Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama rentang kehidupan manusia, telah terjadi banyak pertumbuhan dan

perkembangan dari mulai lahir sampai meninggal dunia. Dari semua fase

perkembangan manusia tersebut, salah satu yang paling penting dan paling

menjadi pusat perhatian adalah masa remaja. Remaja adalah tahap umur yang

datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat.

Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa

akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian

remaja. (Darajat Zakiah, 1995). Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan

dan psikologi condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam

kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan dari kanak-

kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa.

Fase usia remaja merupakan masa dimana manusia sedang mengalami

perkembangan yang begitu pesat, baik secara fisik, psikologis dan sosial.

Perkembangan secara fisik ditandai dengan semakin matangnya organ-organ

tubuh termasuk organ reproduksinya. Secara sosial perkembangan ini ditandai

dengan semakin berkurangnya ketergantungan dengan orang tuanya, sehingga

remaja biasanya akan semakin mengenal komunitas luar dengan jalan interaksi

sosial yang dilakukannya di sekolah, pergaulan dengan sebaya maupun

masyarakat luas (Alwisol, 2006). Pada masa ini pula, ketertarikan dengan lawan

jenis juga mulai muncul dan berkembang. Rasa ketertarikan pada remaja

1
2

kemudian dimunculkan dalam bentuk (misalnya) berpacaran di antara mereka.

Orang yang berperilaku pacaran inilah yang disebut dengan pacar.

Masa remaja merupakan masa dimana timbulnya berbagai kebutuhan dan

emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya

fakir menjadi matang. Namun masa remaja penuh dengan berbagai perasaan yang

tidak menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecambuk harapan dan tantangan,

kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang

berat, menuju hari depan dan dewasa yang matang. Pada masa remaja pula

terbentuk kemandirian dalam berbagai hal.

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh

berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang

dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa

gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku (Fuhrmann, 1990).

Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik.

Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam

memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:

1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi

dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi,

penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.

2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak

jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian atau penilaian

berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan

lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.


3

Stein & Book (2004) mendefenisikian kemandirian sebagai kemampuan

untuk mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berfikir dan bertindak,

serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional, sedangkan

Bernadib (dalam Mu’tadin, 2002) yang mengungkapkan bahwa kemandirian

meliputi perilaku yang penuh inisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah,

mempunyai rasa percaya diri, dan dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang

lain. Hal ini juga disepakati oleh Kartini & Dali (dalam Mu’tadin, 2002) yang

mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu

bagi diri sendiri.

Dari pengertian di atas terlihat bahwa orang yang mandiri mengandalkan

dirinya sendiri dalam merencanakan dan membuat keputusan penting. Kendati

demikian, mereka bisa saja meminta dan mempertimbangkan pendapat orang lain

sebelum akhirnya membuat keputusan yang tepat bagi diri mereka sendiri.

Pada remaja yang berpacaran segala keputusan seorang remaja

kebanyakan dipengaruhi oleh pacarnya bahkan tidak jarang pula remaja yang

hanya mengikuti keinginan pacarnya. Berdasarkan observasi penulis, banyak

remaja yang tak bisa melakukan berbagai aktivitas bila pacarnya tidak ada, tidak

jarang pula ada remaja yang rela tidak masuk sekolah karena pacarnya tidak

masuk sekolah. Pacaran yang sering kali dijadikan alasan untuk menyemangati

diri malah cenderung menimbulkan ketergantungan pada pacarnya sehingga

seseorang akhirnya tidak mandiri.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul ”Pengaruh Keberadaan Pacar terhadap Kemandirian Remaja

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang”.


4

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang, dapat dirumuskan masalah penelitian

sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh keberadaan pacar terhadap kemandirian remaja?

2. Apakah yang menyebabkan keberadaan pacar pengaruh atau tidak

berpengaruh pada kemandirian?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pengaruh keberadaan pacar dengan kemandirian remaja.

2. Mengetahui penyebab keberadaan pacar berpengaruh atau tidak

berpengaruh pada kemandirian.

D. Hipotesis

Hipotesis penelitian ini meliputi hipotesis nol dan hipotesis alternatif.

Ho : Tidak ada pengaruh keberadaan pacar terhadap kemandirian remaja

Ha : Ada pengaruh keberadaan pacar terhadap kemandirian remaja

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi masukan yang berguna

bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya ilmu psikologi perkembangan

mengenai remaja.
5

2. Manfaat Praktis.

Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan gambaran remaja putra

maupun putri serta masyarakat khusunya mahasiswa mengenai hubungan perilaku

pacaran dan kemandirian remaja.

