Anda di halaman 1dari 53

Teknis Penyusunan APBD

dan KUA PPAS


RKPD

KUA PPAS

RKA-SKPD

R-APBD
Siklus Pengelolaan Keuangan Daerah
Perencanaan Pelaksanaan Penatausahaan Pertgjwban Pemeriksaan
RPJMD Rancangan Penatausahaan
DPA-SKPD Pendapatan
• Bendahara penerimaan
RKPD wajib menyetor Disusun Sesuai
penerimaannya ke SAP
rekening kas umum
Verifikasi daerah selambat-
KUA PPAS lambatnya 1 hari kerja

DPA-SKPD Penatausahaan
Nota Belanja
Kesepakatan Laporan
p Keuangan
g
• P
Penerbitan
bit SPM-UP,
SPM UP
SPM-GU, SPM-TU dan Pemerintah Daerah
Pelaksanaan APBD SPM-LS oleh Kepala
SKPD • LRA
Pedoman • Penerbitan SP2D oleh
• Neraca Laporan Keuangan
Penyusunan Pendapatan PPKD
• Lap. Arus Kas diperiksa oleh BPK
RKA-SKPD • CaLK
Belanja Penatausahaan
Pembiayaan
RKA-SKPD
• Dilakukan oleh PPKD
Pembiayaan

RAPBD Kekayaan dan Raperda


K
Kewajiban
jib daerah
d h Pertanggung
Pertanggung-
• Kas Umum jawaban APBD
Evaluasi Laporan Realisasi • Piutang
• Investasi
Raperda APBD Semester Pertama • Barang
oleh Gubernur/ • Dana Cadangan
Mendagri • Utang

Perubahan APBD Akuntansi


APBD Keuangan Daerah
• Evaluasi hasil pelaksanaan Kinerja Pembangunan
Daerah
• Rancangan kerangka ekonomi daerah
• Prioritas pembangunan dan kewajiban daerah
• Rencana kerja yang terukur dan pendanaannya, baik
yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah,
pemerintah daerah maupun ditempuh dengan
mendorong partisipasi masyarakat
PRINSIP DAN LINGKUP KUA DAN R-APBD

A. Perencanaan Sesuai Batas Kewenangan


g ((PP
No.38/2007--Penyempurnaan PP No.25/2000).
• Seluruh program dan kegiatan yang tercantum di
dalam KUA TA 2009 harus merupakan turunan
kewenangan KDH;
• Seluruh SKPD mengenali dan mengurai batas
kewenangan KDH dalam lingkup Tupoksi masing-
masing
masing SKPD;
• Pembiayaan atas program yang masuk dalam
li k kewenangan
lingkup k Pusat
P t dan
d Propinsi
P i i dilakukan
dil k k
melalui koordinasi dengan Pusat dan Propinsi
dalam rangka mencegah terjadinya duplikasi
program dan
d kkegiatan.
i
PRINSIP DAN LINGKUP KUA DAN R
R-APBD
APBD

B Pelaksanaan oleh SKPD sesuai dengan Tupoksi


B.
(PP No.41/2007--Penyempurnaan PP No.8/2003):
– Setiap SKPD merumuskan tugas pokok dan
fungsinya secara terukur untuk mencegah
tumpang-tindih
p g pprogram
g antar-SKPD;;
– Jika belum memiliki SOTK baru, Pemda dan
DPRD menyiapkan
y p kegiatan
g diskusi interaktif
tentang format dan struktur SOTK yang ideal,
yang akan dituntaskan dalam APBD 2009.
PRINSIP DAN LINGKUP KUA DAN R-APBD
C. Pelaporan kinerja yang terukur (PP No.8/2006 dan
PP No.3/2007):
• Setiap usulan rencana program harus diawali
dengan pernyataan masalah, diikuti dengan
rumusan kebijakan, program dan kegiatan serta
target kinerja yang terukur;
• Usulan rencana program mencantumkan kelompok
sasaran dan lokasi kegiatan;
• Untuk memudahkan DPRD dalam mengukur
kinerja dalam LKPJ-KDH, maka format
perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan
menggunakank matriks
t ik yang sama dan
d berurutan.
b t
Permendagri No.32/2008 tentang
P d
Pedoman P
Penyusunan APBD TA 2009.
2009

Pedoman penyusunan APBD TA 2010 meliputi:


a. Tantangan dan prioritas pembangunan tahun 2010;
b. Pokok-pokok kebijakan penyusunan APBD;
c. Teknis ppenyusunan
y APBD; dan
d. Hal-hal khusus lainnya.

