Anda di halaman 1dari 6

Teori Pembangunan

Teori diperlukan sebagai kerangka berfikir untuk menghubungkan sebab akibat antara gejala
dan perubahan yang dihasilkan. Selain acuan untuk berfikir, teori juga diperlukan agar
kedepannya apa yang direncanakan bisa sesuai rencana dengan terlebih dahulu melihat gejala
dan dengan gejala seperti yang dilihat, kita bisa tahu teori mana yang tepat untuk digunakan.

Ada banyak teori yang terdapat di muka bumi seiring pula dengan perkembangan zaman
yang terjadi. Dari teori masih tetap dipertahankan sampai teori yang akhirnya terbantahkan.
Begitu pula tentang teori pembangunan yang akan dibahas dalam tulisan ini yang akan lebih
diarahkan pada teori pembangunan masyarakat yang mungkin akan berkaitan dengan aspek
ekonomi, psikologi,dan tentu saja politik.

Sebelum membahas mengenai teori pembangunan, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai
apa itu pembangunan. Dari mata kuliah pembangunan politik yang dipelajari sebelumnya,
istilah pembangunan diartikan sebagai sebuah perubahan. Perubahan disini adalah perubahan
yang lebih baik. Tidak sebaliknya, perubahan belum tentu diartikan sebagai pembangunan.
Jika dijelaskan maka akan seperti ini; pembangunan adalah sebuah proses perubahan pasti
menjadi lebih baik tetapi perubahan belum tentu menjadi lebih baik bahkan bisa saja menjadi
buruk.

Ada 5 prinsip dalam pembangunan masyarakat,yakni:

1. Pembangunan Masyarakat merupakan proses perubahan yang disengaja dan terarah


2. Pembangunan Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup warga
masyarakat
3. Pembangunan Masyarakat mengutamakan pendayagunaan potensi dan sumber-
sumber setempat
4. Pembangunan Masyarakat mengutamkan kreativitas dan inisiatif masyarakat
5. Pembangunan Masyarakat mengutamakan partisipasi masyarakat

TEORI PEMBANGUNAN

1. Teori Modernisasi
2. Teori Ketergantungan
1. Teori Modernisasi

Ada banyak teori yang dicetuskan oleh beberapa ahli mengenai modernisasi ini. Diantaranya
ada Harrod-Domar, Rostow, David Mc Clelland, Max Weber, Bert F. Hoselitz, Alex Inkeles
& David H.Smith. Menurut teori modernisasi, negara berjalan secara linear dari tradisional
menuju kearah modernisasi. Adapun yang akan diljelaskan disini adalah menurut Rostow
yang sering kita dengar dan pendapatnya pun seringkali kita gunakan salah satunya dalam
mata kuliah Pembangunan Politik. Rostow berpendapat dalam bukunya yang berjudul The
Stages of Economic Growth: A Non Communist Manifesto (1960), bahwa Pembangunan
dikaitkan dengan perubahan dari masyarakat agraris dengan budaya tradisional ke masyarakat
yang rasional, industrial dan berfokus pada ekonomi pelayanan.

Ada 5 tahapan linear yang dilalui oleh masyarakat,yakni:


1. Masyarakat Tradisional
2. Pra kondisi lepas landas
3. Lepas landas
4. Bergerak ke kedewasaan
5. Konsumsi masal yang tinggi

1. Masyarakat Tradisional ditandai dengan ciri:


a. Berdasarkan pertanian
b. Ilmu pengetahuan masih belum banyak dikuasai.
c. Dikuasai kepercayaan2 tentang kekuatan2 di luar manusia
d. Masyarakat cenderung bersifat statis, dalam arti kemajuan berjalan sangat lambat.
e. Produksi digunakan u/ konsumsi, tidak ada investasi

2. Prakondisi Lepas Landas ditandai dengan ciri:


a. Campur tangan dari luar menggoncangkan masy. Tradisional, sehingga muncul ide
pembaharuan. Misalnya, dibukanya armada AL AS di Jepang.
b. Usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat terjadi, dimana tabungan tsb
dimanfaatkan untuk sector-sektor produktif yang menguntungkan. Misalnya,
Pendidikan.

