Anda di halaman 1dari 6

1.

Pengertian
Wattmeter adalah instrument atau alat pengukuran daya listrik khususnya daya listrik
nyata yang pembacaannya diberikan dalam satuan Watt. Wattmeter berfungsi sebagai alat yang
mengukur daya listrik pada beban - beban yang sedang beroperasi dalam suatu sistem kelistrikan
dengan beberapa kondisi beban, seperti : beban dc, beban AC satu phase serta beban AC tiga
phase. Wattmeter biasanya digunakan pada lab – lab fisika dimana alat ini digunakan sebagai
alat peraga untuk mengetahui daya yang dipakai dalam suatu rangkaian beban.
Sebelum mempelajari alat ini lebih lanjut, ada baiknya kita pelajari sedikit mengenai
parameter yang diukur oleh alat ini. Daya listrik dalam pengertiannya dapat dikelompokkan
dalam dua kelompok sesuai dengan catu tenaga listriknya, yaitu : daya listrik DC dan daya listrik
AC.

Daya listrik DC dirumuskan sebagai :


P=V.I
dimana : P = daya (Watt)
V = tegangan (Volt)
I = arus (Amper)

Daya listrik AC ada 2 macam yaitu: daya untuk satu phase dan daya untuk tiga phase,
dimana masing – masing dapat dirumuskan sebagai berikut :

 Pada sistem satu phase:


P = V.I. cos f
dimana :
V = tegangan kerja (Volt)
I = Arus yang mengalir ke beban (Amper)
cos f = faktor daya

 Pada sistem tiga phase :


P = 3 V.I. cos f
dimana :
V = tegangan phase netral (volt)
I = arus yang mengalir ke beban (Amper)
cos f = faktor daya

Dengan kata lain Daya dengan beban tiga phase sama dengan tiga (3) kali beban yang
diberikan satu phase.
Dalam prakteknya daya yang dihasilkan dari rumus tidaklah mutlak atau pasti, maka
dari itu diberikan alat yang digunakan untuk mengukur daya yang bekerja pada suatu sistem
yang berbeban, dengan tujuan untuk mendapatkan nilai daya yang lebih teliti.
Rumusan daya sistem DC tidak terdapat Cos f dikarenakan sudut yang dibentuk antara
tegangan dan arus (f ) sama dengan nol artinya tegangan dan arus arahnya berimpit sehingga :
P = V . I. cos f
P = V . I. cos 0º
P = V. I. 1
P = V.I

2. Komponen Wattmeter

I* I L1 L2 L3

3~

1~
1 5 25 100
200 500

A
V

Gambar wattmeter
Keterangan :
I* = arus masuk.

I = arus keluar.

L1 = phase R (beban resistor)

L2 = phase S (power supply)

L3 = phase T

3~ = penggunaan wattmeter untuk sistem 3 phase.

1~ = penggunaan wattmeter untuk sistem 1 phase

A = skala arus.

V = skala tegangan.

Wattmeter analog yang paling sederhana adalah wattmeter jenis elektrodinamis, dimana
terdiri dari sepasang kumparan tetap yang disebut kumparan arus dan kumparan bergerak yang
disebut kumparan potensial. Kumparan arus dihubungkan secara seri dengan rangkaian,
sedangkan kumparan potensial dihubungkan secara paralel. Selain itu pada wattmeter ini,
kumparan potensial membawa jarum yang bergerak di atas skala untuk menunjukkan
pengukuran. Sebuah arus yang mengalir melalui arus kumparan menghasilkan medan
elektromagnetik di sekitar kumparan. Kekuatan bidang ini adalah sebanding dengan baris saat ini
dan di fase dengan itu. sebuah resistor bernilai tinggi dihubungkan secara seri dengan alat ini
untuk mengurangi arus yang mengalir melewatinya. Kumparan potensial pada wattmeter
umumnya memiliki resistansi yang tinggi.

Gambar komponen bagian dalam wattmeter


Rangkaian dari alat pengukur watt bisa rusak oleh arus berlebih. Berbeda dengan
voltmeter. Jika voltmeter kelebihan beban, pointer akan menunjukkan melampaui batas atas
skala. Tetapi pada wattmeter tidak bisa seperti voltmeter. Hal ini karena posisi pointer
tergantung pada faktor daya, tegangan dan arus. Dengan demikian, rangkaian dengan faktor daya
yang rendah akan memberikan pembacaan alat pengukur watt rendah, bahkan ketika kedua
sirkuit yang dimuat ke batas keamanan maksimum. Oleh karena itu, sebuah alat pengukur watt
dinilai tidak hanya dalam watt, tetapi juga dalam volt dan ampere.

3. Cara Penggunaan
Pembacaan dari nilai didasarkan pada rumusan sebagai berikut :

P=UxIxC

Dimana :

U = Pembacaan pada jarum penunjuk wattmeter.

I = Pemilihan arus ( dari switch jarum menunjuk pada skala tertentu).

C = Faktor koreksi dapat dilihat pada tabel di Wattmeter

Tabel Wattmeter

I U U*I*C = P

C1ph C3ph

Imax=1.2*I Umax=1.2*U 0…100 0…250 0…100 0…250

100V 1 - 2 -

1A 200V 2 - 4 -

500V 5 - 10 -

100V 5 - 10 -

2A 200V 10 - 20 -

500V - 10 - 20

100V - 10 - 20

3A 200V - 20 100 -

500V - 50 - 100
Berikut adalah salah satu contoh langkah kerja Pengukuran Daya, yaitu pengukuran daya arus
bolak-balik tiga phase dengan menggunakan Wattmeter.

1.Siapkan Bahan dan Alat yang dibutuhkan antara lain:

 1 buah watt meter.


 1 buah saklar 3 phase.
 1 buah beban 3 phase.
 1 buah power supply 3 phase.
 Kabel penghubung secukupnya.

2. Rangkai peralatan seperti gambar di bawah ini.

Motor
L1(R)
3
L2(S) Phase
L3(T)

I* I L1 L2 L3

3~

1~
1 5 25 100
200 500

A V

3. Hubungkan rangkaian tersebut dengan sumber tenaga

4. Telitilah kedudukan jarum penunjuknya. Jika kedudukannya sudah tepat pada angka 0 berarti
wattmeter sudah siap untuk digunakan. Apabila kedudukan enunm penunjuk belum tepat pada angka
0, maka harus diatur dengan memutar sekrup pengatur kedudukan enuum.
5. Lakukan pengukuran dengan membaca Skala yang muncul kemudian setelah itu lihat pada tabel
wattmeter setelah mengetahui nilai-nilainya tinggal dimasukan kedalam rumus P= Ux I x C agar kita
dapat mengetahui nilai watt nya.

6. Putuskan hubungan rangkaian dari sumber tegangan dan kemudian rapikan alat serta bahan bahannya.

Anda mungkin juga menyukai