 Terdiri dari 4 pasal


 Ditetapkan di Jakarta, 9 Juni 2009.
A. Tantangan dan Prioritas Pembangunan
2010
– Kemiskinan  ~50% provinsi di perdesaan;
– Pendidikan: usia 7-15 thn ada yg tdk sekolah;;
– Kesehatan: gizi rendah, penyakit menular, kendala jarak &
biaya, fasilitas.
– Kualitas
K lit pelayanan
l publik:
blik PPemahaman
h aparat,t penerapan
SPM, akses informasi & TI, sistem remunerasi,
kelembagaan, dll.
– Memantapkan desentralisasi, kualitas hub pusat-daerah,
daya tarik investasi, revitalisasi pertanian, pengamanan
pasokan bahan pokok,
pokok dll
dll.
– Daerah wajib menerapkan prinsip2: efisiensi, efektifitas,
transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi.
– Pengarusutamaan: partisipatif, gender, berkelanjutan, tata-
kelola, otoda, pemerataan antar-wilayah.
B. Pokok2 Kebijakan Penyusunan APBD
A. KEBIJAKAN PENDAPATAN DAERAH

1. Pendapatan
1 P d t Asli
A li Daerah
D h (PAD)
• Target PAD supaya memperhatikan:
– kondisi krisis ekonomipertumbuhan ekonomi, daya beli
masy.
– tidak menetapkan kebijakan yang memberatkan dunia usaha
dan masyarakat
y insentif,, ppenyederhanaan
y Sisdur.
• Tidak melakukan pungutan berdasar Perda yang telah
dibatalkan Pemerintah.
• P
Pemanfaatan
f t asett yang idle.
idl
• PAD dari PDAM?
• Penerimaan BLUD dicantumkan dalam APBD sbg jenis
pendapatan Lain-lain PAD yang Sah atau retribusi.
B. Pokok2 Kebijakan Penyusunan APBD

2. Dana Perimbangan
• Penetapan dana perimbangan: Oktober 2009  lihat
alokasi 2009, realisasi 2007-2008.
• Dana Bagi Hasil  Lebih rendah dari 2009 ( APBD-P
2010).
• Daerah yg tidak memiliki DAU (celah fiskal negatif): utk
belanja pegawai  PAD,
PAD DBH pajak/SDA
pajak/SDA, SiLPA TLTL.
• DBH Cukai Hasil Tembakau dialokasikan ke kab/kot
sesuai Kep. Gub. dan diarahkan utk melaksanakan hal2
yg berhub dg tembakau dan cukai.
B. Pokok2 Kebijakan Penyusunan APBD

3. Lain-lain Pendapatan
p Daerah yang
y g Sah
• Pakai pagu TA 2009;
• Bagian kab/kot yg belum terealisasi,
dianggarkan pada APBD-P 2010.
• Dana Darurat,, Dana Bencana Alam dan
Sumbangan Pihak Ketiga yang diterima oleh
pemerintah daerah  APBD-P 2010.
B. Pokok2 Kebijakan Penyusunan APBD
B. KEBIJAKAN BELANJA DAERAH

