kitab suci harus dihukum penjara tidak lebih
dari satu tahun atau didenda tidak lebih dari tiga ratus dollar….”.

Di negara-negara Islam kebanyakan pe-nistaan berakhir di pengadilan, Tahun 1994 Taslima


Nasrin di Bangladesh difatwa hukum mati karena pernyataannya di koran The States-man yang
berbunyi bahwa ”…al-Qur’an harus direvisi secara menyeluruh.” Tahun 1998 Ghulam Akbar,
seorang penganut Shiah telah dihukum mati karena mengucapkan kata-kata penghinaan
terhadap Nabi Muhammad. Dan tahun 2000 pengadilan Lahore juga memutuskan hukuman
mati terhadap Abdul Hasnain Muhammad Yusuf Ali karena me-lecehkan nama Nabi
Muhammad. Di Mesir seorang yang mengaku Nabi langsung dibunuh dan selesai.

Tapi harus diakui bahwa penistaan telah menimbulkan keresahan masyarakat dan ber-akhir
dengan ancaman bunuh dan bahkan sudah banyak yang terbunuh diluar jalur hukum.
Logikanya, jika Muntazar al-Zaidi yang melempar George W Bush dengan se- patu dibawa ke
penjara, wajar jika penghina Tuhan dan Nabi dihukum mati. Dan wajar jika hukuman itu tidak
terjadi masyarakat akan menghukum sendiri. Theo Van Gogh misalnya dibunuh oleh
Mohammad Bouyeri pada tanggal 2 November 2004, di Amsterdam. Pembunuhnya lalu
menempelkan tulisan pada dada Van Gogh yang bernada ancaman terhadap pemerintah
Belanda, Yahudi dan Hirsi Ali. Salman Rushdie di fatwa Khomeini dengan hukuman mati.

Jadi kebebasan berpendapat dapat di-lindungi dan dibela, tapi pada satu titik tertentu memang
tidak dapat lagi. Titik batasnya dengan gamblang disampaikan Hakim Mahkamah Agung
Amerika Serikat, Oliver Wendell Holmes Jr. Ia menyatakan bahwa proteksi terhadap kebebasan
berbicara yang paling ketat sekalipun tidak dapat me-lindungi seseorang yang bohong berteriak
kebakaran dalam sebuah gedung bioskop dan mengakibatkan kepanikan. Dalam bahasa agama,
orang bisa melindungi kebebasan bicara tapi tidak bisa melindungi kebebasan menista agama.

PBB melalui UNHRC (United Nation Human Right Council) sudah banyak kali meluluskan pasal
larangan penistaan agama (Defamation of Religion). Terakhir, tahun 2009, setelah mendengar
Zamir Akram delegasi dari Pakistan bahwa penistaan agama dapat dan telah mengakibatkan
kerusuhan, UNHRC meluluskan resolusi yang menyatakan bahwa “penistaan agama sebagai
penistaan hak asasi manusia”. Namun, pada hari yang sama yakni tanggal 26 Maret 2009, lebih
dari 200 organisasi masyarakat sipil (civil society organizations) yang berasal dari 46 negara
mendesak UNHRC untuk menolak resolusi yang melarang penistaan agama. Dan ternyata
organisasi masyarakat sipil itu terdiri dari kelompok Muslim, Kristen dan Yahudi (tentu yang
liberal), serta kelompok Sekular, Humanis dan Atheis. Nampaknya aspirasi inilah yang dibawa
AKKBB ke MK.

Walhasil, sebenarnya kebanyakan kasus penistaan Nabi, Tuhan dan kepercayaan agama- agama
di Barat bukanlah hasil murni kebebasan berbicara, berpendapat atau berkespresi untuk
tujuan-tujuan kreatif yang secara tidak sengaja menista agama. Akan tetapi, gambar-gambar,
film, pernyataan dalam kasus-kasus diatas murni merupakan kebencian terhadap agama. Kalau
mereka bebas menista agama, maka kebebasan itu menjadi terkotori. Jadi sejatinya kebebasan
menista itu pada akhirnya malah menista kebebasan. Wallahu A’lam.
SERIAL KE-5
BLASPHEMY
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan dan dirahmati Allah SWT,

Salam silaturrahim dan salam perjuangan dakwah Islamiyah dimanapun itu berada dimuka
bumi Allah SWT.

Alhamdulilah, kembali dapat diselesaikan tulisan seri ke-5, Islam Vs Liberalisme, berjudul "
Blasphemy".

Semoga bermanfaat tulisan ini, dan semakin mencerahkan pemikiran Islam umat, bahkan
semakin menyadari akan bahayanya secara sistimatis bahwa “Blashemy” sejatinya adalah
“clash worldview” yang harus dipahami secara ilmiah, sistimatis dan beradab dalam perspektip
framework “worldview” dan proyek sistimatis “gazful fikri” di-Indonesia.

Sehingga pada akhirnya diharapkan dapat diselesaikan oleh Pemerintah bersama umat Islam
dan umat beragama lainnya di Indonesia, secara adil-bijaksana dan beradab (putting
everything in the right places on its system and hierarchy of truth under the proper vision,
reality and truth relationship of the places of Allah, nature and man”, meletakkan pada
tempatnya yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil dan masing mempunyai tempatnya
masing-masing , dan bukan atau tidak bisa dicampur adukan dan dikacaukan satu sama
lainnya) pula untuk menunjukkan kebesaran dan keagungan serta kebenaran agama Islam
sebagai “rahmatan lil-alamin”, Amin3X Ya Rabbal Alamin.

Wassalam,
A.Nurhono

“Blasphemy”

Jika orang melakukan penistaan agama dengan dalih kebebasan berfikir, maka serahkan
ketentuan benar dan salah pada suara mayoritas yang berilmu.

DALAM suatu simposium di Tokyo, Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur INSISTS bertemu dengan
Angel Rabasa. Ia salah seorang peneliti pada Rand Coorporation, yaitu NGO yang memberi
saran dan masukan ke Security Council Amerika Serikat (AS) bagaimana menumpas
fundamentalisme dalam Islam pasca 11 September.
Di saat coffee break, ia sengaja menghampiri Dr. Hamid, dan langsung “menembak”, “What is
wrong with Ahmadiyah in Indonesia?” Dr yang juga ustad terkenal dalam bidang pemikiran
Imam Al-Ghazali mengaatakan “ini adalah kasus penistaan agama (religious blasphemy)”. “Oh
no, itu kan masalah kebebasan berpendapat……bla…bla…bla.

Memang ia banyak tahu tentang Indonesia dan bahkan seperti ingin ikut campur urusan umat
Islam. Dr.Hamid-pun baru teringat tulisan David E Kaplan, Hearts, Minds and Dollars,
“Washington berinvestasi puluhan juta dolar dalam kampanye untuk mempengaruhi bukan saja
masyarakat Islam, tapi juga Islam sendiri dan apa yang terjadi dalam Islam”. Kelihatannya,
Rabasa ditugaskan untuk proyek yang disebut David.

“Baik, kalau begitu bagaimana dengan keberatan umat Kristiani terhadap aliran Jehovah yang
dianggap sesat?” tanya saya. Dia, yang berkulit putih itu menjadi sedikit memerah seperti
menahan sesuatu. “Ya tapi orang Kristen tidak melaporkan kasus ini ke pemerintah”,
jawabnya.

Di sini dapat dipaham bahwa dia keberatan dengan campur tangan pemerintah dalam urusan
agama. Tentu ini mindset yang tipikal orang Barat sekuler. Agama tidak boleh masuk ruang
publik dan tidak boleh menyatu dengan kekuasaan, apapun bentuknya. Padahal, yang
diketahui, aliran Children of God (COG) dan Jehovah Witnesses dilarang Kejaksaan Agung atas
permintaan Ditjen Bimas Kristen karena dianggap sempalan Kristen. Jika demikian itu juga
berdasarkan laporan para penganut Kristen.

Tapi kemudian ustad Hamid yang sat-satunya Phd. pemikiran Islam Imam Al-Ghazali dari
Indonesia, katakan, kalau Anda menyerahkan penyelesaian urusan blasphemy ke masyarakat,
akan mengakibatkan chaos, atau kegaduhan. Anda tahu sendiri bagaimana masyarakat main
hakim sendiri terhadap penganut Ahmadiyah di daerah-daerah. Dan jumlah mereka cukup
banyak. Dan perlu Anda tahu bahwa penganut Ahmadiyah sendiri menganggap siapa pun yang
tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi adalah kafir. Jadi, bukan hanya umat Islam
yang menganggap Ahmadiyah salah, tapi Ahmadiyah justru menganggap umat Islam selain
mereka itu salah.

Rabasa ternyata tidak banyak tahu tentang kepercayaan Ahmadiyah. Akhirnya dia mengalihkan
pembicaraan. “Let’s talk something else,” katanya.

Blasphemy adalah istilah yang digunakan untuk penistaan agama di Barat. Kata blasphemy
dalam Online Etymology Dictionary, © 2001 Douglas Harper disebut sebagai berasal dari
bahasa Prancis, blasfemie; asalnya dari bahasa Latin blasphemia atau bahkan dari Yunani
blasphēmein. Artinya irreligious, pernyataan, perkataan jahat atau menyakitkan, terkadang juga
diartikan bodoh.

Secara definitif blasphemy adalah kejahatan menghina atau menista atau menunjukkan
pelecehan atau kurang menghargai Tuhan, agama, ajarannya, serta tulisan-tulisan-tulisan
mengenainya. Juga berarti sikap menghina terhadap sesuatu yang dianggap sakral. (Merriam-
Webster's Dictionary of Law, © 1996). Menurut The American Heritage, blasphemy adalah
aktivitas, pernyataan, tulisan yang merupakan penghinaan, irreligius, mengenai Tuhan atau
sesuatu lainnya yang sakral.

Dalam the Random House Dictionary dan The American Heritage menganggap seseorang
sebagai Tuhan atau mengaku memiliki kualitas seperti Tuhan termasuk blasphemy. Pengertian
Easton Bible Dictionary (1897) bahkan lebih detail lagi. Blasphemy termasuk mengingkari
adanya Roh Kudus, Bible, kemessiahan Jesus atau menganggap mukjizat Jesus itu sebagai
kekuatan setan.

Hanya masalahnya, orang-orang liberal sekuler menuduh para pemeluk agama-agama telah
membatasi kebebasan berpendapat. Agama, menurut mereka, menggunakan dalih blasphemy,
penistaaan, bid’ah, musyrik, tabu dan sebagainya untuk membungkam pikiran mereka. Itu pun,
dalam persepsi mereka, para agamawan hanya membatasi hak memahami agama pada otoritas
keagamaan (ulama, pendeta, sami, dan sebagainya). Di sini agama menjadi buruk muka dan
diposisikan sebagai pemasung kebebasan.

Inti masalahnya ada pada worldview masing-masing. Di Barat agama-agama memiliki alam
pikirannya sendiri. Sejarahnya, memang selalu bentrok dengan masyarakat Barat, khususnya
masyarakat ilmiah (scientific community).

John Milton, sastrawan dan penulis politik Inggris pernah bentrok dengan parlemen. Itu gara-
gara brosur buatannya yang liar, tidak bertanggung jawab, tidak masuk akal dan ilegal. Tapi
Milton membela diri. Katanya, kesatuan suatu bangsa diperoleh melalui gabungan pendapat
individu yang berbeda ketimbang homogenitas yang dipaksakan. Kemampuan menggali ide-ide
cemerlang diperlukan dan kebenaran tidak dapat dicapai kecuali dengan merujuk semua
pendapat orang.

Jadi, bagi pemikir non-agama, kebenaran tidak harus melalui otoritas keagamaan. Milton
bahkan menambahi pembelaannya bahwa jika fakta-fakta dibiarkan telanjang, kebenaran akan
mengalahkan kebatilan dalam kompetisi terbuka.

Tapi siapa yang akan menentukan sesuatu itu benar dan salah? Menurut Milton bukan individu,
tapi gabungan pendapat individu-individu. Katakanlah kebenaran ditentukan oleh suara
mayoritas. Sekilas orang bisa terima, tapi ternyata ini bermasalah. Sebab bagi Milton, meski
mayoritas telah bersuara, setiap individu dibebaskan untuk menemukan kebenaran mereka
sendiri-sendiri. Jadi teori Milton masih problematik, karena tidak ada standar kebenaran.
Kebenaran itu tergantung pada individu masing-masing.

Kebebasan mencari dan menentukan kebenaran gaya Milton tetap saja akan memihak. Nah,
tapi Noam Chomsky mencoba merumuskan begini: "Jika Anda percaya pada kebebasan
berbicara, Anda percaya pada kebebasan berbicara untuk mendukung pendapat yang tidak kau
sukai." (If you're in favor of freedom of speech, that means you're in favor of freedom of speech
precisely for views you despise). Tapi kenyataannya Stalin dan Hitler yang mengaku mendukung
kebebasan berbicara, hanya mendukung pendapat yang mereka sukai saja.

Kembali ke soal blasphemy. Jika orang melakukan penistaan agama dengan dalih kebebasan
berfikir dan berpendapat, maka rumus Milton perlu digunakan. Serahkan ketentuan benar dan
salah pada suara mayoritas yang berilmu tentang itu. Bukan kepada individu tapi kepada
komunitas, dan ini harus mengikat individu.
SERIAL KE-6
PORNOGRAFI DAN LIBERALISME
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan dan dirahmati Allah SWT.
dimanapun itu berada dimuka bumi ini,

Salam silaturrahim dan salam perjuangan dakwah Islamiyah,

Alhamdulilah, kembali dapat dikirimkan tulisan serial ke 6, Islam versus Liberalisme, berjudul :
"Pornografi dan Liberalisme", dan serial ke-7 berjudul,
“Seks Bebas Demi kebebasan”.

Selamat membaca, semoga bermanfaat dan semakin mencerahkan worldview pemikiran Islam
berbasis tauhidi untuk membendung (diri dan keluarga kita termasuk masyarakat dan sahabat-
sahabat kita sampai bangsa dan negara) dan melakukan perlawanan sistimatis terhadap
bahaya gerakan Liberalisme, sekularisme dan pluralism di Indonesia yang semakin meluas,
kompleks dan sudah berwujud dalam gerakan aksi praktis, yang salah satu wujudnya yang
muncul dipermukaan adalah pada semakin merebaknya/suburnya industri pornoaksi dan
pornografi di Indonesia untuk menghancurkan kepribadian Islam generasi muda Islam pada
umumnya, termasuk para remaja Islam dibanyak kota-kota besar di Indonesia.

Wassalammu' alaikum wr wb,


A.Nurhono

"Pornografi dan Liberalisme"


Menyusul maraknya aksi penolakan terhadap RUU Anti-pornografi (APP), beberapa bulan yang
lalu, seorang muslim yang tinggal di Bali menelepon saya, dan memberitahukan kondisi kaum
Muslim Bali yang semakin terjepit. Kadangkala, mereka mendapat tuduhan, bahwa RUU APP
adalah salah satu bentuk Islamisasi. Jika RUU itu nantinya disahkan, maka Bali pun akan
diislamkan, dan wanitanya dipaksa memakai jilbab. Entah dari mana isu itu ditiupkan di Bali,
sehingga sampai muncul ancaman, jika RUU APP diterapkan, maka Bali akan memerdekakan
diri dari Indonesia.

Ancaman semacam ini dulu juga nyaring terdengar di kalangan kaum Kristen tertentu, ketika
RUU Pendidikan Nasional akan disahkan. Mereka mengancam, Papua dan Maluku akan
memisahkan diri, jika RUU Pendidikan Nasional disahkan. Tetapi, ketika RUU itu disahkan
menjadi UU, gertakan mereka juga kurang terdengar lagi. Kaum Muslim Bali dan banyak
komponen masyarakat lainnya di sana, jelas sangat mengharapkan lahirnya satu Undang-
undang yang bersikap tegas terhadap tayangan-tayangan pornografi dan pornoaksi yang
semakin meruyak di belantara tanah air Indonesia. Pada tahun 1945, kaum Muslim juga ditekan
untuk mengganti Piagam Jakarta, dengan alasan ancaman separatisme wilayah tertentu.

Pornografi adalah musuh umat manusia beradab, sehingga selama ini selalu ada upaya agar
manusia yang masih bertelanjang, diberikan pekaian penutup tubuh mereka. Anehnya,
sebagian argumentasi penolakan RUU APP justru berorientasi kepada primitivisme. Ada yang
berpendapat, jika RUU ini diterapkan maka suku-suku tertentu yang selama ini biasa hidup
telanjang akan terkena ancaman pidana. Logika kaum liberal ini sebenarnya carut-marut dan
paradoks. Pada satu sisi mereka mengagungkan progresivitas (dari bahasa Latin : progredior,
artinya, saya maju ke depan), tetapi pada sisi lain, mereka justru mundur ke belakang, dengan
memuja nativitas dan primitivitas.

Sayangnya, suara-suara masyarakat yang sehat, seakan tersekat. Logika mereka tersumbat oleh
gegap gempitanya gerakan penolakan RUU APP dimotori oleh LSM-LSM dan public figure
tertentu yang berpaham liberal, yang meyakini ‘kebebasan’ sebagai ideologi dan agama
mereka. Kebebasan, menurut mereka, adalah keimanan, yang tidak boleh diganggu gugat.
Karena itu mereka menolak berbagai pembatasan, baik dalam hal agama atau pakaian. Kata
mereka, itu wilayah privat, wilayah pribadi yang tidak boleh dicampurtangani oleh negara.
Maka mereka pun berteriak: biarkan kami berperilaku dan berpakaian semau kami, ini urusan
kami! Bukan urusan kalian! Bukan urusan negara! Negara haram mengatur wilayah privat!

Itulah logika dan keimanan kaum liberal, pemuja kebebasan. Karena RUU APP dianggap
melanggar wilayah privat, maka mereka berteriak lantang: tolak RUU APP! Ketika kasus Inul
mencuat, seorang tokoh liberal menulis dalam sebuah buku berjudul “Mengebor
Kemunafikan”: “Agama tidak bisa “seenak udelnya” sendiri masuk ke dalam bidang-bidang itu
(kesenian dan kebebasan berekspresi) dan memaksakan sendiri standarnya kepada
masyarakat…Agama hendaknya tahu batas-batasnya.”

Logika kaum liberal yang mendikotomikan antara wilayah privat dan wilayah publik itu
sebenarnya logika primitif, yang di negara-negara Barat sendiri sudah kedaluwarsa. Sejak lama
manusia sudah paham, bahwa kebebasan individu selalu akan berbenturan dengan kebebasan
publik. Karena itulah, di negara-negara Barat yang memuja liberalisme, ada peraturan yang
membatasi kebebasan manusia, yang memasuki dan mengatur wilayah privat, baik dalam soal
tayangan TV, pakaian, minuman keras, dan sebagainya. Ada kode etik dalam setiap jenis
aktivitas manusia. Tidak bisa atas nama kebebasan, orang berbuat semaunya sendiri.
Masalahnya, karena peradaban Barat adalah peradaban tanpa wahyu, maka peraturan yang
mereka hasilkan, tidak berlandaskan pada wahyu Allah, tetapi pada kesepakatan akal manusia.
Karena itu, sifatnya menjadi nisbi, relatif, dan fleksibel. Bisa berubah setiap saat, tergantung
kesepakatan dan kemauan manusia.

Di Indonesia, karena liberalisme sedang memasuki masa puber, maka tampak ‘kemaruk’
(serakah) dan memalukan. Semua hal mau diliberalkan. Ketika terjadi penolakan masyarakat
terhadap kenaikan harga BBM, seorang aktivis Islam Liberal tanpa malu-malu menulis di
jaringan internet, bahwa jika kita menjadi liberal, maka harus ‘kaffah’, mencakup segala hal,
baik politik, ekonomi, maupun agama. Kaum liberal di Indonesia belum mau belajar dari
pengalaman negara-negara Barat, dimana liberalisme telah berujung kepada ketidakpastian
nilai, dan pada akhirnya membawa manusia kepada ketidakpastian dan kegersangan batin,
karena jauh dari keyakinan dan kebenaran abadi.

Manusia-manusia yang hidup dalam alam pikiran liberal dan Kemisbian nilai akan senantiasa
mengalami kegelisahan hidup dan ketidaktenangan jiwa. Mereka, pada hakikatnya berada
dalam kegelapan, jauh dari cahaya kebenaran. Karena itu, mereka akan senantiasa mengejar
bayangan kebahagiaan, fatamorgana, melalui berbagai bentuk kepuasan fisik dan jasmaniah;
ibarat meminum air laut, yang tidak pernah menghilangkan rasa haus. Lihatlah kehidupan
manusia-manusia jenis ini. Simaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga mereka;
cermatilah teman-teman dekat mereka. Tidak ada kebahagiaan yang abadi dapat mereka
reguk, karena mereka sudah membuang jauh-jauh keimanan dan keyakinan akan nilai-nilai yang
abadi, kebenaran yang hakiki. Mereka tidak percaya lagi kepada wahyu Tuhan, dan menjadikan
akal dan hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan. Al-Quran sudah menggambarkan sikap manusia
pemuja nafsu ini:

"Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui
bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup
pendengaran dan hatinya, dan
meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah
Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS 45:23).

Dalam satu tayangan televisi, seorang pengacara terkenal pembela Anjasmara bersikukuh
bahwa apa yang dilakukan Anjasmara dengan foto bugilnya adalah satu bentuk seni, dan bukan
pornografi. Padahal, foto Anjasmara yang dipamerkan untuk umum di Gedung Bank Indonesia
itu jelas-jelas mempertontonkan seluruh auratnya, kecuali alat vitalnya. Apakah si pengacara itu
tidak berpikir, jika foto Anjasmara itu diganti oleh foto diri atau foto ayahnya. Apakah itu juga
seni? Jika memang masih dianggap satu bentuk seni, mengapa alat vital Anjasmara masih
ditutup dengan lingkaran putih?

Bukankah lebih indah dan ‘nyeni’ jika alat vital itu sekalian dibuka dan diberi lukisan tertentu?
Dalam tradisi Yunani, yang menjadi akar liberalisme seni di Barat, patung-patung para dewa
pun ditampilkan telanjang bulat dengan alat vital terbuka. Kenapa si pengacara itu masih
tanggung dalam memuja liberalisme? Apa landasan yang menyatakan alat vital tidak boleh
dipertontonkan di muka umum ? Jika alasannya adalah ‘tidak etis’, maka suatu ketika dan di
satu tempat tertentu, misalnya di klub-klub nudis, alat vital manusia pun wajib dipertontonkan,
karena mengikuti kehendak dan selera umum.

Dalam Islam, nilai etika bersifat permanen dan tidak berubah. Batas aurat wanita dan laki-laki
jelas. Mana dan kapan boleh diperlihatkan juga diatur dengan jelas oleh wahyu, baik melalui
ayat-ayat al-Quran maupun hadits Rasulullah saw. Karena itu, kaum Muslim sebenarnya tidak
perlu berdepat panjang tentang batasan aurat manusia, karena pedomannya sangat jelas.
Pornografi dan pornoaksi adalah aktivitas yang terkait erat dengan promosi perzinahan yang
secara keras dilarang oleh al-Quran. Karena itu, seorang dokter yang memeriksa bagian aurat
tertentu dari pasien atau mayat manusia, dengan tujuan medis, tidak masuk dalam kategori
pornografi atau pornoaksi. Ini tentu berbeda dengan Dewi Soekarno yang secara sengaja
mempublikasikan foto-foto bugilnya dalam ‘Madame de Syuga’. Berbeda juga dengan
tayangan-tayangan erotis dalam berbagai acara televisi kita sekarang ini.

Paham kebebasan atau liberalisme dalam berbagai bidang, memang sedang gencar-gencarnya
dicekokkan kepada masyarakat Indonesia. Kaum Muslim Indonesia kini dapat melihat,
bagaimana destruktif dan jahatnya paham ini. Ketika Lia Eden ditangkap, kaum liberal berteriak
memprotes. Ketika Ahmadiyah dinyatakan sebagai paham sesat oleh MUI, maka mereka pun
berteriak membela Ahmadiyah. Ketika goyang ngebor Inul dikecam, mereka pun memaki-maki
para ulama sebagai sok-moralis, sok penjaga moral dan sebagainya. Ketika film Buruan Cium
Gue (BCG) dikritik dan dikecam, mereka juga membela film itu atas nama kreativitas seni. Sekali
lagi, menurut mereka, kebebasan harus dipertahankan. Sekarang, dalam kasus RUU APP, sikap
dan posisi kaum liberal pun tampak jelas, di barisan mana mereka berdiri; di barisan al-haq atau
al-bathil.

Kita sesungguhnya perlu mengasihani pada cara berpikir kaum liberal ini. Apalagi yang sudah
tua dan ‘bau tanah’, seperti Goenawan Mohammad. Bangga dengan julukannya sebagai
budayawan, dia menulis satu artikel di Koran Tempo berjudul ‘RUU Porno: Arab atau
Indonesia’. Dia menganggap bahwa RUU APP ini akan merupakan bentuk adopsi nilai-nilai dunia
Arab, dan jika RUU ini disahkan, maka akan berdampak pada kekeringan kreativitas pada dunia
seni dan budaya.

Nama Mohammad yang ditempelkan pada Goenawan itu saja sudah mengadopsi nilai-nilai
Arab, karena kata Mohammad bukan berasal dari bahasa Jawa. Al-Quran dan hadits pun dalam
bahasa Arab. Bahkan, Nabi Muhammad saw juga orang Arab. Para sahabat Nabi pun orang
Arab. Imam Syafii juga orang Arab. Apakah karena mereka orang Arab, lalu kita tidak boleh
mengikutinya?

Kaum Muslim selama ini sudah mafhum, bahwa Islam memang agama yang diturunkan di Arab,
tetapi jelas agama ini adalah untuk memberi rahmat kepada seluruh alam. Ayat-ayat al-Quran
banyak menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh umat manusia. Bukan
hanya untuk orang Arab. Karena itulah, orang tua Goenawan Mohammad pun bangga memberi
anaknya nama ‘Mohammad’, yang jelas-jelas mengadopsi nilai Arab. Jika konsisten
memperjuangkan nilai lokal, nama Goenawan Mohammad harusnya diganti dengan ‘Goenawan
Terpuji’. Bahkan, kata ‘Goenawan’ itu pun bukan asli Jawa, melainkan impor dari India.

Masalahnya, bukan Arab atau non-Arab. Tetapi, Islam atau bukan. Benar atau salah. Itulah yang
seharusnya menjadi acuan berpikir bagi Goenawan. Setiap Muslim atau yang masih mengaku
Muslim, seharusnya memiliki pandangan hidup (worldview) Islam. Tidaklah sepatutnya jika
nilai kebenaran Islam diletakkan derajatnya di bawah unsur ‘kreativitas seni’. Jika kreativitas
seni dijadikan sebagai standar nilai, maka akan terjadi kekacauan hidup. Siapa yang
menentukan kreativitas seni itu baik atau buruk? Apakh semua kreativitas seni adalah baik?
Tentu saja tidak.

Kreativitas seni Madonna yang mempertontonkan ciuman lesbi di atas panggung dengan
Britney Spears dan Christina Aguilera, dalam pandangan Islam, jelas sangat tidak baik, dan
sangat tidak beradab, alias biadab. Tetapi, ketika itu, pada 28 Agustus 2003, di panggung
terbuka acara penganugerahan MTV Video Music Awards di Radio City Music Hall New York,
para penonton malah melakukan standing applause. Para penonton menyambut adegan jorok
itu dengan berdiri serentak dan bertepuk tangan cukup panjang. Sutradara film Guy Ritchie,
suami Madonna, malah ikut bertepuk tangan dengan wajah senang. Ia sama sekali tidak
keberatan dengan tingkah polah istrinya. Bagi penonton, tindakan Madonna dianggap sebagai
kreativitas seni. Entah bagaimana sikap pemuja liberalisme dan kreativitas seni seperti
Goenawan Mohammad andaikan dia hadir dalam acara itu.

Kreativitas seni memang penting, tetapi kebenaran nilai-nilai Islam adalah lebih penting lagi.
Sudah saatnya, kaum pemuja liberalisme seperti Goenawan Mohammad bertobat dan
mengoreksi pikirannya, ngaji lagi yang baik dan benar, sehingga tidak bangga dan takabbur
dalam kesesatan pikirannya. Ingatlah, kita semua pasti mati dan akan
mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita kepada Allah SWT. Kekuasaan dan
kepopuleran tidak akan bertahan lama. Masih ada waktu untuk bertobat. Wallahu a’lam.
SERIAL KE-7
SEKS BEBAS, DEMI KEBEBASAN
Jika faham kebebasan sekular (la diniyah/tanpa agama) sudah merasuki diri seseorang, maka
standar nilai agama menjadi tidak penting lagi. Berikut ini contoh pemuja paham kebebasan
yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Syariah di sebuah perguruan tinggi terkenal di
Semarang, seperti ia tuangkan dalam bukunya berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama,
Membangkitkan Islam Progresif (2009).

Jika penulis yang mengaku sebagai penganut ”Islam progresif” dan kini sedang mengenyam
studi doktornya di bidang antropologi politik dan agama di Boston University, Amerika Serikat,
ini secara terbuka meenghalakan praktik pergaulan bebas dan pelacuran. Berikut ini kutipan
pendapatnya:

”Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual,
persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – seperti secara eksplisit
tertuang dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau
kafir. Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks? Jika kita
mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktek ”seks bebas” atau praktek seks yang tidak
mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita
tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi
seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.

Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang
ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya
kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan
spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu.
Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh
yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman
ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi
lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda.

Paul Evdokimov dalam The Struggle with God telah menuturkan kata-kata yang indah dan
menarik: ”Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first
fall occurred in the world of angels pure spirit…”

Bahkan lebih jauh, ide tentang dosa sebetulnya adalah hal-hal yang terkait dengan sosial-
kemanusiaan bukan ritual-ketuhanan. Dalam konteks ini maka hubungan seks baru dikatakan
“berdosa” jika dilakukan dengan pemaksaan dan menyakiti (baik fisik atau non fisik) atas
pasangan kita. Seks jenis inilah yang kemudian disebut “pemerkosaan”. Kata ini tidak hanya
mengacu pada hubungan seks di luar rumah tangga tetapi juga di dalam rumah tangga itu
sendiri. Seseorang (baik laki-laki maupun perempuan) dikatakan “memperkosa” (baik dalam
rumah tangga yang sudah diikat oleh akad-nikah maupun bukan) jika ia ketika melakukan
perbuatan seks ada pihak yang tertekan, tertindas (karena mungkin diintimidasi) sehingga
menimbulkan perasaan tidak nyaman. Inilah tafsir pemerkosaan. Dalam konteks ini pula harus
ditolak sejumlah teks keislaman (apapun bentuknya) yang berisi kutukan dan laknat Tuhan
kepada birahi seks suami. Sungguh teks demikian bukan hanya bias gender tetapi sangat tidak
demokratis, dan karena itu berlawanan dengan spirit keislaman dan nilai-nilai universal Islam.

Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka,
“demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum
orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan),
dengan escort lady, call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante,
janda-janda atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu
seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor,
atau seorang dai atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi
dangdut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit
atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang
laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami
mereka?” (hal. 182-184).

*****

Jadi, begitulah pemikiran seorang pemuja progresivitas dan paham kebebasan. Nilai-nilai agama
dianggapnya tidak perlu lagi di-jadikan dasar kehidupan. Nilai-nilai sekular dianggapnya lebih
menarik untuk diterapkan. Nilai-nilai Islam dianggapnya tidak lagi mampu menjawab tantangan
zaman. Ketika itulah muncul semangat pemberontakan terhadap Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya.
Jika dalam soal keimanan saja orang berani menentang kebenaran, maka apalah lagi dalam soal
sosial. Mereka bisa saja berpikir, bahwa hubungan seks bebas yang dilakukan suka sama suka
tidaklah mengganggu orang lain. Pelacur juga melakukan transaksi sebagaimana layaknya
transaksi bisnis barang dan jasa lainnya. Nilai-nilai sakralitas keagamaan dibuang. Penis
disamakan kedudukannya dengan ku-ping. Keduanya dianggap seonggok daging, tanpa nilai-
nilai kesakralan. Jika kuping bisa dibuka, mengapa penis tidak? Maka, jika logika kebebasan
tanpa agama merasuki diri seseorang, apa pun bisa menjadi boleh. Yang penting ada
kemaslahatan dan Kemikmatan.
Na’udzubillahi min dzalika. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari paham-paham seperti ini.
SERIAL KE-8
SOLUSI TENTANG AHMADIYAH DI INDONESIA
Assalamu'alaikum wr wb,

Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang Insya Allah selalu dirahmati dan diberkahi
Allah SWT. dimanapun itu berada dimuka bumi Allah,

Salam silaturrahim dan salam sukses selalu dalam berkah Ilahi Rabbi ditempat kerja masing2.

Serial ke-8, Islam versus Liberalisme kali ini (dari 12/13 serial berlanjut),kembali ditulis khusus
artikel menarik yang Insya Allah dapat mencerahkan tentang Ahmadiyah. Dengan izin dan
ridho-Nya, Insya Allah akan dapat memperkaya pemahaman umat Islam tentang Ahmadiyah
secara historis, kesesatannya, dalih pembelaan mereka yang lemah secara ilmiah maupun
menurut prinsip worldview Islam, dan bagaimana seharusnya umat Islam Indonesia,
khususnya pemerintah Indonesia sebaiknya memberikan solusinya yang cerdas, bijaksana dan
cepat. Judul artikel yang mencerahkan tersebut adalah : (1) "Solusi tentang Ahmadiyah di
Indonesia" dan (2) "Deprivatization".

Selamat membaca, semoga bermanfaat dan semakin mencerahkan dan memantapkan


pemikiran Islam cendekiawan Islam Indonesia yang bersumber pada worldview Tauhid,
berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, Amin 3X Ya Rabbal Alamin.

Salam Perjuangan Dakwah Islamiyah

Wassalamu' alaikum wr wb,


A.Nurhono

Solusi tentang Ahmadiyah di Indonesia


Saya tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya pula bahwa ia
seorang mujaddid *pembaharu+”, tulis Ir. Soekarno dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi,
jilid 1, cetakan ke-2, Gunung Agung Jakarta, 1963, hlm. 345. Mantan Presiden RI pertama itu
bukan pertama dan bukan pula satu-satunya yang berpendapat demikian. Jauh sebelumnya,
filsuf dan pujangga terkenal Sir Muhammad Iqbal ketika ditanya oleh Jawaharlal Nehru,
Perdana Menteri India waktu itu, perihal Ahmadiyah dengan tegas menjawab bahwa wahyu
kenabian sudah final dan siapapun yang mengaku dirinya nabi penerima wahyu setelah
Muhammad saw adalah pengkhianat kepada Islam: “No revelation the denial of which entails
heresy is possible after Muhammad. He who claims such a revelation is a traitor to Islam” (Islam
and Ahmadism, cetakan Da‘wah Academy Islamabad, 1990 hlm. 8).
Iqbal menangkap banyak kemiripan antara gerakanAhmadiyah di India dengan Babiyah di Persia
(Iran), yang pendirinya juga mengklaim dapat wahyu sebagai nabi. Menurut Iqbal, tokoh-tokoh
kedua aliran sesat ini merupakan alat politik ‘belahbambu’ kolonialis Inggris -yang waktu itu
masih bercokol di India- dan wayang imperialis Russia –yang sempat menjajah Asia Tengah dan
sebagian Persia. Akidah mereka adalah ‘kepasrahan pada penguasa’ (political servility), jelas
Iqbal (hlm. 13).

Jika pemerintah Russia mengijinkan Babiyah membuka markas mereka di Ishqabad,


Turkmenistan, maka pemerintah Inggris merestui Ahmadiyah mendirikan pusat misi mereka di
Woking, wilayah tenggara England. Bag iIqbal, doktrin-doktrin Ahmadiyah hanya akan
mengembalikan orang kepada kebodohan. Inti dari Ahmadisme atau Qadianisme –demikian
Iqbal lebih suka menyebutnya- adalah rekayasa mencipta sebuah umat baru bagi nabi India
(sebagai tandingan nabi Arabia): “to carve out, from the Ummat of the Arabian Prophet, a new
ummat for the Indian prophet.”(hlm. 2).

Seorang ulama India yang paling disegani pada zamannya, Syed Abul Hasan Ali an-Nadwi telah
meneliti secara intensif dan objektif riwayat hidup Mirza Ghulam Ahmad, bagaimana MGA
berubah dari seorang santri sederhana menjadi pembela agama (1880) lalumengklaim dirinya
imam mahdi alias masihmaw‘ud (1891) dan akhirnya mengaku jadi nabi (1901). Kesimpulannya,
gerakan Ahmadiyah ini hanya menambah beban pekerjaan-rumah umat Islam, memecah-belah
mereka, dan membikin masalah umat kian rumit (Lihat: Qadianism: A Critical Study, cetakan
Lucknow 1980, hlm. 155).

Ajaran sesat Ahmadiyah dibawa masuk ke Indonesia sekitar tahun 1925 oleh beberapa pemuda
asal Sumatera yang pernah dididik di Qadian, India selama beberapa tahun.Demi menyebarkan
pahamnya, misionaris Ahmadiyah telah menerbitkan majalah “Sinar Islam” (sic!), Studi Islam
dan Fathi Islam. Keresahan yang ditimbulkan oleh gerakan penyesatan umat ini sempat
menyeret mereka beberapa kali ke dalam debat terbuka pada 1933 di Bandung (Lihat: Fawzy S.
Thaha, AhmadiyahdalamPersoalan, cetakan Singapura, 1982). Meski telah dinyatakan sesat dan
kafir (murtad) oleh tokoh-tokoh Islam pada Muktamar ke-5 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1930
di Pekalongan dan musyawarah Ulama Sumatera Timur tahun 1935 serta oleh Lajnah Radd as-
Syubuhat Madrasah Indonesia Islamiyah Mekkah yang dipimpin oleh Syekh Janan Muhammad
Tayyib asal Minangkabau, kasus Ahmadiyah kembali mencuat pada 1974 setelah parlemen
Pakistan dengan tegas menyatakan penganut Ahmadiyah bukan orang Islam (not Muslim) di
mata hokum dan undang-undang negara.

Padatahun 1980 MajelisUlama Indonesia (MUI) yang waktu itu dipimpin Buya Hamka telah pun
menetapkan bahwa aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat lagi menyesatkan, dan orang
Islam yang menganutnya adalah murtad alias keluar dari Islam
(No.05/Kep/Munas/II/MUI/1980). Ketetapan tersebut ditegaskan kembali pada bulan Juli 2005
dalam fatwa resmi MUI yang ditandatangani oleh Prof. Dr. H. Umar Shihab dan Prof. Dr. H.M.
Din Syamsuddin. Kemudian DirjenBimas Islam Departemen Agama melalui surat edarannya
tahun 1984 telah menyeru seluruh umat Islam agar mewaspadai gerakan Ahmadiyah.
Terakhir, 16 April 2008 lalu Bakorpakem (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan
Masyarakat) menyatakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai kelompok sesat dan oleh
karenanya merekomendasikan perlunya diberi peringatan keras lewat suatu keputusan
bersama Menteri Agama, JaksaAgung, dan Menteri Dalam Negeri (sesuai dengan UU No
1/PNPS/1965) agar Ahmadiyah menghentikan segala aktivitasnya. Menurut Kepala Badan
Litbang dan Diklat Depag, Atho Mudzhar, yang juga Ketua Tim Pemantau, selama tiga bulan
Bakorpakem memantau 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten. Sebanyak 35 anggota tim
pemantau bertemu 277 warga Ahmadiyah. Ternyata, ajaran Ahmadiyah masih menyimpang. Di
seluruh cabang, Mirza Ghulam Ahmad (MGA) tetap dipercayai sebagai nabi setelah Nabi
Muhammad saw. Selain itu, penganut Ahmadiyah meyakini kitab Tadzkirah sebagai kumpulan
wahyu kepada MGA.

Para penganut dan penyokong Ahmadiyah kerap berkelit dengan tiga dalih mengelirukan.

Pertama, dalih bahwa orang Ahmadiyah itu sama dengan orang Islam karena syahadat mereka
sama. Padahal, yang esensial bukanlah kesamaan, akan tetapi perbedaan. Orang Ahmadiyah itu
berbeda dengan orang Islam bukan karena syahadat atau cara ibadahnya, tetapi karena
akidahnya yang meyakini kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Sebagaimana disimpulkan
olehYohanan Friedman, peneliti dari Hebrew University of Jerusalem: “The core of Ahmadi*yah+
thought is its prophetology” (Lihat Prophecy Continous: Aspects of Ahmadi Religious Thought
and Its Medieval Background, terbitan University of California Press Berkeley 1989, hlm. 131
dan 181). Dengan begitu, Ahmadiyah tidak sama dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama
atau Persatuan Islam yang tokoh-tokohnya sejak KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan A.
Hassan tidak satupun pernah mengaku dirinya nabi.

Kedua, dalih bahwa sebagai warga negara penganut Ahmadiyah dijamin kebebasannya oleh
konstitusi, dan melarang Ahmadiyah sama dengan melanggar hak asasi manusia (HAM) dan
Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945. Di sini terselip kealpaan dan
ketidakmengertian. Alpa dan tidak paham bahwa dalam ‘menikmati’ kebebasannya setiap
warganegara wajib tunduk kepada batasan undang-undang demi terjaminnya penghormatan
atas hak dan kebebasan orang lain dan demi memenuhi tuntutan keadilan sesuai pertimbangan
moral, nilai-nilai agama, keamanan, ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Artinya, penyalahgunaan kebebasan (abuse of freedom) ataupun tindakan merusak tata susila,
agama, dan lain sebagainya walau atas nama HAM sekalipun tidak bisa dibenarkan. Apa yang
diperbuat MGA dengan Ahmadiyahnya ibarat membangun rumah baru di dalam rumah orang
lain. Yang dipersoalkan bukanlah hak dan kebebasannya mendirikan rumah, akan tetapi lokasi
(di dalam rumah orang lain) dan konsekuensinya (merusak rumah yang sedia ada). Dengan
mengakui Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi, warga Ahmadiyah telah melakukan penodaan,
penghinaan dan perusakan terhadap agama Islam, dimana tidak ada nabi dan rasul lagi pasca
wafatnya Muhammad Rasulullah saw.

Lebih dari itu, propaganda Ahmadiyah terbukti menimbulkan keresahan dan perpecahan tidak
hanya di dunia Islam, seperti temuan Dr Tony P.Chi dalam disertasinya tentang misi mereka di
Amerika (1973), hlm. 134-5: “Ahmadiyya preaching and propagation have instigated unrest and
dissension in the Muslim World.” Oleh karena itu, solusinya ialah melarang Ahmadiyah atau
mengeluarkannya dari ‘rumah Islam’. Hanya dengan jalan itu Ahmadisme dengan nabinya
(MGA) bisa bebas dan menjadi agama baru seperti halnya ajaran Mormon di Utah, Amerika.

Ketiga, dalih bahwa kaum Muslim harus mengedepankan kasih sayang daripada kekerasan
dalam menyikapi Ahmadiyah. Saran ini lebih tepat disampaikan kepada Pemerintah Amerika
dan Israel agar menunjukkan kasih-sayang dan menghentikan kekerasan (violence)terhadap
kaum Muslim di Irak dan Palestina. “Abu Bakr as-Shiddiq ra adalah orang yang paling penyayang
di kalangan umatku (arhamu ummati),” sabda Rasulullah saw. Namun manakala muncul
sekelompok orang yang durhaka kepada Allah dan Rasulullah, beliau tidak segan-segan
bertindak atas mereka. ”Muhammad utusan Allah dan orang-orang beriman bersamanya
bersikap tegas terhadap orang kafir tetapi berkasih-sayang kepada sesama,” firman Allah dalam
al-Qur’an (48:29).

Perkara Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama. Islam menjamin kebebasan setiap
individu untuk memeluk –bukan merusak- agama apapun, sesuai dengan firman Allah: ‘Tidak
ada paksaan dalam urusan agama’ (al-Baqarah 256) serta ‘Bagimu agamamu dan bagiku
agamaku’ (al-Kāfirūn 6). Ayat-ayat ini ditujukan kepada agama lain di luar Islam, bukan
terhadap agama dalam agama. Oleh karena itu, Rasulullah saw sebagai kepala negara bersikap
tegas kepada para nabi palsu semacam Musaylamah dan Tulayhah: bertobat atau diperangi
(Lihat: Imam al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, 13:109).Nah, Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya
telah durhaka kepada Allah dan RasulNya serta melukai Umat Islam. Jika statusnya Muslim,
maka sudah semestinya tunduk pada ketetapan hukum Islam yang berlaku. Namun jika
statusnya non-Muslim, maka terpulang kepada negara apakah akan mengakui dan melindungi
keberadaannya sebagai sebuah agama baru –selain Hindu, Buddha, Islam, Katholik dan
Protestan– ataukah sebaliknya.

Deprivatization

Ketika Ahmadiyah ditolak oleh umat Islam Indonesia dan ketika Saksi Jehovah ditolak oleh umat
Katholik dan Protestan, negara ikut campur menjadi wasit. Ketika gelombang penistiaan agama
menyeruak di Amerika, pemerintah negara bagian Massachusetts di Amerika Serikat
mengeluarkan undang-undang yang menghukum dan mendenda penista agama. Pada saat
Taslima Nasrin di Bangladesh menulis di koran The Statesman (tahun 1994) ”…al-Qur’an harus
direvisi secara menyeluruh” negara memfonis hukuman mati.

Empat tahun kemudian, Ghulam Akbar, menghina Nabi Muhammad dan segera dihukum mati.
Tahun 2000 kelakuan Ghulam Akbar ditiru oleh Abdul Hasnain Muhammad Yusuf Ali pengadilan
pemerintah propinsi Lahore memutuskan pun hukuman mati. Di Mesir seorang yang mengaku
Nabi langsung dihukum mati dan selesai. Disini kisah-kisah itu membuktikan peran negara
dalam menyelesaikan konflik agama mutlak perlu dan terus berjalan.
Bagi penganut sekularisme dan liberalisme kaaffah, negara tidak boleh ngurusi agama dan
sebaliknya. Ini harga mati. Sebab agama dianggap sebagai domain pribadi. Privatisasi agama
adalah sekularisasi. Sekularisasi telah menjadi tren sosial politik di Barat Eropah sejak abad
Pencerahan (1720-1880). Setengah abad yang lalu Smith (1970-76) mendeklarasikan
sekularisasi sebagai perubahan struktur dan ideologi yang sangat mendasar dalam proses
pengembangan politik dan tren global modernisasi. Acuannya adalah figur-figur ilmuwan sosial
abad 19 seperti Marx, Durkheim, Weber dsb. Jadi desakralisasi agama adalah satu paket dengan
sekularisasi dan modernisasi masyarakat.

Ketika itu memang agama telah kehilangan relevansi sosial dan politiknya. Sebab politisi dari
para pemuka agama semakin tidak cakap dan malah semakin tiranik. Kekuasaan tidak lagi
ditangan agama, tapi ilmu. Dari situlah keluar jargon knowledge is power, ilmu adalah
kekuasaan. Lebih-lebih kalangan gereja menganggap pemisahan itu hampir seperti
Kemiscayaan. Doktrin gereja itu sudah dichotomis “berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak
tuhan kepada tuhan (Luke 21-25). Ditambah lagi suasana reformasi politik Eropah pada waktu
itu begitu dominan sehingga ketegangan antara gereja dan negara adalah warna sejarah Eropah
yang kelam.

Tapi tahun 1979 setelah terjadi revolusi Iran orang baru sadar bahwa tafsir modernisasi
ternyata tidak tunggal dan kaku. Sejak saat itu agama dan politik yang sempat “talak tiga” di
Eropah dan negara-negara jajahannya, rujuk kembali. Tapi masih dalam status nikah sirri. Orang
mengakui tapi tidak berani terbuka. Tapi kenyataan sosial seperti mendorong kearah
sentralisasi agama ke ruang publik.

Orang, misalnya bertanya-tanya mengapa Perdana Menteri Inggeris, David Cameron mesti
sowan Paus Benedict ke XVI. Disitu ia mengungkapkan penyesalannya atas berkembangnya
kultur relativisme dan sekularisme di Barat. Ia juga menghargai sikap Paus yang menurutnya
telah menggugah semua negara untuk bangkit dan berfikir melawan itu.

Di Amerika tahun 60 an JF Kennedy menyatakan bahwa agama dan keyakinan Presiden adalah
urusan pribadi dan tidak bisa diberlakukan kepada bangsa dan sebaliknya. 50 tahun kemudian
senator Pennsylvania Rick Santorum menyanggahnya. Dalam kuliahnya di the University of St.
Thomas, ia tegaskan pemisahan gereja dan negara secara mutlak bukan dan tidak pernah
menjadi model Amerika. Itu hanya model yang dipakai oleh negara-negara seperti Perancis dan
Turkey, tapi tidak laku di Amerika, kecuali setelah Hakim Hugo Black melempar hal ini kedalam
wacana publik.

Jeff Haynes, professor pada Department of Politics and Modern History di University of London,
mencoba menganalisa. Ormas keagamaan menjadi aktor politik karena agama merasa
terancam oleh kebijakan-kebijakan sekuler. Fenomena ini tersebar luas dan perlu kajian secara
kasus per kasus. Konsekuensi dari intervensi itu bisa bermacam-macam. Agama terkadang
menjadi sangat berperan dalam rekayasa politik. Demokrasi di Amerika Latin dan Eropah Timur
tahun 80 an tidak lepas dari peran gereja Katholik.
Jika Jeff diminta komentar revolusi di Mesir baru-baru ini, ia pasti melihat peran agamawan
Islam maupun Kristen Coptic sangat besar. Salat Jamaah para pendemo dan doa para pemimpin
Coptic di Lapangan Tahrir adalah no comment new. Kesuksesan menumbangkan Hosni
Mubarak dirayakan dengan sujud syukur, bukan dengan minum-minum atau dansa-dansi. Disitu
agama menjadi etos kerja pendemo.

Fenomena yang disebut Jeff terjadi di Inggeris. Disana agama mulai menolak menjadi urusan
pribadi. Gereja-gereja Katholik muncul kembali membawa suara moral, sosial dan bahkan
politik. Pada tahun 1996 misalnya mereka menyebarkan pamflet berjudul The Common Good
and the Catholic Church’s Social Teaching. Pamflet itu adalah intervensi gereja terhadap konflek
antara partai Buruh dan Konservatif. Menurut klaim mereka ini adalah kekuatan spiritual agama
dan juga relevansi agama Katholik dengan demokrasi liberal, pluralisme, dan ekonomi pasar.

Memang dalam soal hubungan negara dan gereja Kristen berbeda dari Islam. Dalam Islam
masjid bukan gereja dan tidak punya otoritas. Maka, sebenarnya, menurut P. J. Vatikiotis,
(Lihat Islam and the State) apa yang dituntut gereja sebagai komunitas moral, penjaga hukum
Tuhan, institusi kependetaan dan sekaligus komunitas politik lebih cocok dituntut oleh orang
Islam. Hidup dalam worldview Islam sebagai realitas fisik adalah ekspresi kehendak Tuhan.
H. Dabashi (dalam T. Robbins & R. Robertson (eds.), Church-State Relations), bahkan tegas
menyatakan “tidak ada dalilnya dalam Islam yang memisahkan kesalehan dengan politik,
keduanya adalah perintah Tuhan. Meskipun dalam Islam otoritas agama dan politik dapat
dipisahkan menjadi dua institusi sosial yang berdiri sendiri-sendiri, namun keduanya selalu
berhuhungan. Jadi yang masih membela privatisasi agama jelas set back setengah abad atau
bahkan tiga abad. Kini agama telah berubah dari interest pribadi menjadi publik, dari urusan
institusi menjadi konstitusi. Itulah makna deprivatisasi agama yang akan terus dilawan oleh
liberalisasi dan postmodernisasi. Wallahu a’lam
SERIAL KE-9
HAM DAN KEBEBASAN
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan dan dirahmati Allah SWT.
dimanapun itu berada,

Alhamdulilah, kembali dapat ditulis seri ke-9, Islam vs Liberalisme, berjudul : "HAM dan
Kebebasan".

Selamat membaca, semoga bermanfaat, dan semakin mencerahkan dan memantapkan


pemikiran Islam para cendekiawan mujahid dakwah Muslimin dan Muslimat Indonesia yang
bersumberkan pada worldview Tauhidi berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, Amin 3X Ya
Rabbal Alamin.

Salam suksess selalu dalam ridho dan berkah Allah SWT,


Wassalamu’ alaikum wr wb,
A.Nurhono

HAM dan Kebebasan


Masih ingat Lia Eden? Perempuan ini mendakwahkan dirinya sebagai Jibril Ruhul Kudus. Lia,
yang mengaku mendapat wahyu dari Allah, pada 25 November 2007, berkirim surat kepada
sejumlah pejabat negara. Kepada Ketua Mahkamah Agung RI, Bagir Manan, Lia berkirim surat
yang bernada amarah. ”Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas
Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada
di tanganku,” tulis Lia dalam surat berkop ”God’s Kingdom: Tahta Suci Kerajaan Eden”. Jadi,
mungkin baru ada di Indonesia, ”Malaikat Jibril” berkirim surat dan ”ganti tugas” sebagai
”pencabut nyawa.”

Saat ditanya tentang status aliran semacam ini, MUI dengan tegas menyatakan, ”Itu sesat.”
Mengaku dan menyebarkan ajaran yang menyatakan bahwa seseorang telah mendapat wahyu
dari Malaikat Jibril, apalagi menjadi jelmaan Jibril adalah tindakan munkar yang wajib dicegah
dan ditanggulangi. (Kata Nabi saw: ”Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemunkaran,
maka ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubah dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan
hati. Dan itulah selemah-lemah iman”).

Tapi, gara-gara menjalankan tugas kenabian, mengeluarkan fatwa sesat terhadap kelompok Lia
Eden, Ahmadiyah, dan sejenisnya, MUI dihujani cacian. Ada yang bilang MUI tolol. Sebuah
jurnal keagamaan yang terbit di satu kampus Islam di Semarang menurunkan laporan utama:
”Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan.” Ada praktisi hukum angkat bicara di sini, ”MUI
bisa dijerat KUHP Provokator.” Sejumlah kelompok juga datang ke Komnas HAM meminta
pembubaran MUI.

Dasar mereka untuk menghujat MUI adalah HAM dan kebebasan. Bagi kaum liberal, pasal-
pasal dalam HAM dipandang sebagai hal yang suci dan harus diimani dan diaplikasikan. Dalam
soal kebebasan beragama, mereka biasanya mengacu pada pasal 18 Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia (DUHAM), yang menyatakan:

”Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpendapat, keyakinan dan agama; hak ini
termasuk kebebasan untuk mengubah agamanya atau keyakinan, dan kebebasan baik
sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan yang lain dan dalam ruang publik atau privat
untuk memanifestasikan agama dan keyakinannya dalam menghargai, memperingati,
mempraktekkan dan mengajarkan.”

Deklarasi ini sudah ditetapkan sejak tahun 1948. Para pendiri negara Indonesia juga paham
akan hal ini. Tetapi, sangatlah naif jika pasal itu kemudian dijadikan dasar pijakan untuk
membebaskan seseorang/sekelompok orang membuat tafsir agama tertentu seenaknya
sendiri. Khususnya Islam. Sebab, Islam adalah agama wahyu (revealed religion) yang telah
sempurna sejak awal (QS 5:3). Umat Islam bersepakat dalam banyak hal, termasuk dalam soal
kenabian Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Karena itu, setiap aliran yang mengaku
mempunyai nabi baru setelah Nabi Muhamamd saw, pasti dinyatakan sesat oleh kaum Muslim.
Sehebat apa pun seorang Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin
Abi Thalib, radhiyallahu ’anhum, mereka tidak terpikir sama sekali untuk mengaku menerima
wahyu dari Allah. Bahkan, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq telah bertindak tegas terhadap para
nabi palsu dan para pengikutnya.

Kebebasan beragama memang diakui oleh Islam. Tetapi, bukan berarti orang bebas sekehendak
hatinya untuk merusak agama. Kebebasan beragama tidak berarti orang boleh berbuat apa saja
dengan mengatasnamakan kebebasan, tanpa mempedulikan hukum. Pada 2009 ini, umat Islam
di Swiss pun dilarang untuk membangun menara masjid. Dasarnya, sebuah referendum
masyarakat. Kebebasan memang ada batasnya. Hak tidak bisa diaplikasikan begitu saja. Apalagi,
bagi kaum Muslim. Hak dan kebebasan dibatasi oleh aturan-aturan Allah (syariat).

Membonceng HAM
Atas nama kebebasan dan HAM, sekelompok mahasiswa Fakultas Syariah di Semarang
menyatakan dukungannya terhadap legalisasi perkawinan homoseksual dan lesbian di
Indonesia. Tahun 2004, mereka menerbitkan sebuah Jurnal dengan judul sampul yang sangat
provokatif : Indahnya Kawin Sesama Jenis. ‘’Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan
sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi
siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah
maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan,” tulis
pengantar redaksi Jurnal ini.
Judul sampul yang sama mereka pakai untuk judul sebuah buku : Indahnya Kawin Sesama Jenis:
Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang:Lembaga Studi Sosial
dan Agama/eLSA, 2005). Buku ini secara terang-terangan mendukung, dan mengajak
masyarakat untuk mengakui dan mendukung legalisisasi perkawinan homoseksual. Bahkan,
dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan
homoseksual di Indonesia. Diantaranya : (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu
dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) melakukan kritik dan
reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak
kaum homoseksual, (3) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang
mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” Buku ini diakhiri dengan sebuah
Catatan Penutup: ”Homoseksualitas dan Pernikahan Gay: Suara dari IAIN.”

Pada 11 November 2009, di satu kampus Islam di Surabaya, digelar satu seminar bertajuk
“Nikah Yes, Gay Yes!” Seminar dihadiri ratusan mahasiswa. Seorang pembicara disitu
mengungkapkan, bahwa kaum Luth diazab bukan karena kasus homoseks, tetapi karena
menghilangkan eksistensi Nabi Luth. Pendapat semacam ini juga lazim dikemukakan kaum
homoseks di lingkungan Kristen. Tapi, pendapat semacam ini pun telah banyak menuai
kecaman keras dari para tokoh Kristen.
Beberapa tahun belakangan ini, dengan membonceng isu HAM dan kebebasan, kaum liberal di
Indonesia memang sangat gencar mensosialisasikan legalisasi perkawinan homoseksual. Jurnal
Perempuan edisi Maret 2008 menurunkan edisi khusus tentang seksualitas lesbian. Seorang
profesor yang juga dosen di UIN Jakarta ditampilkan wawancaranya dengan judul: ”Allah hanya
Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia”.

Menurut sang Profesor, definisi perkawinan adalah: ”Akad yang sangat kuat (mitsaaqan
ghaliidzan) yang dilakukan secara sadar oleh dua orang untuk membentuk keluarga yang
pelaksanaannya didasarkan pada kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak.” Tapi, makna
pasangan, bagi profesor itu, boleh juga pasangan sesama jenis. Kata dia: ”Bahkan, menarik
sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan
Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender
(jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan
bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi
seksual yang beragam.”

Sang profesor geram, sebab, ungkapnya lebih jauh: ”Dalam hal orientasi seksual misalnya,
hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual
lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk
pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan jenis meski
penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang perkawinan
sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan.” Sebab, bagi sang
profesor: ”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan
memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan
orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”
Sebagai sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia kini menjadi sasaran
paham dan gerakan liberalisasi secara besar-besaran. Pada 6-9 November 2006, berkumpullah
29 pakar HAM terkemuka yang berasal dari 25 negara. Mereka berhasil merumuskan ”The
Yogyakarta Principles”, yang kemudian diundangkan secara internasional di muka sidang
Human Rights Council’s PBB di Genewa, 26 Maret 2007. Bagi para pejuang legalisasi
homoseksual, prinsip-prinsip Yogyakarta ini dianggap sebagai tonggak sejarah (milestone)
perlindungan hak-hak bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender.

Maka, jangan heran jika dengan membonceng isu HAM dan kebebasan, berbagai pemikiran dan
gerakan yang destruktif terhadap Islam dan kaum Muslim, kini sengaja diluncurkan ke tengah
masyarakat. Tentu saja, karena penegakan HAM telah menjadi program resmi dari pemerintah
RI, maka umat Islam dan para pejabat Muslim perlu lebih berhati-hati dalam memilih dan
memilah, mana ajaran-ajaran dan pemikiran yang merusak dan mana yang baik.

Lupakan Tuhan!
Meskipun tidak dinyatakan sebagai sebuah negara Islam, tetapi Indonesia adalah negara
dengan mayoritas pemeluk Islam. Keberadaan dan kehormatan agama Islam dijamin oleh
negara. Sejak lama pendiri negara ini paham akan hal ini. Bahkan, KUHP pun masih memuat
pasal-pasal tentang penodaan agama. UU No 1/PNPS/1965 yang sebelumnya merupakan
Penpres No 1/1965 juga ditetapkan untuk menjaga agama-agama yang diakui di Indonesia.

Bangsa mana pun paham, bahwa kebebasan dalam hal apa pun tidak dapat diterapkan tanpa
batas. Ada peraturan yang harus ditaati dalam menjalankan kebebasan. Seorang pengendara
motor tidak bisa berkata kepada polisi,, ”Bapak melanggar HAM, karena memaksa saya
mengenakan helm. Soal kepala saya mau pecah atau tidak, itu urusan saya. Yang penting saya
tidak mengganggu orang lain.”

Kaum Muslim yang masih memegang teguh aqidahnya, pasti akan marah membaca novel The
Stanic Verses-nya Salman Rushdie. Novel ini sangat biadab; menggambarkan sebuah komplek
pelacuran di zaman jahiliyah yang dihuni para pelacur yang diberi nama istri-istri Nabi
Muhammad saw. Bagi Islam, ini suatu penghinaan. Bagi kaum liberal, itu dianggap kebebasan
berekspresi, sehingga Salman Rushdie pun diberi penghargaan. Bagi kaum Muslim, kebebasan
berekspresi dibatasi oleh aturan-aturan Allah.

Bagi kaum liberal, kebebasan berekspresi hanya dibatasi oleh ”rasa seni” dan kondisi sosial.
Selama itu dianggap seni dan menampilkan ”keindahan”, maka itu dianggap boleh-boleh saja.
Bahkan, dengan lantangnya, ada yang berani menantang: ”Tidak ada yang berhak mengatur
tubuhku. Hanya aku yang berhak mengatur, karena ini tubuh-tubuhku sendiri!” Bagi manusia
semacam ini, keberadaan aturan-aturan Tuhan dianggap menganggu kebebasannya. Bahkan,
aturan Tuhan direkayasa, diubah-ubah, ditafsir ulang, agar cocok dengan hawa nafsunya.

Maka, supaya kebebasan hidupnya tidak terganggu, mereka mengajak agar manusia melupakan
Tuhan. Buang Tuhan dari kehidupan, supaya manusia meraih kebebasan yang sempurna. Persis
seperti apa yang dideklarasikan oleh filosof Perancis, Jean-Paul Sartre (1905-1980): ”even if God
existed, it will still necessary to reject Him, since the idea of God negates our freedom.”
(seperti dikutip Karen Armstrong dalam bukunya, History of God, 1993).
Padahal, al-Quran justru menegaskan sebaliknya: ”Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati
menjadi tenang!” Dan siapa yang mengikuti petunjuk Allah, dijamin akan hidup bahagia di
dunia dan akhirat.
SERIAL KE-10
DUHAM DI MATA PROF. HAMKA
Assalamu'alalikum wr wb,
Yth.Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahmati dan dimuliakan Allah SWT
dimanapun itu berada dimuka bumi Allah ini,

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akhbar….Dengan Sunatullah-Nya,dan kasih sayang-Nya,


Allah telah mulai mencerahkan pemikiran Islam sahabat-sahabat sekalian dengan respon2 yang
beragam simpatik dan positip, dimulai dari sikap prihatin yang sangat dalam dengan kondisi
generasi anak2 kita dan cucu-cucu dimasa depan, sikap meng-analisis secara umum penyebab
dari tumbuhnya pemikiran Liberal, Sekuler dan pluralisme, saran2 untuk kembali kepada Al-
Quran dan Asunnah dengan kesungguhan yang ekstra keras untuk mulai saat ini secara sangat
serius mendalami Islam yang benar, lurus dan kaffah, serta usulan2 simpatik bersifat praktis,
teknis jangka pendek, tentang bagaimana seharusnya gerakan dakwah Islam dalam
membendung bahaya Liberalisme, Sekelarisme dan Pluralisme di Indonesia.

Sahabat-sahabat yang dirahamati Allah SWT.,


Prof Al-Attas bersama dengan kader2nya khususnya para Phd.cendekiawan Islam dari
Indonesia, sering kali memberikan tips ringkas, praktis dan singkat, namun berat dan dapat
menjadi proyek umat Islam Indonesia (mudah2an umur kita masih diberikan oleh Allah utk ikut
berpartisipasi dalam megaproyek mulia ini), yaitu dengan membangun megaproyek “Peradaban
Islam” melalui program “Islamisasi ilmu pengetahuan” yang dimulai di level Universitas dengan
segala network dibawahnya.

Untuk kita yang sibuk, kiat praktisnya adalah dengan membangun dua kaki umat Islam
bersandarkan pada “kemampuan untuk memahami ilmu Islam secara ilmiah dan benar ,
sistimatik dan komprehensip, tentang bangunan Peradaban Islam berlandaskan “worldview
tauhidi dari Al-Qur’an dan As-Sunnah,ini disatu kakinya, dan disatu kaki lainnya berpijak pada
keharusan untuk memahami secara kritis “peradaban barat” dengan segala filsafat,
epistemology, ontology, akar-akarnya dengan segala konsekuensi (termasuk sejarahnya dari
mulai tokoh2nya, pemikiran dan pahamnya, serta bagaimana bentuknya yang sudah
berkembang di Indonesia), namun itu semuanya dilihat, dinilai, dikritisi dipahami dalam
perspektip “worldview Islam”, bukan sebaliknya atau bukan netral sama sekali,yang jika
dibiarkan bukan mustahil akan melahirkan generasi Islam yang kehilangan marwah dan harga
diri, mengalami “split personality” karena telah mengalami “confusion of knowledge”,
terkontaminasi pemikirannya dengan pemikiran “worldview barat”, yang pada akhirnya
berakibat pada “hilangnya adab” (The loss yang adab) dan pada gilirannya menghasilkan banyak
pemimpin2 yang semu dan palsu yang tidak memahami Islam yang benar, baik dari tingkat
bawah sampai tingkat atas.

Proyek dakwah Islamiyah ini di Indonesia, memang sungguh sangat berat dan kompleks,
mengingat sangat langkanya “GURU” yang otoritatip, mumpuni dan mempunyai otoritas
keilmuan yang sejati. Salah satu contohnya, ketika membangun peradaban Islam di Indonesia,
maka unsur kemampuan bahasa yang dapat akses langsung kepada kitab aslinya dari guru yang
mumpuni, adalah salah syarat wajib yang umat Islam Indonesia harus miliki.

