Anda di halaman 1dari 15

BAB II

LANDASAN TEORI

A. STRES

1. Definisi Stres

Lazarus dan Folkman (dalam Morgan, 1986) menyebutkan bahwa kondisi

fisik dan lingkungan sosial yang merupakan penyebab dari kondisi stress disebut

stressor. Hal ini sesuai dengan pendapat Berry (dalam Daulay, 2004) yang

menyatakan bahwa situasi, kejadian, atau objek apapun yang menimbulkan

tuntutan dalam tubuh dan penyebab reaksi psikologis dinamakan dengan stressor.

Berdasarkan pendapat kedua tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa

stressor merupakan sumber atau penyebab dari kondisi stres. Sedangkan stress

diartikan sebagai reaksi emosional, fisiologis, dan perilaku individu ketika

menghadapi ancaman fisik dan psikologis (Grunberg dalam Baron & Graziano,

1991). Pendapat ini diperkuat oleh Hans Selye (dalam Baron & Byrne, 2005) yang

menyatakan bahwa stress sebenarnya adalah kerusakan yang dialami tubuh akibat

berbagai tuntutan yang ditempatkan padanya atau adanya stimulus yang

berbahaya.

Baum (dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009) mengartikan stress sebagai

pengalaman emosional negatif yang diiringi dengan perubahan fisiologis,

biokimia, dan perilaku yang dirancang untuk mereduksi atau menyesuaikan diri

terhadap stressor dengan cara memanipulasi situasi atau mengubah stressor atau

dengan mengakomodasi efeknya.

Universitas Sumatera Utara


Menurut Atkinson (2000), stress mengacu pada peristiwa yang dirasakan

membahayakan kesejahteraan individu terhadap situasi respon stress, saat itu

individu dihadapkan pada situasi stress, maka individu akan bereaksi baik secara

fisiologis maupun psikologis. Selanjutnya Evans (dalam Thalib dan Diponegoro,

2001) mengartikan stress sebagai suatu situasi yang memiliki karakteristik adanya

tuntutan lingkungan yang melebihi kemampuan individu untuk merespon

lingkungan, dalam pengertian ini tidak hanya meliputi lingkungan fisik saja, tetapi

juga lingkungan sosial.

Stress adalah suatu keadaan psikologik yang tidak menyenangkan yang

disebabkan adanya interpretasi kognitif dan penilaian (appraisal) adanya

ancaman, karena ketidakseimbangan antara tantangan dan kemampuan diri

individu dalam menghadapi tuntutan tersebut (Thalib dan Diponegoro, 2001).

Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Lazarus (dalam Musbikin, 2005)

yang menganggap stress sebagai sebuah gejala yang timbul akibat adanya

kesenjangan antara realita dan idealita, antara keinginan dan kenyataan, antara

tantangan dan kemampuan, antara peluang dan potensi.

Lazarus (dalam Baron & Byrne, 2005) menyatakan bahwa stress adalah

peristiwa-peristiwa fisik maupun psikologis yang dipersepsikan sebagai ancaman

potensial terhadap gangguan fisik maupun distres secara emosional, singkatnya

stress adalah suatu peristiwa atau keadaan yang melampaui kemampuan individu

untuk mengatasinya (dalam Lahey, 2007).

Selanjutnya menurut Folkman (dalam Sarafino, 2006) stress adalah

kondisi yang timbul akibat interaksi individu dengan lingkungan, dimana individu

Universitas Sumatera Utara


mempersepsikan adanya ketidaksesuaian/kesenjangan antara tuntutan fisik/psikis

dari suatu situasi dengan sumber biologis, psikologis, atau sistem sosial individu.

Berdasarkan berbagai pendapat tokoh diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

stress adalah suatu keadaan yang timbul akibat adanya kesenjangan atau

ketidaksesuaian antara tuntutan internal individu dengan realita yang terjadi yang

dapat menimbulkan perasaan emosional negatif yang diiringi dengan perubahan

perilaku dan fisiologis.

2. Sumber Stres/Stressor

Sumber-sumber stress dapat berubah sesuai dengan perkembangan

individu, tetapi kondisi stress dapat terjadi setiap waktu sepanjang kehidupan

(Sarafino, 2006). Sumber-sumber stress disebut dengan stressor. Stressor adalah

bentuk yang spesifik dari stimulus, apakah itu fisik atau psikologis, menjadi

tuntutan yang membahayakan well being individu dan mengharuskan individu

untuk beradaptasi dengannya. Semakin besar perbedaan antara tuntutan situasi

dengan sumber daya yang dimiliki, maka situasi tersebut akan dipandang semakin

kuat menimbulkan stress (Passer & Smith, 2007).

