Anda di halaman 1dari 24

c 




Menuraut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat

berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan

mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka

menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan

cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau

tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan

dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.

Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat

diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan

oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan

simbol atau perlambang.

 


2.1 Bahasa sebagai sistem

Bahasa sebagai sistem yaitu bahasa terdiri dari unsur-unsur/komponenkomponen yang

secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan.Bahasa bersifat

sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, secara

sembarangan. Bahasa bersifat sistemik yaitu bahasa bukan merupakan sistem tunggal, tetapi

terdiri juga dari sub-subsistem atau sistem bawahan. Sub-sub sistem tersebut adalah fonologi,

morfologi, sintaksis, semantik. Tataran pragmatik yaitu kajian yang mempelajari penggunaan

bahasa dengan berbagai aspeknya, sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia.
2.2 Bahasa sebagai lambang

Ilmu semiatika/semiologi yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam

kehidupan manusia termasuk bahasa.

Tanda ĺ menandai sesuatu secara langsung dan alamiah.

Lambang ĺ menandai sesuatu secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung.

Tanda-tanda lain dalam objek semiotika adalah:

Sinyal/Isyarat ĺ tanda yang disengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal

melakukan sesuatu.

ҘGerak isyarat/geture ĺ tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan, tidak bersifat

imperatif seperti sinyal.

ҘGejala/sympton ĺ tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud, tapi alamiah

menunjukkan/mengungkapkan sesuatu akan terjadi.

ҘIkon ĺ tanda/gambar dari wujud yang diwakilinya. Ҙ

Indeks ĺ tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan

adanya api.

Ciri kode sebagai tanda ĺadanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal maupun gerak

isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda dan tindakan yang disepakati untuk

maksud tertentu.

2.3 Bahasa adalah bunyi

Bahasa merupakan lambang yang wujudnya bunyi. Bunyi bahasa adalah bunyi-bunyi

yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa yang primer adalah yang diucapkan dari alat

ucap manusia. Bahasa sekuder adalah bahasa tulisan.


2.4 Bahasa itu bermakna

Bahasa dikatakan mempunyai makna sebab mempunyai fungsi yaitu menyampaikan

pesan, konsep, ide atau pikiran. Berdasarkan perbedaan tingkatannya, makna bahasa dibedakan

menjadi:

ҘMakna leksikal: makna yang berkenaan morfem/kata. Ҙ

Makna gramatikal: makna yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat. Ҙ

Makna pragmatik: makna yang berkenaan dengan wacana.

2.5 Bahasa itu arbitrer

Adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep/pengertian

yang dimaksud oleh lambagn tersebut.

2.6 Bahasa itu konvensional

Artinya semua anggota masyarakat bahasa ini mematuhi konvensi bahwa lambang

tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

2.7 Bahasa itu produktif

Maksudnya meski unsur bahasa itu terbatas tetapi dengan jumlah unsur yang terbatas

dapat dibuat satuans bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif sesuai dengan

sistem yang berlaku dalam bahasa


2.8 Bahasa itu unik

Artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ciri khas

ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat atau

sistem-sistem lainnya.

2.9 Bahasa itu universal

Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini.

Ciri universal bahasa: bahasa mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

2.10 Bahasa itu dinamis

Artinya bahasa ikut berubah sesuai dengan kehidupan dalam masyarakan yang tidak tetap

dan selalu berubah.

2.11 Bahasa itu bervariasi

Bahasa menjadi bervariasi sebab latar belakang dan lingkungannya tidak sama. Variasi

bahasa meliputi:

a. Idialek : variasi bahasa yang bersifat perseorangan.

b. Dialek : variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada waktu dan

tempat tertentu.

c. Ragam: variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu.
2.12 Bahasa itu manusia

Artinya alat komunikasi manusia yang namanya bahasa tersebut hanya milik manusia dan

hanya dapat digunakan oleh manusia.

ã  


Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling

sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita

kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan

mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang

Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.

Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti

berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau

bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa¶ bagi kepentingan yang

lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata

atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa

atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif.

Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja,

bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi

bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus

mengetahui fungsi-fungsi bahasa.

Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan

kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk

berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan
atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan

dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu

pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus

ikut berperan di dalam dunia

persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan

istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)

secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk

budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan

sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu

(Sunaryo, 1993, 1995).

Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak

dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata

memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang

sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan

dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar,

menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam

menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari

daya nalar (pikiran).

Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan.

Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah
pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas

bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia

bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat

modern.

ã  
  




Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau

perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak

tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk

berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa,

baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan

dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri

seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi,

kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.

Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku, merupakan hasil ekspresi diri

kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan

isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak.

Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah

surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita

hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.

Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai

bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya,

pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya

pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk
berkomunikasi.

Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala

sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan

kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :

- agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,

- keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi Pada taraf permulaan,

bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya

sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).

ã  
  



Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan

sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi

pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta

apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.

Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan

perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur

berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita

(Gorys Keraf, 1997 : 4).

Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan

tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat

diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin

mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita.

Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita.
Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran

kita.

Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga

mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu,

seringkali kita mendengar istilah ³bahasa yang komunikatif´. Misalnya, kata j  hanya

dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata ˜  atau !  lebih

mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata  — misalnya, lebih sulit dipahami

dibandingkan kata j  atau r j  Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma—

dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro

akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas,

atau nuansa tradisional.

Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat

untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita,

pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita.

Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

ã ã 
    
  

 

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia

memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam

pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota

masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat

komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok

sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan

menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-


tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan

masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).

Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai

alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita

akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita

hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan

menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa

standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara

menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata

tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia

boleh menegur orang dengan kata atau atau atau Bagi orang asing,

pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan

sampai ia menggunakan kata  untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita

mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam

budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan

menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

ã  
    
 Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol

sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan,

informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku

instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.

Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol

sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering
mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang `    di televisi dan radio. Iklan layanan

masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol

sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk

memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita

belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah

sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk

meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan.

Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat

persoalan secara lebih jelas dan tenang.

( 
   
 
 

Bahasa bukan sekedar alat komunikasi, bahasa itu bersistem. Oleh karena itu, berbahasa

bukan sekedar berkomunikasi, berbahasa perlu menaati kaidah atau aturan bahasa yang berlaku. 

   


Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa. Hal itu berarti

bahwa kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita. Kita harus memperhatikan kepada siapa

kita akan menyampaikan bahasa kita. Oleh sebab itu, unsur — 

—  —   


 —
   
 — dan     khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan.

Cara kita berbahasa kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu

berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan

rendah tentu tidak dapat disamakan. Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai

= — misalnya, dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang
dewasa. Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa tentu jauh

berbeda.

Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi

menjadi penting, yakni 



—

—
 
—dan 
 

!engirim pesan adalah orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan,

yaitu pendengar atau pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika pengirim

pesan menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media lisan. Jika ia menggunakan

surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi pesan adalah gagasan yang ingin

disampaikannya kepada penerima pesan. Marilah kita gunakan contoh sebuah majalah atau buku.

Pengirim pesan dapat berupa penulis artikel atau penulis cerita, baik komik, dongeng, atau narasi.

Isi pesan adalah permasalahan atau cerita yang ingin disampaikan atau dijelaskan. Media pesan

merupakan majalah, komik, atau buku cerita. Semua bentuk tertulis itu disampaikan kepada

pembaca yang dituju. Cara artikel atau cerita itu disampaikan tentu disesuaikan dengan pembaca

yang dituju. Berarti, dalam pembuatan tulisan itu akan diperhatikan jenis permasalahan, jenis

cerita, dan kepada siapa tulisan atau cerita itu ditujukan.

(      Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni peraturan

bahasa.

Berkaitan dengan peraturan bahasa, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah  

—

 — "—dan = Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan kata, harus

dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulis. Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus

dimiliki dalam penggunaan bahasa tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan

mengalami kesulitan dalam bermain dengan bahasa.

