Anda di halaman 1dari 2

Nama : Kholid Abrori Ahda

NPM : 170410100063

Analisis UUD 1945 berdasarkan klasifikasi yang dianalisis KC. Wheare

Istilah konstitusi berasal dari bahasa Prancis (constituer) yang berarti membentuk. Pemakaian
istilah konstitusi yang dimaksudkan ialah pembentukan suatu negara atau menyusun dan
menyatukan suatu negara.

Sedangkan istilah Undang-undang dasar merupakan terjemahan istilah yang dalam bahasa
Belandanya Gronwet. Perkataan Wet diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia undang-
undang, dan ground berarti tanah/dasar.

Undang-undang dasar atau Konstitusi Negara Republik Indonesia disahkan dan dan
ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus
1945, yakni sehari setelah proklamasi kemerdekaan.

Dalam pengklasifikasian konstitusi dikenal banyak banyak ahli yang mencoba


mengklasifikasikannya. Salah satunya adalah K.C Wheare yang berpendapat tentang macam-
macam klasifikasi konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Wheare mengungkapkan banyak
macam konstitusi yang ada di beberapa negara, pada intinya sebagai berikut:

1. Konstitusi tertulis dan konstitusi bukan tertulis

2. Konstitusi fleksibel dan konstitusi rijid

3. Konstitusi derajat-tinggi dan konstitusi tidak derajat-tinggi

4. Konstitusi serikat dan konstitusi persatuan

5. Konstitusi sistem pemerintahan presidensial dan konstitusisistem pemerintahan


parlementer

Pertama, UUD 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia termasuk kedalam konstitusi tertulis
jika melihat dari analisis Wheare. Hal ini dikarenakan UUD 1945 merupakan konstitusi yang
dituangkan dalam sebuah dokumen formal yang kemudian dibukukan sebagai hukum dasar
berjalannya negara.
Kedua, UUD 1945 memiliki ciri-ciri pokok (1) mempunyai kedudukan dan derajat yang lebih
tinggi dari peraturan perundang-undangan yang lain (2) hanya bisa diubah dengan cara yang
khusus dan istimewa atau dengan persyaratan yang berat. Berarti, UUD 1945 termasuk
kedalam konstitusi yang bersifat rijid atau kaku jika dilihat dari “cara dan prosedur
perubahannya” yang sulit.

Ketiga, yang dimaksud dengan konstitusi derajat tinggi ialah konstitusi yang mempunyai
kedudukan tertinggi dalam negara. Dilihat dari segi bentuknya, konstitusi ini berada di atas
peraturan perundang-undangan yang lain. Syarat yang harus dipenuhi apabila hendak
melakukan terhadap konstitusi serajat tinggi sangatlah sulit dan berat jika dibandingkan
dengan peraturan-peraturan yang lain. UUD 1945 seperti yang sudah dijelaskan pada poin
kedua di atas, dapat juga dimasukkan kedalam jenis konstitusi derajat tinggi karena bentuk,
proses pengubahan dan derajatnya lebih tinggi dibanding undang-undang yang lain.

Keempat, bentuk negara Indonesia dapat digolongkan sebagai negara kesatuan dimana
pembagian kekuasaan tidak dijumpai, karena seluruh kekuasaan tersentralkan di pemerintah
pusat dan sudah di atur dalam konstitusi kesatuannya. Oleh sebab itu, UUD 1945 masuk
kedalam klasfifikasi konstitusi kesatuan karena ini berhubungan erat dengan bentuk negara.

Kelima, negara dengan sistem pemerintahan presidensial memiliki ciri-ciri menurut C.F.
Strong sebagai berikut (a) Presiden mempunyai kekuasaan sebagai kepala negara dan
berkedudukan sebagai kepala pemerintahan. (b) Presiden tidak dipilih oleh pemegang
kekuasaan legislatif, akan tetapi dipilih langsung oleh rakyat. (c) Presiden tidak termasuk
pemegang kekuasaan legislatif. (d) Presiden tidak bisa membubarkan kekuasaan legislatif.
Dilihat dari ciri-ciri tersebut, maka Indonesia termasuk ke dalam negara presidensial.
Sehingga UUD 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia dapat diklasifikasikan kedalam
konstitusi sistem pemerintahan presidensial karena mengatur secara jelas bagaimana proses
berjalannya tatanegara presidensial.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Undang-Undang Dasar 1945
termasuk dalam klasifikasi konstitusi tertulis, konstitusi yang rijid/kaku, konstitusi derajat-
tinggi, konstitusi kesatuan dan konstitusi sistem pemerintahan presidensial.