Pencemaran Lingkungan di Kalimantan Barat Oleh : Andreas AEP (H14107013) Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang

terletak di Pulau Kalimantan dan beribukotakan Pontianak. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Sebagai provinsi yang geografisnya terletak di garis khatulistiwa dan beriklim tropis serta topografi yang luas, perkembangan sektor perkebunan di Kalimantan barat dari tahun ketahun memang mengalami peningkatan, dalam skala perkebunan besar, produksi terbesar adalah tanaman kelapa sawit, dan untuk perkebunan rakyat, karet adalah komoditas utama yang menjadi primadona. Hasil-hasil dari perkebunan ini lah menjadi salah satu tulang punggung masyarakat dan perusahaan pengelolanya untuk menghasilkan keuntungan dengan menjualnya baik melalui pasar domestik maupun global. Karet dan kelapa sawit merupakan bentuk usaha yang dipilih karena hasil yang sangat menjanjikan. Sekitar 60% lahan yang ada di Kalimantan Barat kini telah beralihfungsi menjadi perkebunan. Pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 memang terdapat reaksi dengan kecenderungan menurunnya beberapa harga komoditas perkebunan, harga minyak sawit mentah (CPO) bahkan sempat turun sampai 67% dalam lima bulan demikian juga karet (kompas online). Kebun kelapa sawit sampai Oktober 2010 sudah mencapai 592,000 ha. Kebun-kebun tersebut sebagian dibangun di hutan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan. Hal tersebut tentunya berdampak langsung terhadap lingkungan. Proses produksi yang berlangsung menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan baik sektor udara, air maupun tanah. Berbagai kejadian mengenai pencemara lingkungan oleh limbah perusahaan terjadi di Kalimantan Barat. Selain sektor perkebunan, pertambangan juga merupakan sektor yang ambil bagian dalam pencemaran lingkungan yang terjadi di Kalimantan Barat. Sungai di Kalimantan Barat menjadi objek pencemaran yang paling sering terjadi akibat limbah buangan pabrik. Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan. Berbagai kasus pencemaran terjadi di beberapa sungai yang terdapat di Kalimantan Barat. Barubaru ini sungai Pawan yang terdapat di Kabupaten Ketapang tercemar oleh CPO (Crude Palm Oil) (Harian Tribun Pontianak, edisi 27 Maret 2011). Sebanyak ± 200 ton minyak sawit mentah tersebut tumpah dari kapal pengangkut pada hari Jumat, 23 Maret 2011. Tumpahan CPO meluber hingga radius 250 meter ke hulu dan hilir sungai, dengan ketebalan mencapai lima sentimeter di atas permukaan air mengakibatkan aktivitas disekitar tumpahan minyak menjadi terganggu. Sungai Sengaret, Kecamatan Parindu, Kabupate Sanggau juga mengalami pencemaran akibat limbah dari perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Sime Indo Agro (PT SIA) merembes ke Sungai Sengaret. Limbah sawit tersebut meluber ke sungai Sengaret akibat tidak mampunya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menampung limbah hasil produksi kelapa Sawit. Akibatnya sepanjang sungai Sengaret tercemar. Namun sayangnya, kasus tersebut selesai begitu saja secara adat dan belum ada tindak lanjut secara hukum dan undang-undang yang berlaku hingga kini (Tribun Pontianak, 2 maret 2011).

