Anda di halaman 1dari 5

Bahan – Bahan :

Berita : Bencana Merapi Menyisakan Kepedihan Psikis dan Sosial

Dipublikasi pada Jumat, 12 November 2010 by tira

Laporan : TIM TRC Perlindungan Anak

Pusat sekretariat Bersama Posko Perlindungan Anak/Pondok Anak Ceria yang dikomandoi oleh TRC
Perlindungan Anak Kementerian Sosial RI bersama dengan UNICEF dibentuk di beberapa tempat. Dengan tujuan
sebagai berikut menjadi Pusat Informasi dan Konsolidasi serta koordinasi Lembaga. Mengidentifikasi dan
mendorong pengrus utamaan isu-isu perlindungan anak dalam penanganan keadaan darurat (bencana), antara lain
mengupdate data yang terkait dengan isu-isu anak-anak pengungsi, mengupdate lembaga-lembaga yang
mengintervensi di pengungsian, mengumpulkan profil lembaga dan relawan serta kegiatan dan jangkauan kerja,
menyiapkan laporan bagi pemerintah yang dibutuhkan oleh BNPB, mengatur dan mengarahkan referal/rujukan,
meningkatkan kapasitas relawan, membuat SOP pelaporan, data, profil lembaga, form pendataan, form tracing, form
reunifikasi, form kebutuhan barang, melakukan orientasi bagi relawan, mendiskusikan kode etik relawan dan
menandatangani, mengkoordinir kampanye sosial perlindungan anak di lokasi pengungsian (brosur, media, dll).

Khusus untuk Daerah Istimewa Yogyakarta Pusat Sekretariat bersama di louincing pada hari Minggu, 8
Nopember 2010 di Dinas Sosial Propinsi DIY, sedangkan di Kabupaten Klaten di Louncing pada Rabu, 10
Nopember 2010 bertempat di Pendopo Bupati dan Boyolali bertempat di kantor KB dan PP. sedangkan di Kota
Magelang bertempat di Pos Aju.Saat ini jumlah pengungsi tersebar di beberapa wilayah, berikut ini data pengungsi :

DATA JUMLAH PENGUNGSI DAN PENYEBARANNYA

Jumlah Jumlah Titik


No Kabupaten Keterangan
Pengungsi Pengungsian
Data pertanggal 10 Nov
109.915
1 Sleman 51 Posko 2010, sumber Posko AJU
Jiwa
BNPB DIY
Data pertanggal 10
November 2010 sumber
112.197
2 Klaten 20 Kecamatan Sekretariat bersama
Jiwa
Perlindungan Anak
Kab.Klaten
Data pertanggal, 10
189.645 November 2010 sumber
3 Magelang 26 Kecamatan
Jiwa Posko Induk Pengungsian
Pendopo Kab. Klaten
Data pertanggal 8 November
11
33.723 2010, Sumber
4 Boyolali Kecamatan,
Jiwa Kesbangpollinmas Kab.
88 Titik
Boyolali
354.615
5 Jumlah
Jiwa
Dari jumlah secara umum di atas belum terdapat data pasti mengenai jumlah anak maupun kelompok
rentan lainnya seperti lanjut usia maupun penyandang cacat (dalam proses validasi), namun demikian bias diestimasi
bahwa jumlah pengungsi anak diperkirakan 30% dari keseluruhan atau sekitar 106.384 jiwa diantaranya adalah
berusia anak.

Situasi di tempat pengungsian yang tidak menentu membuat permasalahan yang ada semakin komplek dan
diperlukan upaya penanganan yang memadai bagi seluruh pengungsi, khususnya pengungsi anak.

Akibat Bencana tersebut jelas menyisakan kepedihan psikis dan sosial bagi masyarakat. Kepedihan psikis,
bahwa bencana tersebut membekaskan rasa pilu dalam jiwa, menyisakan trauma yang menghantui, dan kesedihan
yang mendalam. Kepedihan sosial, bahwa bencana tersebut telah memaksa masyarakat berpisah dengan ayah, ibu,
adik, kakak dan saudara-saudara yang menjadi korban, rumah berteduh, dan barang-barang yang dicintai, serta
kehidupan sosial normal masa lalu yang sudah akrab dijalani.

