Anda di halaman 1dari 21

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM :
PENERAPAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH KOTA DENGAN
PEMBERDAYAAN FUNGSI TPS SEBAGAI SOLUSI PENGURANGAN
TIMBUNAN SAMPAH DI TPA KOTA SURAKARTA

BIDANG KEGIATAN
PKM GAGASAN TERTULIS (GT)
Diusulkan oleh :

1. Sessario Bayu Mangkara (M 0407065) / 2007


2. Hafidz Cahyo U. (M 0507023) / 2007
3. Burhansyah (M 0409011) / 2009

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


SURAKARTA
2010
HALAMAN PENGESAHAN
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1. Judul : Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah


Kota Dengan Pemberdayaan Fungsi TPS
Sebagai Solusi Pengurangan Timbunan
Sampah di TPA Kota Surakarta
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI () PKM-GT
3. Ketua Pelaksana :
a. Nama Lengkap : Sessario Bayu M.
b. NIM : M0407065
c. Fakultas/Jurusan : FMIPA/Biologi
d. Universitas : Universitas Sebelas Maret Surakarta
e. Alamat Rumah : Perum Solo Elok Jl. Puntadewa III Blok
C/29, Jebres, Surakarta
f. No telp./HP : 0271-857490/085691352689
g. Alamat Email : ryobio@yahoo.com
4. Anggota Pelaksana Kegiatan : 2 orang
5. Dosen Pendamping :
a. Nama Lengkap : Dr. Edwi Mahajoeno, M.Si
b. NIP : 196010 25 1997021 001
c. Alamat Rumah : Jl Veteran Demakan Kalipelang 02/VII
Sukoharjo
d. No Telp./HP : 0271-611988/091380074372

Surakarta, 22 Maret 2010


Menyetujui,
Pembantu Dekan III FMIPA UNS Ketua Pelaksana Kegiatan

Dr. Sunarto, M.S Sessario Bayu M.


NIP. 195409 05 1991031 002 NIM M0407065

Pembantu Rektor III Dosen Pendamping


Universitas Sebelas Maret

Drs. Dwi Tiyanto, SU. Dr. Edwi Mahajoeno, M.Si


NIP. 195404 14 1980031 007 NIP. 196010 25 1997021 001
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas


limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya
tulis dengan judul “Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah Kota Dengan
Pemberdayaan Fungsi TPS Sebagai Solusi Pengurangan Timbunan Sampah di
TPA Kota Surakarta” ini tanpa halangan yang berarti. Karya tulis ini disusun guna
mengikuti program kreativitas mahasiswa dengan spesifikasi di gagasan tertulis.
Penyusunan karya tulis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk
itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Selaku dosen pembimbing yang telah memberikan masukan dan dukungan
sampai terselesainya karya tulis ilmiah ini.
2. Ayah dan Ibu serta keluarga besar penulis yang selalu memberikan
semangat dan motivasi.
3. Teman-teman Biologi dan Ilmu Komputer yang selalu memotivasi dalam
pembuatan karya tulis ini.
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya sebagai
pembelajaran dan para pembaca pada umumnya untuk aplikasi dalam kehidupan
masyarakat.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan karya tulis
ini, untuk itu saran dan kritik yang membangun kami harapkan untuk perbaikan di
masa mendatang.
Surakarta, 22 Maret 2010

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. ii
KATA PENGANTAR ............................................................................ iii
DAFTAR ISI ........................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR .............................................................................. v
DAFTAR TABEL ................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... vii
RINGKASAN ......................................................................................... viii
PENDAHULUAN................................................................................. 1
Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
Tujuan ............................................................................................. 4
Manfaat ........................................................................................... 4
GAGASAN............................................................................................ 5
Kondisi Pengelolaan dan Pengolahan Sampah di Kota Surakarta
dan Solusi yang Pernah Ditawarkan.............................................. 5
Gagasan yang Diajukan.................................................................. 7
Pihak-Pihak yang Dapat Membantu............................................... 10
Langkah-Langkah Strategis ............................................................ 11
KESIMPULAN...................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 13
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Monroe County Solid Waste Management District . ..... 4
Gambar 2. Skema sistem pengelolaan sampah kota ............................. 8
Gambar 3. Denah TPS............................................................................. 8
Gambar 4. Alur sistem pengelolaan sampah kota.................................. 10
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Peningkatan Jumlah Penduduk Surakarta ................................. .1
Tabel 2. Peningkatan Jumlah Sampah Surakarta..................................... 2
DAFTAR LAMPIRAN

1. Curiculum vitae anggota pelaksana


2. Curiculum vitae dosen pembimbing
3. Hasil polling
4. Contoh polling
5. Foto kondisi TPA Putri Cempo
Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah Kota Dengan Pemberdayaan TPS
Sebagai Solusi Pengurangan Timbunan Sampah di TPA Surakarta

Ringkasan

Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang cukup
berkembang. Perkembangan Kota Surakarta terlihat dari meningkatnya jumlah
penduduk Kota Surakarta tiap tahunnya. Peningkatan jumlah penduduk ini akan
memicu meningkatknya kegiatan jasa, industri, bisnis dan sebagainya di wilayah
Surakarta, yang akan memicu meningkatnya produksi limbah buangan atau
sampah. Kota Surakarta masih menggunakan sistem tradisional dengan konsep
kumpul, angkut dan buang untuk menangani masalah sampah ini. Sistem
pengelolaan sampah secara tradisional ini sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa
kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Batam, dan Lhoksumawe. Kota-kota besar
tersebut sudah memulai sistem pengelolaan sampah dengan metode yang lebih
modern. Sistem pengelolaan sampah modern yang dimaksud adalah konsep 3R
(reduce, reuse, recycle).
Tujuan dari penulisan ini yaitu menerapkan sistem pengelolaan sampah kota
secara efektif dan efisien, meningkatkan fungsi TPS dalam mengurangi sampah
domestik di TPA Kota Surakarta, mengubah pola pikir masyarakat dari
membuang sampah menjadi mengelola sampah dan meningkatkan kreatifitas
masyarakat dalam proses produksi daur ulang sampah. Penulisan karya tulis ini
diperoleh dari laporan hasil penelitian, jurnal ilmiah, buku teks, media publik,
observasi dan berbagai referensi pustaka pendukung yang memiliki kesesuaian
dengan objek penulisan.
Dalam karya tulis ini memiliki gagasan mengenai suatu penerapan sistem
pengelolaan sampah kota dengan pemberdayaan TPS sebagai solusi pengurangan
timbunan sampah di TPA Kota Surakarta. Pemberdayaan TPS ini dilakukan
dengan mengubah TPS menjadi fasilitas pengelolaan dan pengolahan sampah.
Fasilitas pengelolaan sampah di TPS ini diterapkan dengan pembuatan beberapa
bak pemilahan sampah. Fasilitas pengolahan sampah yang akan diterapkan di TPS
ini berupa alat-alat pembuatan kompos (komposter) dan digester biogas. Dari
penerapan sistem yang diajukan dapat diartikan sebagai solusi untuk mengurangi
penumpukan timbunan sampah di TPA Kota Surakarta dan akan menciptakan
konsep Zero Waste. Konsep Zero Waste ini meliputi proses pengurangan volume
timbulan sampah dan penanganan sampah sedekat mungkin dari sumbernya
dengan pendekatan melalui aspek hukum (peraturan), aspek organisasi
(kelembagaan), aspek teknis operasional, aspek pembiayaan (retribusi), serta
aspek peran aktif masyarakat
Hasil yang diperoleh dari sistem ini yaitu adanya perbaikan sistem
pengelolaan sampah kota, terciptanya suatu kerjasama antara pemerintah,
masyarakat dan industri daur ulang sampah dalam mengelola sampah, masyarakat
memperoleh wawasan lingkungan terhadap mitigasi pemanasan global,
terciptanya lingkungan Kota Surakarta yang bersih dengan berkurangnya efek dari
timbulan sampah, terciptanya peluang kerja kepada masyarakat dalam proses
pengelolaan dan pengolahan sampah, dan meningkatnya status sosial masyarakat.
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kota akan selalu berhubungan erat dengan perkembangan lahan baik dalam
kota itu sendiri maupun pada daerah yang berbatasan atau daerah sekitarnya.
Selain itu lahan juga berhubungan erat dengan manusia dan lingkungan
(Setyawati, D., 2008). Penjelasan tentang teori kependudukan menyatakan bahwa
populasi seharusnya dalam titik keseimbangan dimana lingkungan dapat
mendukung dan batas diantara titik keseimbangan tersebut merupakan daya
dukung dari lingkungan (Kormondy, EJ., 1969). Oleh karena itu perkembangan
dan pertumbuhan kota yang baik merupakan kota yang dapat menyeimbangkan
antara kondisi lingkungan dengan kepadatan penduduk yang akan ditampung
dalam kota tersebut.
Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang cukup
berkembang. Laju perkembangan kawasan perkotaan Surakarta telah melampaui
batas administrasi Kota Surakarta. Terlihat dari peningkatan jumlah penduduk
Kota Surakarta yang bermukim tiap tahunnya yaitu pada tahun 2000 berjumlah
490.214 jiwa dan meningkat pada tahun 2007 menjadi 515.372 jiwa. Peningkatan
jumlah penduduk akan memicu meningkatknya kegiatan jasa, industri, bisnis dan
sebagainya di wilayah Surakarta sehingga akan memicu meningkatnya produksi
limbah buangan atau sampah. Sampah merupakan suatu masalah yang sangat
mendasar dalam kota besar khususnya di Kota Surakarta. Secara faktual,
peningkatan jumlah sampah di Kota Surakarta mengalami kenaikan yang cukup
signifikan, dimana pada tahun 2003 dengan jumlah sampah sebesar 72.396.457
ton dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 81.880.284 ton. Jumlah peningkatan
penduduk dan peningkatan jumlah sampah di Kota Surakarta dapat disajikan pada
Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Peningkatan Jumlah Penduduk Surakarta

Jenis Kelamin Jumlah Rasio Jenis Kelamin


Tahun Sex Total Sex Ratio
Year
Laki-laki Perempuan
Male Female
(1) (2) (3) (4) (5)

1990 242.071 261.756 503.827 92,48

1995 249.084 267.510 516.594 93,11

2000 238.158 252.056 490.214 94,49

2003 242.591 254.643 497.234 95,27


2004 249.278 261.433 510.711 95,35

2005 250.868 283.672 534.540 88,44

2006 254.259 258.639 512.898 98,31

2007 246.132 269.240 515.372 91,42

Sumber : BPS Kota Surakarta (diolah dari hasil Susenas 2007)

