Anda di halaman 1dari 12

1

USAHA –USAHA MEMINIMALISIR HAMBATAN KOMUNIKASI ORGANISASI SECARA


EFEKTIF DAN EFISIEN DALAM PENCAPAIAN TUJUAN BERSAMA

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah

Dalam menjalin relasi dengan orang lain yang ada di dalam ataupun diluar
organisasi, kita membutuhkan komunikasi dalam mencapai keinginan individu atau
tujuan bersama, sebagaimana dikemukakan oleh Katherine Miler “ Organizational
communication, broadly speaking is : people working together to achieve individual
or collective goal ”. Dalam dunia kerja, komunikasi merupakan satu hal yang paling
penting dan menjadi bagian dari tuntutan profesi (keahlian)1.

Kadang-kadang penyebab rusaknya hubungan antar individu dalam suatu


organisasi, misalnya antara manajer atau supervisor dengan karyawan atau di antara
karyawan itu sendiri adalah adanya miskomunikasi yang terjadi sehingga apabila hal
tersebut dibiarkan akan membuat proses penyampaian program yang berisi pesan
dari manajer kepada bawahan akan membuat pelaksana terdepan tidak dapat
melaksanakan tujuan atau cita-cita yang telah disepakati bersama.

Selain berfungsi memperlancar dan mengarahkan pekerjaan menuju tujuan


yang ditetapkan organisasi. Komunikasi juga merupakan sarana mengevaluasi dan
memperoleh informasi keluhan bawahan dalam melaksanakan tugasnya sehingga
manajer dapat memiliki keputusan yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan
yang terjadi dalam organisasi. Menurut Wilbur Schramm, seorang ahli komunikasi
dalam karyanya communication research in the USA. Komunikasi akan berhasil
apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator sesuai dengan kerangka acuan
[frame of reference) paduan pengalaman dan pengertian [collection of experiences
and meanings] yang pernah diperoleh komunikan2..

Untuk bisa berkomunikasi dengan baik dibutuhkan tidak hanya bakat, tapi
terutama kemauan untuk melakukan proses belajar yang kontinu. Keterampilan
berkomunikasi yang baik meliputi kemampuan dasar untuk mengirim dan
menguraikan pesan secara akurat dan efektif untuk memperlancar pertemuan, untuk
memahami cara terbaik dalam penyebaran informasi dalam sebuah organisasi, serta
untuk memahami makna simbolis tindakan-tindakan seseorang sebagai manajer.
Walaupun demikian, terlalu sering kita melakukan pendekatan dengan suatu
pertukaran tanpa mempertimbangkan bagaimana pihak lain bereaksi. Pesan yang
kita sampaikan seringkali terlalu berorientasi kepada diri sendiri, sehingga apa yang
terjadi dengan pihak lain menjadi sesuatu yang terabaikan.
2

2. Rumusan Permasalahan

Simbol-simbol bahasa yang digunakan dalam suatu pesan dapat berwujud


verbal maupun nonverbal. Pesan verbal merupakan pesan yang diucapkan oleh
pengirim, sedangkan pesan nonverbal dapat berupa gerak-gerik atau sikap dari si
pengirim pesan. Komunikasi sering menemukan kegagalan apabila terjadi
ketidaksesuaian antara pesan verbal yang disampaikan dengan pesan nonverbal
yang tampak Meskipun pembicara kadang-kadang telah berusaha mengubah
perilakunya untuk menciptakan suatu ekspresi tertentu pada pendengarnya, akan
tetapi perilaku nonverbal secara umum ternyata sulit untuk diatur3. Sebagai contoh,
kebohongan seseorang dapat diamati dari cara dia berperilaku pada saat dia
mengatakan kebohongan itu. Ketika seorang pembicara berkata satu hal dan bahasa
tubuhnya mengatakan yang lain, kita akan mengakui keakuratan bahasa nonverbal.
Komunikasi yang efektif ditentukan oleh tingkat penerimaan dan pemahaman
terhadap arti pesan yang diharapkan.

