Anda di halaman 1dari 16

Katalog BPS : 4803.

36

BADAN PUSAT STATISTIK


PROVINSI BANTEN
PENGANTAR

Tak dapat dipungkiri bahwa proses evaluasi dan perencanaan


membutuhkan data statistik. Kebutuhan tersebut tidak hanya pada
level nasional, akan tetapi juga pada level regional, baik provinsi
maupun kabupaten/kota. Dapat dikatakan bahwa ketersediaan
data statistik mutlak adanya untuk keperluan hal tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) selaku institusi pemerintah yang diberi


tanggung jawab menangani perstatistikan nasional berupaya
menyediakan data statistik sesuai kebutuhan. Data statistik yang
dihasilkan biasanya ditampilkan dalam bentuk publikasi, baik dalam
bentuk buku, CD maupun bentuk lainnya. Semua jenis publikasi ini
dapat diakses oleh siapapun yang membutuhkannya.

Bagi kalangan yang memiliki waktu terbatas karena kesibukannya,


BPS biasanya menyediakan publikasi khusus berupa rangkuman dari
publikasi-publikasi yang ada. Rangkuman ini memuat informasi
megenai data statistik penting berkaitan dengan ekonomi, sosial,
dan lain-lain.

BPS Provinsi Banten berupaya menampilkan hal yang sama dalam


bentuk Executive Summary. Buku ini memuat data statistik seperti
PDRB, Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan, Pengangguran, Inflasi dan
lain-lain.

Semoga publikasi ini bermanfaat untuk semua kalangan, khususnya


bagi para perencana di tingkat regional Banten.

Serang, Februari 2007

BPS Provinsi Banten


Kepala,

Ir. Nanan Sunandi, MSc


340 004 369
DAFTAR ISI

Pengantar  1
Daftar Isi  2
Keterangan  3
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)  4
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)  5
PDRB Perkapita  6
Inflasi  6
Luas Panen dan Produksi Padi  8
Pendapatan Rumah Tangga Pertanian  9
Penduduk Miskin  11
Pengangguran  12
Kualitas Pertumbuhan Ekonomi  14

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   2
KETERANGAN

1. PDRB tahun 2006 merupakan angka


sementara yang dihitung dari PDRB
triwulanan kondisi 25 Desember 2006

2. GKG adalah Gabah Kering Giling

3. Data Pengangguran dan Kemiskinan


tahun 2006 merupakan angka sementara

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   3
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto atau yang biasa dikenal PDRB


merupakan jumlah nilai tambah dari seluruh kegiatan
ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat di suatu wilayah
(region) pada kurun waktu tertentu.

Beberapa tahun belakangan ini, BPS tidak hanya menghitung


PDRB tahunan, akan tetapi juga secara triwulanan. BPS Banten
baru memulai menghitung PDRB triwulanan pada tahun 2006.

PDRB dihitung dengan menggunakan harga berlaku (harga


tahun berjalan) dan harga konstan (harga tahun dasar).
Adapun tahun dasar yang digunakan pada saat ini adalah
tahun 2000.

Berdasarkan PDRB triwulanan, pada tahun 2006 total PDRB


Banten atas dasar harga berlaku mencapai Rp 99,21 triliun,
sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp 61,31
triliun.

Kontribusi terbesar terhadap angka PDRB disumbangkan oleh


sektor industri pengolahan (49,07 %). Kemudian diikuti oleh
sektor perdagangan, hotel dan restoran (17,90 %) serta
pengangkutan dan komunikasi (9,52 %). Sedangkan sektor
pertanian kontribusinya hanya 7,89 persen atau turun
dibandingkan kontribusi tahun sebelumnya yang besarnya
8,53 persen.

Menurunnya kontribusi sektor pertanian disebabkan oleh laju


pertumbuhan sektor ini yang selalu lebih rendah dibandingkan
dengan sektor-sektor lainnya.

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   4
LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI (LPE)

Secara sederhana LPE menggambarkan pertambahan


volume barang dan jasa yang diproduksi/dihasilkan di suatu
wilayah pada kurun waktu tertentu. LPE dihitung dari
PDB/PDRB atas dasar harga konstan.

LPE Banten pada tahun 2006 yang dihitung berdasarkan


angka PDRB triwulanan hanya sebesar 5,47 persen. Angka ini
lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan yang terjadi
pada tahun 2005 yang besarnya 5,88 persen.

LPE tersebut turun karena ada dua sektor yang memberikan


kontribusi negatif terhadap LPE yaitu sektor pertanian dan
sektor listrik, gas dan air bersih. Kontribusi sektor pertanian
terhadap LPE Banten tahun 2006 sebesar -0,18 persen (tahun
sebelumnya 0,24%) dan sektor listrik, gas dan air bersih sebesar
-0,13 persen (sebelumnya 0,27%).