Tabel 2. Peningkatan Jumlah Sampah

Sistem pengelolaan sampah di Kota Surakarta dapat dikatakan masih


tergolong menggunakan konsep tradisional yang menganut konsep kumpul,
angkut dan buang. Sistem ini masih terus digunakan karena masyarakat belum
mengetahui cara pengelolaan sampah dengan baik. Dimulai dari cara mengurangi
timbunan sampah domestik (reduce), menggunakan kembali sampah domestik
yang masih layak digunakan (reuse) dan mendaur ulang sampah domestik
(recycle) sehingga sampah tersebut dapat bernilai ekonomi.
Sampah domestik adalah sampah yang berasal dari limbah rumah tangga,
contohnya yaitu sisa makanan, bungkus sabun, botol, kertas, dan lain-lain. Hampir
sebagian besar sampah domestik dapat dimanfaatkan kembali melalui beberapa
proses pengolahan, seperti pembuatan kompos, pembuatan biogas, daur ulang
kertas dan daur ulang plastik. Maka dari itu sebaiknya masyarakat dapat memilah
sampah domestik. Namun kebiasaan masyarakat Kota Surakarta dalam mengelola
sampah domestik masih tergolong rendah. Hal ini sangat berkaitan dengan sistem
pengelolaan sampah yang diterapkan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota
Surakarta, dimana belum adanya sosialisasi tentang pemilahan sampah menjadi
berbagai jenis. Seperti pemisahan sampah organik dan anorganik (kertas, plastik
dan logam). Selain itu, tempat sampah yang sudah ada di tempat umum juga tidak
berfungsi secara efektif. Terlihat di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang
tersebar di beberapa kelurahan Kota Surakarta hanya sebagai tempat pembuangan
akhir bagi masyarakat. Di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) juga masih menjadi
masalah, ini dibuktikan dari tahun ke tahun tidak ada perubahan metode
pengolahan sampah yang baik. Jadi, pengelolaan dan pengolahan sampah
domestik di Kota Surakarta masih dikatakan kurang efektif dan efisien.
Konsep pengelolaan dan pengolahan sampah secara tradisional sudah mulai
ditinggalkan oleh beberapa kota besar di Indonesia. Sebagai contohnya yaitu
penduduk Ubud, Bali, yang telah memulai mengolah limbah menjadi biogas
sebagai energi untuk memasak dan penerangan rumah (Salim, E., 2005). Lalu
Masyarakat Dusun Badegan, Bantul, DI Yogyakarta yang telah mendirikan Bank
Sampah “Gemah Ripah” sebagai tempat untuk mengubah sampah domestik
mereka menjadi uang (Kompas, 2008). Bank Sampah tersebut juga bermanfaat
untuk mengurangi volume sampah domestik yang akan dibuang ke TPS. Dari
contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di tingkat bawah (rumah
tangga) dari beberapa kota di Indonesia sudah mulai terlibat langsung dalam
melaksanakan konsep pengelolaan sampah secara modern, yaitu dengan konsep
3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Namun, di Kota Surakarta peran serta
masyarakat secara langsung dalam pengelolaan sampah dengan konsep 3R dinilai
masih rendah. Hal ini dikarenakan Pemerintah Kota Surakarta tidak melakukan
kerjasama secara intensif dengan universitas, LSM, dan industri pengolahan daur
ulang sampah dalam mensosialisasikan konsep 3R kepada masyarakat Kota
Surakarta.
Begitupula jika dibandingkan dengan negara maju yaitu Jepang. Negara
Jepang melakukan daur ulang yang dilakukan secara besar-besaran, dengan
melibatkan seluruh masyarakat, lengkap dengan undang-undang. Para konsumen
bertanggung jawab untuk memilah sampah masing-masing (sampah basah,
sampah kering yang dipilah-pilah lagi menjadi botol gelas dan plastik, kaleng
aluminium, dan kertas), sedangkan pemerintah daerah bertanggung jawab
mengorganisir sampah-sampah itu untuk diserahkan ke pabrik pendaur ulang
(Anonim, 2010). Di Amerika mempunyai sistem pengelolaan dan pengolahan
sampah yang berbeda di tiap daerah, salah satu contoh daerah yang mempunyai
sistem pengelolaan dan pengolahan sampah modern yaitu di Monroe County, di
daerah ini dikenal dengan nama “Monroe County Solid Waste Management
District”. Tempat ini dikelola langsung oleh pemerintah setempat dengan misi
seperti menjadi tempat pembuangan akhir yang menggunakan metode pengolahan
sampah landfill dan insinerator, memberikan pendidikan lingkungan kepada
masyarakat, melakukan daur ulang sampah, membuat suatu bisnis persampahan,
dan perkumpulan masyarakat untuk membahas perkembangan dari pengolahan
sampah tersebut (Monroe County Solid Waste Management District, 2006).
Konsep bisnis persampahan di negara maju ada beberapa macam, sepert adanya
pasar atau tempat penjualan sampah-sampah yang sudah di daur ulang dan akan
didiskusikan dalam organisasi Green Business Network, yang dapat membuka
peluang usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi setiap elemen masyarakat.
Dari kegiatan tersebut, pemerintah dapat menciptakan keadaan lingkungan yang
aman, peduli dan mampu menyelesaikan permasalahan sampah secara ekonomis.
Jadi, beberapa sistem pengelolaan sampah di negara maju sudah dapat dikatakan
mampu melakukan pengolahan sampah secara modern, efektif dan efisien.
Sistem pengelolaan sampah di Monroe County Solid Waste Management
Center memiliki beberapa district yang mempunyai fungsi berbeda, sistem ini
dapat dilihat dari gambar sebagai berikut :

Gambar 1. Peta Monroe County Solid Waste Management District

Terinspirasi dari hal tersebut, penulis memiliki suatu penerapan sistem


pengelolaan sampah kota dengan pemberdayaan TPS sebagai solusi pengurangan
timbunan sampah di TPA Kota Surakarta. Dengan terciptanya sistem ini,
diharapkan adanya suatu instrumen yang penting dalam pengelolaan dan
pengolahan sampah karena pengelolaan dan pengolahan sampah berdampak
langsung pada kualitas lingkungan hidup. Selain itu, program ini akan berdampak
langsung pada perekonomian karena memberikan lapangan kerja baru dan
memajukan perekonomian masyarakat.
Dari permasalahan yang sudah diutarakan, penulis mempunyai tujuan dan
manfaat dari gagasan yang akan disampaikan, yaitu :

Tujuan :
Menerapkan sistem pengelolaan sampah kota secara efektif dan efisien.
Meningkatkan fungsi TPS dalam mengurangi sampah domestik di TPA Kota
Surakarta.
Merubah pola pikir masyarakat dari membuang sampah menjadi mengelola sampah.
Meningkatkan kreatifitas masyarakat dalam proses produksi daur ulang sampah.