• Belanja Tidak Langsung


• Belanja
j Langsung
g g
Belanja Tidak Langsung

1. Belanja Pegawai
• A
Acress maksimum
ki 22,5%
5% dari
d i jumlah
j l h belanja
b l j pegawaii
(gaji pokok dan tunjangan): Untuk mengantisipasi
adanya kenaikan gaji berkala, tunjangan keluarga,
mutasii dan
d penambahan
b h PNSD;
PNSD
• Besarnya Gaji Pokok dan Tunjangan PNSD agar
disesuaikan dengan hasil rekonsiliasi jumlah pegawai
dan belanja pegawai yang sudah dilakukan dalam
rangka perhitungan DAU 2010 dan rencana kenaikan
yang ditetapkan pemerintah;
• Untuk mengantisipasi pengangkatan CPNSD,
diganggarkan belanja pegawai dalam APBD sesuai
d
dengan k b t h pengangkatan
kebutuhan k t CPNSD ddan
formasi pegawai tahun 2010;
1. Belanja
j Pegawai
g (Lanjutan)
j
• Anggaran tambahan penghasilan hanya
diperkenankan untuk PNSD/CPNSD dengan
pertimbangan:
– bbeban
b kkerja,
j
– prestasi kerja, kriteria dan besarannya
– kondisi kerja, dit t k dengan
ditetapkan d
peraturan kepala daerah.
– tempat bertugas, dan
– kelangkaan profesi.
bertahap dan berkesinambungan.
1. Belanja
j Pegawai
g (Lanjutan)
j
• Apabila
p daerah telah menganggarkan
g gg tambahan
penghasilan dalam bentuk uang makan, tidak
p
diperkenankan menganggarkan
g gg ppenyediaan
y
makanan dan minuman harian pegawai dalam
bentuk kegiatan.
g Lihat ppsl 39(7a) Permendagri
g
59/07.
• Biaya
y ppemungutan
g ppajak
j daerah maksimal 5% dari
target penerimaan pajak daerah  Asas bruto.
 menunggu RUU Pajak & Retribusi Daerah
2. Asuransi Kesehatan
• Penyediaan anggaran untuk penyelenggaraan asuransi
kesehatan agar berpedoman pada PP No.28/2003
No 28/2003 tentang
Subsidi dan luran Pemerintah dalam Penyelenggaraan
Asuransi Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil dan Penerima
P i serta
Pensiun t PB MMenkes
k dan
d M Mendagri
d iN No.
138/MENKES/PB/II/2009 No.12/2009 tentang Pedoman Tarif
Pelayanan Kesehatan bagi Peserta PT. Askes (Persero) dan
Anggota Keluarganya di Puskesmas, Balai Kesehatan
Masyarakat, dan di Rumah Sakit Daerah.
• Asuransi jiwa bagi PNSD atau yang sejenis tidak
diperkenankan dianggarkan dalam APBD  Kecuali
dinyatakan lain dalam peraturan per-UU-an.
per-UU-an
3. Belanja DPRD
Penganggaran penghasilan dan penerimaan lain Pimpinan
d Anggota
dan A t DPRD serta
t bbelanja
l j penunjang
j kkegiatan
i t hharus
didasarkan pada:
1 PP No.
1. No 24/2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan
Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,
sebagaimana telah diubah terakhir dengan PP No. 21/2007;
2. Permendagri No.21/2007 tentang Pengelompokan Kemampuan
Keuangan Daerah, Penganggaran dan Pertanggungjawaban
Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD
serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif
dan Dana Operasional.
4. Belanja Kepala Daerah dan Wakil
K
Kepala
l Daerah
D h
• Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
mempedomani ketentuan sebagai berikut:
– Penganggaran belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah
didasarkan pada PP No
No.109/2000
109/2000 tentang Kedudukan
Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
– Biaya penunjang Operasional sebagaimana dimaksud dalam
P l 9 ayatt (2) PP No.109/2000
Pasal N 109/2000 yang semulal ttertulis
t li "Biaya
"Bi
Penunjang Operasional Kepala Daerah Kabupaten/Kota"
termasuk didalamnya "Biaya Penunjang Operasional Wakil
K l Daerah
Kepala D h Kabupaten/Kota".
K b t /K t "
– Bagi daerah otonom baru penganggaran biaya operasional
KD/WKD didasarkan pada pertimbangan rasionalitas terhadap
biaya operasional KD/WKD daerah induk sebelum pemekaran.
5. Belanja
j Bunga
g

