Anda di halaman 1dari 16

BABI

PENDAHULUAN
− Latar Belakang

Puasa merupakan salah satu dari rukun islam kita sebagai umat muslim wajib
menjalankan puasa Ramadhan saya menuliskan tema puasa ini agar kita lebih mengerti apa
puasa itu dan semoga kita menjadi penguasa diri kita sendiri dengan berpuasa. Ramadhan
merupakan bulan dimana kita harus dapat mengendalikan diri kita,hal yang utama yang harus
kita lakukan dalam pelaksanaan puasa ramadhan adalah kita harus menjadi penguasa dan raja
bagi diri kita sendiri kita harus benar-benar mengendalikan menurut aturan Ilahi yang berlaku.
Kalau berbicara harus kita kendalikan demikian juga dengan mata semuanya harus kita
kendalikan dengan baik. Mungkin kadang ada bertanya kenapa kita tetap sengsara, atau mengapa
hidup kita gelisah dan tidak tenang ? jawaban yang tepat adalah karena kita tidak dapat
mengendalikan diri kita sendiri. Pada bulan Ramadhan ini kita harus seperti kepongpong masuk
seperti ulat berbulu yang ditakuti dan menjijikan dan keluar sebagai kupu-kupu yang indah yang
begitu disenangi banyak orang, yang dapat kita artikan sebusuk dan sekotor apapun diri kita
,setelah menjalankan ibadah puasa ini kita harus menjadi orang yang memiliki kepribadian yang
indah dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Di bulan suci Ramadhan inilah kesempatan yang baik untuk megembleng diri agar menjadi
terindah dan terbaik. Rasulullah mensinyalir,umat islam akan banyak melaksanakan puasa ,hanya
mendapatkan lapar dan dahaga saja. Bagai mana menurut ada apakah ini benar? Kalau
Rasulullah sudah mensinyalir demikian memang demikian keadaannya karena semua yang
dikatakan dan dilakukan Rasulullah semua itu benar adanya dan tidak ada yang salah .
Perkembangan pada saat ini apakah sesuai dengan sinyalemen Rasulullah tadi? Ibadah puasa
umat islam pada saat ini Alhamdulillah sudah agak meningkat ternyata mereka mulai sadar
,mereka sadar bahwa ibadah puasa ini tidaklah sebuah tradisi saja melainkan sebuah jalan untuk
meningkatkan keimanan.

− Tujuan

1) Memahami Pengertian puasa


Puasa tidak hanya menaha diri dari makan dan minum tapi harus menahan diri dari hal-hal yang
akan merusak pahala puasa bitu sendiri ibadah puasa yang pokok adalah “menahan
makan,minum,dan hawa nafsu mulai terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari” akan
tetapi kita juga harus menahan nafas,bibir,mata, dan semua anggota badan kita dari hal-hal yang
akan mebatalkan puasa.
Jika menurut mata sesuatu itu enak dilihat ,tetapi akan merusak amalan puasa maka
tundukanlah . Demikian pula dengan bibir kita harus berhenti untuk tidak bicara yang tidak baik
dan berguna. Mudah-mudahan setelah mulut,mata ,dan seluruh anggota badan kita bersih dengan
menahan diri dari segala sesuatu yang tidak baik semoga hati kita menjadi bersih , dan hal ini
merupakan puncak dari dari segala keindahan menikmati hidup di dunia ini. Karena orang yang
hatinya bersih akan menjadi cahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

2) Medefisinikan Macam-macam Puasa

• PUASA FARDHU
Puasa fardhu adalah puasa yang harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan syariat Islam.
Yang termasuk ke dalam puasa fardhu antara lain:

− Puasa bulan Ramadhan

Puasa dalam bulan Ramadhan dilakukan berdasarkan perintah Allah SWT dalam Al- Qur’an
sebagai berikut :
– yâ ayyuhal-ladzîna âmanûkutiba ‘alaykumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alal-ladzîna min
qoblikum la’allakum tattaqûn

– Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu terhindar dari keburukan rohani
dan jasmani (QS. Al Baqarah: 183).

– syahru Romadhônal-ladzî unzila fîhil-qurânu hudal-lin-nâsi wa bayyinâtim-minal-


hudân wal-furqôn(i). Faman syahida min(g)kumusy-syahro falyashumh(u). wa man(g)
kâna marîdhon aw ‘alâ safari(g) fa’iddatum-min ayyâmin ukhor. Yurîdullohu bikumul-
yusro wa lâ yurîdu bikumul-‘usro wa litukmilul-‘iddata walitukabbirulloha ‘alâ mâ
hadâkum wa la’allakum tasykurûn “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat
tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa
sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqoroh: 185)
- Puasa Kafarat

Puasa kafarat adalah puasa sebagai penebusan yang dikarenakan pelanggaran


terhadap suatu hukum atau kelalaian dalam melaksanakan suatu kewajiban, sehingga
mengharuskan seorang mukmin mengerjakannya supaya dosanya dihapuskan, bentuk
pelanggaran dengan kafaratnya antara lain :

• Apabila seseorang melanggar sumpahnya dan ia tidak mampu memberi makan dan
pakaian kepada sepuluh orang miskin atau membebaskan seorang roqobah, maka ia harus
melaksanakan puasa selama tiga hari.

• Apabila seseorang secara sengaja membunuh seorang mukmin sedang ia tidak sanggup
membayar uang darah (tebusan) atau memerdekakan roqobah maka ia harus berpuasa dua
bulan berturut-turut (An Nisa: 94).

• Apabila dengan sengaja membatalkan puasanya dalam bulan Ramadhan tanpa ada
halangan yang telah ditetapkan, ia harus membayar kafarat dengan berpuasa lagi sampai
genap 60 hari.

• Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji bersama-sama dengan umrah, lalu tidak
mendapatkan binatang kurban, maka ia harus melakukan puasa tiga hari di Mekkah dan
tujuh hari sesudah ia sampai kembali ke rumah. Demikian pula, apabila dikarenakan
suatu mudharat (alasan kesehatan dan sebagainya) maka berpangkas rambut, (tahallul) ia
harus berpuasa selama 3 hari.
Menurut Imam Syafi’I, Maliki dan Hanafi:
Orang yang berpuasa berturut-turut karena Kafarat, yang disebabkan berbuka puasa pada
bulan Ramadhan, ia tidak boleh berbuka walau hanya satu hari ditengah-tengah 2 (dua)
bulan tersebut, karena kalau berbuka berarti ia telah memutuskan kelangsungan yang
berturut-turut itu. Apabila ia berbuka, baik karena uzur atau tidak, ia wajib memulai puasa
dari awal lagi selama dua bulan berturut-turut.[1]

- Puasa Nazar

Puasa nadzar : adalah puasa yang tidak diwajibkan oleh Tuhan, begitu juga tidak
disunnahkan oleh Rasulullah saw., melainkan manusia sendiri yang telah menetapkannya bagi
dirinya sendiri untuk membersihkan (Tazkiyatun Nafs) atau mengadakan janji pada dirinya
sendiri bahwa apabila Tuhan telah menganugerahkan keberhasilan dalam suatu pekerjaan, maka
ia akan berpuasa sekian hari. Mengerjakan puasa nazar ini sifatnya wajib. Hari-hari nazar yang
ditetapkan apabila tiba, maka berpuasa pada hari-hari tersebut jadi wajib atasnya dan apabila dia
pada hari-hari itu sakit atau mengadakan perjalanan maka ia harus mengqadha pada hari-hari lain
dan apabila tengah berpuasa nazar batal puasanya maka ia bertanggung jawab mengqadhanya.

− Puasa Sunnat

Puasa sunnat (nafal) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan
apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun puasa sunnat itu antara lain :

1. Puasa 6 (enam) hari di bulan Syawal


Bersumber dari Abu Ayyub Anshari r.a. sesungguhnya Rasulallah saw. bersabda: “
Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian dia menyusulkannya dengan
berpuasa enam hari pada bulan syawal , maka seakan – akan dia berpuasa selama setahun”.

2. Puasa Tengah bulan (13, 14, 15) dari tiap-tiap bulan Qomariyah
Pada suatu hari ada seorng Arabdusun datang pada Rasulullah saw. dengan
membawa kelinci yang telah dipanggang. Ketika daging kelinci itu dihidangkan
pada beliau maka beliau saw. hanya menyuruh orang-orang yang ada di sekitar beliau
saw. untuk menyantapnya, sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan, demikian pula
ketika si arab dusun tidak ikut makan, maka beliau saw. bertanya padanya, mengapa
engkau tidak ikut makan? Jawabnya “aku sedang puasa tiga hari setiap bulan, maka sebaiknya
lakukanlah puasa di hari-hari putih setiap bulan”. “kalau engkau bisa melakukannya
puasa tiga hari setiap bulan maka sebaiknya lakukanlah puasa di hari-hari putih yaitu
pada hari ke tiga belas, empat belas dan ke lima belas.