Sebagai “lesson learnt” dan “best practice”, para Phd. murid-muridnya Prof Al-Attas lulusan
ISTAC KL, harus menguasasi paling tidak 3 sampai 4 bahasa asing, Arab, Inggris, Latin,Parsi,
bahkan seperti Dr. Syamsuddin Arif, umur 40 tahun,orang Betawi ini, hafiz yang ahli pemikiran
Islam Ibnu Sina (sekarang sedang ambil Phd kedua di Jerman Barat, yang akan mendalami
bagaimana orientalisme di Eropah/Jerman dalam menghancurkan Islam) salah satu sahabat dan
guru kami yang sangat dihormati mampu memahami 7 bahasa asing, termasuk bahasa jerman,
perancis dan Ibrani/Yahudi.Di- ISTAC, disamping memiliki banyak profesor world class yang
berjumlah lebih dari 30 orang (bahkan dulu sampai 50 prof yang ngajar di ISTAC) . Umat harus
dapat akses langsung dengan guru yang mumpumi seperti itu, bahkan buku bacaan, kitab2 yang
dibacapun harus mengarah pada kemampuan utk akses pada kitab2 yang asli tersebut, bukan
dari orientalis yang sudah bias dan memang mempunyai missi menghancurkan Islam. Dengan
cara itulah maka perlahan2, namun pasti dan sistimatis, umat islam dapat belajar dengan baik
dan benar.Contoh yang brilian, untuk memahami pemikiran Liberal prof Fazlur Rahman (Murid-
muridnya di Indonesia adalah almarhum Dr. Nurcholis Majid, Dr.Syafii Ma’arif bahkan juga
Dr.Amin Rais, dimana ketika beliau meninggal di Chicago, semua transkrip, artikel tulisan dll
yang orisinal, dibeli oleh ISTAC dan sekarang berada dalam perpustakaan ISTAC. Karya2
cendekiawan Islam jaman abad pertengahan, transkrip aslipun banyak dijumpai disini.
Karenanya sikap yang paling bijak dalam belajar islam, adalah sangat hati2lah dengan siapa kita
belajar Islam dan buku bacaan apakah yang telah mewarnai pemikiran Islam, jangan2 tanpa
disadari kita mengaku Islam, tetapi secara sengaja atau tidak pemikiran kita telah
terkontaminasi dengan pemikiran Liberal.

Karenanya, tulisan serial ke 10, kali ini mulai akan mengarah kesana untuk merekam dan
mencatat,dan menggaris bawahi prinsip2 penting dari “worldview Islam”, dalam bagaimana,
guru pakar pemikiran Islam yang sungguh sangat layak membimbing umat, khususnya
pandangan mereka bagaimana untuk membendung gerakan Liberalisasi, Sekularisasi dan
Pluralisme di Indonesia.

Rangkuman tulisan kali ini adalah merupakan pemikiran Almarhum Ulama Besar Indonesia, Prof
Hamka dan Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi (Doktor ahli pemikiran Islam Imam Al-Ghazali), yang
merupakan tulisan seri ke-10,” Islam Vs Liberalisme” , dalam satu paket berjudul : "Duham
dimata Prof.Hamka" dan “Liberalisme”

Semoga bermanfaat, dalam semakin memantapkan dan mencerahkan pemikiran Islam


cendekiawan Mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia khususnya tentang pemahaman akan
deklarasi universal HAM Sekuler Versus HAM Islam dan bahaya Liberalisme.

Salam perjuangan Dakwah Islamiyah,


Wassalam,
A.Nurhono
Duham di Mata Prof. Hamka
Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (DUHAM), yang ditetapkan PBB, pada 10 De-sember
1948, pernah dikaji secara khusus oleh ulama terkenal Prof. Dr. Hamka. Berikut ini petikan
pendapat Hamka terhadap DUHAM, yang berjudul ”Perbandingan Antara Hak-hak Asasi
Manusia Deklarasi PBB dan Islam”.

Setelah membaca pasal-pasal dalam DUHAM, Hamka sampai pada kesimpulan bahwa semua
pasal itu enak buat dibaca, meskipun anggota-anggota PBB itu sendiri masih banyak yang belum
menjalankannya. ”Tetapi ayat 1 dari pasal 16 dan pasal 18 tidak bisa saya terima,” tulis penulis
Tafsir al-Azhar ini.

Selanjutnya, Hamka menjelaskan sikapnya: ”Sebab apa saya tidak dapat menerimanya? Sebab
saya orang Islam. Yang menyebabkan saya tidak dapat menerimanya ialah karena saya jadi
orang Islam, bukanlah Islam statistik. Saya seorang Islam yang sadar, dan Islam saya pelajari dari
sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan saya berpendapat bahwa saya baru dapat
menerimanya kalau Islam ini saya tinggalkan, atau saya akui saja sebagai orang Islam, tetapi
syari’atnya tidak saya jalankan atau saya bekukan.”

Pasal 16 ayat 1 DUHAM berbunyi: “Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu
pembatasan karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan
membentuk satu keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dengan hubungan dengan
perkawinan, selama dalam perkawinan dan dalam soal perceraian”.

Menurut Hamka, dalam Syari’at Islam, pembatasan karena suku dan kebangsaan tidak ada.
Oleh karena itu hal ini sangat sesuai dengan Syari’at Islam. Sebab apabila orang telah sama
kepercayaannya dalam Islam, tergabunglah dia menjadi satu umat, yaitu umat Islam. Asal ada
persesuaian kedua belah pihak, dan halal kawin menurut agama, karena tidak ada pelanggaran
kepada ketentuan mendirikan rumah tangga. ”Tetapi tentang agama, mesti ada pembatasan,”
tegasnya. Pembatasan itu ditentukan oleh al-Qur’an dan al-Hadits.

“Seorang laki-laki pezina tidaklah boleh mengawini kecuali perempuan yang pezina pula atau
perempuan musyrik. Dan seorang perempuan pezina tidaklah boleh dinikahinya, kecuali laki-
laki pezina atau musyrik, dan haram yang demikian itu atas orang-orang beriman” (Surat 24, an-
Nuur ayat 3).

Juga dalam Surat al-Maidah ayat 51, dijelas-kan lagi: “Barangsiapa yang berfihak kepada
mereka dari kalangan kamu, Maka dia itu telah termasuk golongan mereka.”

“Tegasnya di sini bahwa Muslim yang sejati, yang dikendalikan oleh imannya, kalau hendak
mendirikan rumah tangga hendaklah dijaga kesucian budi dan kesucian kepercayaan. Orang
pezina jodohnya hanya pezina pula, orang musyrik, yaitu orang yang mempersekutukan yang
lain dengan Tuhan Allah, jodohnya hanya sama-sama musyrik pula. Di ujung ayat ditegaskan
bahwa perkawinan di antara orang yang beriman dengan orang yang musyrik atau kafir adalah
haram.”

Umar bin Khattab, Khalifah ketiga mengeluarkan ketentuan: “Laki-laki Muslim boleh kawin
dengan perempuan Nasrani, tetapi laki-laki Nasrani tidak boleh kawin dengan perempuan
Islam.” Jabir bin Abdullah, seorang sahabat Anshar, mengatakan: “Perempuan Ahlul-Kitab halal
bagi kita, dan perempuan kita haram atas mereka.” .

Meskipun laki-laki Muslim diperbolehkan menikah dengan wanita Ahli Kitab (Yahudi dan
Nasrani), tetapi menurut Hamka, penguasa Islam berhak juga campur tangan. Seorang sahabat
Nabi saw, Huzaifah bin Yaman, yang tinggal di Kaufah, menikah dengan perempuan Yahudi.
Setelah perkawinan ini didengar oleh Khalifah Umar, maka segera datang perintah beliau
kepada Huzaifah: “Ceraikan perempuan itu! Dia adalah laksana batu api neraka buat kamu!”
Lalu Huzaifah bertanya: “Apakah itu berarti haram?” Umar menjawab: ”Haram tidak, tetapi aku
takut yang engkau kawini itu perempuan lacur (Mumisat).”
Di satu riwayat lagi tersebut jawaban Umar: “Aku takut akan dikatakan oleh orang-orang yang
jahil, bahwa seorang sahabat Rasulullah Saw telah kawin dengan seorang perempuan kafir,
sedang eng-kau tinggal di negeri Majusi (Penyembah api).”

Bahkan, sahabat Rasulullah saw sendiri, yaitu Abdullah bin Umar, berpendapat bahwa Ahlul
Kitab pun pada hakekatnya juga termasuk orang musyrik. Berpegang pada QS al-Baqarah ayat
221, ia melarang orang mukmin kawin dengan perempuan musyrik. Kata Ibnu Umar:

”Saya tidak tahu lagi syirik yang lebih besar dari pada kata perempuan itu, bahwa Tuhannya
ialah Isa.”

Pasal lain yang ditolak oleh Hamka adalah hak murtad, sebagaimana disebutkan dalam pasal 18
DUHAM:
“Setiap orang mempunyai hak untuk berfikir, berperasaan dan beragama. Hak ini meliputi
kemerdekaan untuk menukar agama atau kepercayaan, dan kemerdekaan baik secara
perseorangan maupun secara golongan, secara terbuka dan tertutup, untuk memperlihatkan
agama dan kepercayaannya dengan mengerjakannya, mempraktekkannya, menyembahnya dan
meng-amalkannya.”

“Hak ini meliputi kemerdekaan untuk menukar agama atau kepercayaan. Kata-kata ini tidak
dapat diterima oleh orang Islam, sebab sangat bertentangan dengan pokok dasar dan pegangan
Agama Islam. Dalam Agama Islam, seorang yang meninggalkan Islam, sehingga tidak beragama
sama sekali, atau pindah kepada agama lain; Murtad namanya,” tulis Hamka.

Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama ini juga mengajak umat Islam agar memperhatikan QS
al-Baqarah ayat 217:
“Dan mereka akan selalu memerangimu, sampai mereka dapat memalingkan kamu dari
agama kamu, jika mereka bisa. Dan barangsiapa yang berpaling (murtad) di antara kamu
daripada agamanya, lalu dia mati, padahal dia tetap kafir, maka gugurlah amalan mereka di
dunia dan di akhirat, dan mereka itu ialah ahli neraka, yang mereka kekal di dalamnya.”

Maka, tentang DUHAM pasal 18 tersebut, Hamka memberikan nasehat:


“Bagi orang Islam menerima pasal 18 dari Hak-hak Azasi Manusia dengan tidak menghilangkan
kalimat; Hak ini meliputi kemerdekaan untuk menukar agama atau kepercayaan, berarti
mereka telah turut dengan orang yang bukan Islam yang merencanakan Hak-hak Azasi
Manusia ini, untuk meruntuhkan Islam dengan sengaja atau karena tidak tahu.”

Liberalisme
Dalam sebuah situs Katolik di Amerika, terdapat artikel berjudul The Evil of Liberalism, ditulis
oleh Judson Taylor, tokoh besar Missionaris. Artikel itu ditulis pada awal abad ke 19 (1850an),
dalam sebuah buku kumpulan essai berjudul An Old Landmark Re-Set diterbitkan ulang tahun
1856 dengan editor Elder Taylor. Di dalam pengantarnya editor situs itu menulis bahwa misi
yang disampaikan artikel itu lebih cocok untuk kita pada hari ini. Sebab perkembangan
liberalisme keagamaan, akhir-akhir ini benar-benar menakjubkan orang tapi seluruhnya
destruktif bagi kitab suci Kristen.

Makalah itu dimulai dengan pernyataan tegas “Liberalisme telah menggantikan Persecutiton”.
Persecutiton artinya panganiayaan atau pembunuhan. Dalam tradisi Kristen penganiayaan
terjadi karena adanya keyakinan yang menyimpang (heresy) dalam teologi. Artinya liberalisme
sama dengan penganiayaan. Hanya saja, lanjutnya, jika Persecution membunuh orang, tapi
menyuburkan penyebabnya, maka liberalisme membunuh sebabnya dan menyuburkan pikiran
orang. Dalam artian liberalisme memenangkan akal manusia daripada firman atau ajaran
Tuhan.

Memang dalam sejarah agama Katolik, Persecution atau yang lebih hebat lagi inquisition
merupakan alat pembela kebenaran agama. Cara ini, kata Judson Taylor, lebih disukai dari pada
daripada kompromi Kebenaran versi liberal. Kompromi kebenaran mungkin sekarang ini
menjadi relativisme yang mengakui semua benar meskipun salah satunya salah. Itupun tidak
konsisten. Dalam banyak kasus, orang liberal yakin bahwa Bible banyak masalah sedangkan
kebejatan moral zaman ini malah tidak masalah.

Judson nampaknya belum curiga pada faham nihilisme atau pluralisme pemikir liberal. Sebab
memang, ketika artikel ini ditulis, pemikiran Nietzsche masih sedang mencari bentuknya, dan
faham pluralisme agama masih belum lahir. Dalam bahasa Judson, kaum liberal lebih
cenderung permisif alias bersahabat dengan semua sekte dan kemunkaran.

Blunder yang terbesar di zaman ini, kata Judson, adalah mengakui liberalisme yang mendukung
kesesatan demi persatuan (union). Padahal persatuan (kebenaran dan kesalahan) yang
dimaksud liberal itu justru akan berakhir dengan kekacauan. Selain itu, cara berfikir liberal yang
konon netral dan rasional itu ternyata memihak juga.

Akhirnya, Judson membuat ciri-ciri liberalisme keagamaan menjadi tujuh tapi yang utama ada
enam: Pertama banyak mengingkari firman Tuhan. Kedua mengakui berbagai kesalahan di
zamannya dan juga kebenaran. Tapi lebih banyak mengakui kesalahan. Ketiga, mengakui Tuhan
hanya sebatas untuk kepentingan kemanusiaan, ketika ajaran Tuhan tidak dapat diterima maka
akal manusia dimenangkan. Keempat, tidak ada yang mutlak dan pasti tentang Tuhan. Kelima,
mempromosikan keraguan beragama yang tidak berarti. Keenam, mendukung keyakinan
keagamaan dan prakteknya yang popular.

Orang yang berfikir liberal umumnya hanya ingin menghargai pemikiran bebas. Bebas dari
kepercayaan yang dianggap membelenggu. Aroma humanisme begitu menonjol. Sebab
manusia menjadi ukuran segala sesuatu (man is a measure of everything).

Gejala liberalisme di alam pikiran Kristiani abad ke 19 itu sudah nampak jelas kesamaannya
dengan liberalisasi pemikiran Islam di dunia Islam saat ini. Pertama, Muslim liberal menggugat
al-Qur’an. Kedua Muslim liberal membela aliran sesat. Ketiga, Muslim liberal mendahulukan
akal dan kemanusiaan daripada Tuhan. Keempat, Muslim liberal mendukung faham relativisme.
Kelima, Muslim liberal mempromosikan faham skeptisisme

Ketika Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur INSISTS, memberikan ceramah pemikiran Islam di
Surabaya, seorang audien yang kebetulan muallaf tiba-tiba menyalami beliau. Ia lalu
meyakinkan para audien bahwa liberalisasi pemikiran dalam Islam tidak jauh beda dari
pengalamannya dalam Katolik. Ucapan muallaf tersebut tidak perlu banyak bukti. Cukup dari
pernyataan seorang mahasiswa liberal yang menyatakan bahwa ‘agar Islam maju, maka tirulah
Protestan’ Itulah, liberalisme yang nama dan substansinya merupakan hasil adopsi total
konsep-konsep Liberal Barat. Jika, dijustifikasi menjadi Islam Liberal maka itu berarti Islam yang
memBarat.
SERIAL KE-11
KEBEBASAN, KONSEP PENTING WORLDVIEW SEKULAR
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan dan dirahmati Allah SWT.
dimanapun itu berada,

Alhamdulilah, setelah kembali short leave ke Yogya 3 hari, kembali dapat ditulis seri ke-11,
Islam vs Liberalisme, berjudul : “Kebebasan konsep penting worldview Barat".

Selamat membaca, semoga bermanfaat, dan semakin mencerahkan dan memantapkan


pemikiran Islam para cendekiawan mujahid dakwah Muslimin dan Muslimat Indonesia yang
bersumberkan pada worldview Tauhidi berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, Amin 3X Ya
Rabbal Alamin.

Salam suksess selalu dalam ridho dan berkah Allah SWT,


Wassalamu’ alaikum wr wb,
A.Nurhono

Kebebasan, Konsep Penting Worldview Sekular


(Catatan Kunci dari Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud)

PROF. Wan Mohd Nor Wan Daud saat ini adalah Felo Peneliti Utama, Institut Alam dan
Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia. Sosoknya sebagai pakar pemikiran
Islam dikenal di berbagai belahan dunia Islam melalui karya-karyanya yang telah diterjemahkan
ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Berikut ini petikan kunci pemikiran Islam Prof.
Wan yang kami tambahi, tentang masalah ”kebebasan” dengan doktor lulusan Chicago
University yang bulan ini meluncurkan sebuah buku berjudul ”Knowledge, Language, Thought
and The Civilization of Islam: Essays in Honor of Syed Muhammad Naquib al-Attas”. Beliau
sangat layak bicara tentang Prof. Al-Attas, sebab sejak awal diberi tugas bersama Prof. aL-Attas
untuk mendirikan ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization).

Lahir di Kelantan pada 23 Desember 1955, Prof. Wan Daud menyelesaikan sarjana mudanya
jurusan Ilmu Biologi dan masternya jurusan pendidikan di Notthern Illinois University, AS. Gelar
PhD-nya diraih di The University of Chicago. Selama studi di Amerika, ia aktif dalam kegiatan
mahasiswa Islam. Ia pernah menjadi “President of the National Malaysian Islamic Study Group”
dan “President of Muslim Student Association of USA and Canada”.

Profesor ini adalah tipe orang yang mudah diajak berbincang dengan para mahasiswa. Di
kamar kerjanya sekarang, ATMA-UKM –setelah lebih lima tahun terpaksa meninggalkan
ISTAC— hampir tiap hari ia menerima tamu. Mulai dari yang memberi pertanyaan, mengadukan
masalah atau yang ingin silaturrahim untuk berdiskusi. Tamu yang datang pun bervariasi, mulai
dari profesor, doktor, mahasiswa biasa atau tokoh-tokoh ketua perhimpunan mahasiswa.
Selain banyak berdiskusi dan membimbing para mahasiswa, Prof Wan juga kini sibuk menulis.
Ia kini sedang mempersiapkan tiga buku, yang diharapkan dapat terbit tahun ini atau tahun
depan. Yaitu buku tentang tanggapan/tulisan para tokoh atau murid-murid tentang Prof
Naquib Al Attas, buku tentang aliran-aliran filsafat yang menghancurkan ilmu pengetahuan dan
buku tentang syarah ar Raniri, Aqaid an Nasafi.

Wan Mohd Nor, bisa dikatakan salah satu ilmuwan yang sempat berguru secara serius kepada
dua ilmuwan besar abad ke-20 yang berbeda secara prinsipil dalam memahami dan
mempelejari Islam, yaitu Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Fazlur Rahman bukan nama asing bagi banyak cendekiawan Muslim di Indonesia. Murid-
muridnya pun banyak dikenal luas, seperti Prof. Nurcholish Madjid dan Prof. A. Syafii Maarif. Di
Indonesia, beberapa pemikiran Fazlur Rahman sering dijadikan rujukan utama oleh para
pemikir liberal. Namanya identik dengan gerakan neo-modernisme.

Pada sisi lain, guru kedua Prof Wan yang telah berhasil mencerahkan dan memantapkan
kembali pemikiran Islam yang benar, adalah Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pemikir
Islam besar yang juga sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1970-an. Berbeda dengan Fazlur
Rahman, sosok al-Attas sudah identik dengan pemikir yang sangat kritis terhadap paham
sekularisme dan pelopor dalam gerakan Islamisasi Ilmu melalui universitas Islam internasional
di dunia Islam. Pada awal 1980-an, bukunya, “Islam and Secularism”, sudah diterbitkan di
Indonesia.

Perjumpaan Wan Mohd Nor dengan Fazlur Rahman bisa dikatakan tidak terpikirkan
sebelumnya. Setelah menamatkan program S-2 di bidang Northern Illinois University (NIU), De
Kalb, Illinois, USA, ia disarankan oleh seorang seniornya agar melanjutkan kajian Islam ke
University of Chicago. Saat itu, ia belum mengenal pemikiran Fazlur Rahman, dan belum tahu
bahwa Fazlur Rahman cukup kontroversial di Pakistan dan dikecam keras oleh para ulama dan
Jamaat Islami pimpinan Abul Ala Mawdudi, sehingga terpaksa melarikan diri ke Chicago karena
pemikiran liberalnya dalam memahami ajaran-ajaran Islam.
Sebelum berjumpa dengan Fazlur Rahman, Wan Mohd Nor sudah menjadi aktivis mahasiswa
Muslim. Setelah di Chicago pun, ia menjabat President of the Muslim Students’ Association of
US and Canada. Saat pertama menelepon Fazlur Rahman, ia ditanya tentang kemampuannya
dalam bahasa Arab. Kata-kata Fazlur Rahman yang dia ingat adalah saat ia memberikan
apresiasi terhadap karyanya Islam and Modernity. Fazlur Rahman malah balik mengingatkan:
“Muhammad Nur, you must be critical…ask what are the meaning of things.”

Di Chicago itulah, Wan Mohd Nor harus menjalani kegiatan akademik yang ketat. Kursus bahasa
Arab sampai tahap advanced, diselesaikan dalam 3 tahun. Dua tahun ia belajar bahasa Parsi.
Sempat juga ia lulus kelas intensif bahasa German dan Perancis untuk pelajar pasca-sarjana.
Kepada Fazlur Rahman, Wan Mohd Nor mengambil mata kuliah Islamic Political Thought,
Islamic Modernism, Islamic Family Law, dan Islamic Theology and Philosophy, dan juga
Readings in the Qur’an, Readings in Kitab al-Tauhid of Maturidi. Semua kursus Fazlur Rahman
hanya diikuti 7-15 mahasiswa. Malah kelas bacaan teks Sya’ir Muhammad Iqbal dalam bahasa
Parsi, yang mengambil hanya dua orang, dirinya dan Ahmad Syafi’i Maarif. Wan Mohd Nor
lulus Ph.D. dengan disertasi berjudul "The Concept of Knowledge in Islam and Its Implications
for Education in the Malaysian Context".

Meskipun sama-sama dari Malaysia, Wan Mohd Nor baru mengenal Prof.al-Attas saat ia di
Chicago. Suatu ketika, Fazlur Rahman meneleponnya, memberitahukan bahwa seorang
“prominent scholar from Malaysia, Prof SMN al-Attas” akan datang ke universitas tersebut
selama beberapa bulan untuk melakukan penyelidikan dan menggunakan perpustakaan
Regenstine. Ia diharapkan bisa membantunya. Fazlur Rahman pernah bercerita pada Wan
Mohd Nor bahwa al-Attas sebagai seorang genius.

Menurut Wan Mohd Nor, Fazlur Rahman berhasil menanamkan semangat pada sebagian
mahasiswanya untuk terus mengembangkan ilmu yang tinggi, dan menghormati para sarjana
serius. Kritikan tajam al-Attas terhadap beberapa ide Fazlur Rahman, menurutnya, dibuat
dengan rasa hormat dan bertanggungjawab, bukan kerana mengikut kebencian pribadi, atau
karena dengki.

Saat Fazlur Rahman wafat tahun 1988 itu, al-Attas meminta Wan Mohd Nor menelpon istri
Fazlur Rahman untuk menyampaikan takziah darinya dan keluarganya sambil menyatakan
ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) berminat membeli seluruh
perpustakaanya untuk memperkaya koleksi perpustakaan ISTAC dan mengekalkan nama tokoh
Pakistan ini. “Saya diutus segera ke Naperville untuk menjayakan tugas itu, yang dibantu oleh
Muhammad Zainiy yang masih di Chicago pada saat itu,” papar Wan Mohd Nor.

Paling tidak di Malaysia, selain Prof Wan, ada lagi cendekiawan Islam Malaysia lain yang sempat
belajar dengan Prof.Fazlur Rahman, yang kedua adalah Dr.Muhammad Zainiy Uthman. Yang
menarik untuk dicermati dan diambil “pelajaran” adalah bahwa hasil didikan dan pengarahan
dari Prof. Al-Attas ini telah berhasil mencerahkan kembali pemikiran Islam yang benar dari
kontaminasi pemikiran Islam liberal yang diajarkan dari pengaruh kuat gurunya Prof. Fazlur
Rahman. Simaklah apa pernyataan kedua cendekiawan Islam Malaysia tentang kedua Profesor
ini.

Pada majalah “Al-Hikmah” edisi khusus satu dekade Ultah ISTAC (Bil.2 Tahun 5 1999), dalam
artikel menarik “Dari University of Chicago ke International Institute of Islamic Thought and
Civilization (ISTAC), Dr. Muhammad Zainy Uthman merasakan bahwa apa yang diajarkan oleh
Prof Fazlur rahman di Chiocago adalah sebaliknya dari apa yang diajarkan oleh Prof. Al-Attas,
dimana disana (University of Chicago) yang diajarkan adalah "disintegrated atomistic
interpretation of Islam". Setiap profesor menekankan keilmiahan masing-masing, tanpa ada
usaha sistimatis untuk menyatu padukan komponen kunci yang satu dengan yang lainnya.
Terpulang pada mahasiswanya untu berusahan sendiri menyimpulkannya. Bahkan falsafah
sering digambarkab bertentangan dengan kalam dan tasawuf.
Falsafah dalam Islam sering digambarkan bertentangan dengan kalam dan tentunya tasawuf.
Pernah almarhum Prof. Fazlur Rahman menerangkan tentang sesuatu faham martabat wujud
yang diajukan oleh Muhy al-Din Ibn Arabi, dan beliau menyebut betapa tidak rasionalnya faham
martbat wujud ini. Kajian Abu al-Barakat Baghdadi, Musa bin Maymun, al-Farabi dan Ibnu Sina
dan tulisan beberapa tokoh falsahan lainnya dibaca dan dikaji dengan apresiasi yang tinggi akan
semangat kefalsafahan mereka. Pernah Dr. Muhammad Zainy Uthman mengambil kursus
membaca satra Parsi “Mathnavi-yi Ma’navi” karangan seorang ahli sufi Jalal al-Din al-Rumi.
Peenekanannya lebih berat pada aspek kesusateraanya yaitu gaya bahasanya, dan sedikit sekali
mendalami faham tasawufnya. Oleh karenya ia sungguh dikendalikan oleh sang
Profesor/dosen, dan bukan Islamnya.

Sehingga akibatnya yang sangat fatal adalah motif-motif kunci yang merupakan pesan penting
ke-Islamnan dalam bait-bait “Mathnavi-yi Ma’navi” ini tidak dikupas secara mendalam. Apalagi
sindiran yang dibuat oleh Rumi terhadap ilmu akal yang dikatakannya “membebankan akal”
berbeda dengan ilmu naqli yang “memperluas-dalamkan lagi dan memberikan kebebasan akal”
dan sanubari insane yang melimpahkan keyakinan insane tanpa hentinya. Contoh lain kata Dr.
Uthman, pengajian tentang moral dan akhlaq yang dibaca dalam Qabus Namah (Bahasa Parsi)
hanya menekankan pada aspek peranan budaya orang Parsi, dan bukannya dipahami sebagai
kesan pembudayaan baru natijah dari kedatangan Islam ketanah Parsi. Mendalami aliran-aliran
tafsir dengan membaca beberapa contoh tafsiran yang dibuat oleh beberapa ulama tafsir
terkenal seperti al-Qurtubi, Ibn Kathir dan al-Razi diantaranya, penekanan dibuat kepada
perbedaan tafsirannya, dan bukannya kepada kepelbagain tafsirnya yang menyatakan
kekekayaan dan keluasan faham yang tersurat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Perbedaan ini
dipahami pula sebagai ketidak seragaman dikalangan mufassirin Islam dan kononnya
menyatakan betapa Al-Qur’an itu telah berubah fahamnya dari satu zaman ke satu zaman yang
lain. Maka kajian sejaran suatu disiplin ditekannkan tetapi kebanyakan dari mereka yang
mengajar di Chicago tidak sampai atau tidak berani menyatakan apakah tafsiran Islam terhadap
suatu disiplin. Dan tentunya tidak mungkin dosen-dosen yang bukan Islam itu dapat
menyatakan pendirian Islam berkenan hal ikwal yang sedemikian dengan yakin karena mereka
tidak yakin bahwa Islam adalah al-Dien yang relevan dalam hal ilmiah, pemikiran tingkat tinggi
dalam menjawab persoalan-persoalan masa kini.

Prof. Wan sering menyampaikan kepada para mahasiswa Indonesia kandidat Phd di ISTAC,
dengan ungkapan ringkas yang menarik bahwa apa yang diajarkan tentang kajian Islam oleh
Prof. Fazlur Rahman di Chicago University adalah ibarat mengajarkan “Islam sebagai titik-titik
yang berserakan yang tidak ada hubungannya satu sama lain”. Sedangkan di ISTAC, Prof Al-
Attas mengajarkan Islam ibarat kumpulan titik-titik tersebut diikat dihimpun dalam satu
kesatuan sistimatis yang harmonis. “Islamisasi ilmu pengetahuan” dan ‘worldview tauhidi”
menjadi tema sentral dalam mengikat semua kajian Islam yang beragam. Kajian Islam, ilmu,
amal, dan adab diajarkan dan dididik sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah dalam wacana
akademik, terasa menyatu dalam satu kesatuan niat dan tujuan untuk membangun “Peradaban
Islam”. Seluruh lingkungan ISTAC bersama dengan para pengajarnya dalam melakukan
pendidikan dan pengajaran adalah sebagai usaha untuk mendalami faham Islam sebagai “Al-
Dien” yang menyatukan segala cabang ilmu yang menggambarkan satu pandangan hidup
(worldview) yang lengkap dan utuh.

Dalam edisi majalah “al-Hikmah” yang sama, Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi memberikan penjelasan
yang sangat tajam yang perlu umat Islam perhatikan secara serius bahwa pusat pengajian Islam
dibanyak negeri Barat adalah sangat kental sekali bernuansa Barat dan Orietalisme. Islam
cenderung dikaji dan dipahami secara Barat atau dibentangkan dalam perspektip yang tidak
bertentangan dengan pemikiran atau worldview Barat. Artinya aktifitas penkajian Islam di-Barat
tidaklah untuk tujuan membangun kejayaan peradaban Islam. Dalam hal inilah banyak
pengkajian Islam di Barat secara diametric bertolak belakang dengan misi dan visi ISTAC
didirikan. Di ISTAC umat Islam diajarkan bahwa pemikiran Barat khususnya tentang ‘Islam”,
tidak hanya berbeda dari pandangan Islam, tetapi bahkan “salah”.

Seluruh pengajaran Prof. Al-Attas adalah untuk mencapat tujuan yang diantaranya disebutkan
sebagai : “To conceptualize, clarify, elaborate and define Islamic key concept relecant to the
cultural, educational, scientific and epistemological problems encountered by Muslims in the
present age. To provide an Islamic response to the intellectual and cultural changes of the
modern world and various school of thought, religioin and ideology”.

Salah satu persoalan internal pemikiran Islam yang sangat serius sepanjang sejarah dan masih
berkembang sampai saat ini adalah pada kuatnya fenomena pertentangan antara pemikiran
ilmu kalam (ushulludien) dengan falsafah, tasawuf bahkan juga dengan ilmu pengetahuan
modern. Sungguh suatu pekerjaan peradaban dan keilmuan yang sangat berat atau kompleks
untuk dapat menyatukan empat disiplin itu semuanya dalam sebuah sistim framework
pendidikan dan pengajaran dakwah Islam yang kokoh ditingkat universitas. Dibawah arsitektur
pengarahan Prof. Al-Attas, di ISTAC telah berhasil dirangkum ke-empat displin pemikiran Islam
tersebut dalam bidang yang saling terkait dan intim, tanpa bercerai dan bertentangan satu
sama lain dalam bingkai integrasi komprehensip konsep "world Islam Taudi" melalui
pendekatan Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai program utamanya.

Menurut Prof.Dr. Ferid Muhic, ISTAC adalah ibarat “Alhambra di Timur”. Bahkan dalam satu
artikel di Pakistan, Javid Iqbal, anak pemikir besar Islam dari Pakistan tentang ISTAC yang
didirikan oleh Prof. Al-Attas, mengatakan bahwa idea besar Allama Muhammad Iqbal ternyata
diteruskan dan dikembangkan bukan dinegara Pakistan tetapi disebuah Negara Islam, diujung
benua Asia, di Kuala Lumpur. Idea tersebut adalah untuk mengkaji ulang pemikiran filsafat
modern Barat dengan konsep pemikiran Islam. Bahkan ISTAC bukan saja meneruskan idea besar
Iqbal, sebab ISTAC lebih besar lagi dari itu, yaitu sebuah institute yang dibentuk untuk
melanjutkan kesinambungan tradisi keilmuan yang telah terputus sejak beberapa abad yang
lampau, sejak dari Baghdad, Cordova, Melaka, Aceh, Ampel yang dikembangkan melalui sistim
pendidikan tradisional Islam yaitu sistim pondok pesantren yang lebih mengutamakan kesatu
paduan antara iman, ilmu dan akhlak (Muhammad Arifin Ismail, kandidat Phd ISTAC dalam
majalah Al-Hikmah, edisi ISTAC satu dekade).
Bertitik tolak dari uraian diatas, khususnya akan pentingnya makna konsep “worldview”, maka
pokok pokok pikiran Islam Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud pun, Insya Allah dapat dipahami
dalam menjelaskan arti dan makna “kebebasan”. Penjelasan selanjutnya akan menggambarkan
pemikiran Islam beliau tersebut.

Apa beda konsep ”Kebebasan” dalam Islam dan dalam konsep kaum Sekular?

Semua penafsiran konsep-konsep kunci dan amalan yang terlahir darinya mencerminkan
sesuatu worldview (pandangan alam). Kebebasan adalah konsep yang amat penting dalam
worldview sekuler, tetapi tidak begitu penting dalam worldview berbasis agama, terutama
agama Islam, kecuali jika worldview berbasis agama itu sudah dipengaruhi oleh worldview
sekuler.

Masalahnya, apakah kerangka atau prinsip-prinsip utama worlview sekuler ini? Berdasarkan
rumusan sarjana Barat dan seperti yang terbukti dari pengalaman kebudayaan dan tamadun
(peradaban) mereka, bisa dipahami, Pertama bagi mereka, alam jagad raya -- yaitu universe --
ini adalah satu-satu alam yang ada. Dalam pandangan mereka, jagad raya ini juga tidak
mempunyai kewujudan dan makna rohani. Tidak ada alam rohani, alam arwah, alam malakut,
jabarut. Tidak ada syurga, neraka. Cuma ada jagad raya atau universe ini; bukan saja terbatas
kepada jagad raya yang berputar mengelilingi matahari kita. Malah setiap bintang itu adalah
matahari dan pusat bagi universenya sendiri. Kononnya, hampir tak terhitung jumlahnya.
Prinsip-prinsip lain dalam pandangan alam mereka, semua terlahir dari yang pertama ini.

Kedua, dalam pandangan-alam sekular, semua nilai dianggap tidak memiliki watak sakral, suci,
dan kekal abadi. Ketiga, kegiatan dan tujuan politik hanya terbatas kepada kepentingan
kehidupan dalam dunia ini, tiada tujuan ukhrawi. Malah kegiatan keagamaan dibenarkan dan
dikembangkan untuk men-capai kesejahteraan dan kejayaan duniawi. Keempat, alat bagi
mencapai kesejahteraan dalam hidup duniawi ini hanyalah akal fikiran manusia dan saling
membantu antara mereka. Dalam konteks ini, ilmu sains, perekonomian,perubatan dan
teknologi adalah yang paling dibutuhkan.

Bagaimana peradaban Barat dapat me-miliki pandangan alam seperti itu?


Prinsip-prinsip ini disimpulkan setelah Barat melalui pengalaman yang amat me-milukan
dengan agama Kristen selama lebih seribu tahun. Pengalaman pahit ini ke-mudiannya
digeneralisasikan sebagai satu hukum tabii perkembangan manusia, seperti yang diuraikan oleh
Max Weber dan lain-lain. Maksudnya, sebelum manusia mencapai tahap evolusi intelektual dan
saintifik, me-reka amat memerlukan worldview berbasis magis, kemudian yang berbasis agama
bagi menghuraikan segala fenemona alam dan memaknakan jatuh-bangun roda kehidupan
yang tidak menentu.
Dari sini semua orang Islam yang berakal sehat, walaupun tidak berpendidikan formal tinggi,
sudah dapat memahami perbedaan mendasar antara konsep kebebasan dalam Islam dan dalam
worldview sekular. Begitu juga dengan konsep-konsep kunci lain seperti konsep pembangunan,
kepimpinan, pendidikan, kemajuan, kebahagiaan dan lain-lain.
”Kebebasan” dalam Islam ialah pelepasan dari segala ikatan rohani, akli, nafsu, dan sosial agar
manusia berupaya mencapai potensinya sebagai abid, makhluk terbaik (ahsanal taqwin),
sebagai khalifah Allah di bumi, untuk mencapai keridhaan Allah di dunia dan akhirat.
Pemahaman dan penghayatan ini adalah konsekuensi worldview Tauhidi yang menjadi prinsip
dasar dalam akidah Islam. Sedangkan ”kebebasan” dalam worldview sekuler ialah pelepasan
dari segala ikatan yang dapat menghalang manusia mencapai kesenangan dan kejayaan pribadi
dan sosial di dunia ini.

Ada yang mengatakan, bahwa negara sekuler yang netral agama lebih baik dan lebih adil
berbanding dengan negara yang berbasis satu agama?
Bergantung pada agama mana yang di-maksudkan itu. Memang terdapat keadilan dalam
pelbagai sistem bernegara, sama saja apakah negara sekular atau berbasis agama. Sejarah
penindasan terhadap wanita, terhadap Yahudi dan Islam, serta terhadap sains di Eropa,
penghancuran bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan memang lebih teruk (parah)
dalam sejarah, ketika agama Kristen mendominasi.

Tetapi, negara yang “netral agama” di Barat juga membunuh lebih banyak orang dalam
pelbagai peperangan di Eropa, terutama dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua, dalam
Perang Vietnam dan Korea, di Iraq dan Afghanistan. Begitu juga rezim Komunis yang menolak
agama, terutama di bawah Stalin, Mao Zedong dan Pol Pot melakukan pelbagai kezaliman dan
membunuh jutaan rakyat mereka sendiri. Sepanjang sejarah Islam, tidak pernah berlaku
pembunuhan atas dasar agama atau demokrasi atau negara yang begitu kejam dan berjumlah
begitu besar, walau pun memang terdapat sejumlah khalifah, sultan dan petinggi negara yang
zalim dan jahat.

Kenapa orang-orang Barat memilih untuk bernegara secara “netral”agama?


Karena pengalaman pahit mereka sendiri selama sekian lama dan dalam semua bidang
kehidupan. Malah sekarang ini pun, otoritas kaum agamawan di Eropa, AS dan Australia
semakin terancam, ketika semakin banyak orang yang diperkosa oleh petinggi gereja seperti
pendeta yang menuntut keadilan setelah sekian lama menderita batin dan ditutup oleh hirarki
gereja. Bahkan, banyak pelakunya adalah petinggi gereja yang senior. Kebanyakan korban ini
adalah anak-anak lelaki yang datang dan aktif di gereja. Orang-orang Barat yang sinis kemudian
berkata, jika kami tidak bisa mempercayakan keselamatan anak-anak kami kepada kalian, apa
jaminan kami boleh mempercayai kesejahteraan roh kami di hari akhirat melalui tuan-tuan
yang mewakili Tuhan? Sekali lagi, di kalangan petinggi agama Islam-pun ada yang korup, tetapi
kadarnya amat rendah, dan bentuknya amat berbeda. Dalam konteks Negara Cina di bawah
Mao Zedong, mereka melihat agama tradisional Cina sebagai sebab kemiskinan dan
penderitaan rakyat terbanyak dan feodalisme bangsa se-lama ribuan tahun. Pandangan mereka
itu tidak tepat seluruhnya, tetapi mempunyai alasan-alasan yang menyakinkan sebahagian
golongan cendekiawan yang serius.

Bagi kita, kaum Muslim, yang lebih penting bagi kita ialah untuk memancarkan nilai dan
worldview Islam dalam semua bi-dang kehidupan berbangsa, tetapi haruslah dihuraikan dan
diamalkan dengan bijak, adil serta moderat. Kita harus menolak extremisme dalam semua hal.
Apakah pengalaman-pengalaman sejarah orang-orang Barat itu dapat diterapkan kepada
seluruh manusia?
Kejayaan penerapan sesuatu pengalaman atau nilai asing ke dalam sesuatu budaya atau bangsa
lain, tidak semestinya bergantung kepada nilai hakiki pengalaman atau nilai itu sendiri. Ini juga
banyak bergantung kepada kekuatan pengaruh pihak pengekspor dan kelemahan dalam diri
pihak pengimpor. Apabila pihak pengekspor itu kuat pengaruh-nya, kegagalan dan kerusakan
nyata hasil dari penerapan pengalaman dan nilai yang tidak sesuai atau yang salah, tidak akan
diakui. Bahkan, kerusakan itu akan disebut sebagai tantangan-tantangan yang wajib dilalui
untuk menjadi maju dan bertamadun. Sebaliknya, karena kekuatan pihak pengekspor paham
mereka, maka potensi dan kekuatan internal pihak pengimpor, akan didiamkan. Bahkan, yang
akan dibesar-besarkan adalah kelemahan-kelemahan pihak pengimpor paham tersebut. Ini
untuk menimbulkan rasa tidak percaya diri dan ragu terhadap kekuatan-kekuatan yang telah
terbukti berjaya sekian lama.
SERIAL KE-12
KRITIK REINTERPRETASI DAN LIBERALISASI
PENAFSIRAN
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah SWT. dimanapun itu berada
dimuka bumi Allah,

Alhamdulilah kembali dapat dituliskan seri ke-12, Islam Vs Liberalisme, berjudul "Kritik
Reinterpretasi dan Liberalisasi Penafsiran" yang merupakan intisasi pemikiran Islam sahabat
dan guru kami Dr. Syamsudin Arif MA, cendekiawan langka Indonesia, satu-satu ahli pemikiran
Ibnu Sina yang saat ini menjadi dosen di UIA Malaysia, serta sedang ambil Phd kedua tentang
Orinetalisme di Jerman, sehingga beliau adalah Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt,
Jerman.

Selamat membaca, semoga semakin memantapkan keimanan dan ke-Islaman para


cendekiawan mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia daklam ikut berpartsisipasi
membangun Peradaban Islam di Indonesia, Amin 3X Ya Rabbal Alamin.

Salam Silaturrahim bersama keluarga tercinta dirumah.

Wassalamu’ alaikum wr wb,


A.Nurhono

Kritik Reinterpretasi dan Liberalisasi Penafsiran

Kalangan JIL mengatakan al-Qur’an merupakan refleksi budaya primitif. Karena itu harus
ditafsir ulang. Imam al-Ghazali mengatakan, penafsir al-Qur'an yang hanya menggunakan
akal, tempatnya neraka

Akhir-akhir ini kerap terdengar seruan perlunya penafsiran ulang alias reinterpretasi al-Qur’an
dan ajaran Islam. Alasan yang sering dikemukakan antara lain karena kitab suci ini dikatakan
merupakan refleksi dari dan reaksi terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik
masyarakat Arab Jahiliyah abad ke-7 Masehi yang primitif dan patriarkis. Karena itu, ayat-ayat
al-Qur’an yang terkesan ‘menindas’ wanita, seperti membolehkan poligami, menekankan
superioritas suami, mengatur pembagian warisan, ataupun yang terkesan tidak manusiawi
(barbarian), seperti ayat-ayat jihad/qital dan hukum pidana (hudud), seperti soal potong
tangan, qishash dan rajam, semua ini perlu ditinjau dan ditafsirkan kembali agar sesuai dengan
prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai demokrasi, perlu direinterpretasikan
agar sesuai dengan denyut nadi peradaban manusia modern yang sedang dan terus berubah.

Lebih jauh dari itu, sebagaimana diserukan oleh seorang aktivis JIL belum lama ini, Umat Islam
harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa penafsiran al-Qur’an dan ajaran Islam oleh
ulama atau golongan tertentu bukanlah yang paling benar dan mutlak. Setiap orang dan
golongan dihimbau agar menghargai hak orang dan golongan lain untuk menafsirkan al-Qur’an
dan ajaran Islam “berdasarkan sudut pandangnya sendiri”. Tulisan ini bermaksud mengkritisi
gagasan perlunya reinterpretasi al-Qur’an dan liberalisasi tafsir tersebut secara metodologis
dan epistemologis.

Kritik Metodologis

Para penyeru gagasan reinterpretasi al-Qur’an umumnya tidak menyadari bahwa apa yang
mereka kerjakan sebenarnya sangat rawan secara metodologis. Menafsirkan al-Qur’an
bukanlah perkara ringan dan sepele. Tidak sembarang orang bisa dan bebas melakukannya.
Nabi Muhammad SAW, yang kepadanya kitab suci itu diwahyukan, pernah bersabda: “Siapa
saja yang mengatakan sesuatu mengenai al-Qur’an tanpa landasan ilmu (bi-ghayri ‘ilm) atau
dengan opininya sendiri (bi-ra’yihi), maka ia telah memesan tempat duduknya di neraka” (HR
Imam Tirmidzi).

Itulah sebabnya mengapa tokoh sekaliber Abu Bakr as-Siddiq ra tidak mau banyak komentar
ketika ditanya mengenai tafsir suatu ayat. Jangankan melakukan re-interpretasi, membuat
interpretasi saja beliau tidak berani (Lihat: H. Birkeland, Old Muslim Opposition against the
Interpretation of the Koran, Oslo: Norske Videnskaps Akademi, 1955).

Apakah ini berarti kita tidak boleh menafsirkan atau menafsirkan kembali al-Qur’an?
Jawabannya tentu saja negatif. Interpretasi dan reinterpretasi dibolehkan asalkan dengan ilmu
dan tidak berdasarkan opini semata-mata. Buktinya khazanah intelektual Islam sangat kaya
dengan pelbagai kitab tafsir hasil ijtihad para ulama dari abad ke abad. Diriwayatkan bahwa
Nabi SAW pernah mendoakan Ibn ‘Abbas agar dianugrahkan ilmu untuk memahami al-Qur’an.
Memang terbukti akhirnya saudara sepupu beliau ini dikenal paling banyak tahu dan ahli dalam
menafsirkan al-Qur’an. Dalam hadis lain dikatakan bahwa al-Qur’an itu dzu wujuuh,
mengandung banyak aspek, makna, intensi, pendekatan dan sudut pandang, sehingga bisa
dipahami dan ditafsirkan macam-macam. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa setiap
lafaz dari al-Qur’an itu beraspek ganda: zahir dan batin, tersurat dan tersirat, literal dan non-
literal. Semua keterangan ini menunjukkan bahwa pada prinsipnya al-Qur’an boleh saja
ditafsirkan.

Jika menafsirkan al-Qur’an tidak dilarang, pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Apa
batasan prasyarat “harus dengan ilmu dan tidak dengan opini” dalam hadis tersebut di atas?
Kapan seseorang dianggap layak untuk menafsirkan al-Qur’an? Dan kapan suatu interpretasi
dikatakan atas dasar opini? Mengenai kualifikasi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang
mufassir, literatur ulumul Qur’an dan usul fiqih sudah cukup menjelaskannya. Untuk layak
menafsirkan al-Qur’an, anda harus menguasai bahasa Arab dan literatur hadis secara
mendalam dan komprehensif, tidak setengah-setengah atau sepotong-sepotong. Jika prasyarat
ini sudah terpenuhi, anda disarankan mengikuti prosedur yang berlaku: menafsirkan suatu ayat
dengan ayat lain, dan atau menafsirkan ayat al-Qur’an dengan Sunnah/hadis Rasulullah SAW,
dan atau menafsirkannya dengan keterangan para mufassirin dari kalangan Sahabat, Tabi‘in,
dan para ulama salaf. Demikian ditegaskan oleh Imam as-Suyuti dalam kitabnya, at Tahbir fi
‘Ilmi t-Tafsir (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hlm. 128-9.

Lalu kapan suatu interpretasi dikatakan berdasarkan opini pribadi? Menurut Imam al-Ghazali,
jenis penafsiran yang dilarang dan dikecam ada tiga :
Pertama, jika anda menafsirkan al-Qur’an dengan pendekatan linguistik dsb semata-mata,
tanpa menghiraukan keterangan hadis dan riwayat sahih.
Kedua, jika anda sengaja melompati dan menafikan tafsir literal seraya membuat tafsiran
allegoris, seperti golongan Batiniyah yang mengatakan bahwa kata-kata ‘api’ (naar) dalam QS
21:69 itu maksudnya kemarahan Raja Namrud, bukan “si jago merah”.
Ketiga, apabila sebelum menafsirkan al-Qur’an anda sudah terlebih dulu mempunyai gagasan,
teori, pemikiran, ideologi, keyakinan atau tujuan tertentu, lantas al-Qur’an anda tafsirkan
sesuai dengan dan menurut apa yang ada di kepala anda itu. Ini sama dengan meletakkan
gerbong di depan lokomotif (putting the chariot before the horse). Cara-cara menafsirkan al-
Qur’an semacam ini masuk dalam kategori tafsir dengan opini yang pelakunya diancam api
neraka, terlepas dari maksud dan niat baiknya, disadari ataupun tidak, sengaja maupun tanpa
sengaja (Lihat: Ihya’ ‘Ulumiddin, Kairo, 1967, I:378-83).

Dalam konteks ini para penyeru reinterpretasi perlu mencermati lagi dua buah hadis terkait
sebagai berikut:
“Siapa saja yang menyatakan sesuatu tentang al-Qur’an berdasarkan opininya sendiri,
kalaupun pendapatnya itu betul, maka sesungguhnya ia telah melakukan kesalahan (fa
ashaaba faqad akhtha’a)” (HR Imam Abu Dawud, no.3652),
dan kedua: “Seorang hakim yang telah melakukan ijtihad, jika kesimpulan ijtihadnya betul,
maka untuknya dua pahala. Namun jika kesimpulannya salah, maka baginya satu pahala” (HR
Imam Bukhari dan Muslim).

Keterangan Nabi SAW ini sangat logis. Yang dinilai disini bukan hanya hasilnya, tetapi juga cara
kerjanya. Jika keduanya betul, diberikan poin 2. Jika metodenya betul, walaupun hasilnya keliru,
diberikan poin 1 (dapat pahala dan tidak berdosa). Jika prosedur penafsirannya sudah salah,
meskipun kesimpulannya betul (secara kebetulan!), maka poinnya 0 (pahalanya hangus untuk
menebus kesalahannya). Apalagi jika keduanya salah, maka poinnya -2 (dosanya dua kali lipat).

Kritik Epistemologis

Persoalan mendasar yang juga luput dari wacana liberalisasi tafsir adalah seputar status dan
validitas suatu penafsiran. Ungkapan seorang pemikir liberal, misalnya, bahwa penafsiran al-
Qur’an dan ajaran Islam oleh ulama atau golongan tertentu bukanlah yang paling benar dan
mutlak, adalah pendapat yang sangat rapuh secara epistemologis. Demikian juga seruan agar
setiap orang dan golongan berani menafsirkan al-Qur’an dan ajaran Islam “berdasarkan sudut
pandangnya sendiri” serta mau menghargai hak orang dan golongan lain untuk membuat
interpretasi sendiri. Jika dicermati secara seksama, ungkapan-ungkapan semacam ini hanya
menunjukkan kerancuan berpikir (confusion intellectual) yang tak disadari (paralogism) dan
kekeliruan yang disengaja untuk mengecoh dan menyesatkan orang lain (sophism). Semuanya
lahir dari sikap skeptis dan bermuara pada relativisme epistemologis.

Memang betul, ketika menafsirkan kitab suci, kita tidak boleh mengklaim itu bahwa kita benar-
benar telah memahami maksud firman Tuhan. Tidak boleh merasa seolah-olah kita telah
menangkap maksud kata-kata Tuhan yang sebenarnya. Itulah sebabnya mengapa para ulama
salaf selalu mengakhiri fatwa dan karya mereka dengan kalimat: “Namun Tuhan lebih dan
paling mengetahui apa yang benar” (wa Allahu a‘lam bi-s shawaab). Kalimat ini sering
disalahpahami. Para ulama salaf mengatakan ini bukan karena mereka ragu-ragu atau skeptis,
bukan pula karena mereka menganut relativisme. Dalam masalah keilmuan, ulama salaf sangat
tekun, teliti dan teguh berpendirian dan berargumentasi, sebagaimana dapat dilihat dalam
literatur fiqih. Kalimat tersebut mereka ucapkan semata-mata karena ‘adab kepada Tuhan’ yang
ilmuNya meliputi segala sesuatu. Adapun dengan sesama manusia, sikap yang ditunjukkan
adalah kesanggupan menerima dan mengikuti kebenaran, dan bukan menampik atau
mempertahankan kebalikannya.

Apakah mungkin semua penafsiran harus diterima? Jawabnya tergantung, apakah penafsiran
tersebut dikemukakan oleh seorang ahli yang telah diakui kepakarannya, atau oleh seorang
mufassir amatir yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Saya lebih bisa menerima tafsir Imam
al-Qurthubi ketimbang interpretasi seorang Mernissi atau Shahrour. Seruan tokoh liberal agar
Umat Islam merelatifisir setiap penafsiran, menurut saya, adalah na’if dan tidak realistis. Na’if
karena seruan tersebut akan berbalik seperti bumerang, merelatifisir dan menggugurkan
pendapatnya sendiri (self-defeating). Tidak realistis karena pada kenyataannya memang tidak
semua penafsiran bisa diterima, dan tidak semua penafsiran harus ditolak. Penafsiran yang
dipandu oleh ideologi tertentu dan interpretasi yang dipaksakan untuk menjustifikasi suatu
kepentingan tentu sulit untuk diterima.

Gagasan liberalisasi tafsir juga tidak realistis dan perlu dicurigai. Orang yang menyeru agar
setiap orang dan golongan dibebaskan untuk membuat penafsiran sendiri sebenarnya tidak
menyadari bahwa tidak semua orang layak dan berhak melakukannya, termasuk dirinya sendiri.
Bahkan perlu dicurigai jangan-jangan seruan itu sejatinya justru tuntutan agar dirinya yang
masih belum atau tidak layak itu pun diberikan hak untuk melakukan penafsiran. Bisa
dibayangkan apa yang terjadi jika pramugari berlagak menjadi pilot. Kata peribahasa Jawa, “Aja
rumangsa bisa, ning bisa rumangsa” (jangan sok tahu, tapi tahu dirilah).
SERIAL KE-13
DIABOLISME INTELEKTUAL
Assalamu’alaikum wr wb,
Yth. Shabat muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah SWT.
Alhmadulilah dengan izin-Nya, dapat ditulis kembali seri ke- 13 Islam vs liberalism berjudul “
Diabolisme Intelektual”.

Paling tidak ada 3 alasan perjuangan dakwah Islam kenapa tulisan berseri ini dibuat untuk
sahabat-sahabat sekalian :

Pertama, Dalam pandangan “birds view” khususnya dari luar negeri Indonesia, sangat dasyat
sekali dapat dirasakan dan dipahami dalam perspektip “Gazful fikri” bahwa Indonesia oleh
hegomoni Barat telah dijadikan tempat untuk menghancurkan ajaran Islam dan umat Islam
dengan gerakan sistimatis Liberalisme, sekularisme dan pluralisme.

Kedua, Perjuangan dakwah Islamiyah harus dilakukan secara berkesinambungan, fokus dan
sistimatis dengan membekali dan mencerahkan umat dengan peluru/amunisi pokok2 pemikiran
Islam yang bernas, sehingga dapat dijadikan fondasi argumentasi ilmiah dalam menghadapi
gerakan Liberalisasi, seluarisasi dan pluralisme agama. Kumpulan serial tulisan adalah ibarat
peluru dan amunisi yang akan memperkokoh pertahanan keimanan, keislaman, ilmu, amal
shaleh dan jihad umat dalam medan perjuangan dakwah Islamiyah yang berkesinambungan
dimanapun itu berada.

Ketiga, pengalaman dilapangan para pejuang dan pendekar cendekiawan INSISTS dan lain2
ketika berdebat, berdiskusi dengan cendekiawan liberal dan sekularis, cenderung tidak banyak
menghasilkan buah yang berarti. Namun, justru lewat tulisan-tulisan berseri yang ilmiah,
berbobot, ringkas, padat dan sistimatis, ternayata lebih efektip dan efisien dalam membekali
dan mencerahkan pemikiran Islam umat.

Karenanya selamat membaca dengan serial ke-13 ini, semoga sangat bermanfaat mencerahkan
dan mengkokohkan fondasi pemikiran Islam umat berlandaskan worldview tauhidi
bersandarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Amin.

Wassalamu’ alaikum wr wb
A.Nurhono
Diabolisme Intelektual
Dalam worldview manusia pada Alqur’an (lihat Qs Al-Baqarah, 2 : 1-20) tentang gambaran tiga
tipe manusia beriman, kafir dan munafik, ternyata sangat gamblang dan terperinci sekali
dijekaskan oleh Allah SWT. Orang-orang yang beriman yang disebut juga sebagai orang yang
bertaqwa adalah manusia yang dengan baik mengenal, memahami, dan menghayati Al-Qur’an
tanpa keraguan setetespun (bahkan sangat yakin sampai tingkat haqqul yakin) dan
menggunakan Al-quran sebagi petunjuk (al-Hudan) dan pembeda (al-Furqan) antara yang haq
dan bathil dalam hidupnya. Atau dapat disebutkan bahwa orang beriman adalah orang yang
selalu secara totalitas mempunyai komitmen yang tulus-iklas, mengimani, berilmu dan beramal
shaleh pada worldview Al-qur’an dan As-Sunnah.

Selanjutnya orang beriman dalam ayat ke-3-4 surah Al-Baqarah, digambarkan memiliki ciri-ciri :
“Mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada
Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan
sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. Umat Islam yang memilki
sifat dan karakter dalam worldview seprti gambaran ini, dikelompoikkan Allah sebagai orang
yang yang mendapatkan petunjuk dan orang yang beruntung :

Artinya : “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah
orang-orang yang beruntung” (QS Al-Baqarah, 2:5).

Selanjutnya Al-Quran menggambarkan ciri-ciri orang kafir dengan gamblangnya pula, yaitu
orang yang memiliki sifat sbagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi
mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan
bagi mereka siksa yang amat berat”. (QS. Al-Baqarah, 2 : 6-7).

Yang menarik selanjutnya Al-qur’an menjelaskan sangat panjang dan terperinci ciri-ciri orang
munafik, yang digambarkan memilki sifat-sifat dalam hidupnya sebagai berikut :

(1) Manusia pembohong, "Di antara manusia ada yang mengatakan: ""Kami beriman
kepada Allah dan Hari kemudian"", padahal mereka itu sesungguhnya
bukan(pembohong/dusta) orang-orang yang beriman."(Qs. Al-Baqarah, 2 : 8).
(2) Manusia Penipu, “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada
hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”(QS. Al-Baqarah,
2 : 9).
(3) Manusia Pendusta, "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta."(Qs.Al-
Baqarah, 2:10).
(4) Manusia Perusak dimuka bumi, "Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: ""Sesungguhnya kami orang-
orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-
orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS.Al-Baqarah, 2: 11-12).
(5) Manusia yang sombong/takabur dan jahil (bodoh), “"Apabila dikatakan kepada
mereka: ""Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman"", mereka
menjawab: ""Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah
beriman?"" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi
mereka tidak tahu.”(QS.Al-Baqarah, 2:13).
(6) Manusia yang senang berolok-olok dalam aqidah tauhidi, “"Dan bila mereka
berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ""Kami telah
beriman."" Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka
mengatakan: ""Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-
olok"".(QS._Al-Baqarah, 2:14).
(7) Manusia yang terombang-ambing dalam kesesatan, “Allah akan (membalas) olok-
olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan
mereka.”(Qs.Al-Baqarah, 2:15).
(8) Manusia yang kejiawaannya dalam kegelapan, “Mereka itulah orang yang membeli
kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah
mereka mendapat petunjuk.”(QS.Al-Baqarah, 2:16).
(9) Manusia yang instrumen panca indera alat pencari kebenarannya tertutup,
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api
itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan
membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.”(QS.Al-Baqarah, 2:17).
(10) Manusia yang tuli, bisu dan buta terhadap jalan yang benar (worldview Islam),
“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang
benar).”(QS.Al-Baqarah, 2:18).
(11) Manusia yang takut akan mati, “"atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat
dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya
dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan
Allah meliputi orang-orang yang kafir."(QS,AL-Baqarah, 2:19).

Karakteristik sifat manusia kafir dan munafik tersebut diatas digambarkan dalam Al-Quran
bahwa fenomenanya, akan selalu mengikurti Sunatullah-Nya yang berada dalam ‘Iradah”-Nya
dan kekuasaan-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah, ayat 20 : “Hampir-hampir
kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka
berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah
menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya
Allah berkuasa atas segala sesuatu”.

Dalam persepsi dan konsepsi Dr. Syamsuddin Arif MA,peneliti INSISTS dan dosen UIA yang
sedang ambil Phd. kedua di Jerman,digambarkan bahwa karakateristik intelektual manusia
kafir dan munafik ini disebut sebagai manusia yang memiliki ciri “diabolisme intelektual”. Apa
maksudnya, bagaimana ciri dan karaketeristiknya, uraian detail selanjutnya akan mencoba
menjawab pengertian konsepsi “diabolisme intelektual ini”, yang tidak lain adalah seperti atau
sama dengan bercirikan/memiliki “worldview Iblis”.

Pengertian Diabolisme Intelektual

Diábolos adalah 'iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak
perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan

Diábolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery dalam bukunya the Foreign
Vocabulary of the Qur'an, cetakan Baroda 1938, hlm. 48. Maka istilah "diabolisme" berarti
pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam kitab suci al-
Qur'an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27).
Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk
bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak
mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan
tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut
'kafir'? Di sinilah letak persoalannya.

Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir
dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya
Rasulullah SAW, sebagaimana orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama
ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.

Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan
dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan
melaksanakan perintah. "Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement
and submission, " tegas Profesor Naquib al-Attas.

Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu.

Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya


hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa ?an amri rabbihi,
QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut
sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya.

Iblis adalah 'prototype' intelektual 'keblinger'. Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus
setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk
sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala
cara.

"Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh
pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga
mereka. Janjikan mereka [Kemikmatan dan keselamatan]!" Demikian difirmankan kepada Iblis
(QS 17:64).
Maka Iblis pun bertekad: "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan
kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS
7:16-17). Maksudnya, menurut Ibnu ?Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan
menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap
kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa,
ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-?Az?im, cetakan Beirut, al-
Maktabah al-?As?riyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup
diterangkan dalam al-Qur'an sebagai berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah
(6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima
kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meskipun
dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi
mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi
pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak
mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada
cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini
pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan
aqidah Islamnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-'inadiyyah
(Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-'Aqa'id,
dalam Majmu? min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba'ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans).


Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
(no.147): "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq
wa ghamtu n-nas)".

Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an atau
hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain
sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-
Qur'an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai
intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental
Iblis.

Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang
beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha'). Intelektual semacam
inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa
kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja
mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak
akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya"
(7:146).

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-
haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun
ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa
sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun
dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.
Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.

Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme
agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran
liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq,
sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut.

Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur'an
dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-
atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber
yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan
Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna
l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta'lamun?" Yang sangat mengherankan ialah
ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan
dari bahasa Ibrani 'syatan', yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon
Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur'an memang
ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain
pembangkang ('asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk
menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan
juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk
dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah'wadza), menghalang-
halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring
(ta'uzz), menyeru (yad'u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan
(zayyana lahum a'malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang
(yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya'iduhum wa yumannihim),
memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi),
menyulut konflik dan kebencian (yuqi'u l-'adawah wa l-baghda'), menganjurkan perbuatan
maksiat dan amoral (ya'mur bi l-fahsya' wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala
li l-insani-kfur).
Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan
cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya' al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan
(3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan
mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan
berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran.

Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera
diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan
repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya
yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir'aun dan ada Musa as. Muncul
Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-
Raniri, dan seterusnya.

Al-Qur'an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya


berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah
ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan
disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka" (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar
senantiasa menyadari bahwa "sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya
untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang
yang musyrik" (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh
saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu a'lam.
SERIAL KE-14
MAKNA LIBERALISME, BEBAS DARI TUHAN
Assalamu'alaikum wr wb,

Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahmati dan diberkahi Allah SWT.
dimanapun itu berada dimuka bumi Allah ini,

Disampaikan salam silaturrahim, dengan iringan do'a semoga kesehatan lahir bathin, dan
berbagai macam kemudahan disertai dengan anugerah rezeki yang berkecukupan penuh
dengan taburan nilai2 berkah dan rahmat-Nya selalu menyertai kita bersama dengan semua
anggota keluarga tercinta dirumah tanpa terkecuali dimanapun itu berada, Amin3X Ya Rabbal
Alamin.

Alhamdulilah dengan izin dan ridho-Nya, kembali dapat dituliskan serial ke-14, Islam vs
Liberalisme, berjudul : "Makna Kebebasan, Bebas dari Tuhan", kajian khususnya dilihat dari akar
sejarah awal munculnya istilah Liberalisme dan bagaimana pengaruhnya dalam berbagai aspek
kehidupan didunia, bahkan sampai saat ini di Indonesia.

Selamat membaca, semoga semakin memantapkan dan mencerahkan keimanan, keIslaman,ke-


taqwaan, ilmu dan amal shaleh kita yang diridhoi-Nya, yang Insya Allah akan menghantarkan
turunkan berkah dan rahmat kepada kita sekeluarga, sahabat-sahabat semuanya dan umat
Islam Indonesia, Amin.

Wassalamu’alaikum wr wb,
A.Nurhono

"MAKNA LIBERALISME, BEBAS DARI TUHAN"

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya,
dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah
yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa
kamu tidak mengambil pelajaran?
"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati
dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali
tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
(QS.Al-Jatshiyyah, 45 : 23-24)

“But what is liberty without wisdom, and without virtual ? It is the greatest of all possible
evils; for it is folly, vice and madness, without tuition or restraint “ (Edmund Burke).

Dengan terbitnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Juli 2005, terdengar suara-suara
sumbang yang mempersoalkan definisi liberalisme. Muncul tuduhan bahwa MUI tidak
memahami apa arti liberalism. Istlah “liberalism” berasal dari bahasa latin “liber”,yang artinya
bebas atau merdeka. Hingga penghujung abad ke-18 Masehi, istilah ini terkait erat dengan
konsep manusia merdeka, bias merdeka semenjak lahir ataupun merdeka setelah dibebaskan ,
yakni mantan budak (freeman). Dari sinilah kemudian muncul istilah “liberal arts” yang berarti
ilmu yang berguna bagi dan sepatutnya dimiliki oleh setiap manusia merdeka, yaitu ilmu
aritmetika, geometri, astronomi dan music (quadrivium) sert gramatika, logika dan retorika
(trivium).

Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk pada motto Revolusi Perancis 1789 – Kebebasan,
kesetaraan, persaudaraan (liberte, egalite, fraternite) sebagai piagam agung (magna charta)
liberalisme modern. Sebagaimana diungkapkan oleh H.Gruber, prinsip liberalisme yang paling
mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas - apapun namanya – adalah
bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia – yakni otoritas yang
akarnya, aturannya, ukurannya dan ketetapannya ada diluar dirinya (it is contrary to the
natural, innate, and inalienable right and liberty and dignity of man, to subject himself to an
authority, the root, rule, measure and sanction of which is not in himself). Disini kita mencium
bau sophisme dan relativisme ala falsafah Protagoras yang mengajarkan bahwa “manusia
adalah ukuran dari segalanya” – sebuah doktrin yang kemudian dirayakan oleh para penganut
nihilisme semacam Nietzsche.

