Anda di halaman 1dari 24

URI HANDAY

TW

AN
TU

I
DIKLAT GURU PENGEMBANG MATEMATIKA SMK
JENJANG DASAR TAHUN 2009

Geometri Dimensi Dua dan Tiga

Matriks

Oleh: Fadjar Shadiq, M.App.Sc.


M AT E M
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
TM

TK
Quality System

A
PP

TI

DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN


KA
PP

PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK Quality


O
DAN TENAGA KEPENDIDIKAN MATEMATIKA Endorsed
A
Y

GY T Company
AK A R ISO 9001: 2000

2009
Lic no:QEC 23961
SAI Global
KATA PEN
PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karunia-Nya, bahan ajar ini dapat diselesaikan dengan baik. Bahan ajar ini
digunakan pada Diklat Guru Pengembang Matematika SMK Jenjang Dasar
Tahun 2009, pola 120 jam yang diselenggarakan oleh PPPPTK Matematika
Yogyakarta.

Bahan ajar ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam usaha
peningkatan mutu pengelolaan pembelajaran matematika di sekolah serta dapat
dipelajari secara mandiri oleh peserta diklat di dalam maupun di luar kegiatan
diklat.

Diharapkan dengan mempelajari bahan ajar ini, peserta diklat dapat menambah
wawasan dan pengetahuan sehingga dapat mengadakan refleksi sejauh mana
pemahaman terhadap mata diklat yang sedang/telah diikuti.

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah


berpartisipasi dalam proses penyusunan bahan ajar ini. Kepada para pemerhati
dan pelaku pendidikan, kami berharap bahan ajar ini dapat dimanfaatkan dengan
baik guna peningkatan mutu pembelajaran matematika di negeri ini.

Demi perbaikan bahan ajar ini, kami mengharapkan adanya saran untuk
penyempurnaan bahan ajar ini di masa yang akan datang.
Saran dapat disampaikan kepada kami di PPPPTK Matematika dengan alamat:
Jl. Kaliurang KM. 6, Sambisari, Condongcatur, Depok, Sleman, DIY, Kotak Pos
31 YK-BS Yogyakarta 55281. Telepon (0274) 881717, 885725, Fax. (0274)
885752. email: p4tkmatematika@yahoo.com

Sleman, 11 Mei 2009


Kepala,

Kasman Sulyono
NIP. 130352806
Daftar Isi

Kata Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------------------- i

Daftar Isi ------------------------------------------------------------------------------------------------ ii

Kompetensi/Sub Kompetensi dan Peta Bahan Ajar ---------------------------------------------- iii

Skenario Pembelajaran ----------------------------------------------------------------------------------- iv

Bab I Pendahuluan------------------------------------------------------------------------------ 1
A. Latar Belakang----------------------------------------------------------------------- 1
B. Tujuan --------------------------------------------------------------------------------- 2
C. Ruang Lingkup ---------------------------------------------------------------------- 2

Bab II Geometri Dimensi Dua----------------------------------------------------------------- 3


A. Pengertian Geometri --------------------------------------------------------------- 3
B. Sudut----------------------------------------------------------------------------------- 3
C. Keliling dan Luas Bangun Datar ------------------------------------------------ 4

Bab III Geometri Dimensi Tiga ---------------------------------------------------------------- 9


A. Bangun Ruang dan Unsur-Unsurnya------------------------------------------ 9
B. Luas dan Volum Bangun Ruang -----------------------------------------------10
C. Hubungan Antar Unsur-Unsur Bangun Ruang ---------------------------13

Bab IV Penutup -----------------------------------------------------------------------------------18

Daftar Pustaka ----------------------------------------------------------------------------------------------19

ii
KOMPETENSI

Peserta diklat memiliki kemampuan memfasilitasi siswanya untuk menguasai


pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-
hari dan di dunia kerja yang berkait dengan pengetahuan tentang Geometri Dimensi
Dua dan Tiga

SUB KOMPETENSI

‰ Peserta diklat memiliki kemampuan memfasilitasi siswanya untuk menguasai


pengetahuan dan keterampilan yang berkait dengan sudut.
‰ Peserta diklat memiliki kemampuan memfasilitasi siswanya untuk menguasai
pengetahuan dan keterampilan yang berkait dengan keliling dan luas daerah
bangun datar.
‰ Peserta diklat memiliki kemampuan memfasilitasi siswanya untuk menguasai
pengetahuan dan keterampilan yang berkait dengan transformasi bangun datar
‰ Peserta diklat memiliki kemampuan memfasilitasi siswanya untuk menguasai
pengetahuan dan keterampilan yang berkait dengan luas permukaan dan volum
bangun ruang
‰ Peserta diklat memiliki kemampuan memfasilitasi siswanya untuk menguasai
pengetahuan dan keterampilan yang berkait dengan hubungan antara unsur-unsur
dalam bangun ruang

PETA BAHAN AJAR

Mata diklat untuk jenjang dasar ini tidak terlalu membutuhkan pengetahuan prasyarat
yang terlalu tinggi. Hanya dibutuhkan kemampuan mengoperasikan bilangan; seperti
mengalikan, menambah, membagi, dan menarik akar.

Pengetahuan dan keterampilan yang didapat pada mata diklat ini dapat digunakan
untuk merancang proses pembelajarannya, terutama ketika para peserta diklat jenjang
dasar ini mengikuti diklat jenjang menengah dan tinggi. Di samping itu, setelah diklat
ini para peserta diharapkan akan lebih mampu memecahkan masalah pembelajaran
yang berkait dengan Geometri Datar dan Ruang.

iii
SKENARIO PEMBELAJARAN

Penyampaian Mtr (35’)


Pendahuluan (5’)
‰ Tujuan Diskusi materi dan pembelajaran:
‰ Ruang Lingkup ‰ Sudut, keliling dan luas bangun datar.
‰ Langkah-langkah ‰ Transformasi (Refleksi dan Rotasi)
‰ Luas permukaan dan volum bangun
ruang
‰ Hubungan antar unsur bangun ruang

Penugasan
Penugasan(55’)

Secara berkelompok:
Mendiskusikan:
Laporan (30’) ‰ Strategi yang dapat meningkatkan
‰ Hasil diskusi ‰ Mendiskusikan tugas-tugas
penalaran, pemecahan yang adadan
masalah, pada
‰ Masalah yang belum setiap bab
komunikasi
terpecahkan ‰ Cara menilai penalaran, pemecahan
masalah, dan komunikasi

Penutup (10’)
‰ Rangkuman
‰ Refleksi
‰ Tugas

iv
Bab I
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) menyatakan bahwa salah satu SKL pada mata pelajaran matematika
untuk Matematika Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran dan Akuntasi SMK/MAK serta
untuk Matematika Kelompok Teknologi, Kesehatan, dan Pertanian di SMK/MAK adalah;
“Memahami konsep kedudukan, jarak, dan besar sudut dalam ruang dimensi dua dan tiga
serta penerapannya dalam pemecahan masalah.” Selanjutnya, Lampiran Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa salah satu
SK (Standar Kompetensi) adalah agar para siswa SMK dapat: “Menentukan kedudukan, jarak,
dan besar sudut yang melibatkan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi dua,” dan
khusus untuk siswa pada Kelompok Teknologi, Kesehatan dan Pertanian adalah: “Menentukan
kedudukan jarak, dan besar sudut yang melibatkan titik, garis dan bidang dalam ruang
dimensi tiga.” Berikut ini adalah jabaran SK tersebut tadi berupa KD, Indikator dan Materi
Pembelajaran untuk topik Geometri Dimensi Dua dan Tiga.

SK: Menentukan kedudukan jarak, dan besar sudut yang melibatkan titik, garis dan bidang
dalam ruang dimensi dua

KD INDIKATOR MATERI

1. Mengidentifikasi ƒ Satuan sudut dalam derajat dikonversi ƒ Macam-macam satuan


sudut kesatuan sudut dalam radian atau sudut
sebaliknya sesuai prosedur. ƒ Konversi satuan sudut
2. Menentukan ƒ Suatu bangun datar dihitung kelilingnya ƒ Keliling bangun datar
keliling bangun ƒ Daerah suatu bangun datar dihitung ƒ Luas daerah bangun datar
datar dan luas luasnya ƒ Penerapan konsep keliling
daerah bangun ƒ Bangun datar tak beraturan dihitung dan luas.
datar luasnya
3. Menerapkan ƒ Transformasi bangun datar didiskripsikan ƒ Jenis-jenis transformasi
transformasi menurut jenisnya bangun datar
bangun datar ƒ Transformasi bangun datar digunakan ƒ Penerapan transformasi
untuk menyelesaikan permasalahan bangun datar
program keahlian

SK: Menentukan kedudukan jarak, dan besar sudut yang melibatkan titik, garis dan bidang
dalam ruang dimensi tiga

KD INDIKATOR MATERI

1. Mengidentifikasi ƒ Unsur-unsur bangun ruang diidentifikasi ƒ Bangun ruang dan unsur-


bangun ruang dan berdasar ciri-cirinya. unsurnya
unsur-unsurnya ƒ Jaring-jaring bangun ruang digambar pada ƒ Jaring-jaring bangun ruang
bidang datar.

1
KD INDIKATOR MATERI

2. Menghitung luas ƒ Luas permukaan bangun ruang dihitung ƒ Permukaan bangun ruang
permukaan bangun dengan cermat. dihitung luasnya
ruang
3. Menerapkan konsep ƒ Volum bangun ruang dihitung dengan ƒ Volum bangun ruang
volum bangun cermat.
ruang
4. Menentukan ƒ Jarak antar unsur dalam ruang dihitung ƒ Hubungan antar unsur
hubungan antara sesuai ketentuan dalam bangun ruang
unsur-unsur dalam ƒ Besar sudut antar unsur dalam ruang
bangun ruang dihitung sesuai ketentuan

Karenanya, kompetensi yang berkait dengan geometri akan menjadi materi yang sangat
menentukan keberhasilan para siswa SMK dalam memecahkan masalah umum atau masalah
dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya, pada diklat jenjang dasar ini, materi Geometri
akan , sesuai dengan indikator dan materi di atas akan dibahas lebih mendalam.

B. Tujuan

Modul ini disusun dengan maksud untuk memberikan tambahan pengetahuan berupa
wawasan bagi guru SMK yang mengikuti diklat jenjang dasar di PPPPTK Matematika tentang
peluang, dengan harapan dapat digunakan sebagai salah satu sumber untuk memecahkan
masalah-masalah pengajaran Geometri di SMK. Selanjutnya, tujuan secara khusus adalah agar
para peserta diklat dapat membantu atau memfasilitasi siswanya sedemikian sehingga
siswanya dapat atau mampu:
1. Mengidentifikasi sudut
2. Menentukan keliling bangun datar dan luas daerah bangun datar
3. Menerapkan transformasi bangun datar
4. Mengidentifikasi bangun ruang dan unsur-unsurnya
5. Menghitung luas permukaan bangun ruang
6. Menerapkan konsep volum bangun ruang
7. Menentukan hubungan antara unsur-unsur dalam bangun ruang

C. Ruang Lingkup

Pembahasan pada modul ini lebih menitik-beratkan pada diskusi identifikasi dan pemecahan
masalah yang berkait dengan materi Geometri. Di samping itu, akan dibahas juga bagaimana
memfasilitasi siswa agar dapat mempelajarinya lebih bermakna. Karenanya, setiap bagian
modul ini dimulai dengan beberapa contoh diikuti dengan teori-teori, dan diakhiri dengan
latihan atau tugas. Para pemakai modul ini disarankan untuk membaca lebih dahulu teorinya
sebelum mencoba mengerjakan latihan yang ada. Selama diskusi, para peserta diharapkan
secara aktif mengemukakan keberhasilan maupun kegagalan selama proses pembelajaran. Jika
para pemakai modul ini mengalami kesulitan maupun memiliki saran, sudi kiranya
menghubungi penulisnya, melalui email: fadjar_p3g@yahoo.com, website (situs):
www.fadjarp3g.wordpress.com telepon (0274)880762; HP: 08156896973, atau melalui PPPPTK
Matematika, Kotak Pos 31 YKBS, Yogyakarta; p4tkmatematika@yahoo.com; telepon
(0274)881717, 885725; dan fax (0274)885752.
2
Bab II
Geometri Dimensi Dua

Materi ini disusun dengan maksud untuk memberikan tambahan pengetahuan berupa wawasan
bagi guru SMK tentang Geometri, dengan harapan dapat digunakan sebagai salah satu sumber
untuk memecahkan masalah-masalah pengajaran peluang di SMK. Selanjutnya, tujuan secara
khusus, setelah menyelesaikan bab ini, adalah untuk membantu atau memfasilitasi siswanya agar
dapat: (1) Mengidentifikasi sudut; (2) Menentukan keliling bangun datar dan luas daerah bangun
datar; (3) Menerapkan transformasi bangun datar.

A. Pengertian Geometri

Setiap hari, para siswa akan melihat, bekerja, dan mengotak-atik benda-benda yang berbentuk
bangun-bangun geometris seperti: permukaan kertas, permukaan meja, bola, tempat kapur, dos,
tempat es-krim, maupun topi ulang tahun; bermain di lapangan petak umpet, lapangan bola;
bekerja/bermain dengan buku, pensil, penghapus, papan tulis, meja, kursi, mobil-mobilan.
Travers dkk (1987:6) menyatakan bahwa: “Geometry is the study of the relationships among points,
lines, angles, surfaces, and solids”. Geometri adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara
titik, garis, sudut, bidang dan bangun-bangun ruang. Ada dua macam geometri , yaitu geometri
datar dan geometri ruang. Geometri Bidang (G Datar atau G Dimensi Dua) membicarakan
bangun-bangun datar; sedangkan G Ruang membicarakan bangun-bangun ruang dan bangun-
bangun datar yang merupakan bagian dari bangun ruang. Suatu bangun disebut bangun datar
apabila keseluruhan bangun itu terletak pada satu bidang. Suatu bangun disebut bangun ruang
apabila titik-titik yang membentuk bangun itu tidak semuanya terletak pada satu bidang yang
sama. Yang akan dibahas sekarang adalah Geometri Dimensi Dua, dimulai dengan sudut.

B. Sudut

Berikut ini adalah beberapa contoh sudut beserta nama-namanya.


C

B A
Sudut Sudut Sudut Sudut Sudut Sudut Satu
Lancip Siku-siku Tumpul Lurus Refleks Putaran

Pada gambar paling kiri atas, terdapat ∠B = ∠ABC. Sudut tersebut didapat dari dua sinar garis,
yaitu sinar garis BA dan BC. Kedua sinar tersebut berpotongan di titik B. Ada tiga macam satuan
besar sudut, yaitu sistem seksagesimal, sistem radian, dan sistem sentisimal.

Pada sistem seksagesimal, sebagai peninggalan dari bangsa Mesopotamia dan Sumeria; didapati
bahwa satu putaran penuh telah dibagi menjadi 360 bagian yang sama, yaitu 360 derajat (ditulis
selanjutnya dengan simbul 360°. Selanjutnya, 1° dibagi menjadi 60 menit (60’), dan satu menit
dibagi menjadi 60 detik (60'').

Pada sistem radian, besar sudut satu radian adalah besar suatu sudut pusat dari suatu lingkaran
yang panjang busur dihadapan sudut tersebut adalah sama dengan jari-jari lingkaran tersebut.
Pada gambar di kanan bawah ini besar ∠POQ = 1 radian, karena panjang busur PQ = r = jari-jari.

3
Keliling suatu lingkaran adalah 2.π.r. Dengan demikian, sudut Q
yang bersesuaian adalah 360° = 2π radian atau 180° = π radian.
Karena π ≈ 3,142 sehingga didapat hubungan berikut.
r
1 radian ≈ 57,296° ≈ 57°17’45” dan 1° ≈ 0,017453
g
Pada sistem sentisimal; satu putaran penuh adalah 400 ;
(dibaca: “400 grad”) sehingga didapat hubungan berikut. O P
g g
360° = 2π radian = 400 atau 180° = π radian = 200
1 radian
Untuk ukuran sudut yang lebih kecil, digunakan konversi
g dgr dgr cgr
berikut: 1 = 10 (dibaca : “10 decigrad”); 1 = 10 (dibaca :
cgr mgr
“10 centigrad”); dan 1 = 10 (dibaca : “10 miligrad”)

C. Keliling dan Luas Bangun Datar

Perhatikan gambar berikut. titik sudut


titik sudut

sisi
sisi

segi empat
segitiga

Tentukan banyak sisi dan banyak titik sudut pada: (1) segitiga; (2) segi empat; (3) segi-12.
Perhatikan beberapa segitiga di bawah ini yang memiliki nama khusus, berdasar panjang sisi dan
besar sudutnya. Tentukan nama khusus untuk setiap segitiga dan jelaskan kriterianya.

d
b
a c

e g
f

Perhatikan gambar beberapa segi empat di bawah ini. Segi-empat pada Gambar b disebut dengan
persegi-panjang. Apa yang menarik dari bangun datar tersebut berkait dengan (1) panjang
sisinya, (2) besar sudutnya, (3) kelilingnya, dan (4) luas daerahnya atau luasnya. Keliling persegi-
panjang pada Gambar b adalah 4 + 6 + 4 + 6 = 20 satuan panjang; sedangkan luas daerahnya atau
luasnya = 24 satuan luas karena daerah tersebut memuat ada 24 persegi satuan.
4
a b c

e f

g h
i

Tulis hal-hal menarik tentang panjang sisi-sisi dan besar sudut setiap segi empat di atas. Tentukan
juga keliling dan luasnya; beserta rumus umum keliling dan luasnya jika mungkin.

Latihan Bab II
1. Tuliskan definisi dari (1) segitiga sama-sisi; (2) segitiga sama-kaki; (3) segitiga sembarang; (4)
segitiga lancip; (5) segitiga siku-siku; (6) segitiga tumpul; (7) segitiga lancip sembarang =
segitiga lancip; (8) segitiga lancip samakaki = segitiga samakaki; (9) segitiga lancip samasisi =
segitiga samasisi; (10) segitiga siku-siku sembarang; (11) segitiga siku-siku samakaki; (12)
segitiga tumpul sembarang; (13) segitiga tumpul samakaki.
2. Tuliskan definisi dari (1) lingkaran; (2) persegipanjang; (3) persegi; (4) jajargenjang; (5)
belahketupat ; (6) trapesium; (7) layang-layang.
3. Untuk setiap soal berikut, tentukan Benar (B) atau Salah (S) pernyataan berikut.
a) Suatu persegi adalah suatu persegipanjang.
b) Suatu persegipanjang adalah suatu jajargenjang.
c) Suatu jajargenjang adalah suatu belahketupat.
d) Suatu trapesium adalah suatu jajargenjang.
e) Beberapa jajargenjang adalah persegipanjang.
f) Suatu belahketupat adalah suatu persegi.
g) Beberapa belahketupat adalah persegipanjang.
h) Suatu jajargenjang adalah trapesium.
4. Ada berapa buah persegi pada gambar di kanan atas? Jawabannya bukan 36 buah
5. Ada berapa buah segitiga sama-sisi pada gambar di kiri atas? D C
6. Segitiga BEF pada gambar adalah segitiga samasisi. Berapa
derajatkah besar sudut DCE ditambah besar sudut DAF? [120°] E

B 5
A F
7. Keliling sebuah persegipanjang adalah 70 cm. Ukuran panjangnya adalah dua kali lebarnya
ditambah 5 cm. Tentukan luas persegi panjang tersebut. [350 cm2] G H I
8. Kita ingin membuat persegi-persegi yang setiap titik sedutnya terletak
pada titik-titik yang disediakan. Untuk susunan titik 3 × 3 di bawah ini D E F
ada 6 persegi yang dapat kita buat. Salah satu persegi adalah ACIG.
a. Tuliskan kelima persegi lainnya pada susunan titik 3 × 3 itu! B C
A
b. Gambarlah sebanyak mungkin persegi dengan panjang sisi berbeda-
beda pada susunan titik 5 × 5. Berapa banyak persegi yang dapat
dibuat pada susunan titik 5 × 5? [50]
9. Tiga plat berbentuk lingkaran dengan jari-jari 7 m dikelilingi tali baja
seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Tentukan panjang tali baja
tersebut. [86 m] G
H
10. Tentukan jumlah ukuran sudut-sudut D + E + F + G + H + C
I, pada gambar berikut [360°]
I B F
A

11. Bangun datar di sebelah kiri ini D E


terdiri dari 9 persegi. Tariklah
satu garis lurus melalui titik P
sedemikian sehingga bangun
tersebut akan terbagi menjadi dua
P bagian yang luasnya sama.
12. Dua segitiga yang ada di dalam dua lingkaran pada gambar di bawah ini merupakan segitiga
samasisi. Luas daerah segitiga samasisi pada Gambar A (Figure A) adalah 1 cm2. Tentukan
luas daerah segitiga samasisi pada Gambar B (Figure B). [3 cm2]

13. Pada gambar di kanan atas, ketiga sisi segitiga merupakan diameter (garis tengah) suatu
setengah lingkaran. Hitunglah luas daerah yang diarsir. (Ambil π = 3,14). [600 cm2]
14. Pada gambar kiri bawah, tanah PQR terdapat rumah berbentuk persegi-panjang. Rumah
tersebut digambarkan dengan daerah yang diarsir pada gambar di bawah ini. Jika lebar
persegi-panjangnya adalah 1/3 dari panjang ruas garis dari Q tegak lurus ke PR, tentukan
perbandingan antara luas rumah dengan luas tanahnya. [4 : 9]
Q c
d b

e
P R a

6
D C
15. Tentukan jumlah ukuran sudut a, b, c, d, dan e pada gambar bintang di
kanan atas. [180°]
16. Persegi panjang ABFE kongruen dengan persegi panjang EFCD. Persegi
E F
panjang ABFE sebangun dengan persegi panjang ABCD. Jika panjang
AB = 1, berapa panjang AD? [ 2 ]
17. Dian menggambar sebuah segiempat. Lalu ia menandai titik tengah sisi-sisi
itu. Keempat titik tengah itu dihubungkan untuk memperoleh sebuah A B
segiempat lain. Berbentuk apakah segiempat terakhir? [jajar-genjang]
18. Pada gambar kiri bawah, ABCD adalah sebuah persegi dengan sisi 1 satuan panjang. Titik F
adalah titik tengah AB. Berapakah luas daerah segiempat EFGO? [1/6]

D C
C

O
R Q
E G
O

A B
A F B P

19. Pada gambar kanan atas; sebuah segitiga samasisi ABC dibagi-bagi menjadi beberapa buah
segitiga seperti pada gambar di bawah ini. Segitiga APR sama dan sebangun (kongruen)
dengan segitiga-segitiga PQR, PBQ, dan CQR, sedangkan segitiga AOB sama dan sebangun
dengan segitigasegitiga BOC dan AOC. Perbandingan luas daerah yang diarsir terhadap luas
segitiga ABC adalah .... [5 : 24]
20. Gambar di bawah ini menunjukkan empat lingkaran yang kongruen. Setiap lingkaran
bersinggungan dengan dua lingkaran lainnya. Jika jari-jari setiap lingkaran adalah 10cm,
tentukan luas daerah yang diarsir. [ 400 cm2]

21. Pada trapesium ABCD diketahui bahwa AB : DC = 3 : 1. Diagonal AC dan BD berpotongan di


E. Luas ∆ DEC adalah a satuan luas. Tentukan luas ∆BEC, ∆AED, ∆ABE, dan trapesium
ABCD. [3a, 3a, 9a, 16a]
22. Untuk setiap bangun datar pada soal nomor 1 dan 2 di atas, tentukan banyaknya sumbu/garis
simetrinya dengan lebih dahulu membuat tabel seperti berikut.

Nama Bangun Banyak Sumbu Simetri


a) Segitiga sama-sisi …
b) Segitiga sama-kaki …

7
Nama Bangun Banyak Sumbu Simetri
c) Segitiga sembarang …
d) segitiga lancip …
e) segitiga siku-siku …
… …
… …
… …
f) …
g) …
h) …
i) Lingkaran …
j) Persegipanjang …
k) Persegi …
l) … …

23. Untuk setiap bangun datar pada soal 1 di atas, tentukan tingkat simetri putarnya dengan lebih
dahulu membuat tabel seperti berikut:

Nama Bangun Tingkat Simetri Putar


a) Segitiga sama-sisi …
b) Segitiga sama-kaki …
c) Segitiga sembarang …
d) segitiga lancip …
e) segitiga siku-siku …
… …
… …
… …
f) …
g) …
h) …
i) Lingkaran …
j) Persegipanjang …
k) Persegi …
l) … …
Catatan.
Model persegi ABCD jika diputar satu putaran penuh, maka model tersebut akan menempati
bingkainya kembali sebanyak empat kali, yaitu jika diputar sejauh 1, 2, 3, dan 4 kali sudut siku-
siku. Dikatakan bahwa persegi memiliki simetri putar tingkat 4. Segitiga samakaki dan trapesium
misalnya, akan menempati bingkainya kembali sebanyak satu kali jika kedua bangun tersebut
diputar satu kali putaran penuh pada sembarang titik sebagai pusat putarannya. Di samping itu,
semua bangun yang tidak beraturan bagaimanapun akan tetap kembali ke dalam bingkainya,
minimal dengan satu cara. Karenanya, dengan dua alasan itu tadi, disepakati bahwa segitiga
samakaki dan trapesium tidak memiliki simetri putar. Hal ini berlaku umum untuk bangun-
bangun datar yang memiliki sifat-sifat seperti segitiga samasisi dan trapesium.

8
Bab III
Geometri Dimensi Tiga

Tujuan secara khusus setelah menyelesaikan bab ini adalah untuk membantu atau memfasilitasi
siswanya sedemikian sehingga siswanya dapat atau mampu: (1) Mengidentifikasi bangun ruang
dan unsur-unsurnya; (2) Menghitung luas permukaan bangun ruang; (3) Menerapkan konsep
volum bangun ruang; dan (4) Menentukan hubungan antara unsur-unsur dalam bangun ruang.

A. Bangun Ruang dan Unsur-Unsurnya

Banyak bangunan modern yang dirancang dan dibangun dengan sangat baik oleh para arsitek
maupun para insinyur teknik sipil. Para arsitek yang merancang bangunan tersebut harus
merancang dan menghitung dengan sangat teliti segala sesuatunya agar didapatkan suatu
bangunan yang indah dan menakjubkan. Mereka harus membuat gambar, sketsa, ataupun model
bangunan tersebut. Untuk mencapai hal tersebut, para arsitektur itu memerlukan kemampuan
berpikir yang berkait dengan pengetahuan tentang bidang dan ruang (dimensi dua dan tiga).
Karena itulah, sejak di SD para siswa telah dikenalkan dengan geometri bidang dan geometri
ruang, dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih mendalam di SMP maupun SMA dan SMK.
Gambar di sebelah kanan ini adalah kubus ABCD.EFGH. Bidang BCGF H
disebut sisi. Sisi adalah sekat atau perbatasan bagian dalam dan bagian G
luar dari suatu bangun ruang. Ada sisinya yang datar seperti pada E
F
kubus, balok, prisma, limas dan sebagainya, namun ada juga sisi yang
melengkung seperti pada tabung, bola dan kerucut. Unsur-unsur
bangun ruang lainnya adalah rusuk, dan titik sudut. Contoh rusuk D
C
adalah ruas garis AB. Rusuk merupakan perpotongan dua bidang sisi
pada bangun ruang, sehingga rusuk akan berupa ruas garis. A B
Ada rusuk yang berupa garis lurus seperti pada kubus, balok, prisma, limas dan sebagainya,
namun ada juga rusuk yang melengkung seperti pada tabung dan kerucut. Unsur lainnya adalah
titik sudut yang merupakan perpotongan tiga bidang atau perpotongan tiga rusuk atau lebih.

Latihan Bab III.1


Isilah titik berikut ini.

Banyak Banyak Titik


No Bangun Ruang Banyak Sisi (S) Hubungan
Rusuk (R) Sudut (T)
1 Kubus 6 12 8 6+8 = 12+2
2 Prisma Segitiga ... ... ... ...
3 Prisma segienam ... ... ... ...
4 Prisma segi-n ... ... ... ...
5 Limas segitiga ... ... ... ...
6 Limas segilima ... ... ... ...
7 Limas segi-n ... ... ... ...
8 Tabung ... ... ... ...
9 Kerucut ... ... ... ...
10 Bola ... ... ... ...

Hubungan apa yang Anda dapatkan dari tabel di atas berkait dengan S, R dan T? Jika mengalami
kesulitan, gunakan pengertian bangun ruang berikut.

9
1. Prisma adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh dua bidang sejajar yang berbentuk segi-
n serta beberapa bidang yang saling berpotongan menurut garis-garis yang sejajar. Dua
bidang yang sejajar tersebut dinamakan bidang alas dan bidang atas, sedangkan bidang-
bidang lainnya disebut dengan bidang tegak, sedangkan jarak antara kedua bidang disebut
tinggi prisma. Prisma yang rusuk tegaknya tegak lurus pada bidang alasnya disebut prisma
tegak. Jika tidak tegak lurus, disebut dengan prisma miring/condong
2. Limas adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh suatu daerah segi-n (yang disebut
dengan bidang alas) dan beberapa segitiga (yang disebut dengan sisi tegak) yang memiliki
satu titik sudut persekutuan (yang disebut dengan puncak). Rusuk-rusuk yang melalui
puncak disebut dengan rusuk tegak.
3. Tabung atau silinder adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh dua daerah kurva
tertutup yang sejajar dan kongruen dan dibatasi juga oleh himpunan (atau tempat
kedudukan) garis-garis sejajar yang memotong kedua kurva tertutup tersebut. Jika himpunan
garis-garis yang sejajar tersebut tegak lurus pada kurva tertutupnya, maka tabung tersebut
disebut dengan tabung tegak.
4. Kerucut adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh suatu daerah kurva tertutup (yang
disebut bidang alas) dan dibatasi juga oleh himpunan (atau tempat kedudukan) garis-garis
yang melalui suatu titik (yang disebut puncak) dan melalui lingkaran tadi. Kerucut yang
dibahas di sekolah biasanya kerucut dengan alas berbentuk lingkaran, dan proyeksi
puncaknya ke bidang alas akan berimpit dengan titik pusat lingkaran yang merupakan
bidang alasnya.

B. Luas dan Volum Bangun Ruang H G

Gambar di sebelah kanan ini berbentuk balok ABCD.EFGH yang E F


disusun dari kubus-kubus satuan. Bagaimana cara mencari luas D C
permukaan balok ABCD.EFGH tersebut? Ada berapa kubus satuan
yang digunakan untuk menyusunnya? Bagaimana cara mencari A B
volum balok ABCD.EFGH tersebut?
Berdasar pada pengerjaan di atas, dapat disimpulkan bahwa jika ukuran panjang, lebar, dan
tinggi suatu balok berturut-turut adalah p, l, dan t; serta A adalah luas alas balok; maka luas
permukaan dan volum balok tersebut adalah:
Luas Permukaan Balok = 2(p.l + p.t + l.t) dan Volum Balok = p.l.t = A.t

Kubus merupakan bentuk khusus dari balok, di mana p = l = t = a dan a adalah ukuran rusuk
kubus tersebut; sehingga didapat:

Luas Permukaan Kubus = 6 × a × a = 6a2 dan Volum Kubus = a × a × a = a3

D F
Luas permukaan prisma didapat dengan mencari terlebih
dahulu luas alas = luas atas dan luas sisi-sisi tegaknya lalu E
menjumlahkannya. Gambar di sebelah kanan ini t
menunjukkan sebuah balok yang sudah dibelah menjadi dua
prisma tegak segitiga siku-siku yang kongruen; sehingga A C
volum prisma adalah separuh dari Volum Balok. Jadi Volum l
prisma tegak segitiga siku-siku = ½.p.l.t = (½.p.l).t =A.t p B

10
Jadi, volum prisma tegak segitiga siku-siku = A.t, di mana A adalah luas alas prisma, dan t
adalah tingginya. Namun karena setiap prisma tegak segitiga dapat dinyatakan sebagai
gabungan dua prisma tegak segitiga siku-siku, maka rumus di atas dapat digunakan juga untuk
prisma tegak segitiga. Selanjutnya, karena setiap prisma tegak segi-n dapat dinyatakan sebagai
gabungan beberapa prisma tegak segitiga, maka rumus di atas dapat digunakan juga untuk
prisma tegak segi-n.

Dua bangun ruang pada gambar di sebelah kanan ini


memiliki volum yang sama, alas yang luasnya sama, dan
tinggi yang sama. Dengan demikian dapatlah
disimpulkan bahwa rumus volum prisma di atas dapat
digunakan juga untuk prisma miring segi-n. Jadi rumus
umum volum prisma yang didapat adalah:

Volum Prisma = A.t, di mana A adalah luas alas prisma, dan t adalah tingginya

Bayangkan segi-n di bawah ini yang merupakan alas suatu prisma. Dimulai dari segitiga, lalu
segi empat, segi lima, dan seterusnya. Yang terakhir adalah segi-n dengan n mendekati tak
hingga yang akan membentuk bangun datar yang menyerupai lingkaran.