Ada beberapa bagian dalam proses ini yang dapat mengganggu kelancaran
berkomunikasi. Sebagai contoh, penerima mungkin tidak mengerti simbol-simbol
bahasa. Bahasa dalam arti yang luas seringkali memberikan simbol dan bentuk yang
hanya tepat untuk berkomunikasi dalam suatu organisasi tertentu saja, dalam satu
lingkungan saja. Atau kadang-kadang juga pengirim terbawa oleh kemampuannya
untuk memanipulasi bahasa dan dengan kurang hati-hati mencampuradukkan pesan
dengan pesan yang tidak dapat dimengerti oleh si penerima4. Akibatnya penerima
pesan tidak dapat memahami apa yang disampaikan oleh si pengirim.

Untuk dapat mensinkronisasikan komunikasi yang disampaikan dan


pendengar dapat memahami arti suatu komunikasi yang disampaikan sehingga
terjadi feed back atas informasi yang diterima tentunya tidaklah mudah, sehingga
dalam tulisan ini penulis mencoba menganalisis antara lain :

a. Bagaimana proses komunikasi dalam organisasi dapat menjadi kekuatan


yang sangat signifikan dalam mencapai tujuan organisasi yang telah
ditentukan sebelumya ?

b. Apa saja yang menjadi hambatan – hambatan dalam proses Komunikasi


Organisasi baik di dalam internal organisasi itu sendiri maupun hubungannya
dengan pihak luar organisasi ?

c. Bagaimana cara untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam proses


komunikasi organisasi tersebut diatas ?
3

BAB II
PEMBAHASAN

3. Analisis dan Pemecahan Masalah

3.1. Elemen-elemen Komunikasi

Sebelum mencoba mencari solusi pemecahan masalah dalam proses


komunikasi dalam organisasi, baik kiranya kita mengetahui apa saja elemen –
elemen dalam komunikasi. Pengirim, penerima, bahasa, pesan, model, dan
saluran (channel) merupakan keseluruhan elemen proses komunikasi. Pengirim
men-transmit komunikasi. Penerima mendapatkan dan menguraikan kodenya.
Pengirim bervariasi dalam hal kemampuannya untuk membangun dan
mengirimkan pesan, dan penerima bervariasi dalam hal kemampuannya
menerima dan memahami pesan. Pesan dibangun dari simbol-simbol bahasa
yang digunakan dalam beberapa model komunikasi dan dikirimkan melalui suatu
saluran komunikasi. Pesan disampaikan secara oral/lisan maupun tulisan.
Komunikasi formal bergerak melalui organisasi saluran yang terstruktur.
Komunikasi informal mengalir diluar struktur organisasi yang formal5.
Komunikasi adalah pertukaran dalam kondisi volley. Jadi, begitu pesan dikirimkan,
pesan balasan segera dikirim kembali. Pesan seringkali berperilaku sebagai
respon atau feedback (umpan balik) bagi si pengirim pesan. Pesan umpan balik itu
memungkinkan pengirim untuk mengevaluasi efektifitas pesan yang terdahulu.

3.2 Model dan Tujuan Komunikasi

Komunikasi tertulis mempunyai makna yang formal dalam penyampaian


informasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Pesan tertulis merupakan sesuatu
yang nyata (tangible). Ia memberikan suatu dokumen tentang tindakan organisasi
dan dapat ditinjau kembali serta dipelajari. Satu hal yang menjadi perhatian utama
seseorang yang mengirim pesan bisa jadi bahwa diharapkan penerima benar-
benar menerimanya. Penelitian menunjukkan bahwa pesan yang telah ditulis dan
dikirimkan tidak berarti bahwa orang yang dituju telah membaca dan
memahaminya. Sebagaimana diungkapkan bahwa “The type of organization
assumes there is a little for two way exchange between organizational level except
as they are initiated by a higher level because massage from are considered to be
more important than those from subordinates” 6.

