Anda di halaman 1dari 11

Candi Sambisari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Sambisari

Candi Sambisari, situs yang mula-mula tertutup tanah

Lokasi dalam Topografi Jawa


Informasi Bangunan
Lokasi dekat Kota Yogyakarta, DIY
Negara Indonesia
7°27′16″S 110°15′54″E / 7.4545°LS
Koordinat 110.2649°BTKoordinat: 7°27′16″S
110°15′54″E / 7.4545°LS 110.2649°BT
Klien Wangsa Sailendra atau Kerajaan Medang Mataram
Penyelesaian kira-kira abad ke-8
Jenis candi
Bangunan utama Candi Sambisari

Candi Sambisari adalah candi Hindu (Siwa) yang berada kira-kira 12 km di sebelah
timur kota Yogyakarta ke arah kota Solo atau kira-kira 4 km sebelum kompleks candi
Prambanan. Candi ini dibangun pada abad ke 9 pada masa pemerintahan raja Rakai
Garung di zaman kerajaan Mataram Kuno.

Posisi Candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan besar
karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal
abad ke-11 (kemungkinan tahun 1006). Hal ini terlihat dari banyaknya batu material
volkanik di sekitar candi.

Dengan dikelilingi oleh tembok candi yang asli dengan ukuran 50 m x 48 m, kompleks
ini mempunyai candi utama didampingi oleh tiga candi perwara (pendamping). Di dalam
candi ini terdapat patung Durga (di sebelah utara), patung Ganesha (sebelah timur),
patung Siwa Agastya (sebelah selatan), dan di sebelah barat terdapat dua patung dewa
penjaga pintu: Mahakala dan Nadisywara. Di dalam candi utama terdapat patung Lingga
dan Yoni dengan ukuran cukup besar. Pada saat penggalian, benda-benda bersejarah, di
antaranya beberapa tembikar, perhiasan, cermin logam serta prasasti lempengan emas
juga ditemukan.

Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di Desa Sambisari yang
diabadikan menjadi nama candi tersebut, dan dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas
Purbakala.

21 Tahun Merangkai "Puzzle" Candi Sambisari

Tak ada perasaan aneh yang menghinggapi Karyowinangun pada sebuah pagi di tahun
1966. Tapi sebuah kejadian langka dialaminya di sawah kala itu, ketika sedang
mengayunkan cangkulnya ke tanah. Cangkul yang diayunkan ke tanah membentur
sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya.
Karyowinangun dan warga sekitar pun merasa heran dengan keberadaan bongkahan batu
itu.

Dinas kepurbakalaan yang mengetahui adanya temuan itu pun segera datang dan
selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu
berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur
di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan
bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan
komponen sebuah candi.

Selang 21 tahun sesudahnya, keindahan candi akhirnya bisa dinikmati. Bangunan candi
yang dinamai Sambisari itu berdiri megah di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani,
Kecamatan Kalasan, Sleman, 10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Anda bisa
menjangkau dengan berkendara melewati lintas jalan Yogya-Solo hingga menemukan
papan penunjuk menuju candi ini. Selanjutnya, anda tinggal berbelok ke kiri mengikuti
alur jalan.

YogYES sempat kaget ketika sampai di areal candi. Saat mengarahkan pandangan ke
tengah areal candi, hanya tampak susunan batu atap yang seolah hanya bertinggi
beberapa meter di atas tanah. YogYES bertanya-tanya, apa benar Candi Sambisari hanya
sekecil itu? Setelah mendekat, barulah kami mendapat jawabannya. Ternyata, Candi
Sambisari berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya.

Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 - 838 M, kemungkinan pada
masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3
buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar
telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di
sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar
di setiap arah mata angin.

Bangunan candi induk cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti candi di Jawa
lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah.
Bagian kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang
umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian
luar. Hiasan itu sekilas seperti motif-motif batik.

Menaiki tangga pintu masuk candi induk, anda bisa menjumpai hiasan berupa seekor
singa yang berada dalam mulut makara (hewan ajaib dalam mitologi Hindu) yang
menganga. Figur makara di Sambisari dan merupakan evolusi dari bentuk makara di
India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan ikan atau buaya dengan ekor yang
membengkok.

