Anda di halaman 1dari 164

Aplikasi Value Engineering Terhadap Struktur Balok dan

Pondasi Untuk Biaya Proyek Pembangunan Kantor Perpustakaan


Daerah Propinsi Jawa Tengah

SKRIPSI
Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik

Disusun oleh :
Nama : Rinouw Astria Widodo
NIM : 5150402033
Program Studi : Teknik Sipil S1
Jurusan : Teknik Sipil

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul “Aplikasi Value Engineering Terhadap Struktur Balok dan
Pondasi Untuk Biaya Proyek Pembangunan Kantor Perpustakaan Daerah
Propinsi Jawa Tengah” telah disetujui oleh dosen pembimbing Jurusan Teknik
Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang.

Hari : Jum’at

Tanggal : 29 Juni 2007

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Toriq Arif Ghuzdewan, S.T., MSCE Drs. Tugino, M.T.


NIP. 132 134 676 NIP. 131 763 887

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Teknik


Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 23 Mei 2007

Panitia Ujian
Ketua Sekretaris

Drs. Lashari, M.T. Drs. Henry Apriyatno, M.T.


NIP. 131 741 402 NIP. 131 658 240
Tim Penguji
Penguji I Penguji II

Toriq Arif Ghuzdewan, S.T., MSCE Drs. Henry Apriyatno, M.T.


NIP. 132 134 676 NIP. 131 658 240

Penguji III

Drs. Tugino, M.T.


NIP. 131 763 887
Mengetahui,

Dekan Fakultas Teknik UNNES Ketua Jurusan Teknik Sipil

Prof. Dr. Soesanto, M.Pd Drs. Lashari, M.T.


NIP.130 875 753 NIP. 131 741 402
iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Jika engkau menolong jalanNya, niscaya Dia akan menolong dan melancarkan

jalanmu

Tak ada satu sisi hidup yang berjalan “mundur” kecuali semuanya harus

diperjuangkan agar bisa tetap “maju”

Always do it and praying to your God

You cannot escape the responsiblity of tomorow by evading it today

(Abraham Lincoln)

PERSEMBAHAN :
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
1. Bapak dan ibu yang saya hormati dan selalu saya cintai
2. Untuk Mas Arie, Mas Radik, Mas Zaeni yang selalu
membantu, mengajarkan dan menuntun dalam
penyelesaian Tugas Akhir ini.
3. Dan spesial untuk sohib-sohib ”Galaksy”(Okik, Rizal,
Bowo) yang selalu memberikan semangat dan arti
perjuangan hidup.Cayooo..!!
4. Dan orang yang selalu memberikan semangat bagiku
dalam cinta dan kasihnya. Alh.jazakillahukhoiro
5. Sahabat-sahabatku ”Youth of XP”. We always together.
Alh.jazakumullohukhoiro
6. Rekan-rekan seperjuangan angkatan ’02 Teknik Sipil
”Dont Forget!!We Will Fight At Future. for me, us and
all”
7. Semua orang yang telah mengkritik, mendidik dan
membantu dalam kehidupanku.

iv
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang telah

memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan

skripsi dengan judul “Aplikasi Value Engineering pada Struktur Balok dan

Pondasi Untuk Biaya Proyek Pembangunan Kantor Perpustakaan Daerah

Propinsi Jawa Tengah ”.

Penyusunan Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi syarat kelulusan

program studi Sarjana Strata-1 Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Negeri Semarang.

Selama proses penulisan Skripsi ini penulis menyadari banyak sekali

kekurangan dan hambatan, akan tetapi berkat dukungan dan bantuan dari berbagai

pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga proses penulisan skripsi

ini dapat selesai dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Soesanto, M.Pd., Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri

Semarang,

2. Drs. Lashari, M.T., Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Negeri Semarang,

3. Drs. Henry Apriyatno, M.T, Ketua Prodi Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang,

4. Toriq Arif Ghuzdewan, S.T., MSCE, dosen pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan hingga selesainya penyusunan skripsi ini,

5. Drs. Tugino, M.T, dosen pembimbing II yang telah memberikan arahan

dan bimbingan hingga selesainya penyusunan skripsi ini,

v
6. Drs. Kamid Idris, M.T, dosen wali Teknik Sipil S1 angkatan 2002,

7. Seluruh dosen serta staf karyawan Fakultas Teknik Universitas Negeri

Semarang,

8. Bapak dan ibu yang telah membesarkan, menyayangi, mendidik serta

memberikan dukungan, semangat dalam pendidikan dan kehidupan yang

indah. Terima kasih atas doa-doanya selama ini,

9. Ustoyo, Zaeni dan Radik yang telah semangat dalam menyelesaikan tugas

akhir. Risal, Okik dan Bowo, terima kasih atas semangatnya. Civilian ’02

we must strugle,

10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena

itu, saran dan kritik yang membangun penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi

ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi

semua pihak yang membutuhkan.

Semarang, Juni 2007

Penulis

vi
SARI

Rinouw Astria Widodo. 2007. Aplikasi Value Engineering Untuk Optimasi Biaya
Proyek Pembangunan Kantor Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah.
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Kata kunci : Value Engineering, Optimasi.

Dalam pelaksanaan proyek pembangunan gedung bertingkat sering kali


memberikan suatu nilai bangunan yang besar walaupun secara kualitatif ataupun
struktural bangunan itu dinilai biasa-biasa saja. Hal ini bukan semata-mata
kekurangan dari perencana, akan tetapi lebih pada kekurang efektifan dan keefisienan
penggunaan bahan-bahan yang memiliki kualitas hampir sama, tapi dari segi biaya
lebih dipandang ekonomis justru kurang diperhatikan. Value Engineering merupakan
salah satu bidang keilmuan dari teknik sipil yang secara inti berfungsi untuk
memberdayagunakan suatu cara atau metode guna mengoptimalisasi biaya yang
terjadi dalam pembangunan suatu gedung/proyek. Permasalahan yang dikaji adalah
bagaimana pengaruh aplikasi Value Engineering terhadap optimasi biaya pada proyek
pembangunan kantor Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah? Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan beberapa bahan dan
material untuk pengoptimalan biaya proyek. Mengetahui nilai penghematan (saving)
setelah dilakukan analisa Value Engineering.
Pada penelitian ini penganalisisan Value Engineering difokuskan pada item
pekerjaan struktur bawah yaitu pondasi dan item struktur atas yaitu balok. Dengan
menghadirkan beberapa alternatif yang masing-masing ditinjau dari segi penggunaan
materialnya. Untuk item pekerjaan pondasi digunakan beberapa alternatif penggunaan
tiang pancang dengan dimensi yang berbeda. Dalam proyek ini digunakan jenis
pondasi minipile dengan dimensi ∆32x32x32, kemudian dengan daya dukung yang
sama maka dihadirkan pondasi tiang silinder dengan Ø 300, Ø 350 dan tiang persegi
20x20. Untuk item pekerjaan beton bertulang yang dalam proyek ini digunakan beton
dengan mutu K 275, kemudian dihadirkan 3 alternatif penggunaan mutu beton lain
yaitu beton mutu K 225, K 250 dan K 300, yang kesemuanya dikaji hanya untuk
pekerjaan balok.
Hasil penelitian didapat nilai penghematan (saving) untuk item pekerjaan
pondasi dari berbagai alternatif yaitu : biaya yang harus keluarkan untuk pekerjaan
pondasi existing (∆32x32x32) adalah Rp. 213.587.573,00, sedangkan untuk alternatif
penggunaan bahan lain yaitu tiang pancang Ø 300 sebesar Rp. 180.601.760,70
berselisih Rp.32.985.812,23, penggunaan tiang dengan Ø 350 sebesar Rp.
196.188.987,70 berselisih Rp. 17.398.585,30, penggunaan tiang persegi 20x20
sebesar Rp. 159.640.139,00, berselisih Rp. 53.947.434,00. Sedangkan untuk
pekerjaan struktur balok yang dalam existing digunakan mutu beton K275 didapat
biaya sebesar Rp.148.800.055,30, penggunaan mutu beton K 225 sebesar
Rp.126.480.069,00 berselisih Rp.22.319.986, penggunaan mutu beton K 250 sebesar
Rp.127.047.200,80 berselisih Rp.21.752.854,20, penggunaan mutu beton K 300
sebesar Rp.127.866.100,90 berselisih Rp.20.999.999.96, sehingga dari hasil penelitian
ini didapatkan total penghematan dari item pekerjaan pondasi dan balok adalah
sebesar Rp.76.267.420,00

vii
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul....................................................................................................... i

Persetujuan Pembimbing....................................................................................... ii

Halaman Pengesahan ............................................................................................ iii

Motto dan Persembahan ........................................................................................ iv

Kata Pengantar ...................................................................................................... v

Sari ........................................................................................................................ vii

Daftar Isi................................................................................................................ viii

Daftar Tabel .......................................................................................................... xi

Daftar Gambar ....................................................................................................... xiii

Daftar Notasi ......................................................................................................... xiv

Daftar Lampiran .................................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................... 1

B. Perumusan Masalah ............................................................................ 3

C. Pembatasan Masalah ........................................................................... 4

D. Tujuan Penelitian ................................................................................ 5

E. Manfaat Penelitian .............................................................................. 5

BAB II LANDASAN TEORI

A. Uraian umum ....................................................................................... 7

B. Value Engineering ............................................................................... 7

viii
C. Perekayasaan Struktur ......................................................................... 10

1. Struktur Pondasi .......................................................................... 10

2. Struktur Atas ............................................................................... 17

D. Analisa Fungsional .............................................................................. 19

E. Cost Model .......................................................................................... 24

F. Analisa Perangkingan.......................................................................... 28

1. Perangkingan Metode Zero-One ................................................... 28

2. Metode Matrik ............................................................................... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Uraian .................................................................................................. 31

B. Jenis Penelitian .................................................................................... 31

C. Tempat Penelitian................................................................................ 32

D. Proses Penelitian ................................................................................. 32

1. Tahapan Persiapan ........................................................................ 33

2. Data ............................................................................................... 33

3. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 34

4. Analisa Data .................................................................................. 35

E. Kedudukan Value Engineering ........................................................... 44

BAB IV APLIKASI PERHITUNGAN DAN ANALISA PROYEK

A. Latar Belakang Proyek ........................................................................ 48

B. Data Proyek ......................................................................................... 49

1. Situasi Dan Lokasi Proyek ............................................................ 49

2. Data Teknik Proyek....................................................................... 50

ix
3. Data Adminstrasi ........................................................................... 50

4. Struktur Organisai Proyek ............................................................. 51

C. Study Value Engineering .................................................................... 52

1. Study VE Pada Item Pekerjaan Struktur Pondasi ......................... 54

2. Study VE Pada Item Pekerjaan Struktur Atas ............................... 55

D. Analisa Value Engineering Untuk Pekerjaan Pondasi ........................ 56

1. Tahap Informasi ............................................................................ 57

2. Tahap Spekulasi ............................................................................ 59

3. Tahap Analisa................................................................................ 75

4. Tahap Pengembangan ................................................................... 79

5. Tahap Rekomendasi ...................................................................... 79

E. Analisa Value Engineering Untuk Pekerjaan Struktur Atas ............. 80

1. Tahap Informasi ............................................................................ 81

2. Tahap Spekulasi ............................................................................ 84

3. Tahap Analisa................................................................................ 100

4. Tahap Pengembangan ................................................................... 104

5. Tahap Rekomendasi ...................................................................... 104

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ..................................................................................... 107

B. Saran ..................................................................................... 108

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 2.1 Tabel Kriteria Fungsi .................................................................. 28

Tabel 2.2 Penilaian Zero-One terhadap fungsi 1 ......................................... 30

Tabel 2.3 Penilaian Existing dan Alternatif yang muncul............................ 31

Tabel 3.1 Tabel Paparan Fase Informasi ..................................................... 38

Tabel 4.1 Data Informasi Teknik Proyek .................................................... 56

Tabel 4.2 Data Informasi Pekerjaan Pondasi............................................... 57

Tabel 4.3 Analisa Fungsi Pekerjaan Pondasi............................................... 58

Tabel 4.4 Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Design Alternatif ........... 60

Tabel 4.5 Rekapitulasi Perhitungan Dimensi dan Penulangan Pile Cap ....... 61

Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Analisa dan Perhitungan ................................ 73

Tabel 4.7 Rekapitulasi Harga Pekerjaan ..................................................... 74

Tabel 4.8 Analisa Fungsi ............................................................................ 76

Tabel 4.9 Penilaian Bobot Sementara ......................................................... 77

Tabel 4.10 Penilaian dengan zero-One ......................................................... 78

Tabel 4.11 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi B ............................ 79

Tabel 4.12 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi C............................ 79

Tabel 4.13 Penilaian dengan Zero-One Terhadap fungsi D ........................... 80

Tabel 4.14 Penganalisaan Metode Zero-One ................................................ 80

Tabel 4.15 Informasi Teknik Proyek ............................................................ 84

Tabel 4.16 Informasi Pekerjaan Beton Struktur ............................................ 85

Tabel 4.17 Analisa Fungsi Pekerjaan Struktur .............................................. 85

Tabel 4.18 Alternatif Design ........................................................................ 87

Tabel 4.19 Perbandingan Biaya Setelah Dilakukan Analisa VE .................... 101

xi
Tabel 4.20 Analisa Fungsi Untuk Pekerjaan Balok ....................................... 103

Tabel 4.21 Penilaian Bobot Sementara ......................................................... 104

Tabel 4.22 Penilaian Dengan Zero-One Terhadap FungsI A ......................... 104

Tabel 4.23 Penilaian Dengan Zero-One Terhadap FungsI B ......................... 106

Tabel 4.24 Penilaian Dengan Zero-One Terhadap Fungsi C.......................... 106

Tabel 4.25 Penilaian Dengan Zero-One Terhadap Fungsi D ......................... 107

Tabel 4.26 Penganalisaan Metode Zero-One ................................................ 107

xii
DAFTAR GAMBAR

Hal
Gambar 2.1 Pondasi Tiang untuk Tanah Keras dan Tanah Dangkal ............ 12

Gambar 2.2 Pondai Untuk Penahan Tanah ................................................... 13

Gambar 2.3 Pondasi Untuk Jembatan .......................................................... 14

Gambar 2.4 Flowchart Perencanaan Struktur Balok .................................... 19

Gambar 2.5 Contoh Diagram FAST Fungsi Struktur Jembatan .................. 23

Gambar 2.6 Contoh Model Untuk Bangunan Umum ................................. 25

Gambar 2.7 Cost Model Untuk Gedung Standar ........................................ 27

Gambar 3.1 Siklus Perekayasaan Struktur .................................................. 45

Gambar 3.2 Flowchart Penelitian ............................................................... 46

Gambar 4.1 Lokasi Proyek .......................................................................... 48

Gambar 4.2 Struktur Organisasi................................................................... 51

Gambar 4.3 Fase Study Value Engineering .................................................. 52

Gambar 4.4 Perbandingan Harga Pekerjaan ................................................ 74

Gambar 4.5 Perbandingan Harga Setelah di VE ........................................... 101

xiii
DAFTAR NOTASI

q = Kapasitas dukung tanah padaujung tiang (KN/m2)

Aujng = Luas permukaan ujung tiang (m2)

f = Gesekan pada selimut tiang atau adhesi tanah dengan selimut tiang

(kN/m2)

Aslmt = Luas permukaan selimut tiang (m2) = O. L

O = Keliling tiang (m)

Aperlu = luas yang dibutuhkan

As = luas tulangan

a1,a2 = tebal pondasi

B = lebar penampang pondasi

b = lebar penampang

d = tinggi efektif

Ø = diameter Pondasi

HP = harga pekerjaan

HSP = harga satuan pekerjaan

Vol = Volume tiap pekerjaan

φ = faktor reduksi

ρaktual = rasio penulangan aktual

As = luas tulangan

ρ = rasio penulangan

Cad = Biaya Langsung (cost of direct architect)

Cal = Biaya Buruh (cost of labour architect)

xiv
Cas = Biaya Sub Kontraktor (cost of sub contractor architect)

Cao = Biaya Lain-Lain (cost of pthers-architect)

Cap = Keuntungan Dari Architect (profit of architect)

Cai = Biaya Tidak Langsung(indirect cost architect)

Caoh = Biaya Overhead (overhead cost architect)

Ccc = Biaya Kontraktor (cost profit)

Ccp = Keuntungan Kontraktor (contractor profit)

Cre = Biaya Real Estate (cost of real estate )

Ccd = Biaya Langsung Kontraktor ( direct cost contraktor0

Ccl = Biaya Buruh Kontraktor (cost of labour kontraktor)

Ccm = Biaya Bahan Kontraktor( cost of material contractor )

Cco = Biaya Lain-Lain Kontraktor (cost of material contractor)

Ccoh = Biaya Overhead Kontraktor ( cost of pverhead kontraktor )

Crel = Biaya Tanah Real Estate(cost of land real estate )

Cref = Biaya Legal /Hukum (cost of legal)

Com = Biaya Operasi Dan Pemeliharaan (cost of operation and

maintenance)

Como = Biaya Overhead Dari Operasi Dan Pemeliharaan (cost of overhead

operation maintenance)

Cd = Biaya Disain (cost of design)

Cac = Biaya Arsitek (cost of architectural)

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Analisis Perhitungan Struktur Pondasi

Lampiran B Analisis Perhitungan Struktur Balok

xvi
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada era globalisasi saat ini, dimana batas antar negara makin terbuka,

produk dan jasa dari satu tempat mudah mencapai tempat lain, maka mereka

yang bekerja dengan prinsip “doing the right things” (efficient) dan “doing

things right” (effective) yang akan memenangkan persaingan dan merebut

pasaran yang pada gilirannya akan menikmati hasil usahanya lebih dulu dan

lebih baik.

Seperti halnya dalam dunia teknik sipil yang juga mengalami

perkembangan cukup pesat, diiringi dengan makin meningkatnya inovasi-

inovasi guna mengaplikasikan prinsip-prinsip diatas, yang diawali dengan

munculnya berbagai macam alternatif baru dalam suatu pembangunan

konstruksi gedung bertingkat (High Rise Building), jembatan bentang panjang

hingga manajemen konstruksi guna didapatkan sebuah kontruksi yang

berkualitas, arsitektural dan efisien.

Dalam perkembangan konstruksi ada dua jenis bahan struktur yang paling

umum digunakan, yaitu baja dan beton bertulang atau penggabungan kedua

jenis bahan tersebut. Dalam awal pembangunan suatu proyek perencana dan

konsultan Value Engineering perlu melakukan penetapan-penetapan berupa

item yang akan dipakai untuk semua bagian struktur dengan

memperhitungkan faktor aman dan ekonomis. Dan biasanya penentuan

1
2

masing-masing item struktur ditentukan dengan menggunakan beberapa

software komputer sebagai alat penunjangnya.

Konstruksi gedung yang diambil disini ialah proyek pembangunan

gedung perpustakaan propinsi Jawa Tengah yang dibangun oleh PT. UNICO

UTAMA JAYA ini terdiri dari 4 lantai dengan menggunakan pondasi tiang

pancang sebagai komponen penopang struktur bangunan atas dan

menggunakan mutu beton K 275 untuk semua item pekerjaan struktur beton

bertulangnya. Dan dari semua pekerjaan beton bertulang ini, yang diambil

adalah untuk pekerjaan balok struktur karena pada item ini mempunyai nilai

atau bobot yang sangat besar dibandingkan item-item pekerjaan yang lainnya,

hal itu disebabkan pemakaian atau penggunaan beberapa materialnya yang

dirasakan penulis kurang begitu efektif dan efisien sehingga mengakibatkan

pembengkakan terhadap biaya yang dikeluarkan.

Hal ini tentu saja menjadikan biaya/harga total keseluruhan menjadi

sangat besar. Dengan alasan seperti itu diperlukan suatu cara dalam bentuk

perekayasaan yang bertujuan untuk mengoptimalkan biaya pembangunan

proyek tersebut, yang didalam dunia teknik sipil biasa disebut rekayasa nilai

atau Value Engineering.

Value Engineering adalah suatu usaha teknik manajemen yang

menggunakan pendekatan-pendekatan secara sistematis dan terorganisir, dan

diarahkan untuk menganalisa fungsi yang diperlukan dengan biaya serendah-

rendahnya, konsisten dengan ketentuan untuk penampilan, kualitas dan

pemeliharaan dari proyek tersebut. Dan sesuai dengan peraturan Departemen


3

Pekerjaan Umum Nomor 222/KPTS/CK/1991 Direktorat Jenderal Cipta

Karya disebutkan bahwa bangunan yang memiliki nilai atau biaya pengerjaan

lebih dari 1 milyar harus diadakan suatu analisis Value Engineering.

Dalam Value Engineering digunakan suatu metode evaluasi yang

menganalisis teknik dan nilai dari suatu proyek, dimana dalam hal ini dicari

suatu alternatif-alternatif baru dengan tujuan menghasilkan biaya yang lebih

efisien dengan batasan fungsional dan tahapan rencana tugas yang dapat

mengidentifikasi dan mengoptimalkan biaya-biaya itu serta usaha yang tak

perlu. Dengan mengadakan improvement (perbaikan) terhadap Value produk

tersebut tanpa mengurangi sedikitpun quality, safety dan sebagainya

Atas pertimbangan-pertimbangan diatas, yang melatarbelakangi untuk

diadakannya suatu penelitian dengan dilakukan penganalisisan VE pada

proyek pembangunan Gedung Kantor Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa

Tengah. Maka dengan dilakukan penelitian dengan penganalisaan VE,

diharapkan akan diperoleh suatu nilai efisiensi serta efektifitas dari gedung

tersebut dengan munculnya cost saving.

B. Perumusan Masalah

Penggunaan bahan atau material penyusun konstruksi tiap-tiap segmen

pekerjaan yang kurang efisien mengakibatkan bertambah besar biaya yang

harus dikeluarkan. Sehingga diperlukan suatu pengkajian ulang dengan

memilih alternatif yang lain guna didapatkan nilai yang lebih optimal.

Berdasarkan uraian diatas timbul permasalahan yang menarik untuk

diteliti yaitu : bagaimana pengaruh perekayasaan segmen struktur bangunan


4

yang dalam hal ini adalah segmen struktur pondasi dan balok terhadap biaya

total proyek pembangunan Gedung Kantor Perpustakaan Daerah Propinsi

Jawa Tengah setelah dilakukan analisis Value Engineering dengan didasarkan

atas aplikasi software SAP 2000 versi 8.08?

C. Pembatasan Masalah

Analisa Value Engineering seharusnya dilakukan pada semua bagian

(segmen) pekerjaan yang memungkinkan dilakukan efisiensi ataupun

perubahan-perubahan design yang dapat mereduksi biaya tanpa merubah

fungsi dasar elemen tersebut, akan tetapi karena keterbatasan waktu maka

analisis Value Engineering (VE) dilakukan pada segmen bangunan yang

memiliki nilai atau bobot pekerjaan yang besar. Maka dalam penelitian ini

dilakukan pembatasan terhadap permasalahan yang akan dikaji sehingga

penulisan lebih terfokus. Batasan masalah pada penelitian ini adalah :

1 Analisis Value Engineering (VE) dilakukan pada segmen bangunan

struktur bawah yaitu pada struktur pondasi dan segmen bangunan atas

yaitu struktur balok.

2 Perhitungan kekuatan struktur didasarkan atas aplikasi software SAP

2000 versi 8.08 dengan disesuaikan dengan keadaan asli dilapangan

(perencanaan).

3 Pembebanan dari pembangunan gedung untuk input data SAP

didasarkan atas Peraturan Pembebanan Indonesia 1983


5

4 Karena keterbatasan pengetahuan dilapangan maka penganalisaan

hanya dilakukan sebatas perbandingan biaya sesuai dengan

penggunaan material saja.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1 Dapat mengangkat tema Value Engineering baik secara teoritis

maupun praktis, yaitu dengan menampilkan contoh kasus berupa

proyek riil pada tahap perencanaan gedung.

2 Mengetahui alternatif-alternatif bahan yang dapat digunakan untuk

pengaplikasian Value Engineering terhadap segmen struktur bawah

yaitu pondasi.

3 Mengetahui nilai cost saving atau biaya pengurangan dari alternatif-

alternatif material yang digunakan dalam analisis VE pada semua

segmen baik segmen atas yaitu balok atau segmen bawah yaitu

pondasi.

4 Mengetahui perbandingan biaya total dari proyek sebelumnya setelah

dilakukan perekayasa nilai (VE).

E. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan konstribusi

yang bermanfaaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat di

antaranya adalah :

1 Memberikan informasi atau rekomendasi baik kepada owner,

perencana maupun pelaksana mengenai biaya pelaksanaan proyek


6

terkait dengan alternatif penggunaan material yang digunakan untuk

mendapatkan nilai optimasi dari suatu proyek pembangunan suatu

gedung itu.

2 Mengetahui penggunaan software SAP 2000 sebagai sarana untuk

perencanaan bangunan.

3 Mengetahui cara perhitungan rencana anggaran biaya dari suatu

proyek yang didasarkan atas SNI yang berlaku di Indonesia.


7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Uraian Umum

Proyek pembangunan kantor Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah

merupakan asset penting bagi masyarakat Jawa Tengah, karena bukan hanya

sebagai salah satu pendukung sarana dan fasilitas kota semarang yang begitu

besar dan megah saja akan tetapi sekaligus menjadi ikon perkembangan

dalam dunia pendidikan, khususnya bagi masyarakat kota Semarang atau

untuk masyarakat Propinsi Jawa Tengah pada umumnya.

Pembangunan gedung yang dalam pelaksanaannya membutuhkan biaya

Rp. 3.578.660.000,00 memang dirasakan penulis adalah nilai yang sangat

besar mengingat gedung ini nantinya difungsikan sebagai gedung perkantoran

saja, sehingga menjadi suatu ide pemikiran untuk dilakukan penganalisaan

terkait masalah biaya pembangunan gedung tersebut dengan cara

perekayasaan nilai atau Value Engineering

B. Value Engineering

Value engineering adalah suatu metode evaluasi yang menganalisa

teknik dan nilai dari suatu proyek atau produk yang melibatkan : pemilik,

perencana dan para ahli yang berpengalaman dibidangnya masing-masing

dengan pendekatan sistematis dan kreatif yang bertujuan utuk menghasilkan

mutu dan biaya serendah-rendahnya yaitu dengan batasan fungsional dan

7
8

tahapan rencana tugas yang dapat mengidentifikasi biaya-biaya dan usaha

yang tidak diperlukan atau kurang mendukung (Donomartono, 1999).

Definisi lain mengatakan bahwa Value Engineering adalah suatu

pendekatan sistematis untuk memperoleh hasil yang optimal dari setiap biaya

yang dikeluarkan. Dimana diperlukan suatu usaha kreatif untuk menganalisa

fungsi dengan menghapus atau memodifikasi penambahan harga yang tidak

perlu dalam proses pembiayaan konstruksi, operasi atau pelaksanaan,

pemeliharaan, pergantian alat dan lain-lain (Dell’Isola, 1974).

Value Engineering ( VE ) adalah. suatu pendekatan bersifat kreatif dan

sistematis yang bertujuan mengurangi biaya-biaya yang tidak diperlukan.

Biaya yang tidak perlu ini adalah biaya yang tidak memberikan kualitas,

kegunaan, sesuatu yang menghidupkan penampilan yang baik ataupun sifat

yang diinginkan oleh konsumen (Miles, 1961)

Dalam diktat ajar perkuliahan Universitas Negeri Semarang disebutkan

bahwa Aplikasi Value Engineering biasa digunakan pada tahap perencanaan

maupun pada tahap pelaksanaan. Akan tetapi perlu ditekankan kembali

bahwa Value Engineering bukanlah :

a. Suatu revisi desain yang diperlukan untuk mengoreksi kesalahan-

kesalahan yang dibuat oleh perencana maupun mengoreksi

perhitungannya.

b. Suatu proses untuk membuat sesuatu menjadi murah ataupun

pemotongan harga dengan mengurangi penampilan.

c. Kontrol kualitas ataupun pemeriksaan ulang dari perencanaan proyek.


9

Sedangkan dalam mengidentifikasi biaya-biaya dan usaha-usaha yang

tidak perlu dalam penerapan Value Engineering tidaklah mudah, karena ada

beberapa faktor yang menyebabkan biaya dan usaha tersebut tidak terihat

oleh team (pemilik, perencana maupun pelaksana), diantaranya :

a. Terbatasnya waktu yang diberikan dalam proses perencanaan.

b. Kurang dan keterlambatan informasi.

c. Kekurangan kreatifitas dalam mengembangkan wawasan atau gagasan

baru.

d. Kurang tepatnya konsep yang dipakai.

e. Tidak memilih cara kerja yang efisien.

f. Masih belum cepat tanggap terhadap perubahan atau perkembangan.

g. Masih memiliki sifat kerja sendiri-sendiri antara perencana dan

pemilik.

h. Tidak mau mendapat saran.

i. Perubahan kebijaksanaan dan keadaan politik.

j. Kurangnya penghargaan kepada pelaku kegiatan.

k. Hubungan masyarakat dan lingkungan yang kurang serasi.

Akibat dari biaya-biaya dan kondisi yang tidak perlu itu, maka

kebutuhan akan aplikasi Value Emgineering sangat diperlukan dan terus

meningkat akhir-akhir ini, hal itu disebabkan karena ;

a. Biaya konstruksi yang meningkat.

b. Kurangnya sumber dana dalam pembangunan.

c. Suku bunga yang tinggi.


10

d. Inflasi yang meningkat setiap tahun.

e. Kemajuan teknologi yang meningkat pesat maupun metoda

pembangunannya.

C. Perekayasaan Struktur

1. Struktur Pondasi

Struktur Pondasi merupakan bagian dari bangunan yang berada di

bawah permukaan tanah maka termasuk bangunan struktur bawah.

Struktur pondasi terbagi atas beberapa jenis/macam yaitu pondasi footplat

(dangkal), pondasi sumuran atau pondasi tiang pancang, ketiga jenis

pondasi tersebut masing-masing mempunyai karakteristik dan tingkat

kemanfaatan yang berbeda-beda.

Pondasi footplat biasa dipergunakan terhadap struktur yang

mempunyai tingkat beban atas pondasi yang relatif kecil dan tanah yang

berada pada bangunan mempunyai daya dukung yang relatif kecil atau

dangkal, maka pondasi footplat ini biasa disebut dengan istilah pondasi

dangkal(Lashari, 2004).

Sedangkan Pondasi tiang pancang dan sumuran biasa digunakan

untuk tanah yang mempunyai tingkat daya dukung relatif sedang atau

bahkan sangat dalam. Maka keduanya biasa disebut dengan pondasi

dalam(Lashari, 2004).

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain struktur

pondasi (Hanggoro, 2005) adalah :


11

a. Ekonomi.

b. Adequate safety (Fs) yang meliputi : kapasitas daya dukung tanah,

gaya gesek tanah.

c. Penurunan tanah karena beban.

d. Perubahan cuaca yang relatif kecil tidak ekstrim.

e. Permasalahan konstruksi yang meliputi : kestabilan tanah, getaran,

muka air tanah dll.

f. Efek atau imbas terhadap lingkungan.

Untuk memenuhi persyaratan (b) kapasitas dukung tanah dan (c)

penurunan tanah, maka perlu dilihat terlebih dahulu seberapa besar beban

yang akan didukung oleh tanah. Jika tanah pendukung sangat kompresibel

dan terlalu lemah mendukung struktur atas maka penggunaan pondasi

tiang sangat disarankan. Selain itu, faktor (a) ekonomis dan (f) dampak

lingkungan merupakan bahan pertimbangan untuk pemilihan beberapa

sistem pondasi yang masih memenuhi persyaratan (b) kapasitas dukung

tanah dan (c) penurunan tanah.

Adapun dalam pembangunan Gedung kantor Perpustakaan Daerah

Jawa Tengah ini direncanakan dengan menggunakan pondasi tiang

pancang. Hal itu dikarenakan keadaan tanah keras yang menopang

bangunan ini sangat dalam.

Akan tetapi apabila tiang pancang dipancang sampai tanah keras

melalui lapisan lempung, maka untuk menghitung kapasitas daya dukung

tiang harus diperhitungkan terhadap perlawanan ujung dan gesekan antara


12

tiang depan tanah. Perhitungan daya dukung tanah tergantung pada jenis

data tanah yang ada yaitu berdasarkan hasil sondir dan berdasarkan data

laboratorium.

Adapun jenis pondasi tiang pancang akan lebih dijelaskan pada

beberapa sub bab dibawah ini diantaranya adalah :

a. Prinsip Dan Aplikasi Pondasi Tiang

Pondasi tiang diperlukan untuk mendukung struktur atas untuk kondisi-

kondisi sebagai berikut( Hanggoro, 2005) :

1) Lapisan-lapisan tanah atas sangat kompresibel dan terlalu lemah

mendukung struktur atas. Dalam hal ini pondasi tiang diperlukan

untuk meneruskan beban kedalam lapisan tanah keras (bedrock).

Jika pondasi tiang tidak mencapai tanah keras, maka beban struktur

atas akan ditahan oleh friksi antara tiang dan tanah. (Gambar 2.1)

Gambar 2.1
2) Jika pondasi harus menahan beban horizontal. Pondasi dalam dapat

menahan momen dan vertikal secara bersamaan (gambar 2.2) .


13

Contohnya adalah pondasi untuk gedung tinggi, jembatan, dermaga

dsb.

Gambar 2.2

3) Pada tanah yang ekspansif. Tanah yang ekspansif dapat mengalami

pengembangan (swelling) dan penyusutan (shrinkage) tergantung

kepada kondisi kadar airnya.

4) Pondasi harus menahan uplift forces. Hal ini misalnya terjadi pada

basement dengan muka air tanah yang tinggi.

5) Adanya erosi tanah pada abutment dan pier jembatan (Gambar 2.3).
14

Gambar 2.3

6) Pondasi harus menahan gerakan tanah lateral. Pondasi tiang dapat

digunakan sebagai perkuatan lereng atau sekaligus sebagai pondasi

bangunan yang berdiri di atas tanah berlereng.

b. Perhitugan Beban Aksial Kolom

Apabila tiang pancang dipancang sampai tanah keras melalui lapisan

lempung, maka untuk menghitung kapasitas daya dukung tiang harus

diperhitungkan terhadap perlawanan ujung dan gesekan antara tiang depan

tanah. Perhitungan daya dukung tanah tergantung pada jenis data tanah

yang ada yaitu berdasarkan hasil sondir dan berdasarkan data laboratorium.

Untuk penghitungan beban aksial yang terjadi pada pondasi akibat beban

kolom ada beberapa ketentuan dalam penggunaan rumus daya dukung

ultimit, tergantung dengan jenis tanah yang menopang pondasi tersebut,

dalam (Wesley,1977), disebutkan kapasitas ijin untuk tiang yang dipancang

sampai lapisan tanah pasir :


15

Qijin =
(qc. Aujung ) + (Tf .O )
3 5

Untuk pemancangan tiang pada tanah lempung, Wesley (1977)

menyarankan penggunaan faktor aman yang lebih besar dari tiang dalam

pasir. Dalam (Suryolelono, 1994) untuk pemancangan tiang pada tanah

lempung dapat digunakan rumus :

Qijin =
(qc. Aujung ) + (Tf .O )
5 10

Akan tetapi biasanya pemancangan tiang pada tanah lempung jika ujung

tiang mencapai tanah keras dapat digunakan rumus :

Qijin =
(qc. Aujung ) + (Tf .O )
3 10

dimana ; Qultimit = Kapasitas ultimit pondasi tiang tunggal (kN)

Qujung = Tahanan ujung tiang (kN)

Qfriksi = Tahanan gesek tiang (kN)

Keterangan :

q = Kapasitas dukung tanah padaujung tiang (KN/m2)

Aujng = Luas permukaan ujung tiang (m2)

f = Gesekan pada selimut tiang atau adhesi tanah

dengan selimut tiang (kN/m2)

Aslmt = Luas permukaan selimut tiang (m2) = O. L

O = Keliling tiang (m)

L = Panjang tiang (m)


16

Sedangkan dalam mekanisme perhitungan daya dukung pondasi ijin

digunakan faktor aman (S.F) yang diperlukan untuk memprediksi

besarnya kapasitas ijin pondasi tiang tunggal (Qijin) berdasarkan prediksi

nilai Qultimit. Alasan diperlukannya faktor aman dalam mendesain

pondasi tiang antara lain (Hanggoro, 2005) adalah :

1) Untuk memberikan keamanan terhadap tidak kepastian metode

hitungan yang digunakan.

2) Untuk memberikan keamanan terhadap penyerderhanaan profil

tanah serta parameternya yang digunakan dalam desain.

3) Untuk meyakinkan bahwa penurunan total yang terjadi pada tiang

tunggal atau kelompok tiang masih dalam batas toleransi.

4) Untuk meyakinkan bahwa penurunan tidak seragam di antara

tiang-tiang masih dalam batas toleransi.

c. Mekanisme Transfer Beban Pondasi

Mekanisme transfer beban dari tiang ke dalam tanah adalah sangat

kompleks. Beban pondasi akan ditransfer melalui tahanan gesek tiang

(Qfriksi) dan tahanan ujung tiang (Qujung). Pada saat pembebanan tiang,

perpindahan tiang ke arah bawah diperlukan untuk memobilisasi tahanan

gesek tiang (Qfriksi). Tanpa memperhatikan jenis tanah, jenis tiang dan

dimensinya, besarnya perpindahan relatif ini biasanya tidak melebihi 0,5 cm

meskipun ada yang sampai mendekati 1,0 cm.

Perpindahan ujung tiang yang dibutuhkan agar tahanan ujung tiang

(Qujung) termobilisasi seluruhnya lebih besar daripada gerakan yang


17

dibutuhkan untuk termobilisasinya tahanan gesek tiang (Qfriksi) secara

penuh. Secara umum tahanan gesek tiang ultimit (Qfriksi) termobilisasi

lebih awal daripada tahan ujungnya (Qujung).

Mekanisme transfer beban juga tergantung pada jenis tanah, jenis tiang,

panjang tiang dan seberapa tinggi tingkat pembebanannya. Pada umumnya,

saat awal pembebanan, sebagian besar beban didukung oleh tahanan gesek

tiang (Qfriksi) pada tiang bagian atas.

Ketika beban dilepas dan kemudian dibebani kembali dengan beban

yang lebih besar, jika tahanan gesek tiang (Qfriksi) telah mencapai

maksimum, sebagian beban akan didukung oleh tahanan ujung tiang

(Qujung). Pada saat terjadi keruntuhan, dimana pergerakan vertikal tiang

terus bertambah hanya dengan penambahan beban yang sedikit, maka tidak

ada lagi kenaikan transfer beban ke tahanan gesek tiang (Qfriksi) dan

tahanan ujung tiang (Qujung) telah mencapai nilai maksimumnya.

2. Struktur Atas

Struktur atas suatu gedung adalah seluruh bagian struktur gedung yang

berada di atas muka tanah (SNI 2002).

Struktur atas ini terdiri atas kolom, pelat, balok dan struktur atap balok,

yang masing-masing mempunyai peran yang sangat penting, yang dalam

penulisan tugas akhir ini perekayasaan dilakukan hanya pada pekerjaan

struktur balok saja.

Pada perencanaan balok terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi

terutama masalah bentang teoritis dan dimensi balok itu sendiri. Peraturan
18

untuk balok adalah sama dengan untuk pelat, bentang teoritisnya dianggap

sama dengan bentang bersih L antara bidang muka tumpuan ditambah

setengah dari panjang perletakan yang diperlukan pada tiap tepi (Vis, 1987)

Secara umum perencanaan balok dalam kontruksi gedung tinggi balok

diisyaratkan sekitar 1/15 sampai 1/10 panjang bentang sedangkan pilihan

lebar balok diisyaratkanh selebar 2/3 sampai 1/3 tinggi rencana balok dan

juga kriteria lendutan yang timbul haruslah memenuhi syarat h lebih atau

sama dengan 1 / 25 sampai 1 / 33 sehingga jika perencanaan balok

memenuhi persyatan diatas balok dikatakan aman ( Vis, 1987)..

Adapun diagram perencanaan balok akan di sajikan dalam Gambar

2.4 dibawah ini :


19

Tentukan syarat tumpuan

Tentukan bentang teoritis

Taksir ukuran penampang

Hitung beban

Hitung reaksi perletakan

Hitung momen lentur

Hitung tulangan

Ukuran balok dan tulangan


memadai

Gambar 2.4 Flow chart perencanaan struktur balok


Sumber : Vis, 1987
20

C. Analisa Fungsional

Pengertian analisa fungsi merupakan suatu pendekatan untuk

mendapatkan suatu nilai tertentu, dalam hal ini fungsi merupakan

karakterisitk produk atau proyek yang membuat produk atau proyek dapat

bekerja atau dijual. Menurut Ir. Julianus H, MSIE (1995) fungsi adalah

kegunaan atau manfaat yang diberikan produk kepada pemakai untuk

memenuhi suatu atau sekumpulan kebutuhan tertentu.

Secara umum fungsi dibedakan menjadi fungsi primer dan fungsi

sekunder. Fungsi primer adalah fungsi, tujuan atau prosedur yang merupakan

tujuan utama dan harus dipenuhi serta suatu identitas dari suatu produk

tersebut dan tanpa fungsi tersebut produk tidak mempunyai kegunaan sama

sekali. Fungsi sekunder adalah fungsi pendukung yang mungkin dibutuhkan

untuk melengkapi fungsi dasar agar mempunyai nilai yang baik. Analisa

fungsi bertujuan untuk :

1. Mengidentifikasikan fungsi - fungsi essensial ( sesuai dengan

kebutuhan ) dan menghilangkan fungsi – fungsi yang tidak diperlukan.

2. Agar perancang dapat mengidentifikasikan komponen – komponen

yang dapat menghasilkan komponen – komponen yang diperlukan.

Menurut Miles (1961) dalam berfikir kreatif dari analisa fungsi akan

timbul suatu pertanyaan–pertanyaan yang dapat digambarkan atau umum

diaplikasikan sebagai berikut :

1. Apa tujuan proyek itu ?

2. Apa fungsinya ?
21

3. Berapa biayanya ?

4. Berapa biaya minimalnya ?

5. Apakah ada alternatif dengan jenis pekerjaan yang sama ?

6. Apakah ada alternatif biaya ?

7. Apadah fungsi – fungsi yang bisa dihilangkan sebagian ?

8. Apakah yang bisa menyebabkan dihilangkan?

9. Apakah dengan menggunakan itu mendukung nilai bangunan ?

Walau pertanyaan–pertanyaan diatas begitu sederhana, tetapi akan sulit

untuk dijawab dan butuh waktu yang lama untuk menjawab secara tepat dan

benar jika keadaan proyek termasuk dalam kategori proyek besar.

Kemudian setelah diketahui beberapa item permasalahan yang akan

dikaji maka langkah selanjutnya ditentukan perbandingan antara cost dan

worth, dimana cost adalah biaya yang harus dibayar untuk item pekerjaan

tertentu ( diestimasikan oleh perencana ) dan worth adalah biaya minimal

untuk suatu item pekerjaan tetapi fungsi pekerjaan tetap dipenuhi ( biaya

rendah yang diperoleh setelah ide diketemukan tetapi fungsinya tetap )

Cara yang dianggap paling efektif didalam analisis fungsi Value

Engineering adalah dengan metode FAST (Functional Analysis System

Techniques). Yang digambarkan secara sistematis dalam bentuk diagram

bagan yang saling berkaitan satu sama lain dan diatur secara bertahap untuk

mengidentifikasikan fungsi-fungsi serta menggambarkan kaitan antara fungsi-

fungsi. Beberapa istilah fungsi pada metode FAST, yaitu :

1. Fungsi Utama
22

Fungsi bebas yang menggambarkan kegiatan utama yang harus

ditampilkan pada sistem.

2. Fungsi Sekunder

3. Fungsi Ukuran (sekunder)

Tergantung fungsi lain yang lebih tinggi tingkatannya.

4. Fungsi Jalur Kritis

Semua fungsi yang secara berurutan menggambarkan “Bagaimana

(How)” dan “Mengapa (Why)” dari fungsi lain pada urutan tersebut.

5. Fungsi Tingkat Tinggi

Fungsi yang terletak di bagian paling kiri Diagram FAST.

Fungsi Dasar merupakan fungsi tingkat tinggi dalam batasan lingkup

masalah.

6. Fungsi Tingkat Rendah

Fungsi yang terletak pada bagian paling kanan dari fungsi lain pada

diagram FAST.

Dalam diagram FAST ini dapat diketahui fungsi sikwensial dan

hubungan konkuresinya satu sama lain, baik secara horisontal maupun secara

vertikal yang semuanya merupakan fungsi pendukung dari fungsi utama dan

fungsi sikwensial dari fungsi beroder tinggi dan beroder rendah, dengan

pertanyaan-pertanyaan bagaimana dan mengapa ( How and why ). Untuk

lebih jelasnya metode FAST dapat dilihat pada gambar 2.5 yang

menjelaskan hubungan fungsi untuk kontruksu jembatan didasarkan atas

fungsi primernya yaitu untuk melewatkan lalulintas.


23

Bagaimana (How) Mengapa (Why)

Mendukung
lalulintas
Mendukung
beban kontruksi Membagi berat
Menahan beban

Meneruskan
beban ke tanah Menyalurkan
beban

Memberikan rasa
Mendukung aman
beban kontruksi

Memberikan
Penerangan
Ruang Lingkup Kajian

Garis lingkup tinggi Garis lingkup rendah

= Garis fungsi kritis Gambar 2.5 Contoh Diagram FAST Fungsi struktur Jembatan

23
24

D. Cost Model

Dalam pengertiannya Cost Model merupakan suatu model atau gambaran

yang difungsikan untuk memaparkan analisa biaya-biaya yang akan muncul

dari suatu kegiatan proyek dari berbagai unsur/item pekerjaan(Dell’isola,

1962)

Didalam penyusunan anggaran suatu proyek dilakukan dengan cara

membuat estimasi anggaran terlebih dahulu, lalu dengan analisa fungsi dalam

Value Engineering (VE) didapatkan alternatif yang kesemuanya

mengeliminasi biaya-biaya yang tidak perlu dan akhirnya dapat mereduksi

biaya proyek secara keseluruhan. Dibawah ini akan digambarkan contoh cost

model untuk gedung (gambar 2.6) dan adalah contoh bagan dari suatu cost

model untuk mengetahui biaya yang harus dikeluarkan oleh pemilik atau

pemberi tugas untuk gedung yang standar pada (gambar 2.7).

Dengan adanya cost model memungkinkan untuk mempermudah untuk

menganalisa semua biaya-biaya baik langsung atau tidak langsung yang akan

timbul pada masa kontruksi sehingga akan menjadi panduan atau acuan

dalam usaha untuk menganalisa biaya-biaya itu dengan Value Engineering


25

Total biaya
Ct=Cd+Cp+Cc

B.desain B. Konstruksi B.operasi


Cd=Cac+Cap Cp:Ccc+Ccp+Cre Cc:Com+Comi

B.arsitek Keuntungan B.Kontraktor Keuntungan B real cost B. O&P B.Tak lsg


Cac=Cad+Cai Cap Ccc:Ccd+Ccr Ccp Cre: Crei Com:Coml+Comm Comi:Como
+Ccmu+Como

B.Lsng B.Tak lsg B.langsung B.tak lsg B Tanah


Cad=cal+cas=cao Cal=Cao Ccd:Ccl+Ccm Crel: Cref Buruh OH O & P
Ccl:Cco Coml Como
+Cco+Ccs

Buruh
Overhead Buruh Over head B Hutan
Cal Bahan
Cao Ccl Cco Cref
Comm

Sub.kontrktr
Bahan
Cas Ccm
Utiliti
Ccmu
Lain-lain
Cao Sub.Kontr Lain-lain
Cas Cco
Lain-lain
Como
Gambar 2.6. Cost Model Untuk Bangunan Umum

Sumber : Peurifoy,R.l, Estimating Construction Costs, New York, Mc. Graw Hill Book Company, Third Edition

25
26

Keterangan gambar (notasi gambar 2.6)

Cd = Biaya Disain (cost of design)

Cac = Biaya Arsitek (cost of architectural)

Cad = Biaya Langsung (cost of direct architect)

Cal = Biaya Buruh (cost of labour architect)

Cas = Biaya Sub Kontraktor (cost of sub contractor architect)

Cao = Biaya Lain-Lain (cost of pthers-architect)

Cap = Keuntungan Dari Architect (profit of architect)

Cai = Biaya Tidak Langsung(indirect cost architect)

Caoh = Biaya Overhead (overhead cost architect)

Ccc = Biaya Kontraktor (cost profit)

Ccp = Keuntungan Kontraktor (contractor profit)

Cre = Biaya Real Estate (cost of real estate )

Ccd = Biaya Langsung Kontraktor ( direct cost contraktor0

Ccl = Biaya Buruh Kontraktor (cost of labour kontraktor)

Ccm = Biaya Bahan Kontraktor( cost of material contractor )

Cco = Biaya Lain-Lain Kontraktor (cost of material contractor)

Ccoh = Biaya Overhead Kontraktor ( cost of pverhead kontraktor )

Crel = Biaya Tanah Real Estate(cost of land real estate )

Cref = Biaya Legal /Hukum (cost of legal)

Com = Biaya Operasi Dan Pemeliharaan (cost of operation and

maintenance)
27

Gedung Standar

B. lapangan Syarat Sistem dasar Arsitek


Mechanical Eletrical
&spec,.umum

Alat Kondisi Umum Pondasi Dinding luar


Pemipaaan Umum

Kond.Spec Normal Kons.Internal


HC Sistem Spesial

Abnormal Finishing dalam


Pmdm. kbkran Sistem Lain

Struktur Trans. Vertikal

Vertikal

Horisontal

Gambar 2.7 Cost Model Untuk Gedung Standar


Sumber : Peurifoy,R.l, Estimating Construction Costs, New York, Mc. Graw Hill Book Company, Third Edition

27
28

E. Analisa Perangkingan

Analisa perangkingan ialah suatu cara yang digunakan dalam

perekayasaan untuk mengkaji lebih dalam semua alternatif yang dihadirkan

baik secara kualitatif atau kuantitatif.

Dalam analisa perangkingan dilakukan dengan 2 (dua) cara yang disajikan

saling berkaitan yaitu :

1. Perangkingan Metode Zero – One

Sebelum kegiatan penilaian dilakukan maka terlebih dahulu ditentukan

kriteria yang menjadi dasar penilaian untuk semua alternatif. Dengan dihitung

bobot sementara untuk masing-masing alternatif tersebut. Penghitungan bobot

alternatif ini didasarkan atas rumus dalam (Julianus, 1995) :

angkarangkingyang dim iliki


= x 100
jumlahangkarangking

Untuk penentuan angka rangking dilakukan dengan cara terbalik

tergantung jumlah fungsi yang dihadirkan dan perangkingan diberi nilai yang

tertinggi untuk fungsi yang diprioritaskan (tabel .

Tabel 2.1 Kriteria Fungsi Alternatif

No Fungsi Angka rangking bobot Ket

1 Biaya 3 50 Prioritas tertinggi

2 Pelaksanaan cepat 2 33.33 Prioritas sedang

3 Mudah 1 16.67 Prioritas rendah

Jumlah angka rangking 6 100


29

Kemudian setelah didapatkan angka bobot diatas maka dilakukan analisa

selanjutnya yaitu dengan metode Zero-One. Menurut Ir. Julianus H, MSIE

(1995) metode Zero-One adalah salah satu cara pengambilan keputusan yang

bertujuan untuk menentukan urutan prioritas fungsi – fungsi (Kriteria).

Prinsip metode ini adalah menentukan relativitas suatu fungsi “lebih

penting” atau “kurang penting” terhadap fungsi lainnya. Fungsi yang “lebih

penting” diberi nilai satu (One), sedangkan nilai yang “kurang penting” diberi

nilai nol (Zero)(tabel 2.2). Kemudian dengan menghadirkan referensi

perbandingan maka akhirnya didapatkan indeks untuk masing-masing kriteria

yang nantinya menjadi parameter perhitungan dalam penentuan nilai

pengambilan keputusan untuk masing-masing alternatif berdasarkan kriteria

yang telah ditentukan. Keuntungan metode ini adalah mudah dimengerti dan

pelaksanaannya cepat dan mudah.

Preferensi alternatif untuk kriteria biaya adalah sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi
A A > B : A > C
B B < A : B > C
C C < A : C < B

Preferensi alternatif untuk kriteria mudah adalah sebagai berikut dst ;

Alternatif Preferensi
A A > B : A > C
B B < A : B > C
C C < A : C < B
30

Tabel 2.2 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi 1 (biaya)

Alternatif A B C Jumlah Indeks


A X 1 1 3 3/6
B 0 X 1 2 2/6
C 0 0 X 1 1/6
JUMLAH 4 1

Keterangan :

1 = Lebih penting

2 = Kurang penting

X = Fungsi yang sama

Cara pelaksanaan metode zero-one ini adalah dengan mengumpulkan

fungsi-fungsi yang tingkatannya sama, kemudian disusun dalam suatu matriks

zero–one yang berbentuk bujursangkar. Kemudian dilakukan penilaian fungsi-

fungsi secara berpasangan, sehingga ada matriks akan terisi x. Nilai-nilai pada

matriks ini kemudian dijumlah menurut baris dan dikumpulkan pada kolom

jumlah.

Sebagai contoh untuk matriks diatas pada baris 1 kolom 2 bernilai 1,

artinya fungsi A lebih penting dari fungsi B. Sebaiknya baris 2 kolom 1

bernilai 0. Dari matriks diatas diperoleh urutan prioritas adalah A, B,dan C

(berdasarkan jumlah nilai).

Akhirnya pemakaian metode zero-one ini digunakan secara terus

menerus untuk semua alternatif terhadap fungsi yang dimilikinya hingga

diketahui nilai indeksnya. Lebih detailnya akan dijabarkan dalam BAB 4.


31

2. Penilaian Akhir alternatif dan existing (Pembobotan)

Kemudian setelah diperoleh nilai indeks dan bobot sementara dari semua

kriteria untuk alternatif yang dipakai maka dilakukan pembobotan akhir

dengan matrik evaluasi. Bagian dari metode ini yaitu untuk mengetahui nilai

prioritas dari suatu item yang dihadirkan adalah dengan metode penilaian

alternatif dan Existing.

Seperti halnya contoh di bawah ini dalam tabel yaitu :

Tabel 2.3 Penilaian Exiting dan Alternatif yang Muncul


Kriteria
Alternatif
No. 1 2 3 Total Ket
bobot 50 33,33 16,67
1 Alt A indeks indeks indeks indeks
x x x Σx Bobot
2 Alt B indeks indeks indeks indeks
x x x Σx Bobot
3 Alt C indeks indeks indeks indeks
x x x Σx Bobot

Dari tabel diatas nilai dari x didapat dengan hasil perkalian indeks dengan

bobot sementara. Dan hasil total dari total (Σx) menjadi bobot kesemuanya

alternatif yang berfungsi menjadi suatu alat untuk mengambil keputusan yang

dapat menggabungkan kriteria kualitatif (tak dapat diukur) dan kriteria kuantitatif

(dapat diukur).

Selain itu dengan adanya pembobotan dengan cara perbandingan nilai

existing dan alternatif nanti bertujuan agar pembaca tahu bahwa dalam

penganalisaan VE untuk suatu pembangunan konstruksi dengan menghadirkan

alternatif-alternatif tertentu ternyata mempunyai tingkat kelemahan ataupun

kelebihan yang berbeda dilihat dalam segi yang lain.


32

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Uraian

Secara garis besar metodologi yang diterapkan pada analisis VE gedung

Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, adalah :

1. Pengumpulan data dan metode perhitungan awal pada fase atau tahapan

(informasi, kreatif, analisa, pengembangan, rekomendasi dan

implementasi.)

2. Pengolahan data yang ada dengan modifikasi perhitungan yang akan

dibahas.

3. Analisa perencanaan penggunaan bahan, dimensi, dan biaya yang

diterapkan pada pengoperasian komputer sebagai alat bantu tanpa merubah

mutu dan penampilan suatu proyek.

4. Analisa Value Engineering untuk mengetahui berapa biaya penghematan

yang terjadi (cost saving).

B. Jenis Penelitian

Untuk memecahkan dan membahas permasalahan yang terjadi peneliti

menggunakan penelitian deskriptif atau survey dengan metode penelitian studi

kasus. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok

manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu

kelas peristiwa pada masa sekarang ( Natsir, 2003 ).

32
33

Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi,

gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,

sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Studi kasus atau penelitian studi kasus adalah penelitian tentang status subjek

penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan

personalitas ( Maxfield, 1930 ). Subjek penelitian dapat saja individu, kelompok,

lembaga, maupun masyarakat.

Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail

tentang latar belakang, sifat-sifat karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun

status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat di atas akan dijadikan suatu hal

yang bersifat umum. Hasil dari penelitian kasus merupakan suatu generalisasi dari

pola-pola kasus yang tipikal dari individu, kelompok, lembaga dan sebagainya.

C. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada pembangunan gedung kantor Perpustakaan Daerah

Propinsi Jawa Tengah yang bertempat di jalan Sriwijaya No. 29 A Semarang.

D. Proses Penelitian

Langkah-langkah dan hal-hal perlu dilakukan dalam proses penelitian,

diantaranya :

1. Tahap persiapan

Tahap persiapan adalah suatu tahap dimana peneliti mencari atau

mengumpulkan data-data mengenai proyek terutama masalah spesifikasi

proyeknya, yang dilakukan baik pada konsultan, kontraktor maupun pada

dinas/instansi terkait yang menangani semua kegiatan konstruksi. Setelah


34

mendapatkan data proyek kemudian peneliti melakukan survey ke lokasi

proyek untuk mendapatkan gambaran umum kondisi lapangan.

Selain itu peneliti juga melakukan studi pustaka baik melalui buku-buku

pustaka, internet, peraturan-peraturan Departemen Pekerjaan Umum (DPU)

dan peraturan-peraturan lainnya yang dapat dijadikan sebagai bahan referensi

dan tambahan pengetahuan.

2. Data

Dalam menghitung dan membuat desain serta anggaran biaya digunakan

program komputer, seperti program SAP 2000 versi 8.08, Program Excel dan

sebagainya. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi

2, yaitu Data primer dan data sekunder, yang kesemuanya akan dijabarkan

sebagai berikut :

1) Data Primer

Data primer adalah data pokok yang digunakan dalam melakukan

analisis Value Engineering. Data primer dapat berupa data-data teknis dari

proyek, seperti gambar bestek, Rencana Anggaran Biaya (RAB), Rencana

Kerja dan Syarat (RKS).

2) Data Sekunder

Data sekunder adalah data-data pendukung yang dapat dijadikan input

dan referensi dalam melakukan analisis VE. Data sekunder, diantaranya

data mengenai daftar harga survey material, pekerja, dan alat yang

diperoleh dilapangan, data tentang peraturan-peraturan bangunan gedung


35

dari Departemen Pekerjaan Umum dan data-data lainnya yang dapat

dijadikan referensi dalam menganalisis VE.

3. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara :

a. Metode Pengambilan Data Primer

Yaitu metode dengan cara melakukan survey langsung pada pemilik

proyek, konsultan maupun pelaksana yang menangani proyek tersebut.

Selain itu peneliti juga melakukan observasi langsung ke lokasi proyek

tersebut guna mengetahui keberadaan sisi langsung proyek.

b. Metode Pengambilan Data Sekunder

Yaitu metode dengan cara melakukan survey langsung pada instansi-

instansi atau perusahaan-perusahaan yang dianggap berkepentingan.

Perusahaan itu dapat meliputi perusahaan bahan/ material bangunan,

persewaan alat-alat berat, konsultan, kontraktor, pemborong tenaga kerja,

instansi yang menangani masalah jasa dan konstruksi bangunan, (seperti

BPIK, Dinas KIMTARU dan lain-lain) dan perusahaan-perusahaan

lainnya yang bisa dijadikan bahan referensi.

4. Analisis Data

Dari data-data yang telah dikumpulkan dilakukan analisis VE untuk

menghasilkan adanya suatu pengurangan biaya atau saving cost. Analisis VE

dilakukan tiga tahap, yaitu :


36

1) Tahapan Informasi

Pada tahap awal ini dilakukan upaya-upaya untuk mendapatkan

informasi sebanyak-sebanyaknya yang relevan dengan obyek studi yang

akan dievaluasi, dimana data dan informasi tersebut diolah menurut

kebutuhan pada tahap selanjutnya. Informasi umum yang diperlukan pada

tahap informasi antara lain adalah :

a.) Nama proyek

b.) Lokasi proyek

c.) Pemilik proyek

d.) Nilai proyek

e.) Luas bangunan

f.) Spesifikasi obyek studi.

Langkah-langkah penunjang yang biasa diterapkan dalam tahap

informasi adalah sebagai berikut :

a.) Pengulangan desain informasi

Adalah pelaksanaan mengumpulkan semua informasi yang

menyangkut segala aspek kepentingan obyek studi. Adapun yang

termasuk didalam obyek studi, yaitu :

(1) Gambar-gambar perencanaan

(2) Spesifikasi biaya

(3) Perkiraan biaya

(4) Pendekatan desain

(5) Perhitungan desain/ konstruksi


37

(6) Data -data kondisi setempat

(7) Jadwal kegiatan, dan lain-lain.

Dalam proses evaluasi selanjutnya, data informasi tersebut dapat

dijadikan kumpulan data yang dibutuhkan dan disusun dalam suatu

deskripsi permasalahan dan tujuan penghematannya.

b.) Penentuan sasaran studi

Untuk mengetahui sasaran studi dan berapa besar perkiraan target

penghematan biaya didapat dengan membuat struktur biaya dari

keseluruhan elemen obyek studi yang memperlihatkan dengan jelas

bagian dan elemen yang ada sebagai sasaran studi tersebut.

c.) Pemilihan elemen dengan potensi penghematan optimum

Dari struktur dan perkiraan target penghematan biaya tersebut,

maka dapat dipilih elemen – elemen obyek studi yang mempunyai

potensi penghematan optimum dengan metoda perbandingan (rasio)

antara biaya asal dan target biaya, dan perhatian diutamakan kepada

rasio yang menyolok. Cara ini dikenal dengan Cost Matrix Model yang

menguraikan rasio cost dengan worth, presentasi pembagian pekerjaan

(bobot).

d.) Analisa fungsi

Analisa fungsi di sini digunakan cara FAST (Functional Analisys

System Technique) yaitu analisa dengan membuat diagram analisa

fungsi dengan menguraikan tiap elemen menjadi komponen


38

pembentuk sesuai fungsinya untuk meneliti bagian mana yang

mempunyai fungsi utama dan fungsi sekunder.

Demikian akan dipaparkan contoh tabel 3.1 penganalisisan fungsi

pada tahap informasi (information phase) untuk pekerjaan pondasi :

Tabel 3.1 Tabel Paparan Fase Informasi

descrip function
no cost worth comment
tion Verb Noun Kind
1. Poer
2. Sloof
3. Pondasi
TOTAL

2) Tahapan Kreatif
Didalam Value Engineering, berfikir kreatif adalah hal sangat penting

dalam mengembangkan ide-ide untuk membuat alternatif-alternatif dari

elemen yang masih memenuhi fungsi tersebut, kemudian disusun secara

sistematis

Alternatif-alternatif tersebut dapat ditinjau dari berbagai aspek,

diantaranya :

a.) Bahan atau material

Pemunculan penggunaan alternatif bahan dikarenakan semakin

banyaknya jenis bahan bangunan yang diproduksi dengan kriteria

mempunyai fungsi yang sama. Seiring dengan berkembangnya kemajuan

teknologi jenis bahan yang mempunyai fungsi yang sama dapat dibuat

atau dicetak dengan mutu dan kualitas yang hampir sama juga.
39

Hanya karena memiliki merk atau lisensi yang berbeda, maka harga

bahan tersebut menjadi berbeda. Dengan demikian, maka pemilihan

alternatif bahan dapat dilakukan dalam analisis VE. Pencarian bahan

dengan mutu, kualitas dan fungsi yang sama dengan rencana awal tapi

dengan harga lebih rendah dapat dilakukan

b.) Cara atau metode pelaksanaan pekerjaan

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan pastinya mempunyai cara atau

metode sendiri-sendiri. Pada zaman dulu cara menyelesaikan suatu

pekerjaan hanya mengandalkan tenaga manusia dengan alat-alat

sederhana, sehingga waktu penyelesaian pekerjaan dapat membutuhkan

waktu yang cukup lama.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kini muncul alat-alat bantu yang

lebih canggih dalam menyelesaikan pekerjaan. Sebagai contoh, adanya

alat-alat berat seperti dozer, excavator, crane dan lain-lain yang dapat

membantu dalam menyelesaikan pekerjaan konstruksi bangunan,

sehingga pekerjaan dapat cepat selesai.

Dengan demikian dapat dilihat, bahwa suatu pekerjaan konsrtuksi

bangunan yang dikerjakan dengan tenaga manusia dan alat-alat

sederhana akan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan

dikerjakan menggunakan alat-alat yang lebih modern.

Maka analisis VE dalam hal metode pelaksanaan dapat dilakukan,

karena semakin pendek waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan

pekerjaan, semakin kecil pula biaya yang dikeluarkan. Jadi, nantinya


40

dapat dipilih alternatif metode pekerjaan mana yang dapat membuat

pekerjaan cepat selesai dari jadwal yang sudah direncanakan.

c.) Waktu pelaksanaan pekerjaan

Setiap pekerjaan dalam suatu proyek pastinya sudah mempunyai

jadwal (schedule) pelaksanaan dalam perencanaan time schedule.

Terkadang dengan bobot pekerjaan yang tetap, waktu pelaksanaan

pekerjaan dapat dikurangi, asalkan pekerjaan tersebut tidak terdapat

dalam jalur kritis.Banyak cara yang dilakukan untuk mewujudkan hal

tersebut, diantaranya dengan mengganti metode pelaksanaan, menambah

jumlah tenaga kerja dan lain-lain.

Dengan demikian, alternatif pengurangan waktu pelaksanaan dalam

analisis VE dapat dimunculkan bersamaan dengan pemilihan alternatif

cara atau metode pelaksanaan pekerjaan.

3) Tahapan Analisa

Tujuan tahapan ini adalah :

a.) Mengadakan evaluasi, mengajukan kritik dan menguji alteratif yang

muncul selama tahapan spekulatif

b.) Memperkirakan nilai uang untuk setiap alternatif.

c.) Menentukan alternatif yang akan memberikan kemampuan yang

paling besar untuk penghematan biaya.

Alternatif yang timbul diformulasikan, kemudian melakukan

eliminasi ide-ide yang kurang praktis dan menilai ide kreatifitas tersebut
41

dari segi keuntungan dan kelemahannya dengan mencari potensi

penghematan biaya untuk setiap ide yang dievaluasi.

Pemilihan dapat dilakukan dengan metode zero-one. Kemudian

dibuatkan suatu ranking hasil penilaiannya.

4) Hasil Analisa

Hasil analisa ini dibagi 2 (dua) tahap, yaitu :

a.) Tahap Pengembangan

Mempersiapkan rekomendasi yang telah dilengkapi informasi dan

perhitungannya secara tertulis dari alternatif yang dipilih dengan

mempertimbangkan pelaksanaan secara teknis dan ekonomis.

Langkah-langkah tahapan pengembangan adalah sebagai beriku t:

(1) Membuat konsep/ desain untuk dibandingkan satu sama lain.

(2) Membandingkan konsep semula dengan desain usulan/ alternatif.

(3) Memberikan rekomendasi setiap apa yang terlibat di dalamnya.

b.) Tahapan Rekomendasi

Memberikan rekomendasi yang dapat berupa presentasi secara

tertulis atau lisan dari alternatif yang sudah dipilih dalam usulan tim VE

untuk ditujukan kepada semua pihak, baik pemilik, perencana maupun

pelaksana. Dalam tahap rekomendasi dapat juga berisi usulan alternatif

yang direkomendasikan beserta dasar pertimbangan

5) Tahapan Implementasi

Pada tahap terakhir VE ini mencakup laporan akhir/ringkasan akhir

yang berisikan dokumen akhir yang berlaku dan telah disetujui pemilik
42

proyek untuk dilaksanakan oleh kontraktor dan diawasi bersama

pengawas.

Tapi sebelum disetujui oleh pemilik proyek biasanya laporan akhir ini

dipresentasikan (tahapan sebelumnya) kepada semua pihak yang nantinya

terlibat agar dapat memahami alternatif / usulan perubahan secara singkat,

jelas, cepat dan cermat langsung mengambil langkah-langkah keputusan

dan jalan pemecahannya yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak

merugikan salah satu pihak. Pada tahap paling akhir dari pengawasan VE

adalah membuat evaluasi proses kontrol dari apa yang telah dipilih dan

disepakati.

E. Kedudukan Value Engineering Dalam Organisasi Proyek

Sebagai badan konsultan tersendiri, konsultan Value Engineering dapat

diterapkan pada posisi dan waktu tertentu dalam organisasi proyek. Meskipun

demikian tidak menutup kemungkinan bahwa konsultan VE disertakan pada setiap

posisis pada organisasi proyek dan sepanjang waktu selama proses pembangunan

berlangsung.

Dalam hal ini posisi VE bertindak sebagai anggota dari konsultan Manajemen

Konstruksi (MK). Pada posisi ini konsultan VE bertugas membuat analis kegiatan

proyek dan bersama-sama dengan konsultan MK memberi saran kepada pemilik,

perencana dan kontraktor tentang aspek biaya proyek, baik pada tahap

perencanaan maupun tahap pelaksanaan proyek. Adapun keuntungan

menempatkan konsultan VE pada konsultan Manajemen Konstruksi adalah :


43

1. Terjadi komunikasi yang baik antara pemilik, konsultan VE dan konsultan

MK tentang manajemen dan kontrol biaya, administrasi proyek dan

perencanaan oleh konsultan perencana.

2. Team VE leluasa bertugas memonitor dari tahap pengembangan desain

hingga tahap akhir perencanaan, desain dan mengontrol pelaksanaan VE

pada tahap pelaksanaan pekerjaan proyek.

3. Administrasi pembiayaan proyek lebih sederhana (tanpa merubah alokasi

anggaran yang sudah ada).

Sedangkan kerugiannya adalah :

Tidak dapat dilakukan kontrol langsung terhadap konsultan VE oleh pemilik,

harus melalui konsultan Manajemen Konstruksi lebih dahulu.

Dalam proses pelaksanaan penelitian pada penulisan tugas akhir ini yang telah

banyak dijelaskan diatas, maka akan dipaparkan secara garis besar siklus

perekayasaan struktur (gambar 3.1) dan urutan kerja pada masing masing item

yang akan dikaji/penelitiannya (gambar 3.2)


44

MULAI

Konsep Reduksi Biaya

Work Breakdown
Struktur

Elemen Struktur

Struktur Pondasi Struktur Atas Struktur Atap

Perbandingan
biaya
Alternatif Terbaik

Rekomendasi
Terbaik

SELESAI

GAMBAR 3.1 Siklus Perekayasaan Struktur

Sumber : diktat ajar Perkuliahan Unversitas Negeri Semarang


45

Start

Gambar 3.2 Permasalahan


Flow Chart Penelitian Studi Pustaka
Sumber : • Peraturan
diktat ajar Perkuliahan • Literature
Unversitas Negeri Semarang
Tujuan Penelitian • Internet

Hipotesa

Pengumpulan data

Data Primer Data Sekunder


• Gambar • Daftar analisa
• RAB pekerjaan (BOW,
• RKS SNI)
• Data bahan / material
• dll

Tidak
Kecukupan data
Ya

Analisa data

Kesimpulan dan saran

BAB IV
Stop
46

BAB IV

APLIKASI PERHITUNGAN DAN ANALISA PROYEK DENGAN VE

A. Latar Belakang Proyek

Dewasa ini, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

telah banyak berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, yaitu semakin

bertambahnya tingkat kebutuhan akan membaca, belajar, dan informasi bagi

pelajar, mahasiswa maupun masyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, maka diperlukan sarana dan prasarana yang

mendukung seperti pembangunan gedung kantor Perpustakaan untuk Propinsi

Jawa Tengah. Banyak fungsi atau manfaat yang bisa didapatkan dengan adanya

pembangunan gedung ini diantaranya selain dapat dimanfaatkan sebagai kantor

Perpustakaan juga sebagai sarana untuk mendapatkan informasi dan ilmu

pengetahuan.

