Anda di halaman 1dari 18

PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

1. Pengelasan Baja Tahan Karat (Stainless Steel)


a. Klasifikasi Baja Tahan Karat
• Hal-hal umum
Baja tahan karat termasuk dalam baja paduan tinggi yang
tahan terhadap korosi, suhu tinggi dan suhu rendah. Disamping itu
juga mempunyai ketangguhan dan sifat mampu potong yang
cukup. Karena sifatnya, maka baja ini banyak digunakan dalam
reaktor atom, turbin, mesin jet, pesawat terbang, alat rumah tangga
dan lain-lainnya.
Secara garis besar baja tahan karat dapat dikelompokkan dalam
tiga jenis, yaitu, jenis ferit, jenis austenik, jenis martensit.

Gambar 1.1. Komposisi kimia, sifat mekanik dan sifat sifat fisik dari baja tahan
karat

1
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

• Sifat baja tahan karat


Baja tahan karat mempunyai sifat yang berbeda baik dengan
baja karbon maupun dengan baja paduan rendah yang mana sangat
mempengaruhi sifat sifat mampu lasnya. Komposisi kimia dan
sifat-sifat mekanik, serta sifat fisik maupun dengan baja paduan
rendah yang mana sangat mempengaruhi sifat sifat mampu lasnya.
Paduan utama dari baja tahan karat Cr atau Cr dan Ni dengan
sedikit tambahan unsure lain seperti Mo, Cu, dan Mn. Dari sifat
fisiknya yang menunjukkan bahwa koeffisien muainya kira-kira
1,5 kali baja lunak, maka dalam pengelasan baja tahan karat akan
terjadi perubahan bentuk yang lebih besar.
Sebagai contoh dari kekuatan tarik baja tahan karat pada suhu
tinggi dapat dilihat pada gambar 1.1., sedangkan untuk kekuatan
mulurnya (1% dalam 10.000 jam) ditunjukkan dalam gambar 1.2.

Gambar 1.2. Kekuatan baja tahan karat pada suhu tinggi.

2
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

Gambar 1.3. Kekuatan mulur(Creep) dari baja tahan karat (10.000 jam, 1%)

b. Pengelasan Pada Baja Tahan Karat (Stainless Steel)


• Hal-hal umum
Pengelasan dengan elektrode terbungkus, las MIG dan las TIG
adalah cara yang banyak digunakan dalam pengelasan baja tahan
karat pada waktu ini. Disamping itu kadang-kadang digunakan
juga las busur redam, las sinar elektron dan las resistensi listrik.
Karena baja tahan karat adalah baja paduan tinggi, maka jelas
bahwa kualitas sambungan lasnya sangat dipengaruhi dan menjadi
getas oleh panas dan atmosfer pengelasan. Sifat mampu las dari
masing-masing jenis baja tahan karat akan dijelaskan berikut:
• Sifat mampu las baja tahan karat:
1. Baja tahan karat jenis Martensit
Baja ini dalam siklus pemanasan dan pendinginan selama
proses pengelasan akan membentuk martensit yang keras dan
eddc3getas sehingga sifat mampu lasnya kurang baik. Dalam
mengelas baja tahan karat jenis ini harus diperhatikan dua hal
yaitu:

3
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

‰ Harus diberikan pemanasan mula sampai suhu antara 200 -


400°C dan suhu antara pengelasan lapisan harus ditahan
jangan sampai terlalu dingin.
‰ Segera setelah selesai pengelasan suhunya harus ditahan
antara 700 - 800°C untuk beberapa waktu.
2. Baja tahan karat jenis ferit
Baja tahan karat jenis ferit sangat sukar mengeras, tetapi
butirnya mudah menjadi kasar yang menyebabkan ketangguhan
dan keuletannya menurun. Penggetasan biasanya terjadi pada
pendinginan lambat dari 600°C ke 400°C. Karena sifatnya ini
maka pada pengelasan baja ini harus dilakukan pemanasan
mula antara 70 sampai 100°C untuk menghindari retak dingin
dan pendinginan dari 600°C ke 400°C harus terjadi dengan
cepat untuk menghindari penggetasan seperti yang diterangkan
diatas.
3. Baja tahan karat Austenit
Baja tahan karat jenis ini mempunyai sifat mampu lasa yang
lebih baik bila dibandingkan dengan kedua jenis yang lainnya.
Tetapi walaupun demikian pada pendinginan lambat dari
680°C ke 480°C akan terbentuk karbit khrom yang mengendap
diantara butir, seperti pada gambar 1.3. dibawah ini.