Manfaat :
1. Adanya perbaikan sistem pengelolaan sampah kota.
2. Terciptanya suatu kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan industri daur
ulang sampah dalam mengelola sampah.
3. Masyarakat memperoleh wawasan lingkungan terhadap mitigasi pemanasan
global.
4. Terciptanya lingkungan Kota Surakarta yang bersih dengan berkurangnya efek
dari timbulan sampah.
5. Terciptanya peluang kerja kepada masyarakat dalam proses pengelolaan dan
pengolahan sampah.
6. Meningkatnya status sosial masyarakat.

GAGASAN

Kondisi Pengelolaan dan Pengolahan Sampah di Kota Surakarta dan Solusi yang
Pernah Ditawarkan

Pengelolaan Sampah di Kota Surakarta masih sepenuhnya menjadi


tanggung jawab Kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pasar, Dinas
Pekerjaan Umum, kantor kecamatan, dan kantor kelurahan melalui LKMD.
Penanganan sampah di jalan-jalan protokol dan kelas II serta tempat-tempat
fasilitas umum yang dilayani oleh 71 TPS yang dilakukan Kantor Dinas
Kebersihan dan Pertamanan dibantu kantor kecamatan untuk wilayah masing-
masing kecamatan. Sampah pasar dari 37 pasar yang ditangani oleh Dinas Pasar,
sedangkan sampah di saluran drainase ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum.
Untuk kebersihan lingkungan di kelurahan ditangani melalui koordinasi LKMD.
Sampah yang telah terkumpul di TPS di setiap kelurahan akan diangkut oleh truk-
truk DKP Kota Surakarta ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) (Profil Kota
Surakarta, 2002).
Kota Surakarta hanya memiliki satu TPA yaitu TPA Putri Cempo,
Mojosongo. TPA ini sudah beroperasi mulai tahun 1987 menggantikan TPA
Semanggi. TPA Putri Cempo merupakan TPA terbesar kedua di Jawa Tengah
setelah TPA Jatibarang di Kota Semarang. TPA ini memiliki total luas wilayah 17
Ha, dengan pembagian wilayah 14 Ha sebagai tempat pembuangan sampah secara
open dumping, 1 Ha sebagai tempat pengolahan limbah tinja PDAM Kota
Surakarta, 2 Ha berupa infrakstruktur jalan, gudang dan kantor. TPA ini memiliki
21 pegawai yang 15 diantaranya sudah diangkat menjadi PNS. Selain itu, TPA ini
juga difasilitasi dengan 24 truk dan 4 buldozer yang digunakan untuk mengelola
sampah setiap harinya, dengan jam kerja mulai pukul 08.00–15.00. Pengelolaan
persampahan yang ada di TPA Putri Cempo ini dirasa masih sangat rendah, hal
tersebut dikarenakan TPA ini masih menggunakan metode open dumping
(pembuangan terbuka) untuk melayani sampah dari seluruh wilayah Kota
Surakarta. Menurut Muhammad Pramojo, M.Si selaku Kepala Pengelola TPA
Putri Cempo menyatakan bahwa TPA Putri Cempo sudah overload sehingga
dalam beberapa tahun ke depan perlu untuk mencari lahan baru untuk menampung
sampah dari masyarakat kota Surakarta yang terus meningkat dari tahun ke
tahunnya. Bahkan, menurut UU No. 26 Tahun 2008, Pemerintah Kota Surakarta
hanya diberi batas toleransi waktu hingga lima tahun untuk menggunakan sistem
open dumping. Selanjutnya harus menggunakan sistem pembuangan yang lebih
baik yaitu Sanitary Landfill (Hardyanti, N., Huboyo, HS., 2009).
Pemerintah Kota Surakarta berupaya menggaet pihak ketiga (swasta) dalam
menangani masalah pengelolaan dan pengolahan sampah di TPA Putri Cempo ini.
Kesepakatan kerjasama (MoU) dengan investor Jerman telah di tanda tangani oleh
Walikota Surakarta Joko Widodo, perwakilan Aero Tech GMBH Jerman Volker
Schulz Berendt dan Direktur PT Selaras Daya Utama (Sedayu) Lilik Setiawan
pada 6 Oktober 2009 (Anonim, 2010). Dalam kesepakatan kerjasama ini,
Pemerintah Kota Surakarta berencana akan mengucurkan dana sebesar Rp. 300 M
kepada investor asing tersebut, untuk mengolah sampah yang berada di TPA Putri
Cempo menjadi pupuk organik dan biogas. Namun hingga awal tahun 2010 ini,
PT Sedayu yang merupakan perwakilan dari Investor Jerman itu, belum
melaksanakan persiapan seperti yang tertuang dalam kesepakatan. Dalam
kesepakatan kerjasama menyatakan bahwa batas akhir persiapan pihak investor
untuk melakukan persiapan pada tanggal 16 Desember 2009. Karena dinilai
investor tidak serius dengan kesepakatan yang ada, maka Pemerintah Kota
Surakarta berencana membatalkan kerjasama dengan investor Jerman tersebut
(Suara Merdeka, 2010). Sehingga Pemkot harus mencari jalan keluar agar ada
investor baru yang bersedia mengolah sampah di TPA Putri Cempo. Kerjasama
dengan investor Jerman ini dinilai kurang realistis mengingat pada tahun 2010
Kota Surakarta akan mengadakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan
banyak menghabiskan dana.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem pengelolaan
sampah di Kota Surakarta masih menggunakan konsep tradisional yang menganut
konsep kumpul, angkut dan buang. Sistem pengelolaan sampah secara tradisional
