Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Menyebarkan Salam”.

Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Agama di Universitas PGRI Adi Buana
Surabaya.

Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :

1. Bapak Khamim Tohari, SPDI, MPDI selaku Guru Mata Kuliah yang telah
meluangkan waktu, tenaga dan pkiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan,
dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini
2. Rekan-rekan semua di Kelas A Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
3. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang
telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis,
baik selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan makalah ini
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan
bantuan dalam penulisan makalah ini.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai,
Amin.

Surabaya, 11 Oktober 2010

Penulis

21
BAB I

PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang

Bila Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita bahwa salah satu di antara
tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat adalah salam tidak ucapkan kecuali kepada orang-
orang yang dikenal saja, dan kaum muslimin telah mengganti kalimat salam tersebut
dengan kalimat-kalimat yang sama sekali jauh dari tuntunan sunnah, hari ini kabar beliau
tersebut telah semakin nyata kebenarannya. Terbukti pada hari ini, sebagian kaum
muslimin mengucapkan salam hanya kepada orang-orang tertentu saja dari
kelompoknya, partainya, golongannya, kaumnya, sukunya, atau hanya kepada orang-
orang yang dikenalnya saja. Lebih dari itu, sebagian kaum muslimin yang mengaku
dirinya sebagai akademisi muslim, sarjanawan muslim, cendekiawan muslim, dan para
ilmuwan muslim yang belajar Islam kepada Barat dan para orientalis telah mengganti
kalimat salam dengan kalimat-kalimat yang menurut mereka lebih modern, gaul, dan
maju, dan sesuai dengan zaman hari ini, seperti ‘selamat pagi, selamat siang, selamat
malam, dan kalimat-kalimat lainnya’, yang tidak lain hanyalah adopsi dan impor dari
Barat dan orang-orang kafir. Namun atas nama kemajuan, pluralis, liberalis, mereka
katakana ini bagian dari pada Islam dan bukti bahwa Islam sebagai dari rahmatan
lil’alamin.

1.2 TUJUAN

Tujuan Pembuatan makalah ini dilaksanakan oleh para mahasiswa yang


memiliki tujuan dan maksud tertentu. Adapun tujuan kami

1. Menuntaskan tugas mata kuliah Agama


2. Mahasiswa dapat mengetahui makna dan hukum menyebarkan salam.
3. Mahasiswa dapat memahami makna dari salam dan mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari – hari.

21
BAB II

A. Pengertian Salam

Secara harfiah salam berasal dari kata salima- Yasiamu-Salaamatan, yang berarti
selamat. Lafad ini dipakai dalam beberapa ayat Al-Quran, misalnya pada QS. Al-
An’am:54, yang artinya ; “ Apabila orang – orang yang beriman kepada ayat – ayat
Kami itu dating kepadamu, maka katakanlah; “ Salaamun’Alaikum ( Mudah –
mudahan Allah melimpahkan keselamatan atas kamu), Tuhan-mu telah menetapkan
atas dir-Nya kasih saying.”Kata salam yang merupakan isim mashdar dari kata
salima memiliki makna yang cukup banyak, diantaranya keselamatan, kedamaian,
ketenteraman, penghormatan, ketundukan dan ketaatan. Inilah makna – makna harfiah
yang ada dalam salam. Dari kata salima muncul kata aslama yang artinya
menyelamatkan, mendamaikan, menenudukkan, dan seterusnya (munawwir,
1984:699). Dari kata aslama inilah muncul kata islam yang kemudian menjadi nama
dari agama kita .

Al-jarjani mendifinisikan salam sebagai selamatnya seseorang dari bencana baik di

dunia maupun di akhirat (tajarrud al-nafsi’an al-mihnati al-darain) (al-Jarjani, 1988:


120). Dari definisi ini dijelaskan bahwa salam merupakan tujuan utama dari Islam,
yakni selamatnya seorang Muslim di dunia dan di akhirat. Salam juga merupakan doa
yang berisi permohonan kepada Allah Swt. Agar orang yang diberi salam
memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Karena begitu pentingnya isi dari salam , maka Allah memerintahkan kepada orang –
orang yang beriman agar selalu mengucapkan atau menyebarkan salam kepada orang
lain yang seiman, yang dijelaskan dalam :

1. Al Quran

Allah SWT berfirman : “ Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu
memasuki rumah bukan rumhamu sebelum meminta izin dan member salam

21
kepada penguninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu)
ingat” (An Nuur [24]: 27).

Allah SWT berfirman: “…Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari )
rumah–rumah (ini) hendaklah kamu member salam kepada dirimu sendiri. Salam
yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah
menjelaskan ayat–ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya” (An Nuur [24]:
61).

2. Hadist

Rasulullah Saw bersabda:"Demi Dia yang diriku berada di tangan-Nya! Kalian


tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman
hingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah kalian saya tunjukkan suatu
perkara yang apabila kalian kerjakan, maka akan tumbuh rasa kasih-sayang di
antara kalian? Sebarkan salam di antara kalian!" (HR. Muslim).

