Anda di halaman 1dari 19

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN RETARDASI MENTAL

A. Pengertian
1) Retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak
mencukupi (WHO, MENKES 1990).
2) Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh
intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu
untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas
kemampuan yang dianggap normal (Carter CH, Toback C).
3) Retardasi mental adalah apabila jelas terdapat fungsi
intelegensi yang rendah, yang disertai adanya kendala dalam
penyesuaian perilaku dan gejalanya timbul pada masa perkembangan
(Crocker AC, 1983).
4) Retardasi mental adalah gangguan heterogen yang terdiri
dari gangguan fungsi intelektual di bawah rata-rata dan gangguan dalam
ketrampilan adaptif yang ditentukan sebelum orang berumur 16 tahun.
5) Retardasi mental dapat diartikan sebagai suatu keadaan
perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap. Ini terutama
terlihat selama masa perkembangan sehingga mempengaruhi pada semua
tingkat intelegensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan
sosial. Retardasi mental kadang disertai gangguan jiwa atau gangguan
fisik lain (http:///www.google.com).
6) Retardasi mental atau tuna mental adalah keadaan taraf
perkembangan kecerdasan di bawah normal sejak lahir atau masa anak-
anak. Diperkirakan 1-3 % penduduk Indonesia menderita kelainan ini
(Republika Online – http:///www.republika.co.id.htm).
Tingkat-tingkat retardasi mental dibagi menjadi:
1) Retardasi Mental Ringan
Nilai IQ pada Retardasi Mental Ringan 52-69. ketrampilan sosial dan
komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun-tahun pra sekolah. Tetapi

1
pada saan anak menjadi lebih besar, defisit kognitif tertentu seperti
kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak dan egosentrik mungkin
membedakan dirinya dari anak lain seusianya. Biasanya mengalami
keterlambatan dalam mempelajari bahasa. Namun, masih dapat berbicara
untuk keperluan sehari-hari dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari
serta terampil dalam perkerjaan rumah tangga. Dan akan mengalami
kesulitan dalam pelajaran sekolah.
2) Retardasi Mental Sedang
Nilai IQ pada Retardasi Mental Sedang adalah 36-51. ketrampilan
komunikasi berkembang lebih lambat. Isolasi sosial dirinya mungkin
dimulai pada usia sekolah dasar. Dapat dideteksi lebih dini jika
dibandingkan dengan Retardasi Mental Ringan. Biasanya lambat dalam
perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa. Ketrampilan
merawat diri dan ketrampilan motoriknya pun terlambat. Penderita juga
memerlukan pengawasan seumur hidup dan program pendidikan khusus
demi mengembangkan potensi mereka yang terbatas agar memperoleh
beberapa ketrampilan dasar.
3) Retardasi Mental Berat
Nilai IQ pada Retardasi Mental Berat 20-35. bicara anak terbatas dan
perkembangan motoriknya buruk. Pada usia pra sekolah sudah nyata ada
gangguan. Pada masa usia sekolah kemampuan bahasanya berkembang.
Kebanyakan dengan gangguan motorik yang berat akibat kerusakan
perkembangan pada susunan saraf pusat.
4) Retardasi Mental Sangat Berat
Nilai IQ Retardasi Mental Sangat Berat di bawah 10. ketrampilan
komunikasi dan motoriknya sangat terbatas. Pada masa dewasa dapat
terjadi perkembangan bicara dan mampu menolong diri sendiri secara
sederhana. Tetapi juga masih membutuhkan perawatan orang lain.

2
Bila ditinjau dari gejalanya, Retardasi Mental dibagi menjadi (Melly
Budhiman):
a) Tipe Klinis
Pada tipe ini, Retardasi Mental mudah dideteksi sejak dini. Penyebabnya
adalah kelainan organik. Kelainan ini dapat terjadi pada kelas sosial
tinggi atau pun sosial rendah.
b) Tipe Sosial Budaya
Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah. Penampilannya
seperti anak normal, sehingga disebut Retardasi Enam Jam. Tipe ini
kebanyakan berasal dari golongan sosial ekonomi rendah. Anak tipe ini
pada umumnya mempunyai taraf IQ golongan Borderline dan Retardasi
Mental Ringan.

A. Etiologi
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari Retardasi Mental. Faktor-
faktor yang potensial sebagai penyebab Retardasi Mental:
7) Non organik
 Kemiskinan dan keluarga yang tidak
harmonis.
 Faktor sosiokultural.
 Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik.
 Penelantaran anak.
8) Organik
a) Faktor Pra-konsepsi
 Abnormalitas single gene
(penyakit-penyakit metabolik, kelainan neurocutaneous).
 Kelainan kromosom.
b) Faktor Pre-natal
 Gangguan pertumbuhan otak
trimester I
 Kelainan kromosom

3
 Infeksi intra uterin, misal HIV
 Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi)
 Disfungsi plasenta
 Kelainan konginetal dari otak
 Gangguan pertumbuhan otak
trimester II dan III
 Infeksi intra uterin, misal HIV
 Zat-zat teratogen (alkohol, kokain, logam-logam
berat)
 Ibu DM, PKU
 Toksemia gravidarum
 Disfungsi plasenta
 Ibu malnutrisi
c) Faktor Peri-natal
 Sangat prematur
 Asfeksia neotorum
 Trauma lahir
 Meningitis
 Kelainan metabolik
d) Faktor Post Natal
 Trauma berat pada kepala/susunan
saraf pusat
 Neurotoksin
 CVA
 Anoksia, misalnya tenggelam
 Metabolik, misalnya gizi buruk,
kelainan hormonal
 Infeksi, misalnya meningitis
ensefalitis

4
B. Patofisiologi
Retardasi Mental termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif
yang muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun) yang ditandai
dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ 70-75 atau kurang) dan
disertai keterbatasan-keterbatasan sedikitnya dua area fungsi adaptif yaitu
berbicara dan berbahasa, ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan,
ketrampilan sosial, penggunaan sarana prasarana komunitas, pengarahan diri
kesehatan dan keamanan akademik fungsional bersantai dan bekerja.
Pada Retardasi Mental terjadi kerusakan muskuloskeletal. Kerusakan
neurologis itu meliputi: kerusakan otak, kelainan kongenital dan mikrosefal.
Sedangkan kerusakan muskuloskeletal meliputi: anomali ekstremitas
konganital, masukan kalori/nutrisi tidak mencukupi, distorsi muskular.
Kerusakan neurologis dan kerusakan muskuloskeletal akan menyebabkan
terjadinya kurang kesadaran tentang bahaya dan kerusakan fungsi motorik dari
otot sehingga akan muncul berbagai masalah dalam keperawatan.

C. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik
9) Uji Laboratorium
 Uji intelegensi standar dan uji perkembangan
 Pengukuran fungsi adaptif
10) EEG (Elektro Esenflogram)
 Gejala kejang yang dicurigai
 Kesulitan mengerti bahasa yang berat
11) CT ata MRI
 Pembesaran kepala
 Dicurigai kelainan otak yang luas
 Kejang lokal
 Dicurigai adanya tumor intra kranial

B. Komplikasi
1) Sebral Palsi
2) Gangguan kejang

5
3) Gangguan kejiwaan
4) Gangguan konsentrasi/hiperaktif
5) Defisit komunikasi
6) Konstipasi (karena penurunan motilitas usus akibat obat-
obatan, kurang mengkonsumsi makanan berserat dan cairan)

D. Penatalaksanaan Medis
Terapi terbaik adalah pencegahan primer, sekunder dan tersier:
a) Pencegahan primer
Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan atau menurunkan
kondisi yang menyebabkan gangguan. Tindakan ini termasuk pendidikan
untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat umum,
usaha terus menerus dari profesional bidang kesehatan, konseling
keluarga dan genetik dapat membantu.
b) Pencegahan sekunder
Tujuannya mempersingkat perjalanan penyakit.
c) Pencegahan tertier
Tujuannya menekan kecacatan yang terjadi

Dalam pelaksanaannya, kedua jenis ii dilakukan bersamaan meliputi:


a) Pendidikan untuk anak mancakup latihan ketrampilan adaptif, sosial dan
kejuruan.
b) Terapi pra luka agresif dan melukai diri
c) Kognitif dan psikodinamika
d) Pendidikan keluarga
e) Intervensi farmakologis:
 Obat-obatan psikotropika (Tioridasin/Mellaril) untuk
remaja dengan perilaku yang membahayakan diri sendiri.