3. Puasa hari Senin dan hari Kamis.


Dari Aisyah ra. Nabi saw. memilih puasa hari senin dan hari kamis. (H.R.
Turmudzi).

4. Puasa hari Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah atau Haji)


Dari Abu Qatadah, Nabi saw. bersabda: “Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua
tahun, satu tahun yang tekah lalu dan satu tahun yang akan datang” (H. R. Muslim)

5. Puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharam.


Dari Salim, dari ayahnya berkata: Nabi saw. bersabda: Hari Asyuro (yakni 10
Muharram) itu jika seseorang menghendaki puasa, maka berpuasalah pada hari itu
6. Puasa nabi Daud as. (satu hari bepuasa satu hari berbuka)
Bersumber dari Abdullah bin Amar ra. dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah saw
bersabda: “Sesungguhnya puasa yang paling disukai oleh Allah swt. ialah puasa Nabi
Daud as. sembahyang yang paling d sukai oleh Allah ialah sembahyang Nabi Daud as.
Dia tidur sampai tengah malam, kemudian melakukan ibadah pada sepertiganya dan sisanya
lagi dia gunakan untuk tidur, kembali Nabi Daud berpuasa sehari dan tidak berpuasa
sehari.”

Mengenai masalah puasa Daud ini, apabila selang hari puasa tersebut masuk pada hari Jum’at
atau dengan kata lain masuk puasa pada hari Jum’at, hal ini dibolehkan. Karena yang
dimakruhkan adalah berpuasa pada satu hari Jum’at yang telah direncanakan hanya pada hari itu
saja

7. Puasa bulan Rajab, Sya’ban dan pada bulan-bulan suci Dari Aisyah r.a berkata:
Rasulullah saw. berpuasa sehingga kami mengatakan: beliau tidak berbuka. Dan
beliau berbuka sehingga kami mengatakan: beliau tidak berpuasa. Saya tidaklah
melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan. Dan
saya tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada puasa di bulan Sya’ban.

- PUASA MAKRUH

Menurut fiqih 4 (empat) mazhab, puasa makruh itu antara lain :

• Puasa pada hari Jumat secara tersendiri


Berpuasa pada hari Jumat hukumnya makruh apabila puasa itu dilakukan secara mandiri.
Artinya, hanya mengkhususkan hari Jumat saja untuk berpuasa.
Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Saya mendengar Nabi saw. bersabda: “Janganlah kamu berpuasa
pada hari Jum’at, melainkan bersama satu hari sebelumnya atau sesudahnya.”

• Puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan


Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kamu
mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa
berpuasa, maka berpuasalah hari itu.”

• Puasa pada hari syak (meragukan)


Dari Shilah bin Zufar berkata: Kami berada di sisi Amar pada hari yang diragukan Ramadhan-
nya, lalu didatangkan seekor kambing, maka sebagian kaum menjauh. Maka ‘Ammar berkata:
Barangsiapa yang berpuasa hari ini maka berarti dia mendurhakai Abal Qasim saw.
- PUASA HARAM
Puasa haram adalah puasa yang dilarang dalam agama Islam. Puasa yang diharamkan.
Puasa-puasa tersebut antara lain:

• Puasa pada dua hari raya


Dari Abu Ubaid hamba ibnu Azhar berkata: Saya menyaksikan hari raya (yakni mengikuti shalat
Ied) bersama Umar bin Khattab r.a, lalu beliau berkata:”Ini adalah dua hari yang dilarang oleh
Rasulullah saw. Untuk mengerjakan puasa, yaitu hari kamu semua berbuka dari puasamu (1
Syawwal) dan hari yang lain yang kamu semua makan pada hari itu, yaitu ibadah hajimu,(Shahih
Bukhari, jilid III, No.1901)

• Puasa seorang wanita dengan tanpa izin suami


Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda: “Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan
suaminya ada di rumah, di suatu hari selain bulan Ramadhan, kecuali mendapat izin
suaminya.”[13](Sunan Ibnu Majah, jilid II, No.1761).

- Mejelaskan Hal-hal yang Mebatalkan Puasa

• Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.

•Jima’ (bersenggama).

• Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang
mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.

• Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab
lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena
keluarnya tanpa sengaja.
• Keluarnya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas
batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.

• Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Hal
ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
”Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang barangsiapa yang
muntah dengan sengaja maka wajib qadha.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan
At-Tirmidzi).

Dalam lafazh lain disebutkan : “Barangsiapa muntah tanpa disengaja, maka ia tidak (wajib)
mengganti puasanya).” DiriwayatRan oleh Al-Harbi dalam Gharibul Hadits (5/55/1) dari Abu
Hurairah secara maudu’ dan dishahihRan oleh AI-Albani dalam silsilatul Alhadits Ash-Shahihah
No. 923.

• Murtad dari Islam (semoga Allah melindungi kita darinya). Perbuatan ini menghapuskan segala
amal kebaikan. Firman Allah Ta’ala: Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya
lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. “(Al-An’aam:88).
Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu,
lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air
tanpa disengaja. Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari, maka
hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa.

BABII
PEMBAHASAN

A. MANFAAT PUASA
Puasa memiliki beberapa manfaat, ditinjau dari segi kejiwaan, sosial dan
kesehatan, di antaranya:

• Beberapa manfaat, puasa secara kejiwaan adalah puasa membiasakan kesabaran,


menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta
mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri, yang ini merupakan
hikmah puasa yang paling utama.
Firman Allah Ta ‘ala :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. ” (Al-Baqarah: 183)

CatatanPenting :
Dalam kesempatan ini, kami mengingatkan kepada para saudaraku kaum
muslimin yang suka merokok. Sesungguhnya dengan cara berpuasa mereka bisa
meninggalkan kebiasaan merokok yang mereka sendiri percaya tentang bahayanya
terhadap jiwa, tubuh, agama dan masyarakat, karena rokok termasuk jenis keburukan
yang diharamkan dengan nash Al-Qur’anul Karim. Barangsiapa meninggalkan sesuatu
karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih balk. Hendaknya
mereka tidak berpuasa (menahan diri) dari sesuatu yang halal, kemudian berbuka dengan
sesuatu yang haram, kami memohon ampun kepada Allah untuk kami dan untuk mereka.

• Termasuk manfaat puasa secara sosial adalah membiasakan umat berlaku disiplin,
bersatu, cinta keadilan dan persamaan, juga melahirkan perasaan kasih sayang dalam diri
orang-orang beriman dan mendorong mereka berbuat kebajikan.
Sebagaimana ia juga menjaga masyarakat dari kejahatan dan kerusakan.

• Sedang di antara manfaat puasa ditinjau dari segi kesehatan adalah membersihkan usus-
usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan
makanan, mengurangi kegemukan dan kelebihan lemak di perut.

• Termasuk manfaat puasa adalah mematahkan nafsu. Karena berlebihan, balk dalam
makan maupun minum serta menggauli isteri, bisa mendorong nafsu berbuat kejahatan,
enggan mensyukuri nikmat serta mengakibatkan kelengahan.

• Di antara manfaatnya juga adalah mengosongkan hati hanya untuk berfikir dan
berdzikir.
Sebaliknya, jika berbagai nafsu syahwat itu dituruti maka bisa mengeraskan dan
membutakan hati, selanjutnya menghalangi hati untuk berdzikir dan berfikir, sehingga
membuatnya lengah. Berbeda halnya jika perut kosong dari makanan dan minuman, akan
menyebabkan hati bercahaya dan lunak, kekerasan hati sirna, untuk kemudian semata-
mata dimanfaatkan untuk berdzikir dan berfikir.

• Orang kaya menjadi tahu seberapa nikmat Allah atas dirinya. Allah mengaruniainya n
ikmat tak terhingga, pada saat yang sama banyak orang-orang miskin yang tak
mendapatkan sisa-sisa makanan, minuman dan tidak pula menikah. Dengan terhalangnya
dia dari menikmati hal-hal tersebut pada saat-saat tertentu, serta rasa berat yang ia hadapi
karenanya. Keadaan itu akan mengingatkannya kepada orang-orang yang sama sekali tak
dapat menikmatinya. Ini akan mengharuskannya mensyukuri nikmat Allah atas dirinya
berupa serba kecukupan, juga akan menjadikannya berbelas kasih kepada saudaranya
yang memerlukan, dan mendorongnya untuk membantu mereka.

• Termasuk manfaat puasa adalah mempersempit jalan aliran darah yang merupakan jalan
setan pada diri anak Adam. Karena setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran
darah. Dengan berpuasa, maka dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat
dan kemarahan. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan puasa sebagai
benteng untuk menghalangi nafsu syahwat nikah, sehingga beliau memerintah orang yang
belum mampu menikah dengan berpuasa ( Lihat kitab Larhaa’iful Ma’aarif, oleh Ibnu
Rajab, hlm. 163) sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim).

- Keutamaan Puasa

Puasa merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala
yang mana Allah menjanjikan keutamaan dan manfaat yang besar bagi yang
mengamalkannya,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi


wasallambersabda,

‫ث َول‬ ْ ‫حِدُكْم َفل َيْرُف‬َ ‫صْوِم َأ‬


َ ‫ن َيْوُم‬ َ ‫ َفِإَذا َكا‬.‫جّنٌة‬
ُ ‫صَياُم‬ ّ ‫ َوال‬.‫جِزي ِبِه‬ ْ ‫ َفِإّنُه ِلي َوَأَنا َأ‬.‫صَياَم‬ ِ ‫ن آَدَم َلُه إل ال‬ ِ ‫ل اْب‬
ِ ‫عَم‬َ ‫ل‬ ّ ‫ ُك‬:‫ل‬ّ‫ج‬َ ‫عّز َو‬
َ ‫ل‬ُ ‫لا‬
َ ‫َقا‬
‫عْنَد‬ِ ‫ب‬ُ ‫طَي‬
ْ ‫صاِئِم َأ‬
ّ ‫ف َفِم ال‬ ُ ‫خُلْو‬َ ‫ َل‬.‫حّمٍد ِبَيِدِه‬
َ ‫س ُم‬ُ ‫ن – َواّلِذي َنْف‬ ِ ‫صاِئٌم – َمّرَتْي‬ َ ‫ ِإّني‬:‫ل‬ ْ ‫ َفْلَيُق‬،‫حٌد َأْو َقاَتَلُه‬
َ ‫شاَتَمُه َأ‬
َ ‫ن‬ ْ ‫ َفِإ‬.‫ل‬ْ ‫جَه‬
ْ ‫ب َول َي‬ْ ‫خ‬
َ‫ص‬ْ ‫َي‬
‫صْوِمِه‬
َ ‫ح ِب‬َ ‫ي َرّبُه َفِر‬
َ ‫ َوِإَذا َلِق‬.‫طِرِه‬ْ ‫ح ِبِف‬ َ ‫طَر َفِر‬َ ‫ ِإَذا َأْف‬:‫حُهَما‬
ُ ‫ن َيْفَر‬ِ ‫حَتا‬
َ ‫صاِئِم َفْر‬
ّ ‫ َوِلل‬.‫سك‬ ْ ‫ح الِم‬ ِ ‫ن ِرْي‬ ْ ‫ل َيْوَم الِقَياَمِة ِم‬ِ ‫ا‬

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali
puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, puasa adalah
perisai, maka apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata-kata
keji, dan janganlah berteriak-teriak, dan janganlah berperilaku dengan perilakunya orang-
orang jahil, apabila seseorang mencelanya atau menzaliminya maka hendaknya ia
mengatakan: Sesungguhnya saya sedang berpuasa (dua kali), demi Yang diri
Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di
sisi Allah pada hari kiamat dari wangi kesturi, dan bagi orang yang berpuasa ada dua
kebahagiaan yang ia berbahagia dengan keduanya, yakni ketika ia berbuka ia berbahagia
dengan buka puasanya dan ketika berjumpa dengan Rabbnya ia berbahagia dengan
puasanya.” (HR Bukhari, Muslim dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

‫خِرْيف‬
َ ‫ن‬
َ ‫سْبِعْي‬
َ ‫ن الَناِر‬
ِ‫ع‬َ ‫جَهُه‬
ْ ‫ َو‬،‫ك الَيْوِم‬
َ ‫ ِبَذِل‬،‫ل‬
ُ ‫عَد ا‬
َ ‫ إل َبا‬.‫ل ال‬
ِ ‫سِبْي‬
َ ‫عْبٌد َيْوًما ِفي‬
َ ‫صْوُم‬
ُ ‫ل َي‬ ‫ًا‬.

“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali Allah akan
menjauhkan wajahnya dari api neraka (dengan puasa itu) sejauh 70 tahun jarak p
erjalanan.” (HR. Bukhari Muslim dan yang lainnya)

Sebagaimana jenis ibadah lainnya maka puasa haruslah didasari niat yang benar
yakni beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata serta dilaksanakan sesuai
dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Secara Syar’i makna puasa adalah “menahan diri dari makan, minum dan jima’
serta segala sesuatu yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari
dengan niat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala” ,

Maka jika seseorang menahan diri dari makan dan minum tidak sebagaimana
pengertian di atas atau menyelisihi dari apa yang menjadi tuntunan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam maka tentu saja ini merupakan hal yang menyimpang dari syariat,
termasuk perbuatan yang sia-sia dan bahkan bisa jadi mendatangkan kemurkaan Allah
subhanahu wa ta’ala,

ُ‫عْنه‬
َ ‫ل‬ ُّ ‫ي ا‬َ‫ض‬ ِ ‫ن َأِبي ُهَرْيَرَة َر‬ ْ‫ع‬ َ ‫ج‬ ِ ‫عَر‬ْ‫ل‬َْ ‫ن ا‬ْ‫ع‬َ ‫ن َأِبي الّزَناِد‬ ْ‫ع‬َ ‫ك‬ ٍ ‫ن َماِل‬ْ‫ع‬ َ ‫سَلَمَة‬
ْ ‫ن َم‬ُ ‫ل ْب‬
ِّ ‫عْبُد ا‬
َ ‫حّدَثَنا‬َ
‫ن َواّلِذي‬ ِ ‫صاِئٌم َمّرَتْي‬
َ ‫ل ِإّني‬ ْ ‫شاَتَمُه َفْلَيُق‬
َ ‫ن اْمُرٌؤ َقاَتَلُه َأْو‬ْ ‫ل َوِإ‬ْ ‫جَه‬
ْ ‫ل َي‬َ ‫ث َو‬ْ ‫ل َيْرُف‬َ ‫جّنٌة َف‬
ُ ‫صَياُم‬ّ ‫ل ال‬ َ ‫سّلَم َقا‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬ُّ ‫صّلى ا‬َ ‫ل‬ِّ ‫ل ا‬َ ‫سو‬ ُ ‫ن َر‬ّ ‫َأ‬
‫جِزي‬ ْ ‫صَياُم ِلي َوَأَنا َأ‬ ّ ‫جِلي ال‬ ْ ‫ن َأ‬ ْ ‫شْهَوَتُه ِم‬َ ‫شَراَبُه َو‬ َ ‫طَعاَمُه َو‬ َ ‫ك‬ ُ ‫ك َيْتُر‬ِ‫س‬ْ ‫ح اْلِم‬
ِ ‫ن ِري‬ ْ ‫ل َتَعاَلى ِم‬ ِّ ‫عْنَد ا‬
ِ ‫ب‬ ُ ‫طَي‬ْ ‫صاِئِم َأ‬
ّ ‫ف َفِم ال‬ُ ‫خُلو‬
ُ ‫سي ِبَيِدِه َل‬ِ ‫َنْف‬
‫شِر َأْمَثاِلَها‬ْ ‫سَنُة ِبَع‬
َ‫ح‬ َ ‫ِبِه َواْل‬

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu Az
Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu; Bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda :”Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya)
janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang
ucapannya dua kali).
Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang
sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena
dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku.

Puasa perisai api neraka

َ‫ن َأِبي ُهَرْيَرة‬


ْ‫ع‬َ ‫ج‬ ِ ‫عَر‬ْ‫ل‬ َْ ‫ن ا‬ْ‫ع‬َ ‫ن َأِبي الّزَناِد‬
ْ‫ع‬َ ‫ي‬ّ ‫حّدَثَنا اْلُمِغيَرُة َوُهَو اْلحَِزاِم‬
َ ‫ل‬
َ ‫سِعيٍد َقا‬
َ ‫ن‬
ُ ‫ب َوُقَتْيَبُة ْب‬
ٍ ‫ن َقْعَن‬
ِ ‫سَلَمَة ْب‬
ْ ‫ن َم‬
ُ ‫ل ْب‬
ِّ ‫عْبُد ا‬
َ ‫حّدَثَنا‬
َ
َ ‫عْنُه َقا‬
‫ل‬ َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬
َ ِ‫َرض‬
‫جّنٌة‬
ُ ‫صَياُم‬
ّ ‫سّلَم ال‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬ ُّ ‫صّلى ا‬
َ ‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬
ُ ‫سو‬ُ ‫ل َر‬َ ‫َقا‬

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab dan
Qutaibah bin Sa’id keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Mughirah Al
Hizami dari Abu Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, ia berkata;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa adalah perisai (yang akan
melindungi seseorang dari api neraka).”
Hadis riwayat Imam Muslim dalam sahihnya no hadis 1943
Ar rayyan untuk orang yang berpuasa

