Anda di halaman 1dari 68

BAB SHOLAT

Sholat menurut ahli bahasa adalah doa dan menurut ahli syariat adalah sesuatu pekerjaan
dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Menurut semua
ulama’ yang beragama Islam dengan berlandaskan hadits dari nabi kita Muhammad saw
bahwa sholat pada hakekatnya adalah do’a (hubungan yang paling dekat antara hamba
dan Tuhan-nya yaitu Alah SWT) akan tetapi tidak cukup atau tidak syah jika seseorang
berdo’a saja tanpa sholat.

Bahkan barang siapa yang meninggalkan sholat maka dia termasuk orang kafir, karena
sholat termasuk rukun Islam, nabi Muhammad saw yang diutus oleh Allah SWT untuk
umat Islam saja beliau melaksanakan sholat hingga kaki-kaki beliau bengkak
(membesar), dan beliau memerintahkan sholat atas perintah dari Allah SWT untuk semua
orang yang mengakui dan memeluk agama Islam tanpa terkecuali, jadi kalo ada orang
yang mengaku memeluk agam Islam tapi tidak sholat berarti orang itu perlu diragukan
keIslamannya. Dan sholat adalah kunci dari semua ibadah kita, jika sholat kita benar dan
baik, maka semua ibadah kita akan benar dan baik juga seperti yang disabdakan oleh nabi
Muhammad saw. Beliau Rasulullah saw bersabda bahwa sholat adalah tiang agama, jika
sholat ditegakkan (dijalankan menurut aturan-aturannya), maka dia sudah menegakkan
agamanya (melaksanakan semua perintah dari Allah SWT yang ada pada agama Islam).
Semoga kita diberi hidayah (petunjuk) dan anugrah dari Allah SWT sehingga dengan
kuat dan senang dan benar dalam melaksanakan sholat. Amin.

1.Sholat dibagi menjadi 5 waktu:

a.Dhuhur (yaitu awal sholat yang dilakukan di dalam syariat Islam).


Masuknya waktu dhuhur dari tergelincirnya matahari (setelah istiwa’/matahari di tengah-
tengah) sampai ke persamaan ukuran sesuatu benda dengan bayangannya (dan ini
ditempat katulistiwa, jika lebih maka ditambah menurut posisi matahari) dan jumlahnya 4
rokaat.

b.Asar
Masuknya waktu asar dari persamaan ukuran sesuatu benda dengan bayangannya dan
ditambah sedikit (akhir waktu dhuhur ditambah sedikit) sanpai ke terbenamnya matahari
(bulatannya) dan sholat asar ada 4 rokaat.

c.Magrib.
Masuknya waktu magrib dari terbenamnya matahari (bulatannya) secara keseluruhan
(apabila dilihat dari gunung, maka hilangnya cahaya matahari dan timbulnya gelap dari
arah timur) sampai ke terbenamnya mega yang berwarna merah, dan jumlahnya sholat
magrib ada 3 rokaat.

d.Isya’
Masuknya waktu isya’ dari terbenamnya mega yang berwarna merah (akhir waktu
magrib) sampai ke terbitnya Fajar Shodiq. Fajar Shodiq adalah suatu cahaya membentang
luas di langit dari selatan ke utara dan bertambah terang dengan berjalannya waktu, jika
sebelumnya dinamakan Fajar Kadzib (dusta) yaitu cahaya yang memanjang di langit dari
timur ke barat lalu menghilang cahayanya dan sholat isya’ ada 4 rokaat.

e.Shubuh
Masuknya waktu shubuh dari terbitnya Fajar Shodiq sampai ke terbitnya sebagian kecil
dari matahari (bulatannya) dan sholat shubuh ada 2 rokaat.

2.Udzur-udzur di dalam sholat ada 4 macam:

a.Tidur
Apabila seseorang tidur sebelum masuknya waktu sholat lalu bangun setelah lewatnya
waktu sholat, maka sholatnya dianggap udzur (tidak dosa) jika tidak disengaja, tapi kalo
seseorang tidur setelah masuknya waktu sholat maka hukum tidurnya adalah haram dan
berdosa dan wajib langsung mengqodo’ sholatnya, kalo sampai melewati batas waktu
sholat.

Bagi orang yang berada disampingnya orang tidur, maka wajib membangunkan orang
tidur tersebut jika sudah masuk waktunya sholat, jika tidak maka dia juga akan
mendapatkan dosanya tapi jika sudah dibangunkan tapi dia malas atau sulit dibangunkan,
maka sudah terlepas kewajibannya.

b.Lupa
Tanpa sengaja dan bukan karena kebiasaan. Contoh : jika sudah masuk waktu sholat
(dhuhur) lalu diakhirkan dan dia melakukan sesuatu pekerjaan sampai lewat waktu sholat
(lewatnya waktu dhuhur dan masuknya waktu ashar) maka hukumnya haram dan dosa.

c.Jamak antara 2 sholat, takdim (didahulukan) atau ta’khir (diakhirkan).

d.Dipaksa dengan syarat yang memaksa lebih kuat dan jahat, dan tidak bisa meminta
bantuan orang lain akan disakiti (dipukul dengan keras atau dibunuh) dan tidak ada
pilihan lain.

3.Syarat-syarat wajibnya sholat, diantaranya:

a.Islam
b.Baligh
c.Berakal
d.Suci dari haid dan nifas
4.Syarat-syaratnya sholat ada 8 perkara:

a.Suci dari hadast besar dan kecil


b.Suci dari najis yang berada di baju, badan dan tempat (dan juga yang berhubungan
dengan itu semua).
c.Menutupi aurotnya.
d.Menghadap ke kiblat.
e.Masuknya waktu sholat.
f.Mengetahui tentang kewajibannya sholat.
g.Tidak menyakini bahwa salah satu fardhu sholat itu hukumnya sunnah.
h.Menjauhi sesuatu yang membatalkan sholat dengan bersentuhan wanita yang bukan
muhrimnya, memegang kemaluannya, keluar angin/air dari salah satu dua lubang atau
memutuskan sholatnya (membatalkannya sendiri).

5.Aurat dibagi menjadi 4 bagian:

a.Auratnya laki-laki pada saat sholat atau bukan, yaitu antara pusar sampai ke lututnya
dan sunah menutupi badan yang atas dengan memakai baju.

b.Auratnya perempuan yang merdeka (bukan budak / hamba sahaya) di dalam sholat
yaitu semua badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

c.Auratnya perempuan yang merdeka atau budak jika ada orang yang bukan mahromnya
yaitu semua badannya.

d.Auratnya perempuan ketika ada mahromnya yaitu antara pusar sampai ke lutut.

6.Rukun-rukunnya sholat ada 17 perkara:

a.Niat, misalnya: Usholli fardhol dhuhri arba’ rokaatin lillahi ta’ala.


Jika sholat wajib maka niatnya harus menyebutkan kalimat usholli, kemudian
menyebutkan sholat yang akan dikerjakan, misalnya dhuhur atau ashar, dll) kemudian
menyebutkan kalimat fardhon.

Jika sholat sunnah cukup dengan menyebutkan kalimat usholli kemudian sholat yang
akan dikerjakan, misalnya : dhuha atau witir atau tahajud atau qobliyah atau ba’diyah.

b.Takbirotul ihram, yaitu kalimat “ALLAHU AKBAR”

Adapun syarat-syaratnya diantaranya:


- Harus memakai bahasa Arab (kalo terjemahannya tidak sah)

- Harus mendengar sendiri bacaan takbirnya (menurut kebanyakan manusia


mendengarkan sendiri)

- Harus tertib antara lafadz Allah lalu lafadz Akbar

- Memakai lafadz ALLAH (tidak boleh diganti dengan nama-nama dari Asmaul Husna),
contoh ar-rohman, dll.

- Memakai lafadz AKBAR

- Tidak menambah hamzah diawal lafadz ALLAH, misalnya : AAALLAHU …

- Tidak boleh memanjangkan huruf ba’ di lafadz akbar, contoh : akbaaaar

- Tidak boleh menambahkan huruf wawu diantara lafadz Allah dan Akbar, misalnya:
ALLAHUUUUWAKBAR.

- Tidak boleh mentasydidkan lafadz akbar, misalnya : akabbar.

- Waktu membaca takbiratulirham setelah masuknya waktu sholat (jika belum mau
mengerjakan sholat, maka tidak sah)

- Menghadap kiblat

- Bagi yang berjamaah, maka takbirnya makmum setelah takbirnya imam.

- Berusaha menyamakan tatkala mengucapkan takbir dengan bersama mengucapkan niat


dalam hati (jika tidak bisa tidak apa-apa, tapi harus diusahakan terus-menerus dengan
syarat tidak was-was (ragu-ragu))

c.Berdiri bagi yang mampu, jika tidak mampu karena sakit maka boleh duduk, apabila
tidak mampu dengan berbaring (caranya jika kepala bisa diangkat maka kepala diberi
bantal dihadapkan kiblat dengan kaki diluruskan dan telapak kaki menghadap kiblat, jika
tidak bisa maka dibaringkan menghadap kiblat dengan tangan kanan dibawah seperti
posisi jenazah waktu dikuburkan).

d.Membaca surah Al-Fatihah, menurut semua imam basmalah juga termasuk Fatihah,
tapi menurut Imam Syafi’i dan Imam Hambali bacaan basmalah harus dijahar
(dilantangkan) jika ditempat jahar seperti magrib, isya’ dan shubuh, jika menurut Imam
Maliki maka basmalahnya cukup dipelankan diposisi jahar dan semua ada marja’-
marja’nya hadits dari rasulullah saw. dan syarat-syaratnya membaca basmalah
diantaranya:
- Harus tertib dalam bacaan fatihah

- Tidak boleh berhenti dalam membaca surah Al Fatihah sebentar atau lama dengan
maksud memutuskan bacaannya.

- Harus membaca semua surah Al Fatihah termasuk basmalah

- Harus membaca dengan fasih (artinya benar dalam membacanya dan jelas dalam semua
tasydid-tasydidnya)

- Tidak menambah bacaan lain diantara ayat-ayat Al Fatihah.

e.Ruku’, batas syahnya ruku’ yaitu badan dibungkukkan sampai kedua tangan bisa
memegang kedua lutut, disunnahkan sejajar antara kepala, punggung dan dubur dan
membaca bacaan ruku’.

f.Tuma’ninah di ruku’ yaitu diam sebentar dengan batasan mengucapkan subhanallah.

g.I’tidal (bangun dari ruku’) disunnahkan berdiri tegak lalu mengucapkan bacaan i'tidal.

h.Tuma’ninah sewaktu I’tidal yaitu diam sebentar dengan batasan mengucapkan


subhanallah.

i.Sujud dua kali adapun syarat-syaratnya adalah:

- Harus menempelkan 7 anggota sujud ditempat sujud tanpa penghalang

- Dan bermaksud untuk sujud (jadi kalo jatuh dari I’tidal maka tidak sah)

- Anggota sujud : kening, kedua telapak tangan, lutut dan kedua telapak kaki (jika lutut
tertutup sarung / kain lain maka hukumnya sah)

- Kepala lebih rendah daripada punggung yang paling bawah.

j.Tuma’ninah yaitu diam sebentar dengan batasan mengucapkan subhanallah.

k.Duduk diantara dua sujud


l.Tuma’ninah yaitu diam sebentar dengan batasan mengucapkan subhanallah.

m.Tasyahud akhir (tahiyat akhir)

n.Posisi duduk tatkala bertahiyat akhir.

o.Bersholawat untuk nabi Muhammad diwaktu tahiyat akhir, minimal : Allahumma sholli
ala Muhammad, dan paling sempurna mengucapkan sholawat ibrohimiyah.

p.Salam yaitu mengucapkan Assalamu’alaikum wa rahmatullahi.

q.Tertib (dari a sampai dengan q)

7.Sunnah-sunnahnya sholat, diantaranya:

a.Sunnah-sunnahnya sebelum sholat yaitu:


Memakai wangi-wangian, berpakaian yang rapi, adzan, iqomah, bersiwak, membaca
basmalah, dengan keadaan tenang tatkala akan sholat dan khusu’ tatkala akan sholat
(menghadirkan ruh dan pikirannya dengan memusatkan di satu tujuan yaitu menghadap
Allah SWT, dzat yang menciptakannya).

b.Sunnah-sunnah di saat sholat, yaitu:


- Tenang dan berusaha untuk khusu’
- Memahami tentang bacaan-bacaan yang dibacanya wajib atau sunnah
- Mengangkat kedua tangannya pada tempatnya, adapun tempat yang sunnah tatkala
mengangkat kedua tangan yaitu:
Ketika takbiratul ihram
Ketika akan ruku’
Ketika bangun dari ruku’ (i'tidal)
Ketika bangun dari tasyahud awal (tahiyat yang pertama)

- Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan jari-jari tangan kanan memegang
pergelangan tangan kiri lalu meletakkan keduanya dibawah dada, sewaktu setelah
takbiratul ihram sampai akan mau ruku’.

- Mengarahkan pandangan matanya ke tempat sujud.

- Membuka kedua matanya (tidak memejamkannya), kecuali jika ada wanita atau sesuatu
hal lain dihadapannya yang bisa menganggu konsentrasi)

- Berta’awudz (mengucapkan a’udzubillahi minassyaitonnirojim)

- Berdiam sebentar diantara:


antara takbiratul ihram dengan doa pembuka
antara ta’awudz dengan bacaan Al Fatihah
antara akhir surah Al Fatihah dengan ucapan amin
antara ucapan amin dengan bacaan surah-surah yang lain
antara bacaan surah-surah dengan ruku’

# dalam mengucapkan amin yang benar yaitu harus memanjangkan alifnya, yaitu :
aaamin dan tidak boleh mentasdidkan mim yaitu : aaammmin

c.Sunnah setelah sholat diantaranya:


Membaca wirid yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw. seperti subhanallah,
alhamdulillah dan allahuakbar, dll.

Disunnahkan dalam membaca wirid (bacaan) untuk berjamaah (bersama-sama) karena


sesuatu yang dibaca dalam kebersamaan (berjamaah) akan menimbulkan kekhusu’an dan
akan dikabulkan oleh Allah (jika salah satu yang dikabulkan maka yang lain akan ikut
dikabulkan oleh Allah SWT) apalagi yang menuntun bacaannya adalah imam sholatnya.
Lalu berdoa (meminta semua hajat-hajatnya) kepada Allah SWT.

8.Sesuatu yang makruh dikerjakan dalam sholat, diantaranya:


a.Membaca jahar (lantang) ditempat-tempat sir (pelan)
b.Menoleh tanpa maksud
c.Memberi isyarat kepada seseorang tanpa maksud tertentu, dll

9.Sesuatu yang membatalkan sholat, diantaranya:

a.Berbicara sedikit atau banyak (jika satu huruf yang tidak berarti, maka tidak batal
sholatnya).

b.Gerakan yang banyak, yaitu 3 gerakan lebih secara berkesambungan (1 gerakan tangan
ke atas maka dihitung 1 gerakan, jika dengan tangan kiri secara bersamaan maka dihitung
2 gerakan begitu juga jika langkahan kaki).

c.Makan walau sedikit (jika bekas makanan yang ada diantara gigi-gigi jika tidak bisa
dikeluarkan dan tertelan tanpa sengaja maka sholatnya sah)

d.Meninggalkan salah satu rukun-rukunnya sholat.

10.Sujud Syahwi
Sujud syahwi adalah sujud yang dilakukan karena meninggalkan sesuatu bagian dari
sholat. Dengan sujud syahwi maka sesuatu yang kurang pada sholat akan menjadi
sempurna tapi tidak meninggalkan rukun-rukunnya sholat, maka batal sholatnya). Dan
caranya yaitu dilakukan setelah tahiyat akhir sebelum salam dengan dua kali bersujud dan
membaca “subhanaladzi layashu walayanamu”

Adapun sebab-sebabnya:

a.Meninggalkan sebagian dari aba’dussholat atau sebagian dari sebagiannya, seperti:

- Tasyahud awal dan duduknya serta bersholawat kepada nabi Muhammad saw, dengan
sengaja atau tidak.

- Qunut dan dalam keadaan berdiri (bagi yang mampu) dan bersholawat atas nabi
Muhammad saw serta keluarga dan para sahabatnya.

- Bersholawat untuk keluarga nabi ditakhiyat akhir.

Itu semua kalo ditinggalkan dalam keadaan sengaja ataupun tidak, maka disunnahkan
sujud syahwi, karena dengan sujud syahwi bisa menyempurnakan kekurangan yang ada
pada sholat tersebut (karena meninggalkan hal-hal yang ada di atas).

b.Sesuatu yang membatalkan jika disengaja tapi tidak membatalkan jika tidak disengaja
apabila dilakukan dalam keadaan lupa, seperti ; memasukkan makan yang sedikit sekali
ke mulut.

c.Memindahkan rukun qauli yang bukan pada tempatnya tanpa disengaja. Rukun qauli
adalah takbiratul ihram, Fatihah, tasyahud akhir, sholawat atas nabi Muhammad saw
ditahiyat akhir dan salam. Maksudnya memindahkan rukun qauli yang bukan pada
tempatnya yaitu : sewaktu dia baca Al Fatihah dalam keadaan lupa dia membaca tahiyat
akhir, maka dia harus langsung membaca Al Fatihah dan kemudian disunnahkan sujud
syahwi. Akan tetapi jika memindahkan bacaan takbiratulihram atau salam bukan pada
tempatnya, maka hukum sholatnya batal (seperti yang tertera pada semua kitab Fiqih).

d.Ragu-ragu dalam melakukan rukun Fi’li yaitu dia ragu-ragu apakah sudah melakukan
ruku’ (contoh) atau belum? Dan dia diposisi sujud, maka dia harus menambahkan 1
rokaat lagi dan kemudian disunnahkan sujud syahwi. Begitu pula kalo dia ragu dalam
rokaatnya (saya sudah 3 rokaat atau 2 rokaat dalam sholat magrib) maka dia harus
mengambil yang lebih sedikit yaitu 2 rokaat, lalu dia menambah 1 rokaat lagi kemudian
disunnahkan sujud syahwi.

# Jika ragu dalam sholat dan waktu keraguannya lama, maka batal sholatnya.
11.Sujud Tilawah
Adalah sujud yang dilakukan ketika mendengar bacaan Al Qur’an yang ada tertera
kalimat Sajadah di dalam Al Qur’an.

Adapun syarat-syaratnya diantaranya:

a.Yang membaca dalam keadaan suci (selain junub, haid dan nifas)

b.Yang membaca dalam keadaan sadar (selain orang yang bermimpi, mabuk, lupa atau
dari tape/radio, dll).

c.Membacanya satu ayat yang sempurna (jika pada ayat sujud saja / tidak sempurna maka
tidak shah)

d.Yang membaca satu orang

e.Selain sewaktu melakukan sholat jenazah

f.Sewaktu mendengarkannya langsung bersujud (tidak boleh berselang waktu).

g.Bagi ma’mum harus sujud mengikuti imam, jika imam tidak sujud maka ma’mum juga
tidak sujud.

# Adapun bacaannya : “subhanallah walhamdulillah walailaha illallahu allahuakbar atau


subhana rabiyal a’la wabihamdzi, dibaca 3 kali.

# Rukun-rukun sujud tilawah diantaranya:


- niat
- takbirotul ihram
- sujud
- tuma’ninah (diam sebentar)
- duduk
- salam
- tertib

# Adapun caranya yaitu dilakukan dua kali seperti sujud biasa dalam keadaan suci.

# Ayat-ayat yang berhubungan dengan sujud tilawah diantaranya : Surah al-A'raaf: 206,
ar-Ra'd: 15, an-Nahl: 49, al-Israa': 107, Maryam: 58, al-Haj: 18, al-Furqaan: 60, an-Naml:
25, Fusshilat: 38, al-'Alaq:19, an-Najm: 62, Insyiqaaq: 21, Shaad: 24.

12.Sujud Syukur
Sujud syukur adalah sujud untuk orang yang mendapatkan kenikmatan dhohir / bathin
dari Allah SWT yang lebih dan untuk orang yang telah diselamatkan dari bencana besar /
kecil dan ketika kita diberi oleh Allah sifat-sifat yang baik tatkala melihat kebejatan
orang lain.

# Caranya dengan bertakbirotul ihram kemudian bersujud 2 kali, kemudian salam.


Adapun bacaannya yaitu : alhamdulillahi, kemudian kalimat syukur yang ada pada diri
kita sendiri dan di dalam hati (berdoa) dan dalam keadaan suci.
# Dianjurkan (disunnah) bershodaqoh setelah itu agar ditambah kenikmatan yang telah
diberikan oleh Allah SWT dan agar selalu dijaga dari kekufuran akan nikmat.

13.Bab Sholat-sholat Sunnah


Sholat sunnah dibagi menjadi 3 macam:

a.Sholat sunnah mu’aqot (tertentu)


Seperti : tarawih (khusus di bulan ramadhan) dan witir (setelah sholat isya’ sampai
sebelum shubuh).

b.Sholat yang berkenaan dengan sebab-sebab:

- Sebabnya didahulukan kemudian dilakukannya sholat sunnah seperti : thowaf, tahiyatul


masjid dan sunnah wudhu.

- Sesuatu kejadian yang terjadi bersamaan dengan sholat seperti : kusuf (gerhana
matahari), khusuf (gernaha bulan).

- Sholat terlebih dahulu lalu sebabnya (sholat untuk mendapatkan sesuatu sebab) seperti
sholat istikhoroh (meminta petunjuk).

c.Sholat mutlak yaitu sholat-sholat sunnah yang lain.


Sholat yang disunnahkan berjamaah yaitu : sholat Idul Adha, Idul Fitri, Kusuf, Khusuf
dan Tarawih.

Sholat yang tidak disunnahkan dalam berjamaah seperti qobliyah, ba’diyah dan sholat
sunnah yang lain ) jika dilakukan berjamaah, maka hukumnya mubah.
Keutamaan sholat sunnah menurut urutannya:
- Idul Fitri dan Idul Adha, dan jumlahnya 2 rokaat.
- Kusuf (gerhana matahari) jumlahnya 2 rokaat.
- Khusuf (gerhana bulan) jumlahnya 2 rokaat.
- Istisqo’ (meminta hujan) jumlahnya 2 rokaat
- Witir jumlahnya 11 rokaat paling banyak dan sedikitnya 1 rokaat.
- Rowatib (qobliyah/ba’diyah) jumlahnya 2 rokaat minimal dam maksimal 4 rokaat.
- Tarawih jumlahnya 8 rakaat dan maksimal 20 rakaat.
- Sholat-sholat sunnah yang lain jumlahnya minimal 2 rokaat dan maksimal tidak
terbatas.

Dari keseluruhan sholat-sholat sunnah dibagi menjadi 2 bagian:

- Muakadah yaitu sholat yang sering dilakukan oleh nabi Muhammad saw. di rumah, dan
diperjalanan seperti 2 rokaat sebelum (qobliyah) shubuh, 2 rokaat sebelum dan sesudah
(ba’diyah) dhuhur, 2 rokaat sesudah magrib, 2 rokaat sesudah isya’, witir, dhuha.

- Gairu muakadah yaitu sholat yang kadang ditinggalkan nabi Muhammad saw. dalam
perjalanan seperti 2 rokaat (setelah 2rokaat) sebelum dan sesudah dhuhur, 4 rokaat
sebelum ashar, 2 rokaat sebelum magrib dan isya’ dan lain-lain dari sholat-sholat sunnah.

14.Waktu-waktu yang diharamkan untuk mengerjakan sholat, kecuali sholat yang


didahului kejadiannya kemudian sholatnya (seperti : thowaf, sholat nadzar, tahiyatul
masjid dan sunnah wudhu dan sesuatu kejadian yang bersamaan dengan sholatnya
(seperti kusuf dan khusuf).

Ada 5 waktu:

a.Ketika terbitnya matahari sampai terbitnya matahari kira-kira satu tombak (kalo
diperkirakan dari jauh).

b.Di waktu istiwa’ (matahari pas berada diatas kepala) sampai lewatnya waktu istiwa’
(bergeser) selain hari Jum’at.

c.Ketika terbitnya mega kuning sampai tenggelamnya matahari.

d.Setelah sholat subuh sampai terbitnya matahari.

e.Setelah sholat asar sampai terbenamnya matahari (akhir waktu asar).

# Sholat jenazah sebaiknya dilakukan sebelum sholat asar.

15.Bab sholat berjamaah: Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam
Muslim, bahwa Rosulullah SAW. bersabda (yang artinya) Sesungguhnya sholat
berjamaah lebih tinggi tingkatannya (derajatnya) 25 kali di bandingkan sholat sendiri
(munfarit) dan sholat berjamaah sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Adapun syarat-syaratnya berjamaah, diantaranya:

a.Bagi ma’mum tidak mengetahui kalo imamnya mengerjakan sesuatu yang membatalkan
sholatnya.

b.Ma’mum tidak menyakini bahwa imamnya bertayamum sedangkan ma’mum berwudhu


dengan memakai air.

c.Imam tidak menjadi ma’mum dari imam yang lain.

d.Ma’mum harus mengetahui semua gerakan-gerakan imam dengan cara melihat atau
mendengar dengan jelas melalui imam atau ma’mum yang ada didepan.

e.Ma’mum harus dekat dengan imam atau ma’mum yang didepan.

f.Ma’mum tidak boleh melebihi batas imam yaitu telapak kaki ma’mum harus dibelakang
telapak kaki imam (tidak bolah sama / mendahului.

g.Antara ma’mum dengan imam tidak boleh ada halangan yaitu kalau ma’mum berjalan
mendekati imam dengan cara maju bukan dengan cara meloncat, berbalik badan atau
mundur (kalau ma’mum diposisi tingkat maka syah kalau tangga yang menuju ketingkat
berada didalam masjid bukan halaman / teras masjid, karena ma’mum berjalan menuju
imam dengan berbalik atau mundur).

h.Gerakan ma’mum tidak mendahului gerakan imam dengan dua rukun (ruku’ atau I’tidal
dan lain-lain) atau terlambat 2 rukun dari gerakan imam.

i.Imam harus fasih dalam membaca Al Fatihah.

j.Ma;mum harus berniat ma’muman.

k.Ma’mum laki-laki tidak boleh mengikuti imam perempuan dalam segala hal, kecuali
kalau ma’mum laki-lakinya belum baligh.

Keterangan syah dalam berjama’ah:


a.Ma’mum laki-laki mengikuti imam laki-laki.
b.Ma’mum perempuan mengikuti imam laki-laki.
c.Ma’mum banci mengikuti imam laki-laki.
d.Ma’mum perempuan mengikuti imam banci.
e.Ma’mum perempuan mengikuti imam perempuan.
Yang dimaksud dengan banci adalah seseorang yang mempunyai dua alat kelamin pada
aslinya (dari lahir) bukan laki-laki yang berubah dirinya menjadi perempuan atau
sebaliknya dalam hal apapun maka seperti itu sangat dilaknat oleh Allah SWT dan Nabi
Muhammad SAW.seperti yang disabda di dalam hadist.

Syarat-syarat iman diantaranya:


a.Islam
b.Berumur (baligh)
c.Berakal
d.Mengerti dan memahami tentang hukum-hukum sholat dan wudhu (fiqihnya)
e.Fasih dalam mengucapkan / membaca surat Al Fatihah dan surat-surat yang lain.

Semua sholat diperboleh untuk berjamaah walaupun beda raka’at, kalau berbeda gerakan
maka tidak syah seperti sholat wajib / sunnah berjamaah dengan sholat kusuf, khusuf atau
sholat jenazah karena gerakannya berbeda.

16.Bab sholat jama’


Jama’ dibagi 2 perkara : taqdim dan ta’khir Jama’ taqdim adalah sesuatu sholat yang
digabungkan dengan sholat lain dengan syarat karena berpergian luar kota
(musafir)adapun waktunya dimajukan diwaktu sholat yang ditaqdimi contoh dhuhur dan
ashar, maka sholat ashar mengerjakanya diwaktu dzuhur dan rokaatnya tetap (tidak
berubah) kalau jama’ takhir maka sebaliknya dari jama’ taqdim.

a.Syarat-syarat jama’ taqdim diantaranya:

1.memulai yang pertama (kalau dhuhur dan ashar, maka dimulai dhuhur dahulu baru
ashar)

2.Niat jama’taqdim pada sholat yang pertama yaitu niatnya diwaktu melaksanakan sholat
dhuhur (kalau dhuhur dengan ashar) diawal, pertengahan atau akhir sholat dhuhur
sebelum salam, dan cara mengucapkanya hanya didalam hati tanpa diucapkan dalam
lisan.

3.Masih ada sisa waktu diwaktu sholat yang pertama (dhuhur)

4.Berkesinabungan antara sholat ke satu dengan sholat yang ke dua (tidak boleh terputus
waktu antara dua sholat (dhuhur dengan ashar), kalau terputus lama melebihi dua rakaat
tanpa sunah (kurang lebih1 menit 20 detik) maka hukum jama’nya menjadi batal (tidak
syah)

5.Meyakini kebenaran (syah) sholat yang pertama.

6.Lamanya halangan ( udzur) sampai pada ta’biratulihram di sholat yang ke dua.


b. Syarat-syarat jama’ta’khir diantaranya:

1.Niat ta’khir (mangangkhirkan) diwaktu pada sholat yang pertama (kalau dhuhur dengan
ashar, maka letaknya niat berada diwaktu dhuhur) dan waktu yang paling akhir, yaitu
yang mencukupi kalu sholat 4 roka’at (kalau dhuhur)

2.Lamanya halangan (udzur) sampai selesai dalam mengerjakan sholat yang kedua

17. Bab sholat qosor.


Sholat qosor adalah sholat 4 roka’at yang diringkas menjadi 2 raka’at dan itu hanya pada
sholat dhuhur, ashar dan isya’ selain itu tidak boleh diqosor.

Adapun syarat-syaratnya :

a.Hanya diperbolehkan pada sholat yang jumlah roka’atnya 4.

b.Jarak perjalananya 82 km (markhalatain)


c.Safarnya (perjalananya) yang diperbolehkan (tidak untuk bermaksiat) diwaktu pertama
niatnya dalam perjalanan (safar)

d.Mengetahui tentang di perbolehkanya qosor yaitu mengetahui awal niatnya dan jarak
yang tepat untuk mengqosor sholat (82 km)

e.Berniat mengqosor sholat diwaktu takbirotul ihram yaitu mengucapkan niat qosor pada
takbirotul ihrom, (pada sholat berjumlah 4 raka’at)

f.Berkesinabungan dalam perjalanan sampai habisnya waktu sholat yang dikerjakan,


yaitu kalau dia belum sampai 82 km lalu dia pulang (kembali) maka dia tidak
diperbolehkan mengqosor sholatnya.

g.Bagi yang mengqosor tidak boleh berjama’ah (mengikuti) dengan imam yang tidak
mengqosor (sempurna) kalau sebaliknya maka boleh (syah)

18.Bab sholat Jum’at


Sholat Jum’at adalah sholat yang dilakukan diwaktu dhuhur dan sholat Jum’at adalah
sholat yang paling utama di antaranya sholat-sholat yang lain . sholat Jum’at pertama kali
dilaksanakan dimalam Isra’ mi’raj dimasjid Nabawi, Rasulullah pada saat itu berjama’ah
dengan sebagikan kecil sahabatnya. Barang siapa yang meninggalkan sholat Jum’at 3 kali
berturut-turut, tanpa udzur syar’I, niscaya Allah memenuhi hatinya dengan sifat
kemunafikan (diriwayatkan oleh Imam Abi Daud Turmudzi dan Nasai).