3. Lepas Landas ditandai dengan ciri:


a. Tersingkirnya hambatan proses pertumbuhan ekonomi.
b. Tabungan dan investasi yg efektif meningkat dari 5% - 10 %.
c. Pertanian menjadi usaha komersial untuk mencari keuntungan, tidak hanya untuk
konsumsi.
d. Industri baru berkembang pesat, dimana keuntungan dari industri tsb ditanamkan
kembali ke pabrik baru.

4. Bergerak ke kedewasaan ditandai dengan ciri:


a. Teknologi diadopsi secara meluas.
b. Pada tahap ini negara memantapkan posisinyavdalam perekonomian global; barang yg
tadinya diimpor diproduksi sendiri.
c. Tabungan & investasi yg efektif meningkat antara 10% - 20%.

5. Konsumsi masal yang tinggi ditandai dengan ciri:


a. Konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup tapi meningkat ke
kebutuhan yg lebih tinggi.
b. Perubahan orientasi produksi dari kebutuhan dasar menjadi kebutuhan barang konsumsi
tahan lama.
c. Surplus ekonomi tidak lagi digunakan untuk investasi tetapi digunakan untuk
kesejahteraan sosial.
d. Pada tahap ini pembangunan sudah berkesinambungan

2. Teori Ketergantungan

Meyakini bahwa sebuah negara tidak akan lepas dari negara lain. Teori ini pada mulanya
adalah teori struktural yang menelaah jawaban yang diberikan oleh teori modernisasi. Teori
struktural berpendapat bahwa kemiskinan yang terjadi di negara dunia ketiga yang
mengkhusukan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur pertanian adalah
akibat dari struktur perekonomian dunia yang eksploitatif dimana yang kuat mengeksploitasi
yang lemah.

Ada 6 inti pembahasan teori ketergantungan:

1. Pendekatan keseluruhan melalui pendekatan kasus.


Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan pada
sistem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, dimana negara
pinggiran hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan mekanisme kapitalis dunia
menjadi perhatian pendekatan ini

2. Pakar eksternal melawan internal.


Para pengikut teori ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor
ini, ada yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des Santos.
Sebaliknya ada yang menekan factor internal yang mempengaruhi/ menyebabkan
ketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto.

3. Analisis ekonomi melawan analisis sosiopolitik


Raul Plebiech memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yang
ditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakai
disiplin ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori
ketergantungan dimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis
sosial politik dimana analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi
dan interdisipliner analisis sosiopolitik menekankan analisa kelas, kelompok sosial dan peran
pemerintah di negara pinggiran.

4. Analisis hubungan negara-negara pusat dengan pinggiran


Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan
negara-negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang memakai kontradiksi
regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan kelompok lainya menekankan analisis klas,
seperti Cardoso.

5. Keterbelakangan melawan pembangunan.


Teori ketergantungan sering disamakan dengan teori tentang keterbelakangan dunia ketiga.
Seperti dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori ketergantungan yang lain seperti Dos
Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan dan pembangunan bisa berjalan
seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang
terjadi dalam konteks ketergantungan.

6. Voluntarisme melawan determinisme


Penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai suatu yang deterministic.
Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke kapitalisme dan akan
kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya melalui teori
ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat berbeda dengan kapitalisme
negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran adalah keterbelakangan karena itu perlu di
ubah menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah penganut
teori voluntaristik.
Daftar Pustaka

1. http://www.scribd.com/doc/28727512/teori-ketergantungan
2. http://rinoan.staff.uns.ac.id/files/2008/12/pasca-ketergantungan.pdf
3. http://aurajogja.files.wordpress.com/2006/09/teori-pembangunan-masyarakat-a5.PDF
4. http://rinoan.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/58/files//2008/10/teori-modernisasi-
perspektif-arief-budiman.pdf
semuanya diakses pada jumat 18 februari 2011 pukul 13.00-16.30.