6
 Psikostimulan untuk remaja yang menunjukkan tanda-
tanda gangguan konsentrasi/gangguan hiperaktif.
 Antidepresan (Imipramin/Trofanil)
 Karbamazepin (Tegretol) dan Propanolol (Inderal)

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN RETARDASI MENTAL

A. Pengkajian
1) Data demografi, meliputi:
 Identitas pasien
 Identitas penanggungjawab
 Riwayat keluarga
 Aktivitas sehari-hari
2) Pemeriksaan fisik, meliputi:
 Tanda-tanda vital
 Tanda-tanda fasial:
a) Tulang hidung yang datar
b) Alis mata yang menonjol
c) Perubahan retina
d) Opasitas kornea
e) Teling letaknya rendah/bentuknya aneh
f) Lidah yang menonjol
g) Gangguan gigi geligi
h) Ekspresi wajah  penampilan dungu

7
i) Warna dan tekstur kulit serta rambut
j) Palatum dengan lengkung yang tinggi
3) Status mental, meliputi:
a) Penampilan
 Cara berpakaian
 Cara berpenampilan (rapih/tidak)
b) Pembicaraan
 Cara berbicara (cepat, lambat, keras, gagap, membisu atau
apatis)
 Pembicaraan yang berpindah-pindah

c) Aktivitas motorik
 Lesu, tegang, gelisah sudah jelas
 Agitasi: gerakan motorik yang menunjukkan kegelisahan
 Tik: gerakan-gerakan kecil pada otot muka yang tidak
terkontrol
d) Alam perasaan
 Sedih, putus asa, gembira yang berlebihan sudah jelas
 Ketakutan: objek yang ditakuti sudah jelas
 Khawatir: objeknya belum jelas
e) Proses pikir
 Sirkumtansial: pembicaraan yang berbelit-belit tetapi sampai
pada tujuan pembicaraan
 Kehilangan asosiasi: pembicaraan tidak ada hubungan antara
satu kalimat dengan kalimat lainnya, dan klien tidak
menyadarinya
f) Isi pikir
 Obsesi: pikiran yang selalu muncul walaupun klien berusaha
menghilangkannya
 Ide yang terkait: keyakinan klien terhadap kejadian yang terjadi
di lingkungan yang bermakna dan terkait pada dirinya.

8
g) Tingkat kesadaran
 Bingung: tampak bingung dam kacau
 Orientasi waktu, tempat dan orang jelas
h) Memori
 Gangguan daya ingat jangka panjang, tidak dapat mengingat
kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan
 Konfabulasi: pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan
dengan memasukkan cerita yang tidak benar utnuk menutupi
gangguan daya ingatnya
4) Mekanisme koping
Apakah klien adapitif maupun mal adaptif.

5) Masalah psikososial dan lingkungan


Klien tidak mau berinteraksi dengan lingkungan

No. Data Fokus Problem Etiologi


1. Ds: -
Do: - Klien tampak hiperaktif. Resiko tinggi Hiperaktifitas
- Klien memper-lihatkan terhadap cidera. berat.
tanda cidera fisik.
2. Ds: -
Do: - Klien tidak bisa makan Kurang pe- Tidak terpenuhi-
sendiri. rawatan diri. nya kebutuhan
- Klien tidak bisa berpakai- ketergantungan.
an yang sesuai.
- Klien tidak dapat me-
rawat diri secara mandiri.
3. Ds: -
Do: - Klien tidak mampu Perubahan nu- Kurangnya nafsu
makan. trisi kurang dari makan.
- Porsi makan tidak habis. kebutuhan tu-
- Berat badan turun buh.
4. Ds: -

9
Do: - Klien tidak meu bicara Gangguan Ketidakmampuan
dengan perawat. komunikasi. untuk percaya
- Klien tidak mau menatap kepada orang lain.
mata kepada lawan bicara.
- Klien tidak mau
berinteraksi dengan orang
lain.

B. Diagnosa Keperawatan
1) Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan hiperaktifitas
berat.
2) Kurang perawatan diri berhubungan dengan tidak terpenuhinya
kebutuhan ketergantungan.
3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurangnya nafsu makan.
4) Gangguan komunikasi berhubungan dengan ketidakmampuan
untuk percaya kepada orang lain.