ُ‫عْنه‬
َ ‫ل‬ ُّ ‫ي ا‬َ‫ض‬
ِ ‫ل َر‬ ٍ ‫سْه‬َ ‫ن‬ ْ‫ع‬ َ ‫حاِزٍم‬ َ ‫حّدَثِني َأُبو‬ َ ‫ل‬َ ‫ل َقا‬ٍ‫ل‬ َ ‫ن ِب‬
ُ ‫ن ْب‬
ُ ‫سَلْيَما‬
ُ ‫حّدَثَنا‬
َ ‫خَلٍد‬
ْ ‫ن َم‬
ُ ‫خاِلُد ْب‬ َ ‫حّدَثَنا‬ َ
ُ ‫غْيُرُهْم ُيَقا‬
‫ل‬ َ ‫حٌد‬ َ ‫ل ِمْنُه َأ‬
ُ‫خ‬ ُ ‫ل َيْد‬َ ‫ن َيْوَم اْلِقَياَمِة‬
َ ‫صاِئُمو‬ّ ‫ل ِمْنُه ال‬ ُ‫خ‬ُ ‫ن َيْد‬
ُ ‫ل َلُه الّرّيا‬
ُ ‫جّنِة َباًبا ُيَقا‬ َ ‫ن ِفي اْل‬
ّ ‫ل ِإ‬
َ ‫سّلَم َقا‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫صّلى ا‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن الّنِب‬
ْ‫ع‬َ
‫حٌد‬َ ‫ل ِمْنُه َأ‬
ْ‫خ‬ُ ‫ق َفَلْم َيْد‬
َ ‫غِل‬
ْ ‫خُلوا ُأ‬َ ‫غْيُرُهْم َفِإَذا َد‬
َ ‫حٌد‬َ ‫ل ِمْنُه َأ‬
ُ‫خ‬ُ ‫ل َيْد‬
َ ‫ن‬ َ ‫ن َفَيُقوُمو‬
َ ‫صاِئُمو‬ّ ‫ن ال‬ َ ‫َأْي‬

Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Mukhallad telah menceritakan


kepada kami Sulaiman bin Bilal berkata, telah menceritakan kepada saya Abu Hazim dari
Sahal radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Dalam surga ada
satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang
yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali para shaimun (orang-orang yang
berpuasa).
Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka.
Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri
menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain
mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak
akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut”.
Hadis riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya no hadis 1763

- Hukum-hukum yang Berkaitan dengan Puasa

َ‫ن َقْبِلُكْم َلَعّلُكْم َتّتُقون‬


ْ ‫ن ِم‬
َ ‫عَلى اّلِذي‬
َ ‫ب‬
َ ‫صَياُم َكَما ُكِت‬
ّ ‫عَلْيُكمُ ال‬
َ ‫ب‬
َ ‫ن َءاَمُنوا ُكِت‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
‫خْيًرا‬
َ ‫ع‬َ ‫طّو‬ َ ‫ن َت‬ ْ ‫ن َفَم‬ٍ ‫سِكي‬ ْ ‫طَعاُم ِم‬
َ ‫طيُقوَنُه ِفْدَيٌة‬ ِ ‫ن ُي‬
َ ‫عَلى اّلِذي‬
َ ‫خَر َو‬
َ ‫ن َأّياٍم ُأ‬
ْ ‫سَفٍر َفِعّدٌة ِم‬
َ ‫عَلى‬
َ ‫ضا َأْو‬
ً ‫ن ِمْنُكْم َمِري‬
َ ‫ن َكا‬
ْ ‫ت َفَم‬
ٍ ‫َأّياًما َمْعُدوَدا‬
َ ‫ن ُكْنُتْم َتْعَلُمو‬
‫ن‬ ْ ‫خْيٌر َلُكْم ِإ‬
َ ‫صوُموا‬ ُ ‫ن َت‬ ْ ‫خْيٌر َلُه َوَأ‬
َ ‫َفُهَو‬

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang
sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak
hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang
berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi
makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan ,
maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. (QS.al-Baqarah:183-184)

• Definisi :
Puasa ialah menahan diri dari makan, minum dan bersenggama mulai dari terbit
fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari. Firman Allah Ta ‘ala:
ِ ‫صَياَم ِإَلى الّلْي‬
‫ل‬ ّ ‫جِر ُثّم َأِتّموا ال‬
ْ ‫ن اْلَف‬
َ ‫سَوِد ِمِم‬
ْ‫ل‬َْ ‫ط ا‬
ِ ‫خْي‬
َ ‫ن اْل‬
َ ‫ض ِم‬
ُ ‫لْبَي‬
َْ ‫ط ا‬
ُ ‫خْي‬
َ ‫ن َلُكُم اْل‬
َ ‫حّتى َيَتَبّي‬
َ ‫شَرُبوا‬
ْ ‫َوُكُلوا َوا‬
” …….dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu
fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam … “(Al-Baqarah:
187),

• Kapan dan bagaimana puasa Ramadhan diwajibkan ?


