Anda di halaman 1dari 19

]]  ]]

 
  ]

 ] ]

]  
  
 ]
  
]]      
] 

c
M M

  




 Keberadaan lingkungan menjadi hal yang sangat penting bagi makhluk hidup, terutama
manusia demi kesejahteraannya. Untuk itu perlu adanya kebijakan yang berwawasan lingkungan
agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga sehingga manusia bisa hidup sejahtera.
Untuk memudahkan pembahasan, ada baiknya terlebih dahulu didefinsikan beberapa kata kunci
mengenai segala hal yang berkaitan dengan kebijakan lingkungan

Dalam mainstream pemikiran yang berkembang, lingkungan hidup diperlakukan sekedar


sebagai obyek manajemen industry dan investasi. Sementara itu kita tahu bahwa misi dari
manajemen industrialisasi adalah pemuasan kepentingan para subyeknya yaitu manusia.
Lingkungan tidak memiliki makna atau nilai (value) lebih dari sekedar alat pemuas umat
manusia.Dalam kepungan utilitarianism ini menejemen lingkungan hidup terjebak dalam suatu
paradoks. Di satu sisi manajemen lingkungan hidup berusaha menekan kerusakan lingkungan
hidup, di sisi lain keserakahan ummat tetap diumbar. Lebih dari itu, fokus perhatian kita pada
dimensi managerial dalam pengelolaan lingkungan hidup telah menjadikan kita lalai terhadap
kenyataan bahwa kemapaanan sistem manajemen sebetulnya juga menyimpan kemampuan umat
manusia untuk menghasilkan kerusakan sistemik.Pandangan yang selama ini telah difahami
adalah bahwa, supaya manusia bisa mendapatkan manfaat yang optimal, maka lingkungan hidup
harus dikelola. Dalam hal ini, manusia memperlakukan dirinya sebagai subyek dan lingkungan
hidup sebagai obyek manajemen. Tersirat di sini, lingkungan hidup yang diatur dan di tata
sedemikian rupa sehingga manusia tidak sengsara, umat manusia bisa sejahtera.Paradigma
sustainable lingkungan mengacu pada konsep keadilan yang dimaknai dengan adanya
keterwakilan dan pendistribusiannya, terkait dengan bagaimana kebijakan dalam pengelolaan
lingkungan hidup dapat menjadi suatu regulasi yang benar-benar mewakili aspirasi dari
masyarakat luas.


 !! " 
 #Untukmengetahui pemanfaatan dan pengelolaan serta perencanaan lingkungan hidup
- Untuk mengetahui perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dalam Usaha
pertambangan

 - Untuk menetahui tata laksana reklamasi

$M
  
 - Sasaran pengelolaan lingkungan hidup
- UU No. 23 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Lingkungan hidup menjadi UU No. 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup

- Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dalam Usaha Pertambangan

- Reklamasi Sebagai Bagian Pelaksanaan UU Minerba

Ñ
M M

 M  


Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi


lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan,
pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.Pengelolaan
lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan
asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan
masyarakat Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan
terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumberdaya, ke dalam proses
pembangunan untuk menjamin kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi
masa depan.
Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah :

½‘ Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbgangan antara manusia dan lingkungan


hidup;
½‘ Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap

dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup;


½‘ Terjaminnya kepentingangenerasi masa kini dan generasi masa depan;
½‘ Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup;
½‘ Terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana;
½‘ Terlindungnya NKRI terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara
yang menyebabkan perusakan lingkungan hidup.

Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan


kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan
pemerintah dan pelaku pembangunan yang lain. Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan
masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan
hidup.

ÿ
Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara
kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Kemampuan lingkungan hidup
untuk mendukung perikehidupan manusia dan makluk lainnya, disebut daya dukung lingkungan
hidup. Sedangkan, daya tamping lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.