Beberapa peristiwa lebih cenderung menimbulkan stres. Setiap kejadian

yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri, membuat perubahan atau

mengeluarkan sumber daya, berpotensi menimbulkan stres. Selain itu kejadian

yang menekan akan menimbulkan stres jika dianggap sebagai kejadian yang

menimbulkan stres, bukan sebagai yang lainnya (Taylor, dkk., 2009).

Kejadian yang tak dapat dikontrol atau tak terduga biasanya lebih membuat

stres ketimbang kejadian yang dapat diprediksi. Kejadian yang tak dapat dikontrol

Universitas Sumatera Utara


dan tak dapat diprediksi tidak memungkinkan orang untuk menyusun rencana

guna mengatasi masalah yang timbul (Bandura dalam Taylor, dkk., 2009).

Kejadian yang ambigu sering dianggap lebih membuat stres ketimbang

kejadian yang jelas. Stressor yang jelas akan memampukan seseorang untuk

mencari solusi (Billings dalam Taylor, dkk., 2009). Masalah dari suatu peristiwa

yang tidak bisa dipecahkan akan lebih membuat stres. Hubungan antara

pengalaman stres dengan respon psikologis yang buruk, seperti stres, perubahan

fisiologis, dan bahkan penyakit, mungkin berkaitan dengan problem atau kejadian

yang menekan yang tidak bisa dipecahkan oleh individu (Holman dalam Taylor,

dkk., 2009).

3. Penilaian Terhadap Stress

Lazarus dan Lazarus & Folkman (dalam Sarafino, 2006) menyatakan

bahwa secara umum stress memiliki proses penilaian yang disebut cognitive

appraisal. Cognitive appraisal adalah proses mental dimana individu menilai 2

aspek, apakah tuntutan mempengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya? Dan

apakah individu memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapi tuntutan

tersebut? Kedua aspek ini membedakan 2 tipe penilaian, yaitu :

a. penilaian individu mengenai pengaruh situasi terhadap well being individu,

yang disebut primary appraisal. Primary appraisal dapat menghasilkan 3

keputusan, apakah situasi yang dihadapi individu tersebut irrelevant, good

ataupun stressfull.

b. Penilaian sekunder (secondary appraisal), merupakan penilaian mengenai

kemampuan individu melakukan coping, beserta sumber daya yang

Universitas Sumatera Utara


dimilikinya, dan apakah individu cukup mampu menghadapi harm, threat,

dan challenge dalam peristiwa yang terjadi, mengevaluasi potensi atau

kemampuan dan menentukan seberapa efektif potensi atau kemampuan

yang dapat digunakan untuk menghadapi suatu kejadian.

Menurut Skinner (dalam Taylor, dkk., 2009) penilaian ini penting bagi

usaha untuk mengelola situasi yang menekan. Menilai kejadian sebagai tantangan

bisa menghasilkan upaya coping yang penuh percaya diri dan emosi positif,

sedangkan menganggap kejadian stressor sebagai ancaman dapat menurunkan

kepercayaan diri dalam melakukan coping dan menimbulkan emosi negatif.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Terhadap Stres

Menurut Lahey (2007) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi

reaksi terhadap stres, yaitu :

a. Pengalaman terdahulu dengan stres. Reaksi terhadap stres akan berkurang

jika individu telah memliki pengalaman sebelumnya dengan stres tersebut.

b. Faktor perkembangan. Efek dari stres tergantung pada level perkembangan

dari individu yang stres.

c. Dapat diprediksi dan dikontrol. Kejadian yang dapat diprediksi dan

dikontrol lebih dapat ditolerir tingkat stresnya daripada kejadian yang tidak

dapat diprediksi maupun dikontrol (Folkman dalam Lahey, 2007).

d. Dukungan sosial. Dukungan sosial merupakan kenyamanan secara fisik dan

psikologis yang diberikan oleh orang lain (Sarason dalam Baron & Byrne,

2005). Dukungan sosial merupakan hal yang bermanfaat tatkala individu

Universitas Sumatera Utara


mengalami stres (Frazier dalam Baron & Byrne, 2005). Sebagian alasannya

adalah karena berhubungan dengan orang lain adalah sumber dari rasa

nyaman ketika individu merasa tertekan (Morgan dalam Baron & Byrne,

2005).

Dukungan sosial dapat diberikan melalui beberapa cara. Pertama,

perhatian emosional yang diekspresikan melalui rasa suka, cinta, atau

empati. Kedua, bantuan instrumental, seperti penyediaan jasa atau barang

selama masa stres. Ketiga, memberikan informasi tentang situasi yang

menekan. Terakhir, informasi mungkin sangat membantu jika ia relevan

dengan penilaian diri. Buunk (dalam Taylor, dkk., 2009) menyatakan

bahwa dukungan sosial dapat berasal dari pasangan atau partner, anggota

keluarga, kawan, kontak sosial dan masyarakat, teman sekelompok, jamaah

gereja atau masjid, dan teman kerja atau atasan di tempat kerja.

