Anda di halaman 1dari 44

Modul 1

MICROCOUNSELING:

Sebuah Pemahaman Konsep & Aplikasi

1 MICROCOUNSELING: Sebuah Pemahaman Konsep & Aplikasi Disusun Sebagai Panduan Bahan Ajar Untuk Mahasiswa Prodi

Disusun Sebagai Panduan Bahan Ajar

Untuk Mahasiswa Prodi Bimbingan Konseling FKIP-Universitas Widya Mandala Madiun ÉÄx{MÉÄx{MÉÄx{MÉÄx{M Bernardus
Untuk Mahasiswa Prodi Bimbingan Konseling
FKIP-Universitas Widya Mandala Madiun
ÉÄx{MÉÄx{MÉÄx{MÉÄx{M
Bernardus Widodo

Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Widya Mandala Madiun

Jln. Manggis 15-17, Telp. (0351) 453328

R a s i o n a l

Konseling merupakan hubungan profesional antara konselor dan konseli. Hubungan konselor dengan konseli merupakan “jantung” dari keseluruhan proses

konseling. Pendekatan eksistensialis, berkeyakinan bahwa, dalam keseluruhan proses konseling yang paling utama adalah hubungan konselor dengan konseli, karena situasi

hubungan tersebut merupakan stimulus untuk terjadinya perubahan ke arah yang positif . Menyadari bahwa konseling adalah suatu layanan yang bersifat profesional

dan bertujuan, yaitu terjadinya perubahan/“canges”, maka kondisi fasilitatif yang merujuk pada dimensi kepribadian dari seorang konselor sangat dituntut. Karakteristik

kepribadian konselor efektif, yang dapat menciptakan kondisi fasilitatif dalam hubungan konseling, meliputi: 1). personal congruence (2). Empathy

(3).understanding (4) cultural sensitiviy. (5). genuineness. (6) respect/positive (7) Communication.

Penguasaan dan kemampuan menginternalisasi dari sjumlah teknik dasar komunikasi dalam konseling menjadi hal yang esensi dalam upaya membangun

sebuah hubungan konseling yang bercorak profesional dan bertujuan. Teknik dasar komunikasi konseling, itu antara lain: (1) Opening, (2) Acceptance, (3) Structuring,

(4) Reflection of feelings, (5) Reflection of Meaning (6) Restatement, (7) Clarification, (8) Paraphrasing, (9) Confronting, (10) Questioning, (11) Reassurance, (12)

Summary, (13) Advice (14) Rejection, (15) Termination, (16) Focusing, (17) Minimal Encouragement, (18) Exporation, (19) Directing.

Apa yang akan dipaparkan dalam modul ini adalah sebagai overwiew contents atau isi yang menyangkut: hubungan konseling, kondisi fasilitatif konseling dan teknik

dasar komunikasi konseling. Harapannya agar mahasiswa (1) memperoleh ketajaman materi kembali berkaitan isi esensi yang yang harus dikuasi berkaitan dengan

pelaksanaan microcounseling, (2). mampu mengimplementasikannya ke dalam latihan konseling, baik yang bersifat laboratoris maupun real-conseling yaitu konseling

dalam seting sekolah.

Madiun, 12 Desember 2007 Penyusun,

Bernardus Widodo

SILABUS MIKROKONSELING (MICROCOUNSELING)

(3SKS)

TUJUAN Mahasiswa memiliki kemampuan dalam memahami beberapa konsep teknik dasar konseling dan mempraktekkannya di bidang konseling dalam membantu konseli melalui pengalaman otentik.

DESKRIPSI Mengkorelasikan teori dan praktek melalui pelaksanaan microcounseling (simulasi, praktek laboratories dan praktek lapangan). Mahasiswa merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program konseling dan pada akhir perkuliahan mahasiswa menyusun laporan mandiri hasil pengalaman dalam konseling baik dalam suasana laboratoris maupun setting sekolah yang sesungguhnya.

INDIKATOR KOMPETENSI

1. Bersikap hangat dan penuh perhatian terhadap klien

2. Mengapresiasikan dan mensimulasikan komunikasi verbal dan non verbal sikap respek konselor terhadap klien sebagai pribadi yang berguna dan bertanggungjawab.

3. Mengkomunikasikan harapan dan mengekspresikan keyakinan bahwa klien memiliki kapasitas untuk memecahkan problem, menata dan mengatur hidupnya serta berkembang secara produktif.

AKTIVITAS BELAJAR

1. Observasi lapangan: mahasiswa melakukan observasi ke sekolah (SMP/SMA) berkaitan dengan kasus dan penyelenggaraan konseling. Setiap mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman dalam beberapa isu pelaksanaan konseling di sekolah, komplektisitas masalah dan peran konselor dalam upaya- upaya pengatasannya.

2. Overview: hubungan konseling, kondisi fasilitatif konseling, dan teknik- teknik Dasar komunikasi konseling.

3. Unjuk kerja ketrampilan dasar konseling. Mahasiswa mengejawantahkan penguasaan akademiknya dalam pengalaman simulasi dengan tujuan: 1). untuk mengintegrasikan pengetahuan eksternal menjadi bagian terpribadikan, 2). untuk memberikan kesempatan mahasiswa berfikir kritis dan reflektif, dan 3). untuk memberikan kesempatan ganda bagi mahasiswa dalam memperoleh balikan.

4. Partisipasi dalam diskusi. Setiap mahasiswa akan mengikuti sesi-sesi diskusi dan berkesempatan untuk mengarahkan pemahaman menuju ke arah puncak kesadaran profesi perbantuan (helping professional).

6.

Laporan mandiri. Aktivitas assessment terhadap kemampuan mahasiswa dilakukan melalui laporan tertulis secara mandiri.

ANCANGAN SILABUS

SESI

TOPIK

KBM

KETERANGAN

1

Observasi kasus dan penyelenggaraan konseling di lapangan

Kunjungan

ke

Setiap mahasiswa membuat laporan hasil kunjungan dan presentasi kelas.

sekolah

2

Overwiew: Hubungan Konseling

Informasi, diskusi

 

3

Overwiew: Kondisi fasilitatif konseling: personal congruence, emphaty, cultural sensitivity, genuineness, respect/positive regard.

Informasi, diskusi

 

5

Overwiew: Teknik dasar komunikasi konseling, antara lain: penerimaan, pengulangan, parafrase, pemantulan perasaan, pemantulan makna, konfrontasi, teknik bertanya, dst.

Informasi, diskusi

 

6

Latihan ketrampilan dasar penyelenggaraan konseling dengan modus aplikasi ketrampilan dasar konseling.

Praktek konseling, refleksi, supervisi (supervised practice)

Laboratorium BK

7

Latihan mandiri (self-initiated practice) dalam program pemagangan

Praktek konseling

Tempat sekolah

8

Penyusunan laporan latihan mandiri.

Mandiri di sekolah.

Mahasiswa membuat rekaman konseling dan verbatim/synopsis konseling

DAFTAR PUSTAKA

1. ABKIN. 2006. Naskah Akademik Penataan Pendidikan Professional Konselor. Bandung: ABKIN.

2. Corey, Gerald. 2005. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, seventh edition. California State University, Fullerton Diplomate in Counseling Psychology, American Board of Professional Psycholog:

Brooks/Cole

3. Haney, Hutch & Leibsohn, Jacqueline.2001. Basic Counseling Responses. State University: Wadsworth/Thomson Learning 10 Davis Drive Belmont,CA. Brooks/Cole.

4. Ivey,A.E. & Ivey, M.B. 2003. Intentional Interviewing and Counseling. Usa:

Brooks/Cole, a division of Thomson Learning Inc.

5. Nirwana, Herman. 1997. Persepsi Klien tentang Konseling, Ketrampilan komunikasi Konselor dalam Konseling, dan Hubungan Keduanya dengan Pengungkapan Diri Klien. Tesis (tidak diterbitkan) Program Studi Bimbingan Konseling, Program Pascasarjana IKIP Malang.

6. Rosjidan,MA. 2006. Pengantar Konseling. Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.

7. Raka,Joni,T,dkk.2007. Penajaman Teknik Konseling & Psikoterapi. Universitas Negeri Malang: Program Pasca Sarjana.

8. Sri Esti Wuryanti, Dra. 1991. Latihan Ketrampilan Berkomunikasi dalam Konseling. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang.

9. Shertzer & Stone.1981. Fundamentals of Guidance. Boston:Houghton Mifflin Company.

10. Willis, S. Sofyan,. 2004. Konseling Individual. Teori dan Praktek. Bandung:

CV. Alfabeta.

BAHASAN MATERI

Dalam pembahasan materi ini akan diuraikan ke dalam 3 penggalan pokok, sebagai berikut:

(a)

Penggalan I

: Hubungan Konseling

(b)

Penggalan II

: Kondisi Fasilitatif

(c)

Penggalan III

: Teknik Dasar Konseling

Setiap penggelan dilengkapi dengan:

A. Tujuan Umum

B. Tujuan Khusus Pembelajaran

C. Petunjuk Kegiatan

D. Paparan Materi

E. Latihan Soal

F. Rangkuman

A. Tujuan

Penggalan I:

HUBUNGAN KONSELING

A. Tujuan Penggalan I: HUBUNGAN KONSELING Setelah mempelajari bahan ini mahasiswa diharapkan memahami segi-segi sikap dan

Setelah mempelajari bahan ini mahasiswa diharapkan memahami segi-segi sikap

dan keterampilan dalam hubungan konseling, yang mencakup, 1). Pengertian

hubungan, 2). Sikap dalam hubungan konseling, 3). Keterampilan dalam

hubungan konseling.

B. Tujuan Khusus Pembelajaran

Setelah mempelajari materi pada penggelan I, mahasiswa diharapkan dapat:

1. Menjelaskan hakekat hubungan dalam konseling.

2. Menjelaskan sejumlah karakteristik dari hubungan konseling.

3. Menjelaskan

4

hal

yang

menyangkut

sikap

konselor

dalam

hubungan

konseling!.

4. Menjelaskan 3 hal berkaitan dengan keterampilan konselor dalam hubungan konseling.

C. Petunjuk Kegiatan

Pelajarailah materi pada penggalan I (Hubungan Konseling) dengan seksama, dan setelah selesai mempelajari materi tersebut, kemudian jawablah latihan soal- soal dengan cermat.

D. Paparan Materi

A. Hubungan Konseling

Secara umum hubungan konseling dimaknai sebagai hubungan yang bersifat

membantu, artinya pembimbing berusaha membantu terbimbing agar tumbuh,

berkembang, sejahtera dan mandiri. Shertzer & Stone (1981) mendifinisikan

hubungan konseling sebagai: “ interaksi antara seorang dengan orang lain yang

dapat menunjang dan memudahkan secara positif bagi perbaikan orang tersebut”.

Selanjutnya Rogers mendefinisikan hubungan konseling sebagai: “ Hubungan

seorang dengan orang lain yang datang dengan maksud tertentu”. Hubungan itu

bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, kematangan,

memperbaiki fungsi dan memperbaiki kehidupan. Sedangkan sifat dari hubungan

konseling adalah menghargai terbuka, fungsional untuk menggali aspek-aspek

terselubung (emosional, ide, sumber-sumber informasi dan pengalaman dan potensi

secara umum). Benyamin (dalam Shertzer & Stone,1981) mengartikan hubungan

konseling adalah interaksi antara seorang professional dengan konseli, dengan syarat

bahwa profesional itu mempunyai waktu, kemampuan untuk memahami dan

mendengarkan, serta mempunyai minat, pengetahuan dan ketrampilan. Hubungan

konseling yang terjadi harus memudahkan dan memungkinkan orang yang dibantu

untuk hidup lebih mawas diri dan harmonis.

Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan sejumlah karakteristik dari hubungan

konseling, yang dapat membedakan antara hubungan konseling dengan relasi antar

manusia biasa seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Karakteristik yang

dimaksud, antara lain:

1. sifat bermakna. Maknanya adalah bahwa ahubungan konseling mengandung harapan bagi konseli dan konselor, juga bertujuan, yaitu tercapainya perkembangan konseli.

2. bersifat efek. Efek adalah perilaku-perilaku emosional, sikap dan kecenderungan- kecenderungan yang didorong oleh emosi. Efek hadir dalam hubungan kopnseling karena adanya keterbukaan diri (self-disclosure) konseli, keterpikatan, keasikan diri (self-absorbed) dan saling sensitive satu sama lain.