Sehingga dengan dibangunnya gedung ini menambah satu predikat baik

khususnya dalam bidang pendidikan, keilmuan dan teknologi untuk masyarakat

Jawa Tengah.

Dengan adanya Gedung kantor Perpustakaan tersebut maka diharapkan

masyarakat dapat memanfaatkan seoptimal mungkin sebagai tempat untuk

mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan secara luas dan mudah.

46
47

B. Data Proyek

1. Situasi Dan Lokasi Proyek

Proyek pembangunan Gedung Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah ini,

secara geografis terletak di Jl. Sriwijaya 29.A Semarang.

Adapun batas – batas bangunan sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Jl. Sriwijaya

b. Sebelah Timur : Kompleks Gedung Wanita

c. Sebelah Selatan : Gedung Kesenian

d. Sebelah Barat : Gedung Perpustakaan lama

Sumber : penulis

Gambar 4.1 Lokasi Proyek


48

2. Data Teknik Proyek

Adapun data teknik Proyek Pembangunan Gedung Perpustakaan Jawa

Tengah adalah :

a. Jenis Pondasi : Tiang Pancang ∆ 32x32x32 K 350

b. Struktur Bangunan : Beton Bertulang + Kuda-kuda Baja ringan

c. Atap Bangunan : Genting

d. Jumlah lantai : 4 Lantai

e. Tinggi Bangunan : + 21.00 m

f. Luas Tanah : 3200 m 2

g. Luas Bangunan : 1089 m 2

h. Beton tak bertulang menggunakan campuran 1pc : 3ps : 5split (In Situ)

j. Beton bertulang mutu K 275 (struktur) K175 (praktis) sesuai dengan

standard SNI 1991 (Ready Mix)

k. Besi beton dipakai dari mutu U24 untuk polos, dan U39 untuk ulir

dengan kemampuan tekuk 180 derajat

3. Data Administrasi

Besarnya dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan keseluruhan

pembangunan dan renovasi ini sebesar Rp3.578.660.000,00 (Tiga milyar

lima ratus tujuh puluh delapan juta enam ratus enam puluh ribu rupiah).

Yang sepenuhnya berasal dari dana APBD TA 2005.


49

4. Struktur Organisasi Proyek

Organisasi adalah sekumpulan orang atau badan hukum dengan

pembagian kerja yang jelas, saling bekerja sama untuk mencapai tujuan

yang telah ditentukan. Dalam organisasi, masing-masing personil

mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri(Handoko, 2005).

Pelaksanaan kegiatan memerlukan suatu koordinasi yang baik dan

adanya saling pengertian antara unsur satu dengan yang lain, sehingga dapat

memperlancar pekerjaan (Handoko, 2005).. Adapun hal-hal yang dapat

memperlancar pekerjaan antara lain :

a. Saling menjaga hubungan baik antar sesama anggota

b. Masing-masing pihak bertanggung jawab atas pekerjaannya

Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan proyek pembangunan

Gedung Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah adalah :

a. Pemilik proyek (Owner)

b. Konsultan perencana

c. Konsultan pengawas

Dalam pelaksanaan proyek, ketiga unsur tersebut harus menjalin

kerjasama yang baik sesuai dengan proposal kerja dan tanggung jawabnya

masing-masing, selain itu masing-masing pihak harus menciptakan suasana

kerja yang serasi dan harmonis antara pihak yang satu dengan yang lainnya

sehingga didapatkan hasil seperti yang diharapkan.


50

Ketiga unsur tersebut bekerja sesuai dengan peraturan dan tata tertib

yang berlaku dan sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disepakati

bersama oleh keempat unsur tersebut di atas.

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Proyek


Pembangunan Gedung Kantor PERPUSDA

C. Study Value Engineering

Study Value Engineering dimaksudkan untuk mencari dan menentukan item-

item pekerjaan proyek yang sekiranya cukup signifikan untuk dianalisa dengan

metode Value Engineering. Akan tetapi karena keterbatasan data dan informasi

yang diperoleh, maka studi Value Engineering dilakukan hanya pada 2 (dua) item

berbobot potensial (nilai anggaran) yang terdiri dari :


51

1. Studi VE pada item pekerjaan pondasi.

2. Studi VE pada item pekerjaan struktur atas yaitu balok.

Sedangkan aplikasi Value Engineering dilakukan meliputi beberapa fase

diantaranya :

Fase Informasi
- Berisi Informasi
umum
Pemunculan Fase Spekulatif - Kriteria Design
alternatif - Analisa fungsi

Fase Analisa
- Pembobotan
Kriteria
- Penilaian
perbandingan Fase Rekomendasi - Rencana awal
- Untung rugi - Usulan
- Dasar
pertimbangan
Final

Gambar 4.3. Fase Study Value Engineering


Sumber : diktat ajar perkuliahan Unversitas Negeri Semarang

Adapun beberapa alasan mengapa dilakukan perekayasaan VE pada item

tersebut adalah :

1) Perekayasaan dilakukan pada item yang mempunyai nilai atau bobot

pekerjaan yang cukup besar dibandingkan dengan item yang lainnya.

2) Diasumsikan bahwa konsultan VE berada pada posisi sebagai tim dari

pihak MK ( sebagai koordinator) dan melakukan tugasnya pada awal


52

masa perencanaan dan bekerjasama dengan tim perencana sebelum

kontraktor melaksanakan pekerjaannya.

3) Analisa dilakukan terhadap perencanaan struktur dengan satu atau

beberapa alternatif pembanding untuk menentukan pilihan yang

terbaik.

1. Studi VE Pada Item Pekerjaan Struktur Pondasi

Dalam analisa perekayasaan VE pada proyek pembangunan gedung ini,

salah satu elemen yang mempunyai nilai yang potensial untuk dilakukan

rekayasa adalah elemen pekerjaan struktur bawah yaitu pondasi. Karena dalam

proyek ini elemen pondasi ini mempunyai nilai (bobot) yang cukup besar

yaitu 6 % dari biaya total keseluruhan proyek.

Dan pada proyek pembangunan gedung kantor Perpustakaan Daerah

Propinsi Jawa Tengah ini memiliki elemen struktur pondasi yang

menggunakan mini pile dengan ukuran ∆ 32 x 32 x 32 dengan mutu beton K

350 (f’c 28).

Sehingga dengan terbatasnya referensi, dalam penulisan tugas akhir ini

dihadirkan beberapa alternatif pemakaian pondasi tiang pancang dengan mutu

yang sama akan tetapi dengan dimensi tiang yang bervariasi yaitu tiang

silinder dengan diameter 300, diameter 350, dan tiang persegi dimensi 20 x

20, yang diambil dari hasil pendataan observasi dan survei langsung

dilapangan.

2. Studi VE Pada Item Pekerjaan Struktur Atas


53

Pada proyek pembangunan gedung kantor Perpustakaan Daerah Propinsi

Jawa Tengah item pekerjaan struktur atas adalah satu bagian pekerjaan yang

mempunyai bobot pekerjaan yang tertinggi yaitu sekitar 20 % dari biaya total

proyek, sehingga sangat potensial untuk dilakukan analisa Value Engineering.

Pekerjaan struktur atas ini meliputi : kolom, pelat lantai, dan balok.

Akan tetapi dalam tugas akhir ini penulis hanya menyajikan struktur balok

sebagai bagian segmen yang akan dilakukan perekayasaan nilai berdasarkan

comparation/perbandingan nilai antara existing dan alternatif design yang

dihadirkan.

Pada perencanaan awal, semua elemen ini menggunakan beton

konvensional dengan mutu K 275 (f’c 23). Untuk itu dalam analisa VE pada

elemen struktur atas ini, akan dihadirkan alternatif perekayasaan dengan cara

mendesign kembali beton konvensional yang dipakai yaitu menggunakan

beton dengan mutu K 225 (f’c 18), K250 (f’c 21), dan mutu K 300 (f’c 25).

Alasan penggunaan beton masing-masing mutu ini yaitu karena kesemuanya

mutu beton diatas lazim digunakan di pembangunan gedung bertingkat atau

berdasarkan survey dilapangan dan masing-masing mempunyai kualitas yang

hampir sama ketika dipakai dalam proyek.

Perhitungan kembali atau analisa beton dengan masing-masing mutu ini

dibantu dengan menggunakan program komputer SAP 2000 versi 8.08 dengan

pendekatan asumsi dan tahapan analisa yang akan dijabarkan dalam penulisan

tugas akhir ini.


54

D. Analisa Value Engineering Untuk Pekerjaan Struktur Pondasi

Dalam proyek pembangunan gedung kantor Perpustakaan Daerah Propinsi

Jawa Tengah, pada item pekerjaan struktur bawah termasuk diantaranya adalah

struktur pondasi, memiliki alokasi biaya yang cukup besar dari pembiayaan total

sehingga sangat potensial untuk dilaksanakan perekayasaan Value Engineering.

Hal atau permasalahan yang menjadikan mengapa struktur pondasi sangat

potensial untuk dilakukan perekayasaan VE yaitu :

1) Dalam pelaksanaan proyek pembangunan gedung ini, untuk biaya

pekerjaan pondasi ini membutukan alokasi biaya yang cukup besar yaitu 6

% dari biaya keseluruhan.

2) Penggunaan tiang pancang dengan tiap kolom utama memiliki 9 tiang

segitiga dimensi 32 x 32 x 32. Hal ini dirasakan penulis kurang optimal

sehingga diperlukan analisa dengan menggunakan jenis pondasi lain

dengan dihitung berdasarkan daya dukung yang sesuai.

3) Masing-masing titik kolom utama membutuhkan 9 titik tiang pancang

dengan kapasitas total beban yang relatif sedang.

4) Digunakan beberapa alternatif pilihan dengan mengganti dimensi yang

telah ada, akan tetapi tetap mengandalkan mutu, kekuatan, daya dukung,

kemudahan pelaksanaan dan yang terpenting adalah masalah biaya

penghematannya.

5) Untuk pekerjaan pondasi tidak dipengaruhi oleh bentuk arsitektur karena

berada didalam tanah, akan tetapi dicari nilai optimalisasi dengan


55

mengasumsikan penggunaan jenis tiang dengan masing-masing dimensi

yang berbeda.

1. TAHAP INFORMASI

Dalam item pekerjaan pondasi tahapan ini dihadirkan berbagai macam

informasi dan data-data dalam pembangunan proyek ini yang disebut sebagai

Informasi Teknis Proyek

Tabel 4.1. Data Informasi Teknis Proyek

URAIAN DATA TEKNIS PROYEK

Kriteria Design Perencanaan pondasi menggunakan pondasi tiang


dengan daya dukung terhadap beban struktur atas
yang besar.

Pondasi di-design dengan pondasi jenis end bearing


pile karena mencapai tanah keras

Kondisi tanah Tanah proyek termasuk dalam klasifikasi tanah


dilapangan sedang yaitu : tanah lempung dengan kedalaman
tanah keras sepanjang 10 meter dari permukaan
tanah(lampiran A-2).

Kondisi sosial Keadaan pemukiman dan gedung sekitar sangat


lapangan dekat, hanya berjarak beberapa meter saja.

Unsur-unsur Design Untuk struktur gedung utama direnanakan 10 titik


pancang dengan masing-masing titik berjumlah 9
tiang ditambah 3 titik untuk gedung tambahan yang
berjumlah 4 tiang, jadi total pemancangan adalah 102
buah (dalam denah lampiran A-37)

Sumber : Rencana Kerja Dan Syarat


56

Tabel 4.2. Data Informasi Pekerjaan Pondasi

Proyek Pembangunan TAHAP INFORMASI


Gedung Perpusda
No. Sumber Informasi Data Yang Diterima
1. Buku-buku tentang Landasan teori mengenai penerapan VE
VE
Prosedur penerapan VE
2. Buku-buku analisa Penghitungan RAB untuk masing-masing
RAB mutu beton
3. PT.Wijaya Karya Data spesifikasi teknis tiang pancang pra
tekan
Daftar harga beberapa jenis tiang pancang
4. PT.Paton Buana Data spesifikasi teknis tiang pancang pra
Semesta tekan
Daftar harga beberapa jenis tiang pancang
Sumber : survey

b.) Analisa Fungsi Pekerjaan Pondasi

Tabel 4.3 Analisa fungsi Pekerjaan Pondasi

Proyek pembangunan gedung ANALISA FUNGSI


Perpusda
No Cost Worth Ket
Uraian Verb Noun Kind
. x 1000 x 1000
1. Pond.Pancang Mendukung Beban P - - VE
2. Lantai kerja Meneruskan Kegiatan S - - Tidak
3. Pas.Bt.Ksng Meneruskan Beban S - - Tidak
4. Pilecap Meneruskan Beban P - - VE
TOTAL - -

 Keterangan : P adalah unsur item pekerjaan yang dianggap primer (utama)

S adalah unsur item pekerjaan yang dianggap sekunder (unsur

pendukung unsur primer )


57

Verb dan Noun adalah fungsi penjelas untuk masing-masing item

pekerjaan (aplikasi metode fast)

 Angka-angka dalam kolom Cost dan Worth untuk item yang tidak di VE didapat dari

rencana anggaran biaya dari perencanaan awal

 Pada pekerjaan pondasi pancang dan pile cap akan ditampilkan dalam tahap analisa

karena item ini adalah item yang akan dilakukan VE

 Analisa fungsi diatas hanya menerangkan item pekerjaan yang akan dilakukan analisa

VE saja dan definisi fungsi dari kata kerja dan kata benda terukur. Nilai manfaat

(worth) belum bisa ditanpilkan biayanya, karena dilakukan pada tahap spekulasi.

 Analisa secara lengkap akan ditampilkan dalam tahap Analisa.

2. TAHAP SPEKULASI

Pada tahapan spekulatif dalam perekayasaan VE berisi pemunculan

sejumlah ide alternatif dari semua segmen yang dilihat dengan berbagai macam

keunggulan, sehingga didapatkan suatu hasil yang lebih optimal.

Selain Itu ide alternatif ini juga dihadirkan sebagai pembanding dari

perencanaan awal, baru setelah itu dilakukan penganalisaan terutama dari segi

biaya dan ide-ide yang kurang mendukung atau memberikan hasil yang kurang

optimal dari fungsi item yag diinginkan akan disisihkan, sedangkan ide yang

memungkinkan untuk dilakukan penghematan dapat dianalisa lebih lanjut.

Dalam ide pemunculan alternatif ini penulis menoba menghadirkan beberapa

alternatif pengganti dari elemen struktur bawah yaitu pondasi yang didalam

proyek ini mengunakan jenis pondasi pancang (minipile) dengan dimensi ∆


58

32x32x32 dengan beberapa jenis pondasi lain dengan dimensi atau ukuran yang

berbeda yaitu pondasi tiang pancang silinder dengan diameter 300 mm, tiang

pancang silinder dengan diameter 350 mm dan tiang pancang minipile persegi

dengan dimensi 20 x 20 cm. Sehingga dengan adanya pemunculan beberapa ide

ini diharapkan diperoleh penghematan harga yang cukup signifikan.

a. Alternatif Design

Tabel 4.4 Keuntungan Dan Kerugian Penggunaan Design Alternatif

ALTERNATIF DESIGN
Proyek Perpustakaan Daerah Item pekerjaan struktur
Propinsi Jateng
Fungsi : Memperkuat struktur
No. Usulan Keuntungan Kelemahan
1. Penggunaan tiang pre- Tidak Terpengaruh Memerlukan ruang
cast silinder dengan dengan kondisi cuaca kerja yang besar
dimensi 300 mm dan lingkungan
proyek Pada saat masa
konstruksi
Mempunyai Mutu pemancangan
Terjamin Mengganggu
bangunan sekitar
Tak perlu galian

Karena dimensi tak


bersudut maka lebih
mempermudah proses
pemancangan
2 Penggunaan tiang silinder Tidak Terpengaruh Memerlukan ruang
dengan dimensi 350 mm dengan kondisi cuaca kerja yang yang besar
dan lingkungan
proyek Mengganggu
bangunan sekitar pada
Tak perlu galian saat pemancangan

Mutu terjamin Proses pemancangan


akan lebih sulit karena
Menghasilkan daya dimensi lebih besar
dukung yang lebih dari alternatif 1
59

besar dari alternatif 1


Harga relatif lebih
mahal

No. Usulan Keuntungan Kerugian


3. Penggunaan tiang persegi Tidak Terpengaruh Memerlukan ruang
dengan dimensi 20 x 20 dengan kondisi cuaca kerja yang besar
dan lingkungan
proyek Menghasilkan daya
dukung yang relatif
Tak perlu galian kecil

Mutu sama dengan Mengganggu


alternatif 1 & 2 bangunan sekitar pada
saat proses
Harga relatif lebih pemancangan
murah dari elternatif
ke-1 dan ke-2

b. Penganalisaan Value Engineering

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan software SAP 2000 pada

item pekerjaan pondasi, didapat hasil rekapitulasi analisa pondasi(tabel 4.5)

untuk berbagi macam dimensi tiang pancang (detail perhitungan dapat dilihat

dalam lampiran A-28) adalah sebagai berikut :


60

Tabel 4.5 Rekapitulasi Perhitungan Dimensi Dan Penulangan Pile Cap

Tebal Dimensi Penulangan


Pondasi
No. (th) Pile cap Atas Bawah
1. Tiang pancang ∆ 32x32x32 100 250x250 15D25 7D25

2. Tiang pancang silinder Ø 300 100 240x150 13D25 6D25

2. Tiang pancang silinder Ø 350 100 220x220 10D25 5D25

2. Tiang pancang persegi 20x20 100 230x160 12D25 6D25

1 Penggunaan Tiang Pancang Segitiga Dengan Dimensi 32 x 32 x 32

(Existing)

Pada perencanaan existing jenis pondasi yang digunakan yaitu jenis pondasi

tiang pancang dengan dimensi 32 x 32 x 32, dengan spesifik tiang berdasarkan

hasil survey (pendataan lapangan) yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang segitiga 32 x 32 x 32 sesuai dengan data

adalah 29.3 Ton (dalam lampiran A-36).

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga tiang pancang adalah Rp. 92.000,00/m1.

d.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1

e.) Harga mob demobilitras alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00


61

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

1) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang : 90 tiang pancang (lampiran A-9)

Panjang Tiang pancang : 10 m

Harga tiang pancang 32 x 32 x 32 yaitu : Rp.92.000,00

Jumlah biaya bahan adalah : 90 x 10 x Rp92.000,00 = Rp. 82.800.000,00

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1 adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 90 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 90 x 10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 11.700.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp. 30.000.00 jumlah titik pengelasan

adalah 90 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 90 x Rp. 30.000,00

= Rp. 2.700.000,00

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)


62

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi existing adalah Rp.

98.700.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007(lampiran B-4)

(a) Campuran beton

1 M3 cor
beton
Portland
semen 388,000 Kg Rp 675,00 Rp 417.900,00
Pasir beton 0,650 m3 Rp 120.000,00 Rp 78.000,00
Koral beton 0,650 m3 Rp 120.000,00 Rp 78.000,00

Pekerja 6,000 Hari Rp 25.000,00 Rp 150.000,00


Tukang 1,000 Hari Rp 35.000,00 Rp 35.000,00
Kepala
Tukang 0,100 Hari Rp 40.500,00 Rp 4.050,00
Mandor 0,300 Hari Rp 35.000,00 Rp 10.500,00
Jumlah Rp 602.400,00

(b) Pembesian

1 KG besi beton
Besi beton
polos/ulir 1,05 Kg Rp 6.000,00 Rp 6.300,00
Kawat bendrat 0,015 Kg Rp 7.500,00 Rp 112,50
Pekerja 0,007 Hari Rp 22.500,00 Rp 157,50
Tukang besi 0,007 Hari Rp 35.000,00 Rp 245,00
Kepala Tukang
besi 0,0007 Hari Rp 40.000,00 Rp 28,00
Mandor 0,0003 Hari Rp 35.000,00 Rp 10,50
Jumlah Rp 6.853,50
63

(c) Begesting

1 M2 Bekisting
dengan papan
Kayu terentang 0,040 M3 Rp 500.000,00 Rp 20.000,00
Minyak
bakesting 0,200 ltr Rp 18.000,00 Rp 3.600,00
Paku 0,400 Kg Rp 7.500,00 Rp 3.000,00
Balok kayu 0,015 M3 Rp 750.000,00 Rp 11.250,00
Plywood t 9 mm 0,350 lbr Rp 136.000,00 Rp 47.600,00
Dolken kayu 2,000 12 Rp 12.000,00 Rp 24.000,00
Pekerja 0,300 Hari Rp 22.500,00 Rp 6.750,00
Tukang 0,330 Hari Rp 35.000,00 Rp 11.550,00
Kepala Tukang 0,033 Hari Rp 40.000,00 Rp 4.125,00
Mandor 0,006 Hari Rp 35.000,00 Rp 210,00
Jumlah Rp 129.280,00

Maka biaya untuk 1 m3 beton bertulang pada Pile Cap adalah

No. Uraian Koeff. Sat. Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton
cor beton 1,000 M3 Rp 602.400,00 Rp 602.400,00
besi 170,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.165.095,00
bekesting 1,600 M2 Rp 44.244,48 Rp 70.791,17
Jumlah Rp 1.838.286,17

Keterangan : Perhitungan koefisen Pembesian & Bekesting(lampiran A-28)

Sehingga Biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah :

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


Beton pile cap M3 62.5 Rp1.838.201.2 Rp 114.887.573,00
Jumlah Pekerjaan Pile Cap Rp 114.887.573,00

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi dan Pile Cap adalah Rp.114.887.573,00

+ Rp.98.700.000,00 = Rp. 213.587.573,00


64

2 Penggunaan Tiang Pancang Silinder Dengan Diameter 300

Pada perencanaan alternatif jenis pondasi yang digunakan yaitu jenis pondasi

tiang pancang dengan dimensi 300 mm), dengan spesifikasi tiang berdasarkan

hasil survey yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang silinder sesuai dengan data adalah rata-

rata 65-72 Ton (lampiran A-34).

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga tiang pancang adalah Rp. 170.000,00/m1(lampiran A-33).

d.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1(lampiran A-32)

e.) Harga mob demobilitras alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

2) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang : 60 tiang pancang.(lampiran A-14)

Panjang Tiang pancang : 10 m

Harga tiang pancang : Rp. 170.000,00/m1.

Jumlah biaya bahan : 60 x 10 x Rp170.000,00

: Rp 102.000.000,00
65

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1 adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 60 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 60 x10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 11.700.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp.30.000.00 jumlah titik pengelasan

adalah 60 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 60 x Rp. 30.000,00

= Rp. 1.800.000,00

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi tiang diameter 300

adalah Rp. 117.000.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007


66

Maka biaya untuk 1 M3 beton bertulang pada Pile Cap adalah

No. Uraian Koeff Sat, Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton
cor beton 1,000 M3 Rp 602.400,00 Rp 602.400,00
besi beton 146,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.000.611,00
bekesting 3,700 M2 Rp 44.244,48 Rp 163.704,58
JUMLAH Rp 1.766.715,58

Sehingga Biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


Beton pile cap m3 36 Rp1.766.715,19 Rp 63.601.760,70
JUMLAH PEKERJAAN PILE CAP Rp 63.601.760,70

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi dan Pile Cap adalah Rp. 117.000.000,00

+ Rp 63.601.760,70 = Rp. 180.601.760,70

3 Penggunaan Tiang Pancang Silinder Dengan Diameter 350

Untuk alternatif digunakan yaitu jenis pondasi tiang pancang dengan dimensi

350, dengan spesifik tiang berdasarkan hasil survey (pendataan dilapangan) yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang silinder sesuai dengan data adalah rata-

rata 85-93 Ton sesuai dengan kelas masing-masing tiang (lampiran A-

34).