Melihat fakta-fakta pencemaran yang terjadi di Kalimantan Barat. Dari penelitian Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak pertengahan 2008 di hulu Sungai Kapuas. tampak bahwa sungai dengan panjang 1. Pemerintah Provinsi Kalbar berupaya meminimalisasi pencemaran tersebut dengan merancang peraturan daerah tentang standardisasi kualitas air sungai. Peran serta masyarakat juga sangat diperlukan untuk mendukung kinerja pemerintah. Kesimpulan itu didapat setelah Kantor Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak melakukan penelitian dua tahun berturut-turut pada 2010 dan 2011. dan kakus). 22 Januari 2011). Pencemaran berbagai zat kimia berbahaya di Sungai Kapuas di Kalimantan Barat sudah terjadi mulai bagian hulu hingga hilir sungai. Sistem pengolahan ataupun pembuangan limbah dianggap tidak memadai. bakteri coli. sedangkan sungai tersebut sangat vital bagi mereka. dan kakus (MCK) dilakukan para warga di sungai tersebut. otomatis memiliki izin lingkungan atau pengolahan limbah (Kalbar Online. Hal tersebut sudah lama dikeluhkan oleh masyarakat di sekitar lokasi pabrik.com. Masyarakat sekitar pabrik mengadu ke instansi terkait. Kecamatan Sungai Ambawang mengalami permasalahan terhadap penolahan limbahnya. 28 Oktober terbukti melakukan pencemaran terhadap parit dan sungai di sekitarnya. Baru-baru ini pabrik tahu yang terdapat di Jl. bahkan untuk keperluan MCK (mandi. Udara juga tidak lepas dari gangguan pencemaran. di Kabupaten Sintang dan Sekadau. Selasa (16/9). dengan mengambil sampel air parit Sungai Jawi. Untuk itu. limbah yang dialirkan ke sungai berbau dan masih berbusa dengan warna dan keruhnya seperti air selokan (Pontianak Post. 10 Maret 2011). Star Rubber di Desa Jawa Tengah. cuci. Air parit Sungai Jawi sudah tidak layak dikonsumsi. Pencemaran terjadi karena masih banyak usaha-usaha rumahan yang belum mengantongi izin lingkungan. Sungai Kapuas tak hanya tercemari zat kimia merkuri. Limbah hasil produksi tahu dibuang begitu saja tanpa pengolahan. cuci.Sungai Ambawang di kabupaten Pontianak juga tidak lepas dari permasalah limbah. dan ada juga indikasi tercemar pestisida dari perkebunan. edisi 30 Maret 2011). Selain pencemaran terhadap air. Namun dari hasil pemantauan instansi terkait. Kota Pontianak sendiri merupakan kota dengan tingkat pencemaran yang cukup tinggi. Banyak perusahaan sudah melewati uji kelayakan dan lolos analisis dampak lingkungan. Pencemaran air parit yang mengaliri sebagian wilayah Kecamatan Pontianak Barat dan Pontianak Kota. itu berada di atas ambang baku mutu. seharusnya pihak pemerintah bersama instansi terkati dapat belajar dan berusaha meminimalisir pencemaranpencemaran yang terjadi. Salah satu perusahaan karet bernama PT. 17 September 2008). limbah dari kegiatan langsung dibuang ke Sungai Malaya. Penerapan undang-undang lingkungan hidup serta penegakan hukum yang berlaku sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan pencemaran.086 kilometer itu secara kimiawi dan biologis sudah tercemar (Kompas. Kegiatan mandi. tetapi juga limbah pabrik. terjadi juga pencemaran suara akibat operasional genset. Kasusnya sangat jauh dan berbeda dengan beberapa perusahaan karet lain di Kubu Raya. Pada tahun ini penelitian dilakukan pagi tadi. Berbeda dengan industri kecil yang telah memiliki legalitas formal. <end> . Asap dan debu dari proses produksi tahu menyebabkan udara tercemar karena tidak adanya proses pengolahan yang sesuai dengan standar pengolahan hasil buangan produksi (Tribun Pontianak. kata Ketua Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kalbar Tri Budiarto di Pontianak.

akses 3 April 2011 Harian Tribun Pontianak. edisi 27 Maret 2011 Harian Tribun Pontianak.id/ .hingga.hilir .com/news/ekalbar/kota-pontianak/parah-pencemaran-air-parit-sungai-jawi http://www.Sumber : BPS Kalimantan Barat.tribunnews.dar i. http://kalbar.infogue.hulu.com/read/xml/2008/09/17/10331232/pencemaran.kompas. edisi 2 Maret 2011 Harian Tribun Pontianak.di.2010.com/viewstory/2008/09/17/pencemaran_di_kapuas_dari_hulu_hingga_hilir/ ?url=http://www. Available at Google.go.bps. edisi 30 Maret 2011 http://pontianak.com/read/artikel/20277/pt-sia-mengaku-cemari-sungai http://kalbar-online.kapuas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful