Anda di halaman 1dari 8

Mengorkestrasi Landasan yang Kukuh

Makalah
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Belajar dan Pembelajaran
Yang dibina oleh Ibu Wiwiek

Oleh:

Diah Nur Alfi S.S

PROGRAM STUDI S1 PGSD


JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRA SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Oktober 2008
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, bila berbagai aspek
yang ada saling mendukung. Salah satu dari sekian banyak aspek, yaitu lingkungan.
Lingkungan yang baik dapat menjadikan proses transfer ilmu berjalan dengan lancar.
Namun kenyataan, tidak sedikit sekolah-sekolah yang belum berusaha dengan
maksimal untuk mengkondisikan lingkungan belajar mereka. Lingkungan yang ditata
untuk memacu dan mendukung belajar serta meningkatkan kemampuan siswa. Masih
banyak kelas yang rusak, susunan bangku yang berantakan, atau dinding kelas kosong
yang tidak dimanfaatkan, misalnya dengan poster pendidikan.
Dhority dalam Bobbi DePorter mengatakan bahwa, “Segala sesuatu dalam
lingkungan kelas menyampaikan pesan yang memacu atau menghambat belajar”. Jadi,
penataan lingkungan mempengaruhi berjalanannya proses belajar yang lancar. Dari cara
pengaturan bangku, penyusunan persediaan pembelajaran, sampai tingkat kerapian dan
kebersihan kelas semuanya mempengaruhi.

C. Rumusan Masalah
1. Apakah penataan lingkungan berpengaruh dalam menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan?
2. Bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang optimal?

B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah yaitu:
1. Mengetahui cara menciptakan lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik
maupun mental.
2. Mengetahui berbagai alat bantu yang dapat digunakan untuk mendukung
lingkungan belajar yang menyenangkan.
PEMBAHASAN

Lingkungan belajar mempengaruhi kemampuan siswa untuk berfokus dan


menyerap informasi. Seorang pengajar dapat menyempaikan isi lebih banyak dan siswa
dapat mengerti dan mengingat lebih banyak dengan mengubah lingkungan kelas.
Karena kita tau bahwa belajar itu bertaraf ganda. Belajar terjadi baik secara sadar
maupun tidak sadar dalam waktu bersama. Otak kita senantiasa dibanjiri stimulus dan otak
memilih fokus tertentu saat demi saat. Lozanov (1979) dalam Bobbi DePorter mengatakan
bahwa, “Meskipun kita secara sadar hanya memperhatikan masukan satu-satu, otak mampu
secara tak sadar memperhatikan banyak hal dari banyak sumber sekaligus”. Sehingga
menciptakan lingkungan belajar yang optimal, baik secara fisik maupun mental, dengan
membuat suasana belajar yang nyaman dan santai dapat mendukung pembelajaran yang
maksimal.

A. Lingkungan Sekitar
Sebuah gambar lebih berarti daripada seribu kata (Bobbi DePorter dkk, 2000).
Menggunakan alat peraga dalam situasi belajar, bukan hanya mengawali proses belajar
dengan cara merangsang modalitas visual. Alat peraga juga secara harfiah menyalakan
jalur syaraf untuk menyediakan konteks yang kaya untuk pembelajaran yang baru.
Memahami kaitan antara pandangan sekeliling dan otak itu penting untuk mengorkestrasi
lingkungan belajar yang mendukung.
Dilts (1970) dalam DePorter dkk, “Kita telah mengetahui bahwa gerakan mata
selam belajar dan berpikir terikat modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan kata
lain mata kita bergerak menurut cara otak mengakses informasi”. Umumnya seseorang
menyimpan dan menciptakan citra visual dalam kepala masing-masing, sehingga mata
seseorang bergerak ke tempat informasi itu disimpan. Jadi seorang guru dapat dengan
mudah memanfaatkan kemampuan siswa untuk secara tidak sadar menyerap informasi
melalui kemitraan otak mata. Ada beberapa hal yang dapat digunakan:

1. Poster Ikon
Menciptakan poster Ikon atau simbol untuk setiap utama yang akan guru ajarkan.
Kemudian memajang poster-poster Ikon tersebut untuk melihat konsep atau gambaran
keseluruhan dari bahan pelajaran. Ini akan membentuk penciptaan, penyimpanan, dan
pencarian informasi secara visual.
2. Poster Afirmasi
Membuat poster Afirmasi untuk menguatkan dialog internal siswa, sehingga dapat
juga memperkuat keyakinan tentang belajar dan tentang isi pelajaran yang diajarkan.

B. Alat Bantu
Alat Bantu tidak hanya membantu pelajaran visual, tetapi juga dapat pula
membantu modalitas kinestetik. Siswa yang kreatif dapat memegang alat Bantu dan
mendapatkan sesuatu hal dari ide yang disampaikan oleh pengajar. Alat Bantu yang dapat
digunakan misalnya, boneka untuk mewakili tokoh dalam karya sastra.

