Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

MANAJEMEN PERBANKKAN SYARI’AH


“SDM BANK SYARIAH”

Dosen Pembimbing :
Drs. Moch. Soberi, MM

Oleh :
Muhammad Ikhsan
NPM :
08010138

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


CENDEKIA
BOJONEGORO 2011

1
DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ........................................................................ 3
BAB I .......................................................................................... 5
PEMBAHASAN .......................................................................... 5
DAFTAR PUSTAKA...................................................................10

2
PENDAHULUAN

Kata Bank dari kata Banque dalam bahasa Perancis, dan dari
Banco dalam bahasa Italia, yang berarti peti/lemari atau bangku. Kata
peti atau lemari menyiratkan fungsi sebagai tempat menyimpan benda-
benda berharga, seperti peti emas, peti berlian , uang dan sebagainya.
Bank itu ada dua macam yaitu Bank Konvesional dan Bank Islam. yang
mana Bank Islam itu memakai hukum-hukum Islam atau disebut dengan
Bank Syari’ah.(Alma, 2003, hlm 254)

Bank Syari’ah adalah lembaga keuangan yang memakai syari’at-


yari’at Islam yang mana hubungan nasabah-nasabah dengan Bank sangat
erat akan tetapi melalui akad-kad Syari’ah yang diterapkan oleh agama
Islam. makalah ini akan membahas tentang hubungan nasabah dengan
Bank melalui akat-akat yang telah diterapkan. jika dalam makalah ini
banyak ditemukan kesalahan-kesalahan penulis minta maaf yang
sebesar-besarnya, kepada tuhan saya mohon ampun.

3
A. Pengertian Bank Syari’ah

Bank Syari’ah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya


memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta
peredaran uang yang beroperasi disesuaikan dengan prinsip-prinsip
Syari’ah. oleh karena itu, usaha Bank akan selalu berkaitan dengan
masalah uang sebagai dagang utamanya. (Sudarsono, 2003, hal: 27)

Bank berdasarkan prinsip Syari’ah adalah aturan perjanjian


berdasarkan hukum Islam antara Bank dengan pihak lain untuk
menyimpan dana atau pembiayaan usaha atau kegiatan perBankan
lainnya.

Dalam menentukan harga atau mencari keuntungan bagi Bank


yang berdasarkan prinsip Syari’ah adalah sebagai berikut:
1. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).
2. Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah).
3. prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan
(murabahah).
4. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan
(ijarah).
Atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang
disewakan dari pihak Bank oleh pihak lain (ijarah wa igtina).
(Kasmir, 2002, hlm 46).

4
BAB I
PEMBAHASAN

Perkembangan bank syariah dalam satu dekade terakhir amat mengesankan.


Munculnya bank syariah telah memberikan harapan baru bagi masyarakat yang
menginginkan keadilan dalam transaksi keuangan dan juga moralitas dalam
pengelolaan bank. Bank syariah muncul dan berkembang di tengah krisis moral yang
menghinggapi pengelola dan pemilik bank konvensional. Tidak sedikit nasabah yang
dirugikan dengan dilarikannya dana mereka oleh pengelola atau pemilik bank
maupun akibat salah kelola yang fatal.

Perlahan tapi pasti bank syariah mulai bertambah, meskipun aturan yang
mendukungnya masih minim. Namun beberapa waktu lalu, Indonesia telah memiliki
Undang-Undang Bank Syariah. Ini berarti payung hukum bank syariah di Indonesia
telah ada dan dapat menjadi pijakan bagi stake holder maupun bank syariah untuk
mengembangkan bank syariah lebih baik lagi.

Undang-undang bank syariah adalah bukti dari dukungan terhadap


implementasi syariah Islam dalam kehidupan. Di tengah isu global dan nasional yang
gencar menolak implementasi prinsip syariah yang secara rasional lebih berkualitas,
keberadaan bank syariah telah menjadi sebuah pembuktian kepada masyarakat akan
nilai kebaikan yang terkandung dalam sistem bank syariah. Oleh karena itu, tuntutan
dari stake holder ekonomi syariah juga besar akan komitmen pelaku bank syariah.

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bank syariah adalah masih
kecilnya total aset bank syariah dibanding bank nasional yang belum mencapai 5
persen. Disamping itu kendala sumber daya manusia (SDM) yang memahami prinsip
syariah dengan baik belum bisa terpecahkan. Masih banyak SDM bank syariah yang
berlatar belakang ilmu ekonomi, sosial atau ilmu sains, sementara SDM yang berlatar
belakang ilmu syariah masih sedikit. Atau dengan kata lain SDM yang memahami
tentang perbankan sekaligus prinsip syariah masih sedikit.