Kepedihan psikis dan sosial ini akan mengkristal dalam kehidupan keseharian masyarakat. Secara
individu, anggota masyarakat kemungkinan akan sering terbawa oleh kondisi psikis yang merana: suka melamun,
murung, pemarah, atau agresif berlebihan. Kondisi psikis individu seperti itu akan berakibat pada kehidupan sosial
kemasyarakatan secara umum yang berujung pada ketidakstabilan sosial dan rendahnya kinerja ekonomi.

Kondisi psikososial masyarakat paska bencana seperti demikian sangat tidak menguntungkan bagi tumbuh
kembang anak-anak, bahkan menciptakan tingkat kerawanan sosial dan psikis yang sangat tinggi terhadap mereka.
Bagi anak-anak, menghadapi kondisi sosial kemasyarakatan paska bencana ini seperti istilah ‘sudah jatuh tertimpa
tangga pula’. Seperti juga orang dewasa, bencana menyisakan kepedihan psikis dan sosial terhadap anak-anak
seperti diurai di atas. Sementara kondisi psiko-sosial masyarakat paska bencana menciptakan kerentanan tertentu
terhadap anak-anak. Paska bencana, anak-anak sangat rawan terhadap perlakuan salah seperti kekerasan (child
abuse), eksploitasi dan perdagangan anak baik yang dilakukan oleh orang dekat ataupun oleh orang yang tidak
mereka kenal. Seperti dikutip pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat tanggal 7 November 2010, Humas Polda DIY
menyampaikan informasi tentang orang hilang dan terpisah, ada 44 orang usia anak dari 176 orang yang dinyatakan
hilang korban letusan Merapi tanggal 5 November 2010. Kondisi tersebut juga rawan terhadap tindakan pengabaian
pemenuhan hak-hak yang melekat pada diri mereka sebagai anak, seperti perhatian kasih sayang, pemenuhan gizi,
mendapatkan pendidikan, menjadi cacat permanen dan sebagainya.

Sumber : http://yanrehsos.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=1089
Berita: 25 Anak Cacat Korban Letusan Merapi Perlu Mendapat Pelayanan
dan Rehabilitasi

Dipublikasi pada Kamis, 04 November 2010 by tira

"Pemerintah Siapkan Tim Penanganan Anak Dengan Kecacatan Pasca Letusan


Gunung Merapi"

“Perlu disadari penanganan anak dengan kecacatan dalam situasi darurat di lokasi bencana tidak bisa
dilaksanakan secara eksklusif, untuk itu perlu keterlibatan banyak pihak yang mempunyai komitmen dan tanggung
jawab, hal tersebut akan menjadi pemikiran kita bagaimana pemenuhan hak anak dengan kecacatan terus
dilaksanakan pada masa tanggap darurat dan pasca darurat (rehabilitasi dan resosialisasi) yang menyangkut
pemenuhan kebutuhan dasar anak, pendidikan anak, kesehatan anak dan kesejahteraan anak”, ungkap Direktur
Kesejahteraan Sosial Anak Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Harry Hikmat, usai
membuka Musyawarah Nasional Forum Komunikasi Keluarga Dengan Anak Cacat (FKKDAC) di Grand Pasundan,
Bandung, Kamis (4/11/2010).

“Anak yang mengalami kecacatan pasca bencana”, menurut Harry, “beban traumanya terutama psikologis
lebih tinggi dibandingkan mereka yang cacat sejak lahir. Sebab mau tak mau, mereka harus menerima kenyataan
kondisi tubuhnya tidak seperti semula. Kondisi inilah yang membutuhkan terapi dan pelayanan bagi anak yang
mengalami kecacatan, kalau tidak segera diatasi keadaan tersebut maka akan berakibat pada tingkat taruma
berkepanjangan”.

“Data yang kami peroleh dari Tim Reaksi Cepat saat ini ada sekitar 25 anak cacat, tiga di antaranya sudah
cacat sejak lahir jauh sebelum gunung merapi meletus, mereka membutuhkan perhatian dan perlindungan khusus,
baik oleh keluarga, masyarakat maupun pemerintah”, lanjutnya.

Dalam setiap bencana memang seringkali menimbulkan risiko menumbuhkan anak dengan kecacatan atau
bahkan menjadi penyandang cacat karena itu kami mendirikan posko untuk membantu pemulihan anak-anak
tersebut secara fisik maupun mental," ujarnya.

Harry menambahkan “Untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka, kata Harry, dibutuhkan waktu yang
cukup lama. Ia mencontohkan, seperti anak yang kena alami patah tulang di Aceh, harus didampingi selama 3 bulan.
"Pendamping harus terus memberikan semangat agar kepercayaan diri si anak kembali lagi".

