Anda di halaman 1dari 3

Resensi Buku : Tahta Pilkada Untuk Siapa?

Tebal           : 130 halaman


Penerbit : Forum Aktivis Bandung dan
TIFA Foundation 
Penulis         : Oky Syeiful Rahmadsyah
Harapan
Terbitan        : Pertama

Oleh : Kuswoyo
Kontak Individu : 081282189985

Pada beberapa daerah, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)


menyisakan banyak persengketaan. Sinyal miring adanya kecurangan
dalam proses pemungutan suara seperti manipulasi suara,
pengelebungan suara, pemilih fiktif merupakan fakta yang kerap terjadi.
Tidak sedikit masing-masing kandidat mengerahkan massa untuk
melakukan demonstrasi, baik memberikan dukungan maupun yang
kontra pada kandidat terpilih.

Singkatnya, konflik pro-kontra yang terjadi di masyarakat hanya


menyisakan konflik, kerugian dan kekecewaan. Kericuhan meninggalkan
korban di masyarakat dan ruang-ruang publik kerap menjadi
pelampiasan kelompok massa tertentu, baik yang mendukung atau pun
menolak hasil sebuah Pilkada, dengan melakukan tindakan perusakan.
Sudah barang tentu masyarakat yang harus menanggung kerugiannya.

Pada hakikatnya pro-kontra dalam isu Pilkada hanya


menguntungkan segelintir orang! Sedangkan masyarakat hanya kerap
menjadi korban dari perselisihan elit politik pada proses Pilkada.
Fenomena ini menyiratkan bahwa dinamika demokrasi yang selama ini
terjadi masih menempatkan masyarakat hanya sebatas obyek atas
eksploitas yang dilakukan segelintir elit politik di daerah.

Pengorbanan masyarakat, berupa dukungan pada kandidat


setelah terpilih, memuai begitu saja tanpa ada feedback yang setimpal
bagi masyarakat. Semisalnya, berdasarkan ilustrasi berikut ini, dimana
kandidat-kandidat yang akan mengikuti suatu proses Pilkada (baik
tingkat provinsi, kota maupun kabupaten), begitu antusias untuk dekat
dengan masyarakat sebelum Pilkada. Namun ketika sudah terpilih nasib
masyarakat yang menjadi konstituennya, tidaklah berubah menjadi lebih
baik. Janji-janji, hanya tinggal janji yang tak terealisasi! Program-
program yang begitu ambisius dan progresif dan diucapkan disaat
kampanye oleh tiap-tiap kandidat, kemudian hanya menjadi memori
yang tersusun dalam benak masyarakat yang menjadi konstituen.

Buku Tahta Pilkada untuk Siapa?, merupakan sebuah buku yang


menginspirasi bagi masyarakat, politisi, NGO, akademisi dan mahasiswa
untuk tetap konsekuen dalam menjaga proses demokrasi. Karena
hakikat dari Pilkada adalah melahirkan figure pemimpin daerah (nota
benenya adalah putra daerah asli) yang dapat melakukan pembangunan
secara efektif, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat fan sesuai
dengan kebutuhan dimasyarakatnya.

Buku setebal 130 halaman ini, mengkompilasikan antara teori dan


praktek demokrasi (Pilkada), dengan berpijak pada pengalaman proses
pelaksanaan Pilkada di Kabupaten Bandung, di Tahun 2010. Teori
demokrasi yang bersifat aplikasi, mengingatkan masyarakat akan arti
penting, posisi dan potensi mereka dalam koridor demokrasi. Dengan
begitu, masyarakat dapat menjadi sebuah kelompok kekuatan politik
tersendiri yang terlibat aktif dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah
daerah, demi peningkatan kesejahteraan mereka.

Mengadopsi konsep active citizen, yaitu sebuah konsep dimana


warga Negara bersikap aktif di dalam proses pemerintahan dan
pembangunan baik pada pra, proses serta pasca Pilkada. Pada pra
Pilkada, masyarakat membuat rencana untuk dijadikan bahan masukan
program kepada kandidat, mengenai kebutuhan masyarakat melalui
metode partisipatori.

Pada proses Pilkada, program-program yang telah disusun


masyarakat, menjadi bargaining position, yang akan mempengaruhi
suara para calon kandidat kepala daerah. Proses-proses dialog
diciptakan antara masyarakat dengan masing-masing kandidat, melalui
wadah yang disebut forum konstituen. Diharapkan konsep-konsep
yang lahir melalui proses-proses dialog tadi, dapat mempengaruhi
rancangan dari rencana jangka pendek, menengah dan panjang
pembangunan daerah. Selain itu, proses dialog merupakan ajang untuk
“menilai” secara lebih dekat program-program dari kandidat kepala
daerah.

Pasca Pilkada, masyarakat tetap aktif dalam melakukan kontrol


pembangunan atas rencana-rencana daerah yang dahulu pernah
didialogkan kepada masyarakat, maupun janji kandidat pada saat
kampanye. Masyarakat melalui forum konstituen kembali menjadi
kelompok “penagih janji” kepada kepala daerah, ketika rencana pada
saat kampanye belum juga terealisasi.

Kelompok kekuatan di masyarakat menyiratkan bahwa sudah


semestinya masyarakat menjadi penentu nasibnya sendiri, sehingga
Pilkada hanya menjadi entry point yang dampaknya langsung dinikmati
oleh masyarakat dan bukan hanya pada segelintir orang/kelompok yang
selama ini terjadi. Maka Pilkada, bukanlah sebuah tahta yang
menghantarkan kepala daerah pada kenikmatan dan kesejahteraan diri
pribadi atau kelompoknya, melainkan menjadi tahta bagi masyarakat.
Hal tersebut didalam buku ini, diungkapkan dalam simbol Tanda Tanya
dari kalimat Tahta Pilkada Untuk Siapa.

Terakhir, melalui metode-metode dan contoh yang disajikan


didalam buku ini, mulai dari persoalan-persoalan politik, dinamika politik
serta tahapan-tahapan dalam membangun masyarakat sebagai subyek
demokrasi/kelompok kekuatan, bisa menjadi rule of model dari proses
demokrasi di Indonesia, selain juga bisa memberikan pemecahan atas
permasalahan-permasalahan yang terjadi pada proses demokrasi yang
ada di Indonesia.
 

Anda mungkin juga menyukai