Di Eropa, semangat liberalisme sudah muncul sejak masa renaissance (Perancis); berasal dari
kata “rinascita” (bahasa Italia) yang artinya: kelahiran kembali. Mulanya, istilah ini dikenalkan
pertama kali oleh Giorgio Vasari pada abad ke-16 untuk menggambarkan semangat kesenian
Italia mulai abad ke-14 sampai ke-16. Menurut Jacob Buchard, Renaissance, bukan sekedar
kelahiran kembali kebudayaan Romawi dan Yunani kuno tetapi juga kebangkitan kesadaran
manusia sebagai individu yang rasional, sebagi pribadi yang otonom, yang mempumyai
kehendak bebas dan tanggung jawab.

Sebagai anak kandung Humanisme dan Reformasi abad ke-15 dan ke-16, liberalisme telah
dikembangkan oleh para pemikir dan cendekiawan di Inggris (Locke dan Hume), di Perancis
(Rousseau dan Diderot) dan di jerman (Lessing dan Kant). Gagasan ini banyak diminati oleh elit
terpelajar dan bangsawan yang menyukai kebebasan berpikir tanpa batas. Sebagaimana
dinyatakan oleh Germaine de Stael dalam karyanya “Consideration sur les principaux
evenements de la Revolution francaise” (1818), kaum liberal menuntut kebebasan individu
yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan
hak-hak istimewa gereja maupun raja.

Adalah John Lock (1632-1704 M) yang sering dipandang sebagai Bapak Liberalisme karena
berperan penting dalam pengembangan filsafat liberal. Locke secara sepadu memerikan
beberapa asas dasar pergerakan liberal di awal mulanya, seperti hak kepemilikan pribadi dan
persetujuan dari orang yang diperintah. Pembangun tradisi filsafat liberalisme ini menggunakan
konsep hak alamiah dan kontrak sosial untuk menyatakan bahwa aturan hukum seharusnya
menggantikan pemerintahan autokratik, bahwa pengatur menjadi ada di bawah persetujuan
yang diatur, dan bahwa individu sebagai pribadi memiliki hak mendasar untuk hidup, bebas,
dan berkepemilikan.

Dasar dari konsep konsep Kontrak Sosial adalah dakwaan bahwa manusia secara alamiah
bersifat bebas dan setara (lihat Two Treatises of Government). Hal ini menjadi dasar
pembenaran dalam memahami pengesahan pemerintahan politik sebagai hasil kontrak sosial.
Sifat bebas dan setara yang dimiliki manusia sejak awal kehidupannya, memberikannya hak
"suara" dalam pendirian suatu pemerintahan. Pemerintahan bertujuan utama untuk
melindungi hak-hak manusia seperti hak hidup, kebebasan, dan kepemilikan.

Setelah John Locke, John Stuart Mill (1806-1873 M) dikenal juga sebagai seorang pemikir besar
liberal yang juga sangat berpengaruh. Laki-laki kelahiran Pentonville ini melanjutkan filsafat
utilitarianisme Jeremy Bentham. Hanya saja kekhasan Mill terletak pada konsep asas
kemanfaatan (utility) dalam bingkai liberalisme. Gagasannya jelas memiliki kesamaan dalam
penekanan tentang kebebasan individu. Hanya saja, kebebasan bukanlah sebuah tujuan akhir,
melainkan sebuah sarana. Tujuan kebebasan dan tindakan insan adalah manfaat, baik kualitatif
dan kuantitatif. Dan manfaat akan mengantarkan kepada kebahagiaan.

Tindakan manusia tidak hanya sesuatu yang tanpa tujuan. Sebab, jika demikian maka tindakan
seseorang menjadi tidak bermakna. Manfaat, sebagai tujuan tindakan, dilihat dari hasrat
seseorang dan terdapat kriteria objektif yang mendasarkan dirinya pada nilai kemanfaatannya
bagi manusia — khususnya bagi keseluruhan manusia.

Penekanan Mill terhadap aspek individualitas dari individu merupakan alasan terpenting
keberadaan sebuah lembaga apa pun, termasuk pemerintah. Karena individualitas adalah
susunan utama dari kebahagiaan manusia yang harus dijamin pemerintah. Jika tidak, maka
pemerintah tersebut harus diganti. Maka, kebebasan adalah hak manusia yang mendasar. Dari
kebebasan inilah akan muncul kreativitas dan kemajuan sosial serta intelektual.
Dizaman Pencerahan (Enlightenment), kaum intelektual dan politisi Eropa menggunakan istilah
liberal untuk membedakan diri mereka dari kelompok lain. Sebagai ajektip (kata sifat), kata
“liberal” dipakai untuk menunjukkan sikap anti feudal, anti kemapanan, rasional, bebas,
merdeka (independent), berpikiran luas lagi terbuka (open-minded) dan, oleh karena itu hebat
(magnanimous).
Dalam ranah politik, liberalism dimaknai sebagai sistim dan kecenderungan yang berlawanan
dengan dan menentang “mati-matian” sentralisasi dan absolute kekuasaan. Munculnya
republik-republik menggantikan kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari paham liberalisme
ini. Sementara dibidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistim pasar bebas dimana
intervensi pemerintah dalam perekomian dibatasi, jika tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal
ini dan pada batasan tertentu, liberalisme identik dengan kapitalisme.

Diwilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita,penyetaraan gender, pupusnya kontrol


sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan. Biarkan wanita menentukan
nasibnya sendiri, sebab tak seorangpun kini berhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya
untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini dan
mengamalkan apa saja, sesuai dengan kecenderungan, kehendak, dan selera masing-masing.
Bahkan lebih jauh dari itu, liberalism mereduksi agama menjadi urusan pribadi. Artinya, konsep
amar ma’ruh maupun nahy mungkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap
bertentantangan dengan semangat liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang
berzina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar sula sama suka, menurut prinsip
ini. Karena menggusur peran agama adan otoritas wahyu atau Tuhan dari wilayah politik,
ekonomi, maupun social, maka tidak salah jika liberalism dipadankan dengan sekularisme
karena orientasi utamanyanya memang pada materi dan dunia sentries semata. Inilah yang
konon disebut sebagai “prototipe manusia modern” (Ferguson, 1948: 194). Manusia modern
adalah manusia yang sanggup dan mempunyai keberanian untuk memandang dirinya sebagai
pusat alam semesta (antroposentris) dan bukan Tuhan sebagai pusatnya (teosentris).

Manusia modern tidak lagi berpegang pada prinsip memento mori (ingatlah bahwa engkau
akan mati) tetapi diganti dengan semboyan carpe diem (nikmatilah kesenangan hidup). Kata
mereka: “Man can do all thing if they will” (Manusia dapat mengerjakan apa saja, asalkan
mereka mau). (Tentang Renaissance dan manusia modern, lihat, Sutarjo Adisusilo, Sejarah
Pemikiran Barat, (Yogyakarta: Universitas Sanata Darma, 2007).

Pada awal sejarahnya, liberalisme hanya berkembang dikalangan Protestan saja. Namun
belekangan wabah liberalisme menyebar dikalangan Katholik juga. Tokoh-tokoh Kristen Liberal
semacam Benjamin Constant antara lain menginginkan agar pola hubungan antara institusi
Gereja, Pemerintah, dan masyarakat ditinjau ulang dan diatur lagi. Mereka juga menuntut
reformasi terhadap doktrin-doktrin dan disiplin yang dibuat oleh pihak Gereja Katholik di Roma,
agar disesuaikan dengan semangat zaman yang sedang dan terus berubah, agar sejalan dengan
prinsip-prinsip liberal dan tidak bertentangan dengan sains yang meskipun anti-Tuhan namun
dianggap benar.

Secara umum, yang dikehendaki ialah kebebasan bagi siapa saja yang menafsirkan ajaran
agama dan kitab sucinya, ketidak terikatan dengan aturan maupun keputusan-keputusan yang
dikeluarkan pihak Gereja, pengakuan otoritas pemerintah vis-à-vis otoritas Gereja, dan
penghapusan sistem kependetaan (clericalism). Inilah yang kemudian dikecam oleh Paus Pius
IX, Leo XIII dan Pius X. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini mereka sebut “modernisme”
(Lihat “Jean Reville, Liberal Christianity, London, 1903, Georges Weill, “Historire de Catholicisme
liberal en France”, 1828-1908, Paris, 1909; dan Oreste A. Brownson, “Conservation on
liberalism and the Church”, New York, 1869).

Didunia Islam, virus Liberalisme juga berhasil masuk kekalangan cendekiawan yang konon
dianggap sebagai “pembaharu” (mujaddid). Mereka yang menjadi liberal antara lain : Rifa’ah at-
Tahtawi (1801-1873), Qasim Amin (1863-1908M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966M) dari Mesir,
dan Sayyid Ahmad Khan (1817-1898M) dari India. Dia abad kedua puluh muncul pemikir-
pemikir yang juga tidak kalah liberal seperti Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid
Abu Zayd, Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutnya di Indonesia (Lihat : Albert Hourani,
Arabic Thought in the Liberal Age, London Oxford Press,1962; Charles Kurzman, “Liberal Islam :
A source Book” , New York, oxford University Press, 1998; dan Greg Barton, “Gagasan Islam
Liberal di Indonesia”, Jakarta Yayasan Paramadina, 1999). Perkembangan Liberalisme di
Indonesia dengan tokoh dan para pengkutnya serta bahayanya yang ditimbulkan, dapat dilihat
nantinya pada kajian berjudul “Membendung Liberalisme di Indonesia”.

Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu sebenarnya kurang lebih sama
saja. Ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, Al-Qur’an dan Al-Hadits
mesti dikritisi dan ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan
sebagainya, perlu dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama dan
bernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berlandaskan hak asasi manusia,
pluralisme dan lain-lain. Pendek kata, meminjam ungkapan Binder (Dalam Islamic Liberalism,
Chicago, University of Chicago Press, 1988), “Liberalism treats religion as opinion and, therefore
tolerates diversity in precisely those realism that tradition belief insists upon without
equivocation.” Maka wajarlah jika kemudian ia menilai bahwa, “Islam and liberalism appear to
be in contradiction”.

Dari uraian ringkas diatas dapat kita simpulkan bahwa paham liberalisme, paling tidak
mencakup tiga hal. Pertama, kebebasan berpikir tanpa batas alias “free thinking”. Kedua,
senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias “sophisme”. Dan Ketiga, sikap longgar dan
semena-mena dalam beragama (loose adherence to and free exercise of religion).

Yang pertama berarti kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja. “Berpikir kok dilarang”,
ujar golongan ini. Yang kedua lebih dikenal dengan istilah “sufasta’iyyah”, yang terdiri dari
skeptisisme, agnostisisme dan relativisme. Sementara yang disebut terakhir tidak lain dan tidak
bukan adalah manifestasi “nifaq”, dimana seseorang tidak mau dikatakan kafir walaupun
dirinya sudah tidak “committed” lagi pada ajaran agama.

Selain itu, Jika ditelaah secara mendasar dapat ditambahkan pesan kunci penting bahwa para
pemikir liberal sejatinya berawal dari trauma terhadap “Tuhan” dan aturan-aturan agama yang
pernah mendominasi masyarakat Barat di zaman Pertengahan. Mereka berpikir, dengan
membuang Tuhan dalam kebebasan mereka, maka mereka akan merasakan kebahagiaan, yang
tak lain adalah kebebasan. Karena itu, tak heran, jika filosof terkenal Perancis, Jean-Paul Sartre
(1905-1980 M) memekikkan slogan yang menolak eksistensi Tuhan. Sebab, ide tentang Tuhan
membatasi kebebasan manusia: “even if God existed, it will still necessary to reject him, since
the idea of God negates our freedom.” (Karen Armstrong, History of God, 1993). Padahal
sejatinya mereka justru mereka mengalami kehidupan yang bermuatan tragedi penderitaan,
kesengsaraan, kesesatan dan kegelapan hidup didunia akibat dari kezaliman dan kebodohan
mereka, sebagaimana Allah informasikan dalam QS.At-Taha, surah 20 ayat 124 : "Dan barang
siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
SERIAL KE-15
PEMIKIRAN LIBERAL DI DUNIA ARAB
Assalamu'alaikum wr wb
Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan muslimat yang Insya Allah selalu dimuliakan dan dirahmati
Allah SWT.dimanapun itu berada dimuka bumi Allah ini,

Alhamdulilah, kembali dapat dituliskan serial ke-15 Islam versus Liberalisme berjudul
"Pemikiran Liberal di Dunia Arab", yang merupakan intisari dari pemikiran Islam Dr. Dirwan
Syafrin, Phd Istac ahli pemikiran Liberal Arab Al-Jabiri Maroko yang sudah meninggal saat thesis
tentang beliau ditulis.

Tulisan ini untuk melengkapi kajian dan pemahaman bahwa berkembangnya pemikiran liberal
tidak hanya dipelopori di dan dari dunia barat, tetapi ternyata juga sudah merembet ke dunia
Arab sebagai pelanjut dan pengikut setia paham liberal ini. Bahkan murid dan pengikut
setianyapun telah menggunakan rujukan terhadap tokoh liberal Arab ini.

Semoga bermanfaat dalam membantu dan memetakan persoalan yang sedang berkembang
akhir-akhir ini, serta dapat mencerahkan pemikiran Islam cendekiawan mujahid Muslimin dan
Muslimat Indonesia untuk dengan penuh kesadaran iman-ilmu-amaldan jihad untuk
membangun peradaban Islam, dan worldview Islam berlandaskan tauhid, dimulai dari "ibda'
binafsih" diri kita masing-masing, keluarga, warga kantor dan semakin luas kepada masyarakat
dan bangsa Indonesia.

Catatan : Bagi sahabat-sahabat seperjuangan di Chevron Jakarta, perlu diketahui bahwa beliau,
Dr.Nirwan Syafrin, sekarang ini memimpin untuk mengelola Pesantren Husnayain di
Sukabumi, dekat dengan Pusat Geothermal Chevron di Sukabumi…disana, kami yakin sahabat-
sahabat sekalian sudah sangat akrab dengan beliau…tetapi untuk di-Jakarta tampaknya suatu
saatpun patut mengundang beliau untuk mengisi siraman rohani. Beliaulah pula yang
memberikan pesan perjuangan kepada kawan muslimin dan muslimat IATMI –KL, bahwa medan
perjuangan yang sesungguhnya sangat berat adalah di Indonesia, di ISTAC KL, kita kumpulkan
peluru atau amunisi untuk berjuang secara sistematik melawan liberalisasi, sekulariasi dan
pluralisme agama ketika kita kembali atau kita kirimkan terus dari KL dengan pemikiran Islam
yang mencerahkan.

Semangat untuk memantapkan pemikiran Islam umat ini juga diilhami oleh pendapat
Almarhum Mujahid Besar Prof. Dr. Ismail Faruqi, ketika masih sering ikut membangun ISTAC
bersama dengan Prof. Dr.Al-Attas, yang mengatakan bahwa andaikata saya tahu Indonesia
“Gazful Fikri” (Perang pemikiran) nya akan se-dasyat ini dihancurkan Islam dan umat Islam
secara sistimatis dengan gerakan liberalisasi, sekularisasi dan pluralisme agama, maka tentunya
saya akan sering berkunjung dan mencerahkan umat Islam Indonesia. Prof. Ismail faruqi sudah
tidak tahu, dan belum diberi kesempatan Allah untuk mencerahkan umat Islam Indonesia,
namun melalui murid-murid terbaiknya, didikan Prof al-Attas di ISTAC, di Indonesia, secara
perlahan-lahan namun pasti mulai merintis gerakan perlawan sistimatis tersebut melanjutkan
cita2 mulia, merintis membangun megaproyek peradaban Islam Indonesia, melalui INSISTS,
majalah ISLAMIA, mengisi sebulan sekali satu halaman penuh di republika, dan mulai mengsi
dibeberap Universitas terkenal di Indonesia. Proyek Universitas Islam anatar bangsa semacam
ICTAC ke-tiga didunia Islam di Indonesia, antara Depok dan Bogorpun sudah diletakkan dan
dirintis untuk dibangun.

Sahabat-sahabat sekalian, tahukah kita bahwa ternyata mur Imam Al-Ghazali hanya berakhir
pada usia 55 tahun, namun karyanya dan sumbangannya untuk kejayaan dan kemualiaan Islam
dan umat islam,Ssubhanallah, Allahu Akbar, luar biasa…sejak dulu sampai saat ini kitab2 nya
terus dibaca, dipahami dan diamalkan oleh umat islam diseluruh pelosok dunia. Prof Al-attas,
yang salah satu pakar dunia tentang Imam Al-Ghazali, alahamdulilah telah melahirkan kader
terbaiknya pakar Imam Ghazali muda, Dr. Hamid Fahmy zarkasyi. Namun, untuk kita semuanya,
tanpa terkecuali, apakah yang sudah kita kita lakukan untuk kejayan dan kemuliaan
Islam…sudah siapkah kita menyambut panggilan Allah jika saatnya tiba dalam waktu dekat
ini….sebagaimana contohnya kawan kami di IATMI-KL, kakanya yang baru saja berumur 41
tahun, dipanggil oleh Allah. Karenanya, Marilah kita isi sisa-sisa hidup kita yang semakin dekat
dengan liang kubur, dengan banyak beramal sholeh dengan amal shaleh dengan karya kita yang
terbaik yang kita miliki, untuk kejayaan dan kemuliaan Islam dan umat Islam…dengan motip
dan alasan utama, semata-mata karena Allah SWT.

Salam Perjuangan Dakwah Islamiyah.

Wassalamu' alaikum wr wb,


A.Nurhono

Pemikiran Liberal di Dunia Arab

Abad ke 18 bagi dunia Islam merupakan abad kejatuhan dan keterpurukan. Saat itu banyak
teritori dunia Islam yang jatuh ke tangan Kolonial Eropa. Tahun 1774, di bawah perjanjian
Kuchuk Kainarja, Daulah Utsmaniyyah terpaksa melepaskan beberapa teritorinya kepada Rusia.
Dan keadaan menjadi parah ketika Napoleon berhasil melakukan invasi militer ke Mesir pada
tahun 1798. Menjelang abad 20, banyak dunia Islam yang sudah berada di bawah kontrol
negara asing alias dijajah.

Peristiwa ini telah mendorong intelektual Muslim Rifa’ah Tahtawi, Jamal al-Din al-Afghani,
Muhammad ‘Abduh, di Timur Tengah; Syed Ahmad Khan dan Syed Amir Ali di benua India untuk
melakukan pembenahan. Mereka ini lalu disusul oleh generasi baru yang dinilai orang dengan
berbagai sebutan, seperti pembaharuan (tajdid), modernisasi, sekularisasi, dan bahkan
liberalisasi. Albert Hourani, misalnya, menyebut rentang waktu 1798-1939 sebagai Abad
Kebebasan (Liberal Age) dalam Islam. Namun, masalahnya apakah gerakan ini dapat disebut
gerakan tajdid yakni pembaharuan pemikiran seperti dalam tradisi intelektual Islam atau
liberalisasi seperti yang terjadi di Barat, hal ini memerlukan penjelasan.

Berbentuk Kritik
Secara historis upaya pembenahan yang dilakukan generasi Abduh ternyata tidak menghasilkan
buah seperti yang diinginkan. Sebab setelah berjalan selama seratus lima puluh tahun (pada
Juni 1967) dunia Arab justru harus tunduk malu menanggung kekalahan dari sebuah negara
yang baru saja berdiri ketika itu, Israel.

Sadiq Jalal al-‘Azm menyebut peristiwa itu seperti halilintar di siang bolong yang telah
mengubah orientasi karir intelektualnya. Dalam salah satu wawancara dia pernah mengatakan
“I found myself suddenly preoccupied with writing about and debating direct political questions
which I never dreamed would be a concern of mine.” (di interview oleh Ghada Talhami, Arab
Studies Quarterly, Summer 1996). Namun, dari peristiwa politik ini respon yang muncul justru
berbalik mengkritik tradisi Islam.

Memang tak lama setelah peristiwa tersebut, ‘Azm pun mulai menulis beberapa artikel dan
buku yang mengkritik tradisi intelektual Islam. Ia menulis, misalnya al-Naqd al-Dhati Ba’da al-
Hazimah dan Naqd al-Fikr al-Dini, yang kedua ini dianggap sangat kontroversial. Dalam buku ini
dia mempertanyakan cerita al-Qur’an tentang kejadian nabi Adam (AS) serta perintah Allah
terhadap Iblis untuk sujud patuh pada nabi Adam apakah hanya sekedar sebuah mitos atau
kejadian yang sebenarnya. Dia juga mempersoalkan keimanan umat Islam pada Jin dan
Malaikat sebagai berdasarkan mitologi Tuhan Yunani. Karena menurutnya kisah yang
disebutkan di atas itu tidak bisa dibuktikan secara saintifik. Karena isi buku ini, penulisnya
dihadapkan ke pengadilan, dan bukunya dilarang untuk beredar.

‘Azm ternyata tidak sendiri. Hasan Hanafi, misalnya, tampil dengan al-Turāth wa al-Tajdīd,
Tayyib Tizini dengan gagasan Min al-Turath ila al-Thawrah, dan Husayn Muruwwah dengan al-
Naz’ah al-īddiyah fi al-Falsafah al-Islāmiyyah. Mohammad Arkoun mengambil inisiatif untuk
membangun Proyek Kritik Nalar Islam (Naqd al-‘Aql al-Islam) sementara Mohammad ‘Abid al-
Jabiri melakukan Kritik Nalar Arab (Naqd al-‘Aql al-‘Arabi).

Kritik para intelektual Arab di atas menurut Abu Rabi’ dilakukan dari latar belakang ideologis,
meskipun terdapat pula dari latar belakang tradisi keilmuan Islam. (Ibrahim Abu Rabi’,
Contemporary Arab Thought, 10). Karena nuansa kritis terhadap tradisi intelektual Islam begitu
menonjol, maka Fadi Isma'il menyimpulkan bahwa dunia intelektual Arab memasuki periode
baru yang ia sebut “a stage of epistemic critique.”( Fādi Ismā’īl, al-Khitāb al-'Arabi al-Mu'āsir,
28). Di sini proyeknya bukan lagi kritik tapi malah menjadi penilaian total atas warisan
pemikiran Islam, tak terkecuali bangunan Islam itu sendiri.

Dekonstruksi Pemikiran
Pemikiran liberal yang berkembang hari ini, menurut sementara orang merupakan lanjutan dari
gerakan pembaharuan yang dibangun Afghani, Abduh, dan murid-muridnya. Tapi sebenarnya
tidak demikian. Seperti dikemukan oleh Nissim Rejwan, Pembaharuan Afghani dan Abduh tidak
bertujuan melakukan “penilaian intelektual yang radikal terhadap Islam atau berusaha
melakukan revisi terhadap ajaran-ajaran pokoknya.”(radical intellectual reexamination of Islam
or sought at a revision of its basic precepts.” (Arabs Face the Modern World, 3). Yang benar,
pemikiran pembaharuan para intelektual Arab di atas mengikuti jejak intelektual Arab sesudah
Afghani-Abduh, seperti Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Hasan Hanafi, Abid al-Jabiri dsb.

Perbedaannya begitu jelas. Arkoun dan Nasr Hamid, misalnya mengutak-atik konsep wahyu, al-
Qur’an, iman, Islam dan sebagainya. Hasan Hanafi mengajak umat ini agar membersihkan
bahasa mereka dari kosa kata-kosa kata seperti Allah, Syurga, Neraka, Akhirat, Hisab, Siksa,
Sirat, Timbangan (mizan),” karena “akal manusia tidak bisa berinteraksi dengan kata-kata
tersebut tanpa melalu pemahaman, penafsiran, dan ta’wil,” (Louy Safi, “al-‘Aql wa al-Tajdid,”
dalam Qadaya al-Tanwir wa al-Nahdah, 57). Padahal kata-kata tersebut adalah kata kunci dalam
membentuk pandangan hidup Islam (Islamic world-view).

Selain itu Abdullah Ahmad an-Na’im, pemikir asal Sudan tampil mempersoalkan qa’idah fiqh
klasik “la ijtihada fi mawrid al-nass (tidak dibenarkan ijtihad ketika ada nass al-Qur’an). Karena
jika aksioma ini tidak diruntuhkan, menurut dia, kita tidak akan bisa melakukan pembaharuan
terhadap hukum-hukum bermasalah seperti hukum yang terkait dengan hajat publik seperti
hukum hudud, qisas, dst. Karena hukum ini sudah ditetapkan oleh nas-nas qat’i dalam al-
Qur’an. (Abdullah Ahmad an-Na’im, Toward an Islamic Reformation, 49-50.)

Di samping itu kaum liberal juga mempertanyakan hukum Islam yang selalu berorientasi teks
(al-Qur’an dan Sunnah). Bagi Jabiri, hal ini disebabkan begitu dominannya metode qiyasi yang
dibangun oleh Imam Syafi’i yang selalu mengedepankan teks ketimbang pertimbangan yang
lain. Bahkan Imam Syafi’i dikritik karena dianggap bertanggung jawab membekukan pemikiran
Islam dengan metode usul fiqhnya. Nampaknya mereka menginginkan agar umat Islam
menggunakan akalnya dan membebaskan diri mereka dari teks. Dan juga agar umat Islam
mendekonstruksi basis epistemologi Islam.

Padahal baik Afghani maupun Abduh tidak pernah mempersoalkan masalah-masalah keilmuan
Islam. Meski keduanya kerap mengkritik ulama silam, namun mereka tidak pernah
mempersoalkan bangunan epistemologi dan metodologi mereka. Sementara pemikir Arab yang
diantaranya disebutkan diatas justru merombak dan membongkar dasar-dasar epistemologi
Islam, khususnya untuk hukum Islam. Mereka itulah diantara sumber pemikiran liberal di
Indonesia dan mereka itulah pemikir liberal di dunia Arab.
Nirwan Syafrin, Ph.D.: Dari Kuala Lumpur ke Pesantren

Si kecil itu tidak banyak bermain. Jika ia bermain terlalu lama dengan
kawan-kawannya, ayahnya selalu mengingatkan,”Jangan lupa belajar
nak, PR nya sudah dikerjakan belum?” Mendapat teguran ayahnya
seperti itu, ia pun segera pulang. Tapi ia tidak belajar karena paksaan.
Ayah ibunya memang telah mendidiknya untuk cinta buku di rumahnya.
Hampir saban malam ia mengaji di surau dekat rumahnya. Di rumah,
ibunya selalu mengingatkan membaca Al Qur’an. “Sewaktu kecil, saya
membaca Al Qur’an dengan ibu,” kenang Nirwan. Ia bersyukur di waktu kecil acara-acara TV
tidak mengganggu belajarnya, karena saat itu yang ada hanya TVRI. “Saya hanya nonton di hari
minggu dan itupun bareng-bareng dengan tetangga,” kisahnya.

Begitu pula bila Ramadhan tiba. Orang tua selalu mengajaknya untuk rajin-rajin shalat di
malam-malam penuh barakah itu. “Kita sering nunggu berjaga-jaga malam lailatul qadar,”
ujarnya kepada Islamia-Republika.

Tradisi ngaji memang begitu kuat di kampungnya saat itu. Ketika duduk di bangku Tsanawiyah
(SMP), Nirwan kecil sudah mengaji ”kitab kuning” di surau desanya, Tanjang Balai-Asahan. Saat
menginjak bangku Aliyah, Nirwan pindah ke Padang Panjang, masuk ke Madrasah Aliyah
Program Khusus. Tapi ia tidak puas sekolah di situ, karena materi pendidikan Islamnya
mengulang seperti di Tsanawiyah. Ia pun memutuskan pindah ke Madrasah Muallimin al-
Washliyah di Medan. Di situ ia merasa nyaman, karena ia mendapat pelajaran yang selama ini ia
cari.

Di al-Washliyah ia mendapat pendidikan bahasa Arab yang bagus. Di situ ia sudah mengkaji
kitab nahwu Syarah Ibnul Aqil, Minhajut Thalibin, Tafsir Jalalain, al-Luma’ dan lain-lain. Lulus
dari Madrasah Aliyah, ia mendaftar ke Universitas al Azhar lewat tes di Departemen Agama.
Niwar diterima. Tapi, karena orang tuanya kurang mampu, ia tidak sanggup pergi ke Mesir. Ia
tidak mempunyai bekal yang cukup untuk bolak-balik Jakarta dan pergi Mesir.

Gagal melanjutkan kuliah di Al Azhar ia tidak putus asa. Ia terus mencari informasi kuliah di luar
negeri. Kebetulan ia membaca sebuah majalah Islam tentang universitas Islam di Malaysia yang
namanya sedang bersinar di Indonesia, Universitas Islam Antarbangsa atau International Islamic
University Malaysia (IIUM). Lewat gurunya di Aliyah, Nizar Syarief ia dikenalkan dengan Ustadz
Umar Thabii di Malaysia.
Dari situlah ia kemudian masuk IIUM. Tahun 1992 ia resmi menjadi mahasiswa dan harus
mengambil matrikulasi bahasa Arab dan bahasa Inggris. Pendidikan bahasa Arabnya yang baik
sedari tsanawiyah, menjadikan dosen-dosen di IIUM, sering memuji kebagusan bahasa
Arabnya. Beasiswa dari IIUM menjadikan Nirwan betah kuliah di sana mengambil sarjana S1
dan program Master.

Nirwan mendapat gelar dua sarjana muda ketika S1. Bachelor dalam Human Sciences
(Philosophy) dan Bachelor dalam Islamic Revealed Knowledge and Heritage. Ketika S2 ia
menyelesaikan Master dalam Islamic Revealed Knowledge dengan tesis tentang pemikiran
keagamaan Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid.

Mengambil program doktor ia pindah kuliah ke ISTAC-IIUM yang saat itu dipimpin oleh Prof
Naquib al Attas dan wakil-nya, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud. Nirwan ingin lebih mendalami
pemikiran Islam. “Pendidikan Islam di ISTAC lebih serius lagi. Dari segi ruangan kuliah dan
bangunannya saja sudah terlihat. Saya harus mengambil 16 mata kuliah ketika S3 di sana,”
paparnya. ISTAC juga menyediakan bagi mahasiswa pascasarjanya, pelajaran bahasa Inggris,
Arab, Jerman, Latin, Turki dan lain-lain.

Mengenang pendidikan di ISTAC, laki-laki kelahiran 18 September 1972 ini bertutur: “Saya
mendapatkan framework dalam berfikir. Prof Alatas memberikan confidence kepada kita dan
kita merasakan kenyamanan dalam agama kita dan bangga dengan warisan Islam serta
relevansinya dengan dunia kontemporer saat ini.”

Sewaktu kuliah di S2 dan S3, Nirwan harus kerja keras membiayai hidupnya sehari-hari. Karena
ia hanya mendapat beasiswa uang kuliah (SPP) saja. “Kerja yang dikerjakan cukup banyak, dari
kerja yang memerlukan kekuatan fisik sampai yang mengandalkan intelektual. Saya pernah
kerja di perpustakaan, di research centre, yang paling lama menjadi research assisstant Prof.
Dr.Hashim Kamali,” kenangnya.

*****

Pada 28 April 2010 lalu, Nirwan meraih gelar doktornya dalam bidang pemikiran Islam. Ia
berhasil lulus dengan predikat excellent, setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul :
“A Critique of Reason in Contemporary Arab Philosopical Discourse with Special Reference to
Muhammad Abid al Jabiri”. Para pengujinya adalah Prof Dr Abdel Rahim (Profesor Pemikiran
Politik di ISTAC-IIUM), Prof Dr Fachruddin Abdul Mukti (Head Department of Islamic Studies,
Universities Malaya). Dua profesor lain yang mengujinya adalah Assoc Prof Dr Nasruddin dan
Prof Dr Muhammad Zuhdi Abdul Majid. Disertasinya dinyatakan lulus tanpa koreksi.
Disertasi Nirwan ini dikatakan Prof. Dr. Muddathir Abdel Rahim, salah satu penguji asal Sudan,
sebagai sebuah disertasi yang sangat baik. Lebih jauh, kata Prof. Muddathir: ”In general, this is
a very good thesis.The candidate has chosen an important topic for his thesis. He has read
widely and intelligently the various aspects of the topic in question and has demonstrated
good ability in analyzing and evaluating the many issues involved.”

Kepada mahasiswa dan santri-santrinya, Nirwan sering berpesan, “Dalam belajar diperlukan
kesabaran dan ketabahan di samping tentunya ketekunan dan kerajinan.” Memang, selain
mengisi undangan diskusi dan seminar, Dr. Nirwan juga mengajar di program pascasarjana
Universitas Ibn Khaldun Bogor, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Program Kader
Ulama ISID Gontor. Disamping itu, lelaki Batak berputra satu ini, sehari-harinya juga diamanahi
mertuanya, K.H. A. Cholil Ridwan, salah satu Ketua MUI, untuk mengelola Pesantren
Husnayain di Sukabumi. “Saya ingin mewujudkan satu pendidikan Islam yang ideal, yang
menghasilkan lulusan yang baik menurut Islam.”

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, salah satu guru Dr. Nirwan di Malaysia, memberikan
nasehat khusus kepada Dr. Nirwan, agar menjadi ilmuwan Muslim yang selalu ikhlas dan
sabar dalam memikul tugas para anbiya’. Menjadi ilmuwan Muslim, pesan Prof. Dr.Wan
Mohd Nor, ”Bukan untuk disanjung manusia, terutama yang sesat; atau untuk berbantah
dengan yang jahil dan degil; atau untuk mengemis kepada yang kaya, dan takut kepada
penguasa; dan juga jangan cemburu dengan kemasyhuran dan kejayaan ilmuwan duniawi
atau ulama su’ (ulama jahat).!”
SERIAL KE-16
LIBERALISASI SYARIAT ISLAM
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahmati dan dimuliakan Allah SWT.
dimanapun itu berada,
Disampaikan salam silaturrahim, dengan iringan doa semoga kesehatan lahir bathin, dan
berbagai macam kemudahan disertai dengan anugerah rezeki yang penuh dengan taburan
nilai2 berkah dan rahmat-Nya selalu menyertai kita bersama dengan semua anggota keluarga
tercinta dirumah, Amin3X Ya Rabbal Alamin.
Alhamdulilah kembali, dapat dituliskan serial ke-16, Islam vs Liberalisme, berjudul : "Liberalisasi
Syariat".
Selamat membaca, semoga semakin memantapkan keimanan, keIslaman,ke-taqwaan, ilmu dan
amal shaleh serta etos jihad dalam dakwah Islamiyah kita yang diridhoi-Nya, mengisi sisa-sisa
hidup kita menuju liang kubur, yang Insya Allah semoga akan menghantarkan turunnya berkah
dan rahmat-Nya kepada kita sekeluarga, sahabat-sahabat semuanya dan umat Islam Indonesia,
Amin Ya Rabbal Alamin.
Wassalam,
A.Nurhono

Liberalisasi Syariat Islam

Secara sistimatis, Liberalisasi Islam di Indonesia sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an,
dilakukan melalaui tiga bidang penting dalam ajaran Islam, yaitu : (1) Liberalisasi bidang aqidah
dengan penyebaran paham pluralism agama, (2) Liberalisasi bidang syariah dengan melakukan
perubahan metodologi ijtihad, dan (3) Liberalisasi konsep Wahyu dengan melakukan
dekonstruksi terhadap Al-Qur’an (Lihat gambar dibawah, dalam slide Dr.Adian Husaini, “Islam
Liberal di Indonesia”).

Dalam desertasinya di Monash University Australia, Dr.Greg Barton, memberikan sejumlah


program Islam Liberal di Indonesia, yaitu : (1) Pentingnya kontekstualisasi ijtihad, (b) Komitmen
terhadap rasionalitas dan pembaruan, (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan
pluralisme agama-agama, (d) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-
sekatarian Negara (Lihat thesisnya Dr. Greg Barton yang sudah diterjemahkan, 1999, “Gagasan
Islam Liberal di Indonesia, Paramadina).

Dari disertasi Barton tersebut dapat diketahui, bahwa memang ada strategi dan program yang
sistimatis dan metodologis dalam liberalisasi Islam di Indonesia. Penyebaran paham Pluralisme
agama – yang jelas-jelas paham syirik modern, karena membenarkan semua tindakan syirik –
dilakukan dengan cara yang sangat massif, melalui berbagai saluran, dan dukungan dana yang
luar biasa besarnya. Dari program tersebut, ada tiga aspek liberralisasi Islam yang sedang
gencar-gencar dilakukan di Indonesia, yaitu dibidang Liberalisasi Aqidah, Liberalisasi Syariah,
dan liberalisasi dari konsep wahyu(Al-Qur’an) dan tafsir. Kajian kali ini, akan lebih banyak
mensoroti dalam hal Liberalisasi Syariat Islam. Liberalisasi syariat dioperasionalkan dengan jalan
melakukan perubahan metodologi ijtihad yang menekankan aspek kontekstual historis,
sehingga hukum Islam menjadi relative dan tidak ada kepastian hukum. Untuk lebih detailnya,
baca dengan seksama peta Liberalisasi Islam di Indonesia dalam file terlampir “Liberalisasi
Islam di Indonesia, oleh Dr.Adian Husaini”.

Bagi kaum Muslim, syariat Islam sudah melekat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Syariat
Islam memiliki karakter yang khas: bersifat final dan universal. Kaum Muslim, dengan latar
belakang budaya apa pun, kapan pun, dan di mana pun melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji,
menikah, menyelenggarakan jenazah, dan sebagainya dengan cara yang sama. Sebab, syariat
Islam memang diturunkan Allah kepada Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw, untuk menjadi
rahmat bagi seluruh manusia.

Tapi, belakangan, sebagian kalangan Muslim sendiri mulai menyoal masalah syariat. Dengan
bekal “keimanan” kepada paham-paham modern (Pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan
gender, HAM, dan sebagainya) sejumlah hukum Islam yang dianggap ketinggalan zaman,
diupayakan untuk dibuang atau diubah penafsirannya. Prof. Abdullah Ahmad an-Na’em,
pemikir liberal asal Sudan yang pernah berkunjung ke Indonesia, misalnya, menyatakan, ada
empat wilayah – yakni konstitusi modern, hukum kriminal, hukum internasional, dan HAM--
dimana syariat Islam menyimpan sejumlah problem serius.

Ada yang menganggap, hukum Islam tentang kaum non-Muslim tidak toleran, bahkan
cenderung diskriminatif. Dalam buku Fiqih Lintas Agama (2004) dikatakan: “Banyak konsep fiqih
menempatkan penganut agama lain lebih rendah ketimbang umat Islam, sehingga berimplikasi
meng-exclude atau mendiskreditkan mereka.” Sejumlah pihak juga menggugat hokum Islam
tentang perempuan yang kata mereka kerap memposisikan kaum hawa ini menjadi subordinat
bagi laki-laki. Ringkasnya, dalam kacamata mereka, fiqh klasik tidak ramah perempuan,
misigonik, dan bias jender. (Lihat misalnya Amina Wadud, Qur’an and Woman, Rereading the
Sacred Text from a Woman’s Perspektif (New York: Oxford University Press)).

Karena itulah, kalangan ini kemudian menyerukan dilakukannya reformasi, perombakan, atau
dekonstruksi hukum-hukum Islam dan sekaligus melakukan sekularisasi. Jika tidak, tulis
Abdullah Ahmed an-Na’em, “the population of Muslim countries would lose the most
significant benefits of secularization.” (penduduk Negara-negara Islam akan kehilangan manfaat
yang cukup signifikan dari sekularisasi). (Lihat, Abdullah Ahmad an-Na’im, Toward an Islamic
Reformation (Syracuse, New York: Syracuse University Press, 1990).

Gagasan merombak Islam, dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai Barat modern inilah yang
kemudian dikenal sebagai bentuk “Liberalisasi Islam”. Syariat Islam menjadi salah satu sasaran
utama proyek liberalisasi, disamping pembongkaran terhadap ajaran aqidah dan konsep-
konsep dasar Islam tentang wahyu, kenabian, dan sebagainya. Gugatan terhadap kesucian al-
Quran, misalnya, sudah berulangkali disuarakan oleh kaum liberal. Bahkan, sebelum
melubernya Lumpur Lapindo, kota Surabaya dihebohkan tindakan seorang dosen yang
berulangkali menginjak-injak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri, hanya untuk membuktikan
bahwa al-Quran – kata dia – tidak suci. Setelah ribut di media massa, si dosen dijatuhi hukuman
skorsing oleh kampusnya.

Mencari-cari
Agar seolah-olah pendapatnya tentang perombakan syariat Islam bisa diterima kaum Muslim,
ada yang berusaha “mencari-cari” dalil sejarah. Kata mereka, para sahabat Nabi saw pun
pernah meninggalkan hukum Islam dan menggantinya dengan aturan yang dibuatnya sendiri.
Umar ibn Khattab r.a. adalah sahabat Nabi yang biasanya disebut-sebut telah berani merombak
hokum Islam, dengan cara mendahulukan akalnya, ketimbang nash al-Quran. Bahkan, ada yang
menyebutnya sebagai “Bapak Islam Liberal”.

Padahal, Umar bin Khattab jauh dari tuduhan liberal yang mereka alamatkan kepadanya. Tidak
satu pun ijtihadnya yang dapat dikategorikan membelakangi teks-teks al-Qur’an. Umar tidak
menerapkan hukum pencurian terhadap seorang pencuri pada tahun paceklik sesuai dengan
surah al-Maidah ayat 38, bukan demi kemaslahatan semata. Lebih dari itu, Umar r.a. berbuat
demikian, demi menjaga kesucian Islam dari dituduh bersifat zalim. Bagaimana mungkin Umar
r.a. melaksanakan hukuman tersebut sedangkan syarat-syarat yang menuntutnya untuk
menerapkan hukuman tersebut tidak mencukupi?

Misalnya dari segi ukuran barang yang dicuri. Apakah ukuran barang yang dicuri oleh sang
pencuri ketika itu sudah mencapai ukuran yang membolehkannya untuk dihukum dengan
hukuman sedemikian? Kasus pencurian yang disebutkan terjadi di zaman Umar r.a. tersebut
terjadi pada tahun paceklik. Sementara orang tersebut mencuri hanya untuk memenuhi
kebutuhan perutnya yang ketika itu kelaparan. Dari keterangan ini jelas sekali bahwa syarat
yang diperlukan untuk diterapkannya hukuman al-Quran tentang pencurian tidak terpenuhi.
Jadi bukan karena Umar bin Khathab berpaling dari teks al-Quran, tetapi justru Umar ingin
menerapkan teks al-Qur’an itu dengan seadilnya.

Masalah ini sudah banyak dikaji oleh para ulama dan cendekiawan. Sayangnya, masih saja
berbagai kalangan mencari-cari dalil untuk merombak syariat Islam. Analog dengan hal
semacam itu, misalnya, adalah kewajiban menjalankan shalat lima waktu. . Shalat jelas wajib
hukumnya. Tapi shalat tidak wajib dilaksanakan sebelum masuk waktunya, karena ia adalah
salah satu syarat wajibnya salat. Jika ada orang yang melaksanakan shalat sebelum tiba
waktunya, maka orang tersebut dianggap telah melanggar nash al-Quran dan shalatnya pun
tidak sah. Demikian jugalah halnya hukuman potong tangan bagi pencuri. Hukuman ini tidak
bisa dilaksanakan sebelum seluruh syaratnya terpenuhi. Jadi Umar ibn Khattab sama sekali
tidak melanggar ketentuan nash al-Qur’an.

Demikian juga halnya dengan ijtihad Umar r.a. menolak untuk menyerahkan zakah kepada salah
satu keluarga yang selalu mendapat bagian pada masa Rasulullah. Keluarga ini ketika itu masuk
dalam kategori muallafah qulubuhum. Penolakan Umar untuk menyerahkan zakat kepada
kelompok ini bukan karena beliau berpaling dari nash al-Qur’an yang sharih. Seharusnya yang
patut ditanyakan adalah apakah orang yang datang kepada Umar yang mengklaim pernah
menerima zakat dari Rasulullah itu mempunyai status yang sama ketika mereka datang kepada
Umar bin Khathab? Dengan kata lain, apakah orang tersebut masih bisa dikategorikan sebagai
kelompok muallaf qulubuhum pada masa pemerintahan Umar r.a. Dalam pandangan Umar,
orang tersebut sudah keluar dari kategori ini. Makanya, dia tidak memberikan zakat kepada
kelompok itu. (Untuk pembahasan lanjut tentang ijtihad-ijtihad ‘Umar ini bisa dibaca, ‘Abid bin
Muhammad al-Sufyani, Al-Thabat wa al-Syumul fi al-Syari’ah al-Islamiyyah, 461ff; Yusuf al-
Qaradawi, al-Siyasah al-Syar’iyyah, 176ff).

Gambaran agak terperinci semacam ini diperlukan, agar seseorang tidak mudah percaya, bahwa
sahabat Nabi terkemuka telah mendahulukan pendapat akalnya sendiri, dengan
mengesampingkan nash-nash al-Quran. Jika mau merombak hukum-hukum Islam, sepatutnya
tidak mencari-cari dalil yang keliru, yang akhirnya justru menuduh sahabat Nabi telah
melakukan sesuatu yang sangat tidak terpuji. Padahal, ijtihad Umar telah disetujui oleh para
sahabat Rasulullah yang bersikap sangat kritis terhadap berbagai penyimpangan ajaran Islam.
Banyak kalangan beralasan bahwa kemaslahatan akal harus didahulukan ketimbang
kemaslahatan nash al-Quran. Jika memang ada maslahat, maka di situ ada hukum Islam. Logika
semacam ini sebenarnya sangat lemah, sebab ketika bicara “maslahat” manusia juga sangat
berbeda pendapatnya. Daging babi yang telah disterilkan bisa membawa maslahat. Ada yang
berdalih, khamr boleh di saat udara dingin karena ada maslahat. Bahkan, sejumlah pendukung
gerakan legalisasi perkawinan homoseks dan lesbian juga beralasan akan adanya maslahat bagi
pelaku perkawinan sesama jenis itu. Salah satunya, kata mereka, untuk mengurangi jumlah
penduduk bumi.

Pembaruan
Pembaruan atau apa yang sering disebut dengan tajdid (renewal) bukanlah hal baru dalam
Islam; ia bahkan sudah menjadi built-in-system dalam pemikiran Islam. Rasullullah saw sendiri
sudah mewanti-wanti hal itu. Sabda beliau: “Sesungguhnya Allah akan mengutus pada tiap
pangkal abad seorang mujaddid yang akan memperbaharui agama-Nya”. Meski demikian,
tajdid hendaklah dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian agar tidak mengabaikan prinsip-
prinsip dasar yang mejadi landasan Islam. Mereka harus jeli dan serius membedakan antara
yang ushuli (principle/foundation) dan thawabit (unchangeable) dengan yang furu’ (cabang)
dan mutaghayyirat (mutable). Karena kegagalan mengindentifikasi perbedaan ini dapat
berakibat fatal bagi Islam dan ummat Islam itu sendiri. Disebabkan kegagalan itu bisa jadi apa
yang seharusnya sebagai hal yang ushuliy dirubah menjadi furu’iy dan sebaliknya.

Realitas sosial patut diperhatikan. Dan para ulama Islam sejak dulu sadar betul tentang
pentingnya unsur reallitas ini sampai-sampai para ulama menetapkan ‘urf atau adat kebiasaan
masyarakat setempat sebagai sandaran hukum, asalkan tidak kontradiktif dengan teks-teks al-
Qur’an yang masuk dalam kategori qath’iy al-thubut wa al-dilalah. Ibn ‘Abidin pernah
menegaskan: “‘Urf yang bertentangan dengan nass tidak bisa menjadi pertimbangan.”

Dengan nada yang sama, Ibn Nujaym juga mengatakan: “‘Urf tidak bisa menjadi bahan
pertimbangan pada persoalan yang ada ketetapan nassnya (al-mansus ‘alayh)”. (Dikutip dari
‘Umar Sulayman al-Ashqar, Nazariyyat fi Usul al-Fiqh (Beirut: Dar al-Nafa’is, 199).

Oleh sebab itu, hukum haramnya ghibah dan dusta, wajibnya salat, zakat, puasa, haramnya
riba, hukum nikah dan talaq, hukum hudud dan qishas, rajam terhadap pezina, dan lain-lain
yang oleh para ulama dikategorikan qat‘iy al-tsubut wa al-dalalah tidak bisa berubah, meskipun
waktu dan tempat berubah. Tidak sepantasnya seorang Muslim menjadikan Islam tunduk
berlutut mengikuti selera zaman. Sebab, selera zaman begitu beragam dan sangat nisbi
(relatip). Sebab, pada prinsipnya Islam diturunkan untuk kemaslahatan manusia. Hak untuk
menentukan halal dan haram, wajib dan haram, berada di tangan Allah SWT. Tidak sepatutnya
manusia berani merampas “hak Allah” tersebut, melakukan makar kepada Allah, atau
menempatkan dirinya sebagai tandingan Allah SWT.

Kaum Muslim yakin benar dengan kebenaran firman Allah SWT: “Maka demi Tuhanmu,
mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad)
hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam
hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’:65).
SERIAL KE-17
BAYANI, IRFANI DAN BURHANI
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahmati dan dimuiakan Allah SWT
dimanapun itu berada dimuka bumi Allah ini.

Alhamdulilah, pagi ini untuk bacaan santai memperkaya wacana pemikiran Islam kita, Kembali
dengan izin-Nya dapat dikirimkan tulisan serial ke-17, Islam vs Liberalisme, yang berjudul
"Bayani, Irfani dan Burhani".

Selamat membaca, semoga semakin memantapkan dan mencerahkan ke-imanan, keIslaman,


amal shaleh, dan etos jihad dakwah Islamiyah cendekiawan mujahid Muslimin dan Muslimat
Indonesia termasuk dalam Pemikiran Islam bersumberkan worldview tauhidi berlandaskan Al-
Qur'an dan As-Sunnah, Amin 3X Ya rabbal Alamin.

Wassalamu' alaikum wr wb,


Salam sukses selalu dalam ridho dan berkah Ilahi Rabbi,
A.Nurhono

Bayani, Irfani, dan Burhani


Salah satu pemikir Arab liberal yang banyak dijadikan rujukan dalam pembaruan dalam Islam
adalah Muhammad ‘Abid al-Jabiri. Pemikir asal Maroko ini baru saja meninggal 3 Mei 2010 lalu,
pada usia 75 tahun. Di Indonesia, ide-idenya banyak dikaji. Sebagian kalangan – tanpa mengkaji
dengan cermat – bahkan ada yang menelan mentah-mentah gagasan Jabiri tentang kategorisasi
episteme, yaitu metode Bayani, ‘Irfani, dan Burhani.

Mulanya, Jabiri tidak ikut-ikutan mengkritik al-Quran, sebagaimana pemikir liberal lainnya. Tapi,
pada 2006, terbit bukunya, Madkhal ila al-Qur’an al-Karim, yang mengisyaratkan ada yang
“tercicir” dari al-Qur’an yang ada di tangan kaum Muslim sekarang ini.

Dalam analisis dan usulannya, Jabiri banyak mengadopsi perangkat dan teori yang
dikembangkan oleh Michel Foucault, Jacques Derrida, Karl Marx, Anthony Gramsci, Gaston
Bachelard, dan beberapa ahli filsafat Barat lain. Dari Foucault dia meminjam konsep episteme
Foucault untuk mengembangkan teori episteme Arab yang kemudian dikenal dengan Bayani,
’Irfani, dan Burhani.

Inti kajian Jabiri sebenarnya tidak banyak berbeda dengan banyak pemikir liberal lain, seperti
Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Adonis, Fatima Mernisi, dan lain-lain. Ia menolak metode Bayani
yang dikembangkan oleh para Fuqaha’ dan ’ulama Ushul Fiqh karena dianggap lebih
mengedepankan teks dari pada substansi teks. Jabiri pun ”menyerang” Imam Syafi’i, kerena
dianggap orang bertanggung jawab meletakkan dasar berpikir tersebut melalui karya
monumentalnya, al-Risalah.

Al-nizam al-‘ma’rifi al-bayani dikembangkan oleh para fuqaha’. Sistem berpikir ini sangat
bergantung pada teks; teks berada diatas akal (filsafat). Ilmu fiqh, Tafsir, Filologi, merupakan
produk episteme ini yang disebutnya sebgai al-ma’qul al-dini (rasionalitas keagamaan).
Karakteristik utama episteme ini adalah ketergantungannya pada teks, bukan pada akal. Yang
dimaksudkannya dengan teks disini adalah al-Qur’an dan Sunnah. Episteme ini menurut Jabiri
sangat kuat sekali mendominasi pemikiran Arab Islam sehinggakan sejak dari awal kelahirannya
sampai sekarang ia tidak menglami perkembangan.
Jabiri juga mengkritisi metode Irfani yang dia asosiasikan dengan Syi’ah dan kaum Sufi. Disini,
dia mengkritisi habis-habisan Ibn Sina dan al-Ghazali, dua tokoh yang selama ini dianggap
antagonis. Menurutnya kedua pemikir inilah yang bertanggung jawab memasukkan sistem
berpikir irfani ini kedalam ranah pemikiran Islam yang sekaligus menjadikan akal Arab-Islam itu
mandek.

Adapun episteme burhani adalah episteme yang dibangun oleh filsafat Arab yang berekembang
si Afrika Utara dan Spanyol. Ibn Rushd dianggap sebagai sosok yang paling sempurna
merepresentasikan tipe burhani ini. Tipologi sistem ini tidak berpegang pada nash semata, juga
tidak pada intuisi, tapi pada akalnya Ibn Rushd dan eksperimen-nya Ibn Khaldun. Sesungguhnya,
katanya lagi, inilah yang membuat Barat maju seperti sekarang ini. Para saintis Barat dengan
jitu mengaplikasikan semangat rasionalisme Ibn Rushd dan empirisismenya dalam sistem
peradaban mereka. Oleh sebab itu, lanjutnya, kalau kita ingin maju bersaing dengan realitas
yang ada kita harus dapat mengembangkan semangat rasioanlisme dan juga empirisisme.

Dengan mengagungkan Ibn Rusyd, sebenarnya Jabiri ingin mengatakan bahwa kemajuan itu
hanya bisa ditempuh dengan rasionalisme. Baginya, akallah yang bisa mengantar peradaban
manusia ke puncak kegemilangannya. Sayangnya,”akal” yang disebut Jabiri itu adalah akal
yang dikonsepsikan oleh Barat, yaitu akal positivis yang hanya berpaut pada data-data
eksperimental. Disamping itu Jabiri sepertinya sengaja melupakan bahwa rasionalisme abad
Pencerahan itu sendiri saat ini sedang mendapat kritikan tajam, bukan hanya dari kalangan
ilmuwan Muslim tapi juga dari kalangan intelektual Barat sendiri.

Jabiri juga lupa, bahwa revolusi sains (sceintific revolution) terjadi di Barat karena orang-orang
seperti Bacon, Descartes, dan Newton melakukan terhadap teori-teori fisika Aristotle. Artinya
Barat maju bukan karena mereka mengadopsi padangan-pandangan Ibn Rusyd yang
Aristotelian, tapi sebaliknya, sains mereka berkembang justru karena mereka meninggalkan
teori-teori fisika Aristotle.

Meskipun sempat menarik banyak perhatian, gagasan pembaruan Jabiri pun menuai banyak
kritik mendasar. Misalnya, untuk mempertahanakan rasionalitas mazhab ala Arab Maghribi,
dimana dia menjadi bagian daripadanya, Jabiri sering melakukan pemilahan atas turats-turats
yang hanya mendukung pendapatnya saja. Lebih fatal lagi, menurut George Tarabisi, Jabiri telah
melakukan praktik plagiat, karena tidak menyebutkan sumber rujukan ide-idenya, meskipun
secara jelas ide itu berasal dari orang lain. Jabiri, kata Tarabisi, sering memplintir tulisan orang
lain -- secara sadar atau tidak -- sesuai dengan keinginannya. Kajiannya tidak orisinil. Oleh
sebab inilah, banyak penulis seperti ‘Ali Harb yang menilai bahwa kajian turats Jabiri penuh
dengan muatan ideologis, Arab centrism. (Ali Harb, Naqd al-Nass (Bayrut: Al-Markaz al-Thaqafi
al-‘Arabi, 1993).

Toha Abdurrahman, dalam Kitabnya, Tajdid, misalnya, adalah salah seorang yang paling kritis
menilai bangunan epistemologi dan metodologi Jabiri dalam mengkritisi turats. Bahkan, ia
berkesimpulan, Jabiri sendiri inkosisten. Jabiri mengajak untuk membaca turats secara
komprehensif. Tapi, ia sendiri membaca turats dengan parsial. Kata dia, epistemologi Bayani,
misalnya, telah menghasilkan fiqh, usul fiqh, tafsir, dan kalam. Sementara metode Irfani
melahirkan tasawwuf, dan Burhani menelurkan filsafat. Itu artinya, dia bersikap parsial
(tajzi’iyyah). Padahal dia menyatakan, bahwa Fiqh, Usul Fiqh, Tafsir, Nahwu, Balaghah adalah
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Artinya, seorang ahli fiqh bisa berpikir dalam kerangka Bayani, Irfani, dan Burhani. Seorang al-
Ghazali adalah pemikir yang menggunakan epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani sekaligus.
Kenyataan ini berlawanan dengan pernyataannya yang mengkategorikan pemikiran Ghazali
kepada bentuk Bayani dan Irfani, dan tidak Burhani sama sekali.

Masih banyak lagi kelemahan-kelemahan model yang ditawarkan Jabiri untuk mengkaji Turats
yang telah dibahas oleh para intelektual lain. Sehingga Prof. Nuruddin al-Ghadir berkesimpulan
bahwa sesungguhnya buku-buku Jabiri itu tidak layak terbit, karena pada prinsipnya kajian-
kajiannya dalam turats bukan untuk merekonstruksi turats, tapi malah menghancurkannya.
Ghadir menuliskan “berdasarkan fakta ini, proyek Jabiri pada akhirnya hanya akan mencabik-
cabik turats, bahkan mencabik ekistensi budaya ummat Islam.” (wa bihadha fainna al-Jabiri fi
nihayah mahsru’ihi yasilu ila tajazzu’i al-turats fi ab’ad mustawiyatihi, bal wa tajazzu’i kiyan al-
ummah al-islamiyyah al-thaqafi).

Jadi, memang patut disayangkan, orang seperti Jabiri akhirnya bukan berhasil melakukan tajdid,
tetapi ia pun tenggalam dalam taghrib (pem-Barat-an) Islam.
SERIAL KE-18
PROYEK POLITIK PEMIKIRAN
Assalamu'alaikum wr w,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat dimanapun itu berada dimuka bumi Allah ini,

Salam Perjuangan Dakwah Islamiyah,

Alhamdulillah, dengan izin dan ridho-Nya, kembali dapat dituliskan serial ke-18 Islam Vs
Liberalisme, berjudul " Proyek Politik Pemikiran" (dalam perspektip Gafzul Fikri) yang secara
fakta semakin gencar diaplikasikan strategi taktik dan teknis operasionalnya diseluruh dunia
Islam termasuk Indonesia…..Maka nasehat praktisnya…umat Islam harus Waspadalah dan
bersatulah dalam Prinsip, strategi dan taktik perjuangan dalam suatu network yang solid,
professional, berkesinambungan, solutip, kreatip, dinamis, praktis dan aplikatif !

Semoga Allah SWT selalu memudahkan dan memberikan jalan perjuangan dakwah Islamiyah
yang sejati yang diridhoi dan diberkahi-Nya kepada kita semuanya orang-orang yang beriman,
beramal shaleh, berilmu dan berjihad dijalan-Nya, Amin.

Selamat membaca, semoga pula semakin memantapkan dan mencerahkan pemikran Islam
berlandaskann worldview tauhidi berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, para cendekiawan
mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia dimanapun itu berada dimuka bumi Allah SWT. ,
Amin3X Ya Rabbal alamin.

Salam sukses dunia-akherat dalam naungan ridho dan berkah Ilahi Rabbi,
Wassalamu’ alaikum wr wb,
A.Nurhono

“Proyek” Politik Pemikiran


(Dalam Perspektip Gazful Fikri/Perang Pemikiran)

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang
lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah
itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”(QS.Al-Anfal,
8:73)
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap
orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”(QS.Al-
Maidah, 5:82).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra. ia berkata : “Bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “Kamu akan
mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi
sehasta, sehingga jikalau mereka masuk kelobang biawakpun kamu akan mengikuti
mereka”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang Rasulullah
maksudkan ? Nabi SAW. Menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka) (HR. Muslim).

ADAKAH politik dalam pemikiran? Istilah ini boleh jadi akan dianggap sebagaian orang sebagai
istilah yang terlalu bombastis. Namun kasus di bawah ini menunjukkan kepada kita bahwa
sesungguhnya politik pemikiran itu sangat nyata.

Ketika segelintir ulama dan cendekiawan Muslim menolak Rancangan Undang-undang Anti
Pornoaksi dan Pornografi (RUU-APP), mereka sesungguhnya tidak hanya membenarkan
gambar-gambar dan tarian atau goyang tabu (baca porno), atau bicara masalah halal-haram,
moralitas atau akhlak bangsa. Mereka, sesungguhnya tengah memasarkan sebuah paham
relativisme, hedonisme dan kebebasan (liberalisme).

Pernyataan-pernyatan sebagaian anak-anak muda Muslim, bahwa Ketika Aminah Wadud


menjadi imam Jum'at di sebuah gereja di Amerika, ia tidak sedang mengaplikasikan ijtihad
fiqhiyyah-nya. Ia sesungguhnya tengah memasarkan sebuah paham gender dan feminisme.

Pernayataan bahwa "semua agama sama benarnya", "tidak ada syariat Islam, tidak ada hukum
Tuhan", sesungguhnya bukanlah pernyataan tentang teologi atau syariat Islam. Namun sebuah
pelaksanaan proyek globalisasi dengan biaya tinggi. Buku berjudul "Fiqih Lintas Agama" yang
terbit dua tahun silam, bukan buku bacaan tentang fiqih, tapi buku "pesanan" untuk proyek
bernama 'pluralisme agama' dengan dana yang tak sedikit.

Segala sesuatu, kata Habermas, harus dipahami berdasarkan motif kepentingan sosial (social
interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest). Pemahaman seperti ini
sudah sangat jamak dikalangan aktifis liberal dan postmodernis. Mereka sendiri memahami
Islam dengan cara yang sama. Islam bagi mereka adalah produk dari sebuah kepentingan dan
kekuasaan. Dan karena itu, mereka tidak merasa bersalah jika memahami Islam juga untuk
kepentingan tertentu. Itulah yang, kalau boleh saya katakan sebagai 'politik pemikiran'. Dalam
bahasa Gadamer, itu lah yang disebut effective historical consciousness (kesadaran kesejarahan
yang efektif). Mereka memahami realitas segala sesuatu sebatas ruang dan waktu kekinian saja.

Mungkin, secara pejoratif bisa disebut ghirah tarikhiyyah, yang tidak sejalan bahkan menggeser
dan menggusur ghirah diniyyah….Benarkah pemikiran liberal itu sarat kepentingan? Benar!
sebab liberal adalah posmodernis dan posmodernis, tulis Akbar S Ahmed, adalah pendukung
pluralisme, anti fundamentalisme, banyak protes terhadap tradisi, dan cara berfikirnya eklektik
(Akbar S. Ahmed, Postmodernism). Pemikiran bukan untuk pengetahuan, tapi untuk
kepentingan (kekuasaan atau politik). Buktinya, dari pemikiran mereka tiba-tiba menggalang
komunitas, gerakan sosial dan bahkan menjelma menjadi pressure group. Demi "memasarkan"
paham pluralisme agama, misalnya, pertama-tama mereka menolak adanya kebenaran mutlak,
yang ada hanya kebenaran relatif.

Antara Deridda dan Sophistik


Karena itu adalah 'politik pemikiran', tak heran jika aktifisnya pun menjadi militan dan
terkadang emosional. Substansi pemikirannya sarat dengan muatan politik, buktinya, ia bersifat
responsif dan akomodatif terhadap suatu kepentingan ideologi tertentu (baca: Barat).

Niatnya, nampak tidak tulus karena sikap apriori dan kritis mereka terhadap tradisi pemikiran
Islam lebih menonjol ketimbang terhadap Barat. Konsep-konsepnya sulit untuk dikategorikan
ke dalam gerakan pembaharuan pemikiran Islam karena sifatnya lebih cenderung destruktif
daripada konstruktif.
Ketika suatu pemikiran bernuansa politik, aktifitasnya hampir tidak beda dari gerakan politik.
Media grafis, media elektronik, film, musik, aksi sosial dan berbagai media lainnya menjadi
kendaraan. Pemikiran bukan di dakwahkan, tapi "dijual" ketengah masyarakat untuk suatu
kepentingan. Ketika pemikiran bernuansa politik, pernyataan tentang suatu gagasan selalu
bermakna ganda. Antara ucapan, ungkapan atau pernyataan bisa berbeda dari makna yang
dimaksud. Bahkan terkadang, mengikuti gaya Derrida, makna yang sudah mapan di
dekonstruksi sehingga menjadi bermakna baru.
Untuk mendekonstruksi institusi agama, diperkenalkanlah teori dualisme dan relativisme:
agama dan pemikian keagamaan adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama absolut dan yang
kedua relatif. Pemikiran ini secara politis ditujukan untuk memberantas sikap-sikap keagamaan
ekslusif, fundamentalis dan absolutis.

Jika dualisme pemikiran dianut, maka semua pemikiran keagamaan akan menjadi relatif, yang
mutlak hanyalah agama dan yang tahu agama hanya Tuhan. Siapapun boleh berfikir tentang
apapun dalam soal agama.

Tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada yang berhak menyalahkan pemikiran orang lain, tidak
ada yang bisa mencegah kemunkaran. Tidak ada lembaga atau kelompok yang boleh
mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan. Baik buruk, salah benar tergantung kepada individu.
Semua bebas!. Inilah 'politik pemikiran'. Jika target ini tercapai, maka paham teologi global
(global theology) atau teologi dunia (world theology) akan menemukan jalannya menembus
semua agama. Inilah sebenarnya kepentingan 'politik pemikiran' itu.

Kalaupun tidak dengan teori dekonstruksinya Derrida, mereka menggunakan metode aliran
sophist (indiyah, la adriyah dan inadiyah). Ketika argumentasi mereka tentang kebebasan
menafsirkan agama dengan sebebas-bebasnya mulai nampak lemah, misalnya, mereka akan
berkelit dan berlindung di bawah prinsip-prinsip HAM. Ketika ide feminisme tidak bisa
mendekonstruksi fiqih, mereka justru akan menggunakan dalih perlunya persamaan dan
pemberantasan penindasan dan pelecehan terhadap wanita. Targetnya sama saja, agar di
masyarakat tidak ada lagi yang mempunyai otoritas. Tidak ada yang bisa berkuasa karena
agama dan agar agama tidak mengisi ruangan publik.

Jika dibaca dengan cermat buku-buku seperti Clash of Civilizations, karya S.Huntington, Who
Are We, karya Bernad Lewis, When Religions Become Evil, karya Richard Kimbal, The End of
History, karya Fukuyama, Islam Unveiled: Disturbing Question About the World's Fastest-
Growing Faith, karya Robert Spencer dan lain-lain, sesungguhnya mengandung fakta-fakta
pemikiran yang berimplikasi politik. Yang kurang kritis bisa saja menilai buku-buku itu dengan
sikap positif. Mungkin alasannya karena asumsinya baru, analisasnya tajam, argumentasinya
valid, pertanyaan-pertanyaannya menantang untuk dijawab dan lain sebagainya. Tapi jika ia
mencermati implikasi politik dalam semua asumsi, analisa dan argumentasinya, maka, ia akan
menilai dengan sikap sebaliknya.