Dukungan sosial mungkin paling efektif apabila ia ‘tidak kelihatan’.

Ketika individu mengetahui bahwa ada orang lain yang membantu, individu

tersebut merasa ada beban emosional, yang mengurangi efektifitas

dukungan sosial yang ia terima. Tetapi ketika dukungan sosial itu diberikan

secara diam-diam, maka ia dapat mereduksi stres dan meningkatkan

kesehatan (Bolger dalam Taylor, dkk., 2009).

e. Kognitif dan kepribadian. Sesuatu yang menimbulkan stres tergantung pada

bagaimana individu menilai dan menginterpretasikan suatu kejadian secara

kognitif. Pandangan ini telah dikemukan oleh peneliti bernama Lazarus

(dalam Lahey, 2007). Penilaian kognitif (cognitive appraisal) adalah istilah

yang digunakan Lazarus untuk menggambarkan interpretasi individu

Universitas Sumatera Utara


terhadap kejadian-kejadian dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang

berbahaya, mengancam, atau menantang dan keyakinan mereka apakah

mereka memiliki kemampuan untuk menghadapi suatu kejadian dengan

efektif.

Faktor-Faktor Kepribadian – Pola Tingkah Laku Tipe A (type A

Behavior Pattern) adalah sekelompok karakteristik – rasa kompetitif yang

berlebihan, kemauan keras, tidak sabar, mudah marah, dan sikap

bermusuhan – yang dianggap berhubungan dengan masalah jantung.

f. Gender dan etnis. Banyak wanita yang kuat dalam menghadapi stres dari

pengalaman trauma, dan banyak pria yang dibayang-bayangi secara serius

oleh pengalaman traumatis yang pernah mereka alami.

B. COPING STRESS

1. Definisi Coping Stress

Lazarus (dalam Taylor, dkk., 2009), coping adalah suatu proses untuk

menata tuntutan yang dianggap membebani atau melebihi kemampuan sumber

daya individu. Sedangkan coping menurut Lahey (2007) adalah suatu usaha yang

dilakukan individu untuk mengatasi sumber stres dan/atau mengontrol reaksi

individu terhadap sumber stres tersebut.

Coping disini mengacu pada usaha untuk mengontrol, mengurangi atau

belajar mentoleransi suatu ancaman yang bisa membawa seseorang kepada stress

(Baum dalam Baron & Graziano, 1991). Pandangan yang sama juga dikemukakan

oleh Taylor (dalam Baron & Byrne, 2005) yang menganggap coping sebagai cara

Universitas Sumatera Utara


individu untuk mengatasi atau menghadapi ancaman-ancaman dan konsekuensi

emosional dari ancaman-ancaman tersebut.

Menurut Stone dan Neale (dalam Daulay, 2004) coping meliputi segala

usaha yang disadari untuk menghadapi tuntutan yang penuh tekanan. Lazarus dan

Launiers (dalam Daulay, 2004) coping terdiri dari usaha-usaha, baik yang

berorientasi pada tindakan dan intrapsikis untuk mengatur (menguasai,

menghadapi, mengurangi atau meminimalkan) tuntutan lingkungan dan internal

serta konflik diantara keduanya.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa

coping stres adalah suatu upaya yang dilakukan individu untuk mengurangi

mentoleransi, atau mengatasi stress yang ditimbulkan oleh sumber stres yang

dianggap membebani individu.

2. Proses Coping Stres

Menurut Taylor (2009), proses coping melibatkan dua sumber daya

coping, yaitu sumber daya internal dan sumber daya eksternal. Sumber daya

internal adalah gaya coping dan atribut personal. Sedangkan sumber daya

eksternal meliputi uang, waktu, dukungan sosial, dan kejadian lain yang mungkin

terjadi pada saat yang sama.

Semua faktor ini saling berinteraksi dalam mempengaruhi proses coping

(Taylor, 2009). Di bawah ini dapat dilihat proses coping yang diungkapkan oleh

Taylor (2009).

Universitas Sumatera Utara


Sumber Daya Eksternal

Sumber daya Stressor lain


yang nyata, Dukungan seperti
seperti uang sosial gangguan
& waktu sehari-hari

Kejadian yang Respons coping Hasil coping-


membuat stress, Penilaian dan & strategi untuk fungsi fisiologis,
keadaannya, dan interpretasi atas memecahkan pemulihan
kemungkinan kejadian yang masalah & aktifitas semula,
antisipasinya di menekan pengaturan tekanan
masa depan emosi. psikologis.