Kriteria yang digunakan untuk melihat penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah
bahasa. Kaidah ini meliputi aspek (1) tata bunyi (fonologi), (2)tata bahasa (kata dan kalimat), (3)

kosa kata (termasuk istilah), (4), ejaan, dan (5) makna. Pada aspek tata bunyi, misalnya kita telah

menerima bunyi f, v dan z. Oleh karena itu, kata-kata yang benar adalah fajar, motif, aktif,

variabel, vitamin, devaluasi, zakat, izin, bukan pajar, motip, aktip, pariabel, pitamin, depaluasi,

jakat, ijin. Masalah lafal juga termasuk aspek tata bumi. Pelafalan yang benar adalah kompleks,

transmigrasi, ekspor, bukan komplek, tranmigrasi, ekspot.

Pada aspek tata bahasa, mengenai bentuk kata misalnya, bentuk yang benar adalah ubah,

mencari, terdesak, mengebut, tegakkan, dan pertanggungjawaban, bukan obah, robah, rubah, nyari,

kedesak, ngebut, tegakan dan pertanggung jawaban. Dari segi kalimat pernyataan di bawah ini

tidak benar karena tidak mengandung subjek. Kalimat mandiri harus mempunyai subjek, predikat

atau dan objek.

(1) Pada tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah

pria. Jika kata pada yang mengawali pernyataan itu ditiadakan, unsur tabel di

atas menjadi subjek. Dengan demikian, kalimat itu benar. Pada aspek kosa kata, kata-kata seperti

bilang, kasih, entar dan udah lebih baik diganti dengan berkata/mengatakan, memberi, sebentar,

dan sudah dalam penggunaan bahasa yang benar. Dalam hubungannya dengan peristilahan, istilah

dampak (
" ), bandar udara, keluaran (  ), dan pajak tanah (  #) dipilih sebagai

istilah yang benar daripada istilah pengaruh, pelabuhan udara, hasil, dan pajak bumi. Dari segi

ejaan, penulisan yang benar adalah analisis, sistem, objek, jadwal, kualitas, dan hierarki. Dari segi

maknanya, penggunaan bahasa yang benar bertalian dengan ketepatan menggunakan kata yang

sesuai dengan tuntutan makna. Misalnya dalam bahasa ilmu tidak tepat jika digunakan kata yang

sifatnya konotatif (kiasan). Jadi penggunaan bahasa yang benar adalah penggunaan bahasa yang

sesuai dengan kaidah bahasa.


Kriteria penggunaan bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai

dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik yang dibicarakan, tujuan

pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau pembaca (jika tulis), dan tempat

pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan

logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita. Penggunaan bahasa yang benar tergambar dalam

penggunaan kalimat-kalimat yang gramatikal, yaitu kalimat-kalimat yang memenuhi kaidah tata

bunyi (fonologi), tata bahasa, kosa kata, istilah, dan ejaan. Penggunaan bahasa yang baik terlihat

dari penggunaan kalimat-kalimat yang efektif, yaitu kalimat-kalimat yang dapat menyampaikan

pesan/informasi secara tepat (Dendy Sugondo, 1999 : 21)..

Berbahasa dengan baik dan benar tidak hanya menekankan kebenaran dalam hal tata

bahasa, melainkan juga memperhatikan aspek komunikatif. Bahasa yang komunikatif tidak selalu

hanus merupakan bahasa standar. Sebaliknya, penggunaan bahasa standar tidak selalu berarti

bahwa bahasa itu baik dan benar. Sebaiknya, kita menggunakan ragam bahasa yang serasi dengan

sasarannya dan disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar (Alwi dkk., 1998: 21)

V 
   

Banyak orang yang belajar bahasa dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang belajar

hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk

dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan ada pula

yang belajar dengan berbagai tujuan khusus.

Tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai

konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya

tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan

menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.


Sementara itu, dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA, disebutkan bahwa tujuan

pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi:

1. Siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan

(nasional) dan bahasa negara.

2. Siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta

menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan,

dan keadaan.

3. Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan

kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial.

4. Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).

5. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan

kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan

kemampuan berbahasa.

6. Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan

intelektual manusia Indonesia.

Untuk sampai pada tujuan tersebut, diperlukan strategi penyampaian pembelajaran berupa

metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada pebelajar untuk menerima serta merespon

masukan yang berasal dari pelajar. Adapun strategi pengelolaan pembelajaran adalah metode

untuk menata interaksi antara pelajar dengan variabel pengorganisasian dan penyampaian isi

pembelajaran.
á    

Macam-macam ragam bahasa :

1. Ragam baku adalah ragam bahasa yang oleh penuturnya dipandang sebagai ragam yang

baik. Ragam ini biasa dipakai dalam kalangan terdidik, karya ilmiah, suasana resmi, atau

surat resmi.

2. Ragam cakapan (ragam akrab) adalah ragam bahasa yang dipakai apabila pembicara

menganggap kawan bicara sebagai sesama, lebih muda, lebih rendah statusnya atau

apabila topik pembicara bersifat tidak resmi.

3. Ragam hormat adalah ragam bahasa yang dipakai apabila lawan bicara orang yang

dihormati, misalnya orang tua dan atasan.

4. Ragam kasar adalah ragam bahasa yang digunakan dalam pemakaian tidak resmi di

kalangan orang yang saling mengenal.

5. Ragam lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh

ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Bahasa

lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur

menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Ragam lisan dapat kita

temui, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi

perkuliahan, ceramah, dan ragam lisan yang non standar, misalnya dalam percakapan

antar teman, di pasar, atau dalam kesempatan non formal lainnya.

6. Ragam resmi adalah ragam bahasa yang dipakai dalam suasana resmi.

Ragam tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terkait ruang

dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual.
Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun non standar. Ragam tulis

yang standar kita temui dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster,

c     


  jj 

Bahasa dibentuk oleh kaidah atau aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak

menyebabkan gangguan dalam berkomunikasi. Kaidah atau aturan dan pola-pola yang dibentuk

mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Bahasa penting dikusai oleh pengirim maupun

penerima pesan agar komunikasi yang terjadi antar keduanya dapat berjalan dengan lancar.

Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan

dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri (Godam,2008). Bahasa

terdiri dari dua jenis, yaitu bahasa lisan sebagai bahasa primer, dan bahasa tulisan merupakan

bahasa sekunder.

Manfaat Penggunaan Bahasa Dalam Masyarakat :

1.Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia.

2.Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia.

3. Alat untuk mengidentifikasi diri.

Macam-Macam dan Jenis-Jenis Ragam / Keragaman Bahasa (Godam, 2008) :

1. Ragam bahasa pada bidang tertentu seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa

jurnalistik, dsb.

2. Ragam bahasa pada perorangan atau idiolek

3. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek seperti

dialek bahasa madura, dialek bahasa medan, dialek bahasa sunda, dialek bahasa bali,

dialek bahasa jawa, dan lain sebagainya.


4. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam

bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan.

5. Ragam bahasa pada bentuk bahasa seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan.

6. Ragam bahasa pada suatu situasi seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak

baku).

7. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur

menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan.

8. Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi

melalui gerakan-gerakan tubuh

Keragaman bahasa yang banyak dinegara Indonesia ini dapat menyebabkan adanya

hambatan dalam berkomunikasi jika penerima pesan tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh

pengirim pesan. Oleh karena itu, untuk mempersatukan bangsa dan mengurangi hambatan dalam

berkomunikasi biasanya disetiap Negara memiliki bahasa pemersatu, begitu pula di Indonesia

yang memiliki bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah

bahasa pemersatu bangsa Indonesia, yang terdiri atas berbagai suku dan etnis dengan latar

belakang bahasa berbeda.Di Indonesia kesepakatan Bahasa persatuan sebagai Bahasa Indonesia

telah dibentuk sejak Sumpah Pemuda (secara de Facto), yang menjadikan Bahasa Indonesia

sebagai Bahasa yang sah sebagai Bahasa pemersatu. Jadi ketika kita menggunakan Bahasa

Indonesia jelas sudah kesepakatan kita untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa

pemersatu yang terealisasi hingga detik ini, dengan harapan setiap warga Indonesia di

kedepannya dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa mengalami kesulitan dengan seluruh

manusia yang berada di wilayah Indonesia.