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga tiang pancang adalah Rp. 220.000,00/m1(lampiran A-33).

d.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1(lampiran A-32).


67

e.) Harga mob demobilitas alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

1) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang : 5 tiang pancang/titik(lampiran A-18)

Jumlah titik pondasi : 10 titik

Panjang Tiang pancang : 10 m

Harga tiang pancang : Rp.220.000,00/m1

Jumlah biaya bahan adalah : 50x10xRp220.000,00 = Rp 110.000.000,00

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1 adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 50 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 50 x 10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 11.700.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp. 30.000.00, jumlah titik pengelasan

adalah 50 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 50 x Rp. 30.000,00

= Rp. 1.500.000,00
68

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi tiang diameter 350

adalah Rp. 124.700.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007.

Maka biaya untuk 1 M3 beton bertulang pada Pile Cap adalah ;

No. Uraian Koeff Sat, Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton
Cor beton 1,000 M3 Rp 602.400,00 Rp 602.400,00
besi 116,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 795.006,00
bekesting 1,800 M2 Rp 44.244,48 Rp 79.640,06
JUMLAH Rp 1.477.046,06

Sehingga Biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah ;

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya

Beton pile cap m3 48.4 Rp1.477.045,20 Rp71.488.987,68

JUMLAH PEKERJAAN BETON PILE CAP Rp71.488.987,68

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi dan pile cap adalah Rp. 124.700.000 +

Rp. Rp71.488.987,68 = Rp. 196.188.987,70


69

4 Penggunaan Tiang Pancang persegi Dengan Dimensi 20 x 20

Dalam alternatif ke-3 digunakan yaitu jenis pondasi tiang pancang dengan

dimensi 20 x 20, dengan spesifik tiang berdasarkan hasil survey yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang silinder sesuai dengan data adalah rata-

rata 26.8 Ton (lampiran A-36) sesuai dengan kelas masing-masing

tiang.

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1

d.) Harga tiang pancang adalah Rp. 82.000,00/m1(lampiran A-32).

e.) Harga mob demobilitras alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

1) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang : 10 tiang pancang/titik (lampiran A-23 )

Jumlah titik : 10 titik

Panjang Tiang pancang : 10 m

Harga tiang pancang 20x20 yaitu : Rp.82.000,00/m1

Jumlah biaya bahan adalah : 100 x 10 x Rp82.000,00 = Rp

82.000.000,00
70

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1 adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 100 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 100 x 10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 13.000.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp. 30.000.00 jumlah titik pengelasan

adalah 100 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 100 x Rp. 30.000,00

= Rp. 3.000.000,00

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi tiang diameter 300

adalah Rp. 99.500.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007


71

Maka biaya untuk 1 M3 beton bertulang pada Pile Cap adalah ;

No. Uraian Koeff Sat, Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton
cor beton 1,000 M3 Rp 602.400,00 Rp 602.400,00
besi beton 137,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 938.929,50
bekesting 2,100 M2 Rp 44.244,48 Rp 92.913,41
Jumlah Rp 1.634.242,91

Sehingga biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah ;

No. Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya

Beton pile cap M3 36.8 Rp1.634.242,90 Rp 60.140.138,72


JUMLAH PEKERJAAN PILE CAP Rp 60.140.138,72

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi adalah Rp. 99.500.000,00 + Rp. Rp Rp

60.140.139.01= Rp. 159.640.139

Dari analisa perhitungan biaya diatas maka dapat dibuat tabel perbandingan

harga dalam Tabel 4.6 dan Gambar 4.4. untuk item pondasi setelah dilakukan

VE

Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Analisa dan perhitungan

Tebal n tiang Dimensi PENULANGAN


No. Pondasi
(th) (jmlh) Pile Cap Atas Bawah
1. Tiang pancang ∆ 32x32x32 100 9 250x250 15D25 7D25

2. Tiang pancang silinder Ø 30 100 6 240x150 13D25 6D25

2. Tiang pancang silinder Ø 35 100 5 220x220 10D25 5D25

2. Tiang pancang persegi 20x20 100 10 230x160 12D25 6D25


72

Tabel 4.7 Rekapitulasi Harga Pekerjaan

Selisih Ket
Harga Total terhadap
No. Jenis Pondasi
(Rp) existing setelah
di VE (Rp)
1. Tiang Pancang
pratekan segitiga
dengan dimensi 213.587.573,00 - Existing
32 x 32 x 32
2. Tiang Pancang Alternatif
pratekan silinder 180.601.760,70 32.985.812,23 1
dengan Ø 300
3. Tiang Pancang
Alternatif
pratekan silinder 196.188.987,70 17.398.585,30
2
dengan Ø 350
4. Tiang Pancang
pratekan persegi Alternatif
159.640.139,00 53.947.434,00
dengan dimensi 3
20 x 20

Diagram Perbandingan Biaya


Existing Vs Alternatif

Harga 250,00 213,59


(dalam 200,00 180,60 196,19
159,64
juta 150,00
rupiah) 100,00
50,00
0,00
∆32x3x32 Ø300 Ø350 20x20
(existing)
Jenis Pondasi

Gambar 4.4. Perbandingan Harga Pekerjaan


73

Gambar diatas menunjukan grafik perbandingan antara biaya existing dengan

biaya yang timbul akibat adanya alternatif, sedangkan nilai perbandingan ini

disajikan hanya untuk pekerjaan yang dilakukan analisa VE saja yaitu pekerjaan

pondasi pancang dan pile cap.

3. TAHAP ANALISA

Pada tahapan analisa dalam perekayasaan VE berisi analisa terhadap

semua alternatif yang muncul dengan menggunakan berbagai macam metode

sehingga diperoleh suatu angka prioritas terhadap alternatif yang akan dipakai

dalam proses perekayasaan. Artinya adalah untuk mendapatkan alternatif yang

terbaik dari beberpa alternatif yang ditinjau disamping masalah pembiayaan.

Analisa yang akan dilakukan meliputi :

a. Analisa Fungsi

b. Analisa Rangking

Analisa Fungsi adalah satu bagian dari tahapan analisa yang berfungsi

untuk menganalisa semua fungsi-fungsi dari item-item pekerjaan dalam satu

segmen pekerjaan yang akan dianalisa VE, dalam tahapan analisa fungsi ini

dijelaskan fungsi dari item pekerjaan pondasi yang disajikan dalam kata kerja

(verb) atau kata benda (nouns), kind yang menunjukan bahwa item tersebut

adalah item primer ataukah item itu hanya item pendukung saja atau sekunder,

sedangkan cost dan worth menunjukkan nilai biaya item baik item yang

dilakukan VE ataupun tidak.


74

Tabel 4.8. Analisa Fungsi

Proyek pembangunan gedung ANALISA FUNGSI


Perpusda
Cost(Rp) Worth(Rp) Ket
No. Uraian Verb Noun Kind
x1000 x1000
1. Pond.Pancang Mendukung Beban P 98700 99500 VE
2. Lantai kerja Meneruskan Kegiatan S 1149 1149 Tidak
3. Pas.Bt.Ksng Meneruskan Beban S 3755 3755 Tidak
4. Pilecap Meneruskan Beban P 114887 60140 VE
TOTAL 214736 160789
214736
Perhitungan cost/worth = = 1.335
160789

Keterangan :

P adalah unsur item pekerjaan yang dianggap primer (utama)

S adalah unsur item pekerjaan yang dianggap sekunder (unsur pendukung unsur

primer )

Dari tabel analisa fungsi diatas untuk fungsi pekerjaan pondasi seperti tampak

diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1) Untuk pekerjaan pemancangan pondasi biaya awal perencanaan adalah

Rp. 214.736.573,00 untuk semua segmen dalam item pondasi dapat

dilakukan penghematan dengan tanpa mengurangi mutu pondasi dengan

dihadirkannya alternatif yang lain.

2) Penghematan terbesar yang bisa diperoleh dengan alternatif pengganti

tiang persegi 20x20 adalah Rp. 53.947.434,00


75

3) Dan untuk sub item yang lainnya(tidak trcetak tebal), tidak dilakukan

perekayasaan VE karena dilihat dari nilainya tidak terlalu signifikan.

4) Maka dengan dihadirkannya alternatif tiang pancang dimensi 20x20

tersebut biaya proyek dapat tersaving sebesar Rp. 53.947.434,00 dengan

rasio biaya/nilai untuk item ini adalah 1.335, dengan angka ini berarti

terjadi penghematan pada pengusulan alternatif.

b. Analisa Rangking dengan metode Zero-One dan Indeks

Setelah dihadirkan beberapa alternatif diatas maka akan dianalisa

kelayakan penggunaan alternatif itu dengan menghadirkan beberapa kriteria

yang berasal dari kualifikasi penulis dan nantinya menjadi dasar pertimbangan

yang lain terkait penggunaan alternatif tersebut

Tabel 4.9. Penilaian Bobot Sementara

No Fungsi Angka rangking bobot Ket

1 Penghematan Biaya (A) 4 40 Prioritas tertinggi

2 Kualitas (B) 3 30 Prioritas tinggi

3 Waktu (C) 2 20 Prioritas sedang

4 Pelaksanaan (D) 1 10 Prioritas rendah

Jumlah angka rangking 10 100

Ket : perhitungan bobot menggunakan rumus


angkarangkingyang dim iliki
= x 100
jumlahangkarangking
76

Kemudian setelah diketahui bobot, maka dilakukan penganalisaan untuk

semua kriteria yang berfungsi dengan dimunculkan preferensi dari penyaji sebagai

acuan kepentingan dan kekurangpentingan masing-masing alternatif.

Preferensi alternatif untuk kriteria Penghematan Biaya (A) adalah sebagai berikut

Alternatif Preferensi Keterangan


20 x 20 (I) I > II : I > III Alt I lebih baik dari Alt II & III
Ø300 (II) II < I : II > III Alt II lebih baik dari III
Ø 350 (III) III < I : III < II Alt I Kurang baik dari Alt I & II

Tabel 4.10 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi A (Penghematan biaya)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 1 1 2 2/3
II 0 X 1 1 1/3
III 0 0 X 0 0
JUMLAH 3 1
Preferensi alternatif untuk kriteria Kualitas (B) adalah sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi Keterangan


20 x 20 (I) I = II : I = III Alt I sama dengan Alt II & III
Ø300 (II) II = I : II = III Alt II sama dengan Alt I & III
Ø 350 (III) III = I : III = II Alt III sama dengan Alt I & II

Tabel 4.11 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi B (Kualitas)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 1 1 2 2/6
II 1 X 1 2 2/6
III 1 1 X 2 2/6
JUMLAH 6 1
77

Preferensi alternatif untuk kriteria Waktu (C) adalah sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi Keterangan


20 x 20 (I) I < II : I < III Alt I kurang baik dari Alt II & III
Ø300 (II) II > I : II > III Alt II lebih baik dari Alt II & III
Ø 350 (III) III > I : III < II Alt I lebih baik dari Alt I & II

Tabel 4.12 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi C (Waktu)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 0 0 0 0
II 1 X 1 2 2/3
III 1 0 X 1 1/3
JUMLAH 3 1

Preferensi alternatif untuk kriteria Pelaksanaan (D) adalah sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi Keterangan


I I > II : I > III Alt I lebih baik dari Alt II & III
II II < I : II > III Alt II kurang baik dari Alt I
III III < I : III < II Alt III kurang baik dari Alt I & II

Tabel 4.13 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi D (Pelaksanaan)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 1 1 2 2/3
II 0 X 1 1 1/3
III 0 0 X 0 0
JUMLAH 3 1
78

Tabel 4.14. penganalisaan metode Zero-One

Kriteria
Alternatif A B C D
No. bobot 40 30 20 10 Total Ket
1 Alt I 2/3 2/6 0 2/3 indeks
20X20 26.67 10 0 6.67 43.34 Bobot
2 Alt II 1/3 2/6 2/3 1/3 indeks
Ø300 13.3 10 13.33 3.33 39.96 Bobot
3 Alt III 0 2/6 1/3 0 indeks
Ø350 0 10 6.67 0 16.67 Bobot

Pada tahap penganalisaan rangking digunakan perangkingan dengan

metode matrik evaluasi (lihat tabel 4.14). sehingga dari hasil analisa dapat

diketahui bahwa alternatif I yaitu penggunaan tiang pancang dengan dimensi

20x20 mempunyai keunggulan bobot total 43.34 dibandingkan dengan

alternatif yang lain yaitu penggunaan tiang pancang silinder dengan diameter

300 (II) mempunyai bobot 39.96 dan 350 (III) dengan bobot 16.67.

Nilai bobot tersebut didapatkan berdasarkan kriteria penghematan biaya,

kualitas yang baik, efektifitas waktu dan kemudahan pelaksanaan dengan

penggunaan tenaga yang lebih sedikit. Dengan analisa rangking ini, nilai yang

dihasilkan akan menjadi nilai kelayakan penggunaan alternatif yang

dikembangkan berdasarkan parameter dari penulis dalam sistem pekerjaan

tersebut. Dan nantinya akan dipaparkan lebih lanjut dalam fase rekomendasi.

4 Tahap Pengembangan

Dalam penulisan tugas akhir ini, penganalisaan Value Engineering tidak

dicamtumkan analisa untuk tahapan pengembangan sehingga tidak diperlukan


79

analisa life cycle cost untuk perhitungan biaya-biaya operasional dan

pemeliharaan atau biaya lain yang timbul pasca pembangunan proyek.

5 Tahap Rekomendasi

Tahap rekomendasi pada item pekerjaan pondasi, penulis merekomendsikan

satu alternatif penggunaan material khususnya untuk item pekerjaan pondasi

adalah sebagai berikut :

a.) Rencana Awal

Pada item pekerjaan pondasi existing digunakan jenis pondasi tiang

pancang (minipile) dengan dimensi ∆ 32x32x32 dengan jumlah kebutuhan

tiang pancang yaitu 90 buah tiang pancang. Sehingga kebutuhan biaya yang

dihasilkan adalah Rp. 213.587.573,00 (untuk pondasi pancang dan pile cap)

dari kebutuhan biaya keseluruhan pekerjaan pondasi senilai 214.736.573,00 .

b.) Usulan

Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan ulang struktur dengan dibantu

denagan penggunaan program sap 2000 versi 8.08, maka dengan beban

bangunan dan spesifikasi tanah yang sama, penulis merekomendasikan

penggunaan tiang pancang (minipile) dengan tiang persegi dimensi 20x20.

Alasannya selain memiliki mutu beton yang sama, tiang ini juga lebih efisien

dalam kaitannya pada masalah biaya karena kebutuhan tulangan dan volume

pada pile cap lebih sedikit.


80

c.) Dasar Pertimbangan

Dengan beberapa nilai pembobotan yang didasarkan atas kualifikasi

penulis (dalam analisa rangking) maka dipaparkan dasar pertimbangan lain

sebagai dasar pengambilan item terekomendasi diantaranya yaitu :

1) Penghematan masalah biaya.

2) Kualitas yang lebih tinggi.

3) Waktu pelaksanaan yang cepat.

4) Pada pelaksanaan digunakan tenaga yang relatif sedikit.

d.) Penghematan Biaya

Dengan menggunakan alternatif kedua yaitu digunakannya tiang persegi

dimensi 20x20 cm sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh penulis,

maka akan terjadi penghematan biaya sebesar Rp. 53.947.434,00.

E. Analisa Value Engineering Untuk Pekerjaan Struktur Atas

Dalam pembangunan suatu proyek terutama gedung, item pekerjaaan struktur

adalah item pekerjaan yang mempengaruhi sebagian besar aspek bangunan,

terutama aspek biaya. Karena pada sebagian besar proyek konstruksi, item

pekerjaan ini memiliki alokasi biaya yang cukup besar dari pembiayaan total dan

item pekerjaan yang ada, sehingga menjadi alasan untuk dilaksanakan

perekayasaan Value Engineering dengan menghadirkan suatu alternatif yang lebih

efektif untuk dipergunakan.


81

Alasan lain yang menyebabkan untuk dilakukan perekayasaan VE adalah

dari pekerjaan ini, banyak menyebabkan pembengkakan biaya pelaksanaan karena

kurang optimumnya perencanaan struktur. Pada penganalisaan struktur pada

proyek ini lebih difokuskan pada balok. Hal ini dikarenakan struktur balok dalam

proyek ini begitu komplek, variatif dan menghasilkan alokasi biaya pekerjaan

yang cukup besar.

1. TAHAP INFORMASI

Pada proses perekayasaan Value Engineering, tahapan ini adalah tahap

pertama yang dilakukan yaitu dengan mengidentifikasi item pekerjaan yang

akan ditinjau dengan cara mengumpulkan sebanyak mungkin data dan informasi

yang mendukung proses perekayasaan :

a.) Informasi Teknis Proyek

Tabel 4.15 Informasi Teknis Proyek

URAIAN DATA TEKNIS PROYEK

Kriteria Design Struktur Beton :

1 Mutu beton K 275 untuk beton struktur dan K


175 untuk beton paktis.

2 Beban yang diperhitungkan :

a) Beban hidup 400 kg/m2.

b) Beban Angin 40 kg/m2 (atap)

3. Menggunakan peraturan pembebanan


bangunan rumah dan gedung 1983
82

Unsur-Unsur Struktur beton menggunakan pelat, balok anak dan


Design portal ( balok dan kolom induk )

Ketinggian portal :

• Lantai 1 ± 0.00 m

• Lantai 2 ± 4.96 m

• Lantai 3 ± 8.60 m

• Lantai 4 ± 12.20 m

Sumber : Rencana Kerja Dan Syarat

b.) Informasi Pekerjaan Beton Struktur

Tabel 4.16 Informasi Teknis Proyek

Proyek Pembangunan TAHAP INFORMASI


Gedung Perpusda
No. Sumber Informasi Data Yang Diterima
1. Buku-buku tentang VE Landasan teori mengenai penerapan VE
Prosedur penerapan VE
2. Buku-buku analisa Penghitungan RAB untuk masing-masing mutu
RAB beton
83

c.) Analisa Fungsi Pekerjaan Struktur

Tabel 4.17 Analisa Fungsi Pekerjaan Balok struktur

Proyek pembangunan gedung ANALISA FUNGSI


Perpusda
No. Uraian Verb Noun Kind Cost (Rp) Worth (Rp) Ket
x 1000 x1000
1. Beton Menahan Tekan P - - VE
2. Tulangan Menahan Tarik P - - VE
3. Bekesting Memberi Bentuk P - - VE
Total - -

Keterangan :

P adalah unsur item pekerjaan yang dianggap primer (utama)

S adalah unsur item pekerjaan yang dianggap sekunder (unsur pendukung unsur

primer )

Verb dan Noun adalah fungsi penjelas untuk masing-masing item pekerjaan

(aplikasi metode fast)

 Analisa fungsi diatas hanya menerangkan item pekerjaan yang akan dilakukan analisa

VE saja dan definisi fungsi dari kata kerja dan kata benda terukur. Nilai manfaat

(worth) belum bisa ditanpilkan biayanya, karena dilakukan pada tahap spekulasi.

 Analisa secara lengkap akan ditampilkan dalam tahap Analisa.

2. TAHAP SPEKULASI

Pada tahapan spekulatif dalam perekayasaan VE berisi pemunculan sejumlah

ide alternatif dari semua segmen yang dilihat dengan berbagai macam

keunggulan, sehingga didapatkan suatu hasil yang lebih optimal, selain itu, ide
84

alternatif ini juga dihadirkan sebagai pembanding dari perencanaan awal, baru

setelah itu dilakukan penganalisaan terutama dari segi biaya dan ide-ide yang

kurang mendukung atau memberikan hasil yang kurang optimal dari fungsi item

yang diinginkan akan disisihkan, sedangkan ide yang memungkinkan untuk

dilakukan penghematan dapat dianalisa lebih lanjut.

Dalam ide pemunculan alternatif ini penulis mencoba menghadirkan

beberapa alternatif pengganti dari elemen struktur yaitu struktur balok dengan

membandingkan mutu beton perencananaan awal dengan beberapa mutu yang

lain, sehingga dengan adanya pemunculan beberapa ide ini diperoleh

penghematan harga yang cukup signifikan

A. Alternatif Design

Dalam pemaparan alternatif design dibawah ini dijelaskan beberapa

keuntungan ataupun kerugian penggunaan alternatif dan existing yang

kesemuanya berdasarkan kualifikasi penulis, yang nantinya menjadi dasar

pertimbangan lain pemakaian alternatif itu sendiri.

