Anda di halaman 1dari 35

STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 )


Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262, Tromol Pos. 7019 / Jks KL
Website: www.staklimpondokbetung.net ; E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Modul Pelatihan
“Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim (PPII) di Propinsi Banten 2009” ini dapat
diselesaikan dengan baik oleh Tim Materi PPII.

Modul Pelatihan ini dimaksudkan sebagai bahan acuan instruktur dalam memberikan
pelatihan pada kegiatan “Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim di Propinsi
Banten Tahun 2009”. Penyusunan modul ini didasarkan atas jenis informasi cuaca dan
iklim yang diberikan kepada masyarakat dan pemanfaatannya dalam menunjang
kegiatan di berbagai sektor.

Modul ini terdiri dari empat belas modul sebagai berikut :


1. Pengenalan Cuaca dan Iklim
2. Pengenalan dan Pemahaman Informasi Cuaca dan Iklim
3. Memahami Prakiraan Mengandung Kesalahan
4. Sistem Peringatan Dini Cuaca dan Iklim (MCEWS)
5. Cara Memperoleh Informasi Cuaca dan Iklim
6. Isu Perubahan Iklim (Climate Change)
7. Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim untuk Pertanian
8. Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim untuk Perhubungan dan Pariwisata
9. Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim untuk Pembangunan Infrastruktur
10. Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim untuk Lingkungan dan Kesehatan
11. Nilai Ekonomi Prakiraan Iklim
12. Studi Lapangan ke Stasiun Meteorologi Serang
13. Sosialisasi Pengiriman Data Hujan melalui SMS
14. Pembentukan Tim Teknis Informasi Iklim di Propinsi Banten

Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan modul ini. Semoga modul ini dapat memberikan gambaran yang jelas
khususnya kepada peserta pelatihan PPII.

Tangerang, 1 Juni 2009

Panitia Pelaksana PPII

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 i


TIM PENYUSUN

Urip Haryoko, MSi.


Drs. Suhatno, SE
Drs. Achmad Sasmita
Nuryadi, MSi.
Drs. Abdul Qohir
Drs. Udin Nasikhudin
Umi Farida, SSi.
Erna Ernansyih, SSi.
Triyogo Amberkahi, ST
Santoso, SSi.
Tri Nurmayati, SSi.
Yanuar Henry Pribadi, SPd.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 ii


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i

TIM PENYUSUN........................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI..................................................................................................................................iii

Modul 1: PENGENALAN CUACA DAN IKLIM ..................................................................... 1

Modul 2: PENGENALAN DAN PEMAHAMAN INFORMASI CUACA DAN IKLIM.......... 3

Modul 3: MEMAHAMI PRAKIRAAN MENGANDUNG KESALAHAN ............................... 5

Modul 4: SISTEM PERINGATAN DINI CUACA DAN IKLIM (MCEWS) .......................... 7

Modul 5: CARA MEMPEROLEH INFORMASI CUACA DAN IKLIM................................. 9

Modul 6: ISU PERUBAHAN IKLIM (CLIMATE CHANGE) ............................................... 11

Modul 7: PEMANFAATAN INFORMASI CUACA DAN IKLIM UNTUK PERTANIAN .. 14

Modul 8: PEMANFAATAN INFORMASI CUACA DAN IKLIM UNTUK


PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA ................................................................ 16

Modul 9: PEMANFAATAN INFORMASI CUACA DAN IKLIM UNTUK


PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR................................................................. 18

Modul 10: PEMANFAATAN INFORMASI IKLIM UNTUK LINGKUNGAN


DAN KESEHATAN ................................................................................................. 20

Modul 11: NILAI EKONOMI PRAKIRAAN IKLIM ................................................................. 22

Modul 12: STUDI LAPANGAN KE STASIUN METEOROLOGI SERANG ...................... 24

Modul 13: SOSIALISASI PENGIRIMAN DATA HUJAN MELALUI SMS


BAGI PENGAMAT HUJAN OBS.......................................................................... 26

Modul 14: PEMBENTUKAN TIM TEKNIS INFORMASI IKLIM


DI PROPINSI BANTEN ......................................................................................... 28

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 iii


Modul 1: PENGENALAN CUACA DAN IKLIM

A. DESKRIPSI SINGKAT
Cuaca dan iklim terdiri dari berbagai elemen yang dapat diamati dan diukur. Setiap
elemen tersebut dinyatakan dalam satuan tertentu, misalnya suhu dalam satuan
derajat panas. Cuaca dan iklim mempunyai arti yang berbeda, tetapi unsur-
unsurnya sama. Unsur-unsur cuaca/iklim adalah suhu, kelembaban dan tekanan
udara serta kecepatan angin, radiasi dan lama penyinaran matahari, presipitasi
(curah hujan, embun dan salju) dan penguapan. Cuaca merupakan kondisi
atmosfer sesaat (jangka pendek) di suatu tempat tertentu, sedang iklim
menggambarkan kondisi cuaca rata-rata di suatu tempat/wilayah tertentu dalam
jangka panjang.

Dalam modul/bahan ajar ini, akan dibahas pengertian cuaca dan iklim, satuan-
satuan yang digunakan dalam pengukuran cuaca dan iklim, faktor-faktor yang
mempengaruhi cuaca/iklim.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat memahami dan
menjelaskan pengertian cuaca dan iklim

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat :
a. Memahami pengertian dan perbedaan antara cuaca dan iklim
b. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi cuaca dan iklim khususnya di
Indonesia
c. Menjelaskan parameter cuaca dan iklim
d. Menjelaskan satuan-satuan dari parameter cuaca/iklim.

C. METODE
Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang
menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :

1. Konsepsi cuaca
a. Pengertian cuaca
b. Faktor-faktor dinamika atmosfer yang mempengaruhi cuaca
c. Parameter cuaca

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 1


2. Konsepsi iklim
a. Pengertian iklim
b. Faktor-faktor dinamika atmosfer yang mempengaruhi iklim
c. Parameter iklim

E. MEDIA
1. Paper (koran) berisi informasi cuaca dan iklim
2. White board+paper board
3. Spidol (black+color)
4. Kertas A4
5. Alat tulis

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 2


Modul 2: PENGENALAN DAN PEMAHAMAN
INFORMASI CUACA DAN IKLIM

A. DESKRIPSI SINGKAT

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baik di Pusat maupun


Daerah (Unit Pelaksana Teknis/Stasiun) secara rutin mengeluarkan Informasi
Cuaca dan Iklim. Di dalam informasi ini, digunakan beberapa terminologi/ istilah
yang masih bersifat teknis (bahasa struktur) dan diduga belum banyak dikenal dan
diinterpretasikan secara benar oleh pengguna.

Informasi cuaca dan iklim sudah sejak lama dimanfaatkan untuk mendukung
sektor pembangunan seperti perhubungan dan pariwisata, pertanian, lingkungan
hidup, kesehatan, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain. Cuaca dan iklim
merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap perhubungan dan pariwisata,
pertanian, lingkungan hidup, kesehatan, pembangunan infrastruktur.

Informasi Cuaca dan Iklim yang dikeluarkan oleh BMKG dapat dibedakan menjadi
tiga diantaranya :
1. Informasi cuaca dan iklim masa lalu
2. Informasi cuaca saat ini
3. Informasi cuaca dan iklim yang akan datang atau disebut prakiraan.