Karena tidak semua orang dapat menemukan hubungan antara pemikiran dan target politis
dibaliknya, maka tidak heran jika diantara umat Islam ada yang bersikap apatis terhadap
wacana-wacana pemikiran yang dikenal "liberal" itu. Padahal pemikiran yang politis itulah yang
menjadi bahan kebijakan strategis.
Untuk mengetahui bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, kita
rujuk sebuah buku yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies,
(2003), ditulis oleh Cheryl Bernard. Buku ini membahas tentang politik perang pemikiran atau
strategi dan taktik pemikiran yang perlu dilakukan Barat untuk menghadapi umat Islam pasca
11 September. Targetnya untuk melawan sesuatu yang tidak jelas "terorisme dan
fundamentalisme" dalam Islam. Bahkan setelah menulis buku ini ia menulis buku lain berjudul
"U.S. Strategy in the Muslim World After 9/11 (2004), The Muslim World After 9/11 (2004), dan
Three Years After: Next Steps in the War on Terror (2005).

Sudah tentu, tulisan-tulisannya itu merujuk kepada pemikiran, pandangan dan gambaran
tentang ummat Islam yang ditulis oleh cendekiawan sebelumnya. Jargon science for science,
yang konon dipegang Barat secara konsisten ternyata tidak. Karya-karya tentang Islam yang
diwarnai oleh bias kultural dan sentimen keagamaan, misalnya digunakan untuk kepentingan
eksploitasi dan bahkan klonialisasi. Pemikiran sekularisme, demokrasi, liberalisme yang
disuntikkan kedalam pemikiran umat Islam bukanlah murni pemikiran, ia telah berubah bentuk
menjadi 'politik pemikiran'. Pemikiran ini tidak menjadi ilmu tapi menjelma menjadi kebijakan
politik.

Dari Pemikiran ke Strategi


Cheryl Bernard adalah sosiologis yang pernah menulis novel-novel feminis yang memojokkan
ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya diambil dari
pemahaman yang salah terhadap Al-Qur'an, dan merupakan simbol pemaksanaan dan
intimidasi.
Suaminya adalah Zalmay Khalilzad, blasteran Afghan-Amerika yang menjadi asisten khusus
Presiden George W Bush dan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council (NSC)
khusus untuk teluk Persia dan Asia Barat-Daya. Selain itu ia pada tahun 1980 bekerja di bawah
Paul Wolfowitz pada Policy Planning Council. Pada saat terjadi perang terhadap Iraq tahun
1991, Zalmay menjadi sekretaris menteri pertahanan.
Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di
Amerika, lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim
sebagai lembaga independen yang membuat "analisa obyektif dan solusi efektif terhadap
persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia". Di lembaga yang
dibiayai oleh Smith Richardson Foundation ini, Cheryl menulis untuk Divisi Riset Keamanan
Nasional (National Security Research Division) dimana suaminya bekerja.

Tujuan dari buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu
kebijakan pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan
pengembangan bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas, divisi
ini bertugas memberi saran-saran kepada pemerintah AS bagaimana menghadapi
"fundamentalisme" dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat
Islam. Diantara bunyinya sebagai berikut:

“To encourage positive change in the Islamic world toward greater democracy, modernity,
and compatibility with the contemporary international world order, the United States and the
West need to consider very carefully which elements, trends, and forces within Islam they
intend to strengthen (hal x).”

Karena tujuannya untuk mem-Barat-kan umat Islam, maka ia hanya memilih elemen-elemen
dan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan Barat saja untuk dikembangkan. Ini tentu untuk
memuluskan jalannya modernisasi, westernisasi dan Amerikanisasi. Bahkan lebih praktis lagi
Bernard menyarankan agar Barat memberikan "bantuan" bagi pengembangan nilai-nilai Barat
tersebut kedalam pemikiran ummat Islam. Bantuan itu kini telah mengucur ke berbagai LSM-
LSM di Indonesia.

Tidak hanya menyeret nilai-nilai Islam kedalam nilai-nilai Barat, Cheryl Bernard juga membuat
kategori kelompok-kelompok umat Islam dengan bahasa kultural Barat. Kelompok Islam dalam
laporan itu dibagi menjadi Muslim sekularis, tradisionalis, fundamentalis dan modernis (dalam
kelompok terakhir ini termasuk Muslim liberal). Muslim modernis misalnya, dinisbahkan kepada
Muslim yang bekerja untuk Barat dan yang mendukung masyarakat demokratis modern.
Sementara itu Muslim fundamentalis radikal (the radical fundamentalists) adalah mereka yang
anti demokrasi Barat, nilai-nilai Barat secara umum, dan Amerika Serikat khususnya; pokoknya
tujuan dan visi kelompok ini tidak sesuai dengan Barat. Jadi standar klasifikasi ini adalah Barat,
dan bukan berdasarkan realitas umat Islam. Memang, inilah strategi pemikiran.

Dari pemikiran dan gambaran tentang umat Islam yang salah itu Cheryl mengusulkan saran-
saran strategi pemikiran kepada pemerintah AS. Saran-saran strategis yang diberikan Cheryl
kepada pemerintah AS adalah sbb:
1) Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas.
2) Dukung terciptanya masyarakat sipil (civil society) didunia Islam.
3) Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggris
dst.
4) Serang terus menerus kalompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya
melalui media masa.
5) Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern.
6) Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial,
kesehatan, ketertiban masyarakat dsb.
7) Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim.

Ia juga mengajak mempercepat pembangunan masyarakat sipil Islam yang demokratis dan
modern ala Cheryl. Ia mengusulkan beberapa strategi :
1) Dukunglah kelompok modernis, perluas visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli
kelompok tradisionalis. Kemudian angkat mereka secara publik sehingga menjadi figure Muslim
kontemporer.
2) Dukunglah kelompok sekularis kasus per kasus.
3) Kembangkan lembaga-lembaga dan program-program sekuler dibidang sosial dan kultural.
4) Dukung kelompok tradisionalis secukupnya sekedar dapat berlawanan dengan fundamentalis
dan dapat menghindari persatuan kedua kelompok ini.
5) Musuhi kelompok fundamentalis secara energik dengan menyerang kelemahan mereka
dalam pemahaman dan ideologi keislaman mereka, seperti membuktikan korupsi, kebrutalan,
kebodohan, bias mereka dan kesalahan mereka dalam mengamalkan Islam serta ketidak
mampuan mereka dalam memimpin dan memerintah.

Empat Strategi
Nah, yang tak kalah penting adalah yang terakhir, langkah-langkah strategis usulan Cheryl.

Pertama-tama, ia meminta mendukung kelompok cendekiawan modernis (liberal). Menurut


Cheryl, doronglah mereka menulis untuk publik dan anak muda. Terbitkan dan sebarkan kerja-
kerja mereka dengan bantuan biaya. Masukkan ide-ide mereka ini kedalam kurikulum
pendidikan Islam. Usahakan agar pandangan mereka tentang masalah-masalah mendasar
dalam penafsiran agama dapat dibaca oleh masyarakat dan agar berkompetisi dengan
kelompok fundamentalis dan tradisionalis.

Kedua, dukung kelompok tradisionalis dalam menghadapi fundamentalis. Publikasikan kritik-


kritik kelompok tradisionalis terhadap tindak kekerasan dan ektrimisme kelompok
fundamentalis. Pupuk terus perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis, dan jangan
sampai mereka bersatu. Upayakan agar pemikiran tradisionalis mendekati modernis. Kalau
perlu didiklah kelompok tradisionalis agar dapat melawan fundamentalis. Fundamentalis
biasanya lebih superior dalam retorika, tapi tradisionalis masih agak tertinggal. Tingkatkan
jumlah kelompok modernis (liberal) dalam institusi tradisionalis.
Ketiga, hadapi dan lawan fundamentalis. Tantanglah penafsiran mereka tentang Islam dan
tunjukkan ketidakakuratannya. Bongkar jaringan mereka dengan kelompok-kelompok illegal.
Publikasikan segala konsekuensi dari tindak kekerasan mereka. Tunjukkan juga ketidak
mampuan mereka untuk memimpin, untuk mencapai perkembangan positif bagi Negara dan
masyarakatnya. Kemudian sebarkan hal ini kepada generasi muda, kepada masyarakat
tradisionalis yang taat, minoritas Muslim di Barat dan kepada para wanita. Hindarkan rasa
respek atau pemujaan terhadap kekerasan yang dilakukan kelompok fundamentalis, ekstrimis
dan teroris. Juluki mereka sebagai pahlawan jahat, penakut dan tidak waras. Doronglah para
wartawan untuk menginvestigasi korupsi, kemunafikan dan tindak amoral dalam kelompok
fundamentalis dan teroris. Pecah belahlah kelompok fundamentalis.

Keempat, dukunglah kelompok sekularis dengan secara hati-hati. Dorong kelompok ini agar
mengakui fundamentalisme sebagai musuh bersama. Hindarkan agar kelompok sekularis ini
tidak beraliansi dengan kekuatan anti AS yang didorong oleh nasionalisme atau ideologi kiri.
Dukunglah ide bahwa dalam Islam agama dan Negara dapat dipisahkan dan ini tidak
membahayakan keimanan tapi malah memperkuat keimanan. Posisikan sekularisme dan
modernisme sebagai pilihan bagi ummat Islam. Upayakan agar di kalangan ummat Islam
tumbuh kesadaran dan ketertarikan kepada sejarah dan kultur pra-Islam dan non-Islam.
Bantulah kelompok ini dalam mengembangkan organisasi sipil yang independen agar mereka
dapat mengembangkan diri melalui proses politik. (hal.48).

Lebih lanjut Cheryl Bernard memberi masukan tentang langkah praktis yang perlu dilakukan
untuk mendukung strategi dan taktik diatas. Kegiatan-kegiatan yang ia usulkan adalah sbb: 1)
Rebut atau rusaklah "monopoli" kelompok fundamentalis dan tradisionalis dalam menjelaskan
dan menafsirkan Islam. 2) Cari kelompok modernis/liberal yang dapat membuat website yang
menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan kemudian
menawarkan pendapat Muslim modernis tentang hukum-hukumnya. 3) Doronglah
cendekiawan Modernis/liberal untuk menulis buku teks dan mengembangkan kurikulum dan
berilah bantuan finansial. 4) Gunakan media regional yang populer, seperti radio, untuk
memperkenalkan pemikiran-pemikiran Muslim modernis/liberal agar membuat dunia
internasional melek tentang apa arti Islam dan dapat berarti apa Islam itu.

Meski disini tidak dapat dihadirkan bukti bahwa Amerika menerima dan melaksankan saran-
saran Cheryl Bernard, tapi kita bisa saksikan saran-saran Cheryl Bernard di implementasikan di
Indonesia secara perlahan-lahan tapi pasti. Fenomenanya jelas. Muslim pendukung Barat
dipromosikan media masa menjadi tokoh baru. Kini istilah civil socity sudah sering keluar mulut
cendekiawan Muslim dan akrab ditelinga mahasiswa. Konsep civil socity pun dianggap sepadan
dengan konsep masyarakat madani. Modernis dan Liberal Muslim pendukung Barat adalah
pembela aliran "sesat", atau aliran-aliran sempalan. Muslim yang tidak sejalahn dengan liberal,
sekuler, demokrasi Barat, akan segera dicap teroris, fundamentalis dan anti Barat.

LSM-LSM kini tidak lagi berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, tapi lebih kepada
pembaratan masyarakat. Proposal proyek untuk "mengekspor" kemiskinan masyarakat ke
Negara-negara Barat tidak laku lagi. Sementara proposal untuk menjual paham masyarakat
sipil, demokrasi, gender, liberalisme, pluralisme agama, multikulturalisme dan semacamnya
tidak lagi mencari bantuan Barat, tapi dicari-cari Barat untuk dibantu. Bahkan yang paling keras
mengkritik ajaran Islam dan tradisi pemikiran Islam serta membawa gagasan-gagasan "aneh"
kini mudah mendapat dana dan biasiswa dari Barat.

Inilah barangkali yang disindir al-Baqarah (Q.S. 2:41, 79, 173), Ali Imran (Q.S. 3:77,187, 199), al-
Mai'dah (Q.S. 9:44), al-Tawbah (Q.S. 9:9) dan al-Nahl (Q.S. 16: 95). sebagai "menjual" ayat-ayat
Tuhan dengan harga murah.

Well done Mrs. Cheryl !!


SERIAL KE-19
KANKER EPISTEMOLOGIS
Assalamu'alaikum wr wb,

Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahmati dan dimuliakan Allah SWT
dimanapun itu berada di muka bumi Allah SWT.

Serial ke-19 "Islam vs Liberalisme" kali ini akan mengkaji tentang penyakit pemikiran Islam yang
telah terkontaminasi (teracuni) di-"Barat"kan atau dirusak dengan faham-faham pemikiran
Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme agama, dengan judul “Kanker Epistemologis”.

Selamat membaca, semoga semakin memantapkan dan mencerahkan pemikiran Islam


cendekiawan bersama dengan Ytc. seluruh keluarga dirumah, Amin 3X Ya Rabbal Alamin.

Wassalamu' alaikum Wr Wb,


A.Nurhono'

KANKER EPISTEMOLOGIS
I. Pendahuluan

Pertanyaan kritis dan krusial saat ini sebagai tantangan dakwah Islamiyah yang paling serius,
yang harus diajukan kepada seluruh umat Islam dimanapun mereka berada adalah pertanyaan
apakah pemikiran Islam yang dimiliki umat selama ini sampai saat ini, disadari atau tidak
disadari sedang atau sudah terkontaminasi dengan pemikiran Liberalisme, Sekularisme dan
Pluralisme agama ?

Atau dengan menggunakan gugatan krusial pertanyaan ulama besar Syaikh Muhammad Abduh,
apakah karena kejahilan, kebodohan dan kejahilan umat telah menyebabkan sinar cahaya Islam
yang sejati sirna, padam, menghilang akibat perbuatan bersumber dari pemikiran umat yang
sedang atau sudah sesat, sebagaimana slogan terkenalnya menegaskan “Al-Islamu mahjubun
bi ‘l Muslimin” (Islam itu dihijab/ ditutupi oleh kaum Muslimin sendiri).

Jika mencermati kajian serial Islam vs Liberalisem selama ini, semoga tentunya sudah sudah
semakin mantap dan Insya Allah tercerahkan pemikiran islam umat dengan izin Allah SWT.
bahwa semakin jelas batas pemikiran yang haq bersumber dari worldview Islam yang tauhidi
berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah dengan Pemikiran worldview Barat yang bersumberkan
faham-faham dari Yunani. Kajian serial ke-19, kali ini akan mempertajam dan memperkuat
landasan pemikiran umat Islam dengan mengkaji tentang bagaimana ciri-ciri praktisnya
dipermukaan (9 ciri Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme, dari Dr.Adian Husaini), ciri-ciri
"Diabolisme Pemikiran"(Pemikiran Iblis), Dr. Syamsuddin Arif kajian yang lalu, dan dilengkapi
dengan ciri-ciri epistemologis berupa patologi kanker epistemologis, kajian serial ke-19 Islam Vs
Liberalisme kali ini.

Salah satu kebahagian tinggal dan belajar Islam di-Malaysia adalah ketika dapat menghadiri
undangan "world class Islamic night lecture" di ISTAC. Pada tanggal 11 Maret 2011 yang lalu,
kami menghadiri acara "lecture night" world class session dari Prof Malik Badri, berpengalaman
40-50 tahun mengajar Psikologi Islam diberbagai Negara didunia Islam, salah satu perintis dan
penggerak abad XX dalam hal “Islamisasi ilmu” atau “Islamisasi Psikologi Barat” khususnya
dalam bidang "Psikologi Islam" yang saat ini mengajar di UIA KL, dengan tema yang sangat
menarik berjudul "The Worldview and Its Influence on the Theory and Practice of Psychology
".

Secara umum profil beliau adalah sbb : "Professor Malik Badri was born in Rufa’a, Sudan in
1932. He obtained his B.A. (with distinction) and his Diploma of Education from the American
University of Beirut, in 1956. His M.A. was also secured from the same university in 1958. He
further obtained his Ph.D. from the University of Leicester, England in 1961 and his
Postgraduate Certificate of Clinical Psychology from the Academic Department of Psychiatry of
the Middlesex Hospital Medical School of London University in 1966. He was elected Fellow of
the British Psychological Society in 1977 and is now the holder of the title of C.Psychol. In
recognition to his contributions in his field he was awarded an honorary D.Sc. from the Ahfad
University and was decorated by the President of Sudan in April of the year, 2003, with the
medal of Shahid Zubair, the highest award for academic excellence.
Apart from being appointed as professor and dean in varies universities, such as Dean of the
Faculty of Education in the Universities of Khartoum and Juba and the Acting Dean of the
International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), International Islamic
University Malaysia, he was also the founder of a number of departments of psychology such as
the one he established in Imam Mohammad bin Saud University in Riyadh and the Applied
Psychology Department of the University of Khartoum. Professor Badri also served as senior
clinical psychologist in a number of hospitals and clinics in the Middle East and Africa and was
the founder of the Psychological Clinic of the University of Riyadh, Saudi Arabia in 1971. At
present he is re-appointed Professor in the Department of Psychology of the International
Islamic University of Malaysia".

Ceramah Prof Malik Badri dengan judul tersebut, sejatinya bersumber dari tulisan terkenal
beliau tempo dulu dalam buku " Muslim psychologists in the lizard's hole " yang kemudian
dibukukan lebih sistimatis dalam buku mencerahkan terkenal-populer berjudul "Dilemma of
Muslim psychologists" . Buku ini semacam penjelasan ilmiah dari hadits Rasulullah saw, betapa
umat Islam akan mengikuti pemikiran Yahudi dan Nasrani, yang tidak lainh adalah "Liberalisme,
Sekularisme dan Puralisme" dalam hadits sbb :

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra. ia berkata : “Bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “Kamu akan
mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi
sehasta, sehingga jikalau mereka masuk kelobang biawakpun kamu akan mengikuti
mereka”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang Rasulullah
maksudkan ? Nabi SAW. Menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka) (HR. Muslim).
Ini sama halnya dengan sinyalemen Rasululah saw bahwa umat Islam akan mengikuti jejak
Liberalisme Sekularisme dan Pluralisme Agama yang berhafamkan duniawi (materi) dalam
worldviewnya, sebagaimana terlihat pada hadits dibawah ini :
Artinya : “Dari Tsauban Ra. Berkata Rasulullah saw bersabda : “hampir tiba suatau zaman
dimana bangsa2 dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang2 Yang
kelaparan mengerumuni talam hidangan mereka. Maka salah seorang sahabat Bertanya,
Apakah karena kami sedikit pada hari itu ? Nabi saw menjawab, “Bahkan Kamu pada hari itu
banyak sekali, tetapi kamu umpama buih diwaktu banjir, dan Allah Akan mencabutrasa
gentar terhadap kamu dari hati musuh2 kamu, dan Allah akan Melemparkan kedalam hati
kamu penyakit “wahan”. Seorang sahabat bertanya : Apa Kah wahan itu Rasulullah?
Rasulullah menjawab: “Cinta Dunia dan takut Mati”(HR.Abu Daud)

Dalal kajian yang lalu pemikiran yang sesat seperti ini disebut oleh Dr. Syamsuddin Arif
memiliki ciri "Pemikiran Iblis" (Diabolisme pemikiran), sedangkan Prof. Dr. Malik Badri
menyebutnya bahwa umat Islam sudah terperangkap/ terjebak masuk dalam lubang biawak
(lizards hole) pemikiran Yahudi dan Nasrani, dan Dr. Adian Husaini membuat ciri 9 daftar praktis
pertanyaan bagi umat Islam yang telah terkontaminasi dengan pemikiran Liberalisme,
sekularisme dan Pluralisme agama (Lihat daftar dibawah dan silahkan check diri sendiri
bersama seluruh keluarga dirumah, secara jujur dan obyektip apakah secara tidak disadari
sudah atau belum terkontaminasi dengan faham pemikiran sesat ini), dan terakhir dilengkapi
lagi cirri-ciri pemikiran yang sesat ini, pemikiran yang telah terkontaminasi kena dengan kanker
epistemologis. Silahkan baca secara seksama dan cermat dalam kajian setelah daftar 9 ciri
pemikiran-pemikiran yang telah terkontaminasi tersebut.

II. PILIH JAWABAN YANG BENAR (Dr.Adian Husaini MA).


(9 Test Pertanyaan ciri-ciri Pemikiran Liberal, Sekuler dan Pluralisme Agama)

1.Islam adalah agama yang diturunkan Allah untuk menjadi rahmat bagi sekalian manusia.
Karena itu, umat Islam harus berusaha mewujudkan kemanusiaan universal tanpa memandang
bangsa, agama, suku, ras, golongan, atau faktor-faktor primordial lainnya.
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU)

2. Manusia adalah makhluk yang relatif, sedangkan Allah SWT adalah Yang Maha Mutlak.
Karena itu, setiap pendapat manusia adalah relatif, sehingga tidak boleh memutlakkan
pendapatnya. Jadi, hanya Allah yang tahu akan kebenaran yang hakiki. Manusia tidak tahu
dengan pasti suatu kebenaran, sehingga tidak boleh menyatakan yang lain sebagai sesat atau
kafir. Masalah sesat atau kafir adalah urusan Allah, dan serahkan saja kepada Allah.
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU)

3. Islam artinya damai, dan Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, karena itu
Islam melarang umatnya untuk melakukan tindak kekerasan atas nama agama. (A. SETUJU B.
TIDAK SETUJU).

4. Islam memerintahkan umatnya untuk menghormati pemeluk agama lain dan berbuat baik
terhadap mereka, sebab pada intinya semua agama mengajarkan kebaikan. (A. SETUJU B.
TIDAK SETUJU).
5. Patut disyukuri, bahwa Islam kini berkembang pesat di Barat. Bahkan, sistem ekonomi
syariah pun diterima oleh lembaga-lembaga perekonomian di Barat. Karena itu, sudah saatnya,
umat Islam tidak berpikir eksklusif, hanya mengklaim agamanya sendiri yang benar.
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU).

6. Umat Islam diperintahkan untuk bersikap kritis terhadap berita yang dibawa oleh kaum Ahlul
Kitab, meskipun sebenarnya agama Ahlul Kitab (Yahudi dan Kristen) memiliki akar yang sama
dengan Islam, karena sama-sama sebagai agama samawi yang berasal dari Nabi Ibrahim a.s.
(Abrahamic Religions). Apalagi, umat Islam juga diperintahkan untuk mengimani Taurat dan
Injil yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa a.s. yang hingga kini dijadikan pegangan oleh kaum
Yahudi dan Kristen. (A. SETUJU B. TIDAK SETUJU)

7. Perbedaan pendapat adalah hal yang alami dalam kehidupan manusia. Karena itu, wajar saja
jika dalam Islam juga terjadi perbedaan dalam penafsiran al-Quran. Tidak boleh setiap
kelompok merasa benar sendiri dengan pendapatnya dan menghakimi pendapat lain sebagai
salah atau sesat.
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU)

8. Pemahaman manusia akan senantiasa berubah. Imam Syafii mempunyai pendapat yang
lama (qaul qadim) dan pendapat yang baru (qaul jadid). Karena itu, Islam bukanlah monumen
yang membeku atau fosil yang berangsur renta. Islam harus berkembang sesuai dengan
perkembangan zaman, agar Islam dapat diterima oleh masyarakat di setiap waktu dan tempat.
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU).

9. Tuhan adalah satu. Tuhan punya banyak nama. Setiap manusia memanggil dan menyebut
Tuhannya sesuai dengan tradisi dan pemahamannya terhadap Tuhan itu. Masalah nama Tuhan
tidak perlu dipersoalkan, sebab yang penting semua pemeluk agama menyembah Tuhan yang
sama.
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU)

Selanjutnya adalah penjelasan detail tentang fenomena kanker epistemologis dalam


perkembangan pemikiran Islam didunjia Islam termasuk Indonesia. Silahkan dengan cermat dan
teliti menguji dengan jujur dan obyektip pula, apakah sudah dan sedang terjangkiti penyakit
kanker epistemologis ini. Jika ia segera bertobatlah untuk segera pula kembali kejalan Islam,
jalan benar dan lurus yang menghantarkan tercapainya kebahagian, kesejahteraan dan
keselamatan dunia dan akherat menggunakan worldview (pandangan hidup/alami) tauhidi
berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

III. Patologi Kanker Epistemologis

Dalam dunia kedokteran, kanker dikenal sebagai penyakit ganas yang mematikan. Jika dibiarkan
atau lambat ditangani, sel kanker bisa tumbuh tak terkendali, menyebar dan merusak jaringan-
jaringan anggota tubuh, mengakibatkan berbagai komplikasi, disfungsi, gangguan dan
kegagalan. Cukup mengerikan. Namun ada yang lebih dahsyat dari itu, yang disebut "kanker
epistemologis". Kanker jenis ini memang tidak berbentuk tumor, dan karenanya tidak dapat
ditangkap oleh sinar-x. Akan tetapi bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas
ditangani, kanker epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta
mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure). Pada gilirannya penyakit ini akan
menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.

Pengidap kanker epistemologis biasanya memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut:

Pertama, bersikap skeptis terhadap segala hal, dari soal sepele hingga ke masalah-masalah
prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan.
Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qath'i dan bayyin dalam
agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap yang paling ekstrim, mereka
yang terjangkit skeptisisme akut akan meragukan tidak hanya kebenaran posisinya sendiri
dengan berkata "I don't know" (nescio), bahkan juga mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa
dicari atau didekati, tetapi mustahil ditemukan (nesciam). Dalam literatur filsafat Yunani kuno,
sikap mental semacam ini dinamakan arrepsia (bimbang, sangsi) dan aoristia (bingung, tidak
bisa memutuskan).

Gejala kedua adalah berfaham relativistik. Pengidap relativisme epistemologis menganggap


semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte,
kelompok, dsb) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut faham
ini, kebenaran berada dan tersebar dimana-mana, namun semuanya bersifat relatif.

Anda, saya, maupun dia, masing-masing sama-sama benar, tidak boleh menyalahkan satu sama
lain, dan tidak berhak mengklaim diri sebagai yang atau paling benar. Jika seorang skeptis
menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relativis menerima dan mengaggap semuanya
benar (panaletheisme).
Dalam hal ini, relativisme epistemologis adalah identik --kalau bukan sinonim-- dengan
pluralisme. Jika diteliti dengan seksama, paham seperti ini sebenarnya bangkrut. Dari mana ia
dapat menyimpulkan bahwa semua pendapat adalah benar? Padahal, konsep 'benar' itu ada
justru karena adanya konsep 'salah' .

Bahwa sindrom ini telah menjangkiti sebagian kalangan cendekiawan dan tokoh agama telah
terbukti, misalnya, dalam ungkapan seorang kolumnis di harian nasional belum lama ini.
Mengomentari kasus Amina Wadud, ia menulis: "Di dunia ini, kita tidak pernah tahu Kebenaran
Absolut. Yang kita tahu hanyalah kebenaran dengan ''k'' kecil. Dengan kata lain, apa yang kita
yakini sebagai kebenaran mungkin saja salah. Kita mencari kebenaran sepanjang hidup. Apa
yang kita percaya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang merupakan hasil dari proses belajar
dari orang tua, dari sekolah, dari buku, dari lingkungan, dari guru, dari pengalaman hidup,
sampai sekarang. Saya tidak bisa mengatakan, apa yang saya anggap benar, pasti benar. Selalu
harus terbuka kemungkinan untuk mengoreksi, meninjau ulang," begitu kutipnya.
Selain lugu (karena membantah ucapannya sendiri alias self-refuting), kolumnis ini hanya
menunjukkan kejahilan (ignorance)-nya, karena tidak bisa membedakan antara pengetahuan
yang kebenarannya bersifat putatif (seperti teori-teori sains) dan yang pengetahuan yang sudah
final dan tsabit dalam agama.

Gejala lain yang ditunjukkan oleh pengidap kanker epistemologis adalah kekacauan akal
(intellectual confusion). Ia tidak lagi bisa membedakan yang benar dan yang salah, yang haqq
dan yang bathil. Ia cenderung menyamakan dan mencampur-adukkan keduanya. Garis
demarkasi yang memisahkan kebenaran dan kepalsuan tidak mampu dilihatnya. Yang paling
parah jika hal ini menyebabkan si pesakit lantas menganggap kebenaran sebagai kebathilan,
dan sebaliknya, meyakini kebathilan sebagai kebenaran. Seperti mereka yang termakan tipu
muslihat Dajjal, melihat air sebagai api, dan api disangka air.

Meskipun sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal, kanker epistemologis sebenarnya bukan
mustahil untuk ditanggulangi. Terapi yang paling efektif adalah dengan menyuntikkan ilmu yang
bermanfaat ke dalam diri kita. Ilmu yang mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Ilmu yang
menuntun kita kepada kebenaran. Ilmu yang dengannya kita dapat melihat yang benar itu
benar, dan yang palsu itu palsu. Ilmu yang memberikan kita kriteria dan neraca untuk mengukur
dan menimbang, menilai dan memutuskan, memisah dan membedakan antara kebenaran dan
kepalsuan. Ilmu tersebut adalah ilmu para Nabi, yang perlahan-lahan mulai berkurang, dan
kelak sama-sekali hilang saat kiamat menjelang.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, ide dan pemikiran telah menjadi komoditi yang bebas
dipasarkan dan dijual di mana-mana. Terserah dan terpulang kepada konsumen mau membeli
produk pemikiran jenis apa, karena alasan dan untuk tujuan apa. Namun justru disinilah
diperlukan kecerdasan dan ketelitian dalam memilah dan memilih sebelum mengkonsumsi
suatu gagasan atau pemikiran. Jangan asal beli. Berhati-hatilah terhadap pelbagai modus
penipuan dan penyesatan.

Penulis teringat sebuah ungkapan bijak yang mengatakan bahwa manusia itu ada empat
macam. Pertama, mereka yang tahu bahwa dirinya tahu. Yang ini patut dipercaya dan diikuti.
Sebagaimana disinyalir dalam al-Qur'an: ula'ika l-ladzina hadallah, fa-bihudahum iqtadih! (al-
An'am 90). Kedua, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Yang seperti ini harus diingatkan
dan disadarkan dulu sebelum diikuti. Ketiga, mereka yang tahu bahwa dirinya tak tahu. Yang
semacam ini perlu dibimbing dan ditunjukkan. Keempat, mereka yang tak tahu bahwa dirinya
tak tahu. Yang model begini tidak perlu dilayani, karena cenderung ngeyel (merasa tahu tetapi
tidak tahu merasa). Kepada golongan ini kita disarankan cukup berkata: salamun 'alaykum la
nabtaghi l-jahilin (al-Qashash 55).
SERIAL KE-20
LIBERALISASI SYARI’AH ALA NA’IM, ABU ZAYD DAN
SHAHRUR
Assalamu'a alaikum Wr Wb,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahamati dan diberkahi Allah SWT.
dimanapun itu berada dimuka bumi ini,

Salam Perjuangan Dakwah Islamiyah,

Alhamdulillah, dengan izin dan ridho-Nya, kembali dapat dituliskan serial ke-20 Islam Vs
Liberalisme, berjudul " Liberalisasi Syariat ala Na'im, Abu Zayd dan Shahrur" yang secara fakta
“Proyek Gazful Fikri” sungguh semakin sangat gencar diaplikasikan dibanyak negara Islam
termasuk Indonesia…..Maka nasehat praktis perjuangannya…agar umat Islam seyogyanya
harus Waspadalah dan pandai-pandai membaca strategi dan taktik musuh2 Islam dalam
menghancurkan Islam dan umat Islam, serta Bersatulah dalam Prinsip, strategi dan taktik
perjuangan dakwah Islamiyah dalam suatu network yang solid, professional,
berkesinambungan, solutip, kreatip, dinamis, praktis dan aplikatif dipraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari!

Semoga Allah SWT selalu memudahkan dan memberikan jalan yang lurus dan benar bagi
perjuangan dakwah Islamiyah yang diridhoi dan diberkahi-Nya kepada kita semuanya orang-
orang yang beriman, beramal shaleh, berilmu dan berjihad dijalan-Nya, Amin.

Selamat membaca, semoga pula semakin memantapkan dan mencerahkan pemikiran Islam
berlandaskann worldview tauhidi berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, para cendekiawan
mujahid Muslimin dan Muslimat dimanapun itu berada dimuka bumi Allah SWT. , Amin3X Ya
Rabbal alamin.

Salam sukses dunia-akherat dalam naungan ridho dan berkah Ilahi Rabbi,
Wassalamu’ alaikum wr wb,
A.Nurhono

Pembaharuan Syari'ah ala Na'im (I)


Salah satu pemikir yang rajin mengemukakan gagasan pembaruan dalam syariat Islam adalah
Abdullahi Ahmed an-Na'im. Pemikir asal Sudan yang kini bermukim di Amerika ini rajin
memasarkan nilai-nilai Barat (HAM, Hukum Internasional, dan sebagainya) ke dunia Islam.
Baginya, syari'ah Islam telah gagal berdialog dengan masyarakat modern. Karena itu, perlu
dibaharui. Sebenarnya apa yang Na'im lakukan?
Bagaimana cara Na’im mempebarui syariat Islam?
Pertama, Na'im menjadikan diterapkannya nilai-nilai dan budaya Barat sebagai Maqasid as-
Syari'ah, (tujuan syaria’ah), sebab menurutnya, nilai-nilai modern itu bersifat universal. Di sini
Na'im menggeser peran teks sebagai 'wasilah' yang mengandung syari'ah kepada budaya Barat.
Maksudnya, jika ingin menemukan 'tujuan syari'ah', harus dicari pada budaya Barat.

Cara pandang seperti ini oleh 'Abdul Majid al-Najjar dilihat sebagai akar kesalahan kaum
liberalis, sebab memisahkan antara maqsad (objektif) dan syara' yang menjadi wasilah kepada
tujuan (objektif) itu. Padahal, dua hal itu tidak boleh dipahami secara terpisah. Sebab, para
ulama Islam sangat paham, bahwa Maqasid as-Syari'ah itu ada pada syara', haytsuma wujida
al-Shar'a fa tsamma al-maslahah.

Na'im, dalam bukunya, Toward an Islamic Reformation juga mengatakan syari'ah yang selama
ini kita kenal dan terapkan hanyalah produk interpretasi ulama Muslim di tiga abad pertama
Islam; terikat oleh ruang dan waktu. Karena itu, bagi Na'im, syari'at itu bukan wahyu itu sendiri,
bukan produk Tuhan. Sehingga ia bersifat relatif; tidak memiliki unsur Ketuhanan, tidak abadi
dan tidak mengikat.

Tentu, pandangan relativistik Na'im terhadap syari'ah tidak tepat. Sebab, syari'ah adalah an
nushush al muqaddasah dari al-Qur’an dan Sunnah yang mutawatir yang sama sekali belum
tercampuri oleh pemikiran manusia. Dalam wujud seperti ini, syari’ah disebut at thariqoh al
mustaqimah (jalan/cara yang lurus). Ini sejalan dengan pendapat Ibn Athir, yaitu bahwa syari'ah
merupakan ketentuan agama yang diwajibkan Allah ke atas hamba-Nya. Karena itu, syari'ah
Islam tidak akan pernah berubah, sebab ia langsung dari Allah SWT (A1-Ma'idah: 15-16). Yang
berubah hanya uslub (metodologi) pengajaran dan dakwah.
Selain itu, pandangan bahwa Syari'ah hanya produk pemikiran manusia dapat menimbulkan
implikasi keagamaan yang cukup besar. Sebab, ia akan selalu digugat untuk dinegosiasikan
dengan konteks ruang dan waktu. Bahkan, hal itu juga akan menegasikan kesakralan agama
Islam itu sendiri, melonggarkan ikatan religiusitas manusia, yang akan berakhir dengan
rendahnya tingkat kepatuhan manusia untuk menjalankan tuntutan syari'ah-nya. Di sini, Na'im
sejatinya telah merendahkan Islam sebagai Agama rekayasa manusia.

Sebagai ganti syari’ah, Na'im mengusulkan, syari'ah yang akan dijadikan hukum publik atau
perundang-undangan harus senantiasa diuji dalam Nalar Publik (public reason). Yaitu sebuah
ruang dialog dan debat yang berakar pada Civil Society. Di sanalah maksud, alasan dan tujuan
suatu syari'ah diuji dan diperdebatkan oleh masyarakat luas. Namun sayang, bagaimanapun
syari'ah seperti yang saat ini ada tetap ia tolak. Sebab bertentangan dengan nilai-nilai dan
budaya Barat, ujarnya, sebagaimana ia tulis dalam bukunya, Islam and The Secular State.

Padahal, konsep Na'im tentang nalar publik itu sendiri masih sangat debatable. Dominasi
kekuasaan, finansial dan media massa, konflik kepentingan, dan perbedaan level ilmu
pengetahuan masyarakat menjadi kendala yang tak terhindarkan. Apalagi, semuanya hanya
dibangun di atas pertimbangan suka atau tidak. Bisa jadi, pagi disetujui siang sudah dianulir.
Uraian singkat ini menunjukkan bahwa Na'im gagal membedakan antara teks dan tafsir, wahyu
dan pikiran manusia. Karena itu, apa yang dikerjakan Na’im bukan sebuah tajdid terhadap
Syari'ah Islam, tapi sedang memasarkan paham-paham yang lahir dari perut Barat Modern dan
Post-Modern, yakni paham kebebasan (liberalisme), relativisme, dan hedonisme. Jadi, bukan
Islam yang sedang ia perjuangkan, tapi paham-paham Barat yang hari-hari ini sedang berkuasa.

Pembaruan Model Abu Zayd (II)


Kerancuan Pembaharuan pemikiran al-Qur’an Nashr Hamid Abu Zayd berawal dari konsep teks
al-Qur’annya. Dalam pandangannya, sikap dan cara pandang umat Islam tidak sesuai dengan
hakekat teks itu sendiri. Menurutnya, al-Qur’an hanyalah merupakan teks manusiawi. Proses
pemanusiaan ini, menurutnya, sudah berlangsung sejak Nabi Muhammad menuturkan firman-
firman “verbal” Tuhan itu dalam bentuk Bahasa Arab; bahasa orang-orang di Jazirah Arab.
Sehingga menurutnya, al-Qur’an tidak lebih dari sebuah “textus receptus”, yaitu sebuah teks
yang secara objektif hadir ditengah-tengah manusia (kita). Jadi, sebagai sebuah teks al-Qur’an
sama dengan teks-teks lainnya yang merupakan merupakan produk kultural. Dan ini
menurutnya, nampak dari penggunaan bahasa Arab sebagai media.

Abu Zayd mengkritik anggapan masyarakat bahwa teks adalah sakral (taqdis al-nash). Cara
pandang masyarakat ini, katanya, tidak hanya pada teks primer (al-Qur’an) atau teks sekunder
(al-Hadits) saja, tetapi juga terhadap teks-teks tafsir, fiqh dan sebagainya. Menurutnya,
kesalahan ini terlahir dari asumsi bahwa al-Qur’an dan teks-teks tersebut hadir tanpa pengaruh
lingkungan sosial budaya. Cara pandang tersebut telah berimplikasi terhadap kesalahan cara
baca yang yang saat ini dikenal sebagai tradisi (turats). Turats inilah yang kemudian dianggap
paling otentik dipedomani dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Sehingga menurut Abu Zayd,
terciptalah peradaban teks dalam masyarakat Islam.

Pemikiran al-Qur’an ala Abu Zayd diatas nampak dipengaruhi epistemologi Barat. Dengan
pendekatan semiotika dan hermeneutika, Abu Zayd mengatakan bahwa teks keagamaan tidak
terkecuali al-Qur’an adalah produk budaya (al-Muntaj l-Thaqafi). Dalam arti bahwa bahasa yang
tertuang dalam teks al-Qur’an merupakan simbol atau kode manusia (human code) dalam
mengartikulasikan kesadaran dan perasaannya.

Di sinilah kekeliruan Abu Zayd. Ia menilai bahwa al-Qur'an merupakan teks sastra Arab. Padhal,
al-Qur'an bukanlah merupakan teks bahasa Arab biasa. Menurut Prof. Naquib al-Attas, Bahasa
Arab al-Qur'an adalah bahasa Arab bentuk baru, yang sejumlah kosa-kata pada saat itu telah
di-Islamkan maknanya. Al-Qur'an mengislamkan struktur-struktur konseptual, bidang-bidang
semantik dan kosa kata, khususnya istilah-istilah dan konsep-konsep kunci, yang digunakan
untuk memproyeksikan hal-hal yang bukan dari pandangan hidup Islam. Dan juga al-Qur'an
mengislamkan dan membentuk makna-makna baru dalam kosa kata bahasa Arab.

Selain itu, Abu Zayd tidak mendefinisikan secara eksplisit yang dimaksud dengan teks. Ia hanya
mengungkapkan perbedaan antara nash (taks) dan mushhaf (buku). Menurutnya, nash (teks)
berarti makna (dalalah) dan memerlukan pemahaman, penjelasan, dan interpretasi. Sedangkan
mushhaf (buku) tidaklah demikian, karena ia telah tertransformasikan menjadi sesuatu' (syay'),
baik suatu karya estetik (tastakhdimu li al-zînah), atau alat untuk mendapatkan berkah Tuhan.

Tampak dalam hal ini Abu Zayd terpengaruh distingsi Roland Barthes tentang 'teks' dan 'karya'
(work). Ia hanya mengubah sedikit interpretasi dan istilahnya. Menurut Barthes, karya (work)
adalah sebuah obyek yang selesai, sesuatau yang dapat dihitung (computable), yang
menempati suatu ruang fisik. Sedangkan teks adalah sebuah ranah metodologis
(methodological field). "Karya dipegang dalam tangan, teks dipegang dalam bahasa" (The work
is held in hand, the text in language).

Analogi teks biasa dengan al-Quran yang merupakan wahyu Allah, tentunya tidak tepat. Bukti-
bukti kemukjizatan al-Quran dan keotentikannya sebagai teks wahyu telah terpampang dengan
jelas di hadapan manusia. Umat Islam yakin benar, bahwa nash al-Quran bukanlah redaksi
manusia; bahkan bukan kata-kata Muhammad. Karena itulah, upaya para pembaru untuk
menurunkan derajat teks al-Quran menjadi teks manusia, teks linguistik biasa, atau teks
sejarah, hakikatnya sama saja dengan menolak kenabian Muhammad saw. Sebab, Nabi
Muhammad saw sendiri yang menyatakan, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, dan bukan kata-
kata beliau. (***)

Pembaruan ala Syahrur (III)


Tajdid bukan asal membuat yang baru. Tajdid bukan merusak pemikiran dan metodologi ijtihad
yang shahih. ”Pembaruan” yang asal baru, bisa berujung pada bid’ah, membuat perkara baru
yang bathil dalam Islam. Salah seorang pegiat pembaruan yang sangat kontroversial, misalnya,
adalah pembaruan ala Muhammad Syahrūr, asal Syria. Ia melakukan pembacaan Al-Qur’an
dengan menggunakan metode linguistik-historis-ilmiah (al-manhaj al-lughawī al-tārikhī al-‘ilmī)
dengan menggunakan linguistika modern dengan tetap bersandar pada syair-syair jahiliyyah.
(Syahrūr: 1990).

Pendekatan linguistiknya menuai kritik karena di banyak tempat ia melakukan kesalahan.


Sebagai contoh, Syahrūr menyatakan bahwa Al-Qur’ān berasal dari kata istiqrā’ (eksplorasi).
Syahrūr jelas keliru. Tidak mungkin kata “tsulātsī mujarrad” (qara’a-qur’ān) diambil dari tsulātsī
mazīd (istiqrā’). (Mahir al-Munajjid: 1994). Oleh karena itu, Yusuf al-Shaidawi misalnya, ia
mengarang buku baidhat al-Dīk (telur ayam jantan), sebagai analogi bahwa Syahrūr tidak
pernah benar dalam menjelaskan asal-usul bahasa, kecuali dalam satu kasus, yakni al-Kitāb
berasal dari kataba. (al-Shaidawi: tt)

Dengan metode linguistik-historis-ilmiahnya tersebut, Syahrūr melakukan beberapa langkah


yang berakhir dengan dekonstruksi hukum Islam. Pertama, menafikan al-Sunnah sebagai wahyu
kedua. Ia menganggap sunnah rasul SAW. sebagai pemahaman awal terhadap Al-Qur’ān.
(Syahrur: 2000). Oleh karenanya, keputusan hukum akan senantiasa berubah sesuai dengan
perubahan ruang dan waktu. Dalam hal ini, Syahrūr melanggar iman kepada rasul Allah dan
syahādah ”Muhammad Rasūlullāh”.

Kedua, keyakinannya kepada anti sinonimitas istilah dalam al-Qur'an. Misalnya ia membedakan
al-hanafiyyah yang diartikannya gerak berubah dan al-istiqāmah (lurus tetap). Menurutnya, al-
hanafiyyah berlaku untuk ayat-ayat hukum. Dengan kata lain hukum akan selalu berubah.
Padahal kata hanīf di dalam Al-Qur’an (misalnya QS. *2+: 135) ataupun di dalam kamus (Tājul
Urūs, Lisān ’Arab, al-Muhīth, Maqāyis al-Lughah) menunjukan arti tetap, lurus, dan istiqamah.

Ketiga, memaparkan tiga teori filsafat dalam menginterpretasi ayat-ayat ahkām, yakni kondisi
berada (kaynūnah), kondisi berproses (sayrūrah), dan kondisi menjadi (shayrūrah). Dengan
relasi ketiga kondisi ini, dalam hubungannya dengan ayat-ayat hukum, akan melahirkan hukum
yang akan terus berubah-ubah mengikuti perkembangan masa ke masa. Syahrūr menyebut
kondisi perubahan hukum ini dengan hukum dialektika negatif. Dalam hal ini Syahrūr tidak
memperhatikan aspek ayat yang qath’ī dan zhannī al-dilālah yang disepakati para ’ulama.
Dimana ayat qath’ī al-tsubūt hanya dipahami dengan satu tafsir.

Keempat, melahirkan teori aplikatif, nazhariyyah al-hudūd (teori batas) yang meliputi enam
bentuk. Diantaranya, bentuk keempat menyatakan ketentuan batas bawah dan atas berada
pada satu titik atau tidak ada alternatif lain dan tidak boleh kurang atau lebih. Berlaku pada
hukum zina dengan seratus kali jilid (QS. [24]: 2). Sedang bentuk kelima adalah ketentuan yang
memiliki batas bawah dan atas sekaligus, tetapi keduanya tidak boleh disentuh, jika
menyentuhnya berarti telah melanggar aturan Tuhan. Berlaku pada hubungan laki-laki dan
perempuan. Jika antara laki-laki dan perempuan melakukan perbuatan mendekati zina tetapi
belum berzina, maka keduanya belum terjatuh pada batas-batas hudūd Allah.

Teori batas pada bentuk keempat dan kelima tersebut, Syahrūr melanggarnya sendiri dengan
mengeluarkan ”fatwa” pada tahun 2008 dengan menyatakan bahwa ”kumpul kebo” adalah
halal secara syar’i, karena hal itu pengganti dari pernikahan. (www.hidayatullah.com publikasi
29-01-2008).
Oleh karena itu, konsep pembaruan Syahrūr, mulai dari dasar metodologi, langkah pertama,
kedua, ketiga, dan keempat dinyatakan gagal, baik secara syar’i maupun ilmiah.
SERIAL KE-21
UPAYA MELIBERALKAN GURU AGAMA
Assalamu' alaikum wr wb,
Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang rahmati dan dimuliakan Allah SWT.
dimanapun itu berada dimuka bumi ini,
Alhamdulilah, kembali dituliskan artikel serial ke-21 Islam Vs Liberalisme, berjudul "Upaya
meliberalkan Guru Agama".
Selamat membaca, semoga semakin memantapkan dan mencerahkan pemikiran Islam
cendekiawan Mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia, Amin3X, Ya Rabbal Alamin,
Wassalamu’ alaikum Wr Wb,
A.Nurhono

”Upaya Meliberalkan Guru Agama”

Bekerjasama dengan Amerika, sejumlah Perguruan Tinggi Islam --khususnya IAIN/UIN--


dikabarnya menyiapkan guru-guru agama yang “liberal”.

Pada 25 November 2008, situs berita Detik.com menurunkan sebuah berita berjudul ”Guru
Agama Islam di Jawa Masih Konservatif”. Berdasarkan hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan
Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM-UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ditemukan bahwa
”Guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa masih bersikap konservatif. Bahkan, para guru
tersebut sangat rendah dalam mengajarkan semangat kebangsaan.”
Direktur PPIM-UIN Jakarta Dr. Jajat Burhanudin mengatakan, bahwa survei dilakukan terhadap
500 guru di 500 SMA/SMK di Jawa selama kurun Oktober 2008. Responden dipilih dengan
menggunakam metode random acak sederhana. Selain itu juga dilakukan wawancara
terstruktur terhadap 200 siswa. "Dari 500 responden, 67,4% mengaku merasa sebagai orang
Islam dan hanya 30,4% yang merasa sebagai orang Indonesia," tambah dosen Fakultas Adab
UIN Jakarta tersebut.

Lokasi survei dilakukan di kota-kota besar dan menengah di Jawa seperti Jakarta, Bandung,
Yogya, Surabaya, Malang, Solo dan Cirebon. Berdasarkan hasil survei tersebut, Jajat merasa
khawatir terhadap keberlangsungan berkebangsaan ke depan. Pemahaman kebangsaan yang
sempit bisa mempengaruhi wawasan kebesangaaan. "Banyak faktor kenapa guru agama
berperilaku seperti itu, bisa karena pemahaman individu guru,kurikulum atau rendahnya dialog
antar agama. Padahal itu di SMA/SMK umum, bukan disekolah agama," pungkasnya. Begitulah
berita dari Detik.com.

Koran The Jakarta Post melalui situsnya, www.thejakartapost.com, juga menurunkan berita
hasil survei PPIM-UIN Jakarta, dengan menulis bahwa ”Sebagian besar guru-guru agama Islam
di sekolah negeri dan swasta di Jawa menentang Pluralisme, cenderung ke arah radikalisme dan
konservatisme. (Most Islamic studies teachers in public and private schools in Java oppose
pluralism, tending toward radicalism and conservatism, according to a survey released in
Jakarta on Tuesday).

Menurut survei ini, sebanyak 62,4 persen guru agama – termasuk dari kalangan NU dan
Muhammadiyah, misalnya, menolak untuk mengangkat pemimpin non-Muslim. Survei juga
menunjukkan, 68.6 persen guru agama menentang diangkatnya orang non-Muslim sebagai
kepala sekolah mereka; dan sebanyak 33,8 persen menolak kehadiran guru non-Muslim di
sekolah mereka. Persentase guru agama yang menolak kehadiran rumah ibadah non-Muslim di
lingkungan mereka juga cukup besar, yakni 73,1 persen. Sementara itu, ada 85,6 persen guru
agama yang melarang murid mereka untuk ikut merayakan apa yang dipersepsikan sebagai
“Tradisi Barat”. Begitu juga ada 87 persen yang menganjurkan muridnya untuk tidak
mempelajari agama-agama lain; dan 48 persennya lebih menyukai pemisahan murid laki-laki
dan wanita dalam kelas yang berbeda.

Menurut Jajat Burhanuddin, pandangan anti-pluralis para guru agama tersebut terefleksikan
dalam pelajaran mereka dan memberikan kontribusi tumbuhnya konservatisme dan
radikalisme di kalangan Muslim Indonesia.

Survei PPIM-UIN Jakarta itu juga menunjukkan ada 75,4 persen dari responden yang meminta
agar murid-murid mereka mengajak guru-guru non-Muslim untuk masuk Islam, sementara 61,1
persen menolak sekte baru dalam Islam. Sebanyak 67,4 persen responden yang lebih merasa
sebagai muslim ketimbang sebagai orang Indonesia. Lebih dari itu, mayoritas responden juga
mendukung penerapan syariah Islam untuk mengurangi angka kriminalitas: 58,9 persen
mendukung hukum rajam dan 47,5 persen mendukung hukum potong tangan untuk pencuri
serta 21,3 persen setuju hukuman mati bagi orang murtad dari agama Islam.

Sebanyak 44,9 responden mengaku sebagai anggota NU dan 23,8 persennya mengaku
pendukung Muhammadiyah. Menurut Jajat, itu menunjukkan kedua organisasi tersebut gagal
menanamkan nilai-nilai moderat ke kalangan akar rumput. Menurutnya, moderatisme dan
pluralisme hanya dipeluk oleh kalangan elite mereka. Ia juga mengaku takut bahwa fenomena
semacam ini telah memberikan kontribusi dalam meningkatkan radikalisme dan bahkan
terorisme di negeri kita.

Bahkan, katanya, para guru agama itu telah memainkan peran kunci dalam mempromosikan
konservatisme dan radikalisme di kalangan Muslim saat ini. Konservatisme dan radikalisme
bukan hanya dikembangkan di jalan-jalan sebagaimana dikampanyekan oleh FPI, tetapi telah
berakar dalam sistem pendidikan agama. Bahkan, lebih jauh ia katakan, bahwa sikap intoleran
yang dikembangkan dalam pendidikan agama Islam selama ini akan mengancam hak-hak sipil
dan politik dari kaum non-Muslim.
Begitulah hasil survei PPIM-UIN Jakarta. Secara jelas, penelitian PPIM-UIN Jakarta membawa
misi besar untuk merombak pola pikir para guru agama di masa depan. Mereka diharapkan agar
menjadi pluralis, tidak konservatif, tidak radikal. Mereka nantinya harus mau menerima
pemimpin non-Muslim, menerima guru non-Muslim, menolak penerapan syariah, mendukung
hak murtad, mendukung perayaan-perayaan model Barat, dan sebagainya. Itulah yang disebut
oleh Direktur PPIM-UIN Jakarta itu sebagai jenis Islam moderat, Islam pluralis, atau entah jenis
Islam apa lagi. Yang penting jenis Islam yang baru nanti harus mendapat ridho dari nagar-
negara Barat yang menjadi donatur penting dari lembaga-lembaga sejenis PPIM-UIN Jakarta
tersebut.

Misi inilah yang sebenarnya sedang diemban oleh lembaga-lembaga penelitian dan pendidikan
Islam yang sadar atau tidak menyediakan dirinya menjadi agen dari pemikiran dan kepentingan
Barat. Dalam website PPIM-UIN Jakarta (www.ppim.or.id) dapat dilihat daftar mitra kerja dari
lembaga ini, diantaranya: AUSAID, US embassy, The Asia Foundation, The Ford Foundation, dan
sebagainya.

Karena itu, yang kini sedang dikerjakan oleh sejumlah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia
adalah menyiapkan guru-guru agama yang pluralis. Inilah sesuai dengan isi memo Menhan AS
Donald Rusmsfeld, pada 16 Oktober 2003: “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk
mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan
Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS
untuk menangkap atau membunuh mereka. (Harian Republika, 3/12/2005).

AS dkk memang sangat serius dalam menggarap pendidikan Islam di Indonesia. Disebutkan
dalam ”Laporan Kebebasan Beragama Internasional 2007” yang dikeluarkan oleh Deplu AS,
bahwa: ”Misi diplomatik AS terus mendanai Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) di
Universitas Gajah Mada Yogyakarta.” CRCS adalah program pasca sarjana lintas budaya dan
lintas agama yang ditempatkan di UGM yang misinya mencetak sarjana-sarjana agama yang
pluralis. Namun, sebagai bagian dari program politik luar negeri AS, CRCS bukan sekedar
program pasca sarjana biasa. Lembaga ini sangat aktif dalam menyebarkan pemikiran-
pemikirannya ke tengah masyarakat, melalui berbagai program siaran di radio dan televisi. Hasil
dialog itu pun kemudian dibukukan dan disebarkan ke tengah masyarakat.

Menyimak materi-materi yang disebarkan, terlihat dengan jelas, bahwa misi yang diemban oleh
CRCS adalah misi penghancuran keyakinan dan fanatisme umat beragama terhadap agamanya
sendiri. CRCS juga mengembangkan misi agar pelajaran agama nantinya dihapuskan dari
sekolah-sekolah, digantikan dengan ”pelajaran keagamaan”. Dalam buku berjudul Resonansi:
Dialog Agama dan Budaya, (Yogya: CRCS, 2008), dikutip ucapan nara sumber diskusi (Prof.
Djohar MS) yang menyatakan:
”Kalau pendidikan agama itu berarti mempelajari satu pemahaman keagamaan tertentu
sedangkan pendidikan keagamaan itu mempelajari agama-agama. Kalau di madrasah misalkan
itu adalah pendidikan agama yang mempelajari hanya agama Islam, tetapi kalau di sekolah-
sekolah umum adalah pendidikan keagamaan, yang mencari common-ground dari semua
agama… Nah, kalau common ground ini dipelajari di sekolah, maka persatuan dan kesatuan
bangsa ini akan bisa tercapai. Sedangkan pelajaran agama sesuai dengan agama masing-masing
siswa dipelajari di sekolah akan bisa memunculkan bibit-bibit perpecahan yang akan berbahaya
di kemudian hari.”
Dalam buku terbitan CRCS Yogya ini juga dipromosikan bagaimana satu sekolah di Yogyakarta
telah menerapkan pendidikan Pluralisme, dan tidak lagi mengajarkan pendidikan agama
berdasarkan agama masing-masing. Seorang guru di sekolah itu menyatakan: ”...kami memang
tidak bisa menggolong-golong anak melihat dari sisi agamanya apa. Tetapi yang lebih penting
menurut kami adalah meskipun dia tidak beragama tetapi kami yakin bahwa dia beriman.”

Jadi, jelaslah bahwa CRCS mengemban misi penggantian pelajaran agama dengan pelajaran
keagamaan yang lintas-agama. Pendidikan Religiositas sudah pernah diajukan oleh Komisi
Pendidikan Keuskupan Agung Semarang, dan disefinisikan sebagai: ”komunikasi iman antar-
siswa yang seagama maupun berlainan agama mengenai pengalaman hidup mereka yang
digali/diungkapkan maknanya, sehingga mereka terbantu untuk menjadi manusia utuh (religius,
bermoral, terbuka) dan diharapkan mampu menjadi pelaku perubahan sosial, demi
terwujudnya kesejahteraan bersama lahir dan batin.”

Di kalangan Katolik sendiri, banyak yang mempertanyakan model pendidikan agama semacam
ini, khususnya mempertanyakan dimana posisi gereja sebagai lembaga yang mewartakan
Kristus. Yang mengapresiasi gagasan ini diantaranya adalah Keuskupan Palembang yang
bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Provinsi menyelenggarakan pelatihan untuk
mempersiapkan para guru pendidikan Religiositas. Gagasan ini juga pernah dipresentasikan di
Jakarta oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas pada 1 April 2006,
dalam sebuah seminar bertema ”Pelayanan Keagamaan yang Inklusif bagi Para Siswa.” (Lebih
jauh tentang Pendidikan Religiositas, lihat buku Problematika Pendidikan Agama di Sekolah:
Hasil Penelitian tentang Pendidikan Agama di Kota Jogjakarta 2004-2006, terbitan Interfidei,
2007).

Meskipun masih merupakan hal yang kontroversial, model pendidikan agama yang baru inilah
yang sedang dipromosikan oleh CRCS. Misi CRCS yang diakui sebagai bagian dari misi diplomatik
AS juga bisa dibaca melalui jurnal terbitannya, RELIEF (Journal of Religous Issues). Pada Vol. 1,
No. 2, Mei 2003, editorial jurnal ini sudah mengritik pendidikan agama di Indonesia. Ditulis
dalam jurnal ini:
”Dalam realitasnya, pendidikan agama kita cenderung dogmatis, eksklusif, rigid, dan
mengabaikan kebenaran-kebenaran di luar agamanya. Padahal, seperti ditulis oleh Paul F.
Knitter dalam No Other Name, bahwa kita tidak bisa mengatakan agama yang satu lebih baik
dari agama yang lain. Semua agama, kata Fritjof Schuon dalam The Trancendent Unity of
Religion, pada dasarnya (secara esoteris) adalah sama dan hanya berbeda dalam bentuk (secara
eksoteris). Kebenaran dengan demikian tidak lagi eksklusif ada pada hanya agama tertentu, tapi
pada semua agama. Kebenaran dalam agama, dengan demikian, adalah plural.”

Pemikiran yang disebarkan CRCS UGM ini tentu sangat naif. Aspek eksoteris (aspek luar, aspek
syariat) dalam agama-agama adalah hal yang prinsip. Bagi kaum Muslim, ada tata cara shalat
yang wajib diikuti, sebab cara ibadah itu diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, utusan-Allah
yang terakhir. Kaum Muslim yakin, hanya itulah cara shalat yang benar kepada Allah. Kaum
Muslim tidak dapat menerima teori, bahwa Allah akan menerima ibadah semua manusia,
dengan cara apa pun ibadah itu dilakukan. Ada pun teori Kesatuan Transendensi Agama-agama
pada level esoteris hanyalah khayalan Fritjof Schuon dan kawan-kawannya, yang anehnya juga
dijadikan dogma dan diterima kebenarannya oleh banyak orang tanpa berpikir.
Dalam sampul belakang Jurnal RELIEF edisi ini juga ditonjolkan kutipan wawancara Prof. DR.
Machasin, guru besar UIN Yogya, yang menyatakan: ”... kenapa kita ribut menyalahkan orang
ateis bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-
Tuhan.”

Pasca Perang Dingin, AS dan negara-negara Barat lainnya, memang sangat serius dalam
mengembangkan pemikiran Islam seperti yang mereka kehendaki. Pada tahun 2007, menyusul
berdirinya CRCS, di UGM juga didirikan program doktor lintas agama yang didukung oleh tiga
kampus: UGM, UIN Yogya, dan Universitas Kristen Duta Wacana. Melalui lembaga-lembaga
pendidikan tinggi lintas agama inilah diharapkan akan lahir pakar-pakar agama yang pluralis.

Ke depan, kemungkinan mereka akan mengisi pos-pos sebagai dosen atau guru agama di
sekolah-sekolah. Dengan cara seperti inilah, maka secara otomatis pendidikan agama di
sekolah-sekolah akan berubah. Tidak lagi bersifat konservatif seperti yang dicap oleh PPIM-UIN
Jakarta, tetapi sudah bersifat pluralis. Cara ini tentunya sangat efektif, dibandingkan dengan
cara mengubah kurikulum dan materi pendidikan agamanya, seperti mensosialiasikan buku
Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, sebagaimana pernah kita bahas dalam CAP-239.
Dulu, di tahun 1980-an, rencana program pengajaran Panca Agama di sekolah-skeolah pernah
gagal, karena ditolak keras oleh tokoh-tokoh Islam dan tidak mendapat dukungan dari kalangan
akademisi dari Perguruan Tinggi Islam. Kini, situasi sudah berubah. Kini, justru lembaga seperti
PPIM-UIN yang ingin merombak Pendidikan Agama, sesuai dengan pesanan Barat. Pemikiran-
pemikiran keagamaan yang tidak sesuai dengan selera kaum liberal dicap sebagai konservatif,
radikal, dan berpengaruh atas terjadinya terorisme di Indonesia.

Betapa naif dan konyolnya cara berpikir model PPIM-UIN Jakarta tersebut. Guru agama yang
meyakini kebenaran aqidah dan syariah Islam dicap sebagai konservatif, radikal, dan
sebagainya. Jika para guru agama menyarankan murid-muridnya agar tidak mengikuti
perayaan-perayaan ala Barat, tentunya itu harus dihormati. Di sinilah kita melihat bagaimana
otoriternya kaum liberal dalam memaksakan pandangan dan konsep-konsep Barat terhadap
kaum Muslim.

Dalam masalah aqidah, sejak dulu, kaum Muslim sudah bersikap tegas. Berkaitan dengan
kekufuran, para pimpinan NU, misalnya, telah bersikap tegas. Dalam Muktamar NU ke-14 di
Magelang, 1 Juli 1939, ditetapkan bahwa kitab Taurat, Injil, dan Zabur yang ada di tangan kaum
Kristen, Katolik, dan Yahudi sekarang ini bukanlah kitab samawiyah yang wajib diimani kaum
Muslim. Dalam Muktamar NU ke-13 di Menes Banten, 12 Juli 1938, diputuskan, bahwa seorang
yang mengatakan kepada anaknya yang beragama Kristen, ”Kamu harus tetap dalam
agamamu”, yang diucapkan dengan sengaja dan ridha atas kekristenan si anak, maka orang tua
tersebut telah menjadi kufur dan terlepas dari agama Islam. (Lihat, Solusi Problematika Aktual
Hukum Islam; Keputusan Muktamar, Munas, Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), terbutan
Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN-NU) Jawa Timur).
Dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang
diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum
menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI.
Adapun soal ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang
syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar
perbuatan ini tidak dilakukan. Terhadap orang yang mengakui adanya nabi lagi setelah nabi
Muhammad saw, Majlis Tarjih PP Muhammadiyah tanpa ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa
orang tersebut kafir.

Pandangan dan sikap kaum Muslim yang tegas dalam urusan aqidah tersebut harusnya
dihormati oleh para dosen dan peneliti di PPIM-UIN Jakarta. Keyakinan terhadap kebenaran
agamanya juga ditunjukkan oleh Gereja Katolik. Melalui Dokumen Dominus Iesus yang
dikeluarkan Vatikan pada 6 Agustus 2000, Gereja Katolik menegaskan: ”Jelas sangat
bertentangan dengan iman Katolik, bila berpendapat bahwa Gereja seperti salah satu alternatif
jalan keselamatan bersama-sama dengan yang ditawarkan oleh agama-agama lain, yang
dipandang sebagai pelengkap bagi Gereja, atau secara substansial sederajat dengan Gereja... ”.
(Lihat perdebatan seputar Dominus Iesus pada buku Stefanus Suryanto berjudul Paus
Benediktus XVI (Jakarta: Obor, 2008)).

Sebagai salah satu lembaga yang menyandang nama Islam, sebaiknya PPIM-UIN menghentikan
aktivitas-aktivitasnya yang menyudutkan umat Islam dan mengajak umat Islam ragu dengan
kebenaran aqidah dan syariah Islam. Kita mengimbau agar mereka mau belajar dan bersikap
kritis – sedikit saja – terhadap pemikiran dan politik imperialistik negara-negara Barat.
Kita berharap, lembaga-lembaga seperti PPIM-UIN mau menyadari kekeliruannya dan memiliki
rasa malu untuk merusak agama dengan dalih membuat kemaslahatan untuk umat manusia.
Masih banyak jenis penelitian lain yang bermanfaat bagi umat Islam, meskipun mungkin kurang
diminati para ”cukong”. Betapa pun, kita sebenarnya salut dengan kesungguhan PPIM-UIN
Jakarta dalam melakukan suatu penelitian. Satu pelajaran berharga bisa kita petik: untuk
merusak Islam pun perlu strategi dan kesungguhan.
Akhirul kalam, kita renungkan satu peringatan dari Allah SWT: ”Maka bersabarlah kamu,
sesungguhnya janji Allah adalah benar, dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak
meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS ar-Rum: 60).
SERIAL KE-22
PROF. AZYUMARDI: PENDIDIKAN ISLAM DI IAIN ADALAH
“ISLAM LIBERAL”
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth.sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang Insya Allah akan selalu dirahmati dan
dimuliakan Allah SWT. dimanapun itu berada di muka bumi ini,

Alhamdulilah kembali dapat dituliskan serial ke-22 Islam vs Liberalisme, yang melengkapi dan
menyempurnakan serial ke 21, dengan judul : "Prof.Azyumardi : Pendidikan Islam di IAIN
adalah "Islam Liberal".

