Anda di halaman 1dari 124

JAWABAN SOAL UJIAN STUDI AGAMA HINDU

1. PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA, INDONESIA DAN


KALIMANTAN TENGAH
a. Perkembangan Agama Hindu di India

Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan
agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali
dikenal di India. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya
dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana,
Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala
di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal
di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah
satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan
perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran
Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap
Dewa-dewa.
1. Jaman Weda–>Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di
Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum
Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke
dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka
menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan
sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah
manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal
dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang
disebut “Rta”. Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana,
Ksatriya, Vaisya dan Sudra.

2. Jaman Brahmana–>Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana


amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang
mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman
Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya “Tata Cara Upacara” beragama
yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan
upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan
wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.

3.Jaman Upanisad–>Pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya


terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada
pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam
gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan
falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini
muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan
pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan
Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.

4.Jaman Budha–>pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana
yang bernama “Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan
mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk
menghubungkan diri dengan Tuhan.

Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga
keluar dari India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas
Internasional.

Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui


berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan
Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang
Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda
dianggap sebagai saksi.
Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi
adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara
artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara.
Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman
dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari
India.
Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang
bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di
daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan
agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orang-
orang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda.
Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan
“Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya
sekarang ini.
Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saat-
saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini
disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang
berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya.
Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah
satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh
Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik
bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha
Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan
membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian
Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama
Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat
taman gunung abu (Ash Mountain Park).
Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian
tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu
dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau
tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas
menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa
oleh agama Hindu.

Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4


fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman
Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan
Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam
dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang
menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa.
Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada
jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa.
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah
Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah
mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi
Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah
Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya.
Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan
perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha
Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta".
Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan
Sudra.

Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada


kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan
orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula
mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab
Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya.
Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu
Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.

Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas


pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan
bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman
Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama,
yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah
ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada
ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan
sebagai Tri Murti menjadi umum.

Selanjutnya, pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana
yang bernama "Sidharta", menafsirkan Weda dari sudut logika dan
mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk
menghubungkan diri dengan Tuhan.
Agama Hindu, dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui
beberapa cara. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga
di Nusantara

b. Perkembangan Agama Hindu di Indonesia

Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi,


dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di
Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para
Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Ini dapat diketahui
dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4
Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai
di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan
mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa:
“Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh
Mulawarman”. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman
melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat
itu disebut dengan “Vaprakeswara“.

Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang


besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi
kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa
dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur
kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama
Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan
diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi,
Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut
berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.

Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja


Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja
yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki
Dewa Wisnu”

Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya
yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa
Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja
Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti
sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu
berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di
lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf
Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang
menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan
Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.

Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa


sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh
Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala
berbunyi: “Sruti indriya rasa”, Isinya memuat tentang pemujaan terhadap
Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.

Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng
dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi
dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan
bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping
itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan
ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa
sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang
pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun
760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para
pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan
Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah
Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.

Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana
Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat
dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti
Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang
memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut
Hindu yang setia.

Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun
1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak
muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab
Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana.
Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman
kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi
Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan
Singosari.

Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan
Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan
masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan
Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran,
yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya
buku Negarakertagama.

Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu


di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan
dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra
Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di
Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.

Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu


agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada
masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar.
Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan
dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan
dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad
inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga.
Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan
Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.

Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali


(tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam
teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong,
kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya
Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat
besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan
tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu
(Klungkung).

Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali


pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun
mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha
di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta
tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali
tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja,
Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun
1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis
Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat
Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di
Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik
awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10
Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis
keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis
keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada
Hindu Dharma Indonesia.

Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu


pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah
sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan
dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama
Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia
Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa
teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.

Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya.

Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis",


menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui
penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang
(Waisya) India.

Mookerjee (ahli - India tahun 1912).

Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa


oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau
Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota
sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering
mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang berlangsung sangat lama
ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.

Moens dan Bosch (ahli - Belanda)


Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap
penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh
kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke
Indonesia.

Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.

Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu


dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa
dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan
agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India
Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam
penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti
seperti:

Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):

Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada
membuat pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan
suci dari Beliau.

Prasasti Porong (Jawa Tengah)

Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan


kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak
istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra,
artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam
pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena
mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.

c. Perkembangan Agama Hindu di Kalimantan Tengah


2. EKSISTENSI KEBERADAAN AGAMA HINDU

Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama


Hindu dan budaya Bali. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan
dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian
tampak pesat mendera setiap bangsa. Berbagai produk budaya global telah
merambah berbagai aspek kehidupan. Dampak positif budaya global sangat
dirasakan oleh masyarakat Bali. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Demikian pula alat-alat komunikasi,
transportasi, dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada
masyarakat Bali yang memang sangat terbuka, untuk berkomunikasi ke mana saja
di belahan bumi ini. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal
yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan
adaptif, menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu
dan budaya Bali. Di balik dampak positif globalisasi, tidak dapat dihindari adalah
dampak negatif budaya global tersebut. Teknologi komunikasi dan informasi yang
demikian maju memberi peluang masuknya berbagai pengaruh budaya asing, ke
dalam rumah dan bahkan ke dalam kamar-kamar dan kepada pribadi masyarakat.
Dampak negatif budaya global tersebut merupakan dampak dari kehidupan
modern. Muncul berbagai masalah di antaranya masyarakat semakin individualis,
kurangnya solidaritas. Berkembangnya penyakit sosial seperti prostitusi,
penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba, ekstasi, dan sebagainya),
pencurian, perampokan, dan bahkan pemerkosaan.

Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara


nilai-nilai budaya lokal dan global. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini
digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan
karena pengaruh nilai-nilai budaya global, terutama dengan adanya kemajuan
teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Proses globalisasi
telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler, yang
dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. Nilai-nilai yang mapan
selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan
keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika,
2005:18).

Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut, tampak beragam
respon masyarakat Bali. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan
globalisasi tersebut, di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir
terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. Dalam situasi yang demikian,
mantan Duta Besar India, Vinod C. Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa
kali mengunjungi Bali, dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004)
seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan
bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki
kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya
global.

The island of Balinever lost sight of this truth while facing up to the relentless
onslaught of tourism on its rich artistic heritage, and can be an example to the
rest Asia for its skill in adapting traditional cultural practices to suit a modern
context.

Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui bahwa Agama Hindu dan budaya
Bali mampu menghadapi budaya globabal, namun demikian kekhawatiran
sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan
untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya.

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Agama Hindu menjadi jiwa dan sumber
nilai budaya Bali, untuk itu kiranya perlu diketengahkan bagaimana sinergi dan
dinamika Agama Hindu dengan budaya Bali dan melakukan fungsinya sesuai
dengan budaya Bali. Sinergi dan dinamika Agama Hindu di Bali telah melahirkan
berbagai kearifan lokal. Agama Hindu dan tidak menghapuskan tradisi
masyarakat dan budaya Bali sebelumnya, tetapi sebaliknya memberikan
pencerahan kepada budaya lokal. Berbagai kearifan lokal telah terbukti mampu
menjadikan Agama Hindu dan budaya Bali eksis sepanjang masa
3. IMPLEMENTASI AGAMA HINDU YANG BERSIFAT UNIVERSAL
Hindu memang dikenal dengan banyaknya Upacara, banyak umat Non-Hindu
yang mengangap bahwa itu tidaklah praktis. Tapi bagi Umat Hindu itulah cara
mereka menunjukan rasa cinta dan kekaguman mereka pada sang pencipta. Hindu
percaya dalam menjaga dunia ini Tuhan juga berkorban untuk kita, dan bukan
Hindu saja yang percaya hal itu, umat Kristen percaya bahwa Yesus berkorban
untuk umatnya, Budha pun berkorban untuk kedamaiaan pengikutnya. Bagi Umat
Hindu tidak ada upacara yang ribet atau tidak praktis, karena semua dilakukan
dengan rasa bahagia dan keiklasan. Bukanya hanya berdoa pada Tuhan lalu
meminta berkahnya. Dalam mantra Hindu seperti maha mantra Hare Krisna dan
lain-lain jika diartikan disebutkan pada awalnya bukan meminta berkah sesuatu
seperti doa-doa ajaran yang lain, melainkan meminta untuk mengabdi dan
berbakti pada beliau.
Dalam Hindu tidak ada namanya perwakilan Tuhan di dunia, sunguh tidak
sempurnanya Tuhan jika harus memiliki perwakilan di dunia. Aneh bukan jika itu
ada, secara logika saja sudah agak aneh. Tapi memang agama tidak bisa
dilogikakan. Seperti kebayakan Non-Hindu mengatakan bahwa umat Hindu
mengangap Sri Satya Sai Baba sebagai wakil tuhan di dunia. Itu salah, karena
Umat Hindu tidak pernah mengangap seperti itu, umat Hindu mengangap Sri
Satya Sai Baba yang memiliki tidak saja pengikut dari Hindu melainkan juga
Umat Non-Hindu sebagai Guru Besar Spritual dalam Hindu. Umat Hindu percaya
bahwa beliau adalah Guru yang patut dihormati dan bukan berarti beliau diangap
sebagai tangan tuhan di dunia ini, karena walau beliau itu penuh dengan keajaiban
namun beliau tetap tidak sesempurna tuhan.
Hindu merupakan agama yang universal, yang mampu berdampingan dengan
agama lain. Agama Hindu tidak pernah mempersalahkan agama lain yang ada di
dunia ini.
Satu lagi mungkin juga yang membedakan Hindu dari agama yang lainya, Hindu
bukanlah agama yang membenarkan penghapusan Dosa, bagi Hindu dosa tidak
bisa hapus, dengan cara apapun. Namun perbuatan dosa bisa diimbangi dengan
perbuatan Baik. Tidak ada dalam Hindu memberi secarik kertas dari sebuah
perwakilan yang menyebut dirinya perwakilan Tuhan di dunia, kemudian dosa
bisa dikurangi, lalu masuk sorga, atau dengan membunuh orang dengan atas nama
Jihad kemudian masuk sorga. Dalam Hindu itu tidaklah ada, dan juga dalam
Hindu sorga bukanlah tujuan utama mereka, melainkan Moksha atau menyatu
dengan Tuhan (Brahma) . sekarang mungkin kita sedikit melihat bagaimana ke
agungan Hindu itu sendiri, Minoritas bukan berarti tidak berkualitas. Banggalah
kita menjadi Hindu. Jangan pernah kita merasa kita ini minoritas, karena
sebenarnya kita adalah mayoritas dalam ajaran keagamaan.

4. HINDU ADALAH SANATANA DHARMA

Dalam upaya memantapkan pandangan kita terhadap ajaran Hindu Dharma


terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu
atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut
oleh umat manusia. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai
sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama
Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada
wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan Prof. Dr. Mukti Ali, sebagai tokoh ahli
perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia,
tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak
mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. Bilama Hindu tidak mengenal
missi, bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu?

Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang


kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian
Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. Yang dimaksud dengan Varna
adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa (bakat pembawaan orang) dan Karma
(kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang.

Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa
kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan
pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia. Dalam kontek pembicaraan kita
saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. Jadi agama Hindu sama
dengan Hindu Dharma. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh
orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi dengan penduduk di lembah
sungai Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan
masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan
kemudian orang-orang Barat yang datang kemudian menyebutnya dengan India.
Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang
kini bernama Srilanka, Pakistan, Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa
yang disebut juga Jambhudvìpa.

Kata Sanàtana Dharma berarti agama yang bersifat abadi dan akan selalu
dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama asli dari agama ini masa,
karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal,
merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya
tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran
agama yang bersumber pada kitab suci Veda, yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa
(Mahadevan, 1984: 13).

Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu.
Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu
telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (Aparokûa-
Anubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad, pengalaman-pengalaman ini sifatnya
langsung dan sempurna. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman
para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya).
Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orang-
orang bijak sejak ribuan tahun yang lalu, membentuk kemuliaan Hinduisme, oleh
karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda,
1988: 4)

Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh
pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1.9.1 (Dayananda,
1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka
(Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II.11 (Loc.Cit). Bagi umat Hindu kebenaran
Veda adalah mutlak, karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati, pimpinan tertinggi Úaýkara-math
yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan
pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam
atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut
Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). Puruûeyaý artinya dari manusia. Bila
Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta
(karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar. Para maharsi menerima
wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi
(kedalaman dan pengalaman rohani)nya, merealisasikan kebenaran Veda, bukan
dalam pengertian atau mengarang Veda. Apakah artinya ketika seorang
mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah
ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein, Newton atau Thomas Edison
dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah
ada ketika alam semesta diciptakan. Demikian pula para maharsi diakui sebagai
penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada
sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi
agung. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada, karena bersifat Anadi-
Ananta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu. Oleh karena
kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka, para maharsi mampu
menerima mantra Veda. Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa
dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra), Devatà (Manifestasi Tuhan Yang
Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda).
Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan
kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai
membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra, 1988: 5).

Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agama-
agama yang lain, melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4
kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda
(Ågveda, Yajurveda, Sàmaveda atau Atharvaveda). Masing-masing kitab mantra
ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa, Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu
diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa
Sanskerta disebut Úruti. Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang
didengar oleh para maharsi. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui
kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan
kepada para murid dan pengikutnya, lama kemudian setelah tulisan (huruf)
dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Seorang maharsi
Agung, yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya
menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada
berbagai Úàkha, Aúsrama, Gurukula atau Saýpradaya.

Didalam memahami ajaran agama Hindu, disamping kitab suci Veda (Úruti)
yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi, dikenal pula hiarki
sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu
adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu), Úìla
(yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah)
dan Puràóa (sejarah kuno), Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang
juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi, yakni
kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi
dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu
dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. Majelis inilah yang
berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan
sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber ajaran Hindu yang
kedudukannya lebih tinggi.

Karakteristik Hindu Dharma

Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional


manusia. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak
semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir, kemerdekaan dari
pemikiran, perasaan dan pemikiran manusia. Ia memperkenalkan kebebasan yang
paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. Hindu Dharma adalah suatu
agama pembebasan. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan
berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang
mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa, jiwa, penciptaan, bentuk
pemujaan dan tujuan kehidupan ini. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu
doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun
dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. Ia memperkenalkan kepada
setiap orang untuk merenungkan, menyelidiki, mencari dan memikirkannya, oleh
karena itu, segala macam keyakinan/Úraddhà, bermacam-macam bentuk
pemujaan atau sadhana, bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda,
memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma
dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang
satu dengan yang lainnya.

Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam


Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi
(muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami"
(Radhakrishnan, I, 1989: 27). Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu
Dharma. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk
mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan
pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà
(Morgan, 1987: 5). Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara
tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya, sedangkan Iûþa atau
Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang
dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu, yang ingin dipuja sesuai dengan
kemantapan hati.

Svami Sivananda, seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini
Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar
dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma
sangatlah universal, bebas, toleran dan luwes. Inilah gaambaran indah tentang
Hindu Dharma. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar
tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma;
tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe
pemahaman dan tempramen, sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam
pula. Hal ini adalah wajar. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu
Dharma; karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran
dari yang tertinggi sampai yang terendah, demi untuk pertumbuhan dan evolusi
mereka (1984: 34).

Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma
mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma
merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan
Dr.K.M. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan
kesulitan lain. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan
dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat
tertentu (Natih: 1994: 116)

5. KOTA SUCI HINDU DI BHARATIYA

6. SANSKRTA MENYEBAR KE SELURUH UMAT HINDU

Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih
dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Bahasa yang bisa menandingi
'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. Kata
Sansekerta, dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang
sempurna. Maksudnya, lawan dari bahasa Prakerta, atau bahasa rakyat.

Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India, sebuah bahasa liturgis
dalam agama Hindu, Buddhisme, dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa
resmi India. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal.

Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi
bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak
bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk pra-
klasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan
fase yang tertua dan paling arkhais. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih
1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua
ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.

Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang
kaya, drama dan juga teks-teks ilmiah, teknis, falsafi, dan agamis. Saat ini bahasa
Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada
upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. Bahasa Sanskerta yang
diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan
ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta.

7. ETIKA HINDU

Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat
(Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari-
hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya
akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan. la akan
memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu
mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang
memegang teguh sendi-sendi kesusilaan. Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan
bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup
seutuhnya, oleh sebab itu ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan
budi pekerti yang luhur, membina umatnya menjadi manusia susila demi
tercapainya kebahagiaan lahir dan batin. Kata Susila terdiri dari dua suku kata:
"Su" dan "Sila". "Su" berarti baik, indah, harmonis. "Sila" berarti perilaku, tata
laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin
obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya.
Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku
hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan
alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya),
keikhlasan dan kasih sayang.Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran
1. Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala
makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya
menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian
diresapi oleh sinar tuntunan kesucian Tuhan dan sama sekali bukan atas dasar
pamrih kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai
upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci.

2 Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang
merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap
individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya

3. Panca Yama dan Niyama Brata

Lima Kebaikan yang harus dilakukan dan 5 keburukan yang harus dipantang.

4 Tri Mala

Tiga sifat buruk yang dapat meracuni budi manusia yang harus diwaspadai dan
diredam sampai sekecil- kecilnya.

5. Sad Ripu

Sad Ripu adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda,
yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi.

6. Catur Asrama

Empat tingkat kehidupan manusia dalam agama Hindu, disesuaikan dengan


tahapan- tahapan jenjang kehidupan yang mempengaruhi prioritas kewajiban
menunaikan dharmanya.
7. Catur Purusa Artha

Empat dasar tujuan hidup manusia

8. Catur Warna

Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan
berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang.

9. Catur Guru
Empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu.

10. PANCA SRADHA

Sradha berarti "yakin", "percaya", yang melandasi umat Hindu dalam meyakini
keberadaan-Nya. Umat Hindu mendasari keyakinannya berjumlah lima, yang
disebut dengan panca Sradha. Panca Sradha meliputi:

• Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan


• Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman
• Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum
sebab-akibat).
• Samsara — Keyakinan pada kelahiran kembali

Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman

11. APLIKASI PANCA MAHA YAJNA

Panca Yadnya adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat
Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yadnya atau
Panca Maha Yadnya tersebut terdiri dari:

1. DewaYadnya.
Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa
dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha
Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha
Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan
persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta
Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut
dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang
tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya
Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain-
lain.

2. PitraYadnya.
lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh
suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan
menyelenggarakan upacara Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan
sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari
pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus
ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam
surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa
bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat
hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Hal tersebut
dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang
kepada orangtuanya (leluhur) seperti:
a. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
b. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
c. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.

3. Manusa Yadnya.
Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup
manusia.
Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacara Yadnya ataupun selamatan,
di antaranya ialah:
a. Upacara selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi
yang baru lahir.
b. Upacara selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur
3 bulan (105 hari).
c. Upacara selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).
d. Upacara perkawinan (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/
Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.

Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan


spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata
demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang
pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh
kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan
dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu
(athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang
menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah
termasuk Manusa Yadnya.

4. ResiYadnya.
Adalah suatu Upacara Yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan
kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di
dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:
a. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara
Diksa.
b. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
c. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada
Sulinggih.
d. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para
Sulinggih.
e. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi
pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.
5. BhutaYadnya.
Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu
makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak
terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis
makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara
Yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam
semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan
tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan
diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

Di dalam pelaksanaan yadnya biasanya seluruh unsur- unsur Panca Yadnya


telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung yadnya
mana yang diutamakan.

12. DESA KALA PATRA


desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja dalam kerifan
lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri. Denga cara kerja
Bertolak Dari Yang Ada, tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin
dikerjakan, asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. Bahkan
konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri, kalau memang
sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra. Apakah
itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah, kami hanya ingin tumbuh,
berkembang dan hidup yang wajar, tidak terkekang oleh dogma-dogma yang
salah atau kedaluwarsa.

13. FILSAFAT SIWA SIDANTA, SAKTA, WAISNAWA DAN PASUPATA

Agama Hindu sekte Siwa Siddhanta seperti yang dianut oleh umat Hindu di
Bali pada umumnya memiliki tujuan yang sama dengan Hindu Siwa Pasupata
itu. Bedanya hanya penekanannya saja. Kata Siwa Siddhanta berarti sukses
mencapai Siwa yang terakhir atau tertinggi. Jadinya dalam satu sekte saja
agama Hindu memberikan kebebasan pada umatnya untuk memilihnya. Di
Pura Goa Gajah, kedua cara itu dapat hidup berkelanjutan dan umat tidak
dipaksa harus ikut ini atau itu.

Umat dipersilakan secara mandiri untuk memilihnya atau memadukan semua


cara tersebut. Ini artinya penganut Siwa Siddhanta tidak menganggap
penganut Siwa Pasupata sebagai penganut sesat. Mereka menyadari substansi
ajaran agama Hindu yang mereka anut sama yaitu berdasarkan Weda.
Demikian juga sebaliknya yang menganut Siwa Pasupata tidak menganggap
penganut Siwa Siddanta sebagai orang lain. Ini artinya umat Hindu pada
zaman dahulu itu benar-benar menghormati privasi beragama sebagai sesuatu
yang dijunjung tinggi.

Sikap keagamaan umat Hindu yang dicerminkan oleh umat Hindu di masa
lampau di Pura Goa Gajah dan sesungguhnya pada peninggalan Hindu kuno
yang lainnya di Indonesia. Tentunya akan sangat janggal kalau pada zaman
sekarang ada misalnya umat yang bersifat negatif pada orang lain yang
berbeda sistem penekanan beragamanya.

Umat Hindu di masa lampau terutama para pemimpinnya benar-benar sudah


memiliki jiwa besar dalam mengelola perbedaan. Karena perbedaan itu
merupakan suatu kenyataan yang universal. Artinya, perbedaan itu akan selalu
ada sepanjang masa, di mana pun dan kapan pun. Akan menjadi sesuatu yang
tidak produktif kalau ada yang memaksakan agar mereka yang berbeda
ditekan dengan cara-cara pendekatan kekuasaan. Menyikapi perbedaan seperti
itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu dan nilai-nilai universal
yang dianut oleh dunia dewasa ini.

Demikian juga halnya dengan peninggalan keagamaan Buddha Mahayana di


Pura Goa Gajah yang jauh lebih awal berada di Bali. Munculnya Sidharta
Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas
dan Carwakas. Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa
penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang
tidak langgeng ini. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan
nafsu tersebut.

Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus
dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Dengan nafsu itu terus
dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap
maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Sebaliknya aliran
Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan
fungsi alat-alatnya. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indah-
indah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang
terik. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Ada yang sampai membakar
kemaluannya agar nafsu seksnya hilang.

Kedua aliran itu membuat umat menderita. Dalam keadaan seperti itulah
muncul Sidharta Gautama yang telah mencapai alam Buddha memberikan
pentunjuk praktis beragama. Ajarannya adalah Sila Prajnya dan Samadhi. Sila
berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Suara hati nurani adalah suara
Atman. Atman adalah bagian dari Brahman. Teknis berbuat baik itu
didasarkan pada Prajnya artinya ilmu pengetahuan. Dalam berbuat baik
hendaknya bersikap konsisten dengan konsentrasi yang prima. Itulah
Samadhi. Inilah inti wacana Sidharta Gautama dalam menyelamatan umat dari
perbedaan yang dipertentangkan itu.

Setelah seratus tahun Sidharta mencapai Nirwana barulah wacana sucinya itu
dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka. Jadinya
keberadaan agama Buddha di Pura Goa Gajah substansinya tidaklah berbeda
apalagi berlawanan dengan ajaran Hindu Siwa Pasupata maupun Siwa
Siddhanta. Tiga corak keagamaan yang ada di Pura Goa Gajah itu memang
berbeda tetapi perbedaan itu terletak pada cara atau metodenya saja. Substansi
ketiga corak keagamaan Hindu dan Buddha yang ada di Pura Goa Gajah itu
sama-sama menuntun umat manusia untuk mencapai hidup bahagia dan
sejahtera di dunia dan mencapai alam ketuhanan di dunia niskala.

Waisnawa merupakan aliran dalam Hindu, yang dalam proses pemujaannya


lebih menitik beratkan pada pemujaan Wisnu (beserta awataranya) sebagai
dewa tertinggi. Waisnawa merupakan keyakinan dan ajaran yang juga
memiliki pelaksanaan kewajiban bagi penganutnya (dalam Hindu disebut
dengan Bakti Yoga), yang mana kesemua ajaran tersebut didasarkan pada
Veda dan susastra Purana seperti Bhagavad Gita, Isha Upanishad, serta Wisnu
Purana dan Bhagavata Purana.

14. PURNAMA DAN TILEM

Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk
memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Hari Purnama, sesuai
dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Sedangkan
hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa).
Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali.

Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra,


sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya.
Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai
pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan
upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.

Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui
dalam Sundarigama yang mana disebutkan: 'Muah ana we utama parersikan
nira Sanghyang Rwa Bhineda, makadi, Sanghyang Surya Candra, atita tunggal
we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan
ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh
tekeng wang akawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-
wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya ring sanggar,
Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi"Ada hari-hari utama
penyelenggaraan upacara persembahyangan sejak dulu sama nilai
keutamaanya yaitu hari Purnama dan Tilem. Pada hari Purnama, bertepatan
dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem, bertepatan dengan
Sanghyang Surya beyoga memohonkan keselamatan kepada Hyang Widhi.
Pada hari suci demikian itu, sudah seyogyanya kita para rohaniawan dan
semua umat manusia menyucikan dirinya lahir batin dengan melakukan
upacara persembahyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang
Widhi.
Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan
lahir batin. Karena itu, disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti
kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya, umat juga hendaknya
melakukan pembersihan badan dengan air. Kondisi bersih secara lahir dan
batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran,
perkataan dan perbuatan yang bersih pula. Kebersihan juga sangat penting
dalam mewujudkan kebahagiaan, terutama dalam hubungan dengan pemujaan
kepada Hyang Widhi.

15. CATUR MARGA

Dari itu laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa harap


keuntungan sebab kerja tanpa keuntungan pribadi Membawa orang ke-
kebahagiaan
(Bhagavadgita III. 19)

Kerja yang dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala bagi kepentingan diri
pribadi adalah mulia. Pekerjaan akan juga mulia bila dilakukan disertai tanda
bakti daripada yang mengangkat orang pada penyucian dan kesempurnaan
pikiran dan jiwanya. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dan
kegiatan kerja, namun dewasa ini orang bekerja hanyalah untuk memenuhi
kebutuhan materi. Materi itu perlu dan harus diusahakan untuk memilikinya
asalkan dengan jalan yang benar dan ditujukan untuk memperkokoh dharma.
Dalam agama Hindu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan
jasmani makhluk (“Bhukti & mukti”). Kesejahteraan jasmani sangat
diperlukan untuk kelangsungan hidup, namun harus diusahakan dan ditujukan
untuk dharma. Maksudnya harta yang diusahakan ditujukan bagi
kesejahteraan umum disamping untuk kepentingan diri sendiri. Namun karena
pengaruh ahamkara (ego) manusia lupa diri dan menjadi serakah, sehingga
mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta.
Seperti apa yang terjadi saat ini, orang lebih memikirkan hasil daripada
pekejaannya. Sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang
sebanyak-banyaknya dengan mencuri, merampok, menjual narkoba atau juga
korupsi. Mereka tidak lagi menghiraukan apakah pekerjaannya merugikan
orang lain atau tidak, yang penting mereka bisa hidup mewah. Lagi-lagi
agama menanggung beban tanggung jawab untuk memperbaiki moral manusia
yang bobrok tersebut. Pada dasarnya agama telah memberikan patokan-
patokan terhadap perbuatan baik atau buruk, benar atau salah, sebagai
pedoman hidup. Namun ego (ahamkara) manusia telah menutup nurani kita
untuk berbuat jujur, berbuat sesuai kaidah-kaidah agama, sehingga tak ada
yang ditakuti. Mereka tanpa merasa bersalah untuk berbuat dosa, yang mereka
pikirkan hanyalah masalah keduniawian. Dalam ajaran Hindu bekerja
merupakan salah satu jalan untuk mencapai Tuhan yang biasa dikenal dengan
Karma Yoga. Karma Yoga merupakan bagian dan Catur Yoga (empat cara
menghubungkan diri dengan Tuhan) terdiri dari :

1) Karma Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan kerja,
2) Bhakti Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan Bakti,
3) Jnana Yoga cara menghubungkan diri dengan Tuhan dengan jalan
mempelajari ilmu pengetahuan kerohanian dan
4) Raja Yoga cara menghubungkan diri dengan jalan penghayatan spiritual.

Apabila kerja merupakan salah satu cara menghubungkan diri dengan Tuhan
tentunya tujuan dan kerja itu adalah suci.
Karena pengaruh ahamkara tadi maka tujuan kerja pun menjadi bersifat
duniawi. Mereka terlalu berharap dan kerjanya sehingga ketika bekerja
mereka berpikir tentang apa yang akan mereka perbuat dengan hasil keijanya.
Dengan demikian kita hanya akan berpikir kuantitas bukan kualitas, bukankah
dengan hasil yang banyak uLaka imbalannya pun banyak. Menurut Karma
Yoga, tindakan yang dilakukan seseorang tidak dapat dihancurkan sebelum
tindakan itu mengeluarkari buahnya; tak ada kekuatan alam yang dapat
menghent.ikan tindakan itu mengeluarkan buahnya; tak ada kekuatan alam
yang dapat menghentikan tindakan itu hingga tidak menibawa akibat. Bila kita
berbuat sesuatu perbuatan jahat, maka kita harus menderita karenanya. Sama
juga bila kita berbuat hal-hal baik, maka tak ada kekuatan dalam alam yang
akan menghentikan keluarnya buah kebaikan. Sesuatu sebab membawa akibat,
tak ada yang dapat menghalangi atau menahannya. (Swami Vivekananda).
Mereka tertipu sifat guna Terikat pada keinginan yang dihasilkan olehnya
Tetapi yang mengerti jangan sampai menyesatkan Mereka yang
pengetahuannya tiada sempurna (Bhagavadgita III. 29)

Sloka 29 menjelaskan mereka yang terikat guna akan tertipu karena harapan
yang berlebihan terhadap kerjanya. Guna sebagai batas kebehasan manusia
yang diperoleh dari kelahiran dan lingkungan yang mempunyai kekuatan
membelenggu. Bila manusia dapat menguasai kekuatan guna tersebut maka
mereka dapat bekerja giat tanpa memikirkan hasil, itulah idealnya karma
yoga. Tentunya untuk dapat menguasai guna tersebut didapat dari pengalaman
kerja sehingga kita menemukan rahasia kerja.

Karma Yoga sebenarnya merupakan suatu ilmu pengetaliuan mengenai


rahasia pekerjaan. Karma Yoga mengajarkan rahasia dan pekerjaan, cara
bekenja, daya organisasi dan kerja. Dengan memahami cara kcrja manusia
dapat lebih mudah menyelesaikan pekeijaannya dan akan mendapatkan hasil
yang memuaskan. Bekeija secara terorganisir akan membuat pekerjaan
beijalan lancar karena sebelumnya telah membuat perencanaan, sudah
memperhitungkan hambatan-hambatan yang akan dihadapinya. Begitulah
manusia yang telab memahami rahasia pekenjaan, susah senang akan dihadapi
dengan tenang. Tentunya hal tersebut dicapai apabila kita telah mampu
melepaskan din dan belenggu guna. Kita harus bekerja, tidak boleh tidak,
namun harus dengan tujuan tertinggi. Bekeijalah tanpa berhenti, tapi lepaskan
segala pengikatan diri pada pekerjaan. Artinya jangan kita mempersamakan
diri dengan sesuatu, sehingga kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam
bekerja pun tak akan kita rasakan. Kita harus menghancurkan sifat keakuan,
mampu mengekang diri agar tidak tenjerumus dalam pikiran keakuan. Dengan
demikian kita bisa bekerja sebanyak yang dapat kita lakukan, dapat bergaul
dengan siapa saja tanpa tertular sifat jahat.

Tunjukkan semua kerjamu kepada-Ku. Dengan pikiranmu terpusat pada


atman
Bebas dari nafsu keinginan dan ke-aku-an. Enyahkan rasa gentar dan,
bertempurlah!
(Bhagavadgita III.30).

Tujukan pekerjaan kita untuk Tuhan, karenanya kita akan bekerja tanpa terikat
akan hasil. Apa yang dirasa, dilihat, didengar dan dibuat adalah untuk Tuhan.
Dengan demikian kita akan bekerja bukan untuk kepentingan diri sendiri.
Dengan tanpa memikirkan hasil pekerjaan kita akan berdaya guna, sebagai
ilustrasi dapat saya contohkan seorang pelukis yang bekerja hanya untuk
menghasilkan lukisan yang indah, dia tidak akan memikirkan apakah
dikerjakan berbulan-bulan, memakan bahan yang mahal, tapi yang dia
pikirkan adalah melukis untuk membuat karya seni. Dan tentunya orang-orang
mengerti akan hal seni tersebut akan memberikan harga yang mahal untuk
sebuah karya seni tersebut, tetapi si seniman pun tidak akan gusar apabila
hasil lukisannya tidak ada yang membeli. Kita sebagai manusia tidak dapat
lepas dari kegiatan kerja, namun untuk mencapai tujuan tertinggi kita harus
mampu mengendalikan ke-aku-an. Sesuatu yang bersifat ke-aku-an adalah
menyalahi kesusilaan (immoril) dan sesuatu yang bersifat tidak ke-aku-an
adalah bersusila (moral) [Swami Vivekananda]. Bekerjalah untuk mencapai
hasil sebaik-baiknya dengan memperhatikan moral. Bersabarlah karena
bekerja dengan tekun maka hasilpun akan mengikuti, tak perlu mencari jalan
pintas yang hanya akan menyebabkan penderitaan.ºWHD No. 510 Juni 2009.

16. AJARAN BHAKTI DAN PARA BHAKTI

Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu:
Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Yoga (Raja) Marga.

BHAKTI MARGA. Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk
menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau
lebih luas lingkupnya misalnya: orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang
Widhi). Kata cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/
suami, umat sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang
Widhi disebut Bhakta.

Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA-BHAKTI dan


APARA-BHAKTI. Para artinya utama; jadi para-bhakti artinya cara berbhakti
kepada Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara-bhakti artinya tidak
utama; jadi apara-bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang
tidak utama.

Apara-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran


rohaninya kurang atau sedang-sedang saja.

Para-bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran


rohaninya tinggi.

Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara-bhakti antara lain banyak terlibat


dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai simbol
(niyasa).

Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat


dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin
dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan
Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika (ucapan)
dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma.
Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia),
Jnana Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri).

Pilihan menggunakan para atau apara bhakti tergantung dari tingkat


inteligensi dan kesadaran rohani masing-masing. Yang ditemukan di
masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah mix para dan apara-bhakti,
namun bobotnya berbeda. Umat Hindu di Bali banyak menggunakan apara-
bhakti, sedangkan umat Hindu di luar Bali banyak menggunakan para-bhakti.
Kenapa demikian? Apakah itu berarti umat Hindu di Bali inteligensi dan
kesadaran rohaninya kurang? Tidak selalu demikian. Ada umat Hindu di Bali
yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi dibelenggu oleh tradisi
beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga menampakkan diri sebagai
apara-bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih moderat, demokrat,
rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para-bhakti.
Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta
tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang
menghadang ya itu tadi: tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan
kasus tentang para dan apara-bhakti.

Sekarang kita teruskan tentang BHAKTI MARGA Bhakti marga sering


disebut sebagai jalan menuju Hyang Widhi yang paling mudah karena dapat
dilaksanakan oleh setiap orang. Mungkin pendapat ini benar jika yang
dimaksud adalah apara-bhakti. Jika yang dimaksud adalah para-bhakti, justru
bhakti marga yang paling sulit dilaksanakan karena para bhakta harus benar-
benar mempunyai kesadaran rohani yang tinggi. Untuk mencapai kesadaran
rohani yang tinggi setidak-tidaknya sudah menempuh Karma-Jnana dan Yoga-
Marga dengan baik.
Seorang bhakta mempunyai keinginan-keinginan yang kuat yaitu: 1) Ingin dan
rindu selalu dekat bahkan bertemu dengan Hyang Widhi sehingga ia rajin
bersembahyang, bermeditasi, beryoga. 2) Ingin berkorban yang didasari oleh
rasa ikhlas, tulus dan welas asih dengan melepaskan ikatan dan keinginan
akan pahalanya. Maka mereka yang para-bhakti sering ber-dana punia,
menolong sesama tanpa menghitung untung-rugi, sedangkan mereka yang
apara-bhakti banyak melaksanakan upacara panca yadnya. Bhakti kepada
Hyang Widhi melenyapkan rasa takut, marah, benci, dan iri hati.

Bhagawadgita XII.17: Yo na hrishyati na dveshti, Na sochati na kankshati,


Bhaktiman ya same priyah. Artinya: Dia yang tiada bersenang dan membenci,
tiada berduka dan bernafsu apa, membebaskan diri dari kebathilan dan rasa
berbuat kebaikan, penuh dengan kebaktian, dialah yang Ku-kasihi.

Maksud dari sloka itu adalah: jika benar-benar kita bhakti kepada Hyang
Widhi, janganlah terpengaruh oleh kesenangan karena ketakutan itu timbul
bilamana kesenangan terancam. Juga jangan membenci karena kebencian
menimbulkan amarah dan irihati atau sebaliknya, amarah, iri hati dan nafsu
yang tidak tercapai bisa menimbulkan kebencian. Itulah hal-hal yang
menjauhkan rasa kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan-Nya. Bila kita
cinta dan kasih kepada Hyang Widhi berarti juga kita harus cinta dan kasih
kepada semua ciptaan-Nya. Seorang bhakta juga tidak boleh berduka dan
kecewa jika ia yakin bahwa apapun yang kita alami di dunia ini semata-mata
adalah atas kehendak-Nya. Bebaskanlah dari kebathilan, karena itu
bertentangan dengan hakekat bhakti, dan bebaskanlah dari rasa berbuat
kebaikan karena itu sudah kewajiban seorang bhakta. Pengampunan akan
diberikan oleh Hyang Widhi kepada para Bhakta.

Bhagawadgita XII.6,7: Ye tu sarvanni karmani, mayi samnyasya matparah,


anayenai va yogena, mam dhyayanta upasale. Tesham aham samuddharta,
mrtyu samsara sagarat, bhavani nachirat partha, mayi avesita chetasam.
Artinya: Tetapi sesunguhnya mereka yang menumpahkan segala kegiatan
hidup mereka kepada-Ku, memikirkan bermeditasi hanya kepada-Ku dengan
kebaktian yang terpusatkan, yang pikiran mereka tertuju kepada-Ku, dengan
segera dan langsung Aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara hidup lahir
dan mati (artinya mencapai MOKSA),

17. ITHIASA MAHABARATA DAN RAMAYANA

Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah-
kisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan
dibumbui oleh filsafat agama, mitologi, dan makhluk supernatural. Itihāsa
berarti “kejadian yang nyata”. Itihāsa yang terkenal ada dua, yaitu Ramayana
dan Mahābhārata.

Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau, seperti
misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di
seluruh daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. Pada zaman kerajaan
di Indonesia, kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna
dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Cerita dalam kitab Itihāsa
diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin.

Kitab Ramayana merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Kitab Ramayana
terdiri dari 24.000 sloka dan memiliki tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda.
Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan
melengkapi dengan Kanda yang lain. Kitab Ramayana disusun oleh Rsi
Walmiki

Kitab Mahābhārata merupakan salah satu Itihāsa yang terkenal. Kitab


Mahābhārata berisi lebih dari 100.000 sloka. Mahābhārata berarti cerita
keluarga besar Bharata. Kitab Mahābhārata memiliki delapan belas bagian
yang disebut Astadasaparwa. Selayaknya Ramayana, setiap Parwa merupakan
buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa
yang lain. Kitab Mahābhārata disusun oleh Rsi Vyāsa
18. MITOLOGI GARUDA
Garuda Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda digambarkan
sebagai manusia burung dengan bulu keemasan, dan memiliki mahkota di
kepalanya. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu
menutupi matahari. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan
Vishnu. Menurut Mahabarata, konon saat Garuda lahir dari telurnya, bumi
gonjang ganjing (seperti waktu sun go kong lahir di film >.<) sehingga para
dewa memohon padanya untuk tenang. Garuda adalah anak Kasyapa dan
Vinata. Vinata memiliki hutang terhadap Kadru, ibu para ular karena suatu
pertaruhan. Untuk menghapus hutang tersebut, Garuda diminta Kadru untuk
memberikan obat keabadian yg disebut Amrita padanya.
Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. Meskipun para
dewa bersatu menghadang Garuda, mereka bukanlah tandinganya. Dalam
perjalanan pulang, Garuda bertemu dengan Vishnu, Vishnu berjanji akan
memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita, sebagai
gantinya Garuda menjadi kendaraan Vishnu. Kemudian Garuda bertemu
dengan Indra dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Garuda berjanji akan
memberikan Amrita pada Indra dan Indra akan memberikan para ular sebagai
makanan Garuda. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk
menghapus hutang ibunya, setelah Amrita diberikan, Indra turun dari langit,
merebut Amrita, dan menghabisi para ular. Sejak saat itu Garuda menjadi
rekan para dewa, tunggangan kebanggan Vishnu, sekaligus menjadi musuh
utama para ular.
Garuda ini ada hubungannya dengan ceritra Sang Garuda yang terdapat di
dalam Adi Parva. Ceritra ringkasnya adalah sebagai berikut : Bhagawan
Kacyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru dan Sang Winata.
Bhagawan Kacyapa menawarkan kepada kedua istri beliau berapa jumlah
anak yang ingin mereka miliki. Sang Kadru meminta 1000 anak sedangkan
Sang Winata meminta dua anak. Bhagawan Kacyapa memberikan seribu butir
telur pada Sang Kadru dan dua butir telur pada Sang Winata. Setelah telur
Sang Kadru menetas maka lahirlah seribu ekor ular. Melihat Sang Kadru
sudah melahirkan anak-anaknya maka Sang Winata ingin cepat juga punya
anak, maka dengan tidak sabar dipecahkanlah sebutir dari telurnya maka
lahirlah Aruna seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena
belum punya kaki. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata
membicarakan tentang rupa dari kuda Ucchaisrawa yang keluar pada waktu
lautan air susu diaduk oleh para Dewa Raksasa. Sang Kadru menebak warna
kuda itu hitam dan Sang Winata menebak putih. Masing-masing kukuh
mempertahankan pendirianya, akhirnya mereka bertaruhan, siapa pun yang
kalah akan menjadi budak dari yang menang. Setelah itu Sang Kadru lalu
pulang dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya.
“Wah ibu pasti kalah, karena kuda itu betul-betul putih mulus” kata ular-ular
itu. “Kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar ibu tidak kalah sehingga
menjadi budak Sang Winata. Besok ibu akan datang bersama Sang Winata ke
tempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda itu”. Maka para ular itu
pun memenuhi permintaan ibunya lalu semuanya menuju ke tempat kuda itu
berada. Mereka semua lalu menyemburkan bisa (wisa)-nya ke tubuh si kuda
sehingga warna bulu kuda itu menjadi berubah dari putih menjadi hitam
karena pengaruh dari bisa ular itu. Besok harinya ketika Sang Winata dan
Sang Kadru datang, mereka menyaksikan warna kuda Ucchaisrawa itu betul-
betul hitam, maka kalahlah Sang Winata. Sejak saat itu Sang Winata menjadi
budak Sang Kadru menjaga dan mengantarkan ular-ular itu mencari makanan
setiap hari dan sore hari baru pulang.
Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh sempurna. Setelah
beberapa lama kemudian Sang Garuda pun heran melihat ibunya pergi pagi
pulang sore, hingga ada keinginannya untuk menanyakan.
“lbu mengapa ibu pergi pagi pulang sore, apa pekerjaan ibu ?” tanya Sang
Garuda. “Ibu jadi budak para naga, saban hari kerja ibu adalah
menggembalakan ular-ular yang nakal, pergi ke sana ke mari sekehendaknya”.
jawab Sang Winata.
“Mengapa ibu menjadi budaknya ?” tanya Sang Garuda.
“Karena ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda
Ucchaisrawa”, kata Sang Winata.
“Kalau demikian biarlah saya saja menggantikan ibu menggembalakan ular”
demikian permintaan Sang Garuda yang kemudian diluluskan oleh Ibunya.
Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga, akhirnya dia
menjadi bosan. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara sebagai
pengganti atau menembus dirinya, agar dia bisa bebas dari perbudakan.
Setelah lama berpikir para Nagapun sepakat akan membebaskan Sang Garuda
dari perbudakan kalau bisa mencarikan tirtha amerta untuk mereka. Konon
barang siapa yang dapat minum amerta itu akan bisa bebas dari kematian.
Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi ada penjaga seperti
Sang Garuda, karena tidak ada yang menyebabkan mereka bisa mati kalau
sudah minum tirtha Amerta.
Sang Garuda pergi ke sorga untuk mencari tirtha Amerta itu. Untuk itu dia
berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Amerta itu. Dewata Nawa
Sanga dikalahkan semua. Akhirnya para Dewa lalu mohon bantuan kepada
Bhatara Visnu. Perang pun terjadi antara Dewa Visnu dengan Sang Garuda.
Perangpun berlangsung lama. Akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa
Sang Visnu memerangi para Dewa dan untuk apa dia mencari Amerta.
Setelah Sang Garuda menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk
membebaskan dirinya dan ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara
Visnu berkenan memberikan tirtha Amerta itu asal saja Sang Garuda bersedia
menjadi kendaraan Dewa Visnu. Sang Garuda menyetujui dan tirtha amerta
pun diserahkan oleh Dewa Visnu dengan syarat “barang siapa yang akan
meminumnya hendaknya bersuci-suci lebih dahulu, kalau tidak demikian
tirtha merta tidak akan sidhi atau bermanfaat”. Sang Garuda segera
menyerahkan tirtha Amerta itu kepada para naga dengan segala
persyaratannya. Para naga setelah menerimanya semua saling dahulu
mendahului pergi mandi menyucikan diri, takut tidak kebagian sehingga tirtha
itu begitu saja ditinggal di tengah rumput alang-alang. Mengetahui bahwa
tirtha itu ditinggalkan begitu saja oleh para naga maka Bhatara Visnu pun
mengambil tirtha itu kembali dibawa ke sorga. Dengan penuh kecewa para
naga hanya dapat menjilati sisa-sisa bekas tirtha yang ada di daun alang-alang
itu. Disebabkan tajamnya daun alang-alang itu maka lidah ular naga itupun
terbelah. Itulah asal mula ceritra mengapa alang-alang menjadi daun yang
dianggap suci karena terkena bekas tirtha amerta, demikian pula mengapa
lidah ular menjadi bercabang.
Marilah kita simak arti dan simbul dari ceritra Sang Garuda ini dihubungkan
dengan lontar Cri Purvana Tattva dan Stava yaitu Ananta bhoga stava, Basuki
stava dan Taksaka stava. Di muka telah dijelaskan bahwa inti bumi atau
magma api itu dibungkus oleh tanah, air dan udara. Ketiga jenis zat ini
disimbulkan dengan naga (ular). Kami beranggapan bahwa Sang Garuda itu
tidak lain dari simbul manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan
benda-benda duniawi. Kenyataannya saban hari dari pagi sampai sore manusia
disibukkan untuk mendapatkan makan, minum dan udara bersih (simbul 3
naga di atas).
Pekerjaan yang tidak pernah selesai ini menjadikan manusia berpikir apakah
hidup ini hanya untuk makan minum dan mendapatkan udara bersih ? Apakah
manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda ini. Jawabannya
adalah tirtha Amerta. Apa yang dimaksud dengan Amerta itu ? Amerta artinya
tidak mati-mati atau keabadian. Siapa yang tidak bisa mati ? Hanya Tuhan !
Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh
kemelekatan benda-benda dunia ini, mereka bebas dari perbudakan benda,
mereka mencapai moksa, moksa itu adalah kebebasan.
Hal yang menguatkan lagi bahwa gambar Garuda merupakan simbul
pembebasan dari perbudakan oleh benda-benda duniawi ialah : penggunaan
patung Garuda di “Bale Gede” yaitu bangunan yang biasanya diperuntukkan
untuk menempatkan mayat sebelum dibawa ke setra. Bale Gede umumnya
terdapat pada rumah keluarga-keluarganya yang mampu di Bali.
Gambar-gambar yang terdapat pada Bade atau wadah yang digunakan sebagai
kendaraan dari orang yang meninggal, pada waktu mayat itu dibawa dari
rumah kesetra. Gambar Garuda itu terdapa pada bagian belakang “wadah”
atau “bale” itu. Tujuannya tentu erat hubungannya dengan semacam petunjuk
atau perhatian kepada manusia baik yang masih hidup maupun yang sudah
meninggal bahwa bila akan mencari Ida Sang Hyang Widhi hendaknya
berbuat seperti Sang Garuda yaitu membebaskan diri dari perbudakan naga
atau benda-benda dunia. Itulah mungkin sebabnya mengapa di Bale Gede
maupun di belakang wadah dilukiskan Garuda, agar roh orang yang
meningggal selalu teringat dengan ceritra sang Garuda yang mengandung
simbul kebebasan.
Di atas gambar Garuda yang kita lihat di belakang Padmasana itu, biasanya
kita menjumpai ada hiasan berbentuk angsa. Wujud angsa yang dilukiskan
baik di belakang Padmasana maupun wadah itu selalu berwujud angsa dengan
sayapnya yang mengepak-ngepak.
Menurut lontar “Indik tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu
adalah simbul dari ardha candra windhu dan nada. Kedua sayap yang
mengepak menggambarkan ardha candra, kepala angsa menggambarkan
windu dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada.
Sumber yang lain kita jumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan “Atma
yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepak-
ngepakan sayapnya”. Maka kesimpulannya, lukisan Garuda adalah simbul
manusia yang mencari kebebasan melalui pelepasan terhadap ikatan duniawi,
dan gambar angsa adalah simbul manusia yang ingin kembali kepada Ida Sang
Hyang Widhi, yang juga disebut amoring acintya.

19. FILSAFAT SAD DARSANA

Sad Darśana. Kata Darsana berasal dari akar kata drś yang bermakna
"melihat", menjadi kata darśana yang berarti "penglihatan" atau "pandangan".
Dalam ajaran filsafat hindu, Darśana berarti pandangan tentang kebenaran.

Sad Darśana berarti Enam pandangan tentang kebenaran, yang mana


merupakan dasar dari Filsafat Hindu.
1. Samkhya, juga disebut dengan Sankhya adalah salah satu aliran dalam
filsafat Hindu. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai
positif atheis. Kemudian Maharsi Kapila, putra Devaguti, membangun ajaran
Samkhya yang bersifat theistik, seperti yang disebutkan dalam
Bhagavatapurana[1].

Samkhya adalah ajaran filsafat tertua dalam filsafat India. Karya sastra
mengenai Saṁkhya yang kini dapat diwarisi adalah Saṁkhyakarika yang di
tulis oleh Īśvarakṛṣṇa sekitar 200 SM. Ajaran Saṁkhya ini sudah sangat tua
umurnya, dibuktikan dengan termuatanya ajaran Saṁkhya dalam sastra-sastra
Śruti, smrti, itihasa dan purana. Saat ini ajaran Samkhya yang murni sudah
tidak eksis lagi, tapi ajaran ini banyak membawa pengaruh pada ajaran Yoga
dan Wedanta.

Kata Saṁkhya berarti: pemantulan, yaitu pemantulan filsafati. Ajaran


Saṁkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini
yang bebas dari roh. Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling
bertentangan tetapi bisa berpadu, yaitu purusa dan prakrti.

2. Yoga berarti "penyatuan", yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau


"penyatuan dengan Sang Pencipta". Yoga merupakan salah satu dari enam
ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau
tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca
inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Masyarakat global umumnya
mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari
Hatta Yoga. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif,
biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan, oleh tubuh dan
meditasi, yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun.[1]
[2]

Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi, yogin bagi praktisi pria dan
yogini bagi praktisi wanita.
Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga, diantaranya adalah Upaishad,
Bhagavad Gita, Yogasutra, Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya.

Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita, diantaranya adalah


Karma Yoga/Marga, Jnana Yoga/Marga, Bakti Yoga/Marga, Raja
Yoga/Marga.

3. Mimamsa juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat
Hindu.

Ajaran Mimamsa didirikan oleh Maharsi Jaimini, disebut juga dengan nama
lain Purwa Mimamsa. Kata Mimamsa berarti penyelidikan. Penyelidikan
sistematis terhadap Veda. Mimamsa secara khusus melakukan pengkajian
pada bagian Veda: Brahmana dan Kalpasutra. Sumber ajaran ini tertuang
dalam Jaiminiyasutra. Kitab ini terdiri atas 12 Adhyaya (bab) yang terbagi
kedalam 60 pada atau bagian, yang isinya adalah aturan tata upacara menurut
Veda.

4. Nyaya (Logic), juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat
Hindu.

Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama, yang menyusun


Nyayasutra, terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). Kata
Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis. Ajaran ini berdasarka pada ilmu
logika, sistematis, kronologis dan analitis.

5.Vaisesika juga disebut dengan adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu.

Ajaran Vaisiseka dipelopori oleh Maharsi Kanada, yang menyusun


Vaisesikasutra. Meskipun sebagai sistem filsafat pada awalnya berdiri sendiri,
namun dalam perkembangannya ajaran ini menjadi satu dengan Nyaya.

6.Wedanta Védānta) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Ajaran
Wedanta sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa, yaitu "penyelidikan yang
kedua", karena ajaran ini mengkaji salah satu bagian kitab Weda, yaitu kitab
Upanisad. Kata Wedanta berakar kata dari wedasya dan antah yang berarti "akhir
dari Weda". Sumber ajaran ini adalah kitab Wedantasutra atau dikenal juga
dengan nama Brahmasutra. Pelopor ajaran ini adalah Maharesi Byasa, atau
dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwaipayana.

20. FILOSOFI SAMUDRA, GIRI, PARWATA, NADI DAN WANA


Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan
kedalamannya, dengan kedinamisan gelombangnya, dengan keelokan
panoramanya seiring tiupan angin sejuk menyegarkan.
Dalam keluasan dan kedalamannya, samudera berfilsafat dengan
kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala
muara. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan
kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari, namun lautan tak pernah
menolaknya. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim
samudera, segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna.
Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. Kekeruhan itu
larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera.
Permukaan laut begitu indah, keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan
lengkung cakrawala, warna-warni awan, pantai yang berkelok-kelok sampai
jauh, nyiur melambai, gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai
yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang.
Permukaan laut begitu indah, namun kedalaman samudera yang mengandung
terumbu karang, kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang
menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna, jauh lebih indah lagi.
Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam
samudera. Hati yang demikian ini, dilanda jutaan kubik kata-kata,sikap dan
perbuatan yang mengandung racun, kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan
caci maki keji, tetap tidak bergeming, tidak teracuni, bahkan punya
kesanggupan untuk menawarkannya. Bisakah hati kita seluas dan sedalam
samudera?
Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya, di
dasar samudera ada tiram, lokan yang menyimpan mutiara yang sangat
berharga. Ibarat samudera,di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang
mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan.
Seumpama samudera, kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia, bisa menjadi
tempat curhatan dan sharing, bisa memberikan solusi atas problem-problem
yang ada. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan.
Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak
pernah henti memeluki pesisir landai, tak kunjung henti mencapai pantai yang
berkelok-kelok, tak pernah diam, akan selalu menyapamu, melantunkan salam
padamu.
Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan
kedalamannya, dengan kedinamisan gelombangnya, dengan keelokan
panoramanya seiring tiupan angin sejuk menyegarkan.
Dalam keluasan dan kedalamannya, samudera berfilsafat dengan
kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala
muara. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan
kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari, namun lautan tak pernah
menolaknya. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim
samudera, segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna.
Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. Kekeruhan itu
larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera.
Permukaan laut begitu indah, keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan
lengkung cakrawala, warna-warni awan, pantai yang berkelok-kelok sampai
jauh, nyiur melambai, gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai
yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang.
Permukaan laut begitu indah, namun kedalaman samudera yang mengandung
terumbu karang, kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang
menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna, jauh lebih indah lagi.
Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam
samudera. Hati yang demikian ini, dilanda jutaan kubik kata-kata,sikap dan
perbuatan yang mengandung racun, kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan
caci maki keji, tetap tidak bergeming, tidak teracuni, bahkan punya
kesanggupan untuk menawarkannya. Bisakah hati kita seluas dan sedalam
samudera?
Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya, di
dasar samudera ada tiram, lokan yang menyimpan mutiara yang sangat
berharga. Ibarat samudera,di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang
mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan.
Seumpama samudera, kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia, bisa menjadi
tempat curhatan dan sharing, bisa memberikan solusi atas problem-problem
yang ada. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan.
Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak
pernah henti memeluki pesisir landai, tak kunjung henti mencapai pantai yang
berkelok-kelok, tak pernah diam, akan selalu menyapamu, melantunkan salam
padamu.
Lontar Tantu Pangelaran menyiratkan bahwa gunung (giri, meru, parwata)
memberikan kerahayuan (amreta) kepada manusia yang hidup di kaki dan
datarannya. Selain itu, gunung merupakan pusat orientasi kesucian bagi umat
Hindu, gunung-gunung dipandang sebagai satu kesatuan sehingga muncul
konsepsi panca-giri. Kitab-kitab yang mengajarkan ajaran yoga, pertama-tama
menguraikan tentang Gunung Mahameru sebagai tempat Sthana Hyang Siwa
yang digambarkan sebagai pusat padma dunia raya. Bagi seorang sadhaka,
gunung itu terletak di sahasrara padma, di kepala manusia, tempat Hyang Siwa
menurunkan ajaran-ajaranNya yang kemudian dicatat dalam berbagai Yamala,
Damara, Siwasutra, dan Kitab Tantra dalam bentuk tanya jawab (dialogic
catekismus) antara Hyang Siwa dengan SaktiNya Dewi Parwati. Gunung dalam a!
am sakala maupun niskala sangat penting bagi umat Hindu, dipandang sebagai
lingga-acala, lingga yang tidak bergerak. Karena gunung yang tertinggi
(Mahameru. Gunung Agung) dinyatakan berada di pusat padma dunia, maka
gunung-gunung yang lain menempati posisi dik-widik. Dunia atau wilayah yang
lebih kecil digambarkan sebagai bunga padma, disebut padma-bhuwana atau padma-
mandala sehingga dalam konteks Bali, Gunung Agung menempati posisi di tengah
padma-mandala. Gunung Lempuyang di Timur, Gunung Andakasa di Selatan,
Gunung Batukaru di Barat, dan Gunung Batur di Utara. Di tempat tersebut
didirikan pura atau tempat suci utama, menempati posisi dik, sementara yang
menempati posisi widik adalah Pura Gua Lawah di Tenggara, Pura Luhur Uluwatu
di Baratdaya, Pura Pucak Mangu di Barat Laut. Pura Agung Besakih juga
menempati posisi Timur Laut (Airsanya). Pura yang biasa disebut Sad-Kahyangan
tersebut merupakan kesatuan. bagaikan sebuah bunga padma dengan delapan
helainya (dala) yang menunjuk delapan penjuru, dengan sarinya berada di tengah.