Tabel 4.18 Alternatif Design

ALTERNATIF DESIGN
Proyek Perpustakaan Daerah Item pekerjaan struktur
Propinsi Jateng
Fungsi : Memperkuat struktur
No. Usulan Keuntungan Kelemahan
1 Penggunaan mutu beton Pengerjaan campuran Terpengaruh dengan
tetap yaitu K 275 beton akan mudah kondisi cuaca dan
(existing) dan dimensi dan sederhana lingkungan proyek
struktur tetap
Pelaksanaan mudah Harga cukup mahal
85

Mutu terjamin

2 Menggunakan beton Pengerjaan campuran Terpengaruh dengan


kenvensional dengan beton akan lebih kondisi cuaca dan
mutu K 225, dengan mudah dari pada lingkungan proyek
dimensi balok tetap alternatif yang lain
Mutu lebih rendah
Harga relatif lebih dibandingkan
murah dengan alternatif-
alternatif yang lain

Rendahya mutu
tentu saja
mempengaruhi mutu
dari bangunan itu
sendiri terkait
masalah kekuatan
bangunan menahan
beban

3. Menggunakan beton Pengerjaan campuran Terpengaruh dengan


dengan mutu K 250, beton mudah kondisi cuaca dan
dengan dimensi balok lingkungan proyek
utama diperkecil Mutu terjamin
menjadi 30 x 70 dan
balok melintang 25 x 40 Harga relatif lebih
murah
4 Menggunakan beton Pengerjaan campuran Terpengaruh dengan
dengan mutu K 300, beton akan lebih sulit kondisi cuaca dan
dengan dimensi balok dari pada yang lingkungan proyek
utama diperkecil pertama
. menjadi 30 x 70 dan
balok melintang 25 x 40 Mutu lebih terjamin Lebih mahal
dari pada alternatif 2
dan 3

Mutu makin tinggi


menjadikan kualitas
bangunan lebih baik
daripada alternatif
sebelumnya
86

a. STRUKTUR BETON BERTULANG EXISTING MUTU K 275

Dalam perencanaan gedung Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah

menggunakan beton dengan mutu K 275 atau dengan f’c 23 mpa, untuk

menghitung estimasi biaya dan kebutuhan waktu setiap pekerjaan struktur beton

bertulang digunakan yang akan dijabarkan dalam uarian berikut ini :

1) Estimasi Anggaran Biaya (RAB)

Untuk menghitung harga satuan pekerjaan setiap 1M3 beton bertulang

disesuaikan berdasarkan estimasi biaya perencanaan dengan digunakan analisa

dengan SNI harga satuan tahun 2007, yaitu :

Pekerjaan beton bertulang campuran mutu K 275

a.) Campuran beton

Beton K 275
1,000
(ready mix) M3 Rp 425.000,00 Rp 425.000,00
Tenaga
Pekerja 6,000 Hari Rp 25.000,00 Rp 150.000,00
Tukang 1,000 Hari Rp 35.000,00 Rp 35.000,00
Kepala Tukang 0,100 Hari Rp 40.500,00 Rp 4.050,00
Mandor 0,300 Hari Rp 35.000,00 Rp 10.500,00
Jumlah Rp 624.550,00
87

b.) Pembesian

1 Kg besi beton
Besi beton
polos/ulir 1,050 Kg Rp 6.000,00 Rp 6.300,00
Kawat bendrat 0,015 Kg Rp 7.500,00 Rp 112,50
Pekerja 0,007 Hari Rp 22.500,00 Rp 157,50
Tukang besi 0,007 Hari Rp 35.000,00 Rp 245,00
Kepala Tukang
besi 0,001 Hari Rp 40.000,00 Rp 28,00
Mandor 0,000 Hari Rp 35.000,00 Rp 10,50
Jumlah Rp 6.853,50

c.) Bekesting

1 M2 Bekisting
dengan papan
Kayu terentang 0,040 M3 Rp 500.000,00 Rp 20.000,00
Minyak
bakesting 0,200 ltr Rp 18.000,00 Rp 3.600,00
Paku 0,400 Kg Rp 7.500,00 Rp 3.000,00
Balok kayu 0,015 M3 Rp 750.000,00 Rp 11.250,00
Plywood t 9 mm 0,350 lbr Rp 136.000,00 Rp 47.600,00
Dolken kayu 2,000 12 Rp 12.000,00 Rp 24.000,00
Pekerja 0,300 Hari Rp 22.500,00 Rp 6.750,00
Tukang 0,330 Hari Rp 35.000,00 Rp 11.550,00
Kepala Tukang 0,033 Hari Rp 40.000,00 Rp 4.125,00
Mandor 0,006 Hari Rp 35.000,00 Rp 210,00
Jumlah Rp 129.280,00

d.) Penghitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk balok

(1) Pekerjaan balok B2 ;

(a) Koefisien besi beton =265,000(lampiran B-10)

(b) Koefisien begesting =8,000(lampiran B-12)


88

RAB struktur balok utama (B2)

No. Uraian Koeff Sat. Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton K 275
Cor beton 1,000 M3 Rp 624.550,00 Rp 624.550,00
besi beton 265,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.816.177,50
bekesting 8,000 M2 Rp 44.244,48 Rp 353.955,84
JUMLAH Rp 2.794.683,34

Jadi jumlah biaya untuk pekerjaan struktur balok B2 yaitu:

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B2 Lt.2 M3 15,96 Rp2.794.683,34 Rp 44.603.146,11
2 Beton balok B2 Lt.3 M3 11,4 Rp2.794.683,34 Rp 31.859.390,08
3 Beton balok B2 Lt.4 M3 11,4 Rp2.794.683,34 Rp 31.859.390,08
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B2 Rp 108.321.926,26

(2) Pekerjaan balok B3 ;

(a) Koefisien besi beton = 160,000(lampiran B-11)

(b) Koefisien begesting =10,000(lampiran B-12)

RAB struktur balok B3

No. Uraian Koeff Sat. Harga Satuan Jumlah Harga


1 M3 beton K 275
Cor beton 1,000 M3 Rp 624.550,00 Rp 624.550,00
besi beton 160,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.219.923,00
bekesting 10,000 M2 Rp 44.244,48 Rp 442.444,80
JUMLAH Rp 2.286.917,80
89

Jadi jumlah biaya untuk pekerjaan struktur balok B3 yaitu:

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B3 Lt.2 M3 5,81 Rp2.286.917.80 Rp 13.292.709,71
2 Beton balok B3 Lt.3 M3 5,81 Rp2.286.917.80 Rp 13.292.709,71
3 Beton balok B3 Lt.4 M3 5,81 Rp2.286.917.80 Rp 13.292.709,71
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B3 Rp 39.878.129,14

Jadi menurut perhitungan anggaran biaya diatas pengunaan beton bertulang

dengan mutu beton K 275 diperoleh harga untuk balok utama sebesar

Rp108.321.926,26 dan untuk balok melintang / portal memanjang diperoleh harga

Rp39.878.129,14 Jumlah total biaya pekerjaan balok mutu K 275 adalah

Rp.148.800.055,30

b. STRUKTUR BETON BERTULANG (Alternatif Ke-1) DENGAN MUTU

K 225

Analisa Value Engineering untuk pekerjaan struktur direncanakan

menggunakan alternatif konstruksi beton dengan mutu beton struktur K 225

dengan berbagai alasan teknis berupa :

(1) Penggunaan beton dengan mutu K 225 sangat lazim digunakan untuk

pembangunan konstruksi gedung bertingkat.

(2) Penggunaan beton mutu K 225 ini memungkinkan terjadi pengurangan

harga, karena penggunaan beton existing yang digunakan adalah beton

dengan mutu K 275. Sehingga diharapkan akan terjadi penghematan

(saving)
90

1) Estimasi Biaya Anggaran Biaya (RAB)

Berdasarkan data survey dan observsi dilapangan diketahui bahwa ;

a.) Biaya per m3 beton mutu K 225 adalah Rp.405.000,00(lampiran B-1)

b.) Biaya pemakaian pompa beton Rp.1.400.000,00 / m3 dengan jumlah

pipa yang dibutuhkan adalah 7 batang @ 3 (lampiran B-1)

c.) Campuran beton

Beton K 225 1,000 M3 Rp405.000,00 Rp405.000,00

Pekerja 6,000 Hari Rp 25.000,00 Rp 150.000,00


Tukang 1,000 Hari Rp 35.000,00 Rp 35.000,00
Kepala Tukang 0,100 Hari Rp 40.500,00 Rp 4.050,00
Mandor 0,300 Hari Rp 35.000,00 Rp 10.500,00
Jumlah Rp 604.550,00

d.) Penghitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk balok

(1) Pekerjaan balok B2 ;

(a) Koefisien besi beton = 244,000(lampiran B-13)

(b) Koefisien begesting = 8,000(lampiran B-15)

RAB untuk balok B2

No. Uraian Koeff Sat, Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton K 225
Cor beton 1,000 m3 Rp 604.550,00 Rp 604.550,00
besi beton 244,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.809.324,00
bekesting 8,000 m2 Rp 44.244,48 Rp 353.955,84
JUMLAH Rp 2.767.829,00
91

Jadi jumlah biaya untuk pekerjaaan balok B2 yaitu

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B2 Lt.2 m3 13,96 Rp2.767.829,00 Rp 38.638.892,84
2 Beton balok B2 Lt.3 m3 9,97 Rp2.767.829,00 Rp 27.595.255,13
3 Beton balok B2 Lt.4 m3 9,97 Rp2.767.829,00 Rp 27.595.255,13
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B2 Rp 93.829.403,10

(2) Pekerjaan balok B3;

(a) Koefisien besi beton = 187,000(lampiran B-14)

(b) Koefisien begesting = 11,000(lampiran B-15)

RAB untuk Balok B3

No. Uraian Koeff Sat, Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton K 225
Cor beton 1,000 m3 Rp 604.550,00 Rp 604.550,00
besi beton 187,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.274.751,00
bekesting 11,000 m2 Rp 44.244,48 Rp 486.689,28
JUMLAH Rp 2.365.990,28
Sumber : analisa

Jadi jumlah biaya untuk pekerjaan struktur balok B3 yaitu ;

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B3 Lt.2 m3 4,6 Rp 2.365.990,28 Rp 10.883.555,29
2 Beton balok B3 Lt.3 m3 4,6 Rp 2.365.990,28 Rp 10.915.081,39
3 Beton balok B3 Lt.4 m3 4,6 Rp 2.365.990,28 Rp 10.915.081,39
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B3 Rp 32.650.665,85
Sumber : analisa

Jadi menurut perhitungan anggaran biaya diatas pengunaan beton bertulang

dengan mutu beton K 225 diperoleh harga untuk balok utama sebesar
92

Rp93.829.403,10 dan untuk balok melintang / portal memanjang diperoleh harga

Rp32.650.665,85 Jumlah total biaya pekerjaan balok mutu K 225 adalah

Rp126.480.069,00

c. STRUKTUR BETON BERTULANG (Alternatif Ke-2) MUTU K 250

Analisa Value Engineering untuk pekerjaan struktur juga direncanakan

menggunakan alternatif konstruksi beton yang lain yaitu dengan mutu beton

struktur K 250 dengan berbagai alasan teknis berupa :

(1) Penggunaan beton dengan mutu K 250 masih lazim digunakan untuk

pembangunan konstruksi gedung bertingkat.

(2) Penggunaan beton mutu K 250 ini memungkinkan terjadi pengurangan

harga, karena beton yang existing yang digunakan adalah beton dengan

mutu K 275. Sehingga diharapkan akan terjadi penghematan (saving).

(3) Mutu beton ini cukup efektif untuk pembangunan gedug bertingkat terkait

dengan kualitasnya.

1) Estimasi Anggaran Biaya (RAB)

Berdasarkan data survey dan observsi dilapangan diketahui bahwa ;

a.) Biaya untuk per m3 beton mutu K 225 adalah

Rp.415.000,00(lampiran B-1)

b.) Biaya pemakaian pompa beton Rp.1.400.000,00 / m3 dengan

jumlah pipa yang dibutuhkan adalah 7 batang @ 3 meter (lampiran

B-1)
93

c.) Campuran beton

Beton mutu K 250 1,000 M3 Rp 415.000,00 Rp 415.000,00

Pekerja 6,000 Hari Rp 25.000,00 Rp 150.000,00


Tukang 1,000 Hari Rp 35.000,00 Rp 35.000,00
Kepala Tukang 0,100 Hari Rp 40.500,00 Rp 4.050,00
Mandor 0,300 Hari Rp 35.000,00 Rp 10.500,00
Jumlah Rp 614.550,00

d.) Penghitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk Balok

(1) Pekerjaan balok B2 ;

(a) Koefisien bersi beton= 244,000 (lampiran B-15)

(b) Koefisien begesting =8.000 (lampiran B-17)

RAB untuk balok utama B2

No. Uraian Koeff Sat. Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton K 250
Cor beton 1,000 m3 Rp 614.550,00 Rp 614.550,00
besi beton 244,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.809.192,00
bekesting 8,000 m2 Rp 44.244,48 Rp 353.955,84
JUMLAH Rp 2.777.697,84

Jadi jumlah biaya untuk pekerjaan struktur balok B2 yaitu ;

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B2 Lt.2 m3 13,96 Rp 2.777.697,84 Rp 38.026.683,43
2 Beton balok B2 Lt.3 m3 9,97 Rp 2.777.697,84 Rp 27.693.647,46
3 Beton balok B2 Lt.4 m3 9,97 Rp 2.777.697,84 Rp 27.693.647,46
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B2 Rp 93.413.978,36
94

(2) Pekerjaan balok B3 ;

(a) Struktur balok utama (B2) = 187,000(lampiran B-16)

(b) Struktur balok utama (B3) = 11.000(lampiran B-17)

RAB untuk balok B3

No. Uraian Koeff Sat. Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton k 250
Cor beton 1,000 M3 Rp 614.550,00 Rp 614.550,00
besi beton 187,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.281.604,50
bekesting 11,000 M2 Rp 44.244,48 Rp 486.689,28
JUMLAH Rp 2.382.843,78

Jadi jumlah biaya utnuk pekerjaan struktur balok B3

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B3 Lt.2 m3 4,6 Rp 2.382.843,78 Rp 10.961.081,39
2 Beton balok B3 Lt.3 m3 4,6 Rp 2.382.843,78 Rp 10.961.081,39
3 Beton balok B3 Lt.4 m3 4,6 Rp 2.382.843,78 Rp 10.961.081,39
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B3 Rp 32.883.244,16

Jadi menurut perhitungan anggaran biaya diatas pengunaan beton bertulang

dengan mutu betok K 250 diperoleh harga untuk balok utama sebesar

Rp94.163.956,78dan untuk balok melintang / portal memanjang diperoleh harga

Rp32.883.244,16 Jumlah total biaya pekerjaan balok mutu K 250 adalah

Rp127.047.200,80
95

d. STRUKTUR BETON BERTULANG (Alternatif Ke-3) DENGAN MUTU

K 300

Analisa Value Engineering untuk pekerjaan struktur direncanakan

menggunakan alternatif konstruksi beton dengan mutu beton struktur yang lain

yaitu dengan K 300 dengan berbagai alasan teknis berupa :

(1) Penggunaan beton dengan mutu K 300 masih lazim digunakan untuk

pembangunan konstruksi gedung bertingkat.

(2) Mutu beton ini lebih tinggi dibandingkan dengan mutu beton existing yaitu

275, sehingga memungkinkan untuk bisa memperkecil dimensi balok dan

diharapkan akan terjadi penghematan atau (saving).

1) Estimasi Anggaran Biaya (RAB)

Berdasarkan data survey dan observsi dilapangan diketahui bahwa ;

a.) Biaya untuk per m3 beton mutu K 300 adalah Rp.435.000,00

(lampiran B-1)

b.) Biaya pemakaian pompa beton Rp.1.400.000,00 / m3 dengan jumlah

pipa yang dibutuhkan adalah 7 batang @ 3 meter (lampiran B-1)


96

c.) Campuran beton

Beton mutu K
300 1,000 m3 Rp 435.000,00 Rp 435.000,00

Pekerja 6,000 Hari Rp 25.000,00 Rp 150.000,00


Tukang 1,000 Hari Rp 35.000,00 Rp 35.000,00
Kepala Tukang 0,100 Hari Rp 40.500,00 Rp 4.050,00
Mandor 0,300 Hari Rp 35.000,00 Rp 10.500,00
Jumlah Rp 634.550,00

d.) Penghitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk balok

(1) Pekerjaan balok B2 ;

(a) Koefisien besi beton = 244,000(lampiran B-18 )

(b) Koefisien begesting = 8,000(lampiran B-18.1)

RAB untuk balok utama B2

No. Uraian Koeff Sat, Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton K300
Cor beton 1,000 m3 Rp 634.550,00 Rp 634.550,00
besi beton 264,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.809.192,00
bekesting 8,000 m2 Rp 44.244,48 Rp 353.955,84
JUMLAH Rp 2.793.697,84

Jadi biaya untuk pekerjaan struktur balok B2 yaitu ;

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B2 Lt.2 m3 13,96 Rp 2.793.697,84 Rp 39.000.021,85
2 Beton balok B2 Lt.3 m3 9,97 Rp 2.793.697,84 Rp 27.853.167,46
3 Beton balok B2 Lt.4 m3 9,97 Rp 2.793.697,84 Rp 27.853.167,46
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B2 Rp 94.706.356,78
97

(2) Pekerjaan balok B3 ;

(a) Kofisien besi beton = 187,000(lampiran B-18 )

(b) Koefisien begesting = 11,000 (lampiran B-18.1)

RAB untuk balok B3

No. Uraian Koeff Sat. Harga Satuan Jumlah Harga


1 m3 beton K300
Cor beton 1,000 m3 Rp 634.550,00 Rp 634.550,00
besi beton 187,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 1.281.604,50
bekesting 11,000 m2 Rp 44.244,48 Rp 486.689,28
JUMLAH Rp 2.402.843,78

Jadi jumlah biaya untuk pekerjaan struktur balok B3

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya


1 Beton balok B3 Lt.2 m3 4,6 Rp 2.402.843,78 Rp 11.053.081,39
2 Beton balok B3 Lt.3 m3 4,6 Rp 2.402.843,78 Rp 11.053.081,39
3 Beton balok B3 Lt.4 m3 4,6 Rp 2.402.843,78 Rp 11.053.081,39
Rp
JUMLAH PEKERJAAN BALOK B3 33.159.244,16

Jadi menurut perhitungan anggran biaya diatas pengunaan beton bertulang

dengan mutu betok K 300 diperoleh harga untuk balok utama sebesar

Rp94.706.356,78 dan untuk balok melintang / portal memanjang diperoleh harga

Rp33.159.244,16. Jumlah total biaya pekerjaan balok mutu K 300 adalah

Rp127.866.100,9
98

Berdasarkan analisa diatas maka akan dipaparkan perbandingan biaya yang

terjadi setelah dilakukan analisa VE

Tabel 4.19. Perbandingan Biaya Setelah Dilakukan Analisa VE

No. MUTU BETON Biaya (Rp) Selisih setelah di VE Ket


1. Beton mutu K 225 126.480.069,00 22.319.986,00 Alt 1
2. Beton mutu K 250 127.047.200,80 21.752.854,20 Alt 2
3. Beton mutu K 275 148.800.055,30 -(existing)- existing
4. Beton mutu K 300 127.866.100,90 20.999.999,96 Alt 3

Grafik Perbandingan Biaya


Existing Vs Alternatif
200,00
Rp148,80 Rp127,05
Harga 150,00 Rp126,48 Rp127,86

(Dalam juta) 100,00

50,00
0,00
K 225 K 275 K 250 K 300
KK225
275
(Existing)
Mutu Beton

Gambar 4.5. Perbandingan Harga setelah di VE


Sumber : Analisa

3 TAHAP ANALISA

Pada tahapan analisa dalam perekayasaan VE berisi analisa terhadap semua

alternatif yang muncul dengan menggunakan berbagai macam metode sehingga

diperoleh suatu angka prioritas terhadap alternatif yang akan dipakai dalam proses

perekayasaan. Artinya adalah untuk mendapatkan alternatif yang terbaik dari

beberapa alternatif yang ditinjau. Pada tahap analisa ini terdiri dari :
99

a. Analisa Fungsi

b. Analisa Rangking

Analisa Fungsi adalah satu bagian dari tahapan analisa yang berfungsi untuk

menganalisa semua fungsi-fungsi dari item-item pekerjaan dalam satu segmen

pekerjaan yang akan dianalisa VE, dalam hal ini untuk pekerjaan struktur balok,

dalam tahapan analisa fungsi ini dijelaskan fungsi dari item pekerjaan balok yang

disajikan dalam kata kerja (verb) atau kata benda (nouns), kind yang menunjukan

bahwa item tersebut adalah item primer ataukah item itu hanya item pendukung

saja atau sekunder, sedangkan cost dan worth menunjukkan nilai biaya item

original dan VE.

Berikut akan dijabarkan beberapa analisa sebagai bentuk perolehan angka

prioritas dari semua alternatif :

a. Analisa Fungsi

Tabel 4.20 Analisa Fungsi Untuk Pekerjaan Balok

Proyek pembangunan gedung ANALISA FUNGSI


Perpusda
No. Uraian Verb Noun Kind Cost (Rp) Worth (Rp) Ket
x 1000 x1000
1. Beton Menahan Tekan P 35093.464 28837.035 VE
2. Tulangan Menahan Tarik P 89508.089 60250.489 VE
3. Bekesting Memberi Bentuk P 21431.057 18715.475 VE
Total 146034.60 107821.714.
Cost/worth : 146034.60 / 107821.714= 1.35

Keterangan :
100

P adalah unsur item pekerjaan yang dianggap primer (utama)


S adalah unsur item pekerjaan yang dianggap sekunder (unsur pendukung unsur primer )

Dari tabel analisa fungsi diatas untuk fungsi pekerjaan pondasi seperti tampak

diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1) Untuk pekerjaan balok dengan mutu K-275 biaya awal perencanaan

adalah Rp.148.800.055,30 dapat dilakukan penghematan dengan tanpa

mengurangi mutu pondasi dengan dihadirkannya alternatif yang lain.

2) Penghematan terbesar yang bisa diperoleh dengan digunakan alternatif

pengganti yaitu beton mutu K 225 adalah Rp.126.480.069,00, dengan

selisih biaya tersaving sebesar Rp.22.319.986,00

3) Dan untuk sub item yang lainnya, tidak dilakukan perekayasaan VE

karena dilihat dari nilainya tidak terlalu signifikan.

4) Maka dengan dihadirkannya alternatif yaitu penggunaan beton mutu K

225 tersebut biaya proyek dapat tersaving sebesar Rp.22.319.986,00

dengan rasio biaya/nilai untuk item ini adalah 1.35, ini berarti terjadi

penghematan.
101

b. Analisa Rangking

Tabel 4.21. Penilaian Bobot Sementara

No Fungsi Angka rangking bobot Ket

1 Penghematan Biaya (A) 4 40 Prioritas tertinggi

2 Kualitas (B) 3 30 Prioritas tinggi

3 Finishing (C) 2 20 Prioritas sedang

4 Kemudahan Pelaksanaan 10 Prioritas rendah


1
(D)
Jumlah angka rangking 10 100

Ket : perhitungan bobot menggunakan rumus


angkarangkingyang dim iliki
= x 100
jumlahangkarangking

Kemudian setelah diketahui bobot, maka dilakukan penganalisaan untuk

semua kriteria yang berfungsi dengan dimunculkan preferensi dari penyaji sebagai

acuan kepentingan dan kekurangpentingan masing-masing alternatif.

Preferensi alternatif untuk kriteria Penghematan Biaya (A) adalah sebagai berikut;

Alternatif Preferensi Keterangan


K 225 (I) (I) > (II) : (I) > (III) Alt I Lebih baik dari Alt II &III
K 250 (II) (II) < (I) : (II) > (III) Alt II kurang baik dari Alt I
K 300 (III) (III) < (I) : (III) < (II) Alt III kurang baik dari Alt I & II
102

Tabel 4.22 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi A (Penghematan biaya)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 1 1 2 2/3
II 0 X 1 1 1/3
III 0 0 X 0 0
JUMLAH 3 1

Preferensi alternatif untuk kriteria Kualitas (B) adalah sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi Keterangan


K 225 (I) (I) < (II) : (I) < (III) Alt I kurang baik dari Alt II &III
K 250 (II) (II) > (I) : (II) < (III) Alt II Lebih baik dari Alt I
K 300 (III) (III) > (I) : (III) > (II) Alt III kurang baik dari Alt I & II

Tabel 4.23 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi B (Kualitas)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 0 0 0 0
II 1 X 0 1 1/3
III 1 1 X 2 2/3
JUMLAH 3 1

Preferensi alternatif untuk kriteria Finishing (C)adalah sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi Keterangan


K 225 (I) (I) = (II) : (I) = (III) Alt I sama dengan Alt II & III
K 250 (II) (II) = (I) : (II) = (III) Alt I sama dengan Alt II & III
K 300 (III) (III) = (I) : (III) = (II) Alt I sama dengan Alt II & III
103

Tabel 4.24 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi C (Waktu)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 1 1 2 2/6
II 1 X 1 2 2/6
III 1 1 X 2 2/6
JUMLAH 6 1

Preferensi alternatif untuk kriteria Kemudahan Pelaksanaan/pembuatan (D) adalah

sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi Keterangan


I I > II : I > III Alt I lebih baik dari Alt II & III
II II < I : II > III Alt II Kurang baik dari Alt I
III III < I : III < II Alt III Kurang baik dari Alt I & II

Tabel 4.25 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi D (Pelaksanaan)

Alternatif I II III Jumlah Indeks

I X 1 1 2 2/3
II 0 X 1 1 1/3
III 0 0 X 0 0
JUMLAH 3 1
104

Tabel 4.26. penganalisaan metode Zero-One

Kriteria
Alternatif A B C D
No. bobot 40 30 20 10 Total Ket
1 Alt I 2/3 2/6 0 2/3 indeks
K 225 26.67 10 0 6.67 43.34 Bobot
2 Alt II 1/3 2/6 2/3 1/3 indeks
K 250 13.3 10 13.33 3.33 39.96 Bobot
3 Alt III 0 2/6 1/3 0 indeks
K 275 0 10 6.67 0 16.67 Bobot

Pada tahap penganalisaan rangking digunakan perangkingan dengan

metode matrik evaluasi (lihat tabel 4.14). sehingga dari hasil analisa dapat

diketahui bahwa alternatif I yaitu penggunaan beton dengan mutu K 225

mempunyai keunggulan bobot total 43.34 dibandingkan dengan alternatif yang

lain yaitu penggunaan beton dengan mutu K 250 (II) mempunyai bobot 39.96

dan K 300 (III) dengan bobot 16.67.

Nilai bobot tersebut didapatkan berdasarkan kriteria penghematan biaya,

kualitas yang baik, efektifitas waktu dan kemudahan pelaksanaan dengan

penggunaan tenaga yang lebih sedikit. Dengan analisa rangking ini, nilai yang

dihasilkan akan menjadi nilai kelayakan penggunaan alternatif yang

dikembangkan berdasarkan parameter dari penulis dalam sistem pekerjaan

tersebut. Dan nantinya akan dipaparkan lebih lanjut dalam fase rekomendasi.

4 Tahap Pengembangan

Dalam penulisan tugas akhir ini, penganalisaan Value Engineering tidak

dicantumkan analisa untuk tahapan pengembangan sehingga tidak diperlukan


105

analisa life cycle cost untuk perhitungan biaya-biaya operasional dan

pemeliharaan atau biaya lain yang timbul pasca pembangunan proyek akibat

dihadirkannya beberapa alternatif diatas..

5 Tahap Rekomendasi

Tahap rekomendasi pada item pekerjaan atas yang difokuskan untuk pekerjaan

struktur balok, penulis merekomendasikan satu alternatif penggunaan material

adalah sebagai berikut :

a.) Rencana Awal

Pada item pekerjaan beton bertulang dalam proyek ini menggunakan beton

bertulang dengan mutu K 275 (existing). Terutama untuk pekerjaan struktur

balok yang terdiri atas balok utama dengan dimensi balok 30x80 dan balok

portal (melintang) dengan dimensi balok 25x50.

b.) Usulan

Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan struktur dengan dibantu

denagan penggunaan program SAP 2000 versi 8.08, maka penulis

merekomendasikan penggunaan beton K 225 yang diterapkan dalam pekerjaan

beton bertulang dengan memperkecil dimensi balok utama dimensi balok

30x80 menjadi 30x70 dan balok portal (melintang) dengan dimensi balok

25x40.
106

c.) Dasar Pertimbangan

Dengan beberapa nilai pembobotan yang didasarkan atas kualifikasi

penulis (dalam analisa rangking) maka dipaparkan dasar pertimbangan lain

sebagai dasar pengambilan item terekomendasi diantaranya yaitu :

1) Penghematan masalah biaya akibat perubahan mutu beton

2) Kualitas yang baik.

3) Finishing.

4) Pelaksanaan pekerjaan yang mudah terkait dengan penggunaan mutu

beton.

d.) Penghematan Biaya

Dengan menggunakan alternatif kedua yaitu digunakannya beton bertulang

dengan mutu beton K 225 sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh

penulis maka akan terjadi penghematan sebesar Rp.22.319.986,00


107

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil analisa Value Engineering untuk pembangunan gedung kantor

Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah diatas, dapat diambil beberapa

kesimpulan :

1. Aplikasi Value Engineering diterapkan berdasarkan item pekerjaan yang

mempunyai bobot/nilai cukup besar dan signifikan, mulai dari pekerjaan

beton bertulang, pondasi dan item lainnya, yang berpengaruh sangat besar

terhadap biaya total keseluruhan proyek.

2. Berdasarkan hasil analisa Value Engineering untuk item struktur pondasi

yaitu dengan cara mengganti dan mengomparasi penggunaan dimensi

pondasi tiang pancang yaitu pondasi tiang pancang dengan dimensi

∆32x32x32 diganti tiang pancang persegi dimensi 20x20 cm,

menghasilkan penghematan nilai/biaya sebesar Rp. 53.947.434,00 dari

biaya awal sebesar Rp. 213.587.573,00

3. Berdasarkan hasil analisa Value Engineering untuk item struktur atas yaitu

balok, dengan cara mengganti penggunaan mutu beton perencanaan yaitu

mutu beton K 275 dengan mutu K 225 didapatkan penghematan (saving)

sebesar Rp.22.319.986,00 dari biaya awal sebesar Rp.148.800.055,30.

4. Setelah dilakukan analisa Value Enggineering dari kedua item pekerjaan

baik item pondasi ataupun balok dihasilkan penghematan total sebesar

Rp.76.267.420,00

107
108

5. Sebagai media penunjang perekayasaan Value Engineering dapat dipakai

software SAP 2000 versi 8.08 untuk mere-design perencanaan struktur

dengan didasarkan data pendukung yang biasa digunakan dalam proyek

pembangunan suatu gedung.

B. Saran

Berdasarkan analisa dan buah pemikiran dari penulis maka dapat disampaikan

beberapa hal yang sebaiknya dilakukan dalam kaitannya usaha perekayasaan nilai

pembangunan suatu gedung yang bertemakan optimasi diantaranya yaitu :

1. Dalam usaha perekayasaan Value Engineering sebaiknya dilakukan untuk

semua item pembangunan gedung yang mempunyai bobot biaya yang

besar, sehingga dihasilkan penghematan yang optimal.

2. Agar pelaksanaan perekayasaan VE lebih bervariasi maka sebaiknya

digunakan alternatif yang lebih banyak dan luas, mengingat saat ini

muncul berbagai macam bahan yang lebih murah, mudah dan bermutu.

3. Penelitian selanjutnya sebaiknya juga diteliti mengenai aplikasi Value

Engineering untuk tenaga kerja dan waktu pelaksanaan proyek.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1987. Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah


Gedung. Departemen Pekerjaan Umum, Bandung

Anonim, 1983. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung


Departemen Pekerjaan Umum, Bandung

Anonim, 2002. Pedoman standar perencanaan ketahanan gempa untuk


struktur bangunan gedung. Departemen Pekerjaan Umum, Bandung

Anonim, 2007. Informasi Harga Satuan. Balai Pengujian Dan Informasi


Konstruksi, Semarang

A. Z, Zainal, 2003. Menghitung Biaya Bangunan. PT. Gramedia


Pustaka Utama, Jakarta

Suharto, Iman Ir. 1999. Manajemen Proyek. Jakarta

Bush, V.G., 1983. Manajemen proyek. PT. Pustaka Binaman Pressindo,


Jakarta

Hardiyatmo, H.C., 2001. Teknik Fondasi II. PT.Gramedia Pustaka Utama,


Jakarta

Isworo dkk., 1998. Value Engineering Changes Proposal Pembangunan


Gedung Laboratorium FP MIPA IKIP Surabaya. Tugas akhir JTS.
Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Ibrahim, Bachtiar H. 1994. Rencana dan Estimate Real Of Cost. Jakarta:


Bumi Aksara

Dell’isla. Alphonse, Value Engineering in the contruction industry.

Kusuma, Gideon H, Ir. M.Eng. 1993, Desain Struktur Beton Bertulang di


Daerah Rawah Gempa, Erlangga, Jakarta

Vis, W.C., 1987. Perhitungan dan Perencanaan Sederhana untuk Beton


Bertulang. Erlangga, Jakarta

Barrie, D., Poulson, B., 1984. Manajemen Kontruksi Profesional. Alih


Bahasa Sudinarto, 1990. Edisi Kedua, Erlangga, jakarta

Donomartono, 1999. Apilkasi Value Engineering Guna Mengoptimalkan


Biaya pada Tahap Perencanaan Kontruksi Gedung dengan Struktur
Balok Beton Pratekan. Tugas Akhir JTS. Fakultas Teknik Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Suryolelono, K. B., 1994. Teknik Pondasi Bagian II. Nafiri, Yogyakarta

Lashari., 2004. Paparan Mata Kuliah Teknik Pondasi 1. Universitas Negeri


Semarang

Hanggoro., 2005. Paparan Mata Kuliah Teknik Pondasi II. Universitas


Negeri Semarang

Handoko., 2005. Tugas Laporan Kerja Praktek. Universitas Negeri


Semarang

Diktat perkuliahan Value Engineering Teknik Sipil Institut Teknologi


Nasional tahun 1995

Diktat Perkuliahan Value Engineering Teknik Sipil Universitas Negeri


Semarang tahun 2005
LEMBAR KONSULTASI

Judul skripsi : Aplikasi Value Engineering Untuk Optimasi


Biaya Proyek Pembangunan Gedung Kantor
Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah
Nama : Rinouw Astria W
NIM : 5150402033
Pembimbing :
NIP :

No. Tanggal Keterangan Paraf


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A

• Lampiran A 1-4 : Data Tanah Proyek

• Lampiran A 5-6 : Denah Pondasi

• Lampiran A 7 : Rekapitulasi Gaya Reaksi

• Lampiran A 8-31 : Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

• Lampiran A 32-36 : Data Tiang Pancang

Lampiran B

• Lampiran B 1 : Daftar Harga Beton

• Lampiran B 2-6 : SNI Harga Satuan

• Lampiran B 7-8 : Rekapitulasi Luas Tulangan

• Lampiran B 9-18 : Perhitungan Item Pekerjaan Balok

• Lampiran B 19-23 : Denah Balok

• Lampiran B 24-33 : Output Tulangan Hasil SAP


Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

PERHITUNGAN KOEFISIEN TULANGAN

A. Penghitungan Koefisien Tulangan Dan Begesting Balok Beton


Bertulang Dengan Mutu K 275
⇒ Balok Utama Dengan Dimensi 30 X 80
Berdasarkan aplikasi dari software SAP 2000, didapat ;
Luas tulangan atas : 2099.179 mm2 (8D19)
Luas tulangan bawah : 1395.733 mm2 (5D19)
Begel : 2D10-7.5
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.3 x 0.8 = 0.24
Volume : 0.24 x 1 = 0.24 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ 19 dengan berat 2.23
kg/m, jumlah 13
Maka ;berat besi utama adalah = 13*2.23 kg/m
= 28.99 kg
Tulangan begel digunakan 2φ10-7.5
Panjang begel = 25+25+75+75= 200 =2 m
Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
 100 
Jumlah begel =  + 1 =14 begel
 7.5 
Berat besi begel = 2*2*0.617*14 =34.552 kg
Per m’ balok 30/80 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 28.99 + 34.552
= 63.542 kg

 1 
Per m3 balok 30/80 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.24 

 1 
=  *(63.542) = 265 kg
 0.24 
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

⇒ Balok Melintang Dengan Dimensi 25 X 50


Luas tulangan atas :3D19
Luas tulangan bawah :3D19
Begel :D10-10
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.25 x 0.5 = 0.125
Volume : 0.125 x 1 = 0.125 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ19 dengan berat 2.23
kg/m., jumlah 6
Maka ;berat besi utama adalah = 6*2.23 kg/m
= 13.38 kg
Tulangan begel digunakan φ10-10
Panjang begel = 20+20+45+45= 130 =1.3 m
Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
 100 
Jumlah begel =  + 1 =11 begel
 10 
Berat besi begel = 1.3*0.617*11 =8.823 kg
Per m’ balok 25/50 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 13.38 + 8.823
= 22.203 kg

 1 
Per m3 balok 25/50 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.125 

 1 
=  *(22.203) =178 kg
 0.125 
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada balok 30/80 panjang (l) = 9.5 m
Volume = 0.3* 0.8 * 9.5 = 2.28 m3
80 Keliling = (0.8*2+0.3)*9.5 = 18.05 m’
1 1
per m3 = = =0.43
vol 2.28
30 Koefisien begesting = 0.43* 18.05 = 8.00

Koefisien begesting pada balok 25/50 panjang (l) = 5.5 m


Volume = 0.25* 0.5 * 5.5 = 0.6875 m3
50 Keliling = (0.5*2+0.25)*5.5 = 6.875 m’
1 1
per m3 = = =1.45
vol 0.6875
25 Koefisien begesting = 1.45* 6.875 = 10.00

B. Penghitungan Koefisien Tulangan Dan Begesting Balok Beton


Bertulang Dengan Mutu K 225
⇒ Balok Utama Dengan Dimensi 30 X 70
Berdasarkan aplikasi dari software SAP 2000, didapat ;
Luas tulangan atas :7D19
Luas tulangan bawah :4D19
Begel :2D10-7.5
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.3 x 0.7 = 0.21
Volume : 0.21 x 1 = 0.21 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ 19 dengan berat 2.23
kg/m., jumlah 9
Maka ;berat besi utama adalah = 11*2.23 kg/m
= 24.53 kg
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

Tulangan begel digunakan 2φ10-7.5


Panjang begel = 25+25+65+65= 180 =1.8 m
Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
 100 
Jumlah begel =  + 1 =14 begel
 7.5 
Berat besi begel = 2*1.8*0.617*14 =31.09 kg
Per m’ balok 30/70 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 24.53+ 31.09
= 55.62 kg

 1 
Per m3 balok 30/70 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.21 

 1 
=  *(55.62) =264 kg
 0.21 
⇒ Balok Melintang Dengan Dimensi 25 X 40
Berdasarkan aplikasi dari software SAP 2000, didapat ;
Luas tulangan atas :3D19
Luas tulangan bawah :2D19
Begel :D10-10
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.25 x 0.4 = 0.100
Volume : 0.100 x 1 = 0.100 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ 19 dengan berat 2.23
kg/m., jumlah 5
Maka ;berat besi utama adalah = 5*2.23 kg/m
= 11.15 kg
Tulangan begel digunakan φ10-10
Panjang begel = 20+20+35+35= 110 =1.1 m
Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

 100 
Jumlah begel =  + 1 =11 begel
 10 
Berat besi begel = 1.1*0.617*11 =7.46 kg
Per m’ balok 30/70 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 11.15 + 7.46
= 18.61 kg

 1 
Per m3 balok 25/40 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.1 

 1 
=  *(18.61) =186 kg
 0.1 

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada balok 30/70 panjang (l) = 9.5 m
Volume = 0.3* 0.7 * 9.5 = 1.995 m3
70 Keliling = (0.7*2+0.3)*9.5 = 16.15 m’
1 1
per m3 = = =0.50
vol 1.995
31 Koefisien begesting = 0.50* 16.15 = 8.00

Koefisien begesting pada balok 25/40 panjang (l) = 5.5 m


Volume = 0.25* 0.4 * 5.5 = 0.55 m3
40 Keliling = (0.4*2+0.25)*5.5 = 5.775 m’
1 1
per m3 = = =1.81
vol 0.55
25 Koefisien begesting = 1.81* 5.775 = 11.00
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

C. Penghitungan Koefisien Tulangan Dan Begesting Balok Beton


Bertulang Dengan Mutu K 250
⇒ Balok Utama Dengan Dimensi 30 X 70
Berdasarkan aplikasi dari software SAP 2000, didapat ;
Luas tulangan atas :7D19
Luas tulangan bawah :4D19
Begel :2D10-7.5
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.3 x 0.7 = 0.21
Volume : 0.21 x 1 = 0.24 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ 19 dengan berat 2.23
kg/m., jumlah 9
Maka ;berat besi utama adalah = 5*2.23 kg/m
= 20.07 kg
Tulangan begel digunakan 2φ10-7.5
Panjang begel = 25+25+65+65= 180 =1.8 m
Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
 100 
Jumlah begel =  + 1 =14 begel
 7.5 
Berat besi begel = 2*1.8*0.617*14 =31.09 kg
Per m’ balok 30/70 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 20.07+ 31.09
= 51.16 kg

 1 
Per m3 balok 30/70 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.24 

 1 
=  *(51.16) =244 kg
 0.21 
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

⇒ Balok Melintang Dengan Dimensi 25 X 40


Berdasarkan aplikasi dari software SAP 2000, didapat ;
Luas tulangan atas :3D19
Luas tulangan bawah :2D19
Begel :D10-10
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.25 x 0.4 = 0.100
Volume : 0.100 x 1 = 0.100 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ 19 dengan berat 2.23
kg/m., jumlah 5
Maka ;berat besi utama adalah = 5*2.23 kg/m
= 11.15 kg
Tulangan begel digunakan φ10-10
Panjang begel = 20+20+35+35= 110 =1.1 m
Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
 100 
Jumlah begel =  + 1 =11 begel
 10 
Berat besi begel = 1.1*0.617*11 =7.46 kg
Per m’ balok 30/80 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 11.15 + 7.46
= 18.61 kg

 1 
Per m3 balok 30/80 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.1 

 1 
=  *(18.61) =187 kg
 0.1 
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada balok 30/70 panjang (l) = 9.5 m
Volume = 0.3* 0.7 * 9.5 = 1.995 m3
70 Keliling = (0.7*2+0.3)*9.5 = 16.15 m’
1 1
per m3 = = =0.50
vol 1.995
32 Koefisien begesting = 0.50* 16.15 = 8.00

Koefisien begesting pada balok 25/40 panjang (l) = 5.5 m


Volume = 0.25* 0.4 * 5.5 = 0.55 m3
40 Keliling = (0.4*2+0.25)*5.5 = 5.775 m’
1 1
per m3 = = =1.81
vol 0.55
25 Koefisien begesting = 1.81* 5.775 = 11.00

D. Penghitungan Koefisien Tulangan Dan Begesting Balok Beton


Bertulang Dengan Mutu K 300
⇒ Balok Utama Dengan Dimensi 30 X 70
Berdasarkan aplikasi dari software SAP 2000, didapat ;
Luas tulangan atas :7D19
Luas tulangan bawah :2D19
Begel :2D10-7.5
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.3 x 0.7 = 0.21
Volume : 0.21 x 1 = 0.24 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ 19 dengan berat 2.23
kg/m., jumlah 9
Maka ;berat besi utama adalah = 9*2.23 kg/m
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

= 20.07 kg

Tulangan begel digunakan 2φ10-7.5


Panjang begel = 25+25+65+65= 180 =1.8 m
Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
 100 
Jumlah begel =  + 1 =14 begel
 7.5 
Berat besi begel = 2*1.8*0.617*14 =31.09 kg
Per m’ balok 30/70 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 20.07+ 31.09
= 51.16 kg

 1 
Per m3 balok 30/80 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.24 

 1 
=  *(51.16) =244 kg
 0.21 
⇒ Balok Melintang Dengan Dimensi 25 X 50
Berdasarkan aplikasi dari software SAP 2000, didapat ;
Luas tulangan atas :3D19
Luas tulangan bawah :2D19
Begel :D10-10
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Luas penampang : b x h = 0.25 x 0.4 = 0.100
Volume : 0.100 x 1 = 0.100 m3
Pembesian
Digunakan tulangan utama dengan diameter φ 19 dengan berat 2.23
kg/m., jumlah 5
Maka ;berat besi utama adalah = 5*2.23 kg/m
= 11.15 kg
Tulangan begel digunakan φ10-10
Lampiran Perhitungan Item Pekerjaan Struktur atas (balok)

Panjang begel = 20+20+35+35= 110 =1.1 m


Berat begel φ10 = 0.617 kg/m
 100 
Jumlah begel =  + 1 =11 begel
 10 
Berat besi begel = 1.1*0.617*11 =7.46 kg
Per m’ balok 30/80 adalah berat besi utama + Berat besi begel
= 11.15 + 7.46
= 18.61 kg

 1 
Per m3 balok 30/80 =   *( berat besi utama + Berat besi begel
 0.1 

 1 
=  *(18.61) =187 kg
 0.1 

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada balok 30/70 panjang (l) = 9.5 m
Volume = 0.3* 0.7 * 9.5 = 1.995 m3
70 Keliling = (0.7*2+0.3)*9.5 = 16.15 m’
1 1
per m3 = = =0.50
vol 1.995
33 Koefisien begesting = 0.50* 16.15 = 8.00

Koefisien begesting pada balok 25/40 panjang (l) = 5.5 m


Volume = 0.25* 0.4 * 5.5 = 0.55 m3
40 Keliling = (0.4*2+0.25)*5.5 = 5.775 m’
1 1
per m3 = = =1.81
vol 0.55
25 Koefisien begesting = 1.81* 5.775 = 11.00
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

I. Penghitungan Daya Dukung Tiang Pancang

Diketahui : Qc = 225 Kg/cm2


Tr = 240 Kg/cm2 (berdasarkan data sondir tanah )

Mencari daya dukung ijin tiang

Qijn = Qc. A + Tr.O (Suryolelono :1994)


3 10
Yaitu rumus pemancangan yang diisyaratkan dalam tanah lempung yang
mencapai tanah keras.

Dimana : A = Luas Permukaan Ujung Tiang Pancang (m2)


O = Keliling Tiang (m)

Jika Dipergunakan Tiang Pancang Segitiga Dengan ∆ 32 X 32 X 32 Cm


A = 0,5 x alas x t
= 0,5 x 32 x 27.713
= 443.41 cm2
O = 3xsisi
= 3x32
= 96 cm
Daya Dukung Ijin :

Qijn = Qc. A + Tr.O


3 10

= 225.443,41 + 240.96
3 10
= 26604.6+1872
= 28476 Kg = 28.476 Ton
Kebutuhan tiang pancang berdasarkan beban ultimit tiang (Pult) untuk beton
K 275
P = 233.46T (data gaya reaksi SAP 2000)
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Mx = -13.2491 Tm
MY = -2.72 Tm
Penghitungan Kebutuhan Jumlah Tiang
Jika jarak tiang ditentukan 3 D maka nilai efisiensi tiang kelompok adalah 0,7
Kapasitas Pijin dihitung dengan keruntuhan blok SF = 3
P
Maka jumlah tiang yang dibutuhkan adalah (n) =
Qijin.0,7
233.46
=
35,56.0,7
= 9 tiang
Distribusi Beban Kolom Ke Masing-Masing Tiang
Berdasarkan perhitungan diatas maka jumlah tiang yang dibutuhkan
adalah 9 buah dengan dimensi ∆ 32 X 32 X 32 maka desain pile cap dapat
dipilih dengan susunan P

1 2 3
96 kolom 50 x 50
4 5 6 x 250
y
7 8 9

250
sumber : penulis
Sedangkan distribusi beban kolom ke masing-masing tiang dirumuskan
sebagai berikut ;
P My. X Mx.Y
± ± dimana Σx = 0.9215m2
Qi =
n Σx 2 ( ) ( )
Σy 2

Σy = 0.9215 m2
n = jumlah tiang
x = absis terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

y = ordinat terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang


nx = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu x
ny = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu y
Σx2 = jumlah kuadrat absis – absis tiang pancang
Σy2 = jumlah kuadrat ordinat – ordinat tiang pancang
233.46 − 2,72. − 0,96 − 13,24. + 0.96
Q1 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
Q1= 22.82+3.99-13.32
= 13.49 T
233.46 − 13,24. + 0.96
Q2 = ±0±
9 (0.9215)
= 22.18-0-13.34
= 8.84 T
233.46 − 2,72.0,96 − 13,24.0.96
Q3 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
= 22.18-2.83-13.37
= 5.55 T
233.46 − 2,72. − 0,96 − 13,24.0
Q4 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
= 22.18+3.99+0
= 26.17 T
233.46 − 2,72.0 − 13,24.0
Q5 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
= 22.18+0+0
= 22.18 T
233.46 − 2,72. − 0,96 − 13,24.0
Q6 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
= 22.18+2.833
= 25.013 T
233.46 − 2,72. − 0,96 − 13,24. − 0.96
Q7 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

= 22.18+3.99+13.79
= 59.96T
233.46 − 2,72.0 − 13,24. − 0.96
Q8 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
= 22.18+0+13.79
= 34.89T
233.46 − 2,72.0,96 − 13,24. − 0.96
Q9 = ± ±
9 (0.9215) (0.9215)
= 22.18+3.99+13.79
= 33.13 T

Menghitung Tinggi Pile Cap Dan Penulangannya


Untuk menghitung besarnya momen, geser satu arah dan geser pons
diperlukan data perhitungan sebagai berikut ;
Dimensi kolom = 50 x 50 cm
Beban Aksial Kolom = 233.46 T
Mutu beton yang digunakan adalah beton bertulang mutu K 225 dan mutu
tulangan adalah Fy = 390 Mpa
Beban kolom ultimate Pult = 1.4*233.46
= 303.498
Beban per pile ultimate
Qu1= 1,4x13.49 = 18.86 T Qu7= 1,4x59.96 =83.94 T
Qu2= 1,4x8.84 = 12.37 T Qu8= 1,4x34.89 =48.84 T
Qu3= 1,4x5.55 = 7.77 T Qu9= 1,4x33.13 =46.38 T
Qu4= 1,4x26.17 = 36.63 T
Qu5= 1,4x22.18 = 31.05 T
Qu6= 1,4x25.01= 35.014T
Pengecekan Terhadap Geser Pons
Besarnya tinggi efektif (d) pile cap dicoba 80 cm
Vu Pons = Pu
= 303.498 T
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Keliling bidang kritis geser pons(bo)


bo = 2(b+d)+2(h+d)
= 2(500+700)+2(500+700)
=4800 mm
φ Vc pons = 0,6x0,33√f’cxboxd (Mpa)
= 0.6x0.33√18.67x4800x800
= 328251.132 N
= 328,5251.T Vu Pons <φ Vc pons..OK!
Pengecekan Cek Terhadap Geser Lentur
Pengecekan terhadap geser lentur pada kasus ini tidak dilakukan karena untuk
d= 70 tiang pancang berada dalam bidang geser yang terbentuk
Maka tebal pile cap (th) = 80+15+selimut beton +0.5*φtul
Dipakai tebal pile cap (th) = 100 cm
Perhitungan Tulangan Pile Cap
momen terhadap titik berat kolom
Mu=171.9 Tm = 17190000 kg.cm
B = 250 cm
D = 80 cm
F’c = 225 Mpa
Fy = 390 Mpa
Mencari nilai β1
Jika fc≤300 kg/cm2 maka β1= 0.85
fc>300 kg/cm2 maka β1= 0.85-0.0008 (fc-300)
jika nilai β1< 0,65 maka nilai β1= 0,65
untuk fc =225 maka nilai β1=0,85
Mu 17190000
Mn= = =21487500
0,8 0,8

