Anda di halaman 1dari 12

Analisis:

Krisis ekonomi global merupakan suatu masalah yang sangat berbahaya dalam
dunia perekonomian internasional. Masalah ini akan mengganggu sistem perekonomian
setiap negara di dunia (menghambat transakasi/kegiatan-kegiatan perekonomian suatu
negara) yang salah satu nya adalah kegiatan ekspor-impor.
Terkait dengan kegiatan ekspor-impor, dalam artikel diatas dikatakan bahwa
negara indonesia mengalami pasang surut selama tahun 2008 dan di akhir tahun
mengalami penurunan yang meskipun sedikit tetapi pemerintah harus tetap waspada
dengan keadaan seperti itu. Karena sewaktu-waktu, bisa saja terjadi penurunan yang
sangat drastis.
Untuk tetap mempertahankan tingkat ekspor indonesia, terdapat beberapa
kebijakan atau langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah yang
dikelompokkan dalam 3 bidang yaitu:

Pertama, meningkatkan akses pasar dengan meningkatkan peran sertaa di


berbagai fora internasional, seperti dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dalam
lingkup regional seperti ASEAN dan APEC, selain lingkup bilateral. Upaya ini lebih
bersifat meratakan jalan perdagangan luar negeri Indonesia, yang di lingkungan
Depperindag, dimotori oleh Direktorat Jenderal Kerja sama Industri dan Perdagangan
Internasional, mencakup ekspor maupun impor yang berpotensi menimbulkan masalah.

Kedua, peningkatan daya saing melalui berbagai kebijakan yang bersifat


memperlancar kegiatan ekspor dan impor di dalam negeri, yang pelaksanaannya dimotori
oleh Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri.

Ketiga, upaya promosi berbagai produk ekspor nonmigas antara lain melalui
berbagai kegiatan pameran di dalam dan luar negeri. Pelaksanaan kegiatan ini dimotori
oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional.

Selain dari ketiga bidang tersebut perlu juga dilakukan diversivikasi pasar yakni
sebagai upaya yang ditempuh dalam rangka lebih menganekaragamkan negara tujuan
ekspor guna mengkompensasi terjadinya perlambatan ekspor ke pasar tujuan ekspor
tradisional. Upaya ini biasanya dilakukan dengan mengadakan promosi yang lebih
diarahkan pada produk2 yang spesifik, melakukan pengiriman misi-misi dagang ke
negara negara tujuan ekspor.

Untuk melengkapi upaya peningkatan ekspor di atas, perlu juga ditingkatkan


informasi mengenai pasar bagi para eksportir yang antara lain melalui website BPEN dan
pelatihan bagi para eksportir
Upaya –upaya tersebut diharapkan mampu untuk meningkatkan nilai ekspor
indonesia jika dilakukan secara terkoordinasi.
Analisis:

Artikel diatas membahas mengenai beberapa produk air minum kemasan yang
aman dan tidak aman untuk dikonsumsi. Pembahsan ini tentunya memiliki keterkaitan
dengan perlindungan konsumen, yakni perlindungan secara hukum yang diberikan oleh
pemerintah guna melindungi konsumen dalam pemakaian barang dan jasa serta sebagai
usaha pengawasan agar produsen melakukan kegiatan produksinya sesuai dengan
standart yang telah ditentukan.

Terkait dengan hal yang dibahas dalam artikel tersebut, pemerintah beserta pihak-
pihak yang bertanggung jwab terhadap keamanan suatu produk air minum kemasan untuk
dikonsumsi, harus menetapkan suatu standart yang telah diakui oleh dunia internasional.
Akan tetapi tidak cukup sampai disitu saja, pemerintah juga harus melakukan
pengawasan secara berkesinambungan terhadap produsen-produsen yang bersangkutan
pada proses produksinya.
Hal ini perlu dilakukan agar konsumen terlindungi sesuai dengan tujuan
perlindungan konsumen yang tertuang dalam undang-undang no 8 tahun 1999 tentang
perlindungan konsumen yang salah satunya adalah menumbuhkan kesadaran pelaku
usaha mengenai pentingnya perlidungan konsumen, sehingga tumbuh sikap yang jujur
dan bertanggung jawab dalam berusaha dan juga untuk meningkatkan kualitas
barang/jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang/jasa, kesehatan,
kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen(juga meupakan salah satu asas
dalam perlindungan konsumen yaitu memberikan jaminan atas keamanan dan
keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang/jasa yang dikonsumsi/digunakan.
Dengan adanya undang-undang ini dan tentunya disertai dengan peran pemerintah
diharapakan mampu mewujudkan perindungan terhadpa konsumen dengan baik.
Analisis:

Terkait dengan artikel diatas, maka Pemerintah harus tanggap dalam membaca
kondisi perekonomian indonesia. Artinya bahwa pemerintah harus memperhatikan laju
inflasi dengan baik dan melakukan tindakan-tindakan awal sebagai upaya pencegahan
semakin meningkatnya angka inflasi.
Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi laju inflasi
yaitu:
1. Kebijakan Moneter yang adalah bertujuan untuk meningktakan pendapatan
nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar dalam masyarakat.
Kebijakan moneter ini bisa dilakukan dengan 3 cara yakni melalui Politik Diskonto
(menaikkan tingkat bunga bank), Politik Pasar Terbuka ( menawarkan surat
berharga ke pasar modal (SBI)) , dan meningkatkan Cash Ratio ( menaikkan
cadangan yang diwajibkan oleh bank sentral terhadap bank-bank umum) yang
besarnya tergantung keputusan dari bank central/pemerintah.
2. Kebijakn Fiskal (berhubungan dengan finansial pemerintah ) yang dilakukan
dengan mengurangi pengeluaran pemerintah dan menaikkan penerimaan pajak
(menaikkan tarif pajak)
3. Kebijakan Non-Moneter yang dilakukan dengan menaikkan hasil produksi,
menstabilkan upah, dan melakukan pengawasan harga dan distribusi barang.
Analisis:

Artikel ini membahas mengenai Gula Rafinasi yang beredar luas di pasaran.
peredaran gula ini secara meluas tentunya tidak diperbolehkan, karena Gula Rafinasi ini
hanya diperuntukkan bagi industri-industri makanan maupun farmasi (bukan untuk
dikonsumsi oleh masyarakat secara langsung). Oleh karena itu pemerintah perlu
mengawasi proses peredaran gula rafinasi tersebut dan juga memberikan sanksi yang
tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar syarat-syarat /prosedur dalam proses
distribusi gula rafinasi tersebut.
Distribusi gula rafinasi harus memenuhi lima syarat. Persyaratan itu sesuai
dengan penyempurnaan surat Menteri Perdagangan No.111/M-DAG/2/2009 tentang
Petunjuk Pendistribusian Gula Rafinasi.
Kelima syarat itu, yaitu pertama, distribustor ditunjuk resmi oleh produsen gula
rafinasi, distributor menunjuk sub distributor, serta nama distributor dan subdistributor
wajib disampaikan ke dinas yang bertanggung jawab di bidang perdagangan tingkat
provinsi.
Kedua, produsen, distributor, dan subdistributor menjual gula rafinasi langsung
ke industri, serta dalam kemasan karung dan tidak boleh kiloan.
Ketiga, kemasan gula rafinasi wajib mencantumkan produk gula kristal rafinasi
(GKR), hanya kebutuhan industri, Standar Nasional Indonesia (SNI), berat bersih, dan
nama produsen.
Keempat, mengenai kualitas GKR, harus sesuai dengan SNI. Yakni, mutu I
maksimal Icumsa 45 dan mutu II maksimal dengan Icumsa 80. Hal itu mengacu pada
Permen Perindustrian No.83/M-IND/PER/11/2008 tanggal 13 November 2008.
Kelima, industri harus menunjukkan kelengkapan dokumen agar dapat membeli
gula rafinasi. Antara lain, izin usaha untuk industri skala besar-menengah, Tanda Daftar
Industri (TDI) untuk industri skala kecil, dan surat keterangan dari RT/RW yang
diketahui dari industri kecil dan industri rumah tangga.
Analisis:

Pengangguran merupakan salah satu maslah klasik yang dihadapi oleh negara
indonesia sejak dulu dan belum berhasil mengatasinya secara tuntas sampai sekarang.
Pengangguran di indonesia sudah mewabah di seluruh pelosok negeri ini dan
menghambat perkembanagn perekonomian indonesia. Untuk mengatasinya diperlukan
kerjasama yag kuat antara pemerintah dengan masyarakat serta pihak-pihak penyedia jasa
lapangan kerja dan lain sebagainya. Ada beberapa hal yang dilakukan pemerintah untuk
mengatasi/mengurangi jumlah pengangguran di indonesia yaitu:
1. Menciptakan persaingan sehat dan peluang usaha yang seluas-luasnya
bagi pengusaha kecil dengan menyediakan jaminan pasar dan harga.
2. Menyediakan modal, yang mudah prosedurnya dan ringan
persyaratannya.
3. Menyediakan teknologi tepat-guna yang mudah digunakan dan
terjangkau kepemilikannya.
4. Memperbanyak program-program latihan dan pendidikan ketrampilan
serta manajemen.
5. Mendorong para petani , peternak dan nelayan membentuk lembaga
swadaya ekonomi yaitu koperasi
6. Meningkatkan kemitraan yang saling menguntungkan dengan
perusahaan negara dan swasta.
7. Meningkatkan kesadaran konsumen dalam negeri untuk mencintai dan
menggunakan produk-produk dalam negeri serta menganeka- ragamkan pilihan
pangannya.

