P. 1
Distribusi patah tulang panjang terbuka

Distribusi patah tulang panjang terbuka

|Views: 3,584|Likes:
Dipublikasikan oleh Cininta Anisa Savitri

More info:

Published by: Cininta Anisa Savitri on Apr 16, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2013

pdf

text

original

tulang

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tulang yang paling sering

mengalami patah tulang terbuka adalah tibia-fibula (ICD 10: S.82.2.1)

sebanyak 30 (28,30%). Hasil ini serupa dengan penelitian lain, yang

mendapatkan bahwa patah tulang terbuka paling sering terjadi pada tibia atau

tibia dan fibula secara bersamaan (Court-Brown et al, 1998; Lateef, 2002).

Hal yang serupa didapatkan pada penelitian Arruda et al (2009) dan

Oluwadiya et al (2004) yang mendapatkan bahwa patah tulang terbuka sering

terjadi pada kaki bagian bawah, namun pada kedua penelitian ini tidak

menyebutkan secara spesifik tulang apa yang sering terkena. Didapatkan pula

hasil lokasi tersering adalah 1/3 tengah dengan 48 kasus (45,28%). Hal ini

sejalan dengan penelitian lain yang juga menemukan bahwa lokasi tersering

adalah 1/3 tengah. (Saied et al, 2007; Grecco et al, 2002; Court-Brown &

Mcbirnie, 1995). Namun terdapat satu penelitian yang menyatakan bahwa

patah tulang lebih sering terjadi pada 1/3 distal (Emami et al, 1996).

Patah tulang tibia adalah patah tulang panjang yang paling sering

terjadi (Court-Brown, 2001;Champman, 2001). Pada populasi rata-rata, dapat

terjadi kira-kira 26 patah tulang pada tibia per 100.000 populasi per tahun

(Court-Brown, 2001). Letak tibia yang subkutan pada permukaan

42

anteromedialnya membuatnya lebih rentan terhadap trauma (Ibeanusi dan

Ekere, 2007; Imran & Vishnvanathan, 2004). Letaknya yang subkutan ini

menyebabkan kerusakan tulang dan jaringan lunak yang parah pada trauma

tibia, sehingga terdapat kejadian patah tulang terbuka pada tibia yang lebih

tinggi dari pada tulang panjang lain (Court-Brown, 2001;Oluwadiya, 2004).

Lima penyebab patah tulang tibia tersering adalah jatuh, cedera olahraga,

hantaman langsung, kecelakaan lalu lintas, dan luka tembak. Fibula terletak di

daerah cruris, lateral dari tibia, sehingga pada trauma dengan energi tinggi

pada tibia, fibula juga dapat menjadi patah. Patah tulang terbuka merupakan

patah tulang yang diakibatkan transfer energi tinggi, sehingga pada patah

tulang terbuka di regio cruris patah tibia sering disertai patah fibula.

Sedangkan patah tulang pada tulang tibia secara tunggal jarang terjadi. Tulang

fibula yang letaknya lebih profundus dari tulang tibia membuatnya lebih

jarang terjadi patah tulang terbuka, karena terlindungi oleh lapisan-lapisan otot

dan fascia. Begitu pula dengan radius, jarang terjadi patah tulang terbuka

karena letaknya yang juga lebih profundus sehingga lebih terlindungi oleh

lapisan-lapisan otot. Patah tulang lebih sering terjadi pada sepertiga tengah

karena, pada distal dan proksimal terdapat ligamentum yang menahan tulang

apabila terkena suatu tenaga atau tekanan. Ligamentum tersebut juga dapat

menyerap sebagian tekanan yang dikenakan pada tulang tersebut. Pada bagian

tengah tidak terdapat mekanisme tersebut sehingga lebih sering patah apa bila

terkena tekanan.

Pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa kecenderungan kejadian patah

tulang terbuka lebih sering terjadi pada sisi kanan dengan total 62 kasus

(58,49%). Penemuan ini serupa dengan penelitian lainnya yang juga

mendapatkan bahwa sisi kanan lebih sering mengalami patah tulang dari pada

sisi kiri (Grecco et al, 2002; Saied et al, 2007; Imran & Vishvanathan, 2004;

Bradbury & Robertson, 1993). Hanya ditemukan dua penelitian yang

mendapatkan bahwa sisi kiri lebih sering terjadi patah tulang yaitu penelitian

Arruda et al (2009) dan Ibeanusi dan Ekere (2007).

Penelitian-penelitian yang mendapatkan hasil patah tulang lebih sering

pada sisi kanan melakukan penelitiannya di negara-negara yang berlalu-lintas

43

di sebelah kiri, seperti di Indonesia, yaitu penelitian Imran dan Vishnathan

(2004) yang dilakukan di Malaysia dan penelitian Bradbury dan Robertson

(1993) di Scotlandia. Sedangkan penelitian yang mendapatkan kejadian patah

tulang lebih sering di sebelah kiri dilakukan di negara yang lalu-lintasnya

berjalan disebelah kanan, yaitu penelitian Ibeanusi dan Ekere (2007) di

Nigeria dan penelitian Arruda et al (2009) di Brazil. Sehingga diduga bahwa

kejadian patah tulang lebih sering di salah satu sisi akibat dari sisi mana lalu

lintas berjalan. Sisi kanan lebih sering terjadi patah tulang di negara yang

berlalu lintas di sebelah kiri karena sisi tersebut lebih mudah terkena hantaman

dengan kendaraan dari sisi yang berlawanan dan kendaraan dari lajur yang

sama yang mendahului dari sisi kanan (Imran dan Vishnathan, 2004).

Terdapat pula penelitian yang dilakukan pada negara yang berlalulintas di

kanan namun patah tulang tetap cenderung di sebelah kanan (Grecco et al,

2002; Saied et al, 2007) yaitu di negara Brazil dan negara Iran. Hal ini diduga

karena 70-90% penduduk dunia dominan di sisi kanan (Holder, 1997)

sehingga pada saat terjadi kecelakaan lalu lintas maka orang akan menumpu

pada sisi dominannya dan jatuh ke arah kanan, sehingga sisi kanan lebih

cedera.

Penelitian terdahulu menyatakan cedera yang terjadi pada sisi kanan

juga cenderung lebih parah dari pada sisi kiri (Imran dan Vishvanathan, 2004;

Bradbury & Robertson, 1993). Pernyataan ini sesuai dengan hasil yang

didaptkan pada penelitian ini yaitu pada semua derajat kecuali derajat I patah

tulang terbuka pada sisi kanan menunjukkan persentase kejadian yang lebih

tinggi. Pada penelitian ini derajat IIIC hanya terjadi pada sisi kanan, sama

seperti pada penelitian lain (Imran & Vishvanathan, 2004). Terdapat pula

penelitian yang tidak mendapatkan patah tulang terbuka pada sisi kanan akan

menglami derajat yang lebih parah (Saied & Mobarake, 2007).

Terdapat pula pernyataan bahwa patah tulang terbuka pada ekstremitas

bawah lebih tinggi derajat keparahannya dibandingkan patah tulang terbuka

yang terjadi pada ekstremitas atas (Arruda et al, 2009; Court-Brown et al,

1998). Hal yang serupa ditemukan pada penelitian ini pada semua derajat

kecuali derajat I, persentase kejadian lebih besar pada ekstremitas atas. Hal ini

44

mungkin disebabkan karena kejadian yang paling banyak menyebabkan patah

tulang panjang terbuka adalah kecelakaan lalu lintas melibatkan motor. Motor

menyebabkan banyak patah tulang terbuka diduga selain karena kurang

kelihaian dalam membawa motor serta tidak adanya alat pelindung atau tidak

menggunakan alas kaki yang tepat, juga rakitan ban belakang yang kurang

baik (Lateef, 2002).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->