ini sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa kota besar lainnya seperti Yogyakarta,
Batam, dan Lhoksumawe. Kota-kota besar tersebut sudah memulai sistem
pengelolaan sampah dengan metode yang lebih modern. Sistem pengelolaan
sampah modern yang dimaksud adalah konsep 3R (reduce, reuse, recycle).
Konsep reduce adalah mengurangi tumpukan sampah. Aplikasi yang dapat
dilakukan dalam konsep ini adalah dengan melakukan kegiatan bank sampah,
seperti yang sudah dilakukan masyarakat Dusun Badegan Bantul. Di dusun
Badegan ada sekitar 600 kepala keluarga. Untuk menjangkau warga yang
tinggalnya jauh, ada sistem pengumpulan komunal. Petugas bank sampah
berkeliling mengambil sampah milik warga dititik yang sudah ditentukan.
Program yang mereka lakukan ternyata dapat mengurangi volume sampah secara
signifikan, yaitu sampai dengan 60% (Kompas, 2008). Hal seperti inilah yang
perlu ditiru oleh pemerintah dan masyarakat Surakarta. Dengan adanya bank
sampah ini, masyarakat akan tertarik untuk memilah sampah karena sampah dapat
dijual dan menjadi pendapatan tambahan bagi setiap keluarga yang mengikutinya.
Bagi masyarakat Kota Surakarta istilah bank sampah ini masih asing. Hal ini
dibuktikan dengan polling yang kami lakukan terhadap mahasiswa dan
masyarakat umum, dimana 52% responden dari mahasiswa dan 71,4% responden
dari masyarakat umum menyatakan belum mengetahui konsep bank sampah.
Konsep reuse adalah menggunakan kembali sampah yang dapat digunakan.
Konsep ini sudah dimulai oleh masyarakat Kota Batam, dengan menjadikan
sampah-sampah plastik sebagai aksesoris maupun kerajinan tangan lainnya seperti
tas, tempat sepatu dan lain-lain. Sampah-sampah plastik dibersihkan dahulu
sebelum diolah menjadi kerajinan. Setelah bersih, plastik itu kemudian dijahit
menjadi tas dengan bentuknya menarik dan ukurannya beragam (Anonim, 2010).
Konsep reuse ini harus mulai disosialisasikan kepada masyarakat Kota Surakarta
melalui workshop-workshop pembuatan kerajinan tangan dari sampah, karena hal
ini akan menciptakan kreativitas. Menurut kami, konsep reuse ini akan disambut
positif oleh masyarakat Kota Surakarta, hal ini didukung dengan hasil polling
kami yang menyatakan bahwa 82,5% dari responden mahasiswa dan 100% dari
responden masyarakat umum menyatakan tertarik untuk memanfaatkan kembali
sampah domestik yang mereka hasilkan.
Konsep recycle adalah kegiatan mendaur ulang sampah menjadi produk
baru. Konsep daur ulang sampah ini sudah mulai dilakukan oleh beberapa kota
besar di Indonesia termasuk Kota Surakarta. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya
beberapa pabrik daur ulang plastik di Surakarta. Kota Surakarta memiliki 6
industri pengolahan plastik, diantaranya AP Plastik, Pandawa Plastik, PP Jerapah,
CV Panca Putra, Honggo Plastik dan Filadelfia plasindo (Anonim, 2010). Pabrik-
pabrik ini berfungsi untuk menggiling sampah-sampah plastik yang telah
dipisahkan ke dalam berbagai jenis, menjadi serpihan kecil atau plastic chips.
Plastic chips ini akan digunakan sebagai bahan baku dalam industi daur ulang
plastik.
Selain bermanfaat sebagai pendaur ulang (recycler), keberadaan pabrik-
pabrik pengolahan plastik ini juga mampu mengurangi (reduce) volume sampah
plastik yang akan dibuang di TPA Putri Cempo. Seharusnya pemerintah dan
masyarakat Kota Surakarta memberi dukungan atas keberadaan pabrik-pabrik
pengolahan plastik ini. Dukungan pemerintah itu dapat direalisasikan dengan
memberikan pinjaman modal usaha kepada pabrik-pabrik tersebut sehingga
usahanya mampu berkembang. Masyarakat juga dapat memberikan dukungannya
dengan cara memilah sampah plastik yang mereka hasilkan. Dengan cara ini
pabrik-pabrik tersebut akan lebih mudah dalam mencari bahan baku industrinya.
Namun, hingga saat ini dukungan tersebut belum terwujud, karena antara pihak
pemerintah, masyarakat dan pihak industri belum bekerjasama secara intensif.

Gagasan yang Diajukan

Gagasan yang diajukan yaitu penerapan sistem pengelolaan sampah kota


dengan pemberdayaan peran TPS sebagai solusi pengurangan timbunan sampah di
TPA Kota Surakarta. Penerapan sistem ini berupa cara menciptakan pengelolaan
sampah kota yang efektif dan efisien. Definisi dari sistem yaitu suatu kesatuan
yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk
memudahkan aliran informasi, materi atau energi (Anonim, 2010). Beberapa
elemen yang dihubungkan yaitu input, proses dan output. Dalam menerapkan
sistem pengelolaan sampah kota dimulai dari adanya input yang kemudian
melewati proses dan terakhir didapatkan output berupa produk. Secara ringkas al
dari skema sistem pengelolaan sampah kota dapat dilihat pada gambar 2 berikut :