Sebagian besar interaksi yang diperlukan dalam organisasi adalah melalui


komunikasi oral/lisan. Suatu model dasar komunikasi lisan adalah interview.
Interview merupakan suatu interaksi lisan antara dua orang atau lebih yang
4

menyebarkan atau mempertukarkan informasi (Hunt, 1980). Interview dapat


dilakukan untuk berbagai tujuan antara lain :

a. Tujuannya yang pertama adalah untuk mempengaruhi sikap dan


perilaku seseorang. Sebagai contoh, seseorang dapat diarahkan,
dilatih, diawasi, dan dimotivasi melalui interview tatap muka (face-to-
face).

b. Tujuan yang kedua adalah untuk menyampaikan informasi tentang


nilai dan iklim organisasi (Katz & Kahn, 1978). Penelitian telah
mengindikasikan bahwa kualitas komunikasi itu sendiri mencerminkan
sifat dasar iklim sosial organisasi (O’Driscoll & Evans, 1988). Sebagai
contoh, dalam suatu studi, bawahan melaporkan bahwa ia merasakan
dukungan sosial yang lebih banyak ketika mereka mampu mengawali
interview mereka sendiri dengan supervisornya7.

c. Tujuan yang ketiga diajukan oleh Ford dan Ford (1995) yang
mengusulkan bahwa komunikasi lisan antar manajer tingkat tinggi
mendorong kekuatan program perubahan organisasi.Interview terjadi
setiap hari dalam organisasi, dimana anggota organisasi bertemu
dengan bawahan, rekan setingkat, dan para atasan. Mereka bertukar
informasi pada apa yang mereka kerjakan, pada mengapa suatu
jabatan sebaiknya dikerjakan dengan cara yang tertentu, dan pada
seberapa baik mereka melaksanakannya8.

Misinterpretasi dapat muncul pada komunikasi ini, terutama ketika


partisipan datang dari kultur yang berbeda. Perusahaan internasional telah
menemukan bahwa penjelasan persyaratan pekerjaan harus dilakukan dengan
hati-hati. Dalam organisasi di Jepang, sebagai contoh, menemukan sejumlah
strategi yang menolong dalam penciptaan komunikasi yang efektif, termasuk
humor, keluhan kooperatif, dan penggunaan ungkapan orang Jepang dan Inggris
(Miller, 1995).
5

3.3 Arah Komunikasi

Komunikasi organisasi berbeda sesuai dengan apakah tujuan pokoknya


mengirim informasi kebawah, ataukah pada arah yang horisontal. Komunikasi
kebawah membawa informasi yang berhubungan dengan tugas pada seseorang
yang melakukan tugas tersebut. Ia juga membawa informasi tentang kebijakan
dan prosedur, serta bisa jadi digunakan untuk feedback yang bersifat motivasional
pada karyawan. Komunikasi lateral atau horisontal terjadi antar rekan kerja.
Anggota tim dan departemen harus berkomunikasi untuk memperluas hubungan
kerja mereka. Karena jalur otoritas tidak berseberangan, maka komunikasi lateral
ini lebih cepat daripada komunikasi ke atas atau ke bawah secara
hirarkis. Komunikasi keatas membawa informasi dari tingkat bawah ke tingkat
atas organisasi. Informasi itu mungkin concern pada aktivitas lingkungan luar atau
internal pada tingkat bawah organisasi9.

Para pimpinan organisasi menerima feedback tentang efektifitas


keputusan yang telah diambilnya. Anggota tingkat bawah mempunyai kesempatan
untuk menginformasikan dan mengajukan keluhan, dan memberikan saran untuk
pengembangan. Pesan lebih mungkin untuk dimengerti ketika sebuah pertukaran
terjadi daripada ketika penerima tidak membuat respon apapun. Dengan
komunikasi satu-arah, informasi dikirim ke bawah dari pimpinan kepada anggota.
Pimpinan tidak menanyakan atau tidak mengharapkan suatu respon. Tentu saja,
jika tidak ada komunikasi keatas, maka akan sangat sulit mengetahui apakah
pesan pimpinan telah dapat diterima. Pada komunikasi dua-arah, penerimaan
pesan dapat diperjelas sebab suatu respon diharapkan kemunculannya.
Komunikasi dua-arah ini memungkinkan misunderstanding/ kesalah-pahaman
dapat dijernihkan. Para teoritikus human relation, berusaha mendorong ke arah
terbukanya komunikasi antara para pimpinan dan anggota-anggotanya.
Komunikasi terbuka merupakan penyingkapan informasi personal dan/atau yang
berhubungan dengan pekerjaan10. Dua isu sentral dari konsep itu adalah kejujuran
dalam menyingkap informasi dan keikhlasan dalam menerimanya sehingga terjadi
persamaan persepsi dalam proses mengirim atau menerima informasi.

