Anda di halaman 1dari 5

PENENTUAN DATUM VERTIKAL BATAS WILAYAH LAUT

Oleh : Ratih Destarina

Dalam Permendagri No.1/2006 pasal 1 ayat (6), batas daerah di laut adalah pemisah
antara daerah yang berbatasan berupa garis khayal (imajiner) di laut dan daftar koordinat
di peta yang dalam implementasinya merupakan batas kewenangan pengelolaan sumber
daya di laut. Penentuan batas daerah di laut merupakan kelanjutan dari pekerjaan
penegasan batas daerah di darat di mana suatu daerah tersebut terdiri dari suatu daratan
dan lautannya yang berbatasan langsung dengan daerah lain ataupun yang berbatasan
langsung dengan laut perairan dalam NKRI.

Gambar 1. Kedudukan Garis Pantai dan Garis Pangkal

Garis pantai berdasarkan IHO Hydrographic Dictionary (1970) adalah garis


pertemuan antara pantai (daratan) dan air (lautan). Walaupun secara periodik permukaan
laut selalu berubah, suatu tinggi muka laut tertentu yang tetap dan dapat ditentukan, harus
dipilih untuk menjelaskan posisi garis pantai. Pada peta laut biasanya digunakan garis air
tinggi (high water line) sebagai garis pantai. Hal ini berbeda sekali dengan garis pangkal
dimana yang digunakan adalah garis air rendah (low water line).

I. DATUM VERTIKAL

Datum, secara umum, merupakan besaran-besaran atau konstanta-konstanta


(quantities) yang dapat bertindak sebagai referensi atau dasar (basis) untuk hitungan-
hitungan besaran-besaran lain.
Ada dua macam datum yang umum digunakan dalam perpetaan yaitu datum
horizontal dan datum vertikal. Datum horizontal digunakan untuk menentukan
koordinat peta (X.Y), sedangkan datum vertikal untuk penentuan elevasi (peta

1
topografi) ataupun kedalaman (peta bathimetri). Perhitungan dilakukan dengan
transformasi tertentu, dengan demikian transformasi antar datum, antar sistem
proyeksi, dan antar sistem koordinat dapat dilakukan. Untuk datum horizontal, peta-
peta Bakosurtanal umumnya menggunakan datum Padang (ID-47), sedangkan peta-
peta Dishidros menggunakan datum Batavia.

Gambar 2. Datum vertikal

Untuk mempresentasikan informasi ketinggian atau kedalaman, sering


digunakan datum yang berbeda. Pada peta laut umumnya digunakan suatu bidang
permukaan air rendah (chart datum) sebagai bidang referensi, sehingga nilai-nilai
kedalaman yang dipresentasikan oleh peta laut ini mengacu pada pasut rendah (low
tide) [Djunar20]. Saat ini ada banyak bidang vertikal yang dijadikan sebagai chart
datum, misalnya: MLLW (Mean Lower Low Water), LLWLT (Lowest Low Water
Large Tide), LLWST (Lowest Low Water Spring Tide), dan LAT (Lowest
Astronomical Tide). Perbedaan bidang vertikal yang digunakan sebagai chart datum
ini akan menyebabkan perbedaan nilai-nilai yang direpresentasikan oleh peta-peta
laut yang bersangkutan, selain pada gilirannya juga akan berpengaruh pada penentuan
atau penarikan batas-batas perairan negara-negara yang bersebelahan.

II. BATAS WILAYAH LAUT NASIONAL

Penetapan batas maritim penting dilakukan karena berkaitan erat dengan hak
mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di laut.
Dalam RPP Batas Daerah, garis pantai ini didefinisikan yaitu sebagai garis
yang dibentuk oleh perpotongan garis air rendah dengan daratan. Meskipun begitu
pengertian air rendah sendiri secara oseanografis tidak secara otomatis mengacu ke
suatu muka air rendah tertentu. Muka air rendah, disamping muka surutan (chart
datum), dapat berupa MLLW (Mean Lower Low Water), MLWN (Mean Low Water
Neaps), MLWS (Mean Low Water Springs), maupun LAT (Lowest Astronomical

2
Tide). Selain itu juga garis air rendah tergantung pada tipe pasut di perairan yang
bersangkutan, seperti diurnal atau semidiurnal, maka kedudukan dan jarak relatif
antara muka-muka air rendah ini juga akan bervariasi.