Grafik 1.
Perbandingan Andil Pertumbuhan Sektor Terhadap LPE Banten,
Tahun 2005 –2006 (%)

3
2005 2006
2,5
2
1,5
1
0,5
0
Pertamb &

Industri

Htl & Rest

Keuangan,
Pertanian

Listrk, G &

Bangunan

Angkut &

Jasa-jasa
Psw & JP
Perdag,

-0,5
Pengg

Kom
AB

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   5
PDRB PERKAPITA

PDRB perkapita adalah total PDRB dibagi dengan jumlah


penduduk pertengahan tahun. PDRB perkapita berbeda
dengan pendapatan perkapita, akan tetapi seringkali PDRB
perkapita menjadi proxy pendapatan perkapita. Untuk
mengetahui pendapatan perkapita harus dihitung terlebih
dahulu pendapatan penduduk Banten yang
bekerja/berusaha di luar Banten dan pendapatan penduduk
luar Banten yang berusaha/bekerja di Banten.

PDRB perkapita provinsi Banten pada tahun 2005 mencapai


Rp 9,09 juta atau meningkat 6,04 persen dibandingkan
dengan tahun sebelumnya yang besarnya Rp 8,07 juta.

PDRB perkapita terbesar pada tahun 2005 dimiliki oleh kota


Cilegon yaitu Rp 38,61 juta, kemudian diikuti oleh Kota
Tangerang sebesar Rp 19,80 juta dan kabupaten Tangerang
Rp 7,22 juta. Sementara itu PDRB perkapita kabupaten
Pandeglang dan Lebak tidak beranjak dari angka 4 jutaan,
yaitu masing-masing Rp 4,42 juta untuk Pandeglang dan Rp
4,28 juta untuk Lebak.

INFLASI

Secara sederhana inflasi menggambarkan tingkat perubahan


harga secara agregat dari suatu paket komoditi yang
dikonsumsi oleh penduduk.

Inflasi dihitung secara rutin setiap bulan dengan berbasiskan


data survei harga-harga yang dilaksanakan mingguan, dua
mingguan dan bulanan oleh BPS.

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   6
Di Banten, inflasi dihitung dari survei yang dilaksanakan di dua
pasar yaitu Pasar Baru Cilegon dan Pasar Rau Serang untuk
menggambarkan inflasi kota Serang/Cilegon. Paket komoditi
yang dipantau harganya meliputi 303 jenis komoditi.

Untuk menghitung inflasi terlebih dahulu dihitung Indeks Harga


Konsumen (IHK). Saat ini penghitungan IHK di seluruh Indonesia
menggunakan tahun dasar 2002.

Laju inflasi Banten (Serang/Cilegon) dalam kurun waktu 2001 –


2006 berfluktuasi. Faktor kenaikan BBM berdampak sangat
signifikan bagi meningkatnya laju inflasi. Ini tergambar dengan
jelas pada laju inflasi yang terjadi di tahun 2005 yang besarnya
16,11 persen akibat naiknya BBM pada bulan Maret dan
Oktober 2005. Pada tahun 2006 tingkat inflasi di
Serang/Cilegon mencapai 7,67 persen.

Grafik 2.
Perkembang Inflasi di Banten (Serang/Cilegon)
Tahun 2001 –2006 (%)

18%
16,11%
15% 12,75%
12%
7,67%
9%
9,68% 6,40%
6% 5,21%

3%
0%
2001 2002 2003 2004 2005 2006

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   7
LUAS PANEN DAN PRODUKSI PADI

Pada tahun 2006, produksi padi di Banten mengalami


penurunan hingga 110.308 ton atau turun 5,92 persen
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Produksi padi tahun
2006 hanya mencapai 1,75 juta ton GKG, padahal tahun
sebelumnya mencapai 1,86 juta ton GKG.

Penurunan produksi padi tersebut seiring dengan menurunnya


luas panen yaitu dari 374.755 hektar pada tahun 2006, turun
menjadi 348.414 hektar. Meskipun produksi padi serta luas
lahan panen mengalami penurunan, akan tetapi produktivitas
panen padi sedikit menggembirakan karena meningkat dari
49,68 kuintal per hektar menjadi 50,27 kuintal per hektar.