3.4 Distorsi dan Hilangnya Komunikasi

Sebagai informasi yang dikirim kebawah dari pimpinan kepada anggota


organisasi melalui suatu jaringan yang terbatas, seperti jaringan rantai, ia diubah
melalui proses Filtering11. Pimpinan tingkat menengah menyaring informasi yang
mereka terima dan teruskan. Mereka menghilangkan beberapa bagian dari
informasi itu dan menambah detil pada bagian yang lain. Mereka mengirimkannya
kepada beberapa bawahan tetapi tidak seluruhnya.
6

Pada setiap tingkatan yang dilalui oleh sebuah pesan, seorang pimpinan
memutuskan seberapa banyak informasi yang perlu dikirimkan. Jelasnya, dengan
sembrono, pesan awalnya menjadi berubah. Informasi hilang, dan pesan menjadi
terdistorsi. Seberapa seriuskah masalah filtering ini ? Sebagaimana diungkapkan
oleh Nichols beberapa pihak telah melaporkan bahwa sebanyak 80% informasi
hilang sebagai pesan yang turun dari atas ke bawah organisasi, mengindikasikan
bahwa filtering dapat menjadi masalah besar12.

Bagaimanapun juga, filtering seringkali diperlukan. Komunikasi tentang


kebijakan dan prosedur organisasi mungkin butuh diterjemahkan ke dalam bahasa
yang relevan dengan tugas sebelum mereka dikirim kepada anggota. Filtering
terjadi pada komunikasi keatas dengan cara yang sama. Pimpinan menengah
merangkum informasi dari tingkat bawah sebelum mengirimnya kepada pimpinan
tingkat di atasnya. Ini mungkin perlu jika atasan tidak memiliki waktu atau keahlian
teknis untuk mengkaji dan mengerti pesan aslinya. Anggota mungkin juga
menyaring informasi sebelum mereka mengirimnya kepada seorang atasan.

Beberapa informasi ditahan ketika komunikasi berisikan berita buruk atau


ketika atasan di atasnya tidak dipercaya. Kesalahan umum dalam komunikasi
keatas adalah penghilangan detail yang penting (Gaines, 1980). Detail yang
dihilangkan dari pesan ini seringkali dibelokkan dalam saluran komunikasi lateral.
Sehingga informasi yang seharusnya diberikan akan menjadi kehilangan makna
dari sebelumnya13.

3.5 Hambatan Komunikasi

Beberapa hambatan yang sering terjadi dalam proses komunikasi dalam


organisasi antara lain Hambatan Teknis, hambatan semantik dan hambatan
manusiawi14.

a. Hambatan Teknis

Keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi. Dari sisi teknologi, semakin


berkurang dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan teknologi
komunikasi dan informasi, sehingga saluran komunikasi dapat diandalkan
dan efesien sebagai media komunikasi. Jenis hambatan teknis dari
komunikasi yaitu tidak adanya rencana atau prosedur kerja yang jelas,
kurangnya informasi atau penjelasan, kurangnya ketrampilan membaca,
pemilihan media [saluran] yang kurang tepat14.

b. Hambatan Semantik
7

Gangguan semantik menjadi hambatan dalam proses penyampaian


pengertian atau idea secara secara efektif. Definisi semantik sebagai studi
atas pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa. Kata-kata membantu
proses pertukaran timbal balik arti dan pengertian [komunikator dan
komunikan], tetapi seringkali proses penafsirannya keliru. Tidak adanya
hubungan antara Simbol [kata] dan apa yang disimbolkan [arti atau
penafsiran], dapat mengakibatkan kata yang dipakai ditafsirkan sangat
berbeda dari apa yang dimaksudkan sebenarnya. Untuk menghindari mis
komunikasi semacam ini, seorang komunikator harus memilih kata-kata
yang tepat sesuai dengan karakteristik komunikannya, dan melihat
kemungkinan penafsiran terhadap kata-kata yang dipakainya.

c. Hambatan Manusiawi

Terjadi karena adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi,


kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-
alat pancaindera seseorang, dll. Menurut Cruden dan Sherman15 :

1) Hambatan yang berasal dari perbedaan individual manusia.