Selasar selebar 1 meter akan dijumpai setelah melewati anak tangga terakhir pintu masuk
candi induk. Mengelilinginya, anda akan menjumpai 3 relung yang masing-masing berisi
sebuah arca. Di sisi utara, terdapat arca Dewi Durga (isteri Dewa Siwa) dengan 8 tangan
yang masing-masing menggenggam senjata. Sementara di sisi timur terdapat Arca
Ganesha (anak Dewi Durga). Di sisi selatan, terdapat arca Agastya dengan aksamala
(tasbih) yang dikalungkan di lehernya.

Memasuki bilik utama candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar,
kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai
tempat pemujaan Dewa Siwa. Lingga dan yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk
membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati
parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.

Keluar dari candi induk dan menuju ke barat, anda bisa melihat ketiga candi perwara
(pendamping) yang menghadap ke arah berlawanan. Ada dugaan bahwa candi perwara
ini sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tak ditemukan batu-batu bagian
atap. Bagian dalam candi perwara tengah memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga
dan padmasana (bunga teratai) berbentuk bulat cembung di atasnya. Kemungkinan,
padmasana dan lapik dipakai sebagai tempat arca atau sesajen.

Bila telah puas menikmati keindahan candi, anda bisa menuju ke ruang informasi.
Beberapa foto yang menggambarkan lingkungan sawah Karyowinangun sebelum digali
dan kondisi awal candi ketika ditemukan bisa ditemui. Ada pula foto-foto tentang proses
penggalian dan rekonstruksi candi yang berjalan puluhan tahun, termasuk foto benda-
benda lain yang ditemukan selama penggalian, berupa arca dari perunggu yang kini
disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Keindahan Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati merupakan hasil kerja keras para
arkeolog selama 21 tahun. Candi yang semula mirip puzzle raksasa, sepotong demi
sepotong disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan kebudayaan agung di masa
silam.

Naskah: Yunanto Wiji Utomo


Photo & Artistik: Agung Sulistiono Mabruron

Copyright © 2007 YogYES.COM

Candi Sambisari
Posted by admin on 2 July, 2010
21 Comments
This item was filled under [ Candi, Sejarah ]

Jumlah Candi yang tersebar di sekitar Kabupaten Sleman cukup banyak, namun sebagian
besar orang hanya mengenai beberapa candi yang berukuran besar dan menjadi tujuan
utama wisata seperti Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko.

Candi Sambisari merupakan candi Hindu yang dibangun pada abad ke 9 pada zaman
kerajaan Mataram Kuno yang dipimpin oleh Rakai Garung. Candi Sambisari berlokasi di
Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Memasuki Situs Candi Sambisari yang terletak di dekat perkampungan dan persawahan
ini, seperti biasa kami disuruh mengisi buku tamu dan membayar retribusi masuk seperti
biasa. Didekat pos retribusi terdapat papan informasi dan potongan batuan candi dan
beberapa buah arca yang ditemukan disekitar Candi Sambisari.

Menurut papan informasi, Candi Sambisari ditemukan pada bulan Juli 1966. Konon,
seorang petani bernama Karyowinangun yang sedang menggarap sawah merasakan
cangkulnya terantuk sebuah batu yang setelah ditelusuri merupakan bebatuan candi.
Setelah proses penggalian dan pemugaran, posisi Candi Sambisari berada sekitar 6,5
meter lebih rendah dari dataran di sekelilingnya. Diperkirakan zaman dahulu Candi
Sambisari tertutup abu vulkanik saat terjadi letusan Gunung Merapi. Proses pemugaran
dilakukan oleh Dinas Purbakala pada tahun 1986.

Memasuki area candi terdapat satu candi induk (utama) yang menghadap ke barat, tiga
candi perwara (pendamping) yang kondisinya sudah tidak utuh lagi dan tanpa atap,
lingga-yoni yang berupa tonjolan batu yang tersebar di sekeliling candi, dan tembok yang
mengelilingi candi yang terdapat 3 pintu (barat-timur-selatan). Situs Candi Sambisari ini
juga telah mengenai sistem irigasi karena disekeliling candi terdapat parit untuk
mencegah tergenangnya air di area candi.
Memasuki bangunan Candi Induk Sambisari, dibagian dalamnya terdapat patung Lingga-
Yoni berukuran besar dan pada lingga terdapat ceruk yang ditopang oleh patung
berkepala naga. Disekeliling candi induk terdapat relief Ganesha, Agastya, dan Durga
yang dibagian atasnya terdapat hiasan Kala.

Agastya merupakan perwujudan Dewa Siwa dalam bentuk mahaguru. Durga adalah dewi
bertangan delapan yang merupakan istri dewa Siwa. Durga digambarkan sedang berdiri
diatas lembu bernama Nandi, dan ditemani oleh bajang, salah satu penghuni kahyangan.
Ganesha adalah dewa pengetahuan dan dewa perang yang merupakan anak dari dewa
Siwa dan dewi Durga.

Situs Candi Sambisari ini banyak dikunjungi wisatawan khususnya wisatawan asing yang
berasal dari Jepang. Kami melihat segerombolan turis Jepang mengunjungi situs
peninggalan candi ini. Adakah hubungannya Jepang dengan Situs Candi Sambisari ini?
Mungkin zaman dahulu pemerintah Jepang yang membiayai penggalian situs
purbakala ini atau karena alasan lain?

== Lokasi : Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

== Tiket Masuk : Rp2.000,-/orang (seikhlasnya)

== Rute Tempuh :

Jalan Solo km 12 dari kota Yogyakarta setelah melewati Akademi Angkatan Udara
Yogyakarta yang terletak disebelah timur Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta
akan menemui pertigaan kecil yang tidak ada lampu lalulintasnya. Belok ke arah kiri
menelusuri jalan kecil terus saja hingga sampai sebuah jalan berbelok ke kanan. Tidak
berbelok namun ambil jalan konblok yang ke arah utara (lurus) hingga ujung akan
menuju ke Situs Candi Sambisari.

Minggu, 14-11-2010

Latar Sejarah Candi Sambisari


Sabtu, 14-03-2009 06:52:49 oleh: Adolf Bramandita
Kanal: Wisata

Candi Sambisari terletak di desa Sambisari, kelurahan Purwomartani, kecamatan


Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY. Penemuan candi Sambisari terjadi secara
kebetulan yaitu pada tanggal Juli 1966, ketika seorang petani yang sedang mengolah
sawah milik Bapak Karyoinangun, tiba-tiba merasa cangkulnya membentur batu berukir.
Ternyata batu itu merupakan bekas reruntuhan candi. Berita tersebut sampai ke kantor
Cabang Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Pramabanan. Langkah
selanjutnya segera diadakan peninjauan dan penelitian di tempat temuan. Setelah
diperoleh kepastian bahwa penemuan tersebut merupakan sebuah candi yang masih
terpendam di dalam tanah, maka segera diputuskan untuk menyelamatkannya dengan
mengadakan penggalian atau ekskavasi secepatnya.

Langkah-langkah lebih lanjut setelah ekskavasi adalah, melakukan pra-pemugaran yaitu,


dengan mengelompokkan batu-batu yang sama jenisnya. Selanjutnya dilakukan
penyusunan percobaan dan kemudian pemugaran. Hasil pemugaran candi Sambisari
tersebut terlaksana seperti yang terlihat sekarang ini. Satu hal yang unik dari candi
Sambisari yaitu, terletak 6.54 m di bawah permukaan tanah.

Latar belakang Sejarah

Mengenai tahun pendirian candi Sambisari secara pasti belum dapat diketahui, karena
tidak adanya bukti-bukti konkret yang mendukung validitas penentuannya. Oleh karena
itu, untuk menentukan tahun pendiriannya harus ditinjau dari berapa segi.
Dari segi arsitektur, candi Sambisari oleh Prof. Dr. Soekmono digolongkan ke dalam
bangunan dari abad ke 8. Sedangkan berdasarkan batu isian yang digunakan di candi
Sambisari yaitu, batu padas, maka masa pendiriannya semasa dengan candi Prambanan,
Plaosan, dan Sojiwan sekitar abad ke-9 sampai dengan abab ke-10 M. Jenis batu padas ini
banyak terdapat di bukit ratu Boko di Prambanan. Di tempat tersebut nampak bekas-
bekas penggalian batu padas pada masa dulu.

Berdasarkan kedua tafsiran tersebut, untuk sementara Soediman menempatkan


pendidirian candi dalam dekade pertama atau kedua abad ke-9 M (812-838 M). Pendapat
tersebut didukung dengan adanya penemuan sekeping daun emas bertulisan, karena
berdasarkan tafsiran paleografis, Boechori bahwa tulisan itu berjalan dari sekitar
permulaan abad ke-9 M

Latar Belakang Keagamaan

Di candi Sambisari, bilik candi tidak ditempati arca Siwa Mahadewa, tetapi dalam aspek
lain yaitu, Lingga dan Yoni. Lingga adalah perwujudan dari Dewa Siwa. Kesatuan,
lingga dan yoni merupakan lambang persatuan Siwa dan Çakti-nya. Selain itu juga
sebagai lambang kesuburan. Di samping Lingga da Yoni ada beberapa arca dari pantheon
agama Hindhu yaitu, Durga Mahesassuramardini (utara), Ganeça (timur), Agastya
(selatan), serta Mahakala dan Nandiswara sebagai penjaga pintu

Berdasarkan arca-arca yang terdapat di candi Sambisari tersebut, maka dapat diketahui
bahwa latar belakang keagaman candi Sambisari bersifat Çiwaistis (berpusat pada Siwa)

Tafsiran Raja yang Membangun

Sebagai bangunan suci agama Siwa, maka untuk memperkirakan tentang siapa raja yang
membangun candi Sambisari harus dicari raja dari dinasti Sailendra yang menganut
agama Siwa. Di dalam prasati Wnua Tengah III tahun 908 M, terdapat nama-nama raja
dari dinasti Mataram yaitu:

- Rahyang I Hara adik Rahyang ri Mdang (Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya) 717-
784 M.

- Cri Maharaja Rakai Panangkaran 746-784 M

- Cri Maharaja Rakai Panaraban (panuggalan), 784-803 M

- Cri Maharaja Rakai Warak Dyah Manara, 803-827 M

- Cri Maharaja Rakai Gula, 827-828 M

- Cri Maharaja Rakai Garung, 828-846 M

- Cri Maharaja Rakai Pikatan, 846-855 M


- Cri Maharaja Dyah Tagwas 885 M (Ia yang memerintah selama 8 bulan)

- Cri Maharaja Rakai Panumwangan Dyah Dawendra, 855-887 M

- Cri Maharaja Rakai Garunwangi Dyah Badra, 887 M (ia memerintah selama satu
bulan, kemudian meninggalkan kerajaan, selama 8 tahun tidak ada raja yang memerintah,
sampai raja berikutnya naik tahta)

- Cri Maharaja Rakai Wungkalmalang Dyah Jbang, 894-898 M

- Cri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, 898 M

Dari daftar nama-nama raja dalam prasati Wnua Tengah III tersebut di atas yang paling
mendekati tahun pendirian candi Sambisari, yaitu Rakai Garung, 828-846 M. Suatu hal
yang perlu di ketahui bahwa tidak semua candi dibangun oleh raja yang memerintah.

Demikianlah sedikit latar belakang dari Candi Sambisari, salah satu dari candi Hindu
yang berada di daerah Yogyakarta. Tertarik untuk berkunjung?

Jun 17, '08 5:19 AM


Candi Sambisari
for everyone

Memasuki Desa Sambisari, Kalasan, Sleman, 12 km dari pusat kota Yogyakarta, tak ada
bangunan candi menjulang tinggi nan megah yang dapat kita tunjuk dari kejauhan.
Namun memang di desa inilah terdapat situs peninggalan Hindu dari abad ke-10 yang
berbeda dari candi-candi di tanah Jawa pada umumnya.

Menurut Prasasti Wanua Tengah III, Candi Sambisari dibangun oleh Rakai Garung,
seorang raja dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno. Sempat terkubur oleh material
letusan Gunung Merapi pada 1906, seorang petani setempat bernama Karyowinangun
menemukan kembali candi ini pada Juni 1966.

Kompleks ini memiliki sebuah candi utama dan tiga candi perwara atau pendamping. Di
dalam candi utama terdapat lingga yoni sebagai lambang pemujaan Dewa Siwa. Pada
candi tersebut juga ditemui arca Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya, serta hewan-hewan
dalam mitologi Hindu.

Berbeda dari kebanyakan candi di Jawa, candi utama Sambisari tidak mempunyai alas
sehingga bangunannya sejajar dengan tanah. Nilai arsitekturnya pun konon tergolong
tinggi. Selain itu, candi ini seolah terkubur dalam tanah karena letaknya yag lebih rendah
dari kawasan sekitarnya. Dari gerbang masuk ke kompleks wisata ini pun hanya dapat
disaksikan puncak candi. Ketika mendekat, baru dapat dilihat bangunan situs ini secara
lengkap.
Candi Sambisari dilihat dari atas.
1 Comment

Sisi lain Sambisari

Candi Sambi Sari

Sisi lain Sambisari

Sambisari
Sambisari

lingga yoni