I.1. Batas Wilayah Laut Propinsi


· Dasar Hukum Batas Wilayah Laut Propinsi
- Pekerjaan delimitasi batas wilayah maritim antara propinsi di Indonesia
harus berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun
2006 tentang “Pedoman Penegasan Batas Daerah” yang mengacu kepada
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
- Berdasarkan Permendagri No.1/2006, peta dasar yang digunakan adalah
peta laut dan peta LLN skala 1:500.000 untuk batas provinsi.
- Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

· Datum Vertikal Yang Digunakan


- Datum Vertikal orthometris Lowest Astronomical Tide (LAT) untuk peta
dasar kelautan. LAT merupakan datum vertikal yang ditetapkan untuk
reduksi pasut sebagaimana direkomendasikan oleh IHO.

· Contoh
- Penentuan Batas Wilayah Laut Antara Propinsi Bali dengan Propinsi Nusa
Tenggara Barat

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah peta LLN analog.
Penggunaan peta LLN ini sesuai dengan Permendagri No.1/2006 tentang
“Pedoman Penegasan Batas Daerah”, yang menyatakan bahwa peta yang
digunakan dalam penentuan batas wilayah maritim untuk provinsi adalah
peta LLN Skala 1:500.000. Peta LLN ini diperoleh dari Pusat Pelayanan
Informasi Kebumian (PPIK) yang merupakan salah satu outlet resmi
Bakosurtanal. Adapun spesifikasi dari peta LLN lokasi penelitian yaitu
sebagai berikut :
1. Judul utama : Bali (termasuk Jawa Timur dan NTB)
2. Nomor peta : Peta LLN - 17
3. Skala : 1:500.000
4. Datum Horizontal : ID-1974
5. Datum Vertikal : Muka Laut di Tanjung Priok Jakarta
6. Sistem koordinat : Geografis dan UTM

I.2. Batas Wilayah Laut Kabupaten


· Dasar Hukum Batas Wilayah Laut Kabupaten
- Berdasarkan Permendagri No.1/2006, peta dasar yang digunakan adalah
peta laut dan peta LPI skala 1:50.000 untuk batas daerah kabupaten dan
kota.
- Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

3
III. BATAS WILAYAH LAUT INTERNASIONAL

Indonesia adalah negara kepulauan yang berbatasan dengan sepuluh negara


tetangga yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua
Nugini, Australia dan Timor Leste.
Menurut Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, maka Indonesia
berhak untuk menetapkan batas-batas terluar beberapa zona maritim seperti Laut
Teritorial, Zona Tambahan, Zona Ekonomi Ekslusif, dan Landas kontinen. Pada
setiap zona terdapat kedaulatan atau hak berdaulat yang penting bagi Indonesia. Itulah
yang menyebabkan penetapan zona maritim dan penyelesaian batas maritim dengan
Negara tetangga mendesak untuk dilakukan.
Titik terluar pada Garis Air Rendah pantai yang berbatasan dengan negara
tetangga yang berhadapan atau berdampingan yang merupakan titik terluar bersama
untuk penarikan garis pangkal ditetapkan berdasarkan perjanjian kedua negara serta
memenuhi ketentuan Hukum Intemasional. Perjanjian perbatasan dengan negara
tetangga tersebut pengesahannya dilakukan dengan Undang-undang.