Jenis-jenis informasi prakiraan diantaranya : Prakiraan Cuaca Umum Harian,


Prakiraan Cuaca Umum 3 hari kedepan, Prakiraan Cuaca Mingguan, Prakiraan
Cuaca Obyek Wisata, Peringatan Dini Cuaca Ekstrim, Prakiraan Sifat dan Curah
Hujan Bulanan, Prakiraan Musim Hujan dan Kemarau, Prakiraan Potensi Banjir
Bulanan, Prakiraan Tingkat Bahaya Kebakaran dan Prakiraan Cuaca Perairan
(kelautan).

Dalam informasi-informasi tersebut terdapat terminologi yang bahasanya masih


sangat teknis seperti Di Atas Normal (AN), Normal (N), dan Di Bawah Normal (BN),
Standar Normal, Dasarian, FDRS (Fire Danger Rating System/Sistem Peringatan
Tingkat Bahaya Kebakaran), Musim, Awal Musim, Bulan Basah, Bulan Kering,
Indeks Osilasi Selatan, El-nino, La-nina, Dipole Mode, Cuaca Ekstrim diantaranya
Puting Beliung.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat mengenali, memahami
dan menjelaskan Informasi Cuaca dan Iklim

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat :
a. Mengenali berbagai jenis/ bentuk Informasi Cuaca dan Iklim yang
dikeluarkan oleh BMKG

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 3


b. Memahami terminologi/istilah-istilah yang digunakan dalam Informasi Cuaca
dan Iklim
c. Menginterpretasikan Informasi Cuaca dan Iklim secara benar

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :
1. Produk Informasi Cuaca dan Iklim
a. Pengertian dasar informasi
b. Bentuk/ jenis Informasi Cuaca
c. Bentuk/ jenis Informasi Iklim
d. Terminologi dalam Informasi Cuaca dan Iklim
2. Contoh produk informasi cuaca dan iklim

E. MEDIA

1. Kertas A4
2. Data sampling cuaca (harian, bulanan dan tahunan)
3. Alat-alat tulis

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 4


Modul 3: MEMAHAMI PRAKIRAAN
MENGANDUNG KESALAHAN

A. DESKRIPSI SINGKAT

Suatu informasi akan dicari dan digunakan orang apabila mempunyai nilai atau
memberikan manfaat. Salah satu ukuran yang biasa digunakan adalah keuntungan
ekonomis yang akan dihasilkan apabila informasi tersebut digunakan. Sebagai
contoh, informasi prakiraan musim dapat digunakan untuk menghindari tanaman
dari akibat kekeringan atau kebanjiran, juga jadwal pola tanamnya.

Permasalahannya adalah bahwa prakiraan tidak bersifat mutlak, karena ada


kemungkinan prakiraan itu tidak terjadi. Dengan demikian, prakiraan memiliki
peluang untuk tidak terjadi, sehingga yang perlu diperhatikan adalah berapa besar
peluang prakiraan itu akan terjadi. Semakin besar peluang terjadinya, maka semakin
kecil pula peluang gagalnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tentang ketepatan prakiraan. Ketepatan
prakiraan berbeda dengan peluang nilai terjadinya prakiraan. Ketepatan prakiraan
menunjukan tingkat kemampuan prakirawan untuk memberikan prakiraan yang
tepat (disebut skill of forecast). Jika kemampuan prakirawan sebesar 80%, berarti
dari pengalaman memberikan jumlah prakiraan yang berhasil sebanyak delapan
kali, atau dalam lima kali prakiraan, benar sebanyak empat kali.

Jadi, apabila tingkat kemampuan seorang prakirawan tinggi, maka tingkat


kepercayaan kita kepada si prakirawan akan tinggi pula, sehingga dalam membuat
keputusan pada suatu kegiatan akan mempertimbangkan prakiraan dari
si prakirawan tersebut.

Meskipun untuk menghasilkan prakiraan cuaca/iklim dengan tingkat keakuratan


yang tinggi sulit dicapai, namun pada prinsipnya prakiraan tersebut masih diperlukan
untuk mendukung berbagai sektor kegiatan antara lain : pertanian, perkebunan,
pertambangan, perhubungan dan pariwisata serta mitigasi bencana akibat
cuaca/iklim.

Prakiraan sebenarnya mengandung ketidakpastian yang dapat direpresentasikan


dalam probabilitas dengan nilai antara 0 – 1, nilai 0 berarti tidak mungkin terjadi dan
nilai 1 berarti pasti terjadi. Oleh karena itu prakiraan cuaca tidak selamanya benar
dan tidak selamanya salah. Jika dikatakan bahwa probabilitas terjadinya hujan
tinggi, maka kita dapat berharap bahwa hujan akan terjadi dan kemungkinan
terjadinya hujan cukup tinggi. Namun sebaliknya, jika dikatakan bahwa probabilitas
terjadinya hujan rendah, maka kita tidak bisa berharap akan terjadi hujan.

Masyarakat memerlukan informasi prakiraan cuaca/iklim dengan tujuan untuk


menyesuaikan kegiatannya. Cuaca yang cepat berubah mengakibatkan sulit
diprediksi. Banyak metode yang masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan serta unsur ketidakpastian, maka diharapkan para pengguna jasa dapat
menyadari dan memahami bahwa prakiraan yang diterima bisa saja tidak cocok.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 5


B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Membangun kemampuan untuk memahami pengertian peluang (probabilitas)
dalam kontek ketepatan prakiraan cuaca/iklim

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat :
a Memahami bahwa prakiraan mengandung kesalahan
b Memahami dan bisa menjelaskan bahwa prakiraan mengandung makna
yang tidak selamanya benar.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :

1. Konsepsi probabilitas
a. Nilai Informasi Prakiraan dalam kaitannya dengan kemampuan atau ketepatan
prakiraan
b. Tingkat kemampuan prakirawan dalam bentuk peluang, kemudian pemandu
menjelaskan “apa itu peluang (probabilitas)”

2. Klarifikasi Ketepatan Prakiraan


a. Penilaian peserta terhadap prakiraan.
b. Argumentasi peserta tentang ketepatan prakiraan.

E. MEDIA

1. Papan tulis yang sudah dilapisi kertas


2. Kelereng berwarna (misal putih dan hijau)
3. Wadah atau kantong untuk kelereng
4. Spidol

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 6


Modul 4: SISTEM PERINGATAN DINI
CUACA DAN IKLIM (MCEWS)

A. DESKRIPSI SINGKAT

Sejalan dengan sering terjadinya bencana alam yang diakibatkan oleh gempa bumi
dan tsunami di Indonesia akhir-akhir ini, BMKG meningkatkan pelayanannya dengan
membangun Sistem Peringatan Dini Tsunami (Ina TEWS) yang telah diresmikan
pada tanggal 11 Nopember 2008. Untuk bencana alam yang diakibatkan oleh faktor
meteorologi dan klimatologi, BMKG sedang membangun Sistem Peringatan Dini
Meteorologi dan Klimatologi (MCEWS) dan diperkirakan selesai pada tahun 2010.

Pembangunan MCEWS ini dirancang sedemikian rupa dengan tujuan utama untuk
mendukung mitigasi bencana alam yang diakibatkan oleh faktor meteorologi dan
klimatologi. Sistem peringatan dini meteorologi dan klimatologi atau MCEWS terdiri
atas subsistem pengamatan/pemantauan, subsistem komunikasi, subsistem
pengolahan/database dan subsistem pelayanan.