Pengelolaan lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas
berkelanjutan, dan asas manfaat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seluruhnya yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upaya sadar dan terencana, yang
memadukan lingkungan hidup, termasuk sumberdaya ke dalam proses pembangunan untuk
menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa
depan, disebut pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup.
Sasaran pengelolaan lingkungan hidup sebagai berikut. Pertama, tercapainya keselarasan,
keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup. Kedua, terwujudnya
manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi
dan membina lingkungan hidup. Ketiga, terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan
generasi masa depan. Keempat, tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup. Kelima,
terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana. Keenam, terlndungnya NKRI terhadap
dampak usahadan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup
Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat
berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau
tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup
tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan, disebut perusakan
lingkungan hidup.
Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak
atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan
hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan

 
hidup. Selain mempunyai hak, setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi
lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan
hidup. Orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajban memberikan informasi yang
besar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup.
Masyarakat mempunyai kesempatan yanmg sama dan seluas-luasnya untuk berperan
dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaanya dilakukan dengan cara sebagai berikut.
Pertama, meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan, Kemampuan dan
keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat
sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku
pembangunan lainnya. Kedua, menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan
masyarakat.
Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas
peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Ketiga, menumbuhkan
ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial. Meningkatnya
ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak
negatif. Keempat, memberikan saran dan pendapat. Kelima, menyampaikan informasi dan/atau
menyampaikan laporan. Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan
kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera
ditindaklanjuti.
Sumberdaya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesarnya bagi
kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. Untuk pelaksanaannya
Pemerintah:
(a) mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan
hidup,
(b) mengatur penyediaan, peruntukkan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan
pemanfaatan kembali sumberdaya alam, termasuk sumberdaya genetika,
(c) mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum
lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumberdaya alam dan sumberdaya buatan,
termasuk sumberdaya genetik,
(d) mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial,
(e) mengembangkan pendaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Î
Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup
dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai
yang hidup dalam masyarakat. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang (Kantor Menteri Negara Lingkungan
Hidup (1993). Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu, meliput sektoral,
ekosistem, dan bidang ilmu. Dalam operasionalnya terpadu dengan penataan ruang, perlindungan
sumberdaya alam nonhayati, perlindungan sumberdaya buatan, konservasi sumberdaya alam
hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban mewujudkan,
menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab:
(a) para pengambil keputusan pengelolaan lingkungan hidup,
(b) masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup,
(c) kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya
dukung dan daya tamping lingkungan hidup,
(d) kebijakan pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup,
(e) mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preventif, dan proaktif dalam
upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup,
(f) memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan,
(g) menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup,
(h) menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskan kepada masyarakat, dan
(i) memberikan penghargaan kepada orang lain atau lembaga yang berjasa di bidang
lingkungan hidup.

Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup, setiap usaha dan/atau kegiatan
tidak boleh melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Ukuran batas
atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumberdaya tertentu sebagai unsur
lingkungan hidup, dinamakan baku mutu lingkungan hidup. Sedangkan kriteria baku kerusakan

å
lingkungan hidup adalahukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup
yang dapat ditenggang.
Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis mengenai dampak
lingkungan hidup (Amdal). Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Amdal, yang dimaksud Amdal adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha
dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha
dan/atau kegiatan, disebut dampak besar dan penting. Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan dokumen Amdal saat ini diatur dengan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tanggal 21 Februari 2000.

%! ! &


% %! '()]* )+

Perubahan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Lingkungan hidup menjadi UU No. 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup. Kemudian perubahan UU
No.1 Tahun 1967 tentang Pertambangan, menjadi UU No.4 Tahun 2009 tentang Minerba.
Memberi suatu dorongan dan semangat dalam merubah padangan terhadap lingkungan hidup.
Memaknai lingkungan hidup yang tidak seimbang, atau tidak dengan sesuai dengan kapasitas
daya dukung dan daya dampung, akan menyebabkan bencana buat kita semua, juga generasi
yang akan datang.