3. integrasi pribadi. Integritas pribadi menyangkut sikap yang genuine” dari kedua belah pihak (konseli dan konselor), yaitu sikap yang menunjukkan ketulusan, tanpa kepura-puraan, menampilkan keaslian diri, membuang kesombongan, arogansi dan kebohongan. Adanya ketulusan, kejujuran keutuhan dan keterbukaan.

4. persetujuan bersama. Hubungan konseling terjadi atas persetujuan bersama, adanya komitmen bersama, bukan suatu paksaan.

5. kebutuhan. Hubungan konseling yang terjadi didasarkan atas faktor kebutuhan, yaitu kebutuhan konseli dalam hubungannya dengan persoalan yang tengah dihadapi. Maka hubungan konseling selalu bercorak pemecahan masalah (problem solving).

6. perubahan. Tujuan hubungan konseling adalah perubahan positif yang terjadi pada diri konseli. Misalnya kemampuan konseli dalam mengatasi masalah, mampu melakukan penyesuaian diri, mampu mengembangkan diri secara optimal.

B. Sikap Dalam Hubungan Konseling

Sikap konselor, pendekatan yang dipakainya, dan perbuatan yang

dilakukannya, dalam batas-batas tertentu semuanya mempengaruhi hubungan antara

konselor dan klien. Konselor memegang peranan kunci memulai dan mengembangkan

hubungan tersebut. Ada empat hal yang penting untuk diperhatikan:

1). Keyakinan Konselor Tentang Hakekat Manusia Hal pertama yang perlu diperhatikan ialah keyakinan atau pandangan konselor

tentang hakekat manusia. Manusia itu pada dasarnya baik. Demikianlah konseli,

yang adalah manusia, pada dasarnya baik. Harus diyakini bahwa konseli(yang

adalah manusia) pada dirinya mengandung kebaikan-kebaikan yang perlu dan

dapat dikembangkan. Justru tugas konselorlah membantu konseli menemukan,

mengungkapkan, dan mengembangkan kebaikan-kebaikan pada diri konseli itu.

Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan yang positif. Kecenderungan

yang positif itu kadang-kadang terganggu karena konseli mengalami sesuatu

masalah. Dalam hal ini, sekali lagi, konselor bertugas membantu meringankan

beban konseli dan membebaskannya dari gangguan masalah ini. Jika konseli

terbebas dari ganguan itu, maka dasar-dasar kebaikan dan kecenderungan yang

positif dapat dipastikan akan terwujudkan dalam bentuk-bentuk yang baik dan

positif pula.

Diskusi:

(a)

Sebutkanlah sikap dan pandangan Anda sendiri tentang seorang konseli yang meminta bantuan kepada Anda!

(b)

Sebutkanlah beberapa sikap dan pandangan yang tidak semestinya tentang konseli yang memerlukan bantuan.

(c)

Sebutkan pula akibat yang mungkin timbul pada diri konseli yang dikenai oleh sikap dan pandangan negatif konselor seperti tersebut pada butir a dan b.

2). Kemampuan Menerima Klien

konselor

sebagaimana adanya. Dasar dari kemampuan ini ialah penghargaan terhadap orang

konseli

Hal

kedua

ialah

kemampuan

benar-benar

menerima

lain (dalam hal ini konseli) sebagai seorang yang pada dasarnya baik. Dalam

menerima konseli ini, ada dua unsur yang perlu diperhatikan:

a. Konselor berkehendak untuk membiarkan adanya perbedaan antara konselor

dan konseli.

b. Konselor menyadari bahwa pengalaman yang akan dijalani oleh konseli dalam

berhubungan dengan konselor adalah usaha penuh dengan perjuangan,

pembinaan, dan perasaan.

Penerimaan konselor terhadap konseli secara langsung berhubungan dengan

kemampuan konselor untuk tidak memberikan penilaian tertentu terhadap konseli.

Dalam hal ini seorang konselor tidak menerapkan sesuatu ukuran terhadap ciri-ciri

ataupun keadaan apapun pada konseli. Konselor tidak menetapkan syarat-syarat

tertentu yang harus dipenuhi oleh konseli sebelum konselor mau memberikan

bantuannya. Dengan kata lain kehadiran konselor haruslah dengan sikap yang

genuine”. Ungkapan-ungkapan yang memakai kata “jika”, misalnya “jika kamu

berhenti berbuat nakal …”, “jika kamu menghormati saya, …”, “jika kamu mau

mematuhi saya, …”, “jika anakmu itu tidak terlalu bodoh”, dan sebagainya,

menunjukkan bahwa kehadiran konselor dalam hubungan yang bercorak

konseling adalah tidak “genuine”. Harus disadari bahwa dalam konseling, k’lor

sebenarnya mau melayani konseli, maka dia harus hadir dengan genuine hadir

tanpa pretensi apa-apa.

Diskusi:

(a) Seandainya Anda tahu sebelumnya bahwa konseli yang datang pada Anda untuk meminta bantuan adalah siswa/mahasiswa yang nakal, pemalas, dan berprestasi rendah dalam pelajaran/mata kuliah, bagaimana sikap Anda untuk dapat menerima mahasiswa itu apa adanya? Haruskah Anda melupakan saja pengetahuan Anda tentang siswa/mahasiswa itu atau Anda pura-pura tidak tahu tentang hal itu semua, atau bagaimana? (b) Jika konselor harus menerima konseli apa adanya, perlukah konselor memperhatikan keterangan-keterangan tentang siswa/mahasiswa yang terdapat di dalam himpunan data (cummulative record) siswa/mahasiswa? Mengapa?

3). Penuh Pengertian Terhadap Konseli Hal ketiga bahwa setiap orang ingin dimengerti. Jika hubungan konseling akan

membuahkan sesuatu yang baik, maka konselor harus bersedia dan berusaha

mengerti konseli. Pengertian konselor yang menyangkut konseli harus mencakup

semua yang dikemukakan konseli secara jelas, benar, dan menyeluruh. Semua

pernyataan dari konseli, baik langsung maupun tidak langsung, baik melalui

pernyataan verbal maupun gerakan non-verbal perlu dijangkau dan dimengerti

oleh konselor. Mengerti secara mendalam tentang segala sesuatu yang

disampaikan konseli adalah sangat vital. Tanpa pengertian seperti ini, usaha

bantuan melalui konseling bisa menjadi salah arah atau isinya kurang tepat seperti

diharapkan oleh konseli. Dengan kata lain bahwa hubungan konseling bukan

sekedar percakapan tentang hal-hal eksternal (superficial), tetapi lebih pada hal-

hal internal konseli.

Diskusi:

(a). Usaha-usaha apakah yang harus Anda lakukan untuk dapat mengerti konseli dengan sebaik-baiknya? (b). Apakah akibat yang dapat timbul pada diri konseli bila dia merasa bahwa konselor tidak mengerti dengan baik tentang diri konseli?

© Bagaimanakah suasana kejiwaan konseli bila dia merasa bahwa dirinya benar- benar dimengerti oleh konselor?

4). Sikap Konselor Terhadap Norma Dan Nilai-Nilai

Hal keempat mengenai norma dan nilai-nilai. Di dunia Barat banyak konselor

yang menganggap bahwa dirinya tetap netral terhadap norma dan nilai-nilai.

Artinya, konselor tidak boleh mengambil sikap tertentu terhadap norma dan nilai-

nilai yang dianut oleh konseli. Di samping itu, ada pula konselor yang

berpendapat lain. Golongan konselor ini tidak bersifat netral terhadap nilai-nilai

yang dianut konseli, melainkan siap membicarakan secara terbuka dan terus-

terang tentang nilai-nilai itu. Konselor ini berpendapat bahwa bersikap netral

terhadap nilai-nilai bisa berbahaya, terutama karena konseli dapat berangapan

bahwa konselor menerima atau bahkan menyetujui nilai-nilai yang dianut konseli

itu, lebih-lebih jika nilai-nilai itu adalah nilai-nilai yang tidak dapat diterima oleh

masyarakat (tidak abersifat obyektif). Dalam hal ini konselor tida boleh bersikap

masa bodoh terhadap norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Sebenarnya suka atau tidak suka, langsung atau tidak langsung, konselor akan

menyertakan norma dan nilai yang dianutnya di dalam hubungan konseling

dengan konseli. Masalahnya, sekarang, bolehkah konselor memaksakan norma

dan nilai-nilai yang dianut sendiri kepada konseli? Jawabannya: Tidak.

Konselor dapat membicarakan secara terbuka dan terus-terang segala sesuatu yang

menyangkut norma dan nilai-nilai itu: Bagaimana berkembangnya, bagaimana

penerimaan masyarakat, apa dan bagaimana akibat yang dapat timbul bila norma

dan nilai-nilai seperti itu terus dianut, dsb. Jelaslah bahwa norma dan nilai-nilai itu

perlu dibahas dari segenap seginya agar konseli memiliki bahan yang cukup

dalam mengambil keputusan tentang norma dan nilai-nilai yang akan diambilnya.

Perlu dicatat, bahwa pada akhirnya konseli-lah yang hendaknya mampu

mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

Diskusi:

(a)

Mampukah sebagai konselor Anda bersikap wajar terhadap norma dan nilai-nilai yang Anda anut sendiri dan yang dianut oleh konseli?

(b)

Jika norma dan nilai-nilai yang dianut oleh konseli, berbeda dari norma

dan nilai-nilai yang Anda anut, bagaimana sikap Anda?

(c)

Bolehkah Anda menyampaikan nilai-nilai dan norma yang Anda anut kepada konseli yang Anda hadapi? Apa alasan jawab Anda?

(d)

Jika boleh, bagaimana caranya?

C. Keterampilan Dalam Hubungan Konseling

1). Kemampuan Membina Keakraban

Tiga macam keterampilan yang penting dalam hubungan konseling terdiri atas

membina keakraban (rapport), merasakan apa yang menjadi perasaan konseli

(empati), dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Kemampuan yang tinggi

dalam keterampilan tersebut akan mampu mengembangkan hubungan konseling

yang baik; sebaliknya kemampuan yang kurang memadai justru akan

mengakibatkan terganggunya hubungan. Ketiga keterampilan itu mendasari dan

sangat berkaitan dengan penerimaan dan pengertian konselor terhadap konseli.

Keakraban (rapport), merupakan syarat yang sangat pokok demi terbinanya

hubungan yang nyaman dan serasi antara konselor dan konseli. Keakraban ini

akan tumbuh dan terus-menerus terjaga bila konselor benar-benar menaruh

perhatian dan menerima konseli dengan baik. Perhatian dan penerimaan yang

murni (tidak palsu) ini sebenarnya tidak bisa dilaksanakan, ataupun direncanakan,

ataupun dibuat-buat. Seorang konselor yang memaksakan dirinya menaruh

perhatian dan menerima klien, atau (karena terpaksa) dengan sengaja

merencanakan bentuk-bentuk perhatian dan penerimaan terhadap konseli, maka

wujud perhatian dan penerimaan itu akan tidak wajar, dan ketidakwajaran ini

akhirnya akan mewarnai hubungan itu sendiri. Keakraban yang murni dan wajar

ditandai oleh adanya perhatian, tanggapan, dan keterlibatan perasaan secara tulus.

Keakraban ini lebih dalam dari sekedar mengucapkan salam atau sekedar

mengenakkan hati konseli saja. Lebih jauh dari itu, keakraban merupakan

kesatuan suasana hubungan yang ditandai oleh adanya rasa kerasan,

keharmonisan, saling mempercayai, kerjasama, kesungguhan dan ketulusan hati,

dan perhatian. Kesulitannya bahwa ciri-ciri suasana keakraban seperti ini amat

sukar diukur, amat sulit diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk tindakan yang

nyata, dan amat sukar dibuat petunjuk pelaksanaannya (resepnya). Satu-satunya

“resep” yang dapat dikemukakan disini ialah: Konselor hendaknya memiliki

kehendak hati yang kuat untuk menerima, memperhatikan, dan mendengarkan

orang lain (konseli). Keakraban yang murni adalah tanpa pamrih. Sofyan S.Willis

(2004) mengemukakan adanya 3 hal bagaimana seorang konselor menciptakan

rapport:

1). Pribadi konselor harus empati, merasakan apa yang dirasakan konseli. Dia juga harus terbuka, menerima tanpa syarat dan mempunyai rasa hormat dan menghargai. 2). Konselor harus mampu membaca perilaku non verbal konseli, terutama yang berhubungan dengan bahasa lisannya. 3). Adanya rasa kebersamaan, intim, akrab dan minat membantu tanpa pamrih (genuine). Artinya ada keiklasan dan kejujuran pada diri konselor.

