Anda di halaman 1dari 7

Hukum Bouguer ( Lambert)

Hubungan antara absorbsi radiasi dan panjang jalan medium penyerap pertama kali
dirumuskan oleh Bouguer (1729) meskipun kadang-kadang dianggap berasal dari Lambert
(Underwood;1998). Bila sebuah medium penyerap yang homogen seperti larutan kimia dibagi
menjadi lapisan-lapisan maya masing-masing dengan ketebalan sama, maka tiap-tiap lapisan
akan menyerap bagian yang sama dari suatu sinar radiasi monokromatik yang diarahkan
melewati medium tersebut atau tiap lapisan mengurangi tenaga radiasi sinar dengan bagian
yang sama.

Penemuan Bouguer dapat dirumuskan secara matematik sebagai berikut :

-dP/db = k1P

Bila persamaan tersebut diintegrasikan antara batas-batas p0 dan p dan 0 dan b akan
menghasilkan persamaan :

log P0/P = k2b

Hukum Beer

Hubungan antara konsentrasi macam-macam zat penyerap dan besarnya absorpsi


dirumuskan oleh Beer pada tahun 1859. Hukum Beer analog dengan Hukum Buoguer dalam
menguraikan pengurangan eksponensial dalam tenaga transmisi dengan suatu peningkatan
aritmatik dalam konsentrasi.

-dP/db = k3P

log P0/P = k4c

Hukum Gabungan Bouguer – Beer

Hukum-hukum Bouguer dan Beer bila digabung akan menghasilkan suatu persamaan:

log P0/P = f(c)b = Kbc

log P0/P = f(b)c = Kbc

Istilah log (po/p) dinamakan absorbansi dan diberi tanda A. Sedangkan b, c dan k
berturut-turut merupakan panjang jalan lewat medium penyerap. Konsentrasi zat penyerap
dan tetapan. Bila konsentrasi (c) dalam satuan gram per liter maka tetapan tersebut disebut
absorptivitas dengan tanda a. Apabila c dengan satuan mol per liter, tetapan disebut
absorptivitas molar dengan tanda є. Maka sistem disarankan, hukum Bouguer – Beer dapat
berupa dua bentuk :

A = a b c atau A= є b c
Dimana : A = absorbansi

a = absorpsivitas

b = panjang jalan sinar

c = konsentrasi

Karena a dan b tetap maka terdapat hubungan yang linear antara A (absorbans) versus c
(konsntrasi).

Beberapa Istilah Dalam Spektrofotometri

Absorbans (A) , A = log (Po/P)

Absorptivitas (a), tetapan dalam Hukum Bouguer-Beer bila konsentrasi dinyatakan dalam
%b/v dan tebal kuvet dalam cm. Dengan satuan liter per gram per sentimeter.

Absorptivitas molar (ε), tetapan dalam Hukum Bouguer-Beer bila konsentrasi dinyatakan
dalam molar dan tebal kuvet dalam cm. Dengan satuan liter per mol per sentimeter.

Transmitan (T), fraksi dari daya radiasi yang diteruskan oleh suatu sampel T = P/Po. Sering
dinyatakan sebagai suatu persentase : %T = (P/Po) x 100%.

INSTRUMENTASI UNTUK SPEKFOTOMETRI

Dalam fisika, spektrofotometri adalah studi kuantitatif spektra elektromagnetik. Hal


ini lebih spesifik daripada spektroskopi elektromagnetik istilah umum dalam spektrofotometri
berkaitan dengan cahaya, dekat-ultraviolet, dan dekat-inframerah. Juga, istilah ini tidak
meliputi waktu-teknik spektroskopi diselesaikan.

Spektrofotometri melibatkan penggunaan spektrofotometer. Sebuah Spektrofotometer


adalah Photometer (alat untuk mengukur intensitas cahaya) yang dapat mengukur intensitas
sebagai fungsi dari warna (atau lebih spesifik panjang gelombang) cahaya. Fitur penting
spektrofotometer adalah spektral linier bandwidth dan pengukuran penyerapan.
Spektrofotometer adalah suatu instrumen untuk mengukur transmitan / absorbans suatu
sampel sebagai fungsi panjang gelombang, pengukuran terhadap sederetan sampel pada suatu
panjang gelombang tunggal. Komponen utama dari spektrofotometer dapat dilihat pada
gambar sebagai berikut :
Diagram komponen utama spektrofotometer.

Mungkin penerapan paling umum adalah pengukuran spektrofotometer cahaya


penyerapan, tetapi mereka dapat dirancang untuk mengukur berdifusi atau specular
reflectance. [Klarifikasi diperlukan] Strictly, bahkan setengah emisi instrumen pendaran
adalah semacam Spektrofotometer.

Penggunaan spektrofotometer tidak terbatas pada studi dalam fisika. Mereka juga
sering digunakan dalam bidang ilmiah lain seperti kimia, biokimia, dan biologi molekular.
Mereka banyak digunakan di banyak industri termasuk pencetakan dan pemeriksaan forensik.

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer
dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang
tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang
diabsorpsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi
tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.

Kelebihan spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari


sinar putih lebih dapat terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating
ataupun celah optis. Pada fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan
diperoleh dengan berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan
trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang
gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-
40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi
dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer
tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk
larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel
dan blangko ataupun pembanding (Khopkar SM,1990).

a. Spektrofotometer Berkas Tunggal

Spektrofotometer berkas tunggal mengukur intensitas cahaya relatif berkas sebelum


dan sesudah pengujian sampel dimasukkan.
Komponen dari suatu spektrofotometer berkas tunggal:

1. Sumber

Suatu sumber energy cahaya yang berkesinambungan yang meliputi daerah


spectrum dimana instrument itu dirancang untuk beroperasi. sumber energy
cahaya yang biasa untuk daerah tampak dari spectrum itu maupun daerah ultraviolet
dekat dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat ranbut terbuat
dari wolfram. Pada kondisi operasi biasa, keluaran lampu wolfram ini memadai dari
sekitar 235 atau 350 nm ke sekitar 3 µm. energy yang dipancarkan olah kawat yang
dipanaskan itu beraneka ragam menurut panjang gelombangnya. Panas dari lampu
wolfram dapat merepotkan; sringkali rumah lampu itu diselubungi air atau
didinginkan dengan suatu penghembus angin untuk mencegah agar sampel ataupun
komponen lain dari instrument itu menjadi hangat.

2. Suatu monokromator
yakni suatu piranti untuk mengecilkan pita sempit panjang-panjang
gelombang dari spectrum lebar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Ini
adalah piranti optis untuk memencilkan suatu berkas radiasi dari sumber
berkesinambungan, berkas mana mempunyai kemurnian spectral yang tinggi dengan
panjang gelombang yang diinginkan. Radiasi dari sumber difokuskan ke celah masuk,
kemudian disejajarkan oleh sebuah lensa atau cermin sehingga suatu berkas sejajar
jatuh ke unsure pendispersi, yang berupa prisma atau suatu kisi difraksi. Dengan
memutar prisma atau kisi itu secara mekanis, aneka porsi spectrum yang dihasilkan
oleh insur disperse dipusatkan pada celah keluar, dari situ, lewat jalan optis lebih jauh,
porsi-porsi itu menjumpai sampel.

3. Suatu wadah sampel (kuvet)


kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan dan karenanyan kebanyakan wadah
sampel adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel
itu haruslah meneruskan energy cahaya dalam daerah spektral yang diminati: jadi sel
kaca melayani daerah tampak, sel kuarsa atau kaca silica tinggi istimewa untuk daerah
ultraviolet. Dalam instrument, tabung reaksi silindris kadang-kadang diginakan
sebagai wadah sampel. Penting bahwa tabung-tabung semacam itu diletakkan secara
reprodusibel dengan membubuhkan tanda pada salah satu sisi tabunga dan tanda itu
selalu tetaparahnya tiap kali ditaruh dalam instrument. Sel-sel lebih baik bila
permukaan optisnya datar. Sel-sel harus diisi sedemikian rupa sehingga berkas cahaya
menembus larutan, dengan meniscus terletak seluruhnya diatas berkas. Umumnya sel-
sel ditahan pada posisinya dengan desain kinematik dari pemegangnya atau dengan
jepitan berpegas yang memastikan bahwa posisi tabung dalam ruang sel (dari)
instrument itu reprodusibel

4. Suatu detector
yang berupa transduser yang mengubah energy cahaya menjadi suatu isyarat
listrik. Detector dapat memberikan respons terhadap radiasi pada berbagai panjang
gelombang Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom.
Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan
ultra-violet. Banyak senyawa-senyawa organik menyerap sinar UV dari beberapa
panjang gelombang. Jika anda menyinarkan sinar UV pada larutan yang keluar
melalui kolom dan sebuah detektor pada sisi yang berlawanan, anda akan
mendapatkan pembacaan langsung berapa besar sinar yang diserap. Jumlah cahaya
yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui
berkas pada waktu itu. Anda akan heran mengapa pelarut yang digunakan tidak
mengabsorbsi sinar UV. Pelarut menyerapnya! Tetapi berbeda, senyawa-senyawa
akan menyerap dengan sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV.
Misalnya, metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada
gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran metanol-air sebagai
pelarut, anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang yang lebih besar dari 205
nm untuk mencegah pembacaan yang salah dari pelarut.

5. Suatu system baca (piranti pembaca)


yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam bentuk %
Transmitan (% T) maupun Adsorbansi (A). Signal listrik dari detektor yang telah
mengalami penguatan direkam sebagai spektrum yang berbentuk puncak-puncak

b. Spektrofotometer Berkas Rangkap

Spektrofotometer perekam yang mengalurkan secara automatis absorbans suatu


sampel sebagai fungsi panjang gelombang selalu berupa instrument berkas rangkap.
Spektrofotometer berkas ganda membandingkan intensitas cahaya lampu antara dua jalur, satu
jalur berisi referensi sampel dan pengujian sampel lainnya.

Meskipun perbandingan pengukuran dari instrumen balok ganda lebih mudah dan
lebih stabil, instrumen berkas tunggal dapat memiliki jangkauan dinamis yang lebih besar dan
optis lebih sederhana dan lebih kompak.

Singkatnya, urutan peristiwa dalam Spektrofotometer adalah sebagai berikut:

1. Sumber cahaya bersinar menjadi monochromator.


2. Sebuah panjang gelombang output tertentu dipilih dan berseri-seri pada sampel.
3. Sampel menyerap cahaya.
4. Sensor cahaya di belakang para sampel menanggapi rangsangan cahaya dan output
arus elektronik analog yang dikonversikan ke format yang dapat digunakan.
5. Angka-angka tersebut baik langsung diplot, atau diberi makan ke komputer yang dapat
dimanipulasi (misalnya kurva smoothing, dasar koreksi dan coversion untuk serap,
fungsi log cahaya pengiriman melalui sampel)

Banyak spektrofotometer harus dikalibrasi oleh suatu prosedur yang dikenal sebagai
“zeroing.” The serap dari zat referensi ditetapkan sebagai nilai dasar, sehingga semua
absorbencies zat lain dicatat relatif terhadap awal “membidik” substansi. The
Spektrofotometer kemudian menampilkan% serap (jumlah cahaya yang diserap relatif
terhadap zat awal).
GALAT DALAM SPEKTROFOTOMETRI

Galat dalam spektofotometri dapat timbul dari sejumlah sebab, beberapa diantaranya
telah diduga dalam pembahasan mengenai instrumentasi tersebut diatas. Banyak yang dapat
dilawan dengan keseksamaan dan akal sehat. Sel sampel harus bersih. Beberapa zat (misalnya
protein) kadang-kadang menempel dengan sangat kuat pada sel dan sukar dicuci bersih. Bekas
jari dapat menyerap radiasi ultraviolet. Penempatan sel dalam berkas haruslah dapat diulang
(reprodusibel). Gelembung gas tidak boleh ada dalam jalan optis. Kalibrasi panjang
gelombang instrument hendaknya kadang-kadang diperiksa dari hanyutan (drift) atau
ketidakstabilan dalam rangkaian harus dikoreksi. Tidak boleh diandaikan bahwa hukum
Bouger-Beer berlaku untuk system kimia yang belum teruji. Ketakstabilan sampel dapat
menimbulkan galat jika pengukuran tidak ditentukan waktunya dengan seksama.

Konsentrasi spesies penyerap sangat penting dalam menetapkan galat setelah semua
galat lain yang dapat dikendalikan itu diminimalkan. Secara instuitif masuk akal bahwa
larutan yang akan diukur tidak boleh menyerap praktis smeua radiasi atau hamper tidak
menyerap apapun. Maka kita dapat mengharapkan bahwa galat dalam menetapkan konsentrasi
secara spektrofotometri akan minimal pada suatu nilai absorbans ditengah-tengah, yang jauh
dari kedua ujung skala. Suatu rumus dapat diturunkan dari hukum Bouger-Beer yang
menunjukkan dimana terdapat galat minimal.

Ingat bahwa rumus A = log (P0/P) = εbc. Ditetapkan P0 = 1, yang berpadanan dengan
operasi nyata yang lazim dari penyetelan isntrumen ke 100% T, atau nol absorbans dengan
larutan pembanding ada dalam berkas cahaya. Minimum dalam dc/c akan terjadi bila A x 10 -A
bernilai maksimum, diproses hingga terdapat hasil absorbans A = 0,43 atau 36,8% trasmitans.

Faktor dP dalam persamaan diatas, dengan mengikut praktek yang lazim dalam
kalkulus, dapat diambil sebagai pendekatan dari deltaP, galat dalam P. Seringkali ini disebut
galat fotometrik, dan untuk maksud kita semata-mata menyatakan ketidakpastian dalam
membaca skala instrument. Ketidakpastian ini dianggap tetap dalam pembahasan sekarang
ini. Untuk menemukan galat relative konsentrasi sebagai fingsi fotometrik pada konsentrasi
yang optimal, masukkan 0,43 sebagai ganti A dalam persamaan untuk dc/c sehinga didapat
dc/c = -2,72dP

Jadi jika dibuat galat 1% dalam pembacaan instrument, maka galat relative dalam c
paling baik adalah 2,72%l dengannilai absorbans di atas dan dibawah 0,43, galat itu akan
lebih besar dari 2,72%. Galat fotometrik dapat berjangka dari 0,1% ke beberapa persen,
bergantung pada instrument yang digunakan. Galat relative dari konsentrasi yang diakibatkan
oleh galat fotometrik 1% dalurkan terhadap transmitans persen. Galat tertentu dalam
mengukur % transmitans akan mengakibatkan galat delta c yang kecil dalam konsentrasi ada
konsentrasi yang sangat rendah karena kurva % transmitans sangatlah curam. Namun dimana
c sangat kecil, galat c yang kecil akan memberikan galat mutlak dari c yang jauh lebih besar
karena kurva %T lawan c jauh lebih datar. Pada daerah diantara keduanya, akan terdapat titik
dimana kedua efek ini bertemu dan memberikan galat relative delta c/c yang minimal.
Kebetulan ini terjadi pada 36,8%.

Diandaikan bahwa galat dalam mengukur transmitans itu konstan, tak-bergantung


pada nilai transmitans; galat itu dianggap seluruhnya timbul dari ketidakpastia dalam
membaca skala instrument. Sebaliknya dalam beberapa dari instrument modern yang terbaik,
factor pembatas kecermatan terletak di lain tempat, biasanya dalam tingkat bisingan rangkaian
detector. Dalam kasus-kasus semacam itu, dP tidaklah konstan dan diperoleh fungsi galat
yang berbeda, yang bernilai minimal tidak pada 36,8%melainkan pada nilai T yanglebih
rendah.Sebenarnya dengan suatu instrument yang rumitpun sukar untuk memutuskan factor
mana yang membatasi kecermatan. Jadi bagaimana dP akan berubah dengan perubahan P
mungkin tidak jelas dan mungkin tidak syah untukmenghitung nilai % T yang berpadanan
dengan galat minimal.