F. Asumsi Penelitian

Dalam penelitian ini ada beberapa asumsi yaitu:

1. Ada remaja yang mempunyai pacar dan ada remaja yang tidak

mempunyai pacar.

2. Kemandirian remaja fakultas ilmu pendidikan bervariasi.

G. Definisi Operasional

Untuk memperjelas istilah-istilah yang terdapat dalam uraian berikutnya,

maka diuraiakan maksud dari istilah-istilah berikut:

1. Pacar

Pacar adalah orang yang berperilaku pacaran dengan seseorang. Pacaran

merupakan bentuk pergaulan remaja yang popular, daya tarik fisik merupakan

awal ketertarikan lawan jenis.

2. Kemandirian

Kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dalam berfikir dan bertindak,

serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional.

3. Remaja

Remaja merupakan salah satu fase perkembangan yang terjadi sekitar usia 12-

21 tahun.
6
7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pacar dan Perilaku Berpacaran

Pacar adalah orang yang melakukan perilaku pacaran dengan seseorang.

Pacaran merupakan bentuk pergaulan remaja yang popular, daya tarik fisik yang

dilihat dari cara berpakaian atau berdandan, hal ini merupakan awal ketertarikan

lawan jenis, yang kemudian berlanjut dengan berpacaran dimana ekspresi

perasaan pada masa pacaran diwujudkan dengan berpegangan tangan, berpelukan,

berciuman dan bersentuhan yang pada dasarnya adalah keinginan untuk

menikmati dan memuaskan dorongan seksualnya. (one.indoskripsi.com)

Perilaku seksual adalah manifestasi dari perasaan seksual yang sangat kuat,

sebagai perubahan dari hormonal yang mengiringi masa puber, Monks (1999)

menjelaskan perubahan hormonal pada masa puber mempengaruhi munculnya

perilaku seksual. Menurut Spanier (dalam Duvall & Miller, 1985) pacaran lebih

erat kaitannya dengan perilaku seksual.

3.Alasan-Alasan Yang Umum Untuk Berpacaran Selama Masa Remaja

1. Hiburan

Apabila berkencan dimaksudkan untuk hiburan, remaja menginginkan agar

pasanganya mempunyai berbagai keterampilan sosial yang dianggap penting oleh

kelompok sebaya, yaitu sikap baik hati dan menyenangkan

2.Sosialisasi

Kalau anggota kelompok sebaya membagi diri dalam pasangan-pasangan

kencan, maka laki-laki dan perempuan harus berkencan apabila masih ingin
8

menjadi anggota kelompok dan mengikuti berbagai kegiatan sosial kelompok

3.Status

Berkencan bagi laki-laki dan perempuan, terutama dalam bentuk

berpasangan tetap, memberikan status dalam kelompok sebaya, berkencan dalam

kondisi demikian merupakan batu loncatan ke status yang lebih tinggi dalam

kelompok sebaya.

4.Masa Pacaran

Dalam pola pacaran, berkencan berperan penting karena remaja jatuh cinta

dan berharap serta merencanakan perkawinan, ia sendiri harus memikirkan

Sungguh-sungguh masalah keserasian pasangan kencan sebagai teman hidup.

5.Pemilihan Teman Hidup

Banyak remaja yang bermaksud cepat menikahi memandang kencan sebagai

cara percobaan atau usaha untuk mendapatkan teman hidup.

B. Kemandirian

1. Pengertian

Stein & Book (2004) mendefenisikian kemandirian sebagai kemampuan

untuk mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berfikir dan bertindak,

serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional, sedangkan

Bernadib (dalam Mu’tadin, 2002) yang mengungkapkan bahwa kemandirian

meliputi perilaku yang penuh inisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah,

mempunyai rasa percaya diri, dan dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang

lain. Hal ini juga disepakati oleh Kartini & Dali (dalam Mu’tadin, 2002) yang
9

mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu

bagi diri sendiri.

Dari pengertian di atas terlihat bahwa orang yang mandiri mengandalkan

dirinya sendiri dalam merencanakan dan membuat keputusan penting. Kendati

demikian, mereka bisa saja meminta dan mempertimbangkan pendapat orang lain

sebelum akhirnya membuat keputusan yang tepat bagi diri mereka sendiri.

Meminta pendapat orang lain jangan selalu dianggap pertanda ketergantungan.

Orang yang mandiri dapat bekerja sendiri, mereka tidak mau bergantung pada

orang lain dalam memenuhi kebutuhan emosional mereka. Kemampuan untuk

mandiri bergantung pada tingkat kepercayaan diri dan kekuatan batin seseorang,

serta keinginan untuk memenuhi harapan dan kewajiban (Stein&Book, 2004).

2. Aspek-aspek Kemandirian

Menurut Ara (1998), aspek-aspek kemandirian terdiri dari :

a. Kebebasan

Kebebasan merupakan hak asasi bagi setiap manusia. Manusia cenderung

akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dan

mencapai tujuan hidupnya, bila tanpa kebebasan. Perwujudan kemandirian

seseorang dapat dilihat dalam kebebasannya membuat keputusan, tidak merasa

cemas atau takut dan malu apabila keputusannya tidak sesuai dengan orang

lain.

b. Inisiatif

Inisiatif merupakan suatu ide yang diwujudkan ke dalam bentuk tingkah

laku. Perwujudan kemandirian seseorang dapat dilihat dalam kemampuannya


10

untuk mengemukakan ide, berpendapat, memenuhi kebutuhan sendiri dan

berani mempertahankan sikap.

c. Percaya Diri

Kepercayaan diri merupakan sikap individu yang menunjukkan keyakinan

bahwa dirinya dapat mengembangkan rasa dihargai. Perwujudan kemandirian

seseorang dapat dilihat dalam kemampuan seseorang untuk berani memilih,

percaya akan kemampuannya dalam mengorganisasikan diri dan menghasilkan

sesuatu yang baik.

d. Tanggung Jawab

Aspek tanggung jawab tidak hanya ditunjukkan pada diri sendiri tetapi

juga kepada orang lain. Perwujudan kemandirian dapat dilihat dalam tanggung

jawab seseorang untuk berani menanggung resiko atas konsekuensi dari

keputusan yang telah diambil, menunjukkan loyalitas dan memiliki

kemampuan untuk membedakan atau memisahkan antara kehidupan dirinya

dengan orang lain di lingkungannya.

e. Ketegasan Diri

Ketegasan diri menunjukkan adanya suatu kemampuan untuk

mengandalkan dirinya sendiri. Perwujudan kemandirian seeorang dapat dilihat

dalam keberanian seseorang untuk mengambil resiko dan mempertahankan

pendapat meskipun pendapatnya berbeda dengan orang lain.

f. Pengambilan Keputusan

Di dalam kehidupannya, setiap orang selalu dihadapkan pada berbagai

pilihan yang memaksanya mengambil keputusan untuk memilih. Perwujudan

kemandirian seseorang dapat dilihat di dalam kemampuan seseorang untuk


11

menemukan akar permasalahan, mengevaluasi segala kemungkinan di dalam

mengatasi masalah dan berbagai tantangan serta kesulitan lainnya, tanpa harus

mendapat bantuan atau bimbingan dari orang yang lebih dewasa.

g. Kontrol Diri

Kontrol diri memiliki pengertian yaitu suatu kemampuan untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya, baik dengan mengubah

tingkah laku atau menunda tingkah laku, tanpa peraturan atau bimbingan dari

orang lain. Dengan kata lain sebagai kemempuan untuk mengontrol diri dan

perasannya, sehingga seseorang tidak merasa takut, tidak cemas, tidak ragu

atau tidak marah yang berlebihan saat dirinya berinteraksi dengan orang lain

atau lingkungan.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Kemandirian

Menurut Basri (1995), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi

pembentukan kemandirian, yaitu :

a. Faktor Internal

Faktor internal merupakan semua pengaruh yang bersumber dari dalam

individu sendiri, seperti keadaan keturunan dan konstitusi tubuhnya sejak lahir

dengan segala perlengkapan yang melekat padanya. Segala sesuatu yang

dibawa anak sejak lahir adalah merupakan bekal dasar bagi pertumbuhan dan

perkembangan anak selanjutnya. Bermacam-macam sifat dasar dari ayah atau

ibu dan nenek moyangnya yang mungkin akan didapatkannya di dalam diri

seseorang, seperti bakat, potensi intelektual dan potensi pertumbuhan

tubuhnya.
12

1) Faktor Peran Jenis Kelamin

Perbedaan secara fisik antara pria dan wanita nampak jelas sejak masa

pubertas, dan perkembangan ini telah matang dalam masa dewasanya,

dimana tanggung jawab sebagaimana peran jenisnya harus dimiliki. Dalam

perkembangan kemandirian pria lebih aktif. Dan pria merupakan kaum

yang diharapkan lebih bertanggung jawab terutama sebelum mereka

memasuki kehidupan perkawinan (Mappiare, 1982).