Selamat membaca, semoga semakin mantap dan semakin mencerahkan pemikiran Islam
cendekiawan Mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia dimanapun itu berada, Amin 3X Ya
Rabbal Alamin.

Wassalamu' alaikum wr wb,


A.Nurhono

PROF. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam


Liberal”
Sebagai lembaga akademik, kendati IAIN terbatas memberikan pendidikan Islam kepada
mahasiswanya, tetapi Islamyang diajarkan adalah Islam yang liberal. IAIN tidak mengajarkan
fanatisme mazhab atau tokoh Islam, melainkan mengkaji semua mazhab dan tokoh Islam
tersebut dengan kerangka, perspektif dan metodologi modern. Untuk menunjang itu,
mahasiswa IAIN pun diajak mengkaji agama-agama lain selain Islam secara fair, terbuka, dan
tanpa prasangka. Ilmu perbandingan agama menjadi mata kuliah pokok mahasiswa IAIN.”

“Jika di pesantren mereka memahami dikotomi ilmu: Ilmu Islam (naqliyah dan ilmu keagamaan)
dan ilmu umum (sekuler dan duniawiah), maka di IAIN mereka disadarkan bahwa hal itu tidak
ada. Di IAIN mereka bisa memahami bahwa belajar sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi,
sama pentingnya dengan belajar ilmu Tafsir al-Quran. Bahkan ilmu itu bisa berguna untuk
memperkaya pemahaman mereka tentang tafsir. Tetapi, IAIN tidak mengajarkan apa yang
sering disebut dengan “islamisasi ilmu pengetahuan” sebab semua ilmu yang ada di dunia ini itu
sama status dan arti pentingnya bagi kehidupan manusia.”

Itulah pernyataan Prof. Dr. Azyumardi Azra saat menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif
Hidayatullah, Ciputat. Pernyataan itu dimuat dalam buku IAIN dan Modernisasi Islam di
Indonesia (2002, hal. 117), yang diterbitkan atas kerjasama Canadian International
Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Islam (Ditbinperta)
Departemen Agama.

Pengakuan Profesor Azyumardi Azra tentang corak liberal dan liberalisasi pendidikan Islam di
IAIN itu tentu saja menarik untuk kita simak, sebab disampaikan bukan dengan nada
penyesalan, tetapi justru dengan nada kebanggaan. IAIN merasa bangga, sebab sudah berhasil
mengubah banyakn mahasiswanya yang kebanyakan berbasis pesantren/madrasah menjadi
mahasiswa atau sarjana-sarjana liberal.

Ditulis dalam buku ini:


”Model studi Islam tersebut membuka wawasan mahasiswa IAIN yang pada umumnya berbasis
pesantren dan madrasah. Memang, pada tahun-tahun pertama studi di IAIN, sebagian
mahasiswa yang telah terdidik dengan budaya pengkajian Islam pesantren mengalami
goncangan. Tetapi setelah itu umumnya bisa memahami arti penting model studi Islam di IAIN.
Selain itu dalam pengamatan Azyumardi, liberalisasi studi Islam di IAIN juga telah mengubah
cara pandang mahasiswa umumnya terhadap ilmu.” (hal. 117).

Saya tidak ingin berkomentar terlalu jauh terhadap pernyataan Prof. Azyumardi atau fakta-fakta
liberalisasi IAIN yang dipaparkan oleh para aktor utamanya di perguruan tinggi Islam. Pada
catatan-catatan sebelumnya, kita sudah sering membahas masalah ini. Karena masalah ini
teramat sangat penting bagi masa depan pendidikan Islam dan bahkan masa depan umat Islam
di Indonesia, ada baiknya kita simak kembali sejumlah pemaparan tentang proses liberalisasi
IAIN, sebagaimana diuraikan dalam buku tersebut.

Proses liberalisasi itu dimulai dari pulangnya para kafilah yang menimba ilmu di Institute of
Islamic Studies of McGill University. Mereka mendapat didikan dari profesor-profesor Islamic
Studies kenamaan semisal Charles J. Adam, pakar dalam sejarah Islam; Wilfred Cantwell Smith,
pakar sejarah peradaban Islam dan perbandingan agama; N. Barkes, ahli Turki dan sekularisasi
di dunia Muslim, Herman Landolt, pakar filsafat, sufism, dan Syiah; Wael Hallaq, pakar hukum
Islam, dan sebagainya. ”Para alumni McGill ini, dengan latar belakang dan keahlian yang
berbeda, pada gilirannya memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pengembangan
wacana akademik kajian keislaman dan dunia birokrasi di tanah air.” (hal. vii-viii).

Dijelaskan juga dalam buku ini, bahwa IAIN kini sudah berubah, dari lembaga dakwah menjadi
lembaga akademis.
“IAIN mulanya dimaknai sebagai lembaga dakwah Islam yang bertanggung jawab terhadap syiar
agama di masyarakat. Sehingga orientasi kepentingannya lebih difokuskan pada pertimbangan-
pertimbangan dakwah. Tentu saja orientasi ini tidaklah keliru. Hanya saja, menjadikan IAIN
sebagai lembaga dakwah pada dasarnya telah mengurangi peran yang semestinya lebih
ditonjolkan, yaitu sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam. Karena IAIN sebagai lembaga
akademis, maka tuntutan dan tanggung jawab yang dipikul oleh IAIN adalah tanggung jawab
akademis ilmiah.” (hal. x).
Perubahan status IAIN dari lembaga dakwah menjadi lembaga akademis, memang dilandasi
dengan perubahan metodologi studi Islam, dari metode para ulama menjadi metode para
orientalis, seperti diungkapkan oleh buku ini:

“Salah satu yang menonjol adalah tradisi keilmuan yang dibawa pulang oleh kafilah IAIN (dan
STAIN) dari studi mereka di McGill University secara khusus dan universitas-universitas lain di
Barat secara umum. Berbeda dengan tradisi keilmuan yang dikembangkan oleh jaringan ulama
yang mempunyai kecenderungan untuk mengikuti dan menyebarkan pemikiran ulama gurunya,
tradisi keilmuan Barat, kalau boleh dikatakan begitu, lebih membawa pulang metodologi
maupun pendekatan dari sebuah pemikiran tertentu. Sehingga mereka justru bisa lebih kritis
sekalipun terhadap pikiran profesor-profesor mereka sendiri. Disamping aspek metodologis itu,
pendekatan sosial empiris dalam studi agama juga dikembangkan.” (hal. xi).

*****

Dalam beberapa hari ini, saya mendapatkan beberapa buku menarik tentang “Islam Liberal”.
Buku pertama berjudul Islam Liberal 101 (2010), karya Akmal Sjafril, sarjana Teknik Sipil ITB
yang juga alumnus Program Kaderisasi Ulama DDII-Baznas di Magister Pendidikan Islam—
Universitas Ibn Khaldun Bogor. Buku ini berhasil mengkritisi berbagai pemikiran liberal dengan
membalikkan dan mengkritisi logika-logika kaum liberal yang seringkali rancu dan paradoks.

Satu buku lagi yang saya dapatkan berjudul "Argumen Islam untuk Pluralisme" (2010), karya
Budhy Munawar Rachman, Program Officer and Development, The Asia Foundation.
Sebenarnya saya sudah agak malas membaca sejumlah karya yang mendukung Pluralisme
Agama, karena banyak yang tidak jelas dan tegas dalam merumuskan definisi “Pluralisme” itu
sendiri, sehingga bisa diambil satu acuan penilaian. Yang sering terjadi ada manipulasi data,
khususnya saat mengutip pendapat ulama atau tokoh Islam tertentu untuk mendukung paham
Pluralisme. Sejumlah logika teologis dan hukum Islam yang digunakan juga asal-asalan, dan jauh
dari semangat akademis.

Sebagai contoh, di halaman 182 tertulis: “Karena itu pandangan yang memasukkan non-Muslim
sebagai musyrik – seperti sering dilakukan oleh kalangan Islam Radikal – harus ditolak.”

Bukankah pernyataan itu sangat keliru? Begitu banyak ayat dalam al-Quran yang mengecam
keras kaum musyrik, karena menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Orang non-Muslim yang
melakukan tindakan semacam itu jelas-jelas tergolong musyrik. Orang non-Muslim yang
menyembah batu, setan, atau makhluk apa pun; atau yang mengangkat derajat makhluk ke
derajat al-Khaliq, jelas-jelas telah melakukan tindakan syirik. Orang yang mengaku Muslim saja
bisa terjatuh dalam dosa syirik, apalagi orang non-Muslim. Ini bukan soal pernyataan Radikal
atau moderat, karena begitu jelasnya ajaran Islam tentang hal ini.
Di halaman yang sama, penulis --dengan logika asal-asalan-- melakukan penghalalan terhadap
hukum pernikahan antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim. Dikatakannya:
“Soal perkawinan laki-laki non-Muslim dengan perempuan Muslim merupakan wilayah ijtihadi
dan terikat dengan konteks tertentu, di antaranya konteks dakwah Islam pada saat itu, yang
mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga perkawinan antaragama merupakan
sesuatu yang terlarang.” Bagaimana cara mengukur bahwa jumlah umat Islam sudah “banyak”
atau “sedikit”?
Dibandingkan dengan kaum non-Muslim seluruh dunia, umat Islam masih sedikit. Kita maklum,
yang mereka inginkan adalah kebebasan perkawinan lintas agama. Soal dalil atau logika, bisa
dicari-cari!

Yang saya sayangkan berulang kali adalah kutipan yang salah – sengaja atau tidak -- terhadap
tulisan ulama Islam, hanya untuk mendukung paham Pluralisme. Di buku ini dikutip pendapat
Buya Hamka:

“Buya Hamka, seorang ulama besar dan berpengaruh, yang pandangan-pandangannya sangat
progresif-liberal, dalam buku tafsirnya, al-Azhar, mengatakan bahwa ayat tersebut (QS 2:62.
Pen.), adalah satu tuntunan bagi menegakkan jiwa, untuk orang yang percaya kepada Allah,
baik dia bernama Mukmin atau Muslim, Yahudi, Kristen, dan Shabiin yang beriman kepada
Allah, hari akhir dan diikuti amal yang shaleh, mereka akan mendapat ganjaran di sisi Tuhan.
Tiga nilai universal tersebut adalah syarat yang mutlak. Namun, menurut Buya, meskipun
seorang manusia telah mengaku beriman kepada Allah, mengaku beriman kepada Nabi
Muhammad saw, kalau iman itu tidak dibuktikannya dengan amal saleh, tidaklah akan diberi
ganjaran oleh Tuhan.” (hal. 122-123).

Soal pendapat Hamka tentang QS 2:62 sudah pernah kita bahas di CAP ke-172. Pendapat
Hamka tentang keselamatan kaum non-Muslim dalam pandangan Islam sebenarnya juga tidak
berbeda dengan para mufassir terkemuka yang lain.
Termasuk ketika menafsirkan QS 2:62 dan 5:69. Karena itu, Hamka memandang, ayat itu tidak
bertentangan dengan QS 3:85 yang menyatakan: "Dan barangsiapa yang mencari selain dari
Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari
Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi." Jadi, QS 3:85 tidak menasakh QS 2:62 dan 5:69
karena memang maknanya sejalan.

Menurut Hamka hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada
Allah, artinya percaya kepada segala firmanNya, segala Rasul-Nya dengan tidak terkecuali.
Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal
yang shalih."

Jadi, Hamka tetap menekankan siapa pun, pemeluk agama apa pun, akan bisa mendapatkan
pahala dan keselamatan, dengan syarat dia beriman kepada segala firman Allah, termasuk al-
Quran, dan beriman kepada semua nabi dan rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad saw. Jika
seseorang beriman kepada al-Quran dan Nabi Muhammad saw, maka itu sama artinya dia telah
memeluk agama Islam. Dengan kata lain, dalam pandangan Hamka, siapa pun yang tidak
beriman kepada Allah, al-Quran, dan Nabi Muhammad saw, meskipun dia mengaku secara
formal beragama Islam, tetap tidak akan mendapatkan keselamatan. Itulah makna QS 3:85 yang
sejalan dengan makna QS 2:62 dan 5:69.

Soal keimanan kepada Nabi Muhammad saw dan al-Quran itulah yang sejak awal ditolak keras
oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Orang Yahudi menolak mengimani Nabi Isa dan Nabi
Muhammad saw. Dan kaum Nasrani menolak untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw.
Sedangkan kaum Muslim mengimani Nabi Musa, Nabi Isa, dan juga Nabi Muhammad saw,
sebagai penutup para Nabi.

Kaum Pluralis – seperti penulis buku ini – kemudian berusaha mengecilkan arti penting
keimanan kepada kenabian Muhammad saw, sebagai dasar keselamatan. Di sini ditulis:

“Keselamatan dicapai dengan iman yang benar yang menguasai jiwa dan amal yang
memperbaiki manusia. Tidak ada masalah sama sekali jika mereka orang-orang Yahudi, Kristen,
dan Shabi’in, yang tidak beriman kepada Nabi saw. Keselamatan tidaklah mensyaratkan iman
kepada Nabi Muhammad.” (hal. 130).

Dengan membaca buku ini, kita tidak perlu terlalu cerdas untuk memahami kesalahan paham
Pluralisme Agama. Justru buku ini memaparkan dengan sangat gamblang betapa bathilnya
paham ini. Jika orang tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, dia pasti tidak beriman
kepada al-Quran. Lalu, bagaimana dia bisa mengenal Allah? Bagaimaan dia bisa menyembah
Allah dengan benar? Bagaimana dia bisa beramal shalih? Amal shalih menurut siapa?

Lalu, untuk apa dia bersyahadat: saya bersaksi bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan saya
bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah.”?
SERIAL KE-23
NOVEL KEMI : CINTA KEBEBASAN YANG TERSESAT
Assalamu’ alaikum wr wb,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang Insya Allah selalu dirahmati Allah SWT.

Khususnya bagi pecinta Novel….dituliskan intisari Novel terlaris Dr.Adian Husaini, berjudul
KEMI_Cinta Kebebasan yang Tersesat”….Insya Allah akan bermanfaat mencerahkan pemikiran
Islam…..dan sebuah renungan utk menkaji barangkali diantara sahabat-sahabat sekalian, atau
saudara dan kelaurga ada yang sedang sudah terpengaruh atau terkontaminasi dengan
pemikiran Liberal, sekuler dan pluralism agama….Maka inilah buku Novel dalam bentuk
bahasa yang praktis dan ringkas membicarakan pergolakan pemikiran dan jiwa para aktifis
liberal tersebut.

Novel ini di tulis dengan tujuan memudahkan kaum Muslim Indonesia untuk memahami
pemikiran-pemikiran liberal dan bagaimana cara mengatasinya. Hingga kini, penyebaran ide-ide
liberal dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya melalui penulisan novel, sinetron, dan film.

Sekali lagi selamat membaca…..Insya Allah akan bermanfaat…jika ada rezeki….dan


keringan…..cari dan beli deh bukunya pasti bermanfaat bagi mencerahkan Pemikiran Islam
umat cendekiawan Muslimin dan Muslimat Indonesia.

Wassalamu’ alaikum wr wb,


A.Nurhono

KEMI: CINTA KEBEBASAN YANG TERSESAT


(Novel Perdana Dr. Adian Husaini)
Komentar Taufiq Ismail, sastrawan:

“Setelah wajah pesantren dicoreng-moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, novel
Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam
yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas, sekaligus gigih dalam
membendung gelombang liberalism.”

Bisa dikatakan, ini bukan Novel biasa! Novel ini sarat dengan pergulatan pemikiran tingkat
tinggi dan pergulatan jiwa dan pikiran para aktivis liberal. “Novel Kemi” berkisah tentang dua
orang santri cerdas yang berpisah jalan. Kemi (Ahmad Sukaimi), santri pertama, terjebak dalam
paham liberalisme. Ia mengkhianati amanah Sang Kyai. Kemi salah pilih teman dan paham
keagamaan. Ujungnya, ia terjerat sindikat kriminal pembobol dana-dana asing untuk proyek
liberalisasi di Indonesia. Nasibnya berujung tragis. Ia harus dirawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa
di Cilendek, Bogor. Rahmat, santri kedua, selain cerdas dan tampan, juga tangguh dalam
“menjinakkan” pikiran-pikiran liberal. Rahmat disiapkan khusus oleh Kyai Aminudin Rois untuk
membawa kembali Kemi ke pesantren.

Meskipun misi utamanya gagal, Rahmat berhasil “mengobrak-abrik” jaringan liberal yang
membelit Kemi. Sejumlah aktivis dan tokoh liberal berhasil ditaklukkan dalam diskusi.

Prof. Malikan, rektor Institut Studi Lintas Agama, tempat Rahmat dan Kemi kuliah, ditaklukkan
Rahmat di ruang kelas. Siti, seorang aktivis kesetaraan gender, putri kyai terkenal di Banten,
terpesona oleh kesalehan, kecerdasan, dan ketampanan Rahmat. Siti sadar dan bertobat,
kembali ke orang tua dan pesantrennya, setelah bertahun-tahun bergelimang dengan pikiran
dan aktivitas liberal. Rahmat juga berhasil menyadarkan Kyai Dulpikir, seorang Kyai liberal
terkenal di Jawa Barat. Sang Kyai bertobat dan wafat di ruang seminar.

Kecintaan Siti dan Rahmat pada dunia pendidikan dan dakwah membawa mereka pada
keputusan pahit: sepakat untuk berpisah dan tidak mengikatkan diri dalam satu tali
perkawinan, meskipun mereka saling mencinta.

Note : Novel di jual di Jakarta dengan Harga Rp. 55.000,- (tebal 316 hal.), Pemesanan khusus,
hubungi Eko, HP 087878147997.

Bedah Novel “KEMI” Di Universitas Diponegoro Semarang


Pada tanggal 14 Desember 2010, diadakanlah bedah novel “KEMI: Cinta Kebebasan yang
Tersesat” di Masjid Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Hadir sebagai pembicara adalah
penulis novel sendiri, yaitu Dr. Adian Husaini. Acara dipandu oleh Dr. Suharnomo, dosen
Fakultas Ekonomi Undip. Disamping mahasiswa, tampak hadir sejumlah dosen Undip dan dosen
Universitas Islam Sultan Agung Semarang (Unissula). Diantanya ialah Dr. M. Rofiq Anwar,
mantan rektor Unissula.

Di dalam pemaparannya penulis menceritakan, bahwa salah satu yang mendorongnya menulis
novel KEMI adalah ketika ia menyaksikan film Perempuan Berkalung Sorban, yang menurut dia
sangat melecehkan pesantren. Dikatakan oleh Dr. Adian: “Sebagai orang yang pernah nyantri
bertahun-tahun dan banyak mengunjungi pesantren, saya tidak rela pesantren digambarkan
begitu buruk, sehingga perlu diliberalkan.” Penulis juga menunjukkan, bahwa saat ini ada
usaha-usaha yang sangat serius, sistematis, dan didukung dana yang sangat besar, untuk
meliberalkan pesantren dan alumninya.

Setelah berkonsultasi dengan sastrawan terkemuka, Taufiq Ismail, yang tak lain juga kakak
kelasnya di Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Adian mengaku semakin bersemangat untuk
menerbitkan novel tersebut. Bahkan, kemudian Taufiq Ismail memberikan pernyataan di
sampul depan novel KEMI, bahwa novel tersebut berhasil memberikan gambaran yang sangat
berbeda tentang dunia pesantren dengan gambaran yang diberikan oleh film Perempuan
Berkalung Sorban.

Kepada para hadirin, Dr. Adian menceritakan, bahwa


ia menulis novel KEMI karena merasa wajib menulis
hal tersebut. Sebab, tidak semua masalah bisa ditulis
dalam bentuk karya ilmiah. Disebutkannya, bahwa
Hamka, Mohtar Lubis, Sutan Takdir Alisyahbana, dan
para pemikir lainnya, banyak yang menulis cerita
fiksi, disamping menulis karya ilmiah. Dr. Suharnomo
juga menyatakan bahwa yang menarik dari KEMI,
adalah karena penulisnya Adian, yang biasanya
menulis buku-buku ilmiah tentang pemikiran Islam.

Adian menceritakan juga, dunia pembaca buku


kadangkala kurang adil. Buku yang ditulisnya dengan
sangat serius, seperti Wajah Peradaban Barat, sudah
bertahun-tahun belum dicetak ulang. Padahal, buku
itu meraih penghargaan sebagai buku terbaik untuk
kategori non-fiksi dalam Islamic Book Fair di Jakarta
tahun 2005. “Tetapi novel KEMI baru tiga bulan
sudah dicetak ulang.”

Sejak terbitnya novel ini sekitar tiga bulan lalu, Adian mengaku sudah banyak menerima
dukungan dari pembaca. Ia membacakan sebuah SMS yang dikirimkan kepadanya oleh seorang
mantan aktivis mahasiswa dan penulis buku: “Membaca novel KEMI membawa pembaca ke
ruang diskusi yang elegan dan argumentatif. Berdiri tegak di atas kebenaran wahyu dengan
dialektika yang renyah dan telak dalam menjaga bangunan Islam dari kepayahan dan
kerapuhan pemahaman sekularisme, pluralisme agama dan liberalisme yang menggurita
adalah salah satu pesannya. Buku ini wajib dibaca oleh siapa pun yang mencintai diri dan
kehidupannya. Dahsyat!”

Adian juga mengakui, diantara motivasinya menulis novel KEMI adalah agar umat Islam lebih
mudah memahami logika-logika liberalisme dan mampu menjawabnya dengan tepat dan benar.
Misalnya, kalau ada orang mengatakan, bahwa semua agama itu sama-sama menyembah
Tuhan yang sama, dan semuanya benar, bagaimana cara menjawabnya. Kalau ada yang
mengatakan, bahwa kebenaran itu relatif, bagaimana cara mematahkannya. Juga, misalnya,
kalau ada yang mengatakan, bahwa jangan merasa benar sendiri dengan agamanya, bagaimana
cara menjelaskan kekeliruan pernyataan tersebut.

Dalam kesempatan bedah Novel KEMI di Undip tersebut, Adian mengaku sedang menyiapkan
lanjutan kisah KEMI. Hanya saja, katanya, karena kesibukan, entah kapan ia bisa mulai menulis.
Adian sempat meminta masukan kepada para pembaca, bagaimana enaknya kelanjutan kisah
itu. Seorang dosen Unissula yang sempat membaca kisah cinta Siti kepada Rahmat dalam novel
KEMI, kemudian mengusulkan, agar di serial berikutnya, kedua insan yang saling mencintai
tersebut, dalam dipertemukan dalam satu ikatan perkawinan. Agar happy ending, katanya.

Memang dalam kisah novel KEMI, Siti dan Rahmat memilih untuk tidak menjadi suami istri
demi kecintaan mereka masing-masing kepada dunia pendidikan dan dakwah. Siti adalah
seorang aktivis liberal dalam bidang kesetaraan gender dan pluralisme, yang akhirnya bertobat
dan kemudian kembali aktif di pesantren orang tuanya. Sedangkan Rahmat adalah tokoh utama
novel KEMI yang berhasil membongkar jaringan kriminal pembobol dana-dana liberalisasi dan
menjinakkan beberapa aktivis liberal.

Begitulah bedah novel KEMI di Undip Semarang. Pada keesokan harinya, 15 Desember 2010,
sambil melanjutkan rihlahnya di beberapa kota di Jawa, novel KEMI juga dibedah di salah satu
kampus di Cirebon, yang juga dihadiri langsung oleh Dr. Adian Husaini.
Gema Insani Press (GIP) yang sudah benyak menerbitkan buku-buku Adian Husaini
menyampaikan terimakasih kepada para pembaca yang sudah memberikan apresiasi yang
cukup tinggi terhadap novel KEMI. Kita menunggu lanjutan kisah KEMI yang lebih menarik lagi,
sebab masih banyak ide-ide liberal yang belum sempat didialogkan dalam novel KEMI.

Jebakan Roman
Dalam Novel yang saya tulis: ”Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat”, ada sosok penting yang
menjadi salah satu pemegang kendali cerita, yaitu Roman. Manusia satu ini menyamar sebagai
mahasiswa di sebuah Institut Studi Lintas Agama, tempat Kemi – santri liberal yang
mengkhianati petuah gurunya. Roman, seorang residivis, pemimpin satu kelompok penjahat
kerah putih yang berulangkali berhasil membobol mesin ATM sejumlah bank.

Selain tampan, gagah dan perlente, Roman juga berotak encer. Ia berngalaman dalam dunia
bisnis dan politik internasional. Ia tahu ada dana yang luar biasa besar untuk proyek-proyek
liberalisasi di dunia Muslim. Dana itu hanya bisa dicairkan dengan merekrut santri-santri dan
intelektual Muslim yang cerdas, yang digunakan sebagai ujung tombak proyek-proyek
liberalisasi. Di sinilah otak bisnis Roman berjalan. Ia membangun jaringan yang luas di kalangan
yayasan-yayasan asing, pemerintah, dan LSM-LSM lokal.

Sejumlah alumni pesantren direkrutnya. Mereka diberi tugas membuat proposal, memberikan
pelatihan, dan membuat laporan kepada LSM-LSM yang dikendalikan Roman. Kemi adalah salah
satu santri yang menjadi korban skenario Roman. Ia terjebak dalam aktivitas liberalisasi dengan
mendapatkan imbalan beasiswa kuliah gratis dan biaya hidup bulanan. Pikiran Kemi sudah
terlanjur liberal. Ia terjerat oleh pikirannya sendiri. Ia terjerat oleh jerat-jerat liberal yang
dipasang Roman.

Berikut ini petikan dialog dan cerita tentang Roman dan Kemi, saat Kemi dianggap gagal
merekrut Rahmat, santri cerdas yang dikirim Kyai-nya untuk menyadarkan Kemi dan
membongkar jaringan liberalisme. Saat itu, di sebuah tempat, Kemi diadili oleh Roman dan tiga
anggota sindikatnya. Roman membentak Kemi:

”Kemi, sekarang masalahnya sudah jelas. Kamu harus tanggung jawab. Kyai Dulpikir, salah satu
andalan kita tewas gara-gara Rahmat. Ini harus ada perhitungan. Rahmat sudah
membahayakan posisi kita..
”Ya Kemi, cara kamu menjebak Rahmat sudah terbukti gagal. Kamu terlalu lembek sama dia,”
kata seorang lagi, sambil berdiri berkacak pinggang.

Kemi belum mengenal tiga orang yang malam itu di bawa Roman. Undangan rapat dari Roman
diterimanya mendadak. Dia pikir, itu rapat kelompok diskusi seperti biasa. Ternyata, teman-
teman sekelompok, hanya dia yang datang. Roman justru membawa tiga orang lain yang
penampilannya jauh dari citra sosok intelektual.

”Beri saya sedikit waktu lagi. Prosesnya kan sedang berjalan. Ini belum final,” tutur Kemi, agak
memelas.
”Sekarang masalahnya sudah terlalu jauh. Semua menjadi kocar-kacir. Proyek-proyek kita
terganggu, gara-gara kasus ini. Citra kelompok kita tercoreng, gara-gara Ustad kampungan
teman kamu itu. Tidak ada pilihan lain, Rahmat harus kita bereskan!” kata Roman.
”Apa kamu bilang?” teriak Kemi tidak percaya. Dibereskan bagaimana?”
”Kamu diam saja Kemi! Kamu sudah gagal. Kamu nggak perlu tahu. Ini urusan kami. Tugas
kamu buat proposal, memberikan pelatihan, dan buat laporan!”
”Tapi, saya minta jangan sampai ada apa-apa dengan Rahmat. Bagaimana pun dia teman
saya!” Kemi menatap Roman.
Kamu sudah gagal. Sekarang, Rahmat menjadi urusan kami. Kamu tidak usah turut campur lagi!
Kefir, ambil HP Kemi, kasih HP lain!” perintah Roman pada salah satu yang dia panggil Kefir....

Kemi merasa tak berkutik. Ia ingin berontak. Tapi, lidahnya kelu. Tiga orang lain yang
dihadapinya juga wajah-wajah baru yang berbadan kekar. Tampang mereka ”sangar”. Seorang
menampakkan tatto babi di lengan kirinya. Seorang lagi menampilkan tatto ular di lehernya.
”Roman, kita kan mahasiswa, bagaimana bisa seperti ini? Yang kita lakukan selama ini kan
gerakan intelektual?” Kemi masih mencoba melobi Roman.

”Aku memang mahasiswa, tapi beda sama kamu. Apa kamu tidak sadar dari mana uang yang
kamu terima selama ini, setiap bulan? Memang itu gratisan, Kemi? Memang itu uang dari
Mbah kamu? Di sini, tidak ada duit gratisan Kemi!... ”Kemi, biar kamu sekarang tahu! Kami ini
orang-orang profesional. Kami tidak begitu saja percaya kepada orang-orang model kalian!”
ujar Roman.

Kemi makin kebingungan dengan sikap dan ucapan Roman. Sepengetahuannya, aktivitas kuliah
dan kegiatan-kegiatan pelatihan yang dilakukannya didanai oleh sejumlah Yayasan semacam
She-cooler Foundation. Setahu dia, kegiatan yang dia jalankan juga biasa-biasa saja. Tidak ada
paksaan pada peserta untuk mengikuti jalan pikiran. Bahkan, seringkali suasana juga sangat
kondusif, karena secara rasional paham-paham yang diseberkannya juga bersifat rasional.

Roman duduk tenang-tenang saja menyaksikan Kemi dalam kebingungan dan ketakutan.
”Kami sebenarnya kasihan dengan orang-orang seperti kalian, santri-santri kampung. Tapi,
kami berterimakasih juga sama kalian, sudah membantu kami. Tanpa peran kalian, kami tidak
dapat mencairkan dana-dana asing itu,” kata Roman.

”Apa maksud kamu, Roman?” Kemi makin kebingungan.


”Itulah Kemi, kamu ini pinter tapi juga bodho. Kami ini orang-orang profesional!” sahut Roman
lagi.
”Okelah, Roman, tolong jelaskan dulu semuanya. Biar semuanya jelas. Kalau dari awal saya
tahu semua akan seperti ini, saya pasti tidak mahu bergabung dengan kalian!”
”Ha-ha-ha... enak saja kamu. Tidak segampang itu Kemi... Masuk, keluar, lalu masuk lagi ...
Memang kelompok ini suatu super market, bisa keluar masuk seenaknya!”

Kemi mulai menangkap gelagat yang tidak baik. Ia memutar otak untuk bisa lolos dari kelompok
ini. Ia tidak tahu persis siapa saja yang ada di rumah ini. Setahu dia, hanya Roman dan beberapa
pembantu rumah serta penjaga kebon yang tinggal di situ. Selama ini dia tidak berpikir apa-apa
tentang Roman, karena ia pun berstatus mahasiswa seperti dirinya. Memang ada yang agak
aneh pada Roman. Meskipun mahasiswa, ia jarang sekali aktif di ruang kuliah dan mengikuti
ujian. Yang pasti, penampilannya sangat mewah. Kepalanya botak, badannya kekar,
dandanannya perlente. Jam, cincin, kalung emas, nyaris tak pernah lepas dari tubuhnya. Kemi
tidak curiga, karena kampus Damai-Sejahtera juga banyak menerima mahasiswa dari berbagai
latar belakang ekonomi, agama, dan status sosial.

”Baiklah, Kemi, daripada kamu penasaran, saya ceritakan saja apa sebenarnya! Ini sebagai
ucapan terimakasih saya, karena bagaimana pun, kamu dan Siti sudah banyak jasanya bagi
kami. Tanpa orang-orang seperti kalian, kami tidak banyak mendapat uang yang melimpah.”
Kemi belum paham benar maksud Roman. ”Apa maksud kamu selalu menyebut, ”orang-orang
seperti kalian?”

”Ya, orang-orang seperti kamu, Siti, Farsan, Rahmat... santri-santri cerdas.”


”Untuk apa?”
”Ya untuk mencairkan dana-dana asing itu! Kamu ini ngerti atau pura-pura?”
Kemi benar-benar tidak paham masalah ini.
”Baik, dengarkan baik-baik... supaya kamu tidak penasaran! Kamu pasti tahu, sejak Perang
Dingin berakhir, negara-negara Barat sudah mengubah politiknya. Mereka tidak lagi
mengarahkan politiknya ke komunis. Tapi, berganti mengarah ke Islam. Di situ banyak dana
yang tersedia untuk proyek-proyek menjinakkan Islam; sebagaimana dulu mereka lakukan pada
komunis.”
”Hubungannya dengan saya?”
”Untuk proyek-proyek ”penjinakan Islam”, agar orang Islam tidak anti-Barat, maka mereka
memerlukan santri-santri cerdas, intelektual-intelektual bidang studi Islam, tokoh-tokoh Islam,
agar proyek-proyek itu mudah diterima oleh umat Islam. Tidak mungkin orang-orang bule itu
sendiri yang turun ke masyarakat atau orang seperti saya datang ke pondok-pondok
pesantren.”
”Jadi, dana-dana itu ada motif politiknya?”

”Ya iyalah Kemi.... kamu ini seperti tolol saja! Uang-uang itu mereka kumpulkan dari pajak
rakyat mereka, dan harus mereka pertanggung jawabkan. Ini proyek besar. Di sana, banyak juga
makelar-makelar proyek. Saya sudah menyelami peluang bisnis ini puluhan tahun...di berbagai
negara. Ha-ha-ha, Kemi, ini bisnis besar.”

”Apa kamu bilang, ini bisnis? Bukankah yang kita perjuangkan selama ini adalah ide-ide yang
mulia,yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan dan perdamaian umat manusia. Apa benar yang
kamu katakan ini? Kalau begitu proyek-proyek HAM, kesetaraan gender, pluralisme,
multikulturalisme, semua itu ditujukan untuk bisnis?”

”Ada juga yang tulus memperjuangkan itu semua. Ada yang yakin, itu semua akan membawa
perdamaian. Tapi, lihat saja faktanya. Apa AS dan sekutunya benar-benar tulus menginginkan
perdamaian. Lihat proyek mereka di Iraq dan Afghanistan. Mereka mau damai atau mau minyak
dan kekayaan alam? Tapi, itu terserah mereka. Itu urusan mereka. Bagi saya, semua ini
peluang bisnis. Ini dagang saja! Saya ini pedagang,... ha-ha-ha...” Roman terbahak-bahak. Ia
puas menyaksikan Kemi terus terbengong-bengong menyadari posisinya. Ia puas bisa
memperdayai manusia-manusia seperti Kemi. Sambil terbahak-bahak, Roman menambah
beban kebingungan untuk Kemi:

”Kemi, saya kasih tahu kelemahan kalian. Selain masalah uang, ternyata manusia-manusia
seperti kalian mudah terpedaya oleh pujian! Mudah terlena oleh popularitas. Kalian orang
kampung! Orang-orang sejenis kalian mudah takluk dengan pujian. Jika sudah bisa masuk
televisi, dimuat di media massa, disanjung-sanjung sebagai cendekiawan yang toleran, inklusif,
pluralis, dan sebagainya, kalian sudah termehek-mehek... ha-ha-ha...Kalian mau saja dikerjain,
disuruh-suruh mengerjakan proyek-proyek mereka...”

”Kamu berarti yang mengatur semua ini! Kamu yang selama ini ngerjain kami?”

”Lho-lho-lho, jangan marah dulu Kemi. Jangan salahkan saya. Kalau saya jelas, saya pedagang.
Saya jualan proposal. Saya tahu peluang bisnis! Saya taruh orang di mana-mana, ada di
yayasan-yayasan mereka, ada di tempat kalian....ada di pemerintahan.”
”Jadi, Farsan itu orang kalian?”
”Dia juga pedagang... ha-ha-ha... Tapi ia bekerja sendiri...Dia juga licin, seperti belut.”
Kemi mulai paham. Ia terjebak. Ia terjebak utang. Farsan datang menolong. Ia diiming-imingi
kuliah gratis; katanya, biar wawasannya bertambah, tidak lagi berwawasan sempit, tetapi sudah
menjadi bagian dari masyarakat global. Kekecewaannya pada Neng Cahaya Imani, karena
cintanya tak terbalaskan, mengubah semua rencana awalnya menjadi ustad di pesantren. Soal
uang, Kemi tidak serakah. Ia memang ikut menikmati. Ia telah larut dengan aktivitasnya karena
berbagai pujian dan popularitas. Kemi mulai sadar akan posisinya. Ia dimanfaatkan oleh Roman
untuk menarik dana-dana asing itu. Ternyata, Romanlah yang lebih banyak menikmati kucuran
dananya. Ia diperalat.... diperalat untuk mengubah pemikiran para ustad, santri, dan
mahasiswa, agar mereka meninggalkan ajaran-ajaran Islam dan ajaran klasik di pesantren untuk
kemudian memeluk paham-paham baru yang tidak pernah dikenal dalam tradisi Islam dan
tradisi pesantren.

Kadangkala, tanda tanya memang sempat melintas di benak Kemi, untuk apa negara-negara
Barat begitu bersemangat menyebarkan paham-paham sejenis pluralisme agama dan
kesetaraan gender ke pesantren-pesantren? Apakah mereka juga berniat untuk amal jariyah?
Apakah semua itu bukan bagian dari kebijakan global untuk mengokohkan hegemoni negara-
negara Barat atas dunia ketiga? Banyak tanda tanya sempat muncul di benaknya. Tetapi, Kemi
tidak berdaya, hanya untuk sekedar berpikir. Sebab, lidahnya sudah tersandera! Ia sudah
terlanjur menjadi juru bicara! Ia sudah terlanjur populer. Ia sudah tertawan oleh mulutnya
sendiri.

Kemi tertunduk lesu memikirkan semua yang telah dikerjakannya. Tidak mudah lagi mengubah
jalan pemikirannya. Sebab, dalam banyak hal, ia sudah meyakini kebenaran ajaran-ajaran
pluralisme, kesetaraan gender, di atas ajaran-ajaran Islam yang dia pelajari bertahun-tahun di
pesantren. Bahkan, banyak kegiatan yang dilakukan Kemi bukan lagi karena uang, tetapi karena
kesadaran dan kerelaannya sendiri. Pemikiran-pemikiran itu sebagian sudah diyakininya. Kemi
tidak merasa salah dengan apa yang dilakukannya. Tapi, ia sama sekali tidak sadar, ada bisnis
besar di balik semua keterlibatannya. Ia pernah mengatakan pada Rahmat, bahwa ia ikhlas
menjadi liberal.

Ujung cerita di novel ini, Kemi akhirnya dihajar habis-habisan oleh anak buah Roman. Ia
mengalami gegar otak. Nasibnya berujung ke sebuah rumah sakit jiwa di kawasan Bogor. Tentu,
sebaiknya, bacalah novel Kemi, agar mendapatkan gambaran yang utuh tentang masalah
manusia-manusia sejenis Kemi, yang mungkin ada di bumi Indonesia.
Pengakuan Aktivis Gender
WRITTEN BY ADIAN HUSAINI
Pada hari Sabtu, 9 Oktober 2010, bertempat di arena Indonesia Book Fair, Senayan Jakarta,
saya meluncurkan novel berjudul “Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat” (Jakarta: GIP, 2010).
Novel ini saya tulis dengan tujuan memudahkan kaum Muslim Indonesia untuk memahami
pemikiran-pemikiran liberal dan bagaimana cara mengatasinya. Hingga kini, penyebaran ide-ide
liberal dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya melalui penulisan novel, sinetron, dan film.

“Novel Kemi” ini sarat dengan pergulatan pemikiran tingkat tinggi dan pergulatan jiwa dan
pikiran para aktivis liberal. Novel ini berkisah tentang dua orang santri cerdas yang berpisah
jalan. Kemi (Ahmad Sukaimi), santri pertama, terjebak dalam paham liberalisme. Ia
mengkhianati amanah Sang Kyai. Kemi salah pilih teman dan paham keagamaan. Ujungnya, ia
terjerat sindikat kriminal pembobol dana-dana asing untuk proyek liberalisasi di Indonesia.
Nasibnya berujung tragis. Ia harus dirawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa di Cilendek, Bogor.

Rahmat, santri kedua, selain cerdas dan tampan, juga tangguh dalam “menjinakkan” pikiran-
pikiran liberal. Rahmat disiapkan khusus oleh Kyai Aminudin Rois untuk membawa kembali
Kemi ke pesantren. Meskipun misi utamanya gagal, Rahmat berhasil “mengobrak-abrik”
jaringan liberal yang membelit Kemi. Sejumlah aktivis dan tokoh liberal berhasil ditaklukkan
dalam diskusi.

Di dalam novel ini, ada cerita Prof. Malikan, rektor Institut Studi Lintas Agama, tempat Rahmat
dan Kemi kuliah, ditaklukkan Rahmat di ruang kelas. Siti (Murtafiah), seorang aktivis kesetaraan
gender, putri kyai terkenal di Banten, terpesona oleh kesalehan, kecerdasan, dan ketampanan
Rahmat. Siti, akhirnya sadar dan bertobat, kembali ke orangtua dan pesantrennya, setelah
bertahun-tahun bergelimang dengan pikiran dan aktivitas liberal. Rahmat juga berhasil
menyadarkan “Kyai Dulpikir”, seorang Kyai liberal terkenal di Jawa Barat. Sang Kyai sempat
bertobat dan wafat di ruang seminar.

Dalam catatan ini, ada baiknya kita simak pengakuan Siti Murtafiah, setelah dia tersadar dari
kekeliruan paham liberal dan kesetaraan gender yang selama ini dia peluk dan dia perjuangkan.
Siti mengaku telah terjerat berbagai pemikiran salah, secara perlahan-lahan. Ia sadar setelah
bertemu Rahmat. Ia kemudian menyesal dan berjanji akan bertobat. Siti terpesona oleh sikap
dan pemikiran Rahmat, seorang santri kampung yang cerdas dan shalih.

Berikut ini petikan pengakuan Siti kepada Rahmat, akan kekeliruan pemikiran-pemikiran liberal
yang digandrunginya selama ini:
”Coba perhatikan, Rahmat. Saya juga baru menyadari belakangan ini. Saya sudah terseret
makin jauh. Dulu saya tertarik, karena selalu dikatakan, bahwa kita mengembangkan sikap
terbuka, kritis, rasional, tidak partisan. Tapi, ketika sudah masuk ke lingkungan ini, kita tidak
punya pilihan, kita juga dididik sangat partisan. Jika dulu orang Muslim bangga mengutip
Imam Syafii, Imam Ghazali, dan sebagainya, maka sekarang yang dibangga-banggakan adalah
ilmuwan-ilmuwan orientalis. Katanya, kritis. Bahkan, karya-karya para ulama itu diakal-akali
agar sesuai dengan pikiran mereka.

Yang tanpa sadar, kita disuruh membenci sesama Muslim, pelan-pelan kami mau tidak mau
harus mengambil jarak dari aktivitas keislaman dan komunitas Muslim. Coba kamu perhatikan,
pernah nggak kamu lihat Kemi shalat berjamaah ke masjid, aktif dalam majlis-majlis taklim,
mengajar mengaji anak-anak, shalat tahajut, puasa sunnah, dan sebagainya. Lihat, siapa
teman-teman dekatnya! Ingat nggak kata Ali bin Abi Thalib, siapa teman kepercayaan kamu,
itulah kamu.

Perhatikan juga apa yang selalu diomongkan dia. Dia tidak lagi bicara tentang aqidah Islam,
bahwa iman itu penting, kesalehan itu penting. Tidak bicara tentang bahaya kemusyrikan dan
kemurtadan. Padahal, sejak kecil di pesantren, dia sudah diajarkan kitab-kitab Tauhid yang
membahas masalah syirik. Bahkan, kata syirik, kafir, itu sudah dicoret dari kosakata dia. Syirik
dan iman dianggap sama saja. Mukmin dan tidak mukmin dianggap sama. Islam dan bukan
Islam disama-samakan. Padahal, al-Quran jelas-jelas membedakan derajat orang mukmin
dengan derajat orang kafir.

Saya kadang bertanya, mengapa saya menjadi begini. Bahkan, di kepala saya yang ada bukan
lagi bagaimana memahami al-Quran dengan baik dan benar, tetapi bagaimana agar al-Quran
bisa saya gunakan untuk mendukung pemahaman saya tentang Pluralisme, liberalisme,
toleransi, dan sebagainya. Teman saya sampai berusaha keras untuk meraih gelar doktor
dengan membuat metodologi Tafsir yang sesuai dengan pemikiran Pluralisme.

Semua itu tidak terjadi seketika. Perlu waktu panjang. Sedikit demi sedikit, pikiran dibelokkan.
Tanpa sadar. Perasaan dan pikiran dibelokkan. Saya suatu ketika bertanya kepada diri saya
sendiri, mengapa saya tidak lagi mencintai saudara-saudara saya di Palestina? Bahkan, hati
saya mulai condong pada kaum Yahudi. Saya suka melihat kemenangan Yahudi; yang saya
lakukan adalah mencari-cari kelemahan orang Palestina dan kelebihan orang Yahudi. Malah,
saya sama sekali sudah tidak peduli dengan masalah umat Islam di Kasmir, Moro, Afghanistan,
Irak, dan sebagainya. Saya menganggap semua itu adalah komoditas kaum fundamentalis
untuk mencari popularitas.
Yang lebih saya kedepankan adalah isu-isu yang dibawa oleh negara-negara Barat, seperti isu
radikalisme Islam, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Padahal, berapa ratus ribu
bahkan jutaan penduduk sipil di negara-negara Muslim itu yang dibunuhi? Saya sudah
menganggap bahwa mereka itu semua berhak dibunuh, karena mereka bagian dari kaum
fundamentalis. Tidak ada diantara kami yang habis-habisan mengutuk pembunuhan manusia-
manusia Muslim itu. Hanya sesekali keluar pernyataan, agar tidak terlalu dianggap antek Barat.
Tapi, coba kalau ada satu saja orang bule yang tewas dibunuh oleh satu kelompok Islam, atau
ada bom meledak di suatu tempat yang menewaskan puluhan orang, maka kami akan habis-
habisan mengutuk.

Yang lain, ini yang menyadarkan saya, tiba-tiba tertanam dalam diri saya, perasaan benci pada
syariat Islam, dan bahkan benci dengan kemenangan satu partai Islam dalam Pemilu. Saya
benci sekali kalau ada orang ngomong syariat. Bahkan, saya pernah memberi masukan
teman-teman Kristen agar mereka mengeluarkan pernyataan yang menolak syariat. Saya
pernah bingung, kenapa saya bisa menjadi begini. Saya mengenakan kerudung, tetapi isi kepala
saya sama sekali tidak suka dengan kerudung. Saya benci sekali kalau ada orang Islam atau
organisasi Islam yang mencoba membatasi pakaian.

Bahkan saya pernah ikut merancang demonstrasi menentang RUU Pornoaksi dan Pornografi.
Saya benar-benar termakan paham kebebasan. Saya benci MUI, yang menurut saya sok Islam
sendiri. Saya mendukung Lia Eden, saya mendukung Ahmadiyah, saya benci semua orang Islam.
Bahkan, pernah saya membenci ayah saya sendiri, karena saya melihat dia bersama para kyai
di daerah saya mendatangi DPR, meminta agar tayangan-tayangan porno dan tidak senonoh
dihentikan penayangannya. Saya benci itu semua.

Kamu tahu Rahmat, karena untuk membuktikan saya sudah benar-benar menyatu dengan
paham kebebasan, saya mendukung hak wanita untuk menjadi pelacur. Saya menentang
penutupan komplek-komplek WTS di berbagai kota. Melacur saya anggap sebagai hak asasi
wanita. Menjadi gigolo juga hak asasi. Yang penting tidak mengganggu hak orang lain. Hak-
hak kaum homo dan lesbi juga saya perjuangkan. Sebab saya sudah dicekoki paham kebebasan,
bahwa mereka adalah manusia.

Saya tidak tahu, mengapa saya menjadi seperti ini. Semua pergaulan, kuliah, diskusi, kegiatan,
sepertinya sudah diatur sedemikian rupa, sampai saya tidak sadar, bahwa saya telah menjadi
korban dari sebuah skenario besar. Saya korban. Kemi juga korban. Entah dia sadar atau tidak.
Bayangkan Rahmat, saya ini wanita, perempuan. Sampai karena sudah begitu merasuknya
paham kesetaraan gender dalam diriku, saya tidak lagi mengakui laki-laki berhak memimpin
rumah tangga. Saya benci jika dikasihani. Pernah saya naik bus, ada seorang laki-laki
memberikan tempat duduknya karena kasihan saya berdiri, saya bentak dia. Saya mau suami
saya yang nanti melayani saya, menyediakan minum buat saya, mengasuh anak saya, dan
kalau perlu membawakan tas saya. Entah kenapa di kepala saya tertenam kebencian dan
dendam kepada laki-laki, karena mereka telah menindas kaum saya selama umur manusia.

Suatu ketika, saya merenungkan semua itu dengan serius. Mengapa saya menjadi begini?
Mengapa jadi begini? Itulah pertanyaan saya beberapa bulan terakhir ini. Saya sadar, tetapi
saya tidak tahu, bagaimana saya akan keluar dari jeratan ini. Sudah terlalu jauh... Saya sulit
keluar....Rahmat, entah bagaimana ujungnya perjalanan saya ini....”

”Saya sedih .... hati saya sangat perih... ingat ayah saya, Ibu saya, adik-adik saya...Saya dulu
ingin membuktikan kepada mereka, bahwa saya bisa mandiri, saya bisa bebas, saya mau
merdeka, saya tidak mau diatur lagi dengan berbagai belenggu. Saya minggat dari rumah,
kuliah di satu kampus Islam Jakarta, lalu terakhir terseret ke kampus ini, karena ada
beasiswa...Entahlah... sampai kapan saya akan terus seperti ini. Terkadang saya frustrasi...”

”Saya juga tidak tahu... ini sindikat atau tidak. Yang jelas, saya sudah tidak punya teman, tidak
punya komunitas, malu untuk bergaul dengan sesama Muslimah. Pikiran saya yang sudah
terjerat. Untuk membuang jerat-jerat pikiran ini tidak mudah. Saya sadar ini salah, tetapi saya
seperti tidak berdaya untuk melawannya. Belum lagi, instruksi dan program-program yang
rutin. Saya sering tak sadar menghujat-hujat Islam sendiri, memaki-maki umat Islam sendiri.
Semua itu berjalan begitu saja tanpa bisa saya hindari. Saya sudah terjerat; terjerat oleh pikiran
saya sendiri, terjerat oleh lidah saya sendiri! Saya sadar, saya geram, karena tidak berdaya
untuk melepaskan diri dari semua keterjeratan ini... Saya tidak mampu... Padahal, di depan laki-
laki saya selalu mencoba tampil perkasa, saya tidak mau dipandang rendah. Tapi,
kenyataannya, saya tidak berdaya melawan pikiran saya sendiri...”.

Demikianlah sebagian pengakuan dan pertobatan Siti, seorang aktivis gender, kepada Rahmat.
Siti akhirnya diracun oleh sindikat yang menjeratnya, karena dianggap berkhianat. Beruntung,
dia masih bisa diselamatkan. Di akhir cerita, Siti membuktikan kesungguhannya untuk bertobat.
Ia bahkan mengorbankan rasa cintanya pada Rahmat dan memilih berjuang membesarkan
pesantren ayahnya. Ia lebih mengedepankan aktivitas dakwah dan pendidikan Islam. Kisah Siti,
Kemi, dan Rahmat bisa dibaca lebih jauh dalam Novel Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat.
Selamat membaca!
SERIAL KE-24
LANGKAH-LANGKAH “PERJUANGAN” SEORANG
PROFESOR PENDUKUNG KESESATAN
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang dirahmati dan dimuliakan Allah
SWT.dimanapun itu berada dimuka bumi ini,

Alhamdulilah, kembali dapat dituliskan artikel seri ke-24, Islam vs Liberalisme berjudul :
"Langkah-Langkah Perjuangan Seorang Profesor Pendukung Kesesatan", yang merupakan
pemikiran Islam ustad Hartono Ahmad Jaiz dalam rangka melakukan dakwah amar ma’ruf dan
nahi munkar, untuk mengingatkan umat Islam akan bahayanya pemikiran Liberal seorang
Professor.

Selamat membaca, semoga semakin memantapkan dan mencerahkan pemikiran Islam


cendekiawan mujadid Muslimin dan Muslimat Indonesia, Amin3X Ya Rabbal Alamin.

Wassalamu' alaikum wr wb,


A.Nurhono

Langkah-langkah ''Perjuangan'' Seorang Profesor Pendukung


Kesesatan
Oleh: Ust.Hartono Ahmad Jaiz.

Seorang profesor yang sudah cukup tua tampak turun gunung. Itu pertanda suasana agak
gawat. Kalau beliau tidak turun tangan maka akan dianggap tidak mau cawe-cawe
(berpartisipasi).

Maka dia keluarkanlah jurus-jurusnya, baik lewat televisi maupun majalah, untuk membela
"cucunya" (Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL/ Jaringan Islam Liberal) yang akan dipites (1) orang
gara-gara tulisannya (di koran Katolik, Kompas, 18 November 2002, berjudul "Menyegarkan
Kembali Pemahaman Islam") yang lancang dan mengusik kebenaran Islam.

Sang Profesor berupaya keras untuk meyakinkan khalayak ramai bahwa cucunya tidak bersalah,
hanya beda pendapat belaka, dan itu sah-sah saja. Untuk membela cucunya itu dia tuding orang
yang mau memites cucunya itu sebagai kelompok Islam radikal, garis keras, ekstrem,
fundamentalis, militan, bahkan dia ambil pula istilah dari orang walan tardho yaitu skripturalis
yang artinya injili.
Dia tudingkan telunjuknya ke orang yang mau memites cucunya itu satu persatu sambil
menyebut bulan atau tahun lahir masing-masing kelompok.

Dengan serak-serak berat, Sang Profesor mengemukakan data: Ada Gerakan Tarbiyah pada
1980-an, Komite Indonesia untuk Solidaritas (1987) -dia tidak terus terang menyebut KISDI-- ,
dan Ikhwanul Muslimin (1993).

Data yang di tangannya dikemukakan pula bahwa ada kelompok radikal yang baru lahir masa
reformasi di antaranya Front Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (Maret 1998), Front
Pembela Islam (Agustus 1998), Himpunan Mahasiswa Antar Kampus (Oktober 1998), Hizbut
Tahrir Indonesia (Mei 2000), dan Majelis Mujahidin (Agustus 2000).

Dia katakan, kelompok Islam fundamentalis itu ingin melaksanakan "hukum Tuhan" (2),
termasuk hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, atau qishash bagi pembunuh.
Sementara itu cucu dia yang tergabung dalam Islam Liberal berani menafikan hukum Tuhan itu.
Maka akan dipites orang. Tentu saja Sang Profesor perlu turun gunung membelanya.

Dalam hal bela membela, Sang Profesor ini memang sudah banyak pengalamannya;
1. Ketika Pak Munawir Sjadzali (Menteri Agama 1983-1993) melontarkan gagasan reaktualisasi
ajaran Islam dengan mengemukakan bahwa hukum waris Islam tidak adil, dan Pak Munawir
berpidato di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta bahwa ada beberapa
ayat Al-Qur'an yang kini tidak relevan lagi; maka Sang Profesor membela Pak Munawir.

Sang Profesor berpidato di hadapan 200-an ahli syari'at di Kaliurang Jogjakarta. Lalu dengan
ilmu sebatas kemampuannya, Sang Profesor ingin membela gagasan Pak Munawir. Kata Sang
Profesor, kalau bagian warisan itu lelaki dua kali lipat bagian perempuan, maka bagaimana cara
membaginya? Maka meledaklah tawa para hadirin yang kebanyakan tenaga ahli syari'ah di
Pengadilan-Pengadilan Agama berbagai kota yang sudah biasa memberi fatwa waris.

Mereka sepontan menertawakan Sang Profesor yang tampak terlalu tidak menguasai materi
pembahasan ini. Saat itu pula mendadak sontak Sang Profesor ini turun dari podium, langsung
balik klepat (cepat-cepat) ke Jakarta bersama seorang pendampingnya. Bagaikan orang yang
nglurug (datang dengan menantang bertanding) tiba-tiba jatuh tersungkur, maka bangkit
langsung mlayu nggendring (lari tunggang langgang).

Kalau dikaitkan dengan tarikh/ sejarah, mungkin seperti kasus jagoan jahiliyah di Pasar Ukadz di
wilayah Makkah menantang khalayak, tahu-tahu dijotos Umar bin Khotthob langsung nggledak
(jatuh tersungkur). Jotosan para ahli syari'at di Kali Urang Jogjakarta itu cukup hanya dengan
tertawa bersama, lantas podium pun goyang hingga Sang Profesor yang berdiri di podium itu
tidak kerasan lagi, langsung turun dan lari.

2. Di kesempatan lain lagi, Sang Profesor ketiban sampur (berperan) untuk menjadi pembicara
dalam acara syukuran atas lulusnya Azyumardi Azra (kini Rektor UIN/ Universitas Islam Negeri
Jakarta, dahulu bernama IAIN/ Institut Agama Islam Syarif Hidayatullah Jakarta) dari Universitas
Columbia, Amerika. Syukuran doktor ini diisi oleh Sang Profesor dengan mengemukakan
pembelaan terhadap Nurcholish Madjid dalam pembicaraan tentang pembaharuan Islam di
Indonesia. Sang Profesor mengatakan, Nurcholish Madjid tidak mengatakan Tiada tuhan (t
kecil) selain Tuhan (T besar) seperti yang diberitakan selama ini. Nurcholish Madjid tidak ada
makalahnya yang seperti itu.

Itu hanya bikin-bikinan seorang wartawan saja. Itu sudah saya tanyakan kepada Pak EBA
(Endang Basri Ananda), kata Sang Profesor. Ternyata setelah itu, Sang Profesor jadi kelabakan.
Tidak enak kepada Pak EBA, hadirin yang sudah diceramahi yang tentu saja sudah bubar ke
tempat masing-masing, dan lebih tidak enak lagi kepada wartawan yang dituduh membikin-
bikin berita bohong itu. Masih pula Sang Profesor harus minta copian makalah Nurcholish
Madjid kepada wartawan yang telah dituduhnya secara terbuka itu.

Namun rupanya nasib Sang Profesor masih beruntung, ketika meminta makalah yang dia
anggap tidak pernah ada itu kepada wartawan yang telah ia tuduh itu rupanya benar-benar
diberi copian makalah Nurcholish Madjid. Isinya memang ada terjemahan lafal syahadat,
menjadi Tiada tuhan selain Tuhan. Anehnya, Sang Profesor tidak mencabut perkataannya, dan
tidak minta maaf kepada wartawan yang dituduhnya.

3. Sang Profesor dikenal punya anak buah wanita muda, Wardah Hafidz, tokoh feminisme
alumni Barat. Suatu ketika ada polemik yang diarahkan kepada wanita muda itu, dan nama
Sang Profesor dibawa-bawa. Saat itu ungkapan lawan berpolemik, Ustadz Abu Ridho,
tampaknya menohok pula. Sehingga Sang Profesor yang dikenal selaku "pembela" justru kena
tohokan.

Tokoh feminisme asuhan Sang Profesor itupun kini terkena badai gara-gara ucapannya di TV-7,
Ramadhan 1423H/ 2002M. Wardah Hafidz dalam wawancara TV-7 itu mengatakan: "Saya sudah
tidak lagi melakukan ritual konvensional (shalat, pen), tetapi dengan cara saya sendiri.
Kemiskinan tidak hanya bisa diselesaikan dengan cara seperti itu. Saya punya cara sendiri.
Dengan cara meningkatkan kepedulian untuk mencari solusi kemiskinan.", ujar Wardah.

Di kesempatan lain, Wardah Hafidz sendiri mengaku dinasihati ibunya: "Sampai Ibu
mengingatkan, shalatlah kamu. Kalau kamu nanti masuk neraka, Ibu tidak bisa menolong
kamu," ujar Wardah mengutip kalimat ibunya. "Bu, saya telah dewasa, berilah saya hak. Biarlah
itu hak dan tanggung jawab saya," katanya. (Jurnal Islam, 10-16 Januari 2003, halaman 16).
Apakah "kampanye" untuk meninggalkan shalat ini akan dibela juga oleh Sang Profesor karena
merupakan rekanannya, wallahu a'lam. Yang jelas, kasus itu menuai kecaman pula dari ulama
dan masyarakat.

Karena Allah SWT telah menegaskan:

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu
tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (QS Al-Muddatstsir: 42 dan 43).
4. Kasus lain yang tak kalah serunya, yakni Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam
Liberal) yang menulis di Kompas 18 Nopember 2002 berjudul "Menyegarkan Kembali
Pemahaman Islam", isinya menafikan hukum Tuhan. Kasus Ulil yang oleh FUUI (Forum Ulama
Umat Islam) dari Bandung disebut sebagai penghinaan agama itu dibela pula oleh Sang Profesor
lewat televisi dan majalah. Ketika membela Ulil Abshar di Metro TV, Sang Profesor
dipertanyakan oleh KH Athian Ali Da'i dari Bandung yang diwawancarai lewat telepon, apa
maksud Sang Profesor mengatakan bahwa Al-Quran adalah filsafat. Sang Profesor tidak
menjawabnya.

5. Satu lagi yang dibela oleh Sang Profesor, yaitu Ahmadiyah, aliran yang menganggap Mirza
Ghulam Ahmad (India) sebagai nabi mereka. Sang Profesor kerangkak-rangkak (berpayah-payah
pergi) ke London sebagai "duta' orang Ahmadiyah Indonesia tetapi mengatas namakan
Muhammadiyah bersama Habib Hirzin --yang dulunya pemuda Muhammadiyah lalu ke PKB
partainya NU-mengundang penerus nabi palsu yaitu Tahir Ahmad yang dianggap Khalifah ke-4
tingkat dunia bagi Ahmadiyah untuk datang ke Jakarta/ Indonesia.
Lalu Sang Profesor pun menjemput penerus nabi palsu itu ke Bandara Cengkareng Jakarta dan
mengalungi bunga terhadap penerus nabi palsu tersebut. Kehadiran penerus nabi palsu dari
London ke Indonesia tahun 2000 masa pemerintahan Gu Dur itu oleh Sang Profesor bisa
dimuluskan jalan berbagai upacaranya. Sampai-sampai penerus nabi palsu itu dipertemukan
dengan Presiden Gus Dur dan ketua MPR Amien Rais.
Dalam catatan perjalanan Tahir Ahmad penerus nabi palsu yang disebarkan lewat majalah
khususnya di London, dipujilah perjuangan Sang Profesor yang sangat mengagumkan bagi
mereka atas lancarnya seluruh jalannya acara. Namun tidak lama setelah pujian kepada Sang
Profesor itu beredar di kalangan Ahmadiyah, tiba-tiba hasilnya sangat mengejutkan.

Dengan "perjuangan" Sang Profesor itu, kini hasilnya, banyak rumah-rumah orang Ahmadiyah
di berbagai tempat di Indonesia dihancurkan massa, karena orang-orang Ahmadiyah
dikomandoi penerus nabi palsunya telah sesumbar, Indonesia akan dijadikan negeri Ahmadiyah
terbesar di dunia. Sesumbar itu disambut oleh umat Islam dengan perlawanan, di antaranya
terjadilah penghancuran rumah-rumah para pengikut nabi palsu yang makin nglunjak itu. "Nah,
lhu!" kata orang Betawi/ Jakarta.

Sekarang Sang Profesor menghadapi banyak sekali masalah. Yang dibela itu ada yang sudah
struk berlama-lama di usia tuanya dan tidak jadi petinggi negara lagi. Ada yang dianggap kafir
dan murtad karena "mengkampanyekan" untuk tidak shalat, ada yang menafikan hukum Tuhan,
ada yang disebut sebagai gatoloco (faham menafsirkan Islam seenak perutnya), ada yang
menjadi pengikut nabi palsu namun sesumbar untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri
terbesar pengikut nabi palsu, hingga rumah-rumah orang-orang sesat yang sesumbar itu
dihancurkan massa, dan ada yang diancam mati alias mau dipites orang.

Sang Profesor mestinya tanggap. Ketika berbicara di depan ahlinya, sedang dirinya tidak ahli,
lalu ditertawakan, betapa malu dan sakit hati. Lebih-lebih ketika mempertanggung jawabkan
pembelaannya di akherat kelak, kepada Allah SWT yang hukum-Nya mau ditegakkan oleh
hamba-Nya, tahu-tahu Sang Profesor itu adalah pembela dari para penentang hukum-Nya,
maka betapa klimpungannya di hadapan Allah SWT kelak. Tidak sekadar klimpungan seperti
menghadapi orang yang dituduh tanpa bukti, lalu malah Sang Profesor minta bukti (makalah)
kepada wartawan yang dituduhnya seperti tersebut di atas, lalu diberi bukti yang justru
menghantam Sang Profesor sendiri.

Sebelum umur Sang Profesor habis untuk hal-hal yang merugikan umat dan diri sendiri, lebih
baik kembali kepada hukum Allah, dan bertaubat dari pembelaan-pembelaan yang
menjerumuskan diri dan umat.
Inilah sekadar kronologi "perjuangan" Profesor Dawam Rahardjo, rektor Universitas Islam 45 di
Bekasi Jawa Barat.(*). Selayaknya beliau bertaubat sebelum habis masa edarnya di dunia ini.
Imbauan Allah dalam firman-Nya berikut ini perlu disimak:

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Az-Zumar:
53).

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang
azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)". (QS Az-Zumar: 54).

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang
azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya", (QS Az-Zumar/39: 55).

..supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam
(menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang
memperolok-olokkan (agama Allah). (QS Az-Zumar/ 39: 56).

( Makalah ini disebar luas di Daurah Mahasiswa se Jawa Timur tentang Kewaspadaan Ummat, di
Surabaya, 15/3 2003; di Tabligh Akbar tentang Sesatnya JIL (Jaringan Islam Liberal) di Masjid Al-
Istiqomah Bandung, 16/3 2003; dan dimuat di Majalah Media Dakwah, April 2003.)

(*) Kami mendapat klarifikasi dari Universitas Islam "45" (UNISMA) Bekasi, bahwa Prof. Dr M
Dawam Rahardjo, SE, mulai 10 Oktober 2000 sudah tidak menjabat sebagai Rektor Universitas
Islam "45" (UNISMA)

footnote:
1. Istilah Jawa dan Betawi/ Jakarta yang artinya dibunuh dengan cara menekan kepala
pakai jempol tangan dan jari telunjuk. Yang biasa dipites adalah binatang-binatang kecil
seperti belalang, jangkrik dan lain-lain, yaitu dimatikan dengan cara kepalanya ditekan
pakai jempol tangan dan jari telunjuk.
2. Rupanya Sang Profesor sudah ragu-ragu tentang hukum Tuhan, sehingga perlu diberi
tanda kutip, karena "cucunya", Ulil Abshar Abdalla pengomando JIL, tidak mempercayai
adanya hukum Tuhan.
SERIAL KE-25
DARMOGANDUL DAN KEBEBASAN –
MISI KRISTEN DAN BUDAYA JAWA
Assalamu'alaikum wr wb,

Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang Insya Allah selalu dirahmati dan diberkahi
Allah SWT. dimanapun itu berada dimuka bumi Allah,

Salam silaturrahim dan salam sukses selalu dalam ridho dan berkah Ilahi Rabbi ditempat kerja
masing2.

