Anda di halaman 1dari 3

NEGARA BUSUK

Oleh I Wayan Artika (Rakyat Indonesia, bekerja sebagai dosen di Undiksha Bali)

Ulat bulu meresahkan masyarakat Indonesia. Kemunculan ulat bulu ini disikapi hanya

dari sudut keseimbangan alam (anomali cuaca dan tiadanya predator). Kita lupa, alam adalah

teks yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Manusia terbiasa membaca teks alam atau

merumuskan narasi interpretasi. Di balik peristiwa alam langka ada pesan tersembunyi.

Kemunculan komet tidak semata-mata peristiwa jagat raya. Komet adalah teks atau tanda bahwa

akan terjadi peristiwa genting di tengah masyarakat. Sebelum bom Bali pertama (2002), banyak

orang di Bali (antara percaya dan tidak), beberapa hari menjelang peristiwa mengerikan itu,

menyaksikan dua matahari di langit.

Ulat bulu dan dalam hal ini ulat adalah tanda ‘busuk’. Kehadiran ulat bulu di Jawa,

Sumatera, Bali, dan Lombok menandakan bahwa negara Indonesia berulat: negara yang

membusuk. Sangat gamblang, betapa busuk negara ini. Di mana-mana terjadi praktik-praktik

busuk. Korupsi adalah praktik berulat atau praktik busuk. Wakil rakyat yang menikmati film

porno di ruang sidang adalah praktik moral busuk. Keangkuhan anggota DPR dan tidak peduli

dengan derita rakyat adalah praktik busuk. Praktik hukum negara kita juga busuk. Banyak “ulat”

di sana. Kekuasaan yang didapat dengan jual beli suara juga praktik busuk. Jika berurusan ke

kantor-kantor pemerintah kita akan berjumpa dengan praktik-prakti busuk (suap, mengutamakan

kenalan/kawan/kroni). Rekrutmen PNS juga praktik busuk. Budaya nyontek rame-rame saat

ujian nasional di sekolah-sekolah adalah praktik busuk guru dan anak didik. Jika ke rumah sakit

pemerintah, kita berjumpa dengan praktik-praktik tidak manusiawi; pelayanan kesehatan baru

bisa dilakukan jika segala perlengkapan administrasi telah siap. Ini juga praktik pelayanan yang
Page3

busuk. Bank-bank di negara Indonesia juga menjalankan praktik busuk.


Ulat bulu yang saya tafsir secara semiotik itu menyadarkan diri saya bahwa saya hidup di

negara busuk. Saya juga pasti busuk. Jika buah busuk atau daging busuk; maka akan menunggu

kehancuran atau akan musnah. Demikian pula negara saya dan saya. Saya tidak memiliki

harapan kepada siapa saja dan juga kepada negara saya. Apa yang bisa diharap dari negara yang

busuk? Karena tidak terkecuali, pembusukan itu telah terjadi dimana-mana. Negara ini busuk

secara struktural. Semua saya berharap kepada pemerintah baru, kepada partai-partai, kepada

demokrasi, kepada DPR, kepada menteri-menteri, kepada presiden, tetapi harapan kandas karena

baru saya sadar bahwa mereka semua busuk. Mereka koloni ulat-ulat yang menggerogoti negara

ini. Rakyat gatal dan tidak berdaya karena rakyat miskin, tidak memiliki suara dan media

komunikasi, karena rakyat dikhianati/dibohongi.

Munculnya ulat bulu di negara busuk ini, harus bisa ditafsir dari segi ilmu tanda dan

magis. Para petinggi negara harap bertanya, tanda apa ini? Tapi busuk tak mereka rasakan karena

dalam keadaan busuk mereka semua tetap bisa mendapat keuntungan pribadi dan golongan;

karena merekalah yang menyebabkan busuk dan mereka semua adalah agen-agen sosial busuk.

Mereka menganut ideologi dan politik busuk. Negara busuk berdampak langsung pada

kehancuran rakyat karena paling menderita secara langsung dan pertama.

Lewat munculnya ulat bulu, pemerintah, partai, dan anggota DPR di mana saja harus

introspeksi diri: negara saya busuk oleh keangkuhan dan kesombongan saya, yang dilanda

mabok kuasa dan kekayaan. Jangan lupa, pemerintah dan anggota dewan tidak sendiri. Mereka

diserahi amanat oleh rakyat untuk mengelola negara. Piliha rakyat salah. Rakyat menyerahkan

kedaulatannya kepada koloni ulat-ulat yang siap menggerogoti negara ini dan menjadikannya

busuk. Rakyat ditindas dan dihisap/dibodohi dan dibuat tidak berdaya. Keadaan itu busuk sekali
Page3

dan semakin kronis busuknya.


Ulat bulu tanda yang mengerikan; negara busuk. Tak ada harapan bagi rakyat. Rakyat

kini jadi pecundang. Rakyat digerogoti ulat-ulat. Tubuh rakyat busuk. Beginilah rasanya hidup di

negara busuk. Serba susah. Tidak ada kehormatan bagi rakyat.

Ulat bulu memang bermetamorfosis. Tapi semiotika bisa digunakan untuk memotong

tanda yang utuh, membentuk kesatuan baru dengan struktur baru. Metamorfosis ulat bulu akan

memberi Indonesia kupu-kupu warna-warni. Tapi jika ulat-ulat negara tidak pernah akan

bermetamorfosis menjadi “kupu-kupu” indah bagi rakyat. Lihat saja kengototan DPR

membangun gedung mewah di tengah derita rakyat. Lihat saja kelambanan dan “pemerintahan

yang melo” membuat rakyat muak dan muntah. Ulat-ulat negara bisa bermetamorfosis menjadi

kupu-kupu jika suara rakyat didengar dan dilakukan.

Page3