Menurut Kimmel (1996), menunjukkan bahwa orang menganggap

perempuan mudah dipengaruhi, sangat pasif, tidak suka berpetualang,

kesulitan dalam memutuskan sesuatu, kurang percaya diri, tidak ambisius

dan sangat tergantung.

2) Faktor Kecerdasan atau Inteligensi

Individu yang memiliki inteligensi yang tinggi akan lebih cepat

menangkap sesuatu dan memecahkan persoalan-persoalan yang

membutuhkan kemampuan berfikir. Sehingga anak yang cerdas cenderung

cepat dalam membuat keputusan untuk bertindak, dibarengi dengan

kemampuan menganalisis yang baik terhadap resiko-resiko yang akan di

hadapi. Gilmore (1996) mengemukakan bahwa inteligensi individu

berhubungan dengan tingkat kemandiriannya, artinya semakin tinggi

inteligensi seseorang maka semakin tinggi pula tingkat kemandiriannya.

3) Faktor Perkembangan

Kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi

perkembangan individu, maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak

sedini mungkin sesuai kemampuannya (Mu’tadin, 2002).


13

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan pengaruh yang berasal dari luar individu,

sering pula dinamakan faktor lingkumgan. Lingkungan kehidupan yang

dihadapi individu sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang,

baik dalam segi – segi positif maupun negatif. Biasanya jika lingkungan

keluarga, sisial, dan masyarakatnya baik maka cenderung akan berdampak

positif pula dalam hal kemandirian terutama dalam bidang nilai dan kebiasaan

dalam melaksanakan tugas – tugas kehidupan (Basri, 1995)

1) Faktor Pola Asuh atau Perlakuan Dalam Keluarga

Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan

dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya. Pada saat ini

orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak untuk

setiap perilaku yang telah dilakukannya. Ada tiga teknik pengasuhan yang

diterapkan orang tua pada anaknya, yaitu : teknik pengasuhan autoritarian

(otoriter), permisif membolehkan), dan autoritatif (demokratif). Teknik

pengasuhan autoritatif merupakan teknik pengasuhan yang paling tepat

dan sesuai untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemandirian pada

anak, terutama remaja. Namun demikian anak atau remaja tetap berada

dalam kendali dan kontrol dari orang tua (Baumrid, dalam Marsudi, 1996).

2) Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya merupakan salah satu faktor eksternal yang

mempengaruhi kemandirian, terutama di Indonesia yang terdiri dari


14

berbagai macam suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya yang

beragam.

4. Ciri – Ciri Kemandirian

Menurut Laman, Avery & Frank (Ara, 1998), ciri – ciri individu yang

mandiri adalah individu yang :

a. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan tanpa pengaruh dari

orang lain

b. Dapat berhubungan dengan baik dengan orang lain

c. Memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan apa yang diyakini

d. Memiliki kemampuan untuk mencari dan mendapatkan kebutuhannya

tanpa bantuan orang lain

e. Dapat memilih apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya

tidak dilakukan

f. Kreatif dan berani dalam mencari dan menyampaikan ide-idenya

g. Memiliki kebebasan pribadi untuk mencapai tujuan hidupnya

h. Berusaha untuk mengembangkan dirinya

i. Dapat menerima kritikan untuk mengevaluasi dirinya.

5. Jenis – jenis Kemandirian

Menurut Havighurst (1953), jenis – jenis kemandirian adalah sebagai

berikut :

a. Emosi

Ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak

tergantungnya kebutuhan emosi dari orangtua


15

b. Ekonomi

Ditunjukkan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantung

kebutuhan ekonomi pada orangtua

c. Intelektual

Ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang

dihadapi

d. Sosial

Ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan

orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

C. Remaja

1. Pengertian Remaja

Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan, karena remaja belum

memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak

(Calon dalam Haditono, dkk, 2002).