C. Pengaturan Bangku
Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan kegiatan siswa
dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan
tempat duduk, perabot, pajangan dan barang-barang lainnya di dalam kelas. Penataan
tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas.
Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai.
Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi
belajar yang kondusif dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat
Winzer (Winataputra, 2003: 9-12).
Ada beberapa model penataan bangku yang biasa digunakan dalam pembelajaran
kooperatif, diantarannya seperti:
1. Meja tapal kuda, siswa berkelompok di ujung meja.
2. Penataan tapal kuda, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan.
3. Meja panjang.
4. Meja kelompok, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan.
5. Meja berbaris, dua kelompok duduk berbagi satu meja.
Dan masih ada beberapa bentuk posisi tempat duduk yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran kooperatif lainnya.
Selain itu, pencahayaan juga mempengaruhi untuk menciptakan suasana yang
menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Karena rasa santai dapat membuat seseorang
berkonsentrasi dengan baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Ruang kelas yang
ada harus mendapat cukup cahaya agar tidak mudah melelahkan mata.

D. Tumbuhan, Aroma dan Unsur Organik Lainnya.


1. Tumbuhan
Tumbuh-tumbuhan dapat menyediakan oksigen dalam udara dan otak dapat
berkembang karena oksigen. Semakin banyak oksigen yang didapat, semakin baik otak
berfungsi. Selain itu, guru Sekolah Dasar juga mengetahui bahwa tumbuhan kelas dapat
menciptakan kesempatan untuk melatih tanggung jawab, kesehatan dan perawatan pada
siswa.
2. Aroma
Hirsch (1993) dalam DePorter dkk, “Manusia dapat meningkatkan kemampuan
berfikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan wangi bunga tertentu”. Daerah
penciumnan merupakan reseptor bagi endorphin yang menyuruh tanggapan tubuh menjadi
merasa senang dan sejahtera. Sehingga dapat memberikan ketenangan dan relaksasi.
E. Musik
Musik berpengaruh pada guru dan pelajar. Guru dapat menggunakan musik untuk
menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa dan mendukung lingkungan belajar.
Musik membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak. Musik
merangsang, meremajakan dan memperkuat belajar baik secara sadar maupun tidak. Musik
dapat membantu siswa masuk ke keadaan optimal, dan memungkinkan guru untuk
membangunh hubungan dengan siswa.
Selain itu, musik sebenarnya berhubungan dan mempengaruhi kondisi fisiologis.
Biasanya akan sulit berkonsentrasi seseorang benar-benar relaks dan sulit untuk relaks
ketika seseorang berkonsentrasi penuh. Dr. Georgi Lozanov dalam DePorter dkk
mengatakan bahwa relaksasi yang diiringi musik membuat pikiran selalu siap dan mampu
berkonsentrasi.
Musik berpengaruh kuat pada lingkungan belajar. Penelitian menunjukkan bahwa
belajar lebih mudah dan cepat jika pelajar berada dalam kondisi santai. Detak jantung
orang dalam keadaan ini 60 sampai 80 per menit. Schuster dan Gritton (1986) dalam
DePorter dkk, “kebanyakan musik barok sesuai dengan detak jantung manusia yang santai
dalam kondisi belajar optimal”. Penelitian mendukung penggunaan musik barok (misal
Mozart) dan musik klasik (misal Satie) untuk merangsang dan mempertahankan
lingkungan belajar optimal.
Musik dapat digunakan dengan beragam cara dalam pendidikan, yaitu:
1. Menata Suasana Hati
Dengan mendengarkan musik antara sesi belajar, tubuh akan terangsang untuk
bergerak dan berubah antara keadaan mental pelajar dan guru.
2. Meningkatkan Hasil Belajar Yang Diinginkan
Musik yang diputar dapat membantu memudahkan guru dalam kegiatan
pembelajaran. Hanya dengan memainkan volume pengaturan suara dalam ruangan, guru
mendapatkan perhatian siswa.
3. Menyoroti Hal Penting
Efek suara membantu menciptakan lingkungan bermain, minat dan pertunjukan dan
dapat menyoroti hal penting. Memang akan memerlukan waktu untuk belajar cara
menggabungkan musik secara berseni ke dalam lingkungan kelas. Namun guru akan dapat
merasakan manfaat ketika musik dapat meningkatkan rasa semangat, menumbuhkan
relaksasi dan bahkan bersenang-senang.
Di samping semua manfaat musik, juga teori yang mengatakan bahwa dalam situasi
otak kiri sedang bekerja musik akan membangkitkan reaksi otak kanan yang intuitif dan
kretif sehingga masukannya dapat dipadukan dengan keseluruhan proses. Memasang
musik adalah cara efektif untuk menyibukkan otak kanan ketika sedang konsentrasi pada
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.
DAFTAR PUSTAKA

DePorter, B, dkk. 2000. Quantum Teaching, Mempraktikkan Quantum Learning di


Ruang-Ruang Kelas. Alih Bahasa: Ari Nilandari, Bandung: Kaifa.
DePorter B, dan Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning, Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan. Alih Bahasa: Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.
www. google.com, penataan lingkungan belajar-penataan bangku di dalam kelas.