Diskusi:

(a)

Mampukah Anda sebagai konselor membina keakraban yang wajar, murni, dan tulus dengan konseli yang datang kepada Anda untuk meminta batuan?

(b)

Ciri-ciri apakah yang terdapat pada diri Anda (konselor) dan pada diri siswa/mahasiswa (konseli) yang menandakan bahwa antara Anda (sebagai konselor) dan siswa/mahasiswa (sebagai konseli) itu ada hubungan yang akrab?

(c)

Mengapa keakraban itu tidak boleh palsu?

(d)

Apakah akibatnya bila antara konselor dan konseli tidak terdapat hubungan yang akrab?

(e)

Usaha-usaha apakah yang harus anda lakukan untuk membina keakraban itu?

2). Kemampuan Berempati

Empati pada dasarnya adalah mengerti dan dapat merasakan perasaan orang

lain (konseli). Empati ini akan lebih lengkap jika diiringi oleh penerimaan

konselor tentang apa yang dipikirkan oleh konseli. Empati adalah saling hubungan

antar dua orang, dan kuat lemahnya empati bergantung pada saling pengertian dan

penerimaan terhadap suasana yang diutarakan oleh konseli. Empati yang dalam

dapat dirasakan baik oleh konseli maupun oleh konselor sendiri. Carl Rogers

(dalam Sofyan S. Willis, 2004) mengartikan empat: “ sebagai kemampuan

merasakan dunia pribadi konseli, merasakan apa yang dirasakannya tanpa

kehilangan kesadaran diri”. Empati mempunyai subkomponen yaitu: (1) positive

regard (pengharagaan positif); (2) respect (rasa hormat); (3) warmt (kehangatan);

(4) concreteness (kekonkritan) ; (5) immediacy (kesiapan, kesegaran); (6)

confrontation (konfrontasi) (7) congruence/genuineness (keaslian). Bagaimana

kata Rogers konselor membantu konseli dengan sikap empati? Ikutilah hal-hal

berikut: (1) dalam hubungan konseling, konselor membantu konseli dengan sikap

sejajar dan terintegrasi dengan konseli, (2) Konselor bersikap unconditional

prositive regard terhadap konseli, (30 komunikasi yang empati dengan konseli.

Berdasarkan empati yang dikembangkan Rogers, Egan (dalam Sdofyan S.

willis, 2004) mengembangkan dua jenis empati, yakni: (1) empati primer (primary

empathy-PE), yaitu suatu perasaan bagaimana masuk ke dunia dalam konseli,

merasakan apa yang dirasakannya, dan dengan perilaku attending, (2) empati

tingkat tinggi yang lebih akurat (advanced accurate empathy-AAE), yaitu konselor

memberi empati yang lebih mendalam dan mengena sehingga pengaruhnya terasa

lebih mendalam pada diri konseli, dan pada gilirannya lebih membangkitkan

suasana emosi konseli. Dengan empati PE dan AAE, konselor akan mampu

menggali keterbukaan diri konseli (self-disclosure). Dan pada gilirannya konseli

akan lebih mampu melakukan eksplorasi diri.

Simak contoh berikut ini:

Kl: “Yaah

, Setiap kami berdua pergi keluar, selalu saja pacar saya itu menemui wanita lain. Hal itu menimbulkan perasaan tidak aman pada diri saya. Kadang- kadang saya mau memukulnya. Kami sering bertengkar. Akan tetapi dia selalu menolak tuduhan saya. Suatu malam di sebuah klub malam saat kami minum berdua, dia menemui seorang wanita, sampai saya putuskan pulang sendirian”.

keadaan saat ini telah membuat saya sangat gugup dan tegang.

Ko (PE): “Anda merasa tidak aman ketika melihat dia menemui wanita lain. Saya merasakan perasaan anda. Akan tetapi anda mempunyai kekuatan untuk bangkit dan pergi meninggalkannya”.

Ko (AAE): “Saya merasakan perasaan cemas yang anda alami. Saya ikut terluka dengan peristiwa itu. Namun saya terkesan dengan kekuatan anda untuk bangkit dan meninggalkan dia”.

Diskusi:

(a)

Dapatkah anda sebagai konselor ber-empati terhadap hal-hal yang terjadi dalam diri konseli?

(b)

Beri contoh bahwa anda ber-empati terhadap suasana yang dihadapi konseli?

(c)

Apakah akibat yang mungkin timbul pada diri konseli apabila dia merasa bahwa konselor ber-empati terhadap suasana yang dialaminya?

(d)

Apakah akibat yang mungkin timbul pada diri konseli apabila dia merasa bahwa konselor tidak ber-empati terhadap suasana yang dialaminya?

(e)

Dapatkah empati itu dipaksakan? Dapatkah ber-empati itu dilatihkan?

3). Kemampuan Memperhatikan

Kemampuan memperhatikan menuntut keterlibatan sepenuhnya dari konselor

terhadap segala sesuatu yang dikemukakan konseli. Kemampuan ini memerlukan

keterampilan dalam mendengarkan dan mengamati untuk dapat mengetahui dan

mengerti inti dan isi serta suasana perasaan sebagaimana diungkapkan oleh

konseli. Melalui mendengarkan dan mengamati itu, konselor tidak hanya

menangkap dan mengerti apa yang dikemukakan oleh konseli, tetapi juga

bagaimana dan mengapa konseli menyampaikan hal itu.

Bagaimanapun juga, suka atau tidak suka,. Konseli menginginkan perhatian

penuh dari konselor. Untuk ini, konselor perlu mencurahkan perhatian penuh

kepada segenap pengutaraan konseli, baik melalui kata-kata (verbal) maupun

isyarat atau kegiatan lain (non-verbal). Lebih dari itu, hal-hal yang

melatarbelakangi pengutaraan itupun perlu dijangkau oleh konselor.

Diskusi:

(a)

Hal-hal apa sajakah pada diri konseli yang perlu diperhatikan?

(b)

Apakah akibat yang dapat timbul pada diri konseli bila dia merasa bahwa segala yang disampaikannya benar-benar diperhatikan oleh konselor?

(c)

Apakah akibat yang mungkin timbul pada diri konseli apabila dia merasa bahwa konselor tidak memperhatikan dengan baik apa yang disampaikannya?

E. Latihan Soal

1. Jelaskan hakekat hubungan dalam konseling.

2. Jelaskan sejumlah karakteristik dari hubungan konseling.

3. Jelaskan 4 hal yang menyangkut sikap konselor dalam hubungan konseling!.

4. Jelaskan 3 hal berkaitan dengan keterampilan konselor dalam hubungan konseling

F. Rangkuman

Hubungan konseling diartikan sebagai: “ Hubungan seorang dengan orang

lain yang datang dengan maksud tertentu”. Hubungan itu bertujuan untuk

meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, kematangan, memperbaiki fungsi dan

memperbaiki kehidupan. Sedangkan sifat dari hubungan konseling adalah menghargai

terbuka, fungsional untuk menggali aspek-aspek terselubung (emosional, ide, sumber-

sumber informasi dan pengalaman dan potensi secara umum). Sofyan S. Willis (2004)

bermakna, 2). bersifat efek, 3). integrasi pribadi, 4). persetujuan bersama, 5). Kebutuhan, 6). perubahan.

Dalam hubungan konseling ada sejumlah hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1). Sikap Dalam Hubungan Konseling, yang meliputu: keyakinan konselor tentang hakekat manusia, kemampuan menerima klien, penuh pengertian terhadap konseli dan sikap konselor terhadap norma dan nilai-nilai; 2). Keterampilan Dalam Hubungan Konseling, yang meliputi: kemampuan membina keakraban, kemampuan berempati, dan kemampuan memperhatikan.

*****

Penggalan II:

KONDISI FASILITATIF KONSELING

A. Tujuan

Penggalan II: KONDISI FASILITATIF KONSELING A. Tujuan Setelah mempelajari bahan ini mahasiswa diharapkan memahami

Setelah mempelajari bahan ini mahasiswa diharapkan memahami sejumlah

kondisi fasilitatif konselor yang berperan dalam menciptakan iklim hubungan

konseling yang bercorak professional dan bertujuan.

B. Tujuan Khusus Pembelajaran

Setelah mempelajari materi pada penggelan II, mahasiswa diharapkan dapat:

1.

Menjelaskan hakekat dan tujuan konseling.

2.

Menjelaskan makna kondisi fasilitatif dalam corak hubungan konseling dan unsur-unsur yang ada di dalamnya.

3.

Menjelaskan mengapa hubungan konseling yang bercorak profesional dan bertujuan membutuhkan kondisi fasilitatif konselor.

4.

Menjelaskan bagaimana jika kondisi fasilitatif itu lemah dalam hubungan konseling yang bercorak profesional dan bertujuan!

C. Petunjuk Kegiatan

Pelajarailah materi pada penggalan II (Kondisi Fasilitatif

seksama, dan setelah selesai mempelajari materi tersebut, kemudian jawablah latihan soal-soal dengan cermat.

Konselor) dengan

D. Paparan Materi

KONDISI FASILITATIF KONSELING

Konseling merupakan hubungan profesional antara konselor dan konseli.

Menurut Brammer & Shostrom (dalam Herman Nirwana, 1997), hubungan konselor

dengan konseli merupakan “jantung” dari keseluruhan proses konseling. Untuk itu

hubungan konselor dengan konseli menjadi dasar dalam keseluruhan proses

konseling. Bahkan, menurut pendekatan eksistensialis, dalam keseluruhan proses

konseling yang paling utama adalah hubungan konselor dengan konseli, karena situasi

hubungan tersebut merupakan stimulus untuk terjadinya perubahan ke arah yang

positif (Corey,1986, Herman Nirwana, 1997).

Hubungan yang bercorak konseling ini mempunyai tujuan atau hubungan yang bertujuan. Rogers (dalam Corey, 1986, Herman Nirwana, 1997) mengemukakan tujuan konseling adalah menciptakan kondisi agar konseli merasa bebas melakukan eksplorasi diri. Secara lebih rinci Walker dan Paifer (dalam Shertzer & Stone, 1981) mengemukakan sejumlah tujuan konseling, yaitu: (1) penyesuaian diri dalam hal apa yang dimiliki oleh konseli/individu, (2) kebahagiaan, (3) kebabasan secara psikologis tanpa mengabaikan tanggungjawab sosial, (4) penyesuaian diri dan (5) kesehatan mental. Shertzer & Stone, (1981) mengemukakan, bahwa tujuan konseling meliputi 5 hal, yaitu: (1) facilitating behavior change (memfasilitasi terjadinya perubahan perilaku), (2) enhaceeing growing skills (mendorong ketrampilan untuk tumbuh dan berkembang), (3) Promoting decision making, (4) Improving relationship (memperbaiki hubungan), dan (5). facilitating client potential . Menyadari bahwa konseling adalah suatu layanan yang bersifat profesional dan bertujuan, yaitu terjadinya perubahan/“canges”, maka kondisi fasilitatif konseling yang merujuk pada dimensi kepribadian dari seorang konselor sangat dituntut. Karena pada hakekatnya konselor sebagai seorang yang ditugaskan untuk melakukan usaha- usaha membantu orang lain dalam hal memahami diri sendiri, pembuatan keputusan dan pemecahana masalah. Kepribadian konselor merupakan titik tumpu yang berfungsi sebagai penyeimbang antara pengetahuan mengenai dinamika perilaku dan ketrampilan terapeutik. Ketika titik tumpu ini kuat, pengetahuan dan ketrampilan bekerja secara seimbang dengan kepribadian yang berpengaruh pada perubahan perilaku positif dalam konseling. Namun ketika titik tumpu ini lemah, yaitu dalam keadaan kepribadian konselor tidak banyak membantu, maka pengetahuan dan ketrampilan tidak akan efektif digunakan dan usaha membantu orang lain tidak dapat tercapai. Karakteristik kepribadian konselor efektif, yang dapat menciptakan kondisi fasilitatif dalam hubungan konseling, seperti yang dikemukakan oleh Shetzer & Stone (1981), adalah sebagai berikut: 1). personal congruence (punya pikiran/perasaan yang sama), 2). Empathy (=lebih pada afektif: bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain), (3).understanding (lebih pada kognitifnya), (4) cultural sensitiviy (kepekaan cultural/budaya. Dalam konseling, kepekaan budaya ini tidak hanya menyangkut soal ras, karena “culture” diartikan sebagai pola pikir dan pola tindak. Misalnya: soal mendengarkan musik: orang tua dan remaja berbeda., ini soal usia; soal gaya bucara di SMS, remaja banyak menggunakan kata-kata singkatan ynag orang tua tidak

mengerti, soal pekerjaan); (5). genuineness. (tulus, tanpa pamprih, tak bersyarat).