Syarat-syarat wajib sholat Jum’at:


a.Islam
b.Baligh
c.Aqil (berakal)
d.Laki-laki, maka perempuan tidak sah sholat Jum’atnya
e.Sehat jasmani
f.Ber mustautin (mustautin yaitu seseorang yang bertempat tinggal didaerah tersebut dan
tidak pernah pergi kecuali ketika adakeperluan,bukan musyafir)

Syarat-syarat syahnya sholat jum;at


a.Melakukan sholat Jum’at diwaktu dhuhur
b.Ditempat yang tertentu (bukan ditempat yang untuk berpergian / tempat transit)
c.Melakukan sholat secara berjama’ah
d.Jumlah yang menghadiri sholat Jum’at sebanyak 40 orang laki-laki, baligh, mustautin
e.dilakukan di satu tempat (masjid) setiap kelurahan, kalau masjid yang pertama penuh,
maka boleh menggunakan masjid yang lainya
f.didahului 2 khotbah

19.Rukun-rukun khotbah Jum’at

a.Mengucapkan hamdallah di kedua khotbah (khotbah pertama dan kedua) dan yang
dimaksud hamdallah harus dengan kalimat “alhamdu atau anahamidun atau hamdan,
tidak boleh yang lain kemudian harus menggunakan lafadz Allah tidak boleh diganti
dengan nama-nama yang lain seperti yang tertera di Asma’ul Khusna

b.Membaca sholawat untuk Nabi Muhammad saw di kedua khotbah (pertamadan kedua).
Adapun kalimatnya yaitu harus memakai lafadz As sholatu, usholli atau sholla tidak
dengan kalimat yang lainya dan yang kedua harus menyebutkan Nama nabi Muhammad
atau Ahmad.

c.Berwasiat Taqwa dikedua khotbah (pertama dan kedua). Dalam wasiat taqwa harus
meyebutkan kalimat Wasoya, Usiikum, atau Athi’ullaha dengan menambah kalimat
taqwa tidak boleh yang lain.
(kalimat yang artinya perintah untuk melakukan satu ibadah atau meninggalkan satu
larangan)

d.Membaca ayat suci Al-Qur’an disalah satu khotbah (ulama’ banyak melakukanya di
akhir khotbah yang pertama)

e.Do’a untuk mu’minin dan mu’minat diakhir khotbah yang kedua, dengan syarat tidak
menyebutkan kalimat khitob (percakapan dua orang yang sedang berhadapan).
20.Syarat syahnya berkhotbah

a.Suci dari dua khadast yaitu kecil dan besar


b.Suci dari najis dipakaian, badan dan tempat
c.Menutupi aurot
d.Berdiri bagi yang mampu
e.Duduk diantara dua khotbah dan batas waktunya duduk dengan mengucapkan
subhanallah 3 kali minimal, dan maksimal lamanya membaca surat Al-Ikhlas tidak boleh
lebih (disunnahkan bagi khotib membacanya)
f.Berkesinambungan antara khotbah yang pertama dengan khotbah yang kedua dengan
terpisah duduk antara dua khotbah
g.Berkesinambungan antara dua khotbah dengan sholat Jum’atnya (harus langsung
setelah khotbah dan tidak boleh melebihi dua roka’at sholat tanpa sunah-sunahnya sholat
(kurang lebih 1menit 30 detik)
h.Rukun-rukun kedua khotbah harus memakai bahasa Arab (tidak yang lainnya)
i.Ke dua rukun-rukun khotbah harus didengarkan minimal 40 orang laki-laki, berakal,
baligh
j.Kedua khotbah dilakukan waktu dhuhur

21.Sunah-sunahnya di Jum’at diantaranya:

a. Mandi, adapun waktunya setelah terbitnya matahari sampai akan mendatangi sholat
Jum’at (bagi yang sholat Jum’at) sampai sore hari.
b. Memakai pakaian yang bersih dan suci, dan yang paling utama memakai warna putih
c. Memakai wangi-wangian
d. Memperbanyak dzikir
e. Memperbanyak sholawat atas nabi kita Muhammad s.a.w.
f. Mendengarkan khotbah Jum’at
g. Memperbanyak do’a untuk diri sendiri, keluarga dan muslimin dan muslimat
h. Bagi yang sholat Jum’at disunnahkan menghadirinya lebih awal, sebelum adzan
Jum’at

22.BAB Sholat Iid.

Iid artinya kembali ke fitroh umat Islam. Iid dibagi menjadi dua perkara :

a.Iid Adha : yaitu hari ke 10 pada bulan Dzulhijah hukumnya adalah sunnah (sholat Iid
adalah sholat sunnah yang paling utama)
b.Iid Fitri : yaitu awal (tgl 1) bulan Syawal hukumnya adalah sunnah.

Adapun waktu kedua Iid dari terbitnya matahari sampai bergeraknya matahari kalo Idul
Adha disunahkan mengerjakan sholat Iid diawal waktu, dan Idul Fitri disunnahkan
mengakhirkan sholat Iid dari sholat Iid adha yaitu terbitnya matahari dengan ketinggian 1
tombok (dengan perkiraan).

Adapun sunnah-sunnah yang dilakukan, diantaranya :

a.Sholat dengan berjama’ah, lebih afdhol dimasjid (jika tidak cukup boleh dilapangan)

b.Menghidupkan malam iid dengan bertakbir dan ibadah-ibadah yang lain

c.Mandi (membersihkan badan yang dhohir, terutama yang batin)

d.Memakai wangi-wangian

e.Berhias diri (berpenampilan yang rapi dan menutupi aurat)

f.Berpakaian yang terbaik yang dimilikinya, berwarna putih atau yang lainnya tapi lebih
utama berwarna putih

g.Mendatangi masjid lebih awal (pagi-pagi)

h.Menuju ke masjid dengan jalan yang lebih cepat dan pulang ( keluar) dari masjid
dengan jalan lain yang lebih lama ( lebih jauh dari datangnya) atau sebaliknya

i.Berpuasa dari subuh sampai mengerjakan sholat iid di hari raya Iid Adha

j.Disunnahkan makan dengan korma atau sesuatu yang manis tatkala mau menuju ke
masjid di hari raya Iid Fitri

k.Bertakbir tatkala menuju masjid dengan bersuara

# Perhatian : memakai wangi-wangian dianjurkan untuk laki-laki, perempuan yang tidak


tua atau anak-anak kalo perempuan diharamkan memakai wangi-wangian yang
berlebihan, apalagi sampai tercium aroma wanginya pada laki-laki yang bukan
muhrimnya maka itu dianggap zina seperti yang disabdakan nabi Muhammad s.a.w di
dalam hadist-hadist beliau, kalo bagi istri disunnahkan memakai wangi-wangian tatkala
berada dirumah untuk menghormati suaminya.

# Tata cara mengerjakan Sholat Iid :


Sholat Iid dilakukan 2 roka’at kemudian setelah sholat diisi dengan khotbah, berbeda
dengan sholat Jum’at (kalo sholat Jum’at didahului khutbah) dan tata cara khutbahnya
sama dengan khutbah Jum’at.

Adapun sholatnya:

a.Bertakbir 7 x diroka’at yang pertama, dan tempatnya yaitu setelah membaca iftitah
(sebelum membaca al-fatihah)

b.Bertakbir 5 x diroka’at yang kedua

c.Disunnah sewaktu takbir (setelah mengucapkan allahu akbar) mengucapkan


subhanaallah walhamdulillah walailahaillallah wa allahuakbar

d.Tatkala bertakbir disunnahkan mengangkat kedua tangannya (seperti tatkala


bertakbirotulihrom) lalu kembali meletakkan kedua tangannya di bawah dada.

e.Adapun khutbah Iid disunnahkan bertakbir khutbah yang pertama 9 x dan 7 x dikhutbah
yang kedua kemudian melanjutkan khutbahnya adapun tempatnya diawal kedua khutbah

f.Takbir Iidul Fitri dimulai dari terbenamnya matahari malam iid sampai turunnya khotib
(yang berkhutbah) dari mimbar. Sedangkan takbir Iid Adha dimulai dari terbenamnya
matahari malam iid sampai turunnya khotib (yang berkhutbah) itu takbir mursal (yaitu
takbir yang bebas, tanpa terikat dengan waktu), kalo takbir moqoyat (yaitu takbir yang
terikat dengan waktu) di iid adha yaitu setelah sholat fardhu(wajib) dari malam iid
sampai setelah sholat ashar hari tasyrik yaitu tanggal 11,12,13 dzulhijjah.
Diposkan oleh Madadun Nabawiy di 08:31
Label: Fiqh Imam Syafi'i

1 komentar:

munzazam banjarnegara mengatakan...

assalamualaikum,wr,wb.

salam kenal....
saya mau bertanya bolehkah melakukan solat tahyatul masjid kemudian sholat
sunah pada waktu khotib membaca khutbah jum'at,
terima kasih.
Fiqih Shalat Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com - Shalat adalah salah satu dari lima rukun Islam. Shalat merupakan tiang
agama yang tidak akan tegak tanpanya. Shalat adalah ibadah pertama yang Allah
wajibkan. Shalat adalah amal pertama yang diperhitungkan di hari kiamat. Shalat adalah
wasiat terakhir Rasulullah saw. kepada umatnya ketika hendak meninggal dunia. Shalat
adalah ajaran agama yang terakhir ditinggalkan umat Islam.

Allah swt. menyuruh memelihara shalat setiap saat, ketika mukim atau musafir, saat
aman atau ketakutan. Firman Allah:

{‫ فإذا أمنتم فاذكروا ال كما‬،‫ل أو ُركبانًا‬


ً ‫خفتم َفرجا‬
ِ ‫ل قانتين * فإن‬
ِّ ‫صلة الوسطى وقوموا‬
ّ ‫صلوات وال‬
ّ ‫حافظوا على ال‬
239 ،238 :‫]عّلمكم ما لم تكونوا تعلمون{ ]البقرة‬

“Peliharalah segala shalat-(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah
(dalam shalatmu) dengan khusyuk. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka
shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka
sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang
belum kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 238-239)

Sebagaimana Allah telah menjelaskan cara shalat di waktu perang, yang menegaskan
bahwa shalat tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi yang paling genting sekalipun.
Firman Allah:

{‫ن الكافرين كانوا‬ ّ ‫صلة إن خفتم أن َيفِتنُكم الذين َكفروا إ‬ ّ ‫جناح أن َتقصروا من ال‬ ُ ‫ضربتم في الرض فليس عليكم‬ َ ‫وإذا‬
‫سجُدوا َفْليكونوا من‬
َ ‫ فإذا‬،‫حَتهم‬َ ‫ت لهُم الصلَة َفْلتقم طائفٌة منهم َمعك وْلَيأخذوا أسل‬َ ‫ت فيهم فَأقم‬ َ ‫لُكم عدّوا ُمبينًا * وإذا ُكن‬
‫حتهم وّد الذين َكفروا لو َتْغُفلون عن‬َ ‫حذرهم وأسِل‬ ِ ‫صّلوا فْلُيصّلوا معك وْليأخُذوا‬
َ ‫ وْلَتأت طاِئفٌة أخرى َلم ُي‬،‫وراِئكم‬
‫ضعوا‬ َ ‫ى ِمن َمطر أو ُكنتم مرضى أن َت‬ ً ‫ن كان بُكْم أذ‬
ْ ‫حدًة ول جناح عليكم إ‬ ِ ‫عليكم َميلًة وا‬
َ ‫حتكم وأْمِتعتكم َفيميلون‬ َ ‫َأسِل‬
‫جنوِبُكم‬
ُ ‫حْذركم إن ال أعّد للكاِفرين عذابًا ُمهينًا * فإذا َقضيُتم الصلة فاْذكروا ال ِقيامًا وُقعودًا وعلى‬ ِ ‫حتكم وخذوا‬ َ ‫أسِل‬
103 - 101 :‫ن الصلَة كاَنت على المؤِمنين ِكتابًا َموقوتًا{ ]النساء‬ ّ ‫صلة إ‬
ّ ‫]فإذا اطمأَنْنُتم فَأقيموا ال‬

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar
sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-
orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. Dan apabila kamu berada di tengah-
tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka,
maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang
senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan
seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh)
dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu
bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan
menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu
dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa
atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena
hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah
telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. Maka apabila
kamu telah menyelesaikan shalat-(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk
dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah
shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang
ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa: 101-103)

Allah swt. mengancam orang-orang yang mengabaikan shalat,

{‫ل للمصّلين‬
ٌ ‫ }َفَوْي‬:‫ وقال‬،[59:‫ت َفسوف َيلَقون غّيا{ ]مريم‬
ِ ‫صلة واّتبعوا الشهوا‬
ّ ‫ف أضاعوا ال‬
ٌ ‫خْل‬
َ ‫خلف ِمن َبْعِدهم‬
َ ‫َف‬
5 ،4 :‫عن صلِتهم ساهون { ]الماعون‬ َ ‫]الذين ُهم‬

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat
dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”
(Maryam: 59). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang
yang lalai dari shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa shalat menghapus kesalahan. “Bagaimana


pendapatmu jika ada sungai di depan pintu rumah di antaramu, mandi di sana lima kali
sehari, apakah masih ada daki di tubuhnya?” Mereka menjawab, “Tidak ada, ya
Rasulallah.” Sabda Nabi, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus
kesalahan dengan shalat.” (Bukhari dan Muslim)

Ada beberapa hadits dari Rasulullah saw. tentang kafirnya orang yang meninggalkan
shalat, antara lain:

1. Hadits Jabir r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda, ‫صلة‬


ّ ‫ك ال‬
ُ ‫ل والُكفر تر‬
ِ ‫“ بين الرج‬Batas
antara kufur dengan seseorang adalah shalat.” (Muslim, Abu Daud, At Tirmidziy, Ibnu
Majah, dan Ahmad)

2. Hadits Buraidah, berkata: Rasulullah saw. bersabda,

‫ فمن َتركها َفقد َكَفر‬،‫صلة‬


ّ ‫العهُد الذي بيننا وَبينهم ال‬

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang


meninggalkannya, maka ia kafir.” (Ahmad dan Ashabussunan)

3. Hadits Abdullah bin Syaqiq Al-‘Uqailiy, berkata, “Para shahabat Nabi Muhammad
saw. tidak pernah menganggap amal yang jika ditinggalkan menjadi kafir selain shalat.
(Tirmidzi, Hakim, dan menshahihkannya dengan standar Bukhari Muslim)

Para sahabat dan para imam telah berijma’ bahwa barangsiapa yang meninggalkan shalat
karena mengingkari kewajibannya atau melecehkannya, hukumnya kafir murtad.
Sedangkan jika meninggalkannya dengan sengaja, tidak mengingkari kewajibannya,
hukumnya kafir juga menurut sebagian shahabat, antara lain Umar bin Khaththab,
Abdullah ibnu Mas’ud, Abdullah ibnu Abbas, Mu’adz bin Jabal, demikian juga menurut
Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan menurut jumhurul ulama, bahwa orang yang
meninggalkan shalat dengan tidak mengingkari kewajibannya, tidak membuatnya kafir,
akantetapi fasik yang disuruh bertaubat. Jika tidak mau bertaubat, maka dihukum mati,
bukan kafir murtad menurut Asy-Syafi’i dan Malik. Abu Hanifah berkata, “Tidak
dibunuh, tetapi dita’zir dan disekap (dipenjara) sampai mau shalat.”

Meskipun shalat tidak diwajibkan kecuali kepada muslim yang berakal dan baligh, hanya
saja shalat dianjurkan untuk diperintahkan kepada anak-anak yang sudah berumur tujuh
tahun. Dan dipukul jika tidak mengerjakannya setelah berusia sepuluh tahun. Ini agar
shalat menjadi kebiasaannya. Seperti dalam hadits, “Perintahkan anakmu shalat ketika
berusia tujuh tahun, dan pukullah ia jika berusia sepuluh tahun, pisahkan tempat tidur
mereka.” (Ahmad, Abu Daud, dan Hakim, yang mengatakan hadits ini shahih sesuai
dengan persyaratan Imam Muslim)

WAKTU SHALAT

Shalat yang diwajibkan atas setiap muslim sehari semalam adalah lima waktu, sesuai
dengan hadits seorang A’rabiy yang menemui Rasulullah saw. dan bertanya, “Ya
Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang shalat fardhu yang telah Allah wajibkan
kepadaku?” Jawab Nabi, “Shalat lima waktu, kecuali jika kamu beribadah sunnah.”
Kemudian orang itu bertanya dan Rasulullah memberitahukan beberapa syariat Islam.
Orang itu berkata, “Demi Allah yang telah memuliakanmu, saya tidak akan beribadah
sunnah sedikitpun dan tidak akan mengurangi kewajiban sedikitpun.” Lalu Rasulullah
bersabda, «‫صَدق‬
َ ‫ن‬ْ ‫يإ‬
ّ ‫ح العراب‬
َ ‫“ »أفل‬Orang A’rabiy itu beruntung jika ia benar (dengan
ucapannya).” (Bukhari dan Muslim)

Allah swt. telah menetapkan waktu setiap shalat fardhu, dan memerintahkan kita untuk
berdisiplin memeliharanya. Firman Allah, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban
yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An Nisa: 103). Dan waktu
shalat adalah:

1. Shalat fajar, waktunya sejak terbit fajar shadiq sehingga terbit matahari, disunnahkan
pelaksanaannya di awal waktu menurut Syafi’iyah[1], inilah yang lebih shahih, dan
disunnahkan melaksanakannya di akhir waktu menurut madzhab Hanafi.[2]

2. Shalat zhuhur, waktunya sejak tergelincir matahari dari pertengahan langit, sehingga
bayangan benda sama dengan aslinya. Disunnahkan mengakhirkannya ketika sangat
panas, dan di awal waktu di selain itu. Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas
r.a.[3]

3. Shalat ashar, waktunya sejak bayangan benda sama dengan aslinya, di luar bayangan
waktu zawal, sampai terbenam matahari. Disunnahkan melaksanakannya di awal waktu,
dan makruh melaksanakannya setelah matahari menguning. Shalat ashar disebut shalat
wustha.

4. Shalat maghrib, waktunya sejak terbenam matahari, sehingga hilang rona merah.
Disunnahkan melaksanakannya di awal waktu,[4] dan diperbolehkan mengakhirkannya
selama belum hilang rona merah di langit.

5. Shalat isya’, waktunya sejak hilang rona merah sehingga terbit fajar. Disunnahkan
mengakhirkan pelaksanaannya hingga tengah malam. Diperbolehkan juga
melaksanakannya setelah tengah malam, dan makruh hukumnya tidur sebelum shalat
isya’ dan berbincang sesudahnya.

Dari Jabir bin Abdillah r.a, bahwa Rasulullah saw. kedatangan Malaikat Jibril a.s., dan
berkata, “Bangun lalu shalatlah”, maka Rasulullah shalat zhuhur ketika matahari bergeser
ke arah barat. Kemudian Jibril a.s. datang kembali di waktu ashar dan mengatakan,
“Bangun dan shalatlah.” Maka Rasulullah saw. shalat ashar ketika bayangan benda sudah
sama dengan aslinya. Kemudian Jibril a.s. mendatanginya di waktu maghrib ketika
matahari terbenam, kemudian mendatanginya ketika isya’ dan mengatakan bangun dan
shalatlah. Rasulullah shalat isya’ ketika telah hilang rona merah. Lalu Jibril
mendatanginya waktu fajar ketika fajar sudah menyingsing. Keesokan harinya Jibril
datang waktu zhuhur dan mengatakan, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah shalat zhuhur
ketika bayangan benda telah sama dengan aslinya. Lalu Jibril mendatanginya waktu ashar
dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Rasulullah saw. shalat ashar ketika bayangan benda
telah dua kali benda aslinya. Jibril a.s. mendatanginya waktu maghrib di waktu yang
sama dengan kemarin, tidak berubah. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu isya’
ketika sudah berlalu separuh malam, atau sepertiga malam, lalu Rasulullah shalat isya’.
Kemudian Jibril mendatanginya ketika sudah sangat terang, dan mengatakan, “Bangun
dan shalatlah.” Maka Rasulullah shalat fajar. Kemudian Jibril a.s. berkata, “Antara dua
waktu itulah waktu shalat.” (Ahmad, An-Nasa’i dan Tirmidzi. Bukhari mengomentari
hadits ini, “Inilah hadits yang paling shahih tentang waktu shalat.”)

Waktu-waktu yang dijelaskan dalam hadits di atas adalah waktu jawaz (boleh), dan
dalam kondisi udzur dan darurat, waktu shalat itu membentang sampai datang waktu
shalat berikutnya. Kecuali waktu shalat fajar yang habis dengan terbitnya matahari.
Seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa Rasulullah saw.
bersabada, “Waktu zhuhur itu ketika matahari telah bergeser sampai bayangan seseorang
sama dengan tingginya, selama belum datang waktu ashar; dan waktu ashar itu selama
matahari belum menguning; waktu maghrib selama belum hilang awan merah; waktu
isya’ hingga tengah malam; dan waktu shubuh dari sejak terbit fajar sehingga terbit
matahari.” (Muslim)

Jika seorang muslim tertidur sebelum melaksanakan shalat fardhu atau lupa belum
melaksanakannya, maka ia wajib melaksanakannya ketika ingat, seperti yang pernah
disebutkan dalam hadits Rasulullah saw.

Makruh hukumnya shalat sunnah setelah shubuh sehingga terbit matahari, dan sesudah
ashar sehingga terbenam matahari. Sedangkan shalat fardhu, maka sah hukumnya tanpa
makruh. Dan menurut madzhab Syafi’i tidak makruh shalat sunnah pada dua waktu ini
jika ada sebab tertentu seperti tahiyyatul masjid. Sedangkan ketika matahari terbit,
terbenam, dan ketika tepat di tengah, maka hukum shalat di waktu itu tidak sah menurut
madzhab Hanafi, baik shalat fardhu maupun sunnah, baik qadha maupun ada’ (bukan
qadha). Dan menurut madzhab Syafi’i makruh hukumnya shalat sunnah tanpa sebab.
Kecuali jika sengaja shalat ketika sedang terbit atau saat terbenam, maka haram. Dan
menurut madzhab Maliki haram hukumnya shalat sunnah pada waktu itu meskipun ada
sebab. Tetapi diperbolehkan shalat fardhu baik qadha maupun ada’ pada saat terbit atau
terbenam matahari. Sedang ketika saat matahari berada tepat di tengah, maka hukumnya
tidak makruh dan tidak haram.

ADZAN DAN IQAMAT

Adzan artinya pemberitahuan tentang telah datang waktu shalat. Lafadhnya sebagai
berikut.

4) ‫ال أكبر‬x)، 2) ‫أشهد أن ل إله إل ال‬x)، 2) ‫أشهد أن محمدًا رسول ال‬x) 2) ‫ي على الصلة‬
ّ ‫ح‬x) ‫ي على الفلح‬
ّ‫ح‬
2)x)، 2) ‫ال أكبر‬x) ‫ل إله إل ال‬.

Sedang iqamat dengan menambahkan (‫ي على الفلح‬


ّ ‫ )ح‬setelah 2) ‫قد قامت الصلة‬x)

Adzan dan iqamat hukumnya sunnah muakkadah untuk melaksanakan shalat fardhu, bagi
munfarid maupun berjamaah, menurut jumhurul ulama. Keduanya hukumnya wajib di
masjid menurut imam Malik dan fardhu kifyaah menurut imam Ahmad.

Disunnhkan bagi yang mendengar adzan untuk mengucapkan seperti yang diucapkan
oleh muadzdzin kecuali dalam bacaan 2) ‫ي على الصلة‬ ّ ‫ح‬x) 2) ‫ي على الفلح‬ ّ ‫ح‬x) yang dijawab
dengan : ‫ل بال العلي العظي‬
ّ ‫ل ول قوة إ‬
َ ‫ ل حو‬kemudian bershalawat atas Nabi sesudah adzan dan
mengucapkan : ‫ وابعثه مقامًا محمودًا‬،‫ت ُمحّمدا الوسيلة والفضيلة‬ِ ‫ب هذِه الدعوِة التاّمِة والصلِة القائمِة آ‬
ّ ‫اللهّم ر‬
‫الذي وعدته‬

“Ya Allah Pemilik panggilan yang sempurna ini, dan shalat yang tegak. Berikan kepada
Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, berikan kepadanya tempat yang terpuji yang
telah Engkau janjikan.” (Bukhari)

Disunnahkan berdoa antara adzan dan iqamat. Di antara doa ma’tsur dalam hal ini adalah
yang diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqas, dari Rasulullah saw, “Barangsiapa yang
mengucapkan ketika mendengar mu’adzdzin:

‫ وبمحمٍد صلى‬،‫لسلِم دينًا‬


ِ ‫ وبا‬،‫ َرضيت بال ربًا‬،‫عبده ورسوله‬
َ ‫ وأن ُمحمدًا‬،‫ك له‬
َ ‫شري‬
َ ‫ل ال وحده ل‬
ّ ‫أشهد أن ل إله إ‬
‫غفر ال له ُذنوبه‬
َ ،‫ل‬
ً ‫ال عليه وسلم رسو‬

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa, Tiada sekutu baginya. Dan
bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusannya. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku,
Islam agamaku, Nabi Muhammad saw, sebagai utusan. Akan diampuni dosa-dosanya.”
(Muslim dan Tirmidzi)

Disunnahkan ada jarak antara adzan dan iqamat untuk memberi kesempatan orang hadir
ke masjid. Diperbolehkan juga iqamat selain orang yang adzan[5]. Disunnahkan bagi
yang mendengar qamat untuk mengucapkan seperti yang dikatakan oleh orang yang
qamat. Sebagaimana disunnahkan pula berdiri ketika orang yang qamat mengucapkan ‫قد‬
‫قامت الصلة‬
Diajarkan bagi orang yang mengqadha shalat yang terlewatkan untuk adzan dan iqamat.
Dan jika shalat yang ditinggalkan itu banyak, maka adzan untuk shalat pertama dan
qamat untuk setiap shalat.

Diperbolehkan berbicara antara qamat dan shalat; dan tidak mengulang iqamat meskipun
penghalang itu panjang. Hal ini ditetapkan dalam As-Sunnah seperti dalam riwayat
Bukhari.

Wanita tidak disunnahkan adzan dan iqamat. Tetapi tidak apa-apa jika melakukannya.
Aisyah r.a. pernah melakukannya seperti yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi.
[1] Hujjah Imam Syafi’i adalah hadits Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. shalat shubuh
pertama di awal waktu, lalu shalat hari berikutnya di akhir waktu, kemudian shalat
Rasulullah pada saat masih gelap setelah itu sampai wafat (Al-Baihaqi, dengan sanad
shahih). Juga hadits Aisyah r.a., “Bahwasannya para wanita mukminah kembali ke
rumahnya setelah shalat shubuh bersama Nabi Muhammad saw., mereka tidak dapat
dikenali karena masih gelap.” (Al-Jama’ah).

[2] Dalil madzhab Hanafi adalah hadits: Akhirkan shalat fajar, sesungguhnya ia lebih
besar pahalanya.” (Al-Khamsah dan disahihkan oleh Tirmidzi).

[3] Adalah Rasulullah jika di saat sangat dingin menyegerakan shalat dan jika di waktu
sangat panas menunda sehingga agak dingin ketika shalat.

[4] Hadits Rafi’ bin Khudaij, “Kami shalat maghrib bersama Rasulullah saw., ketika
selesai shalat di antara kami masih melihat letak sandalnya.” (Muslim)

[5]Hadits yang menyatakan, barangsiapa adzan,


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rukun Salat

Salat Berjamaah

13 Rukun Salat :

1. Berdiri
2. Niat
3. Takbiratul ihram
4. Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat
5. Ruku' dengan tuma'ninah
6. I'tidal dengan tuma'ninah
7. Sujud dua kali dengan tuma'ninah
8. Duduk antara dua sujud dengan tuma'ninah
9. Duduk dengan tuma'ninah serta membaca tasyahud akhir dan
10. sholawat kepada nabi
11. berlindung kepada Allah dari siksa jahannam dan kubur serta fitnah hidup dan
mati dan kekejian fitnah dajjal
12. Membaca salam yang pertama
13. Tertib (melakukan rukun secara berurutan)

[sunting] Salat Berjama'ah


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Salat Berjama'ah

Salat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersama-sama(berjama'ah). Pada salat


berjama'ah seseorang yang dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai Imam Salat,
dan yang lain akan berlaku sebagai Makmum.

• Salat yang dapat dilakukan secara berjama'ah antara lain :


o Salat Fardhu
o Salat Tarawih

• Salat yang mesti dilakukan berjama'ah antara lain:


o Salat Jumat
o Salat Hari Raya (Ied)
o Salat Istisqa'

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Salat Wajib

yaitu salat yang tidak wajib berjamaah tetapi sebaiknya berjamaah

[sunting] Salat dalam kondisi khusus


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Safar (perjalanan), Salat Qashar, dan Salat
Jama’

Dalam situasi dan kondisi tertentu kewajiban melakukan salat diberi keringanan tertentu.
Misalkan saat seseorang sakit dan saat berada dalam perjalanan (safar).

Bila seseorang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berdiri maka ia dibolehkan
melakukan salat dengan posisi duduk, sedangkan bila ia tidak mampu untuk duduk maka
ia diperbolehkan salat dengan berbaring, bila dengan berbaring ia tidak mampu
melakukan gerakan tertentu ia dapat melakukannya dengan isyarat.

Sedangkan bila seseorang sedang dalam perjalanan, ia diperkenankan menggabungkan


(jama’) atau meringkas (qashar) salatnya. Menjama' salat berarti menggabungkan dua
salat pada satu waktu yakni dzuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya. Mengqasar
salat berarti meringkas salat yang tadinya 4 raka'at (dzuhur,ashar,isya) menjadi 2 rakaat.

[sunting] Salat dalam Al Qur'an

Berikut ini adalah ayat-ayat yang membahas tentang salat di dalam Al Qur'an, kitab suci
agama Islam.

• Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka


mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada
mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat)
yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (QS.Ibrahim :31)14:31
• Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji (zinah) dan
mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan (al-‘Ankabut : 45) 29:45
• Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan
salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui
kesesatan (Maryam: 59)19:59
• Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia
ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat
kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap
mengerjakan salatnya (al-Ma’arij : 19-23)70:19

[sunting] Sejarah Salat Fadhu

Salat yang mula-mula diwajibkan bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya
adalah Salat Malam, yaitu sejak diturunkannya Surat al-Muzzammil (73) ayat 1-19.
Setelah beberapa lama kemudian, turunlah ayat berikutnya, yaitu ayat 20:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang)


kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan
(demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah
menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali
tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi
keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al
Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit
dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan
orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang
mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan
berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja
yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi
Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan
mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
Dengan turunnya ayat ini, hukum Salat Malam menjadi sunat. Ibnu Abbas, Ikrimah,
Mujahid, al-Hasan, Qatadah, dan ulama salaf lainnya berkata mengenai ayat 20 ini,
"Sesungguhnya ayat ini menghapus kewajiban Salat Malam yang mula-mula Allah
wajibkan bagi umat Islam.
Bismillah. Berikut ini adalah panduan sholat sesuai sunnah Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam, yang intinya bersumber dari buku
pegangan populer SIFAT SHOLAT NABI dari karya Syekh
Nashiruddin Al Bani (Kitab Shifatu Shalaati an Nabiyyi
Shallallahi ‘Alaihi wa Sallam min at-Takbiiri ilaa at Tasliimi Ka-
annaka Taraahaa) yang dijadikan rujukan ahlus sunnah wal
jamaah. Beberapa perbedaan pendapat dari para ulama dalam
bacaan dan gerakan sholat hendaknya dijadikan dorongan
semangat bagi kita untuk mempelajari ilmu (agama) secara
lebih jauh lagi melalui sumber-sumber yang sunnah dan dari
ulama-ulama yang telah diakui kemurnian aqidahnya dan
keilmuannya.

Untuk memudahkan membacanya, disarankan untuk meng-copy-


paste tulisan ini ke program microsoft words atau sejenisnya,
lalu lebih baik lagi di print diatas kertas (sekitar 27 halaman).

MENGHADAP KA’BAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat


fardhu atau sholat sunnah, beliau menghadap Ka’bah. Beliau
memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya
kepada orang yang sholatnya salah:

“Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu,


kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR.
Bukhari, Muslim dan Siraj).

Tentang hal ini telah turun pula firman Allah dalam Surah Al
Baqarah : 115: “Kemana saja kamu menghadapkan muka,
disana ada wajah Allah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sholat menghadap Baitul


Maqdis, hal ini terjadi sebelum turunnya firman Allah: “Kami
telah melihat kamu menengadahkan kepalamu ke langit. Kami
palingkan kamu ke kiblat yang kamu inginkan. Oleh karena itu,
hadapkanlah wajahmu ke sebagian arah Masjidil Haram.” (QS.
Al Baqarah : 144).

Setelah ayat ini turun beliau sholat menghadap Ka’bah.


Pada waktu sholat subuh kaum muslim yang tinggal di Quba’
kedatangan seorang utusan Rasulullah untuk menyampaikan
berita, ujarnya, “Sesungguhnya semalam Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam telah mendapat wahyu, beliau disuruh
menghadap Ka’bah. Oleh karena itu, (hendaklah) kalian
menghadap ke sana.” Pada saat itu mereka tengah menghadap
ke Syam (Baitul Maqdis). Mereka lalu berputar (imam mereka
memutar haluan sehingga ia mengimami mereka menghadap
kiblat). (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Siraj, Thabrani, dan Ibnu
Sa’ad. Baca Kitab Al Irwa’, hadits No. 290).

BERDIRI

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan sholat fardhu


atau sunnah (memulainya dengan) berdiri karena memenuhi
perintah Allah dalam QS. Al Baqarah : 238. Apabila bepergian,
beliau melakukan sholat sunnah di atas kendaraannya. Beliau
mengajarkan kepada umatnya agar melakukan sholat khauf
dengan berjalan kaki atau berkendaraan.

“Peliharalah semua sholat dan sholat wustha dan berdirilah dengan


tenang karena Allah. Jika kamu dalam ketakutan, sholatlah
dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Jika kamu dalam
keadaa aman, ingatlah kepada Allah dengan cara yang telah
diajarkan kepada kamu yang mana sebelumnya kamu tidak
mengetahui (cara tersebut).” (QS. Al Baqarah : 238).

MENGHADAP SUTRAH

Sutrah dalam sholat menjadi keharusan imam dan orang yang sholat
sendirian, sekalipun di masjid besar, demikian pendapat Ibnu
Hani’ dalam Kitab Masa’il, dari Imam Ahmad. Adapun yang
dapat dijadikan sutrah bisa terdiri dari berbagai benda, antara
lain: tiang masjid, tombak yang ditancapkan ke tanah, hewan
tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon, tempat tidur,
dinding dan lain-lain yang semisalnya (misalnya orang yang
sedang sholat atau sedang duduk di depan kita, tumpukan
buku, kotak, tas, red), sebagaimana telah dicontohkan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan hendaklah sutrah
itu diletakkan tidak terlalu jauh dari tempat kita berdiri sholat
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri
shalat dekat sutrah (pembatas) yang jarak antara beliau dengan
pembatas di depannya 3 hasta.” (HR. Bukhari dan Ahmad).
Beliau mengatakan, “Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang
sutrah di depan saya, padahal saya melakukan sholat di dalam
masjid kami, Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata
kepada saya, ‘Pasanglah sesuatu sebagai sutrahmu!’ Kemudian
aku memasang orang untuk menjadi sutrah.”

Syaikh Al Albani mengatakan, “Kejadian ini merupakan isyarat dari


Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar atau
masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di
depannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu sholat


tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan
seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika
dia terus memaksa lewat di depanmu, bunuhlah dia karena dia
ditemani oleh setan.” (HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad
yang jayyid (baik)). Inti dari hadits ini menunjukkan pentingnya
sutrah, sedangkan anjuran untuk membunuh akan dijelaskan
kondisi dan persyaratannya dalam bab lain.

Beliau juga bersabda:

“Bila seseorang di antara kamu sholat menghadap sutrah, hendaklah


dia mendekati sutrahnya sehingga setan tidak dapat memutus
sholatnya.” (HR. Abu Dawud, Al Bazzar dan Hakim. Disahkan
oleh Hakim, disetujui olah Dzahabi dan Nawawi).

NIAT

Niat berarti men-sengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada


Allah Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua amal tergantung


pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai
dengan niatnya.” (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain. Baca Al
Irwa’, hadits no. 22).

Niat tidak dilafadzkan (tidak diucapkan baik di mulut ataupun di


dalam hati)
Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan
tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu
dilafadzkan. Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia
berkata, “Apakah orang sholat mengatakan sesuatu sebelum
dia takbir?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” (Masaail al Imam
Ahmad hal 31 dan Majmuu’ al Fataawaa XXII/28).

AsSuyuthi berkata, “Yang termasuk perbuatan bid’ah adalah was-was


(selalu ragu) sewaktu berniat sholat. Hal itu tidak pernah
diperbuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para
shahabat beliau. Mereka dulu tidak pernah melafadzkan niat
sholat sedikitpun selain hanya lafadz takbir.”

Asy Syafi’i berkata, “Was-was dalam niat sholat dan dalam thaharah
termasuk kebodohan terhadap syariat atau membingungkan
akal.” (Lihat al Amr bi al Itbaa’ wa al Nahy ‘an al Ibtidaa’).

(Ini semua berarti bahwa tidak diperbolehkannya mengucapkan niat


semacam “Ushalli… dan seterusnya” sebelum sholat, red).

GERAKAN DAN BACAAN SOLAT

TAKBIRATUL IHROM

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memulai sholatnya (dilakukan


hanya sekali ketika hendak memulai suatu sholat) dengan
takbiratul ihrom yakni mengucapkan Allahu Akbar di awal
sholat dan beliau pun pernah memerintahkan seperti itu kepada
orang yang sholatnya salah. Beliau bersabda kepada orang itu:

“Sesungguhnya sholat seseorang tidak sempurna sebelum dia


berwudhu’ dan melakukan wudhu’ sesuai ketentuannya,
kemudian ia mengucapkan Allahu Akbar.” (Hadits
diriwayatkan oleh Al Imam Thabrani dengan sanad shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila engkau


hendak mengerjakan sholat, maka sempurnakanlah wudhu’mu
terlebih dahulu kemudian menghadaplah ke arah kiblat, lalu
ucapkanlah takbiratul ihrom.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Takbirotul ihrom diucapkan dengan lisan

Takbirotul ihrom tersebut harus diucapkan dengan lisan (bukan


diucapkan di dalam hati).
Muhammad Ibnu Rusyd berkata, “Adapun seseorang yang membaca
dalam hati, tanpa menggerakkan lidahnya, maka hal itu tidak
disebut dengan membaca. Karena yang disebut dengan
membaca adalah dengan melafadzkannya di mulut.”

An Nawawi berkata, “…adapun selain imam, maka disunnahkan


baginya untuk tidak mengeraskan suara ketika membaca lafadz
takbir, baik apakah dia sedang menjadi makmum atau ketika
sholat sendiri. Tidak mengeraskan suara ini jika dia tidak
menjumpai rintangan, seperti suara yang sangat gaduh. Batas
minimal suara yang pelan adalah bisa didengar oleh dirinya
sendiri jika pendengarannya normal. Ini berlaku secara umum
baik ketika membaca ayat-ayat al Qur-an, takbir, membaca
tasbih ketika ruku’, tasyahud, salam dan doa-doa dalam sholat
baik yang hukumnya wajib maupun sunnah…” beliau
melanjutkan, “Demikianlah nash yang dikemukakan Syafi’i dan
disepakati oleh para pengikutnya. Asy Syafi’i berkata dalam al
Umm, ‘Hendaklah suaranya bisa didengar sendiri dan orang
yang berada disampingnya. Tidak patut dia menambah volume
suara lebih dari ukuran itu.’.” (al Majmuu’ III/295).

MENGANGKAT KEDUA TANGAN

Disunnahkan mengangkat kedua tangannya setentang bahu (lihat


gambar) ketika bertakbir dengan merapatkan jari-jemari
tangannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh
Abdullah bin Umar radiyallahu anhuma, ia berkata:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengangkat kedua


tangannya setentang bahu jika hendak memulai sholat, setiap
kali bertakbir untuk ruku’ dan setiap kali bangkit dari ruku’nya.”
(Muttafaqun ‘alaihi).

Atau mengangkat kedua tangannya setentang telinga, berdasarkan


hadits riwayat Malik bin Al-Huwairits radhiyyallahu anhu, ia
berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengangkat kedua


tangannya setentang telinga setiap kali bertakbir (didalam
sholat).” (HR. Muslim).
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu
Khuzaimah, Tamam dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya
dengan membuka jari-jarinya lurus ke atas (tidak
merenggangkannya dan tidak pula menggengamnya). (Shifat
Sholat Nabi).

BERSEDEKAP

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan kanan


di atas tangan kirinya (bersedekap). Beliau bersabda: “Kami,
para nabi, diperintahkan untuk segera berbuka dan
mengakhirkan sahur serta meletakkan tangan kanan pada
tangan kiri (bersedekap) ketika melakukan sholat.” (Hadits
diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dan Adh Dhiya’ dengan
sanad shahih).

Dalam sebuah riwayat pernah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam


melewati seorang yang sedang sholat, tetapi orang ini
meletakkan tangan kirinya pada tangan kanannya, lalu beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam melepaskannya, kemudian orang
itu meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya. (Hadits
riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang shahih).

Meletakkan atau menggenggam tangan?

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan lengan kanan pada


punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan kirinya (lihat
gambar) berdasar hadits dari Wail bin Hujur: “Lalu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir kemudian meletakkan
tangan kanannya di atas telapak tangan kiri, pergelangan
tangan kiri atau lengan kirinya.” (Hadits diriwayatkan oleh Al
Imam Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dengan sanad yang
shahih dan dishahihkan pula oleh Ibnu Hibban, hadits no. 485).

Beliau terkadang juga menggenggam pergelangan tangan kirinya


dengan tangan kanannya (lihat gambar) , berdasarkan hadits
Nasa’i dan Daraquthni: “Tetapi beliau terkadang
menggenggamkan jari-jari tangan kanannya pada lengan
kirinya.” (sanad shahih).

Bersedekap di dada
Menyedekapkan tangan di dada adalah perbuatan yang benar
menurut sunnah berdasarkan hadits:

“Beliau meletakkan kedua tangannya di atas dadanya.” (Hadits


diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah,
Ahmad dari Wail bin Hujur).

Cara-cara yang sesuai sunnah ini dilakukan oleh Imam Ishaq bin
Rahawaih. Imam Mawarzi dalam Kitab Masa’il, halaman 222
berkata: “Imam Ishaq meriwayatkan hadits secara mutawatir
kepada kami…. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika
berdo’a qunut dan melakukan qunut sebeluim ruku’. Beliau
menyedekapkan tangannya berdekatan dengan teteknya.”
Pendapat yang semacam ini juga dikemukakan oleh Qadhi
‘Iyadh al Maliki dalam bab Mustahabatu ash Sholat pada Kitab
Al I’lam, beliau berkata: “Dia meletakkan tangan kanan pada
punggung tangan kiri di dada.”

MEMANDANG TEMPAT SUJUD

Pada saat mengerjakan sholat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi


wasallam menundukkan kepalanya dan mengarahkan
pandangannya ke tempat sujud. Hal ini didasarkan pada hadits
yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak
mengalihkan pandangannya dari tempat sujud (di dalam
sholat).” (HR. Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Larangan menengadah ke langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keras menengadah


ke langit (ketika sholat). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hendaklah sekelompok orang benar-benar menghentikan
pandangan matanya yang terangkat ke langit ketika berdoa
dalam sholat atau hendaklah mereka benar-benar menjaga
pandangan mata mereka.” (HR. Muslim, Nasa’i dan Ahmad).

Rasulullah juga melarang seseorang menoleh ke kanan atau ke kiri


ketika sholat, beliau bersabda: “Jika kalian sholat, janganlah
menoleh ke kanan atau ke kiri karena Allah akan senantiasa
menghadapkan wajah-Nya kepada hamba yang sedang sholat
selama ia tidak menoleh ke kanan atau ke kiri.” (HR. Tirmidzi
dan Hakim).
Dalam Zaadul Ma’aad (I/248) disebutkan bahwa makruh hukumnya
orang yang sedang sholat menolehkan kepalanya tanpa ada
keperluan. Ibnu Abdil Bar berkata, “Jumhur ulama (sebagian
besar ulama)mengatakan bawa menoleh yang ringan tidak
menyebabkan shalat menjadi rusak.”

Juga dimakruhkan shalat dihadapan sesuatu yang bisa merusak


konsentrasi atau di tempat yang ada gambar-gambarnya, diatas
sajadah yang ada lukisan atau ukiran, dihadapan dinding yang
bergambar dan sebagainya.
MEMBACA DO’A ISTIFTAH
Doa istiftah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bermacam-macam. Dalam doa istiftah tersebut beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan pujian, sanjungan
dan kalimat keagungan untuk Allah.

Beliau pernah memerintahkan hal ini kepada orang yang salah


melakukan sholatnya dengan sabdanya: “Tidak sempurna
sholat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian,
mengucapkan kalimat keagungan (doa istiftah), dan membaca
ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya…” (HR. Abu Dawud dan
Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).

Adapun bacaan doa istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu


‘alaihi wasallam diantaranya adalah:

“ALLAHUUMMA BA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA


BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLAAHUMMA
NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS
TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAAHUMMAGHSILNII
BIL MAA’I WATS TSALJI WAL BARADI”

artinya:

“Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku


sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya,
Allah, bersihkanlah kau dari kesalahan-kesalahanku
sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya, Allah
cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan
embun.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

Atau kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga


membaca dalam sholat fardhu:

“WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATARAS SAMAAWAATI WAL


ARDHA HANIIFAN [MUSLIMAN] WA MAA ANA MINAL
MUSYRIKIIN. INNA SHOLATII WANUSUKII WAMAHYAAYA
WAMAMAATII LILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN. LAA SYARIIKALAHU
WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN.
ALLAHUMMA ANTAL MALIKU, LAA ILAAHA ILLA ANTA
[SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA] ANTA RABBII WA ANA
‘ABDUKA, DHALAMTU NAFSII, WA’TARAFTU BIDZAMBI,
FAGHFIRLII DZAMBI JAMII’AN, INNAHU LAA YAGHFIRUDZ
DZUNUUBA ILLA ANTA. WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQI
LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA, WASHRIF ‘ANNII
SAYYI-AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLA ANTA
LABBAIKA WA SA’DAIKA, WAL KHAIRU KULLUHU FII
YADAIKA. WASY SYARRULAISA ILAIKA. [WAL MAHDIYYU
MAN HADAITA]. ANA BIKA WA ILAIKA [LAA MANJAA WALAA
MALJA-A MINKA ILLA ILAIKA. TABAARAKTA WA TA'AALAITA
ASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAIKA"

yang artinya:

"Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta seluruh langit dan bumu


dengan penuh kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-
orang musyrik. Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku
semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sesuatu
pun yang menyekutui-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku
termasuk orang yang pertama-tama menjadi muslim.

Ya Allah, Engkaulah Penguasa, tiada Ilah selain Engkau semata-mata.


[Engkau Mahasuci dan Mahaterpuji], Engkaulah Rabbku dan
aku hamba-Mu, aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui
dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya
hanya Engkaulah yang berhak mengampuni semua dosa.
Berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang paling baik, karena
hanya Engkaulah yang dapat memberi petunjuk kepada akhlaq
yang terbaik dan jauhkanlah diriku dari akhlaq buruk. Aku
jawab seruan-Mu, sedang segala keburukan tidak datang dari-
Mu. [Orang yang terpimpin adalah orang yang Engkau beri
petunjuk]. Aku berada dalam kekuasaan-Mu dan akan kembali
kepada-Mu, [tiada tempat memohon keselamatan dan
perlindungan dari siksa-Mu kecuali hanya Engkau semata].
Engkau Mahamulia dan Mahatinggi, aku mohon ampun kepada-
Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi


Syaibah)

MEMBACA TA’AWWUDZ
Membaca doa ta’awwudz adalah disunnahkan dalam setiap raka’at,
sebagaimana firman Allah ta’ala: “Apabila kamu membaca al
Qur-an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah
dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98).

Dan pendapat ini adalah yang paling shahih dalam madzhab Syafi’i
dan diperkuat oleh Ibnu Hazm (Lihat al Majmuu’ III/323 dan
Tamaam al Minnah 172-177).

Nabi biasa membaca ta’awwudz yang berbunyi:

“A’UUDZUBILLAHI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM MIN HAMAZIHI WA


NAFKHIHI WANAFTSIHI”

artinya:

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari


semburannya (yang menyebabkn gila), dari kesombongannya,
dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan
akhlaq).” (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu
Majah, Daraquthni, Hakim dan dishahkan olehnya serta oleh
Ibnu Hibban dan Dzahabi).

Atau mengucapkan:

“A’UUZUBILLAHIS SAMII’IL ALIIM MINASY SYAITHAANIR RAJIIM…”

artinya:

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha


Mengetahui dari setan yang terkutuk…”

(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan


sanad hasan).

MEMBACA AL FATIHAH
Hukum Membaca Al-Fatihah

Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun


sholat, jadi kalau dalam sholat tidak membaca Al-Fatihah maka
tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam (yang artinya):
“Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak
membaca Al-Fatihah”

(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama’ah: yakni Al-Imam Al-


Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu
Majah).

“Barangsiapa yang sholat tanpa membaca Al-Fatihah maka sholatnya


buntung, sholatnya buntung, sholatnya buntung…tidak
sempurna”

(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah

Jelas bagi kita kalau sedang sholat sendirian (munfarid) maka wajib
untuk membaca Al-Fatihah, begitu pun pada sholat jama’ah
ketika imam membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan)
yakni pada sholat Dhuhur, ‘Ashr, satu roka’at terakhir sholat
Mahgrib dan dua roka’at terakhir sholat ‘Isyak, maka para
makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara
sendiri-sendiri secara sirr (tidak dikeraskan suaranya).