2.2 Manfaat Bahasa Indonesia dalam Pelayanan Kesehatan

Jenis pelayanan kesehatan yang ada Indonesia sangat beragam mulai dari lingkup yang

sederhana sampai yang luas cakupannya. Pelayanan kesehatan diberikan mulai dari lingkup

personal, keluarga, dan yang berada di lingkungan masyarakat. Pelayanan kesehatan dalam

lingkungan masyarakat dapat meliputi pelayanan kesehatan di puskesmas, kelompok-kelompok

masyarakat atau komunitas dan Rumah Sakit. Komunikasi merupakan hal yang penting dan

harus diperhatikan oleh orang yang memberikan pelayanan kesehatan. Dalam komunikasi faktor

yang sangat berpengaruh adalah bahasa. Oleh karena itu dibutuhkan kesamaan jenis bahasa yang

digunakan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Di Indonesia penggunaan

bahasa Indonesia lebih ditekankan penggunaannya dari pada bahasa daerah. Hal ini dilakukan

oleh perawat agar klien memahami bahasa yang perawat gunakan. Namun, sebagai seorang

perawat harus tetap menghormati bahasa yang digunakan oleh kliennya.

Adapun manfaat dari penggunaan Bahasa Indonesia dalam pelayanan kesehatan adalah:

a. Mengurangi hambatan dalam berkomunikasi antara pemberi dan penerima pelayanan

kesehatan

b. Memberi kemudahan bagi pemberi pelyanan kesehatan khususnya perawat dalam

memberikan intervensi kepada kliennya

c. Memudahkan klien dan perawat dalam berkomunikasi

d. Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu mudah dimengerti oleh hampir

seluruh penduduk Indonesia sehingga penerima pelayanan keperawatan mudah

memahami dan menerima pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan


e. Perawat akan lebih mudah dalam menerapkan komunikasi teraupetik kepada klien

sebagai penerima pelayanan kesehatan

ãj  ! j!      

Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang

untuk menetapkan, mempertahankan dan meningkatkan kontak dengan orang lain (Potter,2005).

Komunikasi dapat terjadi pada tingkat intrapersonal, interpersonal dan umum. Dalam materi

pelatihan Keterampilan dan Manajemen SPMK menyebutkan bahwa Hewitt (1981),

menjabarkan tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:

1.  Mempelajari atau mengajarkan sesuatu

2.  Mempengaruhi perilaku seseorang

3.  Mengungkapkan perasaan

4.  Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain

5.  Berhubungan dengan orang lain

6.  Menyelesaian sebuah masalah

7.  Mencapai sebuah tujuan

8.  Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik

9.  Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orang lain

Komunikasi yang terjadi tidak selamanya lancar karena dalam berkomunikasi terkadang

mengalami hambatan-hambatan. Hambatan tersebut dapat berasal dari pengirim pesan

ataupun penerima pesan. Beberapa hambatan dalam komunikasi adalah:

 Hambatan dari Proses Komunikasi, diantaranya:


u Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum

jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau

situasi emosional.

u Hambatan dalam penyandian/symbol, hal ini dapat terjadi karena bahasa yang

dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang

dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang

dipergunakan terlalu sulit. Hambatan ini yang akan sering terjadi jika terdapat

perbedaan bahasa yang digunakan oleh pengirim dan penerima pesan. Oleh

karena itu dibutuhkan bahasa yang mudah dimengerti dan bahasa ndonesia

merupakan bahasa yang mudah dimengerti di Negara ini.

u Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media

komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat

mendengarkan pesan.

u Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si

penerima

u Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat

menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak

mencari informasi lebih lanjut.

u Hambatan dalam memberikan umpan balik. Umpan balik yang diberikan tidak

menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat

waktu atau tidak jelas dan sebagainya.


˜  Hambatan Fisik. Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca

gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat

komunikasi dan sebagainya.

  Hambatan Semantik. Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang

mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi

pesan dan penerima.