Alhamdulilah wa syukuri-LLah, Serial ke-25, “Islam versus Liberalisme” kali ini, kembali ditulis
yang Insya Allah menarik dan dapat mencerahkan pemikiran Islam cendekiawan mujahid
Muslimin dan Muslimat Indonesia , dalam satu paket berkaitan berjudul "Darmogandul dan
kebebasan" dan “Misi Kristen dan Budaya Jawa”

Selamat membaca, semoga bermanfaat dan semakin mencerahkan serta memantapkan


pemikiran Islam cendekiawan Islam Indonesia yang bersumber pada worldview Tauhid,
berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Amin 3X, Ya Rabbal Alamin.

Salam Perjuangan Dakwah Islamiyah

Wassalamu' alaikum wr wb,


A.Nurhono

I. Darmogandul dan Kebebasan


SERAT Darmagandul merupakan kitab kontroversial yang mengambil ide cerita dari Serat
Babad Kadhiri. Meskipun merupakan hasil plagiasi dari Babad Kadhiri, namun Serat
Darmagandul tampaknya ditulis berdasarkan motif tertentu yaituke berpihakan pengarangnya
terhadap pemerintah kolonialis Belanda dan kecenderungan terhadap keberadaan misi
Kristen di tanah Jawa. Unsur Kristen dalam Serat ini boleh dikatakan dominan dengan
menggunakan simbolisasi “wit kawruh” dan berbagai cerita yang berasal dari Bibel.

Serat Babad Kadhiri ditulis berdasarkan perintah Belanda. Sedangkan serat Darmagandul
menunjukkan wujud apresiasi yang baik terhadap Belanda, bukan dalam pandangan sebagai
musuh atau penjajah namun justru sebagai kawan. Mengingat pengarang Darmagandul tidak
jelas identitasnya, maka kemiripannya dengan Babad Kadhiri ini jelas menimbulkan sebuah
pertanyaan besar. Dapat diduga bahwa Babad Kadhiri yang ditulis atas perintah dari Belanda,
kemudian dimanfaatkan untuk membuat Serat Darmagandul dengan tujuan memarginalkan
ajaran Islam dan sekaligus memanipulasi sejarah Islam.
Berikut ini berbagai contoh kutipan Darma- gandul yang dikutip dari naskah versi penerbit Tan
Khoen Swie:

”Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kawruh, ....”
(Artinya : Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti
(menganut) agama kawruh ...)

Juga sebuah ungkapan yang dikeluarkan oleh Serat Darmagandul untuk menggambarkan bahwa
sudah seharusnya Al Quran tidak digunakan lagi sebagai pedoman dalam kehidupan manusia
karena keberadaannya justru dianggap meresahkan dan sebagai gantinya manusia Jawa harus
memutuskan perkara dengan menggunakan kitab Injil, yaitu kitab yang dimiliki oleh Nabi Isa.
“Kitab ‘Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang
kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahu’llahu.” (Artinya : Kitab Arab jaman waktu
ini, sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk
memutusi perkara, kitab Kanjeng Nabi, Isa Rahullah).

Keberadaan tulisan-tulisan yang memihak kepada ajaran Kristen tersebut jelas bukan tanpa
tujuan. Patut diduga kuat, arah puncak yang hendak dicapai oleh pengarang
Darmagandul adalah jelas, misi Kristenisasi terhadap manusia Jawa. Sedangkan puncak dari
motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan dalam bentuk suara
kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut :

“Entek katresnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah digetak kaya
kucing,sandyan matiya ing tata-kalaire, nanging lah eling-elingen ing besuk, yen wis ana agama
kawruh, ing tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar bener lan luput, pranatane mengku
praja, mangan babi kaya dek jaman Majapahit.” (Artinya : Telah sirna rasa cintaku kepada
anak. Sudah diberi Kemikmatan makan tidur. Ada gajah digertak seperti kucing, walaupun
mati dalam tata lahir, namun ingat-ingatlah suatu hari nanti, jika telah ada agama
pengetahuan, maka akan aku balas, akan kuajarkan benar dan salah,peraturan tentang
tatanegara, makan daging babi seperti jaman Majapahit).

Maksud kutukan roh prabu Brawijaya tersebut suatu ketika, agama Islam akan di- kalahkan oleh
agama kawruh. Pengetian Agama kawruh yang dimaksud adalah sejalan dengan pengetian yang
dimiliki oleh idiom pohon pengetahuan yaitu Agama atau ajaran Kristen (Kejadian 2:17).
Dengan demikian seolah-olah Serat Darmagandul merupakan kitab yang menggambarkan dan
memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh agama Kristen
yang salah satu cirinya adalah mengajar benar dan salah serta memakan babi seperti umumnya
orang Majapahit.

Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI, juga pernah menulis dan menerjemahkan
Darmogandul yang banyak memuat pelecehan terhadap Islam. Dalam salah satu bait Pangkur-
nya serat ini menulis:
“Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah
sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang
Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”

Ada lagi ungkapan dalam serat ini: “Adapun orang yang menyebut nama Muhammad,
Rasulullah, nabi terakhir. Ia sesungguhnya melakukan zikir salah. Muhammad artinya Makam
atau kubur. Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore
berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah
berkali-kali.”

“Semua makanan dicela, umpamanya: masakan cacing, dendeng kucing, pindang kera, opor
monyet,masakan ular sawah, sate rase (seperti luwak),masakan anak anjing, panggang babi
atau rusa, kodok dan tikus goreng.”“Makanan lintah yang belum dimasak, makanan usus anjing
kebiri, kare kucing besar, bistik gembluk (babi hutan), semua itu dikatakan haram. Lebih-lebih
jika mereka melihat anjing, mereka pura-pura dirinya terlalu bersih.” “Saya mengira, hal yang
menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau
memakan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya
ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tidak mau
makan dagingnya.”

“Kalau bersetubuh dengan manusia tetapi tidak dengan pengesahan hakim, tindakannya di-
namakan makruh. Tetapi kalau partnernya seekor anjing, tentu perkataan najis itu tidak ada
lagi. Sebab kemanakah untuk mengesahkan perkawinan dengan anjing?”

Para pemuja paham kebebasan selalu merujuk pada pasal 18 Universal Declaration of
Human Right yang menyatakan: “Setiap orang mempunyai hak untuk berpikir, berperasaan,
dan beragama; hak ini meliputi kemerdekaan untuk menukar agama atau kepercayaan, dan
kemerdekaan baik secara perseorangan maupun secara golongan,secara terbuka dan tertutup,
untuk memperlihatkan agama dan kepercayaannya dengan
mengerjakannya,mempraktikkannya, menyembahnya, dan mengamalkannya.”

Maka, apakah demi kebebasan, maka semua ajaran yang sesat dan melecehkan Islam harus
dihormati dan dibebaskan?
II. Misi Kristen dan Budaya Jawa

DISKUSI Sabtuan INSISTS, Sabtu, 24 Juli 2010 lalu membahas tema “Kristenisasasi dan Budaya
Jawa”. Berbicara dalam acara itu adalah Susiyanto, peserta Program Kaderisasi Ulama Dewan
Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Dalam diskusi, ia sekaligus meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Strategi Misi
Kristen Memisahkan Islam dan Jawa (2010).

Saat membahas tentang Perayaan Natal Bersama, kita sudah menyinggung tentang strategi
budaya dalam penyabaran misi Kristen di Indonesia. Strategi budaya ini tampaknya digunakan
untuk menggusur citra yang melekat pada bangsa Indonesia bahwa Kristen adalah agama
penjajah. Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara keislaman dan
keindonesiaan. Salah satu contoh adalah upaya mereka untuk mencegah penggunaan bahasa
Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu
yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen
Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.”

Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-
sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya
mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa
menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai
parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia
akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam
bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).

Para pandakwah Islam yang datang ke wilayah Nusantara telah melakukan “suatu proses
Islamisasi bahasa dan budaya Nusantara”. Bahasa Melayu telah di-Islamkan. Banyak kosa
kata Melayu yang diubah konsepnya dan diisi oleh kosa kata yang berasal dari Islamic basic
vocabulary (kamus dasar Islam). Istilah-istilah baru seperti “ilmu, adil, adab, hikmah, rakyat,
musyawarah, daulah, wujud, dan sebagainya dimasukkan menjadi kosa kata Melayu.
Dengan itu, bisa dipahami, jika belajar bahasa Melayu menjadi identik dengan belajar Islam.
Bahkan, hingga kini, istilah Melayu di Malaysia, identik dengan Islam. seorang disebut
sebagai “Melayu” jika dia beragama Islam.
Para pendakwah Islam juga berhasil melakukan proses akulturasi budaya Islam dengan
budaya Jawa. Mayoritas orang Jawa kemudian memeluk agama Islam dan mereka sulit
dipisahkan dengan keislaman. Karena itulah, tidak mudah mengubah agama orang Jawa
menjadi Kristen. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi
Katolik, Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:

“Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak
mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku
Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi
Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju
daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami
kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah
menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang
penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa
tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina, karena tahu tak ada
apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada
sesuatu yang dapat dilakukan.”

Melihat fenomena itu, kaum misionaris Kristen kemudian membuat satu strategi budaya.
Banyak misionaris menampilkan diri sebagai tokoh-tokoh budaya Jawa dan membuat berbagai
upaya agar orang Jawa bisa berpandangan bahwa Kejawaan lebih identik dengan Kekristenan,
ketimbang dengan Keislaman. Ringkasnya, orang Jawa lebih cocok menjadi Kristen ketimbang
menjadi Islam. Sebab, Islam adalah agama Arab yang hanya cocok untuk orang Arab, bukan
untuk orang Jawa. Sedangkan Kristen sudah mengalami proses akulturasi dengan budaya Jawa,
sehingga lebih cocok untuk orang Jawa.

Dalam kaitan inilah, buku Susiyanto tersebut membedah liku-liku kiat misionaris yang didukung
oleh orientalis Belanda untuk menjauhkan orang Jawa dari Islam. Sebagai contoh, dibuat kesan
pada anak didik di sekolah-sekolah melalaui pelajaran sejarah, dengan cara mengangkat
kebudayaan Hindu dan Budha sebagai warisan agung leluhur bangsa. Seolah-olah Indonesia
besar dan jaya di masa Kerajaan Hindu dan Budha. Kedatangan Islam kemudian
menghancurkan kejayaan Indonesia tersebut.

Berbagai peninggalan fisik di masa Hindhu Budha – seperti candi-candi dan sejenisnya --
diangkat sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kejayaan Indonesia di masa lalu, di zaman
pra-Islam. Candi diangkat sebagai simbol “kebesaran” bangsa Indonesia di masa lalu. Padahal,
ungkap Susiyanto dalam diskusi tersebut, kebudayaan candi pada masa dibangunnya,
sebenarnya tidak pernah menjadi bagian dari “jiwa” masyarakat Jawa. Candi-candi tersebut
dibuat untuk mengokohkan kewibawaan kasta Brahmana dan Ksatriya. Sementara rakyat jelata,
yang umumnya berasal dari kasta Sudra, seringkali dilibatkan dalam proses kerja paksa saat
pembangunannya. Jadi proses pembangunan candi sebenarnya merupakan simbol
ketertindasan kalangan rakyat jelata oleh kekuasaan yang berada di atasnya. Akan tetapi
penderitaan rakyat yang bersifat demikian ini jarang ditampilkan dalam buku-buku sejarah
maupun pewacanaan kebudayaan yang saat ini beredar.

Susiyanto juga mengingatkan bahwa usaha-usaha membangkitkan kebudayaan lama sebagai


warisan bangsa yang dianggap luhur ini di negeri-negeri Islam, memiliki kepentingan strategis
yang lebih besar. Tujuannya tak lain untuk mendistorsi ajaran Islam dan melepaskan pengaruh
Islam di masyarakat. Sebagai contoh seorang orientalis Barat bernama Ceyler T. Young
mengakui hal tersebut sebagai berikut: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya
untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk
mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami
membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama
tersebut”.

Usaha-usaha orientalis dan misionaris di era penjajahan, ternyata masih dilanjutkan pada era
kini. Sejumlah buku yang hadir dari kalangan misionaris masih melanjutkan agenda untuk
memarginalkan peran Islam. Bambang Noorsena misalnya, seorang tokoh Kristen Orthodoks
Syria, dalam karyanya yang berjudul ”Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen
dan Kejawen” berusaha membuktikan bahwa Kristen merupakan ajaran agama yang secara
theologis mampu berinteraksi dengan ajaran Kejawen. Bambang Noorsena juga berusaha
membuktikan bahwa sejumlah karya sastra Jawa memiliki kecenderungan menerima Kristen
dan anti terhadap Islam.

Dalam kajian yang berlangsung di sekretariat INSISTS tersebut, Susiyanto telah membuktikan
bahwa argumentasi yang digunakan oleh Bambang Noorsena untuk mempertahankan
gagasannya adalah lemah dan tidak berdasar. Bambang Noorsena juga melakukan sejumlah
manipulasi terhadap buku-buku yang digunakan sebagai referensi. Contoh yang jelas adalah
manipulasinya terhadap karya B.M. Schuurman berjudul ”Pambijake Kekeraning Ngaurip”.

Dalam buku tersebut, Schuurman menemukan, Serat Dewa Ruci tidak mengandung nilia-nilai
Kristiani, karena tidak mengakui dosa asal. Sebaliknya, Bambang Noorsena memanipulasi karya
Schuurman, dan menyimpulkan bahwa Serat Dewa Ruci bisa dipertemukan dengan nilai-nilai
Kristen. Serat Dewa Ruci itu sendiri merupakan cerita populer di Jawa yang tidak jelas benar
penulisnya. Ada yang menyebut, cerita itu ditulis oleh Sunan Kalijaga. Tetapi, tidak dapat
dipastikan. Serat ini menceritakan pertemuan Bima dan Dewa Ruci di dasar Samudera yang
bertubuh mungil, tetapi mampu dimasuki oleh tubuh Bima yang jauh lebih besar.

Dalam kajian-kajian tentang sejumlah karya sastra Jawa, Bambang Noorsena mencoba
memanipulasi karakter Nabi Isa yang berasal dari konsepsi Islam dengan mendistorsinya
sebagai karakter Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen. Karya orientalis dan misionaris
semisal Philip van Akkeren sering digunakan oleh Bambang Noorsena untuk menguatkan
argumentasinya. Padahal, karya-karya itu sendiri sudah mengandung manipulasi.

Contohnya adalah karya Philip van Akkeren yang berjudul “Sri and Christ: A Study of the
Indigenous Church in East Java”. Dalam buku ini, van Akkeren berupaya mengkaji kisah Aji Saka
dalam Serat Paramayoga karya R. Ng. Ranggawarsita. Hasilnya, Van Akkeren menyimpulkan
bahwa Ranggawarsita, pujangga Jawa, memiliki “ketertarikan” terhadap agama Kristen.
Alasannya, karya tersebut memuat cerita tentang Nabi Isa. Van Akkeren menyebutkan bahwa
sebelum datang ke Jawa, Aji Saka telah masuk ke dalam agama Kristen di Yerusalem.(Akkeren,
1970: 46)

Konklusi Philips van Akkeren ini kemudian diikuti oleh Bambang Noorsena yang sering
menampilkan dirinya sebagai tokoh dialog lintas agama. Dalam bukunya, “Menyongsong Sang
Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” Bambang Noorsena menggambarkan Aji
Saka telah mengalami persentuhan dengan iman Kristen dengan menyembah Tuhan yang Maha
Esa melalui Nabi Isa. Selanjutnya Noorsena mengutip pendapat Philip van Akkeren bahwa:
”dalam kisah Ranggawarsita ternyata simpati besar disisihkan bagi Kristus”. (Noorsena,
2007:209-210)

Sebenarnya, isi Paramayoga sendiri banyak mengambil inspirasi dari cerita pewayangan dan
kisah para nabi mulai dari Adam hingga Muhammad. Awalnya, Aji Saka berguru kepada Dewa
Wisnu di India. Setelah semua ilmu mampu diserap, Dewa Hindhu itu menasihati agar mencari
kesejatian hidup dengan melanjutkan berguru kepada seorang imam yang lebih mumpuni
bernama Ngusman Ngaji. Pada era itu diceritakan bahwa Nabi Isa sedang mengemban risalah di
kalangan Bani Israil. Aji Saka meminta ijin kepada gurunya untuk menjadi sahabat (murid) Nabi
Isa. Ngusman Ngaji tidak mengijinkan, sebab ia mengetahui takdir bahwa Aji Saka akan menjadi
pengikut setia Nabi Muhammad dan menghuni Pulau Jawa.
Statemen sang guru dalam Paramayoga diuraikan sebagai berikut:

”Hal ini tidak kuijinkan, sebab engkau kelak harus mengabdikan dirimu sepenuhnya kepada
Tuhan, tetapi itu bukan pekerjaanmu. Takdir menghendaki engkau menempuh karir panjang.
Telah ditentukan, engkau akan menghuni Pulau Jawa yang panjang, di tenggara India. Jangan
lupakan nubuatan ini. Dikemudian hari akan ada nabi lain dari Allah, yang terakhir, yang tidak
ada bandingannya, bernama Muhammad, utusan Allah, yang telah memberi cahaya bagi dunia
dan dilahirkan di Makkah. Engkau akan menjadi sahabat dekatnya”.(Akkeren, 1970:46).

Paramayoga memang menggambarkan bahwa tokoh Aji Saka yang ditakdirkan berumur
panjang sempat bergaul dengan Nabi Isa. Namun sebagaimana pesan gurunya, bukan
”panggilan” melainkan sekedar mengisi ”kekosongan” dalam penantian yang panjang
kedatangan Nabi Muhammad. Jika dicermati, kisah Nabi dalam Paramayoga yang dimulai sejak
era Adam hingga Nabi Muhammad lebih menunjukkan bahwa karya ini berusaha menampilkan
kisah yang berasal dari konsepsi Islam, termasuk kisah tentang Nabi Isa. Sama sekali tidak
terdapat cerita bahwa Aji Saka menganut Agama Kristen atau terkait Kristus yang berasal dari
konsepsi Kristen.

Dengan demikian klaim, Van Akkeren dan Bambang Noorsena bahwa kisah Aji Saka merupakan
titik perjumpaan antara Kristen dan Kejawen boleh dikatakan sekedar manipulasi belaka.

Upaya lain yang tersohor untuk memisahkan antara Islam dan Jawa dilakukan melalui
penerbitan Serat Darmogandul. Kitab yang hingga kini tak jelas penulisnya itu memiliki ciri yang
kental dengan semangat anti-Islam, pro-Kristen, dan pro-penjajah Belanda. Sikap anti-Islam
ditujukkan misalnya, kitab Arab (Al Quran) harus ditinggalkan dan diganti Kitab Nabi Isa (Injil).
Sedang sikap pro-Kristen terungkap dengan diangkatnya cerita Dawud-Absalom, Dawud-Uria,
pohon pengetahuan, dan sejenisnya yang bersumber dari Perjanjian Lama serta mendukung
misi Injil di Jawa. Dukungannya terhadap penjajah ditunjukkan dengan pujian bahwa Belanda
yang beragama Kristen adalah penyembah Tuhan yang benar dan lurus pengetahuannya.

Dalam bukunya, Susiyanto banyak memuat kutipan-kutipan isi Serat Darmagandul dalam
bahasa aslinya (Jawa) yang menunjukkan bagaimana kitab ini seperti sengaja ditulis untuk
menanamkan kebencian orang Jawa pada Islam dan para wali penyebar agama Islam di tanah
Jawa. Isi kitab ini masih terus disebarkan ke tengah masyarakat Jawa, sampai sekarang. Koran
Solo Pos, misalnya, menurunkan serial Darmagandul dalam sejumlah edisi penerbitannya. Serat
ini juga banyak dijadikan rujukan dalam penulisan buku-buku sejarah nasional Indonesia.
Ironisnya, banyak orang tua Muslim yang tidak peduli, bahwa anak-anaknya di sekolah
sekarang sedang dicekoki cerita-cerita sejarah yang justru mengecilkan peran Islam dalam
perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Inilah salah satu arti penting kehadiran buku Susiyanto
ini: meluruskan sejarah Islam Indonesia yang selama ini banyak dimanipulasi oleh pihak lain.
SERIAL KE-26
PEMIKIRAN MODERN ALA BARAT:
PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Assalamu'alaikum wr wb,

Yth. sahabat2 Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah SWT. dimanapun itu berada dimuka
bumi ini,

Alhamdulilah, dengan izin-Nya, kembali dapat dituliskan serial ke-26 Islam vs Liberalisme, dua
tulisan dalam satu paket berkaitan yang berkesinambungan berjudul :

"Pemikiran Modern Ala Barat:Paradigma Baru Pendidikan Islam di Indonesia" dan "Prof. Dr.
H.M. Rasjidi: Cendekiawan Besar yang Ditenggelamkan".

Selamat membaca, semoga semakin meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt serta
mencerahkan pemikiran Islam cendekiawan mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia ,
Amin3X Ya Rabbal Alamin.

Wassalamu alaikum wr wb,

A.Nurhono

I. Pemikiran Modern Ala Barat:Paradigma Baru Pendidikan Islam di


Indonesia
Harian Suara Karya, Jumat 11 Oktober 1985, memuat tulisan Prof. Dr. Harun Nasution yang
menekankan perlunya umat Islam mengubah pola pikirnya mengikuti pola pikir Barat modern.
Artikel itu berjudul ”Ajaran Islam tentang Akal dan Akhlak”. Harun menulis, bahwa ia pernah
mendapat pertanyaan dari Madame Haydar, istri seorang koleganya dari Kedubes Libanon di
Brussel, Belgia:

”Mengapa orang-orang Nasrani umumnya berkelakuan baik, berpengetahuan tinggi dan


menghargai kebersihan, sedang kita orang Islam umumnya kurang dapat dipercayai bodoh-
bodoh dan tidak tahu kebersihan?”

Harun bertanya kepada Madame Haidar:

”Yang Anda maksud barangkali orang-orang Eropa dan bukan orang-orang Nasrani. Eropa
memang sedang berada dalam zaman kemajuannya, sedang Timur masih dalam zaman
kemunduran. Ekonomi Eropa yang maju meMbuat orang-orangnya mempunyai kesempatan
untuk memperoleh pendidikan baik lebih tinggi sedang Timur yang miskin, orang-orangnya
kebanyakan tinggal dalam ketidaktahuan.”

Lalu, Madame Haidar melanjutkan lagi:

”Yang saya maksud bukan orang Eropa, tapi orang Nasrani. Apa yang saya sebut adalah
kenyataan di negeri saya sendiri, Libanon. Kalau kita perhatikan orang Islam yang pergi ke
mesjid, kita lihat wajah mereka tidak berseri dan pakaiannya kotor-kotor. Tetapi sebaliknya
orang-orang Nasrani yang pergi ke gereja bersih wajah dan pakaiannya. Ekonomi mereka lebih
baik dari ekonomi orang Islam. Demikian juga pendidikan mereka lebih tinggi. Orang –orang
Islam ketinggalan.”

Terhadap pernyataan Madame Haidar itu, Harun Nasution menyatakan persetujuannya. Dia
menulis dalam artikelnya tersebut:

” Keadaan umat Islam sebagai digambarkan Madame Haidar itu bukan hanya terbatas bagi
umat Islam di Libanon. Hal serupa juga kita alami di Indonesia. Umat Islam di negeri kita lebih
rendah ekonomi dan pendidikannya dari umat lain. Masalah kita di Indonesia ialah umat Islam
yang berjumlah besar, tetapi ekonominya lemah dan pendidikannya tidak tinggi. Sedang umat
lain sungguhpun minoritas mempunyai kekuatan ekonomi dan pendidikan yang baik. Di pusat
lahirnya Islam, di Mekah dan Medinah, kita jumpai juga umat Islam tidak mempunyai kemajuan
dan dari segi budi pekerti juga tidak menggembirakan. Di Mesir hal yang sama kita jumpai.
Umatnya diperbandingkan dengan umat lain yang ada di sana, yaitu sebelum orang-orang
Yahudi, Yunani dan lain-lain meninggalkan negeri itu, jauh ketinggalan dalam soal ekonomi,
pendidikan dan budi pekerti. Di Turki, Suria, Yordan, Aljazair, India dan Pakistan hal yang sama
dijumpai. Maka pengamatan Madame Haidar dalam pertanyaan yang dimajukannya adalah
benar untuk dunia Islam pada umumnya. Dialog itu menyadarkan saya bahwa persoalannya
bukanlah semata-mata persoalan kebudayaan, tetapi adalah pula masalah agama.”

Demikianlah dialog Harun Nasution dan Madame Haidar yang diungkapkan Harun Nasution
dalam artikelnya di Harian Suara Karya.

Setelah menunggu selama tiga minggu dan tidak ada seorang pun yang mengkritik artikel Prof.
Harun tersebut, Prof. HM Rasjidi akhirnya memaksakan diri mengangkat pena dan memberikan
kritiknya. Saat menjadi Associate Professor di McGill University, Rasjidi adalah orang yang
mengusahakan agar Harun dapat melanjutkan studinya di McGill. Tapi, seperti pernah kita
bahas dalam beberapa tulisan, belakangan, Rasjidi banyak mengkritik pemikiran Harun
Nasution yang dinilainya terlalu berorientasi ke Barat.

Dalam tanggapannya, Prof. Rasjidi menulis:

”Membaca tulisan Prof. Harun tersebut, saya menjadi sesak nafas, dan bertanya-tanya:
Mengapa dengan mudah menerima segala cacian dan penghinaan kepada umat Islam. Kalau
dari permulaan kita sudah bersikap: menyerah, tidak percaya diri sendiri, maka tak mungkin
kita dapat mempertahankan diri kita. Kalau seorang petinju, sebelum memasuki gelanggang
pertarungan, sudah menggambarkan bahwa musuhnya kuat, tak dapat dikalahkan, bahwa
pukulannya sangat jitu dan berbahaya, maka mustahillah ia akan memenangkan pertandingan.
Rasa kesal saya bertambah ketika membaca paragraf selanjutnya, karena paragraf itu berbunyi:
Dialog itu menyadarkan bahwa ”persoalan bukan semata-mata persoalan kebudayaan, tetapi
adalah pula masalah agama.”

Rasjidi yang menyelesikan disertasi doktornya dalam studi Islam di Sorbone University, Paris,
lalu memaparkan bahwa soal kebodohan dan kekotoran adalah masalah yang dihadapi oleh
tiap-tiap umat beragama, bukan hanya persoalan umat Islam. Tapi, kata Rasjidi, ”... hal pertama
yang sangat penting adalah: Kita harus mempunyai harga diri.” Dialog antara Harun dengan
Madame Haidar, kata Rasjidi, ”Adalah dialog antara dua jiwa yang banyak persamaannya, ya’ni
jiwa yang kena cekokan dari Barat bahwa Kristen itu bersih, pandai dan mempunyai sifat-sifat
yang baik, sedang Islam adalah kotor, bodoh, perangai jahat dan seterusnya.”

Kritik Prof. Rasjidi terhadap artikel Harun Nasution tersebut sangat penting kita telaah, sebab
membuka mata kita, bahwa dalam soal pemikiran Islam, persoalannya bukan semata-mata
logika, tetapi ada faktor lain yang juga perlu ditelaah, yaitu soal mental, ”aspek kejiwaan”.
Mental minder, mental rendah diri dalam melihat peradaban Barat itulah yang menjadi faktor
penting, sehingga seringkali menutup seluruh logika yang sehat.

Dengan posisinya sebagai Rektor IAIN Jakarta dan kemudian sebagai Direktur Program Pasca
Sarjana IAIN Jakarta, Harun senantiasa dianggap sebagai peletak dasar pembaruan pendidikan
Islam di Indonesia, yang dilakukan melalui IAIN Jakarta. Tahun 1973, bukunya ”Islam Ditinjau
dari Berbagai Aspeknya” dijadikan sebagai buku rujukan wajib di seluruh Perguruan Tinggi
Islam. Dengan dukungan Menteri Agama Mukti Ali – yang juga alumnus McGill University --
proyek pembaratan (Westernisasi) IAIN kemudian dilakukan secara sistematis. Pelan tapi pasti,
sejak 35 tahun lalu (tahun 1973), kiblat studi Islam di IAIN diarahkan ke Barat.

Dalam kaitan inilah, peran pusat Studi Islam McGill Kanada yang didirikan oleh Prof. Wlfred
Cantwell Smith sangat signifikan. Peran besar McGill dalam pembaratan studi Islam di Indonesia
dijelaskan dalam buku ”Paradigma Baru Pendidikan Islam”, yang diterbitkan oleh Direktorat
Pendidikan Tinggi Islam – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun
2008. Ditulis dalam buku ini:

”Melalui pengiriman para dosen IAIN ke McGill dalam jumlah yang sangat masif dari
seluruh Indonesia, berarti juga perubahan yang luar biasa dari titik pandang
tradisional studi Islam ke arah pemikiran modern ala Barat. Perubahan yang paling
menyolok terjadi pada tingkat elit. Tingkat elit inilah yang selalu menggerakkan
tingkat grass root.” (hal. 6, cetak tebal dan miring dari saya, Adian).

Tentang peran Harun Nasution dalam pembaratan IAIN ditulis dalam buku ini:
”Harun Nasution mengusung pembaruan pemikiran keislaman. Dia mengenalkan
multi pendekatan dan memperjuangkannya dengan sangat konsisten. Pengaruh
pemikirannya sangat kuat di kalangan IAIN dan STAIN seluruh Indonesia dan masih
dirasakan sampai sekarang.” (hal. 7)

Ditulis dalam buku ini, bahwa pembaruan Islam perlu dilakukan, karena yang menjadi masalah
umat Islam Indonesia adalah bahwa sampai saat ini adalah kurang berkembangnya pandangan
pluralistik atau penghargaan atas perbedaan di kalangan umat. Pada zaman Harun, tulis buku
ini, pengajaran keagamaan sangat normatif dan terpaku pada salah satu paham atau aliran
pemikiran, atau bahkan kelompok atau pemikiran orang tertentu dan sangat fiqih oriented.
Model pendidikan yang seperti itu dapat dipastikan akan menghasilkan lulusan yang
mempunyai pemahaman dan pemaknaan agama yang sempit. ”Dampak negatifnya adalah
kemungkinan munculnya pemahaman yang melihat segala hal yang berbeda dengan paham
tersebut sebagai salah, menyimpang dan bahkan sesat.” (hal. 8).

Untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam di IAIN, Harun Nasution mencari akar
pembenarannya dalam teologi rasional ala Mu’tazilah dan mengenalkannya kepada masyarakat
lewat buku dan pengajarannya di IAIN dan program pascasarjana IAIN Jakarta. ”Selama menjadi
rektor (1973-1984) dan setelahnya sampai tahun 1990-an sebagai Direktur pada program studi
lanjutan pertama yang dibuka di IAIN Jakarta, Nasution mengembangkan pemikiran Islam
rasional dan menjadikan program S1 dan pasca sarjana IAIN Jakarta sebagai agen pembaharuan
pemikiran dalam Islam dan tempat penyemaian gagasan-gagasan keislaman yang baru.” (hal.
8).

Membaca buku ”Paradigma Baru Pendidikan Islam” yang diterbitkan Departemen Agama ini
kita menjadi paham, bagaimana proyek pembaratan IAIN ini secara sistematis dijalankan
selama lebih dari 30 tahun. Pemuktazilahan IAIN seperti digambarkan dalam pemikiran Harun
hanyalah slogan, karena faktanya adalah pembaratan, seperti yang dibanggakan sebagai bentuk
kemajuan dalam pendidikan Islam. Inilah yang dikatakan sebagai ”Paradigma Baru Pendidikan
Islam”.

Jika kita membaca buku yang disusun para alumni Studi Islam McGill ini, yang dikatakan sebagai
”Paradigma Baru” dalam pendekatan studi Islam tidak lain adalah mengikuti pendekatan studi
Islam yang menekankan pada pendekatan sejarah (historis) dan bukan pendekatan normatif.
Metode pendekatan sejarah ini digunakan antara lain karena kekaguman Mukti Ali terhadap
gurunya di McGill, yaitu Prof. Wilfred Cantwell Smith, seperti ditulis dalam buku ini:

”Smith adalah sosok yang kemudian selalu dikagumi Mukti Ali karena sikap ramahnya
terhadap Islam dan metodologi yang dipakainya dalam mempelajari Islam. Menurut
Mukti Ali, Smith tidak hanya menarik dari sisi simpatiknya terhadap Islam tetapi juga
dari pendekatan holistik yang digunakannya. Bahwa Islam tidak semata fenomena
normatif, tetapi harus dipandang dari sudut lain, sebagai fakta sejarah dan
sebagaimana agama-agama lain di dunia, Islam muncul dalam peradaban manusia.
Maka pendekatan yang digunakan pun pendekatan kemanusiaan. Empiris
kemanusiaan menjadi pendekatan yang dipilih untuk mendekati ajaran Islam dan
fenomena umatnya.” (hal. 10).

Buku ini sebenarnya menceritakan kesuksesan proyek kerjasama McGill dengan UIN Jakarta dan
UIN Yogya. Karenanya proyek ini akan diteruskan. Ada dua hal penting yang dikembangkan
dalam kerjasama ini. Yaitu penyelenggaraan proram Kajian Antar Bidang dalam studi Islam
(Interdisciplinary Islamic Studies/IIS) dan pengembangan kurikulum berbasis gender. Dalam IIS,
yang ditekankan adalah kajian Islam yang menekankan pada konteks sosial dan historis. ”Oleh
karena itu, kajian Islam yang memperhatikan konteks sosial dan historis serta menggunakan
pendekatan-pendekatan ilmu sosial sangatlah dibutuhkan.” (hal. 168).

Marilah kita simak betapa naifnya alasan dan tujuan penggunaan metode studi Islam model
Barat ini:

”Terlebih selama ini pendekatan yang digunakan dalam dunia pendidikan secara dominan
masih bersifat normatif dan kurang historis. Dengan demikian, program ini akan menghasilkan
sumber daya manusia yang memiliki paradigma historis dalam kajian Islam. Pendekatan historis
dan empirik dalam kajian agama akan dipandang penting untuk meningkatkan tradisi keilmuan
dan menciptakan model pemahaman keagamaan yang bijak, demokratis dan toleran.”

Membaca buku ini kita menjadi lebih paham, mengapa buku-buku Studi Islam di Perguruan
Tinggi saat ini semakin banyak dijejali dengan pendekatan historis ala Barat. Ternyata, memang
semua ini adalah proyek pembaratan secara sistematis. Metode ini telah mengubah cara pikir
begitu banyak cendekiawan yang terjebak kepada ”penyamaan” Islam dengan agama-agama
lain, dengan menempatkan Islam sebagai bagian dari produk sejarah. Padahal, Islam adalah
agama wahyu yang memiliki karakter yang khas, yang berbeda dengan agama-agama lain. Al-
Quran juga merupakan teks wahyu yang tidak sama dengan kitab-kitab lain yang merupakan
teks manusia dan teks sejarah. Karena itu, metode pemahamannya juga tidak bisa begitu saja
menggunakan pendekatan pemahaman historisitas yang serba relatif.

Kita sudah beberapa kali disuguhi pemikiran yang menggelikan dari sejumlah dosen UIN/IAIN
yang menggunakan metode pendekatan historis kontekstual dalam studi Islam. Misalnya,
mereka menghalalkan perkawinan antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim dengan alasan
hal itu tergantung konteks sejarah dan budaya Arab yang patriarki. Ada juga dosen syariah IAIN
Semarang – yang menggunakan pendekatan sejarah – yang kemudian berpendapat bahwa
mahar dalam perkawinan bisa juga diberikan oleh mempelai wanita, tergantung situasi sosial
dan budayanya. Keharusan memberikan mahar bagi laki-laki, menurut dia, adalah kaena ayat
al-Quran turun di Arab yang budayanya patriarki.

Menyimak semua ini tidak sulit bagi kita untuk melihat sebuah bentuk penjajahan intelektual
yang sangat sistematis dalam merusak pemikiran Islam. Dengan pendekatan historis
kontekstual ini, tidaklah sulit bagi kita untuk memahami, kemana arah tujuan studi Islam ala
Barat ini dikembangkan. Yaitu, tirulah cara berpikir Barat yang serba relatif. Kebenaran
tergantung pada situasi sosial dan budaya. Tidak ada kebenaran yang tetap. Dalam kasus ”aurat
wanita”, misalnya, akan dikatakan bahwa aurat itu fleksibel tergantung situasi sosial dan
budaya. Begitu juga dalam soal-soal ajaran dan hukum Islam lainnya. Ujung-ujungnya, para
mahasiswa dan sarjana digiring untuk berpikir ala Barat yang bersikap netral terhadap ”al-Haq
dan al-Bathil”; yang tidak bicara lagi soal ”Iman dan kufur”, ”tauhid dan syirik”, dan sebagainya.
Semua itu dianggap sebagai hal normatif.

Kita mengimbau kiranya pejabat dan para cendekiawan kita sadar akan kekeliruan dan bahaya
besar dalam pengembangan studi Islam model Barat di perguruan Tinggi Islam. Sangat
memprihatinkan jika ternyata yang disebut sebagai ”Paradigma Baru Studi Islam” adalah
”Paradigma Pemikiran Modern Ala Barat” seperti yang dipaparkan dalam buku ini.

Kita melihat hal yang sangat ironis. Begitu mudahnya para cendekiawan itu dicekoki
pemahaman yang sangat naif dan tidak realistis bahwa masalah utama umat Islam Indonesia
adalah kurangnya pemahaman Islam yang pluralis, pemahaman yang historis; bahwa kajian
Islam yang normatif adalah sumber masalah, sumber intoleransi umat beragama, dan
sebagainya. Karena itu, perlu digunakan ilmu-ilmu sosial Barat dalam studi Islam, agar
menghasilkan pemahaman yang tidak mutlak, yang toleran, dan seterusnya!

Bukankah ini logika yang naif! Bukankan Barat sendiri terbukti sangat tidak toleran, karena
terus-menerus memaksakan sekularisme, liberalisme, pluralisme dan paham Barat lain kepada
seluruh umat manusia. Mereka yang ingin menerapkan ajaran Islam dalam kehidupannya, yang
menolak pandangan hidup Barat, secara serampangan lalu diberi cap ”fundamentalis”,
”radikal”, ”konservatif”, dan seabrek ’julukan miring’ lainnya. Yang mau ikut Barat dipuji-puji
sebagai kaum intelektual yang toleran, progresif, dan sebagainya. Jangan heran, jika di antara
mereka, lahir orang-orang seperti Geert Wilders, sutradara film Fitna, yang menyampaikan
pesan di akhir film-nya: ”Stop Islamization. Defend our freedom!”. Peradaban seperti inikah
yang disebut toleran?

Dalam artikelnya di Majalah ISLAMIA (edisi 1/2004), Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, guru
besar bidang pendidikan dan pemikiran Islam di Universitas Islam Internasional Malaysia,
mengingatkan dampak besar penggunaan metode Barat dalam pemahaman Islam, seperti
hermeneutika: ”Jika kita mengadopsi satu kaedah ilmiah tanpa mempertimbangkan latar-
belakang sejarahnya, maka kita akan mengalami kerugian besar. Sebab kita akan meninggalkan
metode kita sendiri yang telah begitu sukses membantu kita memahami sumber-sumber agama
kita dan juga telah membantu kita menciptakan peradaban internasional yang unggul dan
lama.”

Seabrek argumentasi bisa kita berikan tentang perlunya umat Islam tidak tunduk kepada
metode Barat dalam memahami Islam. Tapi, seperti disampaikan Prof. HM Rasjidi saat
mengkritik Prof. Harun Nasution, bahwa masalahnya bukan hanya terletak pada soal logika, tapi
ada aspek ”kejiwaan” yang terlibat di dalamnya.

Ada baiknya kita hayati nasehat Pak Rasjidi, ”Kita harus mempunyai harga diri!”
"Mereka berkata: ""Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang
yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya"". Padahal kekuatan itu
hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang
munafik itu tiada mengetahui."(QS. Al-Munafiqin, 63 :8).

II. Prof. Dr. H.M. Rasjidi: Cendekiawan Besar yang Ditenggelamkan


Dalam perjalanan sejarah pemikiran Islam di Indonesia, nama Prof. Dr. Rasjidi tidak mungkin
dibuang begitu saja. Menteri Agama RI yang pertama ini tercatat sebagai salah satu tokoh Islam
terkemuka dan perintis tradisi intelektual di Indonesia. Gelar doktornya diraih di Universitas
Sorbonne, Paris, tahun 1956. Disamping berbagai buku penting telah ia lahirkan, Rasjidi juga
pernah menjadi pengajar di McGill University, Kanada. Tapi, meskipun akrab dengan pusat studi
Islam di Barat, Rasjidi termasuk sedikit cendekiawan yang selamat dari jebakan pemikiran kaum
orientalis. Ia bahkan kemudian menjadi salah satu pengkritik yang tajam dari pemikiran-
pemikiran kaum orientalis dan pengikutnya di Indonesia.

Siapakah Rasjidi? Lelaki bertubuh mungil ini memiliki nama kecil Saridi. Ia lahir di Kotagede
Yogyakarta pada Kamis 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 H. Ia anak kedua dari Bapak
Atmosugido. Pendidikan dasarnya ditempuh di sekolah Muhammadiyah Yogyakarta. Rasjidi
kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, Malang,
dibawah pimpinan Syekh Ahmad Surkati, pendiri organisasi Al-Irsyad Islamiyah. Rasjidi
termasuk yang sangat tinggi semangat mencari ilmunya, karena ia diajar oleh guru-guru yang
bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan dan Mekkah.

Syekh Ahmad Surkati pendiri al Irsyad al Islamiyah, mendidik langsung Rasjidi dengan seksama.
Menurut Surkati, Rasjidi adalah anak yang tekun dan cerdas, sehingga dicintai guru-gurunya.
Kepandaian Rasjidi dalam bahasa Arab – mampu menghafal Kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam usia
15 tahun — menjadikannya diangkat sebagai asisten pelajaran gramatika bahasa Arab. Dalam
usia remaja itu, Rasjidi juga hafal buku Logika Aristoteles yang berjudul “Matan as Sullam.”

Perkenalannya dengan banyak guru-guru Timur Tengah itu, menjadikan Rasjidi bersemangat
untuk melanjutkan studinya di Mesir. Di Mesir, selain mempelajari ilmu-ilmu agama, di Sekolah
Persiapan Darul Ulum (setingkat Sekolah Menengah) ia juga diajar aljabar, ilmu bumi, sejarah
dan lain-lain. Rasjidi menguasai bahasa Perancis, Inggris, Arab dan Belanda tentunya. Ia pun
menjadi seorang hafizh, hafal al Qur’an 30 juz.

Soebagijo IN menceritakan: “Dengan diantar oleh Syekh Thantawy Djauhary pengarang Tafsir al
Jawahir yang masyhur serta sahabat karib Syekh Ahmad Surkati, dia mendaftarkan ke Sekolah
Persiapan untuk memasuki Sekolah Guru Tinggi bahasa Arab yang bernama Darul Ulum (kelas
III)...Rasjidi diuji untuk masuk kelas V. Di kelas itu dia belajar 8 bulan lamanya, dan akhirnya
berhasil meraih diploma Sekolah Menengah Umum dengan agama dan hafal al Qur’an secara
lengkap, yakni 30 juz Al Qur’an, di samping mendapatkan sertifikat untuk mata pelajaran
bahasa Inggeris dan Prancis. Karena di sana berlaku sistem Prancis, maka di Mesir diploma
Sekolah Menengah Lanjutan disebut surat ijazah Baccalaureat. Dengan ijazah Baccalaureat itu,
Rasjidi berhak meneruskan ke perguruan tinggi.”

Pilihannya kemudian diarahkan ke Universitas al Azhar, Kairo. Di sana ia mengambil jurusan


Filsafat dan Agama. Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence. Di kelas itu
mahasiswanya hanya tujuh orang. Ia menempati rangking satu mengalahkan mahasiswa dari
Mesir, Albania dan Sudan.

Setelah kembali ke tanah air beberapa tahun, Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra,
Universitas Sorbonne, Paris. Pada hari Jumat, 23 Maret 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar
doktor di universitas terkemuka itu dengan disertasi berjudul l'Evolution de l'Islam en Indonesie
ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik
terhadap Kitab Centini).

HM Rasjidi adalah Menteri Agama RI pertama. Di pemerintahan, ia juga pernah menjabat


sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Sebelumnya di bidang organisasi, ia
pernah terlibat diantaranya dalam organisasi PII dan Masyumi. Ia juga pernah aktif sebagai
Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar
Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University.

Banyak buku telah ditulisnya, baik karya sendiri maupun terjemahan. Karya-karya asli Rasjidi
antara lain : Islam Menentang Komunisme, Islam dan Indonesia di Zaman Modern, Islam dan
Kebatinan, Islam dan Sosialisme, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam, Agama dan Etik,
Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan
Pendidikan Nasional, Hendak Dibawa Kemana Umat Ini? Sedangkan karya terjemahnya antara
lain: Filsafat Agama, Bibel Qurán dan Sains Modern, Humanisme dalam Islam, Janji-janji Islam
dan Persoalan-persoalan Filsafat.

Dalam khasanah pemikiran Islam di Indonesia, Nama Rasjidi seperti sengaja ditenggelamkan.
Saat mengajar di McGill, Rasjidi-lah yang membawa Harun Nasution untuk melanjutkan studi di
McGill. Bahkan, selama satu tahun, ia memberikan tumpangan rumah kepada Harun Nasution.
Toh, Rasjidi kemudian tidak kehilangan sikap kritis terhadap sahabat dekatnya itu.

Ketika buku Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya dijadikan
sebagai buku pegangan di Perguruan Tinggi Islam, tahun 1973, Rasjidi segera memberikan
kritik-kritik tajamnya. Setelah menunggu dua tahun surat pribadinya tidak dijawab oleh Menteri
Agama, ia kemudian menerbitkan bukunya yang berjudul: Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution
tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.

Tentang buku Harun Nasution tersebut, Rasjidi menyatakan: “Saya menjelaskan kritik saya fasal
demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya,
dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut,
yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan buku wajib di seluruh
IAIN di Indonesia.”

Kritik Rasjidi dianggap angin lalu saja. Buku Harun Nasution dijadikan buku pegangan wajib,
tanpa menyertakan kritik dari Rasjidi. Bisa dipahami, jika banyak mahasiswa yang kemudian
mengenal dan menjadi pengikut setia pemikiran Harun Nasution. Padahal, Rasjidi sudah
mengingatkan, cara pandang buku tersebut terhadap Islam adalah “sangat berbahaya”.

Tahun 1972, ketika ribut-ribut tentang pemikiran Nurcholish Masjid tentang sekularisasi, Rasjidi
juga mengangkat pena dan menulis buku berjudul Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid
tentang Sekulerisme. Buku itu pun ia luncurkan setelah upaya pendekatan secara pribadi gagal
dilakukan. Sebagai guru besar di Universitas Indonesia, Rasjidi tak segan-segan menasehati
Nurcholish yang ketika itu masih sarjana S-1. Setelah memberikan kritiknya, Rasjidi menulis: “...
jika Saudara sudah pernah membaca uraian semacam ini, dan Saudara tetap dalam alam
sekularisasi dan desakralisasi Saudara, maka saya hanya dapat berkata: “Saya telah melakukan
kewajiban saya, watawasau bil-haqqi watawasau bissabri.”
SERIAL KE-27
LIBERALISME: DARI IDEOLOGI MENJADI TEOLOGI
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. sahabat2 Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah SWT. dimanapun itu berada dimuka
bumi ini,
Alhamdulilah, dengan izin-Nya, kembali semalam dapat dituliskan serial ke-27 Islam vs
Liberalisme, berjudul "Liberalisme dari Ideologi menjadi Teologi".

Selamat membaca, semoga semakin meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt serta
mencerahkan pemikiran Islam cendekiawan mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia ,
Amin3X, Ya Rabbal Alamin..

Wassalamu’ alaikum wr wb,


A.Nurhono

Liberalisme: Dari Ideologi menjadi Teologi

Kata-kata liberal diambil dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu
keadaan dimana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas kemudian
menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan
berfikir (The old Liberalism). Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang
sehingga mempunyai berbagai makna.

Secara politis liberalisme adalah ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap sebagai
memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan
bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi (Simon Blackburn, Oxford
Dictionary of Philosophy). Dalam konteks sosial liberalisme diartikan sebagai adalah suatu etika
sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum (Coady, C. A. J.
Distributive Justice). Menurut Alonzo L. Hamby, PhD, Profesor Sejarah di Universitas Ohio,
liberalisme adalah paham ekonomi dan politik yang menekankan pada kebebasan (freedom),
persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity) (Brinkley, Alan. Liberalism and Its
Discontents).

Sejarahnya paham liberalisme ini berasal dari Yunani kuno, salah satu elemen terpenting
peradaban Barat. Namun, perkembangan awalnya terjadi sekitar tahun 1215, ketika Raja John
di Inggris mengeluarkan Magna Charta, dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan
raja kepada bangsawan bawahan. Charta ini secara otomatis telah membatasi kekuasaan Raja
John sendiri dan dianggap sebagai bentuk liberalisme awal (early liberalism).

Perkembangan liberalisme selanjutnya ditandai oleh revolusi tak berdarah yang terjadi pada
tahun 1688 yang kemudian dikenal dengan sebutan The Glorious Revolution of 1688. Revolusi
ini berhasil menurunkan Raja James II dari England dan Ireland (James VII) dari Scotland) serta
mengangkat William II dan Mary II sebagai raja. Setahun setelah revolusi ini, parlemen Inggris
menyetujui sebuah undang-undang hak rakyat (Bill of Right) yang memuat penghapusan
beberapa kekuasaan raja dan jaminan terhadap hak-hak dasar dan kebebasan masyarakat
Inggris. Pada saat bersamaan, seorang filosof Inggris, John Locke, mengajarkan bahwa setiap
orang terlahir dengan hak-hak dasar (natural right) yang tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar
itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini,
beragama, dan berbicara. Di dalam bukunya, Two Treatises of Government (1690), John Locke
menyatakan, pemerintah memiliki tugas utama untuk menjamin hak-hak dasar tersebut, dan
jika ia tidak menjaga hak-hak dasar itu, rakyat memiliki hak untuk melakukan revolusi.

Singkatnya pada abad ke 20 setelah berakhirnya perang dunia pertama pada tahun 1918,
beberapa negara Eropa menerapkan prinsip pemerintahan demokrasi. Hak kaum perempuan
untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi di dalam pemerintahan diberikan. Menjelang
tahun 1930-an, liberalisme mulai berkembang tidak hanya meliputi kebebasan berpolitik saja,
tetapi juga mencakup kebebasan-kebebasan di bidang lainnya; misalnya ekonomi, sosial, dan
lain sebagainya. Tahun 1941, Presiden Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan empat
kebebasan, yakni kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech),
kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want),
dan kebebasan dari ketakutan (freedom from fear). Pada tahun 1948, PBB mengeluarkan
Universal Declaration of Human Rights yang menetapkan sejumlah hak ekonomi dan sosial, di
samping hak politik.

Jika ditilik dari perkembangannya liberalisme secara umum memiliki dua aliran utama yang
saling bersaing dalam menggunakan sebutan liberal. Yang pertama adalah liberal klasik atau
early liberalism yang kemudian menjadi liberal ekonomi yang menekankan pada kebebasan
dalam usaha individu, dalam hak memiliki kekayaan, dalam kebijakan ekonomi dan kebebasan
melakukan kontrak serta menentang sistim welfare state. Yang kedua adalah liberal sosial.
Aliran ini menekankan peran negara yang lebih besar untuk membela hak-hak individu (dalam
pengertian yang luas), seringkali dalam bentuk hukum anti-diskriminasi.

Selain kedua tren liberalisme diatas yang menekankan pada hak-hak ekonomi dan politik dan
sosial terdapat liberalisme dalam bidang pemikiran termasuk pemikiran keagamaan. Liberal
dalam konteks kebebasan intelektual berarti independen secara intelektual, berfikiran luas,
terus terang, dan terbuka. Kebebasan intelektual adalah aspek yang paling mendasar dari
liberalisme sosial dan politik atau dapat pula disebut sisi lain dari liberalisme sosial dan politik.
Kelahiran dan perkembangannya di Barat terjadi pada akhir abad ke 18, namun akar-akarnya
dapat dilacak seabad sebelumnya (abad ke 17). Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk
membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi dari
tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan.

Pada saat terjadi Revolusi Perancis tahun (1789) kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama,
etika, kepecayaan, berbicara, pers dan politik sudah dicanangkan. Prinsip-prinsip Revolusi
Perancis itu bahkan dianggap sebagai Magna Charta liberalisme. Konsekuensinya adalah
penghapusan Hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan; penyingkiran
agama dari kehidupan publik dan menjadinya bersifat individual. Selain itu agama Kristen dan
Gereja harus dihindarkan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial. Ciri liberalisme
pemikiran dan keagamaan yang paling menonjol adalah pengingkaran terhadap semua otoritas
yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan
diluar dan diatas manusia yang mengikatnya secara moral. Ini sejalan dengan doktrin nihilisme
yang merupakan ciri khas pandangan hidup Barat postmodern yang telah disebutkan diatas.

Kronologi Liberalisasi Teologi


Di Barat yang mula-mula muncul adalah liberalisme intelektual yang mencoba untuk bebas dari
agama dan dari Tuhan, namun dari situ lahir dan tumbuh liberalisme pemikiran keagamaan
yang disebut juga theological liberalism. Perkembangan liberalisme pemikiran kaagamaan ini
dapat diklasifikasikan menjadi tiga fase perkembangan:

Fase pertama dari abad ke 17 yang dimotori oleh filosof Perancis Rene Descartes yang
mempromosikan doktrin rasionalisme atau Enlightenment yang berakhir pada pertengahan
abad ke 18. Doktrin utamanya adalah a) percaya pada akal manusia b) keutamaan individu c)
imanensi Tuhan dan d) meliorisme (percaya bahwa manusia itu berkembang dan dapat
dikembangkan).

Fase kedua bermula pada akhir abad ke 18 dengan doktrin Romantisisme yang menekankan
pada individualisme, artinya individu dapat menjadi sumber nilai. Kesadaran-diri (self-
consciousness) itu dalam pengertian religious dapat menjadi Kesadaran-Tuhan (god-
consciousness). Tokohnya adalah Jean-Jacques, Immanuel Kant, dan Friedrich Schleiermacher
dsb.

Fase terakhir bermula pada pertengahan abad ke 19 hingga abad ke 20 ditandai dengan
semangat modernisme dan postmodernisme yang menekankan pada ide tentang
perkembangan (notion of progress). Agama kemudian diletakkan sebagai sesuatu yang
berkembang progressif dan disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern serta di harapkan
dapat merespon isu-isu yang diangkat oleh kultur modern. Itulah sebabnya maka kajian
mengenai doktrin-doktrin Kristen kemudian berubah bentuk menjadi kajian psikologis
pengalaman keagamaan (psychological study of religious experience), kajian sosiologis
lembaga-lembaga dan tradisi keagamaan (sociological study of religious institution), kajian
filosofis tentang pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan (philosophical inquiry into religious
knowledge and values).

Sementara itu pada abad ke 19 liberalisme dalam pemikiran keagamaan Katholik Roma
berbentuk gerakan yang mendukung demokrasi politik dan reformasi gereja, namun secara
teologis tetap mempertahankan ortodoksi. Sedangkan dalam pemikiran Kristen Protestan
liberalisme merupakan tren kebebasan intelektual yang menekankan pada substansi etis dan
kemanusiaan Kristen dan mengurangi penekanan pada teologi yang dogmatis. Artinya dengan
masuknya paham liberalisme kedalam pemikiran keagamaan maka banyak konsep dasar dalam
agama Kristen yang berubah.
Ciri-Ciri Pemikiran Liberal
Nicholas F. Gier, dari University of Idaho, Moscow, Idaho menyimpulkan karakteristik pemikiran
tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat adalah sbb:
Pertama, Percaya pada Tuhan, tapi bukan Tuhan dalam kepercayaan Kristen Orthodok.
Kedua, Memisahkan antara doktrin Kristen dan etika Kristen. Inilah yang membawa kelompok
liberal untuk berkesimpulan bahwa orang atheist sekalipun dapat menjadi moralis.
Ketiga, Tidak percaya pada doktrine Kristen Orthodok, seperti doktrin-doktrin Trinitas,
ketuhanan Yesus, perawan yang melahirkan, Bible sebagai kata-kata Tuhan secara literal, takdir,
neraka, setan dan penciptaan dari tiada (creatio ex nihilo). Doktrin satu-satunya yang mereka
percaya, selain percaya akan adanya Tuhan adalah keabadian jiwa.
Keempat, Menerima secara mutlak pemisahan agama dan negara. Para pendiri negara Amerika
menyadari akibat dari pemerintahan negara-negara Eropah yang memaksakan doktrin suatu
agama dan menekan agama lain. Maka dari itu kata-kata “Tuhan” dan “Kristen” tidak terdapat
dalam undang-undang. Ini tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh agama liberal dalam konvensi
konstitusi tahun 1787.
Kelima, Percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama. Pada mulanya toleransi
dibatasi hanya pada sekte-sekte dalam Kristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi
kaum atheis dan pemeluk agama non-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin,
Jefferson dan Madison. Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan
dalam beragama tapi bebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak
beragama.

Dalam liberalisme pemikiran keagamaan masalah yang pertama kali dipersoalkan adalah
konsep Tuhan (teologi) kemudian doktrin atau dogma agama. Setelah itu mempersoalkan dan
kemudian memisahkan hubungan agama dan politik (sekularisme). Akhirnya liberalisme
pemikiran keagamaan menjadi berarti sekularisme dan dipicu oleh gelombang pemikiran
postmodernisme yang menjunjung tinggi pluralisme, persamaan (equality), dan relativisme. Kini
paham liberalisme ini sedang diekspor ke dunia Islam, khususnya di Indonesia dengan cara yang
sistimatik melalui berbagai macam media dan pendekatan masuk dalam seluruh aspek
kehidupan dan penghidupan. Paham seperti ini, persis sekali sebagaimana digambarkan Allah
SWT. dalam surat Al-Jatsiyah ayat 23 ini :

Artinya : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci
mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka
siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka
mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS.Al-Jatsiyah, 45:23).
SERIAL KE-28
LIBERALISI SYARIAT ALA SA’ID AL-ASYMAWI DAN NA’IM
Assalamu'alaikum wr wb,

Yth. sahabat2 Muslimindan Muslimat Indonesia yang dirahmati dan diberkahi Allah SWT
dimanapun itu berada dimuka bumi Allah ini,

Alhamdulilah, dengan izin-Nya, kembali dapat dituliskan serial ke-28 Islam vs Liberalisme,
berjudul "Liberalisasi Syariat ala Sa'id al-Asymawi dan Na'im".

Selamat membaca, semoga semakin memanatapkan dan mencerahkan pemikiran Islam


cendekiawan mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia dimanapun itu berada, Amin3X, Ya
Rabbal Alamin.

Salam Perjuangan Dakwah Islamiyah,

Wassalamu’ alaikum wr wb,


A.Nurhono

I. Liberalisasi Syariat ala Sa`id al-Asymawi

Dalam khazanah pemikiran liberal kontemporer, salah satu juru kampanye yang cukup
berpengaruh adalah Muhammad Sa`id al-Asymawi. Alumnus Fakultas Hukum Universitas
Farouk II tahun 1955 ini pernah menjadi hakim di pengadilan negeri Kairo dan Alexandria,
sebelum akhirnya menjabat sebagai kepala pengadilan tinggi. Di antara karya-karyanya: Ushūl
al-Syari’ah (Prinsip-prinsip Syariah), al-Ribā wal’ Fāidah fi al-Islām (Riba dan Bunga Bank dalam
Islam), al-Islām al-Siyāsi (Islam Politik), Jawhar al-Islām (Esensi Islam), al-Khilāfah al-Islāmiyah
(Pemerintahan Islam), serta Haqiqat al-Hijāb wa Hujjiyat al-Sunnah (Hakikat Jilbab dan Validitas
Sunnah sebagai Dalil). Namun, bukunya yang paling memicu kontroversi adalah Al-Islām al-
Siyāsi dan Haqiqat al-Hijāb wa Hujjiyat al-Sunnah.

Sebagai seorang praktisi hukum kawakan, Asymawi sangat piawai bermain retorika serta logika.
Dan ia memanfaatkan betul kepiawaian tersebut untuk menjual ide-ide liberalnya. Sehingga,
sekilas, setiap argumen yang ia paparkan terdengar logis, dan dibungkus dengan kemasan
retorika yang menarik.

Soal jilbab, misalnya, dengan mengutak-atik asbab nuzul ayat-ayat Al-Quran tentang jilbab,
Asymawi terang-terangan mengatakan jilbab tidak wajib, dan sama sekali bukan bagian dari
agama. Ia berusaha mengecoh publik dengan menyimpulkan bahwa jilbab hanya syariat yang
bersifat temporal; berlaku di zaman Nabi SAW saja, karena alasan-alasan tertentu.
Mantan dosen American University in Cairo (AUC) ini juga mempersoalkan status hadis āhād
yang acap digunakan sebagai dalil diwajibkannya jilbab. Menurutnya, hadis yang diriwayatkan
oleh seorang Sahabat Nabi saja (āhād), tidak bisa dijadikan landasan produk hukum yang
diklaim sebagai syariat. Terlebih, yang mengandung konsekuensi pahala dan dosa.

Tetapi bila menelaah pendapat ulama tafsir dan fikih dalam masalah ini, apa yang dilontarkan
Asymawi terbukti hanya untuk memenuhi syahwat liberalnya semata. Argumen-argumennya
tidak berdasar dan banyak mengandung celah kritik. Imam Abu Bakar al-Jashshāsh, al-Qurthubi,
al-Khāzin, Ibnu ‘Athiyyah, dan Ibnu Katsir – untuk menyebutkan sebagian saja — secara
gamblang menegaskan wajibnya jilbab serta batasan-batasan aurat muslimah. Dan tak satu pun
berpendapat bahwa itu hanya berlaku di zaman Nabi SAW. Begitu pula soal hadis āhād. Sejak
zaman Sahabat RA, hadis āhād disepakati bisa dijadikan landasan hukum. Baik dalam praktik
ibadah maupun muamalat. Bahkan, dalam masalah-masalah akidah sekalipun.

Tak hanya soal jilbab, pemikiran liberal Asymawi juga menjamah rukun Islam yang keempat:
zakat. Menurutnya, pemungutan zakat dari kaum muslim cuma hak Nabi SAW, dan tak seorang
pun berhak melakukannya sepeninggal beliau. Apa yang dilakukan Abu Bakar r.a. dengan
memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat, merupakan suatu kelancangan atas
hak prerogatif Nabi SAW (al-Khilāfah al-Islāmiyah, Sinai, h. 106-107).

II. Liberalisasi Syariat ala Abdullah Ahmad An-Na’im

Pada tahun 2007, atas sponsor Ford Foundation dan Center for the Study of Religion and
Culture (CSRC), UIN Jakarta, tokoh liberal kelahiran Sudan ini pernah mengadakan perjalanan
keliling di Indonesia untuk menebarkan pemikiran sekuler liberal yang digagasnya dalam buku
Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa Depan Syari'ah (Mizan, 2007).. Buku ini
sempat mendapat pujian dari beberapa cendekiawan Indonesia. Ada yang mengatakan, bahwa
ide-idenya yang menggugat Syariat Islam bisa “merekonstruksi seluruh hasil ijtihad pada fuqaha
dan ‘ulama selama tiga abda pertama.”

Na’im terdidik dalam ilmu hukum, khususnya yang menyangkut hukum kriminal, hak asasi
manusia, dan kebebasan sipil (civil liberties). Dia pernah mengecap pendidikan di Universitas
Khourtoum. Kemudian melanjutkan ke University of Cambridge dimana dia meraih gelar LL.B
dan Diploma dalam Kriminologi. Pada tahun 1976, ia memperoleh gelar Ph.D dari University of
Edinburgh.

Sekembalinya ke Sudan dia diangkat menjadi jaksa dan pada saat yang sama menjadi dosen di
alma mater-nya. Na’im juga aktif dalam politik. Sejak mudanya dia sudah menggabungkan diri
dengan partai Republican Brotherhood pimpinan Mahmud Muhammad Taha, tokoh politik
yang mati ditiang gantungan dieksekusi oleh pemerintahan Numeiri karena dituduh murtad.
Salah satu karya terpentingnya adalah Toward an Islamic Reformation yang diterbitkan oleh
Syracuse University Press, 1990.
Sepertinya buku ini memang sengaja didedikasikan Na’im untuk “menghabisi” hukum Islam.
Definisinya tentang Syariat-pun sudah bermasalah. Dia menolak sakralitas (divinity) Syariat.
Menurutnya, Syariat adalah hasil dari proses interpretasi terhadap al-Qur’an dan Sunnah.
(Toward an Islamic Reformation, 11). Na’im menyatakan kekurang setujuannya atas perbedaan
yang dibuat oleh kalangan Muslim modernis antara syariat dan fiqh, karena dalam prakteknya,
katanya, perbedaan ini kurang signifikan. (xiv) Syari’at, jelasnya, bukanlah totalitas ajaran Islam,
tapi hanya interpretasi ulama atas sumber hukum Islam. Oleh karena ia hasil kontruksi ulama,
maka kemungkinan untuk merubahnya tentunya, katanya lagi, masih terbuka luas. (xiv).

Pandangan Na’im sangat berbahaya dan menimbulkan implikasi yang sangat fatal. Dengan
menghilangkan nilai sakralitas syariat/fiqh, ia bisa membuka ruang lebar kepada masyarakat
untuk tidak mematuhi hukum-hukum Allah karena dianggap produk manusia. Tapi Na’im tidak
peduli. Karena mungkin itulah yang diharapkannya. Dalam bukunya yang disebutkan diatas,
Na’im malah getol menyerukan perubahan hukum Islam terkait dengan konstitusionalisme,
hukum kriminal, hubungan internasional, dan hak-hak asasi manusia (HAM). Dia berkeyakinan
bahwa hukum Islam dalam bidang ini bertentangan secara diametrikal dengan prinsip hak asasi
manusia dan standard hukum international. “...some definite and generally agreed principles of
Shari’a are in clear conflict with corresponding principles of international law,” (Ibid.,151)
keduanya tidak mungkin dapat hidup berdampingan. (ibid., 8).

Dan andaikan kaum Muslim tetap memaksakan untuk menerapkan syariat Islam tersebut,
katanya, maka kaum Muslim akan rugi karena tidak dapat menikmati hasil sekularisasi. (Ibid.,
8) Dan yang paling merasakan kerugian, menurutnya lagi, adalah masyarakat non-Muslim dan
wanita. Bagi masyarakat non-Muslim mereka akan menjadi masyarakat kelas kedua, dan bagi
wanita pula mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Tapi kaum
lelakipun katanya akan merasakan dampaknya, sebab mereka akan kehilangan kebebasan
karena disekat berbagai undang-udang. (Ibid., 8-9) Pernyataan Na’im diatas persis seperti apa
yang biasa disampaikan para orientralis seperti Elizabeth Meyer dalam bukunya Islam and
Human Rights: Traditions and Politics (Boulder and San Francisco: Westview Press, 1991).

Bagi Na’im, hanya ada satu cara agar syariat Islam bisa eksis dalam dunia modern ini yaitu
dengan mereformasinya. Tapi Na’im menolak reformasi ini dilakukan dalam framework Ushul
Fiqh yang ada. Sebab dalam framework ini ijtihad tidak dibenarkan pada hukum yang telah
disentuh oleh secara definitif oleh al-Qur’an. Padahal hukum-hukum yang masuk dalam
kategori inilah, seperti hukum hudud dan qishas, status wanita dan non-Muslim, hukum waris
dan seterusnya yang perlu di perbaharui.(Ibid., 49-50).