Gambar 2. Skema sistem pengelolaan sampah kota

Input yang dimaksud adalah sumber sampah yang berasal dari sampah
rumah tangga dan tempat umum. Sumber sampah ini sudah dipisahkan oleh
masyarakat ke dalam beberapa jenis sampah yang sudah ditentukan oleh Dinas
Kebersihan dan Pertamanan Kota selaku pemerintah. Sampah organik berupa kulit
buah, sisa makanan, daun-daun kering, dan lain-lain. Lalu untuk sampah
anorganik berupa plastik, kertas, logam, dan kaca.
Proses dapat dituangkan dalam pemberdayaan fungsi TPS. Pemberdayaan
fungsi TPS yang dimaksud berupa bank sampah dan fasilitas pengelolaan dan
pengolahan sampah. Kondisi TPS yang sekarang hanya berupa pembuangan
sementara oleh masyarakat, akan diubah menjadi fasilitas pengelolaan dan
pengolahan sampah. Fasilitas pengelolaan sampah di TPS yang akan diterapkan
dengan cara membuat beberapa bak pemilahan sampah. Bak pemilahan sampah
dapat dibedakan menjadi organik dan anorganik. Bak sampah anorganik dapat
dibedakan lagi menjadi tiga yaitu logam, kertas, dan plastik. Sampah organik
dapat diolah kembali menjadi pupuk kompos dan biogas. Maka dari itu, TPS ini
diberi fasilitas pengolahan sampah berupa alat-alat pembuatan pupuk kompos dan
biogas. Sedangkan untuk sampah anorganik akan dikelola melalui kegiatan bank
sampah. Kondisi TPS yang telah diubah dapat dilihat dari gambar di bawah ini :

Gambar 3. Denah TPS


Bank sampah yang akan diterapkan hampir sama dengan konsep bank
sesungguhnya, dimana nasabah akan menyetorkan sampah domestik yang sudah
dipilah ke bank sampah. Kemudian nasabah juga akan mendapatkan buku
tabungan yang digunakan untuk mencatat jumlah sampah yang telah disetorkan.
Buku tabungan nasabah tersebut akan dijadikan dasar penghitungan nilai rupiah
sampah. Warna buku tabungan tiap RT dan RW dapat dibuat berbeda. Bank
sampah tidak hanya melayani penyetoran secara langsung, tetapi juga melakukan
sistem jemput bola atau langsung mendatangi masyarakat secara door to door.
Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah berbeda. Kantong I berisi
sampah plastik, kantong II sampah kertas, dan kantong III berupa kaleng dan
botol. Tiap nasabah memiliki karung ukuran besar, yang tersimpan di bank untuk
menyimpan seluruh sampah yang mereka tabung. Tiap karung diberi nama dan
nomor rekening tiap nasabah. Tujuannya agar ketika pihak industri pengolahan
sampah datang ke TPS, petugas TPS tidak kesulitan memilah tabungan sampah
tiap nasabah. Setelah sampah-sampah terkumpul maka petugas akan menghubungi
pihak industri pengolahan sampah agar sampah-sampah tersebut dapat diolah dan
menghasilkan uang. Apabila di TPS terdapat sampah yang tidak dapat diolah oleh
TPS dan pihak industri pengolah sampah, maka sampah tersebut akan dibawa ke
TPA untuk diproses lebih lanjut.
Dalam proses pemberdayaan TPS ini, Pemerintah melakukan perannya
dalam menyediakan fasilitas, melakukan pengontrolan, dan membuat Standar
Operasional Prosedur (SOP), sedangkan masyarakat melakukan perannya dalam
melakukan pengelolaan sampah dengan memisahkan sampah berdasarkan
jenisnya. Peran industri pengolahan sampah dalam pemberdayaan TPS ini adalah
sebagai pendaur ulang sampah anorganik.
Tahap terakhir adalah output. Output ini dapat dibagi menjadi dua yaitu
output dari proses pengolahan sampah organik dan output dari proses pengolahan
sampah anorganik. Output dari proses pengolahan sampah organik dapat langsung
dipasarkan melalui TPS. Sedangkan output dari pengolahan sampah anorganik
akan dipasarkan melalui sistem pemasaran masing-masing industri pengolahan
sampah. Jadi, TPS selain digunakan sebagai tempat pengolahan sampah, TPS ini
juga berfungsi sebagai tempat pemasaran hasil dari proses pengolahan sampah.
Dari penerapan sistem yang diajukan dapat diartikan sebagai solusi untuk
mengurangi penumpukan timbunan sampah di TPA Kota Surakarta dan akan
menciptakan konsep Zero Waste. Konsep Zero Waste ini meliputi proses
pengurangan volume timbulan sampah dan penanganan sampah sedekat mungkin
dari sumbernya dengan pendekatan melalui aspek hukum (peraturan), aspek
organisasi (kelembagaan), aspek teknis operasional, aspek pembiayaan (retribusi),
serta aspek peran aktif masyarakat (Maharani, A., 2002).
Sistem pengelolaan sampah kota dengan pemberdayaan fungsi TPS dapat
diringkas dalam gambar di bawah ini :

