Anda di halaman 1dari 2

Laringitis Kronis

Last Updated Tuesday, 28 October 2008 01:03

Laringitis merupakan peradangan pada laring yang dapat menyebabkan suara parau. Pada
peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan menebal dan kadang-kadang pada
pemeriksaan patologik terdapat metaplasi skuamosa. Laringitis kronik adalah proses inflamasi
pada mukosa pita suara dan laring yang terjadi dalam jangka waktu lama. Laringitis kronik
terjadi karena pemaparan oleh penyebab yang terus menerus. Laringitis kronik dapat
dibedakan menjadi laryngitis kronik non spesifik dan laryngitis kronik spesifik ( laryngitis
tuberkulosa dan laryngitis luetika)
ETIOLOGI
Penyebab dari laryngitis kronik sering disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum yang
berat, polip hidung, bronchitis kronik atau tuberculosis paru. Penyebab tersering pada orang
dewasa  antara lain yaitu

1. Merokok; merokok dapat mengiritasi laring, dapat menyebabkan peradangan dan


penebalan pita suara
2. Alkoholik; alcohol dapat menyebabkan iritasi kimia pada laring.
3. Gastroesophageal reflux disease (GERD); GERD adalah suatu kelainan dimana asam
lambung naik kembali melalui esophagus dan tenggorokan, sehingga dapat menyebabkan
iritasi pada laring.
4. Pekerjaan yang terus menerus terpapar oleh debu dan bahan kimia; banyak
pekerja-pekerja pabrik yang menderita laryngitis kronik seperti pada pekerja pabrik pupuk,
pestisida.
5. Penggunaan suara yang berlebih.

    
PATOFISIOLOGI
Pada keadaan normal, plika vokalis membuka secara halus, membentuk suara melalui
pergerakan dan getaran. Dalam keadaan laryngitis, plika vokalis mengalami inflamasi dan iritasi
sehingga tekanan yang diperlukan untuk proses fonasi mengalami peningkatan, maka terjadi
kesulitan dalam memproduksi tekanan fonasi yang adekuat. Udara yang melewati kedua plika
vokalis yang mengalami edema menyebabkan suara yang dihasilkan mengalami distorsi,
sehingga hasil yang dikeluarkan menjadi parau. Bahkan pada beberapa kasus suara dapat
menjadi lemah atau bahkan tidak terdengar.

Pemeriksaan penunjang 
Laringoskopi direk, laringoskop indirek, laboratorium, foto rontgen torak, pemeriksaan patologi
anatomi

Diagnosis banding
Aktinomikosis laring, lupus vulgaris laring, nodul pita suara, keratosis laring, karsinoma laring

1/2
Laringitis Kronis
Last Updated Tuesday, 28 October 2008 01:03

PENATALAKSANAAN
Pada penderita laryngitis kronik yang disebabkan oleh peradangan yang terjadi di hidung, faring
serta bronkus maka diberikan pengobatan untuk mengobati peradangan tersebut. Pasien juga
diminta untuk tidak banyak bersuara. Pada laryngitis yang disebabkan oleh rokok, alkohol, asap
pabrik, penggunaan suara yang berlebih maka disarankan : Pasien diharapkan untuk berhenti
merokok, hentikan meminum alcohol, Gunakan masker, hindari minuman dingin, hindari makan
goring-gorengan, hindari makan pedas, hindari zat-zat penyebab, istirahat berbicara ( tidak
terlalu banyak bicara), kumur-kumur dengan air garam
Terapi Medikamentosa : Antibiotik, Antituberkulosa (laryngitis tuberkulosa) , Antasida, Obat
batuk jika terdapat batuk
Terapi Pembedahan : Pengangkatan sekuester (pada laryngitis luetika) dan trakeostomi bila
terjadi sumbatan laring

KOMPLIKASI
Pada laryngitis akibat peradangan yang terjadi dari daerah lain maka dapat terjadi inflamasi
yang progresif dan dapat menyebabkan kesulitan bernafas. Kesulitan bernafas ini dapat disertai
stridor baik pada periode inspirasi, ekspirasi atau keduanya.
Laringitis akibat merokok, laring tidak dapat sembuh dari edema. Hal ini menyebabkan laring
dan plika vokais berada dalam keadaan eritema dan edema akibat inflamasi. Edema yang
timbul dapat bervariasi mulai dari ringan hingga berat, hal ini mengakibatkan suara akan
menjadi parau, terkesan lebih berat atau kasar dan rendah.
Laringitis kronik akibat pemaparan yang lama dan berulang dapat menyebabkan terbentuknya
jaringan parut pada plika vokalis, penebalan plika vokalis, lesi pita vokalis dan dapat terjadi
parakeratosis atau hyperkeratosis.
Pada laryngitis luetika bila terjadi penyembuhan spontan dapat menyebabkan terjadinya
stenosis laring, karena terbentuknya jaringan parut.

2/2