Anda di halaman 1dari 3

c  


    
   

Yurisidksi

Menyadari makna kedaulatan (sovereignty) dalam hubungannya dengan hukum


internasional, yang didalamnya ada batasan, namun demikian hanya bagi negara yang
mempunyai yurisdiksi menurut hukum internasional. Dalam hal ini pada prinsipnya yurisdiksi
suatu negara, terkait tidak saja dengan ketentuan hukum nasional masing-masing negara, tetapi
juga dengan hukum internasional yang berlaku.
Menurut hukum internasional, yurisdiksi diartikan the capacity of state under
international law to prescribe and enforce a rule of law (Robert L./Boleslaw A., 1987:102),
sedangkan yurisdiksi negara, sebagaimana dikutip Parthiana, Anne Anthony Csabafi menyatakan
: ³« state jurisdiction in public international law means the right of a state to regulate or effect
by legislative, executive or judical measures the rights of person, property, acts events with
respect to matters not exclusively of domestic concern « ³
Dengan demikian peranan negara semakin penting. Peranan yang begitu penting tersebut
memerlukan aturan dan mekanisme yang baik. Untuk itu, diharapkan setiap negara menjalin
kerja sama dengan negara lain, sehingga justru banyak masalah yurisdiksi yang saling terkait
dalam hubungan internasional. Implementasi pada hubungan antara negera semakin terbuka
justru dalam era globalisasi, permasalahan dan kepentingan sutau negara dengan negara lain
akan saling terkait dan meluas, sehingga memerlukan kerja sama hampir tanpa batas.
Berkembangnya hubungan antar negara yang semakin luas (global), menempatkan
hukum internasional semakin penting dan berperan. Karena itu adanya kesepakatan internasional
akan menjadi salah satu faktor penting di dalam mengatur lebih luas tentang kewenangan (hak),
kewajiban dan tanggung jawab setiap negara, termasuk yang terkait dengan yurisdiksi, karena
masalah yurisdiksi bukanlah semata-mata masalah dalam negeri saja.
Hukum internasional telah mengakui yurisdiksi negara atas individu, benda, dan
kejadian/tindakan yang terjadi diwilayahnya. Sedangkan Starke memperluas dan membagi
beberapa macam yurisdiksi negara yaitu:
Yurisdiksi Teritorial
Pelaksanaan yurisdiksi oleh suatu Negara terhadap harta benda, orang tindakan atau
peristiwa yang terjadi didalam wilayahnya jelas diakui oleh hukum internasional untuk semua
Negara anggota masyarakat internasional.
c   
    
   

u u 
Sebuah pelabuhan merupakan bagian dari perairan pedalaman dank arena itu sepenuhnya
merupakan bagian dari teritorial negara sebagai tanahnya sendiri.
Selain dari asimilasi pada wilayah dari laut territorial kapak-kapal dilaut dan pelabuhan-
pelabuhan beberapa perluasan teknis tertentu dari prinsip yurisdiksi territorial diperlukan untuk
memberikan pembenaran tindakan yang dilakukan oleh negar-negara dalam kasus-kasus dimana
satu atau lebih unsure penyusun tindakan atau perbuatan yang terjadi diluar wilayah mereka.
Beberapa negara mengatasi itu dengan
a Dengan memberlakukan prinsip territorial subjektif (subjective territorial principle)
b Sesuai dengan prinsip teritorial obyektif (objective territorial principle)
Yurisdiksi Individual
Menurut paraktek internasional dewasa ini, yurisdiksi terhadap individu dilaksanakan
berdasarkan prinsip-prinsip berikut:
1. Prinsip nasionalitas aktif. Menurut prinsip ini negara dapat melaksanakan yurisdiksi
terhadap warganegaranya. Diberikan oleh hukum internasional kepada semua negara yang
hendak memberlakukannya. Semua prinsip lain yang berkaitan dengan hal ini adalah bahwa
negara tidak wajib menyerahkan warganegaranya yang telah melakukan suatu tindak pidana di
luar negeri.
2. Prinsip nasionalitas pasif. Prinsip ini membenarkan negara untuk menjalankan yurisdiksi
apabila seorang warganegaranya menderita kerugian. Hukum internasional mengakui prinsip ini
tetapi dengan beberapa pembatas. Dalam Cutting Case tampak bahwa negara yang tidak
mengakui prinsip ini, juga tidak wajib memberikan pengakuan terhadap peradilan yang
dilaksanakan oleh negara lain terhadap warganegaranya.
Yurisdiksi berdasarkan prinsip perlindungan
Hukum internasional mengakui bahwa setiap negara mempunyai kewenangan
melaksanakan yurisdiksi terhadap kejahatan yang menyangkutkeamanan dan integritas atau
kepentingan ekonomi yang vital. Wewenang ini didasarkan atas prinsip perlindungan (protective
principle). Alasan-alasan yurisdiksi berdasarkan prinsip perlindungan ini adalah:
1. Akibat tindak pidana itu sangat besar bagi negara terhadap mana tindak pidana itu tertuju.
2. Apabila yurisdiksi tidak dilaksanakan terhadap tindak pidana demikian, maka pelaku
tindak pidana tersebut dapat lolos dari penghukuman karena di negara di mana tindak pidana itu
c   
    
   

dilakukan (lex loci delicti) perbuatan itu tidak melanggar hukum local atau karena ekstradisi
akan ditolak dengan alasan tindak pidana itu bersifat politis.
Yurisdiksi Uniersal
Suatu tindak pidana yang tunduk pada yurisdiksi universal adalah pidana yang berada di
bawah yurisdiksi semua negara di manapun tindakan itu dilakukan. Karena umumnya diterima,
tindakan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat internasional, maka tindakan itu
dipandang sebagai delik jure gentium dan semua negara berhak untuk menagkap dan
menghukum pelaku-pelakunya. Jelas tujuan pemberian yurisdiksi universal tersebut adalah untuk
menjamin bahwa tidak ada tindak pidana semacam itu yang yang tidak dihukum.
Yurisdiksi terkait dengan pesawat terbang (Problem of Jurisdiction with Regard to Aircraft)
Salah satu akibat meningkatnya volume, jangkauan dan frekuensi lalu lintas udara
internasional, yang dibarengi dengan meningkatnya jumlah negara dimana pesawat udara
perusahaan penerbangan didaftarkan telah menimbulkan peningkatan persoalan-persoalan
yurisdiksi yang pelik berkaitan dengan tindak pidana yang dilakukan di dalam pesawat udara
dalam penerbangan. Apabila hal ini belum cukup, perkembangan lain telah menjadi ancaman
besar terhadap keselamatan dan kepercayaan terhadap penerbangan internasional karena
meningkatnya peristiwa pembajakan (hijacking) dan tindakan terorisme terhadap pesawat udara
yang akan tinggal landas atau mendarat serta terhadap penumpang-penumpang pesawat udara
terkait.

Referensi :
Buana, Mirza S. 2007. Hukum Internasional Teori dan Praktek. Bandung : Penerbit Nusamedia
Csabafi, Anthony. 1971. The Concept of State Jurisdiction in International Space Law. The
Hague
Starke, JG. 1984. Introduction to International Law. London : Butterworth