Rasulullah SAW bersabda:"Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makanan,


sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia lain tengah tertidur;
niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera" (At Tirmidzi).

3. Sunnah Para Nabi dan Rasul

Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:"Ketika Allah


telah menjadikan Adam, maka Allah memerintahkan:"Pergilah kepada para
Malaikat dan ucapkan salam kepada mereka yang tengah duduk. Dengarkanlah
jawaban salam mereka, karena itu akan menjadi ucapan salam bagi kamu dan
anak cucumu kelak!" Maka pergilah Nabi Adam dan mengucapkan:"Asalaamu
‘alaikum!" Para Malaikat menjawab:"Assalaamu ‘alaika warahmatullaah!"
Mereka menambah warahmatullaah" (HR. Bukhary dan Muslim).

Al Qur'an menceritakan kisah Ibrahim AS:"(Ingatlah) ketika mereka msuk ke

21
tempatnya lalu mengucapkan:"Salaaman", Ibrahim menjawab:"Salaamun" ..."
(AdzDzaariyaat[51]:25).

4. Perilaku Para Sahabat

Thufail Bin Ubay Bin Ka'ab pernah datang ke rumah Abdullah Bin Umar; lalu
keduanya pergi ke pasar. Ketika keduanya sampai di pasar, tidaklah Abdullah Bin
Umar menemui tukang rombeng, penjual toko, orang miskin dan siapa saja
melainkan mesti memberi salam kepada mereka.

Suatu hari, Thufail Bin Ubay Bin Ka'ab datang lagi ke rumah Abdullah Bin Umar,
dan diajak lagi ke pasar. Maka Thufail bertanya:"Perlu apa kita ke pasar? Kamu
sendiri bukanlah seorang pedagang dan tidak ada kepentingan menanyakan harga
barang atau menawar barang. Lebih baik bila kita duduk bercengkerama di sini".
Abdullah Bin Umar menjawab:"Hai Abu Bathn! Sebenarnya kita pergi ke pasar
hanya untuk memasyarakatkan salam. Kita beri salam kepada siapa saja yang kita
temui di sana!" (Imam Malik dalam kitab Al Muwatha' dengan sanad shahih).

B. Hukum

1. Mengucapkan Salam

Hukum mengucapkan salam adalah sunnah yang dikuatkan (sunnah mu'akadah).


Rasulullah SAW bersabda:"Jika seseorang di antara kalian berjumpa dengan
saudaranya, maka hendaklah memberi salam kepadanya. Jika antara dia dan
saudaranya terhalang pepohonan, dinding atau bebatuan; kemudian mereka
berjumpa kembali, maka ucapkan salam kepadanya" (HR. Abu Daud).

Ketika menyampaikan salam, hendaknya seseorang memperdengarkan ucapan


salamnya. Diriwayatkan oleh Tsabit bin ‘Ubaid rahimahullahu :

َ
‫ت‬ ْ ّ ‫سسل‬
َ ‫م‬ َ ِ ‫ إ‬:‫ل‬
َ ‫ذا‬ َ ‫مسَر فََقسسا‬ َ ُ‫ن ع‬
ُ ‫سا فِي ْسهِ ع َب ْسد ُ اللسهِ ب ْس‬ ً ِ ‫جل‬ ْ ‫م‬ َ ‫ت‬ ُ ْ ‫أت َي‬
َ ‫فَأ‬
ٌ َ ‫ة ط َي ّب‬
‫ة‬ ٌ َ ‫مَباَرك‬
ُ ِ ‫ه‬‫الل‬ ِ ‫د‬ْ ‫ن‬‫ع‬ِ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ة‬
ٌ ّ ‫ي‬‫ح‬ِ َ ‫ت‬ ‫ها‬ ّ
َ ِ ‫ن‬ ‫إ‬َ ‫ف‬ ،‫ع‬
ْ ‫م‬
ِ ‫س‬
ْ
21
Aku pernah mendatangi suatu majelis yang di situ ada Abdullah bin Umar RA.
Maka beliau berkata, ‘Apabila engkau mengucapkan salam, perdengarkan
ucapanmu. Karena ucapan salam itu penghormatan dari sisi Allah yang penuh
berkah dan kebaikan’.” (HR. Al-Bukhari).

2. Menjawab Salam

Sedangkan hukum menjawab salam adalah wajib. Sebagaimana firman Allah


SWT:"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah yang
lebih baik atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah
memperhitungkan segala sesuatu" (An Nisaa' [4]: 86).

3. Ucapan Salam

Ucapan salam yang lengkap adalah "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi


wabarakaatuh" yang artinya "semoga seluruh keselamatan, rahmat dan berkah
Allah dilimpahkan kepada kalian". Ucapan salam ini sesuai dengan petunjuk
Rasulullah SAW ketika beliau tengah bersama isterinya, ‘Aisyah RA, beliau
bersabda:"Ini Jibril mengucapkan salam kepada kamu". Maka ‘Aisyah RA
menjawab:"Wa ‘alaihissalaam warahmatullaahi wabarakaatuh" (HR. Bukhary dan
Muslim).