C. Intervensi Keperawatan
1) Diagnosa I
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, tidak ada
resiko tinggi terhadap cidera dengan kriteria hasil:
a) Klien tidak terlalu lama memperlihatkan tanda-
tanda hiperaktifitas.
b) Klien tidak mempertahankan tanda cidera fisik yang
diperoleh selama menjalani perilaku hiperaktif.
Tindakan:
a) Batasi aktivitas-aktivitas kelompok. Bantu pasien mencoba
untuk menetapkan satu atau dua hubungan yang akrab.

10
Rasional : Kemampuan pasien untuk berinteraksi dengan orang
lain rusak. Merasa lebih aman dengan hubungan satu
per satu yang setiap saat.
b) Temani pasien saat hiperaktifitas meningkat.
Rasional : Memberikan dukungan dan rasa aman.
c) Berikan kegiatan fisik sebagai pengganti untuk hiperaktif
yang tidak bertujuan seperti tugas rumah tangga.
Rasional : Latihan fisik memberikan suatu cara yang aman dan
efektif untuk menghilangkan ketegangan yang
terpendam.

2) Diagnosa II
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, klien
mampu mempertahankan aktivitas kehidupan sehari-harinya sendiri
dengan kriteria hasil:
a) Klien makan sendiri, meninggalkan tidak lebih dari
beberapa suap makanan di piring makan.
b) Klien menseleksi pakaian yang sesuai dan
berpakaian serta merawat diri secara mandiri setiap hari.
c) Klien mempertahankan keberhasilan kdiri pada
tingkat optimal dengan mandi setiap hari dan melakukan prosedur-
prosedur toileting yang pokok tanpa bantuan.
Tindakan:
a) Dorong klien untuk melakukan aktifitas kehidupan sehari-
hari yang sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Rasional : Kesuksesan melakukan aktifitas secara mandiri akan
meningkatkan harga diri.
b) Dorong kemandirian, tetapi berikan bantuan saat pasien
tidak melakukan aktifitas tertentu.

11
Rasional : Kenyamanan dan keamanan pasien adalah prioritas
keperawatan.
c) Berikan pengenalan dan penguatan positif untuk pekerjaan
yang dilakukan secara mandiri (misalnya menyisir rambut).
Rasional : Penguatan positif meningkatkan harga diri dan
mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.
d) Perlihatkan kepada klien bagaimana melakukan aktifitas
yang menyulitkan baginya.
Rasional : Demonstrasi aktifitas yang sederhana dan konkrit yang
akan dilakukan tanpa kesulitan di bawah kondisi
normal.
3) Diagnosa III
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, tidak akan
memperlihatkan tanda atau gejala mal nutrisi dengan kriteria hasil:
a) Klien memperlihatkan pencapaian berat badan yang
perlahan, kemajuan selama dirawat di Rumah Sakit.
b) Tanda-tanda vital dan hasil laburatorium serum
berada dalam batas-batas normal.
c) Klien mampu menyatakan secara verbal pentingnya
nutrisi dan masukan cairan.
Tindakan:
a) Timbang berat badan klien setiap hari.
Rasional : Penurunan atau pertambahan berat badan merupakan
informasi pengkajian yang penting.
b) Tentukan makanan yang disukai dan tidak disukai oleh
klien serta kolaborasi dengan ahli diet untuk menyediakan
makanan yang disukai klien.
Rasional : Pasien akan lebih suka makanan khususnya makanan
yang disukainya.
c) Temani klien selama makan.
Rasional : Untuk membantu sesuai kebutuhan dan untuk
memberikan dukungan serta dorongan.

12
d) Pastikan klien menerima makanan dengan porsi sedikit tapi
sering, termasuk makanan kecil sebelum tidur.
Rasional : Jumlah makanan yang besar mungkin tidak
disetujui/tetap tidak dapat ditoleransi klien.
4) Diagnosa IV
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, dapat
menunjukkan kemampuan dalam melakukan komunikasi dengan orang
lain, dengan kriteria hasil:
a) Klien dapat berkomunikasi dengan cara yang dapat
dimengerti oleh orang lain.
b) Klien memulai interaksi dengan orang lain.
Tindakan:
a) Jika klien mampu atau tidak ingin bicara, gunakan teknik
mengatakan secara tidak langsung.
Rasional : Menolong untuk menyampaikan rasa empati,
mengembangkan rasa percaya.
b) Antisipasi dan penuhi kebutuhan klien sampai pola
komunikasi yang memusatkan kembali.
Rasional : Kenyamanan dan keamanan klien merupakan prioritas
keperawatan.
c) Gunakan pendekatan muka (berhadap-hadapan, bertatapan)
untuk menyampaikan ekspresi yang benar.
Rasional : kontak mata mengekspresikan minat yang murni dan
hormat kepada orang lain/seseorang.