Sikap genuineness ini analog dengan bentuk pelayanan kasih tak bersyarat artinya:

pelayanan kasih yang diberikan tanpa mengharap imbalan, dan diberikan kepada

seseorang tidak untuk “what he is…”, tetapi untuk “who he is Dalam hal ini

konseli harus dihargai dan diterima sebagai person, memberikan kebebasan untuk

berkembang. Maka penting bahwa kasih tak bersyarat ini haruslah mewarnai konselor

dalam aktivitas hubungan konseling. Dengan kasih tak bersyarat , konselor akan dapat

membantu klien dengan baik. (6) respect/positive regard (menerima orang lain tanpa

syarat, menerima apa adanya.), (7) Communication (ketrampilan komunikasi).

Penting bahwa seorang konselor menguasai sejumlah teknik dasar komunikasi dalam

konseling. Dengan penguasaan, pemahaman dan kemampuan menginternalisasikan

sejumlah teknik dasar komunikasi konseling, (pembahasan dalam penggelan III),

konselor akan mampu membangun sebuah proses konseling yang bercorak

professional dan bertujuan.

”.

E. Latihan Soal

1. Jelaskan hakekat dan tujuan konseling.

2. Jelaskan makna kondisi fasilitatif dalam corak hubungan konseling dan unsur- unsur yang ada di dalamnya.

3. Jelaskan mengapa hubungan konseling yang bercorak profesional dan bertujuan membutuhkan kondisi fasilitatif konseling.

4. Jelaskan bagaimana jika kondisi fasilitatif itu lemah dalam hubungan konseling yang bercorak profesional dan bertujuan!

F. Rangkuman

Hubungan konselor dengan konseli merupakan “jantung” dari keseluruhan

proses konseling. Bahkan, menurut pendekatan eksistensialis, dalam keseluruhan

proses konseling yang paling utama adalah hubungan konselor dengan konseli, karena

situasi hubungan tersebut merupakan stimulus untuk terjadinya perubahan ke arah

yang positif.

Menyadari bahwa konseling adalah suatu layanan yang bersifat profesional dan

bertujuan, yaitu terjadinya perubahan/“canges”, maka kondisi fasilitatif yang merujuk

pada dimensi kepribadian dari seorang konselor sangat dituntut. Karakteristik

kepribadian konselor efektif, yang dapat menciptakan kondisi fasilitatif dalam

hubungan konseling, meliputi:: 1). personal congruence (2). Empathy

(3).understanding (4) cultural sensitiviy. (5). genuineness. (6) respect/positive (7)

Communication.

Penggalan III:

TEKNIK DASAR KOMUNIKASI DALAM KONSELING

A. Tujuan

III: TEKNIK DASAR KOMUNIKASI DALAM KONSELING A. Tujuan Setelah mempelajari bahan ini mahasiswa diharapkan memahami

Setelah mempelajari bahan ini mahasiswa diharapkan memahami sejumlah teknik

dasar komunikasi dalam konseling, yang selanjutnya dapat mengimplementasikan

dalam aktivitas konseling secara mandiri.

B. Tujuan Khusus Pembelajaran

Setelah mempelajari materi pada penggelan III, mahasiswa diharapkan dapat:

1. Menjelaskan teknik-teknik dasar komunikasi dalam konseling:

a). Opening

b). Acceptance

c). Structuring

d). Reflection of feelings

e). Reflection of Meaning

f). Restatement

g). Clarification

h). Paraphrasing (Parafrase)

i). Confronting (Konfrontasi)

j). Questioning

k). Reassurance

l). Summary

m). Advice

n). Rejection

o). Termination p). Focusing q). Minimal Encouragement r). Exporation s). Directing

2.

Memberikan contoh model penerapan sejumlah teknik dasar komunikasi konseling di atas dalam seting wawancara konseling.

3.

Membuat verbatim dari sebuah percakapan konseling.

4.

Melakukan observasi dan supervisi dalam suatu proses wawancara konseling

C. Petunjuk Kegiatan

Pelajarailah

Konseling) dengan seksama, dan setelah selesai mempelajari materi tersebut, kemudian jawablah latihan soal-soal dengan cermat.

dalam

materi

pada

penggalan

II

(Teknik

Dasar

Komunikasi

D. Paparan Materi

TEKNIK DASAR KOMUNIKASI DALAM KONSELING

Hubungan konseling adalah bercorak professional dan bertujuan. Untuk

sampai pada tujuan konseling yang diharapkan, maka seorang konselor professional

penting untuk menguasa sejumlah teknik dasar komunikasi dalam konseling. Teknik

dasar komunikasi konseling, sebagaimana yang dimaksud seperti yang terurai dalam

pembahasan berikut ini.

1. Opening (Pembukaan).

Pembukaan adalah ketrampilan konselor membuka atau memulai wawancara

konseling dalam hubungan konseling. Dalam hal ini perlu diperhatikan tentang

penyambutan dan topic netral. Penyambutan dilaksanakan (1) secara lisan,

misalnya memberi atau menjawab salam, mempersilahkan duduk, menyebut nama

konseli. Menyebut nama merupakan bagian utama dalam menciptakan rapport. (2)

dengan tanpa lisan, misalnya segera membuka pintu setelah mendengar ketukan pintu,

menjabat tangan dengan senyum ceria, mendampingi konseli menuju tempat duduk,

pastikan tempat duduk yang nyaman dan aman. Topic netral, berupa pembicaraan

yang bersifat umum dan tidak menyinggung perasaan konseli (misalnya: berupa

kejadian-kejadian hangat, hobi, gambar, keluarga.

Opening dalam kegiatan konseling disebut juga dengan teknik rappot. Teknik

ini berarti suatu kondisi saling memahami mengenai tujuan bersama. Tujuan utama

teknik rapport adalah untuk menjembatani huhungan antara konselor dengan konseli.

sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap konseli dan masalahnya. Dalam

rapport ini akan tercipta suasana hubungan yang akrab yang ditandai dengan saling

mempercayai. Membangun rapport membutuhkan dua ketrampilan, yaitu: perilaku

memperhatikan dan ketrampilan mengamati konseli. Perilaku memperhatikan

dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa konselor memahmi dan “tertarik/berminat”

terhadap konseli. Dengan cara ini diharapkan konseli merasa enak atau menjadi rilek

dalam kebersamaannya dengan konselor. Syarat konselor yang dapat menggunakan

rapport adalah: open, authentic, congruent dengan konseli setrta luwes dalam

menemukan kebutuhan-kebutuhan yang diekspresikan konseli. Perilaku

memperhatikan ditujukan terhadap tampilan 3 Vs + B, yaitu: visual (visual,eye

contacts), vocal (vocal qualities), verbal (verbal tracking) dan bahasa tubuh (attentive

and authentic body language). Konsekuensi yang diharapkan, konseli akan lebih

bebas dan terbuka, khususnya dipesputa topik yang diberi perhatian.

2. Acceptance (Penerimaan)

Acceptance merupakan teknik yang digunakan konselor unluk menunjukkan

minat dan pemahaman terhadap hal-hal yang dikemukakan konseli. Acceptance atau

penerimaan artinya menerima apa adanya, menerima pribadi klien sebagai suatu

keseluruhan.Sebaliknya membenarkan (menyetujui) atau tidak menyetujui segi-segi

kepribadian atau kelakuan seorang klien, bukan merupakan bentuk penerimaan.

Ada dua bentuk Acceptance, yaitu

1). Lisan (verbal):

(a) Bentuk panjang:

Saya memahami…

Saya mengerti……

Saya dapat merasakan…

Saya dapat memaklumi…

Saya dapat menghayati…

(b) Bentuk pendek

 
 

Seperti: teruskan. … ya…ya, hem…

,

terus, oh…

ya,

Catatan: Kata-kata perasaan ini penggunaannya disesuiakan dengan isi pesan yang diungkapkan klien

Bahasa tubuh (postur): misalnya cara duduknya…

Gestural ( ekspresi wajah, anggukkan kepala, gerakan tangan…)

2). Non Verbal

wajah, anggukkan kepala, gerakan tangan…) 2). Non Verbal Acceptance disebut juga respon verbal minimal. Menurut Okun

Acceptance disebut juga respon verbal minimal. Menurut Okun (1987), respon

verbal minimal adalah respon verbal yang kadang-kadang dilakukan oleh konselor

dengan mengangguk-anggukkan kepala. Ini menunjukkan bahwa konselor

mendengarkan dan mengikuti apa yang dikatakan konseli. Brammer (1982: 184)

menyatakan bahwa teknik penerimaan yang sederhana paling tidak memi1iki empat

bagian pokok yang dapat diamati. Bagian pertama adalah pengaturan kontak mata,

karena mata merupakan sebuah sarana bagi para konselor untuk mengungkapkan

penerimaan dan kepedulian. Bagian kedua adalah ekspresi wajah dan anggukan

kepala. Konselon harus mampu menunjukkan ketertarikan yang sungguh-sungguh

dengan menggunakan ekspresi wajahnya. Konselor yang berpura-pura tertarik akan

bisa diketahui oleh konseli yang sensitive. Ketiga adalah tekanan suara dan perubahan

nada suara, hal ini menunjukkan kepada konseli apakah konselor benar-benar

menerima, dan postur tubuh adalah pertimbangan yang keempat dalam penenimaan.

Jika konselor berdiri dan duduk dengan santai di dekat konseli, maka konseli akan

menyimpulkan sebagai sebuah sikap yang bersahabat. Hal itu akan menunjukkan

kedekatan daripada sikap saling menjauh yang ditampilkan lewat postur. Postur dalam

hal ini sangatlah penting karena sikap sebelumnya menunjukkan tingkat keterbukaan

dan ketulusan hati konselor, karena banyak konseli yang hipersensitif terhadap

isyarat-isyarat seperti itu. Konseli bisa menganggap isyarat negatif dari seorang

konselor sebagai ungkapan penolakan atau ketidaktertarikan. Menguap, menyilangkan

kedua kaki, memegang lengan kursi kuat-kuat adalah beberapa contoh isyarat-isyarat

negatif yang dengan mudah terlihat oleh konseli.

Perhatikan beberapa contoh penerpan Acceptance dalam sebuah proses konseling, berikut ini:

1 Ce:

“Saya kalau membantu uang belum pernah. Tapi waktu kami sehat saya sering memberi jajan dan temanku ini saya ajak makan bersama. Tidak tega saya makan sendiri di tempatnya, sedangkan dia memang tidak mempunayi uang”

 

Isi pesan: berhubungan dengan tindakan membantu

 

Co:

Hem…, saya bisa memahami tindakan anda” Saya bisa memahami apa yang anda lakukan untuk teman anda itu”

2 Ce:

“Pada dasarnya saya tidak iri hati terhadap temanku, karena ia mendapat uang beasiswa. Saya pikIr berapa sih beasiswa yang dia terima, paling banyak Rp 75.000. Saya rasa uang jajan yang diberikan orang tua sudah lebih”

 

Isi pesan: berhubungan dengan sikap

 

Co:

“Saya memahami jika anda bersikap demikian”

 

3 Ce:

“Eh, saya sakit hati karena semua orang tahu, siswa yang berprestasi akan mendapat beasiswa. Jadi saya pasti dianggap begok, buktinya saya tidak dapat beasiswa”

 

Isi

pesan: berhubungan

dengan

pendapat,

perasaan.

Kasus

yang

 

sebenarnya dari pernyataan klien ini adalah: Dia berprestasi tapi tidak dapat beasiswa karana anaknya orang kaya. Dia mengira bahwa yang mendapat beasiswa itu ekonominya lemah, padahal itu salah satu saja dari sekian persyaratan beasiswa. Pendapat dia itu keliru!

Co:

“ Ya…, saya bisa mengerti pendapat anda itu” (sambil mengangguk- anggukkan kepala)

4 Ce:

“Waktuku hanya sekitar kurang lebih 1,5 tahun lagi untuk menyelesaikan studiku. Aku pingin saat ini aku selesaikan dulu kuliahku. Aku tidak ingin terlibat dulu dalam persoalan cinta yang hanya membuatku sedih, menangis, dan seringkali membuatku tidak percaya pada diriku sendiri

 

Isi pesan: prioritas (pilihan studi dari pada pacaran), sikap terhadap pilihan.

Co:

“Saya mengerti jalan pikiran anda” “Saya memahami jika anda bersikap demikian”.

5 Ce:

“Ayah selalu berharap dan selalu mendorong saya agar bisa menyelesaikan studi sampai PT. Demikian halnya dengan ibu. Tapi bagaimana mungkin keadaan orang tuaku seperti itu”.

 

Isi pesan: bimbang atau ragu-ragu (tampak pada kata kunci: tapi ). Satu sisi orang tua mendukung selesai studi, sisi lain kondisi ekonomi lemah)

Co:

Baik, saya merasakan kebimbingan anda”.

3. Structuring

Didasarkan pada internal frame of reference-nya konseli, Structuring menjadi

penting digunakan konselor sebagai teknik untuk memberi batas-batas atau

pembatasan agar proses konseling berjalan pada rel yang semestinya. Pengertian lain

dari teknik structuring menurut Brammer (1982) adalah pendefinisian konselor atas

siflit, kondisi, batasan dan tujuan dari proses konseling. Selanjutnya menurut Sunardi

(1999), structuring atau teknik penstrukturan adalah teknik dimana konselor

menjelaskan arti, keterbatasan. peranan konselor, tujuan dan kerahasiaan dalam

hubungan konseling.

Dengan menggunakan teknik structuring, konseli mendapatkan kerangka kerja

konseling, sehingga konseli mendapatkan gambaran yang jelas tentang arah konseling

dan bagaimana konseli ikut terlibat di dalamnya. Teknik structuring ini sangat

penting, karena juga menjelaskan kepada konseli apa yang diharapkan dari proses

konseling. Structuring memberikan kerangka kerja atau orientasi terapi kepada

konseli atau penetapan batasan konseling. Isu-isu penting dalam teknik structuring

meliputi:

(1) Time limit atau pembatasan waktu. Dalam konseling, konselor dan konseli bcrsama-sama membuat kesepakatan waktu. Dalam hal ini konselor juga harus menyatakan pada awal pertemuan, berapa lama konseling akan berlangsung. Hal ini sangat penting, karena konseli harus tahu berapa waktu yang tersedia sehingga mereka dapat menyampaikan masalah-masalah yang dialaminya dengan tenang karena tidak diburu-buru waktu. Lebih lanjut, Brammer (1982) mengemukakan bahwa time limit merupakan batas waktu yang dapat digunakan dalam interview konseling. Jadi konselor harus menyatakan pada permulaan konseling, berapa banyak waktu yang tersedia. (2) Action limit atau pembatasan tindakan. Pembatasan tindakan di sini mengacu pada batas-batas tindakan yang boleh ataupun yang tidak boleh dilakukan. Dalam konseling, konselor tidak boleh membatasi ekspresi verbal konseli akan tetapi hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh konseli adalah melukai diri sendiri dan orang lain, misalnya konseli boleh mengatakan apa saja kepada konselor, tetapi konseli tidak boleh melukai konselor. Rogers (dalam Sunardi, 1991) menyatakan bahwa melukai konselor yang ditakukan oleh konseli merupakan kesalahan dan ini dapat menjadikan kegelisahan bagi konselor dalam hubungannva membantu konseli. (3) Role limit atau pembatasan peran. Konselor menjelaskan peranannya dalam huhungan konseling. karena konselor kadang-kadang datang kepada konselor dengan konsepsi yang salah. Beberapa konseli menganggap konseling sebagai obat mujarab yang dapat menyembuhkan dengan cepat seperti memecahkan masalah dan memberikan nasihat. Sedangkan konseli yang lain sering beranggapan bahwa tanggung jawab untuk sukses terletak dipundak konselor, harapan-harapan yang tidak realistis ini memerlukan penjelasan dari konselor bahwa dalam konseling yang menentukan keputusan atau yang dapat memecahkan masalah adalah konseli sendiri, sedangkan konselor hanya membantu mengarahkan. (4) Problem limit atau pembatasan masalah. Masalahmasalah yang dibahas dalam konseling yang sebaiknya didahulukan adalah masalahmasalah yang paling mendesak untuk di pecahkan. Oleh karena itu, konselor perlu mengkomunikasikan kepada konseli terlebih dahulu jika konseli datang dengan membawa lebih dan satu masalah, misalnya “Anda mengalami tiga masalah, yaitu masalah belajar, masalah sosial dan masalah pembagian waktu. Dan ketiga masalah itu mana yang mendesak untuk dibicarakan “.

4. Reflection of feelings (Pemantulan Perasaan) Reflection of feelings teknik yang digunakan konselor untuk menyatakan kembali pernyataan klien dengan kata-kata yang ada dibalik (dibelakang) pernyataan klien. Kata-kata ini berupa kata-kata sifat baik yang negative maupun yang positif. Brammer (1982:) mengartikan reflection 0f feeling: adalah usaha yang dilakukan oleh konselor yang diungkapkan dengan kata-kata untuk menguraikan kata- kata baru yang diekspresikan oleh konseli. Se1anjutnya menurut Sunardi (1991) reflection of feeling atau pemantulan perasaan klonseli adalah suatu respon yang dibuat oleh konselor dengan ungkapan kata-katanya sendiri untuk mengkomunikasikan perasaan konseli, baik verbal maupun non verbal. Pernyataan dari konselor tersebut menyempurnakan secara tepat ungkapan konseli yang dinyatakan secara tidak langsung. Dalam refleksi perasaan konseli, konselor dituntut untuk mendengarkan dengan hati-hati pernyataan konseli dengan mengatakan dengan kata-kata lain isi dan pesan konseli, tetapi tidak menekankan pada perasaan yang diungkapkan konseli. Menyadari bahwa konselor tidak yakin benar akan ketepatan kata-kata sifat yang dikemukakan, maka bentuk pemantulan perasaan biasanya didahului dengan kata-kata, seperti: (1) agaknya, (2) rupa-rupanya, (3) barangkali, (4) nada-nadanya, (5) kelihatannya, (6) sepertinya, (7) nampaknya,(8) kiranya. Ada kesukaran dalam penerapan teknik ini. Dua hal yang menyebabkan: 1). Adanya kecenderungan “stereotype” (menggunakan kata-kata sifat yang sama) di dalam kata-kata pendahuluan, dan 2). Timing: waktu yang tepat. Reflection of feeling menurut Brammer (1982), dibedakan ke dalam beberapa jenis yaitu:(I) releksi langsung atau immediate reflection. Jenis ini terdiri dari pengulangan pernyataan perasaan konseli saat ini (now). (2) Refleksi kesimpulan atau summary reflection, adalah metode yang menyimpulkan secara bersama-sama dalam satu kalimat dari beberapa ekspresi perasaan sebelumnya. (3) Refleksi akhir atau termination reflection, adalah teknik yang termasuk bagian dan kesimpulan dan merupakan aspek penting dari segala bagian konseling. Refleksi akhir juga memasukkan bagian-bagian khusus isi kesimpulan prosedur konseling Reflection of feeling membantu konseli untuk merasa dipahami secara mendalam. Sebagian besar konseli yang merasa terganggu akan bersikap defensif dan merasa tidak dipahami. Tetapi ketika konselor menggunakan teknik ini, ketakutan mereka atas perasaan tidak diterima, mulai berkurang. Menurut Okun (1987) teknik

reflection off feeling ini memberikan sebuah fungsi untuk mendorong dan merupakan

teknik yang paling efektif untuk digunakan pada fase awal dan pertengahan konseling.

Selain itu, teknik reflection of feeling juga membantu memutuskan lingkaran neuritis

yang sering dialami konseli dan juga menantang tiap-tiap konseli untuk mengambil

tanggung jawab atas diri mereka sendiri.

Manfaat lain penggunaan reflection of feeling dalam proses konseling menurut

Brammer (1995) adalah: (a) membantu individu untuk merasa dipahami secara

mendalam, (b) konseli merasa bahwa perasaan menyebabkan tingkah laku, (c)

memusatkan evaluasi pada konseli, (d) membeni kekuatan untuk memilih, (e)

memperjelas cara berfikir konseli, (1) menguji kedalaman motif-motif konseli.

Hal-hal yang perlu diperhatikah dalam reflection of feeling menurut Brammer

(1995) adaah (a) menghindari stereotip, (b) memilih waktu yang tepat untuk merespon

pernyataan konseli, (c) menggunakan kata-kata perasaan yang melambangkan

perasaan/sikap konseli secara tepat, (d) menyesuaikan dengan bahasa yang digunakan

dengan kondisi klien.

Perhatikan beberapa Contoh berikut ini:

1 Ce.

“Ya, begitulah bu. Bahkan saat ini saya tidak mempunyai teman karip satu kelas. Sepertinya mereka memang benar-benar menghindar dari saya”

 

Kata penuntun/(clue): menghindari

Co.

“Agaknya anda tersingkirkan (terkucilkan)”.

2 Ce.:

“Gak tahu pak, saya juga belum tahu mau bekerja apa dan kemana mau bekerja. Yang terpikir saat ini adalah agar saat ini saya memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan diri saya, terutama untuk biaya kuliah saya”

 

Kata penuntun/(clue): mau bekerja apa

Co.:

“Agaknya anda merasa gelisah (resah) karena anda belum mendapat pekerjaan”.

3 Ce.:

Hanya….,mulai tidak boleh ikut kamping sama teman-teman. Saya sekarang kan aktif di pencipta alam, gak boleh main ke rumah teman- teman malam-malam, tidak boleh membunyikan radio keras-keras, dan masih banyak lagi Bu”.

Co.:

“Sepertinya anda kecewa” “Kelihatannya anda merasa gundah “Kelihatannya anda sedih “Kelihatannya and amerasa tertekan”. (paling bagus, yang lainnya tidak salah hanya belum mewakili keseluruhan makna pernyataan klien))

5. Reflection of Meaning (Pemantulan Makna )

Contoh peristiwa:

Ada dua orang bersama-sama berlibur di pantai. Seorang berbicara tentang kehebatan matahari dan memberikan pengalaman yang mengangumkan, sedangkan yang lain berbicara tentang kebakaran kulit akibat sengatan matahari dan menimbulkan masalah. Mereka mempunyai pengalaman sama tapi maknanya terhadap sesuatu itu berbeda bagi diri masing-masing.

Pemantulan makna adalah konselor memantulkan berkenaan dengan pikiran,

perasaan dan sikap yang ada di balik pengalaman hidup yang dinyatakan konseli

(dilihat dari perspektif konseli bukan perspektif konselor). Menekankan pada pikiran-

pikiran yang mendalam terkait dengan nilai-nilai dan sikap. Konsekuensi yang

diharapkan bahwa konseli akan mendiskusikan cerita, isu dan masalah secara lebih

dalam dengan menekankan pada makna, nilai dan pemahaman yang mendalam di

balik cerita tersebut.

Jika konselor dapat menggunakan pemantulan makna, konselor dapat

mengharapkan konseli untuk menggali lebih dalam aspek-aspek dari pengalaman

hidupnya. Makna dapat dikenali melalui kata-kata dan konstruk yang melukiskan

nilai-nilai dan sikap mereka terhadap isu atau orang lain. Karena makna sering

implisit, maka bermanfaat dengan mengajukan pertanyaan untuk membantu konseli

mengeksplorasi dan menjelaskan manka. Misalnya: “ Apakah maknanya hal itu bagi

Anda?”, “Arti apa yang Anda dapat tangkap dari hal itu?”, “Apakah nilai-nilai yang

ada di belakang tindakan Anda?”, “ Apakah tujuan Anda melakukan tindakan itu?”.

Makna juga dapat dfipantulkan dengan mulai kalimat sebagai berikut: “Anda

bermaksud….”; “Nadanaya seperti Anda menilai…”.; “…dapatkah itu berarti bahwa

Anda… ”

Perhatikan contoh, berikut ini:

1 Ce.:

Dia menganggap saya telah merebut pacarnya, pada hal tidak lho,Bu, saya tidak pernah merebut pacarnya itu”

Co.:

“Itu berarti/bermaksud anda membela diri anda”. “Itu berarti bahwa anda tidak salah”. “Itu berarti bahwa anda perlu membuktikan”.(= yang bagus)

2 Ce.:

“Memang saya telah meramalkan sebelumnya akan terjadi hinaan terhadap diriku pasti akan datang, tapi ternyata saya tidak tahan menerima itu, Bu, terlebih hinaan itu bukan hanya dari teman sebaya, tapi juga dari sejumlah teman lain di sekolah”.

Co.:

“ Itu artinya bahwa kekhawatiran anda benar-benar terjadi”. “Itu berarti bahwa anda tidak siap dengan resiko perbuatan anda”. “ Itu berarti bahwa anda perlu mencari jalan keluar untuk dapat

menjelaskan duduk persoalannya”. ( = yang bagus )

Ya, Bu saya pingin masuk PT agar jadi orang yang sukses seperti teman-teman lain. Saya ingin tunjukkan pada teman-teman walaupun saya tidak mampu dalam ekonomi, tapi bisa berhasil studi”.

3 Ce.:

Co.:

“Anda bermaksud bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi halangan untuk sukses”.

Membedakan perspektif konselor dan perspektif klien (perhatikan gambar)

“Bu, nanti setelah saya wisuda maka saya akan buat pesta. Akan saya undang teman-teman saya, saya sajikan makanan kaki lima . Saya minta teman-teman makan sampai puas, asal tidak dibawa pulang”.

4 Ce.:

Co.:

(Perspektif konselor) “Itu perbuatan boros, kamu kan masih perlu biaya untuk mencari kerja”.

(Perspektif konseli)

“Ini berarti anda ingin menyenangkan teman-temanmu” atau

“ Ini berarti anda ingin mensyukuri nikmat Allah”.

Perhatikan gambar ini:

6. Restatement (Pengulangan)

Konseli Konselor Salah Boros (perspektif Co) “Anda bermaksud mensyukuri nikmat Allah” (Perspektif Ce.)
Konseli
Konselor
Salah
Boros
(perspektif Co)
“Anda bermaksud
mensyukuri nikmat Allah”
(Perspektif Ce.)

Restatement merupakan teknik yang digunakan konselor untuk mengulang

atau menyatakan kembali dengan kalimat, baik berupa kata-kata atau sebagian

kalimat yang dianggap penting baik oleh konselor maupun konseli. Kesukarannya

bahawa konselor terbiasa tidak mendengarkan secara professional, sambil

mendengarkan dia menilai pernyataan itu.

Okun (1987), mengemukakan pengulangan kata dengan sebutan paraphrase.

Paraphrase menurut Comier dan Cormier (1991) adalah peryataan (verbal) ulang dari

kata-kata dan pikiran-pikiran konseli yang dikemukakan konseli dengan kata-kata

konselor sendiri. Sedangkan menurut Sunardi (1991) restatement adalah suatu

ulangan dari pikiran atau perasaan konseli yang penting yang diungkapkan konseli

sebelumnya. Adapun hal-hal yang diulangi adalah isi dari pernyataan konseli atau

disebut juga dengan restatemant of content. Kcmampuan konselor untuk mengulangi

isi pesan konseli atau uraian kata-kata pernyataan konseli adalah suatu permulaan dari

proses mendengarkan. Dalam mengulangi isi dari pesan konseli, konselor

memberikan umpan balik kepada isi dari pernyataan konseli dengan kata-kata yang

berbeda. Restatement of content berisi tiga tujuan: (1) menyatakan kepada konseli

bahwa konselor bensama konseli, bahwa konselor mencoba mengerti apa yang

konseli katakan, (2) untuk merealisasikan komentar konseli dengan mengulang apa

yang telah konseli katakan dalam cara-cara yang lebih tepat. (3) untuk mengecek

persepsi konselor sendiri, tujuannya untuk meyakinkan bahwa konselor mengerti apa

yang digambarkan konseli.

Adapun yang harus diperhatikan dalam restatemet adalah (a) pengulangan

harus persis dengan pernyataan konseli, tidak boleh menambah atau mengurangi, (b)

Intonasi yang digunakan konselor hendaknya variatif dengan memperhatikan

pernyataan konseli, dengan kata lain bentuk pengulangan dinyatakan dengan intonasi

yang berbeda dan dalam bentuk pertanyaan.

Perhatikan contoh, berikut:

1 Ce:

“Saya kalau membantu uang belum pernah. Tapi waktu kami sehat saya sering memberi jajan dan temanku ini saya ajak makan bersama. Tidak tega saya makan sendiri di tempatnya, sedangkan dia memang tidak mempunayi uang”

 

(kata yang dianggap penting/ clue-nya : Tidak tega)

Co:

“Tidak tega?”

2 Ce:

“Pada dasarnya saya tidak iri hati terhadap temanku, karena ia mendapat uang beasiswa. Saya piker berapa sih beasiswa yang dia terima, paling banyak Rp 75.000. Saya rasa uang jajan yang diberikan orang tua sudah lebih”

 

(kata yang dianggap penting/ clue-nya : Tidak iri hati)

Co:

Tidak iri hati kepada temanmu yang mendapat beasiswa?”

3 Ce:

“Eh, saya sakit hati karena semua orang tahu, siswa yang berprestasi akan mendapat beasiswa. Jadi saya pasti dianggap begok, buktinya saya tidak dapat beasiswa”

 

(kata yang dianggap penting/ clue-nya : dianggap begok)

Co:

“ “Dianggap teman anak begok?”

4 Ce:

“Waktuku hanya sekitar kurang lebih 1,5 tahun lagi untuk menyelesaikan studiku. Aku pingin saat ini aku selesaikan dulu kuliahku. Aku tidak ingin terlibat dulu dalam persoalan cinta yang hanya membuatku sedih, menangis, dan seringkali membuatku tidak percaya pada diriku sendiri

Co:

“ Ingin selesaikan dulu kuliah?”

5 Ce:

“Ayah selalu berharap dan selalu mendorong saya agar bisa menyelesaikan studi sampai PT. Demikian halnya dengan ibu. Tapi bagaimana mungkin keadaan orang tuaku seperti itu”.

Co:

Orang atua mendorong kuliah sampai selesai PT?

7. Clarification

Clarification adalah ketrampilan konselor mengungkapkan kembali isi

prnyataan kilen dengan menggunakan kata-kata konselor sendiri yang baru dan segar.

Tanggapan konselor biasanya didahului dengan kata-kata pendahuluan, misalnya:

pada dasarnya …

pada pokoknya ……

pada intinya ………

dengan kata lain ……

Contoh

Ce.: Klien mencenitakan keinginannya untuk melanjutkan ke sekolah perbankan

tetapi orang tuannya ingin agar klien masuk kedokteran”

Co.: “Pada dasarnya ada perbedaan keinginan antara keinginan anda dengan orang tua

dalam hal pemilihan jurusan”.

8. Paraphrasing (Parafrase)

Pengertian: konselor menyatakan kembali pernyataan konseli dengan kata-

katanya sendiri (isi tidak boleh berubah, harus cepat dan tepat, bisa menggunakan

kata-kata penerimaan atau pengulangan). Paraphrasing dilakukan sebagai tanda

bahwa konselor mendengarkan. Artinya konselor menegaskan apa isi pokok (esensi)

dari pernyataan konseli. Konsekuenasi yang diharapkan adalah bahwa (1) konseli

akan merasa didengar, sehingga senderung melanjutkan ceritera, tidak mengulang-

ulang cerita yang sama, (2) jika parafrase tidak sama, akan memberikan kesempatan

konseli mengoreksi konselor, (3) jika disuarakan dengan nada tanya, konseli akan

certera lebih lanjut. Dalam parafrase ini, biasanya digunakan awal kalimat: 1).

singkatnya, 2). pada intinya, 3). boleh dikatakan…. sekalipun tidak selalu.

Perhatikan contoh, berikut ini:

1 Ce:

“Dulu waktu SD saya itu paling besar, ya

tinggi, malah kata ayah

saya, anak saya ini tinggi besar, terus saya tidak pikir apa-apa lagi. Setelah saya di SMP awal-awalnya tinggi besar, tapi lama-lama kok

saya merasa sendiri teman-teman saya sudah lebih tinggi dari saya, kok saya tetap”.

 

Isi pesan dalam pernyataan ini Ce.: melakukan perbandingan tentang tinggi badan saat di SD dan SMP.

Co.

“Pada intinya, Anda membandingkan tinggi badan anda waktu di SD dan SMP”.

 

“Boleh dikatakan, Anda menyadari bahwa tinggi badan anda sekarang tidak seperti ketika di SD”.

2 Ce.

“Menurut kakak-kakak, saya supaya minum susu, rajin olah raga, berenang, terus mentok. Dan iklan di majalah ada alat yang dapat meninggikan badan, saya kirim uang, alat itu sudah dating. Saya olah raga tapi tidak ada hasilnya, lalu saya coba lagi dengan kapsul-kapsul hasilnya tidak ada sama sekali. Saya habis Rp 800.000 untuk pengobatan itu”.

 

Isi pesan dalam pernyataan ini Ce.: melakukan usaha yang maksimal/optimal. (Kata maksimal/optimal dicarkan padanan katanya agar lebih mudah dipahami anak).

Co.

“Anda telah berusaha secara maksimal/optimal tetapi toh belum berhasil” (Respon konselor ini sudah benar, tetapi masih belum dapat dipahami anak, karena masih menggunakan kata-kata yang sulit dipahami anak, yaitu kata maksimal/optimal) menjadi:

“Pada intinya, Anda telah berusaha habis-habisan (=maksimal/optimal), tapi toh juga belum berhasil”

“Boleh dikatakan, usaha anda luar biasa sekalipun belum berhasil”.

3 Ce.

“Yaitu dalam keluarga saya ini mempunyai 2 saudara, anak pertama perempuan, anak kedua laki-laki. Masalah itu timbul apabila saya bertengkar dengan saudara perempuan saya. Orang tua, khususnya ayah selalu membela kakak saya, dan begitu juga kalau saya bertengkar dengan saudara laki-laki, ibu selalu membelanya. Padahal kalau diteliti orang tua saya tidak mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar”.

 

Parafrase:

 
 

“Anda mendapat perlakuan kurang adil dari orang tua anda”.

“Orang tua anda memperlakukan anda secara berbeda”.

Pengulangan “Ayah membela kakak perempuan, sedangkan ibu membela kakak laki- laki”.

Penerimaan:

“Saya dapat merasakan akan kekesalan anda ini.”.

4 Ce.

“Sekarang saya benar-benar memahami kelemahan saya. Kini saya

 

tahu yang menjadi sumber penyebab adalah karena saya terlalu merendahkan diri saya sendiri, sehingga akhirnya saya menjadi salahtekat, tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti.

 

Kata kuncinyakatai penuntun (clue): kini----dahulu

Co.

“Anda sekarang/kini mendapat kesadaran baru” “Akhirnya anda menyadari kelemahan anda”. “Anda sekarang menyadari akan akibat dari sikap merendahkan diri”

9. Confronting (Konfrontasi)

Confronting adalah ekspresi konselor tentang ketidakcocokannya dengan

perilaku konseli. Dengan kata lain, konfrontasi adalah ketrampilan konselor untuk

menunjukkan adanya kesenjangan, diskrepensi, atau inkongruensi dalam diri konseli

dan kemudian konselor mengumpanbalikkan kepada konseli. Sifat konfrontasi ini

istimewa, yaitu baru dapat digunakaan apabila hubungan antara konselor dan konseli

sudah terbina dengan baik dan sudah mencapai kepercayaan, jika tidak justru terjadi

resistensi di pihak konseli.

Tujuannya Confronting adalah untuk membantu proses perkembangan konseli

yang sementara ini nampak terganggu oleh adanya kesenjanagan tersebut.

Kesenjangan itu terjadi:

(1) Ketidak sesuaian antara ekspresi konseli tentang siapa dia dan apa yang diinginkannya. (real self atau self concept versus ideal self).

(2) Ketidak sesuaian antara verbal konseli tentang dirinya

(awareness atau

ansight) dengan perilakunya. (Klien mengatakan satu pihak dia sangat memperhatikan pacarnya, tapi dalam pernyataan lain dia malas menghubungi)

(3) Antara

Dua

tersenyum)

Tingkahlaku

Non

Verbal

(Kaki

gemetar,

sedangkan

bibir

(4) Antara dua orang atau lebih (Dia berkata begini, dan Anda mengatakan begitu ”)

(5) Antara Pernyataan dan Tingkahlaku Non-Verbal (Konseli menyatakan bahwa dia sangat senang di runag konseling, tetapi wajahnya menunjukkan ketegangan dan gemetar)

Perhatikan contoh-contoh, berikut:

1.

