P. 1
Sisa reruntuhan Keraton Surosowan hingga kini masih bisa dinikmati

Sisa reruntuhan Keraton Surosowan hingga kini masih bisa dinikmati

|Views: 61|Likes:
Dipublikasikan oleh Omy Schecter

More info:

Published by: Omy Schecter on Apr 14, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2011

pdf

text

original

Sisa reruntuhan Keraton Surosowan hingga kini masih bisa dinikmati, seperti terlihat pada Kamis (8/5).

Keraton seluas lebih kurang 3,5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun dari tumpukan batu karang dan batu bata merah pada 1552.

Ribuan manusia di Kompleks Masjid Agung Banten Lama menjadi pemandangan yang biasa terlihat pada setiap hari-hari besar agama Islam. Kompleks peninggalan Kesultanan Islam Banten memang lebih dikenal sebagai tempat berziarah. Padahal, Banten Lama menyimpan banyak cerita sejarah, tak sekadar tempat wisata ziarah. Memasuki pintu gerbang situs Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, sepintas terasa terbawa ke cerita masa lalu. Masa di mana Kesultanan Banten mengalami kejayaan pada abad XVI-XVIII Masehi. Sisa bangunan tua mulai terlihat menyembul di antara rumpun padi di sebelah kiri jalan masuk. Bangunan itu merupakan sisa gapura Gedong Ijo, tempat tinggal para perwira kerajaan. Melaju beberapa meter dari gerbang, puing-puing reruntuhan bangunan besar mulai terlihat. Itulah Keraton Surosowan, kediaman para sultan Banten, dari Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552 hingga Sultan Haji yang memerintah pada 1672-1687. Semula, bangunan keraton yang seluas hampir 4 hektar itu bernama Kedaton Pakuwan. Terbuat dari tumpukan batu bata merah dan batu karang, dengan ubin berbentuk belah ketupat berwarna merah. Sisa bangunan yang kini masih bisa dinikmati adalah benteng setinggi 0,5-2 meter yang mengelilingi keraton dan sisa fondasi ruangan. Sisa pintu masuk utama di sisi utara kini tinggal tumpukan batu bata merah dan bongkahan batu karang yang menghitam. Bangunan kolam persegi empat di tengah keraton merupakan pemandangan lain yang ada di dalam benteng. Menurut catatan sejarah, puing itu merupakan bekas kolam Rara Denok, pemandian para putri.

antara Keraton Surosowan dan Tasik Ardi.Kabupaten Serang. Air yang dialirkan ke kolam Rara Denok dan Pancuran Mas berasal dari mata air Tasik Ardi. Bangunan bersejarah lain yang bisa dinikmati adalah Jembatan Rante. Dahulu. Reruntuhan bangunan keraton juga terlihat di bagian selatan Keraton Surosowan. kolam itu digunakan sebagai pemandian pria-pria kerajaan.5 kilometer di sebelah selatan atau tepatnya barat daya keraton. yang terletak di depan Keraton Surosowan. yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. dengan luas sekitar 2 hektar. Saat ini lokasi Tasik Ardi masuk dalam wilayah Desa Margasana. yang digunakan sebagai tempat sultan beribadah. Bangunan penyaringan itu disebut Pangindelan Abang.Di bagian belakang atau di sisi selatan. . Di sudut sebelah barat terlihat sebuah bangunan menyerupai cincin. sebuah danau buatan yang berjarak sekitar 2. Dahulu Jembatan Rante digunakan sebagai tempat pemeriksaan kapal-kapal yang keluar-masuk keraton. ibu Sultan Muhammad Rafiuddin yang menjabat sebagai pemimpin pemerintahan karena putranya masih berusia lima tahun. Disalurkan ke keraton dengan menggunakan pipa yang terbuat dari tanah liat. tiga bangunan pangindelan masih bisa dilihat di Jalan Purbakala. yang disebut Pancuran Mas. dan Pangindelan Mas. Sementara itu. Ketika itu. Bangunan keraton ini pertama kali dihancurkan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680. sekarang jalan ini hanya bisa dilintasi sepeda karena warga masih menggunakan tempat itu sebagai jalan air di tengah persawahan. Sayangnya. Jembatan ini akan terangkat jika ada kapal yang lewat dan akan kembali rata setelah kapal berlalu. Keraton dibumihanguskan saat Kesultanan Banten berperang melawan penjajah Belanda. Keraton ini dibangun pada 1815 sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah. Simbol kebesaran kerajaan Islam Banten itu kembali dihancurkan pada 1813. tepatnya di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama. Sebelum masuk keraton. Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Daendels memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan keraton karena Sultan Rafiudin (sultan terakhir Kerajaan Banten) tak mau tunduk pada perintah Belanda. Tempat itu disebut ruang Pasepen. Kecamatan Kramatwatu. Pada bagian depan terpancang papan bertuliskan ´Situs Keraton Kaibon´. Pangindelan Putih. terlihat pula sisa bangunan berbentuk kolam menempel pada benteng. Jembatan hidraulis itu berdiri di atas kanal yang saat ini sudah menyempit dan berubah fungsi menjadi kubangan air. air dari Tasik Ardi harus melalui tiga kali proses penyaringan.

Terlepas dari itu. Masjid inilah yang paling terkenal di Situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah. . Jerman. terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.000 meter persegi. dan Thailand. Bandar Banten dikunjungi para pedagang dari Gujarat (India). Persia. Dewi Kwan Im dipercaya sebagai dewi yang penuh welas asih. yang dibangun pada 1652. terutama. Desa Banten. Melayu. Koleksi mata uang dan pecahan keramik dari sejumlah negara juga disimpan di museum tersebut. Setiap tahun wihara di Kampung Kasunyatan. pengunjung sudah dapat mengantongi tiket untuk menjelajahi museum seluas 1. Museum Kepurbaka laan Banten Lama bisa menjadi tujuan kunjungan. Disebelah barat daya Surosowan berdiri Wihara Avalokitesvara. Itu menunjukkan majunya pemikiran para sultan karena mengerti pentingnya diplomasi.Salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Banten Lama. Demikian pula gambar Kiayi Ngabehi Wirapraja dan Kiayi Abi Yahya Sandara. di dalam wihara juga terdapat 15 altar. Saat ini. ini selalu dipadati puluhan ribu pemeluk Buddha dari banyak daerah di Indonesia. Wihara Avalokitesvara Bukan hanya bangunan masjid. Gambar peta dunia yang dibuat dengan tulisan tangan juga terpampang di sana. seperti altar Thian Kong yang berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Sam Kai Kong atau penguasa tiga alam. Untuk melihat dengan jelas sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten. Warga yang berbeda agama bisa hidup berdampingan dengan harmonis di kota tua tersebut. dua Duta Besar Kesultanan Banten untuk Inggris. saat Dewi Kwan Im mendapatkan kesempurnaan. Itu merupakan bukti bahwa Kerajaan Banten memiliki bandar besar. Belanda. Tidak perlu biaya mahal untuk menikmati sisa keindahan dan cerita kejayaan Kesultanan Islam Banten. pada peringatan Lak Gwe Cap Kau. tempat persinggahan dan transaksi perdagangan internasional. Kesultanan Islam Banten juga menyisakan bangunan wihara Buddha atau klenteng China. Mereka datang. yang menikahi seorang putri China saat sang putri bertandang ke Pelabuhan Banten. Wihara dibangun sebagai tempat peribadatan para pengikut putri China. yang kerap dibanjiri peziarah karena terdapat altar Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im. berikut menara setinggi 23 meter. China. Selain itu. Cukup membayar Rp 1. Bangunan wihara ini merupakan peninggalan Sultan Syarief Hidayatullah. yang diyakini sering menolong manusia saat dihadapkan pada berbagai kesulitan. yang kemudian tinggal di Banten Lama. dan Eropa. berdirinya wihara di kompleks kerajaan Islam bisa menunjukkan tingginya toleransi antarumat beragamapada masa itu. Wihara Alokitesvara merupakan salah satu wihara tertua di Indonesia.000.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->