  Hambatan Psikologis. Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu

komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim

dan penerima pesan.

Perawat sebagai salah satu pemberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dalam

berkomunikasi menggunakan komunikasi teraupetik. Komunikasi teraupetik merupakan proses

dimana perawat berkomunikasi dengan menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien

(Potter,2005). Perbedaaan dalam penggunaan bahasa dalam memberikan pelayanan kesehatan

baik yang dilakukan oleh perawat maupun petugas kesehatan lainnya merupakan faktor yang

terpenting yang harus dipahami karena perbedaan bahasa ini akan memberikan dampak terhadap

semua proses selama pelayanan kesehatan diberikan.

(  
   ! j!      

Beragamnya bahasa yang ada di Indonesia dapat menyebabakan banyaknya arti dari

setiap kata. Tidak tersampianya pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan dapat

mengindikasikan adanya hambatan dalam komuniksi tersebut. Perbedaan bahasa antara pemberi

pelayanan kesehatan dalam hal ini perawat dengan klien dapat menjadi hambatan dalam
komunikasi antar keduanya. Oleh karena itu dibutuhkan bahasa yang dapat dimengerti oleh

hampir seluruh warga Indonesia dan dapat digunakan dimana saja perawat dan klien itu berada,

bahasa tersebut adalah Bahasa Indonesia karena bahasa ini merupakan bahasa pemersatu semua

penduduk yang ada di Indonesia.

Komunikasi yang jelas dan efektif adalah aspek penting ketika berhubungan dengan

klien, terutama jika perbedaan bahasa menciptakan rintangan kultural antara perawat dan klien.

Perbedaan bahasa yang terjadi antar aperawat dan klien harus dijembatani oleh orang ketiga agar

pesan yang disampaikan oleh perawat dapat diterima klien tanpa adanya kesalahpahaman arti.

Jika terjadi kesalahpahaman maka komunikasi yang terjadi antara keduanya dapat dikatakan

tidak lancar. Ketidakberhasilan untuk berkomunikasi secara efektif dengan klien tidak hanya

menyebabkan penundaan dalam diagnosis dan tindakan tetapi juga dapat mengarah pada hasil

yang tragis. Oleh karena itu kesamaan bahasa dalam hal ini sangat diperlukan.

Bahasa Indonesia memiliki pengaruh yang sangat besar tehadap pelayanan kesehatan.

Hampir seluruh penduduk di Indonesia mengeti dan memahami arti dari penggunaan bahasa

Indonesia yang baik. Oleh karena itu dalam memberikan pelayanan kesehatan seorang perawat

harus menggunakan bahasa Indonesia yang benar agar tidak terjadi kesalahpahaman. Beberapa

pengaruh penggunaan bahasa Indonesia yang baik dalam berkomunikasi dalam pelayanan

kesehatan adalah:

a. Memberikan kemudahan bagi penerima pelayanan kesehatan untuk memahami maksud

dari pemberi pelayanan kesehatan

b. Bahasa Indonesia mudah digunakan oleh penduduk Indonesia sehingga perawat dapat

menerapkan komunikasi teraupetik dalam memberikan pelayanan kesehatan


c. Bahasa Indonesia dapat mengurangi hambatan yang ada. Dalam hal ini adalah hambatan

dalam proses komunikasi dan hambatan smantik

d. Penggunaan bahasa Indonesia dapat memberikan kemudahan dalam berkomunikasi

sehingga perawat dapat memberikan asuhan yang tepat dan klien juga dapat mengikuti

perintah yang diberikan. Apabila komunikasi yang terjadi baik maka seorang perawat

tidak akan menemukan hambatan dalam memberikan intervensi keperawatan

e. Bahasa Indonesia dapat digunakan dimana saja diwilayah Indonesia. Hal ini dikarenakan

pemberian pelayanan kesehatan dapat diberikan disemua lingkup bermasyarakat, baik itu

di puskesmas, rumah sakit maupun di komunitas yang ada di masyarakat

Memudahkan terjadinya umpan balik antara penerima dan pemberi pelayanan kesehatan