Pada sari bunga padma yang suci itu didirikan Padma Agung (Padma Tiga) yang
merupakan Linggih Beliau sebagai Paramashva, Sadasiwa, dan Siwa. Sementara
itu, Pura Panataran Agung Besakih masih memiliki dala pada posisi dik, masing-
masing Pura Gelap (Timur, Sadyojata, atau Iswara), Pura Kiduling Kreteg
(Selatan, Bhamadewa ahui Brahma), Pura Ulun Kulkul (Barat, Tatpurusa atau
Mahadewa), Pura Batu Madeg (Ulara. Aghora atau Wisnu) yang disebut Pura
Catur Lokaphala atau Catur-Dala. Secara holistik, maka Padma Tiga Pura
Penataran Agung Besakih, pertama-tama disangga oleh pura catur-dala, selanjutnya
ditopang lagi oleh pura Sad Kahyangan (pura utama) yang terletak di delapan
penjuru Pulau Bali atau asta-dala. Pura Kahyangan Jagat yang didirikan di seluruh
Nusantara dapat berfungsi sebagai sahasra-dala, seribu kelopak bunga padma.

21. MAHA PURANA DAN UPA PURANA

Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang


menjelaskan tentang kebenaran. Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang
dikisahkan oleh Jesus Kristus, kisah-kisah ini diceritakan kepada orang
kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan
yang lebih tinggi. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang
yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu
harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini, Purana-Purana
itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan, karena kitab-kitab itu
menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda. Kata Purana berarti
"purba" (ancient). Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan.
Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam
semesta, garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para
orang suci, dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar).
Beberapa dari Purana-Purana itu, seperti Mahabbhagawatam, mempunyai
penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab
Wahyu dalam Injil. Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu, delapan belas
disebut Purana Besar atau Maha Purana. Masing-masing dari padanya
menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri,
tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi,
oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Dari
duapuluh Purana ini, enam ditujukan kepada Wishnu, enam kepada Siwa dan
enam kepada Brahma. Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk "tanya jawab."
Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu,
mahluk supernatural, orang suci dan manusia biasa. Purana-Purana ini tidak
memiliki catatan waktu kapan ia ditulis, tapi beberapa orang mengatakan
Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam. Enam Purana yang ditujukan
kepada Wishnu adalah Wishnu Purana, Narada Purana, Srimad Bhawata
Purana, Garuda Purana, Padma Purana dan Waraha Purana.
Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana, Kurma
Purana, Lingga purana, Wayu Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.
Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana,
Brahmanda Purana, Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana,
Markandeya Purana, Bhawishya Purana dan Wamana Purana.
Menurut banyak orang, Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan
Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana, sekalipun mereka
tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana).
Ya memang. Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana.
Percaya atau tidak, ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. Mereka adalah :
Aditya, Ascharya, Ausanasa, Bhaskara (Surya), Dewi, Saiwa (beberapa
menyebut ini Purana Besar), Durwasa, Kalika, Kalki, Kapila, Mahaswara,
Manawa, Marichi, Nandikeswara, Narada, Narasimha, Parasara, Samba,
Sanathkumara, Siwadharma, Surya, Suta-Samhita, Usanas, Waruna, Yuga,
Waya dan Wrihan. Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan
kepadamu tidak lengkap. Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu
yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu.
kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta
Hare Krishna. Ia berisi 18,000 sloka. Ia mempunyai dua belas bab yang
disebut Skanda. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana, yang juga dikenal sebagai
Veda Vyasa. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka,
putra dari Veda Vyasa. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit, dinasti
terakhir dari Pandawa, oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja
karena gigitan ular yang telah diramalkan. Sebagian besar isi dari buku ini
merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka.
Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. Bab
sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. Bab terakhir secara
khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga, zaman sekarang, dan Awatara
terakhir dari Wishnu yaitu, Kalki. Disini juga ada gambaran yang sangat jelas
mengenai Pralaya, atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi
Sekte Waisnawa dan, seperti telah kukatakan sebelumnya, buku ini
merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna.
Menurut Srimad Bhawatam, alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan
menghendakinya sebagai permainan atau Lila. Seorang pemuja yang sudah
tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Menurut kitab suci ini, ada
sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan, seperti
mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan, meditasi, melayani, dan akhirnya
penyerahan diri kepada kehendak Tuhan.
22. GANESHA

Ganesa (Sanskerta गणेश ; ganeṣa dengarkan (bantuan·info)) adalah salah


satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu,
yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa
pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Lukisan dan
patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk Nepal,
Tibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering
digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia
dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi
pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu
putera Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya
tanpa mempedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga
menjalar ke umat Jaina, Buddha, dan di luar India.[1]

Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah


membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala
rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan"
dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa, Wigneswara), "Pelindung seni dan
ilmu pengetahuan", dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Ia dihormati
saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan
saat keperluan menulis dalam upacara.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot
mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya
yang tertentu.

• Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4
sampai abad ke-5 Masehi, selama periode Gupta, meskipun ia mewarisi sifat-sifat
pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda.[3] Ketenarannya naik dengan cepat,
dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah
denominasi Hindu) pada abad ke-9. Sekte para pemujanya yang disebut
Ganapatya, (Sanskerta: गाणपतय; gāṇapatya), yang menganggap Ganesa sebagai
dewa yang utama, muncul selama periode itu.[4] Kitab utama yang didedikasikan
untuk Ganesa adalah Ganesapurana, Mudgalapurana, dan Ganapati
Atharwashirsa.

Etimologi dan nama lain

Ganesa memiliki banyak gelar dan nama pujian, termasuk Ganapati dan
Wigneswara. Gelar dalam agama Hindu yang dipakai sebagai penghormatan,
yaitu Sri (Sanskerta: शी; śrī, juga dieja Shri atau Shree) seringkali ditambahkan di
depan namanya. Salah satu cara yang terkenal dalam memuja Ganesa adalah
dengan menyanyikan Ganesa Sahasranama, sebuah doa pengucapan "seribu
nama Ganesa". Setiap nama dalam sahasranama mengandung arti berbeda-beda
dan melambangkan berbagai aspek dari Ganesa. Sekurang-kurangnya ada dua
versi Ganesa Sahasranama; salah satu versi diambil dari Ganeshapurana, yaitu
sastra Hindu untuk menghormati Ganesa.

Nama Ganesa adalah sebuah kata majemuk dalam bahasa Sanskerta, terdiri dari
kata gana (Sanskerta: गण; gaṇa), berarti kelompok, orang banyak, atau sistem
pengelompokan, dan isha (Sanskerta: ईश; īśa), berarti penguasa atau pemimpin.[5]
Kata gana ketika dihubungkan dengan Ganesa seringkali merujuk kepada para
gana, pasukan makhluk setengah dewa yang menjadi pengikut Siwa.[6] Istilah itu
secara lebih umum berarti golongan, kelas, komunitas, persekutuan, atau
perserikatan.[7] Ganapati (Sanskerta: गणपित ; gaṇapati), nama lain Ganesa, adalah
kata majemuk yang terdiri dari kata gana, yang berarti "kelompok", dan pati,
berarti "pengatur" atau "pemimpin".[7] Kitab Amarakosha, yaitu kamus bahasa
Sanskerta, memiliki daftar delapan nama lain Ganesa: Winayaka, Wignaraja
(sama dengan Wignesa), Dwaimatura (yang memiliki dua ibu), Ganadipa (sama
dengan Ganapati dan Ganesa), Ekadanta (yang memiliki satu gading), Heramba,
Lambodara (yang memiliki perut bak periuk, atau, secara harfiah, yang perutnya
bergelayutan), dan Gajanana (yang bermuka gajah).[8]

Winayaka (Sanskerta: िवनायक ; vināyaka) adalah nama umum bagi Ganesa yang
muncul dalam kitab-kitab Purana Hindu dan Tantra agama Buddha.[9] Nama ini
mencerminkan sebutan terhadap delapan kuil Ganesa yang terkenal di
Maharashtra yang mahsyur sebagai astawinayaka. Nama Wignesa (Sanskerta:
िवघ्नेश; vighneśa) dan Wigneswara (Sanskerta: िवघ्नेश् वर; vighneśvara)
(Penguasa segala rintangan) merujuk kepada tugas utamanya dalam mitologi
Hindu sebagai pencipta sekaligus penyingkir segala rintangan (vighna).

Nama yang mahsyur bagi Ganesa dalam bahasa Tamil adalah Pille atau Pilleyar
("anak kecil"). A. K. Narain membedakan arti istilah-istilah tersebut dengan
mengatakan bahwa pille berarti seorang "anak" sementara pilleyar berarti seorang
"anak yang mulia". Dia menambahkan bahwa kata pallu, pella, dan pell dalam
bahasa-bahasa rumpun Dravida berarti "gigi atau gading gajah", namun lebih
lazim diartikan "gajah".[10] Seorang penulis buku yang bernama Anita Raina
Thapan menambahkan bahwa akar kata pille pada nama Pillaiyar mungkin
aslinya berarti "gajah muda", karena kata pillaka dalam bahasa Pali berarti "gajah
muda".[11]

Penggambaran

Ganesa adalah figur yang terkenal dalam kesenian India. Citra tentang Ganesa
menjamur di berbagai penjuru India sekitar abad ke-6.[12] Tidak seperti dewa-dewi
lainnya, penggambaran sosok Ganesa memiliki berbagai variasi yang luas dan
pola-pola berbeda yang berubah dari waktu ke waktu. Dia kadangkala
digambarkan berdiri, menari, beraksi dengan gagah berani melawan para iblis,
bermain bersama keluarganya sebagai anak lelaki, duduk di bawah, atau bersikap
manis dalam suatu keadaan.

Biasanya Ganesa digambarkan berkepala gajah dengan perut buncit. Patungnya


memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa.
Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa
kudapan manis, yang ia comot dengan belalainya, pada tangan kiri bawah. Motif
Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada
tangan kiri bawahnya adalah ciri-ciri yang utama dari zaman dulu. Patung yang
lebih primitif di Gua Ellora dengan ciri-ciri umum tersebut, ditaksir berasal dari
abad ke-7.[13] Dalam perwujudan yang biasa, Ganesa digambarkan memegang
sebuah kapak atau angkus pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan
atas lainnya.

Pengaruh unsur-unsur kuno dalam susunan penggambaran tersebut masih bisa


diamati dalam penggambaran Ganesa secara kontemporer. Dalam sebuah
penggambaran modern, satu-satunya variasi terhadap unsur-unsur kuno adalah
tangan kanan bawah Ganesa tidak memegang patahan gading namun seolah-olah
terarah ke mata pengamat dengan gerak tangan yang melambangkan perlindungan
atau penyingkir ketakutan (abhaya mudra).[14] Kombinasi yang sama terhadap
empat lengan dan atribut, muncul pada patung Ganesa yang sedang menari, yang
merupakan tema terkenal.

Atribut umum

Ganesa digambarkan berkepala gajah semenjak awal kemunculannya dalam


kesenian India.[15] Mitologi dalam Purana memberi beberapa penjelasan mengenai
kejadian yang menyebabkannya berkepala gajah. Salah satu perwujudannya yang
terkenal, yakni Heramba-Ganapati, memiliki lima kepala gajah, dan variasi kecil
lainnya pada jumlah kepala diketahui. Sementara beberapa kitab mengatakan
bahwa Ganesa terlahir dengan kepala gajah, pada cerita yang terkenal dikatakan
bahwa ia memperoleh kepala gajah di kemudian hari. Motif utama yang terulang
dalam cerita-cerita tersebut adalah bahwa Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala
manusia, kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan
antara Siwa dan Parwati. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan
kepala gajah. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala, memiliki
beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. Dalam kitab
Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. Saat Ganesa lahir,
ibunya, Parwati, menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa.
Tiba-tiba, Dewa Sani (Saturnus), yang konon memiliki mata terkutuk,
memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. Dewa
Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala
gajah. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta
secara langsung oleh tawa Siwa. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat
perhatian, ia memberinya kepala gajah dan perut buncit.

Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading), merujuk kepada
gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu, sedangkan yang lainnya patah.
Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Hal penting
di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana, yang
mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta. Perut
buncit Ganesa muncul sebagai ciri-ciri khusus pada kesenian patung sejak zaman
dulu, yang ditaksir sejak periode Gupta (sekitar abad IV-VI).[16] Penampilan ini
amat penting, karena menurut Mudgalapurana, dua penjelmaan Ganesa yang
berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara (perut buncit, atau, secara
harfiah, perut bergelantungan) dan Mahodara (perut besar).[17] Kedua nama
tersebut merupakan kata majemuk dalam bahasa Sanskerta yang melukiskan
bagaimana keadaan perutnya. Kitab Brahmandapurana mengatakan bahwa
Ganesa bernama Lambodara karena segala semesta (yaitu "telur alam semesta";
IAST: brahmāṇḍa) di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang ada di dalam
tubuhnya. Jumlah lengan Ganesa bervariasi; wujudnya yang terkenal memiliki
sekitar dua sampai enam belas lengan.[18] Banyak penggambaran tentang Ganesa
yang menampilkan ia bertangan empat, yang telah disebut dalam Purana dan
ditetapkan sebagai wujud standar dalam beberapa kitab tentang ikonografi.
Wujudnya pada masa awal memiliki dua lengan.[19] Wujud dengan 14 dan 20
lengan muncul di India Tengah selama abad ke-9 dan abad ke-10.[20] Ular adalah
tampilan yang umum dalam penggambaran tentang Ganesa dan muncul dalam
beragam bentuk.[21] Menurut Ganesapurana, Ganesa melilitkan ular Basuki di
lehernya. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang
suci (IAST: yajñyopavīta) yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk,
dipegang di tangan, dililitkan di pergelangan kaki, atau dipakai sebagai mahkota.
Pada dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa
(Sanskerta: tilaka), yang berupa tiga garis mendatar. Ganeshapurana mengatakan
bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. Wujud tertentu
dari Ganesa yang disebut Bhalachandra (IAST: bhālacandra; "Bulan di dahi")
memasukkan unsur penggambaran tersebut. Namun warna lain yang spesifik
dihubungkan dengan wujud tertentu.[22] Beberapa contoh mengenai hubungan
warna dengan gerakan meditasi tertentu dinyatakan dalam Sritattvanidhi, sebuah
buku tentang ikonografi dalam Hinduisme. Sebagai contoh, putih dihubungkan
dengan wujud Ganesa sebagai Heramba-Ganapati dan Rina-Mochana-Ganapati
(Ganapati yang membebaskan dari belenggu). Ekadanta-Ganapati digambarkan
berwarna biru selama bermeditasi dalam wujud itu.

Wahana

Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan).[23] Pada
delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana, Ganesa lima
kali menggunakan tikus dalam lima penjelmaannya, menggunakan singa saat
menjelma sebagai Wakratunda, seekor merak saat menjelma sebagai Wikata, dan
menggunakan Sesa, naga ilahi, dalam penjelmaannya sebagai Wignaraja. Pada
empat penjelmaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana, Mohotkata
menunggangi singa, Mayureswara menunggangi merak, Dumraketu menunggangi
kuda, dan Gajanana menunggangi tikus. Dalam pandangan agama Jaina terhadap
Ganesa, wahananya ada bermacam-macam, seperti misalnya tikus, gajah, penyu,
domba, atau merak.[24]

Ganesa seringkali digambarkan menunggangi atau diantar oleh seekor tikus.


Martin-Dubost mengatakan bahwa tikus muncul sebagai wahana yang utama
dalam sastra tentang Ganesa, di wilayah India Tengah dan Barat selama abad ke-
7; tikus juga selalu ditempatkan dekat dengan kakinya. Tikus sebagai wahana
muncul pertama kali dalam kitab Matsyapurana dan kemudian dalam
Brahmandapurana dan Ganesapurana, dimana Ganesa menggunakannya sebagai
kendaraan hanya pada inkarnasi terakhirnya. Ganapati Atharwashirsa
mengandung sloka tentang Ganesa yang menyatakan bahwa gambar tikus terdapat
dalam benderanya. Nama Musakawahana (berwahana tikus) dan Akuketana
(berbendera tikus) muncul dalam Ganesa Sahasranama.

Tikus ditafsirkan dalam berbagai pengertian. Seorang penulis buku tentang


Ganesa bernama John A. Grimes telah menafsirkan makna tikus sebagai atribut
Ganesa. Michael Wilcockson mengatakan bahwa tikus melambangkan orang-
orang yang ingin mengatasi keinginan dan mengurangi sifat egois. [25] Yuvraj
Krishan, seorang penulis buku Ganesa, mengatakan bahwa tikus itu bersifat
merusak dan mengancam pertanian. Kata Sanskerta mūṣaka (tikus) diambil dari
akar kata mūṣ (mencuri, merampok). Merupakan hal yang penting untuk
menaklukkan tikus sebagai hama penghancur, sejenis wighna (rintangan) yang
perlu untuk diatasi. Jadi menurut teori tersebut, Ganesa sebagai penguasa tikus
menunjukkan fungsinya sebagai Wigneswara (dewa segala rintangan) dan
memberi bukti terhadap perannya sebagai grāmata-devatā (dewa pedesaan) bagi
rakyat yang kemudian meningkat kemuliaannya.[26] Paul Martin-Dubost yang juga
pernah menulis buku tentang Ganesa memberi sebuah pandangan bahwa tikus
adalah simbol yang memberi sugesti bahwa Ganesa, seperti halnya tikus, mampu
menembus bahkan memasuki tempat-tempat rahasia.[27]

Asosiasi

Rintangan

Ganesa adalah Wigneswara atau Wignaraja, dewa segala rintangan, baik yang
bersifat material maupun spiritual. Ia mahsyur dipuja sebagai penyingkir segala
rintangan, meski ia juga memasang rintangan pada umatnya yang perlu diberi
cobaan. Paul Courtright mengatakan, "pekerjaannya adalah menempatkan dan
menyingkirkan rintangan. Itu merupakan kekuasaannya yang utama..."[28]

Yuvraj Krishan menyatakan bahwa beberapa nama Ganesa mencerminkan


perannya yang berkembang dari waktu ke waktu.[29] M. K. Dhavalikar
beranggapan bahwa karena cepatnya ketenaran Ganesa di antara dewi-dewi
Hindu, dan kemunculan para Ganapatya, sehingga ada perubahan tekanan suara
dari wignakartā (pencipta rintangan) menjadi wignahartā (penyingkir rintangan).
[30]
Bagaimana pun, dua fungsi tersebut menjadi amat penting dalam karakter
Ganesa, seperti yang dijelaskan Robert Brown, "bahkan setelah Ganesa dalam
Purana digambarkan dengan baik, Ganesa meninggalkan banyak hal-hal penting
untuk peran gandanya sebagai pencipta dan penyingkir rintangan, sehingga
memiliki aspek negatif maupun positif.".[31]

Buddhi

Ganesa dianggap sebagai Dewa Aksara dan Pelajaran. Dalam bahasa Sanskerta,
kata buddhi adalah kata benda feminin yang banyak diterjemahkan menjadi
kecerdasan, kebijaksanaan, atau akal.[32] Konsep buddhi erat dikaitkan dengan
kepribadian Ganesa, khususnya pada zaman Purana, ketika banyak kisah
menonjolkan kepintarannya dan cinta terhadap kecerdasan. Salah satu nama
Ganesa dalam Ganeshapurana dan Ganesa Sahasranama adalah Buddhipriya.
Nama ini juga muncul dalam daftar 21 nama di akhir Ganesa Sahasranama yang
menurut Ganesa amat penting. Kata priya bisa berarti "yang tercinta", dan dalam
konteks suami-istri bisa berarti "kekasih" atau "suami",[33] maka nama
Buddhipriya bisa saja berarti "Yang dicintai oleh kecerdasan" atau "Suami
Buddhi".[34]

Aum

Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: ॐ, juga
dieja 'Om'). Istilah oṃ(ng)kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya), ketika
diidentikkan dengan Ganesa, merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia
menjelma sebagai bunyi yang utama.[35] Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi
penjelasan mengenai hubungan ini. Swami Chinmayananda menerjemahkan
pernyataan yang relevan berikut ini:

(O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma, Wisnu, dan Mahesa.


Engkaulah Indra. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Engkaulah matahari
(Surya) dan bulan (Candrama). Engkaulah Brahman. Engkaulah (tiga dunia)
Bhuloka [bumi], Antariksa-loka [luar angkasa], dan Swargaloka [sorga].
Engkaulah Om. (Itu sebagai tanda, bahwa Engkaulah segala hal tersebut).[36]

Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam


penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan
Tamil.[37]

Cakra pertama

Menurut Kundalini yoga, Ganesa menempati cakra pertama, yang disebut


muladhara. Mula berarti "asal, utama"; adhara berarti "dasar, pondasi". Cakra
muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokok-
pokok kekuatan ilahi yang terpendam.[38] Hubungan Gansea dengan hal ini juga
diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa. Courtright menerjemahkan
pernyataan sebagai berikut: "[O Ganesa,] Engkau senantiasa menempati urat
sakral di pondasi tulang punggung [mūlādhāra cakra]."[39] Maka dari itu, Ganesa
memiliki kediaman tetap dalam setiap makhluk yang terletak pada Muladhara.
Ganesa memegang, menopang dan memandu cakra-cakra lainnya, sehingga ia
mengatur kekuatan yang mendorong cakra kehidupan.[38]

Mitologi

Kelahiran

Meski Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati, mitos-mitos dalam
Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. Dia bisa saja diciptakan
oleh Siwa, atau oleh Parwati, atau oleh Siwa dan Parwati, atau muncul secara
misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Terdapat berbagai versi
mengenai kelahiran Ganesa, namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab
Siwapurana.
Dalam kitab Siwapurana dikisahkan, suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin
mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ia
berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya
selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati
saja. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik.

Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, ia tidak dapat masuk
karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Bocah tersebut
melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. Siwa
menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah
rumahnya juga. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa,
sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun.
Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri.
Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan
memenggal kepala si bocah. Ketika Parwati selesai mandi, ia mendapati
puteranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar
anaknya dihidupkan kembali. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi
permohonan istrinya.

Atas saran Brahma, Siwa mengutus abdinya, yaitu para gana, untuk memenggal
kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara.
Ketika turun ke dunia, gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara.
Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. Akhirnya
Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa
Keselamatan.

Keluarga dan istri

Dalam keluarga Ganesa ada saudaranya yang bernama Skanda, yang juga disebut
Kartikeya, Murugan, dan lain-lain. Perbedaan wilayah memberikan versi berbeda
tentang jenjang kelahiran mereka. Di India Utara, Skanda biasanya dianggap yang
lebih tua, sementara di India Selatan, Ganesa dianggap yang lebih dahulu lahir.
Skanda merupakan dewa perang yang mahsyur sekitar tahun 500 SM sampai 600
M, ketika pemujaan terhadapnya berkurang secara signifikan di India Utara.
Seiring dengan memudarnya Skanda, Ganesa mulai berkembang. Beberapa kisah
menceritakan persaingan antara kedua bersaudara tersebut dan bisa saja
mencerminkan ketegangan yang terjadi antar sekte (pemuja Ganesa dan pemuja
Skanda).[40]

Status orangtua Ganesa, subjek pembicaraan yang luas bagi para sarjana,
memiliki beragam versi dalam cerita-cerita mitos. Salah satu pola dalam mitos
mengidentifikasi Ganesa sebagai seorang brahmacarya yang tak menikah.[41]
Pandangan ini biasa terdapat di India Selatan dan di beberapa wilayah India
Utara. Dalam contoh lain, ia diasosiasikan dengan konsep Buddhi (kecerdasan),
Siddhi (kekuatan spiritual), dan Riddhi (kemakmuran); tiga kualitas ini
kadangkala dipersonifikasikan sebagai para dewi, yang konon menjadi para istri
Ganesa. Dia bisa juga digambarkan dengan satu pasangan saja atau seorang
pelayan tanpa nama (Sanskerta: daşi). Dalam contoh lain, ia diasosiasikan dengan
dewi kebudayaan dan kesenian, yaitu Saraswati atau Śarda (umumnya di
Maharashtra).[42] Dia juga disangkutpautkan dengan dewi keberuntungan dan
kemakmuran, Laksmi.[43] Contoh lainnya, terutama yang menonjol di wilayah
Benggala, menghubungkan Ganesa dengan pohon pisang, Kala Bo.[44]

Kitab Siwapurana mengatakan bahwa Ganesa memiliki dua putera: Ksema


(kemakmuran) dan Laba (keuntungan). Menurut kisah versi India Utara,
puteranya seringkali disebut Suba (keselamatan) dan Laba. Film berbahasa Hindi
tahun 1975 berjudul Jai Santoshi Maa menampilkan Ganesa yang menikahi
Riddhi dan Siddhi lalu memiliki puteri bernama Santoshi Ma, dewi kepuasan.
Kisah ini tidak memiliki dasar dari kitab Purana.[45]

Pemujaan dan festival

Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari;


khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai
bisnis. K.N. Somayaji berkata, "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak
memiliki arca Ganapati. [..] Ganapati, sebagai dewa yang termahsyur di India,
dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara".[46] Pemujanya
percaya bila Ganesa dibuat senang, ia akan memberi kesuksesan, kemakmuran
dan perlindungan terhadap bencana.

Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu, dan umat Hindu dari seluruh denominasi
memanggil namanya saat memulai persembahyangan, memulai usaha yang
penting, dan upacara keagamaan. Penari dan musisi, khususnya di India Selatan,
memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih
dahulu memuja Ganesa. Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Gaṇeshāya
Namah (Om, hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali
dipakai. Salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa
adalah Om Gaṃ Ganapataye Namah.

Pemujanya memberi persembahan berupa manisan seperti misalnya modaka dan


bola-bola kecil manis (laddu). Dia seringkali digambarkan memegang semangkuk
manisan, yang disebut modakapātra. Karena ia diidentifikasikan dengan warna
merah, ia seringkali dipuja dengan pasta cendana merah (raktacandana) atau
bunga merah. Rumput Dūrvā (Cynodon dactylon) dan benda lainnya sering
dipakai dalam memujanya.

Festival yang dikaitkan dengan Ganesa adalah Winayaka caturti (Ganesa Caturti)
pada śuklapakṣa (hari keempat bulan purnama) di bulan bhadrapada
(Agustus/September) dan Ganesa jayanti (ulang tahun Ganesa) dirayakan pada
cathurthī dalam kṛṣṇapakṣa (hari keempat bulan mati) di bulan magha
(Januari/Februari).
Ganesa Caturti

Festival tahunan untuk memuja Ganesa yang berlangsung selama sepuluh hari,
dimulai pada Ganesa Caturti, yang jatuh pada akhir bulan Agustus atau awal
September. Festival memuncak pada hari Ananta Caturdasi, ketika arca (murti)
Ganesa dicelupkan ke dalam air. Pada tahun 1893, Lokmanya Tilak mengubah
festival tahunan ini dari perayaan keluarga secara pribadi menjadi acara bagi
masyarakat luas.[47] Ia melakukannya untuk mengatasi kesenjangan antara
golongan Brahmana dan non-Brahmana dan menemukan konteks tak lazim yang
dimaksud untuk membangun akar persatuan di antara mereka, dalam cita-cita
nasional menentang penjajahan Inggris di Maharashtra.[48] Karena Ganesa dipuja
secara luas sebagai "dewa bagi semua orang", Tilak memilihnya sebagai tempat
menampung protes rakyat India terhadap pemerintahan Inggris.[49] Tilak adalah
orang pertama yang memasang citra Ganesa yang besar bagi masyarakat umum di
sebuah paviliun, dan menetapkan tradisi untuk mencelupkan semua citra Ganesa
pada hari kesepuluh.[50] Di masa kini, umat Hindu di penjuru India merayakan
festival Ganapati dengan semangat menyala, meskipun hal itu paling populer di
negara bagian Maharashtra. Festival itu juga mendapat proporsi yang besar di
Mumbai dan di sekitar kuil-kuil Astawinayaka.

Kuil

Dalam tempat suci Hindu, Ganesa dapat diuraikan beraneka macam: sebagai
dewa bawahan (parswadewata); sebagai dewa yang erat dengan dewa utama
(pariwaradewata); atau sebagai dewa utama di sebuah kuil (pradhana), dijamu
bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu.[51] Sebagai dewa keluar-
masuk, dia banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau hal-
hal buruk, yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. Dan
juga, beberapa kuil didedikasikan untuk Ganesa sendiri, misalnya Astawinayaka
(Sanskerta: अष्टिवनायक; aṣṭavināyaka; "delapan (kuil) Ganesa") di
Maharashtra yang paling mahsyur. Terletak di jarak sekitar 100 kilometer dari
kota Pune, masing-masing dari delapan kuil ini memuliakan wujud utama
Ganapati, lengkap dengan cerita dan legendanya; bersama-sama mereka
membentuk sebuah mandala, menandai wilayah suci Ganesa.

Ada banyak kuil Ganesa yang penting di tempat-tempat berikut ini: Wai di
Maharashtra; Ujjain di Madhya Pradesh; Jodhpur, Nagaur dan Raipur (Pali) di
Rajasthan; Baidyanath di Bihar; Baroda, Dhokala, dan Balsad di Gujarat dan Kuil
Dhundiraj di Benares, Uttar Pradesh. Kuil Ganesa yang utama di India Selatan
yaitu sebagai berikut: Kuil Jambukeśvara di Tiruchirapalli; di Rameshvaram dan
Suchindram di Tamil Nadu; Hampi, Kasargod, dan Idagunji di Karnataka; dan
Bhadrachalam di Andhra Pradesh.

T. A. Gopinatha berkata, "Setiap desa, meskipun desa kecil, memiliki citra


Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil untuk menempatkannya. Di jalan
masuk menuju desa atau sebuah benteng, di bawah pohon bodhi […], dalam
sebuah relung […], di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci
yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa […]; figur Wigneswara kelihatan tak
berubah-ubah."[52] Kuil Ganesa juga dibangun di luar India, termasuk Asia
Tenggara, Nepal, dan di beberapa negara barat.

Kemunculan pertama

Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali
dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4
sampai abad ke-5. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal, yang
diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra,
yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta.[53] Pemujaan tersendiri
terhadapnya muncul sekitar abad ke-10.[54] Narain mengikhtisarkan kontroversi
antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap perkembangan Ganesa
sebagai berikut:

[A]pa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis
menurut pandangan sejarah. Pelopornya tak jelas. Keterbukaan dan ketenarannya
yang luas, yang melampaui batas mahzab dan teritorial, sungguh menakjubkan.
Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa
dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan,
namun merupakan mitologi yang cukup menarik. Di sisi lain terdapat keraguan
mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat
sampai kelima Masehi. ...[54]

Pengaruh memungkinkan

Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah


bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India,
namun berkesimpulan bahwa, "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan
yaksa berkepala gajah, itu tidak bisa dianggap menggambarkan Ganapati-
Winayaka. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah
atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini. Ganapati-Winayaka masih
membuat debutnya."[55]

Suatu teori mengenai asal-usul Ganesa mengatakan bahwa ia perlahan-lahan


menjadi tenar sehubungan dengan empat Winayaka.[56] Dalam mitologi Hindu,
para Winayaka adalah kelompok empat makhluk jahat yang membuat rintangan
dan kesulitan, namun mudah untuk ditenangkan. Nama Winayaka adalah nama
yang biasa bagi Ganesa, baik dalam Purana-Purana maupun Tantra Buddha.[57]
Krishan adalah salah satu sarjana yang menerima teori ini, yang berkomentar
datar tentang Ganesa, "Dia bukan dewa dalam Weda. Asal-usulnya mengikuti
jejak empat Winayaka, roh jahat, dari Manawagrehyasutra (abad VII-IV SM)
yang menyebabkan berbagai jenis kejahatan dan penderitaan".[58] Penggambaran
figur manusia berkepala gajah, yang beberapa di antaranya diidentifikasikan
dengan Ganesa, muncul dalam kesenian dan koin India pada permulaan abad ke-
2.[59]

Sastra Weda dan wiracarita

Gelar "Pemimpin kelompok" (Sanskerta: ganapati) muncul dua kali dalam


Regweda, namun keduanya tidak merujuk pada Ganesa yang sekarang. Istilah itu
muncul dalam Regweda (Rw 2.23.1) sebagai gelar untuk Brahmanaspati, menurut
para komentator.[60] Saat sloka itu tak diragukan lagi merujuk pada
Brahmanaspati, sloka itu kemudian diadopsi untuk memuja Ganesa dan masih
dipakai hingga sekarang.[61] Dalam pembantahan bahwa pernyataan tersebut
merupakan bukti keberadaan Ganesa dalam Regweda, Ludo Rocher mengatakan
bahwa itu dengan jelas merujuk kepada Wrehaspati—dewa himne-himne—dan
hanya Wrehaspati.[62] Hal yang juga mirip, yaitu pernyataan kedua (Rw 10.112.9)
merujuk pada Indra, yang diberi gelar 'ganapati', diterjemahkan menjadi
"Pemimpin perkumpulan (bagi para Marut)." Tetapi, Rocher menyatakan bahwa
sastra-satra Ganapatya terkini seringkali mengutip sloka-sloka Regweda untuk
menghormati Ganesa.[63]

Dua sloka dalam kitab yang termasuk Yajurweda hitam, yaitu Maitrayaniya
Samhita (2.9.1) dan Taittiriya Aranyaka (10.1), menyatakan permohonan kepada
dewa yang "bertaring satu" (Dantih), "bermuka gajah" (Hastimuka), dan
"berbelalai bengkok" (Wakratunda). Nama-nama ini mengingatkan kita pada
Ganesa, dan seorang komentator dari abad ke-14 bernama Sayana dengan tegas
memastikan identifikasi ini.[64] Deskripsi tentang Dantin, yang memiliki belalai
bengkok (wakratunda) dan memegang jagung, tebu, dan gada, merupakan
karakteristik Ganapati yang utama secara Purana, seperti yang dikatakan Heras,
"tidak bisa dibantahkan lagi untuk menerima identifikasinya (ciri-ciri Ganesa)
dengan (ciri-ciri) Dantin ini".[65] Tapi, Krishan menganggap bahwa himne-himne
ini adalah tambahan (carangan) pasca zaman Weda.[66] Thapan menambahkan
bahwa pernyataan-pernyataan itu lazimnya dianggap sebagai sebuah sisipan.
Dhavalikar mengatakan, "referensi mengenai dewa berkepala gajah di Maitrayani
Samhita telah terbukti sebagai sisipan paling akhir, maka tidak begitu berguna
dalam menentukan informasi paling awal mengenai sang dewa (Ganesa)".[67]

Ganesa tidak muncul dalam wiracarita India pada zaman Weda. Sebuah sisipan
pada wiracarita Mahabharata mengatakan bahwa Resi Byasa meminta Ganesa
untuk membantunya sebagai seorang penulis untuk mencatat wiracarita yang
didikte oleh sang resi kepadanya. Ganesa setuju namun dengan syarat bahwa
Byasa harus membeberkan wiracarita itu tanpa diselingi, yaitu, tanpa berhenti.
Sang resi setuju, namun sadar bahwa untuk melakukan jeda, ia perlu
menceritakan suatu pernyataan yang sangat kompleks sehingga Ganesa akan
bertanya untuk mengklarifikasi. Kisah tersebut tidak dianggap sebagai sebuah
bagian dalam kitab orisinilnya oleh editor dalam kitab Mahabharata edisi
kritikan. Hubungan antara Ganesa dengan ketangkasan pikiran dan pembelajaran
adalah salah satu alasan sehingga ia ditampilkan sebagai penulis dikte yang
dijabarkan Byasa tentang Mahabharata dalam sisipan tersebut.[68] Richard L.
Brown memperkirakan waktunya terjadi sekitar abad ke-8, dan Moriz Winternitz
menyimpulkan bahwa kisah itu dikenal pada awal th. 900, namun tidak
ditambahkan ke dalam Mahabharata sampai sekitar 150 tahun kemudian.
Winternitz juga menambahkan bahwa versi berbeda dalam naskah Mahabharata
di India Selatan adalah penghapusan terhadap legenda Ganesa tersebut.[69] Istilah
winayaka ditemukan dalam beberapa resensi dalam Santiparwa dan
Anusasanaparwa yang dianggap sebagai sisipan.[70] Sebuah referensi tentang
Wignakartrinam ("Pencipta rintangan") dalam Wanaparwa juga dipercaya
sebagai sebuah sisipan dan tidak muncul dalam edisi kritikan.[71]

Zaman Purana

Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. Brown


mengatakan, sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya
suatu peristiwa terjadi, penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam
kitab yang muncul belakangan, sekitar th. 600–1300.[72] Yuvraj Krishan
mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia
memperoleh kepala gajah, ada dalam Purana yang digubah dari th. 600 dan
seterusnya. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang
Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal, seperti misalnya Bayupurana
dan Brahmandapurana, adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke-
7sampai abad ke-10.[73]
Bangkitnya ketenaran Ganesa dikodifikasikan pada abad ke-9, ketika secara
formal ia dimasukkan ke dalam lima dewa utama dalam aliran Smarta. Filsuf abad
ke-9 bernama Shankaracarya mempopulerkan "pemujaan terhadap lima wujud"
(pañcāyatana pūjā), sebuah sistem di antara kaum brahmana yang ortodoks dalam
tradisi Smarta. Dalam pemujaan ini dilakukan pemanggilan lima dewa yaitu
Ganesa, Wisnu, Siwa, Dewi, dan Surya. Shankaracarya mendirikan tradisi itu
dengan tujuan utama untuk menyatukan dewa-dewi utama dari lima sekte besar
pada status yang sama. Hal ini sungguh-sungguh membuat peran Ganesa sebagai
seorang dewa komplementer.