Ce.:

“Sebenarnya sih saya belum pindah kos karena sekarang ini cari kos-kosan itu susah. Kalau saya tidak pindah teman sekamar saya itu semakin besar kepala. Saya mengalah terus, lagian saya harus mengalah terus.

 

Kata kunci atau clue-nya: belum pindah.

 

Co.:

Satu segi anda ingin tetap tinggal di kos, segi lain anda tidak krasan karena perlakuan teman anda itu”.

2 Ce.:

“Pak Rosidan, saya inginnya belajar ini nanti ingin menjadi ranking I di kelas, tapi saya itu kalau sudah membaca buku jadi mudah ngantuk atau kalau diajak teman-teman ngobrol saya ikut- ikutan saja, atau kalau diajak jalan-jalan teman saya langsung ikut.”

 

Kesenjangan apa?: antara diri actual (=mudah ngantuk, ikut- ikutan saja) dan diri ideal (= menjadi ranking 1)

Co.:

“Anda katanya ingin menjadi rangking 1, tapi anda mudah ngantuk kalau sudah membaca buku?

3 Ce.:

“Saya

baru

dapat

berita

bahwa

mereka

segera

bertunangan,

ya

sepertinya

sulit untuk menghilangkan dari ingatan saya, tapi

lebih baik menguburkan perasaan itu”.

 

Co.:

Di satu segi anda sulit menghilangkan perasaan, dari segi lain anda akan mengubur perasaaan itu”. “Di satu segi anda ingin melepaskan, di segi lain anda masih mencintai”.

4 Ce.:

“ Selama ini saya menuruti mama tapi saya merasa sedih, ya sedih karena saya tidak bisa dengan bebas mendengarkan lagu pop atau melihat senitron remaja di TV sehingga kalau teman-teman cerita saya hanya diam saja”.

 

(Isi pernyataan ini, adanya: pertentangan: antara patuh dan tidak patuh. Dalam pernyataan tersebut: orang tua/mama mempunyai asosiasi dengan siapa?. Dengan anaknya yang lain dan sudah meninggal….”mengingatkan pada anaknya”. Orang tua yang wajar tidak akan bersikap demikian.

Co.:

“Di satu segi anda ingin patuh pada mama, segi lain anda tidak ingin patuh”.

5 Ce.:

“Tidak apa-apa tidak lulus, tapi pada saat cerita demikian itu matanya kok meneteskan air mata”

 

(Kesenjangan antara yang dikatakan dan dilakukan)

 

Co.:

“Dari satu segi anda tidak lulus tidak apa-apa, dari segi lain anda meneteskan air mata”.

10. Questioning (Teknik Bertanya)

Tehnik bertanya: tehnik untuk mengarahkan pembicaraan konseli. Bentuknya

ada dua yaitu I) Pertanyaan terbuka, pertanyaan yang memberikan kesempatan pada

konseli uniuk mengelaborasi, mengeksplorasi atau memberikan jawaban dari berbagai

kemungkinan sesuai dengan keinginan konseli. Kata tanya yang dipergunakan: “apa”,

“mengapa”, “dimana”, “kapan”, dan “bagaimana” (what, where, when, dan how).

Konsekuensi yang diharapkan bahwa konseli akan menjawab pertanyaan terbuka

secara lebih detail; 2). Pertanyaan tertutup, adalah perlanyaan yang membatasi

konseli untuk memberikan suatu jawaban yang spesifik atau tertentu. Dengan

pertanyaan tertutup ini, konseli biasanya hanya memberikan jawaban “ya” atau

“tidak”. Untuk ini dalam penggunaannya harus hati-hati, karena dapat terjebak

timbulnya resistensi pada konseli. Pertanyaan tertutup biasanya didahului dengan kata

tanya: “dimana”, “kapan”, “ siapa”. Konsekuensi yang diharapkan, konseli akan

memberikan informasi khusus secara tertutup.

Brammer (1982) mengemukakan adaanya 3 prinsip dalam penggunaan teknik

bertanya, yaitu (1) hanya bertanya pada hal-hal yang mcmungkinkan konseli

menjawab sesuai dengan kemampuan dan pengertian konseli, (2) menggunakan

variasi pertanyaan atau bertanya dengan topik yang tidak sama (selang-seling).

Dengan pertanyaan yang bervariasi tidak akan menimbulkan kebosanan pada konseli;

dan prinsip yang (3) adalah memulai proses konseling dengan sedikit bertanya.

Penting bagi konselor untuk menemukan kata kritisnya atau clue-nya dari pernyataan

konseli, agar pertanyaan diajukan tepat dan mamapu mengembangkan konseli dam

mengeksplorasi persoalannya.

Isu-isu utama berkaitan dengan ketrampilan bertanya adalah: 1). Pertanyaan

membantu memulai percakapan, 2). Pertanyaan terbuka akan membantu

mengelaborasi dan memperkaya cerita konseli, 3). Pertanyaan membantu

mengungkap dunia spesifik-konkrit konseli, 4). Pertanyaan merupakan hal kritis

dalam asesmen, 5). Kata pertama dalam pertanyaan terbuka akan menentukan apakah

konseli mau melanjutkan ceritanya atau tidak, 6). Dalam situasi lintas budaya,

pertanyaan dapat menimbulkan distrust, 7). Pertanyaan dapat digunakan untuk

membantu konseli menjelajah aset-aset positifnya.

Perhatikan contoh-contoh, berikut:

1.

Co.:

, kenyataan dan siap ikut dengan siapa saja, apakah dengan ayah atau dengan ibu. Yang penting saya tidak gagal di sekolah, Bu. Saya tidak mau kegagalan orang tua saya harus menjadi kegagalan saya juga”.

kalau orang tua saya bercerai juga, saya harus menerima

Ehm

   

Ingat: Pertanyaan difokuskan: mau diarahkan kemana konseli ini. Maka sebaiknya ditemukan kata-kata kritisnya/clue-nya terlebih dahulu secara cepat dan benar. (Contoh: dari pernyataan konseli itu, clue-nya bisa: kegagalan, ikut siapa saja: ini yang lebih mengena)

 

Co.:

1).“Bagaimana hubungan anda dengan ayah dan dengan ibu selama ini?” (Pertanyaan ini: konselor mau lebih mempertajam untuk memperoleh informasi sehubungan dengan kata kritis: “ikut siapa saja”) Jika dibuat Pengulangan makna:

Co: “Anda ikut dengan siapa siapa saja”.

 

2).“Mengapa anda tidak mau gagal di sekolah?” (dari kata kunci “kegagalan”. Informasi yang akan kita dapatkan dari pertanyaan ini: antara lain: karena kegagalan menghambat masa depan)

2 Ce.:

Saya merasa saya ini bukan apa-apa bila dibandingkan dengan teman-teman. Apalah saya ini, Bu. Saya adalah anak orang biasa saja, sedangkan teman-teman saya itu rata-rata anak orang kaya. Pokoknya mereka itu lebih dari segala-galanya. Sebenarnya saya ingin menarik perhatian mereka, dan saya ingin berusaha untuk itu, tapi Bu jangan-jangan mereka tidak bersimpati lagi kepada saya”.

Co.

1).“Mengapa anda khawatir teman-teman anda tidak bersimpati lagi?”

2).“Bagaimana anda ingin menarik simpati?”

3).“Mengapa anda ingin berusaha untuk menarik perhatian mereka?”. (Informasi yang ingin didapat dari pertanyaan ini: ingin mendapaat pengakuan, tapi khawatir kalau salah tingkah )

3 Ce.:

Pernah saya membicarakan keinginan saya ini pada kakak saya yang sudah bekerja dan berkeluarga. Kakak saya sebagai keluarga yang berada, tetapi mereka juga tidak peduli dengan keinginan saya untuk melanjutkan studi di PT”.

Co.:

1).“Mengapa kakak anda tidak peduli dengan keinginan anda untuk melanjutkan studi di PT?”.

 

2).“Bagaimana usaha anda setelah kakakmu tidak peduli?”

11. Reassurance (Penguatan)

Reassurance adalah teknik yang dipergunakan untuk memperkuat atau

mendukung pernyataan positif konseli agar iamenjadi lehih yakin dan percaya diri.

Teknik ini juga dapat dipergunakan untuk mendorong diri konseli agar ia tabah dalam

menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan bagi dirinya.

Reassurance dibedakan menjadi 3 jenis:

(a) Prediction reassurance (penguatan prediksi), yaitu penguatan yang dilakukan

konselor terhadap pernyataan konseli yang berisi rencana positif yang akan

dilaksanakan,

Contoh: ”Bagus, apabila anda mau menolong teman anda, kemungkinan besar

mereka juga akan menolong Anda”; Jika benar-benar Anda lakukan

rencana itu, ….maka” (prediksi).

(b) Postdiction reassurance (penguatan postdiksi) yaitu penguatan konselor lerhadap

tingkah laku positif yang telah dilakukan klien dan tampak hasilnya.

Contoh: “Bagus sekali, setelah anda benusaha belajar dengan keras, nilai anda

menjadi lchih tinggi dari cawu kemarin”,

Semula konseli takut menghadapi sesuatu, tetapi dengan keberaniannya

ternyata ia berhasil juga menyelesaikan tugas yang selama ini ia

takutkan. Konselor: “Bagus, ternyata apa yang Anda bayangkan selama ini tidak terbukti”. © Factual reassurance (penguatan faktual) yaitu penguatan yang dipergunakan konselor untuk mengurangi beban penderitaan psikologis (pengalaman yang tidak menyenangkan) konseli, karena pengalaman demikian tidak hanya konseli sendiri yang mengalaminya, akan tetapi akan dialami oleh semua orang. Penguatan ini lebih bersifat menghibur konseli dengan tujuan agar beban yang dialami oleh konseli menjadi berkurang. Contoh: Pada saat konseli mengalami musibah, misalnya, konselor dapat membantu meringankan beban konseli dengan memberikan dukungan faktual bahwa apa yang dialami konseli juga dapat dialami oleh orang lain dan merasakan seperti apa yang dirasakan konseli saat ini.” Contoh lain, dalam konteks “mahasiswa yang ingin maju, merasa sedih karena mendapat nilai yang kurang, disini konselor dapat memberikan penguat faktual. Konsekuensi yang diharapkan dari penggunaan teknik ini adalah bahwa konseli akan mampu mengantisipasi secara lebih baik konsekuensi dari perbuatan dan perubahan pikiran, perasaan dan perilakunya. Setidak-tidaknya konseli akan memahami dampaknya bagi dirinya.

12. Summary (Ringkasan) Membuat ringkasan adalah ketrampilan konselor untuk mendapatkan kesimpulan atau ringkasan mengenai apa yang telah dikemukakan oleh konseli. Pada proses wawancara konseling. Okun (1987) mengemukakan bahwa summary adalah teknik yang dipergunakan konsetor untuk menyimpulkan hal-hal yang dikomunikasikan selama session bantuan dan hal-hal tersebut merupakan bagian- bagian yang penting. Summary bermanfaat sangat penting bagi konselor dan konseli, karena memberi kesempatan berpartisipasi pada keduanya. Selain itu summary sangat penting untuk mengakhiri satu bagian atau bagian pertama yang kemudian dilanjutkan pada bagian berikutnya dan juga memberikan kesempatan bagi konselor untuk mendorong konseli mengutarakan perasaannya mengenai proses konseling. Summary dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) kesimpulan bagian, dan (2) kesimpulan akhir. Kesimpulan bagian dibuat pada percapakan konseli dan konselor

yang dipandang telah sampai pada titik penting, dan dibuat dengan menggunakan kata-kata, seperti: “untuk sementara ini….”, “sejauh percakapan kita ini… ”, “sampai saat ini…”. Kesimpulan akhir dibuat setelah konselor menganggap bahwa percapakan telah sampai pada titik akhir Simpulan akhir merupakan review dari keseluruhan wawancara pada suatu sesi konseling. Dalam membuat kesimpulan akhir, biasanya menggunakan kata-kata pendahuluan, seperti:“dari awal dan akhir percakapan kita, maka dapat disimpulkan….”, “sebagai kesimpulan akhir pembicaraaan kita…”. Pembuatan kesimpulan dapat dimulai oleh konseli atau konselor atau dibuat secara kolaboratif.

