Anda di halaman 1dari 10

Dalam Gelap Ku Berharap

(Cerpen penyemangat menghadapai cobaan hidup)

Oleh:

Habilih Al-Khawarizmi
Mahasiswa Pend. Matematika
Universitas Muhammadiyah Tangerang

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 1


Selasa, 26 Agustus 2008

“ Tuhan…berilah aku pekerjaan yang mapan. Yang gajinya besar. Namun tidak

melupakan ibadah pada-Mu…”. Itulah doa yang selalu ku panjatkan kepada Tuhan yang

Maha Mendengar lagi Maha Kaya. Lalu mengapa aku belum dapat kerja?. Padahal sudah ku

sebar lamaran hingga sepuluh tempat, aku juga tak lupa berdo’a. Do’a ku sudah blak-blakan.

Sudah terang-terangan tanpa rasa malu dan sedikit memaksa, bahkan terkesan mengatur

Tuhan agar Dia memberikan pekerjaan yang seperti ini…

yang begini…

terus bisa ini….

dan harus seperti ini…

kalau bisa gajinya harus begini….

dan…dan…Hah…aku jadi malu.

Tak pantas aku yang banyak dosa ini memaksa Tuhan. Aku nggak nyadar kalau usaha ku

belum ada apa-apanya. Mendekati Dia hanya saat susah, butuh sesuatu. Tapi kalau lagi

senang aku lupa sama Tuhan. Seharusnya aku introspeksi dulu, aku yang masih kotor ini

nggak pantas memaksa Tuhan.

“Inget Akbar…Thomas Alfa Edison aja yang cerdas harus gagal 999 kali untuk

mendapatkan campuran unsur penerang lampu pijar, masa kamu yang baru menitipkan

sepuluh lamaran sudah putus asa. Jangan putus asa Akbar…orang yang putus asa itu putus

pula dari rahmat Tuhan”. Desirku dalam hati mencoba menguatkan diri yang mulai rapuh

menjalani waktu.

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 2


Kamis, 28 Agustus 2008

Sudah dua hari berlalu. Dari sepuluh tempat yang ku tunggu, tak satupun yang

memanggil diriku tuk bekerja atau sekedar interview. Aku harus menguatkan lagi sabar ini….

Selama menunggu panggilan kerja, aku tetap mengambil part time di swalayan. Hari

Sabtu, Minggu, hari libur, dan bulan puasa itulah hari kerja buat ku. Hasil part time cukup

membantu biaya sekolah dan jajan saat SMA dulu. Bagian office swalayan sudah tahu kinerja

ku selama ini. Ulet, rajin, disiplin, tanggap, rapih, baguslah pokoknya. Tetapi sekarang

setelah aku lulus SMA, aku tidak ingin bekerja di swalayan ini. Bukan karena lamaran

kerjaku ditolak, bagian officenya justru selalu merayu aku tuk kerja disini. Aku tidak ingin

kerja disini karena kurangnya jaminan untuk masa depan. Lihat saja mbak Novi, sudah empat

tahun ia kerja menjadi kasir dengan gaji yang sama sejak tahun pertama, belum ada kabar

kenaikan jabatan. Gaji disini tidak terlalu besar. Untuk sekedar jajan dan ongkos sekolah dulu

waktu aku SMA memang membantu, tetapi sekarang aku sudah kuliah tanggung jawabku di

keluarga juga tidaklah ringan.

Selasa, 2 September 2008

Aduh… seminggu berlalu masih tidak ada kabar panggilan kerja. Hidupku terasa

gelap. Penat. Hanya karena belum dapat kerja. Aku mulai patah arang. Padahal sudah

memasuki bulan puasa. Kata beberapa orang, sulit mendapat pekerjaan saat bulan puasa.

Maka jadilah aku masih part time di swalayan. Mbak Mala supervisor swalayan meminta aku

mencari tenaga tambahan tuk dipekerjakan bulan puasa ini. Aku mengajak tiga saudaraku

yang masih bersekolah. Al-hamdulillah kemarin mereka bekerja, semua betah. Kata mereka

kerjanya mudah. Efeknya ibu-ibu mereka mendadak baik padaku. Padahal saat aku

memutuskan kuliah walau masih menganggur, mulut ibu-ibu itu tak henti-hentinya mencela.

Ringan sekali lidah mereka mencaci.

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 3


“Memang mampu kuliah?”.

“Kapan kerjanya?. Bikin lamaran terus”

“Dulu sekolah ranking satu, lulus nggak dapet kerja. Eh…sekarang nekat kuliah”

Tapi tak apalah. Ambil positifnya aja. Tuhan memang Maha Berkehendak. Aku yang belum

dapat kerja. Menganggur. Rendah. Seakan-akan ditinggikan derajatku oleh Allah. Dengan

membantu tiga saudaraku ‘menambah uang jajan’. Paling tidak aku masih bermanfaat untuk

orang lain disaat hidupku serasa tak bermanfaat karena belum dapat kerja.