Idealnya seorang Muslim mengucapkan salam dengan lengkap, tetapi tetap


diperkenankan seseorang untuk mengucapkan salam:

a. Assalamu’alaikum
b. Assalaamu’alaikum warahmatullaah,
c. Assalaamu’alaikum warahmatullaah wabarakaatuh (lengkap)

Semakin lengkap ucapan salam seorang, maka semakin banyak pula keutamaan
yang diraihnya. Imran Bin Hushain RA menceritakan tentang seseorang yang
mendatangi Rasulullah SAW dan mengucapkan salam:"Assalaamu ‘alaikum!"
Rasulullah SAW menjawab salam tersebut, dan kemudian memberikan

21
komentar:"Sepuluh!" Kemudian datang orang lain yang mengucapkan
salam:"Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah!" Rasulullah SAW menjawab dan
kemudian memberikan komentar:"Duapuluh!" Dan datanglah orang ketiga dan
mengucapkan salam:"Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh!" Maka
Rasulullah SAW menjawab:"Tigapuluh!" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Demikianlah, semakin lengkap ucapan salam seseorang, akan semakin banyak
pula keutamaan yang dia peroleh.

4. Ucapan Balasan Salam

Sedangkan jawaban salam, minimal setara dengan ucapan salam; dan kalau bisa,
malah dilebihkan. Allah Ta'ala berfirman:" Apabila kamu dihormati dengan suatu
penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu" (An Nisaa' [4]: 86).
Sehingga jawaban salam yang disyari'atkan adalah:

a. Bila ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum" maka jawaban minimal


adalah "Wa'alaikumussalaam", jawaban lebih adalah "Wa'alaikumussalaam
warahmatullaah", dan jawaban lengkapnya adalah "Wa'alaikumussalaam
warahmatullaahi wabarakaatuh".
b. Bila ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah" maka
jawaban minimal adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaah", dan jawaban
lengkapnya adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh".
c. Bila ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi
wabarakaatuh" maka jawaban minimal adalah "Wa'alaikumussalaam
warahmatullaahi wabarakaatuh"

C. ADAB SALAM

Adapun adab (tata cara) mengucapkan dan menjawab salam telah dijelaskan
pula dalam banyak Hadist, secara sistematis sebagai berikut;

1. Kalimat Salam

21
Hadist dari Imran Bin Hushain ra, seseorang datang kepada Rasulullah SAW
dan mengucapkan “ASSALAMU’ALAI-KUM”, maka dijawab oleh Nabi SAW,
lalu ia duduk. Nabi bersabda; “ (Pahalany) Sepuluh.” Kemudian datang lagi
seorang yang lain member salam "ASSALAAMU ‘ALAIKUM
WARAHMATULLAAH", Setelah nabi menjawabnya, ia bersabda ; “ Dua
Puluh” Kemudian datang orang yang ketiga dan mengucapkan "ASSALAAMU
‘ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH" maka Nabi
SAW menjawabnya dan bersabda ; Tiga puluh.”

Dari hadist ini, kita bias menyimpulkan, ada tiga kalimat salam dengan masing
– masing keutamaannya. Kemudian jika seseorang menitip salam kepada kita
untuk disampaikna kepada yang lain, maka hal ini juga pernah terjadi,
sebagaimana dijelaskan dalam hadist dari Aisyah RA; Rasullullah SAW
memberitahukan saya bahwa Jibril menyampaikan salam lewat dia untuk saya,
maka saya jawab; WA’ALAIHISSALAM WARAHMATULLAHI
WABARAKATUH.”

Dalam Kitab “Zaadul Ma’ad”, Ibnul Qayim menjelaskan; “ Apabila seseorang


menyampaikan salam kepadamu dari orang lain (titip salam), maka jawablah
untuk yang menitip dan yang menyampaikan salam tersebut.” Jadi kalimatnya,
“WA’ALAIHI WA’ALAIKUM SALAM WARAHMATULLAHI
WABARAKATUH”

2. Adab Memberi Salam

Secara umum, mengucapakan atau memberi salam lebih baik dilakukan tanpa
mempertimbangkan waktu dan tempat, berdasarkan sabda Rasulullah SAW;
Sebaik-baiknya manusia di sisi Allah ialah orang yang memulai mengucapkan
salam.” Hadist lainnya, “ Seseorang bertanya;” Ya Rasulallah, kalau dua orang
yang bertemu, manakah di antara keduanya yang harus mendahului memeberi
salam? Rasulullah SAW menjawab: Ialah orang yang paling dekat kepada
Allah”. Ada beebrapa adab yang harus diperhatikan dalam menyebarkan salam,
yaitu :

1. Urutan Salam

21
Sabda Rasulullah SAW :

a.Orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan


b. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk
c. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang
lebih banyak
d. Memberi salam kepada anak kecil
e.Memberi salam antara lelaki dan perempuan
f. Yang meninggalkan tempat member salam kepada yang ditinggal.
g. Ketika pergi meninggalkan atau pulang kerumah, ucapakanlah salam
meski tak seorang pun ada dirumah (malaikat yang akan menjawab).
h. Jika bertemu berulang – ilang maka ucapkanlah salam setiap kali
ketemu.