“Jenis kecacatan yang dialami oleh anak ada dua faktor pertama kelahiran karena kurang gizi selama
kehamilan, sudah tua masih punya anak, proses kelahiran (postnatal), dan kasus anak cacat keturunan serta
perkawinan sedarah faktor kedua adalah akibat bencana, anak memiliki risiko tinggi untuk mengalami cacat, saat
lingkungan tempat tinggalnya mengalami bencana alam, seperti tertimpa bangunan”, tuturnya.

"Oleh karena itu untuk mengurangi beban psikologis anak penyandang cacat akibat bencana alam ataupun
cacat sejak lahir, pihaknya membentuk Forum Komunikasi Keluarga Dengan Anak Cacat (FKKDAC)", lanjutnya.

"FKKDAC ini dirancang sebagai wadah berkomunikasi para orang tua atau keluarga yang memiliki anak
dengan kecacatan serta sebagai salah satu perwujudan dari pelayanan berbasis masyarakat," katanya. Hingga tahun
ini, sudah ada 67 FKKDAC yang terbentuk di 25 provinsi yang ada di Indonesia.
Dalam konteks ini, keluarga merupakan tatanan utama yang paling berhak dan wajib melindungi anak dan
memenuhi kebutuhan dasar dan hak anak. Persoalannya adalah tidak semua orangtua mempunyai kemampuan yang
memadai untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar dan terwujudnya hak-hak anak cacat. Banyak
orangtua/keluarga secara ekonomi dan psikologis kurang mampu memenuhi kebutuhan anak cacat, sehingga terjadi
keterlantaran. Apabila orang tua karena satu dan lain hal tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung
jawabnya terhadap anaknya, maka kewajiban dan tanggungjawab berikutnya diserahkan kepada keluarga/wali atau
masyarakat di sekitarnya, termasuk pemerintah yang memiliki kewajiban dan tanggungjawab terhadap upaya
perlindungan anak.

Kementerian Sosial RI memberikan apresiasi yang tinggi dengan terbentuknya Forum Komunikasi
Keluarga dengan Anak Cacat (FKKDAC), hingga 2009 telah terbentuk 61 forum komunikasi keluarga dengan anak
cacat di 23 provinsi. Kementerian Sosial bersama dinas sosial provinsi, kabupaten/kota juga menyediakan petugas
pendamping (pekerja sosial) yang memiliki keahlian khusus. Lima kota/provinsi besar ditetapkan sebagai lokasi uji
coba program PKSA, yakni DKI Jakarta, Kabupaten Bandung, DI Yogyakarta, Lampung, dan Sulawesi Selatan.
Kegiatan yang dilakukan petugas pendamping dan FKKDAC dalam pengembangan model ini, antara lain,
pendataan, penjajagaan, monitoring serta aktivitas lain yang mendukung dan bermanfaat bagi para orangtua anak
penyandang cacat, sesuai Pasal 59 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjelaskan
bahwa anak yang menyandang cacat merupakan kelompok anak yang membutuhkan perhatian dan perlindungan
khusus. “Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan perhatian khusus, baik oleh keluarga, masyarakat maupun
pemerintah.***(Tira/C-9)

Sumber : http://yanrehsos.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=1068

Opini: Perlindungan Bagi Anak Korban Bencana Gunung Merapi

Dipublikasi pada Rabu, 03 November 2010 by tira

Perlindungan Anak Dalam Situasi Darurat

di Lokasi Bencana Meletusnya Gunung Merapi

Melalui Pondok Ceria

Oleh : DR. Ir. Harry Hikmat, M.Si*)

Rangkaian Bencana yang terjadi di Indonesia menyisakan kepedihan dan duka mendalam bagi para korban
yang saat ini harus kehilangan harta benda, pekerjaan bahkan anggota keluarga. Menyusul meletusnya Gunung
Merapi setelah beberapa waktu lalu terjadi banjir bandang dan longsor di Wasior dan bersaamaan dengan terjadinya
tsunami di Mentawai, memerlukan respon dan penanganan secara serius oleh semua pihak dalam penanganan
kebencanaan.

Bencana tidak saja berdampak dan mengakibatkan permasalahan baru yang dialami oleh orang dewasa,
terlebih dari itu menyisakan keperihan dan luka yang mungkin saja akan terbawa oleh anak dalam waktu yang cukup
lama bahkan sampai ia dewasa sebagai akibat adanya hambatan dan gangguan tahap perkembangan anak karena
pengalaman yang menyakitkan.