Bagi daerah yang belum menyelesaikan kewajiban


pembayaran bunga pinjaman jangka pendek, jangka
menengah dan jangka panjang supaya segera
menengah,
diselesaikan dan dianggarkan dalam APBD TA 2010.
– Mengapa ada belanja bunga?
– Bagaimana menganggarkannya?
– Bagaimana merealisasikan dan melaporkannya?
6. Belanja
j Subsidi
• Hanya kepada perusahaan/lembaga tertentu yang
bertujuan untuk membantu biaya produksi agar harga jual
produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh
masyarakat
kebutuhan dasar,, menyangkut
y g hajat y .
j hidupp orangg banyak
• Hendaknya pemerintah daerah melakukan
pengkajian terlebih dahulu sehingga pemberian
subsidi dapat tepat sasaran.
7. Belanja Hibah
• Tujuan: untuk mendukung fungsi penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang dilakukan oleh pemerintah
(instansi vertikal: TMMD dan KPUD), semi pemerintah (PMI,
KONI, Pramuka, KORPRI, dan PKK), pemerintah daerah
lainnya Perusda
lainnya, Perusda, serta masyarakat/organisasi
kemasyarakatan. Permendagri 59/2007?
• Secara spesifik
p telah ditetapkan
p pperuntukannya,
y , dapat
p
dianggarkan dalam APBD;
• Penentuan organisasi/lembaga penerima hibah harus selektif,
akuntabel transparan,
akuntabel, transparan dan berkeadilan dengan
mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
7. Belanja Hibah (Lanjutan)
• Terhadapp pelaksanaan
p belanja
j hibah kepada
p
Pemerintah (instansi vertikal) supaya dilaporkan
kepada Menteri Dalam Negeri up. Direktur Jenderal
Bina Administrasi Keuangang Daerah dan Menteri
Keuangan setelah tahun anggaran berakhir
• Untuk tujuan akuntabilitas, pemberian hibah
dilengkapi Naskah Perjanjian Hibah Daerah
(NPHD) antara Pemda dengan penerima hibah serta
kewajiban penerima hibah mempertanggung-
j
jawabkan
bk penggunaan danad yang diterima
dit i (SE
Mendagri No.900/2677/SJ, 2007 tentang Hibah dan
Bantuan Daerah) Permendagri 32/2008.
8. Belanja Bantuan Sosial
• Dalam menjalankan fungsi Pemerintah Daerah di bidang
kemasyarakatan
y dan guna
g memelihara kesejahteraan
j
masyarakat dalam skala tertentu, Pemda dapat
memberikan bantuan sosial kpd kelompok/anggota
masyarakat secara selektif,
masyarakat, selektif tidak mengikat dan besaran
bantuannya sejalan dg jiwa Keppres 80/2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah beserta perubahannya;
• Jumlahnya dibatasi tidak melebihi batas toleransi untuk
ppenunjukan
j langsung;
g g
• Pemberian bantuan sosial harus didasarkan kriteria yang
jelas dengan memperhatikan asas keadilan, transparan
dan memprioritaskan kepentingan masyarakat luas.
luas
9. Belanja Bagi Hasil
• Untuk menganggarkan dana bagi hasil yang
bersumber dari pendapatan provinsi kepada
kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota
kepada pemerintah desa atau pendapatan Pemda
tertentu kepada Pemda lainnya disesuaikan dengan
rencana pendapatan
d t pada d TA 2010.
2010
• Pelampauan target TA 2009 yang belum
di li ik kepada
direalisasikan k d Pemda
P d yang menjadi j di hak
h k
kabupaten/kota/desa ditampung dalam Perubahan
APBD TA 2010.
2010
10. Belanja Bantuan Keuangan
• Pemprov dalam menganggarkan bantuan keuangan kepada
Pemkab/kot didasarkan pada pertimbangan untuk mengatasi
kesenjangan fiskal dan membantu pelaksanaan urusan
pemerintah kabupaten/kota yang tidak tersedia alokasi
dananya;
y ;
• Bantuan keuangan dapat bersifat umum maupun khusus;
• Pemerintah kab/kot dapat mengalokasikan bantuan keuangan
kpd pemerintah desa dalam rangka menunjang fungsi2
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa untuk
percepatan/akselerasi pembangunan desa;
• Untuk
U t k penganggaran bantuan
b t keuangan
k kepada
k d partai t i politik
litik
agar mengacu pada PP No.5/2009 tentang Bantuan Keuangan
Kepada Partai Politik.
11. Belanja Tidak Terduga
• Penetapan anggaran BTT agar dilakukan secara
rasional dg mempertimbangkan realisasi TA 2009
d estimasi
dan ti i kegiatan2
k i t 2 yang sifatnya
if t tid k dapat
tidak d t
diprediksi, diluar kendali dan pengaruh pemerintah
daerah, serta tidak biasa/tanggap darurat, yang tidak
dih
diharapkan
k berulang
b l dan
d belum
b l tertampung dalam
d l
bentuk program dan kegiatan pada TA 2009.
• Penggunaan BTT dapat dibebankan secara
langsung, yaitu untuk pengembalian atas kelebihan
penerimaan tahun sebelumnya, atau dilakukan
melalui proses pergeseran anggaran dari mata
anggaran belanja tidak terduga kepada belanja
langsung maupun tidak langsung sesuai dengan
sifat dan jenis kegiatan yang diperlukan.
diperlukan
Belanja Langsung

Hal-hal yang perlu diperhatikan:


• Dalam merencanakan alokasi belanja untuk setiap
kegiatan, harus dilakukan analisis beban kerja dan
kewajaran biaya yang dikaitkan dengan output yang
dih ilk dari
dihasilkan d i satu
t kegiatan,
k i t untuk
t k menghindari
hi d i
adanya pemborosan;
• Terhadapp kegiatan
g ppembangunan
g fisik,, pproporsi
p
belanja modal lebih besar dibandingkan dengan
belanja pegawai atau belanja barang dan jasa.
• Perlu diberikan batasan jumlah belanja pegawai dan
belanja barang dan jasa yang terkait dengan
pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik dan diatur
dalam Peraturan Kepala Daerah.
Daerah
Belanja Langsung

Belanja
j Pegawai
g
• Penganggaran honorarium bagi PNSD supaya
dibatasi sesuai dengan tingkat kewajaran dan beban
tugas Dasar penghitungan besaran honorarium
tugas.
disesuaikan dengan standar yang ditetapkan dengan
Keputusan Kepala Daerah;
• Penganggaran
P hhonorarium
i N
Non PNSD hhanya ddapatt
disediakan bagi pegawai tidak tetap yang benar-
benar memiliki peranan dan kontribusi serta yang
terkait langsung dengan kelancaran pelaksanaan
kegiatan di masing-masing SKPD, termasuk
narasumber/tenagag ahli di luar instansi Pemerintah
Belanja Barang dan Jasa

– Penganggaran upah tenaga kerja dan tenaga lainnya


yangg terkait dengan
y g jasa
j pemeliharaan
p atau jasa
j
konsultansi (swakelola maupun pihak ketiga)
dianggarkan pada belanja barang dan jasa;
– Jumlah anggaran untuk belanja barang pakai habis
disesuaikan dgn kebutuhan riil dan dikurangi dgn sisa
persediaan barang TA 2009.
2009 Kebutuhan riil
disesuaikan dengan fungsi SKPD (jumlah pegawai
dan volume pekerjaan).
– Penganggaran belanja perjalanan dinas daerah, baik
perjalanan dinas luar negeri maupun perjalanan dinas
dalam negeri,
negeri agar dilakukan secara selektif,
selektif frekuensi
dan jumlah harinya dibatasi.
Belanja Barang dan Jasa
• Untuk perjalanan dinas dalam rangka kunjungan kerja dan studi
banding agar dibatasi frekuensi dan jumlah pesertanya serta
dilakukan sesuai dengan substansi kebijakan yang sedang
dirumuskan, yang hasilnya dilaporkan secara transparan dan
akuntabel
• Penganggaran
P untuk
t k penyelenggaraan
l rapat-rapat
t t yang
dilaksanakan di luar kantor, workshop, seminar dan lokakarya
agar dibatasi;
• Penganggaran untuk menghadiri pelatihan terkait dengan
peningkatan SDM hanya diperkenankan untuk pelatihan yang
dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau lembaga non
pemerintah yang bekerjasama dan telah mendapat akreditasi dari
Instansi Pembina (Lembaga Administrasi Negara), sesuai
dengan PP No. 101/2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan
Jabatan Pegawai Negeri Sipil;
Belanja Modal