Pengecualian kewajiban menjawab salam:

1.Ketika sedang salat. Membalas ucapan salam ketika salat membatalkan


salatnya.
2.Khatib, orang yang sedang membaca Al-Qur’an, atau seseorang yang
sedang mengumandangkan Adzan atau Iqamah, atau sedang mengajarkan
kitab-kitab Islam.
3.Ketika sedang buang air atau berada di kamar mandi.

Itulah urutan salam yang menjadi adab bagi seorang Muslim untuk
menyebarkan salam. Sikap dasar seorang Muslim adalah mencoba
memaklumi orang lain dan tidak meminta untuk dimaklumi. Urutan salam
inipun tidak harus menjadikan kita minta untuk dimaklumi. Misal orang tua
sama sekali tidak mau memberi salam kepada yang lebih muda, dan menuntut
supaya anak-anak muda itu yang harus terlebih dahulu mengucapkan salam
kepadanya. Sikap tuntutan seperti ini tentu saja berlebih-lebihan. Mestinya
seorang Muslim tidak terjebak dengan sikap kekanak-kanakan seperti ini.

21
2. Mendahului Salam

Terlepas dari urutan dalam memberi salam, Rasulullah SAW mengajarkan


untuk mendahului dalam memberi salam. Diharapkan kita tidak pasif dalam
mengucapkan salam, yaitu sekedar menanti datangnya ucapan salam dari
orang lain. Diharapkan pula kita tidak menjadi orang yang suka menuntut
orang lain untuk mengucapkan salam duluan. Rasulullah SAW mengajarkan,
justru yang memulai salam itulah orang yang lebih mulia.

Sabdanya:"Seutama-utama manusia bagi Allah adalah yang mendahului


salam (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:"Ya Rasulullah, jika dua


orang bertemu muka, manakah di antara keduanya yang harus terlebih dahulu
memberi salam?" Rasulullah SAW menjawab:"Yang lebih dekat kepada
Allah (yang berhak terlebih dahulu memberi salam)" (HR. tirmidzi).

3. Menjawab Setara atau Lebih

Apabila ada seseorang yang memberi salam kepada kita, maka idealnya kita
memberikan jawaban yang sama (setara). Misalkan seseorang mengucapkan
salam kepada kita:"Assalaamu ‘alaikum warahmatuulaah!" Minimal kita harus
menjawab:"Wa'alaikumussalaam warahmatullaah!"

Lebih utama lagi, apabila kita memberikan jawaban yang lebih daripada
ucapan salam tersebut. Misalkan seseorang mengucapkan salam kepada
kita:"Assalaamu ‘alaikum warahmatuulaah!" Maka akan lebih baik apabila
kita menjawab:"Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabaraakatuh!"

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala:"Apabila kamu dihormati dengan
suatu penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang
serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu" (An Nisaa' [4]:
86).

21
Jawaban salam masih kurang setara apabila kita memberi
jawaban:"Wa'alaikum salaam ...!" Harusnya, jawaban itu adalah:"Wa
‘alaikumus salaam ...!" Perbedaan antara keduanya adalah: salaam dan as
salaam. Kata salaam berarti keselamatan, sedangkan kata as salaam memiliki
makna seluruh keselamatan. Tentu saja tidak setara antara keselamatan dan
seluruh keselamatan. Jawaban "Wa'alaikum salaam ..." mempunyai makna
keselamatan atas kalian; sedangkan jawaban "wa ‘alaikumus salaam ..."
mempunyai makna seluruh keselamatan atas kalian. Tentu saja jawaban
"Wa'alaikum salaam (keselamatan atas kalian)..." tidak setara apabila pemberi
salam megucapkan:"Assalaamu ‘alaikum (Seluruh keselamatan atas
kalian) ...!"

4. Menjabat Tangan

Selain mengucapkan salam, akhlaq yang indah (karimah) bagi seorang Muslim
ketika bertemu dengan saudaranya adalah menjabat tangannya dengan hangat.
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW:"Ya Rasulullah, jika seseorang
dari kami bertemu dengan saudaranya atau temannya apakah harus menunduk-
nunduk?" Jawab Rasulullah SAW:"Tidak!" Tanyanya:"Apakah harus
merangkul kemudian menciumnya?" Jawab Rasulullah SAW:"Tidak!"
Tanyanya sekali lagi:"Apakah meraih tangannya kemudian menjabatnya?"
Jawab Rasulullah SAW:"Ya!" (HR. Muslim).
Selain memiliki nilai kehangatan dan persahabatan (ukhuwwah), jabatan
tangan juga akan menghapus dosa di antara kedua Muslim yang
melakukannya. Rasulullah SAW bersabda:"Tidaklah dua orang Muslim yang
bertemu kemudian berjabat tangan kecuali Allah akan mengampuni dosa
keduanya sampai mereka melepaskan jabatan tangannya" (HR. Abu Daud).
Yang tetap perlu diperhatikan hendaklah lelaki tidak berjabat-tangan dengan
wanita yang bukan muhrimnya; demikian pula sebaliknya. Meskipun dalam
masalah ini, DR. Yusuf Al Qardhawi tidak mengharamkannya secara mutlaq.