Perbedaan persepsi, perbedaan umur, perbedaan keadaan emosi,
ketrampilan mendengarkan, perbedaan status, pencairan informasi,
penyaringan informasi.

2) Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam organisasi.


Suasana iklim kerja dapat mempengaruhi sikap dan perilaku staf dan
efektifitas komunikasi organisasi.

3.6 Mengatasi kendala Komunikasi dalam Organisasi

Beberapa solusi yang dapat ditawarkan dalam mengatasi kendala-kendala


yang muncul dalam proses komunikasi organisasi antara lain :

a. Hubungan Antar Pesona

Menciptakan hubungan intim yang dimiliki dengan orang-orang lain dalam


tingkat pribadi, antar teman, sesama sebaya ataupun dengan atasan,
biasanya disebut hubungan antar persona16. Suatu anailisis khusus tentang
hubungan antar pesona menyatakan bahwa kita akan berhasil menciptakan
komunikasi dalam organisasi bila melakukan hal-hal berikut ini :

1) Menjaga kontak pribadi yang akrab tanpa menumbuhkan perasaan


bermusuhan
8

2) Menetapkan dan menegaskan identitas kita dalam hubungan dengan


orang lain tanpa membesar-besarkan ketidaksepakatan.
3) Menyampaikan informasi kepada oranglain tanpa menimbulkan
kebingunngan, kesalahpahaman, penyimpangan, atau perubahan lainnya
yang disengaja
4) Terlibat dalam pemecahan masalah yang terbuka tanpa menimbulkan
sikap mbertahan atau menghentikan proses
5) Membantu orang-orang lainnya untuk mengembangkan gaya hubungan
persona dan antar pesona yang efektif
6) Ikut serta dalam interaksi social informal tanpa terlibat dalam muslihat
atau gurauan atau hal-hal lainnya yang menggangu komunikasi yang
menyenangkan

Hubungan antar pesona cenderung menjadi lebih baik bila kedua belah pihak
melakukan hal-hal berikut yaitu menyampaikan perasaan secara langsung dan
dengan cara yang hangat dan ekspresif, menyampaikan apa yang terjadi
dalam lingkungan pribadi mereka melalui penyingkapan diri, menyampaikan
pemahaman yang positif, hangat kepada satu sama lainnya dengan
memberikan respons-respons yang relevan dan penuh pengertian, bersikap
tulus kepada satu sama lain dengan menunjukan sikap menerima secara
verbal maupun non verbal, selalu menyampaikan pandangan positif tanpa
syarat terhadap satu sama lainnya dalam perbincangan yang tidak
menghakimi dan ramah, berterus-terang mengapa menjadi sulit atau bahkan
mustahil untuk sepakat satu sama lainnya dalam perbincangan yang tidak
menghakimi, cermat, jujur, dan membangun.

b. Hubungan Posisional

Hubungan posisional ditentukan dengan pendekatan struktur dan tugas-tugas


fungsional anggota organisasi. Menurut Koontz dan O’Donnel (1968) untuk
mengatasi kesalahan umum yang merintangi kinerja efektif dan efisien individu
dalam organisasi yang disebabkan ketidaklancaran proses komunikasi di
organisasi17 adalah ;

1) Merencanakan penempatan / pengaturan jabatan secara benar


Sebagian dari kegagalan untuk merencanakan dengan benar lebih banyak
terletak pada pengaturan orang-orang dari jabatan yang diberikan dari atasan
sehingga pada akhirnya terjadi kegagalan dalam komunikasi horizontal dan
vertikal yang ada dalam organisasi. Untuk dapat mencairkan kondisi tersebut
ada baiknya melakukan rencana penempatan orang-orang yang ada di
organisasi dengan berdasarkan kemampuan dan kesenioritasan yang diakui
oleh individu-individu yang ada dalam organisasi
9

2) Berusaha menjernihkan hubungan


Kegagalan untuk menjernihkan hubungan organisasi menimbulkan
kecemburuan, percekcokan, ketidakamanan, ketidakefisienan,dan pelepasan
tanggung jawab lebih banyak dari kesalahan lainnya dalam pengorganisasian.
Untuk itu perlu adanya individu yang dapat menjadi jembatan untuk
mencairkan situasi kebekuan komunikasi horizontal dan vertikal antar sesama
rekan dan antara bawahan – atasan..

c. Hubungan Berurutan

Informasi disampaikan ke seluruh organisasi formal oleh suatu proses; dalam


proses ini orang dipuncak hierarki mengirimkan pesan ; kepada orang kedua yang
kemudian mengirimkannya lagi kepada orang ketiga. Reproduksi pesan orang
pertama menjadi pesan orang kedua, dan reproduksi pesan orang kedua menjadi
pesan orang ketiga. Tokoh kunci dalam sistem ini adalah pengulang pesan
(relayor)18.

A.G. Smith (1973) memperkenalkan empat fungsi dasar yang dilakukan seorang
pengulang pesan, yaitu :menghubungkan, menyimpan, merentangkan dan
mengendalikan. Para pengulang pesan adalah orang-orang perantara – penengah
antara pengirim dan penerima. Mereka menghubungkan unit-unit sistem dengan
menyelaraskan unit-unit tersebut satu sama lainnya19. Adakalanya pengulang
pesan mengubah pesan yang dibawanya untuk tujuan menghasilkan
keharmonisan antara unit-unit dalam sistem tersebut, namun mengubah pesan
bertentangan dengan etika memelihara dan melestarikan sistem. Meskipun
demikian, dengan mengatur penyampaian, penyimpanan, dan penafsiran pesan,
seorang pengulang pesan melakukan pengendalian atas sistem komunikasi.

BAB III
PENUTUP

4. Kesimpulan

Elemen-elemen penting dalam komunikasi antara lain pengirim, penerima,


bahasa , pesan, model dan saluran dimana begitu pesan dikirimkan, maka pesan
balasan segera dikirim kembali. Pesan seringkali berperilaku sebagai respon atau
feedback (umpan balik) bagi si pengirim pesan. Pesan umpan balik itu
memungkinkan pengirim untuk mengevaluasi efektifitas pesan yang terdahulu.
Sebagian besar komunikasi yang dilakukan dalam organisasi adalah melalui
10

komunikasi oral/lisan. Suatu model dasar komunikasi lisan adalah interview.


Interview merupakan suatu interaksi lisan antara dua orang atau lebih yang
menyebarkan atau mempertukarkan informasi. Para pimpinan organisasi menerima
feedback tentang efektifitas keputusan yang telah diambilnya. Anggota tingkat bawah
mempunyai kesempatan untuk menginformasikan dan mengajukan keluhan, dan
memberikan saran untuk pengembangan. Pesan lebih mungkin untuk dimengerti
ketika sebuah pertukaran terjadi daripada ketika penerima tidak membuat respon
apapun. Hal ini yang menjadikan proses komunikasi menjadi hal yang sangat
signifikan dalam usaha mencapai tujuan yang telah disepakati.

Pada setiap tingkatan yang dilalui oleh sebuah pesan, seorang pimpinan
memutuskan seberapa banyak informasi yang perlu dikirimkan. Jelasnya, dengan
sembrono, pesan awalnya menjadi berubah. Informasi hilang, dan pesan menjadi
terdistorsi. Beberapa pihak telah melaporkan bahwa sebanyak 80% informasi hilang
sebagai pesan yang turun dari atas ke bawah organisasi, mengindikasikan bahwa
filtering dapat menjadi masalah besar. Hambatan yang pada umumnya terjadi dalam
komunikasi biasanya terjadi disebabkan hambatan tehnis ( keterbatasan fasilitas dan
peralatan komunikasi ), hambatan semantik ( salah penafsiran informasi yang
diterima ) dan hambatan manusiawi ( faktor emosi, prasangka pribadi dan ketidak
cakapan panca indera ).