Gambar 1.4. Endapan antar butir karbid khrom dari baja 18


Cr-8 Ni

4
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

Endapan ini terjadi pada suhu sekitar 650°C dan meyebabkan


penurunan sifat tahan karat dan sifat mekaniknya. Sifat
mekanik dan sifat tahan karat dari logam las sangat dipengaruhi
oleh komposisi kimia dan struktur. Hubungan antara komposisi
kimia dalam bentuk ekivalen Ni dan ekivalen Cr serta struktur
mikro yang terjadi ditunjukkan dengan diagran Scaeffler dalam
gambar 1.4. dibawah ini.

Gambar 1.5. Diagram Schaeffler dari logam lasan dalam pengelasan baja tahan
karat.

Karena semua jenis baja tahan karat dalam pengelasan akan


mengalami penggetasan dan peretakan, maka harus dijaga agar
logam las selalu terletak pada daerah aman dalam
gambar1.3.(daerah E R 308). Struktur Austenit akan menjurus
pada terbentuknya retak panas seperti yang ditunjukkan dalam
gambar 1.4. Tetapi retak panas ini sangat berkurang apabila
austenit mengandung lebih dari 4% ferit. Dengan sifat diatas
maka dalam pengelasan baja tahan karat austenit hendaknya:
pertama jangan dilakukan pemanasan mula tetapi dihindari
terjadinya masukan panas yang tinggi sehingga tidak terjadi
pengendapan antar butir dari karbid-khrom; kedua sebaiknya
digunakan elektrode jenis Nb, Ti atau karbon rendah (C ≤

5
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

0,03%) dan ketiga dipilih elektrode yang menghasilkan struktur


logam las pada daerah aman dari diagram Schaeffler.

Gambar 1.6. Jenis retak panas dalam logam lasan SUS. 43.

2. Pengelasan Aluminium Dan Paduan Aluminium


a. Klasifikasi Aluminium dan Paduannya Serta Sifatnya Dalam
Pengelasan.
¾ Klasifikasi Aluminium dan Paduan Aluminium.
o Hal-hal umum
Aluminium dan paduan aluminium termasuk logam ringan
yang mempunyai kekuatan tinggi, tahan terhadap karat dan
merupakan konduktor listrik yang cukup baik. Logam ini
dipakai secara luas dalam bidang kimia, listrik, bangunan,
transportasi, dan alat-alat penyimpanan. Kemajuan akhir-akhir
ini dalam teknik pengelasan busur listrik dengan gas mulia
menyebabkan pengelasan aluminium dan paduannya menjadi
sederhana dan dapat dipercaya. Karena hal ini, maka
penggunaan aluminium dan paduannya didalam banyak bidang
telah berkembang. Paduan aluminium dapat diklasifikasikan
dalam tiga cara, yaitu: berdasarkan pembuatan, dengan

6
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

klasifikasi paduan cor dan paduan tempa, berdasarkan


perlakuan padan dengan klasifikasi, dapat dan tidak dapat
diperlaku-panaskan dan cara ketiga yang berdasarkan unsur-
unsur paduan. Berdasarkan klasifikasi ketiga ini aluminium
dibagi dalam tujuh jenis yaitu: jenis Al murni, jenis Al-Cu,
jenis Al-Mn, Al-Si, jenis Al-Mg, jenis Al-Mg, dan jenis Al-Zn.
o Paduan yang dapat dan tidak dapat diperlaku-panaskan
Paduan yang dapat diperlaku-panaskan adalah paduan
dimana kekuatannya dapat diperbaiki dengan pengerasan dan
penemperan, sedangkan paduan yang tidak dapat diperlaku-
panaskan kekuatannya hanya dapat diperbaiki dengan
pengerjaan dingin. Pengerasan pada paduan aluminium yang
dapat diperlaku-panaskan tidak karena adanya transformasi
martensit seperti dalam baja karbon tetapi karena adanya
pengendapan halus fasa kedua dalam butir kristal paduan.
Karena proses ini maka pengerasan pada paduan aluminium
disebut sebagai pengerasan endap atau pengerasan presipitasi.
Sifat-sifat pengerasan presipitasi dari paduan aluminium
tergantung pada unsur-unsur paduannya.
Logam paduan aluminium yang termasuk dalam kelompok
yang tidak dapat diperlaku-panaskan adalah jenis Al-murni,
jenis Al-Mn, jenis Al-Si dan jenis Al-Mg. Sedang kelompok
yang dapat diperlaku-panaskan masih dibagi dalam jenis
perlakuan panasnya yaitu anil-temper (O-temper), pengerasan
regang (H-temper), pengerasan alamiah dan pengerasan buatan.
Paduan aluminium yang dapat dikeraskan secara alamiah
adalah jenis Al-Cu, dimana cara pengerasannya adalah karena
terjadinya pengendapan fasa kedua pada suhu kamar dalam
waktu beberapa hari setelah perlakuan panas pelarutan dari fasa
kedua. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok pengerasan
buatan adalah jenis Al-Cu-Mg, jenis Al-Mg-Si dan jenis Al-Zn-

7
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

Mg. Dalam proses pengerasan ini pengendapan fasa kedua


terjadi pada suhu diatas suhu kamar sampai 160°C atau 185°C
dalam waktu 6 sampai 20 jam.
o Sifat umum dari beberapa jenis paduan
1. Jenis Al – murni teknik (seri 1000)
™ Memiliki kemurnian antara 99.0% dan 99.9%
™ Tahan karat
™ Konduksi panas dan konduksi listrik
™ Memiliki kekuatan yang rendah.
2. Jenis paduan Al-Cu (seri 2000)
™ Tahan korosinya rendah
™ Sifat mampu lasnya kurang baik, sehingga banyak
digunakan pada konstruksi keling, pesawat terbang.
3. Jenis Paduan Al-Mn (seri 3000)
™ Tidak dapat diperlakukan panas sehingga penaikkan
kekuatan hanya dapat diusahakan melalui pengerjaan
dingin dalam proses pembuatannya
™ Tahan korosi
™ Sifat potong dan sifat mampu lasnya
™ Memiliki kekuatan yang tinggi.
4. Paduan jenis Al – Si (seri 4000)
™ Tidak dapat diperlakukan panas
™ Jika dalam keadaan cair mempunyai sifat mampu alir
yang baik dan dalam proses pembekuannya tidak
terjadi retak.
5. Paduan jenis Al-Mg (seri 5000)
™ Tidak dapat diperlakukan panas
™ Tahan korosi terutama korosi oleh air laut
™ Memiliki sifat mampu lasnya yang baik
6. Paduan jenis Al-Mg-Si (seri 6000)
™ Dapat diperlakukan panas

8
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

™ Memiliki sifat mampu potong


™ Memiliki sifat mampu las
™ Daya tahan korosi yang cukup
7. Paduan jenis Al-Zn (seri 7000)
™ Dapat diperlakukan panas
™ Unsur yang ditambahkan pada paduan ini adalah
Mg,Cu dan Cr.
™ Tahan korosi
¾ Sifat Mampu Las
o Sifat-sifat umum
Dalam hal pengelasan paduan aluminium mempunyai sifat yang
kurang baik bila dibandingkan dengan baja. Sifat-sifat yang
kurang baik atau merugikan tersebut adalah:
1. Karena panas jenis dan daya hantar panasnya tinggi maka
sukar sekali untuk memanaskan dan mencairkan sebagian
kecil saja.
2. Paduan aluminium mudah teroksidasi dan membentuk oksida
aluminium Al2O3 yang mempunyai titik cair yang tinggi.
3. Karena mempunyai koefisien muai yang besar, maka mudah
sekali terjadi deformasi sehingga paduan-paduan yang
mempunyai sifat getas yang panas akan cenderung
membentuk retak panas.
4. Karena perbedaan yang tinggi antara kelarutan hidrogen
dalam logam cair dan logam padat, maka dalam proses
pembekuan yang terlalu cepat akan terbentuk rongga halus
bekas kantong-kantong hidrogen.
5. Paduan aluminium mempunyai berat jenis rendah, karena itu
banyak zat-zat lain yang terbentuk selama pengelasan akan
tenggelam.
6. Karena titik cair dan viskositasnya rendah, maka daerah yang
kena pemanasan mudah mencair dan jatuh menetes.

9
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

o Retak Las
Sebagian besar retak las yang terjadi pada paduan
aluminium adalah retak panas yang termasuk dalam kelompok
retak karena pemisahan. Retak las ini dapat terjadi pada proses
pembekuan dan proses pencairan.
o Lubang-Lubang Halus
Lubang halus yang terjadi pada proses pengelasan
aluminium disebabkan oleh gas hidrogen yang larut kedalam
aluminium cair.
o Pengaruh Panas Pengelasan
Panas pengelasan pada paduan aluminium akan
menyebabkan terjadinya pencairan sebagian, rekristalisasi,
pelarutan padat atau pengendapan, tergantung pada tingginya
suhu pada daerah las.
o Sifat Mampu Las Dari Aluminium Dan Paduannya
Berdasarkan sifat mampu las dan paduannya dapat dibagi
dalam lima kelompok, yaitu:
‰ Jenis aluminium murni teknik dan jenis paduan Al-Mn.
‰ Jenis paduan Al-Mg
‰ Jenis paduan Al-Zn-Mg
‰ Jenis paduan Al-Mg-Si
‰ Jenis paduan Al-Cu dan paduan Al-Zn
b. Pengelasan Aluminium dan Paduannya
• Jenis pengelasan yang digunakan adalah las gas, las busur
elektroda dan las sinar elektron
• Jenis las yang digunakan adalah las busur gas mulia, yaitu lapisan
oksida yang terjadi pada permukaan logam aluminium , sehingga
dipecah dan dibersihkan dengan busur listrik. Karena selam
pengelasan terlindung oleh gas mulia maka permukaannya bersih .
• Apabila digunakan cara lain maka diperlukan fluks yang berisi
klorida atau fluorida untuk menghilangkan lapisan oksida yang

10
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

terjadi. Bahaya apabila menggunakan fluks adalah apabila fluks


tertinggal di dalam logam yang akan menyebabkan korosi .
• Persiapan pengelasan :
1. Persiapan pada logam induk :
Dilakukan pembersihan pada permukaan yang akan dilakukan
di las dari zat oksida dan zat lain yang dapat menyebabkan
terjadinya cacat.
2. Persyaratan tempat mengelas
Dibutuhkan tempat pengelasan yang bersih . Apabila
digunakan las busur dengan gas mulia maka harus ada
pelindung angin. Agar tidak terjadi percampuran dengan gas
lain , maka tempat pengelasan harus terpisah dari proses
pengerjaan lainnya.
3. Pemilihan Logam Penggisi
Pada dasarnya pemilihan logam penggisi harus sejenis dengan
logam induk. Waktu penyimpanan logam penggisi sependek
mungkin sehingga pembentukan lapisan oksida dan
penyerapan uap air dapat dihindari.
4. Pemilihan gas pelindung.
Gas pelindung yang digunakan adalah argon dan helium, gas
Argon memberikan perlindungan yang lebih baik dari gas He,
tetapi penembusannya dangkal. Sedangkan untuk
memperdalam penembusan maka digunakan pelindung
campuran yang terdiri dari gas Ar dan He. Gas pelindung harus
memiliki kemurnian yang tinggi, karena gas ini akn
berhubungan dengan logam cair dan sangat berpengaruh pada
hasil pengelasan.
5. Pembuatan alur dan pemahatan lasan
Pembuatan alur dan pemahatan lasan dengan busur pada logam
alumunium dan paduannya tidak memberikan kehalusan
permukaan yang memuaskan

11
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

• Pengelasan pada las busur gas mulia


1. Las Wolfram Gas Mulia (Las TIG): Las TIG sangat banyak
digunakan untuk mengelas pelat alumunium yang tipis atau bila
diperlukan las dengan masukan panas yang rendah. Las TIG
menggunakan elektroda yang tidak turut cair, jadi juga berarti
arus listrik yang digunakan tidak terlalu besar. Hal ini pada
pengelasan logam dengan kapasitas panas yang berbeda dapat
menimbulkan terjadinya penembusan yang tidak sempurna
pada logam dengan kapasitas panas yang lebih besar.
Perbedaan kapasitas panas ini dapat karena perbedaan luas.
Dalam hal ini logam dengan kapasitas panas yang lebih tinggi
harus diberi pemanas mula atau mencampurkan gas He pada
gas pelindung sehingga busur menjadi lebih terpusat.
2. Las Logam Gas Mulia (Las MIG): Las MIG biasanya
dilaksanakan secara otoomatik atau semi otomatik dengan arus
searah polaritas balik dan menggunakan elektroda berdiameter
1.2 sampai 2.4 mm. Las MIG biasanya digunakan dengan
kecepatan kawat elektroda yang tetap dengan cara
pengumpanan tarik atau tarik-dorong.

Gambar 2.2. Besar arus dalam pengelasan dengan elektrode wolfram

12
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

3. Pengelasan Tembaga (Cu) Dan Paduannya


a. Sifat dan Klasifikasi
• Sifat Umum
Tembaga murni adalah logam yang mempunyai daya hantar
listrik dan daya hantar panas yang tinggi serta mempunyai daya
hantar korosi yang baik terhadap air laut, beberapa zat kimia dan
bahan makanan. Paduan tembaga mempunyai daya hantar listrik
dan daya hantar panas yang lebih rendah dari pada tembaga murni,
tetapi kekuatannya lebih baik. Karena hal ini maka paduan
tembaga banyak digunakan untuk bahan konstruksi.
• Klasifikasi :
o Tembaga : Tembaga murni dibagi dalam tiga jenis yang
didasarkan atas cara pemurniannya, yaitu :
a. Tembaga tangguh, yang dibuat dengan mencairkan kembali
tembaga hasil elektrolisa.
b. Tembaga bebas oksigen, yang dibuat dengan mengoksidasi
tembaga hasil elektrolisa.
c. Tembaga bebas oksigen hantaran tinggi, yang dibuat dengan
mencairkan tembaga hasil elektrolisa dalam atmosfir
hidrogen.
o Paduan Tembaga : Sebagai unsur paduan dalam tembaga
paduan digunakan Zn, Sn, Si, Al, Ni, dan lain-lainnya.
Paduan Cu-Zn disebut bras, sedangkan paduan Cu-Sn disebut
brons atau perunggu.

b. Sifat Mampu-las
• Sifat-sifat umum
Titik cair tembaga terletak antara titik cair alumunium dan besi.
Daya hantar panasnya lebih dari delapan kali daya hantar panas
baja, yang menyebabkan penjalaran panas berlangsung dengan

13
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

cepat sekali. Koefisien muainya kira-kira 1,5 kali dari baja, karena
itu dalam pengelasan sering terjadi perubahan bentuk dan retak.
• Lubang-lubang halus
Penyebab utama terjadinya lubang-lubang halus pada pengelasan
tembaga adalah hidrogen dan uap air. Pada paduan tembaga
kelarutan oksigen dalam paduan cair turun karena adanya unsur P,
Si dan Al, tetapi sebaliknya batas kelarutan hidrogen dalam paduan
cair tersebut naik dan kemudian menurun dengan cepat dalam
proses pendinginan.
• Retak Las
Pada tembaga murni jarang sekali terjadi retak las. Tetapi
sebaliknya pada logam paduannya retak mudah terjadi karena
terbentuknya endapan-endapan dengan titik cair rendah seperti Pb
dan Bi pada batas butir yang menyebabkan terjadinya retak batas
butir.
c. Proses Pengelasan yang Digunakan
• Hal-hal Umum
Semua pengelasan yang dapat dipakai untuk baja lunak dapat juga
digunakan untuk tembaga dan paduan tembaga. Tetapi karena
paduan tembaga sangat banyak jenisnya dan berbeda sifatnya
antara yang satu dengan yang lain maka pemilihan cara
pengelasannya harus di titik beratkan pada sifat yang dimiliki.

14
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

• Las Gas
Pengelasan ini adalah cara yang paling sesuai untuk paduan jenis
kuningan, tetapi juga dapat digunakan untuk perunggu silikon dan
kupro-nikel (Cu-Ni). Dalam pengelasan ini biasanya digunakan gas
oksi-asetilen dengan menggunakan alat pembakar tambahan untuk
melakukan pemanasan mula dan harus menggunakan fluks.
• Las Busur Gas Mulia
Biasanya digunakan las TIG dan las MIG. Las TIG digunakan
untuk pelat tipis sampai 6 mm dengan menggunakan arus searah
dengan polaritas lurus dan las MIG untuk pelat tebal lebih dari 6
mm dengan menggunakan arus searah polaritas baik.
• Las Busur Elektroda Terbungkus
Pengelasan kuningan tidak dapat dilakukan dengan menggunakan
elektroda jenis kuningan karena Zn yang terkandung akan
menguap dengan hebat. Untuk paduan ini biasanya digunakan
elektroda terbungkus dari jenis perunggu silikon atau perunggu
alumunium.