21
5. Berwajah Manis

Yang dimaksud berwajah manis adalah penampilan yang menyenangkan serta


senyum yang mengembang. Gaya seperti inilah yang diinginkan Rasulullah
SAW ketika seorang Muslim bertemu dengan saudaranya. Sabda Rasulullah
SAW:"Jangan kalian meremehkan sedikitpun tentang kebaikan, meskipun
hanya wajah yang manis saat bertemu dengan saudaramu" (Al Bukhary).

6. Tidak Memalingkan Wajah

Memalingkan wajah, apapun alasannya, sulit untuk ditafsirkan lain kecuali


sikap meremehkan atau memusuhi. Apabila seorang Muslim berjumpa dengan
saudaranya, selain salam dan jabat tangan. hendaklah ditambah dengan
menatap wajah saudaranya; tidak malah memalingkan wajah. Nilai ucapan
salam dan jabatan tangan menjadi hampa dan hilang ketika seseorang
melakukannya sambil memalingkan wajah.
Allah SWT telah mengingatkan masalah ini dengan firman-Nya:"Dan
janganlah kamu memalingkan muka kamu dari manusia dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri" (Luqman [31]: 18).

7. Tidak Membikin Gaduh

Setiap pembicaraan yang kita lakukan hendaklah secukupnya saja.


Maksudnya, tidak dengan suara yang berlebihan, tetapi juga tidak terlalu
lemah. Minimal orang yang kita ajak berbicara mampu menangkap suara kita,
itu sudah cukup. Demikian pula dalam mengucapkan salam; secukupnya saja.

Al Miqdad RA biasa menyediakan susu bagian Rasulullah SAW. Maka


Rasulullah SAW datang pada waktu malam, lalu beliau memberi salam
dengan perlahan sehingga tidak membangunkan orang yang tidur, dan cukup
didengar oleh mereka yang terjaga. Dan beliau mengucapkan salam

21
sebagaimana biasa beliau mengucapkan salam (HR. Muslim).

8. Tidak Mengucapkan ‘Alaikassalaam

Ucapan salam yang dilarang oleh Rasulullah SAW adalah ‘alaikassalaam,


karena kata ‘alaikassalaam adalah salam untuk orang yang telah meninggal.
Abu Juray al Hujaimi datang kepada Rasulullah SAW sambil
mengucapkan:"'Alaikassalaam, ya Rasulullah!" Maka Rasulullah SAW
berkata:"Jangan berkata 'alaikassalaam karena ‘alaikassalaam itu merupakan
salam bagi orang mati" (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).

9. Salam Kepada Lain Jenis

Laki-laki diperkenankan memberi salam kepada wanita; dan sebaliknya


wanita juga diperbolehkan mengucapkan salam kepada laki-laki.
Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika berjalan melalui
sekumpulan wanita. Beliau memberi salam kepada mereka (HR. Abu Daud
dan Tirmidzi).
Asma' Binti Jazid menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW berjalan di
masjid mendadak melihat rombongan wanita tengah duduk, maka beliau
melambaikan tangan dengan mengucapkan salam" (HR. At Tirmidzi).
Sedangkan salam wanita kepada laki-laki digambarkan oleh Ummu Hani'
Binti Abu Thalib RA ketika datang kepada Rasulullah SAW saat Fat-hu
Makkah (penaklukan kota Makkah). Saat itu, Rasulullah SAW tengah mandi
dan di depan ada Fathimah. Maka Ummu Hani' memberikan salam kepada
Rasulullah SAW (HR. Muslim).

Tentu saja, memberikan salam kepada lawan jenis yang bukan muhrim
dilakukan dengan tetap memperhatikan adab-adab pergaulan lawan jenis.
Jangan sampai salam dengan lawan jenis justru dijadikan sebagai pengantar
mendekati perbuatan zina. Misalkan salam anak-anak muda kepada lawan
jenis dengan ragam salam yang tidak tepat. Ada salam sayang, salam mesra,
salam rindu dan mungkin ada salam-salam lain yang lebih berbahaya.

21
Padahal salam seperti itu ditujukan kepada lawan jenis yang bukan muhrim
bukan pula isteri/suaminya. Salam seperti inilah yang tidak lagi bernilai
syar'i.