Dalam mengatasi kendala komunikasi dalam organisasi terdapat beberapa


solusi untuk meminimalisir yaitu Menciptakan hubungan intim yang dimiliki dengan
orang-orang lain dalam tingkat pribadi, antar teman, sesama sebaya ataupun dengan
atasan, biasanya disebut hubungan antar pesona. Kemudian perencanaan /
pengaturan jabatan secara benar dan usaha untuk menjernihkan hubungan serta
membuat reproduksi pesan orang pertama menjadi pesan orang kedua, dan
reproduksi pesan orang kedua menjadi pesan orang ketiga. Tokoh kunci dalam
sistem ini adalah pengulang pesan (relayor).

5. Rekomendasi

Beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan dalam tulisan ini antara lain
pentingnya seorang atasan dan bawahan untuk dapat membuka komunikasi secara
efektif dan efisien sehingga roda organisasi dapat berjalan dengan lancar dalam
mencapai tujuan ( goal ) yang telah ditentukan. Kemudian seluruh individu yang
tergabung dalam sistem organisasi hendaknya menyadari perlunya
ketanggapsegeraan untuk meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi dengan
melakukan beberapa pendekatan / solusi yang ditawarkan yaitu menciptakan
hubungan antar persona yang intim, memperbaiki hubungan posisional sehingga
dapat menjernihkan hubungan antar individu dan setiap individu yang berkompeten
agar memposisikan diri menjadi pengulang pesan ( relayor ).
11

Demikian Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang dberikan oleh
Dosen Mata Kuliah Perilaku Organisasi, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh
dari sempurna maka penulis meminta koreksi, saran dan kritik yang membangun
dari para dosen dan pembaca demi lebih baiknya makalah ini kedepan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gergen, Kenneth and Tojo Joseph. . "Psychological Science in a Postmodern


Context. “, Oktober 2001
2. Pace R. Wayne and Faules, Don F, “Komunikasi Organisasi” ,ROSDA, Bandung
2000
3. Jiwanto, Gunawan., “Komunikasi dalam Organisasi”, PusatPengembangan
Manajemen & Andi Offset, Yogyakrta 1985
4. Leon Festinger, "Informal Social Communication", in Dorwin Cartwright and Alvin
Zander, Group Dynamics, New York: Harper & Row, 1968,
5. Uchjana Effendi, Onong.,” Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek”, Remaja
Rosdakarya, Bandung 1992
6. Wikipedia Encyclopedia, “Organization Communication”, hhtp/www.wikipedia.com,
2008
7. Uma Sekaran, “Research Method for Communication Organization: A. Skill Building
Approach”, John Wiley & Sons Inc, New York, 2000
8. Kirmeyer & Lin, “Communication Patterns in Task-Oriented Groups,", Cartwright and
Zander Group Dynamics, michigan, 1992
9. Suwarsono dan Alvin Y, ” Perubahan Kontemporer Komunikasi Individu”, LP3ES,
Jakarta, 2001
10. Ido Hadi Priono,“Pengantar Komunikasi Organisasi”, hhtp/www.ukpetra.edu.id, 2006
11. Robert Bonnington dan Berverd E. Needles, Jr. “ Modern Communication : A
Sistems Approach”, Warthon Publishing, 2004
12. Smith and Williamson,” Distortion and Communication Missing”, University of
Chicago Press, 1991
13. Wood, Julia T, ”Interpersonal Communication : Eveyday Encounters “,Thomson &
Co,Singapore, 1997.
14. Cruden & Sherman, “Personel Management”, Prentice Hall, Minnesota, 1989
15. . Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat, “Komunikasi Antar Individu” Edisi kedua ,
PT Remaja Rosda Karya., Bandung, 1988
16. Drs. Soleh Soemirat MS dan Drs. Elvinando Ardianto, “Dasar-dasar Public Relation”,
CV Swara Gama, Bandung , 2002
17. Jiwanto, Gunawan., “Komunikasi dalam Organisasi”, Pusat Pengembangan
Manajemen & Andi Offset, Yogyakrta, 1985
12

18. C. R Rogers; Fritz Jules Roethlisberger, “Barriers and gateways to communication”,


Boston, Mass.: Harvard Business Review, 1990
19. Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat, “Komunikasi Antar Individu” Edisi kedua ,
Hal 112, PT Remaja Rosda Karya., Bandung, 1988