...
Selanjutnya, dengan memperhatikan gambar tabung di sebelah kanan ini,
dapatlah dibayangkan bahwa tabung merupakan gabungan n buah tak
hingga prisma tegak segitiga; sehingga rumus volum prisma dapat
digunakan atau dianalogikan untuk menentukan volum tabung. Dengan
demikian didapat rumus volum tabung adalah:

Volum Tabung = A.t = π × r × r × t di mana r adalah jari-jari alas tabung dan t adalah tingginya

Luas permukaan tabung didapat dengan mencari terlebih dahulu luas alas = luas atas = π × r × r
dan dengan mencari luas selimut tabung yang berbentuk persegi panjang di mana p = 2 × π × r
dan l = tinggi tabung. Dengan demikian didapat:

Luas Permukaan Tabung = 2πr2 + 2πrt di mana r adalah jari-jari alas dan t adalah tinggi tabung

Gambar di bawah ini menunjukkan prisma ABC.DEF; yang lalu dibelah menjadi tiga limas
segitiga, yaitu limas A.DEF; E.ACB; dan A.CEF. Perhatikan limas A.DEF dan limas E.ACB. Apa
yang dapat Anda katakan tentang volum kedua limas tersebut? Karena luas ∆DEF sama dengan
luas ∆ABC (luas sisi alas dan atas prisma); dan tinggi kedua limas adalah sama, maka dapat
disimpulkan bahwa adalah sama; maka didapat:
volum limas A.DEF = volum limas E.ACB
Selanjutnya, perhatikan limas A.BCE dan limas A.CEG. Karena luas ∆CBE sama dengan luas
∆CEF (½ dari segi empat CBEF); dan tinggi kedua limas adalah sama; maka didapat:
volum limas A.BCE = volum limas A.CEG
Kesimpulan akhirnya adalah, volum limas A.DEF; E.ACB; dan A.CEF adalah sama.
11
F F F F
E
E E E E

D D D

C
C
C
C B
B B
A
A A A A

Dengan demikian didapat bentuk umum volum limas segitiga adalah 1 dari volum prisma =
3
1 .At. Dengan cara sama (analog) pada pengembangan rumus volum prisma tadi, di mana limas
3
segi-n dapat dijadikan limas segitiga maka didapat rumus umum volum limas adalah:

Volum Limas = 1 .A.t, di mana A adalah luas alas limas, dan t adalah tingginya
3
Dengan menganggap bahwa alas kerucut merupakan segi-n dengan n mendekati tak hingga,
sehingga dapat diturunkan volum kerucut berikut.

Volum Kerucut = 1 .π.r.r.t, di mana r adalah jari-jari alas kerucut, dan t adalah tingginya
3

Gambar di sebelah kanan ini menunjukkan


kerucut dan jaring-jaringnya. Perhatikan C A B
bahwa r adalah jari-jari lingkaran alas; s s
adalah panjang apotema (garis pelukis) C
kerucut; dan α adalah ukuran sudut pusat s
juring. Perhatikan bahwa panjang busur α° r
O
AB pada jaring-jaringnya adalah sama
dengan keliling lingkaran alas kerucut. O r A=B
Mengapa? Sekarang didapat:
Keliling lingkaran alas = 2.π.r = Panjang busur AB = α o .π.s; sehingga didapat: α = r × 360 o
360 o s
Karena luas lingkaran dengan jari-jari s adalah 2.π.s; sehingga didapat luas juring ACB yang
merupakan selimut kerucut adalah r .π.s..s = π.r.s. Di samping itu, luas lingkaran alas adalah
s
π.r.r; sehingga didapat rumus luas permukaan kerucut berikut.

Luas Permukaan Kerucut =π.r.s + π.r.r = π.r(s + t)


di mana r adalah jari-jari lingkaran alas kerucut, dan s adalah panjang apotemanya

12
Gambar di bawah ini menunjukkan bola dengan jari-jari r, tabung dengan tinggi 2r dan jari-
jarinya r; serta setengah bola dengan jari-jari r.

r
t = 2r ⇒

Jika dibuat takaran seperti gambar tabung dan setengah bola di atas, lalu menakarnya, akan
didapat bahwa volum tabung sama dengan tiga volum setengah bola, sehingga didapat:
Vtabung = 3 × V 1 atau
bola
2
1 1 1 2
V1 = × Vtabung = × πr2 × t = × πr2 × 2r = πr3
bola 3 3 3 3
2

2 3 4 3
Jadi, volum bola = 2 × πr = πr dengan r = jari-jari bola
3 3
Gambar di sebelah kanan ini, menunjukkan sebuah bola dan sebuah
kerucut. Dengan demikian, volum bola dapat dibayangkan sebagai
hasil penjumlahan tak hingga kerucut kecil-kecil yang tingginya
sama dengan jari-jari bola; semua puncak kerucut terletak pada pusat
bola; dan alas kerucut terletak pada bola. Dengan demikian, volum r
kerucut kecil pertama adalah 1 .A1.t = 1 .A1.r; sehingga didapat:
3 3
Volum bola = .A1.t + .A2.t + .A3.t + 1 .A4.t + ... + 1 .An.t
1 1 1
3 3 3 3 3
4 3 1
πr = (A1 + A2 +.A3 +.A4 + ... +An) r--- (1)
3 3
Karena (A1 + A2 +.A3 +.A4 + ... +An) senilai dengan luas permukaan bola, maka persamaan (1) di
atas dapat dimanipulasi menjadi:
4 3 1
πr = r dari (Luas Permukaan Bola) ⇒ Luas Permukaan Bola = 4πr3.
3 3

Jadi, Luas Permukaan Bola adalah 4πr2 dengan r adalah jari-jari bola
H
C. Hubungan Antar Unsur-Unsur Bangun Ruang G
E
F
Perhatikan gambar kubus di sebelah kanan ini. Titik B terletak pd garis
AB, atau garis AB melalui titik B; sedangkan titik B berada di luar garis
HG, atau garis HG tidak melalui T. Di samping itu, dari gambar terlihat D
C
jelas bahwa titik D terletak pada bidang ABCD, atau bidang ABCD
melalui titik D; sedangkan titik D di luar bidang BCGF, atau bidang BCGF A B
tidak melalui titik D.

13
Dengan demikian jelaslah bahwa suatu titik dapat terletak di suatu garis atau terletak pada suatu
bidang; namun dapat juga terjadi suatu titik tidak terletak di suatu garis atau tidak terletak pada
suatu bidang. Berkait dengan hubungan antara garis dan bidang; suatu garis (misalnya BG) dapat
terletak pada bidang (misalnya BCGF), atau dikatakan bahwa bidang BCGF tersebut melalui garis
BG. Selain itu, suatu garis (misalnya BG) memotong bidang ABCD, atau dikatakan bahwa BG dan
ABCD berpotongan. Kemungkinan ketiga adalah garis (misalnya BG) sejajar bidang ADHE
(ditulis: BG //ADHE).