Makna hakiki secara filosofi, dan sosologis dengan terbitnya UU No.32 Tahun 2009, pertama
bahwa undang-undang telah menempatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai
jaminan hak asasi warga Negara sebagaimana diatur dalam Pasal 28H UUD 1945. Kedua
pembangunan ekonomi yang sedang dilakukan harus benar-benar berprinsip pada pembangunan
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Ketiga cara pandang adanya kesadaran bersama
terhadap lingkungan yang semakin menurut kualitasnya, jadi perlu dilakukan komitmen bersama
seluruh pemangku terhadap lingkungan hidup.

ü
Keempat otonomi daerah yang juga mempengaruhi dalam penyelenggaran pemerintah daerah,
karena itu upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus ditekankan di daerah
yang banyak mengabaikan lingkungan hidup . kelima ada kesadaran bersama bahwa pemanasan
global yang semakin meningkat mengakibatkan perubahan iklim dan mengakibat penurunan
dalam kualitas lingkungan dibumi ini, dan terakhir adanya jaminan dan kepastian hokum dalam
perlindungan terhadap hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan
sehat sebagai bagaian dari perlindungan terhadap keseluruhan ekosistem.

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang
dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hokum.

Usaha pertambangan, sebagai motor penggerak pembangunan dalam sector ekonomi ,


merupakan dua sisi yang sangat dilematis dalam kerangka pembangunan di Indonesia. Sesuatu
yang disadari termasuk salah kegiatan yang banyak menimbulkan kerusakan dan pencemaran
lingkungan hidup

Pasal 1 angka 1 UU No.4 Tahun 2009 , pertambangan adalah bagian atau seluruh tahapan
kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan perusahaan mineral atau batubara yang
meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, kontruksi, penambangan, pengelolaan
dan pemurnian, pengangkutan dan penjualam, serta kegiatan pasca tambang.

Subsector pada sector pertambangan dan energy, ada beberapa jenis kegiatan yang meliputi:
mineral, batubara, dan panas bumi; minyak dan gas bumi; listrik dan pemanfaatan energy.
Pengembangan energy baru, sebagai bagian subsector yang bergiatannya berpotensi
menimbulkan permasalahan lingkungan, berupa kerusakan dan pencamaran lingkungan perairan,
tanah, dan udara. Dari pencemaran akan menimbulkan dampak turunan yang pada akhirnya
berdampak negative terhadap persepsi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertambangan.

Pertambangan telah membuat masyarakat buyat menanggung masalah kesehatan seumur


hidupnya, pertambangan menyebabkan konflik lahan, hak adat, penggusuran, pembunuhan,

è
perang dan pemihakan oknum birokarat dan penegak hokum terhadap kepentingan terhadap
pemilik modal.

Yang jelas pertambangan telah menjadi bencana social yang harus diwaspadai terhadap
permasalah social yang dimasyarakat. Seperti di Kaltim, banyak pertambangan yang dilakukan
diareal perumahan penduduk, yang berakibat pada akses jalan hancur, dan bila hujan terjadi
banjir. Krisis pangan, karena lahan subur pertanian dikonsesi menjadi pertambangan dikertabuna
Kukar, dan PT Kedeco Jaya Agung, usaha pertambangannya yang diduga menyalagunakan lahan
pinjam pakai kawasan hutan cagar alam Adang di Paser.

Keadaan demikian akan menimbulkan benturan kepentingan usaha pertambangan disatu pihak
dan dan usaha menjaga kelestarian alam lingkungan dilain pihak . untuk itu keberadaan UU
No.32 Tahun 2009, ada menjadi instrument pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup terhadap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap
lingkungan berupa:

a. KHLS (Kajian Lingkungan hidup Strategis);

b. Tata ruang;

c. Baku mutu lingkungan;

d. Kreteria baku kerusakan lingkungan;

e. Amdal;

f. UKL-UPL;

g. Perizinan;

h. Instrumen ekonomi lingkungan hidup;

i. Peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup;

j. Anggaran berbasis lingkungan hidup;

c
k. Analisis resiko lingkungan hidup;

l. Audit lingkungan hidup;

m. Instrument lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan.