Kamis, 4 September 2008

Hari ini aku mulai mencari kerja lagi. Aku harus mengusir kegelapan hidupku. Ada

lima amplop cokelat berisi berkas lamaran. Kali ini aku tidak sendiri, aku bersama Iqbal

saudaraku yang lulus dua tahun lebih dulu. Aku teringat saat masih SMA kelas 3 dan Iqbal

telah menginjakkan kakinya di dunia kerja.

“Akbar…lihat nih hp baru gua. Bisa internet. Ada TV nya juga”. Iqbal menunjukkan

hp nya padaku. Ada rasa iri saat itu.

“ Niatnya tahun besok gua mau kuliah. Ngambil jurusan management biar naik

jabatannya gampang”. Aku cuma diam, sambil senyum-senyum tidak jelas. Mungkin juga

tidak ikhlas, karena ada rasa iri menggigit hati.

Namun sekarang, kontrak kerjanya selesai. Tepat satu tahun ia bekerja. Padahal

dahulu gajinya besar, lemburnya banyak, ada uang transport, uang makan, berobat gratis, atau

apalah. Gaji part time ku jauh lebih rendah berpuluh-puluh kali lipat darinya. Mungkin

dahulu aku iri saat ia makmur, namun sekarang aku sudah menata hati. Aku turut sedih

dengan keadaannya. Angannya tuk kuliah hilang sudah. Hp canggih yang selalu ia pamerkan

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 4


entah kemana. Bahkan untuk sekedar photo copy berkas-berkas lamaran kerja ini, ia tak ada

dana. Mau tak mau aku yang membiayai dengan tabungan hasil part time. Padahal utang SPP

kuliah semester satu saja belum ku lunasi.

***

Setelah menitipkan lamaran ketiga tempat berbeda. Aku pulang. Mandi. Dan bergegas

shalat Ashar. Aku ingin mengadu pada Tuhan. Aku ingin menyeimbangkan antara usaha dan

do’a. Walau hidupku terasa gelap, aku tak boleh berhenti berharap. Namun baru ku gelar

sajadah, Iqbal datang ke rumah.

“Akbar… masih butuh orang nggak di swalayan tempat kamu part time?. Aku mau

ikut?”. Aku bingung. Haruskah ia ikut part time dengan tiga orang saudaraku yang masih

SMA. Dengan gaji rendah yang jauh berbeda saat ia bekerja di pabrik?. Hanya 25 ribu per

hari dengan jam kerja 8 jam, jelas jauh berbeda dengan pabrik tempat Iqbal bekerja dahulu,

mampu mengantongi 100 ribu per harinya. Aku bimbang, sekaligus terenyuh.

Tuhan…Engkau tunjukkan kekuasaan apa ini?

Apakah Engkau sedang mengajariku tentang arti hidup?

Bahwa kehidupan itu berputar.

Kadang di atas namun tak menipis kemungkinan untuk terkapar di bawah.

Tolong jadikan hamba yang bodoh ini paham akan kekuasaan yang Engkau

tunjukkan. Hingga hamba mampu mengambil hikmahnya.

Senin, 8 September 2008

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 5


Aku masih sibuk mencatat materi kuliah yang tadi pak Ali Mubin uraikan. Filsafat

ilmu. Semua mahasiswa suka caranya mengajar. Pikiran kami seakan terbuka akan makna

hidup.

Aku bertanya pada kemiskinan. Dimanakah kamu berada?.

Kemiskinan menjawab. Aku berada di jubah para pencari ilmu. Di surban para

pencari ilmu. Orang yang gigih mencari ilmu.

Untuk apa?. Tanya ku.

Untuk memperkaya wawasan mereka. Melapangkan dada mereka. Dan merendahkan

hati mereka.

Aku pahami kata-kata yang ku dapat dari pak Ali saat perkuliahan tadi. Aku harus bertahan.

Aku tidak boleh surut langkah. Para pencari ilmu sangat dekat dengan kemiskinan. Karena

ada sesuatu yang berharga dibalik dekatnya pencari ilmu dengan kemiskinan. Sesuatu yang

mungkin sulit kau raih jika kau bergelimang harta.

Aku harus tetap kuliah…harus.

“Akbar…jadi ke Senen?. Anak-anak nitip buku”. Suara Hanum membuyarkan

lamunanku. Dia memberikan daftar buku yang harus aku beli. Ada sepuluh judul buku.

Biasanya aku menolak jika membeli buku saat bulan puasa, aku ingin berbuka puasa di

rumah. Namun kali ini aku terima. Tiap satu buku aku bisa mendapat untung dua pulu lima

ribu. Lumayan untuk meringankan hutang SPP semester satu.

“Pakai motor mio ku. Besok pagi kamu antar ke rumah. Buku yang dibeli terlalu

banyak, takut tidak ada di satu tempat. Makanya kamu naik motor ya…”. Hanum

memberikan uang buku, kunci motor dan STNK. Aku berusaha menolak pinjaman motornya.

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 6


Namun kepandaian Hanum berkata, membuat aku tak bisa beralasan lagi tuk menolaknya.

Lagi pula memang kali ini buku yang dipesan cukup beraneka ragam, sanksi jika aku bisa

menemukannya hanya disatu tempat. Ku baca pesana buku teman-teman ku.

Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, Sadiman

Arief S.

Desain Intruksional, Atwi Suparman.

Human Characteristic and School Learning, Benyamin S Bloom.

Memoriam X, A. R. Leobis

Cooperative Learning Theory, Research, and Practice, Robert E Slavin.

Fatawa Mu’ashirah (Fatwa-fatwa Kontemporer) Juz II & III, Syaikh Prof. Dr.

Yusuf Al-Qaradhawi.

As-Sunnah wal Bid’ah, (Sunah dan Bid’ah), Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhwi

Limadza Yakhafunal Islam? (Kenapa Mereka Takut Kepada Islam?), Prof.

Dr.Abdul Wadud Syalabi.

La Tahzan, DR. 'Aidh al-Qarni

Islam Agama peradaban (Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam

Sejarah), Nurkholis Majid,

***

Aku pulang dengan tubuh yang letih. Tadi saat sibuk mencari buku titipan teman-teman, aku

hanya berbuka dengan air putih dan sepotong roti yang ku beli di pinggir jalan. Aku sampai

di rumah jam 8 malam.

“Assalamu ‘alaikum…”. Pintu belum dibuka. Mungkin penghuni rumah masih di masjid

menunaikan shalat tarawih. Agak lama aku menunggu.

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 7


“ Wa ‘alaikum salam…”. Adik perempuan ku yang masih kelas 2 SD membukakan pintu.

Mencium punggung tanganku. Aku mengelus kepalanya. Semoga menjadi anak yang

sholehah. Aku masuk ke rumah dan meneliti sekitar ruangan.

“De…mana Ibu?”. Tanyaku heran. Karena mendapati adikku sendiri dirumah.

“ Masih di masjid. Aku ingin nunggu abang pulang”. Jawabnya polos.

“Habis sahur abang pergi terus pulang sampai malem, emang kemana aja sih?”. Adikku

melakukan introgasi kecil padaku. Aku anggap itu suatu bentuk perhatian. Dia menggamit tas

punggung hitam ku. Memakai di pundaknya yang kecil, terlihat tak seimbang dengan tas ku

yang besar. Dan berjalan kesana-kemari. Oh betapa senangnya masa kanak-kanak. Lepas.

Dan tak perduli dunia berputar yang membuat kepalamu berputar juga karena banyaknya

masalah. Penat.

“Abang lupa ya?”. Adikku menghentikan langkahnya. Menatapku dengan binar-binar muka

menenangkan.

“Lupa apa? Abang sudah shalat maghrib kok di jalan”

“Bukan itu…nanti dulu dah…”. Dia pergi ke arah dapur. Membiarkan aku sendiri di ruang

tamu. Aku merapikan sepatu, menggantungkan jaket yang mulai lusuh termakan cahaya

mentari. Bungkusan plastik yang berisi sepuluh judul buku pesanan teman kampus dan dua

buku cerita anak muslim untuk adikku terbaring diatas meja. Kuletakkan pula tubuhku di

kursi depan. Menikmati angin malam. Ku biarkan angin malam menerpa tubuhku yang

lunglai. Semoga angin ini mampu membawa rasa letih pergi jauh dari diri. Adikku datang.

Sedikit tergopoh-gopoh membawa sesuatu.

“Kata Ibu… Abang tuh udah capek-capek nyari kerja. Tapi nggak dapet terus. Tapi abang

nggak boleh lupa makan ya... Ini ketupat sayur buat abang. Selamat ulang tahun abang…”.

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 8


Aku terharu melihat tingkah lugunya. Ah…perhatiannya adikku. Semoga ia melupakan

kesalahanku yang sering tersulut emosi minggu-minggu ini. Kupeluk erat. Ku ciumi

rambutnya. Adikku tak lupa hari ulang tahunku. Bahkan aku sendiri lupa akan hari, karena di

pikiranku hanya mencari kerja kerja dan kerja. Tak terasa air mataku menetes. Beratnya

hidup serasa hilang.

Sms masuk. Dari Hanum

Asslmualkm Akbar…sdah d beli


smua bkny?

Oya..kantor papa ku lg btuh


pgawai. Klo Kmu mau. Jngn lp
bwa lmran ny besok. Nanti aku
smpaikn k papa.

Aku nyaris melempar handphone karena senangnya. Ya Tuhan…hamba syukuri

kenikmatan yang kau beri. Segala puji bagimu yang tak pernah memberi cobaan melebihi

batas kemampuan hambanya. Kini tubuhku seperti dihujani cahaya dari seluruh penjuru.

Harapanku pada-Nya tak sia-sia. Tuhan telah menghadiahkan cahaya dalam hidupku yang

dulu gelap.

Tuliskan semua yang kau rencanakan dalam hidupmu dengan pensil.

Namun…

Berikan penghapusnya pada Tuhan.

Biarkan Tuhan yang menghapus bagian-bagian dari rencanamu.

Dan…

menggantikannya dengan rencana Tuhan yang lebih indah.

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 9


Habilih Al-Khawarizmi

Tanah Tinggi, Tangerang

Dalam Gelap Ku Berharap

Dalam Gelap Ku Berharap_Habilih Alkhawarizmi 10