MCEWS ini didukung oleh Pusat Pengolahan Regional Meteorologi (Meteorological


Regional Processing Center- MRPC) yang akan dibangun di 29 propinsi dan fasilitas
pengamatan, antara lain : Weather Radar (22 lokasi), Satellite Ground Receiver
(31 lokasi) dan AWS Network (176 lokasi)

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran tentang Sistem Peringatan Dini Cuca dan Iklim
(MCEWS) ini, peserta diharapkan dapat memahami konsep sistem dan
subsistem peringatan dini cuaca dan iklim.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran tentang Sistem Peringatan Dini Cuca dan Iklim
(MCEWS) ini, peserta diharapkan dapat;
a Memahami konsep Sistem Peringatan Dini Cuca dan Iklim (MCEWS)
b Mengetahui jaringan pemantauan cuaca/iklim yang diperlukan dalam
kesisteman ini
c Mengetahui kewenangan/kontribusi stakeholders dalam kesisteman ini
d Memberikan kontribusi dalam kegiatan-kegiatan yang merupakan bagian dan
sub bagian dari sistem ini.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 7


D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :
1. Pembangunan Sistem Peringatan Dini Cuaca dan Iklim
a Dasar pembangunan sistem
b Proses pembangunan sistem

2. Konsepsi Sistem Peringatan Dini Cuaca dan Iklim


a. Jaringan pemantauan
b. Jaringan pengolahan
c. Jaringan diseminasi

E. MEDIA
1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board
3. Kertas Flipchart
4. Spidol Warna
5. Mistar
6. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 8


Modul 5: CARA MEMPEROLEH INFORMASI
CUACA DAN IKLIM

A. DESKRIPSI SINGKAT

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh peneliti Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa persepsi masyarakat tentang pelayanan
informasi cuaca dan iklim umumnya masih sulit memperoleh data/informasi cuaca
dan iklim. Hal ini cukup beralasan karena media komunikasi yang menghubungkan
antara penyedia informasi (producer) dengan pengguna (end-user) belum terbentuk
dengan baik.

Informasi cuaca dan iklim telah tersedia di berbagai media, baik yang dipublikasikan
oleh BMKG maupun oleh sumber yang lain. BMKG Pusat dan Daerah telah
mengeluarkan berbagai jenis informasi seperti yang telah dibahas pada modul 2.
Pertanyaan berikutnya ”Bagaimana memperoleh informasi cuaca dan iklim?”.
Banyak kalangan masih belum tahu cara yang tepat untuk mendapatkan informasi
cuaca dan iklim sesuai yang diharapkan. Misalkan seseorang yang ingin mengklaim
asuransi sehubungan dengan adanya cuaca ekstrim yang menyebabkan kerusakan
sebuah bangunan yang diasuransikan.

Di Wilayah Propinsi Banten, BMKG mempunyai enam Unit Pelaksana Tugas (UPT)
yang bertugas memberikan pelayanan data dan informasi cuaca dan iklim. UPT
tersebut adalah :
1. Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah II Ciputat
2. Stasiun Meteorologi Cengkareng
3. Stasiun Geofisika Tangerang
4. Stasiun Klimatologi Pondok Betung - Tangerang
5. Stasiun Meteorologi Serang
6. Stasiun Meteorologi Curug

Masing-masing UPT mempunyai tugas pokok dan fungsi yang berbeda-beda.


Sehingga tugas dan kewenangan tersebut perlu dijelaskan kepada masyarakat.

Informasi cuaca dan iklim dapat dibedakan dari berbagai sudut pandang sebagai
berikut :
1. Skala informasi
Dipandang dari sudut skala informasi cuaca dan iklim dapat dibedakan menjadi
skala global, regional dan lokal. Masing-masing skala informasi ini berbeda
dalam hal sumber penyedianya dan cara memperolehnya.
2. Media informasi publik
Media informasi dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu :
a. Website
b. Media cetak (koran, buletin, laporan)
c. Media elektronik (radio, TV)
3. Media komunikasi permintaan informasi khusus
a. Surat elektronik (e-mail)
b. Surat resmi
c. Telepon dan Faximile
d. Kerjasama yang dituangkan dalam MoU

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 9


B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat mengetahui cara yang
cepat dan tepat untuk memperoleh informasi cuaca dan iklim sesuai
kegiatannya.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat :
a Memperoleh informasi cuaca dan iklim dengan mudah
b Memberikan informasi cuaca dan iklim kepada masyarakat luas terutama di
lingkungan kegiatannya
c Memberi masukan kepada BMKG untuk meningkatkan ragam informasi
cuaca dan iklim sesuai yang diharapkan masyarakat.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :
1. Institusi penyedia informasi cuaca dan iklim
a. Informasi skala regional
b. Informasi skala nasional
c. Informasi skala lokal

2. Media penyampaian data dan informasi


b. Website
c. Media cetak (koran, buletin, laporan)
d. Radio, TV

3. Media komunikasi permintaan data dan informasi


a. Surat elektronik
b. Surat
c. Faximile
d. Kerjasama

E. MEDIA

1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board
3. Kertas Flipchart
4. Spidol Warna
5. Koneksi internet

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 10


Modul 6: ISU PERUBAHAN IKLIM
(CLIMATE CHANGE)

A. DESKRIPSI SINGKAT

Akhir-akhir ini masyarakat baik kalangan bawah maupun kalangan atas sedang
membicarakan isu perubahan iklim. Isu ini merebak di tengah-tengah masyarakat
dengan berbagai pertanyaan, seperti apakah perubahan iklim itu? Masyarakat
umum mulai sensitif terhadap kondisi cuaca saat ini. Mereka menilai bahwa
cuaca/iklim sekarang sudah berubah, bergeser, dsb.

Saat ini isu perubahan iklim menjadi persoalan global yang berdampak ke semua
kawasan di muka bumi. Perubahan iklim dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga)
karakteristik : kenaikan suhu/temperatur bumi, peningkatan frekuensi dan intensitas
curah hujan, serta kejadian cuaca ekstrim. Dalam konvensi Protokol Kyoto
(Desember 1997) telah ditetapkan target penurunan emisi total selama 5 tahun
(2008 – 2012). Setiap negara industri penghasil emisi memiliki kewajiban penurunan
prosentase emisi.

Perubahan iklim telah mengganggu siklus hidrologi dan ekosistem. Bidang-bidang


yang rawan terhadap perubahan iklim antara lain : pertanian dan ketahanan pangan,
kesehatan manusia, ekosistem daratan, ekosistem kawasan pesisir dan bahari.

Materi pembelajaran ini memberikan gambaran kepada peserta tentang isu


perubahan iklim yang sedang dihadapi dan diresahkan oleh segenap penghuni di
bumi ini dan cara-cara menghadapinya. Dari pembelajaran ini, diharapkan para
peserta dapat meneruskan pemahamannya kepada masyarakat di sekitarnya.

Perubahan iklim merupakan persoalan global. PBB memprakarsai dialog


internasional yang diwujudkan dalam UNFCCC (United Nations Framework
Convention on Climate Change) yang dicanangkan pada KTT Bumi di Rio de
Janeiro tahun 1992 (Agenda 21).
Hasil dari KTT berisikan 3 (tiga) tujuan pokok, yakni :
(1) tercapainya stabilitas konsentrasi emisi Gas Rumah Kaca pada tingkat yang
aman
(2) adanya tanggung jawab bersama sesuai kemampuan
(3) negara maju akan membantu negara berkembang.