Instrument lingkungan hidup, sebagai usaha mencegah masalah lingkungan hidup, dan salah satu
yang timbulkan akibat usaha pertambangan yang beraneka ragam bentuk dan sifatnya.

Kedepan upaya penegakan hokum dalam UU No.32 Tahun 2009, berupa penegakan hokum
adminitrasi, perdata dan pidana, akan memberi solusi dan efek jera bagi oknum pelaku tindak
pidana dibidang lingkungan hidup. Yang kedua sosialisasi adanya uu ini terhadap masyarakat,
sebagai upaya penyadaran untuk menuntut terhadap hak gugat masyarakat terhadap usaha
pertambangan yang merugikan lingkungannya.

)%+%% ]]%+

Pemerintah dan industri pertambangan di Indonesia telah meyakini konsep penting mengenai
pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini seiring dengan keluarnya Undang-Undang No. 4 tahun
2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Dalam UU tersebut tersirat
tujuan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan yang sangat dibutuhkan untuk
mencapai pembangunan yang meningkatkan mutu kehidupan secara menyeluruh, baik pada masa
kini maupun untuk masa mendatang. Pembangunan berwawasan lingkungan dalam aspek
pertambangan berkaitan dengan cara mempertahankan proses-proses ekologi yang menjadi
tumpuan kehidupan melalui kegiatan reklamasi dan pascatambang.

Kegiatan pertambangan, jika tidak dilaksanakan secara tepat dapat menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan, terutama gangguan keseimbangan permukaan tanah yang cukup besar.
Dampak lingkungan yang mungkin timbul akibat kegiatan pertambangan antara lain: penurunan
produktivitas lahan, tanah bertambah padat, terjadinya erosi dan sedimentasi, terjadinya gerakan
tanah atau longsor, terganggunya flora dan fauna (keanekaragam hayati), terganggunya
kesehatan masyarakat, serta perubahan iklim mikro. Oleh karena itu, perlu dilakukan reklamasi
yang tepat. Artinya, reklamasi harus diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh dari kegiatan

cc
pertambangan & kegiatan reklamasi, dilakukan sedini mungkin, dan tidak menunggu proses
pertambangan selesai.

Keberhasilan pengelolaan lingkungan sektor sumber daya alam tergantung pada pengenalan,
pencegahan dan pengurangan dampak kegiatan terhadap lingkungan. Perlindungan lingkungan
membutuhkan perencanaan yang cermat dan komitmen semua tingkatan & golongan perusahaan
pertambangan. Praktik terbaik pengelolaan lingkungan pertambangan menurut proses yang terus
menerus dan terpadu pada seluruh tahapan pertambangan.

Pascatambang merupakan kegiatan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial
menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. Pascatambang dan melaksanakan
terencana, sistematis dan berlanjut. Keberlanjutan ini meliputi kegiatan akhir sebagian (bila
dalam tahap operasi produksi ada sebagian wilayah yang diminta dan/atau di serahkan) hingga
akhir keseluruhan usaha pertambangan.

Dalam Pasal 99 dan Pasal 100, UU Minerba memberi amanat kepada setiap pemegang IUP dan
IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan rencana pascatambang dan melaksanakan
reklamasi dan pascatambang. Dalam rangka menjamin kesungguhan pelaksanaan reklamasi dan
pascatambang, setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menempatkan Jaminan Reklamasi dan
Jaminan Pascatambang. Ketentuan lebih lanjut mengenai reklamasi dan pascatambang tersebut
akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Dalam menyiapkan Rencana Peraturan Pemerintah tentang Reklamasi dan Pascatambang,


pemerintah berkordinasai dengan Dinas Pertambangan dan Energi di seluruh Indonesia dan antar
lembaga/sektor terkait. Beberapa hal penting yang meenjadi landasan hukum kegiatan Reklamasi
dan Pascatambang juga lebih di rinci sebagai pedoman membuat rencana dan pelaksanaannya.

Perencanaan dan pelaksanaan yang tepat merupakan rangkaian pengelolaan pertambangan yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sehingga akan mengurangi dampak negatif kegiatan
usaha pertambangan.

c
%%')%! ,)+

Untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan, kagiatan usaha pertambangan harus


dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi dan partisipasi
msyarakat.

Prinsip pengelolaan lingkungan hidup meliputi perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air
tanah, air laut, tanah, dan udara sesuai dengan standar baku mutu lingkungan hidup dan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Berhubung keanekaragaman hayati Indonesia begitu
kaya, maka reklamasi tambang wajib mempertimbangkan perlindungan keanekaragaman hayati
tersebut. Untuk memastikan keamanan daerah timbunan bagi lingkungan sekitarnya, reklamasi
dan pascatambang juga harus menjamin stabilitas dan keamanan timbunana batuan penutup,
kolam tailing, lahan bekas tambang serta struktur buatan Π  
  lainnya.
Selanjutnya, reklamasi dan pascatambang pun harus memiliki nilai manfaat sesuai
peruntukannya, dan menhormati nilai-nilai sosial & budaya setempat.


)%! ,)+

Dalam UU Minerba, reklamasi didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan
usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan
ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Sedangkan pertambangan adalah
sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan
mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan, pengelolaan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegitaan
pascatambang. Berangkat dari definisi itu, kegiatan reklamasi tidak hanya dilaksanakan pada
tahap operasi produksi saja, melainkan juga pada tahap eksplorasi.

Pemegang IUPK eksplorasi harus mereklamasi lahan terganggu akibat kegiatan eksplorasi.
Reklamasi yang dilakukan meliputi reklamasi lubang pengeboran, sumur uji, dan/atau parit uji.
Meskipun masih pada tahap ekplorasi, mereka sudah berkewajiban menyediakan jaminan
reklamasi.


Pada tahap eksplorasi, pemegang IUP dan IUPK harus menyiapkan rencana reklamasi yang akan
dilaksanakan pada tahap operasi produksi. Diantaranya dengan membuat tata guna lahan
sebelum dan sesudah ditambang, rencana pembukaan lahan, program reklamasi pada lahan bekas
tambang dan di luar bekas tambang, kriteria keberhasilan reklamasi dan rencana biaya reklamasi.
Yang tercakup dalam lahan di luar bekas tambang adalah timbunan tanah penutup, timbunan
bahan baku/produksi, jalan transportasi, instalasi pengolahan, instalasi pemurnian, kantor dan
perumahan, pelabuhan, lahan penimbunan dan pengendapan  .

Sejak awal tahap eksplorasi, rencana pascatambang sudah disiapkan. Meskipun umur
tambangnya masih beberapa puluh tahun yang akan datang. Proses perencanaan tersebut
dilakukan bersamaan dengan penyusunan studi kelayakan dan analisis mengenai dampak
lingkungan (AMDAL). Isi rencana pascatambang tersebut harus memuat profit wilayah,
deskripsi kegiatan pertambangan, rona lingkungan akhir lahan pascatambang, program
pascatambang, organisasi, kriteria keberhasilan pascatambang dan rencana biaya pascatambang.
Namun, dalam menyusun rencana pascatambang, pemegang IUP dan IUPK harus berkonsultasi
dengan instansi pemerintah dan/atau instansi pemerintah daerah yang membidangi pertambangan
mineral dan/atau batubara, instansi terkait, dan masyarakat. Hal itu dilakukan untuk meng-
akomodir kepentingan pemerintah (pusat & daerah) dan masyarakat.