Buku dan sastra

Ketika Ganesa diterima sebagai salah satu dari lima dewa utama dalam
Brahmanisme, beberapa brahmana memilih untuk memuja Ganesa sebagai dewa
utama mereka. Mereka mengembangkan tradisi Ganapatya, seperti yang dapat
disimak dalam Ganeshapurana dan Mudgalapurana.

Masa penggubahan Ganeshapurana dan Mudgalapurana (dan waktunya tidak


tetap antara satu sama lain) telah mengobarkan perdebatan para sarjana. Kedua-
duanya berkembang dari waktu ke waktu dan mengandung isi yang bertumpuk-
tumpuk. Anita Thapan mengutarakan komentar tentang masa penggubahan dan
mengukuhkan pendapatnya. "Sepertinya, mungkin pokok-pokok isi dari
Ganeshapurana muncul sekitar abad keduabelas dan ketigabelas", dia berkata,
"namun kemudian diberi sisipan."[74] Lawrence W. Preston berpikir bahwa waktu
yang memungkinkan untuk penggubahan Ganeshapurana antara tahun 1100 dan
1400, bersamaan dengan waktu berdirinya tempat-tempat suci seperti yang
disebutkan dalam kitab itu.[75]

R.C. Hazra mengatakan bahwa Mudgalapurana lebih tua daripada


Ganeshapurana, yang menurutnya digubah pada tahun 1100 dan 1400.[76] Tetapi,
Phyllis Granoff menemukan masalah terhadap waktu yang tidak tetap ini dan
berkesimpulan bahwa Mudgalapurana adalah kitab filsafat terakhir yang
menyinggung masalah Ganesa. Ia mengemukakan alasannya berdasarkan sebuah
fakta bahwa, di antara bukti-bukti internal lainnya, Mudgalapurana secara
spesifik menyebut Ganeshapurana sebagai salah satu dari empat Purana
(Brahma, Brahmanda, Ganesha, dan Mudgalapurana) yang menyinggung
masalah Ganesa.[77] Sementara isinya sudah usang, kitab itu diberi sisipan sampai
abad ke-17dan ke-18, sehubungan dengan pemujaan Ganapati yang menjadi
penting dalam wilayah tertentu.[78] Kitab lain yang memuji Ganesa, yaitu
Ganapati Atharwashirsa, ada kemungkinan digubah pada abad ke-16 atau ke-17.
[79]

Di luar India dan agama Hindu

Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan
Tenggara. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang
menjamah negeri asing sebagai akibatnya.[80]

Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang dan rombongannya, yang pergi
ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. Periode dari sekitar abad ke-10
sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap
hal pertukaran, pembentukan serikat dagang, dan bangkitnya sirkulasi keuangan.
Selama masa ini, Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para
pedagang.[81] Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa
sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan
pedagang.[82]

Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka, termasuk


Ganesa, bersama mereka. Arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah
Nusantara dalam jumlah yang banyak, seringkali di samping kuil Siwa. Wujud
Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa, Bali, dan Kalimantan yang
menunjukkan pengaruh regional yang spesifik.[83] Penyebaran budaya Hindu
secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa
dimodifikasi di Burma, Kamboja, dan Thailand. Di Indochina, agama Hindu dan
Buddha dijalankan dengan berdampingan, dan pengaruh timbal balik bisa dilihat
dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. Di Thailand, Kamboja dan di
Vietnam, Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. Bahkan
kini oleh umat Buddha di Thailand, Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala
rintangan, atau dewa keberhasilan.[84]

Sebelum kedatangan Islam, Afganistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan
India, dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama
dijalankan. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan,
mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu.[85]

Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana, tidak hanya dalam wujud dewa
Vināyaka dalam agama Buddha, namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama
yang sama.[86] Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa
kerajaan Gupta. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha, ia seringkali
digambarkan sedang menari. Wujud ini, disebut Nṛtta Ganapati, dan termahsyur
di wilayah India Utara, kemudian diadopsi di Nepal, lalu di Tibet.[87] Di Nepal,
wujud Ganesa secara Hindu, dikenal sebagai Heramba, sangat terkenal; ia
memiliki lima kepala dan menunggangi singa. Penggambaran Ganesa di Tibet
menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya.[88] Ganapati versi Tibet
adalah tshogs bdag.[89] Dalam versi Tibet, Ganesa digambarkan sedang diinjak
oleh kaki Mahākāla, yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. Penggambaran lain
menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan, kadangkala dalam
wujud sedang menari. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang
menampilkan karakter wilayah yang berbeda. Di Cina Utara, ada patung batu dari
zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa, disertai tulisan yang berangka tahun
531.[90] Di Jepang, pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun
806.[91]
Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap
Ganesa. Namun, Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina, muncul sebagai
pengambil alih fungsi Kubera.[92] Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan
mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai
akibat dari hubungan perdagangan.[93] Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir
berasal dari abad ke-9.[94] Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan
prosedur untuk memasang citra Ganapati.[95] Citra Ganesa muncul dalam kuil
Jaina di Rajasthan dan Gujarat.[96]

23. SIWA LINGGA (LINGGA YONI)

Lingga merupakan lambang Dewa Siwa, yang pada hakekatnya mempuriyai arti,
peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau,
khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Hal ini terbukti bahwasanya
peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di
tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. Bahkan ada juga ditemukan pada
goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh
masyarakat setempat.

Di Indonesia khususnya Bali, walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam


jumlah yang banyak, akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami
arti lingga yang sebenarnya. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian
lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga,
yang sudah tentu bersifat umum.

Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas,
bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa
dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat,
poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601).

Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali, bahwa lingga
diidentikkan dengan : linggih, yang artinya tempat duduk, pengertian ini tidak
jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali, dikatakan bahwa
lingga sebagai linggih Dewa Siwa.
Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah
terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu, malah dalam berbagai
penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah
terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan
ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada
peradaban Harappa. (Agastia, 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus
bahwa menurut paham Hindu, lingga merupakan lambang kesuburan.

Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa


terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore, menurut
anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga
dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao, 1916 : 69). Di India terutama
di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa
sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang
menamakan dirinya sekte linggayat (Putra, 1975 : 104).

Mengenai pemujaan lingga di Indonesia, yang tertua dijumpai pada prasasti


Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa
dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah
memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di
daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono, 1973 : 40). Dengan
didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan, sedangkan lingga adalah
lambang untuk dewa Siwa, maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal
sekte Siwa (Siwaisme), di Indonesia. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut
dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa.

Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk


simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di
Kanjuruhan, Jawa Timur. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang
berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja
Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Bangunan suci
yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di
desa Kejuron. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan
melainkan sebuah lingga. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan
Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru.
(Soekmono. 1973 : 41-42).

Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari
abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa
Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter
dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pemujaan lingga di candi ini
dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers, 1959 102).

Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan


lingga, yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada
tempat atau pelinggih pura. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih
hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai.
Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon
keselamatan, kesuburan dan sebagainya. Mengenai peninggalan lingga di Bali
banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih, Pura-pura di Pejeng, di
Bedahulu dan di Goa Gajah.

Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana
dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Di dalam lingga purana disebutkan
sebagai berikut:
”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Gandhawarna rasairhinam
sabdasparsadi warjitam”.

Artinya:
Lingga awal yang mula-mula tanpa bau, warna, rasa, pendengaran dan sebagainya
dikatakan sebagai prakrti (alam).

Jadi dalam Lingga Purana, lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat
kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak
terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Lingga pada
Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Semua wujud diresapi
oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa.

Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara


Siwalingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.

Artinya:
Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang
bersemayam di alam Siwa.

Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa.
Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin
memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada
hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam
wujudnya sebagai Siwa.

Bentuk Lingga
Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan
mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada
Dewa Siwa atau sering disebut sebagai ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Jnana Siddhanta disebutkan:
“Pranalo Brahma visnus ca Lingotpadah Siwarcayet”.

Artinya:
Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap
sebagai sumber siwa.

Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air, pranala dipandang sebagai
kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Dengan istilah lingga
pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga, jadi
lingga dan yoni. Kemudian lingga yoni, berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma,
Wisnu dan Siwa, di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma, dan Wisnu
bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Sebuah lingga berdiri.

Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas.
Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah
yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat
carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian
lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga, bagian
tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga, sedangkan bagian atas
berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan
konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya
dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah.

Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha.
Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi, segi empat panjang, segi enam,
segi delapan, segi dua belas, bulat, bulat telur, setengah bulatan, persegi enam
belas dan yang lainnya. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk
segi empat (Gopinatha Rao, 1916 :99).

Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain :
berbentuk payung (chhatrakara), berbentuk telur (kukkutandakara), berbentuk
buah mentimun (tripusha kara), berbentuk bulan setengah lingkaran
(arddhacandrakara), berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao, 1916 :
93).
Jenis-Jenis Lingga
Berdasarkan penelitian dan TA. Gopinatha Rao, yang terangkum dalam bukunya
berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. II part 1” di sini beliau mengatakan
bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara
lain :
- Chalalingga
- Achalalingga
Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak, artinya lingga itu dapat
dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang
terkandung. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah:
a. Mrinmaya Lingga
Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat, baik yang sudah dibakar.
Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari
tanah liat putih dan tempat yang bersih. Proses pengolahannya adalah tanah
dicampur susu, tepung, gandum, serbuk cendana, menjadi adonan setelah
beberapa lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama.
b. Lohaja Lingga
Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam, seperti : emas, perak, tembaga,
logam besi, timah dan kuningan.
c. Ratmaja Lingga
Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti, permata,
mutiara, kristal, jamrud, waidurya, kwarsa.
d. Daruja Lingga
Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami, tinduka, karnikara,
madhuka, arjuna, pippala dan udumbara. Dalam kitab Kamikagama disebutkan
juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira, chandana, sala, bilva, badara, dan
dewadara.
e. Kshanika Lingga
Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari
saikatam, beras, nasi, tanah pekat, rumput kurcha, janggery dan tepung, bunga
dan rudrasha.

Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga, lingga yang tidak dapat
dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan Bhatara-
Bhatari. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat
yang sulit untuk dipindahkan.

I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani, kumpulan kuliah-
kuliah agama jilid I”, menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan.
Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata
tersebut spathika lingga, lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan
bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga, lingga
yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi, lingga yang biasa kita jumpai
di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari
batu.

Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T.A. Gopinatha Rao dalam


bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. II part I” dapat dijelaskan,
sebagai berikut:

a. Svayambhuva lingga. Dalam mitologi, lingga dengan sendirinya tanpa


diketahui keadaannya di bumi, sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci
dan lingga yang paling utama (uttamottama).b. Ganapatya lingga. Lingga ini
berhubungan dengan Ganesa, Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan
dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai
bentuk mentimun, sitrun atau apel hutan.
c. Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Bentuknya
bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas.

d. Daivika lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan
arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang
suci, dipakai oleh brahman).
e. Manusa lingga. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci,
karena langsung dibuat oleh tangan manusia, sehingga mempunyai bentuk yang
bervariasi. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma
bhaga (dasar), Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Mengenai ukuran
panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama.• WHD
No. 437 Juli 2003.

24. HARI RAYA HINDU

Pagerwesi
Hari Raya Pagerwesi

Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu


perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang
bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya
Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri
yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja
pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.

Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai
manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam
kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya
alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa
penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku
Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan
Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk
semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. Dalam lontar
Sundarigama disebutkan:

"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru
kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah
sarwatumuwuh ring bhuana kabeh."

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang


Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk
mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada


para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Dalam lontar Sundarigama
disebutkan:

Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka


Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha
Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah.

Artinya:

Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya


memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan
yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta,
segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di
halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada


pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan
Mapasang Lingga.
Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan
samadhi). Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca
Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina, Suci Praspenyeneng dan
Banten Penek. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga
samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib
ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Banten yang paling inti perayaan
Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip, Prayascita,
Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina, Canang dan Sodaan. Dalam hal
upacara, ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara
para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

Makna Filosofi

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang


jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang
Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang
makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya
sebagai guru sejati.

Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang


siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang
Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang
paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru
sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti
dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati.
Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan
memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada
Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan
pengetahuan sejati.

Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman
kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya
merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping
itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah
untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."

Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan


atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan.

Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada


keseimbangan.

Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:

Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).

Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua


hewan.

Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada


produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila
produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu
berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak
dikehendaki dharma.

Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan


sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda
kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi
adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada
Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri
manusia bermoral tanpa kesombongan.

Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari


manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya
Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan
meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma
tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah
Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang
purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga
Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat
menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada
pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam
agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat.
Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata.

Dalam Manawa Dharmasastra V, 109 disebutkan:

Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu


pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan
kejujuran yang disebut satya.

Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak


diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi
spiritual dari Brahman. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari
kehidupan dan itu pulalah guru sejati. Karena itu amat ditekankan pada Hari
Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga, mapasang lingga.

Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Sebelum
membuat tirtha, terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air, dengan
pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha
yang dihasilkan betul-betul amat suci. Pembuatan tirtha dalam upacara-
upacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. Tirtha suci itulah yang akan
dibagikan kepada umat. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh
lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini, berarti para pendeta harus
melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan
Sanghyang Pramesti Guru.

Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima
manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam
menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban
menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam
manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh
Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya
"pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya
hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari
bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera.

Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut


memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa.
Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah
secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan
dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung
dalam lambang upacara Pagerwesi.

Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari
raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya
untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan
mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa
Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang
mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang
kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana.

Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru
Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India
melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai
episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu
gurunya alam semesta.

Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari


Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang
amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka
Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari
Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata
suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000
sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi
Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta.

Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah
merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan
hawa nafsu jahat.

Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di


Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki
semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang
menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari
perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat
dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan
dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah
adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang
Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa
para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa
bagi umat Hindu di Indonesia.

(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka
Manikgeni)

Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau
bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti
menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan,
sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan.
Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam
rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang
artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini.
Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di
Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra
(mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI)
memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia
sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan
pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi.
Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah
namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar
Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama
Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi.
Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15,
isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari
Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka.
Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah.
Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba —
entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya
itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk
pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan
dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah
datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif
pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun
1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan
kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri
Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu
merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu
berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu
mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah
Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu
dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena
kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan
pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa.
Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya
selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu
Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali
merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi
yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat
Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum
Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan
adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan
kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak
Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan
lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar
mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana
dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan
keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus
disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki
kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan
manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk
menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan
rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan
dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang
apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya


mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan
pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran
dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah
wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning
idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan
kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma
melawan adharma.

Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan


sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan
Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa
bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan
Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum
Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa
itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian
Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).

Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan


peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat
Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh
karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali
disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti
kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.

Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun
mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung
jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan.
Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci)
tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.

Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang
yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar
disebutkan, "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi." Pada hari Anggara
Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah
dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok
yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat
kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun
makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat
kebinatangan yang ada pada diri.

Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan
yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini
umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya
melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan
terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil
bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan
Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan
anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini
umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara
tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam
lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya
dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena
malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu
Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara
menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan
hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah
hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur
mwah maring Swarga).

Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan


upacaranya.

Macam-macam Galungan

Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib
melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-
sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah
dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel),
Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai
berikut:

Galungan

Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan
kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar
Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan." Artinya,
Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu
dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan
adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta
Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut
Hari Raya Galungan.

Galungan Nadi

Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar
Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih
Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada
bulan Oktober.

Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama
itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan
pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya
upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat
Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama
maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin
atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama
mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.
Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang
diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang
(lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang
bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini
datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.

Galungan Nara Mangsa

Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih
Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:
"Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9,
tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran."

Artinya:

Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan
bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa
namanya.

Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir
sama sebagai berikut:

Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali
elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring
Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan
mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah
9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran.
Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan
tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira
Balagadabah.

Artinya:

Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi
manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan
wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan
Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan
sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9,
tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit
adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi
cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura
Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan
tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa
pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang
artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara
Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu
pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan
sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng
Galungan". Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan
caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.

Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di


Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang
lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma
melawan adharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan
adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja
yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara
agama.

Galungan di India

Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma
melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan
kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi
atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat
dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan"
dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya "menang".

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Inti perayaan
Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan.
Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana
melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara
Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk
dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih
menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma.
Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya
Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan
untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun
Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka
(April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha
Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan
dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati
(Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh
Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang,
maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi
yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih
sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki
kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi
nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan
yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang
Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi
nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa
kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling
ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama
Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai
Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan
yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan
rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari
Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada
hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai
lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana,
Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling
beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah
ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan
Anoman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak
panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur
sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama,
ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai
gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita,
Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat
Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan
panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun
yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua
perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang
itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan
adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada
Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau
pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya
Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih
sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh
menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya
kehidupan yang bahagia lahir batin.

Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu


kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita
wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh
setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan,
umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.

Nyepi

Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka

Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti
berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra
Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-
mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra
langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan
yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang
tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Tingkatan isi
Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam
membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan
dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan
penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda, Vedangga, Itihasa dan Purana. Semua
kitab ini tergolong tafsir (human origin).

Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Kitab ini
disusun kira-kira 12.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern
Astronomi Hindu (India). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih
sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta,
Paitamaha Siddhanta, Wasista Siddhanta, Paulisa Siddhanta dan Romaka
Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi
Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang
serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur.

Prof. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903)


menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani
tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Lahirnya Tahun Saka di India
jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas.

Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup


permusuhan antar suku bangsa di India. Sebelum lahirnya Tahun Saka, suku
bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Adapun suku-suku
bangsa tersebut antara lain: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Suku-
suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain.
Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Arah
perjuangannya kemudian dialihkan, dari perjuangan politik dan militer untuk
merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Karena
perjuangannya itu cukup berhasil, maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya
benar-benar memasyarakat.

Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk
kekuasaan di India. Tampaknya, dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah
perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Kekuasaan yang
dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, namun
kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada
di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi
kebudayaan kerajaan (negara).

Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa
Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Semenjak
itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu
membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan
persatuan itu, sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran
agama Hindu.

Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem
penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh
seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat
(India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456
Masehi.

Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman


Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di
Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati
dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpu seluruh kepala
desa, prajurit, para sarjana, Pendeta Siwa, Budha dan Sri Baginda Raja. Topik
yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat.

Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara
Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI -
XCII. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi
berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari
Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada
bulan Maret atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan
upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga.
Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Keesokan
harinya, pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah
Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma
Santi.

Tujuan Hidup

Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan


tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib
mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga
yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam
Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135.

Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Tuhan


(Prajapati), manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu
berhubungan berdasarkan yajña. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III,
10: manusia harus beryajña kepada Tuhan, kepada alam lingkungan dan beryajña
kepada sesama. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji
Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini dilangsungkan
manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam
Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan
Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).

"Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani."

Artinya:

Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak


menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.

"Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng
dharma, artha kama moksha."

Artinya:

Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha,


kama dan moksha.

Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di
antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:

"Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan."

Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup


menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña)
turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja.

Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-
tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang.
Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup,
yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña pada tilem
kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa
melestarikan alam lingkungan.

Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan, Brahma berputra tiga
orang yaitu: Sang Siwa, Sang Budha dan Sang Bujangga. Ketiga putra beliau ini
diberi tugas untuk amrtista akasa, pawana, dan sarwaprani. Oleh karena itu, pada
saat upacara Tawur Kesanga, upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri
Sadaka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka, Bhuwah
Loka dan Swah Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga, dilangsungkanlah
upacara Melasti atau Melis. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar
Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut:

Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana.

Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan


kekotoran alam.

Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:

Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara.

Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengah-


tengah samudra.

Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam
serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang
lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra
kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia.

Pada tanggal satu sasih kadasa, dilaksanakanlah brata penye-pian. Brata


penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:
"....enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya
sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh
ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan."

Artinya: "....besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh
melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh, karenanya orang
yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian."

Jadi, brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya,
tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Sedangkan bagi mereka yang
sudah tinggi rohaninya, melakukan yoga tapa dan samadhi. Parisada Hindu
Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk
umat pada umumnya yaitu: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati
lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada
umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan
yang menjurus pada kerohanian, pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa,
yoga, samadhi.

Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian
hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan
dharma, artha, kama dan moksha.

Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan
makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang.
Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya
merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur
Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual
dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.

Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri
manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti
mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu
mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan
mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan
mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan
dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma
wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna
memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan
dalam merayakan pergantian Tahun Saka

Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu
nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini,
baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman
modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan
perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini
tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan
perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan
akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-
khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai
Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya.
Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.

Pelaksanaan Upacara

Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi.
Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini:
"....manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata."

Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga


atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas,
tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci.
Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap
laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya
diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu,
dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.
Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di
India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida
Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima
itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu
berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk
menyucikan desa yang dilaluinya.

Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah


adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Di tingkat
kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan
upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di
tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.

Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan


(sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan
nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah,
dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat
menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut,
penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk
digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah
sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna
9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air
tawar.

Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang


belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan
natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.

Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan


pada tengah hari sekitar pukul 11.00 - 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat
desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari).
Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah
mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi
rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa
dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan
membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung
ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran
warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang
nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.

Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari


Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda
yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni
sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak
ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak
mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai
pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa
raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.

Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai
serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu
jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan
pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu
memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam
oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni
budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.

Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi
di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap
memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya,
pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali.
Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat
izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.
Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh
Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:

-Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan
upawasa (puasa).

- Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.

- Amati lelungan (tidak bepergian).

- Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).

Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah
dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang
dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang
memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi
pada saat Nyepi itu.

Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan
yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap
untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan
memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-
sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa,
mona, dhyana dan arcana.

Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum
selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya
kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam.
Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai
keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat
suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu
tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak
didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan
terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan.
Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.

Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa, 23 Januari


2001), merupakan hari suci bagi umat Hindu. Hari tersebut dikenal dengan nama
Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. Latri berarti malam (gelap). Dan bahkan
malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. Kalangan
krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu".

Pada hari Siwaratri umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam
prabhawanya sebagai Siwa Mahadewa. Umat patut melaksanakan brata,
meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu. Tujuannya
agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di
dunia ini. Terbebas dari berbagai godaan yang bisa menjerumuskan dan
menyesatkan hidup, karena perbuatan menyimpang dari ajaran dharma atau
Agama.

Gelap bisa menakutkan dan menciutkan nyali bagi sebagian orang. Karena
menurut mereka di dalam gelap bercokol setan dan berbagai mahluk pemangsa
lainnya. Tetapi sebagaian orang lagi gelap merupakan media dalam mendapatkan
ketentraman batinnya. Dalam kegelapan malam ada keheningan kesunyian dan
kedamaian, makanya mereka memburu gelap, termasuk malam siswa malam
paling gelap sehari menjelang Tilem Kepitu 24 Januari 2001.

Adalah Lubdhaka si pemburu miskin yang berbahagia dalam perjalanan hidupnya,


sekalipun tidak disadari karena secara kebetulan. Dikatakan berbahagia, lantaran
sekalipun dalam sehari-hari selalu melakukan tindakan sadis, melakukan
pembunuhan satwa (binatang), tetapi bisa masuk surga sesudah meninggal.

Dari pandangan mata secara awam saja, tentu perbuatan membunuh,


menghilangkan nyawa mahluk lain di luar tujuan yadnya, adalah berdosa. Misteri
kematian dan perjalanan arwah Lubdhaka tidak banyak yang mengetahuinya.
Pemburu tersebut dalam mitologi HIndu meniggal beberapa hari setelah Siwaratri
lantaran menderita suatu penyakit. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan.

Apa yang dilakukan Lubdhaka sehingga memperoleh tiket masuk surga setelah
mati? Suatu hari lelaki itu seharian berburu, namun sama sekali tidak mendapat
binatang buruan. Waktu itu jangankan ia berhasil memanah seekor binatang untuk
dibawa pulang, melihat bayangan binatang saja tidak. Sangat apes hari itu
perjalanan Lubdhaka sebagai pemburu profesional.

Dalam kehampaan, jengkel bercampur lelah fisik karena lapar dan harus
Lubdhaka memutuskan tidak bertolak pulang menemui istri dan anak-anak
kesayangannya. Dengan perasaan pasrah dan nekat ia memutuskan bermalam di
hutan, padang perburuannya seorang diri.

Waktu itu sebagai pemburu Lubdhaka tidak memiliki motip lain, bertahan di
hutan. Kecuali satu harapannya, malam itu ia akan menemukan binatang dan
berhasil memanahnya untuk dibawa pulang. Ia memilih berdiam di sebuah pohon
dekat telaga yang airnya sangat bening.

Lubdhaka boleh saja berharap, namun kenyataannya sampai tengah malam yang
sunyi senyap hasilnya tetap nihil. Malah dalam malam gelap ia dilanda ketakutan.
lantas Lubdhaka memilih memanjat sebuah pohon yang lumayan rindang,
antisipasinya supaya terhindar dari sergapan binatang buas. Untuk menahan
kantuknya tangan memetik satu persatu dahan pohon yang tidah. Ternyata malam
saat Lubdhaka menginap di hutan adalah Malam Siwa (Siwa Latri), yakni malam
payogan Hyang Siwa.

Dimana dibawah pohon tempatnya memanjat ada sebuah telaga dan perwujudan
Siwa beryoga. Pohon yang dinaiki adalah pohon Bila, serta dalam petikan lelaki
itu tpat mengenai patung Siwa tersebut. karena takut jatuh otomatis laki-laki tetap
terjaga (jagra) sampai pagi. Aktivitas Lubdhaka malam itulah mendapat pahala
dari Hyang Siwa, hingga ia berhak masuk sorga.
Aktivitasnya itu sama nilainya dengan yang dikerjakan Siwa. Beryoga, menahan
haus, lapar, tidak tidur dan menahan nafsu-nafsu lainnya. Di Khayangan rohnya
sempat menjadi rebutan, antara penguasa neraka dan surga. Perjalanan Lubdhaka
sebagai pemburu sampai masuk sorga cukup kontroversial.

Malahan di kalangan umat Hindu sendiri hal ini masih menjadi masalah yang
patut untuk didiskusikan, artinya begini, pantaskah seorang Lubdhaka yang
melakukan pembunuhan terhadap sarwa buron ini mendapatkan pengampunan
hanya karena melakukan kegiatan begadang semalam suntuk.
Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari
sekali menurut kalender Jawa Bali, yakni pada setiap Saniscara Umanis
Watugunung.
Arti Kata Sarasvati, Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang
artinya mengalir. Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau
kolam.
Sarasvati dalam Veda Di dalam RgVeda, Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari
delapan puluh re atau mantra pujaan. Ia juga sering dihubungkan dengan
pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan
Sarasvati.
Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia Tentang Sarasvati di Indonesia telah
dikaji oleh Dr. C. Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha, Five Studies in
Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian
adalah tiga jenis naskah, yaitu: Stuti, Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak
terlalu banyak. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti, stava atau stotra
seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan).

Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati, ia


mengucapkan dua bait mantra berikut : Om Sarasvati namas tubhyam, varade
kama rupini, siddhirambha karisyami, siddhir bhavantu mesada.
Pranamya sarya-devana ca, Paramatmanam eva ca, rupa siddhi prayukta ya,,
Sarasvati (n) namamy aham. Sarasvati 1-2.) Hanya Engkaulah yang
menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. Engkau pula yang
penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada.
Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia, Engkau keutamaan dari setiap
istri yang mulia, Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia,
karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu Om Sarasvati
namotubhyam varade kama rupini, siddhirambha karisyami siddhir bhavantu
mesada Sarasvatistava I) Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi
Sarasvati, pemberi berkah, wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan.
Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu
Pendahuluan
Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan
dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa
yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia, untuk
kepentingan Bhakti, Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam
alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God). Berbagai
aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan
serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.
Makna Penggambaran Dewi Saraswati Tubuh dan busana putih bersih dan
berkilauan. Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih
merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna, yaitu Sattva-gunatmika dalam
kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. Ilmu pengetahuan
diidentikan dengan Sattvam-jnanam Caturbhuja : memiliki 4 tangan, memegang
vina (sejenis gitar), pustaka (kitab suci dan sastra), aksamala (tasbih) dan
kumbhaja (bunga teratai). Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan
depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul
nadamelodi (nada - brahman) berupa Om. Suara Om adalah suara musik alam
semesta atau musik angkasa. Aksamala (di tangan kanan belakang)
melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini
manusaia tidak memiliki arti. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu
selalu putih, emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela
(Shakunthala, 1989: 38). Vahana. sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan
kendaraan angsa atau merak. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan
dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Angsa yang gemulai
mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan biji-
bijian dari kebenaran ilmu pengetahuan, seperti angsa mampu membedakan
antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. Kendaraan yang lain
adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala,
1989 : 38)..Penutup Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka Sarasvati di dalam
Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. Dalam
perkembangan selanjutnya, Sarasvati adalah dewi Ucap, dewi yang memberikan
inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan.
Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan
berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan
Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan, sumber wahyu Tuhan Yang
Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain
menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan
latar belakang filosofis yang sangat dalam. Demikian semoga Ida Sang Hyang
Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi, kejernihan
pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang.
Om Sarve sukhino bhavantu, sarve santu niramayah, sarve bhadrani pasyantu, ma
kascid duhkh bhag bhavet. Ya Tuhan Yang maha Esa, anugrahkanlah semoga
semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Semoga semuanya
memperoleh kedamaian. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan
semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan.

25. KONSEP KEPEMIMPINAN. EKONOMI, PENDIDIKAN DAN


KEBUDAYAAN AGAMA HINDU

Kepemimpinan Hindu

Dalam kehidupan manusia didunia ini banyak ditemui usaha kerjasama untuk
mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Keseluruhan proses
kerjasama itu dinamakan organisasi. Dengan kata lain organisasi adalah
proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang, untuk mencapai
tujuan tertentu (Nawawi da Handari, 1995:8).
Setidaknya ada dua jenis organisasi yaitu Organisasi formal dan non formal.
Organisasi formal memiliki struktur yang relatif permanen, prosedur dan
mekanisme yang statis, pasti dan teratur. Sedangkan Organisasi non formal
memiliki struktur yang semi permanen, prosedur dan mekanismenya mudah
berubah sesuai dengan kebutuhan dan keputusannya cenderung ditentukan
oleh kesepakatan bersama.

Baik organisasi formal maupun non formal, pasti memeriukan seseorang


untuk menempati posisi pemimpin (leader). Seorang pemimpin didalam
sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. Dengan
kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan adalah kegiatannya.
Sehubungan dengan itu maka kepemimpinan dapat diartikan sebagai
kemampuan / kecerdasan mendorong sejumiah orang agar bekerjasama dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama (Nawawi
dan Handari, 1 995:9). Kepemimpinan adalah proses mendorong dan
membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan.
Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha
mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Dengan kata lain kepemimpinan
adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan apa yang
diinginkan untuk dikerjakan oleh orang lain. Konsep demikian kelihatanya
sederhana, tetapi pada kenyataannya sering kali sangat kompleks, karena
didalam kepemimpinan hadir suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi
tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan antar kelompok.
Dari uraian diatas ada empat implikasi penting, yaitu 1) Kepemimpinan selalu
melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. Dengan keinginan mereka untuk
menerima pengarahan dari pimpinan, maka status pemimpin menjadi jelas dan
membuat proses kepemimpinan memungkinkan- tanpa ada yang
mengarahkan, semua kualitas kepemimpinan dari seorang manajer akan tidak
relevan. 2) Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak
seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok. Seorang pemimpin harus
mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin. 3) Kepemimpinan
adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda
untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara. 4)
Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah
sebuah nilai (value). Ini adalah sebuah catatan berharga bahwa meskipun
kepemimpinan dihubungkan dalam kepetingan dalam manajemen,
kepemimpinan dan manajemen bukanlah konsep yang sama.

Politik Hindu

Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik
selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala
cara. Akan tetapi, Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara
mencari, dan mempertahankan kekuasaan, melainkan adalah bagi penegakkan
Dharma. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan
Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha, yaitu dalam Santi
Parwal LXIII, hal 147, sebagai berikut:"manakala politik telah sirna, veda pun
sirna pula, semua aturan hidup hilang musnah, semua kewajiban manusia
terabaikan. Pada politiklah semua berlindung. Pada politiklah semua awal
tindakan diwujudkan, pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan, pada
politiklah semua dunia terpusatkan".

Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa:

"ketika tujuan hidup manusia - dharma, artha, kama, dan moksa semakin jauh.
Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau, maka pada politikiah
semua berlindung, pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan,
pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan, dan pada politiklah dunia
terpusatkan"
Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara
Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat, yaitu politik Hindu
adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. Dharma adalah
hukum, kewajiban, dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan
berakibat pada kehancuran umat manusia, dan sebaliknya dharma yang dijaga
akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah).

Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak
dapat dipisahkan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu
memberikan tauladan, selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang
rat), dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Dalam
Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa "apa yang menjadikan raja senang
bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah
kesenangan seorang raja". Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok
dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat, bukanlah kesejahteraan
penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada
kebahagiaan tertinggi, kemuliaan adalah pasti ("sang sura menanging
ranaggana, mamukti sukha wibawa, bogha wiryawan").

Selayang Pandang Kepemimpinan di Era Hindu Indonesia


Tanda-tanda tentang adanya pengaruh agama Hindu, dapat dibaca pada batu
tertulis (Prasasti) di Kalimantan dan di Jawa Barat. Dari peninggalan itu dapat
disimpulkan bahwa gaya huruf dari tulusan ini yang digolongkan sebagai
huruf Pallawa dan bila diperhitungkan umurnya kira-kira abad keempat
Masehi. Kerajaan pribumi pada waktu itu, menjalin hubungan dengan
perdagangan dengan kerajaan India dan mengadopsi konsep-konsep Hindu,
baik untuk mengatur negara maupun kerohanian. Yang sangat mencolok
adalah pengaruh kepada organisasi negara, yang diatur sangat Hirarkis,
berorientasi ke atas, sebagai aktualisasi dari konsepsi "raja adalah keturunan
Dewa". Melalui konsep "raja adalah keturunan Dewa" maka kekuasaan raja
menjadi absolut.
Para pemimpin waktu itu berusaha dengan bantuan para Pendeta Hindu, untuk
menarik garis keturunan kepada Dewa (Brahma, Wisnu, Siwa dan Dewa
lainnya) pada dirinya guna melegitimasi kekuasaanya. Waktu itu diyakini,
bahwa hanya keturunan Dewa bisa menjadi pemimpin. Tetapi yang terjadi
tidak selalu demikian. Pemimpin yang ingin diakui oleh masyarakat adalah
mereka yang berhasil "Mbrojol selaning Garu" (Iolos dari seleksi yang ketat).

Kepemimpinan dalam Sastra-Sastra Hindu


Dalam ajaran Agama Hindu banyak sekali ditemukan ajaran tentang
kepemimpinan. Ia tersebar mulai dari Weda sampai pada berbagai sastra
Hindu. dalam kitab Atharva Veda: 3.4.1 dijelaskan tentang tugas seorang
pemimpin sebagai berikut:
Wahai pemimpin negara, datanglah dengan cahaya, lindungilah rakyat dengan
penuh kehormatan, hadirlah sebagai pemimpin yang utama, seluruh penjuru
mamanggil dan memohon perlindunganmu, raihlah kehormatan dan pujian
dalam negara ini.
Disamping sebagai pelindung rakyat, pemimpin juga harus memperhatikan
kesejahteraan masyarakat. Hal ini nampak jelas dalam kutipan sebagai
berikut:

Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti


kebenaran dan dharma, serta mencukupi kebutuhan rakyatnya, maka
semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan
menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3.4.2).

Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta


mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat, maka rakyatpun akan
melindungi pemimpin itu sendiri ibaratnya Singa dan hutan yang saling
melindungi, demikianlah keberadaan pemimpin dengan yang dipimpinnya.
Pemimpin yang tidak terkalahkan, melindungi rakyatnya dengan selalu
meminta perlindungan Tuhan, sebaliknya rakyatpun akan selalu
menghormati, dan melindungi pemimpin tersebut. (Rg Veda: 4.50.9)

Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin


menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda, maka
negara tersebut akan hancur. (Atharva Veda: 5.19.6)

Dalam Nitisastra 1. 1 1 disebutkan bahwa :


Orang tidak boleh tanpa Asraya (tempat mohon bantuan) namun usahakanlah
Mahasraya. Lihatlah itu si ular naga yang mencari tempat berlindung pada
Bhatara Siwa karena Baktinya ia dijadikan kalung oleh Bhatara Siwa. Ketika
burung Garuda datang (musuh ular) terpaksa ular itu dihormati pula.

Dalam Tantri Kamandaka, si gajah yang besar dan kuat namun angkuh, mati
dibunuh oleh persekutuan si burung siung, lalat dan katak. Persekutuan dan
persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu
menumbangkan kekuatan sebesar apapun.

Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini


sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam
wilayahnya. Warga-warga disatukan, dipersaudarakan dengan menyatukan
pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut
mereka wargi sang raja. Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di
Pura, yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Namun
dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan
rakyatnya. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus
melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi, yaitu Sama, Beda, Dana dan Danda.

Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat.


Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang
dipimpinnya. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana
(XXIV, 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang
ideal. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4
yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di
Indonesia. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana
adalah:
"Dan ia disuruh untuk menghormatinya, karena Ida Bhatara ada pada dirinya,
delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu, itulah sebabnya ia amat
kuasa tiada bandingnya. Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera,
Baruna, Agni, demikian delapan jumlahnya, beliau-beliau itulah sebagai
pribadi sang raja, itulah sebabnya disebut Asta Brata"
1. Indra brata, Sang Hyang Indra usahakan pegang, Ia menjatuhkan hujan
menyuburkan bumi, inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata, sumbangan-
sumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat.
2. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat, ia memukul pencuri sampai
mati, demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat, setiap yang
merintangi usahakan musnahkan.
3. Bhatara Surya selalu menghisap air, tiada rintangan, pelan-pelan olehnya,
demikianlah engkau mengambil penghasilan, tiada cepatcepat demikian Surya
Brata.
4. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya, perilaku lemah lembut
tampak, senyummu manis bagaikan amerta, setiap orang tua dan pendeta
hendaknya engkau hormati.
5. Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang, hendaklah
engkau mengetahui pikiran rakyat semua, dengan jalan yang baik sehingga
pengamatanmu tidak kentara, inilah Bayu brata, tersembunyi namun mulia.
6. Nikmatilah hidup dengan nikmat, tidak membatasi makan dan minum,
berpakaian dan berhiaslah, yang demikian disebut Dhanabrata patut
diteladani.
7. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa
yang membelit, itulah engkau tiru Pasabrata, engkau mengikat orang-orang
jahat.
8. Selalu membakar musuh itu perilaku api, kejammu pada musuh itu
usahakan, setiap engkau serang cerai berai dan lenyap, demikianlah yang
disebut Agnibrata.
Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin
negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. Tuntunan
Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin.

"sakanikang rat kita yan wenang manut, manupadesa prihatah rumaksa ya,
Ksaya nikang papa nahan prayojana, Jananuragadi tuwi kapangguha.

Artinya:

Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti Petunjuk-petunjuk hukum Manu


(Manawa dharmasastra) usahakan pegang Hilangnya penderitaan itulah
tujuannya
Cinta orang tentu akan kita jumpai.

Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra sastra Jawa
Kuna, yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh
bertidak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. Dari semua hukum-
hukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin, disimpulkan dalam
dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang
untuk mendapatkan kerahayuan. Dalam kakawin Ramayana, Bhismaparwa
dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam
memimpin negaranya.

Ika ta prassidha dharma ulahaning kadiKita prabhu, si mangraksa rat juga,


Mtangian mangkana,asihning wwang ringSarwa bhuta marikang dharma
mangkana ngaranyaKotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat,ika ta
sang prabu, Makambek mangakana

Terjemahan:
Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi
negara, sebabnya demikian,sayangmu pada semua makhluk dharma
namanya,penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan, untuk melindungi
negara, demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku.

Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa,yang merupakan nasehat Bhagawan


Bhisma kepada Prabhu Yudistira. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan
tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara, tidak menjadi
panutan yang dipimpinnya, maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena
ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat diketahui
dari kutipan berikut:

"Laku bhrtya matinggal ratunya, yan hana ratu akeras mapanas ing gawe,
byakta sira tininggal ing wadwa nira, leheng ikang ratu makeras swapadi
ngrutu makumed tar paradanda, yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira,
ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa, awisesa ngaranya
manarub, ya hana wwang kulina janma sinoraken, yang hana wang adhahjati
dinuhuraken, yeka anarub ngaranya, yan hana ratu mangkana tininggal sira de
ning janma wwang kulina janma, (slokantara 40)

Terjemahan :

Pelayan dapat meninggalkan rajanya, bila raja kejam dan bengis tindakannya.
Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. Lebih baik raja yang
kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. Raja yang kikir dan
sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa, yaitu raja yang
mencampurbaurkan persoalan. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan
dan orang yang hina dimuliakan, itulah mencampur-baurkan namanya. Bila
ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif.

Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang
pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya. Seorang pemimpin
yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah
kesejahteraan para pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada
nasehat Rama kepada Wibisana berikut ini:

Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun,Mas ya ta pahawreddhin


bhaya ring hayu kekesan, Bhukti akaharepta wehing bala kasukan, Dharma
kalawan artha mwang kama ta ngaranika. (Kakawin Ramayana III, 54)

Terjemahan:

Pura-pura (tempat suci), rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki, supaya
diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. Nikmatilah apa
yang kamu ingini berilah kesejahteraan. Dharma, artha, dan kama namanya
demikian itu.

Santasih nitya thaganan Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan.


(Ramayana III, 65)

Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus
mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua
rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya.

Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu "Gunamanta Sang Dasarata


Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa Tarmalupueng Pitra Puja
Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh"

Kutipan bait Ramayana di atas, menegaskan bahwa seorang pemimpin yang


sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau satria pandita.
Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya, yaitu
sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma, dan
seorang pandita yang arif bijaksana, selalu dalam kesucian, dan penuh cinta
kasih.

26. KERAGAMAN RITUAL


ritual Hindu adalah representasi dari Upanishad yang melanjutkan pekerjaan
Brahmana dan Aranyakas dalam menafsirkan makna dari ritual srauta. With
these texts the increasing importance of knowledge of esoteric
correspondences are observed as compared to ritual action. Dengan teks-teks
ini semakin pentingnya pengetahuan esoterik korespondensi diamati
dibandingkan dengan tindakan ritual. The sections on knowledge
(jnanakanda) take precedence over sections on ritual (karmakanda). Bagian-
bagian pada pengetahuan (jnanakanda) didahulukan dari bagian pada ritual
(karmakanda). The earlier Upanisads continue the magical speculations of the
Brahmanas, which maintained that knowledge of the correspondences
between ritual and cosmos is a kind of power. The Upanisads sebelumnya
melanjutkan spekulasi magis dari Brahmanas, yang berpendirian bahwa
pengetahuan tentang korespondensi antara ritual dan kosmos adalah semacam
kekuasaan. desa-kala-patra (tempat-waktu-suasana) adalah konsep kerja
dalam kerifan lokal di Bali memang mendasari proses bekerja di Mandiri.
Denga cara kerja Bertolak Dari Yang Ada, tak ada yang bisa menghalangi apa
yang ingin dikerjakan, asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif.
Bahkan konsep pun bila perlu akan kami langgar dan tolak sendiri, kalau
memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-
patra. Apakah itu berarti tidak punya pendirian? Entahlah, kami hanya ingin
tumbuh, berkembang dan hidup yang wajar, tidak terkekang oleh dogma-
dogma yang salah atau kedaluwarsa.

27. APLIKASI WEDA DI KALTENG

Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh


pemerintah Indonesia, masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri,
yang disebut Kaharingan. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan
kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat, tetapi
juga ajaran untuk berperilaku. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki
kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun.
Menurut kepercayaan Kaharingan, masyarakat Dayak mempercayai banyak
dewa di sekitar mereka, seperti dewa-dewa yang menguasai tanah, sungai,
pohon, batu, dan sebagainya. Dari dewa-dewa tersebut, terdapat dewa yang
tertinggi, yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan
yang lainnya, misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi
Mahatara, sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit.
Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin
terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana, kesialan,
sakit, dan sebagainya. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam
apabila hendak bepergian jauh, seperti arah terbang burung, suara burung-
burung tertentu, ada ular yang melintas di depannya, dan sebagainya. Hal ini
bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. Mereka percaya
adanya Tuhan, tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia,
melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut.

Suku Dayak sangat terbuka dengan pengaruh budaya luar, termasuk di


antaranya kehadiran agama-agama tradisi besar. Dengan keterbukaannya
tersebut, maka dimanfaatkan oleh kaum misionaris untuk menyebarkan
agamanya. Islam telah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-13, dibawa oleh
kaum pendatang yang berasal dari daerah lain, seperti Jawa, Melayu, Bugis,
dan sebagainya. Suku Dayak yang tinggal di daerah pesisir dan banyak
berhubungan dengan para pendatang dari suku-suku lain, banyak yang
kemudian memeluk agama Islam. Sedangkan kegiatan misionaris agama
Kristen Katholik dan Kristen Protestan telah masuk ke pedalaman Kalimantan
dan berjalan dengan gencar sejak abad ke-19. Dalam upaya Kristenisasi dan
Katholikisasi terhadap Suku Dayak di pedalaman, mereka banyak
menggunakan media pelayanan sosial, seperti bantuan pendidikan, bantuan
ekonomi, dan pelayanan kesehatan. Upaya penyebaran agama-agama tradisi
besar ini cukup berhasil, terutama dalam merekrut generasi mudanya sehingga
pada saat ini sebagian besar generasi muda Dayak telah memeluk agama
Islam, Kristen, maupun Katholik. Akan tetapi sebagian dari mereka tetap
bertahan pada kepercayaan Kaharingan. Kedatangan agama-agama tradisi
besar tersebut di atas ternyata juga membawa dampak buruk terhadap
kehidupan orang-orang Suku Dayak. Hal ini dikarenakan agama-agama tradisi
besar pada umumnya memandang kepercayaan-kepercayaan di luar mereka
sebagai sesuatu yang eksotik, salah, dan harus diluruskan sesuai dengan ajaran
agama mereka. Seorang Dayak yang sudah menganut Islam akan merasa malu
mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Ia akan mengidentifikasi dirinya
sebagai orang Melayu Menurut pandangan mereka, orang Melayu dengan
agama Islamnya identik dengan kemajuan dan kemoderenan, sedangkan orang
Dayak dengan kepercayaan Kaharingan-nya identik dengan ketertinggalan
dan kekolotan. Sementara itu keberadaan agama Kristen dan Katholik juga
tidak mendukung pelestarian adat-istiadat dan tradisi Suku Dayak. Banyak
upacara Suku Dayak yang berhubungan dengan upacara kematian, pemujaan
roh nenek moyang yang telah meninggal, dan pemujaan alam lingkungan
yang dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan
Katholik, seperti upacara Tewah/Dalo, upacara penolak bala dan sebagainya.
Dengan hilangnya upacara-upacara tersebut, hilang pula nilai-nilai dan norma-
norma yang terkandung di dalam tatanan masyarakat Dayak, seperti
pelestarian hutan, rasa menghargai terhadap semua makhluk hidup yang ada
di alam lingkungan, penghormatan terhadap leluhur, dan sebagainya.
Pada jaman Orde Baru pemerintah memberlakukan lima agama besar yang
resmi diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu Dharma, dan
Budha. Hal ini mengakibatkan kebingungan tersendiri bagi masyarakat Dayak
yang menganut kepercayaan Kaharingan. Di satu pihak mereka harus memilih
salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah, sementara di pihak lain
ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh para misionanis dan penyebar agama
tersebut dianggap tidak dapat mewadahi kepercayaan asli mereka. Pada
akhirnya para penganut kepercayaan Kaharingan memilih agama Hindu
Dharma sebagai agama resmi mereka karena adanya persamaan mendasar
antara keduanya, khususnya dengan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat
Suku Bali sebagai penganut agama Hindu Dharma mayoritas di Indonesia.
Persamaan antara kepercayaan Kaharingan dengan ajaran Hindu Dharma
adalah sebagai berikut 1) Percaya Reinkarnasi, yaitu percaya bahwa roh yang
telah meninggal dapat lahir kembali, baik ke dalam tubuh manusia, binatang,
tumbuhan, atau bersemayam pada benda-benda mati, misalnya batu besar,
pertemuan sungai, puncak-puncak gunung, dan sebagainya.
2) Upacara kematian dan pemujaan terhadap arwah leluhur. Orang-orang
Dayak memiliki tradisi yang beraneka ragam dalam memperlakukan jenazah
dengan tiga cara, yaitu dikubur di dalam tanah, disemayamkan di atas tanah
atau diatas pohon di dalam hutan, dan dikremasi. Sedangkan Dayak Ngaju
menguburkan jenazah di dalam tanah terlebih dahulu, setelah beberapa tahun
kemudian digali kembali dan tulang-tulangnya dibakar. Upacara ini
mempunyai persamaan dengan di Bali, di mana jenazah orang yang
meninggal ada yang dikremasi dikubur di dalam tanah, atau disemayamkan di
atas tanah. Arwah leluhur yang telah meninggal pada masyarakat Dayak
dipercayai bersemayam di puncak-puncak pegunungan atau di hutan-hutan
dan mempunyai kekuatan untuk melindungi keturunannya. Sedangkan di Bali
arwah leluhur dipuja di mrajan (pura milik keluarga).
3) Upacara yang berkaitan dengan pemujaan kepada lingkungan alam.
Lingkungan alam yang paling dekat dengan Suku Dayak adalah lingkungan
hutan. Manfaat hutan bagi orang Dayak, antara lain:
a. berkaitan dengan kepercayaan hutan sebagai tempat tinggal dewa penguasa
hutan dan arwah nenek moyang yang melindungi manusia.
b. berkaitan dengan sumber mata pencaharian : hutan sebagai sumber
kehidupan karena merupakan tempat untuk berburu binatang dan mencari
makanan.
Di Bali praktik upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan alam
masih berjalan lestari sampai saat ini, seperti upacara Tawur Agung, Panca
Wali Krama, Eka Dasa Rudra, dan sebagainya Setelah bergabung dengan
agama Hindu Dharma, maka secara tidak resmi muncul istilah Hindu
Kaharingan, yaitu untuk menyebut orang-orang Dayak yang telah memeluk
agama Hindu Dharma. Konsekuensi logis dan bergabungnya mereka ke dalam
agama Hindu Dharma adalah dilakukannya pembinaan oleh Parisada Hindu
Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi Agama Hindu Dharma di
Indonesia.
Ketika kekuasaan Orde Baru runtuh dan bergulir semangat reformasi, maka
timbul perpecahan di antara umat Hindu Kaharingan. Sebagian dari mereka
menyatakan tetap bergabung dengan agama Hindu Dharma dengan tetap
mengakui PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu yang resmi diakui oleh
pemerintah. Sebagian lagi menyatakan bahwa Hindu Kaharingan sebagai
agama yang berdiri sendiri, terpisah dari agama Hindu Dharma. Pada saat ini
mereka tengah memperjuangkan kepada pemerintah agar agama Hindu
Kaharingan dapat diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah, sejajar dengan
agama-agama lainnya. Mereka juga telah membuat majelis umat tersendiri di
luar PHDI. Namun tampaknya juga belum ada kesepakatan bersama dalam
membentuk “PHDI Tandingan” ini. Hal ini terlihat dari beberapa nama
majelis yang ditawarkan sebagai wadah umat Hindu Kaharingan, antara lain
BAKDI (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia) dan Majelis Hindu
Kaharingan.
Dari uraian di atas, dapat diketahui permasalahannya, yaitu mengapa umat
Hindu Kaharingan terpecah menjadi dua? Di satu pihak menyatakan tetap
bergabung dengan agama Hindu Dharma, di lain pihak menginginkan Hindu
Kaharingan berdiri sebagai agama tersendiri, lepas dari agama Hindu Dharma,
dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Kebijakan apa yang
sebaiknya ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini?
Antara umat Hindu Kaharingan yang tetap ingin bergabung dan yang ingin
keluar dari agama Hindu Dharma tersebut tentu memiliki pemahaman yang
berbeda mengenai ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Pihak yang ingin keluar
dari agama Hindu Dharma menganggap ajaran Hindu Dharma tidak cocok
diterapkan pada kepercayaan Kaharingan. Di pihak lain, sebagian dari mereka
menganggap ajaran Hindu Dharma cocok dan relevan untuk diterapkan pada
kepercayaan Kaharingan. Untuk itu perlu dibahas satu demi satu aspek-aspek
ajaran Hindu Dharma yang relevan dengan kepercayaan Kaharingan.
Konsep-Konsep Upacara dalam Ajaran Hindu Dharma
Di dalam ajaran agama Hindu Dharma, upacara-upacara keagamaan terbagi
dalam lima kelompok besar, atau sering disebut dengan Panca Yadnya.
Kelima kelompok hesar tersebut adalah:
a) Dewa Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada Tuhan beserta seluruh
manifestasinya (perwujudan Tuhan dalam bentuk dewa-dewa);
b) Rsi Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para rsi, pandita, nabi
atau kaum ulama, karena berjasa sebagai perantara dalam menjalin hubungan
antara manusia dengan Tuhan dan untuk memberikan ajaranajaran suci
kepada manusia c) Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan kepada para
leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebagai perantara kelahiran
manusia d) Manusa Yadnya, yaitu upacara yang berkaitan dengan daur hidup
manusia, seperti kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian e) Bhuta
Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk menjalin keharmonisan dengan
segala sesuatu yang ada di alam semesta, seperti gunung, laut, sungai, dan
sebagainya. Termasuk pula di dalamnya kehidupan yang lebih rendah dan
manusia, yaitu makhluk halus, binatang dan tumbuhan. Di samping konsep
Panca Yadnya, ajaran Hindu Dharma juga mengenal konsep Tri Hita Karana,
yaitu konsep keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia
dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Upacara adalah sarana
untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan elemen-elemen yang ada di
dalam Tri Hita Karana tersebut. Dalam hal ini upacara Dewa Yadnya adalah
untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan; upacara
Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya untuk menjalin hubungan
harmonis antara manusia dengan manusia; sedangkan Bhuta Yadnya untuk
menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Dengan
demikian jenisjenis upacara tradisional pada agamaagama tradisi kecil
sebenarnya telah tercakup di dalam konsep Panca Yadnya dan Tri Hita
Karana.

-------------- Suksma --------------