Aspek perkembangan dalam masa remaja yang secara global berlangsung

antara umur 12 dan 21 tahun dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal

15-18 tahun: masa remaja pertengahan 18-21 tahun: masa remaja akhir (dalam

Haditono, dkk, 2002).

2. Pembagian fase Masa Remaja

Ahli-ahli Soaila membedakan fase remaja menjadi tiga periode, yaitu :

a. Early Adolescence : yang berlangsung antara usia 11-14 tahun.

b. Middle Adolescence : yang berlangsung antara usia 15-18 tahun.


16

c. Late Adolescence : yang berlangsung antara usia 19-22 tahun.(kagan and

Coles, 1972; Keniston,1970;Lipsitz, 1977 dalam Stenberg, Laurence,

1993).

WHO (Word Health Organization) lebih merinci batasan usia remaja awal

10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Hurloc (1978) membagi masa ini

dalam dua periode, berdasarkan pada perbedaan karakteristik yang ditampilkan,

dimana pada masa remaja akhir, umumnya telah terdapat motivasi dalam diri

untuk memenuhi harapan sosial.

a. Early Adolescence : yang berlangsung antara usia 13 - 17 tahun (untuk

wanita) dan 14 - 17 tahun (untuk pria).

b. Late Adolescence : yang berlangsung antara usia 17 - 21 tahun (untuk pria

dan wanita).

Batasan remaja menurut WHO pada tahun 1974 (dalam Sarwono, 1994)

lebih konseptual. Dalam defenisi tersebut dikemukakan tiga criteria yaitu

biologic, psikologik dan social ekonomi. Secara lengkap defenisi tersebut adalah

sebagai berikut :

a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda

seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan.

b. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari

kanak-kanak sampai dewasa.

c. Terjadi peralihan dari ketergantungan social ekonomi yang penuh kepada

keadaan yang lebih mandiri.


17

3. Ciri-ciri Remaja

Masa remaja memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan

periode sebelum dan sesudahnya (Hurlock, 1997). Ciri-ciri tersebut akan

diterangkan secara singkat seperti dibawah ini :

a) Masa remaja sebagai periode yang penting

Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya

perkembangan mental, terutama pada awal masa remaja.

b) Masa remaja sebagai periode peralihan

Dalam periode ini, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan

akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini remaja bukan lagi seorang

anak dan juga bukan orang dewasa.

c) Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Perlahan remaja mulai mendambakan identitas diri dan tidak lagi puas

dengan menjadi sama dengan teman-temannya dalam segala hal. Identitas

diri yang dicari remaj berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa

perannya dan sebagainya.

4. Tugas-tugas Perkembangan Masa Remaja

Tugas-tugas perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat

bermanfaat bagi individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan, yaitu

sebagai berikut :

a. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan

masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu

b. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang

diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya


18

c. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akn mereka hadapi

dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki

tingkat perkembangan berikutnya.

Tugas perkembangan masa remaja menurut Havinghurst (1990) adalah sebagai

berikut :

a. Mampu menerima keadaan fisiknya

Remaja diharapkan dapat menerima keadaan diri sebagaimana adanya

keadaan diri mereka sendiri, bukan khayalan dan impian. Mereka diharapkan

memelihara keadaan fisiknya, wajah, kekuatan atau kelembutan yang

dimilikinya sendiri, serta memanfaatkannya secara efektif.

b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa

Perbedaan fisik antara pria dan wanita nampak jelas sejak masa pubertas

dan perkembangan. Dalam masa remaja ini diharapkan mereka dapat

menerima keadaan diri sebagai dengan sifat dan tanggung jawab perannya

masing-masing serta belajar bertingkah laku sebagaimana orang dewasa.

c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang

berlainan jenis kelamin.

Akibat adanya kematangan seksual yang dicapai pada masa remaja,

diharapkan remaja mampu menerima dan memahami peran jenisnya masing-

masing serta dapat berhubungan baik dengan lawan jenisnya.

d. Memperoleh kebebasan emosional

Dalam masa perkembangan, remaja diharapkan bebas dari ketergantungan

emosional seperti dalam masa kanak-kanak yang selalu bergantung pada

orang tua.
19

e. Mencapai kemandirian ekonomi

Remaja diharapkan dapat belajar sedikit demi sedikit untuk terlepas dari

bantuan ekonomi orang tua dengan mendapat pekerjaan dan mempersiapkan

diri untuk memasuki lapangan pekerjaan untuk masa depan.

f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat

diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.