· Dasar Hukum Batas Wilayah Laut Internasional


- Mengacu pada ketentuan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS III) tahun 1982
mengenai penetapan batas wilayah laut, dinyatakan bahwa batas kewenangan
wilayah laut suatu Negara Pantai diukur dan ditentukan posisinya dari Garis
Pangkal (baseline).
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2002 Tentang
Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia.
- Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia yang dibentuk
untuk menindaklanjuti pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Hukum Laut Tahun 1982 memuat ketentuan bahwa peta yang
menggambarkan wilayah Perairan Indonesia atau Daftar Koordinat Geografis
Titiktitik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia, diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

· Datum Vertikal Yang Digunakan


Garis Pangkal yang digunakan untuk menentukan batas-batas wilayah taut
adalah Garis Air Rendah (low water line) dimana Garis Pangkal pada umumnya
diturunkan dari garis pangkal normal yang merupakan garis pertemuan antara
permukaan air rendah dengan garis pantai.
Permukaan air rendah adalah Chart Datum yang didefinisikan sebagai
datum vertikal. Walaupun IHO telah merekomendasikan LAT sebagai Chart
Datum Intemasional namun belum semua negara menggunakannya.
Digunakan model-model Chart Datum ISWL, MLLW (Pantai Barat
Amerika), MLLW (Pantai Timur Amerika), IHO, MSWL, Admiralty, LLW, MSL
dan MLW dimana dilakukan uji signifikansi terhadap perbedaan nilai-nilai
kedudukan vertikal antar model-model Chart Datum terhadap LAT untuk
keperluan penetapan batas laut wilayah.

4
REFERENSI

Abidin, dkk. 2005. Geodetic Datum of Indonesian Maritime Boundaries : Status and
Problems. Cairo, Egypt : Pharaohs to Geoinformatics FIG Working Week
2005 and GSDI-8.
Adnyana, dkk. 2007. Delimitasi Batas Maritim antara Provinsi Bali dan Provinsi Nusa
Tenggara Barat: Sebuah Kajian Teknis . Yogyakarta : Jurusan Teknik
Geodesi dan Geomatika FT UGM.
Andreas, Heri. - . Penetapan dan Penegasan Batas Daerah di Laut. Bandung : KK
Geodesi ITB.
Arimjaya, dkk. 2008. Aplikasi Google Maps API untuk Pembuatan Sistem Informasi
Geografis Batas Maritim Indonesia Berbasis Internet. Yogyakarta : Jurusan
Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
Pratomo, Danar Guruh. 2004. Aspek Teknis Pembatasan Wilayah Laut Dalam Undang-
undang No. 22 Tahun 1999. Surabaya : Teknik Geodesi – ITS.
Presiden Republik Indonesia. 2002. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38
Tahun 2002 Tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal
Kepulauan Indonesia. Jakarta.
Sitepu, M.J. - . Digital Marine Resource Mapping of Indonesian Waters. Jakarta : Bloom
Dantarsa co.
________, 2005. Analisis Signifikansi Perbedaan Model-model Chart Datum untuk
Penentuan Batas Laut Wilayah, Studi Kasus : Stasiun Pasut Padang,
Sumatera Barat, Tahun 2000, <URLhttp://lib.itb.ac.id /top/s2-theses/geodetic
and geomatic engineering/2005> dikunjungi pada tanggal 5 November 2008,
jam 15.15 WIB.
________, 2007. Draft Kebijakan Perpetaan, <URLhttp://crs.itb.ac.id/media/ Draft
Kebijakan Perpetaan « Ketut Wikantika> dikunjungi pada tanggal 5
November 2008, jam 14.25 WIB.
________, 2008. Sistem Koordinat, <URLhttp://multiply.com/abdur’s_blog/journal>
dikunjungi pada tanggal 5 November 2008, jam 14.28 WIB.
________, 2008. Model Bumi dan Sistem Koordinat,
<URLhttp://wordpress.com/Universitas Hasanuddin Makasar/Pemetaan
Sumberdaya Hayati Laut> dikunjungi pada tanggal 5 November 2008, jam
14.25 WIB.