10. Salam Kepada Orang Non Muslim

Diharamkan seorang Muslim mendahului mengucapkan salam kepada orang


Non Muslim. Rasulullah SAW bersabda:"Jangan kalian mendahului
mengucapkan salam kepada orang Yahudi atau Nashrani" (HR. Muslim).
Tetapi apabila forumnya telah berbaur antara orang Muslim dengan Non
Muslim, maka diperkenankan kita untuk memulai mengucapkan salam.
Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika melewati suatu majelis
yang berbaur antara orang Muslim, musrikin penyembah berhala dan Yahudi.
Beliau mengucapkan salam kepada mereka" (HR. Bukhary dan Muslim).
Apabila orang Non Muslim memulai mengucapkan salam, maka jawaban yang
diperkenankan oleh syari'at adalah:"Wa ‘alaikum!" (Semoga anda juga). Itu
saja, tidak usah diperpanjang lagi. Rasulullah SAW menasihatkan:"Jika orang-
orang Ahli Kitab (Non Muslim) memberi salam kepada kamu, maka
jawablah:"Wa ‘alaikum" (HR. Bukhary dan Muslim).

11. Salam Kepada Anak-anak

Salam tidak hanya hak bagi pemuda dan orang tua. Anak-anak pun berhak
untuk mendapatkan salam dan membalasnya. Bahkan, kebiasaan
menyebarkan salam kepada anak-anak, diharapkan dapat mewarnai akhlaq
seseorang ketika menginjak remaja dan dewasa.
Anas Bin Malik RA memberi salam kepada anak-anak ketika dia berjalan di
muka mereka. Kemudian Anas berkata:"Dahulu Rasulullah SAW juga
berbuat seperti ini (HR. Bukhary dan Muslim).
Maka berilah salam kepada anak-anak sekaligus mengkondisikan mereka
dengan akhlaq-akhlaq Islami sejak dini.

12. Salam Jika memasuki rumah

21
Allah SWT memerintahkan kepada Kaum Muslimin untuk meminta ijin dan
mengucapkan salam apabila hendak memasuki rumah orang lain. Firman-
Nya:"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada
penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat"
(An Nuur [24]: 27).
Demikian pula jika kita memasuki rumah kita sendiri, baik dalam keadaan
ada orangnya atau dalam keadaan kosong. Disyari'atkan supaya kita
mengucapkan salam. Allah SWT berfirman:"... Maka apabila kamu
memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi
salam kepada dirimu sendiri. Salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang
diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya)
bagimu, agar kamu memahaminya" (An Nuur [24]: 61).
Rasulullah SAW pun juga mengajarkan kepada Anas Bin Malik:"Wahai
anak, jika kamu masuk ke dalam rumah keluargamu, hendaknya memberi
salam, supaya menjadi berkah untuk kamu dan keluargamu" (HR. at
Tirmidzi).

Jika kita memasuki rumah dan tidak menmukan seorangpun di sana, maka
dianjurkan untuk mengucapkan: “ASSALA-MU’ALAINAA MIN QIBALI
RABBINAA.” ( Salam sejahtera bagi kita dari hadapan Rabb semua).
Demikian Razi menjelaskan dalam tafsirnya pendapat Ibnu Abbas RA.

Dijelaskan pula oleh para pendahulu kita yang shalih, di antaranya Mujahid
dan Qatadah, “Apabila engkau masuk rumah untuk menemui keluargamu,
ucapkanlah salam kepada mereka. Apabila engkau masuk rumah yang tak

berpenghuni, ucapkanlah: ‫ه‬ ِ ‫م ع َل َي َْنا وَعََلى‬


ِ ‫عب َسسادِ الل س‬ ُ َ ‫سل‬
ّ ‫ال‬
‫ن‬
َ ْ ‫حي‬
ِ ِ ‫صال‬
ّ ‫ال‬. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/431)

Ini perlu dibiasakan kepada anak-anak, karena orang yang masuk rumah
dengan mengucap salam memiliki keutamaan. Diriwayatkan oleh Abu
Umamah Al-Bahili RA dari Rasulullah SAW :

21
ٌ ‫جس‬
‫ل‬ ُ ‫ وََر‬: (‫من ْهَسسا‬
ِ )‫ل‬ َ َ‫ن ع ََلى الل سهِ عَسّز و‬
ّ ‫جس‬ ٌ ‫م‬
ِ ‫ضا‬ ْ ُ‫ة ك ُل ّه‬
َ ‫م‬ ٌ َ ‫ث َل َث‬
‫ه‬ُ َ ‫ل ب َي ْت‬ َ ‫خ‬ َ َ‫د‬

‫ل‬ َ َ‫ن ع ََلى اللهِ عَّز و‬


ّ ‫ج‬ ٌ ‫م‬ َ َ‫سل َم ٍ فَهُو‬
ِ ‫ضا‬ َ ِ‫ب‬

“Ada tiga orang yang mendapat jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, (di
antaranya) seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam,
maka dia mendapatkan jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Abu
Dawud no. 2494, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih
Sunan Abi Dawud).

13. Salam hendaknya disampaikan ketika memulai suatu pembicaraan


dihadapan orang lain (orang banyak) dan mengakhirinya.