Kementerian Sosial melalui Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak berkewajiban melakukan perlindungan
anak terlebih kepada anak yang membutuhkan perlindungan khusus dalam situasi darurat di lokasi bencana. Terkait
dengan penanganan korban anak yang menjadi pengungsi di sekitar lereng merapi yang sampai dengan tanggal 1
November 2010 terdata sekitar 4.031 anak yang menjadi pengungsi di wilayah DIY dan Jateng (Magelang dan
Klaten).

Menyikapi tingginya jumlah pengungsi anak disekitar lereng merapi, Kementerian Sosial RI menugaskan
Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak untuk segera mengkoordinasikan dan mengambil langkah-langkah taktis
dalam menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban, antara lain sebagai berikut :

1. Melakukan Koordinasi dengan Dinas Sosial Propinsi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)
dalam rangka menyusun kebijakan-kebijakan teknis baik nasional dan lokal terhadap program perlindungan
anak korban meletusnya Gunung Merapi.

2. Mengkoordinasi dengan Badan Dunia yang bertangungjawab terhadap anak (Unicef) guna pemenuhan
standar-standar pemenuhan hak anak.

3. Membentuk Tim yang akan terjun sebagai relawan kemanusiaan / perlindungan anak, dan terekrut sejumlah
95 orang relawan kemanusiaan perlindungan anak untuk DIY dan Jateng yang akan disebar 7 titik
pegungsian (Glagaharjo, Kepuharjo, Umbulharjo, Hargobinangun, Purwobinangun, Girikerto, Wonokerto)
di wilayah DIY dan 5 titik pengungsian di wilayah Jawa Tengah (Magelang : Sawangan, Dukun,
Srembung, dan Tanjung, serta Klaten : Keputren, Dawuan dan Dempol).

4. Unsur relawan yang terlibat berasal dari : Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak Unit Pelaksana Teknis
Kementerian Sosial RI (Antasena Magelang, Kartini Temanggung, PSAA Pati), Satuan Bhakti Pekerja
Sosial, Lembaga Perlindungan Anak, Forum Anak, ECCDRC, Forum TPA / KB, FKKDAC, Forum
Debatting Jogja, Ikatan Psikologis Klinis, Mahasiswa Psikologi Universitas Ahmad Dachlan, Mahasiswa
Komunikasi UGM, Forum Jurnalis Pelajar Wonosobo, Tenaga Kesejahteaan Sosial Kecamatan / Pekerja
Sosial Kecamatan).

5. Melaksanakan Capacity Building bagi relawan pekerja sosial tentang peningkatan pemahaman
perlindungan anak di lokasi bencana dan peningkatan kapasitas dalam hal psikososial dan trauma healing
yang disampaikan oleh nara sumber dari Direktorat Kesejahteraan Anak, Dinas Sosial Propinsi DIY dan
Jateng, Unicef, Direktorat Bantuan Sosial Korban Bencana Alam, Praktisi dan Santri Tanggap Bencana
Lamongan.

6. Mendistribusikan material pendukung dalam pelaksanaan Pondok Anak Ceria berupa Recreational Kit
sebanyak 45 Paket, dan Psikososial Kit sebanyak 8 Paket serta bantuan opreasional bagi Pondok Anak
Ceria.

Namun perlu disadari bahwa penanganan anak dan perlindungan anak dalam situasi darurat di lokasi
bencana tidak bisa dilaksanakan secara eksklusif, untuk itu perlunya keterlibatan banyak pihak yang mempunyai
komitmen dan tanggung jawab diharapkan bisa terkoordinasi dan dilaksanakan secara sinergis. Hal ini akan menjadi
pemikiran kita bagaimana pemenuhan hak akan terus dilaksanakan pada masa tanggap darurat dan pasca darurat
(rehabilitasi dan resosialisasi) yang menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar anak, pendidikan anak, kesehatan anak
dan kesejahteraan anak.

Semoga upaya sistematis dan terstruktur dalam program perlindungan anak yang telah dilaksanakan di
Propinsi DIY dan Jawa Tengah akan berkesinambungan dengan program yang ada di daerah dan mampu untuk
diteladani di wilayah-wilayah lain.

Sumber : http://yanrehsos.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=1064