Remaja diharapkan dapat membina hubungan baik dengan anggota

masyarakat.

g. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk

memasuki usia dewasa.

Sebagai remaja harus memiliki rasa tanggung jawab yang ditanamkan

sejak dini.

h. Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga

Remaja diharapkan mengembangkan sikap yang positif terhadap

kehidupan berkeluarga.
20

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian tentang pengaruh keberadaan pacar terhadap kemandirian

remaja ini menggunakan metode survei yang dilakukan pada mahasiswa

Universitas Negeri Malang. Variabel bebas dalam penelitian adalah keberadaan

pacar dan variabel terikatnya adalah kemandirian. Variabel Interveningnya adalah

rasa cinta terhadap pacar. Variabel kontrolnya adalah keberadaan orang tua dan

teman-temannya.

Keberadaan pacar yang awalnya meliputi punya atau tidaknya subjek

diperoleh dari angket yang disebarkan kepada subjek. Kemandirian remaja

sebagai variabel terikat diperoleh dari skala kemandirian yang diberikan pada

subjek penelitian. Setelah mendapat angket dan skala kemandirian subjek

penelitian juga akan diobservasi dan diwawancarai agar penulis mendapat data

lebih banyak lagi dan bisa memperkaya penjelasan secara kualitatif.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sutrisno Hadi (1993 : 70) populasi adalah seluruh penduduk atau

individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester satu yang berumur 18-21 tahun.

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah populasi mahasiswa remaja semester

satu Fakultas Ilmu Pendidikan berjumlah sekitar 900 orang.


21

2. Metode Pengambilan Sampel

Adapun metode pengambilan sampel yang dipakai pada penelitian ini

adalah menggunakan teknik stratified random sampling. Menurut Sutrisno Hadi

(1996:223) alasan penulis menggunakan random sampling ini adalah memberikan

peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Selain hal tersebut, Sutrisno Hadi (1996:223) mengatakan suatu cara disebut

random apabila peneliti tidak memilih-milih individu yang akan ditugaskan untuk

menjadi sampel penelitian. Teknik random sampling yang dipergunakan adalah

menyebar secara merata pada tiap strata. Strata mahasiswa yang dimaksud di sini

adalah aktivis maupun studi oriented.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket (kombinasi

terbuka dan tertutup), skala kemandirian, pedoman wawancara, dan lembar

observasi. Angket dan skala kemandirian diberikan kepada subjek penelitian.

Selain angket, peneliti perlu menggali data lebih banyak dengan menggunakan

wawancara dan observasi.

D. Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan

menggunakan metode skala, yaitu suatu metode pengambilan data di mana data-

data yang diperlukan dalam penelitian diperoleh melalui pernyataan atau

pertanyaan tertulis yang diajukan responden mengenai suatu hal yang disajikan

dalam bentuk suatu daftar pertanyaan (Koentjaraningrat, 1994).


22

Dalam penelitian ini penulis menggunakan skala kemandirian dan metode

observasi dan wawancara.

1. Skala kemandirian

Skala kemandirian terdiri dari aspek kebebasan, ketegasan diri, kontrol

diri, percaya diri, tanggung jawab, inisiatif , dan mengambil keputusan (Ara,

1998), yang berguna untuk mengukur sejauhmana kemandirian mahasiswa remaja

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Penyusunan alat ukur ini untuk lebih jelasnya dijabarkan dalam bentuk

Blue Print pada tabel berikut ini :

No Faktor Nomor Item jumlah


Favorable Unfavorable
1. Kebebasan 1,8,15,22,29 36,43,50,57,64 10

2. Ketegasan diri 2,9,16,23,30 37,44,51,58,65 10

3 Kontrol diri 3,10,17,24,31 38,45,52,59,66 10

4 Percaya diri 4,11,18,25,32 39,46,53,60,67 10

5 Tanggung jawab 5,12,19,26,33 40,47,54,61,68 10

6 Inisiatif 6,13,20,27,34 41,48,55,62,69 10

7 Mengambil 7,14,21,28,35 42,49,56,63,70 10


keputusan

T O T A L 70
23

Sistem penilaian skala dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a) Item Favorable : sangat setuju (4), , setuju (3), tidak setuju (2),

sangat tidak setuju (1)

b) Item Unfavorable : sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3),

sangat tidak setuju (4).