• Anggaran untuk pengadaan barang inventaris agar


dilakukan secara selektif sesuai kebutuhan masing-
masing
i SKPD.
SKPD
• Sebelum merencanakan anggaran terlebih dahulu
dilakukan evaluasi dan pengkajian terhadap barang
inventaris yang tersedia (kondisi maupun umur
ekonomisnya);
• Penganggaran belanja modal tidak hanya sebesar
harga beli/bangun aset tetap, tetapi harus ditambah
seluruh belanja yang terkait dengan
pengadaan/pembangunan aset tetap tersebut sampai
siapp digunakan.
g
3. Kebijakan Pembiayaan Daerah
Penerimaan Pembiayaan
1. Anggaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran TA Sebelumnya
(SiLPA), agar disesuaikan dengan kapasitas potensi riil yang ada
untuk menghindari kendala pendanaan pada belanja yang telah
direncanakan;
2. Anggaran penerimaan pembiayaan yang bersumber dari
Pencairan Dana Cadangan, agar waktu penggunaan dan besarnya
disesuaikan dengan Perda tentang Pembentukan Dana Cadangan.
Sedangkan akumulasi penerimaan hasil bunga/deviden dari dana
cadangan dianggarkan pada lain-lain PAD yang sah;
3 Pencantuman jumlah pinjaman dalam APBD disesuaikan dengan
3.
batas maksimal defisit APBD TA 2010 yang ditetapkan oleh
MenKeu. Jika defisit APBD TA 2010 melebihi batas maksimal
dimaksud dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari
dimaksud,
MenKeu berdasarkan pertimbangan Mendagri.
3. Kebijakan Pembiayaan Daerah
Pengeluaran Pembiayaan
• Untuk menghindari terjadinya akumulasi pengembalian
pokok
k k pinjaman
i j pdd tahun
t h ttt yg akan
k membebanib b i Keuda,
K d
Pemda disiplin dalam mengembalikan pokok pinjaman
dan biaya lain sesuai dengan jadwal yang direncanakan;
• Penyertaan modal yang dianggarkan dalam APBD
didasarkan pada Perda ttg Penyertaan Modal Daerah, shg
tidak perlu dibuatkan Perda tersendiri setiap tahun.
• Untuk menganggarkan dana cadangan, Pemda harus
menetapkan Perda ttg Pembentukan Dana Cadangan yg
mengatur tujuan pembentukan dana cadangan,
cadangan program
dan kegiatan yang akan dibiayai, besaran dan rincian
dana cadangan yg harus dianggarkan yg ditransfer ke
rekening
k i danad cadangan,
d sumber
b dana
d cadangan,
d dan
d
tahun pelaksanaan anggaran dana cadangan
3. Kebijakan Pembiayaan Daerah

Sisa Lebih Pembiayaan Tahun Berjalan (SILPA)


• Untuk menghindari terjadinya dana yang menganggur
((Idle Money),
y), maka diupayakan
p y untuk menghindari
g
adanya Sisa Lebih Pembiayaan Tahun Berjalan dalam
APBD, dan apabila terdapat Sisa Lebih Perhitungan
Tahun Berjalan supaya dalam perubahan APBD
dimanfaatkan seluruhnya untuk mendanai kegiatan
pada
d tahun
t h anggaran berjalan
b j l
T k i Penyusunan
Teknis P APBD
Hal-hal Teknis
– … agar Pemerintah Daerah dapat menyusun dan menetapkan
APBD tahun anggaran 2010 secara tepat waktu yaitu p.l. 31
Desember 2009 (pasal 116 ayat (2) Permendagri 59/2007).
– … diharapkan Pemda dapat memenuhi jadwal proses
penyusunan APBD mulai dari penyusunan dan penetapan
KUA-PPAS bersama DPRD hingga dicapai kesepakatan
terhadap Raperda APBD antara Pemerintah Daerah dengan
DPRD p.l.l 30 Nopember
N b 2009 (Pasal
(P l 105 ayat (3
(3c))
Permendagri 59/2007).
– … perlu ada sinkronisasi antara RKP dengan RKPD, antara
RKPD dengan KUA dan PPAS serta antara KUA-PPAS
dengan RAPBD (yang merupakan kristalisasi dari seluruh
RKA SKPD)
RKA-SKPD).
KUA
Permendagri 59/2007 materi KUA diharapkan mencakup hal-hal
yang sifatnya kebijakan umum dan tidak menjelaskan hal-hal
yang bersifat teknis, seperti:
(a) Gambaran kondisi ekonomi makro termasuk perkembangan
indikator ekonomi makro daerah;
(b) Asumsi dasar RAPBD 2010 termasuk laju inflasi pertumbuhan
PDRB dan asumsi lainnya terkait dgn kondisi ekonomi daerah;
(c) Kebijakan pendapatan daerah yang menggambarkan prakiraan
rencana sumber dan besaran pendapatan daerah untuk TA 2010;
(d) Kebijakan belanja daerah yang mencerminkan program utama
dan langkah kebijakan dalam upaya peningkatan pembangunan
daerah yang merupakan refleksi sinkronisasi kebijakan pusat dan
k di i riil
kondisi iil di daerah;
d h
(e) Kebijakan pembiayaan yang menggambarkan sisi defisit dan
surplus daerah sebagai antisipasi terhadap kondisi pembiayaan
daerah dalam rangka menyikapi
men ikapi tuntutan
t nt tan pembangunan
pembang nan daerah.
daerah
PPAS
• Substansi PPAS lebih mencerminkan prioritas
p
pembangunan daerah yang dikaitkan dengan sasaran
yang ingin dicapai termasuk program prioritas dari
SKPD terkait
terkait.
• PPAS juga menggambarkan pagu anggaran
sementara dimasing
dimasing-masing
masing SKPD berdasarkan
program dan kegiatan.
• Pagu sementara tersebut akan menjadi pagu definitif
setelah peraturan daerah tentang APBD disepakati
antara Kepala Daerah dan DPRD serta ditetapkan
oleh Kepala Daerah
Daerah.
Penyampaian KUA & PPAS
• Untuk menjamin konsistensi dan percepatan
pembahasan KUA dan PPAS, Kepala Daerah
dapat menyampaikan KUA dan PPAS kepada
DPRD dalam waktu yang bersamaan;
• Hasil pembahasan KUA dan PPAS
ditandatangani pada waktu yang bersamaan,
sehingga keterpaduan KUA dan PPAS dalam
proses penyusunan RAPBD akan lebih efektif.
SE Kepala Daerah
Substansi SE Kepala Daerah tentang Pedoman
P
Penyusunan RKA
RKA-SKPD
SKPD kkepadad seluruh
l h SKPD ddan
RKA-PPKD kepada SKPKD memuat:
• Prioritas
P i it pembangunan
b daerah
d h dan
d program/kegiatan
/k i t
yang terkait,
• Alokasi plafon anggaran sementara untuk setiap
program/kegiatan SKPD,
• Batas waktu penyampaian RKA RKA-SKPD
SKPD kepada PPKD,
PPKD
• Dokumen2 sebagai lampiran SE, yakni KUA, PPAS,
analisis standar belanja,
belanja dan standar satuan harga.
harga
RKA-SKPD dan RKA-PPKD
• RKA-SKPD memuat rincian anggaran pendapatan,
rincian anggaran belanja tidak langsung SKPD (gaji
pokok dan tunjangan pegawai, tambahan penghasilan,
khusus pada SKPD Sekretariat DPRD dianggarkan
jjuga
g Belanjaj Penunjang
j g Operasional
p Pimpinan
p
DPRD), rincian anggaran belanja langsung menurut
program dan kegiatan SKPD;
• RKA-PPKD memuat rincian pendapatan yang berasal
dari dana perimbangan dan pendapatan hibah, belanja
tidak langsung terdiri dari belanja bunga, belanja
subsidi belanja hibah,
subsidi, hibah belanja bantuan sosial,
sosial belanja
bagi hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja
tidak terduga, rincian penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran
l pembiayaan
bi
Penjabaran APBD