Lantas bagaimana kalau imam membaca secara keras…?

Tentang ini Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa pernah Rasulullah


melarang makmum membaca surat dibelakang imam kecuali
surat Al-Fatihah (maksudnya hanya dibolehkan membaca Al-
Fatihah saat sholat berjamaah, red) :

“Betulkah kalian tadi membaca (surat) dibelakang imam kalian?”


Kami menjawab: “Ya, tapi dengan cepat wahai Rasulullah.”
Berkata Rasul: “Kalian tidak boleh melakukannya lagi kecuali
membaca Al-Fatihah, karena tidak ada sholat bagi yang tidak
membacanya.”

(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhori, Abu Dawud, dan


Ahmad, dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Ad-Daraquthni)
Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum
membaca surat apapun ketika imam membacanya dengan jahr
(diperdengarkan / dikeraskannya suara imam) baik itu Al-
Fatihah maupun surat lainnya. Hal ini selaras dengan
keterangan dari Al-Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal tentang
wajibnya makmum diam bila imam membaca dengan jahr/keras.
Berdasar arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu


‘alaihi wa sallam :”Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh
karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan
apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil
memperhatikan bacaan imam itu)…”

(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no. 603 &
604. Ibnu Majah no. 846, An-Nasa-i. Imam Muslim berkata:
Hadits ini menurut pandanganku Shahih).

“Barangsiapa sholat mengikuti imam (bermakmum), maka bacaan


imam telah menjadi bacaannya juga.”

(Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, Ad-Daraquthni, Ibnu


Majah, Thahawi dan Ahmad lihat kitab Irwa-ul Ghalil oleh Syaikh
Al-Albani).

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam sesudah mendirikan sholat yang beliau keraskan
bacaannya dalam sholat itu, beliau bertanya: “Apakah ada
seseorang diantara kamu yang membaca bersamaku tadi?”
Maka seorang laki-laki menjawab, “Ya ada, wahai Rasulullah.”
Kemudian beliau berkata, “Sungguh aku katakan: Mengapakah
(bacaan)ku ditentang dengan Al-Qur-an (juga).” Berkata Abu
Hurairah, kemudian berhentilah orang-orang dari membaca
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sholat-
sholat yang Rasulullah keraskan bacaannya, ketika mereka
sudah mendengar (larangan) yang demikian itu dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i dan


Malik. Abu Hatim Ar Razi menshahihkannya, Imam Tirmidzi
mengatakan hadits ini hasan).
Hadits-hadits tersebut merupakan dalil yang tegas dan kuat tentang
wajib diamnya makmum apabila mendengar bacaan imam, baik
Al-Fatihahnya maupun surat yang lain. Selain itu juga
berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya):

“Dan apabila dibacakan Al-Qur-an hendaklah kamu dengarkan ia dan


diamlah sambil memperhatikan (bacaannya), agar kamu diberi
rahmat.” (Al-A’raaf : 204).

Ayat ini asalnya berbentuk umum yakni dimana saja kita mendengar
bacaan Al-Qur-an, baik di dalam sholat maupun di luar sholat
wajib diam mendengarkannya walaupun sebab turunnya
berkenaan tentang sholat. Tetapi keumuman ayat ini telah
menjadi khusus dan tertentu (wajibnya) hanya untuk sholat,
sebagaimana telah diterangkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id
bin Jubair, Adh Dhohak, Qotadah, Ibarahim An Nakha-i,
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain. Lihat Tafsir Ibnu
Katsir II/280-281.

Cara Membaca Al Fatihah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Fatihah pada


setiap roka’at. Membacanya dengan berhenti pada setiap akhir
ayat (waqof), tidak menyambung satu ayat dengan ayat
berikutnya (washol) berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud,
Sahmi dan ‘Amr Ad Dani, dishahihkan oleh Hakim, disetujui
Adz-Dzahabi.

Jadi bunyinya:

kemudian berhenti,

kemudian berhenti,

Begitulah seterusnya sampai selesai ayat yang terakhir.

Terkadang beliau membaca: ( MAALIKI YAUMIDDIIN )

Atau dengan memendekkan bacaan ‘maa’ menjadi: ( MALIKI


YAUMIDDIIN ), Berdasarkan riwayat yang mutawatir dikeluarkan
oleh Tamam Ar Razi, Ibnu Abi Dawud, Abu Nu’aim, dan Al
Hakim. Hakim menshahihkannya, dan disetujui oleh Adz-
Dzahabi.

Seandainya Seseorang Belum Hafal Al-Fatihah


Bagi seseorang yang belum hafal Al Fatihah terutama bagi yang baru
masuk Islam, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memberikan solusinya. Nasehatnya untuk orang yang belum
hafal Al-Fatihah (tentunya dia tak berhak jadi Imam):

Ucapkanlah:

SUBHANALLAHI, WALHAMDULILLAHI, WA LAA ILAHA ILLALLAHU,


WALLAHU AKBAR, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA
BILLAHI

artinya:

“Maha Suci Allah, Segala puji milik Allah, tiada Ilah (yang haq) kecuali
Allah, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali
karena pertolongan Allah.”

(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud, Ibnu


Khuzaimah, Hakim, Thabrani dan Ibnu Hibban disahihkan oleh
Hakim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Jika kamu hafal suatu ayat Al-Qur-an maka bacalah ayat tersebut,
jika tidak maka bacalah Tahmid, Takbir dan Tahlil.” (Hadits
dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dihasankan oleh
At-Tirmidzi, tetapi sanadnya shahih, baca Shahih Abi Dawud
hadits no. 807).

MEMBACA AMIN

Hukum Bagi Imam:

Membaca amin disunnahkan bagi imam sholat.

Dari Abu hurairah, dia berkata: “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam, jika selesai membaca surat Ummul Kitab (Al-Fatihah)
mengeraskan suaranya dan membaca amin.”

(Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-


Daraquthni dan Ibnu Majah, oleh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-
Shahihah dikatakan sebagai hadits yang berkualitas shahih)

“Bila Nabi selesai membaca Al-Fatihah (dalam sholat), beliau


mengucapkan amiin dengan suara keras dan panjang.”
(Hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud)

Hadits tersebut mensyari’atkan para imam untuk mengeraskan


bacaan amin, demikian yang menjadi pendapat Al-Imam Al-
Bukhari, As-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan para imam fikih lainnya.
Dalam shahihnya Al-Bukhari membuat suatu bab dengan judul
‘baab jahr al-imaan bi al-ta-miin’ (artinya: bab tentang imam
mengeraskan suara ketika membaca amin). Didalamnya dinukil
perkataan (atsar) bahwa Ibnu Al-Zubair membaca amin bersama
para makmum sampai seakan-akan ada gaung dalam
masjidnya.

Juga perkataan Nafi’ (maula Ibnu Umar): Dulu Ibnu Umar selalu
membaca aamiin dengan suara yang keras. Bahkan dia
menganjurkan hal itu kepada semua orang. Aku pernah
mendengar sebuah kabar tentang anjuran dia akan hal itu.”

Hukum Bagi Makmum:

Dalam hal ini ada beberapa petunjuk dari Nabi (Hadits), atsar para
shahabat dan perkataan para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika imam


membaca amiin maka hendaklah kalian juga membaca amiin.”

Hal ini mengisyaratkan bahwa membaca amiin itu hukumnya wajib


bagi makmum. Pendapat ini dipertegas oleh Asy-Syaukani.
Namun hukum wajib itu tidak mutlak harus dilakukan oleh
makmum. Mereka baru diwajibkan membaca amiin ketika imam
juga membacanya. Adapun bagi imam dan orang yang sholat
sendiri, maka hukumnya hanya sunnah. (lihat Nailul Authaar,
II/262).

“Bila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi ‘alaihim


waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin [karena malaikat juga
mengucapkan amiin dan imam pun mengucapkan amiin]. Dalam
riwayat lain: “(apabila imam mengucapkan amiin, hendaklah
kalian mengucapkan amiin) barangsiapa ucapan aminnya
bersamaan dengan malaikat, (dalam riwayat lain disebutkan:
“bila seseorang diantara kamu mengucapkan amin dalam
sholat bersamaan dengan malaikat dilangit mengucapkannya),
dosa-dosanya masa lalu diampuni.”
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i dan
Ad-Darimi)

Syaikh Al-Albani mengomentari masalah ini sebagai berikut:

“Aku berkata: Masalah ini harus diperhatikan dengan serius dan tidak
boleh diremehkan dengan cara meninggalkannya. Termasuk
kesempurnaan dalam mengerjakan masalah ini adalah dengan
membarengi bacaan amin sang imam, dan tidak
mendahuluinya. (Tamaamul Minnah hal. 178

BACAAN SURAT SETELAH AL FATIHAH


Membaca surat Al Qur-an setelah membaca Al Fatihah dalan sholat
hukumnya sunnah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam membolehkan tidak membacanya. Membaca surat Al-
Qur-an ini dilakukan pada dua roka’at pertama. Banyak hadits
yang menceritakan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
tentang itu.

Panjang pendeknya surat yang dibaca

Pada sholat munfarid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


membaca surat-surat yang panjang kecuali dalam kondisi sakit
atau sibuk, sedangkan kalau sebagai imam disesuaikan dengan
kondisi makmumnya (misalnya ada bayi yang menangis maka
bacaan diperpendek).

Rasulullah bersabda “Aku melakukan sholat dan aku ingin


memperpanjang bacaannya akan tetapi, tiba-tiba aku
mendengar suara tangis bayi sehingga aku memperpendek
sholatku karena aku tahu betapa gelisah ibunya karena tangis
bayi itu.”

(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Cara membaca surat

Dalam satu sholat terkadang beliau membagi satu surat dalam dua
roka’at, kadang pula surat yang sama dibaca pada roka’at
pertama dan kedua. (berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al-
Imam Ahmad dan Abu Ya’la, juga hadits shahih yang
dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud dan Al-Baihaqi atau
riwayat dari Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, disahkan
oleh Al-Hakim disetujui oleh Ad-Dzahabi)
Terkadang beliau membolehkan membaca dua surat atau lebih dalam
satu roka’at.(Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-
Bukhari dan At-Tirmidzi, dinyatakan oleh At-Tirmidzi sebagai
hadits shahih)

Tata cara bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya membaca surat dengan


jumlah ayat yang berimbang antara roka’at pertama dengan
roka’at kedua. (berdasar hadits shahih dikeluarkan oleh Al-
Bukhari dan Muslim)

Dalam sholat yang bacaannya di-jahr-kan Nabi membaca dengan


keras dan jelas. Tetapi pada sholat dzuhur dan ashar juga pada
sholat maghrib pada roka’at ketiga ataupun dua roka’at terakhir
sholat isya’ Nabi membacanya dengan lirih yang hanya bisa
diketahui kalau Nabi sedang membaca dari gerakan jenggotnya,
tetapi terkadang beliau memperdengarkan bacaannya kepada
mereka tapi tidak sekeras seperti ketika di-jahr-kan.
(Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari,
Muslim dan Abu Dawud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering membaca suatu surat


dari awal sampai selesai selesai. Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata: “Berikanlah setiap surat haknya, yaitu dalam
setiap (roka’at) ruku’ dan sujud.” (Hadits dikeluarkan oleh Al
Imam Ibnu Abi Syaibah, Ahmad dan ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi)

Dalam riwayat lain disebutkan: “Untuk setiap satu surat (dibaca)


dalam satu roka’at.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ibnu
Nashr dan At-Thohawi)

Dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani: “Seyogyanya kalian membaca satu


surat utuh dalam setiap satu roka’at sehingga roka’at tersebut
memperoleh haknya dengan sempurna.” Perintah dalam hadits
tersebut bersifat sunnah bukan wajib.

Dalam membaca surat Al-Qur-an, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam melakukannya dengan tartil, tidak lambat juga tidak
cepat -sebagaimana diperintahkan oleh Allah- dan beliau
membaca satu per satu kalimat, sehingga satu surat
memerlukan waktu yang lebih panjang dibanding kalau dibaca
biasa (tanpa dilagukan). Rasulullah bersabda bahwa orang
yang membaca Al-Qur-an kelak akan diseru:
“Bacalah, telitilah dan tartilkan sebagaimana kamu dulu mentartilkan
di dunia, karena kedudukanmu berada di akhir ayat yang
engkau baca.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud
dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Qur-an


dengan suara yang bagus, maka beliau juga memerintahkan
yang demikian itu:

“Perindahlah/hiasilah Al-Qur-an dengan suara kalian [karena suara


yang bagus menambah keindahan Al-Qur-an].” (Hadits
dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari , Abu Dawud, Ad-Darimi,
Al-Hakim dan Tamam Ar-Razi)

“Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur-


an.” (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim,
dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

RUKU’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah selesai membaca
surat dari Al-Qur-an kemudian berhenti sejenak, terus
mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir seperti ketika
takbiratul ihrom (setentang bahu atau daun telinga) kemudian
rukuk (merundukkan badan kedepan dipatahkan pada
pinggang, dengan punggung dan kepala lurus sejajar lantai).
Berdasarkan beberapa hadits, salah satunya adalah:

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dalam sholat
mengangkat kedua tangannya sampai setentang kedua
bahunya, hal itu dilakukan ketika bertakbir hendak rukuk dan
ketika mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku’ ….”

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari, Muslim dan Malik)

Cara Ruku’

> Bila Rasulullah ruku’ maka beliau meletakkan telapak tangannya


pada lututnya, demikian beliau juga memerintahkan kepada
para shahabatnya.
“Bahwasanya shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika ruku’) meletakkan
kedua tangannya pada kedua lututnya.” Hadits dikeluarkan
oleh Al Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud)

> Menekankan tangannya pada lututnya.

“Jika kamu ruku’ maka letakkan kedua tanganmu pada kedua lututmu
dan bentangkanlah (luruskan) punggungmu serta tekankan
tangan untuk ruku’.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad
dan Abu Dawud)

> Merenggangkan jari-jemarinya

“Beliau merenggangkan jari-jarinya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al


Imam Al-Hakim dan dia menshahihkannya, Adz-Dzahabi dan At-
Thayalisi menyetujuinya)

> Merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya.

“Beliau bila ruku’, meluruskan dan membentangkan punggungnya


sehingga bila air dituangkan di atas punggung beliau, air
tersebut tidak akan bergerak.” (Hadits di keluarkan oleh Al
Imam Thabrani, ‘Abdullah bin Ahmad dan ibnu Majah)

> Antara kepala dan punggung lurus, kepala tidak mendongak tidak
pula menunduk tetapi tengah-tengah antara kedua keadaan
tersebut

“Beliau tidak mendongakkan kepalanya dan tidak pula


menundukkannya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Abu
Dawud dan Bukhari)

“Sholat seseorang sempurna sebelum dia melakukan ruku’ dan sujud


dengan meluruskan punggungnya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al
Imam Abu ‘Awwanah, Abu Dawud dan Sahmi dishahihkan oleh
Ad-Daraquthni)

> Thuma-ninah/Bersikap Tenang


Beliau pernah melihat orang yang ruku’ dengan tidak sempurna dan
sujud seperti burung mematuk, lalu berkata: “Kalau orang ini
mati dalam keadaan seperti itu, ia mati diluar agama
Muhammad [sholatnya seperti gagak mematuk makanan]
sebagaimana orang ruku’ tidak sempurna dan sujudnya cepat
seperti burung lapar yang memakan satu, dua biji kurma yang
tidak mengenyangkan.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu
Ya’la, Al-Ajiri, Al-Baihaqi, Adh-Dhiya’ dan Ibnu Asakir dengan
sanad shahih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

> Memperlama Ruku’

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan ruku’, berdiri setelah


ruku’ dan sujudnya juga duduk antara dua sujud hampir sama
lamanya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan
Muslim)

Yang Dibaca Ketika Ruku’

Do’a yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada


beberapa macam, semuanya pernah dibaca oleh beliau jadi
kadang membaca ini kadang yang lain.

1. SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIM 3 kali atau lebih (Berdasar hadits


yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah
dan lain-lain).

Yang artinya:

“Maha Suci Rabbku, lagi Maha Agung.”

2. SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIMI WA BIHAMDIH 3 kali (Berdasar


hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Ad-
Daroquthni dan Al-Baihaqi).

Yang artinya:

“Maha Suci Rabbku lagi Maha Agung dan segenap pujian bagi-Nya.”

3. SUBBUUHUN QUDDUUSUN RABBUL MALA-IKATI WAR RUUH


(Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan
Abu ‘Awwanah).

Yang artinya:
“Maha Suci, Maha Suci Rabb para malaikat dan ruh.”

4. SUBHAANAKALLAHUMMA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII

Yang artinya:

“Maha Suci Engkau ya, Allah, dan dengan memuji-Mu Ya, Allah
ampunilah aku.”

Berdasarkan hadits dari ‘A-isyah, bahwasanya dia berkata:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak membaca


Subhanakallahumma Wa Bihamdika Allahummaghfirlii dalam
ruku’nya dan sujudnya, beliau mentakwilkan Al-Qur-an.”
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim).

Do’a ini yang paling sering dibaca. Dikatakan bahwa ada riwayat dari
‘A-isyah yang menunjukkan bahwa Rasulullah sejak turunnya
surat An-Nashr -yang artinya: “Hendaklah engkau
mengucapkan tasbih dengan memuji Rabbmu dan memohon
ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.”
(TQS. An-Nashr 110:3)-, waktu ruku’ dan sujud beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membaca do’a ini hingga
wafatnya.

5. Dan lain-lain sesuai dengan hadits-hadits dari Nabi shallallahu


‘alaihi wa sallam.

Yang Dilarang Ketika Ruku’

Larangan disini adalah larangan dari Rasulullah bahwa sewaktu ruku’


kita tidak boleh membaca Al-Qur-an. Berdasarkan hadits:

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membaca


Al-Qur-an dalam ruku’ dan sujud.” (Hadits dikeluarkan oleh Al
Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah)

“Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur-an sewaktu ruku’


dan sujud…” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan
Abu ‘Awwanah

I’TIDAL DARI RUKU’ (Bangkit dari Ruku’)


Cara i’tidal dari ruku’
Setelah ruku’ dengan sempurna dan selesai membaca do’a, maka
kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal). Waktu bangkit tersebut
membaca (SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH) disertai dengan
mengangkat kedua tangan sebagaimana waktu takbiratul ihrom.
Hal ini berdasarkan keterangan beberapa hadits, diantaranya:

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dalam sholat
mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua
pundaknya, hal itu dilakukan ketika bertakbir mau rukuk dan
ketika mengangkat kepalanya (bangkit ) dari ruku’ sambil
mengucapkan SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH…” (Hadits
dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Malik).

Yang Dibaca Ketika I’tidal dari Ruku’

Seperti ditunjuk hadits di atas ketika bangkit (mengangkat kepala)


dari ruku’ itu membaca: (SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH)

Kemudian ketika sudah tegak dan selesai bacaan tersebut disahut


dengan bacaan:

RABBANAA LAKAL HAMD (Rabbku, segala puji kepada-Mu)

atau

RABBANAA WA LAKAL HAMD (Rabbku dan segala puji kepada-Mu)

atau

ALLAAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMD (Ya, Allah, Rabbku, segala


puji kepada-Mu)

atau

ALLAAHUMMA RABBANAA WA LAKAL HAMD (Ya, Allah, Rabbku


dan segala puji kepada-Mu)

Dalilnya adalah hadits dari Abu Hurairah:


“Apabila imam mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, maka
ucapkanlah oleh kalian ALLAHUMMA RABBANA WA
LAKALHAMD, barangsiapa yang ucapannya tadi bertepatan
dengan ucapan para malaikat diampunkan dosa-dosanya yang
telah lewat.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, At-Ztirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan Malik)

Kadang ditambah dengan bacaan:

MIL-ASSAMAAWAATI, WA MIL-ALARDHL, WA MIL-A MAA SYI-TA


MIN SYAI-IN BA’D

(Mencakup seluruh langit dan seluruh bumi dan segenap yang


Engkau kehendaki selain dari itu)

berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah.

Dan Do’a lain-lain

Cara I’tidal (Berdiri Tegak Setelah Bangkit dari Ruku’ )

Adapun dalam tata cara i’tidal ulama berbeda pendapat menjadi dua
pendapat, pertama mengatakan sedekap dan yang kedua
mengatakan tidak bersedekap tapi melepaskannya. (Dalam
tulisan ini kami hindarkan dahulu pendapat mana yang paling
rajih untuk diikuti, hendaknya ini dijadikan tantangan dan
mendorong semangat kita untuk meneliti secara ilmiah diantara
pendapat yang akan kita ikuti, red). Bagi yang hendak
mengerjakan pendapat yang pertama tidak apa-apa dan bagi
siapa yang mengerjakan sesuai dengan pendapat kedua tidak
mengapa.

Keterangan untuk pendapat pertama: Kembali meletakkan tangan


kanan diatas tangan kiri atau menggenggamnya dan
menaruhnya di dada, ketika telah berdiri. Hal ini berdasarkan
nash dibawah ini:

Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam An-Nasa-i yang artinya: “Ia (Wa-il


bin Hujr) berkata: “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam apabila beliau berdiri dalam sholat, beliau memgang
tangan kirinya dengan tangan kanannya.”
Berkata Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya: “Telah menceritakan
kepada kami Abdullah bin Maslamah, ia berkata dari Malik, ia
berkata dari Abu Hazm, ia berkata dari Sahl bin Sa’d ia berkata:
“Adalah orang-orang (para shahabat) diperintah (oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ) agar seseorang meletakkan
tangan kanannya atas lengan kirinya dalam sholat.” Komentar
Abu Hazm: “Saya tidak mengetahui perintah tersebut kecuali
disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .”

Komentar dari Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baaz (termaktub
dalam fatwanya yang dimuat dalam majalah Rabithah ‘Alam
Islamy, edisi Dzulhijjah 1393 H/Januari 1974 M, tahun XI): “Dari
hadits shahih ini ada petunjuk diisyaratkan meletakkan tangan
kanan atas tangan kiri ketika seorang Mushalli (orang yang
sholat) tengah berdiri baik sebelum ruku’ maupun sesudahnya.
Karena Sahl menginformasikan bahwa para shahabat
diperintahkan untuk meletakkan tangan kanannya atas lengan
kirinya dalam sholat. Dan sudah dimengerti bahwa Sunnah
(Nabi) menjelaskan orang sholat dalam ruku’ meletakkan kedua
telapak tangangnya pada kedua lututnya, dan dalam sujud ia
meletakkan kedua telapak tangannya pada bumi (tempat sujud)
sejajar dengan keddua bahunya atau telinganya, dan dalam
keadaan duduk antara dua sujud begitu pun dalam tasyahud ia
meletakkannya di atas kedua pahanya dan lututnya dengan dalil
masing-masing secara rinci. Dalam rincian Sunnah tersebut
tidak tersisa kecuali dalam keadaan berdiri. Dengan demikian
dapatlah dimengerti bahwasanya maksud dari hadits Sahl
diatas adalah disyari’atkan bagi Mushalli ketika berdiri dalam
sholat agar meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya.
Sama saja baik berdiri sebelum ruku’ maupun sesudahnya.
Karena tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
membedakan antara keduanya, oleh karena itu barangsiapa
membedakan keduanya haruslah menunjukkan dalilnya.
(Kembali pada kaidah ushul fiqh: “asal dari ibadah adalah
haram kecuali ada penunjukannya” -per.)

Disamping itu ada pula ketetapan dari hadits Wa-il bin Hujr pada
riwayat An-Nasa-i dengan sanad yang shahih: Bahwasanya
apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dalam
sholat beliau memegang tangan kirinya dengan tangan
kanannya.”
(Sedangkan Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi dalam
salah satu ceramah menegaskan pendapat yang diikutinya agar
melepaskan tangan (tidak bersedekap) atau meluruskan tangan
ke bawah saat bangkit dari ruku’ (i’tidal), red. Dan untuk
mendengarkan ceramah mengenai hal ini beliau silahkan klik
link ceramah beliau di blog www.kajian sunnah.wordpress.com
DISINI)

Thuma-ninah dan Memperlama Dalam I’tidal

“Kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri dengan tegak


[sehingga tiap-tiap ruas tulang belakangmu kembali pata
tempatnya].” (dalam riwayat lain disebutkan: “Jika kamu berdiri
i’tidal, luruskanlah punggungmu dan tegakkanlah kepalamu
sampai ruas tulang punggungmu mapan ke tempatnya).”
(Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, dan
riwayat lain oleh Ad-Darimi, Al-Hakim, As-Syafi’i dan Ahmad)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri terkadang dikomentari


oleh shahabat: “Dia telah lupa” [karena saking lamanya
berdiri]. (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim
dan Ahmad)

SUJUD
Sujud dilakukan setelah i’tidal thuma-ninah dan jawab tasmi’
(Rabbana Lakal Hamd…dst).

Caranya

Dengan tanpa atau kadang-kadang dengan mengangkat kedua


tangan (setentang pundak atau daun telinga) seraya bertakbir,
badan turun condong kedepan menuju ke tempat sujud, dengan
meletakkan kedua lutut terlebih dahulu (lihat gambar) baru
kemudian meletakkan kedua tangan (lihat gambar) pada tempat
kepala diletakkan dan kemudian meletakkan kepala kepala
dengan menyentuhkan/ menekankan hidung dan jidat/ kening/
dahi ke lantai (tangan sejajar dengan pundak atau daun
telinga).
Dari Wail bin Hujr, berkat, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam ketika hendak sujud meletakkan kedua lututnya
sebelum kedua tangannya dan apabila bangkit mengangkat dua
tangan sebelum kedua lututnya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al
Imam Abu Dawud, Tirmidzi An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ad-
Daarimy)

“Terkadang beliau mengangkat kedua tangannya ketika hendak


sujud.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam An-Nasa’i dan
Daraquthni)

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya


[dan membentangkan] serta merapatkan jari-jarinya dan
menghadapkannya ke arah kiblat.” (Hadits dikeluarkan oleh Al
Imam Abu Dawud, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

“Beliau meletakkan tangannya sejajar dengan bahunya” (Hadits


dikeluarkan oleh Al Imam Tirmidzi)

“Terkadang beliau meletakkan tangannya sejajar dengan daun


telinganya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam An-Nasa’i)

Cara Sujud

>Bersujud pada 7 anggota badan , yakni jidat/kening/dahi dan hidung


(1), dua telapak tangan (3), dua lutut (5) dan dua ujung kaki (7).
Hal ini berdasar hadits:

Dari Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:


“Aku diperintah untuk bersujud (dalam riwayat lain; Kami
diperintah untuk bersujud) dengan tujuh (7) anggota badan;
yakni kening sekaligus hidung, dua tangan (dalam lafadhz lain;
dua telapak tangan), dua lutut, jari-jari kedua kaki dan kami
tidak boleh menyibak lengan baju dan rambut kepala.” (Hadits
dikeluarkan oleh Al-Jama’ah)

> Dilakukan dengan menekan

“Apabila kamu sujud, sujudlah dengan menekan.” (Hadits


dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kedua lututnya


dan bagian depan telapak kaki ke tanah.” (Hadits dikeluarkan
oleh Al Imam Al-Baihaqi)
>Kedua lengan/siku tidak ditempelkan pada lantai, tapi diangkat dan
dijauhkan dari sisi rusuk/lambung.

Dari Abu Humaid As-Sa’diy, bahwasanya Nabi shalallau ‘alaihi


wasallam bila sujud maka menekankan hidung dan dahinya di
tanah serta menjauhkan kedua tangannya dari dua sisi
perutnya, tangannya ditaruh sebanding dua bahu beliau.”
(Diriwayatkan oleh Al Imam At-Tirmidzi)

Dari Anas bin Malik, dari Nabi shalallau ‘alaihi wasallam bersabda:

“Luruskanlah kalian dalam sujud dan jangan kamu menghamparkan


kedua lengannya seperti anjing menghamparkan kakinya.”
(Diriwayatkan oleh Al-Jama’ah kecuali Al Imam An-Nasa-i,
lafadhz ini bagi Al Imam Al-Bukhari)

“Beliau mengangkat kedua lengannya dari lantai dan menjauhkannya


dari lambungnya sehingga warna putih ketiaknya terlihat dari
belakang” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan
Muslim)

> Menjauhkan perut/lambung dari kedua paha

Dari Abi Humaid tentang sifat sholat Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa


sallam berkata: “Apabila dia sujud, beliau merenggangkan
antara dua pahanya (dengan) tidak menopang perutnya.”
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

> Merapatkan jari-jemari

Dari Wa-il, bahwasanya Nabi shalallau ‘alaihi wasallam jika sujud


maka merapatkan jari-jemarinya. (Diriwayatkan oleh Al Imam
Al-Hakim)

> Menegakkan telapak kaki dan saling merapatkan/ menempelkan


antara dua tumit

Berkata ‘A-isyah isteri Nabi shalallau ‘alaihi wasallam: “Aku


kehilangan Rasulullah shalallau ‘alaihi wasallam padahal beliau
tadi tidur bersamaku, kemudian aku dapati beliau tengah sujud
dengan merapatkan kedua tumitnya (dan) menghadapkan
ujung-ujung jarinya ke kiblat, aku dengar…” (Diriwayatkan
oleh Al Imam Al-Hakim dan Ibnu Huzaimah)

> Thuma-ninah dan sujud dengan lama


Sebagaimana rukun sholat yang lain mesti dikerjakan dengan thuma-
ninah. Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau
bersujud baiasanya lama.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan ruku’, berdiri setelah


ruku’ dan sujudnya juga duduk antara dua sujud hampir sama
lamanya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan
Muslim

Sujud Langsung Pada Tanah atau Boleh Di Atas Alas

“Para shahabat sholat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu


‘alaihi wa sallam pada cuaca yang panas. Bila ada yang tidak
sanggup menekankan dahinya di atas tanah maka
membentangkan kainnya kemudian sujud di atasnya” (Hadits
dikeluarkan oleh Al Imam Muslim)

Bacaan Sujud

Rasulullah membaca

SUBHAANA RABBIYAL A’LAA 3 kali

(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dll)

atau kadang-kadang membaca

SUBHAANA RABBIYAL A’LAA WA BIHAMDIH, 3 kali

(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dll)

atau

SUBHAANAKALLAAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA


ALLAAHUMMAGHFIRLII

(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan


Muslim)

Bacaan Yang Dilarang Selama Sujud

“Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur-an sewaktu ruku’


dan sujud…” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan
Abu ‘Awwanah).
BANGUN DARI SUJUD PERTAMA
Setelah sujud pertama -dimana dalam setiap roka’at ada dua sujud-
maka kemudian bangun untuk melakukan duduk diantara dua
sujud. Dalam bangun dari sujud ini disertai dengan takbir dan
kadang mengangkat tangan (Berdasar hadits dari Ahmad dan
Al-Hakim).

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari sujudnya seraya


bertakbir” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

DUDUK ANTARA DUA SUJUD


Duduk ini dilakukan antara sujud yang pertama dan sujud yang
kedua, pada roka’at pertama sampai terakhir. Ada dua macam
tipe duduk antara dua sujud, duduk iftirasy (duduk dengan
meletakkan pantat pada telapak kaki kiri dan kaki kanan
ditegakkan) dan duduk iq’ak (duduk dengan menegakkan kedua
telapak kaki dan duduk diatas tumit). Hal ini berdasar hadits:

Dari ‘A-isyah berkata: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki
yang kanan, baliau melarang dari duduknya syaithan.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim)

*Komentar Syaikh Al-Albani: duduknya syaithan adalah dua telapak


kaki ditegakkan kemudian duduk dilantai antara dua kaki
tersebut dengan dua tangan menekan dilantai.

Dari Rifa’ah bin Rafi’ -dalam haditsnya- dan berkata Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam : “Apabila engkau sujud maka tekankanlah
dalam sujudmu lalu kalau bangun duduklah di atas pahamu
yang kiri.” (Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud
dengan lafadhz Abu Dawud)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang duduk iq’ak, yakni


[duduk dengan menegakkan telapak dan tumit kedua kakinya].
(Hadits dikeluarkan oleh Muslim)

Waktu duduk antara dua sujud ini telapak kaki kanan ditegakkan dan
jarinya diarahkan ke kiblat:

Beliau menegakkan kaki kanannya (Al-Bukhari)


Menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat (An-Nasa-i)

Bacaannya

RABBIGHFIRLII, RABBIGHFIRLII

Dari Hudzaifah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


mengucapkan dalam sujudnya (dengan do’a): Rabighfirlii,
Rabbighfirlii. (Hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu
Majah dengan lafadhz Ibnu Majah)

ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WA ‘AAFINII WAHDINII


WARZUQNII (Abu Dawud)

ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARZUQNII


WARFA’NII (Ibnu Majah)

ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAHDINII


WARZUQNII (At-Tirmidzi)

MENUJU ROKA’AT BERIKUTNYA


Pada masalah ini ada dua tempat/kondisi, yaitu bangkit menuju
roka’at berikut dari posisi sujud kedua -pada akhir roka’at
pertama dan ketiga- dan bangkit dari posisi duduk tasyahhud
awal -pada roka’at kedua.