Puasa Ramadhan wajib dikerjakan setelah terlihatnya hilal, atau setelah bulan
Sya’ban genap 30 hari. Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal awal bulan
Ramadhan disaksikan seorang yang dipercaya, sedangkan awal bulan-bulan lainnya
ditentukan dengan kesaksian dua orang yang dipercaya.

• Siapa yang wajib berpuasa Ramadhan ?


Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap muslim yang baligh (dewasa), aqil
(berakal), dan mampu untuk berpuasa.

• Syarat wajibnya puasa Ramadhan ?

Adapun syarat-syarat wajibnya puasa Ramadhan ada empat, yaitu Islam, berakal,
dewasa dan mampu.

•Kapan anak kecil diperintahkan puasa ?


Para ulama mengatakan Anak kecil disuruh berpuasa jika kuat, hal ini untuk
melatihnya, sebagaimana disuruh shalat pada umur 7 tahun dan dipukul pada umur 10
tahun agar terlatih dan membiasakan diri.

• Syarat sahnya puasa. Syarat-syarat sahnya puasa ada enam :

1. Islam : tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk Islam.


2. Akal : tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.
3. Tamyiz : tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan (yang
baik dengan yang buruk).
4. Tidak haid : tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.
5. Tidak nifas : tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifas.
6. Niat : dari malam hari untuk setiap hari dalam puasa wajib. Hal ini
didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa
yang tidak berniat puasa pada malam hari s ebelum fajar, maka tidak sah
puasanya. “(HR.Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i dan At-
Tirmidzi. Ia adalah hadits mauquf menurut At-Tirmidzi.
Dan hadits ini menunjukkan tidak sahnya puasa kecuali diiringi dengan
niat sejak malam hari, yaitu dengan meniatkan puasa di salah satu bagian malam.

− Hikmah Puasa Rhamadan

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah
diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang
bertaqwa.” (S.al-Baqarah:183)
PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa
(seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai
terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya
dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.
RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah
gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah
diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat
ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang
menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.
Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran,
kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus,
percaya pada diri sendiri, dsb.
Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan
minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah
Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi
mematuhi perintah Allah s.w.t.
Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:”Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi
dengan:” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.”Jadi jelaslah bagi kita puasa
Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri
kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari
perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya,
merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat
lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:

“Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu I
alah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.” (H.R.Ibnu Khuzaimah)
Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu b
ukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani
manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita
senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam.
Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang
selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita
dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.
Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan rohani dan
jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka
hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia saja.
Allah berfirman yang maksudnya:
“Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (s.al-A’raf:31)
Nabi s.a.w.juga bersabda:
“Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang.”
Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita
makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita.
Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung,
darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah
secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan R
amadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah kita akan b
ertemu kembali.

Allah berfirman yang maksudnya: “Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran p


impinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran itu, dan yang
memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan)
Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa.
(s.al-Baqarah:185)
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

Memang segala sesuatu harus diketahuai ilmunya dan dasar-dasar yang mendasari
sesuatu hal,sehingga seseorang akan mau dan mampu mempelajari dan mengamalkan
sesutuatuhal lebih banyak dan dengan baik sepertipula puasa, maka seseorang itu akan
melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh kalo tahu manfaatnya dan hokum-hukum
yang mendasari sebuah amalan.Jadi jadikanlah bulan suci Ramadhan ini sebagai bulan
untuk berprestasi seperti halnya Rasulullah saw. Para sahabat dan orang-orang saleh
sebagai bulan untuk berprestasi kepada Allah.
Jagan sia-siakan kesempatan terbaik ini karena kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil
oleh Allah Swt.Bulan Ramadhan merupakan hadiah besar yang langsungsung dberikan
Allah . Bagi umat islam sebagai sarana penyucian diri, Insya Allah,orang termalangpun
bias sukses apabila melaksanakan puasa dengan baik dan benar. Oleh karena itu segeralah
mengejar ilmunya dan amalkan dengan sungguh-sungguh.

DAFTAR PUSTAKA

Gymnastiar,Abdullah KH (2002). Aa Gym dan Fenomena Daarut Tauuhiid.


Bandung: Mizan