Hubungan apa yang dapat Anda katakan tentang ruas garis: (1) AB dan EF; (2) AB dan BF; (3) AE
dan DC; serta (4) BC dan CB? Dikatakan bahwa: (1) AB sejajar dengan EF; (2) AB dan BF
berpotongan, (3) AE dan DC bersilangan; serta (4) BC dan CB saling berimpit, dikatakan juga BC
= CB. Perhatikan bahwa pada: (1) dua garis yang sejajar, kedua garis terletak pada satu bidang
dan tidak saling berpotongan; (2) dua garis yang berpotongan akan terletak pada satu bidang dan
akan memiliki satu titik persekutuan; (3) dua garis bersilangan tidak akan pernah terletak pada
satu bidang dan tidak berpotongan; serta (4) dua garis yang berimpit maka semua titik pada garis
yang satu akan bersekutu dengan titik pada garis yang lain.
Pada gambar kubus di atas, perluasan bidang ADHE dan BCGF tidak mempunyai titik
persekutuan. Dikatakan bahwa kedua bidang tersebut adalah sejajar (ADHE//BCGF). Namun
bidang ADHE disebut berpotongan dengan bidang ABCD pada sebuah garis. Garis potongnya
adalah AD.

Ada lima macam hubungan antara tiga bidang, yaitu:

W
U V V
U U
W
V V
V
U W
W U W

1. Ketiga bidang sejajar, ketiga bidang tidak ada yang memliki garis atau titik-titik persekutuan.
2. Dua bidang sejajar dipotong bidang ketiga. Pada gambar di atas, bidang U//V. Bidang W
memotong kedua bidang. Dua garis potongnya, yaitu (U,V) dan (U,W) sejajar.
3. Ketiga bidang berpotongan pada satu garis. Pada gambar di atas, ketiga bidang berpotongan
pada satu garis; sehingga (U,V) = (U,W) = (V,W).
4. Ketiga bidang berpotongan pada tiga garis yang sejajar, yaitu (U,V)//(U,W)//(V,W)
5. Ketiga bidang berpotongan pada sebuah titik; yaitu (U,V), (U,W), dan (V,W) berpotongan di
satu titik.
30
Latihan Bab III
30
1. Gambar ini menunjukkan tugu batu yang berdiri tegak di atas
tegel. Setiap tegel berbentuk persegi dengan ukuran 30
30cm×30cm. Tentukan volum tugu tersebut. [27cm3]

2. Berat batu bata dengan volume 1 m3 adalah 2,25ton. Ada


berapa batu bata berukuran 25 cm × 12,5cm × 10cm dapat
dibawa truk yang kapasitasnya 13,5ton. [9.600 buah]
14
3. Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 6 cm. Tentukan luas permukaan kubus.
[A. 36 cm2, B. 108 cm2, C. 200 cm2, D. 216 cm2, E. 612 cm2]

4. Limas T.ABCD dengan alas berbentuk persegi. Panjang AB = 10 dm dan tinggi limas 12 dm.
Luas permukaan limas ... dm2. [A. 260, B. 300, C. 320, D. 360, E. 380]

5. Limas tegak T.ABCD dengan alas berbentuk persegi-panjang. Panjang AB = 8 cm, BC = 6 cm,
dan TC = 13 cm. Volum limas ... cm3. [A. 624, B. 576, C. 321, D. 208, E. 192]

6. Sebuah prisma tegak ABC.DEF, dengan alas segitiga siku-siku di titik B. Jika panjang AB = 5
cm, BC = 12 cm, AC = 13 cm dan AD = 10 cm, volum prisma tersebut adalah ... cm2. [A. 300, B.
325, C. 600, D. 650, E. 780]
7. Sebuah kerucut setinggi 30 cm memiliki alas dengan keliling 66 cm (π = 22/7}. Volum kerucut
itu adalah … cm3. [A. 16.860, B. 10.395, C. 6.930, D. 3.465, E. 2.346]

8. Tinggi sebuah kerucut lingkaran tegak 16 cm, sedangkan jari-jari (radius) lingkaran alasnya 12
cm. Tentukan perbandingan antara volum bola dalam kerucut dan volum kerucut itu sendiri.
[A. 3 : 5; B. 3 : 8; C. 5 : 3; D. 5 : 8; E. 5 : 12]

9. Diketahui sebuah kaleng berbentuk tabung tanpa tutup. Tingginya 60 cm dan diameter
lingkaran alasnya 42 cm. Luas permukaan tabung tersebut adalah ... cm2. [A. 8.052; B. 9.306; C.
10.692; D. 83.292; E. 83.424]

10. Pada kubus ABCDEFGH, M dan N berturut-turut adalah titik-titik tengah sisi-sisi DC dan EF.
Berbentuk apakah AMGN?

11. Tiga dadu dilekatkan sebagaimana terlihat pada gambar. Tujuh dari 18
sisi dadu tersebut dapat dilihat, sedangkan 11 sisi dadu lainnya tidak
terlihat. Berapa banyak noktah (titik) dadu yang tidak terlihat? [40]

12. Pada balok ABCD.EFGH, panjang AB = 8 cm, BC = 6 cm dan EA = 10 cm. Tentukan luas
bidang ACGE. [A. 100 cm2, B. 130 cm2, C. 144 cm2, D. 156 cm2, E. 169 cm2]

13. Dita mendapat hadiah seuntai kalung. Kalung tersebut memiliki panjang 30 cm dan
seluruhnya diisi butiran mutiara berbentuk bola dengan diameter 1cm. Apabila berat mutiara
per cm3 adalah 25 gram, maka berat total mutiara pada kalung Dita adalah .... [589,29 gram]

14. Tentukan volum bangunan jembatan di sebelah kanan ini.


(Gunakan π = 22/7). [363cm3]

15. Annisa bermain-main dengan 120 potong kayu berbentuk


kubus satuan yang sama ukurannya. Ia melekatkan semua
potongan kubus satuan tersebut tersebut satu dengan Jari-jari
yang lain sehingga membentuk sebuah balok. 4m
Ia lalu mengecat 6 sisi balok tersebut.
Ketika catnya kering, ia melepas lagi balok tersebut 7m 3m
menjadi kubus-kubus satuan.

15
Jika ternyata ada 24 buah kubus satuan yang sisi-sisinya tidak terkena cat sama sekali.
Tentukan ukuran balok yang disusun Annisa.

16. Buatlah jaring-jaring limas segiempat beraturan yang diketahui rusuk alasnya = 10 cm, dan
tinggi limas = 5 cm.

17. Buatlah jaring-jaring kerucut jika diketahui panjang


diameternya 6 cm dan tingginya 4 cm.