Grafik 3.
Persentase Produksi Padi Menurut Periode Panen
Tahun 2005 –2006 (%)

60
50,87 52,53 2005
2006
50
40 32,82
29,3
30
19,83
20 14,65

10
0
Jan-Apr Mei-Agt Sept-Des

Setiap tahun, produksi padi dan luas panen terbesar selalu


terjadi pada periode Januari –April dengan besaran di atas 50
persen, sedangkan yang terkecil terjadi pada periode
September – Desember dengan besaran kurang dari 20
persen.
BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   8
Produktivitas padi di Banten merupakan yang terendah
dibandingkan dengan provinsi penghasil padi lainnya di pulau
Jawa. Pada tahun 2005, rata-rata produktivitas padi di Jawa
52,15 kuintal per hektar, sedangkan Banten hanya 49,68 kuintal
per hektar. Sementara itu, pada tahun yang sama
produktivitas padi di Jawa Barat 51,65 kuintal per hektar, Jawa
Tengah 52,29 kuintal per hektar, DIY 51,21 kuintal per hektar
dan Jawa Timur tertinggi 53,18 kuintal per hektar.

PENDAPATAN RUMAH TANGGA PERTANIAN

Data pendapatan rumah tangga pertanian diperoleh dari


hasilSurveiPendapat an Petanit ahun 2004 (SPP’04) yang
merupakan rangkaian kegiatan Sensus Pertanian 2003.
Pertanian di sini dalam arti luas yang meliputi pertanian
tanaman bahan makanan (tabama), perkebunan,
peternakan, kehutanan dan perikanan.

Berdas arkan dat a SPP’ 04, r


ata-rata penghasilan rumah
tangga pertanian di Banten sebesar Rp 9,50 juta per tahun.
Rumah tangga pertanian dengan pendapatan terbesar
berada di wilayah Kota Tangerang (Rp 26,22 juta), disusul oleh
kabupaten Tangerang (Rp 12,54 juta) dan kota Cilegon (Rp
11,64 juta). Sementara itu, rumah tangga pertanian yang
berasal dari kabupaten Tangerang, Lebak dan Serang
mempunyai rata-rata pendapatan berturut-turut Rp 7,86 juta,
Rp 7,70 juta dan Rp 9,61 juta.

Meskipun dikatakan rumah tangga pertanian, akan tetapi


untuk rumah tangga pertanian yang berasal dari kota
Tangerang, Cilegon dan kabupaten Tangerang serta Serang,
justru pendapatan terbanyak berasal dari kegiatan non
pertanian. Sedangkan untuk rumah tangga pertanian di
Pandeglang dan Lebak justru sebaliknya. Secara rata-rata
BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   9
pendapatan dari kegiatan non pertanian rumah tangga
pertanian di Banten mempunyai porsi 59,23 persen dari total
pendapatan rumah tangga pertanian.

Grafik 4.
Persentase Pendapatan Rumah Tangga Pertanian
Menurut Sumbernya (Persen)

100%

75%

50%

25%

0%
Lbk

Tgr

Kota

Kota
Pdg

Srg

Banten
Tgr

Clg
Pertanian Non Pertanian

Rumah tangga pertanian di wilayah kota Tangerang relatif


lebih kaya dibandingkan dengan rumah tangga di wilayah
lainnya. Hal ini tercermin dari data bahwa 99,05 persen rumah
tangga pertanian di wilayah tersebut berpenghasilan Rp 10,00
juta rupiah lebih. Sedangkan untuk wilayah lainnya, rumah
tangga yang berpenghasilan seperti itu masing-masing 67,10
persen (kota Cilegon), 56,11 persen (kab. Tangerang) dan 36,4
persen (kab. Serang).

Sedangkan untuk rumah tangga pertanian di wilayah


Pandeglang dan Lebak relatif lebih miskin karena persentase
rumah tangga pertanian yang berpendapatan Rp 10,00 juta
lebih hanya 25,28 persen (Pandeglang) dan 18,51 persen
(Lebak).
BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   10
Grafik 5.
Persentase Rumah Tangga Tani Menurut Kelompok
Pendapatan Per Tahun (%)

Kurang dr Rp 2
juta; 2,62%
Rp 10 juta ke
atas; 34,22% Rp 2 - 4,99 juta;
21,41%

Rp 5 - 7,99 juta;
Rp 8 - 9,99 juta; 29,18%
12,57%

PENDUDUK MISKIN

Dalam menghitung penduduk miskin, BPS menggunakan data


dasar hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Selain itu
digunakan juga hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar
(SPKKD).

BPS menggunakan Garis Kemiskinan (GK) yang terdiri dari


Garis Kemiskinan Makanan dan Non Makanan untuk
menentukan penduduk miskin. Penduduk miskin adalah
penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita
perbulan di bawah garis kemiskinan.