Gambar 4. Alur sistem pengelolaan sampah kota

Pihak-Pihak yang Dapat Membantu

Diperlukan pihak-pihak terkait untuk berpartisipasi dan memberikan


kontribusi besar dalam pengelolaan dan pengolahan sampah. Pihak-pihak yang
terkait antara lain, berdasarkan UU No. 18 tahun 2008 tentang pengelolaan
sampah, masyarakat dan swasta wajib memilah sampah, sedangkan pemerintah
wajib mengelola sampah (Putra, M.B., 2008). Pemerintah Kota Surakarta
merupakan instansi kepemerintahan yang merencanakan, memutuskan, mengatur,
dan mengelola segala aktivitas yang ada di Kota Surakarta termasuk permasalahan
sampah. Nantinya Pemerintah Kota Surakarta berperan sebagai penanggungjawab,
penyedia dana, dan fasilitas penunjang kegiatan, serta merumuskan kebijakan-
kebijakan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pengolahan sampah. Dinas
Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta bertugas sebagai pelaksana teknis
harian di TPS maupun di TPA, yang akan mengontrol kegiatan pengumpulan,
pengangkutan dan proses pengolahan sampah. DKP juga mengadakan kegiatan
sosialisasi tentang konsep pengelolaan dan pengolahan sampah kepada
masyarakat, dan juga sebagai jembatan antara industri pengolah sampah dengan
masyarakat. Balai Lingkungan Hidup nantinya akan berperan sebagai konsultan
pengendali mutu kinerja TPS dan menangani pengelolaan limbah B3 (Bahan
Berbahaya dan Beracun) di Kota Surakarta.
Lembaga Swadaya Masyarakat turut berpartisipasi sebagai pengontrol
kegiatan pengelolaan dan pengolahan sampah, ikut serta dalam mengkam-
panyekan konsep pengelolaan sampah, membantu kinerja DKP, dan juga sebagai
jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah. Lembaga Swadaya
Masyarakat yang menjadi sasaran yaitu lembaga yang bergerak dibidang
lingkungan. Semisal, WALHI maupun Green Peace.
Civitas akademik sebagai pelaku riset yang akan mengadakan kegiatan
keilmiahan. Kegiatan keilmiahan ditujukan untuk kegiatan pengelolaan dan
pengolahan sampah. Civitas akademik juga turut serta dalam mensosialisasikan
konsep 3R kepada masyarakat. Masyarakat sebagai pelaku utama. “Penggerak”
sampah yang berperan besar dalam pengelolaan dan pengolahan sampah.
Masyarakat nantinya berpartisipasi untuk mengendalikan penggunaan sampah.
Ikut memilah, mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sesuai
konsep 3R.

Langkah-langkah Strategis

Langkah-langkah strategis diperlukan sebagai kerangka atau acuan pelak-


sanaan kegiatan dari sistem pengolahan sampah kota. Dimulai dari kesiapan
instansi terkait beserta masyarakat. Kesiapan yang diperlukan antara lain
merancang, memutuskan, dan melaksanakan peraturan-peraturan terkait penge-
lolaan sampah. Baik itu peraturan pemerintah mapun peraturan daerah. Selama ini
partisipasi dalam setiap perumusan kebijakan publik masih menghadapi kendala
karena persoalan kerangka berpikir sebagian penyelenggara negara menganggap
urusan negara sebagai domain pemerintah. (Putra, M.B., 2008).
Kehadiran UU pengelolaan sampah menurut Ilyas Asaad (Deputi Menteri
Negara Lingkungan Hidup bidang penaatan lingkungan) dilatarbelakangi oleh
beberapa pemikiran : pertama, mengutamakan prinsip-prinsip pembangunan ber-
kelanjutan ke seluruh bidang pembangunan; kedua, meningkatkan koordinasi
pengelolaan lingkungan hidup di tingkat nasional dan daerah; ketiga, mening-
katkan upaya harmonisasi pengembangan hukum lingkungan dalam mendukung
prinsip pembangungan berkelanjutan; keempat, meningkatkan upaya pengen-
dalian dampak lingkungan akibat kegiatan pembangunan; kelima, meningkatkan
upaya penataan dan penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar dan
perusak lingkungan; keenam, meningkatkan kapasitas lembaga dan SDM penge-
lola lingkungan hidup baik di tingkat nasional maupun daerah; dan ketujuh,
membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup dan
berperan aktif sebagai kontrol-sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup
(Putra, M.B., 2008).
Selanjutnya, setiap masyarakat dalam pengelolaan sampah tumah tangga
wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara memilah sampah
berdasarkan jenisnya. Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban
pengelolaan sampah rumah tangga akan diatur dalam peraturan daerah.
TPS dipersiapkan dengan mengubah kondisi fisik TPS menjadi lebih teratur.
Menyiapkan bak-bak sampah yang terpilah, tempat pengolahan sampah yang
mengolah sampah organik menjadi kompos maupun biogas, dan juga tersedianya
bank sampah. Jika fasilitas ini sudah siap, maka perlu dibuat langkah-langkah
teknis yang akan mengatur sistem pembuangan sampah secara teratur. Misalnya,
melaksanakan penjadwalan pembuangan sampah berdasarkan jenis sampah
perharinya.
Langkah selanjutnya yaitu membentuk suatu asosiasi pengelola sampah
dengan melakukan kerjasama dari beberapa pihak yang terkait. Pihak-pihak
tersebut adalah pemerintah, masyarakat umum, industri pengolah sampah, uni-
versitas, dan LSM lingkungan. Universitas nantinya akan memberikan kontribusi
dibidang riset dan ikut serta dalam upaya sosialisasi pengelolaan dan pengolahan
sampah. LSM lingkungan berperan sebagai pengontrol kegiatan pengelolaan dan
pengolahan sampah, dan ikut serta dalam mengkampanyekan konsep pengelolaan
sampah, membantu kinerja DKP, dan juga sebagai jembatan komunikasi antara
masyarakat dengan pemerintah sesuai pasal 36 dan pasal 37 UU No. 18 tahun
2008. Industri pengolah sampah berperan sebagai pendaur ulang sampah yang
akan mengurangi timbunan sampah anorganik di Kota Surakarta.