Namun berbagai cara tersebut tidaklah cukup, karena lemahnya kemampuan


ekonomi dan managerial sebagian besar petani kita akibat krisis yang cukup lama. Oleh
karenanya perlu di kembangkan gerakan efisiensi nasional yang bertujuan untuk
membangkitkan Etos Kerja seluruh bangsa indonesia sehingga menjadi bangsa yang lebih
efisien dan produktif. Selain itu pemerintah juga perlu menjadikan pasar dalam negeri
sebagai pasar utama produk-produk pertanian indonesia.
Dengan terlaksananya kebijakan-kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi
penggangguran di indonesia dan mampu menciptakan manusia-manusia yang kompeten
dibidangnya.
Analisis:

Selain pengangguran, kemiskinan juga merupakan sebagai salah satu masalah


klasik yang dialami oleh bangsa indonesia. Kemiskinan dan pengangguran saling
memiliki keterkaitan satu sama lain. Dalam hal ini selain menghambat pertumbuhan
ekonomi, kemiskinan juga bisa menimbulkan kesenjangan sosial dalam masyarakat yang
berujung pada konflik.
Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk
menanggulangi kemiskinan.
Pertama, karena kemiskinan bersifat multidimensional, maka program
pengentasan kemiskinan seyogyanya juga tidak hanya memprioritaskan aspek ekonomi
tapi memperhatikan dimensi lain. Dengan kata lain, pemenuhan kebutuhan pokok
memang perlu mendapat prioritas, namun juga harus mengejar target mengatasi
kemiskinan nonekonomik. Strategi pengentasan kemiskinan hendaknya diarahkan untuk
mengikis nilai-nilai budaya negatif seperti apatis, apolitis, fatalistik, ketidakberdayaan,
dsb. Apabila budaya ini tidak dihilangkan, kemiskinan ekonomi akan sulit untuk
ditanggulangi. Selain itu, langkah pengentasan kemiskinan yang efektif harus pula
mengatasi hambatan-hambatan yang sifatnya struktural dan politis
Kedua, untuk meningkatkan kemampuan dan mendorong produktivitas, strategi
yang dipilih adalah peningkatan kemampuan dasar masyarakat miskin untuk
meningkatkan pendapatan melalui langkah perbaikan kesehatan dan pendidikan,
peningkatan keterampilan usaha, teknologi, perluasan jaringan kerja (networking), serta
informasi pasar.
Ketiga, melibatkan masyarakat miskin dalam keseluruhan proses penanggulangan
kemiskinan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi, bahkan
pada proses pengambilan keputusan.
Keempat, strategi pemberdayaan. Kelompok agrarian populism yang dipelopori
kelompok pakar dan aktivis LSM, menegaskan, masyarakat miskin adalah kelompok
yang mampu membangun dirinya sendiri jika pemerintah mau memberi kebebasan bagi
kelompok itu untuk mengatur dirinya.
Dalam kaitan ini, Ginandjar Kartasasmita menyatakan, upaya memberdayakan
masyarakat setidak-tidaknya harus dilakukan melalui tiga cara, yaitu (1) menciptakan
suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang dengan titik
tolak bahwa setiap manusia dan masyarakat memilki potensi (daya) yang dapat
dikembangkan, (2) memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat, dan (3)
memberdayakan pula mengandung arti melindungi. Untuk proyeksi ke masa depan
sangat dibutuhkan upaya yang lebih efektif dalam mengatasi kemiskinan.
Bantuan Langsung Tunai dana konpensasi BBM yang diberikan pemerintah
kepada masyarakat miskin adalah bias penanggulangan kemiskinan, karena dinilai hanya
akan menciptakan sindrom ketergantungan bagi masyarakat miskin. Sesungguhnya, BLT
hanya cocok diberikan bagi kelompok masyarakat yang tidak berdaya (disable group),
misalnya orang cacat dan jompo terlantar. Karena itu, menurut hemat penulis, BLT perlu
ditinjau kembali dan diubah menjadi BTL (Bantuan Tidak Langsung). BTL adalah
bantuan bukan dalam bentuk bagi-bagi uang tunai, melainkan bantuan program
pemberdayaan masyarakat miskin, misalnya, program peningkatan kemampuan dan
keterampilan kerja/usaha melalui pendidikan dan latihan-latihan kerja, perluasan jaringan
usaha (networking), dan informasi pasar, bantuan modal kerja. Tidak mudah memang
untuk melakukan semua ini, tapi dengan niat, tekad, komitmen, danpolitical will yang
kuat dari pemerintah dan kemauan yang serius dari masyarakat miskin sendiri, kiranya
dapat diwujudkan.
Analisis:

Indonesia merupakan negara yang banyak mengalami hambatan dan


permasalahan dalam berbagai bidang kehidupan baik politik, sosial ekonomi dan lain
sebagainya. Maslah ekonomi merupakan masalah yang tidak kunjung selesai dan sulit
untuk menemukan jalan keluarnya. Dimulai dari kemiskinan, pengangguran, korupsi dan
lain sebagainya. Namun demikian pemerintah tidak boleh lengah dan tetap harus
mengadakan tindakan-tindakan yang membawa ke arah perkembangan perekonomian.
Perkembangan perekonomian tentunya saling mempengaruhi dengan
pembangunan. Pembangunan infrasturktur, dan sarana maupun prasarana dalam bidang-
bidang kehidupan tentunya akan mendorong perkembangan tingkat perekonomian suatu
bangsa. Akan tetapi pembangunan tersebut juga harus dilakukan di semua daerah (tidak
terpusat hanya di satu daerah saja. Sebab ketimpangan pembangunan antar berbagai
daerah akan menjadi penghambat perkembangan ekonomi dan memungkinkan akan
terjadi konflik antar daerah.
Selain pembangunan infrastruktur tersebut, pemerintah juga harus mempunyai
strategi-strategi yang handal yang mampu untuk mendorong kehidupan perekonomian.
Dan strategi-stragtegi tersebut harus dilaksanakan secara berimbang, menyebar, terarah,
dan memuaskan sehingga semua kalangan masyarakat bisa merasakan dan
menikmatinya.
Analisis:

Artikel diatas membahas mengenai keadaan masyarakat yang terdapat di daerah


pertambangan yang memiliki angka kemiskinan tertinggi di indonesia. Hal ini tentunya
sangat ironis terutama bagi warga local daerah pertambangan tersebut. Mereka yang
seharusnya mendapatkan kehidupan yang berkecukupan (manfaat) dari kekayaan alam
yang terdapat didaerah mereka malah hidup berkekurangan dan cenderung memiliki
angka kemiskinan yang tinggi
Hal ini merupakan suatu paradoks industrialisasi pertambangan yeng terjadi di
Indonesia. Karena banyak daerah-daerah yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya
tetapi memiliki masyarakat yang miskin. Tingginya angka kemiskinan di daerah
pertambangan ini mengindikasikan adanya ketimpangan pengelolaan hasil. Kelompok
Selain itu aktivitas pertambangan ini juga sering mangakibatkan dampak negative
sosial seperti hilangnya mata pencaharian penduduk yang bergantung pada alam.
Meningkatnya potensi konflik maupun kelompok masyarakat yang terpaska tersingkir
dari tanah nya sendiri.
Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan suatu solusi dari pemerintah yakni
menata kembali industri pertambangan dengan lebih bijak yang menguntungkan bagi
masyarakat. Para industri pertamabangan harus lebih memperhatikan kehidupan
masyarakat sekitarnya. Dan selain itu penghasilan dari kegiatan perindustrian tersbut
sebaiknya dialokasikan sebagian untuk .pembangunan di sekitar daerah pertambangannya
baik pembangunan sarana ekonomi, pendidikan dan lain sekitarnya. Sehingga masyarakat
yang tadinya kehilangan mata pencharaian sebagai akibat dari aktivitas pertambangan
tersebut bisa kembali menata hidupnya dengan lebih baik dengan sarana –sarana tersbut.
Analisis:

Masalah pembatalan penerbangan seperti yang dilakukan oleh pesawat garuda


Indonesia dalam artikel tersebut merupakan hal yang sangat sering terjadi di Indonesia.
Pembatalan penerbangan yang telah dijadwalkan sebelumnya tentunya membawa
kerugian terhadap penumpang. Yakni berupa kerugian waktu dan lain sebagainya. Belum
lagi kalau penumpang tersebut hendak melakukan transaksi bisnis dengan klientnya. Hal
ini tentunya akan sangat mengganggu.
Pembatalan penerbangan seperti yang terjadi pada Garuda Indonesia ini
menunjukkan bahwa betapa buruknya sisitem penerbangan di Indonesia. Hal ini tentunya
akan memberikan pengaruh yang buruk terhadap perkembangan perekonomian dan
perkemabangan bidang kehidupan lainnya.
Oleh karena itu , pemerintah perlu membuat suatu aturan atau langkah bijak
terkait dengan masalah ini yakni langkah langkah yang lebih mengutamakan
perlindungan konsumen