• Dalam rangka penyederhaan dokumen


penjabaran APBD, beberapa informasi yang
dituangkan dalam kolom penjelasan
penjabaran APBD ditiadakan seperti dasar
hukum penganggaran belanja
belanja, target/volume
yang direncakan dan tarif pungutan/harga
satuan.
satuan

DAK
• Bagi daerah yang melaksanakan program dan
kegiatan DAK dan bantuan keuangan dari provinsi
untuk kabupaten/kota yang dananya diterima setelah
APBD ditetapkan, maka sambil menunggu perubahan
Perda tentang APBD
APBD, Pemda dapat melaksanakan
program dan kegiatan tsb dengan terlebih dahulu
melakukan perubahan Perkada tentang Penjabaran
APBD dengan persetujuan Pimpinan DPRD
DPRD.
• Apabila program dan kegiatan dimaksud terjadi
setelah Perubahan APBD ditetapkan,
p maka
Pemerintah Daerah menyampaikannya dalam
Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
Perubahan APBD 2010
• Pelaksanaan Perubahan APBD TA 2010 dilakukan
setelah penetapan Perda tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBD TA 2009 dan paling lambat
ditetapkan pada akhir bulan
b lan September 2010.
2010
• Apabila laporan pertanggungjawaban terlambat
ditetapkan maka Pemda tetap melakukan Perubahan
ditetapkan,
APBD sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan.
• Program dan kegiatan yang ditampung dalam
Perubahan APBD agar memperhitungkan sisa waktu
pelaksanaan APBD TA 2010.
Hal-hal Khusus
• Dampak krisis keuangan global;
• Bidang pendidikan: Pemda agar secara konsisten dan
b k i
berkesinambungan
b mengalokasian
l k i anggaran pendidikan
didik
sekurang2nya 20% dari belanja daerah, (PP No.48/2008 ttg
Pendanaan Pendidikan);
• D
Daerahh otonom
t b
baru;
• Tata kelola keuangan daerah yang baik;
• Kerjasama Daerah;
• Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD);
• j
Pinjaman daerah
• kemandirian daerah
• kebijakan di bidang UMKM
Hal-hal Khusus
• Standar satuan harga ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah
• Penganggaran kegiatan yang pelaksanaannya lebih dari satu tahun
anggaran (multiyears),
(multiyears)
• Untuk peningkatan transparansi, akuntabilitas dan auditibilitas
pengelolaan keuangan daerah, diharapkan kepada para Gubernur,
B ti dan
Bupati d Walikota
W lik t meningkatkan
i k tk kualitas
k lit sistem
i t pengendalian
d li
internal dan mematuhi peraturan perundang2an yang berlaku;
• Implementasi program percepatan pemberantasan korupsi;
• Dalam rangka melaksanakan kebijakan Nasional: Program
Penambahan 10 juta Sambungan Rumah Air Minum Tahun 2009
s/d 2013,, ppengarusutamakan
g gender
g dalam ppembangunan
g di
daerah, dan pemenuhan perumahan masyarakat yang layak huni
seperti rumah susun, diminta agar Pemda mendukung kebijakan
dimaksud sesuai dengang pperaturan perundang2an
p g dan kebutuhan
daerah.
Apa yang baru dari Permendagri 59?
1
• Adanya RKA baru: RKA-PPKD dan DPA-PPKD.
• Tidak ada lagi dokumen PPA.
PPA Setelah disepakati,
disepakati
tetap disebut PPAS.
• Perubahan definisi Hibah dan Bantuan Sosial.
Sosial
• Ada tambahan untuk belanja barang dan jasa:
belanja pemeliharaan,
pemeliharaan jasa konsultansi,
konsultansi lain-lain
pengadaan barang/jasa, dan belanja lain yang
sejenis.
• Tidak ada lagi honorarium panitia dalam B. Modal.
• Deposito untuk mencari PAD?  tidak boleh!
Apa yang baru dari Permendagri 59?
2

• Daftar nama rekening dan kode rekening yang tidak


merupakan acuan baku dalam penyusunan kode
rekening di daerah.
S
Sesuaikan
ik dengan
d karakteristik
k k i ik daerah.
d h
• KUA dan PPAS disampaikan dan dibahas
b
bersamaan pada
d bbulan
l JJuni.i
• Nota kesepakatan KUA dan PPAS ditandatangani
bersamaan.
• Tidak perlu dilampirkan SPM dalam SE Pedoman
P
Penyusunan RKA-SKPD.
RKA SKPD
Apa
p yang
y g baru dari Permendagri
g 59?
3

• DPRD hanya boleh meminta RKA RKA-SKPD


SKPD program
tertentu saja, tidak semuanya.
 Mintanya
Mi ta ya tidak ha harus
u ke KDH
KDH.
• Jika penetapan APBD terlambat: Total boleh
sebesar
b anggaran ttahunh lalu
l l dengan
d ddasar
pelaksanaan anggaran 1/12 APBD tahun lalu dan
h
hanya bboleh
l h utk
tk bbelanja
l j yg bbersifat
if t ttetap
t ((wajib).
jib)
• Ada kriteria untuk bisa dimasukkan dalam DPAL.
BAGAN ALIR PENYUSUNAN RKA SKPD

Rincian Anggaran RKA


Pendapatan SKPD 1

Rincian Anggaran RKA


Belanja Tidak Langsung SKPD 2
2.1
1

Rincian
Ri i A Anggaran
RKA RKA RKA
Belanja Langsung SKPD 2.2.1 SKPD 2.2 SKPD

Ri i
Rincian P
Penerimaan
i RKA
Pembiayaan SKPD 3.1

Rincian Pengeluaran RKA


Pembiayaan SKPD 3.2
Contoh Format Anggaran Kas
Bulan
No. Uraian Plafon
Jan Feb Mar … Okt Nov Des
1. Pendapatan
Jumlah Pendapatan
2. Belanja

a. Belanja Tidak Langsung


Jumlah Belanja Tidak Langsung
b Belanja Langsung
b.
- Program A
--Kegiatan A.1…..
--Kegiatan
g A.2…..
- Program B
--Kegiatan B.1….
Jumlah Belanja Langsung
Jumlah Belanja
Surplus/Defisit