18. Karim sedang merancang model menara dari kubus-


kubus satuan sehingga terbentuk model menara seperti
gambar di bawah ini. Perhatikan bahwa ada lubang
tembus dari kiri ke kanan, lubang tembus dari atas ke
bawah, dan lubang tembus dari depan ke belakang.
Tentukan banyaknya seluruh kubus satuan yang
dibutuhkan Karim untuk membuat model menara ini.
[164]

19. Buatlah jaring-jaring:


a. Tabung dengan tinggi 5 cm dan jari-jari lingkaran alas 3,5 cm.
b. Limas segi-4 beraturan dengan tinggi 4 cm dan panjang rusuk alas 6 cm.
c. Kerucut dengan apotema 7 cm dan jari-jari lingkaran alas 5,25 cm.

20. Amir membangun menara setinggi 4 kubus, seperti ditunjukkan gambar


di sebelah kanan ini.
a. Berapa buah kubus yang dibutuhkan Amir untuk membangun H
G
menara tersebut? E
b. Jika Amir ingin membangun menara setinggi 8 kubus, berapa F
buah kubus yang dibutuhkan Bani untuk membangun menara
tersebut? D
c. Apabila seluruh permukaan menara dicat, tentukan banyak kubus C
kecil yang tercat: (1) 4 sisinya; (2) 3 sisinya; (3) 2 sisimya; (4) 1
A B
sisinya; dan (5) 0 sisinya.

21. Buatlah sebanyak-banyaknya jaring-jaring kubus tanpa tutup


dengan pola yang berlainan. Berapa banyak macam semua jaring-
jaring kubus tanpa tutup?

22. Berapa banyak kubus satuan yang masih diperlukan


untuk memenuhi kotak pada gambar berikut ini? [98
kubus]
T
U P S
23. Pada permukaan limas segienam terpancung Q R
ABCDEF.PQRSTU seperti pada gambar terdapat 36 sudut.
Tentukan jumlah besar sudut dari ke-36 sudut tersebut. E
[3.600°] F D
C
A B

16
24. Suatu bidang datar memotong kubus melalui titik A menjadi dua bagian. Jika irisannya
berbentuk segitiga samasisi, tentukan banyaknya cara memotong kubus tersebut. [ 3]

25. Tentukan anyaknya garis lurus yang memotong tiga buah garis yang saling bersilangan. [A.
nol buah; B. satu buah; C. dua buah; D. tiga buah; E. lebih dari tiga buah.

26. Garis a dan b adalah dua buah garis yang saling bersilang. Titiktitik P, Q, R terletak pada a dan
titik-titik K, L, M terletak pada b. Bidang yang melalui P, Q, dan K serta bidang yang melalui R,
L , M … . [A. berhimpit; B. sejajar; C. berpotongan sepanjang QL; D. berpotongan sepanjang
PM; E. berpotongan sepanjang RK]

27. Bidang V dan bidang W saling berpotongan pada garis a. Jika garis g tegak lurus bidang V,
maka … . [A. g tegak lurus bidang W; B. g sejajar a; C. g selalu sejajar bidang W; D. g selalu
memotong bidang W; E. g tegak lurus a]

28. Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 12 cm. K adalah titik tengah rusuk AB.
Jarak titik K ke garis HC adalah … . [A. 4√6 cm; B. 6√3 cm; C. 5√6 cm; D. 9√2 cm; E. 6√5 cm]
Catatan, jarak didefinisikan sebagai panjang ruas garis penghubung terpendek yang
menghubungkan dua titik pada bangun-bangun tersebut.

29. Tetrahedron T.ABC dengan panjang rusuk-rusuknya 4 cm, titik P dan Q berturut-turut titik
tengah – titik tengah AB dan TC, maka panjang PQ adalah sama dengan ... cm. [A. 2 3 ; B.
2 2 ; C. 8; D. 3 2 ; E. 5 6 ]

30. Pada kubus ABCD.EFGH yang panjang rusuknya 4 cm; maka besar sudut antara bidang ABH
dengan bidang ABCD adalah sebesar ... . [A. 30°; B. 45°; C. 60°; D. 75°; E. 90°]

17
Bab IV
Penutup

Geometri adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara titik, garis, sudut, bidang dan
bangun-bangun ruang. Ada dua macam geometri yang telah dibahas, yaitu geometri datar dan
geometri ruang. Geometri Bidang (G Datar atau G Dimensi Dua) yang membicarakan bangun-
bangun datar; dan G Ruang yang membicarakan bangun-bangun ruang dan bangun-bangun
datar yang merupakan bagian dari bangun ruang sangat penting bagi para siswa, baik ketika ia
mempelajari mata pelajaran lain, maupun ketika ia bekerja. Hal tersebut sangat penting
terutama untuk para siswa yang pekerjaannya berkait dengan teknik bangunan, teknik listrik,
teknik mesin, dan juga untuk para siswa yang bekerja di bagian tata busana dan seni.

Modul ini disusun dengan maksud untuk memberikan tambahan pengetahuan berupa
wawasan bagi para guru matematika SMK yang mengikuti diklat jenjang dasar di PPPPTK
Matematika. Harapannya, modul ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber untuk dapat
memecahkan masalah-masalah selama proses pembelajaran di kelas yang berkait dengan
Geometri Datar dan Ruang. Selanjutnya, Bapak dan Ibu diharapkan dapat mencobakan materi
yang ada pada modul ini yang sesuai dengan kondisi di sekolahnya masing-masing. Untuk soal
yang terlalu sulit bagi para siwa di tempat Anda maka soal tersebut dapat dimodifikai dengan
mempermudah ataupun dengan menyederhanakan soalnya. Namun perlu diingatkan bahwa
modul ini masih jauh dari kesempurnaan. Karenanya, bapak dan ibu guru diharapkan dapat
mencari pustaka lainnya untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensinya.

18
Daftar Pustaka

Abdullah, S; Wakiman, T; Anggraini, G. (2000) Materi Pembinaan Guru SD di Daerah.


Yogyakarta: PPPG Matematika.

Depdiknas (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006. Jakarta:
Depdiknas.

Johnson, D.A; Rising, G.R. (1972) Guidelines for Teaching Mathematics. Belmont: Wodsworth
Publishing Company.

Moesono, D; Amin, S.M. (1994) Matematika 5. Mari Berhitung. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.

Rahardjo, M. (1999) Geometri Datar dan Ruang. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Seputra, TMHT; Amin SM. (1994). Matematika 1b. Mari Berhitung. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

Soedjadi; Kusrini (1994). Matematika 2C. Mari Berhitung. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

Sukahar; Amin, S.M. (1994) Matematika 6. Mari Berhitung. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan

Sukarman, H (2000) Geometri. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Travers, K.J.; Dalton, L.C.; Layton, K.P. (1987). Laidlaw Geometry. Illinois : Laidlaw Brothers.

Winarno; (1999). Geometri Ruang. Yogyakarta : PPPG Matematika

19