D. MAKNA SALAM

1. Doa

Makna salam adalah do'a seorang Muslim kepada saudaranya seiman. Kata
"Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh" mempunyai makna
"Semoga seluruh keselamatan, rahmat dan berkah dianugerahkan Allah kepada
kalian". Nilai do'a dalam kandungan salam ini menjadi salah satu dasar mengapa
salam tidak dapat diberikan kepada orang-orang Non Muslim. Karena do'a
seorang Muslim kepada Non Muslim akan tertolak, meskipun ditujukan kepada
orang-orang yang dekat dalam kehidupannya. Demikian pula Rasulullah SAW
tertolak do'anya ketika ditujukan kepada pamannya yang masih kafir, Abu Thalib.
Dan Allah mengingatkan dengan firman-Nya:"Sesungguhnya kamu tidak akan
dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi
petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-

21
orang yang mau menerima petunjuk" (Al Qashash [28]: 56).

Do'a seorang Muslim kepada Non Muslim adalah do'a supaya mereka mendapat
petunjuk masuk dalam pangkuan Islam. Demikianlah do'a Rasulullah SAW
kepada orang Non Muslim:"Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, karena
sesungguhnya mereka orang yang tidak mengerti" (Sirah Nabawiyah, Abul Hasan
ali An Nadwi). Atau do'a Rasululah SAW kepada Umar Bin Khaththab ketika
masih kafir:"Ya Allah, berilah kemuliaan kepada Islam dengan masuk Islamnya
salah satu orang terkasih kepada-Mu, yakni Abu Jahal atau Umar Bin Khaththab".

Demikian pula sebaliknya. Seorang Non Muslim tidak mungkin mendo'akan


seorang Muslim, karena tuhannya tidak sama. Bagaimana mungkin seorang tuan
menggaji seseorang yang bukan pegawainya. Sehingga, bila seorang Non Muslim
memberi salam kepada kita, cukup kita balas dengan ucapan:"Wa'alaikum
(Semoga kamu juga)", tidak lebih dari itu.
Berkah do'a dari salam itulah yang menjadikan shahabat mengecilkan volume
jawaban salam ketika Rasulullah SAW mengucapkan salam kepada penghuni
rumahnya. Sampai salam ketiga, barulah mereka menjawab dengan suara keras.
Ketika Rasulullah SAW bertanya mengapa hal itu dilakukan oleh mereka, maka
dijawab:"Kami ingin mendapatkan do'a dari Rasulullah SAW".

2. Dasar Iman dan Ukhuwwah

Salam merupakan dasar terbentuknya kasih-sayang (ukhuwwah), sedangkan


kasih-sayang merupakan salah satu indikasi kedalaman iman. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa salam merupakan dasar bagi tegaknya iman dan ukhuwwah.
Rasulullah SAW bersabda:"Demi Dia yang diriku berada di tangan-Nya! Kalian
tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman
hingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah kalian saya tunjukkan suatu
perkara yang apabila kalian kerjakan, maka akan tumbuh rasa kasih-sayang di
antara kalian? Sebarkan salam di antara kalian!" (HR. Muslim).

3. Syi’ar Universal

21
Sangat keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa salam
adalah budaya Arab, sehingga diusulkan supaya diganti dengan sapaan lokal
atau nasional setempat. Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab tidak
mengenal salam seperti yang kita fahami sekarang. Bila mereka menyapa,
mereka akan mengatakan:"Shabahan Nuur (Selamat pagi)" atau "Masaa'an
Nuur (Selamat malam)" dan kemudian akan dijawab "Shabahal Khair" atau
"Masaa'al Khair".
Setelah kedatangan Islam, sapaan ala Arab itu tidak hilang begitu saja.
Sapaan itu tetap menjadi sapaan khas dalam Bahasa Arab. Sedangkan sapaan
sesuai syari'at Islam adalah:"Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi
wabarakaatuh" menjadi tradisi bagi Kaum Muslimin. Sehingga bagi orang Arab
yang Non Muslim tidak memakai salam sebagai sapaan mereka.

Maka sangat keliru mereka yang beranggapan bahwa salam adalah sapaan
budaya Arab. Meskipun salam memakai Bahasa Arab. Yang benar adalah
salam merupakan sapaan khas Islam yang sesuai dengan syari'at dan
berpahala apabila mengerjakannya. Sekaligus salam merupakan sapaan yang
bersifat universal bagi seluruh Kaum Muslimin sedunia. Dia semacam kode
etik pergaulan antara sesama Muslim. Siapapun dia, berada di manapun, dan
kapanpun jua; maka salam adalah sapaan pemersatu Kaum Muslimin di
seluruh dunia. Itulah syi'ar di antara syi'ar-syi'ar agama Allah yang harus kita
agungkan.

"...Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya


itu timbul dari ketaqwaan hati" (Al Hajj [22]: 32).