Sebagai alternatifnya, an-Na’im menawarkan konsep naskh terbalik yang pernah di canangkan
oleh gurunya Mahmud Muhammad Taha. Esensi pendekatan ini adalah membalik proses
nasakh itu sendiri. Jika selama ini ayat madaniyyah menasakhkan (menghapus) ayat makkiyah,
karena yang pertama datang lebih akhir dari yang kedua, maka Na’im mengusulkan agar ayat
madaniyyah yang menasakhkan (menghapus hukum atau) ayat makkiyah.
Menurut Na’im pendekatan ini perlu dilakukan karena pesan-pesan fundamental Islam itu
terkandung dalam ayat-ayat makkiyah bukan madaniyyah. Adapun praktek hukum dan politik
yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan Sunnah periode Madinah, menurutnya, tidak semestinya
merefleksikan pesan ayat-ayat Makkiyyah. (Ibid., 13).

Pendekatan Na’im ini sangat problematik sekali. Karena disini Na‘im sepertinya
menggambarkan tidak adanya konsistensi dan kesinambungan ayat-ayat dalam al-Qur’an.
Katanya “the specific political and legal norms of the Qur’an and Sunna of Medina did not
always reflect the exact meaning and implications of the message as revealed in Mecca.”
(norma-norma politik dan hukum al-Qur’an dan Sunnah yang turun di Madinah tidak selalu
merefleksikan arti serta implikasi yang pasti dari pesan yang diturunkan di Mekkah).

Banyak yang mengkritik pemikiran an-Na’im. Bahkan, inilah salah satu kesalahan fatal kaum
Muslim modernis. Mereka ini, cenderung gagal menangkap al-Qur’an dalam satu-kesatuannya
yang utuh. Al-Qur’an cenderung dipahami secara terpisah-pisah dimana yang satu tidak terkait
dengan yang lain.

Kesalahan yang lebih fatal lagi adalah andaikan pendekatan ini tetap digunakan, maka sudah
pasti banyak hukum-hukum Islam yang akan terabaikan termasuk salat, zakat, haji, perkawinan,
riba, dan lain-lain, karena hampir keseluruhan hukum-hukum tersebut terkandung dalam ayat-
ayat Madaniyyah. Akibatnya Islam pun harus bubar, setidaknya Islam dikosongkan dari syariat-
syariatnya. Apakah ini yang diharapkan Na’im dan para penyokongnya? Wallahu ‘alam.
SERIAL KE-29
RELIGIUS HUMANIS DAN HAM DALAM ISLAM

Assalamu' alaikum wr wb,

Yth. sahabat2 Muslimin dan Muslimat Indonesia yang dirahmati dan dimuliakan Allah SWT.
dimanapun itu berada dimuka bumi Allah ini,

Mohon ma'af ada kesalahan menulis serialnya, serial ke-29, Islam vs Liberalisme, seharusnya
adalah berjudul "Religius Humanis" & HAM dalam Islam

Selamat membaca, semoga semakin mantap dan mencerahkan pemikiran Islam para
cendekiawan mujahid Muslimin dan Muslimat Indonesia, Amin 3X, Ya Rabbal Alamin.

Wassalamu' alaikum wr wb,

A.Nurhono

I. “Religius-Humanis”

“Jimat orang sekuler-liberal, dan bahkan atheis, untuk menyerang agama adalah dalih
humanisme"

“Percuma menjadi religius kalau tidak manusiawi”, “daripada beragama tapi jahat, lebih baik
berperikemanusiaan meski tidak beragama”. Itulah logika geram para pembenci agama dan
pengusung humanisme. Logikanya begitu humanis, tapi justru seperti atheis. Dan ternyata
“jimat” atau aji-aji pamungkas orang sekuler-liberal dan bahkan atheis untuk menyerang agama
adalah dalih humanisme.

Sejarahnya, memang di Barat telah terjadi perubahan orientasi masyarakat dari teosentris
(Tuhan sebagai pusat) menjadi anthroposentris (manusia sebagai pusat). Perubahan itu yang
dianggap sangat revolusioner itu mengiringi perjalanan kebudayaan Barat modern hingga
postmodern. Argumentasi mereka begitu mudah diterima. Dengan doktrin empirisisme Tuhan
dianggap tidak riel, sedangkan manusia begitu riel dan kasat mata. Membela Tuhan,
mementingkan Tuhan, menghormati Tuhan, atau mensucikan Tuhan dianggap sia-sia dan tidak
ada gunanya. Dalilnya “Tuhan tidak perlu dibela karena sudah Maha Kuasa”. Seperti membela
Tuhan tapi sejatinya membuka jalan bagi blasphemy (penistaan agama).

Bukti orientasi antroposentrisme sudah terwakili oleh doktrin kematian Tuhan ala Nietzsche.
Dari situ penistaan agama, Tuhan, dan kebenaran menjadi absah. Tapi benih yang ditabur
Nietzsche itu tahun 1948 menjadi buah masak yang berbentuk Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia (DUHAM). Ini adalah standarisasi kemanusiaan yang formal dan disepakati banyak
negara pendukung humanisme. Maka dari itu hak-hak asasi manusia benar-benar dominan dan
agama-agama tidak lagi diberi ruang.

Karena penyusunan Deklarasi ini tidak melibatkan agama-agama, maka banyak hal yang
menjadikannya tidak universal. Terbukti banyak agama yang tidak puas. Pada bulan Juli tahun
1993 di New York diadakan peluncuran acara Project on Religion and Human Right. Acara ini
merupakan reaksi agama-agama terhadap DUHAM dan merupakan prakarsa untuk
merevisinya. Bukan hanya itu, pada ulang tahun ke-50 DUHAM dan ulang tahun ke-50 Fakultas
Religious Studies universitas McGill, Montreal , Canada, upaya merevisi DUHAM itu pun
terulang lagi. Revisi itu menghasilkan dokumen yang disebut Universal Deklaration of Human
Right by the World Religions. Setelah itu berturut-turut acara revisi merivisi berlanjut di
berbagai tempat, seperti di California, New York, Durban, Barcelona, Paris, dan terakhir di
Genting Highland, Malaysia pada bulan November 2002. Anehnya, acara ini disaksikan oleh
pihak UNESCO. Resmilah sudah bukti perseteruan antara kaum humanis dan kaum religius.

Terpisah dari respon agama-agama, di kalangan umat dan negara-negara Islam seperti Sudan,
Iran, Saudi Arabia, Mesir, dan sebagainya, juga turut menyadari dominasi humanisme dalam
DUHAM. Mereka menganggap DUHAM gagal memasukkan pertimbangan konteks kultural dan
religius dari negara-negara non-Barat. Utusan Negara Iran di PBB tahun 1981, Said Rajaie-
Khorassani malah menyatakan bahwa “DUHAM adalah hasil pemahaman sekuler dari tradisi
Yahudi Kristen yang tidak dapat diterapkan ke dalam Islam”

Tiga tahun lebih awal dari acara di New York, umat Islam mengeluarkan deklarasi tandingan
yang disebut Cairo Declaration on Human Rights in Islam (CDHRI). Deklarasi yang diadakan oleh
Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 5 Agustus 1990 ini diikuti 45 menlu negara OKI. Intinya
memberi gambaran hak-hak asasi manusia menurut Islam yang sumber satu-satunya adalah
syariah Islam.

Jika logika sekuler, liberal dan atheis di atas benar, maka isi Deklarasi Cairo itu mestinya hanya
mensucikan Tuhan belaka dan menginjak-injak kemanusiaan. Tapi ternyata tidak dan logika
sekuler liberal atheis itu salah. Bahkan deklarasi Cairo itu tidak ekslusif untuk umat Islam. Dalam
salah satu pasalnya menyatakan, “Diskriminasi berdasarkan ras, warna, bahasa, kepercayaan,
seks, agama, afiliasi politik, status sosial atau pertimbangan lainnya adalah dilarang”. Bahkan
pelindungan jiwa manusia adalah kewajiban syariah. Maka dalam situasi perang, mereka yang
tidak terlibat perang seperti orang tua, wanita and anak-anak, yang terluka dan yang sakit, dan
juga tawanan perang, berhak diberi makan, tempat tinggal, keamanan serta pelayanan
kesehatan.

CDHRI juga memberi hak kepada laki-laki dan wanita hak untuk menikah tanpa
mempertimbangkan ras, warna kulit atau kebangsaan, tapi tetap mempertimbangkan agama.
Selain itu wanita juga diberi penghargaan dan penghormatan yang sama sebagai manusia, hak
untuk menjalankan pekerjaannya, hak-hak sipil, kemandirian finansial, dan hak untuk
mempertahankan nama dan kekeluargaannya, meski tidak sama dalam segala hal.
Dalam Pasal ke -10 disebutkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Melakukan segala
bentuk pemaksaan terhadap manusia atau mengeksploitasi kemiskinan atau kebodohan untuk
mengkonversikan seseorang dari satu agama kepada agama lain atau atheism adalah dilarang.
Masih banyak lagi pasal-pasal yang membela manusia, tapi tidak serta merta menistakan agama
apalagi Tuhan.

Baca misalnya Pasal 22 yang berbunyi: a) Setiap orang memiliki hak untuk mengekspresikan
pendapatnya secara bebas dengan cara yang tidak akan bertentangan dengan prinsip-prinsip
syariah. b) Setiap orang berhak untuk membela yang benar, dan mendakwahkan yang baik,
serta memperingatkan hal-hal yang salah dan mungkar sesuai dengan norma-norma syariah
Islam. c) Informasi adalah kebutuhan vital bagi masyarakat. Ia tidak boleh dieksploitasi atau
disalahgunakan sehingga menodai kesucian dan penghormatan terhadap Nabi, merendahkan
nilai-nilai moral dan etika, atau memecah, merusak atau membahayakan masyarakat atau
melemahkan keimanan. d) Memicu kebencian yang bersumber dari kebangsaan atau doktrin
keagamaan atau melakukan sesuatu yang mungkin memprovokasi segala bentuk diskriminasi
ras adalah dilarang.

Dari Pasal 22 di atas terbukti bahwa memberi tempat pada agama tidak berarti menistakan
manusia. Sebab syariah adalah sumber segala perlakuan terhadap manusia, Dalam syariah
terdapat maslahat yang telah didesain oleh Tuhan melalui wahyu. Tapi tidak semua yang
dianggap maslahat manusia dapat dibenarkan syariat. Pelacuran, homoseks, lesbianism, nikah
beda agama bagi pembenci agama adalah maslahat, tapi tidak dibenarkan syariat. Jadi
logikanya yang benar, semakin religius seseorang justru ia semakin manusiawi, tapi semakin
humanis seseorang justru semakin atheis. Innal insana layatgha an ra’ahustaghna (Artinya :
"Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba
cukup”, QS. Al-Alaq, 96 : 6 -7).

II. ISLAM, KEBEBASAN, DAN HAM

Pada hakekatnya Islam tidak bertentangan dan Hak Asasi Manusia, ia bahkan sangat
menghormati hak dan kebebasan manusia. Jika prinsip-prinsip dalam al-Qur’an disarikan maka
terdapat banyak poin yang sangat mendukung prinsip universal hak asasi manusia. Prinsip-
prinsip itu telah dituangkan dalam berbagai pertemuan umat Islam. Yang pertama adalah
Universal Islamic Declaration of Right, diadakan oleh sekelompok cendekiawan dan pemimpin
Islam dalam sebuah Konferensi di London tahun 1981 yang diikrarkan secara resmi oleh
UNISCO di Paris. Deklarasi itu berisi 23 pasal mengenai hak-hak asasi manusia menurut Islam.

Deklarasi London kemudian diikuti oleh Deklarasi Cairo yang dikeluarkan oleh Organisasi
Konferensi Islam (OKI) tahun 1990 (1411). Dari pendahuluan Deklarasi itu dapat disarikan
menjadi beberapa poin diantaranya adalah bahwa :
1) Islam mengakui persamaan semua orang tanpa membedakan asal-usul, ras, jenis kelamin,
warna kulit dan bahasa;
2) Persamaan adalah basis untuk memperoleh hak dan kewajiban asasi manusia,
3) kebebasan manusia dalam masyarkat Islam consisten dengan esensi kehidupannya, sebab
manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dan bebas dari tekanan dan perbudakan;
4) Islam mengakui persamaan antara penguasa dan rakyat yang harus tunduk kepada hukum
Allah tanpa diskrimasi;
5) warganegara adalah anggota masyarakat dan mempunyai hak untuk menuntut
siapapun yang mengganggu ketentraman masyarakat.

Deklarasi itu terdari dari 25 pasal yang mencakup masalah kehormatan manusia, persamaan,
manusia sebagai keluarga, perlunya kerjasama antar sesama manusia tanpa memandang
bangsa dan agamanya, kebebasan beragama, keamanan rumah tangga, perlunya solidaritas
individu dalam masyarakat, pendidikan bukan hak tapi kewajiban, perlindungan terhadap
kesehatan masyarakat, pembebasan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan, dan lain
sebagainya (Sulieman Abdul Rahman Al-Hageel, Human Right, 49-59).

Keseluruhan pasal-pasal dalam Deklarasi Cairo itu dapat disarikan menjadi 5 poin:

1) HAM dalam Islam diderivasi dari ajaran Islam. Menurut ajaran Islam manusia
dianggap sebagai makhluk yang mulia. (QS. 17:70)
2) HAM dalam Islam adalah karunia dari Tuhan, dan bukan pemberian dari manusia
kepada manusia lain dengan kehendak manusia. (artinya, hak asasi dalam Islam
adalah innate / fitrah).
3) HAM dalam Islam bersifat komprehensif. Termasuk didalamnya hak-hak dalam
politik, ekonomi, social dan budaya.
4) HAM dalam Islam tidak terpisahkan dari syariah.
5) HAM dalam Islam tidak absolute karena dibatasi oleh obyek-obyek syariah dan oleh
tujuan untuk menjaga hak dan kepentingan masyarakat yang didalamnya terdapat individu-
individu (Sulieman Abdul Rahman Al-Hageel, Human Right, 49-59).

Selain itu Liga Arab pada 15 September 1994 dalam pertemuannya di Cairo Mesir,
mengeluarkan sebuah Charter yang disebut Arab Charter of Human Right. Charter ini terdiri
dari 39 Pasal yang menyangkut berbagai hal yang lebih lengkap dari apa yang terdapat dalam
DUHAM.

Dalam kaitannya dengan kebebasan yang merupakan bagian terpenting dari hak asasi manusia,
Islam dengan jelas telah memposisikan manusia pada tempat yang mulia. Manusia adalah
makhluk yang diberi keutamaan dibanding makhluk-makhluk yang lain. Ia diciptakan dengan
sebaik-baik ciptaan (Kami ciptakan manusia sebaik-baik ciptaan… (QS 95:4).

Ia diciptakan menurut image (Surah) Tuhandiberi diberi sifat-sifat yang menyerupai sifat-
sifat Tuhan. Selain diberi kesempurnaan ciptaan manusia juga diberi sifat fitrah, yaitu
sifat kesucian yang bertendesi mengenal dan beribadah kepada Tuhannya, serta bebas dari
tendensi berbuat jahat. Sifat jahat yang dimiliki manusia diperoleh dari lingkungannya. Dengan
keutamaannya itu manusia yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi (QS
2:30;20:116).

Oleh sebab itu manusia mengemban tanggung jawab terhadap Penciptanya dan mengikuti
batasan-batasan yang ditentukanNya. Untuk melaksanakan tanggung jawabnya itu manusia
diberi kemampuan melihat, merasa, mendengar dan yang terpenting adalah berfikir. Pemberi-
an ini merupakan asas bagi lahirnya ilmu pengetahuan dan pengembangannya. Ilmu
pengetahuan, dalam Islam, diposisikan sebagai anugerah dari Tuhan dan dengan ilmu inilah
manusia mendapatkan kehormatan kedua sebagai makhluk yang mulia. Artinya manusia
dimuliakan Tuhan karena ilmunya, dan sebaliknya ia akan mulia disisi Tuhan jika ia
menjalankan tanggung jawabnya itu dengan ilmu pengetahuan.

Namun dalam masalah kebebasan hanya Tuhanlah pemiliki kebebasan dan kehendak mutlak.
Manusia, meski diciptakan sebagai makhluk yang utama diantara makhluk- makhluk yang lain,
ia diberi kebebasan terbatas, sebatas kapasitasnya sebagai makhluk yang hidup dimuka bumi
yang memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan manusia karena pertama-tama eksistensi
manusia itu sendiri yang relatif atau nisbi dihadapan Tuhan, karena alam sekitarnya, karena
eksistensi manusia lainnya. Upaya untuk melampaui keterbatasan manusiawi adalah ilusi yang
berbahaya. Berbahaya bukan pada Yang Maha Tak Terbatas, yaitu Tuhan, tapi pada manusia
sendiri (Hossein Nasr, Seyyed, Islamic Life and Thought, George Allen & Unwin, London,
Boston, Sydney).

Kebebasan manusia dalam Islam didefinisikan secara berbeda-beda oleh ahli fiqih, teolog,
dan filosof. Bagi para fuqaha, kebebasan itu secara teknis menggunakan terma hurriyah yang
seringkali dikaitkan dengan perbudakan. Seorang budak dikatakan bebas (hurr) jika tidak lagi
dikuasai oleh orang lain. Namun secara luas bebas dalam hokum Islam adalah kebebasan
manusia dihadapan hokum Tuhan yang tidak hanya berkaitan
dengan hubungan manusia dengan Tuhan tapi hubungan kita dengan alam, dengan manusia
lain dan bahkan dengan diri kita sendiri. Sebab manusia tidak dapat bebas memperlakukan
dirinya sendiri. Dalam Islam bunuh diri tidak dianggap sebagai hak individu, ia merupakan
perbuatan dosa karena melampaui hak Tuhan.

Menurut para teolog kebebasan manusia tidak mutlak dan karena itu apa yang dapat
dilakukan manusia hanyalah sebatas apa yang mereka istilahkan sebagai ikhtiyar. Ikhtiyar
memiliki akar kata yang sama dengan khayr (baik) artinya memilih yang baik. Istikaharah
adalah shalat untuk memilih yang baik dari yang tidak baik. Jadi bebas dalam pengertian ini
adalah bebas untuk memilih yang baik dari yang tidak baik. Sudah tentu disini kebebasan
manusia terikat oleh batas pengetahuannya tentang kebaikan. Karena pengetahuan manusia
tidak sempurna, maka Tuhan memberi pengetahuan melalui wahyuNya. Orang yang tidak
mengetahui apa yang dipilih itu baik dan buruk tentu tidak bebas, ia bebas sebatas
kemampuan dan pengetahuannya sebagai manusia yang serba terbatas.
Para filosof tidak jauh beda dengan para teolog. Kebebasan dalam pengertian para filosof
lebih dimaknai dari perspektif masyarakat Islam dan bukan dalam konteks humanisme
sekuler. Para filosof juga memandang perlunya kebebasan manusia yang didorong oleh
kehendak itu disesuaikan dengan Kehendak Tuhan yang menguasai kosmos dan masyarakat
manusia, sehingga dapat menghindarkan diri dari keadaan terpenjara oleh pikiran yang
sempit.

Meskipun berbeda antara berbagai disiplin ilmu namun semuanya tetap bermuara pada
Tuhan. Namun yang penting dicatat para ulama dimasa lalu membahas masalah ini
dengan merujuk kepada sumber-sumber pengetahuan Islam, yaitu al-Qur’an, hadith,
ijma’, qiyas (akal) dan juga intuisi. Itulah sebabnya kebebasan dalam sejarah Islam dimaknai
dalam konteks syariah. Meskipun telah terjadi konflik sesudah Khulafa al- Rasyidun antara
penguasa dan ulama, namun syariah atau tata hukum Islam masih menjadi protective
code yang mengikat masyarakat dan penguasa sekaligus. Disini ulama beperan dalam menjaga
syariah ketika terjadi tindakan para khalifah yang berlawanan dengan hukum syariah,
sehingga dalam situasi seperti itu kebebasan individu dijamin oleh syariah (.Hossein Nasr,
Seyyed, Islamic Life and Thought, George Allen & Unwin, London, Boston, Sydney). Itulah
prinsip-prinsip kebebasan dalam Islam yang disampaikan secara singkat (in cursory
manner). Kini perlu dibahas makna kebebasan dalam kaitannya dengan HAM, khususnya
kebebasan beragama.

Dalam kaitannya dengan HAM dewasa ini dua persoalan penting yang perlu dibahas adalah :
pertama kebebasan berfikir dan berekspresi, dan kedua kebebasan beragama.
Kebebasan berfikir dan berekspresi mendapat tempat yang tinggi Islam. Namun berfikir dan
berekspresi harus disertai keimanan kepada Tuhan, bukan berfikir bebas yang justru
menggugat Tuhan seperti di Barat. Dalam al-Qur’an berfikir disandingkan dengan
berzikir alias mengingat Tuhan. Selain itu kebebasan berekspresi atau dalam Islam
disebut ijtihad, dibolehkan bagi yang memiliki otoritas keilmuan yang dapat diper-
tanggungjawabkan.

Sebab innovasi dalam ilmu apapun tidak dapat dipisahkan dari otoritas keilmuan. Secara
epistemologis kebebasan berfikir dan berekspresi dibatasi oleh pandangan hidup Islam
(Worldview of Islam) yang secara konseptual dapat dirujuk kepada konsep-konsep
seminal dalam al-Qur’an yang dielaborasi oleh Hadith dan tradisi intelektual Islam. Jadi
kebebasan berfikir dalam Islam harus berbasis pada epistemologi, ontologi dan aksiologi
Islam. Sebab Islam sebagai worldview adalah sebuah cara pandang. Jika Islam dipandang
dengan worldview selain Islam akan mengakibatkan kerancuan konseptual dan pada tingkat
sosial akan mengakibatkan konflik berkepanjangan dalam memaknai dan menyelesaikan
berbagai persoalan.

Kebebasan beragama yang diberikan Islam mengandung sekurangnya tiga arti:


Pertama bahwa Islam memberikan kebebasan kepada umat beragama untuk memeluk
agamanya masing-masing tanpa ada ancaman dan tekanan. Tidak ada paksaan bagi orang
non- Muslim untuk memeluk agama Islam.
Kedua, apabila seseorang telah menjadi Muslim maka ia tidak sebebasnya mengganti
agamanya, baik agamanya itu dipeluk sejak lahir maupun karena konversi.
Ketiga, Islam memberi kebebasan kepada pemeluknya menjalankan ajaran agamanya
sepanjang tidak keluar dari garis-garis syariah dan aqidah. Karena masalah ini kini merupakan
issu yang kini sedang mengemuka di negeri ini, maka perlu disoroti dalam dalam konteks
DUHAM dan perundang-undangan yang berlaku.
SERIAL KE-30
SALAH PAHAM TERHADAP IBN RUSYD DAN
AL-GHAZALI + IBN RUSYD TIDAK LIBERAL

Assalamu' alaikum wr wb,

Yth. sahabat2 Muslimat dan Muslimat Indonesia yang dirahmati dan diberkahi Allah SWT.
dimanapun itu berada dimuka bumi ini,

Alhamdulilah, dengan izin-Nya, kembali baru saja selesai dituliskan seri ke-30 Islam vs
Liberalisme berjudul

" Salah Paham terhadap Ibn Rusyd & Al-Ghazali + Ibn Rusyd Tidak Liberal".

Selamat membaca,semoga mencerahkan pemikiran Islam cendekiawan mujahid Muslimin dan


Muslimat Indonesia,

Amin 3X Ya Rabbal Alamin.

Wassalamu’ alaikum wr wb,

Hamba Allah yang dho’if.

I. Salah Paham Terhadap Ibn Rusyd dan Al-Gzahali


Dalam kajian pemikiran dan peradaban Islam di Barat dan dunia Islam (termasuk Indonesia),
dijumpai dua tokoh ulama Besar Islam sepanjang sejarah umat manusia dimana pemikiran
Islamnya sering disalah pahami yang dianggap saling kotroversial, bahkan karena ketidak
cerdasan umat Islam dalam memahami worldview (pandangan hidup) Islam dan kesombongan
ilmunya disadari atau tidak, telah mengarah pada pengambilan suatu kesimpulan yang sangat
menyesatkan dan membahayakan, khususnya dalam usaha merintis kembali bangunan
peradaban Islam (The glory of Islamic civilization) yang cemerlang dimasa kini dan masa depan,
yaitu Ibn Rusyd dan Imam Al-Ghazali.

“Pemikiran Ibn Rusyd diambil Barat sehingga Barat menjadi maju, sedang pemikiran al-
Ghazzali dibawa ke Timur dan karena itu Timur mundur.” Kesimpulan ini tersebar luas
dikalangan mahasiswa dan dosen dari dulu hingga kini. Tidak jelas siapa yang mula-mula
menyebarkannya, tapi orientalis pada umumnya berasumsi begitu.
Dalam proyek liberalisasi PT Islam di Indonesia, pemikiran seperti itulah yang sempat diajarkan
di berbagai Perguruan Tinggi Islam. Sejumlah buku Studi Islam di Indonesia juga memuat
”mitos-mitos” dan kesalahpahaman terhadap Ibn Rusyd dan al-Ghazali. Simaklah, misalnya,
sebuah kutipan dari buku berjudul Epistemologi Islam Skolastik (IAIN Walisongo Semarang dan
Pustaka Pelajar, 2007), yang ditulis seorang guru besar dalam pemikiran Islam:

”Kalau kita mau menelusuri sebab mengapa umat Islam begitu jauh tertinggal dari bangsa
Barat, kita akan menyadari karena pola pikir Ibnu Rusyd yang kritis dan rasional itu kalah
gaungnya dengan gema konservativitas dan ortodoksi yang dilancarkan Imam al-Ghazali
yang berkembang merata ke dunia Islam bahkan menjadi pola pikir yang mendarah daging
pada kalangan umat Islam.” (hal. 99).

”Apa yang ditampilkan Ibn Rusyd dan kawan-kawannya disikapi dengan cermat oleh orang-
orang Barat, sehingga muncullah aliran Aviroisme sebagai cikal bakal tumbuh berkembangnya
Skolastik Latin. Dia menghantarkan budaya ilmiah Barat ke pintu gerbang kemajuan,
kreativitas dan langkah-langkah inovatif yang selalu beriringan muncul terus tanpa henti.
Akibatnya dunia Barat sebagai penemu kreasi-kreasi baru, tiada hari tanpa penemuan-
penemuan baru. Berbeda halnya dengan kondisi di dunia Timur (dalam hal ini khususnya dunia
Islam), tidur panjang (tanpa nglilir) yang mereka lakukan, setelah mereka (barangkali) merasa
puas dengan temuan-temuan para tokohnya di masa lampau...” (hal. 164-165).

Kesimpulan bahwa Barat maju karena ikut Ibn Rusyd dan Islam mundur karena ikut al-Ghazali
merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana. Kajian-kajian ilmiah yang serius menunjukkan,
kemajuan Barat di dalam bidang sains dan teknologi justru tidak ada kaitannya dengan
pemikiran Ibn Rusyd (averroisme).

Lebih ironis, pemikiran seperti ini oleh sebagian kalangan liberal, kemudian dibelokkan lebih
jauh lagi; bahwa umat Islam mundur karena tidak mau mengikuti Barat yang telah memeluk
sekularisme dan liberalisme dengan menyingkirkan ajaran-ajaran agama Yahudi-Kristen
dalam berbagai aspek kehidupan mereka (Dr.Adian Husaini).

Yang harus diyakini dengan basis keilmuan yang kokoh bagi umat Islam sepanjang sejarah
peradaban umat manusia adalah bahwa keduanya Ibn Rusyd dan Al-Ghazali adalah ilmuwan
dan ulama besar Islam. Kaum Muslim harus meletakkan kedua ulama dan ilmuwan itu secara
adil dan beradab. Ibn Rusyd seorang ilmuwan yang tahu adab. Meskipun kepakarannya dalam
bidang fikih dan ushul fikih sangat luar biasa, tetapi ia meletakkan dirinya sebagai pengikut
mazhab Maliki. Kehebatan Al-Ghazali dalam bidang ushul fikih, juga tidak membawanya ke
sikap jumawa, tidak tahu diri. Ia meletakkan dirinya sebagai pengikut mazhab Syafii.

Sikap beradab dari para ilmuwan dan ulama besar seperti ini jauh berbeda dengan sikap yang
ditunjukkan sebagian kalangan liberal yang dengan mudahnya mencerca Imam Syafii, seperti
ditulis dalam buku Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis (Yayasan
Wakaf Paramadina dan The Asia Foundation, 2004) :
“Kaum Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang
dibuat imam Syafi’i. Kita lupa, imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian,
tapi juga karena Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih
dua belas abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir fiqih Muslim
tidak mampu keluar dari jeratan metodologinya. Hingga kini, rumusan Syafi’i itu diposisikan
begitu agung, sehingga bukan saja tak tersentuh kritik, tapi juga lebih tinggi ketimbang
nash-nash Syar’i (al-Quran dan hadits). Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks selalu
tunduk di bawah kerangka Syafi’i.”

Kekeliruan bukan untuk dicaci-maki secara tidak adil dan tidak beradab, tetapi wajib untuk
dipebaiki dengan keilmuan tandingan yang sederajat. Sudah saatnya para sarjana Muslim,
melakukan kajian yang lebih serius dan mendalam, sebelum menyampaikan kesimpulannya
kepada mahasiswa atau masyarakat.

Dalam pandangan pemikiran Islam Dr. Syamsuddin Arif, Phd ahli dalam pemikiran Islam Ibnu
Sina, memberikan catatan kritisnya: “Sarjana Kita Kurang Apresiatif terhadap Ulama”.
Akibatnya dasyat sekali, maka tidak banyak umat Islam atau sarjana Muslim yang kritis
terhadap pemikiran Barat atau para orientalis. Mayoritas di antara mereka, baik yang belajar di
negara-negara Timur Tengah (Arab) ataupun yang belajar di negara-negara Barat tak “peduli”
dan kurang paham tentang Barat. Sehingga kesewenangan-wenangan para orientalis dianggap
biasa. Parahnya lagi banyak di antara scholar Muslim yang mendapat scholarship dari sana
menjadi murid sekaligus pendukung mereka. Lebih jauh lagi, beliau mengatakan lebih keras lagi
: untuk menjadi cendekiawan Islam yang shaleh, ulama pewaris Nabi Muhammad
saw.,sungguh“Tak Mungkin Belajar Islam pada Orang Junub”. Karenanya untuk menjadi ulama
pewaris Nabi dalam arti yang sesungguhnya, maka universitas- universitas di Barat bukanlah
tempatnya. Bagaimana mungkin seorang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak
pernah bersuci, tidak pernah shalat, disebut ahli hadis, ahli tafsir, ahli fiqh? Bagaimana mungkin
orang yang seumur hidupnya dalam keadaan junub disejajarkan dengan Imam as-Syafi'i, Imam
Ahmad, Imam al-Ghazali? Hayhaata hayhaata, saa'a maa yahkumuun (Aduhai, aduhai,
sungguh suatu keputusan yang buruk).

Dalam kaitan dengan hal ini, Prof Al-Attas memberikan nasehat yang sangat mulia bagi usaha
menghidupkan kembali megaproyek kebangkitan peradaban Islam dimasa depan dengan
thesisnya yang terkenal mengatakan bahwa “Kebanyakan sikap sinis dan hujatan terhadap
Islam belakangan ini terjadi akibat kebodohan, kesilauan rasa minder terhadap peradaban
Barat “(Eksposisi Tesis Prof. Naquib al-Attas tentang Islam dan Barat dalam bukunya "Risalah
untuk Kaum Muslimin").

Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi, Phd satu-satunya di Indonesia, yang juga salah satu murid terbaik
Prof.Al-Attas yang pakar dalam pemikiran Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan panjang
yang menarik tentang sikap tidak beradabnya cendekiawan liberalis-sekular ini : Pemikiran Ibn
Rusyd memang populer di Barat karena gagasan integrasi filsafat dan agamanya. Sejak
diterjemahkan (1230), pemikirannya tersebar luas di Eropa dan ditrapkan di gereja-gereja,
sehingga menjadi gerakan Averroism. Namun, Averroism ternyata adalah tidak murni mengikuti
Ibn Rusyd, tapi telah bercampur dengan Aristotelianisme radikal dan heterodok. Ide utamanya
adalah dua jalan menuju kebenaran: filsafat dan wahyu, dikenal dengan “teori kebenaran
ganda” (double truth); keabadian alam; kesatuan akal semua manusia (monopsychism), dan
kebangkitan orang mati.

Karena gagasannya yang menyangkut agama itu Paus Gregory IX membentuk komisi khusus
untuk mengkajinya. Namun, tidak semua akur dengan pemikiran Ibn Rusyd. Tahun 1270 dan
1277 Bishop Etienne Tempier dari Gereja Katholik Roma memerinci hinggi 219 poin kesalahan
Ibn Rusyd. Diantaranya justru membela al-Ghazzali. Ramon Lull (1232-1316) yang menjuluki
gerakan ini dengan Averroistae mengkritik pembela Averroism melalui wacana di kampus-
kampus. Pengikutnya Siger Barabant (1270), Boetius Dacia dan Bernier of Nivelles dosen di
University of Paris dituduh bid’ah. Dituduh telah terpengaruh Averroes buku Dante berjudul De
Monarchia dibakar atas perintah Paus John XXII. Namun, dari abad ke 13 hingga 16 Averroism
terus berkembang menjadi tren pemikiran Barat yang dominan, khususnya di Perancis. Bahkan
diabad ke 16 pendukungnya seperti Giordano Bruno, Pico della Mirandola dan Cesare
Cremonini masih bertahan.

Selain dikritik, pemikiran Ibn Rusyd tentang kebenaran dianggap ancaman dan pemicu atheisme
modern. Eatine Gelner, menuduh Ibn Rusyd sebagai penebar benih sekularisme di Barat.
Benedict Spinoza (1632-1677) mengaku bahwa gagasan pentheismenya tercipta dari doktrin
monopsychisme Ibn Rusyd, sedangkan kecenderungannya terhadap sekularisme dipengaruhi
oleh doktrin “double truth”. Tak heran jika tokoh filosof mereka seperti Albert the Great (1200-
1280) dan Thomas Aquinas (1225-1274) dengan keras ikut menghantamnya.

Benarkah Ibn Rusyd lebih rasional dan mendorong penggunaan akal. Ternyata tidak. Komentar
Ibn Rusyd tentang logika Aristotle (terjemahan William of Luna) masih kalah rasional dibanding
teori Ibn Sina. Faktanya. Roger Bacon, Thomas Aquinas, dan diikuti oleh Pseudo-Robert
Kilwardby, Radulphus Brito, Hervaeus Natalis, Peter Aureoli, Duns Scotus and William of
Ockham justru menjadi “santri” setia Ibn Sina dalam bidang mantiq, bukan Ibn Rusyd. Selain itu,
karya Ibn Sina berjumlah 400an, sedang karya Ibn Rusyd hanya sekitar 70 an.

Bukan hanya dalam logika. Teori Ibn Sina tentang fakultas jiwa manusia lebih populer dibanding
Ibn Rusyd. Buktinya teori jiwa Ibn Sina muncul dalam buku-buku standar filsafat di perguruan
tinggi sejak tahun 1220 hingga waktu yang lama. Buku-buku seperti Philosophy of the Simple
(Philosophia pauperum), Mirror of Nature (Speculum naturale) dan Philosophic Pearl
(Margarita philosophica) yang terbit tahun 1490an menggunakan teori jiwa Ibn Sina. Sementara
doktrin Ibn Rusyd tentang kesatuan jiwa (monopsychisme dan panpsychisme) malah dikritik
banyak orang, diantaranya oleh Thomas Aquinas dalam bukunya De unitate intellectur contra
Averroistas (Kesatuan Intelek, Kritik terhadap Ibn Rusyd).

Dalam masalah kausalitas Ibn Rusyd dinilai banyak peneliti salah faham terhadap al-Ghazzali. Ia
menuduh al-Ghazzali mengingkari kausalitas dan karena itu mengingkari ilmu pengetahuan.
Padahal, al-Ghazzali menerima prinsip kausalitas, tapi menolak kepastiannya. Sebab, katanya,
jika kausalitas itu mutlak pasti, berarti Tuhan tidak memiliki kehendak dan kuasa terhadap alam
ini. Dalam teori al-Ghazzali, Tuhan berkehendak tapi kausalitas tetap ada. Kehendak Tuhan pun
bukan semena-mena dan tidak akan merusak konsep ilmu. Kita pun tahu saat inipun kausalitas
alam semesta ini masih menyimpan faktor X, tidak tahu secara pasti sebab atau akibatnya,
kecuali Tuhan. Kritika al-Ghazzali terhadap kausalitas bahkan diadopsi Malebranche dan David
Hume. Tapi mereka menghilangkan faktor Tuhan sehingga menjadi sekuler.

Masalahnya, konsep Tuhan dalam ide kepastian kausalitas Ibn Rusyd dan para filosof
peripatetik itu adalah masih Tuhan Aristotle (Unmoved Mover). Toerinya rasional tapi bukan
Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tuhan yang bisa masuk ruang dan waktu, dan
yang tahu hal-hal partikular seperti dalam al-Qur’an. Teori kepastian kausalitas itulah yang kini
menjadi basis sains modern yang terpisah dari agama.

Jika kritik al-Ghazzali terhadap kepastian kausalitas disampaikan zaman sekarang, banyak
Muslim yang akan akur. Sebab hubungan sains dan agama di Barat semakin jauh dan bahkan
terputus alias Godless. Dan jika teori kausalitas Ibn Rusyd, termasuk teori Tuhannya
disampaikan sekarang, tentu masih akan menuai badai kritik. Kini teori penciptaan lebih
populer ketimbang emanasi dan ilmu pengetahuan dalam Islam masih bisa berkembang.

Tuduhan bahwa kritik al-Ghazzali adalah pemicu kemunduran umat Islam atau sains didunia
Islam tidaklah berdasar. Kajian teliti terhadap buku-buku al-Ghazzali, tidak sedikitpun
membuktikan tuduhan itu. Ia malah berfikir integratif:”Semua ilmu rasional adalah religious dan
semua ilmu agama adalah rasional”. Buktinya sains dalam Islam, khususnya Astronomi tidak
terpengaruh oleh Tahafut dan masih terus berjalan hingga abad ke 15. Empat abad setelah
Tahafut al-Ghazzali terbit. Karya-karya dan pusat studi sains Ibn Shatir di Maragha masih
berjalan. Lagi pula politik, ekonomi dan pendidikan umat Islam mundur bukan karena kritik al-
Ghazzali.

Ternyata Ibn Rusyd bukan satu-satunya pemikir Muslim yang berpengaruh di Barat. Bahkan,
menurut William Mc Neil, dalam Rise of Western Civilization, peran dan prestasi para filosof
Muslim masih tergolong rendah dibanding para saintisnya. Jadi klaim bahwa Barat maju karena
pemikiran Ibn Rusyd dan Muslim mundur karena mengikuti pemikiran al-Ghazzali adalah
kesimpulan sembrono.

II. Ibn Rusyd Tidak Liberal


Dr. Nirwan Syafrin memberikan gambaran yang tidak kalah menariknya tentang kesesatan
kelompok liberal-sekuler ini, dengan mengatakan bahwa dalam wacana pemikiran Islam
kontemporer, nama-nama seperti Umar bin Khattab, Mu‘tazilah, Najmuddin al-Tufi, Syatibi
sering dicatut oleh sebagian pemikir liberal untuk diproyeksikan sebagai pioneer liberalisme
dan sekularisme di dunia Islam. Proses ideologisasi turats seperti ini jelas hanya bertujuan
pragmatis: mereka sekedar ingin memberitahu publik bahwa ide liberal-sekuler yang mereka
kembangkan itu tidak asing dalam khazanah intelektual Islam; bahwa ide sekularisme dan
liberalisme seolah-olah lahir dan berkembang dari rahim peradaban Islam.
Perlakuan ideologis seperti inilah yang kerap diterima oleh Ibn Rusyd dalam diskursus Islam saat
ini. Tokoh asal Cardova ini bahkan "diposisikan" sebagai pemikir Muslim pertama yang
menanamkan serta menyebarkan benih rasionalisme, liberalisme, dan sekularisme dalam ranah
pemikiran Islam. Gambaran seperti ini dapat dibaca pada karya-karya pemikir Arab-Muslim saat
ini seperti ‘Atif al-‘Iraqi, Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, Arkoun dan lain-lain. Klaim mereka
tersebut biasanya mereka dasarkan pada sikap kritis yang ditunjukkan oleh Ibn Rusyd pada al-
Ghazali dan mutakallimun, baik Mu‘tazilah maupun Asy‘ariyyah, seperti yang dapat dibaca dari
karya agungnya Tahafut al-Tahafut dan al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah, juga pada posisi yang
ditawarkan pada Fasl al-Maqal terkait dengan hubungan Syari'at (Agama) dan Filsafat.

Mereka menyatakan, sayang ide-ide liberal dan brilian Ibn Rusyd ini hanya dinikmati oleh Barat,
sementara di dunia Islam ia malah dimarginalkan. Akibatnya dunia Islam mundur, sementara
berhasil maju mencapai puncak kegemilangan peradabannya. Jika Umat Islam ingin maju
mengejar ketertinggalannya, maka mereka harus mengembalikan ruh (spirit) Averroeisme
sebagaimana yang dilakukan oleh Barat. Karena hanya ruh inilah yang sesuai dengan semangat
zaman kita saat ini. (Abid al-Jabiri, Nahnu wa al-Turath, hal. 49). Nasr Hamid Abu Zayd juga
berseru: “Kita membutuhkan Ibn Rusyd untuk memmecahkan krisis peradaban dan intelektual
kita dan untuk membolehkan kita berpartisipasi membangun peradaban manusia saat ini.”
(Nasr Hamid Abu Zayd, al-Khitab wa al-Ta'wil, hal. 26-27).

Demikian, kedua pemikir itu seolah-olah "menjerit" mengharapkan pertolongan Ibn Rusyd
untuk bangkit dari kubur dan menyelesaikan masalah yang dihadapi umat Islam saat ini.

Ibn Rusyd Liberal ?

Jika liberalisme dan sekulerisme dimaknai sebagai ide dan sikap yang dikembangkan oleh
beberapa cendikiawan Arab liberal saat ini, seperti desakralisasi terhadap al-Qur’an dan Nabi
Muhammad saw, kontekstualisasi penafsiran, penghalalan zina, lesbianisme, homoseksual, atau
pembenaran wanita menjadi khatib dan imam salat Jum’at dan sebagainya, maka jelas Ibn
Rusyd terlepas (bari’un) dari klaim tersebut. Artinya, Ibn Rusyd sangat jauh dari sosok liberal.

Tidak sulit untuk membuktikan ketidak liberalan Ibn Rusyd. Jika kritik Ibn Rusyd terhadap
metode analogi mutakallimun dijadikan sebagai barometer liberalisme, maka Imam Ghazali-lah
yang pertama berhak mendapatkan gelar tersebut. Sebab, jauh sebelum Ibn Rusyd, Ghazali
telah lebih dulu melakukan kritik terhadap metode tersebut, sebagaimana tampak dalam
autobiografinya al-Munqidz min al-Dalal. Dengan tegas Ghazali menyatakan keraguannya
akan metode mutakallimun bisa mengantarkannya kepada ilmu tentang hakikat sesuatu (al-
‘ilm bi haqa’iq al-umur). Al-Ghazali tidak serta merta disebut liberal karena kritikan ini.

Beberapa penulis juga menjadikan solusi yang ditawarkan Ibn Rusyd dalam mengurai konflik
filsafat dan Agama sebagai alasan untuk menyebutnya sebagai pemikir liberal. Padahal, posisi
Ibn Rusyd ini juga tidak baru. Ibn Rusyd berpandangan bahwa kebenaran filosofis (akliah)
tidak kontradiktif dengan kebenaran ilahi (wahyu) karena keduanya bersumber dari satu
sumber yang sama. Al-Kindi, Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi juga berpikiran
sama. Mereka juga percaya bahwa wahyu dan akal saling melengkapi. Mereka juga sependapat
dengan Ibn Rusyd bahwa jika wahyu dan akal tidak bisa direkonsiliasi, maka jalur ta’wil harus
ditempuh. Dan untuk itu, mereka mengingatkan akan penta'wil tersebut harus
memmperhatikan "rambu-rambu" bahasa. Jadi bukan asal ta'wil dan tafsir saja dengan hanya
berpatokan pada aspek historis-sosiologis ayat semata.

Lebih jauh Ibn Rusyd pun menekankan agar ta'wil tersebut tidak diekspos kepada para
jadaliyyun (mutakallimun), apa lagi kepada orang awam. Sebab, menurutnya, kedua kelompok
ini tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mencerna hal tersebut. Ibn Rusyd khawatir jika
ta'wil tersebut di ekspos kepada mereka, hanya akan menimbulkan kekufuran. Disini Ibn
Rusyd menunjukkan sikap tidak demokratis, dimana semua orang dianggap berhak mendapat
akses informasi.

Dalam diskursus “Islam liberal”, sikap seseorang terhadap perempuan selalu dijadikan salah
satu indikator keliberalan seseorang. Konon, bertambah toleran seseorang itu terhadap posisi
perempuan dalam berbagai aspek, maka tambah liberal-lah dia di mata para pengusungnya.
Seorang tokoh liberal, Amina Wadud, banyak dipuji kaum liberal di Indonesia karena
keberaniannya menjadi imam dan khatib shalat Jumat. Dalam soal ini, Ibn Rusyd juga jauh dari
sosok liberal.

Dalam magnum opus-nya Bidayah al-Mujtahid, Ibn Rusyd memilih mengikuti pandangan
jumhur 'ulama yang berpendapat bahwa shalat Jum’at hanya wajib pada laki-laki. Untuk
mendukung pandangannya, Ibn Rusyd menyetir salah sebuah riwayat dari Rasulullah Saw (lihat
Bidayah al-Mujtahid, bab Shalat Jum'ah)

Terkait dengan imamah al-mar'ah dalam shalat, Ibn Rusyd menjelaskan beberapa pandangan
ulama. Imam Syafi’I, misalnya, membenarkan perempuan menjadi Imam jika makmumnya
perempuan, meskipun imam Malik tidak membenarkan hal tersebut. Mungkin, atas dasar itu
Ibn Rusyd memilih untuk berpegang pada pendapat Jumhur yang tidak membolehkan
perempuan menjadi Imam bagi laki-laki.

Menurutnya andaikan praktek ini diperbolehkan tentulah ada riwayat yang menyebutkan
tentang praktek tersebut pada zaman Rasul. Akan tetapi riwayat itu tidak ditemukan. Ibn Rusyd
juga menjelaskan bahwa praktek yang umum berlaku adalah perempuan berdiri di belakang
laki-laki sebagai makmum dalam shalat. Dan hadith Rasulullah juga menyebutkan
“akhkhiruhunna hatsu akhkharahunnallah” (Posisikanlah mereka dibelakang sebagaimana Allah
telah memposisikan mereka disana). Dari keterangan ini Ibn Rusyd lalu menyimpulkan bahwa
perempuan tidak dibenarkan berada di depan laki-laki. (lihat Bidayah al-Mujtahid, bab Imamah
al-mar’ah)

Jadi, terlalu keliru meletakkan Ibn Rusyd dalam posisi ulama liberal atau pemikir liberal.
SERIAL KE-31
LIBERALISASI PEMIKIRAN ISLAM: GERAKAN BERSAMA
MISIONARIS, ORIENTALIS DAN KOLONIALIS

Assalamu’alaikum wr wb,

Yth. Sahabat2 Muslimat dan Muslimat yang Insya Allah akan selalu dirahmati dan diberkahi
Allah SWT. dimanapun itu berada,

Tidak ada yang abadi didunia ini, begitu juga dalam serial tulisan ini, pasti akan ada akhirnya
juga. “Kullu man AAalayha fanin”, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa”, Dan tetap kekal
Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS.Ar-Rahman, 26-27).

Maka, tidak terasa tulisan serial ke 31 Islam vs Liberalisme, kali ini ada tulisan penutup akhir
dari serial panjang kajian Gazful Fikri seri I ini.

Dalam bahasa melayu ada sebuah pantun bijaksana, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”,
“Sehari menulis sesuku, lama-lama menjadi buku”. Itulah Sunatullah sebuah pena yang dapat
melahirkan buku, usaha kecil untuk melahirkan, membangun peradaban dengan ilmu melalui
serial tulisan kecil ini. Sesuatu tradisi keilmuan yang sudah langka, dan semakin ditinggalkan
oleh umat, tradisi kecemerlangan, tradisi keilmuan melahirkan generasi unggul, generasi Rabbi
Radhiyah yang diberkahi dan dirahmati Allah melalui karya dan perjuangannya.

Dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT. karena diperkenankan dapat berkawan,
bersahabat dan berguru dengan cendekiawan kharismatik, tawadhu dan otoritatip dalam
keilmuaanya, maka serial penutup inipun berusaha mengakhiri rangkuman dan intisari
pemikiran Islam kawan dan guru terhormat kami, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, yang merupakan
Dosen ISID Pondok Modern Gontor, Direktur Centre of Islamic and Oxidentalism Studies (CIOS)
ISID Gontor, Direktur INSISTS Jakarta, Pemred Majalah Islamia, menulis tentang pemikiran
keagamaan di berbagai media massa.

Adapun judul penutup serial ke 31 Islam vs Liberalisme kali ini, berjudul “Liberalisasi Pemikiran
Islam; Gerakan Bersama Misionaris, Orientalis dan Kolonialis”. Judul diambil dari buku
popular beliau yang ditulis di pusat CIOS ISID Gontor, yang juga merupakan buku wajib dibaca
bagi para mahasiswa/I disana, yang sedang mendalami pemikiran Islam dan kajian Peradaban
Islam sepanjang sejarah umat manusia.

Selain itu, serial inipun diakhiri pada minggu bahagia bagi kami, dan khususnya berkaitan pula
dengan akan kembali sahabat perjuangan Munji Syarif, yang akan kembali ke tanah air, namun
telah banyak berjasa secara ikhlas membantu kami dalam perjuangan dakwah Islamiyah di
Petroleum Management Unit (PMU) ataupun di IATMI-KL. Serial kajian Islam vs Liberalisme ini,
harapannnya dapat dijadikan semacam pembekalan ilmu ibarat kumpulan amunisi atau peluru-
pekuru untuk digunakan dalam perjuangan konkrit di lapangan dakwah Islamiyah di Indonesia.
Alhamduliah pula, sahabat Munji Insya Allah akan merangkum semua tulisan berseri ini dalam
satu paket cantik katanya. Semoga semua sahabat2 sekalian nantinya dapat memilikinya
sebagai bahan pembekalan, pengkayaan, pencerahan dokumen perjuangan Islamiyah untuk
membedung gerakan sistimatis Liberalisasi, Sekularisasi dan Pluralisme Agama di Indonesia.

Akhir kata, mohon kiranya dapat dibukakan pintu ma’af seluas-luas yang tulus-ikhlas, manakala
ada kata-kata yang kurang berkenan selama tulisan ini dibuat, dan menggangu kesibukkannya
dikantor atau dimanapun itu berada. Dengan izin Allah, Insya Allah kita kan berjumpa lagi
diserial kajian lainnya. Mohon do’a nya agar berbagai karunia kemudahan dan berkah Allah
SWT. selalu menyertai kita bersama, Amin3X, Ya Rabbal alamin.

Salam silaturrahim dan salam perjuangan dakwah., Salam sukess selalu dalam ridho dan berkahi
Illahi Rabbi,

Wassalamu;’alaikum wr wb,

A.Nurhono

Liberalisasi Pemikiran Islam; Gerakan Bersama Misionaris, Orientalis dan Kolonialis [1]

(Rangkuman Penutup dan Intisasi Pemikiran Islam Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi) [2]

Tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini sebenarnya bukan berupa ekonomi, politik,
sosial dan budaya, tapi tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang ditimbulkan oleh bidang-
bidang eknomi, politik, sosial dan budaya ternyata bersumber dari pemikiran. Dan dari antara
tantangan pemikiran yang paling serius saat ini adalah di bidang pemikiran keagamaan.
Tantangan yang telah lama kita sadari adalah tantangan internal yang berupa kejumudan,
fanatisme, taklid, bid’ah, khurafat dan sebagainya. Sedangkan tantangan eksternal yang sedang
kita hadapi sekarang ini adalah masuknya paham liberalisme, sekulerisme, pluralisme agama,
relativisme dan lain sebagainya ke dalam wacana pemikiran keagamaan. Makalah ini
membahas tantangan eksternal dengan memfokuskan pada makna liberalisasi pemikiran Islam
dalam konteks liberalisasi dalam berbagai bidang yang diprakarsai oleh misionarisme,
kolonialisme dan orientalisme Barat.

Barat dan Islam

Sebelum membahas liberalisme dan liberalisasi ada baiknya dipaparkan hakekat Barat yang
menjadi sumbernya dan pada saat yang sama dibandingkan dengan Islam yang menjadi obyek
liberalisasi.
Barat merupakan peradaban yang tumbuh dan berkembang dari kombinasi beberapa unsur
yaitu filsafat, nilai-nilai kuno Yunani dan Romawi, agama Yahudi dan Kristen yang dimodifikasi
oleh bangsa Eropa.[3] Asas peradabannya adalah rasio dan spekulasi filosofis, bukan suatu
agama, pendekatannya dikotomis, sifatnya rasionalitas, terbuka dan selalu berubah, makna
realitas dan kebenaran hanyalah terbatas pada realitas sosial, kultural, empiris dan melulu
bersifat rasional. Sedangkan Islam bersumberkan pada wahyu hadis, akal, pengalaman dan
intuisi. Pendekatannya tidak dikotomis tapi tauhidi. Sedangkan makna realitas dan kebenaran
berdasarkan kajian metafisis dengan bantuan wahyu.

Identitas peradaban Barat dapat dilihat dari dua periode penting di dalamnya yaitu
modernisme dan postmodernisme. Ringkasnya modernisme adalah paham yang muncul
menjelang kebangkitan masyarakat Barat dari abad kegelapan kepada abad pencerahan, abad
industri dan abad ilmu pengetahuan. Zaman itu pun disebut dengan zaman modern. Ciri-ciri
zaman modern adalah berkembangnya pandangan hidup saintifik yang diwarnai oleh paham
sekulerisme, rasionalisme, empirisme, cara befikir dikotomis, desakralisasi, pragmatisme dan
penafian kebenaran metafisis (baca: Agama). Sedangkan postmodernisme adalah gerakan
pemikiran yang lahir sebagi protes terhadap modernisme ataupun sebagai kelanjutannya.
Sebab postmodernisme sedikit banyak masih berpijak pada modernisme, yang didominasi oleh
paham atau pemikiran liberalisme, pluralisme, nihilisme, relativisme, persamaan (equality), dan
umumnya anti-worldview. John Lock, salah seorang filosof Barat modern menegaskan bahwa
liberalisme, rasionalisme, kebebasan, dan persamaan (pluralisme) adalah inti modernisme.

Periode modern dan postmodern tidak terdapat dalam sejarah intelektual dan peradaban
Islam. Pandangan Barat seperti sekulerisme, rasionalisme, empirisme, desakralisasi,
pragmatisme, pluralisme, persamaan dan lain sebagainya juga tidak terdapat dalam tradisi
intelektual Islam, bahkan paham-paham itu jika dikaji secara teliti bertentangan dengan Islam.
Hasil penelitian kumulatif terhadap lebih dari 70 negara yang dianggap mewakili 80 persen
penduduk dunia yang dilakukan World Value Survey (WVS) pada tahun 1995-1996 dan 2000-
2001, membuktikan bahwa Islam dan Barat memiliki perbedaan nilai yang tajam. Hasil
penelitian juga membuktikan bahwa kultur adalah penyebab perbedaan.[4]

Lebih detail lagi mengenai apa yang disebut kultur sebaiknya kita rujuk paparan Huntington
mengenai identitas peradaban Barat, khususnya Amerika sendiri, yang ia sebut dengan
America’s core culture. Identitas Amerika menurutnya terdiri dari beberapa elemen-elemen
penting yaitu a) Agama Kristen, b) nila-nilai dan moralitias Protestan, c) etika kerja, d) Bahasa
Inggris, e) Tradisi hukum bangsa Inggris, f) sistim kekuasaan pemerintahan yang terbatas, g)
khazanah seni dan sastra, h) filsafat dan i) musik yang berasal dari Eropa. Ini masih ditambah
dengan kepercayaan bangsa Amerika tentang prinsip-prinsip liberal, persamaan, individualisme,
perwakilan pemerintahan dan kekayaan pribadi.[5]

Bahkan lebih spesifik dan parsial lagi Ronald Inglehart dan Pippa Norris menyatakan bahwa
perbedaan Islam dan Barat berkaitan dengan kesetaraan gender dan kebebasan seks. Jadi yang
terjadi antara Barat dan Islam, menurut mereka adalah benturan peradaban seks (Sexual clash
of Civilization). Menanggapi thesis Huntington mereka berkomentar:
Samuel Huntington hanya setengah benar. Garis kultural yang memisahkan Barat dan dunia
Islam bukan tentang demokrasi tapi seks. Menurut hasil survey terbaru, Muslim dan Barat
sama-sama menginginkan demokrasi, namun dunia mereka menjadi terpisah ketika mereka
bersikap terhadap perceraian, aborsi, kesetaraan gender, dan hak-hak gay, sehingga hal ini
tidak menjanjikan bagi masa depan demokrasi di Timur Tengah…….

Di Barat generasi mudanya, dalam soal seks, menjadi semakin liberal, sementara di dunia Islam
masih tetap menjadi masyarakat yang paling tradisional di dunia”*6+

Jadi agama adalah salah satu elemen dari identitas peradaban Barat, namun yang paling
dominan adalah sistim demokrasi, ekonomi, sosial dan pemikiran keagamaan yang liberal.
Artinya, Barat secara keseluruhannya kini tengah menganut suatu sistim kehidupan yang
disebut liberalisme. Untuk lebih detail mengenai makna liberalisme dijelaskan berikut ini.

Makna Liberalisme

Kata liberal diambil dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan
di mana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas kemudian menjadi
sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir (The
old Liberalism). Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga
mempunyai berbagai makna.

Secara politis liberalisme adalah ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap sebagai
memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan
bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi.[7] Dalam konteks sosial
liberalisme diartikan sebagai suatu etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan
persamaan (equality) secara umum.[8]

Berkaitan dengan dua definisi di atas liberalisme memiliki dua aliran utama[9] yang saling
bersaing dalam menggunakan sebutan liberal. Yang pertama adalah liberal klasik yang
kemudian menjadi liberal ekonomi yang menekankan pada kebebasan dalam usaha individu,
dalam hak memiliki kekayaan, dalam polesi ekonomi dan kebebasan melakukan kontrak serta
menentang sistim welfare state. Kelompok ini mendukung persamaan (equality) di depan
hukum tapi tidak dalam ekonomi (economic inequality) karena distribusi kekayaan oleh negara
tidak menjamin kemakmuran. Persaingan dalam pasar bebas menurut kelompok ini lebih
menjamin. Yang kedua adalah liberal sosial. Aliran ini menekankan peran negara yang lebih
besar untuk membela hak-hak individu (dalam pengertian yang luas), seringkali dalam bentuk
hukum anti-diskriminasi. Kelompok ini mendukung pendidikan bebas untuk umum (universal
education), dan kesejahteraan rakyat, termasuk jaminan bagi pengangguran, perumahan bagi
tunawisma dan perawatan kesehatan bagi yang sakit, semua itu didukung oleh sistim
perpajakan.

Liberal dalam konteks kebebasan intelektual berarti independen secara intelektual, berfikiran
luas, terus terang, terbuka dan bersahabat. Kebebasan intelektual ini sejalan dengan
perkembangan pemikiran di Barat di akhir abad ke 18. Di masa itu dunia Barat memiliki
kecenderungan dalam bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi, untuk
membebaskan manusia dari tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan. Maka dari itu
prinsip-prinsip Revolusi Perancis 1789 dianggap sebagai Magna Charta liberalisme. Di dalamnya
terdapat kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama, etika, kepecayaan, berbicara, pers dan
politik. Konsekuensinya adalah penghapusan Hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh
dari Tuhan; penyingkiran agama dari kehidupan publik menjadi bersifat individual. Selain itu
agama Kristen dan Gereja harus dihindarkan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial.
Yang jelas liberalisme mengindikasikan pengingkaran terhadap semua otoritas yang
sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan di luar
dan di atas manusia yang mengikatnya secara moral.

Kebebasan intelektual yang mencoba untuk bebas dari agama dan dari Tuhan itu secara logis
merupakan liberalisme dalam pemikiran keagamaan dan itulah yang pertama kali dirasakan
oleh agama-agama di Barat. Liberalisme dalam pemikiran keagamaan atau yang terkenal
disebut theological liberalism berkembang melalui tiga fase perkembangan.

Fase pertama dari abad ke 17 yang dimotori oleh filosof Perancis Rene Descartes yang
mempromosikan doktrin rasionalisme atau Enlightenment yang berakhir pada pertengahan
abad ke 18. Doktrin utamanya adalah 1) percaya pada akal manusia 2) keutamaan individu 3)
imanensi Tuhan dan 4) meliorisme (percaya bahwa manusia itu berkembang dan dapat
dikembangkan).

Fase kedua bermula pada akhir abad ke 18 dengan doktrin Romanticisme yang menekankan
pada individualisme, artinya individu dapat menjadi sumber nilai. Kesadaran-diri (self-
consciousness) itu dalam pengertian religious dapat menjadi Kesadaran-Tuhan (god-
consciousness). Tokohnya adalah Jean-Jacques, Immanuel Kant, dan Friedrich Schleiermacher.

Fase terakhir bermula pada pertengahan abad ke 19 hingga abad ke 20 ditandai dengan
semangat modernisme dan postmodernisme yang menekankan pada ide tentang
perkembangan (notion of progress). Agama kemudian diletakkan sebagai sesuatu yang
berkembang progresif dan disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern serta diharapkan
dapat merespon isu-isu yang diangkat oleh kultur modern. Itulah sebabnya maka kajian
mengenai doktrin-doktrin Kristen kemudian berubah bentuk menjadi kajian psikologis
pengalaman keagamaan (psychological study of religious experience), kajian sosiologis
lembaga-lembaga dan tradisi keagamaan (sociological study of religious institution), kajian
filosofis tentang pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan (philosophical inquiry into religious
knowledge and values).[10]

Sementara itu pada abad ke 19 liberalisme dalam pemikiran keagamaan Katholik Roma
berbentuk gerakan yang mendukung demokrasi politik dan reformasi gereja, namun secara
teologis tetap mempertahankan ortodoksi. Sedangkan dalam pemikiran Kristen Protestan
liberalisme merupakan tren kebebasan intelektual yang menekankan pada substansi etis dan
kemanusiaan Kristen dan mengurangi penekanan pada teologi yang dogmatis.[11]
Ciri-ciri Liberalisme Keagamaan

Ketika liberalisme merasuk ke dalam pemikiran keagamaan maka banyak konsep dasar dalam
agama Kristen yang berubah. Nicholas F. Gier dari University of Idaho[12], Moscow,
menyimpulkan karakteristik pemikiran tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat adalah sbb:

Pertama, percaya pada Tuhan, tapi bukan Tuhan dalam kepercayaan Kristen Orthodok. Karena
Tuhan mereka tidak orthodok maka mereka seringkali disebut Atheis. Ciri-ciri Tuhan menurut
Kitab Suci dan doktrin agama sebagai person dengan sifat-sifat khusus ditolak oleh kelompok
liberal karena mereka lebih menyukai konsep Tuhan yang diambil dari akal manusia. Tuhan
dalam kepercayaan ini dianggap tidak mengetahui kehidupan mausia secara detail dan tidak
mencampuri urusan individu manusia.

Kedua, kaum liberal memisahkan antara doktrin Kristen dan etika Kristen. Dengan mengurangi
penekanan pada doktrin atau kepecayaan, mereka berpegang pada prinsip bahwa Kristen dan
non-Kristen harus saling menerima dan berbuat baik. Seseorang menjadi religius bukan hanya
afirmasi terhadap dogma, tapi karena etika dan perilaku moralis seseorang. Inilah yang
membawa kelompok liberal untuk berkesimpulan bahwa orang atheis sekalipun dapat menjadi
moralis.

Ketiga, kaum liberal tidak ada yang percaya pada doktrin Kristen Orthodok. Mereka menolak
sebagian atau keseluruhan doktrin-doktrin Trinitas, ketuhanan Yesus, perawan yang
melahirkan, Bible sebagai kata-kata Tuhan secara literal, takdir, neraka, setan dan penciptaan
dari tiada (creatio ex nihilo). Doktrin satu-satunya yang mereka percaya, selain percaya akan
adanya Tuhan adalah keabadian jiwa.

Keempat, menerima secara mutlak pemisahan gereja dan negara. Para pendiri negara Amerika
menyadari akibat dari pemerintahan negara-negara Eropa yang memaksakan doktrin suatu
agama dan menekan agama lain. Maka dari itu kata-kata “Tuhan” dan “Kristen” tidak terdapat
dalam undang-undang. Ini tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh agama liberal dalam konvensi
konstitusi tahun 1787.

Kelima, percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama. Pada mulanya toleransi
dibatasi hanya pada sekte-sekte dalam Kristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi
kaum atheis dan pemeluk agama non-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin,
Jefferson dan Madison. Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan
dalam beragama tapi bebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak
beragama.

Jadi sejatinya liberalisme dalam bidang sosial dan politik dalam peradaban Barat telah
memarginalkan agama atau memisahkan agama dari urusan sosial dan politik secara perlahan-
lahan. Agama tidak diberi tempat di atas kepentingan sosial dan politik. Dan ketika liberalisme
masuk ke dalam pemikiran keagamaan Kristen Katholik dan Protestan ia telah
mensubordinasikan gereja ke bawah kepentingan politik dan humanisme, serta mengurangi
peran teologi dalam bidang-bidang kehidupan. Maka dari itu dalam liberalisme pemikiran
keagamaan masalah yang pertama kali dipersoalkan adalah konsep Tuhan (teologi) kemudian
doktrin atau dogma agama. Setelah itu liberalisme mempersoalkan dan kemudian memisahkan
hubungan agama dari politik (sekulerisme). Akhirnya liberalisme pemikiran keagamaan menjadi
berarti sekulerisme dan dipicu oleh gelombang pemikiran postmodernisme yang menjunjung
tinggi pluralisme, persamaan (equality), dan relativisme.

Dari gambaran ini liberalisme dalam bidang sosial dan politik serta pemikiran keagamaan,
merupakan tren yang dominan di Barat saat ini. Francis Fukuyama dalam bukunya Thr End of
History bahkan mengemukakan thesisnya bahwa:

… the principle of liberty and equality underlying the modern liberal state had been
discovered and implemented in the most advance countries, and that there were no
alternative principles or forms of social and political organization that were suprior to
liberalism. Liberal societies were, in other words, ….would therefore bring the historical
dealectic to a close.[13]

Artinya prinsip-prinsip kebebasan dan persamaan yang mendasari negara liberal modern telah
diketemukan dan diimplementasikan pada negara-negara maju, dan tidak ada prinsip atau
bentuk alternatif organisasi sosial dan politik yang lebih superior dari pada liberalisme. Dengan
kata lain masyarakat-masyarakat liberal akan menjadikan dialektika sejarah berakhir.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa wajah peradaban Barat yang liberal itu merupakan
bentuk final dan ideal dari sistim sosial dan politik serta keagamaan Barat, tidak ada sistim lagi
yang sebaik liberalisme.