D. Evaluasi
Hal-hal yang diharapkan:
1) Dx I
a) Klien tidak terlalu lama memperlihatkan tanda-
tanda hiperaktifitas.
b) Klien tidak memperlihatkan tanda cidera fisik yang
diperoleh selama mengalami perilaku hiperaktif.

13
2) Dx II
a) Klien makan sendiri, meninggalkan tidak lebih dari
beberapa suap makanan di piring makannya.
b) Klien dapat menseleksi pakaian yang sesuai dan
merawat diri secara mandiri setiap hari.
c) Klien memperlihatkan keberhasilan diri pada
tingkat optimal dengan mandi setiap hari dan melakukan prosedur-
prosedur toileting yang pokok tanpa bantuan.
3) Dx III
a) Klien memperlihatkan tercapainya berat badan yang
perlahan serta kemajuan selama di rawat di Rumah Sakit.
b) Tanda-tanda vital dan hasil laboratorium serum
berada dalam batas normal.
c) Klien mengatakan secara verbal pentingnya nutrisi
dan masukan cairan.
4) Dx IV
a) Klien dapat berkomunikasi dengan cara yang dapat
dimengerti oleh orang lain.
b) Klien memulai interaksi dengan orang lain.

14
DAFTAR PUSTAKA

Ana K, Budi. (1999). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Buku


Kedokteeran EGC.
Betz, Cecely L. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.
Doengoues, Marylin E. (2002). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Hamid, Achir Yani S. (1999). Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa pada Anak
dan Remaja. Jakarta: Widya Medica.
Harold I, dkk. (1997). Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 1. Ed. 3. Jakarta: Media
Aesculapius.
Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga Univesity
Press.
Pdiatri. Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Townsend, Mary C. (1998). Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri.
Jakarta: EGC.

15
http://www.google.com
http://www.republika_online.co.id.htm

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN RETARDASI MENTAL

Dosen Pengampu: Aris Fitriyani, Skp, Ns.

16
Disusun Oleh:
1) Danang Setyo Pambudi NIM. P 10220204005
2) Hernowo Budi Santoso NIM. P 10220204013
3) Nungki Septi H NIM. P 10220204022
4) Reni Martiyaningsih NIM. P 10220204028
5) Untari Enggar P NIM. P 10220204036
IA

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
PRODI KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2005
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya makalah yang berjudul “LAPORAN PENDAHULUAN
DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
RETARDASI MENTAL” dapat penyusun selesaikan tanpa adanya suatu halangan
yang berarti.
Adapun makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Dokumentasi Keperawatan yang diampu oleh Ibu Aris Fitriyani, Skp. Ns.
Keberhasilan penyusun dalam menyusun makalah ini tidak lain berkat bantuan
dari berbagai pihak, baik moral maupun spiritual. Untuk itu ijinkanlah penyusun
sampaikan rasa terima kasih kepada:
a. Ibu Aris Fitriyani, Skp. Ns, selaku dosen mata kuliah Dokumentasi
Keperawatan yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan kepada
penyusun dalam menyusun serta menyelesaikan makalah ini dengan
sebaik-baiknya.
b. Petugas perpustakaan yang telah memberi kemudahan bagi penyusun
dalam memperoleh referensi.
c. Semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu per satu yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.

17
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun guna kesempurnaan penyusunan makalah di
masa yang akan datang.
Penyusun berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun
pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Purwokerto, 10 Desember 2005

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
RETARDASI MENTAL ........................................................................................ 1
Pengertian ............................................................................................................... 1
Etiologi ....................................................................................................... 3
Patofisiologi ........................................................................................................... 4
Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik ....................................................................... 5
Komplikasi ............................................................................................................. 5
Penatalaksanaan Medis .......................................................................................... 6
BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
RETARDASI MENTAL ........................................................................................ 7
Pengkajian .............................................................................................................. 7
Diagnosa Keperawatan ......................................................................................... 10
Intervensi Keperawatan ........................................................................................ 10
Evaluasi ............................................................................................................... 13

18
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 15

19