KESIMPULAN

Gagasan yang diajukan berupa sistem pengelolaan sampah Kota Surakarta


dengan pemberdayaan fungsi TPS sebagai solusi pengurangan timbunan sampah
di TPA Kota Surakarta. Sistem yang dimaksud berupa input, proses, dan output.
Pemberdayaan fungsi TPS terlihat pada alur proses dimana TPS sudah diubah
menjadi tempat pengelolaan dan pengolahan sampah. Pengelolaan sampah
dilakukan berupa pemisahan sampah dengan tempat yang berbeda berdasarkan
jenisnya. Dalam melakukan pengelolaan sampah yang efektif dan efisien,
dilakukan kegiatan bank sampah dengan memberikan rekening tabungan kepada
masyarakat. Sedangkan dalam pengolahan sampah dapat dilakukan proses
pembuatan pupuk kompos dan biogas. Hasil proses dari pembuatan pupuk
kompos dan biogas dapat dijual dan dimanfaatkan secara langsung oleh
masyarakat. Sedangkan hasil olahan sampah anorganik yang berasal dari industri
pengolah sampah yang dapat dijual kembali di TPS atau dapat dijual langsung
oleh pihak industri pengolah sampah. Sampah yang tidak dapat diolah akan
diserahkan langsung kepada pihak TPA. TPA disini berfungsi sebagai pengontrol
kinerja TPS setiap bulannya.
Langkah-langkah yang dliakukan dalam menerapkan sisten pengelolaan
sampah kota dengan pemberdayaan fungsi TPS dapat dilakukan dengan membuat
suatu peraturan daerah yang memuat tentang pengelolaan dan pengolahan sampah
di Kota Surakarta. Peraturan ini melibatkan beberapa pihak seperti pemerintah,
masyarakat dan industri pengolah sampah. Setelah membuat peraturan daerah,
pemerintah sebagai koordinator pelaksana melakukan persiapan dengan
mengubah tempat fisik dari TPS di tiap kelurahan, membuat MoU dengan industri
pengolah sampah. Lalu pemerintah membentuk suatu asosiasi atau perkumpulan
pengelola sampah yang meliputi dari pemerintah, masyarakat, dan industri
pengolah sampah.
Hasil yang diperoleh dari sistem ini yaitu adanya perbaikan sistem
pengelolaan sampah kota, terciptanya suatu kerjasama antara pemerintah,
masyarakat dan industri daur ulang sampah dalam mengelola sampah, masyarakat
memperoleh wawasan lingkungan terhadap mitigasi pemanasan global,
terciptanya lingkungan Kota Surakarta yang bersih dengan berkurangnya efek dari
timbunan sampah, terciptanya peluang kerja kepada masyarakat dalam proses
pengelolaan dan pengolahan sampah, dan meningkatnya status sosial masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Affan, Satrian. 2009. Peran Universitas Dalam Pengelolaan Sampah.


http://suarapembaca.detik.com/read/2009/06/04/102154/1142480/471/pera
n-universitas-dalam-pengelolaan-sampah.html [17 Maret 2010].
Anonim. Plastic Companies List. http://www.plastic.web.id/id/site_user_list?
sort=asc&order=Kota.html [16 Maret 2010].
Anonim. Konsep Dasar Sistem – Pengertian Sistem. http://blog.re.or.id/konsep-
dasar-sistem-definisi-sistem.html [14 Maret 2010].
Budi R. M. 2009. Perusahaan di Jerman Kelola Sampah di Solo.
http://forum.pasarsolo.com/kabare-solo-raya/perusahaan-di-jerman-kelola-
sampah-di-solo/?wap2.html [16 Maret 2010].
Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surakarta. 2002. Profil Kota
Surakarta. DKP Kota Surakarta. Surakarta.
Hardyanti, Nurandani dan Haryono Setiyo Huboyo. 2009. Evaluasi Instalasi
Pengolahan Lindi Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo Kota Surakarta.
Jurnal Presipitasi 6 (1) : 52-56.
Hasanah, Iffah Noor. 2009. Hidup Nyaman di Lingkungan yang 'Aman'.
http://majalahnh.com/index.php/liputan/132-hidup-nyaman-di-lingkungan-
yang-aman.html [14 Maret 2010].
Ja’far, Mohamad. 2005. Peran Kebijakan Pemerintah Dalam Pengelolaan Dan
Pelaporan Kinerja Lingkungan Oleh Perusahaan-perusahaan Publik Di
Indonesia. Semarang : Universitas Islam Sultan Agung.
Kormondy, EJ. 1969. Concepts of Ecoroglt. prentice-Hall Inc., New Jersey.
Kusnindya, Evie. 2010. Dinilai Tak Serius, Kerjasama Pengolahan Sampah Diba-
talkan. http://suaramerdeka.com/ [14 Maret 2010].
Maharani, A. 2002. Perencanaan Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu Pada
Kawasan Kota Baru Terencana. Semarang : Universitas Diponogoro.
Monroe County Solid Waste Management District. 2006. 2006 Annual Report.
MCSWMD. USA.
Prihtiyani, Eny. 2008. Gerakan Bank Sampah dari Bantul.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/01/02052180/gerakan.bank.sam
pah.dari.bantul [17 Maret 2010].
Putra, M.B. 2008. Prinsip Partisipasi Dalam UU.
http://muslimindaenglalo.blogspot.com/2009/03/prinsip-partisipasi-dalam-
uu.html. [17 Maret 2010].
Rivera, Caitlyn. 2009. Mendaur Ulang Sampah Plastik, Memetik Uang.
http://www.dunianyawanita.com/green-environment/698-mendaur-ulang-
sampah-plastik-memetik-uang. [16 Maret 2010].
Salim, Emil. 23 Juni, 2005. Hidup Dari Sampah, Belajar Dari Prof Hasan Poerbo.
Harian Kompas. http://hasanpoerbo.blogspot.com/2006/04/hidup-dari-
sampah-belajar-dari-prof.html [ 14 Maret 2010].
Setyawati, D. 2008. Arahan Pemanfaatan Kembali Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) Sampah. Semarang : Universitas Diponegoro.