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dihitung dari kebutuhan


dasar makanan yang setara dengan pemenuhan kebutuhan
BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   11
kalori 2.100 kkal per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan
dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi makanan.
Sedangkan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) dihitung
dari kebutuhan dasar bukan makanan yaitu kebutuhan
minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan
kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar bukan makanan
diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis
komoditi di perdesaan.

Berdasarkan konsep dan data tersebut, jumlah penduduk


miskin di Banten pada tahun 2006 mencapai 966,7 ribu jiwa
atau 10,32 persen dari total penduduk Banten. Jumlah
maupun persentase penduduk miskin tersebut mengalami
peningkatan dibandingkan dengan tahun 2004 yang lalu
yang banyaknya 779,10 ribu jiwa atau 8,58 persen.

Jumlah penduduk miskin terbanyak berada di kabupatan


Tangerang (287,6 ribu jiwa), kemudian diikuti oleh kabupaten
Lebak (212,3 ribu jiwa), Serang (204,4 ribu jiwa) dan
Pandeglang (195,9 ribu jiwa). Sedangkan jumlah penduduk
miskin untuk kota Tangerang dan Cilegon masing-masing
hanya 46,3 ribu jiwa dan 20,20 ribu jiwa.

PENGANGGURAN

Pengangguran didefinisikan sebagai angkatan kerja yang


tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan, yang mencakup
angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan,
mempersiapkan usaha, tidak mencari pekerjaan karena
merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang
punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (definisi ini
digunakan setelah tahun 2001).

Data pengangguran dihitung berdasarkan Survei Angkatan


Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan oleh BPS.
BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   12
Jumlah pengangguran di Banten pada tahun 2006 sebanyak
636.847 orang atau 16,34 persen dari total angkatan kerja. Baik
jumlah maupun persentase pengangguran di Banten
mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya yang banyaknya 549.995 orang atau 14,2 persen.

Sama halnya dengan penduduk miskin, pengangguran


terbanyak juga berada di kabupaten Tangerang yaitu 215.342
orang atau 33,81 persen dari total pengangguran di Banten.
Selanjutnya diikuti oleh kota Tangerang dengan jumlah
pengangguran 131.643 orang atau 20,67 persen dari total
pengangguran di Banten. Berarti, sebanyak 54,48 persen
pengangguran yang ada di Banten dimiliki wilayah Tangerang
(kota dan kabupaten).

Grafik 6.
Perkembangan Persentase Pengangguran di Banten
Menurut Kab/Kota Tahun 2005 –2006 (%)

Banten 2006
2005
Kota Clg

Kota Tgr

Serang

Tangerang

Lebak

Pandeglang

0 5 10 15 20 25

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   13
Hampir semua kab/kota yang ada di Banten mengalami
peningkatan jumlah pengangguran, kecuali kabupaten
Serang. Di Kabupaten Serang, jumlah pengangguran turun
dari 86.908 orang pada tahun 2005 menjadi 68.614 orang
pada tahun 2006 atau turun 21,05 persen.

KUALITAS PERTUMBUHAN EKONOMI

Makna kualitas pertumbuhan ekonomi di sini terbatas pada


besarnya penyerapan tenaga kerja baru dari setiap satu
persen pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Berkaitan dengan
hal ini, hubungan yang digunakan dalam penghitungan
adalah hubungan secara eksak sederhana.

Tabel
LPE, Angkaten Kerja Baru, Pekerja Baru
Dan Kualitas Pertumbuhan Ekonomi

Angkatan Pekerja Kualitas


Tahun /
LPE (%) Kerja Baru Baru Pertumbuhan
Periode
(orang) (orang) Ekonomi (org)
2001 3,95 379.337 265.358 67.179
2002 4,11 320.014 48.320 11.757
2003 5,07 186.179 81.840 16.142
2004 5,63 24.826 111.731 19.846
2005 5,88 33.788 33.386 5.678
Rata -Rata
2001 - 2004 227.589 126.812 28.731
2001 - 2005 188.829 108.127 24.120

Berdasarkan data tahun 2000 –2005, rata-rata setiap satu


persen pertumbuhan ekonomi di Banten mampu
BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   14
menyediakan 24.120 lapangan kerja baru. Jumlah ini
mengalami kemerosotan jika dibandingkan dengan periode
2000 –2004, dimana untuk setiap satu persen pertumbuhan
ekonomi mampu menyediakan 28.731 lapangan kerja baru.

Selain itu, secara rata-rata angkatan kerja baru selalu lebih


banyak daripada pekerja baru pada dua periode tersebut. Ini
maknanya bahwa pengangguran akan terus bertambah
karena angkatan kerja baru tersebut tidak mampu diserap
semuanya akibat minimnya lapangan kerja baru yang
tersedia.

BPSBant
en“
Exec
uti
veSummar
y”,
2006   15