13. Advice (pemberian Nasehat) Advice adalah ketrampilan konselor untk memberikan informasi/nasehat kepada konseli agar ia menjadi lebih jelas/lebih pasti mengenai apa yang hendak dilakukan. Okun (1987) mengemukakan bahwa pemberian advice diperbolehkan selama tidak mengikat, nasihatnya jelas dan tidak menuntut. Ada 3 jenis Advice , yaitu: (1) direct advice, diberikan jika konseli tidak tahu sama sekali, atau pemberian nasehat secara langsung bagi permintaan konseli berupa fakta, yang dia sama sekali tidak mempunyai informasi tentang hal itu. Misalnya konseli menanyakan suatu informasi yang tidak diketahuinya kepada konselor dan kebetulan konselor tidak tahu, misalnya informasi mengenai kegiatan ekstrakurikuler, maka respon konselor: “Kebetulan ibu tidak tahu mengenai informasi itu, maka sebaiknya Anda datang langsung kesekretariat kegiatan ekstra yang Anda maksudkan”. (2) persuasive advice atau nasehat persuasive, diberikan jika konseli sudah mengetahui alasan-alasan logis atas rencananya. Misalnya konseli menceritakan mengenai keadaannya, bahwa dia tidak kerasan tinggal ditempat kosnya karena dia tidak bisa konsentrasi belajar, dengan mengemukakan berbagai alasan, maka respon konselor: “Berdasarkan alasan-alasan yang anda kemukakan maka bagus, bila rencana itu dilaksanakan”. (3) alternative advice atau nasehat alternatif, diberikan setelah konseli mengetahui kelebihan dan kelemahan dari setiap alternatif tindakan yang akan diputuskan. Konsekuensi yang diharapkan dari advice ini adalah jika advice diterapkan secara efektif dan bekerjasama, konseli akan menggunakan informasi baru untuk memikirkan perbuatan dengan cara-cara baru pula.

14.

Rejection (Penolakan)

Rejection atau penolakan adalah ketrampilan konselor melarang konseli menlanjutkan atau melaksanakan rencana tindakan yang patut diduga besar kemungkinannya membahayakan atau merugikan pihak laian dan atau dirinya sendiri. Rejection atau penolakan dilaksanakan secara tersamar dan langsung. Penolakan tersamar, penolakan ini diberikan dengan tujuan untuk memberi kesempatan pada konseli agar memikirkan kembali rencana yang akan dilakukanya, misalnya: “Coba pikirkan masak-masak empat lima kali lagi, sebelum Anda melakukan rencana itu”. Penolakan langsung, penolakan ini diberikan kepada konseli jika konseli benar-benar mempunyai rencana yang akan membahayakan dirinnya sendiri atau konselor menyatakan secara langsung sikapnya yang tidak setuju atas rencana konseli, misalnya: “Jangan sampai Anda melakukan renca itu, karena akibatnya akan pasti merugikan diri Anda dan orang tua Anda”.

15. Termination

Termination merupakan teknik yang dipergunakan konselor untuk mengakhiri wawancara konseling, baik mengakhiri untuk dilanjutkan pada pertemuan berikutnya maupun mcngakhiri karena wawancara konseling betul-betul tclah berakhir. Brammer (1987) mengemukakan cara-cara mengakhiri konseling, antara lain: (1) Merujuk pada keterbatasan waktu yang telah disepakati bersama. (2) Meringkas atau merangkum. Teknik meringkas isi konscling ini dapat digunakan jika konselor menginginkan ringkasan faktor-faktor peniting yang telah dibicarakan selama proses konseling. Ringkasan tersehut hendaknva menggantbarkan isi pokok dari wawancara konseling. (3) Merujuk pada waktu yang akan datang. Merujuk pada waktu yang akan datang dilakukan jika waktu konseling tidak cukup, bisa juga jika konselor ingin memelihara hubungan baik dengan konseli, hal ini bisa ditunjukkan dengan menggunakan pernyataan yang merujuk pada pertemuan berikutnya, misalnya “ Waktu kita hampir habis, kapan kamu ingin kembali lagi ?“. (4) Berdiri. Berdiri merupakan persyaratan teknik persuasif untuk mengakhiri konseling, maka konselor dapat berdiri yang mengisyaratkan hahwa konseling telah berakhir, dan hal ini dapat dilakukan secara lemah lembut sebelum konselin mempunyai kesempatan untuk pindah kepada topik lain. (5) Gerak isyarat halus. Gerak isyarat halus ini bisa di lakukan dengan melihat jam tangan atau jam dinding.

16. Focusing (Pemusatan)

Pemusatan adalah ketrampilan konselor yang memungkinkan mengarahkan

arus pembicaraan konseli ke arah daerah atau bidang yang konselor inginkan.

Focusing dapat membantu konseli untuk memusatkan perhatian pada pokok

pembicaraan. Ada beberapa focusing yang dapat dilajkukan oleh konselor, yaitu:

Pemusatan terarah kepada:

a). Klien: ”Tom, Anda mengatakan bahwa Anda mengkhawatirkan masa depan Anda mengenai… ” b). Tema atau masalah: “ Ceritakanlah lebih lanjut mengenai ketidakberhasilan Anda, Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. c). Konteks lingkungan/cultural: “Sekarang angka pengganguran sangat tinggi. Dalam keadaan ini jenis pekerjaan apa yang mungkin masih terbuka untuk Anda?”. d). Orang lain: “ Roni telah membuat kamu menderita. Terangkan tentang dia, dan apa yang telah dilakukannya?”. e). Topik: “Pengguguran kandungan?”. Kamu memikirkan aborsi?” Sebaiknya pikirkan masak-masak dengan berbagai pertimbangan!”.

Secara umum dalam wawancara konseling selalu ada focus yang membantu

konseli untuk menyadari bahwa persoalan pokok yang dihadapinya adalah “X”.

Misalnya mungkin banyak masalah yang berkembang di dalam diskusi dengan

konseli, akan tetapi konselor harus membantu konseli agar dia menentukan focus pada

masalah apa. Misalnya:

Konselor: “Apakah tidak baik jika pokok pembicaraan kita berkisar saja dulu soal

hubungan Anda yang retak dengan pacar Anda?”.

17. Minimal Encouragement (Dorongan minimal)

Dalam proses konseling, konselor berupaya agar konseli selalu dapat terlibat

dalam pembicaraan dan dirinya terbuka (self-disclosing). Yang dimaksud dengan

Minimal Encouragement adalah suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa

yang telah dikatakan konseli Dorongan singkat ini dapat menggunakan kata-kata

seperti, oh…., ya…, terus…, lalu…, dan…,

Ketrampilan ini penting dipergunakan dengan tujuan untuk meningkatkan

eksplorasi diri pada diri konseli. Penggunaan minimal encouragement ini harus

seselektif mungkin, yaitu memilih saat konseli akan mengurangi atau menghentikan

pembicaraan, saat dia kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan, dan saat

konselor ragu terhadap pembicaraan konseli.

Misalnya:

Konseli : “ Saya kehilangan pegangan…dan….saya…berbuat…” Konselor: “Ya ” Konseli : “Nekad…” Konselor: “Lalu…”

18. Exporation (Eksplorasi)

Adalah suatu ketrampilan konselor untuk menggali perasaan pengalaman, dan

pikiran konseli. Hal ini penting karena kebanyakan konseli menyimpan rahasia batin,

menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya dengan terus terang

Mungkin dia hadir dengan terpaksa, sehingga enggan untuk mengemukakan perasaan

atau pikirannya.

Teknik eksplorasi memungkinkan konseli untuk bebas berbicara tanpa rasa

takut, tertekan dan terancam. Ada 3 jenis eksplorasi: (1) eksplorasi perasaan, yaitu

ketrampilan untuk menggali perasaan konseli yang tersimpan. Misalnya: “Bisakah

Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan?”.”Saya kira rasa sedih

Anda begitu dalam peristiwa tersebut. Dapat Anda kemukakan perasaan Anda lebih

jauh?”. (2) Eksplorasi pengalaman, yaitu ketrampilan konselor untuk menggali

pengalaman-pengalaman yang dilalui oleh konseli. Misalnya: “Saya terkesan dengan

pengalaman yang Anda lalui. Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang

pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda”. (3) Eksplorasi

pikiran, yaitu ketrampilan konselor untuk menggali ide, pikiran dan pendapat konseli.

Misalnya: “ Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih jauh ide Anda tentang sekolah

sambil bekerja”. “Saya kira pendapat Anda mengenai hal ini baik sekali. Dapatkan

Anda menguraikan lebih lanjut?”.

19. Directing (Mengarahkan)

Directing adalah suatu ketrampilan konseling yang mengatakan kepada

konseli agar dia berbuat sesuat, atau dengan kata lain mengarahkannya agar

melakukan sesuatu. Misalnya meminta konseli untuk bermain peran dengan konselor,

atau mengkhayalkan sesutau.

Misalnya:

Konseli : “ ayah saya sering marah-marah tanpa sebab, saya tidak dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit”. Konselor: “Dapatkan Anda memerankan di depan saya bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda?”.

E. Latihan Soal

1. Jelaskan beberapa dari daftar teknik-teknik dasar komunikasi dalam konseling,

berikut ini

a). Opening

b). Acceptance

c). Structuring

d). Reflection of feelings

e). Reflection of Meaning

f). Restatement

g). Clarification

h). Paraphrasing (Parafrase)

i). Confronting (Konfrontasi)

j). Questioning

k). Reassurance

l). Summary

m). Advice

n). Rejection

o). Termination p). Focusing q). Minimal Encouragement r). Exporation s). Directing

2. Buatlah contoh model penerapan sejumlah teknik dasar komunikasi konseling di atas dalam seting wawancara konseling.

3. Buatlah verbatim dari sebuah percakapan konseling ( Sinopsis masalah bisa berhubungan dengan masalah pribadi, masalah belajar atau masalah sosial)

4. Buatlah laporan hasil observasi dan supervisi dari suatu proses wawancara konseling dengan menggunakan format yang telah disediakan.

F. Rangkuman

Hubungan konseling adalah bercorak professional dan bertujuan. Untuk

sampai pada tujuan konseling yang diharapkan, maka seorang konselor professional

penting untuk menguasa sejumlah teknik dasar komunikasi dalam konseling. Teknik

dasar komunikasi konseling, itu antara lain: (1) Opening, (2) Acceptance, (3)

Structuring, (4) Reflection of feelings, (5) Reflection of Meaning (6) Restatement, (7)

Clarification, (8) Paraphrasing, (9) Confronting, (10) Questioning, (11) Reassurance,

(12) Summary, (13) Advice (14) Rejection, (15) Termination, (16) Focusing, (17)

Minimal Encouragement, (18) Exporation, (19) Directing.

*****

DAFTAR PUSTAKA

1. ABKIN. 2006. Naskah Akademik Penataan Pendidikan Professional Konselor. Bandung: ABKIN.

2. Corey, Gerald. 2005. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, seventh edition. California State University, Fullerton Diplomate in Counseling Psychology, American Board of Professional Psycholog: Brooks/Cole

3. Haney, Hutch & Leibsohn, Jacqueline.2001. Basic Counseling Responses. State University: Wadsworth/Thomson Learning 10 Davis Drive Belmont,CA. Brooks/Cole.

4. Ivey,A.E. & Ivey, M.B. 2003. Intentional Interviewing and Counseling. Usa:

Brooks/Cole, a division of Thomson Learning Inc.

5. Nirwana, Herman. 1997. Persepsi Klien tentang Konseling, Ketrampilan komunikasi Konselor dalam Konseling, dan Hubungan Keduanya dengan Pengungkapan Diri Klien. Tesis (tidak diterbitkan) Program Studi Bimbingan Konseling, Program Pascasarjana IKIP Malang.

6. Rosjidan,MA. 2006. Negeri Malang.

Pengantar Konseling. Program Pasca Sarjana Universitas

7. Raka,Joni,T,dkk.2007. Penajaman Teknik Konseling & Psikoterapi. Universitas Negeri Malang: Program Pasca Sarjana.

8. Sri Esti Wuryanti, Dra. 1991. Latihan Ketrampilan Berkomunikasi dalam Konseling. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang.

9. Shertzer & Stone.1981. Fundamentals of Guidance. Boston:Houghton Mifflin Company.

10. Willis, S. Sofyan,. 2004. Konseling Individual. Teori dan Praktek. Bandung: CV. Alfabeta.

*****