Islam dan Liberalisme

Karena liberalisme merupakan sistim, pandangan hidup atau ideologi Barat maka Islam bagi
Barat merupakan tantangan bagi liberalisme. Francis Fukuyama dalam bukunya The End of
History, and the Last Man jelas-jelas mensejajarkan Islam dengan ideologi Liberalisme dan
Komunisme, tapi Islam menurutnya memiliki nilai moralitas dan doktrin-doktrin politik dan
keadilan sosialnya sendiri. Menurutnya karena ajaran Islam bersifat universal, maka ia pernah
menjadi tantangan bagi demokrasi liberal dan praktek-praktek liberal. Tapi kini kekuatan Islam
di luar negara Islam tidak demikian, bahkan kondisi Islam kini semakin lemah. Dalam hal ini
Fukuyama menegaskan:

Tidak diragukan lagi, dunia Islam dalam jangka panjang akan nampak lebih lemah menghadapai
ide-ide liberal ketimbang sebaliknya, sebab selama seabad setengah yang lalu liberalisme telah
memukau banyak pengikut Islam yang kuat. Salah satu sebab munculnya fundamentalisme
adalah kuatnya ancaman nilai-nilai liberal dan Barat terhadap masyarakat Islam tradisional.[14]

Fukuyama jelas-jelas meletakkan Islam, Liberalisme dan Komunisme sebagai ideologi-ideologi


atau pemikiran yang mempunyai doktrin masing-masing dan saling bertentangan satu sama
lain.
Sejatinya spektrum perbedaan antara liberalisme dan Islam sangat luas. Perbedaan itu lebih
berupa perbedaan cara memandang kehidupan atau perbedaan pandangan hidup (worldview).
Perbedaan pandangan hidup antara satu bangsa dengan bangsa yang lain adalah sesuatu yang
alami, sebab masing-masing memiliki karakteristik yang dipengaruhi oleh kultur, agama,
kepercayaan, ras dan lain-lain. Dalam artikel berjudul If Not Civilizations, What? (Samuel
Huntington Responds to His Critics), Huntington menyatakan bahwa substansi atau asas
peradaban adalah prinsip-prinsip keagamaan dan filsafat. Oleh sebab itu faktor-faktor untuk
mengidentifikasi orang, dan juga faktor yang menjadikan mereka siap perang dan mati adalah
keimanan dan keluarga (faith dan family), darah dan kepercayaan (blood and belief).[15]

Jika perbedaan cara berfikir dan memandang sesuatu antara satu peradaban/ worldview
dengan yang lain tidak dapat “dipertemukan” maka konflik peradaban atau perang pemikiran
tidak dapat dielakkan. Inilah yang disebut dengan Ghazwul fikri yang oleh Huntington disebut
“clash of civilization”. Benturan ini menurutnya akan mengakibatkan ketegangan, benturan,
konflik ataupun peperangan di masa depan.[16] Perbedaan ini pada tingkat kehidupan sosial
menyebabkan konflik, clash atau dalam bahasa Peter L. Berger disebut collision of
consciousness (tabrakan persepsi). Pada tingkat individu, mengakibatkan terjadinya pergolakan
pemikiran dalam diri seseorang dan pada dataran konsep, mengakibatkan tumpang tindih dan
kebingungan konseptual (conceptual confusion).

Jika Fukuyama meyakini bahwa sistim dan prinsip dalam peradaban Barat itu bersifat final dan
universal, maka tidak heran jika Barat kemudian meluaskan pengaruhnya dengan program
westernisasi dan globalisasi. Program itu tidak lain dari penyebaran paham-paham yang
terdapat dalam peradaban Barat ke dunia Islam atau “dunia ketiga” lainnya..

Metode penyebaran liberalisme ke dunia Islam ditempuh Barat sejak lama atau bahkan seumur
kolonialisme Barat ke dunia Islam sejak abad ke 18 hingga 19. Kolonialisme ini seperti yang akan
dipaparkan di bawah ini bekerja sama atau sejalan dengan gerakan misionarisme dan
orientalisme.

Liberalisasi melalui Misionaris, Orientalis dan Kolonialis

Dalam kondisi pasif yang kita saksikan dari peradaban Islam dan kebudayaan Barat hanyalah
suatu perbedaan biasa dan wajar. Tapi dalam gerakannya yang ekspansif melalui program
globalisasi, modernisasi, dan westernisasi, Barat berubah wajah menjadi tantangan bagi
bangsa-bangsa dan peradaban lain, termasuk Islam. Maka dari itu, jika wajah kebudayaan Barat
itu diperinci lebih spesifik lagi akan kita temukan bahwa globalisasi dan westernisasi itu
merupakan gerakan yang bersumber dari 1) Misionaris 2) Oritentalis dan 3) Kolonialis.
Ketiganya merupakan gerakan pemikiran yang mengusung prinsip-prinsip atau elemen-elemen
pandangan hidup Barat. Berikut ini diungkapkan bagaimana ketiga bentuk gerakan tersebut
bekerja sama menghadapi umat Islam dan kini menjadi tantangan umat Islam.
1) Misionaris

Ketika Barat masuk ke negara-negara Islam ia membawa serta misi agama, politik, ekonomi dan
kebudayaan. Namun tidak banyak yang melihat bahwa Barat itu sendiri telah membawa
seperangkat doktrin pemikiran yang berdasarkan pandangan hidup mereka. Hal ini dapat
dicermati dari fakta sejarah bahwa gerakan kolonialisme selalu disertai atau bahkan didahului
oleh kegiatan misionaris Kristen yang berkaitan dengan orientalisme. Keduanya tidak lain dari
serangan pemikiran. Kerja sama misionaris, orientalis dan kolonialis ini telah lama terjadi dan
dapat dibuktikan melalui pengakuan Alb C. Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan
OJH Graaf van Limburg Stirum, seperti yang dikutip oleh Dr. Aqib Suminto berikut ini:

“……kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan dan zending Kristen
merupakan rekan se persekutuan bagi pemerintah kolonial, sehingga pemerintah akan
membantu menghadapi setiap rintangan yang menghambat perluasan zending.”*17+

Peran Snough Hurgronye sebagai orientalis dalam memuluskan penjajahan Belanda di


Indonesia merupakan bukti kongkrit kerja sama antara orientalisme, misionarisme dan
kolonialisme Barat. Targetnya lagi-lagi berkaitan dengan pemikiran, yaitu untuk mengubah cara
berfikir umat Islam. Program Kristenisasi yang saat ini menonjol adalah penghancuran
pemikiran umat Islam. Strategi ini telah lama diikrarkan oleh Samuel Zwemmer seorang
orientalis Yahudi yang menjabat direktur organisasi misionaris dan pendiri Jurnal the Muslim
World. Pada tahun 1935 pada Konferensi Misionaris di Kota Yerussalem Zwemmer mengatakan
bahwa:

Misi utama kita sebagai orang Kristen bukan menghancurkan kaum Muslimin, namun
mengeluarkan seorang Muslim dari Islam, agar jadi orang Muslim yang tidak berakhlak. Dengan
begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam. Tujuan kalian
adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai
dengan kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa
nafsunya.

Di dalam mata rantai kebudayaan Barat, gerakan misi punya dua tugas: menghancurkan
peradaban lawan (baca: peradaban Islam) dan membina kembali dalam bentuk peradaban
Barat. Ini perlu dilakukan agar Muslim dapat berdiri pada barisan budaya Barat akhirnya muncul
generasi Muslim yang memusuhi agamanya sendiri.[18]

Harry Dorman, dalam bukunya Towards Understanding Islam, mengungkapkan pernyataan


seorang misonaris Kristen: “Boleh jadi, dalam beberapa tahun mendatang, sumbangan besar
misionaris di wilayah-wilayah Muslim akan tidak begitu banyak memurtadkan orang muslim,
melainkan lebih banyak menyelewengkan Islam itu sendiri. Inilah bidang tugas yang tidak bisa
diabaikan.” Dr. Cragg, seorang misionaris terkenal asal Inggris, menyatakan:“Tidak perlu
diragukan bahwa harapan terakhir misi Kristen hanyalah melakukan perubahan sikap umat
Muslim, sedemikian rupa sehingga mereka mau bertoleransi.”[19]
Apa yang disampaikan Zwemmer 70 tahun yang lalu itulah kini yang diterapkan Barat untuk
strategi perang pemikiran terhadap umat Islam. Oleh sebab itu gerakan Kristenisasi
berkembang dari konversi kepada gerakan distorsi dan perang pemikiran.

2) Orientalis

Kajian tentang Timur (orient) termasuk tentang Islam, yang dilakukan oleh orang Barat telah
bermula sejak beberapa abad yang lalu. Namun gerakan pengkajian ketimuran ini diberi nama
orientalisme baru abad ke 18. (The Oxford English Dictionary, Oxford, 1933, vol. VII, hal.200).

Mengapa Barat tertarik mengkaji Timur dan Islam, mempunyai latar belakang sejarah panjang
yang kompleks, dan sekurang-kurangnya terdapat dua motif utama: Pertama adalah motif
keagamaan. Barat yang di satu sisi mewakili Kristen memandang Islam sebagai agama yang
sejak awal menentang doktrin-doktrinnya. Islam yang misinya menyempurnakan millah
sebelumnya tentu banyak melontarkan koreksi terhadap agama itu. Itulah Islam dianggap
“menabur angin” dan lalu menuai badai perseteruan dengan Kristen. Bahkan lebih ekstrim lagi,
perseteruan itu ada sejak sebelum Islam datang. Thomas Right, penulis buku Early Christianity
in Arabia, mensinyalir perseteruan antara Islam dan Kristen terjadi sejak bala tentara Kristen
pimpinan Abrahah menyerang Ka’bah dua bulan sebelum Nabi lahir. Di situ tentara Abrahah
kalah telak dan bahkan tewas. Kalau saja tentara itu tidak kalah mungkin seluruh jazirah itu
berada di tangan Kristen, dan tanda salib sudah terpampang di Ka’bah. Muhammad pun
mungkin mati sebagai pendeta. Jika Right benar berarti orang Kristen sendiri telah lama
menentang millah Nabi Ibrahim, sebab mereka bukan menyerang Islam yang dibawa Nabi, tapi
Ka’bah yang merupakan khazanah millah Ibrahim itu. Jadi motif orientalisme adalah keagamaan
dan berkaitan dengan Kristen dan misionarisme.

Kedua adalah motif politik. Islam bagi Barat adalah peradaban yang di masa lalu telah tersebar
dan menguasai peradaban dunia dengan begitu cepat. Barat sebagai peradaban yang baru
bangkit dari kegelapan melihat Islam sebagai ancaman besar dan langsung bagi kekuasaan
politik dan agama mereka. Barat sadar benar bahwa Islam bukan hanya sekedar istana-istana
megah, bala tentara yang gagah berani atau bangunan-bangunan monumental, tapi peradaban
yang memiki khazanah dan tradisi ilmu pengetahuan yang tinggi. Oleh sebab itu mereka perlu
merebut khazanah ini untuk kemajuan mereka dan sekaligus untuk menaklukkan Islam. Jadi
motif kajian-kajian orientalis itu bersifat politis, yaitu untuk tujuan kolonialisme.

Motif yang hampir serupa juga terjadi di kalangan misionaris. Jurnal The Muslim World yang
diterbitkan oleh Michael Zwemmer tahun 1920, misalnya pada mulanya terang-terangan untuk
media informasi bagi para misionaris tentang Islam dan dunia Islam. Tapi kemudian jurnal itu
menjadi jurnal kajian Islam yang serius dan ilmiah, meskipun tetap menggunakan framework
yang sama. Montgomery Watt yang dianggap orientalis moderat misalnya, ketika menulis al-
Qur’an dan Sunnah mencoba meragukan otentisitas ajaran Islam. Ia mencoba membuktikan
bahwa beberapa bagian al-Qur’an dan Hadis itu dibuat-buat dan tidak konsisten, dan karena itu
tidak bisa dijadikan sumber pandangan hidup Islam. Ia bahkan mencurigai adanya “ayat-ayat
setan” dalam al-Qur’an.*20+ Inilah contoh bias orientalis yang paling nyata.
Kajian orientalis terhadap Hadis yang juga bias itu misalnya dapat ditemukan dalam metodologi
Harald Motzki dalam mengkaji hadis Sahifah Hammam Ibn Munabbih. Motzki yang dianggap
obyektif itu ternyata juga ambigu. Ia seakan-akan mengkritik metode kajian Joseph Schacht,
namun sejatinya tidak beda dan tetap mempertahankan sikap orientalismenya.

Jadi, orientalisme yang dikenal saat ini sebagai suatu tradisi kajian ilmiah tentang Islam,
sejatinya adalah berdasarkan pada ‘kaca mata’ dan pengalaman manusia Barat yang dipicu oleh
motif dan semangat misionaris. Tapi motivasi ini ditutupi dengan jubah intelektualisme dan
dedikasi akademik.[21] Tidak heran jika orientalis kemudian dianggap memiliki disiplin dan
sikap ilmiah yang ‘khas’, bahkan menjadi sebuah framework pengkajian. Meskipun ilmiah, tapi
jika cara pandang dan tujuannya diwarnai oleh latar belakang agama dan politik serta
worldview Barat atau nilai-nilai peradaban Barat, kajian mereka itu lebih cenderung salah. Ini
juga membuktikan bahwa ilmu memang tidak bebas nilai.

Oleh sebab itu menganggap orientalis di masa kini obyektif dan ilmiah hanya benar
dipermukaannya. Kajian akademis dan ilmiah terhadapnya membuktikan sebaliknya. Cara
pandang mereka terhadap Nabi, al-Qur’an dan Islam sebagai agama masih tidak bisa lepas
bebas dari pengaruh pendahulunya. Dan orientalis terdahulu itu diwarnai oleh pengalaman
manusia Barat.

Perlu disadari bahwa kajian outsider tentang suatu agama dan peradaban, termasuk Islam,
betapapun obyektif dan akademisnya, ia tetap saja menyisakan bias. A.L. Tibawi penulis buku
English Speaking Orientalists, menyimpulkan bahwa ketika para orientalis ahli polemik periode
awal terlibat dalam penghinaan dan penafsiran yang salah tentang Islam, tujuan mereka
hanyalah destruktif. Tapi setelah adanya motif misionaris mereka mulai menggunakan
pendekatan obyektif. Metodenya merupakan campuran antara penghinaan dan pengungkapan
hal-hal negatif tentang Islam, namun dengan menggunakan fakta-fakta yang solid, tapi tetap
dipahami dalam perspektif Kristen. Metode yang pertama telah ditinggalkan sedangkan metode
yang kedua menjadi lemah atau diberi baju baru. Tapi yang aneh adalah ketika para orientalis
itu gencar menyarankan, mendorong dan bahkan kasarnya memprovokasi agar Islam itu
direformasi.[22]

Kajian dan sekaligus serangan orientalis terhadap Islam dan sejarahnya memang sangat canggih
(baca: soophisticated) dan subtil sehingga pembaca awam, alias bukan pakar tidak mudah
untuk membongkar implikasi-implikasi negatifnya. Pernyataan mereka itu umumnya
berdasarkan spekulasi, bahkan manipulasi sumber data dan seringkali bersikap selektif
terhadap data-data sejarah dengan tujuan dan kepentingan tertentu.

Edward Said baik dalam Orientalism (1978) maupun dalam The World, The Text and the Critic
(1983) yakin bahwa Orientalis dan Barat adalah diskriminatif. Batas rasial, kultural dan bahkan
saintifik sangat kental. Antara “kami” dan “mereka”, minna dan minhum merasuk ke dalam
kajian sejarah, linguistic, teori ras, filsafat, antropologi dan bahkan biologi hingga abad ke 19.
Edmund Leach setuju, sekali stigma “other” itu melekat maka selain bangsa Eropa tetap asing
dan bahkan inferior. Ringkasnya, kajian Timur yang berasaskan ilmu Barat telah di-frame oleh
pengalaman imperialisme dan persengketaan kultural (cultural hostility). Zaynab al-Ghazzali
malah lebih keras dari itu, katanya memisahkan agama dari politik atau Islam dari hukum
syariah adalah tindak kriminal. Di kalangan pemikir Barat sendiri framework orientalis diberi
stigma sebagai “exotic cum barbaric norm”.

Selain dari itu, ciri-ciri kajian orientalis adalah parsial, artinya jika mereka mengkaji suatu bidang
tertentu, mereka melewatkan bidang kajian yang lain. Orientalis ahli Fiqih melontarkan kritik-
kritik yang tidak dikaitkan dengan Kalam misalnya, kritik dalam bidang filsafat tidak dikaitkan
dengan aqidah, kritik dan kajian al-Qur’an tanpa disertai ilmu tafsir, bahkan tidak aneh jika para
orientalis mengkaji al-Qur’an dengan metodologi Bibel, mengkaji politik Islam dalam perspektif
politik Barat sekuler dst. Dan yang pasti disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam itu tidak dikaji
dengan framework pandangan hidup Islam, tapi Barat.

Meski telah banyak kajian tentang orientalisme, tapi dalam perkembangan pemikiran akhir-
akhir ini, tema Orientalisme ini menjadi semakin relevan untuk diangkat kembali. Sebab kini
mengadopsi pandangan, framework dan kritik-kritik para orientalis tentang Islam menjadi tren
di kalangan sementara cendekiawan Muslim. Nampaknya, mereka berfikiran bahwa dengan
cara itu mereka bisa mengambil jalan pintas untuk “reformasi”, “pembaharuan” atau
“liberalisasi” pemikiran Islam. Bagi masyarakat awam atau ulama “tradisional”, pemikiran hasil
“adopsi” itu nampak baru, karena tidak pernah ada dalam khazanah intelektual Islam. Padahal,
sifat “baru”nya tidak mempunyai unsur tajdid, karena terlepas dari fondasi asalnya (wahyu) dan
bahkan seringkali berseberangan. Mungkin mereka telah gagal menyelami khazanah intelektual
Islam secara komprehensif, kreatif, dan apresiatif sehingga kehilangan daya kritis mereka
terhadap orientalis dan Barat.

Orientalisme adalah suatu cara pandang orang Barat terhadap bangsa selain Barat. Bangsa-
bangsa selain Barat itu—yakni bangsa-bangsa Timur Tengah dan Asia—dilihat dengan kacamata
rasial yang penuh prasangka. Bangsa-bangsa Timur dianggap mundur dan tidak sadar akan
sejarah dan kebudayaan mereka sendiri. Untuk itu Barat kemudian “membantu” membuat
kajian tentang konsep-konsep kebudayaan, sejarah, dan juga agama-agama dan bangsa-bangsa
Timur. Sudah tentu prinsip, metode dan pendekatan kajian ini khas Barat. Namun, kajian ini
tidak murni kajian keilmuan, tapi kajian yang dimanfaatkan untuk program misionaris Kristen
dan imperialisme Barat ke Negara-negara Timur.[23]

Akar gerakan orientalisme dapat ditelusuri dari kegiatan mengoleksi dan menerjemahkan teks-
teks dalam khazanah intelektual Islam dari bahasa Arab ke bahasa Latin sejak Abad
Pertengahan di Eropa. Kegiatan ini umumya dipelopori oleh para teolog Kristen. Dari hasil
koleksi itu Museum London dan Mingana Collection di Inggris adalah di antara pemilik koleksi
manuskrip Islam terbesar di dunia. Selanjutnya, karena Orientalisme telah menjadi suatu tradisi
pengkajian yang penting di dunia Barat, maka ia berkembang dan melembaga menjadi program
formal di perguruan tinggi, dalam bentuk departemen atau jurusan dari universitas-universitas
di Barat.
Kini banyak sekali unversitas di Barat yang mendirikan program Islamic, Middle Eastern, atau
Religious Studies. Universitas London misalnya mendirikan SOAS (School of Oriental African
Studies), Universitas McGill Canada, Univesitas Leiden Belanda mendirikan Departement of
Islamic Studies, Universitas Chicago, Universitas Edinburgh, University of Pennsylvania,
Philadelphia dan lain-lain mendirikan Departement of Middle Eastern Studies; Universitas
Birmingham Inggris mendirikan Centre for the Study of Islam-Christian Relation dan lain
sebagainya. Program-program kajian keislaman di universitas-universitas Barat tersebut
merupakan tradisi yang kokoh karena didukung oleh pakar dan tokoh di bidang masing-masing.
Sekedar untuk menyebut beberapa berikut ini nama-nama orientalis dalam beberapa bidang
tertentu:

1) Bidang Teologi dan Filsafat: Montgomery Watt, O Learry, DB Mc Donald, Alfred Gullimaune,
Majid Fakhry, Henry Corbin, Michael Frank, Richard J McCarthy, Harry A. Wolfson, Shlomo
Pines, Oliver Leaman dll. 2) Bidang Hadis Josep Schacht, Ignaz Golziher, G.H.A.Juyuboll, Eerik
Dickson, Aarent J Wensinck, Nicholson, WD. Van Wijagaarden. 3) Bidang Fikih Waell Hallaq,
Harold Motzki, N.Calder, N.J. Coulson, J.Fuck, John Burton, 4) Bidang Politik Snouck Hurgronje,
Bernard Lewis, Samuel Huntington, Bob Hefner, William Liddle, Greg Burton dll. 5) Bidang al-
Qur’an Theodore Noldeke, Friedrich Schwally, Gotthelf Bergtrasser, Otto Pretzl, Arthur
Jewffery, John Wansbrough, John Burton, Richard Bell, Andrew Rippin, Chrostoph
Luxemburg.[24] Dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan semua di sini.

Dari keseluruhan gerakan orientalisme tersebut dalam berbagai bentuknya dari awal hingga
akhir ini, Edward Said menyimpulkan dalam 3 poin yaitu:

1. Bahwa orientalisme itu lebih merupakan gambaran tentang pengalaman manusia Barat
ketimbang tentang manusia Timur (orient).

2. Bahwa orientalisme itu telah menghasilkan gambaran yang salah tentang kebudayaan
Arab dan Islam.

3. Bahwa meskipun kajian orientalis nampak obyektif dan tanpa interes (kepentingan),
namun ia berfungsi untuk tujuan politik.[25]

Ketiga kesimpulan Edward Said di atas adalah benar adanya, artinya studi Islam di Barat yang
ada sekarang ini menggunakan cara pandang (framework) Barat dan oleh sebab itu jika tulisan
para orientalis itu dikaji secara kritis maka akan menunjukkan beberapa kerancuan konsep.
Gambaran tentang cara pandang (framework) Barat ini sebenarnya sangat kompleks, tapi
secara sederhana dapat diartikan sebagai cara mereka memandang Islam dan peradabannya.
Cara Barat melihat Islam sebagai din, Nabi Muhammad sebagai Rasulullah, al-Qur’an sebagai
wahyu dan kalam Tuhan, cara memahami hadist, sikap mereka terhadap otoritas ulama sama
sekali berbeda dengan cara pandang Islam dan umat Islam.

Namun, tantangan yang dihadapi umat bukan hanya dari pikiran para orientalis, tapi
cendekiawan Muslim yang mengikuti cara berfikir orientalis dalam memahami Islam. Kini yang
mengatakan semua agama sama, al-Qu’ran bukan wahyu Allah, ajaran Islam itu menindas kaum
wanita, dan sebagainya, bukan lagi orientalis, tapi para cendekiawan Muslim sendiri. Produk
dari kuatnya tradisi oritentalisme itu adalah terbitnya karya-karya mereka yang kemudian
dirujuk dan bahkan diikuti oleh para cendekiawan Muslim. Akhirnya, oritentalisme juga
memproduksi cendekiawan Muslim yang tidak kritis terhadap Barat dan bahkan mengikuti saja
cara berfikir mereka. Kini muncul cendekiawan Muslim di berbagai Negara Islam yang
mengusung ide-ide yang merupakan agenda Barat. Untuk sekedar menyebut beberapa berikut
ini nama-nama mereka:

Teologi, Filsafat dan Pluralisme agama: Rene Guenon, Fritjhof Schuon, Martin Ling, Syed
Hussein Nasr, Muhammad Sachidina, Hasan Askari, Mahmud Ayyub, Farid Eschack
Hermeneutika: Muhammad Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, Gender dan feminisme:
Aminah Wadud Muhsin, Fatimah Mernisi, Nawal Sa’dawi Islam Kiri: Hasan Hanafi, Asghar Ali dll.
Fiqih: Abdullah Ahmad al-Naim, Muhammad Syahrur dsb.

Sekedar contoh marilah kita lihat bagaimana perjalanan ide orientalis sampai kepada pemikir
Muslim. Para orientalis dari generasi ke generasi menyatakan bahwa al-Qur’an adalah karangan
Muhammad. Hal ini dapat dibaca dari pernyataan G.Sale, [dalam bukunya The
Qur’an:Commonly called al-Qur’an:Preliminary Discoursei, (1734)+, Sir William Muir *dalam
bukunya Life of Mahomet (1860)], A.N. Wollaston [dalam bukunya The Religion of The Koran
(1905)], H. Lammens, dalam [Islam Belief and Institution (1926)], Champion & Short [dalam
buknya Reading from World Religious Fawcett, (1959),] JB. Glubb, [dalam bukunya The Life and
Time of Muhammad (1970)] dan M. Rodinson [dalam bukunya Islam and Capitalism (1977)]. Ide
ini diterjemahkan oleh Muhammad Arkoun menjadi begini: al-Qur’an adalah wahyu Tuhan tapi
ia diucapkan oleh Muhammad dan dengan bahasa Muhammad sebagai manusia biasa. Senada
dengan itu seorang cendekiawan Muslim liberal yang diusir dari Mesir bernama Nasr Hamid
Abu Zayd menyatakan bahawa karena al-Qur’an turun dalam ruang sejarah Arab maka ia adalah
produk budaya Arab (muntaj thaqafi). Implikasi ide ini adalah bahwa al-Qur’an bukan firman
Allah yang suci dan perlu disucikan dan disakralkan dan karena itu umat Islam tidak terlalu
fanatik berpegang pada al-Qur’an; dan agar umat Islam mau menafsirkan al-Qur’an tanpa takut-
takut, karena ia hanya perkataan manusia biasa.

Namun secara obyektif perlu diakui bahwa selain dari bidang-bidang pemahaman dan
penafsiran Islam, para oritentalis ada yang berjasa dalam kerja-kerja ilmiah lainnya dan cukup
dirasakan manfaatnya, seperti misalnya dalam penyusunan lexicon, kamus-kamus,
encyclopedia, kompilasi hadis dan sebagainya. Oleh karena itu umat Islam perlu bersikap
bijaksana, tidak melulu apresiatif yang berlebihan dan tidak pula bersikap apriori secara
membabi buta. Umat Islam perlu bersikap kritis dalam mengkaji karya-karya orientalis itu. Dan
untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan Islam yang setanding dengan mereka.

3) Kolonialis

Seperti disebutkan diatas bahwa orientalis pernah bekerjsama dengan kolonialis dan misionaris.
Pengertian kolonialisme dalam hal ini disesuaikan dengan kondisi pasca perang dunia kedua,
yang bergeser dari pendudukan menjadi penguasaan dalam bidang-bidang tertentu secara
strategis. Kolonialisme kini tidak mesti berarti exploitasi sumber daya manusia dan alam seperti
di zaman penjajahan, tapi monopoli dalam perdagangan, penguasaan sistem ekonomi dan
politik, liberalisasi perdagangan dsb. Untuk itu kolonialis berkepentingan untuk menyebarkan
kultur dan pemikiran Barat, sehingga ide-ide atau pemikiran Islam dan umat Islam sejalan
dengan pemikiran dan kepercayaan Barat. Tujuan akhirnya adalah kepentingan ekonomi dan
politik mereka di negara-negara Islam dapat berjalan dengan mulus.

Strategi bagaimana agar ide-ide dan pemikran umat Islam sejalan dengan kolonialis, dan
bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, sebaiknya kita rujuk sebuah
buku yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, (2003). Buku
yang ditulis oleh Cheryl Bernard[26] ini menjelaskan tentang strategi dan taktik pemikiran yang
perlu dilakukan Barat untuk menghadapi umat Islam pasca 11 September. Targetnya untuk
melawan apa yang mereka istilahkan dengan “terorisme dan fundamentalisme” dalam Islam.
Bahkan setelah menulis buku ini ia menulis buku lain berjudul “U.S. Strategy in the Muslim
World After 9/11 (2004), The Muslim World After 9/11 (2004), dan Three Years After: Next
Steps in the War on Terror (2005).

Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di
Amerika lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim
sebagai lembaga independen yang membuat “analisa obyektif dan solusi efektif terhadap
persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia”. Lembaga ini
dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Di lembaga ini Cheryl menulis untuk Divisi Riset
Keamanan Nasional (National Security Research Division) dimana suaminya bekerja. Tujuan dari
buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu kebijakan
pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan pengembangan
bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas, divisi ini bertugas
memberi saran-saran kepada pemerintah Amerika bagaimana menghadapi “fundamentalisme”
dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat Islam.

Sebuah saran tentunya berdasarkan pertimbangan dan dasar pemikiran tertentu. Pemikiran
mana yang menjadi asasnya, ia pilih sejalan dengan kepentingannya. Berdasarkan pemikiran itu
ia memberi masukan kepada pemerintah Amerika, pertama tentang nilai-nilai mana dalam
Islam yang bisa diseret ke dalam nilai-nilai Amerika. Kedua tentang peta masalah-masalah umat
Islam dalam konteks nilai-nilai Amerika. Dan akhirnya muncullah saran-saran agar isu-isu seperti
demokrasi dan HAM, poligami, hukuman bagi kriminalitas, keadilan, masalah minoritas, pakaian
wanita, hak-hak suami-istri dsb, masuk ke dalam pemikiran umat Islam. Saran-saran itu, seperti
yang akan lihat di bawah ini, dilaksanakan dengan baik di Indonesia.

Untuk membuktikan adanya serangan yang berbentuk politik atau memakai kendaraan politik,
berikut ini dipaparkan strategi bagaimana menghadapi Islam yang tertuang dalam buku
tersebut. Laporan itu membagi umat Islam menjadi 4 kelompok dan memberi masukan
bagaimana seharusnya sikap pemerintah Amerika terhadap keempat kelompok tersebut:
1. Fundamentalis, yaitu kelompok yang menolak nilai-nilai demokrasi, dan kultur Barat
kontemporer. Mereka menginginkan negara autoritarian dan murni untuk melaksanakan
hukum dan nilai-nilai moral Islam, tapi mau menggunakan teknologi modern untuk mencapai
tujuan mereka.

2. Tradisionalis, yaitu kelompok yang menginginkan masyrakat konservatif, curiga terhadap


modernitas, innovasi dan perubahan.

3. Modernis, yaitu kelompok yang menginginkan agar dunia Islam menjadi bagian dari
modernitas global. Mereka ingin memodernisir Islam agar sejalan dengan zaman.

4. Sekuleris yaitu kelompok yang mengingkan dunia Islam menerima pemisahan gereja dan
negara, sebagaimana yang terjadi pada demokrasi industri Barat, dimana agama diposisikan
sebagai urusan pribadi.

Untuk menghadapi kelompok-kelompok tersebut di atas Cheryl Benard memberi saran-saran


bagaimana menghadapi masing-masing kelompok. Di akhir saran-saran, ia mengingatkan agar
kebijakan yang diambil disesuaikan dengan strategis tidaknya isu yang berkembang. Saran-
saran untuk menghadapi keempat kelompok tersebut dapat disimak sbb:

1. Pertama-tama dukung modernis, dengan mengembangkan visi mereka tentang Islam


sehingga mengungguli kelompok tradisionalis. Caranya dengan memberikan arena yang luas
agar mereka dapat menyebarkan pandangan mereka. Mereka harus dididik dan diangkat secara
ketengah-tengah public sebagai mewakili wajah Islam kontemporer.

2. Dukung kelompok sekularis berdasarkan kasus per kasus

3. Dorong institusi sipil dan kultural serta program-programnya.

4. Dukung kelompok tradisionalis sebatas untuk mengarahkan mereka agar berlawanan


dengan kelompok fundamentalis dan untuk mencegah pertalian yang erat di antara mereka.
Didalam kelompok tradisionalis kita harus mendukung secara selektif mereka yang lebih sesuai
dengan masyarakat sipil modern. Misalnya, beberapa mazhab-mazhab Fiqih lebih dapat
disesuaikan dengan pandangan kita tentang keadilan dan hak azazi manusia daripada yang lain.

5. Musuhi kelompok fundamentalis secara aktif dengan menghantam kelemahan mereka


dalam pandangan keislaman dan ideologi mereka, yaitu dengan mengeskpos hal-hal yang tidak
dapat diterima oleh masyarakat baik anak muda yang idealis ataupun pengikut tradisionalis
yang saleh, seperti korupsi, kekerasan, kebodohan, pelaksanaan Islam yang bias dan jelas salah
dan ketidak mampuan mereka memimpin dan memerintah.

Untuk pelaksanaan saran-saran diatas Cheryl merincikan langkah-langkah yang lebih konkrit
dalam bentuk yang ia sebut “rekomendasi”. Rekomendasinya terdiri dari 5 poin, sbb:
1. Hancurkan monopoli fundamentalis dan tradisionalis dalam mendifinisikan, menjelaskan
dan menafsirkan Islam.

2. Tunjuk cendekiawan modernis yang tepat untuk membuat website yang menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan menawarkan pandangan
hukum Islam kaum modernis.

3. Dukung cendekiawan modernis untuk menulis buku-buku teks dan mengembangkan


kurikulum.

4. Terbitkan buku-buku pengantar dengan disubsidi agar dapat diperoleh seperti karya-karya
penulis fundamentalis.

5. Manfaatkan media regional yang popular, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran
dan praktek Muslim modernis untuk membuka pandangan internasional tentang apa itu Islam
dan dapat berarti apa.

Langkah-langkah Strategis

Selanjutnya berdasarkan rekomendasi diatas maka Cheryl menyarankan agar pemerintah


Amerika mengambil 4 langkah-langkah strategis sbb:

1) Membangun kepemimpinan modernis

a) Ciptakan role model dan pemimpin. Modernis yang terpojokkan harus di rehabilitasi
sehingga bisa tampil sebagai pemimpin pembela hak-hak sipil yang berani. Terdapat preseden
dalam soal ini yang menunjukkan bahwa hal ini dapat berjalan. Nawal al-Sadaawi, telah dikenal
di dunia internasional karena penghinaan, pelecehan dan upaya yang terus menerus untuk
mengadilinya karena prinsipnya sebagai modernis dalam isu yang berkaitan dengan kebebasan
berbicara, kesehatan masyarakat, dan status wanita di Mesir. Sima Samar, Menteri Urusan
Wanita ad interim Afghanistan, yang telah menginspirasi banyak orang karena keberanian
pendiriannya dalam soal HAM, hak-hak wanita, hukum sipil dan demokrasi, yang karena itu ia
mendapat ancaman hukuman mati dari kelompok fundamentalis. Di seluruh dunia Islam masih
banyak lagi tokoh-tokoh yang kepemimpinannya dapat disoroti. Masukkan Muslim modernis
dalam peristiwa-peristiwa politik, untuk mencerminkan realitas keberadaan mereka secara
demografis. Cegah upaya-upaya secara berlebihan untuk meng-islamkan umat Islam dan
sebagai alternatifnya kenalkan kepada mereka gagasan bahwa Islam hanyalah salah satu bagian
dari identitas mereka.

Maksud usulan di atas merujuk kepada gagasan al-Azmeh, dari bukunya yang berjudul Al-
Azmah, Islam and Modernities, London: Verso Publications, 1993. al-Azmeh sendiri adalah
seorang “Muslim Eropa”
b) Dukung konsep masyakarat sipil (civil society) didunia Islam. Konsep ini menurut Cheryl
sangat penting dalam situasi-situasi krisis dan pasca konflik dimana masyarakat memerlukan
kepemimpinan yang demokratis. Daerah perkotaan dan di organisasi sosial merupakan
infrastruktur bagi pendidikan politik dan kepemimpinan yang moderat dan modern.

c) Kembangkan gagasan – gagasan Islam Barat: Islam Jerman, Islam AS dsb. Ini bukan sekedar
sebutan identitas tapi juga memerlukan konsekuensi ideologis yang melibatkan pemikiran dan
prakteknya dalam komunitas-komunitas itu. Gagasan yang seperti ini bagi Cheryl sangat
menarik dan karena itu perlu didukung agar gagasan ini dapat diekspresikan dan dibukukan.

2). Teruskan serangan terhadap fundamentalis

a) Lakukan deligitimasi individu dan kedudukan kelompok ekstrimis Islam. Publikasikan perilaku
dan pernyataan amoral dan hipokrit dari apa yang disebut otoritas fundamentalis. Tuduhan
amoralitas dan kebejatan orang Barat merupakan bagian dari senjata fundamentalis, tapi
mereka sendiri rawan dalam masalah ini.

b) Dukunglah jurnalis Arab dalam media populer untuk melakukan laporan investigatif tentang
kehidupan dan kebiasaan individu serta korupsi pemimpin fundamentalis. Publikasikan kejadian
tentang kebrutalan mereka, seperti peristiwa matinya anak sekolah di Saudi dalam kebakaran
ketika polisi moral melarang petugas pemadam kebakaran untuk mengevakuasi anak-anak
tersebut dari sekolah mereka yang kebakaran, hanya alasan bahwa anak-anak tersebut tidak
mengenakan jilbab. Selain itu juga kemunafikan mereka yang tercermin dari lembaga-lembaga
agama Saudi, yang melarang pekerja-pekerja imigran untuk membuat pas foto anak-anak
mereka yang baru lahir, atas dasar bahwa Islam melarang gambar manusia, sedangkan di
kantor-kantor mereka dihiasi oleh gambar besar Raja Faisal dsb. Peranan organisasi amal dalam
membiayai teror dan ekstrimisme telah mulai terkuak sejak peristiwa 11 September, tapi masih
perlu terus diselidiki secara publik.

3) Promosikan Nilai-nilai Modernitas Demokrasi Barat secara agresif

a) Ciptakan dan propagandakan suatu model Islam yang kaya dan moderat dengan
mengidentifikasi dan membantu secara aktif negara-negara atau kawasan atau kelompok yang
memiliki pandangan yang betul. Publikasikan keberhasilan-keberhasilan mereka. Deklarasi
Beirut untuk Keadilan, tahun 1999 (Beirut Declaration for Justice) dan Piagam Aksi Nasional
Bahrain (the National Action Charter of Bahrain) misalnya merupakan terobosan baru dalam
pelaksanaan hukum Islam dan harus disebar luaskan.

b) Kritik kesalahan tradisionalis. Tunjukkan hubungan sebab akibat antara tradisionalisme dan
kemunduran, demikian juga hubungan kausalitas antara modernitas, demokrasi, perkembangan
dan kemakmuran. Apakah fundamentalisme dan tradisionalisme menawarkan masa depan
masyarakat Islam yang sehat dan sejahtera? Apakah mereka berhasil dalam menjawab
tantangan masa kini? Apakah mereka membandingkan dengan model struktur masyarakat yang
lain? Rencana Pembangunan PBB (United Nation Development Plan- UNDP) secara jelas
menunjukkan hubungan antara struktur sosial yang stagnan, penindasan terhadap wanita,
rendahnya kualitas pendidikan dan kemunduran. Poin ini harus disebarkan kepada masyarakat
Muslim .

c) Munculkan Pentingnya Sufisme. Dukunglah negara-negara yang memiliki tradisi tasawwuf


yang kuat, untuk memfokuskan pada bagian sejarah mereka dan untuk memasukkan ke dalam
kurikulum sekolah. Berikan perhatian yang lebih banyak kepada Islam Sufi. Hal ini akan
menjauhkan mereka dari masalah dunia dan menekankan pada masalah akherat.

4) Fokuskan pada Pendidikan dan Remaja

Orang dewasa yang setia dan pengikut gerakan Islam radikal tidak mungkin dipengaruhi dengan
mudah untuk merubah pendirian mereka. Tapi, generasi yang akan datang dapat dipengaruhi
jika misi demokrasi Islam dapat dimasukkan kedalam kurikulum sekolah dan media masa di
negara-negara tertentu. Fundamentalis radikal telah berusaha secara massif untuk
memperoleh pengaruh dalam pendidikan dan nampaknya mereka tidak mungkin merubah
pendirian mereka tanpa perjuangan. Usaha yang sebanding dengan itu akan sangat dibutuhkan
untuk memerangi pendirian mereka ini.

Langkah-langkah Praktis

Lebih jauh lagi agar langkah-langkah strategis diatas dapat direalisasikan menjadi sebuah
gerakan pemikiran maka Cheryl memberi saran-saran praktis seperti hal-hal dibawah ini:

1) Dukunglah pertama-tama kelompok modernis dan sekularis dengan cara sbb: a) menerbitkan
dan menyebarkan karya-karya mereka; b) mendorong mereka untuk menulis khusus untuk
orang awam dan anak muda; c) perkenalkan pandangan mereka ke dalam kurikulum
pendidikan Islam; d) berikan ruang publik untuk mereka; e) sebarkan pandangan dan pendapat
mereka dalam masalah-masalah yang fundamental dalam penafsiran agama kepada orang
awam, agar bersaing dengan pendapat dan pandangan fundamentalis dan tradisionalis, yang
telah memilik website, penerbitan, sekolah, institut dan media yang lain untuk menyebarkan
pandangan mereka; f) posisikan modernisme sebagai pilihan remaja Islam; g) memberi
kemudahan dan mendukung kesadaran tentang sejarah dan kultur sebelum Islam dan non-
Islam, melalui media masa dan kurikulum sekolah dinegara-negara tertentu; h) mendorong dan
mendukung lembaga-lembaga sekuler dan sipil, serta program-programnya.

2) Dukunglah kelompok tradisionalis melawan fundamentalis dengan cara-cara sbb: a)


mempublikasikan kritik-kritik tradisionalis terhadap kekerasan dan ekstrimisme fundamentalis
dan mendorong tumbuhnya perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis; b) cegahlah
persatuan antara tradisionalis dan fundamentalis; c) doronglah kerjasama antara modernis
dengan tradisonalis yang memiliki pandangan yang lebih dekat kepada modernis, perbanyak
literatur tentang figur modernis dalam lembaga-lembaga tradisionalis; d) bedakan sektor-sektor
yang terdapat dalam tradisionalisme; e) perkuat dukungan kepada mereka yang mempunyai
apresiasi yang tinggi terhadap modernism—seperta mazhab Fiqih Hanafi yang bertentangan
dengan mazhab lain dalam masalah agama. Dengan mempopulerkan mazhab ini maka kita
dapat memperlemah otoritas penguasa agama Wahabi; f) doronglah popularitas dan
penerimaan sufisme.

3) Hadapi dan tantang kelompok fundamentalis dengan cara-cara sbb: a) menantang dan
mengekspose ketidak akuratan pandangan mereka dalam soal penafsiran Islam; b) bongkar
hubungan mereka dengan kelompok dan aktifis illegal; c) publikasikan akibat dari perilaku
kejahatan mereka; d) tunjukkan ketidak mampuan mereka memerintah untuk kepentingan
pembangunan masyarakat mereka secara positif; e) arahkan misi ini khusunya untuk anak-anak
muda, masyarakat tradisionalis yang saleh, Muslim minoritas di Barat dan kepada wanita; f)
hindarkan rasa respek atau pemujaan terhadap tindak kejahatan kelompok fundamentalis,
ekstrimis dan teroris, ketimbang menuduh mereka sebagai pahlawan jahat, lebih baik menuduh
mereka sebagai orang yang bermasalah dan penakut; g) mendorong para wartawan untuk
menyelidika isu korupsi, kemunafikan dan tidak amoral kelompok fundamentalis dan terosis.

4) Dukung sekularis dengan selektif, dengan cara sbb: a) doronglah pengakuan bahwa
fundamentalisme adalah musuh bersama; cegahlah persatuan sekularis dengan gerakan anti-
kekuatan Amerika, seperti nasionalisme dan ideologi kiri; b) dukunglah ide bahwa agama dan
negara itu dalam Islam dapat dipisahkan, dan bahwa hal ini tidak membahayakan keimanan.

Dari strategi di atas jelas sekali bahwa dari keempat kelompok tersebut yang mendapat
dukungan adalah kelompok modernis (termasuk mereka yang menamakan diri “Islam Liberal”,
karena dianggap sesuai dengan peradaban Barat. Lebih lengkap dinyatakan begini:

Dari semua kelompok, kelompok ini (modernis) adalah yang paling bersahabat terhadap nilai-
nilai dan jiwa masyarakat demokratis modern. Modernisme, dan bukan tradisionalisme, adalah
yang membantu Barat. (Misi kelompok) ini menyangkut perlunya menyimpangkan,
memodifikasi dan mengesampingkan secara selektif elemen-elemen doktrin keagamaan yang
orisinal. Kitab Perjanjian Lama tidaklah berbeda dari al-Qur’an dalam menghukumi perilaku dan
mengontrol sejumlah peraturan dan nilai-nilai yang tidak dapat dipahami secara literal oleh
masyarakat masa kini. Ini tidak masalah, sebab saat ini hanya sedikit sekali orang yang
mempertahankan agar kita semua hidup secara literal sama dengan Bible. Sebaliknya, kita
sepakat pada visi bahwa misi yang sebenarnya dari Yahudi dan Kristen itu mengungguli (makna)
literal teks, yang sebenarnya telah kita anggap sebagai sejarah dan legenda belaka. Ini adalah
persis seperti pendekatan yang diambil oleh modernist Muslim.[27]

Yang pasti orientalisme dan kolonialisme Barat mempunyai hubungan dan bahkan kesamaan
obyek. Obyek kajian orientalis adalah Negara-negara Timur, khususnya Islam dan sasaran politik
kolonialisme adalah juga Negara-negara Islam. Sementara itu Kristen yang gagal di Barat juga
mengarahkan misinya ke Timur.Orientalisme sangat berguna bagi memudahkan jalan
kolonialisme, dan untuk kepentingan itu Barat membuat program khusus melalui agensi-
agensinya, yaitu yayasan-yayasan yang bertugas khusus menjalakan misi tersebut. Diantara
yayasan yang aktif saat ini adalah The Asia Foundation (Amerika) yang diantara programnya
disebutkan begini:
Recognizing the importance of reinforcing inclusive and pluralist values within Indonesia’s
Muslim majority population, The Asia Foundation has been supporting a diverse group of mass-
based Muslim groups since 1970s. In the context of an increasingly diverse Islamic society in
Indonesia, The Foundation now support over 30 Muslim non-Government organization (NGO),
in their efforts to promote the concept that Islamic values can the basis for a democratic
political system, non-violance, and religious tolerance. In the area of civic education, human
right, intercommunity reconciliation, gender equality, and inter-faith dialogue, the Foundation
works with these NGO’s and mass-based organization in their effort to make Islam a catalyst for
democratization in Indonesia. ……The programs include training for religious leaders, studies
examining gender issues and human rights in Islam, civic education course at Islamic institute,
Muslim women’s advocacy centers and the strenghthening the pluralist and tolerant Islamic
media.[28]

Terjemahan bebasnya adalah sbb:

Menyadari akan pentingnya nilai-nilai inklusif dan pluralis dalam masyarakat Muslim Indonesia
yang mayoritas, The Asia Foundation telah memberikan bantuan kepada berbagai ormas Islam
sejak tahun 1970an. Dalam konteks masyarakat Islam Indonesia yang semakin beragam, The
Asia Foundation kini membantu lebih dari 30 kelompok LSM dalam upaya mereka
mempromosikan konsep bahwa nilai-nilai Islam itu dapat menjadi asas bagi sistem politik
demokratis, anti-kekerasan dan toleransi beragama. Dalam kaitannya dengan pendidikan sipil,
HAM, penyatuan antar komunitas, persamaan gender, dialog antar agama, yayasan ini
bekerjasama dengan LSM-LSM yang ormas-ormas dalam usaha mereka menjadikan Islam
sebagai media untuk demokratisasi di Indonesia. Program-programnya termasuk training
tokoh-tokoh agama, kajian tentang issu gender dan hak azaza manusia dalam Islam, pelajaran
tentang pendidikan sipil pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, pusat pembelaan terhadap
wanita Muslim dan memperkuat media Islam yang pluralis dan toleran.

Dari pernyataan di atas jelas sekali bahwa program yayasan asing itu adalah untuk
memperkenalkan elemen penting dalam peradaban Barat seperti persamaan gender, hak azazi
manusia, pluralisme agama, demokrasi dan lain-lain. Yang kesemuanya berdasarkan pada cara
berfikir (worldview) Barat. Selain daripada itu, disebutkan pula bahwa The Asia Foundation
bersama USAID (US Agency for International Development) juga mempunyai program reformasi
pendidikan di seluruh Indonesia baik pendidikan formal maupun informal, termasuk reformasi
pendidikan di pesantren. Dalam reformasi itu nanti akan diajarkan mata pelajaran
perbandingan agama, pendidikan sipil, pengembangan kurikulum, workshop-workshop, training
pedagogi, dan kursus serta tutorial tentang prinsip-prinsip pluralisme dan demokrasi.
Semuanya, menurut mereka, disusun berdasarkan pada ajaran Islam, akan tetapi masalahnya
berubah menjadi justifikasi Islam terhadap paham-paham tersebut. Sebab dalam Islam tidak
terdapat paham pluralisme, yang ada hanyalah pengakuan adanya pluralitas. Islam mengakui
adanya kebinekaan agama dan kepercayaan tapi tidak mengakui kebenaran semua itu.
Penyebaran Pemikiran Liberal

Dari proyek gabungan Kristenisasi, Orientalisme dan Kolonialisme terdapat ide-ide dan
pemikiran yang sengaja disebarkan ketengah masyarkat Islam. Diantara ide-ide dan pemikiran
tersebut adalah liberalisme, pluralisme agama, kawin beda agama, relativisme, persamaan,
feminisme (kesetaraan gender), individualisme, demokrasi dan lain-lain. Untuk mengetahuai
ide-ide tersebut akan dijelaskan beberapa yang penting sbb:

a). Penyebaran paham Liberalisme Agama

Salah satu agenda pemerintahan George W Bush dalam menghadapi apa yang ia sebut
terorisme adalah liberalisasi dunia Islam. Sebab menjelang pemilihan Presiden Amerika Serikat
majalah Times memuji keberhasilan Bush dalam upaya liberalisasi masyarakat Negara-negara
Timur Tengah dalam berbagai hal. Yang dapat dirasakan di Indonesia saat ini adalah liberalisasi
pemikiran keagamaan. Hal ini sejalan dengan saran-saran Cheryl Benard, dari LSM
Coorporation, kepada pemerintah Amerika, seperti yang digambarkan diatas. Liberalisasi
pemikiran kegamaan dalam Islam dimaksudkan agar umat Islam tidak lagi terikat pada doktrin-
doktrin keagamaan yang dapat bertentangan dengan pandangan hidup dan kebudayaan Barat.

b). Penyebaran paham Pluralisme Agama

Makna pluralisme agama paska fatwa MUI banyak diperdebatkan orang. Namun perlu
diketahui bahwa menurut definisi resmi mereka pluralisme adalah teori yang seirama dengan
relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran (truth). Ia terkadang juga dipahami sebagai
doktrin yang berpandangan bahwa disana tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat
adalah sama benarnya. (no view is true, or that all view are equally true).[29] Dalam aplikasinya
terhadap agama maka pandangan ini berpendapat bahwa semua agama adalah sama benarnya
dan sama vailidnya. Paham pluralisme agama memiliki sekurang-kurangnya dua aliran yang
berbeda tapi ujungnya sama yaitu: aliran kesatuan transenden agama-agama (transcendent
unity of religion) dan teologi global (global theology). Yang pertama lebih merupakan protes
terhadap arus globalisasi, sedangkan yang kedua adalah kepanjangan tangan dan bahkan
pendukung gerakan globalisasi, dan paham yang kedua inilah yang kini menjadi ujung tombak
gerakan westernisasi.

Karena pluralisme agama ini sejalan dengan agenda globalisasi, ia pun masuk kedalam wacana
keagamaan agama-agama, termasuk Islam. Ketika paham ini masuk ke dalam pemikiran
keagamaan Islam, respon yang timbul hanyalah adopsi ataupun modifikasi dalam takaran yang
minimal dan lebih cenderung menjustifikasi. Akhirnya yang terjadi justru peleburan nilai-nilai
dan doktrin-doktrin keagamaan Islam kedalam arus pemikiran modernisasi dan globalisasi.
Caranya adalah dengan memaknai kembali konsep Ahlul Kitab dengan pendekatan Barat. Jika
perlu makna itu di dekonstruksi dengan menggunakan ilmu-ilmu Barat modern. Inilah
sebenarnya yang telah dilakukan oleh Mohammad Arkoun. Ia mengusulkan, misalnya, agar
pemahaman Islam yang dianggap ortodoks ditinjau kembali dengan pendekatan ilmu-ilmu
sosial-historis Barat. Dan dalam kaitannya dengan pluralisme agama ia mencanangkan agar
makna Ahl al-Kitab itu didekonstruksi agar lebih kontekstual. Disitu ayat-ayat tentang Ahlul
Kitab dijadikan alat justifikasi, meskipun terkadang dieksploitir tanpa memperhatikan konteks
historis dan metodologi tafsir standar. Mindset seperti ini jelas sekali telah terhegomoni oleh
pemikiran Barat.

Inti doktrinnya adalah untuk menghilangkan sifat ekslusif umat beragama, khususnya Islam.
Artinya dengan paham ini umat Islam diharapkan tidak lagi bersikap fanatik, merasa benar
sendiri dan menganggap agama lain salah. Menurut John Hick, tokoh pluralisme agama,
diantara prinsip pluralisme agama menyatakan bahwa agama lain adalah sama-sama jalan yang
benar menuju kebenaran yang sama (Other religions are equally valid ways to the same truth).

Di Indonesia faham ini disebar luaskan pertama-tama oleh Sekolah Tinggi Teologi Kristen, dan
diikuti oleh para cendekiawan Muslim. Jadi, pengembangan Teologi Pluralis itu sendiri
sebenarnya merupakan pelaksanaan dari teori Samuel Zwemmer untuk melemahkan umat
Islam. Dengan teologi semacam itu, umat Islam sudah terjebak untuk tidak meyakini kebenaran
agamanya.

Perdebatan paham pluralisme agama adalah salah satu agenda liberalisasi pemikiran.
Pluralisme agama adalah inovasi teologis, yang dibawa oleh agamawan liberal, yaitu bentuk
finalnya adalah pluralisme agama. Dalam kaitannya dengan gerakan Postmodernisme, maka
jelaslah bahwa paham (Pluralisme agama) ini dianut oleh mereka yang menerima aliran-aliran
filsafat postmodern, khususnya dekonstruksionisme Kelompok agamawan Liberal dalam
agama-agama ini, tidak lagi mengklaim bahwa agama mereka adalah sempurna dan absolute

c). Penyebaran gagasan kawin antar agama

Dampak yang lebih konkrit dan berbahaya dari paham pluralisme adalah diplokamirkannya
praktek kawin beda agama. Untuk itu para cendekiawan Muslim mencoba merobah konsep
ahlul kitab dalam al-Qur’an dan Hadis, dengan memasukkan semua agama sebagai ahlul kitab.
Ini dimaksudkan untuk suatu kesimpulan bahwa semua agama adalah sama benarnya. Karena
semua agama sama maka muncullah hukum baru yang membolehkan wanita Muslim kawin
dengan laki-laki Kristen. Masalah perkawinan beda agama ini tercantum dalam “Universal
Declaration of Human Right” pasal 16 ayat 1. Pasal itu berbunyi: “Pria-dan wanita dewasa,
tanpa dibatasi oleh ras, kebangsaan, atau agama, memiliki hak untuk kawin dan membangun
suatu keluarga. Mereka memiliki hak-hak sama perihal perkawinan, selama dalam perkawinan
dan sesudah dibatalkannya perkawinan.”

Sebenarnya pasal ini telah ditolak oleh umat Islm melalui Memorandum Organisasi Konferensi
Islam (OKI). Dalam Memorandum tersebut ditekankan perlunya “kesamaan agama” dalam
perkawinan bagi muslimah . Ditegaskan pula: “Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan
kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya kepada Allah bagi setiap
muslim, dan kesamaan agama bagi setiap muslimat.” Jika dilacak lebih jauh maka penerimaan
paham pluralisme agama berarti penerimaan agama lain sebagai sama benarnya dengan Islam.
Malangnya, gagasan ini mendapat sambutan yang positif dari sekolompok cendekiawan Muslim
yang didukung oleh universtias Paramadina. Buku yang berjudul Fiqih Lintas Agama yang
diterbitkan oleh Yayasan Paramadina adalah hasil dari pemikiran pluralisme agama yang
disebarkan Barat. Islam mengakui adanya pluralitas agama (keberagaman agama) tapi menolak
ide pluralisme agama (kesatuan agama-agama).[30]

d). Penyebaran doktrin relativisme

Doktrin relativisme mulanya berasal dari Protagoras, seorang Sofis yang berprinsip bahwa
manusia adalah ukuran segala sesuatu. (man is the measur of all things). Doktrin ini berpegang
pada prinsip bahwa kebenaran itu sendiri adalah relatif terhadap pendirian subyek yang
memutuskan. Relativisme juga dianggap sebagai doktrin global tentang semua ilmu
pengetahuan. Disini aspek-aspek sang subyek yang menentukan apa makna kebenaran itu,
dapat dipengaruhi oleh latar belakang sejarah, kultural, sosial, linguistik, psikologis.[31] Dengan
tersebarnya doktrin ini tidak sedikit cendekiawan Muslim yang lalu berkesimpulan bahwa
manusia tidak ada yang tahu kebenaran, yang tahu hanya Allah. Bahkan wahyu yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah kalam Allah yang absolut, tapi ucapan Nabi sebagai
manusia yang relatif. Doktrin relativisme ini juga berkaitan dengan doktrin sofisme yang
mempunyai implikasi yang dalam terhadap epistemologi Islam. Jika doktrin ini diterima oleh
seorang Muslim maka struktrur ilmu pengetahuan dalam Islam dan bahkan agama Islam itu
sendiri sudah tidak ada artinya apa-apa lagi, karena semua relatif. Beragama menjadi sia-sia
belaka, karena tidak ada kebenaran yang pasti yang bisa dipegang. Dengan berpegang pada
doktrin ini maka umat Islam tidak lagi masalah apakah mengikuti cara berfikir Islam atau Barat
yang sekuler dan liberal.

e). Disseminasi paham dan kepercayaan masyarakat Barat yang terdiri dari prinsip-prinsip
kebebasan (liberalisme), persamaan, feminisme (kesetaraan gender), individualisme, demokrasi
dan lain-lain. Paham dan kepercayaan ini di adopsi secara amatiran (baca sesuka hati) tanpa
proses epistemologi yang jelas kedalam alam pikiran keagamaan Islam. Hasil dari usaha ini
sudah tentu kerancuan pemikiran dan ketidakjelasan struktur konsepnya.

Kesimpulan

Masalah pemikiran adalah masalah yang berkaitan dengan ilmu, dan masalah ilmu berkaitan
dengan ibadah. Jika terjadi kerancuan pemikiran maka mengkounter atau meng-islah
permikiran tersebut adalah termasuk dalam bab ibadah. Kerancuan pemikiran yang disebabkan
oleh masuknya anasir peradaban di luar Islam bukan terjadi pada masa sekarang saja, tapi sejak
periode awal peradaban Islam bangkit dan berkembang. Dalam situasi perang pemikiran seperti
ini Islam sebagai agama yang shâlih likulli zaman wa makân telah memiliki mekanisme
tersendiri untuk merespon. Namun perlu diingat bahwa perang pemikiran memerlukan rentang
waktu yang lebih lama, ia bahkan boleh jadi berlangsung sepanjang satu atau beberapa
generasi. Maka dari itu dalam perang pemikiran yang dipicu oleh globalisasi dan westernisasi ini
umat Islam tidak perlu membawanya kepada peperangan fisik. Apa yang harus dilakukan umat
Islam sebaiknya bersifat institusional dan secara praktis dapat diperincikan sbb:
1. Menanamkan kesadaran di kalangan umat Islam dan sekaligus menunjukkan bukti-bukti
ilmiah bahwa paham-paham dari peradaban Barat yang berupa sekulerisme, liberalisme,
feminisme, pluralisme agama, relativisme dsb. yang saat ini sedang melanda dunia Islam tidak
sesuai dan bertentangan dengan pandangan hidup Islam.

2. Memperluas tradisi dan materi bahts al-masa’il secara mendalam dan kritis (bukan asal
‘ngikut) dari pemikiran para ulama di masa lalu dalam berbagai bidang, kepada pemikiran-
pemikiran orientalis dan kalau mungkin pemikiran Barat secara umum yang menjadi
tantangannya.

3. Semua lembaga umat Islam, baik pendidikan, dakwah, ekonomi dan lain-lain perlu
memikirkan secara serius langkah kaderisasi umat dalam bidang agama, agar 20 tahun yang
akan datang di Indonesia nanti tidak akan ada lagi cendekiawan Muslim yang berfikir dalam
framework Barat sehingga justru menghujat Islam dan ulama’nya.

4. Badan-badan usaha umat Islam dan juga pengusaha-pengusaha Muslim perlu ikut
berjuang dengan hartanya untuk mendukung langkah-langkah yang diambil oleh lembaga
pendidikan dan lembaga dakwah Islam.

Akhirul kalam, perlu disadari bahwa pemikiran mempunyai peran penting dalam pembangunan
peradaban Islam, sebab dalam Islam pemikiran selalu mendahului perilaku individu, ilmu selalu
mendahului amal. Rusaknya amal disebabkan oleh rusaknya ilmu. Ilmu tanpa amal adalah gila
dan amal tanpa ilmu adalah sombong (al-Ghazzali). Amal tanpa ilmu lebih cenderung merusak
daripada memperbaiki. Oleh sebab itu dalam menghadapi perang pemikiran prioritas utama
perlu diberikan kepada peningkatan ilmu pengetahuan Muslim dalam berbagai bidang ilmu
agama. Tradisi keilmuan yang dikembangkan dari pandangan hidup Islam yang bersumber dari
al-Qur’an, Sunnah, dan warisan tradisi intelektual Islam perlu terus dipertahankan dan
dikembangkan. Wallâhu al-musta’ân.

Catatan kaki :

[1] Disampaikan pada acara Workshop Pemikiran Islam kerjasama antara Kesatuan Aksi
Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), International Institute of Islamic Thought and
Civilization-International Islamic University Malaysia/ISTAC-IIUM dan Institute for the study of
Islamic Thought and Civilization (INSISTS) pada tahun 2005; tema: Mencari Akar Epistemologi.

[2] Penulis adalah Dosen ISID Pondok Modern Gontor, Direktur Centre of Islamic and
Oxidentalism Studies (CIOS) ISID Gontor, Direktur INSISTS Jakarta, Pemred Majalah Islamia,
menulis tentang pemikiran keagamaan di berbagai media massa.

[3] Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam and Secularism, ISTAC, 1993, hlm 134.
[4]Ronald Inglehart and Pippa Norris, The True Clash of Civilization, dalam
http://www.keepmedia.com/pubs/
ForeignPolicy/2003/03/01/6424/?extID=10047&data=samuel_huntington

[5] http://www.newyorker.com/critics/books/?040517crbo_books

[6] Ronald et al, The True Clash of Civilization, Ibid

[7] Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford, Oxford University Press, 1996,
v.s. liberalism

[8] Coady, C. A. J. Distributive Justice, A Companion to Contemporary Political Philosophy,


editors Goodin, Robert E. and Pettit, Philip. Blackwell Publishing, 1995, hl.440.

[9] Chandran Kukathas, The Many and the One: Pluralism in the Modern World, Richard
Madsen and Tracy B. Strong, editors, 2003, p. 61

[10] The New Encyclopedia of Britanica, University of Chocago, 1991, vol. 11, hal. 693

[11] Http://uk.search.yahoo.com/search origin of religious liberalism

*12+ Nicholas F. Gier, “Religious Liberalism and The Founding Fathers”, dalam Peter Caws, ed.
Two Centuries of Philosophy in America, (Oxford: Basil Blackwell Publishers, 1980), pp. 22-45.

[13] Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Avon Book, New York, 1992, hal
64.. Aslinya:”Indeed, the Islamic world would seem more vulnerable to liberal ideas in the long
run than the reverse, since such liberalism has attracted numerous and powerful Muslim
adherent over the past century and a half. Part of the the reason for current, fundamentalist
revival is the stregth of the perceived threat from liberal, Western values to traditional Islamic
societies.

[14] Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Avon Book, New York, 1992, hal
45-46.

[15] Samuel P. Huntington, If Not Civilizations, What? Samuel Huntington Responds to His
Critics, dalam http://www.foreignaffairs.org/author/Samuel-p-huntington/index.html

[16] Samuel P. Huntington, If Not Civilizations, What? Samuel Huntington Responds to His
Critics, dalam http://www.foreignaffairs.org/author/Samuel-p-huntington/index.html

[17] Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, 1985, hal. 26.

[18] Ali Gharisah, Wajah Dunia Islam Kontemporer, Pustaka Al Kautsar, 1989, hal. 41
[19] Lihat dalam Maryam Jameela, Islam dan Orientalisme, 1994, hal 8-9, 51-52.

[20] M. Watt, Muhammad at Mecca, Edinburgh University Press, Edinbrugh, 1960, 103; Lebih
detail lagi tentang kajian orientalis terhadap al-Qur’an tulisan dapat dibaca kajian Adnin Armas
berjudul Metodologi Orientalis Dalam Studi al-Qur’an. Gema Insani Press, 2004.

[21] Lihat Dr. Afaf, al-MushtashrikËn wa Mushkilat al-×aÌÉrah, Dar al-NahÌah al-‘Arabiyyah,
Cairo, 1980, hal. 33-34.

*22+ Lihat Tibawi, “A Critique of Their Approach to Islam and Arab Nationalism”, dalam The
Islamic Quarterly, London 1964, vol. VIII, no. 1-2, hal. 41.

[23] Lihat Edward Said, Orientalism, New York: Vintage, 1979, 1-3,5.

[24] Perlu dicatat dalam beberapa kasus nama-nama dan bidang kepakaran orientalis terkadang
bertumpang tindih (overlap), ada yang menguasai lebih dari satu bidang.

*25+ Keith Windschuttle “Edward Said’s Orientalism revisited” The New Criterion Vol. 17, No. 5,
January 1999, hal. 5

[26] Cheryl Bernard adalah sosiologis yang pernah menulis novel-novel feminis yang
memojokkan ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya
diambil dari pemahaman yang salah terhadap al-Qur’an, dan merupakan simbol pemaksanaan
dan intimidasi. Suaminya adalah Zalmay Khalilzad, blasteran Afghan-Amerika yang menjadi
asisten khusus Presiden George W Bush dan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National
Security Council (NSC) khusus untuk teluk Persia dan Asia Barat-Daya. Selain itu ia pada tahun
1980 bekerja dibawah Paul Wolfowitz pada Policy Planning Council. Pada saat terjadi perang
terhadap Iraq tahun 1991, Zalmay menjadi sekretaris menteri pertahanan.

[27] Cheryl Benard , Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, RAND, National
Security Research Division, the RAND Corporation, 2003, hal 53.

[28] Lihat http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html

[29] Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford University Press, Oxford, lihat
“Pluralism”.

[30] Untuk lebih jelas tentang kerancuan paham Pluralisme agama ini baca majalah ISLAMIA,
edisi 3, September-November, 2004

[31] Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford University Press, 1996, s.v.
relativism