Langkah kongkrit untuk mencapai tujuan (1) adalah dalam konvensi Protokol Kyoto
(Desember 1997) telah ditetapkan target penurunan emisi total selama 5 tahun
mulai 2008 hingga 2012 adalah sebesar 5% terhadap ambang emisi pada tahun
1990. Setiap negara industri penghasil emisi (Amerika Serikat, Canada, Uni Eropa
dan lainnya) memiliki kewajiban penurunan prosentase emisi bervariasi antara 6%
hingga 8%.
Langkah kongkrit untuk mencapai tujuan (2) dan (3) adalah UNFCCC telah
menerbitkan buku dengan judul : ”Climate Change : Impact, Vulnerabilities and
adaption in Developing Countries”. Buku ini dimaksudkan sebagai panduan bagi
negara berkembang dalam membuat rumusan tentang NAPA’s (National Adaptation

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 11


Programme of Action). Di Indonesia langkah ini dicanangkan sebagai Rencana Aksi
Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RAN MAPI) dikoordinasikan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang merupakan gabungan dari seluruh
sektor/Departemen.
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh para ahli lingkungan negara
berkembang yang laporannya dihimpun oleh UNFCCC, dampak perubahan iklim
yang akan melanda semua kawasan di muka bumi ini, secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi 3 dampak utama :
1. Kenaikan temperatur / suhu bumi
2. peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan, dan
3. kejadian cuaca ekstrem.

Dampak peningkatan temperatur di Indonesia ditunjukkan dengan peningkatan


temperatur rata-rata tahunan sebesar 0,3oC sejak tahun 1990 dan terjadi sepanjang
musim dalam satu tahun. Dekade 90-an adalah dekade terpanas dimana temperatur
rata-rata di tahun 1998 meningkat sekitar 1oC (di atas rata-rata tahun 1961-1990).
Dampak peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan diprediksi mencapai 2%-
3% per tahun di Indonesia. Peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan yang
diperkirakan tetap berlanjut akan menyebabkan masa musim hujan yang lebih
singkat (jumlah hari hujan tahunan berkurang), akibatnya terjadi peningkatan resiko
banjir.
Dampak perubahan iklim yang ditandai dengan kejadian-kejadian ekstrim antara lain
topan el Nino (1997) yang menyebabkan musim kemarau semakin panjang
sehingga merusak 426.000 hektar sawah. Selain itu perubahan iklim ekstrim ini
akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2% sampai dengan 8%, yang berakibat
kepada penurunan hasil panen yang dialami oleh sebagian besar daerah pertanian
di Indonesia.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat memahami dan
menjelaskan makna sebenarnya Isu Perubahan sehingga mereka diharapkan
dapat berperan di masyarakat sekitar dalam mengantisipasi, mengadaptasi dan
bahkan mengurangi dampak yang ditimbulkan.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat :
a. Memahami dan menjelaskan Isu Perubahan Iklim
b. Memberikan sumbang saran dalam mengantisipasi, mengadaptasi dan
bahkan mengurangi dampak yang ditimbulkan.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 12


D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :
1. Konsepsi Perubahan Iklim
a. Pengertian dasar
b. Indikator Perubahan Iklim

2. Dampak Perubahan Iklim dan mitigasinya


a. Bidang-bidang yang rawan terhadap Perubahan Iklim
b. Mitigasi terhadap Perubahan Iklim
c. Tindakan adaptasi (reaktif dan antisipatif)

E. MEDIA

1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board
3. Kertas Flipchart
4. Spidol Warna
5. Mistar
6. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 13


Modul 7: PEMANFAATAN INFORMASI
CUACA DAN IKLIM
UNTUK PERTANIAN

A. DESKRIPSI SINGKAT

Sudah sejak lama aktivitas masyarakat dalam bidang pertanian, terutama tanaman
pangan (tanaman semusim) berkaitan dengan cuaca dan iklim. Kehidupan tanaman
memerlukan ketersediaan air yang cukup, kelebihan/kekurangan air juga akan
menjadi kurang baik.

Untuk keperluan pertanian, data cuaca dan iklim yang penting adalah radiasi
matahari, suhu udara, angin, kelembapan udara, curah hujan, dan penguapan serta
penguap peluhan. Seperti halnya cuaca dan iklim, kehidupan tanaman dipengaruhi
oleh lokasi (tinggi, rendah, pantai, dll.). Pada setiap fase pertumbuhannya, tanaman
membutuhkan cuaca yang berbeda. Jenis tanaman yang berbeda akan
membutuhkan kondisi cuaca yang berbeda pula.

Dalam kegiatan pertanian, tanah, tanaman, dan cuaca/iklim merupakan komponen


utama yang perlu dipertimbangkan. Ketiganya mempunyai hubungan timbal balik
dan saling bergantung.

Untuk membuat rencana kegiatan pertanian diperlukan informasi prakiraan awal


musim hujan dan kemarau, prakiraan panjang dan kadar musim, prakiraan cuaca
harian, prakiraan cuaca di tempat lain.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim
Untuk Pertanian, peserta diharapkan dapat mengetahui dan menjelaskan
manfaat informasi cuaca dan iklim kepada masyarakat di sekitarnya khususnya
bagi kegiatan pertanian.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim
Untuk Pertanian, peserta diharapkan dapat;
a Mengetahui dan memahami Informasi Cuaca dan Iklim bagi kegiatan
pertanian
b Memanfaatkan Informasi Cuaca dan Iklim untuk mengelola berbagai kegiatan
pertanian
c Mengidentifikasi Cuaca dan Iklim yang menguntungkan dan merugikan tanah
dan tanaman serta fase kegiatan pertanian
d Mengidentifikasi Informasi Cuaca dan Iklim yang relevan bagi pengambilan
keputusan/kebijakan di bidang pertanian.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 14


C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :
1. Hubungan antara tanah, tanaman dan cuaca/iklim
a Tanah dan Cuaca/Iklim
b Tanah dan Tanaman
c Tanaman dan Cuaca/iklim

2. Identifikasi cuaca yang menguntungkan dan merugikan


a. Cuaca menguntungkan
b. Cuaca merugikan

E. MEDIA
1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board
3. Kertas Flipchart
4. Spidol Warna
5. Mistar
6. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 15


Modul 8: PEMANFAATAN INFORMASI
CUACA DAN IKLIM UNTUK
PERHUBUNGAN DAN PARIWISATA

A. DESKRIPSI SINGKAT

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) senantiasa berupaya secara


profesional memberikan pelayanan meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan
geofisika yang handal untuk mendukung keselamatan dan keberhasilan
pembangunan nasional serta berperan aktif di tingkat internasional.

Pelayanan BMKG selama ini ditujukan untuk mendukung pembangunan nasional


di berbagai sektor, antara lain : Pertanian, Perhubungan, Pariwisata dan Olahraga,
Pekerjaaan Umum, Pertambangan dan Energi, Industri, Lingkungan Hidup,
Hankam dan Penanggulangan Bencana Alam. Di sektor perhubungan sendiri,
layanan BMKG ditujukan untuk mendukung keselamatan dan kenyamanan
transportasi darat, laut dan udara mulai dari terminal pemberangkatan hingga
terminal kedatangan. Di sektor pariwisata, layanan BMKG ditujukan untuk
keselamatan dan kenyamaan para wisatawan di tempat-tempat/obyek wisata.

Sejalan dengan perkembangan IPTEK, BMKG pun telah meningkatkan


penguasaaan teknologi informasi. Untuk keperluan diseminasi Informasi cuaca dan
iklim, BMKG telah menggunakan alat-alat mulai dari yang sederhana sampai yang
canggih.

Produk informasi yang disediakan untuk mendukung sektor perhubungan dan


pariwisata sebagai pengguna jasa, diantaranya sebagai berikut :

1. Untuk sub sektor perhubungan darat disediakan Prakiraan Cuaca Harian, valid
12-24 jam hingga 3 hari, Prakiraan Cuaca Jalur Mudik, Peringatan Dini
Cuaca/iklim Ekstrim, dan Prakiraan Potensi Banjir

2. Untuk sub sektor perhubungan laut disediakan Prakiraan Cuaca Perairan,


Informasi Cuaca untuk Pelayaran (Weather Bulletin For Shipping), Informasi
Cuaca Pelabuhan (Port Weather and Sea bulletin), Informasi Cuaca Khusus,
dan Prakiraan Tinggi Gelombang

3. Untuk sub sektor perhubungan udara disediakan METAR, SPECI, TAFOR,


SIGMET, Aerodrome Warning, Flight Documentation

4. Untuk sektor pariwisata disediakan Prakiraan Cuaca Obyek Wisata, valid Sabtu
dan Minggu dan Informasi Cuaca Khusus (atas permintaan) yang memuat
Cuaca, Suhu, Arah dan Kecepatan Angin, Kelembaban.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 16


B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim
Untuk Perhubungan dan Pariwisata, peserta diharapkan dapat mengetahui dan
memahami jenis-jenis informasi yang disediakan oleh BMKG dan dimanfaatkan
oleh sektor perhubungan dan pariwisata.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim
Untuk Perhubungan dan Pariwisata, peserta diharapkan dapat :
a. Mengetahui dan memahami jenis-jenis informasi cuaca dan iklim yang
dimanfaatkan oleh sub sektor perhubungan darat
b. Mengetahui dan memahami jenis-jenis informasi cuaca dan iklim yang
dimanfaatkan oleh sub sektor perhubungan laut
c. Mengetahui dan memahami jenis-jenis informasi cuaca dan iklim yang
dimanfaatkan oleh sub sektor perhubungan udara
d. Mengetahui dan memahami jenis-jenis informasi cuaca dan iklim yang
dimanfaatkan oleh sektor pariwisata.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :
1. Jenis-jenis informasi cuaca dan iklim
a. Informasi cuaca dan iklim untuk sub sektor perhubungan darat
b. Informasi cuaca dan iklim untuk sub sektor perhubungan laut
c. Informasi cuaca dan iklim untuk sub sektor perhubungan udara
d. Informasi cuaca dan iklim untuk sektor pariwisata

2. Cuaca Ekstrim
a Pengertian dan indikatornya
b Puting Beliung dan dampaknya
c Skala Beaufort

E. MEDIA

1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board
3. Kertas Flipchart
4. Spidol Warna
5. Mistar
6. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 17


Modul 9: PEMANFAATAN INFORMASI
CUACA DAN IKLIM UNTUK
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

A. DESKRIPSI SINGKAT

Prasarana dan sarana sering disebut infrastruktur yang artinya sebagai fasilitas fisik
suatu kota atau negara, sering juga disebut pekerjaan umum. Infrastruktur fisik, baik
yang digunakan dalam proses produksi maupun yang dimanfaatkan oleh
masyarakat, meliputi semua prasarana umum seperti tenaga listrik, telekomunikasi,
perhubungan, irigasi, air bersih dan sanitasi serta pembuangan limbah.

Prasarana dan sarana merupakan bangunan dasar yang sangat diperlukan untuk
mendukung kehidupan manusia yang hidup bersama-sama dalam suatu ruang yang
berbatas, agar manusia dapat bermukim dengan nyaman dan dapat bergerak
dengan mudah dalam segala waktu dan cuaca, sehingga dapat hidup dengan sehat
dan dapat berinteraksi satu dengan lainnya dalam mempertahankan kehidupannya
(Departemen Kimpraswil).

Secara lebih lugas dapat dikatakan bahwa Infrastruktur (perkotaan) adalah


bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasi-instalasi
yang dibangun dan dibutuhkan untuk mendukung berfungsinya suatu sistem tatanan
kehidupan sosial – ekonomi masyarakat. Infrastruktur merupakan aset fisik yang
dirancang dalam sistem sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada
masyarakat.

Sebagai suatu sistem, komponen infrastruktur pada dasarnya sangat luas dan
banyak, namun secara umum terdiri dari 12 komponen sesuai dengan sifat dan
karakternya, yaitu :
1. Sistem air bersih, termasuk bendungan, waduk, transmisi, instalasi pengolah air
dan fasilitas distribusinya
2. Sistem manajemen air limbah termasuk pengumpulan, pengolah, pembuang,
dan sistem pakai ulang
3. Fasilitas manajemen limbah padat atau persampahan
4. Fasilitas transportasi termasuk jalan raya, rel kereta api, dan lapangan terbang;
5. Sistem transit publik
6. Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusinya
7. Fasilitas gas alam
8. Fasilitas drainase/pengendalian banjir
9. Bangunan umum, seperti pasar, sekolahan, rumah sakit, kantor polisi, dan
fasilitas pemadam kebakaran
10. Fasilitas perumahan
11. Taman, tempat bermain, fasilitas rekreasi dan stadion
12. Fasilitas telekomunikasi

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 18


Pembangunan infrastruktur merupakan bagian integral dari pembangunan suatu
wilayah, baik di tingkat kota maupun propinsi. Pembangunan infrastruktur
transportasi/perhubungan pedesaan untuk mendukung peningkatan aksesibilitas
masyarakat desa seperti : jalan, jembatan perdesaan, titian dan tambatan.
Pembangunan infrastruktur yang mendukung produksi pertanian adalah irigasi
pedesaan, dan pembangunan infrastruktur yang mendukung pemenuhan kebutuhan
dasar masyarakat, meliputi : penyediaan air minum, dan sanitasi pedesaan.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim
Untuk Infrastruktur, peserta diharapkan dapat mengetahui dan menjelaskan
manfaat informasi cuaca dan iklim kepada masyarakat di sekitarnya khususnya
bagi kegiatan pembangunan infrastruktur.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim
Untuk Infrastruktur, peserta diharapkan dapat;
a Mengetahui dan memahami Informasi Cuaca dan Iklim bagi kegiatan
pembangunan infrastruktur
b Memanfaatkan Informasi Cuaca dan Iklim untuk mengelola berbagai
kegiatan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur
c Mengidentifikasi Informasi Cuaca dan Iklim yang relevan bagi pengambilan
keputusan/kebijakan di bidang infrastruktur.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam
pembelajaran ini, meliputi :

1. Infrastruktur
a Pembangunan
b Pemeliharaan

2. Data cuaca yang digunakan dalam pembangunan infrastruktur

E. MEDIA
1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board dan kertas Flipchart
3. Spidol Warna
4. Mistar
5. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 19


Modul 10: PEMANFAATAN INFORMASI IKLIM
UNTUK LINGKUNGAN
DAN KESEHATAN

A. DESKRIPSI SINGKAT

Lingkungan dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berkaitan, lingkungan
yang sehat mendorong terciptanya tingkat kesehatan yang tinggi. Untuk
menciptakan kesehatan masyarakat perlu diciptakan lingkungan yang sehat pula.
Lingkungan tempat kita tinggal juga sangat dipengaruhi oleh cuaca dan iklim,
demikian juga secara tidak langsung kesehatan juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca
dan iklim.

Perubahan iklim berdampak langsung pada naiknya suhu udara dan curah hujan,
tak langsung pada berkurangnya air dan berubahnya eco-system. Dampak variasi
ekstrim juga menekan keberlanjutan keanekaragaman hayati dan memperlemah
ketahanan eko-sistem. Perubahan iklim sangat mempengaruhi pola distribusi pest.
Berkurangnya gelombang dingin menumbuhkan pest dan vector penyakit. Suhu naik
merangsang populasi bakteri penyakit dan perpindahan virus yang semula dihambat
oleh suhu yang rendah. Perubahan suhu ekstrim mendorong angin tumbuh menjadi
hurricanes yang merusak tanah, tumbuh-tumbuhan dan hewan. (Emil Salim, 2007).

Informasi cuaca dan iklim sangat diperlukan untuk pengendalian lingkungan dan
kesehatan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Wilayah perkotaan yang
cenderung padat penduduknya, penataan lingkungan kota yang belum baik dan
rendahnya taraf hidup masyarakat, sering mengabaikan faktor lingkungan yang
kurang sehat. Sehingga daerah-daerah yang rentan terhadap banjir, kekeringan
menjadi daerah penyebaran vektor penyakit (vector-borne diseases) yang dipicu
oleh faktor cuaca/iklim.

Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit perlu dikenali kondisi iklim di


lingkungannya. Sebagai contoh, penyebaran nyamuk Aides Aigepty, penyebab
demam berdarah dengue (DBD), di suatu tempat terjadi pada bulan-bulan Paberuari
– Maret, yaitu pada akhir musim hujan dan menjelang musim kemarau. Pada saat
itu hujan terjadi sesekali sehingga menyebabkan genangan. Namun sebaliknya, di
tempat lain DBD terjadi pada bulan yang berbeda.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mempunyai jaringan


pengamatan cuaca yang digunakan untuk memberikan informasi iklim dalam jangka
panjang. Namun jaringan pengamatan ini belum meliput pada daerah yang lebih
kecil. Untuk itu diperlukan kerjasama dengan instansi lain (Pemerintah Daerah)
dalam melakukan pengamatan cuaca dan iklim, sehingga akan memperoleh
informasi iklim yang lebih detail.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 20


B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)

Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim


untuk pengendalian lingkungan dan kesehatan, peserta diharapkan dapat
mengetahui dan menjelaskan manfaat informasi cuaca dan iklim kepada
masyarakat di sekitarnya khususnya bagi kegiatan pengendalian lingkungan dan
kesehatan.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah selesai pembelajaran tentang Pemanfaatan Informasi Cuaca dan Iklim


untuk Pengendalian lingkungan dan Kesehatan, peserta diharapkan dapat;

a. Mengetahui dan memahami informasi cuaca dan iklim bagi kegiatan


pengendalian lingkungan dan kesehatan;
b. Memanfaatkan informasi cuaca dan cklim untuk mengelola berbagai
kegiatan pengendalian lingkungan dan kesehatan;
c. Mengidentifikasi informasi cuaca dan iklim yang relevan bagi pengambilan
keputusan/kebijakan di pengendalian lingkungan dan kesehatan.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
praktek/ simulasi serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam
pembelajaran ini, meliputi :

1. Hubungan lingkungan, kesehatan dan cuaca/iklim


2. Pengendalian lingkungan dan antisipasi kesehatan mengacu pada informasi
cuaca dan iklim.
a. Identifikasi pengaruh cuaca dan iklim terhadap lingkungan dan kesehatan,
b. Kebijakan yang mempertimbangkan faktor cuaca dan iklim,
3. Informasi yang digunakan dalam pengendalian lingkungan dan kesehatan

E. MEDIA

1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board dan kertas Flipchart
3. Spidol Warna
4. Mistar
5. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 21


Modul 11: NILAI EKONOMI PRAKIRAAN IKLIM

A. DESKRIPSI SINGKAT

Informasi cuaca dan iklim yang secara rutin dibuat oleh BMKG diharapkan
bermanfaat untuk berbagai kegiatan operasional, khususnya di bidang pertanian.
Informasi tersebut dibuat dengan berbagai batasan kriteria, terminologi, serta istilah
yang umumnya belum banyak dipahami oleh pengguna atau user, sehingga kadang
interpretasinya masih salah dan manfaatnya tidak maksimal.

Pada kegiatan operasional, khususnya di bidang pertanian, akan lebih produktif lagi
apabila mempertimbangkan dan memanfaatkan informasi cuaca dan iklim. Setiap
kegiatan umumnya membutuhkan informasi cuaca dan iklim yang lebih spesifik,
sehingga bisa dipahami dan digunakan secara benar agar bisa disesuaikan dengan
kebutuhan kegiatan tersebut.

Berbagai informasi cuaca dan iklim yang dibuat oleh BMKG umumnya didasarkan
dan dibatasi oleh pemahaman tentang kaidah atau istilah klimatologi atau
meteorologi yang sudah baku, sehingga pemahamannya perlu dilakukan dengan
berbagai cara guna memperoleh nilai ekonomi dari informasi yang diterima.

Kebijaksanaan pengambilan keputusan dalam suatu kegiatan memerlukan Informasi


yang lengkap sebagai bahan pertimbangan. Setiap kegiatan, umumnya selalu
berkaitan dengan cuaca dan Iklim, meski sensitivitasnya berbeda-beda. Sangat
bijaksana, apabila informasi diperhatikan dan dijadikan pertimbangan dalam
mengambil keputusan, baik sebelum maupun selama melakukan kegiatan.

Baik atau tidaknya suatu keputusan tergantung pada dua hal pokok, yaitu :
1. Kesesuaian informasi bagi suatu kegiatan,
2. Kemampuan pengguna menterjemahkan informasi dalam kegiatan tersebut.

Pemilihan alternatif dalam pengambilan keputusan menurut J.Thompson adalah :


1. Didasarkan atas “nilai perbandingan” antara biaya penanggulangan apabila
kejadian cuaca yang merugikan terjadi (Cost = C) dan,
2. Biaya yang hilang apabila tidak ditanggulangi (Lost = L)
3. Jika P = Probabilitas Even Cuaca, Maka :
a. Bila P > C/L : Lakukan penanggulangan
b. Bila P = C/L : Cari alternatif lain
c. Bila P < C/L : Tidak perlu penanggulangan

Teknik pengambilan keputusan untuk memperoleh nilai ekonomi dari suatu


informasi iklim harus berpedoman kepada (a) informasi prakiraan cuaca/iklim
mengandung ketidakpastian karena tidak ada prakiraan cuaca yang pasti benar
100 %, (b) prakiraan mempunyai nilai peluang (probabilitas) benar atau terjadi dan
tidak benar atau tidak terjadi, (c) dalam penggunaannya, peluang mana yang
diambil tergantung kepada kepekaan kegiatan yang bersangkutan terhadap
kejadian cuaca yang diperhatikan.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 22


B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Peserta dapat mengambil keputusan untuk memperoleh nilai ekonomi dari
informasi cuaca/iklim apabila ada dua hal atau lebih pada kondisi yang saling
berhadapan dengan dampak resiko yang mengikutinya.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran, peserta diharapkan dapat :
a. Memahami nilai ekonomi dari suatu informasi prakiraan cuaca/iklim
b. Memahami dan menjelaskan bahwa penentuan keputusan dari informasi
cuaca/iklim yang diperoleh harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan
dilakukan.

C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, curah pendapat, diskusi kelompok dan
paparan teknik perhitungan benefit-cost ratio.
.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :

1. Konsepsi nilai ekonomis informasi cuaca/iklim


a. Pengertian dasar
b. Perhitungan benefit-cost ratio

2. Konsepsi pengambilan keputusan berdasarkan informasi cuaca/iklim

E. MEDIA

1. Hand out bahan paparan


2. OHP dan LCD
3. Alat-alat tulis (kertas flipchart, spidol, dll)

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 23


Modul 12: STUDI LAPANGAN KE STASIUN
METEOROLOGI SERANG

A. DESKRIPSI SINGKAT

Studi Lapangan adalah suatu kegiatan kunjungan belajar dengan mengadakan


tanya jawab, mendengarkan, pengamatan. Penelitian ke suatu tempat di luar kelas,
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran dalam
kelas. Studi ini menggunakan metode observasi dan tanya jawab atau wawancara.

Studi Lapangan ini dilaksanakan di Stasiun Meteorologi Serang yang merupakan


salah satu Unit Pelaksana Teknis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.
Stasiun ini mempunyai tugas melaksanakan pengamatan cuaca, pengumpulan dan
penyebaran data, pengolahan dan analisa serta pelayanan meteorologi/klimatologi.

Pengamatan cuaca/iklim adalah pengamatan unsur-unsur cuaca/iklim setiap jam


selama 12 jam hingga 24 jam per hari. Pengumpulan dan penyebaran data adalah
kegiatan pengumpulan data dari hasil pengamatan yang selanjutnya disebarkan ke
Stasiun BMKG lain, Balai Besar Wilayah, BMKG Pusat sebagai kewajiban stasiun.
Pengolahan dan analisa adalah kegiatan pengolahan dan analisis data yang telah
terkumpul dan masih berupa data mentah menjadi data harian, data dasarian,
data bulanan, data rata-rata dan grafis rekaman yang selanjutnya dilakukan kendali
mutu (quality control) dan digitasi data untuk kemudian dilakukan pengolahan
statistik sesuai dengan kebutuhan.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran tentang Studi Lapangan Di Stasiun
Meteorologi/Klimatologi, peserta diharapkan dapat mengetahui peralatan
meteorologi, proses pengamatan unsur-unsur cuaca/iklim, pengolahan dan
analisis data dan pelayanan.

1. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran tentang Studi Lapangan Di Stasiun
Meteorologi/Klimatologi, peserta diharapkan dapat;
a Mengenali peralatan meteorologi/klimatologi
b Mengetahui dan memahami proses pengamatan unsur-unsur cuaca/iklim
c Mengetahui dan memahami proses penyebaran data cuaca/iklim
d Mengetahui dan memahami proses pengolahan dan analisis data
cuaca/iklim
e Mengetahui dan memahami proses pelayanan data dan informasi
cuaca/iklim.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 24


C. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, observasi, tanya jawab, diskusi
kelompok dan praktek serta evaluasi.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam modul
ini, meliputi :
1. Pengenalan peralatan meteorologi
a Di Taman Alat Meteorologi
b Di ruang operasional
c Fasilitas MCEWS

2. Proses pengamatan, pengumpulan dan penyebaran data, pengolahan dan


analisis, serta pelayanan
a. Pengamatan
b. Pengumpulan dan penyebaran data
c. Pengolatah dan analisis
d. Pelayanan

E. MEDIA

1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board
3. Kertas Flipchart
4. Spidol Warna
5. Mistar
6. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 25


Modul 13: SOSIALISASI PENGIRIMAN
DATA HUJAN MELALUI SMS
BAGI PENGAMAT HUJAN OBS

A. DESKRIPSI SINGKAT

Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam pertukaran data


(pengumpulan dan penyebaran data). Ada beberapa perangkat alat komunikasi
yang telah digunakan oleh BMKG selama ini untuk pertukaran data antar Unit
Pelaksana Teknis (UPT) BMKG, diantaranya: SSB, Telepon, Faksimil, internet dan
lain-lain.

Untuk pengiriman data hujan dari Pos Pengamatan Kerjasama, BMKG sedang
melakukan ujicoba dengan menggunakan alat komunikasi mobile (Hand Phone).
Data hujan dapat dikirim melalui SMS secara langsung ke server BMKG, baik dari
HP pribadi ataupun HP yang disediakan oleh BMKG. Dalam tahap ujicoba ini,
BMKG secara bertahap menyediakan HP bagi semua pengamat yang bertugas
di pos – pos hujan sebagai sarana pengiriman data hujan.

BMKG sudah memberikan penyuluhan tata cara pengiriman data hujan kepada
pengamat yang sudah menerima HP. Oleh karena melalui pembelajaran ini, peserta
akan diberikan tata cara pengiriman data hujan melalui HP. Dalam tata cara
pengiriman ini, format pengiriman data hujan dibagi menjadi 2 macam, yakni :
Format hujan dasarian dan Format hujan ekstrim.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)


Setelah selesai pembelajaran tentang Sosialisasi Pengiriman Data Hujan Melalui
SMS bagi Pengamat Hujan Observasi, peserta diharapkan dapat mengetahui
cara pengiriman data hujan melalui SMS.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)


Setelah selesai pembelajaran tentang Sosialisasi Pengiriman Data Hujan Melalui
SMS bagi Pengamat Hujan Observasi, peserta diharapkan dapat :
a. Mengenali cara pengiriman data hujan melalui SMS
b. Mempraktekkan pengiriman data hujan melalui SMS.

D. METODE

Dalam proses pembelajaran, digunakan pendekatan andragogis yang


menggabungkan metode ceramah singkat, observasi, tanya jawab, diskusi
kelompok dan praktek serta evaluasi.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 26


D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN

Adapun pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan dikupas dalam
pembelajaran ini, meliputi :
1. Pengenalan peralatan meteorologi
a Di Taman Alat Meteorologi
b Di ruang operasional

2. Proses pengamatan, pengumpulan dan penyebaran data, pengolahan dan


analisis, serta pelayanan
a Pengamatan
b Pengumpulan dan penyebaran data
c Pengolatah dan analisis
d Pelayanan

E. MEDIA

1. OHP/LCD
2. Flipchart/ White Board
3. Kertas Flipchart
4. Spidol Warna
5. Mistar
6. Pensil / Ballpoin

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 27


Modul 14: PEMBENTUKAN TIM TEKNIS
INFORMASI IKLIM
DI PROPINSI BANTEN

LATAR BELAKANG

Pengembangan Informasi Iklim dalam skala lokal bersifat sangat spesifik. Dengan
mempertimbangkan kerangka Otonomi Daerah, maka dalam melaksanakan kegiatan
Badan Meteorologi Klimatologi dn Geofisika (BMKG) secara operasional perlu didukung
oleh SDM daerah.

Untuk dapat menghasilkan informasi iklim yang sesuai dengan kebutuhan, maka perlu
dibentuk Tim Teknis yang terdiri dari personalia dengan latar belakang klimatologi dan
personalia dalam sektor tertentu yang sensitif terhadap kondisi iklim tertentu, seperti
pertanian, perhubungan dan pariwisata, pekerjaan umum, sumber daya air, lingkungan
hidup dan kesehatan, dan sebagainya.

Dalam rangka menyediakan personalia sebagai pelaksana di tingkat daerah telah


dilakukan koordinasi dan pelatihan (PPII). Koordinasi telah dilakukan beberapa kali di
tingkat daerah diantaranya koordinasi dengan Pemerintah Daerah Propinsi Banten dan
Pemkab/Pemkot se Propinsi Banten.

Berdasarkan pada hasil koordinasi dan hasil pelatihan tersebut serta untuk
pengembangan informasi Iklim perlu dibentuk Tim Teknis Pengembangan Informasi
Iklim Propinsi Banten, yang anggotanya terdiri dari personil daerah yang berkompeten
dalam bidangnya. Tim Teknis Pengembangan Informasi Iklim (TTPI) terdiri dari para
praktisi penghasil informasi di daerah (stasiun BMKG Wilayah dan staf dinas sektoral di
daerah). TTPI berperan sebagai partner BMKG, dan diarahkan untuk menghasilkan
inforamsi iklim untuk Propinsi Banten. Kegiatan yang dilakukan oleh Tim Teknis meliputi
pengumpulan data dan diseminasi informasi..

Tim teknis yang dibentuk diharapkan bisa menjadi ujung tombak diseminasi informasi
iklim di daerah khususnya Kabupaten/Kota di Propinsi Banten, sehingga kemandirian
daerah dapat terealisasi. Untuk legalisasi tim teknis, dibutuhkan perangkat lunak berupa
Surat Keputusan sebagai dasar tim untuk bekerja.

TUJUAN

1. Menjalin kerjasama teknis antara BMKG Pusat dan daerah dengan Pemerintah
Propinsi Banten untuk transfer teknologi keikliman.
2. Memberdayakan potensi Propinsi Banten untuk melakukan pengamatan cuaca dan
iklim, diseminasi informasi iklim sehingga pemanfaatan informasi iklim optimal, dan
evaluasi pemanfaatannya.
3. Membangun tim kerja yang solid yang terdiri dari penyedia dan pengguna informasi
iklim.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 28


SASARAN
1. Terbentuknya kerjasama teknis yang antara BMKG dengan Pemerintah Propinsi
Banten.
2. Terselenggaranya kegiatan pengamatan cuaca dan iklim, diseminasi informasi
iklim serta pemanfaatan informasi iklim untuk keperluan pembangunan sektoral.

OUTPUT TIM TEKNIS


1. Database curah hujan harian yang dikumpulkan dari pos hujan di wilayah Propinsi
Banten
2. Database cuaca permukaan yang dikumpulkan dari Stasiun Meteorologi Pertanian
Khusus (SMPK) dan Stasiun BMKG.
3. Draft format informasi iklim yang diperlukan untuk menunjang kegiatan sektoral.
4. Laporan hasil diseminasi informasi iklim di unit kerja masing-masing.
5. Laporan cuaca dan iklim ekstrim di wilayah kerjanya.

ANGGOTA TIM TEKNIS


Anggota tim teknis terdiri dari staf Stasiun Klimatologi Pondok Betung, Staf Stasiun
Meteorologi Serang, Stasiun Geofisika Tangerang dan Staf Dinas terkait
Pemprop/Pemkab/Pemkot di Propinsi Banten.

Anggota tim teknis yang diusulkan adalah sebagai berikut :

Tim Penyedia Informasi :


1. Kepala Seksi Observasi dan Informasi Staklim Pondok Betung
2. Staf Staklim Pondok Betung
3. Staf Stamet Serang
4. Staf Stageof Tangerang

Tim Diseminasi Informasi Pemda


Staf Teknis Dinas Pemprop/ Pemkab/Pemkot di Propinsi Banten

Tim Teknis Pengembangan Informasi Iklim Propinsi Banten


a. Pelaksana Analisis, Evaluasi dan Prakiraan Iklim (BMKG)
b. Pelaksana Analisis Kesesuaian iklim untuk Kegiatan Sektoral
1. Perwakilan Dinas Teknis tiap Kabupaten/Kota
2. Perwakilan Dinas Teknis Propinsi Banten
c. Pelaksana pengamatan dan pengumpulan data di Propinsi Banten
1. Koordinator Kabupaten/Kota
2. Koordinator Propinsi
3. Pengamat dan pengumpul data hujan harian

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 29


TUGAS POKOK TIM TEKNIS

Supervisi (BMKG) :
1. Membuat petunjuk teknis pengamatan cuaca dan iklim, analisis, evaluasi dan
pembuatan prekiraan iklim.
2. Membuat petunjuk teknis pemanfaatan informasi iklim untuk menunjang kegiatan
sektoral.

Pelaksana Analisis, Evaluasi dan Prakiraan Iklim (BMG)


1. Membuat analisis, evaluasi cuaca dan iklim bulan lalu serta membuat prakiraan
iklim bulanan Propinsi Banten.
2. Melakukan presentasi hasil analisis, evaluasi cuaca dan iklim serta prakiraan iklim.
3. Melaksanakan bimbingan teknis pengamatan dan pengumpulan data yang
dilakukan oleh Pelaksana pengamatan dan pengumpulan.

Pelaksana Analisis Kesesuaian iklim untuk Kegiatan Sektoral


1. Membuat analisis kesesuaian iklim terhadap kegiatan sektoral.
2. Memberikan penyuluhan kepada petani mengenai kegiatan pertanian yang
disesuaikan dengan kondisi iklim.

Pelaksana pengamatan dan pengumpulan data di Propinsi Banten


1. Melakukan koordinasi pengumpulan dan pengiriman data.
2. Mengatur pelaksanaan presentasi, memberikan penyuluhan kepada para petani
mengenai kondisi cuaca dan iklim berkenaan dengan kegiatan pertanian dan
sektor lainnya di Propinsi Banten.
3. Melakukan pemeliharaan peralatan penakar hujan, Automatic Raingauge (ARG)
dan Automatic Weather Station (AWS).
4. Melakukan pengamatan hujan dari sejumlah penakar hujan dan cuaca permukaan.
5. Menyimpan data curah hujan dan ke dalam database dengan format yang telah
ditentukan.
6. Mengirim data hasil pengamatan ke Stasklim Pondok Betung melalui komunikasi
yang ada.
7. Memberikan umpan balik terhadap hasil prakiraan iklim untuk perbaikan sistem
analisis.

MEKANISKE KERJA TIM TEKNIS

Sebagaimana disebutkan di atas pada butir output, waktu kerja tim teknis adalah
bulanan. Mekanisme kerja ini akan diimplementasikan setelah diterbitkannya petunjuk
teknis yang didisain oleh Tim Supervisi.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 30


PENGAMATAN DAN PENGUMPULAN DATA

Pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan data hujan dan cuaca permukaan di


wilayah Propinsi banten. Pengamatan dilakukan setiap hari dan dicatat pada form yang
telah ditentukan.

Pada setiap akhir dasarian (tanggal 11, 21, dan 1) data dikirim ke koordinator
pengumpulan data.

ANALISIS, EVALUASI DAN PRAKIRAAN

Pada setiap akhir bulan (25-26) dibuat analisis cuaca dan iklim berdasarkan data
regional dan lokal. Hasil analisis ini merupakan Informasi Iklim untuk pengguna.

Pelatihan Peningkatan Pemahaman Informasi Iklim 2009 31