2. Metode Observasi dan Wawancara

Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan

pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang

ada pada objek penelitian (Pabundu, 1988). Wawancara adalah sebuah dialog

yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari

terwawancara (Arikunto, 1997). Observasi dan wawancara dalam penelitian ini

dilakukan secara tidak terstruktur yang digunakan untuk melengkapi data dari

angket yang belum ada.

Suatu alat ukur dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang baik dan mampu

memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah memenuhi beberapa

kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli psikometri, yaitu kriteria valid dan

reliabel. Oleh karena itu agar kesimpulan tidak keliru dan tidak memberikan

gambaran yang jauh berbeda dari keadaan yang sebenarnya diperlukan uji

validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian.

1. Validitas

Menurut Sutrisno Hadi (1990) Validitas adalah seberapa jauh alat ukur

dapat mengungkap dengan benar apa yang seharusnya diukur. Suatu alat ukur

dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut


24

menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan

maksud dilakukannya pengukuran tersebut.

a). Uji validitas item

Uji validitas item yaitu pengujian terhadap kualitas item-itemnya yang

bertujuan untuk memilih item-item yang telah selaras dan sesuai dengan faktor

yang ingin diselidiki. Cara perhitungan uji coba validitas item yaitu dengan

cara mengorelasikan skor tiap item dengan skor total item.

b). Uji korelasi antar faktor

Uji korelasi antar faktor yaitu pengujian antar faktor dengan konstrak

yang bertujuan untuk membuktikan bahwa setiap faktor dalam instrumen

Skala Kemandirian telah mengungkap konstrak yang didefinisikan. Adapun

cara perhitungan uji validitas faktor adalah dengan mengorelasikan skor tiap

faktor dengan skor total faktor item-item yang valid.

Untuk menghitung analisis item dan korelasi antar faktor digunakan rumus

koefisien korelasi product moment dan perhitungannya dibantu dengan program

SPSS 16 for windows.

Rumus :

rxy
25

∑xy −{∑x}{∑y}
= N

∑x − ∑x

2
( )2
∑ y 2 − ∑ y


( ) 
2

 N  N
 
 

Keterangan :

rxy = koefisien korelasi variabel x dengan variabel y.

xy = jumlah hasil perkalian antara variabel x dengan variabel y.

x = jumlah nilai setiap item.

y = jumlah nilai konstan.

N = jumlah subyek penelitian.

2. Reliabilitas

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya,

maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok

yang sama diperoleh hasil yang relatif sama ( Syaifuddin Azwar, 2000). Dalam

penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan tekhnik Formula

Alpha Cronbach dan dengan menggunakan program SPSS 16 for windows.

Rumus :

k  ∑S 2 j 
α= 1 − 
k −1 
 S 2x 

Keterangan :

α = koefisien reliabilitas alpha

k = jumlah item

Sj = varians responden untuk item I


26

Sx = jumlah varians skor total

E. Analisis Data

Analisis data yang digunakan untuk melihat hubungan antara kecerdasan

emosional dengn prestasi belajar adalah dengan menggunakan uji regresi. Cara

penghitungannya dibantu dengan menggunakan program SPSS 16 for window.


DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press. 2010.

Arikunto, S. 1991. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Darajat Zakiah, 1995. Remaja Harapan dan Tantangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Offset.

Hurlock, E. B. 1980. Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang

kehidupan (Edisi terjemahan). Jakarta : Erlangga.

Mappiare, A. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional.

Monk, F. J., Knoer, A. M. P., & Haditono, S. R. 1999. Psikologi perkembangan. Yogyakarta :

Gajah Mada University Press.

Narbuko, C., & Achmadi, A. 2003. Metode penelitian. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Saifuddin, Azwar. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Balajar Offset.

Saifuddin Azwar. (1998). Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukutan Prestasi

balajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.

Sarwono, S. W. 1984. Perkawinan remaja. Jakarta : Sinar Harapan.

Sarwono, S. W. 1994. Perkawinan remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Soekano, S. 1989. Remaja dan permasalahannya. Jakarta : Rajawali.

Sutrisno Hadi. (2000). Statistik 2. Yogyakarta : Andi Offset.

Syamsu Yusuf, 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Willis, S. S. 1994. Problema remaja dan pemecahannya. Bandung :Angkasa.

Zulkifli, L. 1987. Psikologi perkembangan. Bandung : PT Rosdakarya