Reklamasi dan pascatambang dinyatakan selesai bila telah berhasil memenuhi kriteria
keberhasilan. Namun, bila reklamasi berada di kawasan hutan, wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil, maka pelaksanaan dan kriteria keberhasilannya disesuaikan setelah berkoordinasi dengan
Instansi terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

)%)%! ,)+

Pemerintah menetapkan kebijakan bagi setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menempatkan
Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pascatambang. Jaminan tersebut diperlukan sebagai wujud
kesungguhan setiap pemegang IUP dan IUPK untuk memulihkan lahan bekas tambang dan lahan
di luar bekas tambang sesuai peruntukan yang disepakati para pemangku kepentingan dalam
rangka pembangunan berkelanjutan.

cÿ
Besaran Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pascatambang dihitung berdasarkan rencananya.
Besarnya jaminan tersebut harus mampu menutup seluruh biaya reklamasi dan pascatambang.
Biaya reklamasi dan pascatambang dijadikan dasar besarnya jaminan dan dihitung berdasarkan
pelaksanaan reklamasi dan pascatambang seolah-olah dilaksanakan oleh pihak ketiga (meskipun
dikerjakan sendiri). Penempatan jaminan yang dilakukan oleh pemegang IUP dan IUPK, bukan
berarti menghilangkan kewajiban perusahaan melaksanakan reklamasi dan pascatambang.

Penempatan Jaminan Reklamasi dimohonkan kepada perusahaan beserta bentuk jaminannya.


Bentuk Jaminan Reklamasi yang diperbolehkan deposito berjangka, bank garansi, atau cadangan
akuntansi. Bila ternyata besamya jaminan reklamasi tidak menutupi untuk menyelesaikan
reklamasi, kekurangan biaya reklamasi tetap menjadi tanggung jawab perusahaan.

Jaminan Pascatambang ditempatkan setiap tahun sesuai dengan umur tambangnya saat mulai
menempatkannya. Bentuk penempatan Jaminan pascatambang hanya satu, yakni deposito
berjangka. Bila kegiatan usaha pertambangan berakhir sebelum masa yang telah ditentukan
dalam rencana pascatambang, perusahaan tetap wajib menyediakan jaminan pascatambang
sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Bentuk jaminan deposito berjangka untuk Jaminan Pascatambang adalah jaminan yang paling
aman bagi pemerintah untuk pemulihan lahan pascatambang sesuai dengan rencana dan
kesepakatan para pemangku kepentingan. Alasannya, karena pada tahap pascatambang, saat
cadangan sudah habis, tidak ada lagi 
  yang diperoleh perusahaan. Di samping itu,
perusahaan juga dapat terbantu dengan jaminan tersebut. Sebab, dengan kemajuan pascatambang
yang dapat dipertanggungjawabkan, perusahaan berhak memohon pencairan jaminan
pascatambang sesuai dengan kemajuannya. Dengan demikian pencairan dana tersebut dapat
digunakan untuk kegiatan pascatambang berikutnya.

Perusahaan berhak mengajukan permohonan pencairan Jaminan Reklamasi dan Jaminan


Pascatambang bila telah melaksanakan kegiatan reklamasi dan pascatambang sesuai dengan
rencananya.


)%! ,)+% ) 

Dalam Pasal 67 ayat 1 UU Minerba, dinyatakan bahwa bupati/walikota memberikan Izin


Pertambangan Rakyat (IPR) terutama kepada penduduk setempat, baik perseorangan maupun
kelompok masyarakat dan/atau koperasi. Sebelum IPR terbit, pemerintah dan pemohon IPR
wajib menyusun rencana reklamasi dan rencana pascatambang di wilayah pertambangan rakyat
berdasarkan dokumen pengelolaan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi yang berwenang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Karena itu, pemegang IPR bersama dengan bupati/walikota wajib melaksanakan reklamasi dan
pascatambang, serta wajib menyediakan dana reklamasi dan dana pascatambang.

-

Pengawasan reklamasi dan pascatambang dapat dilakukan secara administratif dan teknik
lapangan. Keduanya dilakukan oleh inspektur tambang, sebagaimana diatur dalam Pasal 141 ayat
(2) UU Minerba. Dalam melaksanakan tugasnya, inspektur tambang berkoordinasi dengan
instansi terkait. Misalnya instansi yang menyelenggarakan pemerintahan di bidang
pertambangan, lingkungan hidup, kehutanan, pekerjaan umum dan lain-lain.

.*
*)%(
* ,)+

Lahan yang telah direklamasi sesuai dengan rencana reklamasi, memenuhi kriteria keberhasilan
reklamasi, dan sudah sesuai dengan peruntukannya µdapat¶ menyerahkan lahan yang telah
direklamasi tersebut Penekanan kata µdapat¶ berarti tidak semuanya lahan yang telah direklamasi
serta merta bisa diserahkan kepada pemerintah.

Pemerintah dalam hal ini adalah menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai kewenangannya.
Pengaturan ini mengakomodir suatu wilayah yang sudah lama direklamasi dan terkadang diminta
oleh daerah, sebab lahan lainnya masih aktif dan masih berumur panjang.

Pemegang IUP yang telah melaksanakan kewajiban pascatambang sesuai rencana, telah
memenuhi kriteria keberhasilan pascatambang, dan sudah sesuai peruntukan sebagaimana
kesepakatan para pemangku kepentingan, wajib menyerahkan lahan kepada pemerintah.


Upaya pemulihan lahan yang terganggu akibat kegiatan pertambangan harus dilakukan secara
optimal agar lahan bekas tambang tetap mempunyai potensi untuk penggunaan yang produktif.
Selain itu, konversi manfaat dari hasil pertambangan perlu dilakukan menjadi bentuk lain
(transformasi manfaat), agar pembangunan tetap dapat berlanjut di sekitar daerah pertambangan.
Untuk mencapai tujuan tersebut mutlak diperlukan perencanaan penambangan yang berwawasan
lingkungan, yaitu perencanaan penambangan yang mempertimbangkan upaya perlindungan
fungsi-fungsi! lingkungan pada lahan yang digunakan untuk pertambangan, dan perencanaan
pascatambang yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidu


M M
   

-‘ Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan,
pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup
-‘ Perubahan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Lingkungan hidup menjadi UU
No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup. Kemudian
perubahan UU No.1 Tahun 1967 tentang Pertambangan, menjadi UU No.4 Tahun 2009
tentang Minerba. Memberi suatu dorongan dan semangat dalam merubah padangan
terhadap lingkungan hidup. Memaknai lingkungan hidup yang tidak seimbang, atau tidak
dengan sesuai dengan kapasitas daya dukung dan daya dampung, akan menyebabkan
bencana buat kita semua, juga generasi yang akan datang
-‘ Prinsip pengelolaan lingkungan hidup meliputi perlindungan terhadap kualitas air
permukaan, air tanah, air laut, tanah, dan udara sesuai dengan standar baku mutu
lingkungan hidup dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berhubung
keanekaragaman hayati Indonesia begitu kaya, maka reklamasi tambang wajib
mempertimbangkan perlindungan keanekaragaman hayati tersebut. Untuk memastikan
keamanan daerah timbunan bagi lingkungan sekitarnya, reklamasi dan pascatambang
juga harus menjamin stabilitas dan keamanan timbunana batuan penutup, kolam tailing,
lahan bekas tambang serta struktur buatan Π  
  lainnya. Selanjutnya,
reklamasi dan pascatambang pun harus memiliki nilai manfaat sesuai peruntukannya, dan
menhormati nilai-nilai sosial & budaya setempat.







 



 !"#$

%&%&'"()()""*+%,-+-,-,&%,-+%-+-
%'-.,

',,'%&%+'',.,,"