Mn 21487500
K= = =0.084
Bxd x0,85 xfc 250 x80 2 x0,85 x186.7
2

F=1- 1 − 2k = 0.087
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

β 1 x 4500 0.85 x 4500


Fmax= = =0.38
6000 + fy 6000 + 3900
F≤ Fmax Tul. Tunggal

Perhitungan Tulangan Tunggal


FxBxdx0.85 xF ' c
As =
fy
0.087 x 250 x80 x0.85 x186.7
=
3900
= 70.80
ρ min = 0,0025(untuk plat)
Asmin = ρ min xBxd = 0.0025x250x80 =50 cm2
Digunakan As dipasang diameter tulangan D25dengan jumlah tulangan
AØ= 0,25 xπxD =4.90 cm
Jumlah tulangan (As) = 70.80/4.90=15D25
Untuk tulangan atas (As) = 0,15% x B x d=7D25

Jika Dipergunakan Tiang Pancang Silinder Dengan Diameter 30 Cm


A = 0.25 x 3.14 x D2
= 0.25 x 3.14 x 30 x 30
= 706.5 m2
O = 3.14 x D
= 3.14 x 30
= 94.2 m
Daya Dukung Ijin :
Qc. A Tr.O
Qijn = +
3 10
225 x706.5 240 x94.2
= +
3 10
= 52987.5+2260.8
= 55248.3 Kg = 55.2483Ton
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Penghitungan Kebutuhan Jumlah Tiang


Jika jarak tiang ditentukan 3 D maka nilai efisiensi tiang kelompok adalah 0,7
Kapasitas Pijin dihitung dengan keruntuhan blok SF = 3
P
Maka jumlah tiang yang dibutuhkan adalah (n) =
Qijin.0,7
233.46
=
55.248 * 0,7
= 6.03Bh 6 bh
Distribusi Beban Kolom Ke Masing-Masing Tiang
Berdasarkan perhitungan diatas maka jumlah tiang yang dibutuhkan
adalah 6 buah Ø 30 maka desain pile cap dapat dipilih dengan susunan

1 2 3
90 150 Kolom 50 x 50
4 5 6

240

sumber : penulis
Sedangkan distribusi beban kolom ke masing-masing tiang dirumuskan
sebagai berikut ;
P My. X Mx.Y
± ± dimana Σx =3.24 m2
Qi =
n ( ) ( )
Σx 2 Σy 2

Σy =1.215 m2
Σx2 = jumlah kuadrat absis – absis tiang pancang
Σy2 = jumlah kuadrat ordinat – ordinat tiang pancang
n = jumlah tiang
x = absis terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang
y = ordinat terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

nx = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu x


ny = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu y

233.46 − 2,72. − 0,9 − 13,24.0.45


Q1= ± ±
6 (3.24) (1.215)
= 38.91+0.75-4.9
= 34.76T
233.46 − 2,72.0 − 13,24.0.45
Q2= ± ±
6 (3.24) (1.215)
= 38.91-4.9
= 34.01T
233.46 − 2,72.0,9 − 13,24.0.45
Q3= ± ±
6 (3.24) (1.215)
= 38.91-0.75-4.9
= 33.26 T
233.46 − 2,72. − 0,9 − 13,24. − 0.45
Q4= ± ±
6 (3.24) (1.215)
= 38.91+0.75+4.9
= 44.76 T
233.46 − 2,72.0 − 13,24. − 0.45
Q5= ± ±
6 (3.24) (1.215)
= 38.91+4.9
= 43.81T
233.46 − 2,72.0,9 − 13,24. − 0.45
Q6= ± ±
6 (3.24) (1.215)
= 38.91-0.75+4.9
= 43.06T
Menghitung Tinggi Pile Cap Dan Penulangannya
Untuk menghitung besarnya momen, geser satu arah dan geser pons
diperlukan data perhitungan sebagai berikut ;
Dimensi kolom = 50 x 50 cm
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Beban Aksial Kolom = 233.46 T


Mutu beton yang digunakan adalah beton bertulang mutu K 225 dan mutu
tulangan adalah Fy = 390 Mpa
Beban kolom ultimate Pult = 1.4x233.46
= 303.498
Beban per pile ultimate
Qu1= 1,4x34.76 = 48.66 T
Qu2= 1,4x34.01 = 47.61T
Qu3= 1,4x33.26 = 46.56T
Qu4= 1,4x44.76 = 62.66T
Qu5= 1,4x43.81 = 61.33T
Qu6= 1,4x43.06= 60.28T

Pengecekan Terhadap Geser Pons


Besarnya tinggi efektif (d) pile cap dicoba 75 cm
Vu Pons = Pu
= 303.498 T
Keliling bidang kritis geser pons(bo)
bo = 2(b+d)+2(h+d)
= 2(500+750)+2(500+750)
= 5000 mm
φ Vc pons = 0,6x0,33√f’cxboxd (Mpa)
=0.6x0.33√18.67x5000x750
= 3208253.059 N
= 320.825 T Vu Pons <φ Vc pons..OK!
Pengecekan Cek Terhadap Geser Lentur
Pengecekan terhadap geser lentur pada kasus ini tidak dilakukan karena untuk
d= 70 tiang pancang berada dalam bidang geser yang terbentuk
Maka tebal pile cap (th) = 75+15+selimut beton +0.5xφtul
Dipakai tebal pile cap 100 cm
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Perhitungan Tulangan Pile Cap


momen terhadap titik berat kolom
Mu=137.646 Tm = 13764600 kg.cm
B = 240 cm
D = 750 cm
F’c = 225 Mpa
Fy = 390 Mpa
Mencari nilai β1
Jika fc≤300 kg/cm2 maka β1= 0.85
fc>300 kg/cm2 maka β1= 0.85-0.0008 (fc-300)
jika nilai β1< 0,65 maka nilai β1= 0,65
untuk fc =225 maka nilai β1=0,85
Mu 13764600
Mn= = =17205750
0,8 0,8

Mn 17205750
K= = =0.080
Bxd x0,85 xfc 240 x75 2 x0,85 x186.7
2

F=1- 1 − 2k = 0.0834
β 1 x 4500 0.85 x 4500
Fmax= = =0.38
6000 + fy 6000 + 3900
F≤ Fmax Tul. tunggal

Perhitungan Tulangan Tunggal


FxBxdx0.85 xF ' c
As =
fy
0.0834 x 240 x75 x0.85 x18.67
=
3900
= 61.147 cm2
ρ min = 0,0025(untuk plat)
Asmin = ρ min xBxd = 0.0025x240x75 =45 cm2
Digunakan Asmin dipasang diameter tulangan D25 dengan jumlah tulangan
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

AØ= 0,25 xπxD =4.90cm


Jumlah tulangan (As) = 61.147/4.9=13D25
Untuk tulangan atas (As) = 0,15%xBxd=6D25

Jika Dipergunakan Tiang Pancang Silinder Dengan Diameter 35 Cm


A = 0.25 x 3.14 x D2
= 0.25 x 3.14 x 35 x 35
= 961.625 m2
O = 3.14 x D
= 3.14 x 35
= 109.9 m
Daya Dukung Ijin :
Qc. A Tr.O
Qijn = +
3 10
225.961.625 240.109.9
= +
3 10
= 72121.875+2637.6
= 74759.475 Kg = 74,759475Ton
Kebutuhan tiang pancang berdasarkan beban ultimit tiang (Pult)
P = 233.46T (data gaya reaksi SAP 2000)
Mx = -13.2491 Tm
MY = -2.72 Tm
Penghitungan Kebutuhan Jumlah Tiang
Jika jarak tiang ditentukan 3 D maka nilai efisiensi tiang kelompok adalah 0,7
Kapasitas Pijin dihitung dengan keruntuhan blok SF = 3
P
Maka jumlah tiang yang dibutuhkan adalah (n) =
Qijin.0,7
233.46
=
72.121 * 0,7
= 4.6 tiang = 5 tiang
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Distribusi Beban Kolom Ke Masing-Masing Tiang


Berdasarkan perhitungan diatas maka jumlah tiang yang dibutuhkan adalah ...
buah dengan dimensi 35 desain pile cap dapat dipilih dengan susunan

1 2 Kolom 50x50
3 220
75 4 5
s 1.41s s

Sedangkan distribusi beban kolom ke masing-masing tiang dirumuskan


sebagai berikut ;
P My. X Mx.Y
± ± dimana Σx = 2.19 m2
Qi =
n Σx 2 ( ) ( )
Σy 2

Σy = 2.19 m2
n = jumlah tiang
x = absis terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang
y = ordinat terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang
nx = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu x
ny = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu y
Σx2 = jumlah kuadrat absis – absis tiang pancang
Σy2 = jumlah kuadrat ordinat – ordinat tiang pancang

233.46 − 2,72. − 0,74 − 13,24.0,74


Q1= ± ±
5 (2.19) (2.19)
= 46.69+0.91-4.47
= 43.12 T
233.46 − 2,72.0,74 − 13,24.0,74
Q2= ± ±
5 (2.19) (2.19)
= 46.69-0.91-4.47
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

= 41.31T
233.46 − 2,72.0 − 13,24.0
Q3= ± ±
5 (2.19) (2.19)
= 46.69-0-0
= 46.69 T
233.46 − 2,72. − 0.74 − 13,24. − 0,74
Q4= ± ±
5 (2.19) (2.19)
= 46.69+0.91+4.47
= 52.072 T
233.46 − 2,72.0,74 − 13,24. − 0,74
Q5= ± ±
5 (2.19) (2.19)
= 46.69-0.91+4.47
= 50.25 T
Menghitung Tinggi Pile Cap Dan Penulangannya
Untuk menghitung besarnya momen, geser satu arah dan geser pons
diperlukan data perhitungan sebagai berikut ;
Dimensi kolom = 50 x 50 cm
Beban Aksial Kolom = 233.46 T
Mutu beton yang digunakan adalah beton bertulang mutu K 225 dan mutu
tulangan adalah Fy = 390 Mpa
Beban kolom ultimate Pult = 1.4x233.46
= 303.498
Beban per pile ultimate
Qu1= 1,4x41.91= 58.67 T
Qu2= 1,4x39.45= 55.23 T
Qu3= 1,4x38.91 = 55.87 T
Qu4= 1,4x53.93 = 75.5 T
Qu5= 1,4x51.47 = 72.05 T
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Pengecekan Terhadap Geser Pons


Besarnya tinggi efektif (d) pile cap dicoba 75 cm
Vu Pons = Pu
= 303.498 T
Keliling bidang kritis geser pons(bo)
bo = 2(b+d)+2(h+d)
= 2(500+750)+2(500+750)
=5000 mm
φ Vc pons = 0,6x0,33√f’cxboxd (Mpa)
=0.6x0.33√18.67x5000x750
= 3208253.059 N
= 320.825 T Vu Pons <φ Vc pons..OK!
Pengecekan Cek Terhadap Geser Lentur
Pengecekan terhadap geser lentur pada kasus ini tidak dilakukan karena untuk
d= 75 tiang pancang berada dalam bidang geser yang terbentuk
Maka tebal pile cap (th) = 75+15+selimut beton +0.5xφtul
Dipakai tebal pile cap 100 cm
Perhitungan Tulangan Pile Cap
momen terhadap titik berat kolom
Mu=110.662 Tm = 11066200 kg.cm
B = 220 cm
D = 75 cm
F’c = 225 Mpa
Fy = 390 Mpa
Mencari nilai β1
Jika fc≤300 kg/cm2 maka β1= 0.85
fc>300 kg/cm2 maka β1= 0.85-0.0008 (fc-300)
jika nilai β1< 0,65 maka nilai β1= 0,65
untuk fc =225 maka nilai β1=0,85
Mu 11066200
Mn= = =13832750
0,8 0,8
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Mn 13832750
K= = =0.07
Bxd x0,85 xfc 220 x75 2 x0,85 x186,7
2

F=1- 1 − 2k = 0.073
β 1 x 4500 0.85 x 4500
Fmax= = =0.38
6000 + fy 6000 + 3900
F≤ Fmax Tul. tunggal

Perhitungan Tulangan Tunggal


FxBxdx0.85 xF ' c
As =
fy
0.073 x 220 x75 x0.85 x186.7
=
3900
= 49.085 cm2
ρ min = 0,0025(untuk plat)
Asmin = ρ min xBxd = 0.0025x220x75 =41.25 cm2
Digunakan Asmin dipasang diameter tulangan D25 dengan jumlah tulangan
AØ= 0,25 xπxD =4.9 cm
Jumlah tulangan (As) = 49/4.9=10D25
Untuk tulangan atas (As) = 0,15%xBxd=5D25

Jika Dipergunakan Tiang Pancang Persegi dengan dimensi 20x20


A = S2
= 20x20
= 400 m2
O =4xS
= 4 x 20
= 80 m
Daya Dukung Ijin :
Qc. A Tr.O
Qijn = +
3 10
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

225 x 400 240.80


= +
3 10
= 30000+1920
= 31920 Kg = 31.920Ton
Kebutuhan tiang pancang berdasarkan beban ultimit tiang (Pult)
P = 233.46T (data gaya reaksi SAP 2000)
Mx = -13.2491 Tm
MY = -2.72 Tm
Penghitungan Kebutuhan Jumlah Tiang
Jika jarak tiang ditentukan 3 D maka nilai efisiensi tiang kelompok adalah 0,7
Kapasitas Pijin dihitung dengan keruntuhan blok SF = 3
P
Maka jumlah tiang yang dibutuhkan adalah (n) =
Qijin.0,7
233.46
=
31.920 * 0,7
= 10 tiang

Distribusi Beban Kolom Ke Masing-Masing Tiang


Berdasarkan perhitungan diatas maka jumlah tiang yang dibutuhkan adalah ...
buah dengan dimensi 35 desain pile cap dapat dipilih dengan susunan

1 2 3
160 kolom 50x50
4 5 6 7
8 9 10

230
Sumber : Suryolelono;1994
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Sedangkan distribusi beban kolom ke masing-masing tiang dirumuskan


sebagai berikut ;
P My. X Mx.Y
± ± dimana Σx = 3.24m2
Qi =
n ( ) ( )
Σx 2 Σy 2

Σy = 1.63 m2
n = jumlah tiang
x = absis terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang
y = ordinat terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang
nx = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu x
ny = banyak tiang pancang dalam satu baris dalam sumbu y
Σx2 = jumlah kuadrat absis – absis tiang pancang
Σy2 = jumlah kuadrat ordinat – ordinat tiang pancang

233.46 − 2,72. − 0,6 − 13,24.0,52


Q1= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346+0.5-4.22
= 19.622 T
233.46 − 2,72.0 − 13,24.0,52
Q2= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346-4.22
= 19.126T
233.46 − 2,72.0,6 − 13,24.0,52
Q3= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346-0.5-4.22
= 18.626 T
233.46 − 2,72. − 0,9 − 13,24.0
Q4= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346+0.75-0
= 24.096 T
233.46 − 2,72. − 0,3 − 13,24.0
Q5= ± ±
10 (3.24) (1.63)
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

= 23.346-0.25+0
= 23.596 T
233.46 − 2,72.0,3 − 13,24.0
Q6= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346-0.75-0
= 22.59 T
233.46 − 2,72.0,9 − 13,24.0
Q7= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346+0.75-0
= 24.096 T
233.46 − 2,72. − 0,6 − 13,24. − 0,52
Q8= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346+0.75+4.22
= 28.316 T
233.46 − 2,72.0 − 13,24. − 0,52
Q9= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346+0+4.22
= 27.566 T
233.46 − 2,72. + 0,6 − 13,24. − 0,52
Q10= ± ±
10 (3.24) (1.63)
= 23.346-0.75+4.22
= 26.816 T

Menghitung Tinggi Pile Cap Dan Penulangannya


Untuk menghitung besarnya momen, geser satu arah dan geser pons
diperlukan data perhitungan sebagai berikut ;
Dimensi kolom = 50 x 50 cm
Beban Aksial Kolom = 233.46 T
Mutu beton yang digunakan adalah beton bertulang mutu K 225 dan mutu
tulangan adalah Fy = 390 Mpa
Beban kolom ultimate Pult = 1.4*233.46
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

= 303.498
Beban per pile ultimate
Qu1= 1,4x19.622= 27.47T
Qu2= 1,4x19.126= 26.77 T
Qu3= 1,4x18.626 = 26.07 T
Qu4= 1,4x24.096 = 33.73 T
Qu5= 1,4x23.596 = 33.03 T
Qu6= 1,4x22..59= 21.626 T
Qu7= 1,4x24.096 = 33.73 T
Qu8= 1,4x28.316 = 39.64 T
Qu9= 1,4x27.566 = 38.59 T
Qu10= 1,4x26.816 = 37.53 T

Pengecekan Terhadap Geser Pons


Besarnya tinggi efektif (d) pile cap dicoba 75 cm
Vu Pons = Pu
= 303.498 T
Keliling bidang kritis geser pons(bo)
bo = 2(b+d)+2(h+d)
= 2(500+750)+2(500+750)
=5000 mm
φ Vc pons = 0,6x0,33√f’cxboxd (Mpa)
=0.6x0.33√18.67x5000x750
= 3208253.059 N
= 320.825 T Vu Pons <φ Vc pons..OK!
Pengecekan Cek Terhadap Geser Lentur
Pengecekan terhadap geser lentur pada kasus ini tidak dilakukan karena untuk
d= 75 tiang pancang berada dalam bidang geser yang terbentuk
Maka tebal pile cap (th) = 75+15+selimut beton +0.5xφtul
Dipakai tebal pile cap 100 cm
Perhitungan Tulangan Pile Cap
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

momen terhadap titik berat kolom


Mu=128.25 Tm = 12825000 kg.cm
B = 230 cm
D = 75 cm
F’c = 225 Mpa
Fy = 390 Mpa
Mencari nilai β1
Jika fc≤300 kg/cm2 maka β1= 0.85
fc>300 kg/cm2 maka β1= 0.85-0.0008 (fc-300)
jika nilai β1< 0,65 maka nilai β1= 0,65
untuk fc =225 maka nilai β1=0,85
Mu 12825000
Mn= = =16031250
0,8 0,8

Mn 16031250
K= = =0.078
2
Bxd x0,85 xfc 230 x75 2 x0,85 x186,7

F=1- 1 − 2k = 0.081
β 1 x 4500 0.85 x 4500
Fmax= = =0.38
6000 + fy 6000 + 3900
F≤ Fmax Tul. tunggal

Perhitungan Tulangan Tunggal


FxBxdx0.85 xF ' c
As =
fy

0.081x 230 x75 x0.85 x186.7


=
3900
= 57.1328 cm2
ρ min = 0,0025(untuk plat)
Asmin = ρ min xBxd = 0.0025x230x75 =43.125 cm2
Digunakan Asmin dipasang diameter tulangan D25 dengan jumlah tulangan
AØ= 0,25 xπxD =4.9 cm
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Jumlah tulangan (As) = 57.1328/4.9=12D25


Untuk tulangan atas (As) = 0,15%xBxd=6D25

II. PERHITUNGAN KOEFISIEN PENULANGAN PILE CAP (K 275)

Rekapitulasi Perhitungan Dimensi Dan Penulangan Pile Cap


Tebal n tiang PENULANGAN
No. Pondasi Dimensi
(th) (jmlh) Atas Bawah
1. Tiang pancang ∆ 32x32x32 100 9 250x250 15D25 7D25

2. Tiang pancang silinder Ø 30 100 6 240x150 13D25 6D25

2. Tiang pancang silinder Ø 35 100 5 220x220 10D25 5D25

2. Tiang pancang persegi 20x20 100 10 230x160 12D25 6D25

Tabel 1. Rekapitulasi Perhitungan


Sumber : analisa

Menghitung koefisien tulangan untuk penggunaan tiang silinder dengan


∆32x32x32 Berdasarkan perhitungan diatas diketahui ::
Dimensi pile cap : 250x250
Tulangan yang dipergunakan :15D25 & 7D25
Berat tulangan : Ø25 = 3.85 kg/m
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Jumlah tulangan atas =15x3.85=57.75 kg
Jumlah tulangan atas =7x3.85=26.95 kg
Tebal pile cap adalah 100 cm =0.5 m
1
Pembesian per 0.5 = x(57.75+26.95)
0.5
= 170 kg
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada pile cap pondasi tiang 32x32x32
Volume = 1x2.5 x 2.5 = 6.25 m3
250 Keliling = (2.5x2+2x2.5)x1 = 10 m’
1 1
per m3 = = =0.16
vol 6.25
Koefisien begesting = 0.16* 10= 1.600

Menghitung koefisien tulangan untuk penggunaan tiang silinder dengan Ø30


Berdasarkan perhitungan diatas diketahui :
Dimensi pile cap : 240x150
Tulangan yang dipergunakan :13D25 & 6D25
Berat tulangan : Ø25 = 3.85 kg/m
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Jumlah tulangan atas =13x3.85=50.05 kg
Jumlah tulangan atas =6x3.85=23.1 kg
Tebal pile cap adalah 100 cm =0.5 m
1
Pembesian per 0.5 = x(57.75+26.95)
0.5
= 146 kg

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada pile cap pondasi tiang Ø30
Volume = 1x 1.5 x 2.4 = 2,1 m3
240 Keliling = (2x2.4+1.5x2)x2.5 = 18.05 m’
1 1
per m3 = = =0.47
vol 2.1
150 Koefisien begesting = 0.47x 5= 3.7

Menghitung koefisien tulangan untuk penggunaan tiang silinder dengan Ø35


Berdasarkan perhitungan diatas diketahui :
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

Dimensi pile cap : 220x220


Tulangan yang dipergunakan :10D25 & 5D25
Berat tulangan : Ø25 = 3.85 kg/m

o Perhitungan Koefisien Tulangan


Jumlah tulangan atas =10x3.85=57.75 kg
Jumlah tulangan atas =5x3.85=26.95 kg
Tebal pile cap adalah 100 cm =0.5 m
1
Pembesian per 0.5 = x(57.75+26.95)
0.5
= 116 kg

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada pile cap pondasi tiang Ø35
Volume = 1x 2.2 x2.2 = 4.84 m3
100 Keliling = (2x2.2+2.2x2)x1 = 8.8 m’
1 1
per m3 = = =0.2
vol 4.84
Koefisien begesting = 0.2x 8.8= 1.80

Menghitung koefisien tulangan untuk penggunaan tiang silinder dengan


20x20 Berdasarkan perhitungan diatas diketahui :
Dimensi pile cap : 230x160
Tulangan yang dipergunakan :12D25 & 6D25
Berat tulangan : Ø25 = 3.85 kg/m
o Perhitungan Koefisien Tulangan
Jumlah tulangan atas =12x3.85=46.2 kg
Jumlah tulangan atas =6x3.85=23.1 kg
Tebal pile cap adalah 100 cm =0.5 m
Perhitungan Item Pekerjaan Pondasi

1
Pembesian per 0.5 = x(57.75+26.95)
0.5
= 137 kg

o Perhitungan Koefisien Begesting


Koefisien begesting pada pile cap pondasi tiang 20x20
Volume = 1x 1.6 x 2.3 = 3.68 m3
230 Keliling = ((1.6x2+(2.3x2))x2.5 = 7.8 m’
1 1
per m3 = = =0.27
vol 3.68
160 Koefisien begesting = 0.27* 7.8= 2.10