> Bangkit/bangun dari sujud untuk berdiri (dari akhir roka’at pertama
dan ketiga) didahului dengan duduk istirahat atau tanpa duduk
istirahat, bangkit berdiri seraya bertakbir tanpa mengangkat
kedua tangan. Ketika bangkit bisa dengan tangan bertumpu
pada lantai atau bisa juga bertumpu pada pahanya.

Tangan bertumpu pada satu pahanya

Dari Wail bin Hujr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,berkata (Wa-
il); “Maka tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud dia
meletakkan kedua lututnya ke lantai sebelum meletakkan kedua
tangannya; Berkata (Wa-il): Bila sujud maka …..dan apabila
bangkit dia bangkit atas kedua lututnya dengan bertumpu pada
satu paha.” (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud)

Tangan bertumpu pada lantai (tempat sujud)


Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertumpu pada lantai
ketika bangkit ke roka’at kedua. (Hadits dikeluarkan oleh Al-
Bukhari)

Duduk istirahat sebentar sebelum bangkit berdiri

Dari Malik bin Huwairits bahwasanya dia melihat Nabi shallallahu


‘alaihi wa sallam sholat, maka bila pada roka’at yang ganjil
tidaklah beliau bangkit sampai duduk terlebih dulu dengan
lurus.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Abu Dawud dan
At-Tirmidzi)

> Bangkit dari duduk tasyahhud awwal (dari roka’at kedua) dengan
mengangkat kedua tangan seraya bertakbir seperti pada
takbiratul ihram.

Mengangkat tangan ketika takbir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangkit dari duduknya


mengucapkan takbir, kemudian berdiri (Hadits dikeluarkan oleh
Abu Ya’la)

DUDUK TASYAHHUD AWWAL DAN TASYAHHUD AKHIR


Tasyahhud awwal dan duduknya merupakan kewajiban dalam sholat

Tempat dilakukannya

Duduk tasyahhud awwal terdapat hanya pada sholat yang jumlah


roka’atnya lebih dari dua (2), pada sholat wajib dilakukan pada
roka’at yang ke-2. Sedang duduk tasyahhud akhir dilakukan
pada roka’at yang terakhir. Masing-masing dilakukan setelah
sujud yang kedua.

Cara duduk tasyahhud awwal dan tasyahhud akhir

Waktu tasyahhud awwal duduknya iftirasy (duduk diatas telapak kaki


kiri) sedang pada tasyahhud akhir duduknya tawaruk (duduk
dengan kaki kiri dihamparkan kesamping kanan dan duduk
diatas lantai), pada masing-masing posisi kaki kanan
ditegakkan.
Dari Abi Humaid As-Sa’idiy tentang sifat sholat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, dia berkat, “Maka apabila Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dalam dua roka’at (-
tasyahhud awwal) beliau duduk diatas kaki kirinya dan bila
duduk dalam roka’at yang akhir (-tasyahhud akhir) beliau
majukan kaki kirinya dan duduk di tempat kedudukannya (lantai
dll).” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

Letak tangan ketika duduk

Untuk kedua cara duduk tersebut tangan kanan ditaruh di paha kanan
sambil berisyarat (menegakkan jari telunjuk, red) dan/atau
menggerak-gerakkan jari telunjuk dan penglihatan ditujukan
kepadanya, sedang tangan kirinya ditaruh/terhampar di paha
kiri.

Dari Ibnu ‘Umar berkata Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila


duduk didalam shalat meletakkan dua tangannya pada dua
lututnya dan mengangkat telunjuk yang kanan lalu berdoa
dengannya sedang tangannya yang kiri diatas lututnya yang
kiri, beliau hamparkan padanya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al
Imam Muslim dan Nasa-i).

Berisyarat dengan telunjuk, bisa digerakkan bisa tidak

(Sehubungan adanya perbedaan pendapat antara mendiamkan


telunjuk yang ditegakkan dengan pendapat menggerak-
gerakkan telunjuk, maka dalam blog ini tidak ditentukan mana
pilihan yang sebaiknya diikuti. Hendaknya hal ini menjadi
dorongan semangat untuk mencari tahu dalil-dalil yang akan
kita ikuti, red). Selama melakukan duduk tasyahhud awwal
maupun tasyahhud akhir, berisyarat dengan telunjuk kanan,
disunnahkan menggerak-gerakkannya. Kadang pada suatu
sholat digerakkan pada sholat lain boleh juga tidak digerak-
gerakkan.

“Kemudian beliau duduk, maka beliau hamparkan kakinya yang kiri


dan menaruh tangannya yang kiri atas pahanya dan lututnya
yang kiri dan ujung sikunya diatas paha kanannya, kemudian
beliau menggenggam jari-jarinya dan membuat satu lingkaran
kemudian mengangkat jari beliau maka aku lihat beliau
menggerak-gerakkannya berdo’a dengannya.” (Hadits
dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa-i).
“Dari Abdullah Bin Zubair bahwasanya ia menyebutkan bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jarinya ketika
berdoa dan tidak menggerakannya.” (Hadits dikeluarkan oleh
Al Imam Abu Dawud).

Membaca do’a At-Tahiyyaat dan As-Sholawaat

Do’a tahiyyat ini ada beberapa versi, untuk itu hendaklah dipilih yang
kuat dan lafadhznya belum ditambah-tambah. Salah satu
contoh riwayat yang baik adalah sebagai berikut:

Dari Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda


bahwa apabila shalat hendak mengucapkan:

“AT-TAHIYYAATU LILLAHI WAS SHOLAWATU WAT THAYYIBAAT,


AS-SALAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIY WA RAHMATULLAHI
WA BARAKATUHU, AS-SALAAMU ‘ALAINA WA ‘ALAA
‘IBAADILLAHIS SHALIHIN. ASYHADU ALLAA ILAHA ILLALLAH
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA
RASULUHU”

artinya: segala kehormatan, shalawat dann kebaikan kepunyaan


Allah, semoga keselamatan terlimpah atasmu wahai Nabi dan
juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Kiranya keselamatan tetap
atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih; karena
sesungguhnya apabila kalian mengucapkan sudah mengenai
semua hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi- Aku
bersaksi bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah
dan aku bersaksi bahwasanya Muhammmad itu hamba daan
utusan-Nya. (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhari).

Dari Ka’ab bin Ujrah berkata : “Maukah aku hadiahkan kepadamu


sesuatu ? Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
datang kepada kami, maka kami berkata : ‘Ya Rasulullah kami
sudah tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu,
lantas bagaimana kami harus bershalawat kepadamu? Beliau
berkata : ucapkanlah:

“ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI


MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAHIIM,
INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA
MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BARAKTA
‘ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.”
artinya: “Ya Allah berikanlah Shalawat kepada Muhammad dan
keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan
shalawat kepada keluarga Ibarahim, sesungguhnya Engkau
Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah berkahilah Muhammad
dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah
memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji dan Maha Agung.”

(Sehubungan adanya perbedaan pendapat apakah pada tasyahud


awwal sebaiknya membaca sholawat (sebagian ataupun
secara lengkap) dengan pendapat yang menyatakan tidak
membaca sholawat pada tasyahud awwal, maka dalam blog ini
tidak ditentukan dahulu mana pilihan yang sebaiknya diikuti.
Hendaknya hal ini menjadi dorongan semangat untuk mencari
tahu dalil-dalil yang akan kita ikuti, red).

Berdo’a berlindung dari empat (4) hal.

Hal ini dilakukan pada duduk tasyahhud akhir saja.

…..Apabila kamu telah selesai bertasyahhud akhir maka… (Hadits


dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu
Majah)

Ta’awudz (berlindung dari 4 hal) ini dibaca hanya ketika tasyahhud


akhir, setelah membaca sholawat secara lengkap.

Dari Abu Hurairah berkata; berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam : “Apabila kamu telah selesai bertasyahhud maka
hendaklah berlindung kepada Allah dari empat (4) hal, dia
berkata:

“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA


WA MIN ‘ADZAABIL QABRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL
MAMAAT WA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAAL.”

artinya: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam,


siksa kubur, fitnahnya hidup dan mati serta fitnahnya Al-
Masiihid Dajjaal.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari
dan Muslim dengan lafadhz Muslim)

Berdo’a dengan do’a/permohonan lainnya

…kemudian (supaya) dia memilih do’a yang dia kagumi/senangi…


(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan Al-Bukhari)
SALAM
Salam sebagai tanda berakhirnya gerakan sholat, dilakukan dalam
posisi duduk tasyahhud akhir setelah membaca do’a minta
perlindungan dari 4 fitnah atau tambahan do’a lainnya.

“Kunci sholat adalah bersuci, pembukanya takbir dan penutupnya


(yaitu sholat) adalah mengucapkan salam. (Hadits dikeluarkan
dan disahkan oleh Al Imam Al-Hakim dan Adz-Dzahabi)

Caranya

Dengan menolehkan wajah ke kanan seraya mengucapkan do’a


salam kemudian ke kiri.

Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari bapaknya berkata: Saya melihat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam ke sebelah kanan
dan sebelah kirinya hingga terlihat putih pipinya.(Hadits
dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim dan An-Nasa-i serta
ibnu Majah)

Dari ‘Alqomah bin Wa-il, dari bapaknya, ia berkata: Aku sholat


bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau
membaca salam ke sebelah kanan (menoleh ke kanan): “As
Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.” Dan
kesebelah kiri: “As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi.” (Hadits
dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

Macam-macam Bacaan Salam

Kadang-kadang beliau membaca:

As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh— As


Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

atau

As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh— As


Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

atau
As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi— As Salamu’alaikum Wa
Rahmatullahi

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim)

atau

As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi— As Salamu’alaikum

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan An-Nasa-i)

atau

As Salamu’alaikum dengan sedikit menoleh ke kanan tanpa menoleh


ke kiri

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

Gerak yang dilarang

Sering terlihat orang yang mengucapkan salam ketika menoleh ke


kanan dibarengi dengan gerakan telapak tangan dibuka
kemudian ketika menoleh ke kiri tangan kirinya di buka.
Gerakan tangan ini dilarang oleh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Mengapa kamu menggerakkan tangan kamu seperti gerakan ekor


kuda yang lari terbirit-birit dikejar binatang buas? Bila
seseorang diantara kamu mengucapkan salam, hendaklah ia
berpaling kepada temannya dan tidak perlu menggerakkan
tangannya.” [Ketika mereka sholat lagi bersama Rasullullah,
mereka tidak melakukannya lagi]. (Pada riwayat lain
disebutkan: “Seseorang diantara kamu cukup meletakkan
tangannya di atas pahanya, kemudian ia mengucapkan salam
dengan berpaling kepada saudaranya yang di sebelah kanan
dan saudaranya di sebelah kiri).

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim, Abu ‘Awanah, Ibnu


Khuzaimah dan At-Thabrani).
Diantara gerakkan bid’ah yang dilakukan saat salam adalah gerakkan
yang dilakukan oleh orang syi’ah dengan menepukkan kedua
tangannya di atas paha tiga kali, sebagai pengganti salam
dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal seperti ini dilakukan
oleh syi’ah Iran dan sekitarnya. Maksud dari gerakan itu adalah
melaknat malaikat Jibril karena mereka mengatakan Jibril telah
salah menyampaikan wahyu.
Dzikir Setelah Sholat
Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada seluruh orang melihat
tulisan ini dari kalangan kaum muslimin

“Merupakan dari perbuatan sunnah, seorang muslim mengucapkan


setelah setiap shalat fardu membaca ASTAGHFIRULLAH tiga
kali, kemudian dilanjutkan dengan:

ALLAHUMMA ANTAS SALAAM WA MINKAS SALAAM TABAARAKTA


YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM

LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL


MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN
QADIIR, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

LAA ILAAHA ILLALLAHU, LAA NA’BUDU ILLA IYYAHU, LAHUN


NI’MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA-UL HASAN,
LAA ILAAHA ILLALLAHU, MUKHLISHIINA LAHUDDINA WALAU
KARIHAL KAAFIRUUN, ALLAHUMMA LAA MAA NI’A LIMAA
A’THOITA, WA LAA MU’TIYA LIMAA MANA’TA, WALAA
YANFA’ DZAL JADDI MINKAL JADDU.

Khusus setelah shalat subuh dan maghrib, bacalah zikir yang


dibawah ini sepuluh kali setelah mengucapkan zikir yang di
atas:

LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL


MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WAYUMIIT WAHUWA
‘ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR

Kemudian membaca: SUBHAANALLAH tigapuluh tiga kali,


ALHAMDULILLAH tigapuluh tiga kali; ALLAHU AKBAR
tigapuluh tiga kali; untuk melengkapi bilangan menjadi seratus
bacalah:

LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL


MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN
QADIIR

Kemudian membaca ayat kursi, kemudian surat Al Ikhlas, Al Falaq


dan An Nas, kalau seandainya setelah shalat subuh dan
maghrib dibaca tiga kali.
Inilah yang lebih baik (afdhal) dan semoga Allah menganugerahkan
shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan atas
keluarga beliau dan sahabat-sahabatnya serta yang
mengikutinya dengan baik sampai hari pembalasan.

BEBERAPA KESALAHAN GERAKAN SHOLAT


Ruku’ – Tangan tidak pada lutut (insya Allah akan dijelaskan dalam
bab lain)

Punggung mendongak ke atas (insya Allah akan dijelaskan dalam


bab lain)

I’tidal – Tangan menengadah ke atas (insya Allah akan dijelaskan


dalam bab lain)

Sujud – Siku menempel pada lantai (insya Allah akan dijelaskan


dalam bab lain)

Duduk diantara 2 sujud – Tidak iftirasyi (insya Allah akan dijelaskan


dalam bab lain)

BUKU-BUKU RUJUKAN :

1. Sifat Sholat Nabi Edisi Revisi, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Penerbit : Media Hidayah, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Terjemahan dari Kitab Shifatu
Shalaati an Nabiyyi Shallallahi ‘Alaihi wa Sallam min at-Takbiiri ilaa at Tasliimi Ka-
annaka Taraahaa

2. Sifat Shalat Nabi, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Penerbit : At Tibyan,
Solo, Terjemahan dari Kitab Shifatus Shalah

3. Sifat Sholat Nabi Shalalahu ‘alaihi wasalam dan Dzikir-dzikir Pilihan, karya Syaikh
Muhammad bin Shalih Utsaimin dan Syaikh Abdulaziz bin Baz, Penerbit : Pustaka Al
Kautsar, Jakarta, Cetakan ke-10, Terjemahan dari Kitab Fatawa Hammah wa Risalah fii
Shifati Sholatin Nabii Shalalahu ‘alaihi wasalam

4. Fikih Sunnah Jilid 1 dan 2, karya Sayyid Sabiq, Penerbit : PT. Al Ma’arif, Bandung,
Cetakan ke-14, Terjemahan dari Kitab Fiqhus Sunnah

5. Al Fiqhu lilmustawar raabi’il ibtida-i, silsilatul manahijid diraasah, Penerbit :


Jum’iyatu Ihyaut Turots Al-Islamii -Lajnah Junuubi Syarqi Asiya
6. Koreksi Total Ritual Sholat, karya Abu Ubaid Masyhur bin Hasan Mahmud bin
Salman, Penerbit : Pustaka Azzam, Jakarta, Cetakan ke-3, Terjemahan dari Kitab al
Qaulul mubin fii akhta-il Mushallin

7. Kumpulan Tulisan tentang Sholat, penyusun : Ustadz Abdul Hakim Abdat

8. Sifat Wudhu Nabi, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin

9. Shalat karya Syeikh Abdullah bin Sholeh Al Ubailan

10. Tuntunan Shalat menurut Al-Quran dan As-Sunnah, karya Syaikh Abdullah bin
Abdurrahman Jibrin, Penerbit At-Tibyan, Solo