Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS KEBIASAAN MEROKOK

DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS USHULUDDIN


IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
(STUDI LAPANGAN BERDASARKAN PENAFSIRAN TERHADAP QS. AL-
BAQARAH [2]: 195, SURAT AN-NISA[4]: 29, QS. AL-ISRA [17]: 27)

A. Latar Belakang Masalah


Rokok yang dulu seringkali diidentikkan dengan simbol kejantanan,
bahkan pada kalangan tertentu dengan simbol kemapanan, seiring waktu semakin
menunjukkan kecenderungan bergeser untuk tidak lagi menjadi simbol siapapun
atau jenis kelamin apapun. Rokok telah menjadi lebih sebagai kebutuhan yang
relatif permanen daripada sekedar trend sesaat.
Sebuah dilema yang tidak dapat disangkal dalam perilaku ini, adalah
dampaknya bagi kesehatan individual maupun sosial. Merokok telah terbukti
menyebabkan banyak penyakit dan gangguan kesehatan yang kronis bagi
pelakunya secara individual. Tidak hanya itu, perilaku tersebut pun ternyata
mengganggu kesehatan lingkungan sosial. Menurut survei WHO, dalam beberapa
tahun ke depan, rokok akan menjadi pembunuh manusia nomor satu, baik bagi
yang menghisapnya secara aktif maupun pasif.
Lebih dari itu, rokok bukan hanya bisa menimbulkan banyak penyakit,
merokok juga membuat seseorang (perokok) mudah terserang rasa panik.
Setidaknya itulah kesimpulan sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Naomi
Breslau dari Henry Ford Health System, Detroit dan Dr. Donald F. Klein dari
Universitas Columbia, New York.
Kata mereka, tiap tahunnya sekitar sepertiga anggota masyarakat yang
berusia dewasa sedikitnya sepertiga satu kali dicekam rasa panik. Saat rasa panik
menyergap, seseorang mungkin merasa sejumlah gejala seperti napas pendek,
pusing, detak jantung yang cepat, berkeringat, mual dan sakit dada.
Dan dalam wawancara yang dilakukan para peneliti dengan dua
responden yaitu anggota organisasi pemeliharaan kesehatan Michigan (HMO)
yang terdiri dari 1.007 orang, berusia antara 21-30 tahun dan sampel nasional
yang terdiri dari 4.411 orang, berusia antara 15-54 tahun, menunjukan bahwa para
perokok mempunyai resiko tiga kali lebih ketimbang mereka yang tidak merokok
dan dari hasil wawancara sampel nasional menunjukan bahwa para perokok
terserang rasa panik dua kali lebih tinggi ketimbang yang tidak merokok.1
Namun persoalan tadi tidak banyak berarti bagi mereka yang merokok.
Merokok bagi mereka adalah persoalan kepuasan yang tidak bisa ditukar dengan
‘sekedar’ ancaman kesehatan. Apalagi terdapat banyak kasus, meski itu hanya
dipandang sebagai pengecualian, di mana kebiasaan merokok tidak membawa
gangguan kesehatan yang berarti bagi pelakunya. Bahkan bagi sebagian mereka
(perokok), dalam keadaan merokok dapat membuahkan inspirasi bagi keilmuan
mereka ketimbang dalam keadaan tidak merokok.
Dilema tersebut kemudian menjadi sangat menarik ketika dihadapkan
pada kenyataan bahwa banyak kaum muslimin yang mengkonsumsi rokok.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah di mana posisi doktrin-doktrin
keagamaan Islam dalam memberi eksplanasi bagi perilaku tersebut. Atau dalam
peristilahan yang lain, bagaimana kaum muslimin mempersepsikan ajaran
agamanya untuk menerangkan merokok tadi.
Mengkaji permasalahan tersebut dari sudut pandang penafsiran sebuah
komunitas muslim terhadap al-Qur`an akan memberikan signifikansi yang lebih
besar, minimal, karena dua hal. Pertama, al-Qur`an adalah sumber utama ajaran
Islam, yang darinya umat Islam menarik prinsip-prinsip hukum yang berlaku
secara umum sehingga karenanya artikulasi keberagamaan dan perilaku
kehidupan mereka sebagian besar dirujukkan kepadanya. Kedua, penafsiran
sebuah komunitas muslim terhadap al-Qur`an adalah merupakan hasil interaksi
pengalaman mereka; individual maupun sosial; afektif maupun kognitif; serta
intelektual maupun emosional. Karena itu, sangat menantang kiranya untuk

1
Lihat Harian Republika, Minggu 26 Desember 1999 dalam rubrik Stetoskop
meneliti sejauh mana interaksi itu bersifat determinan terhadap upaya sebuah
komunitas muslim untuk menafsirkan al-Qur`an.
Kembali ke pokok permasalahan, secara normatif tampak kesan adanya
konflik antara merokok di satu sisi dengan kewajiban menjaga diri dan
lingkungan di sisi yang lain. Karena itu, ayat yang dijadikan dasar penelitian ini
adalah surat al-Baqarah ayat 195 yang artinya, “Dan belanjakanlah (harta-
bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam
kebinasaan dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik”, dan surat an-Nisa` ayat 29 yang artinya, ”Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan secara sukarela di
antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya
Allah Maha Penyayang kepadamu”.
Lebih jauh lagi, perilaku tersebut juga banyak dirujukkan kepada
pemborosan harta yang dengan jelas al-Qur`an telah melarangnya. Dalam surat al-
Isra` ayat 27 disebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang boros adalah
saudara-saudara syaithan, dan syaithan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”.

B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah menjadi hal yang penting untuk membatasi
penelitian dan meletakkannya pada proporsi yang sesuai. Dan demi memberi
penjelasan yang terperinci, perumusan masalah hendak kami sajikan dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan yang darinya penelitian kami kembangkan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kami rumuskan sebagai berikut :
1. Apakah para mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta memandang merokok sebagai hal yang tercela menurut agama?
2. Apakah mereka (mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta) mengkategorikan merokok sebagai bagian dari perbuatan
“menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan” berdasarkan penafsiran terhadap ayat
195 dari surat al-Baqarah? Dan jika tidak, bagaimana mereka menafsirkan
ayat tersebut?
3. Apakah mereka (mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta) mengkategorikan merokok sebagai bagian dari perbuatan
“membunuh diri sendiri” berdasarkan penafsiran terhadap ayat 29 dari surat
an-Nisa’? Dan jika tidak, bagaimana mereka menafsirkan ayat tersebut?
4. Apakah mereka (mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta) menganggap merokok sebagai bagian dari perbuatan
“memboroskan harta benda” berdasarkan penafsiran terhadap ayat 27 dari
surat al-Isra`? Dan jika tidak, bagaimana mereka menafsirkan ayat tersebut?
5. Apakah mereka (mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta) mendasarkan pilihan sikap mereka untuk merokok atau tidak
merokok kepada penafsiran mereka terhadap tiga ayat tadi? Dan faktor-faktor
apakah yang mendorong hal itu?

C. Metode Penelitian
Metode adalah hal yang paling mendasar dalam sebuah penelitian. Tanpa
metode yang baik dan terarah, penelitian tak akan membuahkan hasil yang baik
dan terarah pula. Dalam penelitian dikenal adanya prinsip auditabilitas dan
realibitas. Artinya, sebuah hasil penelitian seharusnya dapat diaudit dan diuji
keabsahannya. Tanpa mengetahui metode penelitian yang digunakan seorang
peneliti hal tersebut tak akan dapat terlaksana dengan sempurna.
Ada dua macam metode penelitian yang kita kenal selama ini yaitu
Metode Penelitian Kepustakaan dan Metode Penelitian Lapangan. Dan dalam
penelitian ini kami mengambil bentuk studi lapangan yaitu berupa penyebaran
angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan disertai dengan pilihan jawaban-
jawaban yang memungkinkan. Angket tersebut akan kami sebarkan secara acak
kepada sejumlah mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta yang kami jadikan sampel penelitian ini.
Pertanyaan-pertanyaan dalam angket tersebut secara umum kami susun
sebagaimana tercantum di bawah ini. Rincian pertanyaan yang lebih spesifik
dalam angket nantinya akan kami kembangkan dari kerangka tersebut, karenanya
daftar pilihan jawaban tidak kami sertakan.
1. Apakah anda memandang merokok sebagai hal yang buruk secara umum
(baik banyak atau sedikit, sering atau jarang)? Atau anda memandang hal
tersebut berdasarkan tingkat ketergantungan, jumlah, dan lain-lain?
Apakah pandangan anda tersebut dipengaruhi oleh doktrin-doktrin agama,
penelitian medis, atau hal-hal lain?
2. Apakah anda memandang merokok sebagai bagian dari perbuatan
"menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan" berdasar pemahaman terhadap
ayat 195 dari al-Baqarah?
3. Apakah anda memandang merokok sebagai bagian dari perbuatan
"membunuh diri sendiri" berdasar pemahaman terhadap ayat 29 dari an-
Nisa`?
4. Apakah anda memandang merokok sebagai bagian dari perbuatan
"memboroskan harta benda" berdasar pemahaman terhadap ayat 27 dari al-
Isra`?
5. Bagaimana anda memandang merokok di kalangan teman-teman anda?