5
Namun di luar hal tersebut, secara umum bank syariah masih perlu
pengembangan dan peningkatan kapasitas SDM-nya sehingga kapasitas SDM bank
syariah ini dapat mengikuti bahkan melampaui perkembangan bank syariah itu
sendiri.

Peningkatan dan pengembangan kapasitas SDM bank syariah adalah isu


penting setelah disahkannya Undang-Undang Bank Syariah. Bank syariah sebagai
bagian dari institusi syariah sudah sepantasnya memiliki SDM yang kompetitif dan
potensial sehingga bisa membawa bank syariah ’memenangkan pertarungan’.

Asesmen

Untuk menyaring SDM bank syariah yang kompetitif dan potensial, maka
salah satu cara adalah dengan mengembangkan alat asesmen yang berguna untuk
rekrutmen dan juga mutasi atau promosi. Selama ini alat asesmen yang ada
umumnya berasal dari luar negeri. Alat asesmen ini mungkin lebih cocok untuk SDM
negara asal alat ini dibuat karena dalam pembuatan alat asesmen memperhatikan
budaya lokal maupun paradigma ekonomi yang berkembang di negara asalnya.
Budaya lokal di Eropa atau Amerika misalnya, belum tentu cocok dengan budaya
lokal di Indonesia atau Asia. Bahkan jika lebih dikerucutkan lagi belum tentu cocok
dengan budaya yang seharusnya ada dalam bank syariah.

Alat asesmen yang diinginkan untuk bank syariah adalah yang mampu mencari
individu yang tepat untuk memenuhi posisi yang ada dalam bank syariah dan lebih
kompetitif terhadap SDM bank konvensional. Selama ini secara kasat mata kualitas
SDM bank konvensional masih lebih unggul dibanding SDM bank syariah. Hal ini
akan berdampak pada kinerja dan jumlah aset bank syariah secara total.

Sebagai industri jasa, bank syariah masih sangat perlu meningkatkan pelayanan
dan kualitas pelayanan itu sendiri. Untuk memberikan pelayanan yang lebih
berkualitas, maka diperlukan asesmen dimana hasil asesmen tersebut dapat
menyimpulkan apakah SDM yang ada memiliki potensi untuk dikembangkan
kualitas dirinya untuk bekerja di bank syariah. Bank syariah jangan sampai terjebak

6
dengan simbol-simbol yang tidak mampu meningkatkan kualitas layanan. Dengan
asesmen inilah substansi dari setiap SDM bank syariah dapat dilihat dan
menghilangkan simbol-simbol yang tidak berkorelasi positif terhadap kualitas
pelayanan bank syariah.

Kebutuhan akan alat asesmen yang mampu membuat SDM bank syariah lebih
kompetitif sudah sangat mendesak jika bank syariah menginginkan mampu
mengungguli aset perbankan secara nasional. Namun demikian, ini juga bukan harga
mati karena sangat terbuka kemungkinan bahwa dengan alat asesmen yang ada
sekarang bisa didapat SDM bank syariah yang kompetitif dan potensial jika masalah
kesejahteraan tidak lagi menjadi masalah yang mengganggu di kemudian hari
sehingga semakin banyak orang yang mengikuti rekrutmen. Disamping itu, para
manajer SDM bank syariah juga perlu melakukan saringan lebih ketat lagi untuk
penerimaan karyawan sehingga yang masuk ke bank syariah memiliki potensi yang
bagus untuk dikembangkan dalam perspektif perusahaan maupun perspektif
keislaman.

Pembinaan SDM

Disamping alat asesmen, hal yang perlu dilakukan oleh SDM bank syariah
adalah pembinaan diri berkesinambungan. Dalam literatur manajemen SDM modern,
barangkali pembinaan SDM yang berkesinambungan tidak menjadi bahasan utama
meskipun ada pembahasan masalah etika.

Pembinaan SDM berkesinambungan sangat diperlukan oleh SDM bank


syariah. Bank syariah juga perlu menampakkan spirit (ruhiyah, fikriyah dan
jasadiyah) sebagai lembaga yang menjalankan prinsip syariah dan mampu
memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat. Keringnya ruhiyah akan
berpengaruh juga terhadap SDM bank syariah.

Pembinaan SDM yang berkesinambungan adalah peninggalan kejayaan Islam


yang sudah lama pudar. Perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan Islam
bersama keluarga dan sahabatnya sarat dengan pembinaan SDM yang

7
berkesinambungan. Mereka yang masuk Islam dan mengikuti pembinaan
berkesinambungan mengalami perubahan yang sangat bagus. Bilal yang pernah
menjadi budak di jaman jahiliyah kelak menjadi gubernur dan mampu menjalankan
amanah. Demikian pula Umar bin .Khaththab yang gelap dalam jahiliyah, diberikan
amanah sebagai khalifah dan menjalankan amanah tersebut dengan sungguh-
sungguh. Khalid bin Walid yang dikenal dengan kehebatannya berperang semasa
jahiliyah, setelah masuk ke dalam Islam jumlah pasukan yang dipimpinnya sering
lebih sedikit dari pasukan musuh namun mampu memenangkan pertarungan.

Hanya ketika perang Muktah pada 628 M, pasukan Islam yang berjumlah 3000
orang berperang dengan pasukan Romawi yang berjumlah 200.000 tentara. Setelah 3
panglima yang ditunjuk sejak gugur, Khalid muncul dan mampu menyelamatkan
pasukan (melalui strategi yang ia rancang) dengan pulang ke Madinah tanpa meraih
kemenangan. Anak-anak kecil Madinah mencibir Khalid, namun Rasulullah justru
memberi gelar Khalid sebagai Saifullah (pedang Allah). Penghargaan Rasulullah
kepada Khalid tersebut bukanlah tanpa alasan karena pada 629 M terjadi penaklukan
Mekah (futuh Mekah) tanpa pertumpahan darah dengan panglimanya Rasulullah dan
Khalid. Pada waktu itu penaklukan tanpa pertumpahan darah dan pembumihangusan
adalah hal yang tidak wajar dilakukan oleh pasukan yang menang (karena pasukan
Romawi dan Persia melakukan kedua hal tersebut), sehingga banyak kaum kafir
Quraisy yang kemudian masuk ke dalam Islam. Mentalitas pasukan Islam dalam
menghadapi 200.000 pasukan Romawi merupakan pengalaman yang berharga untuk
kemudian menghadapi futuh Mekah.

Jumlah bank syariah dan asetnya maupun SDM-nya dibandingkan dengan bank
konvensional saat ini mungkin seperti perbandingan di atas (perang Muktah), tidak
mungkin mengalahkan aset bank konvensional yang sudah lama dan berpengalaman
dan juga SDM-nya. Namun belajar dari sejarah Rasulullah SAW, pembinaan SDM
yang berkesinambungan adalah hal yang sangat penting. Meskipun jumlahnya masih
sedikit dibanding bank konvensional, jika kapasitas SDM bank syariah bisa
melampaui jumlah bank syariah, maka insya Allah bank Syariah akan maju lebih
pesat.

8
Paduan penggunaan alat asesmen yang tepat dengan pembinaan SDM
berkesinambungan diharapkan akan memunculkan SDM bank syariah yang
kompetitif, potensial, memiliki mentalitas keislaman yang baik dan mampu
memunculkan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi umat dan masyarakat. Dalam
undang-undang bank syariah yang baru, bank syariah bisa berperan sebagai baitul
maal (pengumpul infak, sedekah, wakaf tunai dan lain-lain) sekaligus baitut tamwil
(pemberi pembiayaan). Implementasi 2 fungsi ini membutuhkan SDM yang
kompetitif, potensial dan memiliki mentalitas keislaman yang baik.

Ajaran Islam diturunkan Allah adalah sebagai rahmat untuk seluruh manusia.
Keberadaan bank syariah juga merupakan bagian dari rahmat untuk seluruh manusia,
sehingga SDM bank syariah seharusnya merupakan individu yang memiliki
kompetensi inti berupa pemahaman Islam yang bagus seperti halnya pernah
ditunjukkan oleh kaum muslimin pada jaman Rasulullah, khulafaur rasyidin dan
setelah itu. Baru kemudian memiliki kapasitas keilmuan tentang syariah dan
perbankan dan zakat dengan orientasi kuat untuk membantu memperbaiki kondisi
sosial ekonomi umat yang masih terpuruk.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://commentindonesia.tripod.com/commentefs053.htm

10

Anda mungkin juga menyukai