E. KEUTAMAAN SALAM
a. Mengucapkan salam merupakan salah satu perintah Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam
hadits Barra’ bin Azib, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam
memerintahkan kami untuk melakukan tujuh perkara, yaitu; menjenguk orang
yang sakit, mengikuti jenazah, mendo’akan orang bersin yang mengucapkan
alhamdulillah, membantu orang yang lemah, menolong orang yang dizhalimi,
mengucapkan salam dan memenuhi sumpah.” (Muttafaq alaih).
b. Menimbulkan kasih sayang antar sesama, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu
Hurairah ra Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:

21
“Tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak beriman sehingga
kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu perbuatan yang bisa
membuatmu saling mencintai; yaitu tebarkan salam antar sesamamu.” (HR. al
Bukhari - Muslim).
c. Merupakan amalan yang terbaik dalam Islam. Dari Abdullah bin Amr bin Ash
ra, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Sallam: “Apakah amalan yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab:
“Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu
kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR. al Bukhari - Muslim).
d. Mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah, sebagaimana firmanNya:
“Maka ketika kamu masuk rumah, ucapkan salam untuk dirimu sebagai
penghormatan dari Allah yang berisi berkat dan kebaikan.” (An-Nur: 61).
e. Termasuk di antara perbuatan yang bisa memasukkan pelakunya ke dalam
surga. Abu Yusuf Abdullah bin Salam Radhiallaahu anhu berkata; saya pernah
mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
”Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukan silaturrahim,
dan shalatlah ketika orang lain tidur malam, maka engkau akan masuk ke
surga dengan selamat.” (HR. At Tirmidzi, dia berkata: “hasan shahih”).
Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda :

،‫حاّبوا‬
َ َ ‫حّتى ت‬َ ‫مُنوا‬ ِ ْ ‫ وَل َ ت ُؤ‬،‫مُنوا‬ ِ ْ ‫حّتى ت ُؤ‬
َ ‫ة‬ َ ْ ‫ن ال‬
َ ّ ‫جن‬ َ ‫خُلو‬ ُ ْ ‫ل َ ت َد‬
‫شوا‬ ُ ْ‫م؟ أ َف‬ْ ُ ‫حاب َب ْت‬
َ َ ‫موْهُ ت‬ ُ ُ ‫يٍء إ َِذا فَعَل ْت‬
ْ ‫ش‬َ ‫م ع ََلى‬ َ
ْ ُ ‫أوَل َ أد ُل ّك‬
َ

ْ ُ ‫م ب َي ْن َك‬
‫م‬ َ َ ‫سل‬ ّ ‫ال‬

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak
dikatakan beriman hingga kalian bisa saling mencintai. Maukah kalian aku
tunjukkan terhadap satu amalan yang bila kalian mengerjakannya kalian akan
saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim
no. 192).

BAB III

21
PENUTUP

3.1 SARAN
3.2

Untuk dapat mencapai suatu tujuan yang sama yaitu mendapatkan keridhoan
dari Tuhan Yang Maha Esa dan dapat terjalin tali persaudaraan sesama umat
khususnya muslim, maka seharusnya

1. Diharapkan semua kalangan dapat mengerti yang terkandung dalam


makalah kami, agar kita bias memahami tentang ajaran islam yaitu
meyebarkan salam.
2. Dengan membaca makalah ini tentang menyebarkan salam, seharusnya
kita dapat menerapkan dalam kehidupan sehari – hari sesuai dengan
sunnah Rasulallah SAW Karena secara tidak langsung kita dtelah
menyebarkan kebaikan dengan mendoakan keselamatan orang lain dan diri
kita sendiri.

3.3 KESIMPULAN

Demikian yang semestinya dilakukan oleh setiap orang tua dan kaum
muslimin dalam menanamkan kebiasaan ini. Begitu pula hendaknya yang
ditempuh oleh seorang pengajar yang mendidik anak-anak. Dinasihatkan
oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: “Seorang pengajar apabila
memasuki kelas hendaknya mengucapkan salam dengan mengatakan
‫ه‬ َ ‫ة اللهِ وَب ََر‬
ُ ُ ‫كات‬ ُ ‫م‬
َ ‫ح‬ ْ ُ ‫م ع َل َي ْك‬
ْ ‫م وََر‬ ُ َ ‫سل‬
ّ ‫ال‬, dan hendaknya dia mengetahui bahwa
ini adalah perilaku Islami yang agung, yang memperkuat ikatan cinta dan
kepercayaan di antara murid, maupun antara pengajar dengan muridnya.”

Beliau menambahkan: “Tidak sepantasnya salam yang diucapkan itu


berupa kalimat ‘selamat pagi’ atau ‘selamat sore’. Namun tidak mengapa
bila setelah mengucapkan salam dia ucapkan perkataan itu dengan sedikit
perubahan, seperti misalnya ‘Semoga Allah berikan kebaikan padamu pagi

21
ini’, sehingga ucapan itu mengandung makna doa….” (Nida` ilal
Murabbiyin wal Murabbiyat, hal. 17)

Inilah tuntunan Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan di antara


kaum muslimin. Tentunya, harus kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang
jauh dari tuntunan Rasulullah SAW. Sebagai gantinya, menghidupkan
sunnah yang demikian benderang ini dalam kehidupan kita dan anak-anak
kita. Wallahu A’lam.

21