D. Tujuan Penelitian
Selanjutnya kami ingin menegaskan bahwa penelitian ini barangkali
tidak akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat normatif, hal itu memang
bukan tujuan penelitian ini. Penelitian yang kami lakukan akan lebih mengamati
bagaimana sebuah kelompok dalam komunitas muslim, dalam hal ini mahasiswa
Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam memberi
penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur`an dan kemudian bagaimana mereka
memandang realitas kehidupan berdasarkan pemahaman dan penafsiran terhadap
ayat-ayat tadi. Karena itu, penelitian ini akan lebih bersifat sosiologis dan akan
diarahkan untuk membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sosiologis pula.
Terma merokok kami perluas cakupannya meliputi perbuatan merokok
secara umum. Karena itu, serta karena penelitian ini hanya mencoba membaca
sikap para mahasiswa terhadap penafsiran sebuah ayat dikaitkan dengan pola
tingkah laku tertentu, maka responden penelitian ini tidak kami batasi terhadap
para pelaku perbuatan merokok saja.

E. Tinjauan Kepustakaan
Sebagian besar penelitian tentang rokok dilakukan sebagai tinjauan
terhadap aspek pengaruhnya terhadap kesehatan. Dan hampir semua penelitian
tentang hal tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa rokok berbahaya bagi
kesehatan manusia, baik bagi yang menghisapnya secara aktif maupun secara
pasif. Penelitian semacam itu akan menghasilkan tinjauan medis dan akan sangat
berguna, meski bukan itu yang akan kami teliti.
Selain itu, banyak pemikir-pemikir Islam yang mencoba mengaitkan
perbuatan merokok dengan hukum dan aturan agama. Yusuf al-Qardlawi
misalnya, menulis "Hukum Merokok Menurut Tinjauan Nash dan Syari'ah" dalam
bukunya Fatwa-fatwa Kontemporer. Dalam tulisannya, Yusuf al-Qardlawi
menguraikan masalah hukum merokok beserta pandangan para ulama tentang hal
ini. Hal yang semacam itu menghasilkan kesimpulan yang normatif sesuai dengan
penerapan ajaran-ajaran agama. Meski hal tersebut sangat penting, namun
penelitian kami tidak berada dalam ruang lingkup yang sama dengan apa yang
dibahas oleh al-Qardlawi di atas.
Penelitian yang akan kami lakukan berbeda dengan dua model penelitian
di atas. Penelitian kami akan lebih menitikberatkan pada respons terhadap
merokok berdasarkan pemahaman terhadap beberapa ayat al-Qur`an. Kami tentu
berasumsi bahwa penelitian kami akan ditujukan pada para mahasiswa yang
notabene mengenal ayat-ayat tadi. Dengan demikian penelitian kami nantinya
diharapkan dapat memberi masukan dan tambahan baru ke dalam persoalan
merokok ini.
PERPUSTAKAAN AWAL
Karena penelitian ini adalah penelitian lapangan dan buku-buku yang
membahas masalah merokok secara spesifik sangat sulit kami dapatkan, maka
beberapa buku di bawah ini akan kami usahakan untuk dapat menjadi bahan yang
memperkaya hasil penelitian kami, sekaligus menjadi kerangka rujukan (frame of
reference) bagi penelitian kami. Buku-buku tersebut adalah :
1. Muhamad Ali Al-Bar, Rokok-Aspek Kesehatan, Jakarta: Al-Ishlahy Press.

2. Dr. R.H. Su'dan MD, SKM, Al-Qur`an dan Panduan Kesehatan Masyarakat,
Jakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa.
3. Yusuf al-Qardlawi, Fatwa-fatwa Kontemporer, Jakarta : Gema Insani Press.