4. Pengelasan Pada Titanium (Ti) Dan Paduannya


a. Sifat dan Klasifikasi
• Sifat-Sifat Umum
Berat jenis titanium dan paduannya kira-kira 4,5 yang berarti 60%
dari berat jenis baja. Karena kekuatan titanium hampir sama
dengan kekuatan baja . Kekuatannya bisa bertahan pada temperatur
400oC.
• Klasifikasi
o Titanium : Titanium dalam keadaan murni adalah logam yang
lunak, tetapi bila dicampur dengan unsur seperti Ni, O dan C
menjadi lebih kuat dan getas.
o Paduan Titanium : Paduan titanium dikelompokan menjadi tiga
jenis yang didasarkan pada struktur kristalnya, yaitu :

15
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

o Paduan titanium α yang mempunyai struktur kristal heksagonal


susunan padat (HCP)
o Paduan titanium b dengan struktur kristal kubus pusat badan
(BBC) dan paduan utektoid yang merupakan campuran antara a
dan b.
b. Sifat Mampu Las
• Hal-hal umum
Pengelasan titanium tidak terlalu sukar, tetapi karena logam ini
menjadi aktif pada suhu tinggi, maka perlu adanya perlindungan
pada daerah HAZ agar tidak menjadi getas karena bereaksi dengan
oksigen dan nitrogen yang ada di udara. Karena persyaratan ini cara
pengelasan yang banyak dipakai adalah pengelasan busur gas mulia.
Sebelum pengelasan diperlukan pembersihab permukaan yang baik
terhadap minyak dan karat.
• Pengaruh Panas Pengelasan
Pengaruh panas pengelasan pada titanium ada dua yaitu penggetasan
karena logam menjadi lebih aktif pada temperatur tinggi sehingga
mudah bereaksi dengan unsur lain seperti N2, O2 dan H2 dan
terjadinya proses keras-celup pada paduan utektik yang juga
menyebabkan penggetasan. Hal ini dapat dihindari dengan jalan
mentemper atau menganil logam setelah selesai dilas.

c. Proses Pengelasan yang Digunakan


• Hal-hal umum
Dalam pengelasan titanium disamping menggunakan las busur gas
mulia dapat juga dipakai las resistansi, las ledakan dan las sinar
elektron. Las busur gas mulia lebih banyak digunakan karena dalam
pengelasan ini titanium yang menjadi aktif pada suhu tinggi,
dilindungi terhadap udara.

16
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

Gambar 3.1. Pipa pelindung dan gas pelindung untuk melindung daerah HAZ
terhadap udara pada las TIG
• Las Busur Gas Mulia
Dalam hal ini menggunakan las busur gas mulia biasanya dipakai las
TIG arus searah dengan polaritas lurus atau las MIG arus searah
dengan polaritas balik. Gas pelindung yang digunakan adalah gas Ar
atau gas He dengan kemurnian yang tinggi. Berikut ini adalah
persyaratan gas Ar dalam pengelasan titanium dan paduannya.
Ar : lebih dari 99,99%
N2 : kurang dari 0,005%
O2 : kurang dari 0,002%
H2 : kurang dari 0,002%
Uap : kurang dari 0,001 mg/l
Titik embun : di bawah –40oC
• Las Sinar Elektron
Cara pengelasan ini harus dilakukan dalam ruang hampa, karena
itu tidak mungkin terjadi pengotoran oleh unsur lain dari atmosfir.
Dengan kecepatan pengelasan yang tinggi daerah HAZ menjadi
sempit sehingga mutu las sangat tinggi. Kaena hasilnya yang baik
maka cara pengelasan ini mulai banyak digunakan dalam
pengelasan titanium terutama dalam mengelas pelat-pelat tipis
yang tidak mungkin dikerjakan dengan las busur yang biasa.
17
PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

18