Faktor personalitas
lain yang
Gaya coping biasa mempengaruhi
pemilihan respons
dan strategi coping

Sumber Daya Internal

3. Strategi Coping Stress

Lazarus (dalam Santrock, 2003) membedakan dua strategi coping, yaitu :

a. Menghilangkan stres dengan mekanisme pertahanan, dan penanganan yang

berfokus pada masalah, yaitu :

1). Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah

strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan

oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha

menyelesaikannya. Contoh :

Universitas Sumatera Utara


a) Membuat individu yang bersangkutan menerima tanggungjawab

untuk menyelesaikan atau mengontrol masalah yang menimbulkan

stress. Dengan merubah situasi dari masalah yang bersangkutan,

diharapkan efek stressnya juga akan menghilang.

b) Menyiapkan semacam rencana untuk menyelesaikan masalah

penyebab stress, dan mengambil tindakan untuk melaksanakan

rencana tersebut

2). Coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) adalah

untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon

terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan

menggunakan penilaian defensif. Dalam emotion focus coping ini

seseorang menghadapi stress dengan fokus kepada bagaimana menata

dirinya secara emosional sehingga siap menghadapi stress itu sendiri.

Beberapa contoh penerapan teknik emotion-focused coping antara lain:

a) Menerima simpati dan pengertian dari seseorang (teman, saudara

atau support group lainnya)

b) Mencoba untuk melihat sesuatu dari sisi lain (yang lebih positif)

b. Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar

1). Strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk

memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab

stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau

konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung

Universitas Sumatera Utara


2). Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif

untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha

yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar

dari penyebab stres.

C. CALON ANGGOTA LEGISLATIF

1. Definisi Calon Anggota Legislatif

Dalam Wikipedia (2009) disebutkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat

(DPR) merupakan lembaga perwakilan yang anggotanya dipilih melalui pemilihan

umum. DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Setiap rancangan

undang-undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan

bersama. Setiap anggota DPR mempunyai hak mengajukan pertanyaan,

menyampaikan usul dan pendapat serta hak imunitas. Anggota DPR berhak

mengajukan usul rancangan undang-undang. DPR memiliki fungsi legislatif,

fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Selain itu, DPR juga mempunyai hak

interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat. Dengan fungsinya sebagai

legislatif maka anggota DPR juga dikenal sebagai anggota legislatif.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2008 tentang

Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan

Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan bahwa yang

dimaksud dengan Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut Pemilu, adalah

sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum,

bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

Universitas Sumatera Utara


berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945 (KPU, 2009).

Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,

dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Pemilu untuk memilih anggota

Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota dalam

Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (KPU, 2009).

Mengingat bahwa anggota DPR dikenal juga dengan sebutan anggota

legislatif, maka dalam hal pemilu Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan

Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat disebut dengan pemilu

legislatif.

2. Syarat Menjadi Calon Legislatif

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2008 tentang

Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan

Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan syarat-syarat yang

harus dipenuhi oleh calon legislatif yaitu :

a. Warga Negara Indonesia yang telah berumur 21 (dua puluh satu) tahun

atau lebih;

b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

c. bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

d. cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia;

Universitas Sumatera Utara


e. berpendidikan paling rendah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA),

Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah

Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat;

f. setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17

Agustus 1945;

g. tidak pernah dijatuhi hukuman pidana penjara berdasarkan putusan

pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena

melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima)

tahun atau lebih;

h. sehat jasmani dan rohani;

i. terdaftar sebagai pemilih;

j. bersedia bekerja penuh waktu;

k. mengundurkan diri sebagai pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional

Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, pengurus pada

badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah, serta badan

lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan

dengan surat pengunduran diri dan yang tidak dapat ditarik kembali;

l. bersedia untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik,

advokat/pengacara, notaris, pejabat pembuat akta tanah (PPAT), dan tidak

melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan

keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik

kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota DPR,

Universitas Sumatera Utara


DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sesuai peraturan perundang-

undangan;

m. bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat-negara lainnya,

pengurus pada badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah,

serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara;

n. menjadi anggota Partai Politik Peserta Pemilu;

o. dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; dan

p. dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan.

Universitas Sumatera Utara


D. PARADIGMA PENELITIAN

Pemilu Legislatif
2009

Calon Legislatif
(Caleg)

Caleg Sukses Caleg Gagal

Kegagalan dipersepsikan
sebagai stressor; kejadian
yang membuat stres
Sumber daya
yang nyata,
seperti uang Penilaian dan
& waktu interpretasi thd
stressor

Sumber daya Dukungan Respon coping & strategi


eksternal sosial untuk memecahkan
masalah

Stressor lain Hasil dari


seperti gangguan Coping Stres
sehari-hari dan
persepsi
masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai