Anda di halaman 1dari 182

(No.

1)
SEMBAHLAH ALLAH YANG MAHA MULIA
(O Worship the King =L.S. No.4)

Pengarang Naskah : Sir Robert G rant, 1779-1838


Penggubahan Lagu: J, Muchael Haydn, 1737-1806

Mazmur 47:7,8 Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi


Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi,
bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran!

Kata “sembah” atau “puja” berasal dari kata “Worship” sebagai ekspresi
susunan bahasa Inggris “Woerth-scipe” yang berarti memberi pujaan dengan rasa
hormat kepada oknum yang lebih tinggi dan berkuasa. Pujaan yang benar ialah
suatu tindakan seseorang yang telah ditebus, yaitu tindakan seorang ciptaan
terhadap Pencipta, di mana keinginan, intelek dan emosinya menyambut dengan
rasa syukur akan kasih karunia Allah melalui pekerjaan penebusan dari Yesus
Kristus, sementara Roh Kudus menerangkan Firman ke dalam hatinya.

Hymne ini untuk pertama kali di karang dan dipublikasikan di tahun 1833
dalam sebuah buku lagu berjudul Christian psalmody, merupakan salah satu lagu
terbaik di Era Romantik permulaan abad XIX. Seringkali disebut sebuah teladan
Hymne perbaktian, lagu ini melaui lirik-liriknya di tujukan bagi kemuliaan Yang
Mahabesar Tuhan. Masing-masing epitata diaplikasikan kepada Allah Raja,
Pelindung, Pembela, Yang Tidak Berkesudahan Hari, Pencipta, Juruselamat dan
Sahabat. Referensi lagi ini ditujukan bagi lambang kekuasaan, kekuatan, kasih
karunia, kepedulian dan kasih, diungkapkan dalam kefasikan bahasa dan
kehangatan rohaniah mengenai keagungan dan kelayakan Allah untuk menerima
puja dan puji.

Pengarang naskah lagu, Sir Rober Grant, lahir di Bengal, India tahun 1779
yang menjelaskan tentang dirinya sebagai “anak-anak debu yang lemah”,
walaupun dia sendiri termasuk salah seorang anggota keluarga politik tersohor di
Inggris. Ayahnya, Charles, adalah seorang pemimpin India dan Sirektur East India
Company. Robert sendiri juga anggota Parlemen Inggris asal Skotlandia dan untuk
beberapa waktu menjadi Gubernur Bombay, india tahau 1834. meskipun terlibat
dalam bidang politik, Rober Grant adalah seorang Kristen setia yang mendukung
sepenuhnya jangkauan keluar penginjilan gerejanya dan membuktikan kasihnya
kepada rakyat India oleh mendirikan sebuah perguruan tinggi kedokteran di
Bombay.
Tahun 1839, setahun setelah kematinnya di India, saudaranya yang bernama
Charles mencetak 12 syair karangan Robert dengan name Sacred Poems.
Meskipun sebagai dari syair pujian rohani ini diterima, hanya satu saja yang terus
digunakan dalam lagu pujian kita sekarang. Nada untuk syair “Lions”, pertama
muncul dalam jilid 2 “Sacred Melodies”nya William Gardiner di London tahun
1815 yang dipersembahan kepada J. Michael Haydn pengguba lagunya. Tahun
1818 di Amerika untuk pertama kali lagi ini dinyatakan dalam koleksi Sacred
Melodies oleh Oliver Shaw.

Statistik membuktikan bahwa gereja adalah tempat teraman:

20% dari semua kecelakaan fatal diakibatkan karena kecelakaan mobil;


17% karena kecelakaan di rumah;
14% karena yang terjadi bagi pejalan kaki di jalan;
16% kecelakaan dalam perjalan di udara, laut dan kereta api.
Namun dari sejuah kecelakaan yang mengakibatkan kematian, dilaporkan
hanya 0,001% terjadi di gereja saat kebaktian berlangsung. Tempat teraman
ialah tempat di mana terdapat para pemuja yang sementera berbakti memuji
Tuhan. Executive Speechwriter Newsletter, Vol. 8, No. 1.

Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang,
bahwa penyembahan-pemyembahan benar akan menyembah Bapa dalam roh
dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki pemyembahan-peyembahan
demikian. Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus
menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Bacaan tambahan: Mazmur 22:28-31; 104; 145: 1-13; I Timotius 6:15,16.

(No 2)
PERHUBUNGAN KITA
(Blest be the Tie that Binds = L.S. No. 7)

Pengaran Naskah : John Fawcett, 1740-1817


Pengubah Lagu : Hans G. Naegeli, 1773-1836

1 petrus 3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sakat,


seperasaan,mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,

John Rawcett lahir dari keluarga miskin di Lidget Green,Yorkshire, Inggris.


Ia bertobat pada usia 16 tahun melalui pelayanan George Whitrfiekd. Di usia 26
tahun ia diurapi menjadi pendeta Baptis dan mendapat panggilan melayani sebuah
gereja kecil di Wainsgate, Inggris Utara. Setelah beberap tahun melayani dengan
gaji kecil sedangkan anggota keluarganya semakin bertambah, John mendapat
panggilan untuk menjadi pendeta jemaat Baptist Carter’s Lane di London
menggantikan Dr Gill ysng tersohor itu.

Mendapat berita panggilan ini John segera menjawabnya dan bersiap-siap


untuk berangkat ke jemaat dengan gaji yang lebih besar di London. Sebaliknya
anggota jemaat Wainsgate yang telah begitu mencintai pendeta John Fawcett
sekeluaraga merasakan suatu kehilangan besar. Setelah semua barang dan perabot
rumah tangga dinaikan keatas kereta dan semua anggota berkumpul dengan wajah
sedih, Ny. Fawcett menarik tangan suaminya dan berkata: “John, apakah benar-
benar engkau telah mengambil keputusan untuk berangkat?” : Tentu”, jawab
suaminya. Isterinya kembali berkata: “Saya tidak sanggup tinggalkan jemaat ini
dengan anggotanya yang sudah sangat mengasihi kita dan pekerjaan Tuhan.” John
berkata: “Saya pun demikian. Saya telah bersalah kepada Allah karena terlalu
tergesa-gesa menjawab panggilan tersebut sebelum berdoa. Segera perintahkan
anggota-anggota membongkar lagi muatan itu dan saya akan mengirim berita ke
London, meminta agar kita tetap saja melayani di Wainsgate.

Dalam salah satu khotbahnya dengan ayat tema Lukas 12:15 “Jangan takut,
hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk diatas seekor anak keledai.”
John Fawcett membagikan syair lagu ini kepada anggota jemaat. Tahun 1782
syairnya dicetak pertama kali dengan judul “Kasih Persaudaraan” bersama dengan
koleksi 166 syair-syair lainnya. John Fawcett melayani jemaat Wainsgate lebih
dari 50 tahun dengan gaji hanya sekitar $200 setahun. Tidak lama kemudian ia
menjadi terkenal sebagai seorang pendeta dan sarjana. Pada tahun 1777 ia
memulaikan sebuah sekolah bagi pendeta-pendeta muda. Tahun 1793 ia diundang
untuk menjadi kepala sekolah Babtist Academy di Bristol, Inggris tetapi ia
menolak panggilan tersebut.

Ia menulis sejumlah buku dengan berbagai aspek ke Kristenan praktis yang


tersebar luas. Untuk pengakuan terhadap pelayanan dan apa yang telah ia capai,
Brown University di Amerika Serikat menganugerahkan kepadanya gelar Doctor
of Divinity di tahun 1811, juga ia mendapat penghargaan dari Raja George III. Dia
tetap melayani jemaat kecilnya di Wainsgate selama 54 tahun sampai penyakit
stroke menyerangnya dan ia meninggal dunia 25 Juli 1817. Kehidupan John
Fawcett dapat diceritakan sebagai sebuah teladan seorang pemimpin rohani dia
mengorbankan ambisi dan keuntungan pribadi demi pelayanan bagi Kristus.

Penggubah lagu ini adalah Hans G. Naegeli yang lahir 26 Mei 1773 dekat
Zurich, Swiss. Ia seorang penerbit musik dan lagu dan ketua Asosiasi Pengolah
Musik Swiss. Dia terkenal sebagai seorang pionir bidang musik. Metode
pengajarannya sangat berkesan dan berpengaruh kepada Lowell Mason, yang
disebut papa atau pendiri sekolah umum dan musik gerejani di Amerika Serikat.
Nada lagu “Dennis” yang bermula dari Swiss dibeli oleh Lowell Mason tahun
1837 ketika ia belajar di Eropa. Lagu ini mucul pertama kali dalam “The Psaltery”
yang diedit oleh Mason dan George J. Webb dengan catatan: “Gubahan dari H. G.
Naegeli”.

Besama Tennyson Ulysses kita dapat berkata: “Aku adalah bagian dari
semua yang tinggi, pertumbuhan, pemenuhan dan berkat. Hidup kita diberkati
dengan limpah oleh kasih dan dorongan orang lain. Sebagai anak-anak dari Bapa
Surgawi, kita diberkati oleh “persekutuan yang mengikat hati dalam kasih
keKristenan”. Di ikat dengan tali kasih, kita mendapatkan kekuatan untuk berdiri
teguh menghadapi ujian hidup.

Bacaan tambahan : 2 Korintus 8:4; Galatia 2:9; Pilipi 3:10; 2 Tesalonika


2:13-17; 1 Yohanes 1:3,6,7.

(No. 3)
YA ALLAH KOTA YANG TEGUH
(A Mighty Fortress Is Our God=L.S. No. 15)

pengarang Naskah : Martin Luther, 1483-1546


Penggubah Lagu : Martin Luther, 1483-1546
Alih Bahasa : Frederick H. Hedge, 1805-1890
Mazmur 46:2,3 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai
penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut,
sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;

31 Oktober 1517 merupakan penaggalan penting dalam sejarah Protestan.


Inilah harinya di mana Martin Luther, seorang biarawan Augustinian dan Profesor
theologia memakukan di pintu kathedral Wittenberg, Jerman, 95 thesis
(pengaduan) terhadap ajaran dan praktek gereja Roma Katholik abad pertengahan.
Peristiwa ini menandai lahirnya Reformasi Protestan abad XVI.

Gerakan Reformasi Protestan ini dibangun atas 3 prisip: (1) Pembinaan


kembali oleh Alkitab, (2) Menjelaskan arti keselamatan dan (3) Memulihkan
nyanyian berjemaat. 95 thesis atau pengaduan itu ditujukan kepada Gereja Roma
katholik, termasuk didalamnya mengenai penjualan surat pengampunan dosa yang
menjanjikan kelepasan dari api neraka kekal, kalau mereka menyumbangkan uang
untuk pembangunan Gereja St. Peter. Tindakan penuh keberanian ini memicu
reformasi berdasarkan ajaran dari otoritas Alkitab, pembenaran oleh iman, dan
keimamatan semua umat percaya. Semua ini membuat Luther dikucilkan oleh
Paus.

Dalam depresinya, Luther menulis hymne-hymne, menerjemahkan Alkitab


ke dalam bahasa rakyat dan memugar kembali nyanyi pujian oleh jemaat. Ia
bahkan mengijinkan para wanita menyanyi di umum, suatu kesempatan yang telah
dirampas dari wanita selama seribu tahun. Tanggal karangan dan gubahan lagu
oleh Martin Luther ini sukar ditentukan tetapi diyakini itu ditulis dan ditujukan
kepada Konvensi Spires tahun 1529 di mana kata “protestan” pertama kali
digunakan. Lagu ini menjadi kekuatan besar reformasi. Luther dikucilkan oleh
Paus yang membakar buku-buku karangannya. Luther juga membakar surat
keputusan Paus tersebut di umum.
Kehidupan Martin Luther penuh dengan tantangan dan pergumulan.
Kesusahan demi kesusahan menimpa dirinya. Tetapi ia teringat akan kata-kata
Yesus ketika tergantung di salib: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-
ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Dia sadar bahwa kata
seruan yang pertama keluar dari bibir Yesus ialah “Allah-Ku” yaitu suatu
penegasan iman. Dan Martin Luther yang telah memberikan Alkitab dalam bahasa
Jerman kepada bangsanya, sekarang menciptakan lagu untuk dinyanyikan bukan
hanya oleh para biduan gereja tetapi oleh seluruh anggota jemaat. Kemudian lagu
tersebut diterjemahkan oleh Frederick Hedge tahun 1853.
Tahun 1529 merupaka tahun yang sukar dan gelap bagi Martin Luther. Ia
diserang penyakit, keputus-asaan dan bahaya. Dalam masa itu ia berpaling ke
mazmur 46 yang telah merupakan penghiburan besar baginya. Ia ulang-ulangi
kata-katanya dalam ayat pertama yang daripadanya ia mendapatkan kekuatan.
Dengan kata-kata lagu yang membakar jiwanya, ia bertekad terus maju. Lagu ini
dinyanyikan pada upacara penguburan Martin Luther. Teguh bagaikan
pengarangnya, lagu ini merupakan klasik besar iman kita. Kita mungkin saja tidak
mengetahui atau mengalami tantangan seru seperti yang dialami Luther. Tetapi
kita dapat mengenal Allah yang sama sebagai tempat berlindung dan kekuatan,
yang bagi kita adalah “Kota Yang Teguh”.

Bacaan tambahan : Ulangan 33:27; 2 Samuel 22:2; Mazmur 46; Yesaya


26:4.

(No.4)
TUHAN SELALU PIMPIN AKU
(All The Way My Saviour Leads Me=L.S. No. 17)

Pengarang Naskah : Fanny J Crosby, 1820-1915


Penggubah Lagu : Robert Lowry, 1826-1899

Mazmur 48:15 Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan
untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!

Seringkali kita merasa kecewa karena kita tidak melihat rencana jangka
panjang Allah dalam menuntun hidup ini. Kita harus sadar bahwa Allah telah
berjanji untuk menuntun setiap langkah kita dan bukan hanya setiap mil
perjalanan. Mazmur 37:23 Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang
hidupnya berkenan kepadaNya; Fanny Jane Crosby lahir dari keluarga sederhana
di Southeast, New York, 24 Maret 1823. dia menjadi buta pada usia 6 minggu
karena malpraktek dokter. Seumur hidupnya dia menjadi anggota setia dari gereja
St. John Methodist Episcopal di kota New York. Dia belajar di New York School
for the Blind. Dari tahun 1847-1858 ia menjadi guru di sekolah tersebut dan di
tahun 1858 menikah dengan seorang musisi buta bernama Alexander Van Alstyne,
seorang guru musik terhormat di Institusi orang buta.

Mula-mula ia menulis lirik-lirik sajak lagu sekuler. Salah satu lagu


terkenalnya: “Rosalie, The Prairie Flower” yang menghasilkan royalty atau uang
hak paten hampir 3.000 dollar, suatu jumlah sangat besar saat itu. Melalui
pengaruh seorang musisi gereja bernama W.B Bradbury, maka Fanny di usia 40-an
mulai menulis dengan tekun lirik-lirik lagu gospel. Dikatakan bahwa Fanny
Crosby tidak pernah menulis sebuah teks lagu tanpa berdoa memohon petunjuk
Ilahi. Selama karirnya ia didampingi para musisi gereja terkenal seperti: Ira D.
Sankey, William H Doane, John Sweney, George Stebbins, George Root, William
Kirkpatrick, dll.

Lagu ini merupakan ekspresi sukurnya kepada Allah atas jawaban doa.
Dilaporkan bahwa pada suatu hari Fanny Crossby sangat membutuhkan 5 dollar
dan seperti biasanya dia berdoa untuk mendapatkannya. Tidak lama kemudian
seorang asing muncul di rumahnya dengan membawa 5 dollar. Kata Fanny : “saya
tidak dapat berbuat lain kecuali bersyukur kepada Tuhan dalam jawaban doa saya
dimana Ia menggerakan hati orang baik ini untuk memberikan uangnya. Segera
saya menulis liriknya dan Dr. Lowry menggubah musiknya.” Lagu ini pertama
kali muncul dalam koleksi lagu-lagu sekolah minggu, Brighest and Best, yang
dikompilasi William H Doane dan Robert Lowry.

Bacaan tambahan : Mazmur 32:8; Yohanes 10:3-5; Roma 8:28; I Korintus


10:4.

(No. 5)
YESUS TERINDAH
(Fairest Lord Jesus = L.S No. 19)

Naskah dari : Munster Gesangbuch, 1677


Lagu dari : Schlesische Volkslieder, 1842
Digubah oleh : Richard S. Willis, 1819-1900

Kolose 1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di
dalam sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan,
baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala
sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Lagu indah ini menyanjung keindahan dan keagungan Kristus yang
menuntun kita untuk memuja dan memuji kesucian Tuhan kita Yesus Kristus.
Perbandingan yang cerah atas semua pemandangan alam dengan Yesus, yang
menjadi sumber keindahan dan keharuman, membuat kita terpesona bersama rasa
kagum. Dan kepada kita diingatkan bahwa Juruselamat bersinar lebih terang dari
semua mahluk Tuhan termasuk malaikat. Betapa berlayaknya Dia untuk
mendapatkan “kemuliaan dan hormat, puji dan puja, sekarang sampai selama-
lamanya.”

Sedikit sekali diketahui tentang asal asul lagu inspirasi ini. Beberapa orang
berpikir bahwa lagu ini dinyanyikan pada abad XII oleh para prajurit Perang Salip
asal Jerman ketika mereka manadakan perjalanan yang melelahkan dan berbahaya
ke Tahan Suci. Sumber lain mengatakan perjalanan yang melelahkan dan
berbahaya ke Tanah Suci. Sumber lain mengatakan bahwa ini adalah salah satu
lagu yang yang diusir keluar dari Bohemia dalam pembersihan berdarah anti-
reformasi tahun 1620. Mereka memetap si Silesia, bagian dari Polandia. “Yesus
Terindah” dipikirkan sabagai lagu rakyat yang berasal dari para petani Silesia.
Ayat ke-empat merupakan terjemahan indah dari Joseph A, Seiss menekankan
tentang dua sifat Yesus-: Anak Allah dan Anak Manusia” –sama seperti pujaan
yang selama-lamanya menjadi hak-Nya.

Maskah lagi ini untuk pertama kali terbit dalam Munster Gesangbuch gereja
Roma Katholik tahau 1677 ketika dicetak sebagai nomor 1 dari 3 lagu baru yang
terpilih sabagai lagu-lagu terindah. Kemudian seorang yang bernama Hoffman
Fallersleben mendengar para penyanyi Silesia menyanyikannya di gereja, ia
mencatat kata dan musiknya dan menerbitkannya dalam Schlesische Volkslieder
tahun 1842. Tidak seorang pun tahu siapa yan menerjemahkannya tetapi adaptasi
ke dalam bahasa Inggris di buat oleh Richhar Storrs Willis, lahir di Boston,
Mussachestts, 10 Pebruari 1819, yang menerbitkannya dalam buku lagu Church
Choralas and Choir Studies, tahun 1850.

Bacaan tambahan : Yohanes 1:1,3,14; 5:23; 20:31; Philip 2:9-11; Kolose


1:13, 15; 2:9; Ibrani 1:2,3.

(No.6)
SUCI, SUCI, SUCI
(Holy, Holy, Holy=L.S. No 21)

Pengarang Naskah : Teginald Heber, 178301826


Penggubah Lagu : John B. Dykes, 1823-1876

Mazmur 95:6,7 Masuklan, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan


TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat
gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini,
sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

Reginald Heber lahir di Cheshire, Inggris, 21 April 1783, dari keluarga


berpendidikan yang kaya. Pada usia 17 tahun ia mendaftar di Oxford University, di
mana kesarjanaan dan kesanggupan menulisnya sangat dihargai. Setelah diurapi
menjadi pendeta Gereja Anglikan, ia melayani sebuah gereja terpencil di desa
Hodnet, Inggris selatan selama 16 tahun. Selama itu ia dikenal dan dihormati
sebagai seorang yang berbudi halus dengan kharakter Kristiani yang agung. Ia juga
terkenal dengan penulisan syair, esai dan lagu dalam beberapa majalah.

Pada tahun 1823, 3 tahun sebelum kematiannya di usia 43 tahun, Heber


dikirim sebagai uskup di Kalkuta. Tekanan pekerjaan dan iklim lembab terlalu
berat baginya. Pada suatu pagi hari Miggu setelah berkhotbah di lapangan terbuka
kepada sejumlah besar orang India, dia menderita hantaman panas matahari, jatuh
sakit dan meninggal dunia. Setahun setelah kematiannya, isterinya mengumpulkan
57 lagu pilihan karangannya dan dicetak.

Lagu ini ditulis Heber khusus untuk liturgy mengenai Trinitas.


Penekanannya adalah untuk memuja Tuhan, Allah Tritunggal. Nada lagunya untuk
pertama kali di sebut “Nicaea”, menurut nama Konsili di Nicaea di Asia Kecil
tahun 325 AD. Di Konsili inilah doktrin Trinitas diteliti dan dan diakui sebagai
doktrin penting iman Kristiani. Pada tahun 1861 nada lagu ini digubah khusus oleh
salah seorang musisi Inggris terkenal, Dr.John Bacchus Dykes. Penggubah ternama
ini telah menyumbang sekitar 300 nada lagu, sebagian besar masih tetap digunakan
sampai sekarang.

“Perbaktian adalah menghidupkan suara hati oleh kekudusan Allah,


memberi makan pikiran dengan kebenaran Allah, memurnikan angan-angan oleh
keindahan Allah, membuka hati bagi kasih Allah, dan mengabdikan kuasa
kehindak untuk digunakan oleh Allah.”- William Temple

“Kata ‘suci’ dibahas sebanyak 900 kali dalam Alkitab. Pertama kali itu
ditemukan dalam buku Kejadian ketika Allah menciptakan semesta alam, langit
dan bumi. Kata itu juga ditemukan dalam fatsal terakhir buku Wahyu ketika Allah
menciptakan langit dam bumi baru. Kita mendapatkan kata “kesalehan” dan:
penyucian” dari akar kata yang sama. Semua terminologi ini menyatakan ide
mengenai “menyisihkan atau mengkhususkan sesuatu.” Sama seperti spektrum
semua warna warni yang bersatu menghasilkan warna putih, sedemikian pula
semua sifat Allah menjadi satu dalam kesucian-Nya.”- Jim Killiom, “Set Apart.”

Bacaan tambahan : Mazmur 145:8-21; Yesaya 6:3; Wahyu 4:5-11;5:13

(No.7)
IMAN ORANG SALEH KEKAL
(Faith of Our Father= L.S.No 24)

Pengarang Naskah : Frederick W. Faver, 1814-1863


Penggubah Lagu : Henri F. Hemy, 1818-1888
Diadaptasi oleh : James G. Walton. 1821-1905

Yudas 1:3 Saudara –saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-


sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku
merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihatkan kamu,
supaya kamu tetep berjuang untuk memepertahankan iman yang telah
disampaikan kepada orang-orang kudus.

Ibrani pasal 11 diberi julukan “panggung iman Kristiani yang gagah berani”,
suatu riwayat menggetarkan dari mereka yang sedia memberikan segalanya demi
memepertahankan iman mereka kepada Allah. Di setiap abad selalu saja terdapat
mereka yang mati sahid, yang diperkirakan sejak penyalipan Kristus sudah lebih
dari 50 juta orang. Bahkan dalam kultur peradaban modern inipun banyak yang
menderita dan mati karena iman dan pengakuan mereka akan Kristus sebagai
Juruselamat dan Tuhan.

Lagu “Iman Orang Saleh Kekal” ini tanpa diragukan merupakan lagu
mengenai para pimpinan gereja Roma Katholik yang mati shaid selama abad XVI
saat pemerintahan Raja Hendri VIII. Saksi mata mengatakan bahwa raja
menyembelih para martir termasuk orang terkenal, Thomas More. Pengarang
naskah adalah Frederick Willian Faber, lahir 28 Juni 1814 di Calverly, Yoskshire,
Inggris dan dibesarkan dengan ketat sebagai sorang Calvinis oleh si ayah yang
pendeta. Setelah tamat dari Oxford University tahun 1843, ia menjadi pendeta
sebuah jemaat kecil di Elten, Inggris.

Semasa muda ia menentang keras ajaran gereja Roma Katholik (RK) dan
saat itu sebuah gerakan yang disebut Oxford atau Tractarian Movement sangat
mempengaruhi gereja Anglikan. Dari 1833-1850 Oxford Movement ini dengan
gigih memimpin keagamaan di Inggris di mana saat itu banyak pimpinan gereja
Anglikan berpindah ke RK dan yang lainnya mendirikan Anglo-Catholics. Faber
setelah melayani 3 tahun sebagai pendeta Anglikan berpindah ke gereaja RK dan
terkenal sebagai Father Wilfrid.

Syair lagu ini di tulis Feber untuk memperingati para pemimpin gereja RK
yang mati syahid selama pemerintahan raja Henry VIII saat berdirinya gereja
Anglikan di Britania Raya. Naskahnya pertama kali terbit dalam koleksi Feber
berjudul Jesus and Mary; atau Catholic Hymns for Singing and Reading. Nada
lagunya terkanal sabagai “St, Catherine Tune”, digubah oleh seorang RK tekanal
benama Henri Hemy, lahir 12 November 1818 di Castle-Upon-Tyne, Inggris. Dia
seorang organis dan pengguah lagu tekenal yang di tahun 1864 menyusun buku
lagu Katholik berjudual Crown of Jesus. James G. Walton mengadaptasi lagu ini
dan menggunakannya dalam koleksi Plain Song Musik for the Holy Communion
Office, di cetak tahun 1874.

3 stansa yang terdapat dalam buku Lagu Sion kita menjadi sangat hidup bagi
kebaktian evangelikal. Ini dapat ditafsirkan sebagai suatu tantangan bagi
komitmen dan loyalitas kita kapada Injil Yesus Kristus bahwa kita tidak akan
menyangkal iman bahkan “jikalau dibunun pun, sungguh mulia kematiannya”.
Semoga kita tetap setia terhadap iman para leluhur dan semua yang telah
tinggalkan pada kita warisan iman yang sangat berharga.

Pada tahun 1968, pesawat angkasa luar “Eagle” mendarat di bulan dan
memasang Tranquility Base. Neil Armstrong mendaratkan pesawatnya dengan
bahan bakar yang habis dalam waktu 11 detik, dan ia lakukan itu dengan tenaga
mesin computer yang sangat minim. NASA membuktikan prinsip Alkitab bahwa
anda dapat memiliki kedamaian di tengah-tengah kekacauan. Para ahi samudera
mengatakan bahwa tempat yang tenang di laut terdapat pada kedalaman di bawah
25 kaki dari permukaan air laut. Walapun tejadi topan di atas laut, selalu terdapat
ketenangan di bagian yang paling dalam. Orang Kristen mendapatkan kedamaian
pada kedalaman iman yang stabil. “The Innovating Man,” – Tony Evans,
Innovative Church Growth Comference, 1994.

Bacaan tambahan : Mazmur 22:4,5; I Timotius 6: 13,14; 2 Timotius 4:7;


Ibrani 11.

(No. 8)
JIKA KU KENANGKAN TUHAN
(Jesus, the Very Thought of Thee= L.S. No 25)
Pengarang Naskah : Bernard of Clairvaux, 1090-1153
Penggubah Lagu : John B. Dykes, 1823-1876
Alih Bahasa : Edward Caswall, 1814-1878

Mazmur 42:2,3 Seperti rusa yan merindukan sungai yang berair, demikianlan
jiwaku merinduakan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada
Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

Syair ini muncul pada puncak Abad Pertengahan yang disebut “Abad
Kegelapan” yaitu kegelapan rohani dan moral gereja. Gereja yang ditemukan
Kristus 1.000 tahun sebelumnya, sekarang telah sangat merosot dan tidak murni.
Standart moral beberapa pimpinan gereja terkenal telah membuat aib yang
memalukan.

Benard lahir dari kelurga terhormat di Fontaine, Burgundy, Perancis.


Ayahnya seorang ksatria dan ibunya seorang yang bercahaya dengan ekebaikan.
Sejak muda Bernad telah menunjukan kesalehan dan kesederhanaannya meskipun
kesempatan banyak dia peroleh untuk suatu kehidupan sekuler. Di usia 20-an ia
menjadi biarawan di biara Citeaux. Dalam waktu 3 tahun personalita, talenta dan
kwalitas kepemimpinan sudah terlihat. Ia diminta membuka cabang biara di
berbagai tempat dan selama hidupnya telah membuka 162 biara baru. Salah satu
biara terdapat di Clairvaux, Perancis di mana Bernard berkediaman sampai
meninggal dunia di tahun 1153.

Pada abad 16 Marthin Luther menulis mengenai Bernard bahwa “ia adalah
biarawan terbaik yang pernah hidup, yang saya sangat hormati melebihi gabungan
sumua biarawan.” Pengaruhnya terasa di seluruh Eropa dan ia dapat mengatur
raja, kaisar dan uskup untuk menurut. Ia menuliskan banyak buku berhubungan
dengan gerejani, kebiaraan, dan topik-topik gerejani lainnya. Ia juga menulis 196
baris syair berjudul “Delcis Jesu Memorial” (“Joyful Rhytm on the Name of
Jesus”).

Dari syair tersebut Edward Caswall di abad XIX menerjemahkannya untuk


lagu ini. Edward Caswall tekenal sebagai penerjemah lagu-lagu purba. Ia lahir di
Yately, Hampshire, Inggris pada 15 juli 1847. ia menjadi pastor gereja Anglikan
dan turut terlibat dalam Oxford Movement. Tahun 1847 ia meninggalkan gereja
Anglikan dan bergabung dengan gereja RK ia telah menyalin lebih dari 197 lagu
Latin. Nada lagu ini, “St. Agnes” digubah oleh John B. Dykes yang juga telah
menggubah 300 nada lagu lainya.

Walaupun kita tidak lagi hidup di abad kegelapan, sekarang kita berada di
antara kekacau-balauan dunia. Namun di tengah-tengah kekacauan dan
kebingungan ini kita perlu merenungkan kekudusan, kasih dan keindahan Yesus
agar hidup kita diisi dengan keharuman dan sukacita kehadiranNya. Beberapa
abad lalu seorang bijaksana menulis: “Sebab seperti orang yang membuat
perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”Amsal 232:7. Biarlah kita
bermeditasi dan memikirkan lebih banyak mengenai Kristus dan menjadi semakin
hari semakin seperti Dia.

Bacaan tambahan : Mazmur 66:2; 130:7; Yeremia 17:7; Efesus 3:19.

(No.9)
BRIKANLAH, YA TUHAN
(Break Thou the Breat of life= L.S. No 29)

Pengarang Naskah : Mary Ann Lathbury, 1841-1913


Penggubah Lagu : William F. Sherwin, 1826-1888
Yohanes 6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa
datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-
Ku, ia tidak akan haus lagi.

Sebagai orang Kristen, kegiatan terbesar kita adalah selalu bersama dengan
Kristus-bukan hanya dengan jemaat kita. Denominasi atau sistem keagamaan kita.
Menyelidik Alkitab dan menggunakan waktu untuk berdoa sangat vital bagi
kekuatan rohani. Walaupun lagu ini sering digunakan dalam pelayanan perjamuan
kudus, inti ajarannya ialah bahwa Firman Allah merupakan Roti Hidup, harus
memupuk kehidupan rohani kita dan membawa kita semakin erat dalam hubungan
dengan Tuhan kita.

Nn. Lathbury dalam kemampuannya bertugas sebagai editoral membantu


pendeta John H. Vincent, Sekretaris Uni Sekolah Minggu gereja Methodist.
William F. Sherwin, directur musik dan pembantunya George Stebbins tidak
pernah bermimpi bahwa perkemahan musim panas tahun 1877 itu merupakan
salah satu perkemahan yang sangat mengesankan dalam kehidupan mereka. Atas
permohonan pendeta Vincent, Nm. Lathbury menulis kata-kata sebuah lagu indah
berjudul “Matahari Terbenam” yang dengan cepat lagunya digubah oleh Sherwin.

Karena mereka juga mensponsori sebuah kelas studi Alkitab, maka kembali
Nn. Lathbury pembantu dalam perkumpulan Chautauqua, sebuah perkemahan
Methodist terletak di danau Chautauqua yang indah di New York diminta unuk
menulis kata-kata lagu baru untuk digunakan sebagai lagu thema Konferensi Studi
Alkitab. Musiknya di gubah oleh direktur musik bertalenta, William F. Shrwin.
Sejak itu lagu “Brikanlah Ya Tuhan” digunakan seterusnya di perkemahan-
perkamahan, sebagaimana oleh orang Kristen lainnya di seluruh dunia.

Meskipun lagu ini banyak kali digunakan dalam upacara Perjamuan Kudus,
itu tetap berada dalam kolom “Kitab Kudus”. Dan sampai sekarang menjadi lagu
favorit jutaan orang yang mengasihi dan mempelajari Alkitab.

Bacaan tambahan : Mazmur 63:1; 119:45; Yeremia 15:16; Matius 14:13-21.

(No.10)
RAJA KEKAL, PIMPINLAH
(Lead on, O King Eternal= L.S No. 30)
Pengarang Naskah : Ernest W. Shurtleff, 1862-1917
Penggubah Lagu : Henry Smart, 1813-1879

2 Timotius 4:7,8 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah
mencapai garis akhir dan aku teleh memelihara iman. Sekarang telah tersedia
bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan,
Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga
kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

53 tahun setelah Henry Smart memberi nada sebuah lagu di Inggis, seorang
tamatan Seminari Theologia di Amerika menulis syair bagi lagu tersbut.
Keduanya telah menulis bertahun tahun, tinggal dalam jarak bemil-mil, tetapi
dapat mengawinkan syair dan nada sebuah lagu gereja yang militan. Henry Smart
adalah seorang pemain organ, penggubah lagu dan penyetel organ di gereja Parish,
Blackburn, Lancashire, Inggris tahun 1813-1836. ia menulis sebuah syair untuk di
nyanyikan pada Reformasi Inggis yang jatuh pada tanggal 4 Oktober 1835. judul
syairnya “Lancashire”.

Karena kekuatan daya ingat musiknya ia tetap menjadi pemain organ di


gereja St. Pancras, London sampai kematiannya. Pada tahun 1888, kelas tamatan
Seminari Theologia Andover, Amerika mempersiapakan diri untuk upacara
penamatan. Ernest W. Shurtleff adalah salah seorang dari para tamatan. Juga
seorang penulis syair lagu pujian.

Teman-teman para tamatan mendesak dia untuk menulis sebuah syair untuk
dinyanyikan pada upacara penamatan mereka. Calon pendeta berumur 26 tahun ini
bertanya syair yang bagaimana, sebab ia juga selalu menulis syair dalam buletin
seminari mereka. Mereka katakan haruslah sebuah syair yang hidup-hidup penuh
semangat, yang militan dengan gaya mares. Ernest Shurtleff menyanggupi dan
lahirlah naskah lagu ini.

Setelah para tamatan ini berkumpul dan mencari lagu yang tepat untuk syair
Shurtleff, mereka memilih nada “Lancashire”-nya Henry Smart. Beberapa hari
kemudian. Mereka melagukan nyanyian ini untuk pertama kalinya dalam upacara
penamatan mereka. Para pendeta muda ini dengan penuh semangat melagukan:
“Raja kekal pimpinlah, Kami sedia berperang. Oleh kuasa Allah, Kami pasti
menang. Kami skarang besedia, Brikanlah kekauatan, Raja kekal pimpinlah,
pada kemenangan.”
Dengan semangat lagu ini, para pendeta muda tersebut tinggalkan ruangan
penamatan dengan tekad bulat keluat bersama Tuhan untuk berperang melawan
kuasa kegelapan dan berjanji akan sedia sampai mati. Setelah melayani bebagai
jemaat di Amerika, Ernest W. Shurtleff berangkat keluar negeri. Pada tahun 1895
ia mendirikan gereja Amerika di Fankfurt, Jerman dan sejak 1906 sampai
kematiannya di tahun 1917 ia bekerja besama-sama mahasiswa di Paris. Bagi dia
dan sama seperti bagi semua pemuda: “Mahkota disediakan bagi orang yang
menang.”

Baccan tambahan: Mazmur 25:4,9, 10; Yesaya 48:17; I Korintus 16:13;


Philip 1:27-30.

(No. 11)
KASIH SURGA YANG TERINDAH
(Love divine, all love excelling = LS No. 31)

Pengarang naskah : Charles Wesley, 1707-1778


Penggubah lagu : John Zundel, 1815-1882

I Yoh 4:9, Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan ditengah-tengah kita, yaitu
bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal kedalam dunia, supaya kita
hidup olehNya.

Jangan pernah kita menaksir rendah kuasa kasih sayang dalam hubungan
bersama sesama kita-apakah itu pernikahan, keluarga, rekan pengusaha, ataupun
persahabatan. Kasih Ilahi kepada manusia jauh melebihi semua bentuk cinta kasih.

“Kasih surga” merupakan salah satu dari lebih 6.500 naskah lagu karangan
Charles Wesley, penyair tekenal gereja Methodist. Naskah yang di tulis tahun
1747 ini menyentuh berbagai elemen doktrin Kristen. Itu meninggikan kasih
Tuhan sebagaimana yang diekpresikan dalam inkarnasi Kristus. Kemudian
mengacu kepada Konsep Wesley mengenai pengudusan sejuruhnya-bahwa setiap
umat percaya dapat hidup tanpa berbuat dosa secara sadar, sehingga dengan
demikian mendapatkan “Perhatian” sebagaimana yang dijanjikan Ibrani 4:9. Jadi
masih tersedia satu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.

“Alpha dan Omega” (huruf pertama dan terakhir dari alphabet Grika) yaitu
“Yang Awal dan Yang Akhir” dalam ayat 2 juga memantulkan ajaran
Wesly bahwa pengalaman pertobatan dan pengudusan adalah “Permulaaan” dan
“akhir” iman. Ayat ketiga mengemukakan kebenaran bahwa roh Allah tinggal
dalam kaabah tubuh setiap umat percaya, sementara ayat ke-empat mengantisipasi
kulminasi kemuliaan iman ketika kita menghamparkan mahkota kita di kaki Yesus,
penuh kekaguman, kasih dan puja.
Kasih ialah:
Berdiam diri ketika disakit
Menjadi sabar ketika dikasati
Belagak tuli ketika skandal, fitnah dan gosip dibeberkan
Memperhatikan dan peduli akan kesulitan sesama
Kepatuhan dan kesiapan tepat waktu bila tugas memanggil
Keberanian menghadapi nasib buruk. (Roy B. Zuck, The Speaker’s
quote Book p. 236)

(No. 12)
HAI PUJILAH NAMA YESUS
(All Hail the Power=L. S. No. 33)

Pengarang Naskah : Edward Perronet, 1726-1792


Penggubah Lagu : John Rippon, 1751-1836
Nada “Coronation” : Oliver Holden, 1765-1844
Nada “Miles Lane” : William Shrubsole, 1760-1806

Wahyu 4:11 “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian
dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan
oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

Lagu ini banyak kali disebut sebagai “Lagu Kebangsaan Kristiani”.


Merupakan salah satu lagu perbaktian yang besar dan pertama kali muncul dalam
Gospel Magazine, November 1779 di-edit oleh Augustus Toplady, pengarang lagu
“Rock of Ages”. Syairnya telah diterjemahkan ke hampir setiap bahasa di mana
ke-Kristenan dikenal dan kapanpun lagu ini dinyanyikan, itu mengkomunikasikan
kebutuhan rohani bagi hati manusia.

Edward Perronet lahir di Sundridge, kent, Inggris tahun 1726. ia keturunan


khas keluarga Huguenot Perancis yang melarikan diri ke Swiss dan kemudian ke
Inggris karena penganiayaan di Perancis. Ayah Edward adalah seorang pendeta
gereja negara di Inggris dan bersimpati dengan gerakan evangelisasi oleh keluarga
Wesley dan George Whitefield. Edward juga menjadi pendeta gereja anglikan
tetapi selalu mengritik cara perbaktian mereka. Ia kemudian ditinggalkan gereja
dan bergabung dengan John dan Charles Wesley selama 1740-an sampai 1750-an.
Saat itulah Wesley dan para pengikutnya menderita banyak aniaya dan kekerasan
dari orang-orang yang tidak setuju dengan pelayanan mereka.

Walaupun Perronet menulis banyak lirik lagu dan syair, tetapi inilah satu-
satunya hasil pekerjaannya yang bertahan. Keberhasilan teks lagu ini ditunjang
oleh 3 nada indah yaitu “Coronation” gubahan Oliver Holden, seorang tukang kayu
dari Massachusetts, musisi yang belajar sendiri dan guru nyanyi di sekolah. “Miles
lane” oleh William Shrubsole, teman dekat Perronet, sangat terkenal di Britania
Raya. Sedangkan nada pesta dari “Diadem” digubah pada tahun 1838 oleh James
Ellor, seorang anggota biasa, yang menggunakan lagu ini sebagai salah satu nomor
biduan gereja.

Salah satu cerita menarik dari E. P. Scott, seorang misionari pionir ke India.
Pada suatu hari ia dicegat oleh sekelompok penjahat yang menggunakan tombak.
Secara naluri ia mengambil biola dari tasnya dan mulai memainkan sekaligus
menyanyikan lagu ini. Ketika ia tiba pada bait ke 3 yang mengatakan: “Hai segala
kaum dan bangsa, Di dalam dunia. Puji Dia yang mulia, Dan rajakan Yesus.” Ia
dan sebagian mereka mencucurkan air mata. Scott menghabiskan sisa hidupnya
untuk berkhotba dan melayani mereka dengan kasih dan penebusan Kristus.

Bacaan tambahan : Pilipi 2:9-11; Kolose 1:15-19; Ibrani 2:7,8

(No. 13)
KU PUJI TUHAN YANG JADIKAN
(I Sing the Mighty Power of God=L.S. No. 34)

Pengarang Naskah : Isaac Watts, 1674-1748


Lagu Dari : Gesangbuch der Herzigl, Wurttemberg, 1784

Mazmur 72:8 Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampat
ke ujung bumi!

` Issac Watts, bapa lagu pujian Inggris, adalah seorang yang lemah dan tidak
sehat sepanjang hidupnya. Selama 30 tahun akhir hidupnya ia menjadi seorang
invalid di rumah sahabatnya, Sir Thomas Abney, di mana Watts mendapatkan
ketenangan untuk menulis lagu-lagu yang sampai sekarang masih digunakan.
Meskipun kurus dan tidak sehat, Watts terkenal dengan kejeniusannya dalam
berbagai bidang. Ia menulis esai, psikhologi, 3 jilid khotbah, katekismus, 29 buku
ulasan mengenai theologia, buku teks tentang logika, dan berbagai topik lainnya.

Walaupun ia tidak menikah, ia senantiasa mencintai anak-anak dan menulis


banyak buat mereka. Pada tahun 1715 ia menulis sebuah buku lagu anak-anak
barjudul Divine Songs for Children, yang baru-baru ini dicetak ulang oleh Oxford
University Press. Buku nyanyi ini adalah buku nyanyi khusus pertama yang
pernah ditulis untuk anak-anak. Kecintaannya kepada anak-anak diperingati
dengan sebuah patungnya di Southampton, Inggris.

Sangat menarik untuk menyadari bahwa apakah kita seorang dewasa atau
seorang anak kecil, kita harus memuji kuasa kebesaran Allah, Pencipta kita. Lagu
ini juga mengajarkan kita bahwa kita harus nyanyikan kebaikan dan kebijaksanaan
Tuhan sama seperti ke-MahadiranNya. Umat Tuhan memiliki banyak hal yang
patut dinyanyikan.

Bacaan tambahan : 1 Tawarikh 29:11-13; Mazmur 95:3-5; 107:8; Yesaya


40:26,28; Wahyu 4:11

(No. 14)
ADA TEMPAT DIAM TEDUH
(Near to the Heart of God=L.S. No. 35)

Syair dan Lagu : Clelang B. McAfee, 1866-1944

Mazmur 94:19 Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku,


penghiburanMu menyenangkan jiwaku.

Kehidupan ini penuh dengan masalah dan krisis yang datang tanpa diduga.
Kegelisahan dan keputusasaan akan mengelapkan bahkan orang saleh yang paling
kuat sekalipun. Ingat Ayub dalam Ayub 5:7...”melainkan manusia
menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.”
Namun orang kristen, karena perlindungan yang didapatkan dalam kristus, harus
mampu berjuang mempertahankan ketenangan dan stabilitas walaupun tertekan
dan berbeban berat. Kita tidak dapat melepasklan diri dari tekanan dan bayang-
bayang gelap kehidupan, tetapi harus dihadapi dengan kekuatan rohani yang
disediakan Tuhan kita. Ketika kita didekap erat dan aman “dekat di hati Tuhan”,
ktia mendapatkan ketenangan, penghiburan, sukacita dan kedamaian yang hanya
Yesus, Juruselamat kita akan berikan. Untuk itulah kita dapat hidup setiap hari
dengan kedamaian hati dan keberanian.

Inilah pekabaran yang Clelang McAfee expresikan dalam lagu penghiburan


ini saat dia sendiri dipenuhi dukacita. Ketika ia melayani sebagai pendeta di gereja
First Presbyterian, Chicago, Dr. McAfee terkejut mendengar berita kematian 2
orang kemanakannya karena penyakit Diptheria. Menghadap Tuhan dan Alkitab,
McAfee segera mendapatkan nada dan lirik lagu ini yang mengalir dari hatinya
yang berduka. Pada hari penguburan ke 2 kemanakannya ini ia berdiri di luar
rumah saudaranya Howard yang sudah dikarantina tersebut sambil menemukan
lagu dan liriknya disela-sela airmatanya. Hari minggu berikut lagu ini dinyanyikan
oleh paduan suara di gereja McAfee. Segera lagunya menjadi terkenal luas dan
sejak itu telah menghibur dan menyembuhkan banyak umat Tuhan disaat yang
diperlukan. Jaminan dan doa lagu ini dapat kita miliki dimasa sukar dan saat
teruji.

Bacaan tambahan : Maz 34:18; 73:28; Pkh 5:1; Mat 11:28-30; Ibrani 4:16.

(No. 15)
APABILA DAMAI PERJALANANKU
(It is well with my soul=L.S. No. 37)

Pengarang Naskah : Horatio G. Spafford, 1828-1888


Penggubah Lagu : Philip P. Bliss 1838-1876

Maz 46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai
penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

Kedamaian hati melalui kepercayaan mutlak dalam kasih Allah merupakan


bukti nyata iman seorang Kristen dewasa. Hanya dengan jenis keyakinan
demikian kepada Bapanya yang di Surga ini sajalah maka Horatio Spafford setelah
dilanda tragedi demi tragedi dapat berkata: “Baiklah, baiklah, bagiku”.

Spafford pernah mengalami kedamaian dan keberhasilan dihari-hari penuh


sukacita sebagai seorang pengacara sukses di Chicago. Ia adalah Ayah dari 4
orang anak perempuan, anggota aktif gereja Presbyterian, juga teman serta
pendukung setia D. L. Moody dan para evangelis lainnya. Kemudian datanglah
malapetaka demi malapetaka yang dimulai dengan kebakaran besar di Chicago
pada tahun 1871 yang mengahabiskan investasi besar keluarga Spafford. Ketika
pendeta Moody dan pembantu musiknya, Ira Sankey berangkat ke Inggris untuk
evangelisasi, Spafford memutuskan untuk menyenangkan keluarganya dengan
mengambil cuti bersama-sama keluarga di Inggris sekaligus membantu dalam
evangelisasi Moody.

November 1873 Spafford begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia


tidak dapat berangkat bersama istri dan 4 orang anak perempuannya: Magie,
Tanetta, Annie, dan Bessie bersama kapal S. S. Ville du Havre. Namun ia berjanji
akan segera menyusul mereka ke London. Pada jam 2.00 subuh tanggal 22
November 1873, kapal Perancis yang mewah ini ditabrak hampir putus menjadi 2
oleh kapal besi Inggris, Lochearn. Hanya dalam waktu 12 menit Ville du Havre
tenggelam dengan korban 226 jiwa termasuk empat anak perempuan keluarga
Spafford. Dalam kekacauan para penumpang Ny. Spafford menyaksikan keempat
anaknya tenggelam. Ia sendiri tertimpa salah satu tiang kapal dan pingsan namun
sadar kembali dan diselamatkan. Sembilan hari kemudian setelah semua orang
selamat tiba di Cardiff, Wales, Ny. Spafford mengirim telegram kepada suaminya
berbunyi: “Sendiri selamat”.

Segera Spafford berangkat menyusul istrinya ke London dengan kapal


berikut. Dalam pelayaran dibulan Desember itu, ia diundang oleh kapten kapal ke
kabinnya. Kapten berkata: “saya yakin betul bahwa ditempat inilah Ville du Havre
tenggelam”. Malam itu Spafford tidak dapat tidur. Berjam-jam lamanya ia
merenungkan dan mengingat akan anak-anaknya dan di tengah samudera Atlantik
itu, dari dalam hatinya yang hancur, Spafford menulis lima bait lagu ini. Ketika ia
bertemu dengan istrinya, Ny. Spafford berkata: “Saya tidak kehilangan anak-anak
saya. Kita hanya berpisah untuk sementara.”

Tuan Spafford dan Philip Paul Bliss, seorang pemimpin biduan dan
penggubahan lagu, adalah sahabat lama. Keduanya menjadi pembantu utama
Moody dan Sankey. Atas permintaan Spafford, Bliss bersedia menggubah lagu
untuk syairnya. Pada hari Jumat, November 1876 di Farwell Hall, Chicago, Bliss
memeperkenalkan lagu: “It is Well with My Soul” sebagai lagu solo rohani di
hadapan lebih dari 1.000 pendeta.

Sebulan kemudian, di bulan Desember, sementara tinta nada-nada lagu ini


belum sempat kering, Tn. dan Ny. Bliss menitipkan 2 anak mereka kepada ibu Tn.
Bliss. Mereka menumpang kereta api dari Buffalom New York menuju Chicago
untuk mengatur jadwal suatu seri evangelisasi setelah Tahun Baru nanti. Mereka
tinggalkan Bufalo pada Jumat,29 Desember 1876 sore. Pada jam 8 malam itu
ketika mendekati Ashtubula, Ohio, sebuah jembatan yang menyeberangi sebuah
jurang ambruk sehingga 7 gerbong kereta api yang ditumpangi Bliss suami istri
bersama seluruh penumpang uatuk ke dalam jurang penuh air yang sementara
membeku. Api dari mesin mulai membakar badan gerbong yang sementara
tergantung di pinggir jurang. Mereka yang selamat dari tenggelam, tidak dapat
luput dari amukan api.

Dari 160 penumpang, hanya 14 orang yang selamat sedangkan mayat yang
ditemukan hanya berjumlah 59 orang. Saksi mata menceritakan bahwa Tn. Bliss
sebenarnya selamat dari amukan api, tetapi ketika ia melihat isterinya terjepit di
antara rerutuhan gerbong dan api mulai menjilat gerbong itu, Philip Bliss, yang
saat itu berusia 38 tahun memeluk isterinya dan keduanya disambar api. Untuk 3
hari lamanya sahabat-sahabat Bliss mencari mayat Bliss dan isterinya tetapi tidak
ada yang di temukan karena kereta dan penumpang yang lain sudah menjadi abu.

Walaupun jenazah semua mereka ini, 4 anak Spafford, Philip Bliss dan
isterinya, tidak di temukan dan kuburan merekapun tidak dapat di kenal, namun
lagu mereka yang telah melewati tragedi demi tragedi, tetap hidup di hati umat
Kristiani di seluruh dunia. Mereka bersyukur karena keluarga Spafford dan Bliss
dengan setia dan dengan kemenangan dapat berkata: “Baiklah, Baiklah, Bagiku”.
Sebuah lagu penuh kekuatan, kedamaian dan pengharapan.

Bacaan tambahan : Mazmur 31:14; 142:3; Galatia 2:20; 1 Petrus 4:19.


Petrus 4:19.

(No. 16)
TIADA LAIN PELINGUNG SEPERTI YESUS
(No One Ever Cared for Me Like Jesus=L. S. No. 40)

Pengarang Nakah : Charles F. Weigle, 1871-1966


Penggubah Lagu : Charles F. Weigle, 1871-1966

Ayat 35:10...tetapi orang tidak bertanya: Di manakan Allah, yang membuah


kita, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam;

Lagu Charles Weigle “No One Ever Cared for Me Like Jesus” ini
merupakan hasil produksi dari salah satu masa tergelap dalam kehidupannya.
Weigle menggunakan sebagian besar waktunya untuk evangelisasi dan menulis
lagu. Pada suatu malam setelah kembali dari kebaktian evangelisasinya, ia dapati
sepucuk surat dai isterinya. Catatan dalam surat itu mengatakan bahwa isterinya
sudah tidak tahan lagi hidup dengan seorang evangelist seperti itu dan sekarang
meninggalkan dia.

Weigle mengatakan bahwa dia begitu putus asa selama beberapa tahun
terakhir sampai berencana untuk bunuh diri. Tidak ada seorang pun yang peduli
dan memperhatikannya. Tetapi lama kelamaan imannya mulai pulih dan ia
kembali aktif dalam pelayanan penarikan jiwa. Segera ia merasa harus menulis
syair dan menggubah sebuah lagu sehubungan dengan pengalaman tragisnya.
Dari hati yang hancur lahirlah kata-kata yang Allah berikan kepada Weigle.

Tidak sulit untuk bernyanyi bila semuanya menjadi hancur. Namun sering
Allah memberikan sebuah lagu istimewa kepada salah seorang anak-Nya yang
tersakiti dan terluka hati selama malam-malam kegelapan dalam hidupnya. Umat
percaya akan temukan kebahagiaan baru di dalam kesusahan dan keputus asaan,
dan mereka mendapatkan kedekatan yang erat dengan Tuhan mereka. Rasul
Yohanes menulis buku Wahyu sementara berada di pulau Patmos yang kering.
John Bunyan menyelesaikan cerita klasik Pilgrim’s Progress ketika dalam keadaan
tuli berat. Dan Fanny Crosby pernah brekata : “ Sekiranya saya tidak buta, saya
tidak akan pernah mengarang semua lagu pujian ini yang Tuhan telah berikan bagi
saya.

Dewasa ini banyak orang mengalami sakitnya kehancuran pernikanan,


keretakan keluarga dan putus asa di tengah hubungan lembut kehidupan. Marilah
kita menyatakan jaminan kebenaran bahwa Allah kita peduli dan mengerti serta
sedia memancarkan terang dalam kegelapan hidup kita. Kita harus menambahkan
catatan pada hymne ini, undangan Rasul Petrus dalam I Petrus 5:7 “Serahkanlah
segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Bacaan tambahan: Maz 144:3,4; Yer 31:2,3; Ef 3:18,19; I Yoh 3:1.

(No17)
YESUS SPERTINYA GEMBALA
( Savior, Like a Shepherd lesd Us= L.S. No 41)
Pengarang Naskah : Dorothy A. Thrupp, 1779-1847
Penggubah Lagu : William B. Bradbury, 1816-1868

Mazmur 32:8 Aku hendah mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang
harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.

Pengarang syair lagu terkenal ini, Dorothy Thrupp, lahir dan tinggal di
London, Inggris. Dia adalah penulis lagu yang berhasil, kususnya lagu anak-anak.
Sebagian besar syair lagunya tidak ia tanda tangani karena hanya menggunakan
nama samaran. Dengan demikian orang berpikir bahwa lagu ini bukan
karangannya. Pada tahun 1836, syair lagu ini pertama kali muncul tanpa tanda
tangannya, tetapi kitemukan di antara koleksi naskah-naskah lainnya.

Bimbingan Tuhan adalah pokok iman Kristiani. Iman yang di imbangi


dengan penyelidikan akan Kitab Suci bahwa tuntunan Toh Kudus, membuat
“semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”. (Roma 8:14).
Dan sama seperti anak-anak yang seringkali memberontak terhadap otoritas
orangtua, sedemikian pula kita seringkali mengabaikan bimbingan Allah dalam
hidupnya, bahkan berusaha menjalani jalan kita sendiri. Jika demikian, pimpinan
Allah tidak akan tejadi. Haruslah ada kerinduan dan kemauan yang serius untuk
pimpinan oleh Allah. Dengan iman yang teguh kita harus menyadari bahwa Allah
mempunyai rencana bagi setiap anak-Nya dan kita harus rindu mengikuti jalan itu
ke manapun dipimpin.

Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang


apa pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan
damai sejahtere dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan
kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bacaan tambahan : Mazmur 23; Amsal 16:1,3,6,9; Yes 40:11; Yohanes


10:14-16,27.

(No. 18)
RAHMAT TUHAN
(Grace Greater than Our Sin= L.S. No. 44)

Pengarang Naskah : Julia H. Johnston, 1849-1919


Penggubah Lagu : Daniel B. Towner, 1850-1919
Roma 5:20,21 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi
semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia
menjadi belimpah-limpah, supaya, sama sepaerti dosa berkuasa dalam alam
maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang
kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan Kita.

Bertahun tahun Julia Hohnston bekerja dan sibuk melayani Sekolah Minggu
di gereja First Presbyterian Peoria, Illinois. Dia juga adalah penulis buku pelajaran
anak anak unuk David C. Cook Publising Company. Selain itu dia juga menulis
sekitar 500 naskah lagu adalah Daniel B. Tooner, seorang direktur departemen
musik dari Moody Belble Insitute. Lagu ini pertama kali muncul dalam kompilasi
Tooner, Hymns Tried and True, tahun 1911.

Rahmat Tuhan bukan sekedar suatu rahmat yang berkecukupan, tetapi lebih
dari itu, yaitu rahmat yang berkelimpahan. 2 korintus 9:8 Dan Allah sanggup
melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa
berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam
pelbagai kebajikan. Rahmat-Nya menyediakan keselamatan kekal bagi kita dan
juga menyanggupkan kita mengerti akan hidup ini dengan limpahnya. Itu
dipersiapkan bagi kita untuk menghadapi setiap masaalah dan kebutuhan.

Seringkali diargumentasikan bahwa karena rahmat Allah itu menutup semua


dosa maka kita bebas melakukan apa saja sesuka hati kita. Memang rahmat Allah
disediakan bagi kebebasan kita, yaitu kebebasan dari perbudakan dosa, cinta diri,
sifat alami dosa, agar sesudah dibebaskan, kita akan mengejar “pelbagai
kebajikan”, dan mejadi seperti yang Allah inginkan dari kita.

Bacaan tambahan: Roma 3:24-26; 1Korintus 15:10; 2 Korintus 8:9;


Efesus 1:6-8; Titus 2:11.

(No.19)
SALIB DI BUKIT GOLGOTHA
(The Old Rugged Cross= L.S. No 45)

Pengarang Naskah : George Bennard, 1873-1958


Penggubah Lagu : George Bennard, 1873-1958
I Petus 2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu
salib, supaya kita, yang telah mati tehadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh
bilur-bilurNya kamu telah di sembuhkan.

Lagu “Salib Di Bukit Golgotha” merupakan lagu yang sering dipromosikan


dan dinyanyikan. Para editor buku lagu sepakat bahwa lagu ini sangat populer
melebihi lagu-lagu lainnya. Selama 30 tahun sejak di publikasikan di tahun 1913,
telah terjual sebanyak lebih dari 20 juta salinan, melebihi komposisi musik
manapun. “Salib Di Bukit Golgotha” mengungkapkan kata-kata sederhana namun
mulia mengenai pusat kebenaran Injil yang berbicara tentang kebutuhan setiap
umat percaya.

Bila seorang pemimpin lagu meminta anggota gereja memilih lagu kecintaan
mereka untuk dinyanyikan bersama, senantiasa lagu ini diusulkan dan jarang di
lewatkan. Selalu saja ada permohonan untuk menyanyikan lagu “Salib di Bukit
Golgotha”. Lagu Injil yang sentimentil ini telah menjadi favorit orang Kristen dan
non-Kristen sejak ditulis George Bennard pada tahun 1913 dan terkenal sebagai
lagu terpopuler dari semua lagu abad XX.

George Bennard lahir di Youngstown, Ohio, tapi orangtuanya segera pindah


ke Albia, Iowa dan kemudian berpindah lagi ke kota Lucas di negara bagian yang
sama. Ketika ayahnya meninggal dunia, George Bennard baru berusia 16 tahun
dan harus menjadi tumpuan harapan keluatga bersama ibu dan ke-empat adik
perempunnya. Ia masuk menjadi anggota Salvation Army dan bersama isteri
pertamanya menjadi pimpinan di organisasi gereja tersebut. Namun kemudian dia
diurapi menjadi pendeta gereja Methodist Episcopal di mana pelayanannya sangat
di hargai.

Bennard sangat sibuk dengan peninjilan dan pelayanan peningkatan


kerohaian jemaat di negara bagian Michigan dan New York. Pada suatu ketika
saat pulang ke Michigan ia mengalami suatu peristiwa yang membuatnya bepikir
keras mengenai salib dan apa yang di maksud Rasul Paulus ketika ia berbicara
mengenai “Persukutuan dengan salib Kristus”. Sementara Bennard memusatkan
pikiran kepada kebenaran ini ia dapati bahwa salib itu bukan sekedar suatu simbol
keagamaan, tetapi adalah inti dari Injil. Pada tahun 1913 ia mulai menulis naskah
dan lagu “The Old Rugged Cross”. Menurut Bennard, “Kata-kata lagu ini telah
menyentuh hati saya sebagai jawaban bagi semua pertanyaan.”

Saat itu ia tinggal bersama keluarga Methodist tekenal di Pokagon, Michigan


ketika melayani kebaktian peningkatan kerohain di sana. Dengan ditemanai
seguah gitar, Bennard menyanyikan lagu ini di hadapan tuan rumah, Pendeta dan
Ny. L.O. Bostwick. Di dapur keluarga inilah lagu tersebut diperdengarkan yang
kemudian mendapat tanggapan dari Pendeta Bostwick: “Tuhan telah memberikan
lagu indah kepadamu. Itu akan bertahan terus karena telah menyentuh hati kami
melebihi lagu lagu lainnya”. Pada tanggal 7 Juni 1913 malam, Pendeta Bostwick
memperkanalkan lagu tersebut kepada anggota jemaat dan 5 penyanyi jemaat
menyanyikannya dari catatan pinsil. Ke 5 anggota tarsebut adalah: Frank Virgin,
Olive Mars, Clara Virgil, William Thaldorf dan Florence Jones.

Segera lagunya tekenal dan diperkenalkan di hadapan peserta konvensi di


Chicago. Kemasyhurannya tersebar cepat di dunia Kristen. John Bowring setelah
terinspirasi dengan kata-kata lagu tersebut, menulis “In the Cross of Our Christ I
Glory”. Bennard melanjutkan pelayanannya sebagai pendeta evangelist 40 tahun
lagi setelah menulis dan menggubah lagu di atas. Pada tanggal 9 Oktober 1958, di
usia 85 tahun, Bennard meninggal dunia. Salibnya ditukar dengan makhota. Ia
telah menerima Kristus dari salib itu. Semoga kita dapat mengenal keselamatan
dan kehidupan kekal yang diterima oleh iman di dalam Dia yang telah mengadakan
korban agung “di atas salib di bukit Golgota.”

Bacaan tambahan : Galatia 6:12,14; Efesus 2:16;Pilipi 2:8; Kolose 1:20.

(No. 20)
SUCIKAN HATIMU
(Take Time to Be Holy= L.S. No. 46)

Pengarang Naskah : William D. Longstaff, 1822-1894


Penggubah Lagu : George C. Stubbins, 1846-1945

I Petrus 1:15,16 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh


hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memenggil kamu, sebab ada
tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

William Longstaff, anak seorang pemilik kapal di Inggrs, meskipun kaya


adalah seorang yang rendah hati dan anggota gereja yang setia. Ia juga merupakan
sahabat dari Pendera Dwight L. Moody dan penyanyi Ira D. Sankey dalam
evangelisasi di Inggris. Evangelisasi mereka mengguncangkan Inggris di akhir
abad XIX. Setelah mendengar khotbah mengenai I Petrus 1:16 yang diambil
referensinya dari buku Imamat, maka William mulai membuat pencapaian
kesucian sebagai tujuan utama hidupnya. Meskipun ini hanya sebuah lagu, kata-
katanya telah mempengaruhi umat yang setia di mana-mana agar setia
menghidupkan kehidupan ke Kristenan yang benar.

Nilai berharga untuk hidup Kudus menurut petunjuk yang diberikan lagu ini
begitu berkaitan dengan umat percaya dewasa ini sama dengan jaman William
Longstaff ketika menulis lagu tesebut lebih se-abad lalu. Allah tetap masih
menuntut sebuah gaya hidup suci bagi umatNya. Kadangkala kita bingung
membedakan kesucian dan kesetiaan hanya merupakan sifat pura-pura melalui
kebaikan yang menutup nutupi kemunafikan dan kenajisan. Suatu kehidupan yang
benar-benar kudus dan berperilaku seperti Kristus menyatakan: “Justru karena
itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan
kepada imannya kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada
pengetahuan pengusaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada
ketetekunan kesalehan,” 2 Petrus 1:5,6.

Dewasa ini kita di kelilingi dengan begitu banyak kepura-puraan dan ketidak
tulusan hati yang mana kita sendiri tanpa sadar telah terpengaruh dengan keadaan
tersebut. Untuk mempertahankan kwalitas hidup yang di tuntut Allah. Kita harus
menyediakan waktu untuk mengembangkan suatu kehidupan yang benar dan
konsisten, bahkan kudus dalam segala bidang.
Bacaan tambahan : Im 20L7,8; II Kor 7:1; Ef 4:23,24; I Tim 4:8; Ibr 12:14.

(No. 21)
KU DENGAR SUARA ALMASIH
(I Heard the Voice of Jesus Say= L.S. No 47)

Pengarang Naskah : Horatius Bonar, 1808-1889


Penggubah Lagu : John B. Dykes, 1823-1876

Yesaya 55:1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan
hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa
uang pembeli dan makanlan, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
Lagu ini dengan cara yang sangat berarti mempersembahkan 3 undangan
pribadi Allah kita kepada manusia. Yang diikuti dengan sambutan manusia dan
hasil kerohaniannya.

Bait pertama: Matius 11:28 Marilah kepad-Ku, semua yang letih lesu
dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Aku datang,
aku mendapatkan kelegaan dan sukacita.

Bait kedua: Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadany: “Jikalau engkau tahu
tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku
minum! Niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan
kepadamu air hidup.” Yohanes 4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa
minum air ini, ia akan haus lagi, Yohanes 4:14, tetapi barangsiapa minum air
yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang
terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Aku datang, aku
minum dan hidupku di segarkan.

Bait ketiga: Yohenes 8:12 Maka Yesus berkata pula kepada orang
banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak
akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”
Aku memandang, dan untuk selanjutnya berjalan dalam terang.

Musik untuk naskah lagu yang indah ini di tulis pada tahun 1868 oleh John
B. Dykes, seorang musisi Inggris terkenal di abad XIX. Ia menghubungkan
undangan Tuhan yang penuh rahmat itu dalam kunci minor, sedangkan
jawabannya diberi simbol sistem tangga nada mayor. Sama seperti lagu-lagu indah
gubahan Dykes, maka musik ini di tandai oleh romantika khas lagu-lagu lain
gubahan John B. Dykes adalah “Suci, Suci, Suci”, “Jika Ku Kenangkan Tuhan”,
dll

Horatius Bonar diakui sebagai salah seorang yang bertalenta, pendeta Injil
yang bersemangat dan penggubah lagu terkenal dari Skotlandia. Ia lahir 19
Desember 1808 di Edinburd, Skotlandia. Ketika terjaadi perpecahan di gereja
Skotlandia, Bonar aktif mempromosikan Free Church Movement. Sepanjang
pelayanannya, ia tekenal sebagai seseorang dengan kekuatan dan kesanggupan
tanpa batas. Selain menjadi pendeta Presbyterian, penarik jiwa yang sungguh-
sungguh, pelajar Alkitab yang keranjingan, Bonar juga menggubah sekitar 600
lagu, 100 daripadanya masih di gunakan dewasa ini. Lagu “Ku Dengar Suara
Almasih” merupakan lagu terbaik dari semau lagu gubahannya. Pertama kali
muncul dalam koleksinya, Hymns, Original and Selescted tahun 1846 dan
kemudian dalam Hymns of Faith and Hope tahun 1862. Bonar menulis lagu ini
sementara ia menggembalakan jemaat Presbyterian di Kelso, Skotlandia.
Sebagaimana lagu-lagu lainnya, ia menulis lagu ini sambil memikirkan kerohanian
anak-anak.

Bacaan tambahan : Yes 55:1-3; Mat 11:28; Yoh 4:14; 8:12; Why
3:20’22:17.

(No.22)
YA YESUS KU TELAH JANJI
(O Jesus, I Have Promided= L.S.No. 51)

Pengarang Naskah : John E. Bode, 1816-1874


Penggubah lagu : Arthur H. Mann. 1850-1929

Ibrani 6:10,11 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan
pekerjaanmu dan kasihnya yang kamu tunjukkan tehadap namaNya oleh
pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai
sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan
kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapannya suatu yang pasti,
sampai pada akhirnya,

Dengan dimulainya tahun baru, tibalah saatnya untuk mengedakan evaluasi


dan merefleksi hidup kita sama juga seperti meletakkan tujuan-tujuan masa depan.
Tugas dan rencana sepanjang tahun menanti kita. Dan agar kita tidak terjebak
dengan rutinitas tugas harian, maka hari dan peristiwa menjadi penting dalam
kehidupan. Kita perlu menyoroti hal ini demi pertumbuhan dan perkembangan
pelayanan.

Lagu ini ditulis oleh seorang pendeta Inggris, John Bode, pada satu hari
istimewa bagi konfirmasi suatu pelayanan seorang anak wanita dan dua anak laki-
lakinya. Ketika itu ketiga anak ini mengambil keputusan dan membuat komitmen
bagi Allah dan pelayanan bagiNya. Ia berkata kepada anak-anakny: “Saya telah
menulis sebuah lagu yang mengundang semua kebenaran penting yang saya mau
kamu mengingatnya saat kamu mempersiapkan diri sepenuhnya bagi pekerjaan
Allah.” Tanpa ragu anak-anak John Bode tidak pernah melupakan konfirmasi
pelayanan mereka dan perhatian ayah mereka ketika mereka menyanyikan lagu
tersebut seumur hidup mereka.

Bacaan tambahan : Pkh 5:5; Yoh 12:26; Rm 12:11; Kol 3:24; Why 14:13.
(No.23)
YESUS, KEMUDIAKANLAH
(Jesus, Saviour, Pilot Me =L.S.No. 55)

Pengarang Naskah : Edward Hopper, 1818-18888


Penggubah Lagu : John E.Gould, 1822-1875

Mazmur 16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di


hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat
senantiasa.

“Tuhan selamatkan kami, kami binasa,” demikianlah teriakan para murid,


maka segera Kristus bangun dan menghardik angin ribut itu dan laut pun tenang.
Lagu kita hari ini mengekspresikan bahasa pelaut abad XIX, yaitu bahasa universal
mengenai kebutuhan manusia akan pertolongan Ilahi.

Edward Hopper seorang yang lemah lembut dan rendah hati menjadi
pendeta gereja Presbyterian dengan gelar Doctor of Divinity. Pelayananya yang
sangat berhasil ialah berada bersama pata pelaut di salah satu gereja kecil di
pelabuhan New York. Di sana ia melayani sampai meninggal dunia. Hopper
menulis naskah lagu ini demi kebutuhan rohani para pelaut yang datang dari
seluruh bagian dunia.Lagu ini juga menjadi lagu kesukaan para pelaut tersebut.

Lagu “Yesus, kemudikanlah” memiliki 6 bait tetapi hangya 3 yang


digynakan. Salah satu dari yang tidak digunakan itu berbunyi sebagai berikut:
“Walaupun laut menjadi licin dan tenang, berkilauan dengan cahaya bintang di
malam hari, dan jalur pelayaranku terang bagaikan hari siang, aku tetap mengingat
dan membutuhkan Engkau ya Yesus, kemudikanlah”.

Edward Hopper meninggal dunia di usia 70 tahun. Ia ditemukan sementara


memegang pinsil di meja kerjanya menulis syair baru mengenai surga. Di
pekuburannya, syair baru itu dibacakan: “Yesus, dengan suara-Nya yang merdi
membisikkan, “Jangan takut, Aku akan mengemudikan perahumu.”

Bacaan tambahan :Maz 89:9; 107:28-30; Mat 8:23-27;Yak 1:6.

(No.24)
TUHAN PELIHARAKAN
(God Will Take Care of You=L.S.No.59)
pengarang Naskah: Civilla D. Martin, 1869-1948
Pengubah lagu : W. Stillman Martin, 1862-1935

Mazmur 55:23 serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara


emgkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Civilla Martin menulis naskah lagu ini ketika ia sendiri perlu belajar
bersandar pada pemeliharaan Allah. Suaminya, pendeta W. Stillman Martin adalah
seorang evangelisrt terkenal dari gereja Babtist. Pada suatu hari Minggu tahun
1904, Ny. Martin sakit keras sehingga tidak sanggup menemani suaminya
melayani jemaat yang agak jauh dari rumah mereka. Ketika pendeta Martin
merencanakan untuk menunda perjalana ke jemaat tersebut, anak bugsunya
berkata: “Ayah, coba pikirkan baik-baik. Kalau Allah sudah tentukan ahwa ayah
harus melayani umat-Nya, tidakkah ayah percaya bahwa Tuhan juga akan
memelihara ibu sementara ayah berada jauh dari ibu yang sakit?”

Ungkapan ini sangant menyentuh hatinya. Ia segera berangkat dan melayani


jemaat tersebut sepanjang hari. Sekembalinya ke tumah malam itu ia dapati bahwa
isterinya dalam keadaan semakin membaik dan sibuk menulis bait demi bait lagu
ini sesuai apa yang diungkapkan anak mereka tadi kepada pendeta Martin. Ketika
ia menunjukkan naskahnya, pendeta Martin menggubah lagunya yang kemudian
menjadi populer dalam mempersiapkan umat-umat Tuhan untuk mengatasi hati
yang terluka.

Lagu terkenal ini di sejajarkan dengan ilustrasi mengenai seseorang yang di


ijinkan Tuhan untuk jaqlan hidupnya dalam sebuah mimpi ketika ia melihat dua
pasang jejak kaki sepanjang pantai berpasir putih. Itulah jejak-jejak kakinya dan
kaki Tuhanya. Tetapi ketika ia memperhatikan dengan teliti, ia dapati bahwa saat-
saat hidup menjadi kasar, berbatu, penuh dukacita, dan penderitaan hanya terlihat
sepasang jejak kaki.

Ia berkata kepada Tuhan: “engkau telah berjanji bahwa jika aku mengikuti
maka Engkau akan senantiasa berjalan bersamaku. Tetapi aku memperhatikan
bahwa di periode hidup penuh ujian hanya telihat sepansang jejak kaki. Dan
mengapa Engkau tidak bersamakku ketika aku sangt memerlukanMu?” Tuhan
menjawas: “AnakKu, Aku tidak pernak meinggalkan engkau. Saat engkau berada
dalam bahaya, ketika suasana kehidupan sangat berat untuk di pikul, Aku
sementara menggendong engkau. Itulah sebabnya engkau melihat hanya sepasang
jejak kaki.”

Apakah kita sebagai orang Kristen, yaitu orang yang percaya akan
keselamatan dan hidup kekal dari Yesus Kristus, kadangkala meragukan
pemeliharaanNya? Adakah pengalaman kerohanian kita di uji dan kita kedapatan
bimbang atas pemeliharaan Allah? Kelihatannya kita semua memerlukan jaminan
kekuatan dan kedamaian di saat-saat sukar dan sulit. Lagu ini telah membawa
banyak penghiburan bagi sebagian besar umat Tuhan. Itu megingatkan kita bahwa
Allah memelihara dan memperhatikan anak-anakNya. Kita tidak perlu ragu
betapapun besarnya tanggung jawab, betapapun beratnya ujian, betapapun
kerasnya ancaman bahaya, atau betapapun banyaknya kebutuhan kita. “Tetapkan
hatimu, Tentu Tuhan pliharakan.” Kita bisa saja tergoda dengan kesepian,
ditinggalkan dan di lupakan. Bila megnhadapi hal-hal sedemikian, ingatlah bahwa
Allah senantiasa dekat dan memlihara kita. Ia menjanjikan kasih karunia yang
membawa kita kepada kemenangan. Sekali lagi: “Tetapkan hatimu, Tentu Tuhan
pliharakan.”

Tuhan memelilhar dan menjaga:


“.....seperti bijin mata,” Maz 17:8
“.....di segala jalanmu.” Maz 91:11
“.....apa yang telah di percayakanNya kepadaku hingga pada hari
Tuhan.” II Tim 1:12.
“.....seperti gembala tehadap kawanan dombanya!” Yer 31:10.
“.....yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera,” Yesaya
26:3.
“.....jalan ke luat,” I Kor 10;13
“.....berkuasa menjaga supaya jangan kamu tesandung” Yudas 1:24.

Bacaan tambahan: Ayub 23:10; Maz 57:1; Yes 42:10; I Kor 10:13; Pilipi
4:19; I Petrus 5:7.

(No. 25)
TARIK AKU YA YESUS
(Near the Cross= L.S. No. 62)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 2820-1915


Penggubah Lagu : William H. Doane, 1832-1915
Kolose 1:19,20 Karena seluruh kepenuhan Allah bekenan diam di dalam Dia,
dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang
ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian
oleh darah salib Kristus.

Sebagaimana yang di lakukan dengan lebih dari 9,000 naskah lagunya,


Fanny Crosby menulis syair ini untuk mencocokkannya dengan nada lagu yang
digubah William H. Doane. Kebiasaan para penyair ialah menciptakan dulu
syairnya dan kaemudian penggubah lagu menciptakan lagu untuk syair tersebut.
Tetapi Fanny Crosby menulis syair untuk mencocokkannya dengan lagu yang telah
digubah.

Walaupun ia subah bekarja sama dengan sejumlah penggubah lagu dan


musisi, William Doane dan Fanny Crosby merupakan pasangan kerjasama penting.
Doane adalah seorang pengusaha sukses di Cincinnati, dan juga penggubah lagu
dan pencetak lagu-lagu Gospel tekenal. Ia seorang yang sangat kaya dan ketika
meninggal dunia mewariskan sejumlah besar hartanya, termasuk pembangunan
Doane Memorial Music Building di Moody Bible Institute, Chicago.

Salib merupakan kemenangan sangat gemilang atas Setan, maut dan neraka.
Tidak pernah ada yang melebihi Kristus ketika Ia berseru di kayu salib; ”Sudah
selesai.” Terpancar dari penderitaanNya di Kalvari, Ia mengukir kemenangan dari
KerajaanNya. Kemenangan di salib menjamin kita bahwa kita tidak perlu tepisah
dari Tuhan apakah dalam kehidupan ini maupun kehidupan kekal. Bahkan
sekarang kita dapat datang kepadNya. “...dengan penuh keberanian menghampiri
takhta kasih karunia, supaya kit menerima rahmat dan menemukan ksih karunia
untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya,” (Ibr 4:16).

Sebagai umat Tuhan, kita harus hidup setiap hari dengan suatu kesadaran
yang peka akan salib Kristus. Kita harus merenaungkan penderitaan sama seperti
kemenangan yang dicapai Kristus. Lagu Fanny Crosby ini telah tersebar luas dan
digunakan untuk mengajarkan kebenaran salib sejak pertama kali diterbitkan pada
tahyun 1869. Dua perbedaan besr arti salib: (1) Pada salib itu Kristus di salibkan
bagiku. Mengartikan bahwa Ia membebaskan kita dari kutuk dosa. (2) Pada salib
itu aku disalibkan bersama Kristus. Ini berarti kita di bebaskan dari kuasa dosa. –
John George Mantle-

Bacaan tambahan : Yoh 6:47-51; 19:17,18; Gal 6:14; Ef 2:13.


(No.26)
YESUS, AKU RINDU JADI SUCI
(Lord Jesus, I Long to be Perfectly Whole= L.S. No. 64)

Pengarang Naskah : James Nicholson, 1828-1876


Penggubah Lagu : William G. Fischer, 1835-1912

Mazmur 51:9 Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku
menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

Umat Tuhan telah di tempatkan dalam lingkaran pengaruh khusus agar


mereka dapat mendemonstrasikan kekudusan dan kepedulian terhadap perilaku
benar. Kalu kita tidak memerankan hal ini, siapa lagi? Kelihatannya mudah sekali
karena kita telah terbiasa dan dikekerasan oleh nafsu dan dosa sekeliling kita
sehingga kita kehilangan ketajaman mata pedang kesaksian Kristen. Bahkan
sebenarnya tanpa pengudusan dan pembaharuan setiap hari, kita sangat mudah
dimasuki dan dipengaruhi gaya hidup yang kita sendiri tolak bila gaya hidup itu
terlihat dalam diri orang lain.

Dosa yang tidak diakui akan menjadi racun pembasmi kehidupan kita, bukan
saja secara rohani, tetapi juga secara emosional dan phisikal. Pertobatan dan
pengkauan dosa senantiasa menjadi titik mula pemulihan persahabatan dengan
Allah. Sebagaimana yang dilakukan Daud, pemazmur yang mengucapkan doanya
dalam Mazmur 51, sedemikian pula kit memerlukan pengalaman pengudusan dan
pembersihan dari Allah. Dengan demikian kita dapat menolong orang lain dan
menuntun orang berdosa kepada Allah.

Mazmur 51:14, 15 Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamt


yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan
mengajarkan jalanMu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya
orang-orang berdosa berbalik kepadaMu. Ini adalah sebuah naskah lagu yang
indah ditulis oleh seorang Kristen biasa. Hames Nicholson menghabiskan segaian
besar hidupnya sebagai pegawai kantor pos Philadelphia, namun ia juga aktif
melayani jemaat gereja Methodist Episcopal. Lagu ini pertama kali di terbitkan
dalam sebuah pamphlet berjudul “Joyful Songs” di tahun 1872. kepopulerannya
semakin bertambah ketika dimaksukkan dalam seri Gospel Hymns yang diterbitkan
Sankey dan Bliss. Sejak itu banyak doa dna ekspresi umat Kristen dikumandang
setiap hari melalui inspirasi lagu ini.

Bacaan tambahan: Maz 32: 3-5; Yes 1:18; Rm 3:23-25; I Kor 6:11.

(No.27)
KU SERAHKAN HIDUPKU
(I Gave My Life for Thee= L.S. No. 66)

pengarang Naskah : Frances R. Havergal, 1836-1879


Pengubah Lagu : Philip P. Bless, 1838-1876

2 Korintus 5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang
hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati
dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Francis Ridley Hevergal sering dihubungkan dengan “suara manis seorang


penyanyi”, dilahirkan 14 Desember 1836 di Astley, Worcestershire, Inggris. Dia
adalah anak termuda dari pendeta William Henry Havergal, seorang pengarang
syair dan musisi gereja. Sebagai tambahan bagi talenta musiknya, Nn Havergal
juga dilatih dalam ilmu bahasa dan musik. Meskipun ia seorang terpelajar dan
menguasai bidang seni, musik dan sastra, ia seorang yang rendah hati dan
mempertahankan iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Dia tidak pernah
menulis sebaris syairpun tanpa berdoa. Hicupnya ditandai dengan kesalehan.
Walaupun sakit-sakitan, dia aktif dan produktif sampai kematiannya di usia 43
tahun.

Sabagai bagian dari pendidikannya ia belajar di Dusseldorf, Jerman. Ketika


mengunjungi museum Dusseldorf, ia terpesona dengan sebuah lukisan Kristus
yang memakai mahkota duri, berdiri di hadapan Pilatus dan para pengejek yang
marah. Di bagian bawah lukisan Sternberg tersebut terdapat tulisan ini; “ini yang
telah Ku buat bagimu,apa yang engkau buat bagiKu?” Hati Frances tersentuh dan
air matanya mengalir. Segera ia ambil secarik kertas dan menulis sebuah naskah
syair. Setiba di rumah ia teliti tulisannya dan dapati bahwa itu tidak berarti apa-
apa. Ia lemparkan kertas itu dalam api pemanas, namun kertas itu melayang keluar
dan ditemukan ayahnya, pendeta Havergal, seorang pelayan geraja Anglikan. Ia
memberi dorongan untuk melanjutkan syair tersegut yang pada akhirnya
digubahlah sebuah lagu oleh Philip P. Bliss, penggubah lagu-lagu Gospel terkenal
dari Amerika.
Ketika Kristus berseru di salib: “sudah selesai,” maka kemenangan atas
dosa telah dekukuhkan. Yang diutuhkan dari masing-masing kita dewasa ini adalah
kelayakan kita mendapatkan manfaat dari pelayanan dan pengorbanan Kristus.
Untuk menunjukkan syukur kita kepada-Nya, maka sambutan kita haruslah:
“Terima kasih Tuhan Yesus karena telah menyerahkan hidup-Mu bagiku. Sekarang
aku mau hidup bagiMu dan melayani Engkau sampai akhir hayat.” Nada bagi syair
ini diambil dari “Kenosis”, digubah oeh Philip P. Bliss didedikasikan kepada
Railroad Chapel Sunday School di Chicago. Pertama kali muncul dalam Sunshine
for Sunday Schools tahun 1873.

Bacaan tambahan : Mazmur 1166:12-14; Yohanes 19:30; Roma 12:1,2;


Galatia 2:20.

(No.28)
YESUS, KU PIKUL SALIBKU
(Jesus, I My Cross Have Taken=L.S. No. 68)

Pengaran Naskah : Henry F. Lyte, 1793-1847


Penggubah Lagu : Aransemen dadri Mozart oleh Hubert P. Main, 1873

Matius 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Setiap orang yang
mau menikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan
mengikut Aku.

Henry Lyte menghabiskan sisa 23 tahun akhir hidupnya melayani sebah


gereja Anglikan kecil di desa Devonshire, Inggris. Kesehatannya yang tidak prima
merupakan salib baginya namun pun demikian ia bekerja tanpa mengenal lelah
membangun sekolah Minggu dengan lebih 800 anak-anak. Selain itu juga
mengadakan konstribusi besar bagi kerohanian dan moral masyarakat nelayan yang
keras. Selama tahun-tahun ini ia menulis sejumlah buku dna mengarang 80 naskah
lagu. Dalam menghadapi berbagai kesulitan, Henry Lyte membuktikan bahwa ia
benar-benar menyangkal diri, mengangkat salib dan dengan setia mengikuti dan
melayani Tuhannya.
Masing-masing umat percaya memiliki jenis salib yang berbeda yang
Kristus inginikan ia pikul dengan sukacita setiap hari sebagai pembuktian akan
pemuridannya. Hidup adalah pilihan. Jika kita telah membuat keputusan untuk
mengikut Kristus, dengan sendirinya sudah harus telihat penyangkalan diri, jika
tidak maka kita bellum mengerti akan arti pemuridan. Keselamatan itu diperoleh
dengan bebes, tetapi pemuridan sangat mahal. Memikul salib artinya mau melihat
deseberang urusan kita dan turut berbagi beban orang lain sehingga mereka juga
mendapatkan hubungan pribadi dengan Juruselamat.

Bacaan tambahan: II Raja-raja 18:1-7; Mat 10:38; Mark 10:21; Luk


9:23,62; I Pet 2:21.

(No.29)
LENYAP NAFSU DUNIA
(Fade, Fade, Each Earthly Joy=L.S.No 71)

Pengarang Naskah : Jane C. Bonar, 1821-1884


Penggubah Lagu : Theodore E. Perkins 1831-1912

Mazmur 31:24,25 Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihiNya!


TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat
congkak diganjarNya dengan tidak tanggung-tanggung. Kuatkanlah dan
teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!

Penulis naskah lagu tercinta ini adalah Jane C. Bonar, isteri dadri Dr.
Horatius Bonar, yang dikenal sebagai ebangelist terbesar dan penulis lagu dari
Skotlandia. Jane juga adalah seorang penulis berkarunia dan seorang pemimpin
Kristen sejati. Lebih dadri 40 tahun keluarga Bonar telah memebagikan dukacita
dan sukacita bersama-sama dalam pekerjaan yang kaya pelayanan bagi Allah.
Buah pikiran yang luas dari lagu ini sampai sekarang telah menyentuh hati setiap
pengikut Kristus.

Masing-masing kita telah dijadikan dengan tujuan untuk menikmati


persekutuan dengan Allah yang Mahakuasa. Jiw kita telah dijadikan untuk
kekekalan, bukan hanya sekedar sebagai musafir sementara di dunia ini.
Kehidupan ke-Kristenan harus dihidupkan sedemikian rupa setiap hari seakan-akan
kita telah menikmati berkat-berkar surgawi. Kita menghalangi diri sendiri dari hart
terbesar kehidupan saat kita kehilangan perspektif dan teperosok dalam lumpur
hal-hal sepele dunia ini.
Persekutuan yang intim dengan Allah kita harus menghasilkan paling kurang
3 dasar perbedaan dalam hidup: (1) Lebih rendah hati = suatu kesadaran tebesar
atas keterbatasan kita dan membutuhkan ketergantungan pada Allah. (2) Lebih
berbahagia = suatu kesadaran bahwa hidup ini mempunyai tujuan dan keluhuran
saat kita menampilkan Tuhan dalam hidup. Selanjutnya kekekalan yang di
janjikan di Surga bersama Allah. (3) Lebih kudus = suatu kerinduan besar untuk
kelayakan menjadi umat Allah dan menghidupkan suatu kehidupan yang murni
dan kudus.

Bacaan tambahan : Maz 16:8,11; 37:4,23; 40:8; Ams 11:20; Kol 3:2.

(No.30)
BATU ZAMAN ITU MEMBERI LINDUNGAN
(Hiding in Thee= L. S. No72)

Pengarang Naskah : William O. Cushing, 1823-1902


Penggubah Lagu : Ira D. Sankey, 1840-1908

Mazmur 94:22 Tetapi Tuhan adalah kota bentangku dan Allahku adalah
gunung batu perlingunganku.

Lebih 20 tahun lamanya William O. Cushing menjadi pendeta yang berhasil


di bagian timur Amerika Serikat. Stelah kematian isterinya pada thayn 1870,
William mulai menderita sakit sehingga ia dipaksakan untuk pensiun pelayanan
aktifnya. Naskah lagu ini ia tulis tahun 1876 di Moravia, New york dengan banyak
air mata, konflik dan kerinduan bersama-sama bekecamuk di hati yang funia tidak
pernah mengathuinya. Sejarah pergumulan di hatilah yang menjadi latar belakang
penulisan lagu ini. Selama itu ia mulai merasa tertarik untuk menulis dan telah
menulis lebih 300 naskah setelah bekerja sama dengan beberapa musisi terkenal
seperti Ira Sankey, Robert Lowry, George Root, dan lain-lain.

Pada suatu hari Ira Sankey berkata kepada William: “Segera kirimkan
kepada saya sesuatu yang baru untuk membantu saya dalam penginjilan.”
Panggilan sedemikian dari orang yang memerlukannya demi pelayanan bagi
Tuhan, kelihatannya datang dari Tuhan. Dengan banyak berdoa lahirlah lagu ini.
William O. Cushing juga menulis banyak naskah lagu lainnya.

Ira D. Sankey sering disebut: “Bapa lagu-lagu Gospel”, karena ia yang


memulaikan jenis lagu sedemikian dalam penginjilannya bersama Dwight L.
Moody dan rajin mencetak dan membagikan koleksi lagu-lagu. Satu koleksi saja,
Sacred Songs and Solos laku terjual sebanyak 80 juta buah dalam waktu 50 tahun
pertama. Buku tersebut masih dicetak dan dikual dewasa ini. Koleksi ini dan juga
yang dicetak Sankey dengan kerja sama P.P.Bliss dan George C. Stebbins, Gospel
Hymns Numbers 1-6 telah berpengaruh besar terhadap musik evangelisasi gereja
sampai sekarang. Lagu “Hidding in Thee” pertama kali muncul dalam koleksi
berjudul Welcome Tidding yang dikompolasi Robert Lowry, William H. Doane
dan Ira Sankey.

Bacaam tambahan : Mazmur 4:8; 31”2; Yesaya 26:3,4; 2 Korintus 1:9,10.

(No. 31)
DIBAWAH SALIB YESUS
(Beneath the Cross of Jesus = L. S. No. 73)

Pengarang Naskah : Elizabeth C. Clephene, 1830-1869


Penggubah Lagu : Frederick C. Maker, 1844-1927

1 Korintus 1;18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan


bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan
itu adalah kekuatan Allah.

Salib merupakan simbol kesuciaan iman Kristiani. Di sanalah beban dosa


manusia diangkat. Disana kita mengalami kasih karunia ajaib dari Tuhan dan
Juruselamat kita, keselamtan dan kelimpahan hidup kekal. Semua dosadan
pelanggaran kita dipakukan di sana. Sejak menghampiri salib itu, kita menjadi
orang yang berbeda.

Tidak ada kenetralan bagi seseorang bila menghadapi salib. Apakah kita
akan menerima penebusan dan menjadi manusia baru atau menolaknya dan tetap
tinggi dalam pri keberdosaan itu terletak atas pilihan kita. Naskah Lagu ini ditulis
seorang wanita Skotlandia kurus dari Presbyterian. Walaupun dalam keadaan
phisik yang lemah, ia dikenal di masyarakat sebagai seseorang yang suka
menolong, dan berkepribadian gembira. Elizabeth Cecilia Douglas Clephane, salah
seorang dari segelintir penulis wanita Skotlandia, lahir di Ediburg, Skotlandia
namun dibesarkan di Melrose di wilayah indah Abbotsford dekat jembatan tua
yang dibahas penulis terkenal, Sir Walter Scott dalam bukunya; The Abbot and the
Monastery. Ayahnya adalah seorang sheriff dan ibunya keturunan terkenal
keluarga Douglas.
Elizabeth adalah salah seorang dari 3 bersaudara perempuan. Ia senang
menolong orang miskin dan sakit dan bersama saudara-saudaranya memberikan
bantuan apa saja dari milik mereka demi kesejahteraan masyarakat. Elizabeth
dikenal di seluruh Melrose sebagai “sinar matahari”. Ia suka menulis naskah lagu
dan terbitkan oleh Majalah Scottish Presbyterian dengan judul “The Family
Treasury”. Namun sebagian besar penulisannya nanti diterbitkan setelah 3 tahun
kematian di usia 39 tahun. Ia menerima salib dengan serius setelah membaca
Matius 16:24 lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang
mau mengikut Aku ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan
mengikut Aku.” “Beneath the Cross of Jesus” ditulis oleh Nn. Clephane pada
tahun 1868, setahun sebelum kematiannya dan nanti diterbitkan pada thun 1872
dalam The Family Treaury bersama-sama naskah/syair lain miliknya. Naskah asli
memiliki 5 bait tetapi hanya digunakan 3 saja di kebanyakan buku lagu. Mudah
dipahami bahwa Elizabeth seperti juga para anggota Presbyuterian adalah pelajar
Alkitab yang rajin, karena lagu ini penuh dengan symbol dan perumpamaan
Alkitab.

Seumpamanya bait satu diambil dari Yesaya 32:2 dan mereka masing-
masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan
terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan
batu yang besar, di tanah yang tandus. Mazmur 63:2 Ya Allah, Engkaulah
Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu,
seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Yeremia 9:2 Sekiranya di
padang gurun aku mempunyai tempat pneginapan bagi orang-orang yang sedang
dalam perjalanan, maka aku akan meninggalkan bangsaku dan menyingkir dari
pada mereka!

Yesaya 28:12 Dea yang telah berfirman kepada mereka: “Inilah tempat
perhentian, berilah perhentian kepada orang yang lelah; inilah tempat
peristirahatan!” Tetapi mereka tidak mau medengarkan. Yesaya 4:6 dan sebagai
pondok tempat bernaung pada waktu siang terhadap panas terik dan sebagai
perlindungan dan persembunyian terhadap angin ribut dan hujan. Matius 11:30
sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

Nada lagunya diberi nama “St. Christopher”’ yang secara emotimologi (ilmu
asal usul kata) berarti “utusan Kristus”. Penggubahnya bernama Frederick C.
Maker, seorang pemain organ terkenal Inggris, lahir di Bristol, Inggris dan
menghabiskan sebagian besar hidupnya memainkan organ di berbagai gereja di
kota tersebut. Salah satu dari 2 lagunya yang bertahan sampai dewasa ini ialah
lagu “Sembilahpuluh Sembilah Domba Di Kandang” yang diperkenalkan oleh
penyanyi Ira D. Sankey dalam kebaktian kebangunan rohani Dwight L. Moody di
Amerika Serikat dan Britania Raya. Nn. Clephane tidak sempat mendengarkan
lagu ciptaannya yang telah memberkati jutaan manusia. Kata-katanya jelas dan
menceritakan arti salib. Kiranya lagu ini menjadi pengalaman dan memberikan
kesaksian bagi kita untuk terus setia “berdiri di bawah salib Yesus.”

Bacaan tambahan : Mazmur 22:7; Matius 27:33,37 Lukas 9:23; Galatia 6:14.

( No. 32)
AKU MAU MENJADI KRISTEN
(Lord I want to be a Christian = L.S.No.74)

2 Petrus 1:4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji
yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu beroleh mengambil
bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang
membinasakan dunia.

Seorang Kristen ialah:


Sebuah pikiran melaluinya Kristus berpikir
Sebuah hati melaluinya Kristus mengasihi
Sebuah suara melaluinya Kristus berbicara
Sebuah tangan melaluinya Kristus melayani.

Naskah lagu ini diperkirakan berasal dari isi hati seorang budak Negro yang
dikemukakan kepada seorang pendeta bernama William Davis sekitar pertengahan
abad XVIII. “Tuan, saya mau menjadi seorang Kristen”

Bagaimana jawaban anda atas permohonan di atas? Banyak orang dewasa


ini menggunakan kata “Kristen” sekedar arti bahwa seorang Kristen itu berbeda
dari seorang kafir, Budha, Hindu atau yang lainnya. Atau mereka menyamakan itu
dengan seorang anggota gereja, atau mungkin juga seseorang yang
berperikemanusiaan dan peduli pada orang lain.

Kata Kristen mula-mula di gunakan di Anthiokhia. “...di Antiokhialah


murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen, (Kisah 11:26), karena
mereka percaya akan Injil dan secara pribadi menerima karunia Allah dan
menjadikan Kristus Juruselamat dan Tuhan atas hidup mereka. Mereka secara
harafiah telah menjadi “CHIRST-ians” atau Kristus kecil. Setelah seseorang
mengambil langkah-langkah penting bagi keselamatan, seorang Kristen harus
mengembangkan suatu pola kemurnian tabiat. Alkitab mengajarkan bahwa:
“Justru kerana itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk
menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada penguasaan diri ketekunan,
dan kepada ketekuan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih dakan saudara-
saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang, 2 Petrus
1:5-7. Kristen, artinya secara efektifmewasskili Tuhan dalam dunia yang jahat dan
merupakan suatu peragaan transformasi kuasa Injil.

Salah seorang prajurit Alexander Agung membuat suatu kesalahan fatal


yang mengharuskan ia dihukum mati. Sevelum pelaksanaan eksekusi, ia di suruh
menghadap di markas besar ketentaraan. Alexander Agung bertanya: “Siapa
namamu?” Prajurit ini menjawab: “Alexander, tuan”. “Hah,” kata Alexander
Agung dalam keheranannya. “Apakah engkau benar-benar bernama Alexander?”
“Benar tuan, tapi tanpa Agung,” jawabnya.
Dengan nada tegas Alexander Agung berkata: “Kamu tidak akan dihukum mati,
tetapi sekarang segera kembali ke pasukanmu. Dan mulai detik ini juga kamu
harus merubah tabiatmu, dan kalau tidak, segera rubah namamu”.

Adakah kita sebagai orang Kristen, pengikut Kristus telah menghidupkan


kehidupan Kristus? Dan bagaimana seandainya Kristus dakan berkata: “Segera
rubah tabiatmu atau rubah nama Kristenmu.” Apakah jawaban keta?

Bacaan tambahan : Kisah 4:12; 16:30,31; Roma 10:10;n 1Korintus 15:49;


Kolose 3:9, 10; 2 Petrus 1:5-10.

(No. 33)
YA ALLAH AKU MAU
(Nearer, My God to Thee = L. S. No. 81)

Pengarang Naskah : Sarah F. Adams, 1805-1848


Penggubah Lagu : Lowel Nason, 1792-1872

Yakobus 4:8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.

Lagu ini dimainkan dengan orkes saat ratusan penumpang kapal Titanic
tenggelam pada tahun 1912 ketika kapal itu menambrak gunung es sekitar 1.600
mil menjelang New York dalam pelayaran perdananya dari Inggris. Ketika sekoci-
sekoci penyelamat terakhir meninggalkan kapal dengan membawa sekitar 600
orang, maka seluruh pengharapan pun lenyap bagi mereka yang tertinggal. Di
saat-saat terakhir ketika kapal semakin tenggelam dengan lebih dari 1.500
penumpang, mereka yang berada di sekoci mendengar sayup-sayup lagu ini
melalui gesekan dan tiupan alat musik bersama suara penumpang lainnya yang
hampir tenggelam. Sekitar 100 tahun setelah lagu ini dicetak, seorang pedagang
Amerika bernama David Randall menual sebuah buku lagu “Hymns and
Anthems” (London 1841) seharga $25.00. Mengapa semahal itu? Karena di
dalam buku tersebut terdapat lagu “Nearer, My God to Thee” karangan Sarah
Flower Adams.

Ketika editor Benyamin Flower, ayah sarah dan Elizabeth dipenjarakan di


penjara Newgate karena mengeritik aktivitas politik Uskup dari Landlaff dalam
tajuk korannya “The Cambridge Intelligencer,” salah seorang tamunya bernama
Eliza Gould, seorang guru sekolah sangat mengagumi penulisan-penulisan dan
pandangan-pandangannya. Persahabatan mereka berakhir dalam pernikahan
setelah Flower dibebaskan dari penjara. Lagu yang sangat dicintai ini ditulis oleh
Sarah Flower, wanita muda bertalenta dari Inggris, yang hidupnya hanya mencapai
43 tahun. Meskipun kesehatannya sering terganggu, Sarah adalah seorang yang
aktif dan produktif. Setelah sukses di panggung teater London dan bermain
sebagai Lady Macbeth-nya Sheakespear, ia mulai banyak menulis dan menjadi
terkenal. Kata Salib yang ditulis dalam bait pertama itu adalah ungkapan isi
hatinya mengenai keterbatasan kondisi fisiknya untuk mencapai berbagai ambisi.

Adik perempuan Sarah, Elizabeth juga adalah seorang yang dikaruniai


talenta musisi dan berkemampuan menggubah lagu untuk naskah-naskah
saudaranya. Bersama-sama keduanya mengkontribusi 13 naskah dan 62 gubahan
lagu untuk buku lagu yang dikomplikasikan pendeta mereka. Pada suatu hari
pendeta William J. Fox meminta sebuah lagu baru untuk khotbahnya tentang Esau
dan Yakub. Sarah segerea menggunakan cukup waktu untuk mempelajari
Kejadian 28:10-22 dan tidak lama naskah “Nearer, My God to Thee” diselesaikan.

Lagu baru ini untuk pertama kalinya dilagukan di South Place Chapel,
London di musim gugur 1840. Karena penulisnya menghadiri Unitarian Church
ketika menulis naskahnya dan tidak ada nama Yesus di dalamnya maka untuk
beberapa waktu lagi ini dikritik. Namun atas gubahan Lowell Mason di tahun
1856, lagu tersebut mendapat tempat di hati umat percaya di seluruh dunia. Lagu
ini pula menjadi sangat terkenal dan dicetak dalam berbagai buku lagu rohani dan
merupakan lagu favorit Presiden William McKnley. Presiden ini terbunuh
dikantornya, sementara dalam keadaan sekarat ia membisikan kata-kata hiburan
lagu tersebut. Tanggal 19 September, 1901 pada saat upacara penguburan Persiden
McKinley, seluruh warga menghening cipta selama 5 menit mengenang prsiden
mereka ketika lagu ini dinyanyikan.
Sejak saat itu, lagu ini telah menjadi lagu hiburan bagi kerohanian mereka
yang tersakiti di seluruh dunia. Bait demi bait yang menggambarkan Yakub tidur
berbantalkan batu, jauh dari rumah, bermimpi tentang malaikat dan kemudian
menamakan tempat itu Bethel artinya “Rumah Allah”, merefleksikan suatu
kerinduan, teristimewa disaat tertekan, untuk mengalami kedekatan dengan Tuhan
dalam cara yang sangat nyata. Kita juga dalam nenghadapi tantangan dan salib
dapat mengenal kehadiran dan kedekatan Tuhan kita yang telah berjanji dalam
Matius 28:20...Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada
akhir zaman.”

Bacaan tambahan :Kejadian 28:10-22; Mazmur 16:7,8; 73:28; 145:18;


Yeremia 29:13; Kisah 17:27.

(No. 34)
BERSERAH KEPADA YESUS
(All to Jesus I Surender = L.S. No. 83)

Pengarang Naskah : Judson V. Van De Venter, 1855-1939


Pengubah Lagu : Winfield S. Weeden, 1847-1908

Matius 10:38,39 Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut aku, ia
tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya, dan barang sipa kehiangan nyawanya karena Aku, ia
akan memperolehnya.

Alkitab mengajarkan kita bahwa hancur hati merupakan prasyarat bagi


berkata dan kegunaan. Tidak seorangpun dapat mencapai kebesaran rohani
sebelum ia menyerah sepenuhnya kepada Allah. Kehidpan yang menang hanya
diperoleh kalau kita menyerahkan diri kita sepenuhnya untuk diperintah oleh
Allah, menjadi hamba kasihNya. Yang terbaik yang Allah sediakan bagi
kehidupan kita bukanlah hasil pergumulan. Sederhana saja, ialah penerimaan akan
kehendakNya yang sempurna itu dan pengakuan akan otoritasNya dalam setiap
bidah kehidupan kita.
Lebih tinggi dari langit tertinggi
Penuhilah doa permohonanku ini
Lebih dalam dari lautan terdalam
Tuhan, kasihMu sajalah yang telah mengalahkan
Tak sesuatupun datang dari diri-ku
Semuanya berasal daripada-Mu
Judson Van De Venter memiliki banyak talenta. Ia menulis naskah lagu ini
setelah menyerahkan seluruh talentanya kepada Allah. Ia berkata: “untuk
beberapa waktu lamanya saya bergumul antara mengembahkan talenta saya di
bidang seni dan bekerja sepenuhnya dalam pekerjaan evangelisasi. Akhirnya
waktu terpenting dalam kehidupan saya pun tiba, dan saya berserah
sepenuhnya. Suatu hari baru muncul dalam hidup saya. Saya menjadi seorang
evangelisasi dan mendapatkan di kedalaman jiwa suatu talenta yang sampai
sekarang saya tidak mengerti. Allah telah menyimpan sebuah lagu dalam hati
saya, menyentuh nadanya dan membuat saya menyanyi.”

Setelah mengambil keputusan untuk mendedikasikan kehidupannya dalam


pelayfanan Kristiani, Van De Venter berhasil dalam pelayanan evangelisasi di
tempatnya maupun ditanah seberang. Billy Graham merupakan salah seorang dari
sekian banyak yang mengatakan bahwa Van De Venter telah mempengaruhi hiudp
mereka dengan limpah bagi pelayanan.

Bacaan tambahan : Roma 6:8-11; 1 Korintus 6:19,20; Efesus 3:16,17.

(No. 35)
JADILAH TUHAN KEHENDAKMU
(HAVE Thine Own Way, Lord=L.S. No. 84)

Yesaya 64:8 Tetapi sekarang, ya Tuhan, engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah
liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan
tangan-Mu.
Seorang wanita tua dalam sebuah kumpulan doa berdoa demikian: “Tidak
dipersoalkan apapun yang Engkau buat bagi kami Tuhan, lakukanlah cara-Mu dan
apa yang terbaik bagiMu dalam kehidupan kami.” Dalam kumpulan doa ini hadir
Adelaide Pollard, seorang guru Alkitab berkeliling, yang malam itu sementara
merasa susah karena ia tidak dapat mengumpulkan dana bagi perjalanan
misionarinya ke Afrika. Ia tergerak dengan doa yang bersungguh-sungguh dari ibu
tua tadi.

Malam itu ia pulang ke rumah dan bermeditasi atas Yermia 18:3,4 lalu
pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan
pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya
itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain
menurut apa yang baik pada pemandangannya. Sebelum beristirahat ia
menyelesaikan naskah lagu yang kita nyanyikan saat ini dalam 4 bait. Lagunya
pertama kali terbit di tahun 1907.
Seringkali datang kekecewaan dan sakit hati dalam kehidupan kita, yang kita
tidak mengerti. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus belajar untuk tidak akan
pernah bertanya-tanya cara Allah yang berkuasa itu, hanya dalam kerendahan hati
dan kesederhanaanlah kita patut berkata: “Jadilah Tuhan Kehendak-Mu.”

Bacaan tambahan: Mazmur 27:14; Roma 6:13,14; 9:20,21; galati 2:20.

(No. 36)
HAI PUJILAH, YESUS JURUSELAMAT KITA
(Praise Him! Praise Him! = L.S. No. 88)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggubah Lagu : Chester C. Allen, 1838-1878

Mazmur 146:2 Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup, dan
bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.

“Ke-Kristenan bukanlah sebuah theori atau spekulasi, tetapi suatu


kehidupan; bukan suatu falsafah hidup, tetapi suatu kehadiran nyata.
Kesadaran akan hal ini dapat merubah kemurungan menjadi nyanyian
sukacita.” – S. T. Coleridge.

Puji syukur adalah kelayakan kudus yang patut diterima Allah. Itu bukan
suatu pilihan apakah kita mau atau tidak mau, tetapi merupakan suatu perintah.
Alkitab mengatakan “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa
mempersembahakan korba syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang
memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi
bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah,”
Ibrani 13:15,16.

Korban syukur kita kepada Tuhan mencakup lagu pujian sukacita bagi siapa
sebenarnya Kristus itu, yaitu Dia yang adalah “Juruselamat kita yang diberkati.”
Kemudian kita patut bersyukur atas berkat-berkat harianNya yang tak dapat
dihitung. Kita harus bersyukur untuk ujian kehidupan karena itu merupakan
karunia tersembunyi. Akhirnya syukur kita harus mencakup pujian atas
bimbinganNya yang perlu kita alami.

Ini adalah sebuah lagu Gospel yang ditulis Fanny Crosby, penyair buta dari
Amerika. Semua naskahnya berjumlah antara 8000-9000 syair lagu yang sampai
sekarang membekali lagu-lagu pujian kita melebihi penulis lainnya. “Praise Him.
Praise Him” pertama kali muncul dalam buku lagu sekolah minggu Bright Jewels,
yang dicetak pada tahun 1869, judul aslinya adalah : “Praise, Give Thanks”. Dan
hingga kini kata-katanya menggugah pujian dan syukur keluar dari hati semua
umat percaya.

Matthew Hendry (1662-1714) dikenal sebagai seorang yang selalu berterima


kasih dan bersyukur kepada Tuhan. Pada suatu hari dia dirampok dan semua yang
berharga dilarikan para perampok. Matthew menulis dalam buku hariannya: “Aku
bersyukur kepada Tuhan bahwa aku sebelumnya tidak pernah dirampok. Dan
walaupun uangku diambil mereka tidak mengambil nyawaku. Akhirnya aku
bersyukur dan memuji Tuhan bahwa akulah yang dirampok dan bukan aku
perampok itu.” Have a good day, Nov. 1963,p.4.

Bacaan tambahan : Maz 71:23; Ibrani 1 :3-8; 13:8; Wahyu 1:5,6; 5:11-14.

(No.37)
PERCAYA YANG MENANG
(Faith is the Victory= L.S. No.90)

Pengarang Naskah : John H. Yates, 1837-1900


Penggubah lagu : Ira D. Sankey, 1840-1908

I Yohanes 5:4...sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan
inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Iman yang menyelamatkan harus di pulihkan dalam iman yang diamalkan.


Sambutan iman atas yang memotivasi Kristus merubah kita; tetapi kita
membutuhka iman yang memotivasi kehidupan harian kita jika rindu
menghidupkan suatu kehidupan penuh kemenangan. Hidup oleh iman ialah
percaya dengan keyakinan bahwa maksud Tuhan bagi kita akan sungguh-sungguh
berhasil. Bahkan, iman yang sempurna mengantisipasi kemenangan dan
merayakan sebelum itu terjadi. Seumpamanya yang tertulis dalam Perjanjian
Lama bagaimana para penyanyi mendahului pasukan pertempuran dan kekalahan
musuh pun tercapai.
2 Tawarikh 20.20 Keesokan harinya pagi-pagi mereka maju menuju padang
gurun Tekoa. Ketika mereka hendak berangkat, berdirilah Yosafat, dan berkata:
“Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada Tuhan,
Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan
kamu akan berhasil!”
20:21 Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan
menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pekaian kudus
yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil
berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya!”
20:22 Ketika mereka mulai bersoraksorai dan menyamyikan nyanyian pujian,
di buat TUHANlah penghadangan tehadap bani Amon dan Moab, dan orang-
orang dari pengunungan Seir, yang hendak menyeberang Yehuda, sehingga
mereka terpukul kalah. Iman kita tidah bekembang berdasarkan kemampuan
intelek terhadap dogma (ajaran agama) atau memalui pikiran yang muluk-muluk.
Tetapi sebaliknya itu adalah komitmen seumur hidup akan Kristus dengan
sambutan penurutan terhadap FirmanNya. Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari
pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Lagu mengenai iman dan
kemenangan ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1891 dan Christian Endeavor
Hymnal. Pengarang naskahnya adalah John Henry Yates, seorang pendeta
Methodist yang kemudian diurapi menjadi pendeta Baptist. Ira D. Sankey,
penggubah lagunya, adalah seorang penyanyi yang sering disebut “bapa lagu-lagu
gospel”.

Inam ialah: bersandarlah pada Allah, menerima apa yang diberi Allah,
menyebut panggilan Allah, menyadari adanya Allah, bersukacita di dalam Allah
dan memantulkan hidup dan sifat Allah.-W.H. Griffith Thomas.

Bacaan tambahan : Gal 2:20; yak 2:18; I Yoh 5:1-12; Yudas 3.

(No.38)
BUANGKAN DUNIA, TERIMA YESUS
(Take the World, but Give Jesus=L.S. No. 92)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggubah Lagu : John R. Sweney, 1837-1899

Markus 8:36,37 Apa gunanya seorang meperoleh seluruh dunia, tetapi ia


kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat dibirikannya sebagai ganti
nyawanya?
Dalam diri setiap umat percaya terdapat pergumulan yang terus menerus
antara sifat-sifat lama, yaitu yang tertarik kepada dunia, melawan sifat-sifat baru
yang menyambut Tuhan. Kedua sifat dasar ini tidak pernah berhenti berjuang
selama kita masih menjadi penduduk dunia. Keduniawian dapat di artikan sebagai
apa saja yang menarik perhatian kita dari Allah dan membatasi kita untuk menjadi
seperti yang diinginkan Allah. Berpisah dari dunia, bagaimana pun juga, bukan
berarti harus hidup terisolasi dari sesama manusia di dunia. Apakah mereka itu
orang saleh atau orang berdosa. Kita tidak dapat mewakili Kristus bila kita
menyendiri dari kebutuhan orang-orang sekitar kita.

Tujuan hidup seorang Kristen ialah “berati berbuat dosa” dengan demikian
akan membuat sifat lama yaitu cinta diri, kebencian, dan kerakusan mengalami
kelaparan dan mati. Kita harus terus berjuang dan bergumul dan berkata seperti
yang diungkapkan Fanny Crosby: “Buangkan dunia terima Yesus.” Sebagaimana
yang di alami penyair buta ini, tujuan kita ialah sekali klak akan memandang
dengan jelas wajah Tuhan kita muka dengan muka. Yaitu wajah Dia yang telah
membuat pergumulan hidup ini berhasil.

Bacaan tambahan : Gal 5:16-18; Ef 3:17-19; Fil 1:20-24; I Yoh 2:15.

(No.41)
BERKAT YANG TENTU TUHAN JANJI
(Blessed Assurance, Jesus Is Mine= L. S. Mo 101)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggubah Lagu : Phoebe P. Knapp, 1839-1908

Ibarani 10:22-23 Karena itu marilah kita menghadapi Allah dengan hati yang
tulus ikhlas dan keyakinan yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan
dari hati yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab
Ia, yang menjanjikannya, setia.

Di usia 80 tahun Fanny Crosby berpindah ke Bridgeport, Connecticut untuk


tinggal bersama saudara perempuannya. Di sana ia lebih banyak memusatkan
pikiran ke Surga dan berkat-berkat yang Allah sediakan baginya. Ia telah
tinggalkan bagi kita suatu warisan besar imannya, yaitu lagu yang telah bertahan
dan telah membuwa berkat lebih dari 100 tahun, namun masih menginspirasikan
dan mengisi pengalaman kita dalam Kristus.
Phiebe Palmer, anak dari evangelist Dr. Walter Palmer, lahir di New York
tahyun 1839. sejak kecil sudah telihat talenta musik yang luar biasa dalam dirinya.
Menikah dengan Joseph Palmer Knapp, merupakan pasangan yang cocok sehingga
keduanya disebut “suatu pasangan yang ideal dalam setiap langkah.” Kedua
suami-istri ini adalah anggota jemaat gereja St. Hohn’s methodist yang aktif,
konsisten dan liberal. Pada tahun 1873, wanita berbakat ini mengunjungi Fanny
Crosby, si buta pengarang naskah-naskah lagu yang telah menjadi salah seorang
penulis syair terkenal sepanjang masa. Fanny Crosby bersaksi:
“Sahabat saya, Ny. Phoebe Palmer Knapp, seorang penulis dan penyanyi
lagu-lagu merdu, dan merupakan insprirasi bagi mereka yang mengenalnya, telah
menggubah sebuah nada lagu dan bagi saya nada yang paling merdu yang pernah
saya dengar. Ia meminta saya mengarang maskahnya, dan sementara saya
menyelesaikan tugas ini, saya turut merasakan kata dan nada yang begitu serasi
seakan-akan telah dipersiapkan untuk perpaduan keduanya. Saya benar-benar
menjadi kaya secara rohani.” Ketika Fanny Crosby meninggal dunia, di batu
nisannya di Bridgeport, Connecticut tertulis kata-kata Tuhan Yesus kepada Maria
saudara Lazarus: “Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya.” (Markus
14:8)

Setelah suami Ny. Knapp meninggal dunia, ia mendapat penghasilan dari


Yayasan suaminya sebesar $50,000.00 setiap tahun yang sebagian besar digunakan
untuk menolong orang miskin dan bidang amal. Anak lelakinya juga memiliki
kedermawanan ibunya telah menyumbang banyak melalui Yayasan (The Knapp
Foundation, Incorporated), dari New York dan North Carolina. Ny. Knapp adalah
seorang penyanyi, pemain organ dan seorang pekerja Kristen yang setia,
meninggal dunia di Polan Springs, Maine pada 10 Juli 1908.

Bacaan tambahan: yesaya 12:2; Roma 8:16,17; 15:13; Titus 2:13,14; I


Yohanes 5:13; Wahyu 1:5,6.

(No. 42)
SELAMAT DI LENGAN YESUS
(Safe in the Arms of Jesus= L. S. No. 104)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggubah Lagu : W.H. Doane, 1832-1915
Ulangan 33:27 Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di
bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu
dan berfirman: punahkanlah!

Sebagian besar naskah lagu Fanny Crosby ditulis untuk dicocokkan dengan
lagu gubahan seseorang. Tidak heran Allah membuat mujizat-mujizat dalam
hidupnya. Sebelum kematiannya di tahun 1915 pada umur 95 tahun ia telah
menulis lebih banyak naskah, lagu dan syair melebihi siapapun di permulaan era
keKristenan.

Lahir di sebuah rumah kecil di Southeast, Putnam Country, New York pada
tanggal 24 Maret 1820, ia menjadi buta secara permanen karena kelalaian seorang
dokter pedesaan yang mengobati infeksi matanya. Ibu dan neneknya mendidik dia
di masa kecil dan remaja. Ketika berumur 9 tahun, keluarganya pindah ke
Ridgefield, Connecticut. Di sana mereka melewati masa-masa yang “indah dan
berhasil”. Di usia 9 tahun itulah ia menulis syair pertamanya. Pada tahun 1858 ia
menikah dengan Alexander Van Alstyne, seorang musisi dan instruktur buta dari
New York City Institution for the Blind. Ia tetep menulis dan menerbitkan hasil
pekerjaanya dengan nama masa gadisnya, Fanny J, Crosby. Kedua suami insteri
ini menjadi anggota gereja Thirtieth Street Methodist di New York.

Di suatu siang pada tahun 1868, seorang pengusaha Kristen tekenal benama
William H. Doane, yang sering mengarang lagu berdasarkan hobi, mengetuk pintu
rumah Fanny. Ketika dipersilahkan masuk, ia segera berkata: “Fanny, saya hanya
mempunyai waktu 40 menit, karena akan berangkat ke Cincinnati dengan kereta
api. Di sana akan diadakan kongres se-negara bagian. Dengan kehadiran delegasi
orang dewasa sebanyak itu, tentu akan hadir juga para pemuda dan anak-anak.
Saya mau anda menuliskan sebuath naskah untuk lagu saya yang akan
diperkenalkan dalam kongres tersebut. Naskahnya harus menarik imaginasi dan
hati para pemuda dan anak-anak.”

Fanny tersenyum dan berkata: “Bukankah anda telah mengarang lagunya?”


Doane bertanya: “Bagaimana anda mengetahuinya?” Jawab Fanny: “Intuisi
perempuan”. Doane menghampiri piano dan berkata kepada Fanny: “Dengarkan
baik-baik lagunya sebabkereta saya akan berangkat 35 menit lagi.” Kemudian ia
memainkan lagunya yang didengarkan oleh Fanny dengan penuh perhatian.
Ketiaka selesai, Fanny berkata: “Ada sebuah ayat yang saya ingat “dan di
bawahmu ada lengan-lengan yang kekal”. Ini lagu yang tepat dengan naskah
yang akan saya tulis.
Fanny beranjak ke meja tulis dan segera menuliskan naskah lagu yang
dimainkan Doane. Setelah diulangi beberpa kali Fanny menyelesaikan naskahnya,
melipat kertas, memasukkannya ke dalam amplop dan berkat: “Segera berangkat,
karena kamu akan terlambat. Naskahnya nanti saja dibaca di kerata api” Setelah
mengucapkan terima kasih, Doane meninggalkan Fanny. Di dalam kereta api ia
membuka amplop dan di sana tertulis kata-kata lagu Safe in the Arms of Jesus.
Walaupun ia menulis sekitar 7 sampai 8 ribu syair dan naskah selama hidupnya,
tidak ada yang sedemikian pupuler seperti yang ditulisnya untuk dicocokkan
dengan lagu gubahan seorang pebisnis Ohio.

Baacaan tambahan: Mazmur 119:142,;144;139:24: Yesaya 26:4 yesaya


40:28’ Roma 16:26.

(No.43)
BILA LAUT KEHIDUPANMU BERGELOMBANG
(Count Your Blessings=L,S. No. 110)

Pengarang Naskah: Johson Oatman, Jr., 1856-1922


Penggubah Lagu : Edwin O. Excell, 1851-1921

Efesus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam
Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Pendeta Johnsosn Oatman, Jr., adalah salah seorang penulis lagu-lagu


Gospel sangat produktif di akhir abad XIX dan permulaan abad XX. Ia lahir di
Medford,New Jesrey pada 21 April 1856. Sejak masa kanak-kank ia suka
menyanyi dan talentanya diturunkan dari ayahnya. Di umur 19 tahun Oatman
bergabung dengan gereja Methodist dan beberapa tahun kemudian menjadi
pengkhotbah di gereja tersebut. Walaupun ia menulis lebih dari 5.000 naskah lagu,
Oatman sibuk sepanjang administrator dalam perusahaan asuransi New Jersey.
Naskah lagu lainnya dari Johnson Oatman adalah “Hegher Ground” dan “NO, Not
One”.

“Count Your Blessinegs” pada umumnya merupakan salah satu naskah


terbaiknya. Lagu ini mulai diterbitkan dalam songs for young people, dikompilasi
dan diterbitkan oleh Edwin O. Excell tahun 1897 dan dinyanyikan di seluruh
dunia. Salah seorang penulis berkata: “Bagaikan sinar matahari lagu ini menerangi
tempat-tempat gelap di seantro dunia.”
Belum pernah sebuah lagu gubahan Amerika diterima dengan sangat
antusias di Inggris seperti lagu ini. Koran The London Daily menulis tentang
sebuah pertemuan yang dipimpin Gypsy Smith mengumumkan bahwa kita akan
melagukan “Count Your Blessings”. Di London Selatan para pria
menyanyikannya, disiulkan oleh para pemuda dan ibu-ibu menina-bobokan anak-
anak mereka dengan lagu ini.” Selama Kebangunan Rohani di Wales, ini
merupakan salah satu lagu yang dinyanyikan dalam setiap kebaktian bersama lagu
“O That Will be Glory”.

Penggubah Lagu, E. O. Excell, adalah salah seorang musisi yang cukup


terkenal dengan lagu-lagu gospel. Ia lahir di Stark County, Ohio, 13 Desember
1851. Pada umur 20 tahun ia menjadi guru nyanyi yang mengadakan perjalanan
keliling negara mendirikan sekolah-sekolah musik. Selama 20 tahun ia bekerja
sama dengan Sam Jones, seorang pembaharu terkenal dari Selatan. Exell terkenal
sebagai seorang pemimpin nyanyi terbaik di jamannya. Ia menulis dan menggubah
lebih dari 2.000 lagu gospel, menerbitkan 50 buku lagu dan mendirikan usaha
percetakan musik di Chicago. Sewaktu mendampingi Gypsy Smith dalam
evangelisasi di Louisville, Kuntucky tahun 1921 ia mendapat serangan penyakit
dan meninggal dunia di usia 70 tahun.

Penting bagi kita utuk mengambil waktu setiap saat merenungkan kebenaran
mendalam dari bait ke-empat lagu ini. Dalam 2 bait pertama, Patman
mengembangkan pemikiran mengenai berkat-berkat limpah sebagai penangkal
kekecewaan hidup dan berakhir dengan kemenangan. Di bait ketiga ia mengajar
kita untuk menempatkan berkat-berkat materi dalam perspektif yang benar bila
dibandingkan dengan berkat warisan hidup kekal yang menanti. Dan setelah
meninjau kembali semua berkat ini kita dihiburkan melalui bait ke-empat bahwa
pertolongan Tuhan sampai akhir hidup kita di dunia, merupakan berkat pilihan
terbaik kita.

Bacaan tambahan: Mazmur 28:7; 68:19;m 69:30,31. Yakobus 1:17.

(NO 44)
DITEMPAT YANG LEBIH TINGGI
(Higher Ground= L.S.No.119)

Pengarang Naskah : Johnson Oatman, Jr., 1856-1922


Penggubah lagu : Charles H. Gabriel, 1856-1932
Pilipi 3:14 dan berlari-berlari kepada tujuan untuk memperoleh hadia, yaitu
penggilan sorgawi dari Allaj dalam Kristus Yesus.

Sungguh amat menyedihkan bila memperhatikan seseorang tidak pernah


menghidupkan suatu kehidupan berpotensi. Sangat tragis bila seseorang dengan
kemampuan besar tidak menggunakannya karena ia kekurangan insentif untuk
mengejar suatu tujuan yang layak. Hal yang sama bisa saja terjadi bagi seorang
Kristen yang gagal membuktikan pertumbuhan kerohanian dalam hidupnya.
Alkitab mengajarkan bahwa kedewasaan Kristen atau proses menjadi serupa
dengan Kristus itu berlangsung langkah demi langkah. Namun rahasia
perkembangan itu ialah memiliki kerinduan besar untuk menggenapi kehendak
Tuhan bagi kehidupan kita.
Lagu “Higher Ground” telah menjadi lagu populer dan kecintaan banyak orang
Kristen sejak diterbitkan tahun 18998. Ia mengekspresikan kerinduan universal
bagi kehidupan kerohanian yang mendalam, berlanjut ke tingkat yang semakin
tinggi dalam persekutuan dengan Allah melebihi pengalaman-pengalaman kita
sebelunya. Pengarang naskah nakah Johnson Oatman, Jr., adalah seorang
pengusaha yang menulis 3.000 lagu gospel diwaktu-waktu senggangnya. Oatman
diurapi organisasi gereja Methodist Episcopal, namun dia sendiri tidak pernah
menggembalakan jemaat. Lagu-lagunya selalu diterima dengan sukacita

Gubahan musiknya oleh Charles H. Gabriel, editor musik dari Rodeheavr


Publishing Company. Ia menulis lagu bahkan seringkali juga mengarang naskah
Bily Sunday-Homer Rodeheaver dari tahun 1910-1920. lagu ini banyak
dinyanyikan dalam perkemahan-perkemahan.
Tangga Keberhasilan:
100% - Aku telah berhasil
90% - Aku akan berhasil
80% - Aku dapat berhasil
70% - Aku pikir aku dapat berhasil
60% - Aku mungkin berhasil
50% - Aku pikir aku mungkin berhasil
40% - Apakah keberhasilan itu?
30% - Aku harap aku dapat berhasil
20% - aku tidak tahu bagaimana agar berhasil
10% - Aku tidak dapat behasi
0% - Aku tidak akan pernah berhasil.

Benyamin R. De Yong, The Speaker’s Quotebook, Baker Books, January 1997,


p.37.
(No.45)
BETAPA SNANG AKU KABARKAN
(Redeemed = L.S. No.120)

Pengarang Naskah P: Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggubah Lagu : William J. Kirkpatrick, 1838-1921

Mazmur 107:1,2 Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasannya


untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang
ditebus Tuhan, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan,

“Seluruh theologi saya ditaklukkan ke dalam ukuran berikut ini; bahwa


Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.” Archibald
Alexander

Kata penebusan mengungkapkan pemandangan tentang seorang budak


belian yang berdiri di atas panggung pelelangan, dilelang dengan harga setinggi
mungkin. Akhirnya ia dibeli oleh seseorang yang berbaik hati dan memberikan
kelepasan bagi budak tersebut. Namun budak yang telah bebas ini, dalam rasa
syukur dan beterima kasih, menawarkan diri menjadi hamba seumur hidup bagi
penebusnya.

Manusia terpisah dari Allah oleh dosa dan menjadi hamba seumur hidup
bagi penebusnya. Menusia sudah ditebus, karena Kristus telah membayar harga
tebusan yang tadinya menjadi hutang atas peradilan kekal Tuhan. Kita di bebaskan
dari belenggu dosa dan murka kekal Allah. Terpancar ucapan terimakasih kita atas
kelepasan ini, kita merangkul Pemilik kita yang baru ini dan dengan penuh kasih
melayani Dia selama-lamanya. Sadar akan penebusan ini menyebabkan kita
berulang kali melagukan “Betapa Snang aku kabarkan; hal tebusan darah Yesus.”

Naskah lagu populer oleh Fanny Crosby ini pertama kali terbit bersama nada
lagu oleh Kirkpatrick dalam buku Songs Of Readeeming Love yang di cetak pada
tahun 1882. Ini adalah salah satu dari 8000 naskah yang di tulis Fanny Jane
Crosby, seorang penulis penting lagu Gospel dalam sejarah Amerika. “Percaya
kepada kematian Kristus, itu sejarah. Tetapi percaya bahwa Kristus mati bagi
anda, itulah keselamatan.”
Yoh 3:16 Mengirim jutaan manusia ke sorga. Yoh 3:16 “Karena begitu
bersar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya
yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa
melainkan beroleh hidup yang kekal. Wahyu 3:16 mengirim jutaan manusia ke
neraka. Why 3:16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau
panas, Aku akan memuntahkan engkua dari mulutKu.

Bacaan tambahan : Rm 3:24-26; Ef 3:7; Kol 1:12-14; I Pet 1:18,19.

(NO. 46)
KU CINTA, KU CINTA
(I love Thee, I Love Thee =L. S No. 121

Sebuah lagu rakyat Amerika diambil dari Engall’s Christian Harmony,1805

Mazmur 31:24 Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!


TUHAN menjaga orang-orang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat
congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung.

Lagu-lagu sekular yang mengekspresikan kasih sayang melimpah ruah


dewasa ini. Bagi sebagian orang Kristen sebuah lagu tentang kasih juga dapat
dicocokan bagi hari valentine. Sedemikian pula tidak ada kasih yang lebih manis
yang dapat diekspresikan kepada Kristus seperti yang tercantum dalam bait-bait
lagu rakyat Amerika ini

Bagi orang Kristen mula-mula, tanggal 14 Pebruari merupakan hari


istimewa. Tradisi mengatakan bahwa seseorang yang bernama Valentine adalah
dokter Kristen “...yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan
menyembukan semua orang...”(Kisah 10:34), sebagaimana yang dilakukan
Kristus. Valentine menjadi sahabat yang baik dan penolong bagi orang-orang
Kristen, yang saat itu dianiaya dengan kejam oleh kekuasaan Kerajaan Roma.
Dipercayai bahwa dokter yang baik hati ini akhirnya dipenjara karena kesetiaannya
kepada sahabat-sahabatnya “para pengikut Kristus”. Setelah ia dipancung pada
tanggal 14 Februari, maka hari itu diperingati setiap tahun oleh orang Kristen
mula-mula sebagai hari kasih sayang menghormati dokter Valentine.

Setelah waktu berlalu, Valentine dan perbuatan-perbuatan kebajikannya


terlupakan. Karena bulan februari adalah permulaan musim semi, dipenuhi dengan
perasaan simpati dan kasih sayang, maka hari itu dirayakan sebagai hari kasih
sayang yang romantis. Bukti kasih sayang berupa hadiah-hadiah diberikan kepada
kekasih dan sahabat, yang sekarang sudah merupakan kebiasaan.

Dr. Valentin telah memberikan nyawanya bagi sesama umat Kristen dan
kasihnya yang dalam kepada Yesus Kristus. Kita juga dapat mengekspresikan
kasih kita kepada Kristus dengan ungkapan sederhana berikut ini...”bagaimana
besanya kasihku padaMu Tuhan, perbuatankulah yang membuktikannya.”

Bacaan tambahan : Ulangan 6:6; 30:20; Lukas 10:27; 1 Yohanes 4:19.

(No.47)
SATU MASA YANG TERTENTU
(Someday the Silver Cord will Break=L.S.No. 122)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggugah Lagu : George C. Stebbins, 1846-1945

1 Tesalonika 4:16 sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu
malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan
turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu
bangkit;

Fanny J. Crosby, penulis naskah lagu-lagu rohani, di 50 tahun terakhir


hidupnya menulis dengan kecepatan 3 naskah setiap minggu. Tidak heran saat ia
meniggal dunia tahun 1915, ia telah menulis lebih dari 8.000 naskah, syair dan
nyanyian. Komposisi pertamanya yang digunakan dan diterima secara luas, ditulis
pada tahun 1868. judulnya diusulkan oleh salah seorang sahabatnya, William H.
Doane, seorang pengusaha dan penggubah lagu.

“Ia meminta saya menulis nada mengenai “Janganlah Lewatkan Aku, Oh


Penebusku,” kata Fanny. “Saya memusatkan pikiran kepada naskah tersebut
hingga saya merasakan terciptanya suatu doa dalam hati. Bait pertama
menceritakan mengenai himbauan jiwa saya agar Juruselamat mendengarkan
seruan hati ini. Kemudian saya merasakan tahkta kasih karunia Allah memancar
dalam jiwa dan saya terus berseru : “yesus, Yesus, dengar seruku.”

Pendapat beberapa orang bahwa nada lagu Doane ini sama dengan lagu
nasional Hawai, “Aloha”. Doane menggubah lagu ini untuk naskah Crosby tahun
1868 sampai nanti 16 tahun kemudian di tahun 1884 Ratu Liliuokalani memberi
hak cipta kepadanya. Namun dalam biographi Frits Kreisler, pemain biola terkenal
mengatakan bahwa “Aloha” adalah “Viennese ditty”, berjudulf We’ll Go to
Nussdorf Right Away (Nussdorf sebuah daerah pinggiran Vienna). Ia katakan
bahwa lagu ini dipersembahkan kepada Ratu oleh seorang guru biola asal Jerman
dari San Francisco yang ditugaskan untuk menulis sebuah lagu kebangsaan.

Pada tahun 1891 Fanny Crosby menghadiri kebaktian malam sembahyang di


mana Dr. Howard Crosby berkhotbah. Ia berbicara mengenai Mazmur 23 dengan
judul “Kasih Karunia”. Ketika Dr. Howard Crosby mati mendadak minggu itu
juga, Fanny berkata kepada dirinya sendiri: “Saya ingin tau apa nanti impresi
pertama saya mengenai surga.” Sesaat kemudian ia sendiri menjawab
pertanyaannya, “Ketika mataku terbuka, aku akan melihat Juruselamatku muka
dengan muka”. Dan ketika seorang sahabatnya, juga penerbit, L. H. Bigelow
memintanya menulis sebuah naskah berjudul “Kasih Karunia” maka dalam
beberapa hari lahirlah “Saved By Grace”.

Di tahun 1894 sementara mengunjungi sahfabat-sahabatnya di Northfield,


Massachussetts, ia diundang oleh Ira D. Sankey, penyanyi dan penggubah lagu
terkenal, untuk berbicara di konferensi yang diadakan di sana. Dalam khotbahnya
Fanny membacakan naskah “Grace” yang telah ia tulis 3 tahun sebelumnya.
Seorang wartawan dari koran London membawa naskah itu ke Inggris dan
menerbitkannya. Ketika Sankey membaca naskah yang telah dicetak itu ia
meminta George C. Stebbins menggubah lagunya. Fanny Crosby meninggal tahun
1915, dan doa pengharapannya tertulis dlam khorus lagu ini: “Aku akan lihat
Tuhan, kasihNya slamatkan aku.”

Bacaan tambahan : 2 Korintus 1:12; 6:1,2; Epesus 2:7,8; Wahyu 22:21.

(No. 48)
ADAKAH YESUS LINDUNG AKU?
(Oh Yes, He Cares, I know He Cares=L.S. No. 123)

Pengarang Naskah : Frank E. Graeff, 1860-1919


Penggubah Lagu : J. Lincoln Hall, 1866-1930

Matius 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman.”

Frank G. Greaff, penulis naskah lagu ini mengalami berbagai cobaan dan
derita sehingga ia tau benar bagaimana umat-umat Allah bertanya-tanya apakah
Allah sungguh peduli saat mereka disakiti, saat kecemasan dan beban memberati,
atau ketika mereka harus berpisah dengan orang yang dikasihi. Namun jawaban
penuh kemenangan ialah: “Ya aku tau Yesus lindung, Ia rasa susahku.”

Dikenal sebagai “Pendeta Sinar Matahari” dari gereja methodist di


Konferens di Philadelphia, Frank Grieff disukai luas karena sifatnya yang
menawan dan riang gembira. C. Austine Miles, penulis lagu “In the Garden”
berkata mengenai Grieff: “Ia adalah seorang optimis rohani, seorang sahabat bagi
anak-anak. Watak kegembiraannya yang memancar bagaikan sinar matahari
bukan saja menarik bagi anak-anak tetapi semua yang bergaul dengannya. Ia
memiliki daya tarik sukacita, daya tarik kesuciaan dan iman kepolosan anak-anak.

Tanpa diketahui seorangpun, sebenarnya pengalaman Grieff sangat


menyedihkan. Disaat ia mengalami penderitaan fisik, keragu-raguan dan pata
semangat, ia berpaling kepada Alkitab untuk mendapatkan penghiburan dan
kekuata. 1 Petrus 5:7 berkata: “Serahkanlah segala kuatirmu kepadaNya, sebab
Ia yang memelihara kamu.” Ayat ini sangat berarti baginya. Ia menulis naskah
lagu ini untuk menyatakan jaminan, keyakinan dan kepastian yang ia telah terimah
dari Allah. Grieff menulis lebih dari 200 naskah selama hidupnya, tetapi tidak ada
yang dapat menghibur hati umat melebihi lagu “Adakah Yesus Lindung Aku”.

Bacaan tambahan : Maz 28:7; 42:8; Yes 26:4; Mark 5:36; 1 Pet 5:7

(No. 49)
DUDUK DEKAT KAKI YESUS
(Sitting at the Feet of Jesus= L.S. No.126)

Pengarang Naskah dan penggubah lagu tidak di ketahui

Lukas 10:41,42 Tetapi Tuhan menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan
menyusahkan diri dengan banyak perekara, tetepi hanya satu saja yang perlu:
Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari
padanya.”

Cerita Martha, seorang pekerja rajin dan Maria yang rajin berbhakti (Luk
10:38-42) mengilustrasikan suatu prinsip rohani amat penting. Kita akan lebih
bekenan kepada Allah saat kita duduk dan belajar di kakiNya dalam pemujaan dan
penyembahan sebelum melayani Dia, yang kadangkala dilakukan dengan kekuatan
sendiri. Duduk dan mendengarkan menyatakan secara tidak langsung
ketergantungan kita kepada Yesus dan pada batas tertentu menenangkan jiwa
dalam kesediaan untuk mendengarkan. Kita boleh saja menjadi begitu sibuk
dengan pekerjaan sehari-hari, bahkan dalam aktivitas ke-Kristenan yang layak
sehingga tidak mendengarkan Tuhan dalam sikap rohani yang spektakuler, yang
menarik perhatian orang sehingga mereka terkagum-kagum kepada diri kita dan
bukan kepada Kristus.

Ingat akan certa Elia di gunung Horeb dalam I Raja-raja 19:11,12 lalu
firman-Nya: “Keluarlah dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan!”
Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung
dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada
TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetepi tidak
ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesuadah gempa itu datanglah api. Tetepi
tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin
sepoi-sepoi basa.

Belajar mendengar suara Allah adalah salah satu faktor penting dalam
pertumbuhan kerohanian. Bila kita berdiam diri di hadapanNya, kita memperoleh
kebijaksanaan, pengertian yang mendalam, dan pembaharuan kekuatan untuk tugas
sehari-hari. Semoga orang yang melihat, mengetahui dan bertemu kita akan
barkata tentang kita sebagaimana yang dikatakan tenteng murid-murid Yesus:
“Ketika sedang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui,
bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka
mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.” (Kisah 4:13).

Bacaan tambahan : Yosua 1:5; Mazmur 130:5; Yesaya 30:15; 57:15;


Matius 11:29; 2 Korintus 4:16.

(No. 50)
SEDAP HARAP PADA TUHAN
(Tis so Sweet to Trust in Jesus= L.S. No. 129)

Pengarang Naskah : Louisa M.R. Stead, c. 1850-1917


Penggubah Lagu : William J. Kirkpatrick, 1838-1921

Efesus 1:12 Supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada
Kristus boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaanNya.

Louisa Stead, suami dan anak perempuan mereka yang masih kecil pada
suatu hari menikmati piknik di tepi laut. Tiba-tiba terdengar teriakan suara minta
tolong seorang anak laki-laki yang tenggelam. Tuan Stead segera berenang ke
tempat kejadian tetapi anak yang di tolong ini dalam kepanikannya turut menarik
dan menyeret tuan Stead dan keduanya mati tengelam, di saksikan dengan tidak
berdaya oleh Louisa dan anak perempuannya. Hati ibu ini hancur. Selama hari-
hari dukacitanya, kata-kata berikut ini keluar dari bibir mulutnya: “Sedap Harap
Pada Yesus dan Percaya FirmanNya”.

Segera setelah peristiwa itu, Ny. Stead dan anaknya berangkat ke Afrika
Selatan sebagai misionari. Dua puluh lima tahun lamanya ia melayani dengan
sukses sampai dia di paksa untuk pensiun karena sakit. Ia meninggal dunia
beberapa tahun kemudian di Rhodesia Selatan. Sahabat-sahabatnya sesama
misionari mencintai lagu ini dan mereka menulis kutipan berikut sebagai
penghormatan kepada Louisa. “Kami sangat kehilangan dia, tetapi pengaruhnya
tetap berlanjut ketika lima ribu orang Kristen Afrika terus menerus menyanyikan
lagu ini dalam bahasa mereka.”

Dari kedalaman tragedi kehidupan, Louisa Stead telah belajar berharap pada
Tuhannya. Ia telah terbiasa untuk “Bergirang dan berharap pada sahabat yang
kekal.” Sampai dewasa ini, pelayanannya berkelanjutan setiap kali nyanyian ini di
kumandangkan. Nyatakan terima kasih kita kepada Allah untuk pelajaran
pengharapan yang Ia ajarkan. Kita juga perlu berlajar untuk bergantung senantiasa
pada Allah. Dalam masa-masa sukar carilah kedamaian yang berasal dari
Juruselamat dan teruskan pelayanan bagiNya. Ketika matahari bersinar dan langit
gelap menudungi, nikmatilah ketenangan, kekuatan dan manisnya berharap pada
Yesus.

Kepada siapa dan kepada apa anda tumpukan kepercayaan? Percaya kepada
diri sendiri? Menuntun kepada malapetaka kekecewaan. Percaya kepada sahabat?
Sekali kelak mereka akan meninggal dan tinggalkan anda. Percaya kepada uang?
Itu akan di rampas dan di rampok dari padamu. Percaya kepada reputasi? Lidah
pemfitnah akan meledakkannya. Tetapi percaya kepada Allah dan anda akan tidak
tersesat selama-lamanya.

Bacaan tambahan : Maz 91:4; Yes 26:3,4; Kisah 10:43; Rm 1:16,17; 5:1,2;
Ef 1:3-14.

(No. 51)
AKU JADI MILIK-MU
(I’m Thine, O Lord= L.S No. 130)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby


Penggubah Lagu : William H. Doane

Ibrani 10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus
iklas dan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah di bersihkan dari hati
nurani yang jahat dan tubuh kita telah di basuh dengan air yang murni.

Setiap hari yang baru membutuhkan kesegaran pembaharuan dedikasi kita


pada Allah. Orang Kristen terkuat sekalipun dapat saja di tarik jauh oleh tekanan
tuntutan hidup sehari-hari. Dan kita mudah kena serangan “Keinginan daging dan
keinginan mata”. Sama seperti godaan yang lembut dan tidak kentara yang
memimpin kepada “keangkuhan hidup” (I Yoh 2:16). Amaran Alkitab sangat jelas
dalam I Kor 10:12 “Sebab siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-
hatilah supaya ia jangan jatuh”.

Allah hendak menempatkan tempat yang sah dalam tahta hati kita. Tidak
ada sesuatupun dalam hidup ini-bukan bekerjaan, rekreasi bahkan keluarga
sekalipun boleh menjadai yang terutama bagi perhatian kita. Apa saja yang
menggantikan tempat Tuhan di hati menjadi berhala dan membuat kita mudah
menderita malapetaka rohani. Setiap hari kita harus dapat berkata: “Aku Jadi
Milik-Mu ya Tuhan”.

Fanny Crosby menulis naskah lagu ini ketika mengunjungi penggubah lagu
dan musisi, William H. Doane di Cincinnati. Pembicaraan malam itu berpusat
pada betapa bahagianya bila dekat dengan Tuhan. Fanny mendapat inspirasi dan
mulai menulis bait demi bait, ayat demi ayat khorusnya. Segera Doane
menggubah lagunya, dan lahirlah beberapa lagu lain sehingga menambah koleksi
naskah Fanny 8.000 lebih. Sejak hari itu di tahun 1875, naskah yang
menggetarkan hati ini menyebar keseluruh dunia dan menjadi tantangan bagi umat-
umat Tuhan mendedikasikan hidup mereka kepada Tuhan.

Bacaan tambahan : Maz 16:11; 73:28; Rm 12:1,2; I Kor 7:2-24; Ibr 12:28.

(No. 52)
KU KASIH PADA-MU
(My Jesus, I Love The=L.S. No 133)

Pengarang Naskah : William R. Featherston, 1846-1873


Penggubah Lagu : Adoniran J. Gordon, 1836-1895
I Yoh 4:19 kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Kedalaman rohani dari lagu “Ku kasih pada-Mu” di buat sedemikian


menarik perhatian karena lagu ini di tulis oleh seorang remaja. William Ralph
Featherston dari Montereal, Canada, di usianya yang ke empat belas menulis baris
demi baris ucapan syukurnya kepada Allah. Kemudian ia mengirim syair ini
kepada salah seorang bibinya di Los Angels dan bagaimanapun juga tanpa di
ketahui namanya di cetak dalam sebuah buku lagu Inggris, The London Book
tahun 1864.

Beberapa tahun kemudian, seorang pendeta gereja baptist Amerika terkenal,


Dr. A.J. Gordon menemukan lagu tampa nama ini dalam buku lagu Inggris dan
memutuskan untuk menggubah lagu yang lebih baik untuk naskah tersebuat.
Dengan nada yang baru lagu ini sejak itu di masukkan dalam hampir setiap buku
lagu Evangelisasi dan di nyanyikan sesering mungkin oleh umat-umat percaya di
keheningan acara dedikasi hidup kepada Tuhan.

Betapa ajaibnya pekerjaan Allah, untuk menyatukan ekspresi demikian ini,


ialah menyediakan satu nada yang telah di gunakan dengan cara yang luar biasa
selama lebih dari satu abad untuk menuntun orang Kristen kepada suatu hubungan
yang lebih mendalam dengan Tuhannya. Kiranya kata-kata lagu ini dapat
menggugah kita untuk membaharui kembali pengabdian kita kepada Allah
sehingga kasih kepada Kristus di pantulkan dalam semua aktivitas kita sehari-hari.

Kasih yang sempurna:


lambat mencurigai; cepat mempercayai
lambat mengetuk; cepat membenarkan
lambat menyinggung perasaan; cepat membela
lambat membeberkan kesalahan; cepat melindungi
lambat menegur dengan kasar; cepat mengendalikan emosi
lambat menganggap remeh; cepat menghargai
lambat meminta; capat memberi
lembat menghasut; capat menetralkan
lambat manghindar dari tanggung jawab; cepat membari pertolongan
lambat menjadi kesal; cepat mangampuni
-Benyamin R. De Yong, The Speaker’s Quotebook, Baker
Books, Januari 1996, p.226

Bacaan tambahan : Yoh 14:23; Ef 2:4,5; I Pet 1:8; 2:9; I Yoh 4:7-21.
(No.53)
SABDA HIDUP KEKAL
(Wondeful World of Life=L. S. No. 135)

Pengarang Naskah : Philip P. Bliss, 1838-1876


Penggubah Lagu : Philip P. Bliss, 1838-1876

Yohanes 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna.
Perkataan-perkataan yang Aku katakan kepadamu adalah Roh yang hidup.

Salah satu peraturan dasar gereja ialah bahwa Firman Allah harus dipelajari
dan di selidiki dengan teliti dan sistematik oleh umat percaya di semua abad. Salah
satu penyebab keprihatinan banyak pemimpin gereja dewasa ini ialah mengenai
kelalaian begitu banyak umat untuk menyelidiki Alkitab. Seringkali banyak waktu
dihabiskan pada jam-jam kebaktian bersama anak-anak di gereja dengan bahan
cerita di luar Alkitab. Sebaiknya gereja yang belajar Firman dengan rajin dan
mengaplikasikannya dalam hidup modern adalah gereja yang mengalami
pertumbuhan. Kita tidak akan pernah menjadi terlalu besar dalam kebutuhan
melebihi Alkitab; bahkan Alkitab akan semakin membantu dalam tahun-tahun
berjalan.

Kita juga menyadari bahkan kebenaran yang dinyatakan kepada kita tidak
pernah bertentangan atau terpisah dari Alkitab. Banyak yang mengaku dirinya
pemberita Injil dan menyatakan mendapat wahyu khusus melalaui kahyal tetapi
kehidupannya bertentangan dengan isi Alkitab. Firman Tuhan sendiri dengan tegas
mengamarkan kita sebagaimana yang terdapat dalam Yeremia 23:16,17 Beginalah
firman TUHAN semesta alam:”Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang
bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia
kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri,
bukan apa yang datang dari mulut TUHAN: Kamu akan selamat! Dan kepada
setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapeka tidak
akan menimpa kamu!”

Philip P. Bliss adalah salah seorang amat penting dalam perkembangan


musik Gospel yang mula-mula. Sebelum kematian tragisnya di usia 38 tahun
(baca: riwayatnya di lagu No. 15 halaman 16 dan 17) ia menggubah banyak lagu
favorit yang disukai umat sampai sekarang. “Sabda Hidup Kekal” ditulis dan
lagunya digubah oleh Philip P. Bliss tahun 1874 untuk sebuah majalah Sekolah
Minggu, Words of Life. Kata-kata lagu ini masih berbicara kepada orang tua dan
orang muda betapa pentingnya Sabda Allah, Sabda Hidup Kekal bagi kehidupan
kita.
“Sebagai Yusuf menyimpan gandum selama tujuh tahun kelimpahan untuk
digunakan pada tahun-tahun kelaparan, sedemikian pula kita patut membekali diri
dan hati dengan kebenaran Firman Tuhan selimpah mungkin, sehingga kita
disiapkan untuk menghadapi ujian kehidupan,”-Billy Graham, ‘Til Armageddon
(Mineapolis: WorldWide, 1981), p.9.

Bacaan tambahan : Mazmur 119:103, 172; yeremia 15:16; Matius 4:4.

(No 53)
AKU SUKA CERITAKAN
(I Love to tell the Story = L. S. No. 136)

Pengarang Naskah : A. Catherine Hankey, 1834-1911


Penggubah Lagu : William G. Fischer, 1835-1912

Amsal 11:30 Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapabijak
mengambil hati orang.

Penekanan dan gerakan evangelisasi sesungguhnya dimulai di Inggris pada


pertengahan abad XVIII melalui pelayanan para pendeta seperti George
Whitefield, juga John dan Charles Wesley. Permulaan gerakan ini hanya
menjangkau kelas masyarakat tingkat bawah dan menengah sehingga kelas atas
tertinggal menyendiri. Di abad XIX, bagaimana juga, gerakan evangelisasi mulai
menyentuh kelas atas. Kelompok yang berpengaruh ini terkenal dengan nama
Clapham Sect karena aktivitas mereka terpusat di perumahan elit pinggiran kota
Clampham di Southwest London. Mereka adalah para evangelist philanthorpist
kaya, pelaar Alkitab yang setia rajin berdoa. Mereka memberikan waktu, talenta
dan uang mereka untuk menyebar-luaskan Injil. Sebagian mereka adalah anggota
Parlemen dan tetap mempertahankan keanggotaan mereka di gereja Anglican.
Seorang sejarahwan gereja anglican sekelompok manusia yang bekerja dengan
begitu mendalam dan berpengaruh seperti mereka.”

Katherine Hankey lahir tahun 1834, anak perempuan dari seorang bankir
kaya. Walaupun mereka adalah anggota setia gereja Anglican, mereka lebih
banyak mengasosiasikan diri dengan kelompik evangelist. Ayah Katherine adalah
seorang anggota setia Clampham Sect dan Katherine mendapat pengaruh
penginjilan dari ayahnya. Ia mulai mengorganisasikan Sekolah Minggu untuk
orang kaya dan miskin di seluruh kota London. Termasuk para gadis yang bekerja
di pabrik-pabrik toki-toko. Kelas-kelas ini sangat besar pengaruhnya kepada orang-
orang muda sehingga mereka kemudian menjadi pengerja-pengerja Kristen yang
setia. Katherine juga rajin menulis termasuk buku-buku, Bible Class Teachings.

Ketika berumur 30 tahun, Katherine menderita sakit keras. Dalam masa


peenyembuhan yang lama itu ia menulis syair-syair panjang mengenai kehidupan
Kristus. Dari penulisnya ini lahirlah naskah “Tell Me the Old. Old Story” yang
menjadi lagu klasik gereja untuk anak-anak. Kemudian ia menulis lagi sebuah
bagiannaskah berjudul “The Story Told” yang akhirnya dirubah menjadi lagu “I
Love to Tell the Sotry”. Pada tahun 1867 Konferensi YMCA diadakan di
Montreal, Canada. Salah seorang pembicara adalah Mayor Jenderal Russel dari
Inggris yang diakhir khotbahnya membacakan naskah Katherine. Wiliam H.
Doane, penggubah lagu dan musisi Amerika terkenal hadir di sana dan segera
menggubah lagu untuk naskah “I Love to Tell the Story”.

Di kemudian hari sebuah sebuah lagu baru digubah oleh William G. Fischer,
seorang musisi dan penjual piano Philadelphia, untuk menggantikan gubahan lagu
Doane. Pada tahun 1875 lagu ini mucul dalam koleksi Bliss dan Sankey, Gospel
Hymns and Sacred Songs, yang menyebabkan lagu “Aku Suka Ceritakan” menjadi
terkenal dan dinyanyikan dalam setiap evangelisasi. Kedua lagu di atas sampai
dewas ini merupakan lagu-lagu favorit di mana-mana. Adakah kehidupan kita
menceritakan tentang Yesus dan hal-hal di Surga? Apakah ktia dengan penuh
semangant menceitakan Yesus dan kasihNya kepada sesama? Tidak ada cerita
lainnya di dunia seindah kasih Yesus. Ceritakan itu sekarang dan selama hayat di
kandung badan.

Bacaan tambahan : Daniel 12:3; Matius 4:19; Kisah 4:12; 1 Petrus 3:15; 1
Yohanes 4:9,10

(No. 55)
INGATKANLAH NAMA YESUS
(Take the Name of Jesus with You = L.S. No. 139)

Pengarang Nafskah : Lydia Baxter, 1809-1874


Penggubah Lagu : William H. Doane, 1832-1915

Kolose 3:17 dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau
perbuatan, lakukanlahsemuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil
mengucap syukur oleh Djia kepada Allah, Bapa kita.
“Apa arti sebuah nama?” Ini adalah suatu pertanyaan penyelidikan
ditanyakan oleh Romeo dalam drama Shakespeare romeo and Juliet. Umat Kristen
sudah lama menyadari bahwa suatu bisikan nama “Yesus” pada telinga seseorang
berduka dan menderita akan memberi penghiburan dan kegembiraan, dan bagi
mereka yang takut dan tertekan, datanglah sukacita dan pengharapan.

Penulis naskah in tahu betul arti nama istimewa, “Yesus”. Walaupun Lydia
Baxter menderita sakit dan harus terpaku di tempat tidur dalam sebagian besar
hidupnya, ia tetap sabar dan gembira. “Aku memiliki suatu senjata ampuh”,
katanya kepada sahabat-sahabatnya. “Aku memiliki nama Yesus. Bila penggoda
berusaha membuatku susah dan putus asa, aku menyebut nama Yesus, dan ia
(Iblis) tidak dapat mengalahkanku.”

“Ingatkanlah Nama Yesus” ditulis oleh Ny. Baxter dalam kesakitan di atas
tempat tidur, empat tahun sebelum ia meninggal duniatahun 1874 pada usia 65.
selama hidupnya ia dikenal sebagai seorang pelajar Alkitab yang keranjingan, suka
mendiskusikan nama-nama tokoh tertentu Alkitab bersama sahabat-sahabatnya. Ia
biasa menginformasikan kepad mereka bahwa Samuel berarti “yang diminta oelh
Tuhan”, Hanna artinya “kasih karunia”, Sara berarti “permaisuri” dan Naomi,
“kenyamanan”. Namun nama yang sangat berarti bagi Lydia Baxter ialah nama
“Yesus”.

Lagu ini seringkali digunakan selam evangelisasi Moody-Sankey pada akhir


abad XIX. Kata-katanya tetap merupakan penghiburan dan mengingatkan kita
mengenai kedamaian dan sukacita selama kita terus membawa nama Yesus yang
indah itu bagi kehidupan di dunia dan sukacita di Sorga. Hembuskan nama Yesus
sesering mungkin saat menunaikan tugas sehari-hari, dan biarkan Dia membagi
kepedulian maupun berkat dlam hidup kita. Amsal 18:10 Nama TUHAN adalah
menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat. Ke
manapun ktia pergi, “ingatkanlah nama Yesus”, dan milikilah kkuasa dan damai
sejahtera dalam Nama itu. Nama itu disediakan bagi masing-masing kita.

Solusi problema rumahtangga hanya diperoleh dari Kristus:


Kristus, pada mimbar pernikahan
Kristus, sepanjang tahun pernikahan
Kristus, di saat mengatur rumah baru
Kristus, ketika melahirkan bayi
Kristus, di saat penderitaan
Kristus, waktu berkelimpahan
Kristus, ketika pasangan ini mendekat ke gerbang matahari terbenam
Kristus, bila salah satu telah tiada, pergi tinggalkan yang lain
Kristus setiap saat; Kristus sepanjang kekekalan
Inilah rahasia rumahtangga bahagia. Ingatkanlah nama Kristus.
-Benyamin R. De Yong, The Speakr’s Quotebook, Baker Books,
January 1997, p. 75.

Bacaan tambahan : Amsal 18:10; Yohanes 1:12; Kisah 4:12; Pilipi 2:9,10.

(No. 56)
ALMASIH SELAMATKAN
(Jesus Saves = L.S. no 143)

Pengarang Naskah : Priscilla J. Owens, 1829-1907


Penggubah Lagu : William Kirkpatrick, 18389-1921

Mazmur 96:2,3 Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah namaNya, kabarkanlah


keselamatan yang dari padaNya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaanNya
yang ajaib di antare segala suku bangsa.

Pusat Injil ke-Kristenan ialah diri pribadi, oknum, bukan gereja atau suatu
sisitem interpretasi doktrin. Menginjil ialah membertakan berita gembira dari
Yesus Kristus, bahwa Ia telah datang ke dunia, mati bagi dosa-dosa kita, dan sudah
bangkit dari kubur sesuai isi Alkitab. Dan, sebagai Tuhan yang memerintah, Ia
memenuhi kebutuhan manusia untuk pengampunan dosa dan tinggal dalam
manusia yang bertobat dan percaya dengan perantaraan PenolongNya, Roh Kudus.

I Timotius 1 15 Perkataan ini benar dan patut di terima sepenuhnya:


“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di
antaranya akulah yang paling berdosa. Ini memerlukan iman pribadi, sebagai
diri sendiri untuk menerima kasih penyelamatan yang begitu besar. I Timotius 2:5
Karena Allah itu esa maka esalah juga Dia yang menjadi perantara antara
Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, Priscilla J. Owens, seorang
gurun selama 49 tahun di Baltimore, telah menulis kata-kata penyelamatan yang
menggemparkan bagi suatu pelayanann misionari gereja Union Square Methodist.
Empat belas tahun kemudian William Kidrkpatrick, mengawinkan nada lagunya
yang hidup-hidup itu dengan naskah Priscilla. Betahun-tahun mereka menantang
umat-umat Tuhan dengan urgensi penyelamatan jiwa. Berusahalah untuk
berbicara kepada sesesorang tentang pengharapan dalam Yesus, dan hanya melalui
Dia saja ada penebusan dari dosa dan kepuasan bagi setiap kebutuhan.
Bacaan tambahan : Maz 67:2; Yes 52:7; Mark 16:15; Kisah 1:8; Rm 1:6.

(No. 57)
BAWALAH YANG HILANG
(Bring Them in = L.S. No. 144)

Pengarang Naskah : Alexcenah Thomas, abad XIX


Penggubah Lagu : William Odgen, 1841-1897

Yohanes 10:16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yagn bukan dari kandang
ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka juga akan
mendengarkan suaraKU dan mereka akan menjadi satu kawanan dan satu
gembala.

Mengapa malayani anak-anak?

1. Alkitab magatakan bahwa Yesus memanggil anak-anak datang


kepadaNya (Matius 18:1-4; 19:13-15). Matius 19:14 Tetapi Yesus
berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, jangan halang-halangi
mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang seperti itulah yang
empunya Kerajaan Sorga.”
2. Tanah hati yang paling mendukung dan baik untuk menerima bibit
firman Tuhan adalah hati yang lentur, dan mudah terpengaruh dari
anak-anak.
3. Iman alamiah dan ketergantungan segera akan hilangdalam proses
kedewasaan. Iman itu sesuatu yang umum bagi anak-anak, karena
kedewasaan dan mengandalkan diri selalu menyertai keyakinan
emosi.
4. kebiasaan atau tabiat di bentuk dan tak terhapiskan lagi di usia 7 tahun
pertama.
5. Di perlukan hanya sedikit waktu dadn usaha untuk memenangkan
anak-anak dari pada orang tua.
6. Anak-anak masih mempunyai kehidupan yang panjang untuk
melayani. Paulus di panggil di umur 25 tahun, bukan 70 tahun. Musa
dipersiapkan sejak 12 tahun pertama. Yesus baru berumur 12 tahun
sudah bersoal-jawab di Kaabah. Ellen Gould Harmon berumur 17
tahun saat di panggil.
7. Anak-anak muda masuk keluar rumah untuk penginjilan. Pendekatan
alamiah dari anak-anak.
8. Kehidupan kerohanian seorang guru kelas anak-anak akan semakin
dewasa bila ia sendiri menyaksikan anak-anak didiknya menerima
Yesus.

Gerakan Sekolah Minggu dimulai di Inggris oleh Robert Raikes (1736-


1811) yang sangat memperhatikan kerohanian anak-anak, teristimewa mereka yang
buta huruf. Saat itu pendidikan disediakan untuk anak-anak orang kaya sehingga
tidak heran 4 dari 5 anak miskin tidak mendapatkan pendidikan. Dalam keadaan
sedemikian Raikes mengumpulkan anak-anak jalanan dan mengajarkan Alkitab
kepada mereka sebagaimana juga membaca dan menulis

Kemudian gerakan ini diteruskan oleh john dan Charles Wesley di


Inggris dan Amerika setelah perang Revolusioner. Para pimpinan gereja merasa
perlu untuk menyediakan lagu-lagu rohani bagi anak-anak karena mereka cepat
memberi respons kepada nyanyian. Kerinduan untuk menjangkau anak-anak
dengan lagu pujian merupakan faktor penting yang membangkitkan gerakan
penciptaan lagu-lagu Gospel di akhir abad XIX. Lagu “Bring Them in”
dinyanyikan secara meluas setelah diterbitkan oleh penggubahnya, William Odgen
tahun 1885.
Bacaan tambahan : Mazmur 96:2,3; Amsal 11:30; Matius 13:39;
Matius 18:12.

(No. 58)
KALAU SERTA TUHAN
(When We Wolk with the Lord=L.S. No. 145)

Pengarang Naskah : John H. Sammis, 1846-1919


Penggubah Lagu : Daniel B. Towner,1850-1919

I Sam 15:22 Tetapi jawab Samuel: “Apakah Tuhan itu berkenan kepad korban
bakaran dan korban sembelihan? Sama seperti kepada mendengarkan suara
Tuhan? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan,
memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

Kehidupan kadang-kala membuat kita gelisah dan kacau, sampai kita


menyerahkan hati sepenuhnya kepada Allah serta mendengarkan dan mengikuti
petunjukNya. Pengharapan mutlak pada kasih dan kebijaksanaan Tuhan dengan
kerinduan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti tuntunanNya, merupakan
tujuan utama setiap umat Kristen. Kerinduan kita untuk selalu menurut dan
berharap menjadi langgkah pertama menuju berkat Tuhan dalam kehidupan kita.
Di tahun 1886 Daniel B. Towner, direktur departemen Musik Moody Bible
Institute, memimpin musik dalam seri evangelisasi D.L. Moody di Brockton,
Massachusetts ketika seorang pemuda memberikan kesaksian berikut ini: “Saya
belum terlalu yakin, tetapi saya percaya, dan saya mau meurut. Touner sagera
mencatat kesaksian tadi dan mengirimnya kepada pendeta J.H. Sammis seorang
pendeta gereja Presbiterian yang kemudian menjadi guru di Moody Institute dan
menulis naskah lagu ini.

Keselamatan adalah tanggung jawab Allah. Tanggung jawab kita ialah


percaya kepada keselamatan itu dan menurut akan kebenaranNya. “Trus In God”
mempersembahkan suatu keseimbangan pandangan seorang umat percaya pada
pekerjaan penebusan Kristus, yang kemudian menghasilkan kerinduan untuk
menurut Dia dan melakukan kehendakNya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian, dan hanya melaui itu, kita mengalami kedamaian dan sukacita sejati.

Bacaan tambahan : Maz 37:3-5; Yoh 8:31; Yoh 14:23 Yak 2:14-26; i Yoh
2:6.

(No. 59)
MUKA DENGAN MUKA NANTI
(Face to Face with Christ= L.s. No 147)

Pengarang Naskah : Carrie E. Breck, 1855-1934


Penggubah Lagu : Grant C. Tullur, 1869-1950

I Yoh 3:2,3 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak


Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kit tahu, bahwa
kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya. Setiap orang yang
menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sendiri sama seperti Dia
yang adalah suci.

Konsep Surga bagi beberapa orang ialah bahwa itu adalah suatu tempat
penuh kedamaian. Yang lain membayangkannya sebagai tempat dengan jalan-
jalan yang di buat dari emas dan tempat di mana terdengar bunyi-bunyian musik
yang merdu. Bagi sebahagian besar kita, Surga adalah temat di mana akan ada
pertemuan dengan para kekasih. Namun pun demikain, suatu hal yang
mendebarkan hati ialah bahwa Surga adalah tempat dan momentun di mana kita
akan memandang Juruselamat “Muka dengan Muka”.
Pemikiran ini diekspresikan dengan sempurna dalam lagu “Face to Face” di
tulis oleh seorang isteri yang sibuk dan tidak tahu menyanyi. Dia hanya memiliki
rasa kesadaran untuk menulis. Ia berkata: “Saya menulis ayat demi ayat dalam
kondisi apapun; ketika sementara merangkai keranjang, menggendong bayi,
bahkan seringkali saat menyapu lantai atau mencuci piring, pikiran saya bergerak
untuk menulis sayir.” Bersama suami dan lima anak perempuannya, ia tinggal di
Portland, Oregon. Cerrie Breck adalah seorang Kristen setia dan seumur hidup
menjadi anggota gereja Presbiterian.

Ny. Breck banyak sekali mengirim syair-syairnya kepada penggubah lagu,


Grant Colfax Tullar, dan berharap bahwa ia akan menggubah lagunya. Sangat
ajaib ketika naskah “Face to Face” tiba melalui pos di rumah Tullar, ia baru saja
menggubah untuk sebuah naskah yang dia rasa tidak cocok. Namun bait-bait syair
Breck sangat cocok dengan nada lagu yang sudah ia ciptakan. Seringkali topan
kesusahan melanda kehidupan kita, terbukti bukan menjauh tetapi semakin
mendekatkan kita pada Tuhan. Berterima kasihlah kepadaNya teristimewa atas
janjiNya untuk suatu hari kelak akan melihat Yesus “muka dengan muka”.

I Tes 4:16 Sebab pada waktu tanda di beri, yaitu pada waktu penghulu
malaikat berseru dengan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan
turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu
bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan di angkat
bersama sama dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita
akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.

Bacaan tambahan : Rm 15:4; I Kor 13:12; I Tes 4:13-17.

(No. 60)
BILA KELAK BEBAS DARI KERJAKU
(O That Will Be Glory = L.A. No. 148)

Pengarang Naskah : Charles H. Gabriel, 1865-1932


Penggubah Lagu : Charles H. Gabriel, 1865-1932

Why 21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut
tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau
sukacita, sebab segala sesuatu yang lama telah berlalu.”

Charles H. Gabriel, salah seorang penulis naskah lagu terkanal dan berhasil
dari Amerika di awal abad XX, lahir 18 Agustus 1856 di sebuah gubuk padang
rumput Wilton, Iowa. Para penghuni daerah ini sering berkumpul di rumah
Gabriel untuk bernyanyi dan besekutu. Ayahnya senantiasa memimpin
pertemauan tersebut. Di usia muda Gabriel telah mengembangkan kecintaan
terhadap musik dan tidak lama membuktikan talentanya menggubah lagu. Pada
suatu hari ia berkata kepada ibunya bahwa ia sangat berkeinginan menulis sebuah
lagu yang akan sangat terkenal. Ibu dengan bijaksana menjawab: “Anakku, aku
rindu dan lebih senang melihat engkau menulis lagu untuk menolong orang lain
daripada menjadi presiden Amerika Serikat. “Dua tahun kemudian Charles mulai
mengajar di sekolah musik tanpa mendapatkan pendidikan pelajaran musik formal.
Ia mulai menulis dan menjual lagu-lagunya, tetapi tidak pernah mendapa lebih dari
2 dolar untuk pekerjaanya.
Pada keseluruhannya Gabriel mengedit 35 buku lagu yang berbeda-beda, 8
buku lagu sekolah Minggu, 7 buku untuk paduan suara pria, 6 untuk suara wanita,
10 buku lagu anak-anak, 19 koleksi lagu kebagsaan, 23 susunan musik yang terdiri
atas cerita dan permainan, 41 lagu Christmas, 10 susunan musik berupa cerita dan
permainan untuk anak-anak, dan sejumlah besar buku mengenai instruksi musik
dari 1912 sampai kematianya di tahun 1932 ia bekerja sama dengan Homer
Rodeheaver Publishing Company, Kemasyhurannya sebagai pengarang naskah
dan penggubah lagu meningkat ketika Rodeheaver menggunakan lagu-lagunya
dalam evangelisasi besar-besaran Billy Sunday. Sebagaimana para penulis lagu
gospel mula-mula Gabriel biasa menulis naskah dan menggubah lagunya sendiri.
Ada beberapa penulisannya yang menggunakan nama samaran, Charlotte G.
Homer.

Lagu “O That Will Be Glory” pertama kali muncul dalam sebuah publikasi
berjudul Make His Praise Glorious. Di kompilasi dan di terbitkan tahun 1900 oleh
seorang musisi gospel, Edwin O. Excell. Naskahnya diinspirsasikan oleh sahabat
dekat Gabriel, Ed Card, Kepala Sunshine Rescue Mission dari St. Louis, Missouri.
Ed Card adalah seorang percaya yang hidup-hidup penuh sukacita dari Tuhan.
Setiap mendengarkan suatu khotbah, doa ataupun lagu pujian ia selalau berekspresi
dengan ucapan, “Glory”. Senyumnya membuat orang menamainya “Old Glory
Face”.
Dan setiap habis berdoa ia terbiasa mengucapkan kata-kata “Itu saja cukup mulia,
kalau lihat nanti muka Tuhan. Baru sempurna kemuliaan.” Lagu tersebut telah di
terjemahkan dalam berbagai bahasa dan dicetal dengan total publikasi sebanyak
100 juta salinan.

Bacaan tambahana : I Kor 13:12; 2 Kor 3:18; Why 14:13.

(No.61)
AJAIBLAH YESUS, JURUSELAMATKU
( A Wonderful Saviour is Jesus=L.S. No. 151)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggubah Lagu : William J. Kirkpatrick, 1838-1921

Kel 33:22 apabila kemuliaanKu lewat, maka Aku akan menempatkan engkau
dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkua dengan tangan Ku,
sampai Aku berjalan lewat.

Penyair buta Amerika yang sangat di cintai, Fanny Jane Crosby belum mulai
menulis lirik-lirik gospel sampai pertengahan umur tigapuluhan. Crosby menulis
rubuan lagu pujian dalam kegelampan, sebab ia buta karena malpraktek dokter.
Ayahnya meninggal saat dia berumur 1 tahun yang menyebabkan ibunya harus
menjadi pelayan di sebuah keluarga kaya. Ketika neneknya mendengar hal itu, ia
berkata: “Saya mau membesarkan Fanny, dan menjadi mata baginya.” Ia
memelihara Fanny dan menceritakan kepadanya mengenai sinar matahari, warna-
warni bunga, awan, pepohonan, burung dan keindahan alam. Begitu jelas
keterangan neneknya sehingga Fanny bahken memiliki bunga favorit berwarna
unggu. Ia juga belajar betapa manisnya doa. Neneknya memberikan pelajaran
Alkitab padanya sehingga ia mempuh menghafal empat buku pertama Perjanjian
Lama, empat Injil, Amsal dan beberapa farsal buku Mazmur yang memperkaya
dengan pengetahuan utnuk mengarang lirik lagu. Tidak heran saat ia menulis,
kata-kata inspirasi seakan-akan mengalir dari dalam hatinya dan ia menjadi salah
seorang “makhluk paling bahagia di dunia”. Sahabat-sahabatnya mengunjungi dia
dengan permohonan menulis lirik-lirik baru untuk suatu peristiwa tertentu.

Pada suatu hari Fanny di kunjungi William Kirkpatrick, seorang musisi


gospel bertalenta yang baru saja menciptakan sebuah lagu yang ia pikir tidak tepat
sebagai nyanyian tunggal. Ketika William memainkan nada lagu ini pada piano
untuk di dengar, Fanny mengangkat kepalanya. Kemudian ia bertelut dan berdoa
sebagaimana kebiasaanya, dan setelah itu mulai menulis lirik demi lirik dengan
cepat. Maka lahirlah “A Wonderful Saviour is Jesus.”

Kehidupan Fanny Crosby dapat mengakat kita seperti pada lagu-lagu


cuptannya. Saat ia menulis “Ajaiblah Yesus, Juruselamatkau”, “Pancaran air
hidupku”’ dan “Selamat dan kasihNya yang sempurna”. Ia sementara menyatakan
berkat Tuhan baginya selama hidup kebutaannya. Sekurang-kurnagnya 8.000 lirik
lagu gospel telah di karang oleh wanita ini. Ia hidup sampai mencapai 95 tahun
dan mengadakan perjalanan ke seluruh benua Amerika. Ia berkata: “Tuhanlah
yang mengijinkan saya menuntun banyak orang datang kepadaNya.” Lagu ini
mengjar bahwa walaupun kita kehilangan sesuatu yang beharga, kita masih
memiliki alasan untuk bersuka cita dalam Kristus dan keselamatanNya. Kalau
Fanny Crosby yang buta dapat menyanyikan “Ajaiblah Yesus, Juruselamatku”,
lebih-lebih lagi kita yang berindera sempurna.

Bacaan tambahan : Maz 27:5; 49: 15; Yes 51:16; I Kor 15:57

(No.62)
JANGANLAH DITAKLUKAN
(Yield not to Temptation = L.S. No. 154)

pengarang Naskah : Horatio R. Palmer, 1834-1907


Penggubah Lagu : Horatio R. Palmer, 1834-1907

Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke


dalam pencobaan: roh memang penurut tapi daging lemah.”

Cobaan dapat belaku kepada setiap manusia bahkan orang Kristen yang setia
sekalipun. Jiwa yang saleh banyak kali menerima cobaan-cobaan berat. Terbukti
Setan menyerang dengan segala senjata ampuhnya mereka yang berada pada
tanggung jawab kepemimpinan Kristen. Dengan demikian kita harus senantiasa
berada pada posisi berjaga-jaga dalam doa yang tekun.

Empat puluh hari berpuasa dan berdoanya Yesus di padang belantara


menginstruksikan kepada kita secara dramatis sebagaimana mengatasi seranan
Setan. Dalam setiap cobaan Yesus menjawab “ada tersurat”. Semua jawaban
Yesus dan ucapanNya bersumber dari buku Ulangan yang mengindikasikan
pentingnya mengusai Perjanjian Lama. Ulangan 8:3... bahwa manusia hidup
bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang di ucapkan Tuhan.
Matius 4:4 Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari
roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Merupakan
suatu kemustahilan mengisolasi diri dari intaian cobaan hidup dewasa ini. Tetapi
kita tidak sendiri dalam pergumulan. Ibrani 4:15 Sebab Imam Besar yang kita
punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-
kelemahan kita, sebaiknya sama dengan kita, Ia telah di cobai, hanya tidak
berbuat dosa. Dan “Sebab oleh karena Dia sendiri telah menderita karena
pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang di cobai,” (Ibr 2:18).
Sehubungan dengan godaan, Tuhan mengerti yang kita hadapi dan menyediakan
kekuatan untuk menolaknya hingga menghasilkan kemenangan.

Horatio R. Palmer, pengarang naskah dan penggubah lagu ini, adalah


seorang musisi Amerika. Pada suatu hari ketika dia mulai bekerja, tiba-tiba
muncul ide untuk lirik lagunya. Dengan cepat dia menulis lirik lagu tersebut dan
di kemudian hari merupakan lagu yang sangat berpengaruh bagi orang tua dan
muda tentang bagaimana menghadapi cobaan hidup. Mintalah Tuhan menjadikan
anda seorang pemenang atas semua cobaan dan godaan. Bawalah lagu ini kemana
saja engkua pergi. Semoga Tuhan menolong kita semua.

Bacaan tambahan : Maz 97:10; Mat 6:13; I Kor 10: 13; Yak 1:14,15; II Pet
2:9; Why 3:10.

(No.63)
DALAM NAUNGNYA
(Under His Wings = L.S. No. 156)

Pengarang Naskah : William O. Cushing, 183-1902


Penggubah Lagu : Ira D. Sankey, 184-1908

Mazmur 91:4 Dengan kepakNya Ia akan menudungi engkau, di bawah


sayapNya engkau akan berlindung, kesetaanNya ialah perisai dan pagar
tembok.

Kehidupan sehari-hari seringkali dipenuhi dengan berbagai bahaya yang


tidak diduga-duga. Kita tidak megetahui apa yang akan terjadi dapat melangkah
keluar dalam aktivitas sehari-hari. Bagaimana seseorang dapat manghadapi
ketidak pastian hari esok dan di saat yang sama menikmati hidup berkemenangan
dan stabil? Bagi umat Kristiani, merasakan kedamaian setiap hari ialah
kepercayaan teguh bahwa secara mutlak Tuhan sementara mengontrol dan secara
pribadi turut terlibat dalam setiap detil kehidupan. Satu-satunya pengharapan kita
ialah kesediaan menerima pertolonganNya dan bertahan dekat padaNya, ke
manapun Ia tuntun. Yesus ajarkan kebenaran ini pada bangsaNya dahulu. Ia rindu
mendekap mereka seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah
kepakan sayapnya bila topan tiba-tiba menyerang. Tragedi kemanusiaan dahulu
kala dan juga dewasa ini ialah bahwa manusia pada umumnya menolak menerima
tawaran kasih karunia Tuhan. Lukas 13:34 Yerusalem, Yerusalem, engkau yang
membunuk nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus
kepadamu! Barkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti
induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawak sayapnya, tetapi kamu
tidak mau.

William O. Cushing, pengaranga lirik lagu ini, menulis di bawah ekspresi


Mazmur 17:8 Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlan aku dalam
naungan sayapMu. Setelah menggembalakan beberapa jemaat besar, tanpa
diduga Cushing dianjurkan untuk tidak boleh berkhotbah lagi. Ia telah kehilangan
kuasa berkhotbah. Dalam kehancuran hatinya ia berseru kepada Tuhan dengan
menggunakan kata-kata pemazmur. Tuhan menjawab oleh memberikan kepadanya
talenta menulis. Lebih 300 lirik lagu gospel di tulis olehnya, yang membawa
pengaruh lebih besar melebihi tahun-tahun pelayanannya di jemaat. Lagu ini
muncul pertama kali dalam buku nyanyian karangan Ira Sankey, “acred Songs No.
1” terbit 1896. dan sejak itu merupakan lagu hiburan favorit umat-umat Tuhan.
Kita patut senantiasa menyadari bahwa Tuhan sendiri rindu melindungi dan
memelihara demi kesejahteraan kita. Bersyukur atas berkat-berkat ini. Maju terus
dengan kebenaran yang tertera pada bait demi bait lagu ini.

Bacaan tambahan : Ulangan 33: 27; 2 sam 22:31; Mazmur 17:8; 36:7; 57:1;
Yesaya 12:2; Matius 23:;37.

(No. 64)
BERDIRI KARNA YESUS
(Stand up for Jesus =L.S. No. 157)

Pengarang Naskah : George Duffield, 1818-1888


Penggubah Lagu : George J. Webb, 1803-1887

Efesus 6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam


kekuatan kuasaNya.

Sebuah kebangunan rohani melanda Philadelphia di tahun 0858 yang di


sebut “pekerjaan Tuhan di Dhiladelphia” di pimpin penghotbah bersemangat,
Dudley Atkins Tyng, 29 tahun, anak pendeta Stephen H. Tyng. Ia terkenal sebagai
seorang pengkhotbah yang berani dan pantang mudur. Sebagai tambahan untuk
pelayanan penggembalaan di gereja Episkopal, ia juga mengadakan pelayanan di
pusat kota bagi para anggota Young Men Christian (YMCA). Pada hari selasa
tanggal 30 Maret 1858 ia berkhotbah kepada sekitar lima ribu pria di Jayne’s Hall,
621 Chastnut Street mengajak semua orang melayani Tuhan. Sekitar seribu pria
mengambil tekad dan berkomitmen untuk menyerahkan kehidupan bagi Tuhan
dalam pelayanan. Dalam khotbahnya ia berkata: “Lebih baik tangan kanan saya
ini diamputasi dari pada saya melalaikan tugas saya dalam pemberitaan injil.”

Pada Selasa, 13 April 1858 ia mengunjungi keluarganya di pedesaan dan


memperhatikan mesin penggiling jagung di sebuah gudang. Dewasa itu mesing
penggiling ditarik oleh beberapa keledai dan berputar-putar sekitar mesin. Ketika
Dudley mengangkat tangannya untuk menepuk kepala seekor keledai, tangan
kemejanya terputar dalam mesin yang menyebabkan tangan kanannya hancur dan
memutuskan pembuluh darah di sana. Setelah diamputasi di rumah sakit dan
dirawat selama 4 hari, terjadilah pembusukan dan keracunan darah. Menjelang
kematiannya, ia memegang tangan ayahnya dan berkata: “Ayah, berdiri karena
Yesus. Katakan juga kepada sahabat-sahabat sepelayanan saya agar mereka terus
berdiri karena Yesus.” Ia meninggal dunia pada hari Senin berikutnya antara jam
1.00 dan 2.00 siang.

George Duffield lahir di Carlisle, Pensylvania pada tanggal 12 Septermber


1818. ia belajar di Yale University dan Union Theological Seminary. Ia
memperoleh gelar D.D, dari Knox College sebagai penghargaan atas berbagai
pencapaiannya. Selama tujuh tahun ia melayani anggota Board of Regents dari
University of Michiga. Ketika Dudley Tyng meninggal dunia George Duffield
telah melayani Temple Presbyterian Church, Philadelphia. Ketika mendengar
tentang kematian Dudley Tyng ia berkata: “Tyng adalah seorang yang mulia,
pemberani dan manusiawi yang pernah saya temui.” Hari Minggu berikut ia
berkhotbah kepada anggotanya berlandaskan Efesus 6:14 Jadi berdirilah tegap,
berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,... pada akhir
khotbah ia membacakan sebuah syair 6 stansa yang ia karang sehubungan dengan
kematian sahabat pendetanya. “Berdiri karena Yesus, kamu laskar palang...”

Editor sebuah buku lagu rohani memerlukan sebuah lagu baru untuk
bukunya kemudian menggabungkan stansa-stansa lagu ini kepada nada-nada
karangan George J. Webb untuk syairnya “Tis Dawn, the Lark Is Singing”, yang
dilagukan dalam suatu pertunjukkan musik di sebuah kapal yang melintasi
samudera Atlantik. Webb lahir di Salisbury, Inggris pada 24 Juni, 1803 dan hijrah
di Amerika Serikat tahun 1830. Ia lahir di Jerman tanggal 15 September, 1885. Ia
adalah seorang pemain organ dan guru musik yang menemukan Adam Geibel
Music Company. Geibel menjadi buta sejak usia 8 tahun karena infeksi mata.
Walaupun buta, ia seoran pamain organ yang handal, pemimpin orkes, pengarang
lagu ruhani dan sekular.
Tuhan memang bertindak dalam cara yang misterius untuk menyatakan
keajaiban. Seorang pengkhotbah gereja Episcopal yang berapi-api, mesin
penggiling jagung, kecelakaan tragis, lirik lagu seorang pendeta gereja Prebyterian,
seorang pengarang lagu yang buta dan pekerjaan Tuhan di Philadelphia
menghasilkan pengaruh yang luar biasa besarnya sampai saat ini ketika kita
membuka buku lagu dan menyanyikan “Berdiri Karena Yesus”. Sebagai bukti
bahwa dalam kematiannya, khotbah-khotbah Dudley Atkins Tyng lebih meluas
pengaruhnya daripada ketika ia masih hidup. Lagu “Berdiri Karena Yesus” telah
meninginspirasikan jutaan orang Kristen yang hidup pada abad XIX dan tanpa
diragukan semakin berhasil di abad berikutnya.

Para pemberani berdiri teguh atas apa yang mereka imani. Mereka berdiri
demi kebenaran. Meraka berdiri demi keluarga. Para prajurit berdiri demi
negaranya sedia berkorban dalam medan perang. Orang Kristen telah tepanggil
untuk berdiri karena Yesus. Ambil keputusan saat ini untuk hiduup tegar tanpa
malu-malu bagi Tuhan dalam kekuatan dan kebijaksanaan yang Ia karunikan.

Bacaan tambahan : 2 Korintus 1:20-22; Efesus 6:10-18; Yakobus 1:12

( No . 65 )
RAHMAT BAPA BERCAHAYA
(Let the Lower Lights Be Burning = L. S. 160)

Pengarang Naskah : Philip. Bliss, 1838-1876


Penggubah Lagu : Philip p. Bliss, 1838-1876

Matius 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya du depan orang,


supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakn Bapamu yang di
sorga.”

Ketia Philip nBliss berumur 12 tahun dia menjadi anggota gereja Baptist,
Cherry Flat, Tioga Country, Pennsylvania. Tidak terlalu lalma kemudian ia
begabung dengan perkemaha dan palayanan kebangunan rohani gereja Methodist.
Setelah menikah ia begabung dengan gereja Presbyterian di mana isterinya
menjadi anggota. Ia melayani sebagai Pimpinan Sekolah Minggu dan Anggota
paduan suara First Congregational Church, Chicago.

Sejak kecil ia telah memiliki talenta musik namun karena miskin. Tidak
mampu belajar musik. Dia menjadi pambatu George F. Root, seorang penulis lagu
dan selama 10 tahun Bliss memimpin sekolah musik, institusi dan konvensi musik
di bagian barat Amerika Serikat. Ia pernah menjadi pekerja perkebunan, sebagai
pengawas dan tukang masak di perusahan penggergajian kayu. Ia menyerahkan
seluruh kehidupannya untuk memuji Tuahan, mengarang lagu dan
mengekspresikan pengalaman rohaninya dalam musik. Kemudian dia menerbitkan
buku lagu “Gospel Songs” dan mendapat royalty sebesar US$ 30,000 tetapi
walaupun miskin ia sumbangkan semua untuk penginjilan dari Major Whittle.

Pada suartu malam ia mendengarkan ilustrasi khotbah Dwight L. Moody


mengenai bebuah kapal pada suatu malam topan penuh gelap gulita, mendekati
palabuhan Cleveland. Pelabuhan Cleveland memiliki dua jenis lampu, yaitu mercu
suar dan lampu bagian bawah yang datar dengan pemukaan air laut, disebut “lower
lights”, untuk memimpin kapal-kapal memasuki palabuhan. Kapten kapal melihat
hanya sebuah lampu mercun suar dan bertanya kepada tukang kemudi, “Apakah
kamu yakin ini pelabuhan Cleveland?” Jawabnya: “Aku yakin Kapten.” Kapten
bertanya kedua kali: “Tapi di mana lampu bawah?” “Mereka sudah padamkan
Kapten,” jawabnya. Kapten bertanya: “Dapatkah kamu mengemudikan kapal
memasuki pelabuhan melewati gelombang dan topan ini?” Jawab pengemudi:
“Saya harus Kapten, kalu tidak maka semua kita akan binasa.”

Tetapi ia salah memasuki pintu pelabuhan Cleveland. Kapal menabrak batu


karang dan banyak jiwa binasa. Seandainya lampu bawah yang kecil itu juga turut
dipasang maka ada banyak penumpang yang selamat. Pendeta Moody mengakhiri
khotbahnya dengan berkata: “Tuhan akan mengatur lampu besar mercu suar
kebenaran, dan biarlah kita sebagai “lewer lights” tetap menyalakan lampu kita.
Mendengar ilustrasi si atas, malam itu juga Bliss menulis naskah dan sekaligus
mengarang lagunya dengan judul “Let the Lewer Lights Be Burning”.

Lagunya diterbitkan pertama kali pada tahun 1874 dalam “Gospel Songs”,
dua tahun sebelum kematian tragis Philip Bliss pada usia 38 tahun bersama
isrerinya dalam kecelakaan kereta ape di Ashtabula, Ohio. Bliss mendapatkan
imspirasi untuk menulis lagu saat mendengar khotbah dari seseorang. Pernah ia
mendengar khotbah Pendeta Brundage yang mengatakan: “Ia yang hampir
terbujuk berarti hampir selamat, dan ia yang hampir selamat berarti akan binasa
total.” Langsung Bliss mengarang lagu dengan judul “Hampir Terbujuk”. Pernah
surat kabar menceritakan pengalaman beberapa tentara dalam perang sipil yang
terkepung di sebuah gunung. Mereka mengirim berita untuk mohon bantuan,
tetapi hanya mendapat jawaban untuk tetap mempertahankan posisi dan benteng
mereka. Philip Bliss segera mengarang lagu dengan judul “Pertahankan Benteng”.
Pengalaman Philip Bliss dapat anda baca dalam buku Kisah Menarik Lagu Sion
Jilid I, No. 15 halaman 20.
Tentu saja ada banyak orang yang akan binasa tanpa mengenal Yesus
Kristus terkecuali kita tetap menyinarkan trang kecil dalam kehidupan masing-
masing. Kekasih kita, sahabat, anggota keluarga, tetangga dan orang lain
membutuhkan “lower lights” kita untuk menuntun mereka kepada Yesus, Terang
dunia itu. Anda mungkin saja telah menjadi satu-satunya terang melalui perkataan
dan perbuatan dalam kegelapan hidup seseorang.

Bacaan tambahan : Daniel 12:3; Matius 5:1-16; Yakobus 5:19,20; Amsal


10:2

(No. 66)
DARI TIMUR DAN BARAT
(From Greenland’s Icy Mountain=L.S. No. 162)

Pengarang Naskah : Reginald Heber, 1783-1826


Penggubah Lagu : lowell Mason, 1792-1872

Matius 9:37,38 Maka kataNya kepada murid-muridNya: “Tuaian memang


banyak, tetapi pekerjasedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya
tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Banyak kali kita mendengarkan berbagai cerita menarik penginjilan tetapi jarang
menyanyikannya karena belum pernah seorang misionari menulis karya besar
sebuah lagu misioanri. Tetapi salah saatu pengecualian terdapat pada seorang
pendeta muda gereja Anglikan yang menulis lagu misionari untuk mertuanya.
Empat tahun kemudian pendeta muda ini dikirim sebagai misionari keluar negeri.
Saat itu ditahun 1819 Reginald Heber berada di ruang belajar mertuanya, Dean
Shipley, vikaris dari Wrexham memperbincangkan judul khotba beliau minggu
berikut. Dean berkata kepada Reginald: “Minggu depan kita akan mengumpulkan
persembahan untuk bantuan penginjilan di luar negeri. Kira-kira judul apa yang
akan saya gunakan dalam khotbah?” Jawab Reginald: “Perintah Agung Tuhan
Yesus.” “Baik kalau begitu,” kata Dean. “Coba karang sebuah sajak untuk saya
bacakan di akhir khotbah.”

Pendapat Dean ini benar sebab Reginald diakruniai Tuhan dengan talenta
kesusasteraan sejak kecil. Di umur 17 tahun ia memenangkan hadiah yang
didambakan dari Oxford University untuk sajak luar biasa mengenal Palestian.
Tidak heran dalam waktu singkat ia sudah menyelesaikanl lirik-lirik lagu ini. Lagu
besar misionari ini umtuk pertama kali dibaca di gereja Wrexham, North Wales
pada Ahad Paskah tahun 1819. Empat tahun kemudia seorang wanita di Inggris
menemukan naskahnya dan kirimkan itu kepada sahabatnya di Savannah, Georgia.
Sahabat ini tinggal beberapa rumah saja dari rumah wanita tersebut. Ia segera
menciptakan lagu untuk lirik tadi dalam waktu 30 menit dan mengembalikannya
kepada wanita tadi. Penggubah lagu tersebut bernama Lowell Mason, kemudian
menjadi toko utama hymne Amerika. Kata-kata dan ide pilihan lagu ini telah
menginspirasikan kita untuk menyebarkan berkat keselamatan bagi semua orang.

Tahun 1823 Reginald Heber menerima panggilan menjadi uskup di Calcuta


dan melayani bukan saja di India, tetapi Sri Lanka dan benua Austalia. Tiga tahun
kemudian di tahun 1826 ia meninggal dunia secara tiba-tiba. Sebagian besar lagu-
lagunya dipublikasikan oleh isterinya dalam sebuah volume berjudul “Hymns
Written and Adapted to the Weekly Service of the year.”

Bacaan tambahan :Matius 28:19,20; Markus 16:15; Yohanes 4:35; Kisah


1:8.

(No. 67)
TOLONGLAH YANG SESAT
(Rescue the Perishing=L.S.No.164)

Pengarang Naskah : Fanny J. Crosby, 1820-1915


Penggubah lagu : William H. Doane, 1832-1915

Yesaya 61:1 Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena TUHAN telah
mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada
orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk
memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepda orang-
orang yang terkurung kelepasan dari penjara,

Distrik Bowery di New York adalah sebuah wilayah penuh kekerasan


tempat berkumpul mereka yang telah tinggalkan, orangtua dan Tuhan. Pendeta
Albert G. Riliffson mendirikan Bowery Mission pada November, 1879. ia
melayani di sna sebagai Ketua Dewan Komisaris dan aktif bekerja sampai 1879.
Di ruang depan bangunan utama terdapat sebuah prasasti bertuliskan ayat sebagai
kenangan atas jasa Ruliffson: Yohanes 12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia
harus mengikut Aku dan dimana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan
berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Fanny Crosby
berumur 60 tahun ketika ia untuk pertama kali mengunjungi Bowery Mission.
Ketika diminta untuk berbicara ia berdiri dan berkata: “Sudah pasti ada seseorang
di sini yang telah jauh dari Tuhan. Kalau orang tersebut ada di sini, saya mau
menjabat tangan Fanny. Saat Fanny mengajaknya untuk menjadi orang Kristen, ia
berkata: “Apa bedanya bagi saya. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan
saya.” Tetapi Fanny mendesanya untuk datang lagi besok malam. Dan besoknya
ia menerima Yesus.

Dalam setiap kunjungannya ke Bowery Mission, Fanny berkesempatan


mengundang banyak orang untuk menerim Yesus. Kata-katanya yang
membesarka hati telah menghantar kembali mereka yang hilang ke dalam
pangkuan Juruselamat. Pada akhir khotbahnya di suatu malam ia berkata:
“Adakah seorang anak muda di sini yang telah inggalkan kebenaran yang diajarkan
ibunya? Saya mengundangnya untuk bertemu saya setelah acara kebaktian ini.”
Seorang pemuda berumur 18 tahun menemuinya. Mereka berdoa dan pemuda ini
berkata: “Sekarang saya sadar bahwa sudah lama saya tinggalkan pelajaran-
pelajaran Alkitab yang diajarkan ibu saya. Dia sudah meninggal dunia sejak ini
saya berjanji untuk setia dan mau bertemuanya nanti di dalam Surga.”

Dari pengalaman di bowery Mission inilah Fanny Crosby mendapatkan


inspirasi untuk menulis lagu “Tolonglah yang sesat”. Beberapa hari sebelumnya
William Doane, seorang musisi terkenal dan jgua sahabat Fanny, mengirimkan
kepadanya sebuah nada lagu untuk disesuaikan dengan lirik lagunya berdasarkan
Lukas 14:23 Lalu kata tuan itu kepda hambanya: pergilah ke semua jalan dan
lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada disitu, masuk, karena rumahku
harus penuh. Kata Fanny: “Malam itu ketika menulis liriknya, dengan cepat dan
lancar mengalir kata-kata “tolonglah yang sesat dan hampir mati” dan sebelum
tidur lagunya selesai ditulis.” Untuk pertama kali lagu tersebut diterbitkan pada
tahun 1870 oleh Doane dalam bukunya Songs of Devotion. Lagu ini sebagaimana
juga lagu-lagu Fanny Crosby lainnya dinyanyikan di mana-mana dan telah
memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan. Sahabat-sahabat Fanny yang telah
memberi inspirasi kepadanya terdiri atas para musisi, penyanyi, penggubah lagu
terkenal. Mereka adalah Robert Lowery, William Bradbury, William H. Doane,
Ira D. Sankey, George F. Root beserta musisi dan penggubah lagu terkenfal
lainnya.

Pikirkan dengan serius bahwa citra Allah terdapat pada setiap manusia yang
memberikan martabat hakiki dan nilai-dengan tidak memandang ras, warna kulit,
gender, umur bahkan derajat sosial. Inilah yang membuat setiap orang pantas di
selamatkan dari kutuk dosa.

Bacaan tambahan : Yeheskial 18:32; Roma 9:2,3; 2 Petrus 3:9.


(No. 68)
BERUSAHALAH KAMU
(Wolk for the Night Is Coming= L.S. No. 166)

Yohanes 9:4 Kita harus mengajarkan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,
selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang
dapat bekerja.

“Jangan berdoa untuk mendapatkan kehidupan yang mudah, tetapi berdoa


agar anda mendapatkan kemudahan untuk hidup. Jangan berdoa untuk
mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kekuatanmu, tetapi berdoa untuk
mendapatkan kekuatan melaksanakan pekerjaanmu. Akhirnya pekerjaan anda itu
bukanlah suatu mujizat, malainkan anda sendirilah mujizat itu.” Philip Brooks.

Kerajinan adalah hukum kehidupan. Kita harus berusaha sekemampuan kita


melayani Tuhan dan pekerjaanNya. Bagi semau orang Kristen, setiap pekerjaan
itu kudus bila dilaksanakan bagi kemuliaan Nama Kristus. Bukan pekerjaannya
yang diperhitungkan Tuhan tetapi sikap kita dalam melakukan pekerjaan tersebut.
Sebauh ilistrasi mengenai tiga orang pekerja bangunan. Ketika ditanyakan apa
yang mereka sementara kerjakan, orang pertama menjawab: “Saya sementara
mencapur semen.” Kata yang kedua: “Saya sementara membangun bangunan
gereja bagi kemuliaan Tuhan.” Sikap yang benar itulah yang membuat perbedaan.

Hymne ini yang menitik beratkan pada sukacita dan martabat pekerjaan,
teristimewa pelayanan Kristus, di tulis pada tahun 1854 oleh seorang gadis Canada,
benama Annie Loiuse Coghill, umur 18 tahun. Ia kemudian menikah di tahun
1883 dengan Harry Coghill, seorang pedagang kaya. Lirik lagu ini pertama kali
diterbitkan di sebuah koran Canada dan kemudian dalam bukunya berjudul
“Leaves From the Back Woods”. Ny. Coghill mencapai keunggulan sebagai
pengarang dan penyair, memproduksi berjilid-jilid lagu yang disurkuklasikan
secara luas.

Para penulis dan ahli filsafat telah menghasilkan ungkapan-ungkapan agung


mengenai nilai hakiki pekerjaan, tetapi tak seorangpun mampu menyatakan dengan
lebih sederhana dan lebih dapat di mengerti sukacita menjadi mitra kerja Allah
dalam pelayanan berharga, seperti pernyataan Annie Louisa Coghill dalam lirik
lagu “Berusahalah Kamu”. John Wesly pernah berkata: “Jangan pernah menjadi
penganggur dan jangan mau dipekerjakan secara main-main.”
Bacan tambahan : Mazmur 128: 1,2; Amsal 6:6; 10:4; Yesaya 21:11; 61:1-
3; Roma 10:14,15; Galatia 6:9.

(No.69)
ADA CRITA KAMI MAU CRITAKAN
(We’ve a Story to Tell= L.S. No 168)

Pengarang Naskah : H. Ernes Nichol, 1862-1928


: Colin Sterne
Penggubah Lagu : H. Ernes Nichol, 1862-1928

Wahyu 15:4 Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan
namaMu? Sebab Engkau saja yang Kudus; karena semua bangsa akan datang
dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala
penghakimanMu.”

Sebuah cerita yang harus diceritakan. Sebuah lagu yang harus dinyanyikan.
Sebuah pekabaran yang harus dikumandangkan. Juruselamat harus diperkenalkan.
Inilah ringkasan padat evangelisasi sedunia-yaitu Injil yang harus dihidupkan
sebagaimana yang diberitahukan.

Penginjilan telah berjalan sebagaimana mestinya. Orang Kristen mula-mula


walaupun dianiaya dengan kejam oleh bangsa Roma, telah mencapai keberhasilan
kekaisaran Roma. Namun untuk lebih 1.000 tahun berikutnya, api penginjilan
bersinar redup. Gerakan Reformasi Protestan memperhatikan seberkas semangat
evangelisme, tetapi nanti pada abad ke 18 Protestan berusaha mengorganisasikan
belangsung bersamaan dengan gelombang evangelisasi yang melanda seluruh
Eropah dan Amerika Utara.

Sampai akhir Perang Dunia II pekerjaan misi sedunia maju dengan sangat
pesat. Telah diperkirakan sampai dewasa ini telah tekirim ke seluruh penjuru
dunia 250.00 misionari per tahun, yang sebagian besarnya berasal dari negara-
negara Dunia Ketiga. Namun penerjemah Alkitab dari the Wycliffe Bible
melaporkan bahwa masih terdapat sekitar tujuhratusan suku tanpa terjemahan
Alkitab dalam dialek mereka. Hampir semua dewan misi memerlukan lebih
banyak lagi misionari.

“Ada Crita Yang Kami Mau Critakan” dikarang dan digubah oleh seorang
musisi Inggris bernama H. Ernest Nichol di tahun 1896. Kata-kaat lagu ini masih
tetap dinyanyikan dengan cara yang sama oleh para pemuda maupun orang tua dan
melambangkan semangat tinggi yang senantiasa membakar hati kita untuk keluar
dan menginjil. Setelah anda menyanyikan lagu ini, ambil waktu utnuk menusil
sepucuk surat kepada salah seorang sahabar misionari dadru jemaat anda dan
semangati dia dengan kata-kata yang membesakan hati.

Bacaan tambahan : Mazmur 67:2; Matius 22:14; Markus 16:15; Lukas


24:47; Yohanes 12:46.

(No. 70)
MASHURKANLAH YESUS
(Christ for the World We Sing = L. S. No. 169)

Pengarang Naskah : Samuel Wolcott, 1913-1886


Penggubah Lagu : Felice de Giardini, 1716-1796

Matius 28:19-20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatau yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Tugas evangelisasi sedunia adalah tantangan yang mengejutkan.


Diperkirakan penduduk dunia sekarang sedang mendekati 6,5 milyar yang
sebagian besarnya belum dijangkau Injil. Juga sepertig dari penduduk terdiri atas
mereka yang miskin, berkekurangan akan semua kebetuhan dengan cepat.
Pertumbuhan agama Islam diperkirakan bertambah dengan kecepatan 16 persen
per tahun, Hindu 12 persen dan Kristen diperkirakan kurang dari persen.

Samuel Wolcott pengarang naskah lagu misionari ini memiliki semangat


membara untuk penyebaran Injil dan kebutuhan rohani penduduk dunia. Di masa
mudanya ia telah menjadi misionari di Siria sebelum kesehatanya memaksa dia
untuk pulang ke Amerika. Kemudian ia melayani sebagai pendeta di beberapa
jemaat merangkap sebagai Pembantu Sekrataris Eksekutif Ohio Home Missionary
Society. Ketika ia melayani Plymouth Congregational Church di Cleveland, Ohio,
itulah ia menulis naskah lagu ini. Ia berkata: “Motto pertemuan the Young Men’s
Christian Assocoation di Ohio yang di tulis dengan huruf-huruf berwarna hijau
menggerakkan hati saya untuk menulis sebuah lagu misionari. Bunyi moto
tersebut ialah: “Kristus Bagi Dunia, dan Dunia Bagi Kristus”.

Ia begitu terkesan dengan moto tersebut sehingga segera menulikan kata-


kata bagi naskah lagu yang telah tersebar luas dan yang mentang orang Kristen
untuk memiliki visi penginjilan di seluruh dunia. Bermohonlah kepada Tuhan
agar Ia menyatakan kepada kita Visi penyebaran Injil. Libatkan diri anda dalam
misi penginjilan jemaat anda. Ijinkan lagu ini membakar semangat anda bagi
Yesus Kristus dan misi-Nya.

Bacaan tambahan : Mazmur 22:27; Markus 13:10; 16:15; ;Roma 10: 12-15.

(No.71)
PADAMU BATU ZAMAN
(Rock of Ages, Cleft for Me=L.S. No. 174)

Pengang Naskah :Agustus M. Toplady, 1740-1778


Penggubah Lagu : Thomas Hastings, 1784-1872

I Kor 10:1-4 Aku mau, supaya kamu mengatahui, saudara-saudara, bahwa


nenek moyang kita semua berada di bawaah perlindungan awan dan bahwa
mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka
semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan
makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang
sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka,
dan batu karang itu ialah Kristus.

Agustus Montague Toplady adalah seorang Calvinist setia, lahir di Inggris


dan mendapatkan pendidikan di Irlandia. Ia menjadi pendeta gereja Anglikan
tahun 1762. beberapa tahun kemudian sementara melayani Church o French
Calvinisis di Leicester Fields, London, ia menulis naskah lagu ini ketika
berlindung di belahan batu gunung di Burrington Gorge, Sommersetshire, Inggris.
Ia seorang yang setia dalam “pertandingan Iman” melalui kata-katanya yang
pedas dan tajam seperti layaknya seorang bangsaawan Persancis yang mahir
menggunakan pedang.

Sebagai soerang pengikut setia dari John Calvin, Toplady yakin bahwa
Allah menyelamatkan hanya mereka yang “terpilih” , tentu saja salah seorang dari
mereka adalah dia sendiri. Sebaliknya John Wesley berhotbah dengan semangat
berdasarkan otoritas Alkitab bahwa kasih karunia Allah di berikan secara cuma-
cuma kepada semua orang. Khotbahnya selalu di sertai dengan ungkapan Yesus
“siapa yang datang kepadaKu, tidak akan Kubuang.” Toplay menolak mengakui
argumen Wesley dan merobeknya dari majalah The Gospel Magezine yang dia
edit.

Ia menulis “Wesley bersalah dan tidak tau malu. Ia bertindak sebagai


seorang pembunuh tersembunyi yang licik, yang menggabungkan keduniawian
kaum Jesuit dengan otoritas seorang Paus.”

Wesley membalas dengan megatakan: “Saya tidak mau bertengkar dengan


seorang pembersih cerobong asap yang sombong.”

Marah akan ungkapan Wesley tersebut, editor Gosperl Magazine ini dalam
terbitan bulan Maret 1776 membandingkan “hutang dosa” dengan “hutang
nasional” Inggris. Ia menulis: “Seorang manusia yang memiliki jumlah dosa
dengan kecepatan 1 dosa setiap detik, pada umur 20 tahun telah bersalah sebesar
630.720.000 dosa; di usia 50 tahun, 1.576.800.000 dosa dan ketika umur 80 tahun
telah mencapai 2.522.880.000 dosa.” Dan ketika tidak seorangpun dapat menebus
hutang dosa sedemikian besarnya, kita hanya dapat bergantung kepada Kristus
saja. Kisah 4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di
dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberkan
kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
Lalu ia tambahkan: “Pada-Mu batu Zaman, aku minta lindungan.
Sucikanlah hatiku, Oleh darah rusukMu
Dari dosa ku lepas, dari hukuman bebas.”

Penulis lagu ini hanya hidup dua tahun setelah hymne ini di cetak. Ia
meninggal dunia tahun 1778 di usia 38 tahun karena penyakit tuberklosis. Setelah
16 tahun Toplady mendengarkan Khotbah dari seseorang yang tidak
berpendidikan dan secara dramatis bertobat dan menerima Kristus. Ia menulis
puluhan lagu sementara melayani gereja Anglikan sebagai pendeta yang berhasil.
Dari semua lagu tersebut yang berhasil membuatnya terkenal adalah “PadaMu
Batu Zaman”. Lebih dari 200 tahun lagu ini telah mempersatukan umat yang
berpaham Armenia dan Calvinistik. Berikan puji dan puja kepada Kristus sebagai
“Batu Zaman” kita atas karunia agungNya, yaitu keselamatan bahkan kelepasan
dari maut.

Bacaan tambahan : Kel 17:1-6; 33:17-23; Maz 78:35; Kisah 4:12.

(No.72)
AKU PERCAYALAH
(My Faith Looks Up to Thee= L.S. No 175)

Pengarang Naskah : Ray Palmer, 1808-1887


Pengubah Lagu : Lowell Mason, 1792-1872

Efesus 3:12 Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada
Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.

Ray Palmer mengalami kehidupan yang sulit di masa mudanya. Ia harus


tinggalkan pendidikan di sekolah ketika masih berumur 13 tahun untuk bekerja di
toko pakaian di Boston. Namun ia percaya pada Tuhan dan imannya ini
menuntunnya untuk menyelaikan pendidikan dan tamat perguruan tinggi dari Yale
University. Setelah tamat ia jatuh sakit dan merasa kesepian. Di umur 21 tahun ia
mengatasi kesepiannya dengan menulis berbagai sajak.

Gubahan tennyston terbaik “Crossing the Bar” adalah yang terakhir dari
semua koleksinya, di tulis ketika dia berumur 81 tahun. Berbeda dengannya
adalah gubahan terbaik Ray Palmer merupakan yang pertama ketika ia berusia 21
tahun. Di tahun 1830 ia menjadi guru sekolah untuk wanita-wanita muda di New
York. Sekolah ini dipimpin oleh seorang wanita anggota gereja St. George.

Di sanalah Ray Palmer tinggal bersama keluarga wanita direktur sekolah


terebut dan ia membagi waktunya antara mengajar dan belajar teologia. Terbiasa
sejak masa kanak-kanak dengan mengekspresikan sesuatu dalam tulisan berbetuk
sajak, ia mulai menulis beberapa sajak baru di permulaan musim gugur tahun
1830. setelah sejam berkonsentrasi ia mulai menulis sajak yang terdiri atas 6 bait.
Antara lain:
Dalam kesusahan dan pencobaan
Pimpin aku; Trangilah jalan gelap
Air mataku lenyap
Bri hatiku tetap di jalanMu

Dengan hati yang begitu tersentuh, ia mengakhiri bait-bait lagunya dengan


air mata yang membasahi baris-baris terakhir sajak indah ini. Sebelum beristirahat
ia menulis dalam catatan hariannya: “malam ini saya menulis sebuah sajak
sederhana. Inilah isi hatiku yang aku tuangkan dalam kata-kata penuh
kelembutan. Tidak terpikir sedikitpun untuk menuliskan suatu hymne yang
kurang penting dalam perbaktian Kristiani. Dengan merenungkan penebusan
dan keselamatan yang tercantum dalam lirik-lirik ini, saya menurunkan tema
agung pujian kekal bagi Tuhan kita, dan hal ini menuntun saya sapai ke
tinggkat emosi yang menyebabkan air matku mengalir deras.” Ia kemudian
menyalin bait-bait tersebut dalam buku kecil yang di bawanya kemana-mana
namun kemudian di lupakan.

Pada musim gugur tahun 1832, dua tahun setelah menulis lagu yang
kemudian menjadi sanggat terkenal ini, Ray Palmer pergi mengunjungi Boston
yang tidak sengaja di tengah keramaian kota bertemu dengan sahabatnya, Dr.
Lowell Mason. Mason pelopor hymnology Amerika bertanya apakah ia
mempunyai lagu terbaik untuk buku “Hymn and Tune Book”. Palmer sedikit
bimbang tetapi menawakan buku kecil yang di bawanya dan dengan rasa enggan
membiarkan orang lain membaca isi hati dan pengalaman rohaninya yang tertuang
di dalam bait-bait di buku tersebut. Tetapi Mason membacanya dan meminta
salinannya. Mereka berdua kemudian mampir di sebuah toko yang menyalin sajak
lagu ini dan Mason meneriman salinannya. Setelah tiba di rumah dan membaca
sajak Palmer, Mason begitu terkesan sehingga ia menggubah lagu dan nada asli
yang di beri nama “Olivet”

Dua hari kemudian kedua sahabat ini kembali berjumpa lagi di tengah jalan
ramai kota Boston. Karena tidak dapat menahan perasaannya Dr. Mason
menyalami pesajak muda ini dan berkata : “Tuan Palmer, and boleh berumur
panjang nanti dan melakukan banyak hal, tetapi saya akui bahwa anda akan
menjadi terkenal sampai beberapa generasi berikut sebagai pencipta ‘My Faith
Looks Up to Thee’.”

Palmer di urapi menjadi pendeta di tahun 1835, memegang jabatan eksekutif


dan melayani di Maine dan New York. Ketika ia dan isterinya merayakan hari
ulang tahun pernikahan emas mereka di tahun 1882, salah seorang sahabatnya
membacakan penghormatan berikut ini: “Kesempatan teragung yang Allah
karuniakan kepada anak-anakNya di dunia ialah karunia menulis lagu-lagu agung
Kristiani. Lagu yang dinyanyikan oleh jemaat di berbagai negara yang terus
dinyanyikan bertahun-tahun mendatang yang menerangi abad –abad kegelapan.”

Walaupun ia menulis banyak hymne lainnya yang diterjemahkan dari bahasa


Latin seperti “Come Holy Ghost in Love” dan “Jesus, Thou Joy of Living Hearts”
sebelum kematiaanya di tahun 1887, umat Kristen yang berbahasa Inggris
mengakui bahwa hymne pertama Palmer adalah Hymne terbaiknya.

Bacaan tambahan : Maz 118:8,9; Rm 1:17; 5:1,2; 2 Kor 12:9.

( No. 73)
YESUS YANG BERKASIHAN
(Jesus, Love of My Soul) = L.S. No. 177)

Pengarang Naskah : Charles Wesley, 1707-1788


Penggubah Lagu : Simeon B, Marsh, 1798-1875

Nahum 1:7 TUHAN itu baik, Ia adalah tempat pengungsian pada waktu
kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.

Charles Wesley telah menulis sebanyak 6.500 lagu rohani. Dari semua lagu
tersebut “Yesus Yang Berkasihan” secara umu merupakan lagu terbaiknya. Lagu
ini terdapa dalam hampir setiap buku nyanyian yang diterbitkan dan telah
diterjemahkan dan digunakan dalam hampir setiap bahasa yang diketahui. Sungguh
menarik dan perlu dicatat bahwa ketika pertama kali Charles menawarkan lagu ini
kepada saudaranya John Wesley untuk mendapatkan persetujuan, John menolak
dan mengatakan bahwa lagunya terlalu sentimentil. Sampai waktu setelah
kematian Charles maka lagu ini dinyanyikan dan tersear luas ketika untuk pertama
kali dicetak pada tahun 1740 dalam koleksi 139 lagu terkenal dengan nama Hymns
and Sacred Poems.

Sebagian pemuka dan pemimpin menuambut kehebatan lagu ini. Dr. Bodine
berkata: “Inilah lagu terindah penyentuh hati dalam bahasa Inggris.”
Penghkhotbah Amerika terkenal, Henry Ward Beecher penah menulis: “Aku lebih
senang menulis hymne Wesley yang penuh kemuliaan dan kuasa melebuhi
kemahsyuran para pemimpin dunia manapun. Aku memilih untuk menjadi
pengarang lagu ini daripada memiliki seluruh harta orang terkaya di New York.
Karna ia akan meninggal dunia dan terlupakan, dan apalagi yang akan di
bicarakan mengenainya? Namun banyak orang yang akan terus melagukan
hymne i i sampai sankakala sorga di bunyikan oleh pasukan malaikat; dan semua
mulut dan hati mengikuti kehadirang Tuhan.”

Ada berbagai cerita sehubungan dengan pengalaman-pengalaman yang


mendorong Charles Wesley menulis lirik lagunya. Sebagain certanya sebagai
berikut: ketika charles di musim gugur di tahun 1736 mengalami kekecewan di
AS, Ia menumpang kapal laut menuju inggris dan mendapat serangan angin topan
dasyat ditengah laut. Setibanya di Inggris pada tanggal 3 desember Wesley menulis
“aku bertelut, berdoa dan bersyukur atas tangan pemeliharaan Tuhan yang
melepaskan aku dari bahaya” penulis lain menceritakan bahwa selama topan besar
tersebut, seekor burung laut terbang memasuki kamar Wesley dan berlindung
dalam dekapannya. Yang lain lagi menulis bahwa Wesley menulis lirik lagu ini
setelah ia dipukul sekelompok orang yang menolak pelayanannya. Sebagian yang
lain menggambarkan penulisan Wesley berdasarkan pengalaman masa mudanya
ketika ia bergumul untuk mendapatkan kediaman hati dari Tuhan sebelum
pertobatan dramatis di Aldersgate pada 21 mei, 1738.

Lagu sekwalitas ini, bagaimanapun benar-benar tidak membutuhkan


penjelasan populer tentang keasliannya agar membuatnya terkenal. Kesederhanaan
penuh arti dari naskahnya sudah mencukupi. Dalam 186 kata terdapat 156 selabus
satu kata yang berbicara mengenai Kristus sebagai “kekasih”, “ Penyembuh,”
“Pelindung,” “sumber”, “sayap”, dan “ Jurumudi” –Allah yang berkecukupan.
Semua orang percaya dapat berkata bersama Wesley, “ Oh Kristus, Engkau lah
yang amat ku butuhkan, lebih dari semuanya aku dapat padamu”

Berbagai nada berbeda telah di berikan oleh naska lagu ini suasana klasik
beberapa nada terbaik di amerika ialah “Marty” di ubah oleh Simon B Marks yang
lahir di serbon, New York thn 1798. Ia seorang pemain organ, pemimpin biduan
dalam sekolah penyanyai keliling. Ia juga di kenal sebagai anggota Gereja setiap
Presbetirian. Pada suatu hari di tahun 1834 Ia menulis nada lagu ini yang di
namainya “Marty”. Tidak ada alasan khusus di berikan terhadap keistimewaan
susunan baru dari salah satu lagu-lagu Jhon Mewton, “Mary at Her Savior’s tomb”.
Tiga pulu tahun kemudian Thomas Hastins, seorang musisi lagu rohani
menemukan bahwa nada “Marty” cocok dengan naskah Wesley dan mulai
menggunakan nya sehingga mendapatkan tanggapan dalam publikasi-publikasi
berikut. Lagu ini tidak pernah kehilangan penampilan karena senantiasa berbicara
mengenai dasar kebutuhan setiap hati manusia, yaitu ketergantungan atas Ke-
Ilahian Allah.
Jangan pernah lupa agar senantiasa datang kepada Yesus sebagai pelindung
ketika “Badai kehidupan melanda kita”. Ia sendiri adalah satu-satunya tempat
sebagai pelindung dan landasan kokoh bagi hidup ini.

Bacaan tambahan: Mazmur 37:39;40:2 2 Kor 1:3-7; Wah 7:17.

( No. 74)
KU HARAP PADA-MU
( I Need Thee Every Hour) = L. S. No. 180)

Pengarang Naskah : Annie S. Hawks, 1835-1918


Penggubah Lagu : Robert Lowry, 1826-1899

Mazmur 86:7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau
menjawab aku.

Lagu terkenal ini, sekarang diasosiasikan dengan penderitaan dan dukacita


dalam kata-kata penulisnya yang “menembus dunia pada sayap-sayap kasih
sukacita.” Penyairnya adalah Ny. Annie Sherwood Hawks yang pindah dari
kediamannya di Hoosick, New York ke Brooklyn, dan selama bertahun-tahun
menjadi anggota aktif gereja Hanson Place Baptis. Di tahun 1868, seorang pendeta
penyair dan penulis naskah lagu menemukan bakat khusus Annie yang memiliki
talenta seorang penulis dan mendorongnya untuk menyumbangkan talenta
puitisnya kepada produksi naskah lagu anak-anak. Selama delapan tahun
pelayanannya ia telah menulis naskah yang sekarang diasosiasikan dengan
namanya. Sebagaian besar naskah tersebut digubah lagunya oleh Dro. Lowry.

Pada suatu pagi cerah di bulan Juni 1872, ketika ia berusia tigapuluh tujuh
tahun, Ny. Hawks sibuk mengurusi rumah tangga sebagaimana layaknya para istri
dan ibu. Ditengah-tengah kesibukan kerja hariannya, tiba-tiba ia merasa sangat
dekat dengan Tuhan. Dalam pikirannya: “Saya bertanya-tanya apakah seseorang
dapat menikmati kehidupan tanpa Tuhan. Bagaimana mungikin seseorang
menghadapi sakit hati atau mengalami sukacita besar terpisah dari Tuhan? Dan
bagaiamana mereka dapat mengatasi cobaan terpisah dari persekutuan dalam
kehadiran-Nya?’

Kebutuhannya akan Yesus Kristus begitu mempengaruhinya sehingga tanpa


kesulitan bebarapa baris sajak memenuhi pikirannya. Tak dapat menahan
dorongan hatinya ia segera meulis bait demi bait lagu “Ku Harap Pada-Mu.”
Karena lirik lagunya begitu sederhana sehingga ia malu menujukkanya kepada
Pedeta gereja. Namun atas dorongan pendeta, Annie memberikan lirik-lirik
sajaknya tanpa memimpikan bahwa lagunya akan menyentuh jutaan hait manuasia
di dunia. Dr. Lowry berulang kali membaca lirik-lirik sederhana ini dan
menyadari bahwa salah seorang anggota gerejanya telah melahirkan sebuah sajak
inidah. Tetapi tanpa chorus (refrain) lagu ini jauh dari sempurna. Segaera Dr.
Lowry menghampiri organ kecil di ruang tamu rumahnya di Brooklyn dan
menambah lirik refrain (ulangan) kepada lagu Ny. Hawks.
Ulangan: Aku harap selalu, Pada-Mu ya Yesus
Oh, berkatilah aku, Selamanya.
Ini bukanlah kali pertama Dr. Lowry menulis sebuah refrain. Ia begitu
menghargai hyme besar dari Isaac Watts “Hai Skalian Orang” sehingga ia merasa
perlu menambahkan refrain (ulangan) pada lagu tersebut.
Ulangan: Berjalan ke Sion, Kota Sion yang terindah
Mari berjalan ke Sion, Kota Allah yang termulia.

Lagu “ku Harap PadaMu” pertama kali dinyanyikan di pertemuan National


Baptist Sunday Cshool Association di Cincinnati, Ohio, November 1872. Pada
tahun berikutnya lagu ini dicetak dalam buku lagu baru “Royal Diadem” kompilasi
Dr. Lowry dan W. H. Doane.

Bertahun-tahun kemudian pengarang lagu ini mengatakan: “Lirik lagu saya


ini lebih bersifat nubutan daripada ekspresi penglaman pribadi saya, dan saya tidak
mengerti mengapa ia sangat menyentuh hati manusia. Setelah melewati tahun
demi tahun, ketika bayangan gelap menutupi jalan hidupku, barulah aku mengerti
bahwa kepadaku telah dipercayakan untuk menulis lirik-lirik lagu dalam tahun-
tahun aman dan damai” Biasakan diri kita untuk berjalan setiap saat dekat kepada
Juruslamat apakah di saat sukacita maupun dukacita. Ia berada di sana untuk
menangani setiap kebutuhan. Bernyanyi dan bermeditasi atas fakta ini.

Setelah kematian suaminya di tahun 1888, Ny. Hawks tinggal bersama salah
seorang dari tiga anaknya di bennington, Vermont, sampai ajalnya di tahun 1918
pada usia delapanpuluh tiga tahun.

Bacaan tambahan: Mazmur 4:1, 119:86; Yohanes 15:4,5; 16:33; I Korintus


10:13; Ibrani 4:16.

( No. 75 )
YESUS, SAHABAT TERINDAH
(What a Friend we Have in Jesus) = L. S No. 181)

Pengarang Naskah: Joseph Scriven, 1819-1886


Penggubah Lagu : Charles C. Converse, 1832-1918

Amsal 18:24 Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga
sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

Seorang sahabat sejati mengasih dan menerima kita sebagaima adanya. Ia


tetap mendampingi di saat senang maupun susah, dan selalu sedia memberi
pertolongan saat dibutuhkan. Karena pengarang lagu ini menemukan sahabat
sedemikian setia dalam yesus, ia membuat keputusan untuk mendedikasikan
seluruh kehidupannya untuk menunjukkan persahabatan sejati kepada orang lain.

Joseph Scriven memiliki kekayaan, pendidikan, keluarga yang saleh, dan


kehidupan yang menyenangkan di Irlandia. Namun tragedi menghantam ketika
malam menjelang pernikahannya, calon isterinya tenggelam dan meninggal dunia.
Dalam dukacitanya yang dalam ia mendapatkan penghiburan dan dukungannya
hanya melalui yesus, sahabat setian6ya. Segara setelah tragedi tersebut di usia
dupuluh lima tahun, ia tinggalkan Irlandia menuju Prot Hope, Canada. Di sana ia
membaktikan seluruh kehidupannya untuk menjadi sahabat dan penolong orang
miskin. Ia membagikan pakaian, makanan, dan hartanya kepada mereka yang
membutuhkan sehingga ia dijuluki “Orang Samaria Yang Baik Hati Dari Port
Hope.” Sekali lagi kekasihnya yang kedua meninggal dunia karena sakit.

Ketika ibunya menderita sakit di Irlandia, Joseph menghiburnya melalui


lirik-lirik doa yang ia kirim dengan surat mengingatkan ibunya bahwa bait demi
bait tulisannya ini bercerita mengenai Yesus Kristus, Sahabat sorgawi yang tak
pernah gagal. Beberapa tahun kemudian ketika Joseph Scriven jatuh sakit, seorang
sahabat mengunjungnya dan melihat sehelai kertas bertuliskan lirik lagu ini.
“Siapa yang menulis sajak indah ini?”, tanya sahabatnya. Jawab Joseph: “Tuhan
Yesus dan saya.”

Joseph Scriven tidak pernah bermaksud mempublikasikan penulisaannya.


Di tahun 1869 lirik lagunya dipublikasikan dalam sebuah koleksi kecil sajak-sajak
dengan judul Hymns and Other Verses. Setelah kematiannya, juga karena
kecelakaan tenggelam, penduduk Prot Hope, Ontario, menjdirikan sebuah
monumen di Prot Hope-Peterborough Highway menyusuri danau Ontario dengan
tulisan sebagai berikaut:”empat mil ke utara, di pekuburan Pengally, beristirahat ia
yang mencintai sesama dan pengarang sebuah karya agung yang ditulis di Port
Hope 1857.”

Penggubah musik lagu ini adalah Charles C. Converse, seorang Kristen


terpelajar dan sukses, yang talenta kepintaraanya mencakup bidang hukum dan
musik. Dengan nama samaran Karl Raden ia menulis berbagai artikel ilmiah.
Walaupun ia seorang penggubah lagu dan musisi handal, yang karya-karyanya
dipentaskan oleh orkestra-orkestra dan paduan suara terkenal Amerika, kehidupan
terbaiknya dikenang karena musik sederhana untuk naskah Scriven “Yesus,
Sahabat Terindah”. Kemudian di tahun 1875 lagu ini ditemukan Ira D. Sankey dan
dimasukkan dalam keleksi terkenalnya Sankey’s Gospel Hymns Number One.

Bacaan tambahan: Mazmur 6:9; Markus 11:24; Yohanes 15:13-16; I


Yohanes 5:14:,15.

(No. 76)
AKU MASUK DALAM TAMAN
(I Come to the Garden Alone= L. S. No. 182)

Pengarang Naskah : C. Austin Miles, 1868-1945


Penggubah Lagu : C. Austin Miles, 1868-1945

Yohanes 20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-mirid: “Aku
telah melihat Tuhan!” dan jagu bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu
kepadanya.

Pada tahun 1912, Dr. Adam Geibel, penerbit buku lagu megajak penulis dan
pengarang lagu, C. Austin Miles untuk menulis sebuah lirik lagu yang harmonis
dalam nada, dan menghembuskan kelembutan dalam setiap baitnya; yaitu sebah
lagu yang akan membawa pengharapan kapada yang putus asa, kelegaan bagi yang
letih dan kedamaian hati bagi yang sekarat. Di bulan April 1912 tersebut, tuan
Miles mulai memulis lirik lagu sentimental ini setelah memainkan organ untuk
beberapa saat. Cerita Maryam, wanita pertama yang bertemu Yesus setelah Ia
bangkit, dan ketika berada di kubur Yesus yang kosong dalam taman itu,
memberikan inspirasi baginya untuk berkata: “Rabuni”.

Lebih tiga ratus ayat dalam Perjanjian Baru berhubungan dengan


kebangkitan Yesus.
1. Kepada kita diceritakan bahwa kebangkitan adalah suatu tanda bagi mereka
yang tidak percaya. (Mat 12:38-40); Lihat Yoh 20:24-29).
2. Kebangkitan merupakan jawaban bagi umat percaya yang masih bimbang
(Lukas 24:38-43).
3. Kebangkitan merupakan jaminan (garansi) bahwa apa yang Yesus ajarkan
itu benar (Kisah 2:22-24; I Kor 15:12-20)
4. Kebangkitan adalah inti dari Injil itu sendiri (Roma 4:24-25, 10:9; I Kord
15:1-4)
5. Selanjutnya, kebangkitan adalah tenaga pendorong dan motivasi bagi
penginjilan. (Matius 28:18-20; Kis 10:39-43)
6. Kebangkitan merupakan kunci indikasi dari kekuatan setiap hari bagi
kehidupan rohaniah orang Kristen (Rm 6:4-14; 8:9-11; Filipi 3:10)
7. Kebangkitan merupakan landasan serta dasar komitmen seutuhnya bagi kita
(Rm 7:4; I Kor 15:57-58)
8. Kebangkitan bahkan mengajarkan kita agar tidak perlu takut terhadap
kematian (Yoh 11:25; I Kor 15:54-58; Lihat 2:14-15)
9. Kebangkitan berkaitan dengan kedatangan Yesus yang kedua kali (Why
1:7,11)
10. Yang terakhir, kebangkitan merupakan contoh kebangkitan orang-orang
saleh dari kematian (Kisah 4:2; ;I Kor 6:14; I Tes 4:13-18)
11. Dan menyediakan bagi umat percaya pendangan antisipasi tentang kerajaan
Surga. (Phil 3:20-21; I Pet 1:3-5). Lihat buku, The Centrality of the
Resurrection, oleh Gary R. Habermas.

Bacaan tambahan : Mat 20:28; 28:5-9; Yoh 20; Rm 5:6,10,11.

(No. 77)
INILAH JAM KU BERDOA
(Sweet Hour of Prayer=L.S. No. 183)

Efesus 6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di
dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang
tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

“Tak seorangpun akan menjadi miskin karena membuka lumbung Tuhan


melalui doa yang tidak berkeputusan”, Luis Paul Lehman.
William Walford adalah seorang pengkhotbah awam yang tidak terkenal
memiliki sebuah toko kecil di desa Coleshill, Inggris. Walaupun banyak kali
melihat kesedihan, kesusahan dan penderitaan, sifat optimisme dan
bersemangatnya selalu memberi kekuatan bagi mereka yang berbelanja di tokonya.

Pada suatu hari di tahun 1842, Pendeta Thomas Salmon mengunjungi toko
Walford. Walford yang baru saja mengarang sebuah sajak meminta Pendeta
Salmon untuk mempelajari dan menggunakannya. Tiga tahun kemudian Salmon
pergi ke Amerika dan memperlihatkan lirik Walford kepada editor the New York
Observer. Liriknya ini dipublikasikan dalam terbitan 13 September, 1845.
Empatbelas tahun kemudian di tahun 1859 sebuah salinannya mendapat perhatian
Wkilliam Bradbury, penggubah lagu terkenal. Ia dapati dalam lirik Walford bahan
untuk sebuah lagu yang segera ia gubah dan terbitkan. Melalui tangan trampil
Bradbury lahirlah lagu indah ini yang dinyanyikan di seluruh dunia.

Alasan mengapa Walford meminta Pendeta Salmon mencatat sajaknya


ketika ia mendiktekannya, ialah karena ia sendiri buta. Namun dalam kegelapan
phisiknya Allah mengaruaniakan lagu pujian yang membawa penghiburan. Lagu
ini mengingatkan kita betapa manis dan berharga perpaduan kita dengan Tuhan
dalam doa. Melalui pengarangnya, Allah memberikan inspirasi kepada setiap
insan bahwa iman akan membuka pandangan kita kepadaNya. Gunakan waktu
sesering mungkin tanpa tergesa-gesa untuk menghampiri Tuhan dalam doa
sehingga kita dapat merasakan berkat kehadiranNya.

Bacaan tambahan: Matius 6:5,6; 7:11; 18:19; 21:22; Lukas 18:1-8

( No. 78 )
TUHAN PIMPIN SPANJANG JALAN
(He Leadeth Me! O Blessed Thought) = L. S. No. 184

Pengarang Naskah: Joseph H. Gilmore, 1834-1918


Penggubah Lagu : William B. Bradbury, 1816-1868

Mazmur 23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia


membibing aku ke air yang tenang;

Gedung gereja Babtis pertama di sudut baradaya Jalan Broad and Arch di
Philadelphia diruntuhkan untuk membangun sebuah bangun baru dari the United
Gas Improvement Company. Seorang anggota Baptis yang memperhatikan
runtuhan gedung gerejanya berkata kepada kepala perusahaan gas:”Bangunan tua
ini memiliki sejarah yang istimewa. Sebuah lagu yang menakjubkan, ‘He Leadeth
Me’ ditulis di sini.” Ketika gedung selesai dibangun mereka menulis sebuah
prasasti yang di dedikasikan kepada penulis lagu tersebut dengan kata-kata berikut:
“Lagu ‘He Leadeth Me’ yang dikumandangkan diseluruh dunia dikarang oleh Dr.
Hoseph H. Gilmore, anak gubernur New hampshire. Dikarang dirumah diakon
Wattson segerea setelah berkhobah di gereja First Baptist, di sudut baratdaya jalan
Broad and Arch, pada tanggal 26 hari bulan Maret, 1862. Gedung gereja dan
rumah diakon Watts pernah berdiri di lokasi dimana gedung ini di dirikan. Karena
sangat menghargai akan keindahan dan kemasyuran lagu ini, maka the United Gas
Improvent Company mencatat secara permanen sejarah lagu tersebut pada hari
pertama bulan Juni, 1926.”

Kembali ke hari Rabu malam di bulan Maret, 1862, sepanjang hari-hari


gelap dan depresi dari peperangan antara negara bagian di Amerika, ketika seorang
pendeta muda berumur dupuluh delapan tahun bersiap-sip untuk berkhobah.
Pendeta Joseph henry gilmore tamatan Brown University and Newton Theological
Seminary malam itu berkhotbah Mazmur 23. ketika ia dan isterinya pindah ke
kota itu mereka tidak pernah impikan bahwa thema khobah dari Mazmur 23 telah
menjadi inspirasi terciptanya sebuah lagu indah sepanjang masa. Malam itu
berulang kali dalam khobahnya ia tekankan kata-kata “Tuhan pimpin di air yang
tenang,” – “Tuhan pimpin di jalan yang benar,” – “Tuhan pimpin dengan gada dan
tongkat,” – Ia mengajak para pendengar untuk mengikuti dan mengulang-ulangi
kata-katanya. Ia menuntun pikiran mereka untuk mengenang pimpinan Tuhan bagi
bangsa Israel dengan tiang awan dan tiang api dan melepaskan mereka dari
perhamaan menuju Tanah Kanaan.

Setelah selesai kebaktian mereka menginap di rumah diakon wattson di


samping gedung gereja. Gilmore tidak dapat melupan thema khotbahnya dimalam
itu ia menulis beberapa bait di secarik kertas yang dimulai dengan:
Tuhan pimpim spanjang jalan, amat senanglah hatiku
Dan hilanglah ketakutan, karena tuhan pimpin aku,,

Setelah selesai menulis terlahir empat bait dan juga refrain (chorus). Untuk
beberapa tahun ia melupakan tulisannya, tetapi isterinya tidak. Ia kirimkan salinan
bait-bait lagu ini ke sebuah majalah Boston “The Watchman and Reflector” dan
untuk pertama kalinya diterbitkan. William Bradbury menemukannya dan segera
menggubah lagunya sehingga menempatkan lagu ini secara permanen dalam puji-
pujian bagi Tuhan.
Joseph Gilmoere menempati posisi-posisi tinggi dalam lingkaran agama dan
pendidikan dan mendapat berbagai penghargaan selama tahun-tahun
keberhasilannya sampai mencapai umur delapanpuluh empat tahun. Dewasa ini
Joseph Gilmore dikenang karena khobah rabu malamnya di Philadelphia ketika ia
baru berumur 28 tahun, Mazmur 23 dan empat bait yang memberikan inspirasi
bagi penulisannya, seorang isteri yang memiliki ketajaman visi ketiak melihat hasil
karangan suaminya dan seorang pengguah lagu yang mengguah lagu penuh kesan
tersebut. Tambahan dari William Bradbury: “Ku turut dengan setia, Karena Tuhan
pimpin aku”. Apakah ini menjelaskan mengenai anda? Bayangkan Gembala
Agung menuntun dengan lembut domba-domba-nya. Apakah anda sudah
mengikuti-Nya dengan setia?

Bacaan tambahan : Mazmur 23; 139:10,24; Yesaya 41:13,14; Yohanes


16;13.

( No. 79 )
KU DATANG HAMPIR KEPADA-MU
(Nearer, Still Nearer) = L. S. No. 185

Pengarang Naskah: Leila N. Morris, 1862-1929


Penggubah Lagu : Leila N. Morris, 1862-1929

Mazmur 145:18 TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada
setiap orang yang berseru keapaNya dalam kesetiaan.

Telah diobservasikan bahwa ketika Kristus berada di dunia ini, ada empat
kelompok manusia yang membina hubungan denganNya. Kelompok pertama ialah
orang banyak yang mengikuti Dia dari jauh. Mereka tertarik hanya dengan apa
yang Kristus perbuat. Mereka ini merupkan penonton yang menayaksikan mujizat,
mendegar khotah dan takjub akan apa yang mereka dengar dari Juruselamat.
Kelompok kedua terdiri atas 120 orang yang berkumpul di ruang atas pada
hari Pentakosta. Mereka sebelumnya sudah semakin dekat dengan Kristus ketika Ia
belum naik ke Surga. Mereka turut merasakan penderitaanNya dan menyaksikan
penyalibanNya.

Kelompok ketiga ialah yang semakin dekat lagi kepada Kristus. Mereka
adalah 12 murid Kristus yang kemudian tersisa 11. Dan bahkan kelompok kecil ini
berkembang dalam hubungan mereka dengan Kristus ketika Ia mengumumkan
bahwa mereka bukan lagi hamba tetapi sahabat-Nya. (Yohanes 15:15 Aku tidak
menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh
tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan
kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.) Namun di
dalam kekeluargaan para murid ini terdapat kelompok ke-empat yang sangat dekat
dengan Tuhan. Mereka adalah Petrus, Yohanes dan Yakobus yang mengalami
persekutuan tererat dengan Kristus dan yang Ia perhitungkan terbaik.

Bahkan pada dewasa ini terdapat berbagai tingkat kedekatan dengan Tuhan
kita. Adalah sangant mungkin untuk terlibat dengan serius dalam kegiatan
rohani atau gerejani yang sama sekali tidak menarik kita semakin dekat kepada
Kristus. Agar semakin dekat kepada-Nya dalam hubungan pribadi, kita harus
menerima dan menggunakan sumber kekayaan rohani yang Ia sediakan.
Antaranya: penyelidikan, pemahaman dan hidup sehari-hari sesuai dengna
kebenaran Firman Tuhan dalam Alkitab. Hubungan setiap saat dengan Dia dalam
doa “yang tidak berkeputusan” dan rajin untuk membagi kebenaran melalui
Penginjilan. Pertumbuhan kerohanian kita semakin sempurna karena berada pada
proporsi langsung dengan Kebenaran.

Leila Morris, pengarang naskah dan penggubah lagu ini sangat aktif di
gereja methodist Episcopal dan juga di perkemahan-perkemahan rohani. Ia telah
menulis lebih dari 1000 lagu rohani dan terus menulis walaupun kemudian telah
menjadi buta. Lagu “Ku Datang Hampir Kepada-Mu” pertama kali dicetak pada
tahun 1898 dalam buku lagu Pentecostal Praises Hymnal. Sementara
menyanyikan lagu ini, hidupkan sift dan tingkatkan tindakan kita semakin tinggi
dalam hubungan yang semakin erat dengan Kristus. Napaskan doa lagu ini ketika
anda menyanyikannya.

Bacaan tambahan: Mazmur 119:133; Efesus 2:13; Pilipi 3:10; Yakobus 4:8;
2 Petrus 3:18.

(No. 80)
YESUS MENCURAH DARAH-NYA
(There Is a Fountain Filled with Blood = L.S. No. 194)

pengarang Naskah : William Cowper, 1731-1800


Penggubah lagu : Lowell Mason, 1792-1872

Efesus 2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”,
sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.

William Cowper (dilafal “Kooper”) sebuah nama yang sangat dihargai


dalam lingkungan literatur klasik Inggris. Dia adalah penyair besar dengan
kehormatan dan nama besar sejajar Pope dan Shelley. Ia diakui sebagai salah
seorang penulis Inggris terhormat. Beberapa penulisan sekular terbaiknya,
termasuk terjemahan jilid syair-syair terkenal Homer berjudul The Task bersama
dengan puisi literatur “John Gilpin”.

Cowper lahir di Great Berkhamstead, Inggris pada tanggal 15


Nopember,1713. Ayahnya seorang pendeta sedangkan ibunya berketurunan
bangsawan. Semasa kanak-kanak Cowper seorang yang kurus dan beremosi
sensitif. Menambah ketidakstabilan emosinya ialah ketika ibunya meninggal dunia
saat ia berumur enam tahun. Mendekat pada akhir hidupnya ia berkata bahwa
bagi dia tidak ada hari tanpa dukacita atau kematian ibunya.

Dimasa remaja ayahnya mengarahkan dia untuk belajar hukum. Ujian akhir
membuatnya sangat ketakutan sehingga ia mengalami gangguan mental dan
bahkan hampir saja ia membunuh diri. Ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa selama
8 bulan baru dalam penguncilannya ituia membaca Alkitab dan tiba dibuku Roma
3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaia karena
iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatnya untuk menunjukkan keadilannya,
karena ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa
kesabaranNya. Melalui pembacaan ini Cowper segera sadar akan hubungannya
dengan Kristus dan pengampunan yang ia alami. Hal ini terjadi pada tahun 1764
ketika ia berumur tigapuluh tiga tahun.

Setelah pertobatan dan kesembuhannya Cowper bersahabat dengan Pendeta


Morley Unwin yang sngnat membantunya. Ny. Unwin menjadi sahabat setia
sampai kematiannya. Setelah pendeta Unwin meniggal dunia di tahun 1757, John
Newton, seorang kapten kapal jual-beli budak (juga penulis lagu Amazing Grace)
mengajak Ny. Unwin dan keluarganya bersama William Cowper pindah ke Olney,
Inggris di mana Newton menjadi pendeta di gereja Anglikan. Di tempat inilah
persahabatan Cowper dan Newton terjalin selam dua decade dan akhirnya di tahun
1799 kombinasi talenta berdua menghasilkan buku lagu terkenal Olney Hymns.
Buku ini merupakan kontribusi tunggal bagi bidang lagu dan musik evangelika.
Dalam keloksi 349 lagu, enampuluh enam dari padanya ditulis dan dikarang oleh
Cowper dan sisanya oleh Newton. William Cowper juga mengarang lagu “O For a
Closer Walk With God.”

Lagu “Yesus Mencurah Darah-Nya” aslinya berjudul “Peace for the


Fountain Opened”. Tanpa diragukan lagi bahwa lagu ini merupakan salah satu
lagu Cowper terbaik dan tercinta. Hanya kekekalan saja dapat mengungkapkan
kemanjuran kesempurnaan penebusan Kristus melalui lagu pujian ini. Ayat
dasarnya diambil dari Zakaria 13:1 “pada waktu itu akan terbuka suatu sumber
bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan
kecemaran.

Nada lagu dipinjam dari lagu rakyat Amerika, yaitu nada khusus lagu
perkemahan permulaan abad sembilanbelas. Sampai menjelang akhir hayatnya
Cowper tidak pernah meragukan imannya kepada Yesus. Walaupun ia menderita
kekerdilan phisik dan emosi, Tuhan telah melimpahinya dengan talenta literatur
yang luar biasa untuk memperkaya kehidupan orang Kristen lebih dari dua abad
lamanya. Bawalah sukacita “kasih yang menyelamatkan” itu ke manapun kita
pergi dan jadikan itu tema untuk hari ini.

Bacaan tambahan : Yoh 19:34; Efesus 1:7; Kol 1:20; Ibr 9: 12-14.

(No. 81)
TOLONGLAH AKU YA ALLAH
(Come, Thou Fount of Every Blessing)= L.S. No. 195)

pengarang Naskah : Robert Robinson, 1735-1790


Penggubah Lagu : John Wyeth, 1770-1858

Yesaya 25:1 Ya Tuhan, engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau,


mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh
Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak
dahulu.

“Kawan-kawan tambahkan lagi minuman keras padanya,” kata seorang


pemuda. Wanita gipsy itu telah terhuyung-huyung karena mabuk, tetapi para
pemuda berandalan itu memutuskan untuk membuatnya semakin mabuk.
“Tuangkan minuman keras padanya dan dengar apa ramalannya untuk kita,” kata
Robert Robinson yang berumur 17 tahun. Teman-temannya turut menyirami
wanita tersebut dengan alkohol sampai ia berjanji akan meramal masa depan
mereka.

“Pasti ia tidak tau apa yang ia katakan sebab ia terlalu mabuk,” kata seorang
sahabat Robinson. Tiba-tiba wanita ini berbalik, menunjuk dengan telunjuknya
yang gemetaran dan berkata kepada Robert Robinson yang memimpin kelompok
pemuda tersebut: “Dan kau anak muda, perhatikan. Kamu akan hidup dan melihat
anak-anakmu dan cucu-cucumu.” Robinson segera menjadi pucat dan berkata:
“Sahabat-sahabat. Orang ini sangat mabuk dan ia tidak tau apa yang ia katakan.
Mari kita tinggalkan dia.”

Namun kata-kata wanita gipsy ini menghantui Robert sepanjang sisa hari itu.
Ia berpikir: “Kalau saya bisa hidup sampai melihat anak-cucu saya, maka saya
harus merubah cara hidup saya. Saya tidak akan dapat berumur panjang dengan
cara begini.” Malam itu juga ia membawa kelompok gangsternya, setengah
bergurau dan setengah serius, untuk menghadiri Kebaktian Kebangunan Rohani di
lapangan terbuka dipimpin Pendeta dan Ebangelist terkenal, George Whitefield.
“Mari kita ke sana dan menertawai pendeta Methodist malang dan penipu itu,” kata
Robert.

Tapi Roh Tuhan telah mulai bekerja di dalam hati yang terganggu, berbeban
dan kacau dari pemuda yang sulit dikendalikan ini. Malam itu Whitfield
berkhotbah dari Matius 3:7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan
orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu
keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu
dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Pekabaran ini sekaligus
menyadarkan dan menakutkan Robert. Ia merasa bahwa Pendeta Whitefield
sementara berbicara kepadanya seorang secara pribadi. Pada hari selasa, 10
Desember, 1755, dua tahun tujuh bulan setelah mendengarkan khotbah itu, Robert
Robinson menerima Kristus, berdamai dengan Allah dan mendapatkan
“pengampunan penuh melalui darah Yesus Kristus.”

Ia kemudian menyurati Pendeta Whotefield yang pertama kali meyakinkan


dia akan keberdosaanya. “Pendeta Whitedield, saya mengakui bahwa saya datang
ke KKR anda sebagai mata-mata, untuk menunjukkan rasa kasihan atas kebodohan
anda, untuk membenci doktrin yang anda khotbahkan. Saya bermaksud untuk
mempermainkan seorang pendeta Methodist yang bodoh, tetapi terbukti saya
tinggalkan KKR anda dengan meresa iri akan sukacita anda bersama para
pendengar.”

Segera Robert Robinson bergabung dengan gereja Methodist dan meresakan


panggilan untuk berkhotbah. Ia seorang pelajar Alkitrab yang setia ditunjuk oleh
John Wesley untuk melayani gereja Methodist Calvinist di Norfolk, Inggris. Di
gereja ini, tiga tahun setelah pertobatan ajaibnya, pada perayaan Pentakosta di
tahun 1858, ia manulis otobiographi rohaninya melalui bait-bait berikut ini pada
umur 23 tahun:
Tolonglah aku ya Allah, Memujikan rahmat-Mu
Karena berkat dan anugerah, Yang hiburkan hatiku
Tolong ajar aku, Tuhan, Lagu saleh di surga
Agar aku muliakan, Penebus manusia.

Setahun kemudian lagu ini diterbitkan dalam sebuah jilid dengan judul.”A
Collection of Hymns Used by the Church of Christ in Angel Alley, Bishopgate,”
dan menjadi salah satu karya terkenal yang pernah dikarang Robinson. Bulan
Desember tahun yang sama ia menulis lagu Natal atas permohonan pribadi seorang
pemuda gerejanya. Lagu tersebut kemudian ia sesuaikan untuk orang dewasa.
Betapa berbedanya bila masing-masing kita dapat memuji Tuhan “dengan Roh dan
dengan pengertian juga” seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam 1Korintus
14:15. tidak semua kita dapat menyanyi dengan suara merdu, tetapi bila kita
dituntun oleh Roh Tuhan, maka mampu dan harus menyambut tuntunan itu dengan
nyanyian yang terbit dari hati yang penuh sukacita.

Ia juga melayani sebagai pendeta Gereja Baptist yang besar di Cambridge,


Inggris. Robinson menjadi seorang pendeta, ilmuwan dan penginjil terkenal yang
menulis berbagai buku thelogia. Ia adalah seorang Methodist, terbuka dan dekat
dengan Baptist, seorang yang bebas berdiri sendiri dan yang percaya bahwa Tuhan
adalah Esa. Ia dapat mengkhotbahkan apa saja yang ia sukai dan bagaimana ia
menyukainya. Robert Robinson meningggal dunia pada 9 Juni, 1790 di usia
limapuluh lima tahun.

Bacaan tambahan : 1Samuel 7:10-12; Mazmur 68:19; Zakaria 13:1; Roma 5:2.
(No. 82)
TUHANKU BERKATA
(Jesus Paid it All=L.S. No. 196)

Pengarang Naskah : Elvina M. Hall, 1820-1889


Penggubah Lagu : John T. Grape, 1838-1915
Yesaya 1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! - firman TUHAN- sekalipun
dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun
berwarna merah seperti kain kesumba, akan menajdi putih seperti bulu domba.

Teks lagu ditulis oleh seorang anggota wanita bernama Elvina Hall, terpusa
langsung pada dasar kebenaran, yang merupakan basis iman Kristiani. Ny. Hall
menulis kata-kata lagu ini di acara kebaktian minggu pagi sementara duduk di
bangku paduan suara gereja Monument Street Methodist, Baltimore, Maryland,
mendengarkan khotbah Pendeta George Schrick. Selesai khotbah ia temui Pendeta
Schrick dan berkata: “Pendeta, saya harus mengaku bahw saya tidak
mendengarkan dengan teliti khotbah anda. Ketika Pendeta berkhotbah mengenai
bagaimana kita benar-benar dapat mengenal kasih dan pengampunan Tuhan, saya
mulai berpikir tentang semua yang Kristus telah lakukan bagi keselamatan kita.
Maka bermunculanlah kata-kata ini yang saya rasakan harus segera dituangkan
pada sepucuk kertas. Dan satu-satunya kertas yang saya bisa gunakan hanya
lembaran kosong dari buku lagu gereja kita. Lalu saya tuliskan kata-kata tersebut.”

Pendeta Schrick teringat kepada pemain organ, John Grope, yang


sebelumnya telah memberikan kepadanya salinan sebuah nada baru dengan judul
“All to Christ I Owe.” Dalam keheranan mereka, didapati bahwa nada gubahan
John Grope cocok sempurna dengan naskah karangan Elvina Hall. Sejak
diterbitkan pertama kali pada tahun 1874, lagu ini telah tersebar luas dan
dinyanyikan di gereja-gereja, teristimewa saat dilaksanakan upacara Perjamuan
Kudus. Hembuskan doa syukur kepada Tuhan bahwa hidup kekal kita bergantung
sepenuhnya atas misi penebusan Kristus. Bagaikan dengan sukarela dan sukacita
Kabar Baik ini kepada setiap orang yang kita temui.

Makna kematian Kristus: (a) Itu adalah suatu tebusan bagi banyak orang
(matius 20:28; Roma 3 :24; 1 Petrus 1:18). (b) Itu untuk membayar hukuman
sebagai upah dosa (Roma 3:24; 1 Yohanes 2:2; 4:10). Manusia adalah sasaran
murka Allah karena pemberontakan dan dosa mereka. Tetapi Tuhan berinisiatif
dalam memenuhi tuntutan murka-Nya oleh mengirim Anak-Nya yang tunggal ke
Kalvari. (c) Itu adalah suatu tindakan pendamaian atas permusuhan antara kita
dengan Allah telah diakhiri, diselesaikan. (Roma 5:10), dan hubungan kita
dipulihkan kembali dengan Allah. (2 Korintus 5:18,19). (d) Itu adalah suatu
substitusi atau penggantian. Yesus mati menggantikan kita. (1 petrus 3:18; 2
Korintus 5:21). (e) Sebagai ringkasan: masaalah dosa telah ditangani dengan
amat sempurna. (1 Petrus 2:24; Ibrani 9:26; Ibrani 10:12).
Bacaan tambahan : Roma 3:24-26; 1 Korintus 6:11; Efesus 1:7-9

(No. 83)
BETAPA SNANG HARI ITU
(O Happy Day)=L.S. No. 197)

Pengarang Naskah : Philip Doddridge, 1702-1752


Penggubah Lagu : Edward F. Rimbault, 1816-1876

Yesaya 61:10 Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam


Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepdadaku dan
menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang
mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai
perhiasannya.

Merupakan suatu saat yang penuh sukacita bila kita membagikan kesaksian,
memperingatkan dan menyemangati sesama umat untuk menyambut undangan
Tuhan yang penuh kasih demi keselamatan pribadi masing-masing. Untuk
mengingat apa kita sebenarnya, bagaimana langkah kita selanjutnya, dan di mana
ktia berada saat ini kalau bukan karena campur tangan Tuhan dalam aktifitas
kerohanian kita. Namua ktia harus cepat memperhatikan “hari-hari sukacita” dari
kelahiran baru, bahwa itu bukan tujuan akhir hidup ini. Sebaliknya hal itu
merupakan langkah awal untuk perkembangan hidup yang menyerupai Kristus dan
suatu persekutuan tanpa akhir bersama Tuhan kita.

Bersama-sama Isaac Watts dan Charles Wesley, Philip Doddridge dapat


digolongkan sebagai salah seorang penggubah lagu terbaik asal Inggris. Lagu
Doddridge yang terkenal dewasa ini ialah: “Betapa Snang Hari Itu”. Lagu ini
pertama kali muncul tanpa refrain (chorus) dalam koleksi penulisan Doddridge
tahun 1775 yang dicetak setelah kematiannya. Sedemikian pula dengan 400 lirik
lagu-lagu karangan lainnya. Gabugan musik untuk lagu ini nanti terjadi setelah
100 penulisan naskahnya.
Bacaan tambahan : Mazmur 32:11; 70:4; Habakuk 3:18; Pilipi 4:4; 1
Yohanes 1:8,9

.
(No. 84)
BILA PANDANG SALIB ITU
(When I Survy the Wondrous Cross= L.S. No. 198)

Pengarang Naskah : Isaac Watts, 1674-1784


Penggubah Lagu : Lowell Mason, 1792-1872

Yohanes 19:17,18 Sambil memikul salibNya Ia pergi ke luar ke tempat yang


bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia di
salibkan mereka bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain,
sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tangah.

Tinggi lembaga tubuhnya hanya 150 cm dengan kepala besar yang kelihatan
semakin membesar oleh rambut palsunya. Hidungnya bengkok dan tubuhnya
kurus sakit-sakitan. Itulah penampilan Dr. Isaac Watts. Sebagai orang muda ia
meminang seorang gadis cantik namun di tolak dengan kata-kata sebagai berikut:
“Saya mengagumi batu permata tetapi bukan kotaknya.”

Penyakit menghantui sepanjang hidupnya dan ia menjadi cacat pada


sebagian besar dadri 30 tahun terakhir hidupnya. Namum otak brilyannya menolak
menyerah kepada tubuh kurus kering itu. Watts muda telah menunjukkan
kelasnya dan talenta khususnya ketika berumur lima tahun ia belajar Latin, di umur
sembilan tahun belajar bahasa Grika, bahasa Perancis di umur sebelas tahun dan
pada umur dua belas tahun ia belajara bahasa Ibrani. Ia menulis sejumalah besar
buku dan lebih dari 600 lagu termasuk “Jeus Shall Reighn”, “O God Our Help in
Ages Past,” dan lagu Natal “Joy to the World.”

Lagu-lagu geraja yang di nyanyikan tahun 1692 merupakan jenis lagu yang
membosankan dengan lirik-liriknya yang tidak serasi. Hal ini dikritik keras oleh
Isaac Watts dan saudarnya Enock. Namun ayah mereka menyuruk mereka
berdiam diri sebab saat itu gereja berada di bawa pengawasan Negara dan mereka
yang mengeritik raja. Tetapi hal itu tidak membuat penuda berusia delapan belas
tahun ini mundur. Ia dan saudaranya menyatakan ketidak puasan mereka akan
lagu-lagu monoton tanpa semangat. Tetapi ayah mereka tetap membantah dan
mengatakan: “Kalau kamu tidak senang kepada lagu-lagu yang dinyanyikan,
segera tunjukan lagumu atau karanglah sebuah lagu baru.”

Isaac Watts segera menyodorkan lagu yang telah ia karang. Setelah


ayahnya membaca lima bait lagu itu ia mohon di maafkan dan meminta salinannya.
Hari Ahad berikut lagu itu di nyanyikan pada saat diadakan Perjamuan Kudus.
Dengan sukacita jemaat bahkan menerima lagunya. Pada tahun 1707 lagu ini
diterbitkan dalam koleksi Watts berjudul Hymns and Spiritual Songs. Musik
aslinya berjudul “Crucifixion to the World by the Cross of Christ”. Theologian
terkenal Matthew Arnold menyebutkannya sebagai lagu terbesar dalam bahasa
Inggris. Jemaat mendesak Isaac muda mengarang lagi lagu baru untuk
dinyanyikan Ahad berikutnya. Ia mematuhi permohonan ini dan selama dua ratus
duapuluh minggu berturut-turut mengarang lagu-lagu baru.

Di tahun 1712, setelah sembuh dari suatu penyakit berat, ia di undang oleh
Walikota London, Sir Thomas dan isterinya Lady Abney untuk tinggal bersama
mereka. Walikota memberikan kepadanya posisi sebagai Pendeta khusus keluarga
walikota, suatu jabatan yang ia pegang sepanjang tigapuluh enam tahun, selama
tinggal bersama keluarga Thomas, ia menulis berjilid-
Jilid buku lagu pujian dan sendirian merubah kebiasaan menuai orang Kristen yang
berbahasa Inggris. Lagu-lagu karangannya penuh semangat dan hidup-hidup.
Watts sendiri disebut sebagai “bapa lagu pujian Inggris”. Ia meninggal dunia tahun
1748 di umur tujuhpuluh lima tahun dan dikuburkan di pekuburan London.

Bacaan tambahan : Mati 26:28; Luk 7:47; Rm 5:6-11; Gal 6:14.

(No. 85)
SEBAGAIMANA KU ADA
(Jus as I am, Witrhout One Plea)= L. S. No. 199)

Pengarang Naskah : Charlotte Elliot, 1789-1871


Penggubah Lagu : William B. Bradbury, 1816-1868

Yohanes 6:35,37 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa
datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu,
ia tidak akan haus lagi. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang
kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Lagu “Sebagaimana Ku Ada” disebut sebagi lagu penarik jiwa terbesar,
mempengaruhi lebih banyak orang untuk menerima Yesus melebihi lagu rohani
lainnya. D.L. Moody berkata bahwa lagu ini telah memenangkan banyak jiwa
kepada Tuhan dalam evangelisasinya melebihi khotbah-khotbah yang ia
khotbahkan.

Sebagai orang muda, Billy Graham berjalan menuju mimbar untuk


menerima Yesus sementara lagu “Sebagai mana Ku Ada” dinyanyikan. Sejak di
dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani, Billy Graham menggunakan lagu ini
agar dinyanyikan disetiap benua mengundang orang menyerahkan diri kepada
Kristus.

Charlot Elliot lahir di Inggris tahun 1789. setelah menjalani hidup bebas
sebagai seorang artis populer dan penulis sajak-sajak humor. Ia jatuh sakit keras
dan terpaksa harus terpaku ditempat tidur diumur tiga puluh tahun.menjadi cacat
karena sakit membuat hatinya memberontak terhadap Tuhan. Ayahnya
mengundang seorang pendeta yang juga adalah seorang musisi, Dr. Caesar Malan
dengan harapan bahwa pendeta ini dapat menolong anak bertalenta namum
pemberontak itu. Di meja makan bersama keluarga dan Dr. Malan, Charlotte
mulai mengutuk Tuhan karena kekejamanNya sehingga ia sakit, mengritik saudara
lelakinya, pendeta Hendry Fennelliott, sedemikian pula sudara perempun dan ayah
mereka atas tindakan mereka yang tidak simpatik.

Ayahnya sangat malu akan tindakan Charlotte sehingga ia meninggalkan


meja makan bersama anak lelaki bersama putri keduanya. Dr. Malan berkata
kepadanya “Charlotte, datanglah sebagaimana kau ada, sebagai seorang berdosa,
kepada Anak domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia.” Segera ia sadar dan
meresakan kedamaian hati walaupun masih menderita secara fisik. Ia mohon maaf
kepada Dr. Malan atas sikapnya tadi dan kemudian bertanya “Jika saya menjadi
seorang Kristen sejati dan membagikan kedamian dan sukacita yang saya alami,
apa yang harus saya lakukan?”

“Enggau akan memberi dirimu kepada Tuhan sebagaimana kau datang


sekarang,” kata Dr. Malan. “Datang kepadaNya dengan sifat pemberontakanmu,
rasa suka bertengkar, kebencian dan kecintaan, kecemburuan dan kemarahan,
kesombongan dan tinggi hatimu, dan Ia akan mengangkat semua dari padamu dan
menggantikannya dengan kasih agungNya.” Charlotte mengulangi kata-kata ini:
“Sebagaimana aku datang sekarang? Aku mau datang kepada Tuhan sebagai mana
aku ada. Oh Tuhan, aku mau datang kepadaMu sebagaimana aku ada, agar di
gunakan olehMu sebagai kemuliaan dan kerajaanMu.”
Empat belas tahun kemudian, Charlotte sudah menjadi anak baik sehingga di
gelar “Sinar matahari dari Bricton.” Ketika saudara lelaki dan adiknya tidak ada di
rumah ia menulis sebuah lagu oto biagrafi rohani yang terdiri atas tujuh bait.
Saudara lelakinya berkata: “Dalam sebuah khotbah saya” saya belum pernah
melakukan sesuatu yang agung seperti yang di lakukan adik saya. Ia telah di
ijinkan untuk menyelesaikan lagu “Sebagaimana Ku Ada”. Charlotte kemudian
menulis sebanyak 150 lagu sepanjang hidupnya dan sampai saat ini terkenal
sebagai penulis lagu terbaik. Di tahun 1871 ia meniggal di Bricton pada usia 82
tahun, dalam pengharapan dan kemengan Injil yang ia nyanyikan selama itu.

Bacaan tambahan: Maz 15:1,2; Yoh 1:29; 3:16; Ef 2:13.

(No.86)
DENGAR LONCENG SURGA
(Ring the Bells of Heaven=L.S.No. 201)

Pengarang Naskah : William O. Cushing, 1823-1902


Penggubah Lagu : George F. Root, 1820-1895

Lukas 15:10 Aku berkat kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada
malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

William Orcott Cushing lahir di Hingham, Massachusetts, tahun 1823.


setelah bertahun-tahun melayani sebagai pendeta yang berhasil, ia akhirnya
kehilangan kuasa berkhotbah. Dia saat yang sulit ini ia berdoa: “Tuhan, berikan
aku sesuatu untuk dilakukan bagi-Mu.” Doanya dijawab dan seakan-akan Tuhan
memberikan kepadanya karunia menulis jenis lagu-lagu Sekolah Minggu yang
mudah di ingat. Ia erat bekerja dengan musisi-musisi terkenal seperti Ira Sankey,
Rober Lowry, George F. Root dan lainya.

Penggubah lagu, George F. Root lahir di Sheffield, Massachesetts pada 30


Agustus, 1820. Ia belajar musik dari musisi terkemuka Lowell Mason dan
akhirnya ia sendiri menjadi guru musik. Ia pindah ke New York dan untuk
beberapa saat mengajar di New York Institute for the Blind di mana Fanny Crosby
menjadi salah seorang muridnya. Di kemudian hari George Root terjun dalam
business percetakan dan berhasil mendirikan Root and Cady Publishing Company
di Chicago. Ia juga menjadi penggubah beberapa lagu indah seperti: Hiding in
Thee,” “When He Cometh,” “There’ll Be No Dark Valley,” dan “Down In
theValley With My Savior I Would Go.”

Melodi lagu “Dengar Lonceng Surga” di ubah oleh Dr. Root untuk sebuah
lagu sekular. Kemudian, ketika Cushing mendengar melodi tersebut, ia menulis :
“Musik itu sepanjang hari tetap berdengung di telingaku, alunan nadanya yang
manis membuat aku mengambil keputusan untuk menggubah lagu-lagu Sekolah
Minggu dan lagu Kristen lainnya. Bila aku mendengar bahwa seorang berdosa
telah kembali kepada Tuhan, aku dapat merasakan hari bahagia itu sambil
menikmati lonceng surga berbunyi di hatiku.

Bacaan tambahan: Nehemia 12:43; Mazmur 5:11; 132:9; Matius 2:10 Lukas
2:10;

( No. 87 )
SUDAHKAH DARAH-MU YESUS
(Alas! And Did My Savior Bleed) = L. S. 202)

Pengarang Naskah : Isaak Watts, 1674-1748


Penggubah Lagu : Hugh Wilson, abad XIX

Ibrani 9:13,14 Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan
percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka
disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang
kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai
persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari
perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah
yang hidup.

Kebaktian gabungan pertama gereja Presbyterian Amerika Serikat diadakkan


di Philadelphia’s Second Presbyterian Chruch bulan Mei 1789 dan khotbah
dipimpin Pendeta Adam Rankin. Beliau berkata: “Saya telah mengadakan
perjalanan sejauh Kentucky dengan mengendarai kuda untuk meminta jemmat
yang mulia menolak lagu-lagu karangan Isaac Watts yang membahayakan
kebaktian umum, yang sudah lebih diutamakan melampaui Mazmur-mazmur dari
Daud.” Jemaat mendengarkannya dengan sabar dan mengusulkan agar ia
“mempraktekkan kasih keKristenan terhadap mereka yang berbeda pendapat
dengannya.” Mereka menambahkan bahwa ia, Adam Rankin, sebagai pendeta
harus menjaga kedamain jemaat dalam masaalah tersebut.
Skarang lagu-lagu Watts dianggap resmi, hebat dan luhur walaupun di jaman
dan generasinya, bahkan oleh pimpinan gereja tidak diterima dengan baik. Akan
tetapi, duda luar biasa ini patut diberi penghargaan oleh generasi mendatang karena
ia telah mengarang lagu terindah bagi anak-anak. Walaupun ia sendiri tidak
mempunyai anak, ia luangkan waktu untuk menulis lirik demi lirik lagu yang
dinyanyikan orang tua untuk menidurkan anak mereka.

Kehidupan Isaac Watts tidak bahagia. Dua kali, yaitu ketika masih bayi dan
dimasa muda, ayahnya dipenjarakan karena menolak menghadiri pebaktian di
perkumpulan Estabilshed Church, karena ia lebih suka berkumpul dalam
perbaktian kelompok yanhg mematuhi prisip gereja Inggris pimpinan Pendeta
Nathaniel Robinson. Pada dua peristiwa di atas, ibunya membawa Isaac kecil ke
penjara dan keduanya berdiri di luar tembok menyanyikan lagu rohani sedangkan
ayahnya turut menyanyikan dari balik trali besi.

Beberapa tahun kemudian ia saling menyurat dengan Elizabeth Singer yang


sangat mangagumi karya tulis Isaac. Isaac Watts yakin sudah bahwa inilah
tambahan hatinya dan calon isterinya. Tetapi ketika untuk pertama kali mereka
bertemu dan Elizabeth melihat postur tubuh pendek, kepala yang membesar,
hidung bengkok, pipi menonjol dan mata dari Isaac, langsung ia berkata: “Saya
mengalami batu permata tetapi bukan kotaknya.” Tidak heran dalam
kekecewaannya, Isaac Watts menulis lirik berikut ini:

Sungguh sia-sia menusia duniawi;


Terlihat jujur tapi penuh kepalsuan tanpa kasih

Sewaktu Fanny Crosby menulis lagu pertamanya, ia berumur empat puluh


empat tahun sedangkan Watts menulis lagu terkenalnya pada umur yang sama dan
sisa hidupnya ia habiskan menulis mengenai theologia. Ia terkenal sebagai seorang
pengkhotbah ulung menandingi orator-orator lainnya. Seorang penulis
melukiskannya sebagai berikut: “Walaupun ia pendek dengan tubuh lemah, tetapi
khotbah-khotbahnya berisi dan penuh kuasa.” Ia mengkhotbahkan khotbah
pertamanya ketika berumur duapuluh empat tahun, dan menjadi pembantu dan
akhirnya sebagai pendete Gereja Independent di Mark Lane, London yang ia layani
selama sepuluh tahun. Penyakitlah yang memaksanya untuk pensiun dan selama
itu tinggal bersama Sir Thomas, Walikota London, dan isterinya Lady Abney. Di
sana ia tinggal selama sisa hidupnya dan menjadi pendeta keluarga Sir Thomas.
Buku lagu pertamamya diterbitkan tahun 1705, ketika ia berumur tigapuluh
satu tahun dan dua tahun kemudian menyusul terbitan “Hymns and Spiritual
Songs.” Dalam jilid ini muncul lagu baru berjudul “Godly Sorrow Arising from
teh Sufferings of Christ” untuk pertama kali. Bait-bait pembukaan berbunyi:

Sudahkah darah-Mu Yesus, Meleleh untuk-ku?


Sudahkah Engkau disiksa, Agar slamat aku?

Bacaan tambahan : Yesaya 53:4,5; Yoh 1:29; Yoh 19:34; I Kor 11:25.

(No. 88)
AKAN BERKUMPULKAN KITA?
(Shall We Gather at the River?= L.S. No. 203)

Penggarang Naskah : Robert Lowry, 1826-1899


Penggubah Lagu : Robert Lowry, 1826-1899

Wahyu 22:1,2 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang


jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak
Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu yaitu di seberang-menyeberang
sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap
bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkah bangsa-
bangsa.

Seringkali Robert Lowry berkata: “Aku lebih suka mengkhotbahkan Injil


dari pada menulis naskah lagu.” Namun terbukti seumur hidupnya ia lebih banyak
menulis lagu dari pada berkhotbah. Bahkan kalau bukan karena lagu-lagunya,
namanya tidak akan dikenal walupun ia mulai serius belajar musik di usia
empatpuluh tahun.

Merupakan sautu keanehan bagi seorang profesor Perguruan Tinggi dan


almamater Bucknell University mengarang lagu laris seperti yang di lakukan
Robert Lowry. Lagu dengan judul asli “The Absent Child” terkenal dengan bait
pertamanya “Di manakah Anak Pengembaraku? Tanpa diragukan lagi lagu ini
diusulkan oleh salah seorang anggotanya ketika ia mengadakan perlawatan dari
rumah ke rumah. Ketika ditanyakan bagaimana ia dapat mengarang sebuah lagu
sedemikian sepatnya? Jawabnya: “Saya memperhatikan dan mewaspadai suara
hati saya dan ketika muncul suatu ide baru apakah itu berupa kata atau musik,
saya segera mencatatnya di manapun saya berada. Seringkali saya menggunakan
bagian kosong dari sudut koran atau sepotong kertas atau bagian belakang sampul
surat. Dan banyak kali kata dan musiknya di karang dan digubah sekaligus.”

Lowry memberi kontribusi besar bagi lagu-lagu Sekolah Minggu


teristimewa ia ahli menambah refrain atau chorus bagi lagu-lagu tersebut. Ia yakin
bahwa chorus dibutuhkan bukan saja untuk menyempurnakan arti naskah sebauh
lagu tetapi juga dapat menolong anak-anak kecil turut dalam nyanyian orang
dewasa. Banyak kali ia mengajar hanya chorusnya kepada anak-anak yang belum
bisa membaca dan mendorong mereka untuk menyanyikan bersama orang dewasa
setelah tiba pada chorus.

Setelah melayani sebagai pendeta gereja-gereja Baptis di West Chester,


Pennsylvania dan Kota New York, ia pindah ke Brooklyn, New York melayani
gereja Baptis. Musim pada 1864 merupakan hari-hari penuh derita karena terik
matahari dan wabah penyakit yang mematikan ratusan orang. Anak-anak dan
orang dewasa dari hari ke hari di kuburkan dan Robert Lowry dengan setia
mengadakan perlawatan dari rumah ke rumah menghibur yang berduka dan
memberi kekuatan bagi yang sakit. Orang bertanya kepadanya: “Pendeta, kami
telah berpisah dengan keluarga di tepi sungai kematian. Apakah kita akan bertemu
kembali di tepi sungai kehidupan?” Dan ia meyakinkan mereka bahwa lingkaran
keluarga yang sekarang terputus itu akan dipersatukan kembali di tepi “sungai air
kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah...”
(Why 22:1). Ia mengulangai janji ini kepada ratusan keluarga ketika rumah tangga
demi rumah tangga mereka di liputi kedukaan karena kematian sahabat atau
keluarga.

Pada suatu petang, ketika pendeta yang lelah ini tiba di rumah setelah
mengalami cuaca panas yang luar biasa dan menyaksikan sejumlah besar kematian,
ia pun menghampiri organ kecilnya dan menyaksikan sejumlah besar kematian, ia
pun menghampiri organ kecilnya dan melepaskan beban hatinya melalui alunan
dan tiba-tiba mucul inspirasi lagu ini yang langsung ini nyanyikan:
Akan berkumpulkah kita, Di tepi sungai indah?
Airnya yang mengalirlah, Dari takhtanya Allah.

Menjawab pertanyaanya sendiri dengan suatu keyakinan iman Kristiani ia


mengarang chorsnya:
Oh ya, kita klak beramai, Berkumpul di tepi sungai permai
Dengan orang saleh semua, Di tepi sungai Allah.
Tahun berikut, 1865, lagunya di terbitkan dalam “Happy Voices” dengan
judul, “Matual Recognition in the Hereafter.” Dari situ tersebar ke berbagai buku
lagu dari banyak denominasi. Ketika William Bradbury meninggal, Dr. Lowry
dipilih sebagai penggantinya oleh Biglow and Main Company, dan dalam
kapasitasnya ini ia mengedit banyak lagu-lagu Sekolah Minggu mereka. Salah
satu jilid berjudul “Pure Gold” terjual sebanyak sejuta buku. Lagu “Akan
Berkumpulkah Kita?” telah memberi kekuatan bagi kita yang hancur dan berduka
dan jaminan reuni para kekasih yang telah lama dicintai namun hanya untuk
sementara saja berpisah.
Sungguh merupakan suatu janji mulia dari Firman Tuhan terpantul dalam
bait demi bait lagu yang menceritakan pada kita bahwa ketika hari-hari perjalanan
kita berakhir, akan ada pertemuan besar di tepi sungai hidup. Mereka yang
meninggal dalam iman dan kita yang menghidupkan kehidupan beriman akan
berkumpul di laut kaca, di tepi sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan
kristal, dan mengalir ke luat dari takhta Allah. Sudah sediakah saya? Sudah
sediakah anda?

Bacaan tambahan : Maz 23:2; Yoh 4:13-15; Yoh 6:54,55; Wah 21:6.

(No. 89)
BOLEH JADI PADA WAKTU PAGI
(It May be at Morn= Christ Return= L.S. No. 205)

Pengarang Naskah: H.L. Turner, abad XIX


Penggubah Lagu : James McGranahan, 1840-1907

Yohanes 14:1-3 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah,


percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika
tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ
untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi kesitu dan
telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali membawa kamu
ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Janji kembalinya Kritus telah menjadi sumber penghiburan bagi umat-umat


Tuhan sepanjang jaman. Walaupun begitu hal ini juga telah meyebabkan
perbedaan pandapat bahkan perpisahan dalam gereja. Tidak semua pelajar alkitab
dan kelompok orang Kristen sama-sama menyetujui apa yang akan terjadi di masa
depan. Bahkan pengenalan yang tidak sempurna akan eskhatologi (doktrin
mengenai peristiwa-peristiwa akhir) akan menghasilkan terminologi dan
interpretasi pemicu pertikaian seperti pelajaran tentang dokrin milenium dan
kesukaran besar. Masing-masing istilah di atas memiliki dasar pengetahuan
ilmiah Alkitabiah yang luar biasa dan memiliki banyak pengikut Kristen sejati.

Kristus akan datang secara pribadi-Kisah 1:11; kedatanganNya dapat dilihat


–Wahyu 1:7; Ia akan datang dengan kuasa dan kemuliaan – Markus 13:26; dan
kedatanganNYa akan menyempurnakan keselamatan dan penghakimanNya –
Yohanes 5:21-29; Ibr 9: 27,28. Pengharapan akan kedatangan Kristus memberi
kita tanggung jawab secara pribadi maupun jemaat untuk menghadiri suatu
kehidupan penuh kekudusan (I Yoh 3:3) dan melibatkan diri membawa pekabaran
ini kepada semua orang di seluruh dunia (Matius 14:14; Markus 13:10).

Lagu “Boleh Jadi Pada Waktu Pagi” di terbitkan pertama kali dalam buku
Ira D. Sankey berjudul “Gospel Hymns No. 3” tahun 1878. Sejak itu tersebar luas
bersama impresi dan tantangan bagi umat-umat Tuhan mengenai kebenaran
kepastian kedatangan Tuhan mereka, Yesus Kristus. Marilah kita hidup penuh
sukacita bahwa Kristus akan memenuhi janjiNya. Ia akan segera kembali-bahkan
bisa saja hari ini.

Bacaan tambahan : Mat 24:30,31; 25:13; Mark 13:32-37; 14:62; Luk 12:35-
40; I Tes 2:19.

(No.90)
KESUKAAN BAGI DUNIA
(Joy to the World=L.S. No. 214)

Pengarang Naskah : Isaac Watts, 1674-1748


Adaptasi : G. F. Handel, 1685-1759
Penggubah Lagu : Lowell Mason, 1792-1872

Lukas 2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab
sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh
bangsa:
Isaac Watts menulis sajak pertamanya ketika berumur tujuh tahun dan sajak
terakhir pad umur tujuhpuluh tahun. Di pertengahan hidupnya ia
mempersembahkan lirik-lirik lagu termulia, luhur dan agung bagi dunia
keKristenan. Ibunya menantang Isaac bersaudara untuk menulis sajak dan yang
terbaik akan diberi hadiah uang logam. Sebelas tahun kemudian, Watts seorang
penduduk asli Southampton, Inggris menerbitkan lagu pertamanya sebagai protes
terhadap sajak-sajak murahan yang dinyanyikan dalam kebaktian umum sebagai
ekspresi atas perkembangan pengakuan agama.

Ayahnya memarahinya karena berani menentang liturgi gereja. Ia katakan :


“Lagu-lagu yang dinyanyikan itu adalah lagu-lagu terbaik untuk kakekmu, ayahmu
dan juga untuk kamu. Tetapi kalau kamu tidak menyenangi lagu-lagu tersebut,
mengapa tidak menulis yang lebih baik?” Isaac langsung menjawab bahwa ia telah
mempersiapkan lagunya asalkan ayah dapat mendengarkan apa yang akan
dibacakan. Terkagum atas apa yang ditulis Isaac, ayahnya meminta salinannya dan
pada hari Ahad berikut lagu tersebut dinyanyikan di gereja. Jemaat menerima
dengan sukacita dan memintanya untuk menulis lagi untuk hari Ahad berikut.
Kemudian dimnta lagi untuk Ahad berikutnya dan seterusnya sehingga Isaac
menulis dan menyediakan lagu untuk dua ratus duapuluh Ahad berturut-turut.
Sendirian ia telah mengadakan revolusi kebiasaan nyanyi jemaat di gereja-gereja
Inggris.

Di tahun 1705 ia menerbitkan jilid pertama lagu asli dan lirik rohani diikuti
dengan “Hymns and Spiritual Songs.” Dua tahun kemudian, 1707 sebuah jilid
terkenal diterbitkan dengan lagu-lagu indah “Bila Pandang Salib Itu” dan
“Sudahkah Darah-Mu Yesus” (lihat No. 84 dan 87 buku ini). Salah seorang
penggemar dan pengagum setia lagu-lagunya ialah Nn. Elizabeth Singer yang
membuat Isaac betul-betul yakin bahwa inilah kekasih hatinya. Mereka belum
sekalipun bertemu. Setelah diatur waktu pertemuan dan Elizabeth melihat Isaac
yang pendek, kepala besar, hidung bengkok, pipi menonjold an mata sayu, ia pun
mundur teratur. Elizbeth melihat Isaac yang pendek, kapala besar, hidung
bengkok, pipi menonjol dan mata sayu, ia pun mundur teratur. Elizabeth berkata
kepada salah seorang sahabatnya berikut ini: “Saya sangat mengagumi batu
permata tetapi bukan kotaknya.”

Menurutnya kondisinya phisik Isaac memaksanya untuk menarik diri dari


pelayanan mimbar yang disetujui jemaat dengan sikap enggan. Ia di undang
tinggal bersama Sir Thomas, Walikota London dan isterinya Lady Abney. Sir
Thomas mengangkat Watts menjadi pendeta pribadi bagi rumahtangganya yang ia
layani selama tigapuluh enam tahun. Di rumah Sir Thomas ia menyelesaikan
proyek yang ia rindu terbitkan ialah jilid lagu khusus dari Mazmur Daud. Di sama
ia temukan dalam Mazmur 98, semua sukacita atas kedatangan Mesias.
Mendasarkan lagunya atas ayat 4 (Bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni
Tuhan), ayat 8 dan 9 (Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung
bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk
menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-
bangsa dengan kebenaran, Isaac Watts menulis lagu Natal terbaiknya sebagai
berikut:
Kesukaan bagi dunia! Tuhan segera datang
Bri hatimu, kepadaNya, Nyanyi alam skalian
Nyanyi alam skalian, Nyanyi, nyanyi alam skalian.

Kemudian Pendeta Charles Wesley, yang mendapat ide Dr. Watts,


mempelajari buku Imamat mengenai Tuhan Perayaan Yahudi dan menulis
“Tiuplah nafiri”. Dalam jilid yang sama Pendeta penyair ini menambahkan syair
kutipan Mazmur sembilanpuluh “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-
temurun.” Dr. Lowell Mason menggubah musiknaya dari “The Messiah” oleh
Goerge Frederick Handel. “Kesukaan Bagi Dunia” adalah lagu penuh sukacita
yang dinyanyikan pada setiap hari Natal.

Bacaan tambahan: Kej 3:17,18; Maz 98; Roma 5:20,21.

(No.91)
DARAT MAS AMAT JAUH
(In the Sweet by and by=L.S. No. 228)

Pengarang Naskah : S.F. Bennett, 1836-1898


Penggubah Lagu : J. F. Webster, abad XIX

I Kor 2:9 Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata,
dan tidak pernah di dengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam
hati manusia: semua yang di sediakan Allah untuk mereka yang mengasihi
Dia.”
Lagu gospel yang di karang dan digubah di dalam sebuah toko obat atau
apotik adalah “Darat Mas Amat Jauh” oleh apotheker Samuel Fillmore Bennett,
yang mengetahui dengan tepat racikan resep bagi suatu penyakit pada waktu yang
tepat. Bannet seorang penduduk asli Erie Couty, New York, pindah bersama
keluarganya ke Elkhorn, Wisconsin di pertengahan abad ke sembilanbelas dan di
sana ia menjadi editor koran “The Independent”. Ketika pecah perang sipil, ia
bergabung sebagai sukarelawan dalam pasukan Fortieth Wisconsin Volunteers dan
tetap aktif dalam tugas sampai perang usai tahun 1865. setibanya di Elkhorn, ia
membuka toko obat.
Di antara para sahabatnya adalah Joseph P. Webster, seorang musisi lokal
dengan kemampuan luarbiasa yang baru saja menyelesaikan tur musik di bagian
utara bersama anggota quartet yang ia organisasikan. Selama dua tahun kedua
orang ini kelihatan cocok bekerjasama mengarang dan menggubah beberapa lagu;
Bannet mengarang naskah dan Webster menggubah lagunya. Pada suatu pagi
dimusim gugur 1867, seorang wanita masuk di apoteknya dan berkata: “Tuan
Bannet, beberapa menit lalu saya bertemu Joy Webster sahabat anda. Ia kelihatan
seakan-akan baru kehilangan sahabat baiknya. Apa sebenarnya yang terjadi?”

Bannet menjelaskan: “Yang anda perlu ketahui adalah bagaimana naik


turunnya watak para musisi. Tetapi jika anda mau tau bagaimana
menyembuhkannya, saya akan memberikan resep yang belum sekalipun gagal.”

“Apakah resep itu menggunakan bahasa latin?”, tanya wanita itu.


“Oh tidak.” Itu ditulis dalam bahasa Inggris. Anda perlu tau bahwa sudah
dua tahun ini saya dan Joy menyusun sebuah buku lagu baru. Ia menggubah lagu
untuk naskah saya. Bila ia datang kesini dan kelihatan susah, murung dan depresi,
saya segera keluar dan tinggalkan dia sendirian. Kalau ia belum dapat
mengatasinya, saya segera menulis naskah baru dan ia mulai menggubah lagu
untuk naskah tersebut. Itu resep khusus saya baginya. Bila ia mulai menggubah
lagu baru untuk naskah saya, ia segera akan melupakan gundanya.” Wanita ini
tersenyum, menggeleng kepala, merain tas nya dan berjalan keluar.

Tidak berapa lama Webster masuk dan mencurahkan isi hatinya.


Kekecewaan, frustrasi dan sakit hati. Akhirnya ia sendiri berkata: “Ya, semuanya
akan teratasi kemudian.” Ia kemudian duduk ditempat pemanasan. Sang Bannett
segera menulis naskah lagu dan bersamaan dengan itu dua orang pembeli
memasuki tokonya. Karena Bannett tidak mau konsentrasinya terganggu ia
meminta kedua orang itu menunggu sebentar bersama Webster di tempat
pemanasan. Ketika naskah lagunya selesai, ia berikan itu kepada Webster yfang
segera mulai memainkan sebuah nada musik pada biolanya. Tidak lama ia mulai
menyanyikan itu dan berkata: “Hai sahabat-sahabat ini sebuah lagu yang indah dan
dapat dinyanyikan oleh Quartet.” Tidak berapa lama Banett, Webster dan dua
orang pembeli ini sudah mulai menyanyikan lagu tersebut.

Sementara mereka berlatih menyanyi lagu “Darat Mas Amat Jauh” untuk
pertama kali, masuklah R. R. Crosby, paman dari istri Bannett. Ia mendengarkan
dengan tekun dan berkata lagu ini begitu indah sehingga ia merasa tertarik untuk
masuk dan mendengarkan dengan baik. Beberapa hari kemudian lagu tersebut
diperkenalkan kepada masyarakat. Hanya dalam waktu 2 minggu, lfagu yang
dikarang dan digubah hanya dalam waktu 30 menit itu sudah dinyanyikan remaja
kota Elkhorn dan kemudian diterbitkan pada tahun 1868 dalam buku lagu Bannett
dan Webster dengan judul “The Signet Ring.” Itulah lagu terpopuler dan terbesar
yang mereka pernah karang disepotong kertas kecil, di dua orang pembeli obat,
namun telah menjadi besar dan terkenal dan berpengaruh luas dalam hati umat
Kristen diseluruh dunia.

Bacaan tambahan : Ibrani 12:22; Wahyu 21:10,11; 22:3-5.

(No.92)
HAI BETLEHEM YANG SENYAP
(O Little Town of Betlehem=L.S.No.233)

Pengarang Naskah : Philips Brooks, 1835-1893


Penggubah Lagu : Lewis H. Redner, 1831-1908

Lukas 2:4 Demikian juag Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke
kota Daud yang bernama Bestlehem, - karena ia berasal dari keluarga dan
keturunan Daud.

Philips Brooks, walaupun bukan seorang penulis sajak profesiaonal, dapat


menulis naskah lagu atau sajak dengan mudah. Jarang sekali seortang pendeta
Prostetan menarik imaginasi para cendikiawan dan orang bias di jamannya seperti
yang di lakukan pria tinggi besar ini yang juga menjadi “putera mahkota” membar
gereja. Di lahirkan di Boston dan di besarkan di Harvard, Phikips Brooks
mendapat pendidikan dan latihan yang baik di rumah, di mana pikiran dan hatinya
berkembang serasi dan di olah bagi kemuliaan Tuhan. Tetapi kehidupannya tidak
betebaran keindahan banga mawar bagi pemuda gagah dan bertalenta ini. Ketika
menjadi profesor bagi Alma Maternya di Boston Latin Scholl, ia mengalami
kegagalan sengga mengeluarkan ungkapan berikut: “Saya telah gagal sebagai
seorang guru sekolah.” Nanti ketika ia mendedikasikan dirinya untuk pelayanan
Kristen, barulah ia berhasil.

Mendapatkan pendidikan agama di Episcopal Theological Seminary d


Alexandria, Virginia, ia mempersiapkan diri dan kemudian di urapi tahun 1859 di
usia 24 tahun dan melayani salah satu gereja di Philadelphia selama sepuluh tahun.
Di sana ia mengembangkan dan menguasai gaya bekhotbah yang membuatnya
menjadi pengkhotbah terkenal di jamannya. Ia merasa bahwa ada banyak yang
harus ia ungkapkan dalam waktu khotbah yang begitu singkat sehingga ia dapat
menyelesaikan khotbah secepatnya dalam waktu tigapuluh lima menit yang
olehnya pendeta lain di habiskan dalam satu jam. Anggotan jemaag senang
mendengarkannya dan secara pribadi berkonsultasi dengannya.

Pada tahun 1865, ketika Brooks melayani Gereja Holy Trinity di kota
Brotherly Love, ia merencana mengunjungi Tanah Suci. Anggotanya tidak
membiarkan dia pergi belama-lama bahkan mendoakan perjalanan yang
menyenangkan dan kembalinya dengan selamat. Pengalaman tak terlupakan
baginya ialah berada di Jerusalem pada minggu Natal. 24 Desember ia
mengadakan perjalanan dari Yerusalem ke Bethlehem dengan kuda. Ia mencatat
dalam buku harinnya: “Sebelum malam kami berkuda keluar kota Betlehem
menuju padang rumput di mana para gembala melihat bintang itu. Di tempat yang
telah dipagari ini terdapat ladang kecil dan gua tempat para gembala.”

Malamnya ia mengikuti kebaktian Natal di basilika kuno yang dibangun


oleh Kaisar Konstantin. Acara kebaktian berlangsung selama lima jam dan sangat
mempengaruhi Brooks sehingga ia kembali ke Amerika dengan nada “Palestina
berdengung di telinga.” Ketika mendengarkan persiapan perayaan Natal tahun
1868, ia teringat pengalamanya di Betlehem. Akhirnya ia tergerak untuk
mengarang naskah lagu Natal bagi anak-anak. Lagu baru tersebut adalah “Hai
Betlehem Yang Senyap.” Hari berikutnya ketika Lewis Redner, pemain organ
merangkap Kepala Sekolah Minggu, memasuki rung belajar, Brooks menyodorkan
kertas bertuliskan naskah lagu barunya yang terdiri atas lima bait. Lewis berjanji
akan menggubah lagunya untuk dinyanyikan pada Natal yang semakin dekat.

Rednenr sebenarnya mempunyai cukup banyak waktu untuk menggubah


lagu tersebut dan beberapa kali atas desakan Brooks, Ia selalu berkata: “Tidak ada
inspirasi.” Pada malam menjelang Natal, ketika terbaring di tempat tidur, baru
inspirasi itu muncul. Tedner capat bangun dan menulis lagunya kemudian ia tidur
dan besok pagi menyempurnakannya. Malam tanggal 27 Desembar 1868,
kelompok nyanyi yang terdiri atas enam guru Sekolah Minggu dan tigapuluh enam
anak-anak menyanyikan lagu merdu ini untuk pertama kalinya. Beberapa tahun
kemudian lagu ini di masukkan dalam buku “The Church Porch” sampai pada
tahun 1892, setahun sebelum kematian Brooks, lagunya resmi di masukkan dalam
Buku Nyanyian Gereja Episcopal.

Setelah diurapi menjadi uskukp Massachesetts, Brooks hanya bertahan hidup


selama lima bulan dan meninggal dunia pada 23 Januari 1893. Ia sangat di kenal
dan dicintai baik oleh orang dewasa terlebih anak-anak. Pada upacara
penguburannya seorang anak wanita kecil berkata kepada ibunya: “Oh ibu, betapa
gembiranya nanti sepanjang hidup, mereka masih menyaksikan lagu-lagu Natalnya
dicintai oleh semua orang terlebih lagi menjadi lagu kesayangan anak-anak.

Bacaan tambahan : Mikah 5:2; Matius 2:1-12; Lukas 2:1-7


(No. 93)
DENGAR! MALAIKAT NYANYI
(Hark! The Herald Angels Sing= L.S. No. 234)

Pengarang Naskah : Charles Wesley, 1707-1788


Penggubah Lagu : Felix Mendelssohn, 1809-1847

Mikha 5:1 Tetapi engkua, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara
kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akam
memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu
kala.

Lagu-lagu Natal yang kita kenal sekarang pernah di tolah oleh parlemen
kaum Puritan Inggris tahun 1627 karena dianggap bagian dari “Penyembahan
dalampesta duniawi,” sehingga perayaan Natal juga diasosiasikan dengan
penyembahan berhala. Sebagai akibatnya, maka sepanjang abad ke 17 dan 18
jarang ditemukan karangan dan gubahan lagu Natal. Lagu Charles Wesley
“Dengar! Malaikat Nyanyi” adalah salah satu dari sebagian kecil lagu yang ditulis
ketika itu. Naskah Wesley yang lalu sitambah irama nada merdu penggubah lagu,
Felix Mendelssohn, telah menempatkan nilai besar untuk lagu ini.

Pendeta Charles Wesley menulis lagu terkenal pertamanya ketika ia


merasakan kehangatan rohani pada 20 Mei, 1738 dan naskah terakhir di tulis pada
hari ia akan meninggal dunia 29 Maret 1788. Ia menghasilkan 6.500 naskah lagu
selama limapuluh tahun di antara dua peristiwa di atas dan menjadi terkenal
sebagai penulis lagu bagi dunia Kristen.

Charles Wesley dan saudaranya John Wesley pernah mengunjungi Amerika


(saat itu disebut Dunia Baru) bersama General Oglethrope untuk mentobatkan
orang Indian. Perkenalan dan persahabatannya dengan pionir penulis lagu rohani.
Pendeta Isaac Watts-lah yang menginspirasi Charles membuahkan ribuan lagu
sebagai kelanjutan dari apa yang telah dirintis Watts. Sekali saja api semangat
dinyalakan itu tak dapat dipadamkan bahkan menjalar luas dalam sejarah Gereja
Kristen.

Sebagian besar dari 6.500 naskah lagunya dengan jelas meggunakan doktrin
Alkitab dalam bahasa puisi. Ketika bermeditasi akan kelahiran Tuhan Yesus,
Charles yang masih menjadi mahasiswa Oxord University, bergabung dengan
teman-teman sekelasnya membentuk sebuah kelompok yang di namai “Holy Club”
berpusat pada kegiatan-kegiatan methodologi yang kemudian menghasilkan kata
“Methodist”. Di saat itulah ia menulis empat baris naskah lagu dengan judul asli
“Hark! How All the Welkin Rings” dan diterbitkan pada tahun yang sama dalam
bukunya “Hymns and Scacred Poems”. George Whitefield, seorang pekerja di
KKR Wesley, salah seorang penghotbah ulung memperbaiki beberapa kata dari
lagu tersebut dan sempurna sudah naskahnya yang dimulai dengan:
Hark! The herald angels sing, “Glory to teh new-born King.”

Whitefield menerbitkannya dalam buku “Hymns” tahun 1753. Penggubah


lagu, Felix Mendelssohn (18909-1847), seorang keturunan Yahudi yang bertobat
menjadi Kristen dengan nama Bartholdy, adalah juga seorang peggubah lagu
ternama sebagaimana Wesley pengarang naskah terkenal di jaman mereka.
Keteika Mendelssohn menggubah musik yang cocok untuk merayakan peringatan
penemuan mesin cetak Gutenberg tahun 1840, ia memberi nama lagu ini
“Festgesang#7”. Gutenberg berkata bahwa musik indah ini akan disukai banyak
penyanyi tetapi tidak mungkin digunakan bersama kata-kata Alkitabiah. Seorang
Doktor Musik Inggris William H. Cummings (1831-1915) pada tahun 1855
menemukan bahwa stanza kedua musik Mendelssohn dapat dicocokkan dengan
naskah lagu karangan Wesley. Dan lengkap sudah naskah dan lagu ditambah
musik indah.

Bait pertama lagu ini menjelaskan tentang nyanyian malaikat di pandang


Betlehem dengan undangan untuk bergabung denangan mereka dalam memuji
Kristus. Bait-bait berikutnya mengemukakan kebenaran kelahiran Kristus oleh
seorang perawan, keIlahian Kristus, kebakaan jiwa, kelahiran baru dan doa
memohon kuasa transformasi dari Kristus dalam kehidupan kita. Sudah lebih dari
dua ratus tahun, iman para umat percaya di seluruh dunia telah dikuatkan oleh
pengarang naskah, Caharles Wesley, penggubah musik, Felix Mendelssohn dan
sarjana musik, William H. Cummings. Namun melebihi semuanya bahwa umat
manusia telah diberkati oleh kelahiran, kehidupan, dan kebangkitan Tuhan kita
Yesus Kristus. Adakah dan sudahkah anda juga di berkati olehNya?

Bacaan tambahan : matius 21:12; Lukas 2:1-7,14.

(No. 94)
MALAM KUDUS
(Silent Night, Holi Night =L. S. No. 235)

Pengarang Naskah : Joseph Mohr. 1792-1848


Terjemahan ke Bahasa Inggris : John F. Young, 1820-1885
Penggubah Lagu : Franz Gruber, 1787-1863

Lukas 2:11 Hari ini telah lahir bagimy Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di
kota Daud.

Usaha bersama dari lima orang pria dan empat anak-anak telah
menyumbang bagi dunia Kristiani suatu pujian indah, “Silent Night”. Joseph
Mohr, pendeta pembantu gereja St. Nicholas desa Oberndorf, di pegunungan
Alpen, Austria tidak berapa jauh dari kota Salzburg adalah orang pertama dalam
kelompok tersebut. Tanpa terbayang sedikitpun bahwa ia akan menjadi seorang
pengarang lagu terkenal di kemudian hari, pada suatu hari, pada suatu hari ia
mendengarkan laporan Franz Gruber, kepala sekaolah dan pemain organ bahwa
pada malam Natal nanti 24 Desember, 1818, organ yang rusah tidak dapat
digunakan. Pendeta yang baik hati ini segera perintahkan Gruber, ketika itu
berumur tigapuluh delapan tahun, untuk perbaiki alat musik tersebut sebelum
mengumumkan kerusakannya kepada jemaat. Selama pelayanannya, Mohr belum
sekalipun memimpin acara Natal tanpa iringan organ.

Dengan perasaan susah dan kecewa, Gruber, seorang musisi tanpa keahlian
untuk perbaiki organ yang rusak tak dapat menjamin untuk mengiringi jemaat
dengan alat musik pada kebaktian Natal. Terdesak oleh perayaan Natal yang
semakin mendekat, ia hanya termenung memikirkan jalan keluar bagaimana
mengatasi problemanya.

Pada saat yang sama. Pendeta Mohr dalam perlawatan rutin mengunjungi
anggota jemaatnya, sehingga di salah satu keluarga miskin yang baru di karuniai
seorang bayi mungil. Dalam perjalanan pulang ke rumah malam itu, Mohr
memikirkan tentang kelahiran Yesus beberapa abad lalu di kandang binatang di
Betlehem. Ia tertegun sejenak dan membayangkan kelahiran Yesus dengan
kelahiran anak seorang anggota jemaat yang miskin. Tiba-tiba dalam keheranan ia
dapati dirinya sedang menulis baris demi baris naskah lagu yang menggambarkan
kelahiran Yesus. Tanpa banyak beban ia menulis beberapa bait lagu dan memberi
judul dalam bahasa Jerman. “Stille Nacht”. Bait-bait ini kemudian di terjemahkan
dalam bahasa Inggris dan di beri judul “Silent Night”.

Ketika Franz Gruber menyerbu masuk ruang belajar Mohr beberapa saat
kemudian sambil mengangkat tangannya dalam kekecewaan, Pendeta Mohr tidak
mendengar lagi keluhannya. Ia segera memberikan coretan kertas yang berisi lagu
“Stille Nacht” dan meminta giber mengarang musik bagi naskah tersebut. Ia
berkata: “Franz, segera gubah sebuah lagu untuk naskah ini dan pada malam Natal
nanti, dengan atau tanpa organ, lagu ini harus dinyanyikan.” Ia segera mengambil
gitar dan memberikannya kepada Gruber.

Gruber berkata bahwa ia seorang pemain organ bukan pemetik gitar dan
seorang guru, bukan penggubah lagu. Tetapi Mohr tanpa memperhatikan protes
Gruber, tetap pada sarannya bahwa ia boleh menggunakan gitar dan menggubah
musik bagi sajak “Stille Nacht”. Kata Mohr; “Walaupun sudah sekian lama
anggota jemaat belum pernah mendengar pendeta dan pemain organ mereka
berduet, maka inilah saatnya kita berdua akan menyanyikan sebuah lagu baru.”
Untuk cocok dengan bait karangan Mohr. Tidak berapa lama keduanya sudah
menyanyikan lagu baru tersebut.

Pada malam Natal lagu ini dinyanyikan diumum di iringi permainan gitar,
dan mendapat sambutan meriah dari jemaat. Musim semi tahun berikut, 1819,
orang ketiga masuk ke pentas popularita lagu ini. Namanya Karl Mauracher,
seorang pembuat organ dan tukang reparasi berasal dari lembah Zillertal,
menerima surat Gruber untuk memperbaiki organ gereja St. Nicholas. Setelah
beberapa hari bekerja untuk mencoba organ yang baru diperbaiki. Pada saat itu
juga muncul pendeta Mohr dan mengajak Gruber untuk memainkan lagu “Stille
Nacht” yang telah mereka nyanyikan beberapa minggu lalu. Walaupun Gruber
merasa enggan tetapi atas desakan kedua pria ini akhirnya ia mainkan lagunya.
Mauracher segera jatuh cinta kepada nada musik dan meminta manuskripnya dari
Gruber. “Saya akan bawa lagu ini ke Zillertal”, ia jelaskan, “dan akan
membagikan lagu baru ini kepada para penyanyi dan musisi kita yang haus akan
lagu-lagu baru.”

Mauracher kembali ke desanya dan bertanya-tanya di dalam hati kepada


siapa akan ia berikan lagu ini. Sepuluh tahun lamanya ia menunggu jawaban dari
pertanyaan yang senantiasa menghantuinya sejak ia mengunjungi desa Oberndorf
di awal 1819. Pada suatu hari ia mendengar empat anak keluarga Strasser
menyanyi di gereja. Segera ia mengaransir empat suara untuk lagu “Stille Nacht”
dan tidak berapa lama Caroline, Joseph, Andreas dan Amalia Strasser telah
mengumandangkan lagu ini yang telah digubah khusus bagi mereka. Anggota
jemaat di desa mereka segera mencitai lagu itu dan berkata: “Anak-anak Strasser
ini menyanyi bagaikan malaikat. Dan memang inilah sebuah lagu yang datang dari
Surga.

Tahun berikutnya, keempat anak ini mengikuti orang tua mereka menghadiri
pekan raya di kota Leipzig. Tuan dan nyonya Strasser menjual sarung tangan bulu
di Stan mereka. Untuk menarik minat pembeli, keempat anak mereka menyanyikan
lagu merdu ini. Dari para pengunjung yang menikmati keindahan lagu tersebut
adalah orang ke-empat dalam cerita kita. Ia adalah Tuan Pohlenz, direktur General
Musik Kerajaan Saxony. Ia begitu terkesan dengan suara merdu, juga lagu indah
ini sehingga ia mengundang mereka untuk menyanyi di hadapan Raja dan Ratu
pada Natal nanti, 1832, di Royal Saxon Court Chapel di Pleissebburg. Empat anak
Strasse dan lagu mereka telah menciptakan suatu sensasi besar, oleh cara mereka
menyanyi di hadapan Raja Fredrik Willliam IV dari Prusia. Terinspirasi atas lagu
tersebut, Raja menyatakan kerinduaannya agar lagu “Stille Nacht” harus diberi
tempat pertama dalam setiap konser Natal mendatang dalam seluruh wilayah
kerajaannya.

Bagian yang dimainkan oleh pria kelima dalam pentas popularitas lalu ini
jatuh pada seorang Kepala Gereja Epescopal dari Revere, Massachusetts, yaitu
Pendeta Byrom Edward Underwood. Ia menerbitkan sebuah artikel pada bulan
Oltober 1857 dalam buku “The Hymm”, sebuah penerbitan resmi dari
perkumpulan Hymne Amerika di dalamnya ia menulis cerita yang mengagumkan
mengenai Pendeta John Freeman Young (1820-1885), uskup gereja Episcopal di
Florida yang telah menerjemahkan naskah Pendeta Mohr dari bahasa Jerman ke
bahasa Inggris yang sempurna tahun 1863. Dialah yang telah menunjukkan
ketrampilan terjemahan ke dalam bahasa Inggris yang sempurna untuk naskah-
naskah para pengarang lagu.
Lagu “Malam Kudus” telah mendapatkan tempat yang layak dan tepat di
antara lagu-lagu Natal dunia Kristiani. Terima kasih atas kombinasi kerjasama
lima pria dan empat anak atas jasa mereka yang menyebabkan lagu ini menjadi
lagu terpopuler dan tersebar luas yang telah dinyanyikan dalam berbagai bahasa di
dunia. Ijinkan getaran nadanya menolong kita untuk menyanyikan haleluyah
bersama para gembala dan malaikat dalam kekaguman atas kasih karunia
penebusan Tuhan kita Yesus Kristus.

Bacaan tambahan : Matius 2:9,10; Lukas 1:77-79; lukas 2:7-20.

(No. 95)
OH HARI PERHENTIAN
(O Day of Rest and Gladness= L.S. No. 238)

Pengarang Naskah : Christopher Wordsworth, 1807-1885


Pengubah Lagu : Lowell Mason, 1792-1872

Ibrani 4:9-11. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi
umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia
sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari
pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam
perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh mengikuti contoh
ketidaktaatan itu juga.

Christopher Wordsworth adalah kemanakan penyair terkenal Inggris,


Wiliam Wordsworth. Lagu ini mengingatkan kita bahwa Allah sendiri beristirahat
setelah menyelesaikan penciptaan alam semesta, sehingga kita sebagai ciptaan-Nya
yang dijadikan “menurut gambar dan rupa-Nya” juga membutuhkan satu hari
istirahat bagi penyegaran rohani. Kita memerlukan dorongan membesarkan hati
dan persahabatan dari sesama umat percaya agar hidup kita bercahaya untuk
Tuhan. Cara kita memelihara hari Tuhan merefleksi ketaatan kita bagiNya.
Walaupun terdapat berbagi tanggapan mengenai hari Tuhan. Cara kita memelihara
hari Tuhan merefleksi ketaatan kita bagi-Nya. Walaupun terdapat berbagai
tanggapan mengenai hari Tuhan, Alkitab dengan jelas mengungkapkan hari
perhentian sebagai hari: “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan
pekerjaan yang di buat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari semua
pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu
dan menguduskannya, karena pada hari itulah Dia berhenti dari segala
pekerjaan penciptaan yang telah di buat-Nya itu.” Kejadian 2:2,3. Hari itu
harus menjadi suatu hati istimewa untuk perbaktian, peribadatan, penyegaran dan
penghormatan kepada Tuhan.

Christopher Wodsworth adalah seorang uskup geraja Anglikan, seorang


sarjana terkenal dan penulis ternama. Ia telah mengarang 127 naskah lagu yang
mengajarkan kebenaran Firman Tuhan dan mendorong beribadatan umat. “Oh
Hari Perhentian” merupakan satu-satunya lagu karangan yang dinyanyikan meluas
di seluruh dunia. Lirik-lirik lagu ini terfokos pada doktrin Trinitas, menceritakan
mengenai Allah Tritunggal yang sejak di Eden menciptakan perhentian, keindahan,
kedamaian, penyembahan, kenangan dan sukacita. Apakan anda rindu menikmati
sukacita Hari Tuhan ketika anda berbakhakti pada-Nya di hari Perhentian?
Bagaimana hari itu lebih berarti bagi kehidupan dan penyegaran anda dan
keluarga?

Bacaan tambahan: Kej 2:2,3; Maz 118:24; yes 58:13,14; Why 14:13.

(No. 96)
YA ROH SUCI YANG BENAR
(Holi Spirit, Faithful Guide = L.S. No. 250)

Pengarang Naskah : Marcus M. Wells. 1815-1895


Penggubah Lagu : Marcus M. Wells. 1815-1895

Yohanes 14:18 Aku tidak akan meniggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku
datang kembali kepadamu.

Salah satu fungsi pelayanan Roh Kudus ialah menuntun kita setiap hari
untuk hidup sesuai kehendak Bapa di Surga. Bila keputusan penting hendak di
ambil, Roh Kudus sedia menerangi hati atas permohonan dan penyerahan kita
kepada-Nya. Oleh tuntunan yang setia dari Roh Kudus, kita belajar mengasihi dan
menuruti kehendak Allah dalam hidup sehari-hari.

Kebanyakan persoalan dan masalah timbul karena kegagalan kita meminta


nasehat Roh Kudus dan Alkitab. Daripada berdoa dan memohon petunjuk, banyak
kali kita bertindak sendirian, baru memohon Tuhan memberkati tindakan kita.
Sebagai orang Kristen yang efektif kita harus belajar bergantung sepenuhnya pada
Roh Kudus dan menyadari akan kehadiranNya. Harus ada kemauan untuk di
tuntun dan di bina olehNya.
Tujuan peranan Roh Kudus:
1. Yohanes 16:8-11 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan
dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak
percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan
kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman karena penguasa dunia ini
telah di hukum.
2. Memperbaharui atau membuat kita menjadi umat percaya. Yohanes 3:1-8;
Titus 3:5; I Pet 1:23-25; Yak 1:18.
3. Membaptis dan berdiam dalam umat percaya. I Kor 6:19; 12:13; Roma 8:9;
Yoh 14:16
4. Memeteraikan kita. Efesus 1:13,14; 4:30
5. Memberi karunia Roh. I Kor 12:7-11.
6. Memenuhi umat percaya. Efesus 5:15:21; Galatia 5:16.
7. Membuat kita menghasilkan buah Roh. Galatia 5:22,23. Memiliki kharakter
Yesus Kristus.
The Biola Hour Guidelines, What We Believe, oleh David L. Hocking,
(La Mirada, CA: Biola Univ.), pp. 17-18.

Marcus M. Wells adalah seorang petani Amerika yang mengarang dan


menggubah lagu ini. Pada sabtu siang di bulan Oktober 1858. Bulan berikutnya
diterbitkan dalam majalah Woodbury berjudul New York Musical Pioneer.

Baccan tambahan : Yohenes 14:16,26; 15:26; 16:13; Roma 8:4, 26,27; I


Yoh 3:24.

(No.97)
SIANG SUDAH LALU
(Now the Day Is Over= L.S. No. 252)

Pengarang Naskah : Sabine Baring-Gould, 1834-1924


Penggubah Lagu : Joseph Barnby, 1838-1896

Mazmur 4:9 Dengan tentram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur,
sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan
aman.

Sabine Baring-Gould lahir di Exeter, Inggris pada 28 Januari, 1834.


Berketurunan keluarga aristokrat, sebagian besar masa mudanya di gunakan
mengajar ilmu pengetahuan dan pendidikan di Jerman dan Perancis. Di kemudian
hari ia menjadi tersohor sebagai seorang penulis terkenal Inggris dalam bidang
sejarah, biographi, puisi, fiksi, dan memelopori bidang lagu-lagu rakyat Inggris.
Katalog Museum Inggris mencatat berbagai gelar yang di hadiahkan kepadanya
memibihi para pengarang lain semusimnya.

Baring-Bould mengarang naskah ini khusus untuk anak-anak di gereja


Hornbury Bridge, dekat Wakefield, Inggris atas Amsal 3:24 Jikalau engku
berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau berbaring dan tidur
nyenyak. Naskah lagunya pertama kali di terbitkan dalam Church Times, 16
Februari, 1865. Musiknya di gubah tahun 1868 dan terbitan pertama muncul
dalam Original Tunes to Populer Hymns, karangan Barnby. Untuk pertama kali
lagu ini di gunakan di Amerika Serikat oleh Charles S. Robinson dalam buku
lagunya Spiritual Songs for Social Worship, 1878. Dr. Robinson sangat senang
atas nada musiknya sehingga ia menamakan lagu ini “Merrial”, nama salah
seorang anaknya. Baring-Gould juga terkenal melalui lagu anak-anak “Onward,
Christian Soldiers” dan sudah menggubah 246 nada hymne.

Ia adalah salah seorang anggota gereja Anglikan dan juga terkenal sebagai
seorang pemimpin nyanyi ternama saat itu dan diberi gelar bangsawan berdasarkan
berbagai pencapaian dalam talenta musik.

Berharap kepada Tuhan sepanjang hari akan mengijinkan kita beristirahat di


malam hari. Tidur nyenyak akan menyegarkan dan memulihkan tenaga phisik,
pikiran dan emosi. Dan hanya hubungan penuh kedamaian dengan Tuhan dan
sesama sajalah yang akan menenteramkan pikiran. Bila ketegangan pikiran
menunggu waktu-waktu istirahat, maka penting bagi kita untuk memusatkannya
pada Allah, Alkitab dan kasih sayang Tuhan daripada berusaha menggulanginya
sendirian.

Bacaan tambahan : Mazmur 3:5; 37: 7; 63:1-8; 139:11,12.

(No. 98)
HAMPIRLAH MALAM
(Abide with Me=L.S. No 253)

Penggarang Naskah : Henry F. Lyte, 1793-1847


Penggarang Lagu : William H. Monk, 1823-11889

Lukas 24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah


bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari
hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan
mereka.

Selama hidupnya, Henry Francis Lyte merasa bahwa sekali kelak ia akan
menulis suatu yang akan bertahan lama. Namun ketika inspirasi untuk menulis
muncul, ia melewatkan kesepatan untuk menulis. Menjadi lemah karena terserang
penyakit tuberklosis, Lyte hampir saja menunda tekad menulis naskah dan sajak
lagu. “Saya akan menulis setelah kembali”, pikiran ketika merencanakan
perjalanan ke Itali demi kesehatannya. “Saya merasa kemudian nanti akan
menulis.” Tetapi dorongan hatinya tidak dapat ditolak. Tanggal 4 September,
1847, pada umur limapuluh empat tahun, ia menyelesaikan naskah lagu yang telah
ia karang beberapa tahun sebelumnya dan menempuh perjalanan terakhir yang
berakhit denangan kematian.

Kehidupan tidak mudah bagi Lyte. Kemiskinan merongrong masa mudanya,


namun ia dapat menyelesaikan pelatihan dan pendidikan bagi pelayanan
kependetaan, dan di urapi menjadi pendeta sebuah jemaat kecil di Irlandia. Tetapi
di sana ia terus di kejar kebimbangan, ditambah denan ketidak pastian yang
menghantuinya. Ia bahkan meragukan kanggilan kepada kependetaan dan suatu
hari ia mengunjungi salah seorang rekan pendeta yang sekarat. Di situ
kehidupannya berubah dan ia mendapat inspirasi untuk menulis otobiographi
rohaninya dan mengarang sebuah lagu yang luar biasa.

Dengan semangat berapi-api ia lebih mendedikasikan diri pada pelayanan


dan perbaktian. Di tahun 1823 ia ditunjuk sebagai pemimpin gereja Lower
Brixham, Devon, Inggris di mana ia bekerja dengan semangat tinggi, melepaskan
semua harapan dan ambisi untuk menjadi seorang “Laskar Kristus Yesus.” Namun
kedamain dan ketenangan menjauh dari padanya. Karena beberapa kali
meninggalkan tanggung jawabnya di gereja untuk urusan pengobatan, perpecahan
terjadi di jemaat, sebahagian anggota menarik diri dan bahkan kelompok penyanyi
jemaat menolak untuk menyanyi.

Pada suatu hari ia berkata kepada jemaat: “Saya haru mencari iklim panas
karena saya tidak mampu lagi menahan penyakit ini.” Walaupun demikian ia
memaksa diri untuk menyelesaikan sebuah buku kecil berjudul “Spirit of the
Psalms” yang ia terbitkan tahun 1834. Tercakup dalam jilid ini sejumlah naskah
lain di antaranya sebuah nakah lagu “Praise, my soul, the king of heaven.” Sama
sekli tak terpikir olehnya bahwa setelah lebih seabad, Ratu Inggris, Elizabeth II
menggunakan lagu tersebut sebagai lagu pernikahannya bersama Letnan Philip
Mountbatten karena telah di gunakan juga dalam pernikahan ayahnya Raja George
VI dan Ratu Elizabeth.

“Duapuluh empat tahun terlalu lama untuk seorang pendeta untuk melayani
sebuah jemaat terus menerus,” kata Lyte ketika mempersiapkan perjalannya ke
bagian selatan. “Saya harus mengatur segala sesuatu sebelum berangkat sebab
saya belum tahu berapa lama akan tinggalkan jemaat.” Sementara mengatur dan
menyortir beberapa catatan khotbah, mansukrip dan beberapa coretan, ia temukan
di dasar laci meja sebuah lirik lagu yang pernah ia karang hampir duapuluh lima
tahun lalu.

Kepada keuarganya ia berkata: “Sungguh tepat kata-kata naskah ini


sekarang. Saya teringat malam pertama pelayanan saya di Wrexham, ketika di
panggil untuk berdoa bagi Pendeta William Augustus Le Hunte yang sakit keras.
Sementara Le Hunte tergeletak tanpa daya dia ulang-ulangi kata-kata ‘Abide With
me, abide with me,’ kemungkinan besar di ambil dari cerita Yesus dan dua orang
muridNya ke Emmaus ketika mereka mengajak Yesus “Tinggallah bersama-sama
dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir
terbenam.” (Lukas 24:29). Setelah berpisah saya segera mengarang sebuah
naskah lagu dan melupakan sapai lembaran ini muncul sekarang.”

Hari Minggu 4 September, 1847 ia memimpin perjamuan kudus untuk


terakhir kali. Penjaga kebun mengatakan bahwa soreh itu setelah minum teh di
rumah pendeta, “Berry Head”, ia berjalan di kebun di depan rumah, duduk di atas
sebuah batu dan menyelesaikan mansucrip lagu ini. Setelah matahari terbenam ia
kembali ke ruang belajar dan membacakan lagu kepada keluarganya. Pada hari
berikut tanggal 5 September bersama keluarga ia berangkat ke Mentone, dekat
kota Nice, Perancis di kaki gunung Maritime Alps yang bermandikan sinar
matahari. Di sana kesehatannya semakin merosot dan ia meniggal dunia tanggal
20 November, 1847 dalam perjalanan menuju Italia. Kata-kata terakhirnya
berbunyi: “Oh, tidak ada sesuatu yang menakutkan dalam kematian. Yesus telah
turun ke dalam kubur sebelumnya dan dari padaNya aku mendapatkan kedamaian
dan pengharapan. Dalam kehidupan dan dalam kematian, oh Tuhan Yesus
Penolong, tinggal sertaku.”

Nada lagu ini di gubah oleh William Monk dalam waktu sepuluh menit. Ia
juga meggubah musiknya dalam kepedihan hidup. Setiap umat percaya adalah
pejalan kaki di jalan menuju ke Emmaus. Sebagaimana para murid, sedemikian
pula kita dalam perjalanana penuh kekecewaan dan keputusasaan karena masalah
kehidupan. Setiap hari kita mengalami konsekwensi kehidupan menuju kematian,
yaitu dengan semakin merosotnya kesehatan, terbenamnya matahari, kegelapan
yang menudungi dan kemuliaan yang memudar. Namun Juruselamat yang telah
bangkit itu masih mendampingi kita yang berduka. Berjalan dan bercakap
sepanjang kehidupan. Ia membuka arti kebenaranNya yang gemilang dan
pelayanan-Nya demi kita manusia berdosa. Hidupkan kembali sukacita kedua
murid di desa Emmaus ketika mata rohani mereka terbuka dan mereka mengenal
langsung akan Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Bacaan tambahan : Mazmur 139:7-12; Lukas 24:13-35; I Yoh 3:24.

(No.99)
MATAHARI TERBENAM
(Days is Dying in the West = L.S. No. 254)

Pengarang Naskah : Mary A. Lathbury, 1841-1913


Penggubah Lagu : William F. Sherwin, 1826-1888

Yesaya 30:29 Kamu akan menyanyikan suatu nyanyian seperti pada waktu
malam ketika orang menguduskan diri untuk pelayanan, dan kamu akan
bersuka hati seperti pada waktu orang berjalan di iringi suling dan hendak naik
ke gunung Tuhan, ke Gunung Batu Israel.

Gerakan Chautauqua adalah sebuah kekuatan kultural dan religi di Amerika


selama akhir abad XIX dan permulaan abad XX. Markas konfrensi untuk gerakan
ini terletak di persisir danau Chautauqua dekat Jamestown, New York, yang sering
di lukiskan sebagai tempat terindah di dunia. Tujuan gerakan ini ialah
memeberikan pendidikan religi dan menyediakan pengembangan kultural bagi
bangsa Amerika. Ketika konfrensi tiba pada puncaknya pada setiap tahun, ribuan
orang hadir sambil mendengarkan pembicaraan terbaikdan menyaksikan acara
demi acara dari para artis yang di undang. Gerakan ini juga di sponsori ceramah-
ceramah dan konser-konser di seluruh negara. Walaupun sekarang konferensi
demikian tidak begitu bersar pengaruhnya seperti dahulu, tetapi itu masih di
jalankan si sekitar New York.

Mary Artenisia Lathbury lahir pada tanggal 10 Agustus, 1841 dalam


keluarga Methodist terkenal di Manchester, New York. Ayahnya dan kedua
saudara lelakinya semua menjadi Pendeta. Ia menjadi seorang pelukis propesional
dan untuk beberapa waktu mengajar di sekolah lukis di Vermont dan New York.
Bagaimanapun, semakin hari kehidupannya semakin bertambah terlibat dalam
pelayanan dan penulisan religi. Sehubungan dengan penggilannya sebagai pelayan
Kristen penuh waktu, Nn. Lathbury teringat bahwa suatu hari suara Tuhan seakan
berbicara kepadanya: “Ingat anakKu bahwa engkau memiliki talenta merajut
fantasi dan khayal ke dalam lirik dan karunia penulisan untuk menghasilkan puisi
ke dalam naskah. Konsentrasi itu sepenuhnya sebagaimana yang terdapat dalam
batinmu.”

Bersama uskub Methodist, John H. Vincent, Nn. Lathbury di masukan


dalam daftar para penemu gerakan Chautauqua. Ia pun menjadi terkenal sebagai
“Penyair laureate dan rohaniawati Chautauqua”. Selama perkumpulan musim
panas 1877, para pemimpin merasakan kebutuhan akan lagu-lagu kebaktian malam
milik mereka sendiri. Dr. Vincent meminta nona Lathbury untuk menulis naskah
lagu tersebut. Inspirasi datang kepadanya ketika ia menyaksikan keindahan
matahari terbenam di seberang danau. Dua stansa terakhir ditambahkan dua tahun
kemudian dan di sempurnakan atas usulan sahabatnya. Lagunya digubah di musim
panas tahun 1877 oleh Profesor William Fisk Sherwin, direktur musik Chautauqua.
Sherwin terkenal untuk kesanggupannya memimpin dan mengorganisasikan
paduan suara amatir dan ketrampilan memimpin jemaat bernyanyi yang
menghsilkan suara-suara merdu dan bersemangat dari para peibadah.

George C. Stebbing, musisi terkenal jaman itu mejelaskan suasana ketika


lagu ini untuk pertama kali di nyanyukan: “Pada hari Sabtu malam di bulan
Agustus itu hadir sekitar 2.000 orang di pesisir danau Chautauqua. Saya dan
Profesor Sherwin berada dalam sebuah perahu di atas danau. Sekeliling kami
terdapat suatu pemandangan yang indah dan mengesankan ketika kami bersama-
sama melagukan nyanyian ini.”

Lagu “Matahari Terbenam” di nyanyikan dan di gunakan sebagai lagu


pengantar khotbah setiap malam di danau Chautauqua sejak di karang dan di
terbitkan. Oleh para pelajar hymnologi lagu ini digelari sebagai “salah satu lagu
terindah dan khusus di jaman modern.” Tengok kami yang tunggu, Di hadapan
medzbah-Mu. Bri rahmat-Mu” menyatukan suara para penyanyi membuat lagu ini
unggul untuk paduan suara dan nyanyian jemaat..

Ketika anda menyaksikan matahari terbenam atau keindahan alam ciptaan


Tuhan, naikkan syukur kepada-Nya atas kasihNya yang begitu bersar menjelang
terbenamnya matahari kehidupan. John Keats: “Keindahan membawa sukacita
selamanya.” John Milton: “Musik, dan seluruh keagungan angkasa adalah
kebaikan terbesar yang diketahui manusia.”

Bacaan tambahan: Mazmur 4:7,8; 19:1,2; 69:34; Yesaya 6:3.


(No. 100)
SENANGLAH RUMAH
(Happy the Home God is There = L.S. No. 260)

Penggarang Naskah : Henry Ware Jr, 1794-1843


Penggubah Lagu : John B. Dykes, 1825-1876

Yosua 24:15 Tetapi jika kamu mengagap tidak baik berbakti kepada Tuhan,
pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya
nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori
yang negerinya kamu diamai ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, akan diam
beribadah kepada Tuhan!”

Sekaranglah saatnya kita memusatkan perhatian penuh kepada institusi dasar


social dan masyarakat, yuitu rumahtanggua di mana pengharapan di berikan
kepada ayah, ibu dan anak-anak. Kekuatan suatu banggsa terletak atas kwalitas
rumahtangga. Charles Dickens berkata: “Oleh mengasihi keluarga dan rumah
tangga, kasih pada bangsapun meningkat.”

Rumah tangga haruslah menjadi tempat dari Yang Maha Kudus dalam
kehidupan seseorang, suatu tempat utama di mana kasih dan penerimaan
dihidupkan dan diperoleh pada orangtua dan anak-anak. Ujian utama bagi
kerohanian orangtua adalah dalam kehidupan berrumah tangga, yaitu ketika ia
mendemonstrasikan kharakter Yesus Kristus terhadap anak-anak. Sebagai orang
tua, tanggung jawab kita bukan hanya memberi makan dan mendandani anak-anak
kita, tetapi memelihara dan mengasuh sifat, pikiran dan nilai nilai moral mereka.
Oleh kata-kata dan teladan pribadi kita harus membimbing anak-anak dengan teliti,
dan bersungguh-sungguh menunjukkan kepada mereka apa artinya menjadi orang
Kristen. Menjadi orang tua yang baik juga berarti mempertahankan jalur
komunikasi yang kuat antar anggota keluarga. Ini menuntut kwalitas waktu yang
digunakan bersama dalam berdiskusi, bersosial, penyegaran rohani dan perbaktian
berjemaat setiap minggu di gereja setempat.

Naskah lagu ini di karang oleh pendeta Henry Ware yang kemudian menjadi
pendeta Second Unitarian Church di Boston, Massachusetts. Penyair tenar
Amerika, Ralp Waldo Emerson untuk beberapa saat menjadi pembantu Henry
Wary. Lagu ini pertama kali muncul pada tahun 1846 dalam buku Selection of
Hymns adn Poetry for Use of Infant and Juvenile Scholls and Families.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa semakin baik hubungan kita di rumah
tangga semakin berhasil kita dalam karir. Jika kita bermasalah dengan salah
seorang kekasih kita, kesulitan itu akan menyebabkan berkurangnya prestasi di
pekerjaan. Dalam meneliti para jutawan Amerika Serikat, terlihat gambarannya
ialah bahwa seorang “Khas” jutawan yang bekerja delapan sampai sepuluh jam
sehari selama tiga puluh tahun, tetap setia kepada pasangan nikahnya, yaitu teman
kelas atau kekasihnya di sekolah lanjutan atau perguruan tinggi. Sebuah penelitian
terhadap 1.365 eksekutif dan wakil pimpinan perusahan-perusahan di New York
menemukan bahwa 87% dari mereka telah di besarkan dalam rumah tangga
kompit, yaitu rumahtangga dengan orang tua. Penelitian ini sangat luarbiasa
hasilnya bahwa terbukti keluarga atau rumahtangga itu adalah kekuatan dan
landasan masyarakat. Teguhkan dan kokohkan keluarga anda dan anda
berkesempatan untuk berhasil.

Bacaan tambahan : Ulangan 6:7; Amsal 22:6; Efesus 5:21-23; 6:4.

(No. 101)
OH KASIH ALLAH
(O Perfect Love) L.S. No. 261)

Pengarang Naskah : Dorothy B. Gurney, 1858-1932


Penggubah lagu : Joseph Barnby, 1839-1896

Efesus 5:31 “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan
bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Richard C. Halwerson bertkata: “Tak ada sesuatupun yang dapat anda


lakukan untuk membuat Tuhan lebih mengasihimu atau kurang mengasihimu.
Karena kasihNya tanpa syarat, tidak memihak, abadi, tidak terbatas dan
sempurna.”

Kata Grika “agape” (cinta) sebenarnya adalah kata baru untuk hal baru,
suatu kata dalam pengertian Kristen. Kata ini dalam versi Grika, terlepas dari
sekitar duapuluh peristiwa dalam Perjanjian Lama, hammpir tidak eksis sebelum
Perjanjian Baru. Agape mendapatkan artinya langsung dari penyataan Allah dalam
Yesus Kristus. Itu bukan merupakan suatu bentuk cinta kasih biasa, betapapun
kuatnya, tetapi adalah suatu buah supernatural dari Roh Kudus. (Galatia 5:22
Tetapi buah Roh ialah: kasih...). Itu adalah cita rasa dai kehendak melebihi
perasaan, karena orang Kristen harus mengasihi bahkan mengasihi mereka yang di
benci sekalipun. Itu adalah elemen dasar untuk menjadi serupa dengan Kristus.
Matius 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah sesamamu dan berdoalah
untuk mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi
anak-anak Bapamu yang di Sorga, yang menerbitkan matahari untuk orang
yang jahat dan orang baik dan menurunkan hujan untuk orang benar dan
orang-ornag yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi
kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
Baca juga I Kor 13 dan perhatikan ayat-ayat mengenai keunggulan kasih (ayat 1-
3), sifat kasih (4-7) dan kasih yang permanen (ayat 8-13).

Allah telah rancangkan bagi umat manusia suatu penyatuan sempurna yang
tidak cinta diri, ikrar janji untuk mengasihi bukan dalam bentuk pemuasan phisik.
Kebaikan, kesabaran, pengampunan, dan kasih sayang terhadap satu sama lain
adalah ramuan mujarap bagi kebahagiaan pernikahan. Kerinduan untuk
menempatkan kebutuhan dan minat pasangan kita melebihi minat dan kebutuhan
sendiri adalah dasar keharmonisan sebuah rumah tangga. Pernikahan telah di
lembagakan oleh Tuhan untuk menjadi gambaran dari kasih tanpa batas dan
dedikasi pernikahan kepada Tuahnya. Namun dewasa ini kita menyaksikan wabah
kehancuran pernikanahan, berkuragnya kesetiaan sejati, pertikaian yang berpusat
pada diri sendiri antara suami isteri-bahkan di tengah-tangah umat Kristen.

Gambaran indah mengenai kasih pernikahan ideal dilukiskan dalam lagu ini
yang menjelaskan tentang keharmonisan yang terjadi ketika Allah dijadikan dasar
atau fondasi hubungan nikah. Dorothy Gurney, seorang wanita Inggris di minta
oleh saudaranya yang akan menikah untuk mengarang sebuah naskah lagu untuk
dinyanyikan nanti dalam upacara pernikahannya. Hanya dalam waktu 15 menit,
Dorothy menyelesaikan naskh “O Perfect Love.”

Ny. Gurney berkata bahwa penulisan naskahnya membuat pikirannya


terpusat atas dua hal: kasih dan kehidupan. Walaupun hanya ini satu-satunya lagu
ia karang, tetapi itu sangat terkenal sebagai lagu pernikahan terbaik dalam bahasa
Inggris. Ingat akan kutipan berikut ini: “Pernikahan yang berhsil ialah banyak kali
jatuh cinta pada orang yang sama.” Tentukan agar hubungan dalam pernikahan
anda menjadi semakin intim, meniru kasih Kristus kepada pengantin-Nya—jemaat.

Bacaan tambahan : Kej 2:18-25; Mark 10:7-9; Ef 5:21:33; I Pet 3:7.

(No.102)
NAFAS HUW ALLAH
(Breath on Me, Breath of God=L.S. No. 269
Pengarang Naskah : Edwin Hatch, 1835-1889
Penggubah Lagu : Rober jackson, 1842-1914
J. Hacker, 1914

Yohanes 20:21,22 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu!
Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu.” Dan
sesudah berkata demikian, ia mengembusi mereka dan berkata “Terimalah Roh
Kudus”.

Kabar baik dari injil ialah apa yang Kristus telah buat bagi kita melalui
kematianNya, kabangkitanNya, kenaikanNya dan pengampunan yaitu
pengampunan dosa, pendamaian dan hubungan kembali dengan Pencipta serta
pengantaraan Kristus dengan Bapa di Sorga dan karunia Roh Kudus.

Bila seorang jadi Kristen, ia menerima Roh Kudus dalam hidupnya.


Walaupun ia tinggal dalam hati, seringkali Roh Kudus tidak mengontrol kehidupan
kita karena kita tidak sepenuhnya berserah kepadaNya. Alkitab mengajarkan
bahwa kita harus dipenuhi Roh Kudus untuk hidup yang berkemenangan. Ini
bukanlah suatu peristiwa mistik dan penuh emosi. Di penuhi Roh Kudus berarti
seorang percaya harus menyerahkan sepenuh hidupnya kepada pengendalian
Kristus dan bersedia dipimpin oleh Roh Kudus untuk meninggikan Kristus dan
menjadi wakil Allah yang efektif. Salah satu bukti dari hidup yang dipenuhi Roh
Kudus ialah kehidupan sehari-hari yang menyerupai Kristus. Itu berarti bahwa hati
harus dikosongkan dari kesombongan, cinta diri dan ambisi karena sifat-sifat ini
menghalangi kehadiran Roh Kudus. Hati harus dikosongkan sebelum diisi.

Pengarang naskah ialah Edwin Hatch, seorang Pendeta gereja Anglikan. Ia


pernah melayani sebagai profesor di Trinity Collage, Canada. Kesarjanaan dokter
Hatch terkenal luas dalam bidang sejarah gereja. Walaupun telah mencapai tingkat
kesarjanaan, Hatch memiliki iman atas tuntunan Roh Kudus sesederhana seorang
anak. Berdoa untuk dipenuhi Roh Kudus harus disertai kerinduan untuk penyatuan
kemauan kita dan kehendak Tuhan. Lagu ini pertama kali diterbitkan dalam
pamplet berjudul “Between Doubt and Preyer”. Bentuk musiknya muncul
kemudian dalam Psalmist Hymnal. Terbitan 1886.

Bacaan tambahan: Yohanes 3:5-7; 2 Korintus 3:18; Galatia 5:5; 1 Yoh 4:13.

(No. 103)
SEMBILAN PULUH SEMBILAN
(there were ninety and nine=L.S. No. 270)
Pengarang Naskah : Elizabeth C. Clephane, 1830-1869
Penggubah Lagu : Ira D. Sankey,1840-1908

Lukas 15:7 Aku berkata kepadamu: demikian juga akan ada sukacita disorga
karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena
sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

Elizabeth C. Clephane lahir di Edinburg, Skotlandia, tapi dibesarkan di


Melrose, wilayah indah Abbotsford. Selama hidupnya yang singkat ia diserang
penyakit dan memiliki tubuh kurus. Walaupun menderita secara fisik ia dicintai
dan dikenal oleh orang sekotanya sebagai Sinar Matahari. Kesukaannya ialah
menulis sajak dan beberapa dari padanya diterbitkan dalam majalah gereja Scottish
Presbyterian berjudul The Family Treasury. Betapapun juga sebahagian besar
penulisannya nanti muncul dalam majalah ini di tahun 1872, tiga tahun setelah
kematiannya di tahun 1869. dekat kepada kematiannya, Clephane menulis naskah
“The Ninety and Nine” khusus untuk anak-anak. Naskah tersebut diterbitkan
dalam majalah The Children’s Hour.

Lima tahun kemudian, D. L. Moody, seorang evangelis Amerika bersama Ira


Sankey berada di Britania Raya untuk mengadakan Kebaktian Kebangunan
Rohani. Diceritakan bahwa Moody dan Sankey pada suatu pagi menumpang
kereta api dari Glasgow ke Edinburg untuk mengadakan pelayanan Injil di
Assembly Hall Edinburg selama tiga hari. Dalam perjalanan tersebut Sankey
membeli surat kabar di toko membuka halaman demi halaman surat kabar itu, ia
menemukan khotbah Henry Ward fBeecher dan naskah Clephane. Ia berusaha
menarik perhatian dan minat Moody terhadap isi naskah tetapi Moody begitu tekun
mempersiapkan khotbahnya. Akhirnya Sankey menggunting potongan naskha
tersebut dan memasukkannya ke dalam saku.

Dalam perkumpulan sore hari itu di Edinburg, topik Moody adalah


“Gembala Yang Baik” berdasarkan Lukas 15:3-7. setelah itu Dr. Horatius Bonar,
penulis “I Heard the Voice of Jesus Say” menyambut khotba itu dengan
pembicaraan singkat. Moody berpaling memandang Sankey dan memintanya
menyanyikan sebuah lagu solo yang cocok dengan isi khotbahnya. Sankey tidak
dapat memikirkan lagu apa yang pas dengan khotbah Moody, tetapi ia teringat
kepada sepotong kertas di saku jasnya. Dengan hati-hfati sambil berdoa ia
meletakkan kertas tersebut di atas organ dan mulai memainkan sebuah lagu atas
dasar nada As sambil menyanyikan naskah Clephane. Nada demi nada dimainkan,
dan nada yang sama ini pula tetap bertahan tidak berubah sampai dewasa ini.
Sankey bersaksi bahwa itulah saat penuh ketegangan yang belum pernah ia alami.
Ia berkata bahwa ia dapat rasakan betapa lagu tersebut menyentuh hfati para
pengunjung Skotlandia malam itu. Kata Sasnkey: “Ketika saya tiba di bagian
akhir lagu, saya melihat air mata Moody berlinang-linang, sedemikian pula saya.”
Ketika Moody berdiri untuk menghimbau hadirin menerima keselamatan yang
ditawarkan , banyak “dimba yang hilang” menyambut panggilan Kristus.

Selama evangelisasi mereka di Britania Raya, Moody dan Sankey


mengumjungi Melrose, Scotland. Dua saudara perempuan Clephane berada di
pertemuan Moody dan mereka sangat gembira dan terheran-heran kerika
mendengarkan naskah saudara mereka dimainkan dengan musik oleh Sankey.
Mereka dapati dampak rohani dari lagu itu unntuk memajukan pekabaran Injil
samoai dewasa ini. Elizabeth C.Clephane juga adalah pengarang naskah lagu “
Beneath the Cross of Jesus”.

Ira D.Sankey berasal dari keturunan Skotlandia-Irlandia, lahir pada tanggal


28 Agustus,1840. pada tahun 1857 keluarganya berimigrasi ke Newcastle,
Pennsylvania dan di mana a belajar dei sekolah menengah atas dan setelah tamat
bergabung dengan gereja Methodist Episcopal. Di gereja ini ia memulaikan
pelayanan paduan suara yang pertama. Suara baritonenya yang berat segera
menjadi perhatian banyak orang dan mereka tertarik untuk hadir mendengarnya
menyanyi.

Tahun 1860 Sankey mendaftar dalam dinas militer sebagai anggota pasukan
Twelfh Pennsylvania Regiment. Selama dalam ketentaraan ia memimpin lagu
rohani di setiap perbaktian. Bagaimanapun, ide untuk mendedikasikan hidupnya
bagi pelayanan musik masih belum jelas baginya. Sekembalinya dari tugas militer,
ia menjadi sekretaris pada Internal Revenue Service.

Sankey kemudian dikirim sebagai delegasi kekonvensi Y.M.C.A. di


Indiananpolis, Indiana tahun1870. Di tempat ini untuk pertama kali ia bertemu
penginjil terkenal, D.L.Moody. Lagu pujian seelama pelayanan konvensi terdengar
sangat suram. Akhirnya diusulkan bahwa Sankey diperkenalkan kepada Moody.
Sankey bersaksi: “Ketika saya mendekat kepada tuan Moody, ia maju, memegang
tangan saya dan melihat langsung ke mata saya seakan-akan membaca isi hati
saya.” Berikut ini hasil wawancara Sankey dan Moody: “Dari mana asal anda,”
tiba-tiba ia berkata. “Pennsylvania,” jawab saya. “apakah anda telah menikah?”
“Ya.” “Berapa jumlah anak anda?” “Dua.” “Apa pekerjaan anda?” “saya seorang
pejabat pemerintah.” “Ya,” kata Moody,”anda harus melepaskan jabatan tersebut.”
Saya begitu heran sehingga tidak menjawab apa-apa, tetapi ia terus berbicara
seakan-akan saya telah membuat suatu keputusan untuk melepaskan jabatan saya.
Ia berkata: “Saya telah mencari-cari anda selama delapan tahun terakhir ini. Anda
harus datang ke Chicago dan menolong saya dalam pekerjaan ini,” katanya.

Setelah beberapa bulan berlalu tanpasuatu keputusan, Sankey akhirnya


berhenti dari posisi pejabat pemerintah dan pindah ke Chicago bersama
keluarganya. Di sana ia memulai pelayanan evangelisasi bersama Moody dan
digunakan oleh Tuhan dalam mempromosikan musik gospel. Dewasa ini organ
yang digunakan Sankey untuk menggubah secara spontan naskah Clephane, berada
di tuang perbaktian Billy Graham Evangelistic Association di Minneapolis,
Minnesota. Ira Sankey jug menggubah lagu “Hiding in Thee,” “ A Shelter in the
Time of Storm,” dan “ Trusting Jesus.”

Bacaan tambahan : Kejadian 3:8-10; Mazmur 23

(No.104)
HARAP ALLAH BESERTA KAMU
(God be with you till We Meet Again) L.S.No.273)

Pengarang Naskah : Jeremiah E. Rankin, 1828-1904


Penggubah Lagu : William G. Tomer,1833-1896

Roma 16:20 Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan


menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita,
menyertai kamu!

Pendeta berkulit putih yang menjadi presiden sebuah universitas Negro


terbesar mencari-cari dalam kamus di First Congregational Church,
Washington,D,C.,kata yang tepat untuk perpisahan. Beberapa kata ia perhatikan
seperti “Farewell” atau “fare thee well” artinya “Selamat jalan.” Kemanapun anda
pergi, apapun yang anda lakikan dan dalam situasi apapun, semoga anda selamat.
Kamus jilid lain menginterpretasikan ekspresi “so long” untuk ucapan selamat
jalan. Kemudian ia mengambil kamus Perancis dan mendapatkan kata “Adieu”
atau “Au Revoir” yang berarti “ sampai bertemu kembali”. Ia selidiki lagi kata
“Goodbye” yang berati “Selamat jalan” atau “selamat tinggal” dengan tambahan
“God be withn you”,Tuhan beserta kamu. Dapatkah Tuhan beserta setiap orang?
Bukankah ini suatu kata ucapan perpisahan yang tepat bagi orang Kristen?
Ia selanjutnya mempelajari kata “selamat jalan” atau “selamat” dalam Kisah 15:29
“Sejahteralah kamu,” (Alkitab Terjemahan Lama). Dari kata aslinya dalam bahasa
Grika ia dapati berbagai penjelasan dan arti seperti: “Allah memberi kekuatan
kepada Anda”; “jadilah kuat”; “semoga anda sehat”; “semoga anda teguh”;
“nikmati kesehatan yang baik”; “bersukacitalah”; “bergembiralah dan penuh
dengan kegembiraan.”

Ketika perbaktian minggu malam semakin hari semakin berkembang dengan


bertambahnya anggota, pendeta Jeremiah Eames Rankin meningkatkan pelayanan
musik dalam gereja. Ia telah mengedit sebuah buku lagu gospel dua tahun
sebelumnya, “Gospel Temperance Hymnal” yang di terbitkan tahun 1878. Bahkan
sebelum itu, beberapa hymne aslinya sudah di bukukan dalam “Songs of the New
Life” terbitan tahun 1869.

Pada minggu malam tertentu tahun 1880, ia rindu menutup perbaktiannya


dengan sebuah lagu perpisahan. Satu-satunya lagu yang tepat dalam buku lagu
ialah “Blest be the tie that bind” atau “perhubungan kita” karangan John Fawcett,
(lihat lagu no 2 buku ini). Tetapi Rankin inginkan sesuatu yang berbeda, suatu
hymne yang lebih mengangkat melebihi lagu sebelumnya. Karena tidak ada
hymne yang ia temukan, dan sebagai hasil penyelidikannya dalam kamus dan
Alkitab, ia mulai mengarang lirik lagu penutup. “Harap Allah Beserta Kamu,
Pimpin kamu tiap hari. Dan menggembalakan kamu, sampai kita bertemu lagi”.

Ia kirim naskahnya kepada dua orang musisi dan meminta mereka untuk
menggubah lagu yang tepat untuk kata-kata dan juga khorus (Ulangan) lagu ini.
Nada yang ia sukai dan ia rasa cocok dengan semangat naskahnya ialah nada
gubahan William Gould Tomer, seorang guru sekolah di Carpentersvile, New
Jersey. Musiknya tepat dan sangat di sukainya sehingga ia tambahkan lagi tujuh
stanza melengkapi naskah terdahulu. Sangat menarik untuk di perhatikan ialah
bahwa tuan Tomer pernah menjadi salah satu seorang staf dari jenderal O. O.
Howard, yang namanya di abadikan kepada institusi pendidikan tinggi Negro
terbesar, Howard Univercity di Washington, D. C. Dr. Rankin sendiri kemudian
menjadi presiden dari universitas tersebut selama tujuh tahun. Ia seorang
penghotbah yang berapi-api dan penulis banyak naskah lagu termasuk salah
satunya “Tel it to Jesus”. Dr. John W. Bischoff, seorang organis buta dari gereja
Dr. Rankin merevisi nada hymne ini dan lagunya pertama kali dinyanyikan oleh
seluruh anggota jemaat gereja baris naskah, delapan menggunakan frase yang sama
ialah: “Harap Allah beserta kamu, sampai kita bertemu lagi” yang telah mengikat
kasih umat Kristen. Dan apakah dengan atau tanpa khorus sekalipun, Ahad demi
Adad lagu ini di nyanyikan sebagai lagu ucapan “selamat jalan dan sampai jumpa”
oleh umat Tuhan. Pertama kali diterbitkan dalam “Gospel Bells”, sebuah koleksi
hymne dan lagu pujian yang telah di edit oleh pendeta, pemain organ dan
pemimpin sekolah minggu. Lagu ini juga merupakan lagu kesukaan evangelist
Dwight Moody dan penyanyi Ira Sankey dalam setiap akhir perbaktian mereka dan
telah tersebar luas di antara umat Kristen di seluruh dunia. Dan hingga dewasa ini,
tidak ada kata yang tepat dapat di ungkapkan sesama orang Kristen dalam setiap
perpisahan mereka kecuali: “Harap Allah beserta kamu, sampai kita bertemu lagi.”
Praktekkan kepedulian sejati terhadap sesama kita. Latihlah diri kita untuk
mengucapkan ucapan “Selamat jalan” atau “Sampai bertemu lagi” yang di
ekspresikan dengan penuh kasih kepada sahabat atau anggota keluarga.

Bacaan tambahan: Kel 22:14; Kisah 20:32; I Pet 5:7-10.

(No.105)
AKU MAU HIDUP BAGI YESUS-KU
(Living for Jesus =L.S. No. 275)

Pengarang Naskah : Thomas o. Chisholm. 1866-1960


Penggubah Lagu : C. Harold Lowden, 1886-1963

Roma 12:1,2 Sebab itu, hai saudara-saudaraku, aku mintalah kamu, oleh sebab
segala rahmat Allah, memepersembahkan tubuhmu menjadi korban yang hidup
lagi kudus dan yang berkenan kepada Allah, maka itulah ibadatmu yang patut.
Dan janganlah kamu menurut teladan orang dunia ini, melainkan ubahkanlah
rupamu dengan pembaharuan hatimu, supaya kamu dapat mengenal apa
kehendak Allah, yaitu akan hal yang baik dan yang berkenan dan yang
sempurna.

Prioritas utama orang Kristen ialah hidup bagi Kristus dan megutamakan
Kerajaan Sorga. Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Hidup bagi
Kristus ialah hidup untuk melayani dan meniggikan Kristus. Hal itu harus menjadi
tujuan utama setiap orang Kristen. Lagu “:Livine for Jesus” di tulis pada tahyn
1917 oleh Thomas Chislom atas pemohonan seorang pengubah lagu bernama
Harold Lowden, yan gtelah menggunakan nada lagunya kepada naskah lain. Tapi
karena Lowden tidak menyukai naskah sebelumnya maka ia meminta Chislom
mengarang sebuah naskah baru. Walaupun merasa tidak layak untuk tugas ini tapi
Chislom dapat mengarang sebuah naskah dalam waktu dua minggu. Thomas
Chisholm adalah seorang editor, guru sekolah dan seorang pendeta Methodis.
Karena kesehatannya terganggu maka ia terpaksa menjalani hidup yang tidak
terlalu berat, yantu menjadi penjual asuransi. Kegemarannya ialah menulis naskah
atau puisi dan ia terus menjalani kehidupan ini selama 94 tahun hidupnya. Ia
pernah berkata: “Saya sangat rindu agar setiap naskah dan sajak yang ditulis dapat
mengirim berita keselamatan kepada setiap hati yang membacanya.” Walaupun
kurus karena penyakit dan memiliki sifat lemah lembut, Chisholm dapati bahwa
tulisan dapat menyemangati umat-umat Tuhan untuk menyanyi sepanjang jalan
kehidupan mereka. Hari esok masih merupakan rahasia, tetapi hari merupakan
kesempatan bagi anda untuk hidup dalam persekutuan dengan Kristus. Muliakan
terus Kristus dan dedikasikan kehidupan anda bagiNya.

Ketika isteri dari misioanri Adoniram Judson megatakan bahwa sebuah


artikel dalam koran lokal menulis tentang Adoniram sebagtai salah seorang rasul,
ia menjawab: “Saya tidak mau menjadi seperti Rasul Paul atau manusia siapapun
dia. Saya mau menjadi seperti Kristus. Saya mau mengikut hanya Dia saja,
menghidupkan ajaran-Nya, minum dari Roh-Nya dan menjejakkan kaki saya pada
bekas jejak kakiNya.” Lahir di Massachusetts tanggal 9 Agustus, 1788 dan
kemudian membentuk American Baptist Missionary Union. Pada tahun 1834 ia
menyelesaikan terjemahan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Birma. Dalam
peperangan antara Birma dan Inggris, ia dipenjarakan selama 21 bulan. Setelah
melayani Birma selama 34 tahun, ia mengambil cuti ke Amerika tahun 1845-1847
dan kembali ke Birma serta menggunakan sisa waktu hidupnya menyusun kamus
Inggris-Birma. Meninggal pada 12 April 1850 dan dikuburkan di laut. Adoniram
Judson telah hidup bagi Yesus. Apa sambutan anda?

Bacaan tambahan: Markus 12:33; Roma 6:13,18; 2 Korintus 4:10,11

(No. 106)
KASIH ALLAH
(The Love of God Is Greater Far). L.S. No. 277

pengarang Naskah : Frederick M. Lehman, 1868-1953


penggubah Lagu : Frederick M. Lehman, 1868-1953

Zefanya 3:17 TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang


memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia
membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau
dengan sorak-sorai,

Semua agama mempunyai beberapa pengertian mengenai kasih. Theologia


Kristen menekankan kasih atas penyataan Allah bahwa Ia adalah kasih. 1 Yohanes
4:8...sebab Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada did alam kasih, ia
tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Kasih ialah Allah itu sendiri
dan apa yang Ia telah buat bagi kita. Allah senantiasa bertindak dengan kasih.

Kasih adalah realita kelengkapan yang membutuhkan suatu obyek. Alkitab


membahas bahwa kasih adalah kepribadian (antar pribadi) dan tidak citan diri
(merindukan kebaikan orang lain). Umat Kristen melihat kasih Allah ketika Ia
mengirim AnakNya untuk menyelamatkan orang berdosa (Roma 5:8; Yohanes
3:16; 1 Yohanes 4:10). Umat Kristen juga menjadi terkenal karena mereka
mengasihi Allah dan sesama manusia. (Yohanes 13:34,35). Kasih mereka bukan
sebagai kasih yang dimiliki dunia (Lukas 6:32,33). Kasih terbaik ini dilihat dalam
tindkan, yaitu dalam banyak hal apa yang kita lakukan, melalui kasih mesra dan
komitmen terhadap mereka yang hidup sekita kita tanpa menghiraukan kebaikan
obyek tersebut (1 Yohanes 4:19). Sift kasih dan karakter kita ialah memantulkan
kasih Tuhan. Yesus berkata bahw aada hukum yang menguasai kehidupan kita,
ialah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.

Belum pernah kasih kekal Allah dilukiskan dengan begitu indah dan jelas
seperti yang tertuang dalam kata-kata lagu ini yang dikarang pada tahun 1096 oleh
Rabi Mayer di Worms, Jerman. Judul aslinya ialah “Hadamut” ditulis dalam
bahasa Arab. Naskah agung ini adalah bagian dari sebuah puisi yang tertulis
dengan pinsil pada dinding rumah sakit gila di Jerman, dituls oleh seorang
pesakitan sebelum kematiannya. Menurut kepercayaan bahwa pasien yang tidak
dikenal ini selama pemenjaraannya telah menjadi gila ketika disiksa bersama orang
Yahudi lainnya sepanjang abad karena iman mereka.

Prederick martin Lehman, seorang pendeta keturunan Nazaret, penerbit dan


penulis lagu menambah dua naskah, menggubah lagunya dan menyempurnakannya
pada tahun 1917. Anaknya Claudia yang kemudian menjadi Nyonya W.W. Mays
membantunya dalam gubahan musik. Setiap perbaktian kita mengekspresikan
kasih Allah ini, yaitu Allah yang telah menjelma menjadi manusia, yang
merupakan ungkapan agung kasihNya.

Bacaan tambahan: Yoh 15:9; Ef 3:1,19; 1 Yoh 3:1; Why 1:5,6.


(No. 107)
YESUS TAK PERNAH GAGAL
(Jesus Never Fails) L.S. No.280

Pengarang naskah : Arthur A. Luther, 1891-1960


Penggubah Lagu : Arthur A. Luther, 1891-1960

Matius 24:35 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan
berlalu
.
“Ketika harapan berlalu dan sahabat-sahabat menentang, ketika
perjuangna semakin berat dan aku gemetar ketakutan terdenganrlah suara lembut
berkata:’Jangan takut dan gentar anak-Ku’ Yesus Raja damai dan penghiburan:
Aku rindu mendenganr suara-Mu.”
J. Bruce Evans

Alkitab mengajarkan bahwa kekayaan pegnalaman terbaik hidup ini


dipelajari hanya dalam lembah air mata. Pemazmur berkata: Mazmur 119:71
Bahw aku tertindas itu baik bagiku, supaya kau belajar ketetapan-ketetapan-
Mu. Saat-saat sukar sulit haruslah menjadi batu loncatan untuk pertumbuhan dan
kegunaan rohani. Sedemikian pengalaman pengarang dan penggubah lagu “Jesus
Never Fails”. Arthur Luther, pendeta dan musisi menceritakan pengalaman berikut
ini sehubugnan dengan penulisan naskah lagu tersebut di atas: “sebagai seorang
murid sekolah Kristen, saya memiliki kerinduan besar untuk menjadi sorang
misioanri. Hal itu tidak menajdi kenyataan. Kemudian saya berkobar-kobar rindu
menajdi seorang penulis naskah lagu untuk dinyanyikan setiap orang. Saya
berusaha mengarang lagu populer, tapi terbukti saya gagal. Namun Tuhan, pada
waktu dan caraNya yang tapat mengabulkan hasyrat saya dan lahirlah lagu: “Jesus
Never Fails” yang menjangkau sampai ke pedalaman ladang misi dan jutaan orang
telah menyanyikannya. Lagu ini dikarang di Somerset, Kentucky ketika saya
berada di sana bersama Dr. O. E. Williams dalam Evangelisasi yang diadakannya.
Ketika itu saya mendapat berita yang tidak menyenangkan dari keluarga yang
berada sekitar 600 mil jauhnya. Rasa cemas dan rindu pulang menghantui saya.
Saya mendekat ke piano yang berada di rumah “Old Kentucky Home” di mana
saya menginap, dan jari-jari saya mulai memainkan sebuah melodi lagu yang di
kemudian hari menjadi nada lagu “Jesus Never Fails”. Disaat itulah lahir kata-kata
dan lagunya. Saya benar-benar yakin bahwa doa saya terjawab dan saya bersyukur
kepada Tuhan. Kemudian berita gembira datang dari rumah. Terbukti Allah tidak
pernah gagalkan saya. Sayfa menerima banyak kesaksian dari para misionari,
evangelist dan orang lain mengenai berkat yang mereka terima melalui lagu
berjudul-tiga-kata di atas. Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam sepuluh bahasa
Eropa, bahasa-bahasa lainnya dan bahasa Cina. “Yesus Tak Pernah Gagal” telah
menjadi semboyan musik di mana-mana di antara orang Kristen yang percaya akan
Alkitab. Para perajurit melagukannya ketiak mereka bersiap-siap untuk bertempur.
Orang-orang saleh melagukannya ketika mereka menghadapi pertempuran
melawan kuasa dosa, dengan keyakinan bahwa panglima keselamatan mereka
tidak pernah gagal. Saya memiliki setiap alasan untuk memuja Tuhan atas karunia
perberian lagu ini pada waktu yang tepat ketika dibutuhkan dan yang telah tersebar
luas ke seluruh dunia dengan kabar kemenangan.”

Bacaan tambahan: Mat 28:20; Kisah 18:9; Rm 8:18; 2 Tim 4:17.

(No. 108)
SESUDAH MALAM
(Beyond the Sunset L.S. No. 282

Pengarang Naskah : Virgil P. Brock, 1887-1978


Penggubah Lagu : Blanche Kerr Brock, 1888-1958

1 Korintus 13:12 karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran
yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.
Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan
mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri di kenal.

Virgil Brock, seorang pendeta Quaker telah menulis sebanyak lima ratus lagu
gospel. Karangan terkenalnya ialah lagu “Beyond the sunset”, yang ia karang
ketika menikamti keindahan matahari terbenam bersama seorang buta. Setelah
menyaksikan matahari terbnam di Winona lake, Indiana dengan kemanakkannya
yang buta, Horace Burr dan isterinya Grace dan menyaksikan cahaya kuning
kemilau di permukaan air danau, mereka kemudian masuk ke dalam rumah untuk
makan di meja makan terjadi percakapan sebagai berikut:

“Cahaya matahari terbenam tadi sangat idnah dan sangat berkesan dalam
hati”, kata Arthur. Kemanakannya yang buta berkata bahwa ia belum pernah
melihat matahari seindah itu sebelumnya. Arthur menjawab: “Orang selalu
terkagum-kagum melihat melalui mata orang lain, dan saya pikir saya melihat
lebih dari itu. Saya melihat di seberang matahari terbenam.” (Beyond the Sunset).

Frase “Beyond The Sunset” dan pantulan keyakinan dalam suara Horace
benar-benar menyentuh keras benak Virgil sehingga ia mulai menyanyikan
beberapa baris naskah. “Indah sekali”, kata isterinya. “bagaimana kalau itu
dimainkan di piano.” Malam itu mereka menyanyikan dan memainkan lagunya di
piano untuk pertama kali. Virgil P. Brock dengan semangat sukacita dan hidup-
hidup telah memimpin jemaatnya sampai ia meninggal dunia pada usia 91 tahun.

Bila pada suatu ketika anda menyaksikan keindahan cahaya matahari


terbenam, lihatlah diseberang cahaya itu. Sebarkan kemuliaan Tuhan kepada
setiap orang karena bersama Tuhan di seberang cahaya matahari terdapat hadirat
Allah dan kedamaianNya yang tak terhingga. Karena kemampuan melihat di
seberang inilah yang menuntun orang Kristen untuk hidup penuh sukacita dan
berkemenangan. Latihlah pikiran anda untuk melihat dan memikirkan mengenai
janji dan kemuliaan Surga.
Bacaan tambahan: Yohanes 14:2,3; Oilioi 3:20,21; Wahyu 21:4

(No. 109)
MAJU TENTRA YESUS
(Onward, Christian Soldiers) L. S. No. 285

Pengarang Naskah : Sabine Baring-Gould, 1834-1924


Penggubah Lagu : Arthur S. Sulliven, 1842-1900

2 Timotius 2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus
Yesus.

Pendeta Sabine Baring-Gould bukan hanya senang karena telah melamar


calon isterinya, tetapi ia juga menjadi pendeta untuk pernikahannya sendiri. Dan
ini merupakan suatu pengalaman menarik ketika mendengarkan pendeta yang
menikahkan pengantin, juga sendiri adalah pengantin pria. Dan pedeta Sabine
sendiri bertanya: “Maukah kamu, Sabine, mengambil wanita ini, Grace, untuk
menjadi isterimu yang sah?” ia sendiri menjawab: “Saya mau.” Dan setelah
waktu tiba untuk pengantin wanita mencium pengantin pria, pada saat yang sama
ia mencium juga pendetanya.

Sabine diurapi menjadi pendeta Church of England tahun 1864 setelah


menyelesaikan gelar BA dan MA dari Clare College, Cambridge, Inggris. Ia juga
seorang penulis yang telah menghasilkan delapanpuluh lima buku dengan pokok
bahasan agama, perjalanan, cerita rakyat, mitologi, sejarah, fiksi, biografi, khotbah
dan theologi populer sampai pengalamannya menghadapi hantu-hantu di kastil-
kastil tua inggris. Semua penulisannya menjadi terkenal dan British Museum
memiliki lebih banyak judul dari penulisan Sabine melebihi para penulis lainnya.
Saat menjadi kepada St. John’s Church, Horbury Bridge, Yorkshire, di suatu
minggu petang ia khusus merencanakan sebuah khotbah dengan judul “Missions”.
Setelah gagal mencari hymne yang cocok dengan khotbahnya, ia mengarang
sendiri naskah dengan judul “An Evening Hymn for Mission.” Teringat akan
sebuah nada ketika ia mengadakan perjalanan dengan sepeda di Jerman, ia
padukan nada dan naskah karangannya dan terlahirlah lagu yang diberi nama
“Eudoxia”.

Perayaan Pentakosta yang jatuh pada hari Minggu, yaitu hari ke limapuluh
setelah Jumat Agung, terkenal di Inggris dengan nama Whitsunday, sebuah
kependekan dari White-Sunday atas dasar kepercayaan bahwa semua yang
mengikuti perayaan ini harus memakai baju berwarna putih. Hari berikutnya,
yaitu Whitmonday sama legal sebagai suatu hari raya gereja. Pada Whitmonday
tahun 1865, Baring-Gould mengatur suatu acara jalan kaki bagi anak-anak di
jemaatnya, menuju ke gereja di desa tetangga untuk hadir dalam perayaan
Whitmonday. Agar anak-anak ini tetap barisan dan memudahkan orangtua
mengatur mereka, ia meminta para pembantunya menyediakan sebuah hymne mars
yang baik. Jemaat tidak sanggup menyediakan lagu yang diminta bahkan mereka
menganjurkannya untuk mengarang lagu tersebut seperti hymne missionari yang
telah ia karang sebelumnya. Tanpa kesulitan, pendeta yang berusia tigapuluh satu
tahun ini mengarang naskah lagu yang ia kehendaki dengan ukuran metrik yang
sama 6.5.6.5.D. (Baris pertama dan ketiga memiliki 6 suku kata; kedua dan ke-
empat 5 suku kata, dengan pola keseluruhannya digandakan ke dalam puisi
delapan baris).

Sebuah naskah hymne seperti ini harus dikawinkan dengan lagu indah.
Naskah lagu Baring-Gould untuk pertama kali dinyanyikan dengan gaya lambat
Symphomi Haydn dengan nada D, tetapi perpaduan ini dilupakan. Nada yang
digunakan sekarang bernama “St. Gertude,” digubah oleh Arthur S. Sullivan enam
tahun setelah penulisan naskahnya. Sullivan yang lahir di Bolwell Terrace,
Lambeth, Inggris tanggal 13 Mei, 1842 adalah seorang organist terkenal dan
penggubah lagu. Naga ini di tulis di rumah Ny. Getrude Caly-Ker-Seymer di
Dorsetshire, Inggris, dan sampai dewasa ini terkenal denang nama “Gertrude.”
Sullivan juga adalah penggubah lagu klasik terkenal, “The Lost Chord,”
sedemikian pula dengan sejumlah opereta, antara lain “Pinafore,” “The Mikado,”
dan lain-lain. Versi lagu ini untuk pertama kali diterbitkan di Amerika dalam buku
lagu John R. Sweney, Gems of Praise, oleh Methodist Episcopal Book Room di
Philadelphia, tahun 1873.
Kehidupan orang Kristen sering dibandingkan dalam Alkitab sebagai
peperangan-pergumulan antara dosa melawan kebenaran dan daging melawan roh.
Setiap pengikut Kristus terpanggil menjadi prajurit yang baik. Ini melibatkan
motivasi, pelatihan, disiplin, perlawatan yang cukup dan daya tahan. Hymne ini
memperingatkan gereja sedunia, tubuh umat percaya yang telah “dipanggil keluar’
dari berbagai suku, bangsa, bahasa dan kultur untuk menjadi badan yang bersatu
dan agresif. Ia harus selalu maju dalam misinya dan tidak boleh berada dalam
keadaan stagnasi dan merasa puas dengan status quo. Bagaimana efektifkah
pelayanan jangkauan kelur jemaat anda? Lagukan nyanyian ini saat anda
merefleksikan misi Yesus Kristus untuk menyelamatkan.

Walaupun ia hidup mencapai usia sampai 95 tahun dan menulis lebih dari 80
buku sebelum kematiannya di tahun 1924, Baring-Gould di kenang sebagai
pengarang salah satu lagu terindah dan mars militan bagi dunia Kristen.

Bacaan tambahan: I Kor 16:13; Efesus 6:10-18; I Tim 6:11,12.

(No. 110)
BUKA MATAKU, YA TUHAN
(Open Ny Eyes, that I may See = L.S.No. 288)

Pengarang Naskah : Clara H. Scott, 1841-1897


Pengubah Lagu : Clara H. Scott, 1841-1897

Mazmur 119:18 Singkaplah mataku, supaya aku memandang keajaiban-


keajaiban dari TauratMu.

Kita berkomunikasi dengan mata seperti juga dengan suara dan indra
lainnya. Seringkali mata kita mengirim berita kepada yang orang lain, suatu
rahasia yang seharusnya milik kita saja. Kantung kulit dan warna hitam yang
terdapat di bawah cairan di bagian kulit bawah mata dan akan semakin menipis
karena kehilangan elastisitas dengan bertambahnya umur. Kelelahan mata, iritasi
mata atau penyakit mempengaruhi mata. Orang lain dapat mengetahui keadaan
kita melalui apa yang mereka lihat pada mata kita. Yang utama di sini ialah apa
yang kita lihat, pandang, dan selidik.

Alkitab mengajarkan bahwa iman kita dalam Kristus menggunakan semua


indra yang telah Allah berikan:
PENGLIHATAN: Dalam Alkitab kata “lihat” terdapat 1.974 kali dalam 1.796
ayat. Yesaya 45:22 Berpalinglah kepadaKu dan biarkanlah dirimu diselamatkan,
hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. King James
Version katakan: “Pandanglah padaKu.....”

PENDENGARAN: Alkitab mencatat kata “dengar” sebanayak 2.547 kali dalam


2.275 ayat. Yesaya 55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaKu;
dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi
dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.

PENCIUMAN: Kidung Agung 1:3 harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang
tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta padamu!

JAMAHAN: Matius 9:21 Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja
jubahNya, aku akan sembuh.”

KECAPAN: Mazmur 34:9 Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!
Berbahagialah orang yang berlindung padaNya!

Agar boleh menerima kebenaran Tuhan dengan sempurna, indra kita


seutuhnya harus disiagakah untuk mendengarkah setiap bisikanNya. Pada
umumnya, sebagian besar orang Kristen tidak dengan sengaja, dramatis dan
terang-terangan melawan perintah Tuhan. Mereka hanya tidak memperhatikan dan
peka atas tuntunanNya pada bagian-bagian kecil hidup mereka. Betapa pentingnya
kita memperhatikan apa yang di ajarkan naskah hymne ini bahwa kita patut
memiliki mata yang melihat, telinga yang mendengarkan, komunikasi verbal akan
kebenaran, dan hati yang penuh kecintaan untuk membagikan kasih Tuhan. Semua
ini dimungkinkan bila kita diterangi oleh Roh Kudus selama waktu penantian yang
tenang.

Clara Scott, pengarang naskah dan penggubah lagu ini adalah guru musik
Ladies’ Seminary Lyons, Iowa. Nyonya Scott adalah pengarang lagu dan musisi
instrumental dan vokal yang banyak karyanya. Ia menulis sebuah buku berjudul
The Roayl Anthem Book, diterbitkan tahun 1882. sejak itu bukunya digunakan
meluas oleh umat percaya dalam kesadaran bahwa Tuhan akan membuka
kehidupan dan keralaan menurut akan FirmanNya. Mintalah Tuhan mengaktivasi
indra anda untuk menerima kebenaranNya dan membut anda lebih peka terhadap
kebutuhan ornag lain yang mau mendengarkan “kehangatan Kebenaran dan
mengalami kasihNya. (Yakobus 1:22 Tetai hendaklah kamu menjadi pelaku
Firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu
menipu diri sendiri).

Bacaan tambahan: Maz 40:8; Ams 16:9; Mat 13:6; Luk 8:18; Yoh 7:17.

(No. 111)
KU SEMBAH JURUSELAMAT
(He Lives = L.S. No. 194)

Pengarang Naskah : Alfred H. Ackley, 1887-1960


Penggubah Lagu : Alfred H. Ackley, 1887-1960

Matius 28:6 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bengkit, sama seperti yang telah
dikatakanNya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

“Mengapa saya harus memuja seorang Yahudi yang mati?” pertanyaan


menantang ini ditanyakan oleh seorang pemuda Yahudi dengan serius ketika
menghadiri evangelisasi yang dipimpin Alfred A. Ackley, pengarang naskah
sekaligus penggubah lagu ini. Dalam bukunya Forty Gospel Hymn Stories,
George W. Sanville mencatat jawabah Ackley terhadap pertanyaan tajam tersebut,
yang pada akhirnya melahirkan lagu gospel populer ini.

“Ia hidup”, inilah jawaban saya, “Ia tidak mati, tetapi Ia hidup, sekarang dan
di sini. Saya dapat buktikannya melalui pengalam saya sendiri, seperti juga
kesaksian ribuan orang lainnya.”

Jawaban terang-terangan dan tegas tuan Ackley, bersama usahanya untuk


menenangkan orang ini kepada Kristus, berkembang menjadi lagu pujian dan
mengelidik kembali kebangkitan Yesus yang di catat dalam empat Injil, kata “Ia
Hidup” benar-benar menyentuhnya dengan arti baru. Dari getaran jiwanya
telahirlah lagu meikat ini yang di beri judul “He Lives”. Pembuktian Alkitab, isi
hatinya sediri, dan kesaksian sejarah cocok dengan pengalaman mulia yang
disaksikan orang lain bagaikan sejarah cocok dengan pengalaman mulia yang
disaksikan orang lain bagaikan awan banyak saksi. Segera ia menghadap piano
dan menyanyikannya. Ackley berkata: “Pemikiran mengenai kemaha-hadiran
Tuhan membuat saya dengan cepat dan mudah mengarang dan menggubah lagu
ini.” Yakin betul dalam kehidupan kita bahwa Yesus itu hidup dan sekarang hidup
dalam kehidupan kita.

Kebangkitan membuktikan bahwa:


1. Yesus Kristus adalah Anak Allah (Roma 1:4)
2. Keselamatan sudah disempurnakan dan pengorbananNya telah diterima
(Roma 4:24-5)
3. Umat percaya dapat hidupkan kehidupan yang kudus (Roma 6:4)
4. Kita mempunyai Pembela yang mulia (Roma 8:34)
5. Kristus adalah Tuhan (Roma 14:9)
6. Ia telah menentukan suatu hari untuk menghakimi dengan adil (Kisah
17:31).
7. Ada kebangkitan umat percaya (Yohanes 5:24-29)

Bacaan tambahan: Ayub 19:25; Rm 6:9,10; Fil 3:10,11; Why 1:18.

( No. 112 )
PERTAHANKAN BENTENG
(Hold the Fort= L. S. No. 297)

Pengarang Naskah : Philip P. Bliss, 1838-1876


Penggubah Lagu : Philip P. Bliss, 1838-1876

Wahyu 2:25 Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang.

Phillip P. Bliss seorang telah mengarang dan mengubah lagu Gospel dan
salah satu dari lagu-lagu inspirasinya yang membangkitkan semangat adalah “Hold
the Ford”. Lagu ini digunakan oleh Mayor Whittle, seorang Perwira Sipil Amerika
ketika berpidato di YMCA, dengan ayat tema Why 2:25. Ilustrasi yang dibawakan
Mayor Whittle ialah mengenai pengalaman pasukan tentara Utara yang diberi
tanggung jawab mengawal sejumlah besar perbekalan mereka. Mereka digempur
habis-habisan oleh pasukan Konfederasi yang lebih besar jumlah tentaranya.
Namun pada akhirnya, jenderal French dari pasukan Konfederasi memerintahkan
anak buahnya untuk menyerah. Mereka melihat sinyal berita dari jenderal
Sherman dari Utara yang dipasangkan di atas bukit: “pertahankan Benteng, saya
segera datang. Sherman.” Cerita ini begitu memikat perhatian Bliss sehingga
malam itu ia tidak dapat tidur sampai ia menyelesaikan naskah dan sekaligus
lagunya.
Pada pertemuan hari berikutnya, Bliss memperkenalkan hymne barunya
kepada semua peserta dan segera mendaptkan sambutan meriah. Lagu ini
kemudian menjadi favorite dan terkenal dalam evangelisasi Moody-Sankey baik di
Inggris maupun di Amerika Serikat. Ketika Moody dan Sankey meninggalkan
Inggris di tahun 1874, Lord Shaftesbury memberikan sambutan perpisahan dengan
kalimat berikut: “Tuan Sankey telah membawa berkat besar bagi Kerajaan Inggris
oleh mengajarkan lagu “Hold the Ford.” Yang memiliki nilai melebihi semua
perongkosan dalam pertemauan-pertemuan kita selama ini.”

Walupun Philip Bliss tidak menganggap bahwa lagunya ini merupakan yang
terbaik dari semua karangan dan gubahannya, tetapi inskripsi pada tugu peringatan
di rome, Pennsylvania tercatat: “P. P. Bliss, outhor of “Hold teh Ford.”

Allah memanggil setiap umat percaya untuk menurut dan setia dan tidak
mencari keuntungan duniawi. Kesukaran dan kekalahan itu normal bagi setiap
kehidupan keKristenan. Sambutan kita terhadap situasi negatif seperti ini saja
menghancurkan atu sebaliknya lebih meneguhkan ketahanan dan kepercayaan kita
kepada Allah. Ciri khas seorang juara atletik bukan terletak pada bagaimana
responsnya terhadap kemenangan, tetapi bagaimana ia menghadapi kekalahan pada
pertandingan-pertandingan lalu.

Bacaan tambahan: Matius 10:22; Roma 5:3; II Tim 2:10; Ibr 12:2,6,7; Yak
1:12.

(No. 113)
TIADA SAHABAT SEPERTI YESUS
(No, Not One = L.S. No. 198)

Pengarang Naskah : Johnson Oatman, Jr., 1856-1922


Penggubah Lagu : George C. Hugg, 1848-1907

Yohanes 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu,
apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena
Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar
dari Bapa-Ku.

Melalui Kristus, kita yang di anggap miskin oleh dunia telah menjadi kaya
dalam iman (Yak 2:5)
 Ia telah dilahirkan agar kita dilahirkan kembali (Yoh 1:14)
 Ia menjadi hamba agar kita menjadi anak (Gal 4:6,7)
 Ia tidak mempunyai rumah agar kita mempunyai rumah di Surga (Matius
8:20)
 Ia dibuat menjadi dosa agari kita dibuat menjadi benar (II Kor 5:21)
 Ia telah mati agar kita dapat memiliki kehidupan (Yoh 5:24, 25).
Ini adalah salah sebuah lagu favorit sekolah Minggu yang di nyanyikan
dalam bahasa anak-anak untuk mengagungkan Tuhan. Khas sebuah lagu gospel
yang menggunakan penggulangan frase “Tuhan-ku” sehingga memudahkan orang
dari segala zaman dan latar bekakang menyanyi dengan gembira pujian bagi
Kristus. Lagu gospel seperti ini dapat mengajarkan kepada anak-anak kebesaran
dan keunggulan Tuhan dan kedekatanNya pada kita dalam setiap situasi
kehidupan.

Pengarang naskah Johnson Oatman, Jr., adalah seorang pendeta gereja


Methodist, namum sebagian besar hidupnya di dedikasikan dalam pekerjaan
asuransi. Ia menulis sejumlah besar hymne gospel termasuk “Higher Ground” dan
“Count your Blessing.”

George C. Hugg, penggubah lagu, adalah seorang musisi dan pemimpin


biduan berbagai gereja di wilayah Philadelphia. Ia juga aktif menulis dan
menerbitkan lagu-lagu sekolah Minggu saat itu. Ketika dalam ketegangan dan
kesepian, lirik-lirik sederhana lagu ini yang dahulu untuk pertama kali
dikumandangkan pada kelas-kelas sekolah Minngu, sekarang masih melayani
jemaat dan umat Tuhan. Yang membuat kita kuat bukan yang di makan, tetapi
yang dicerna. Yang membuat kita kaya bukan yang diperoleh, tetapi yang
disimpan. Yang membuat kita mengingat bukan yagn dibaca, tetapi yang
dipelajari. Yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati bukan yang
dikhotbahkan, tetapi kehidupan Kristus yang di praktekkan dalam hidup ini.
“Tiada sahabat seperti Yesus, Tuhan-ku, Tuhan-ku.”

Bila kebutuhan terbesar kit adalah informasi, Allah akan kirimkan seorang
pendidik atau guru. Bila kebutuhan terbesar kita adalah tekhnologi, Allah akan
kirimkan seorang ilmuwan. Bila kebutuhan kita adalah uang, Allah akan kirimkan
seorang ahli ekonomi. Bila kebutuhan kita adalah kesenangan, Allah akan
kirimkan seorang penghibur. Tetapi kebutuhan terbesar kita adalah pengampunan,
oleh sebab itu Allah kirimkan Juruselamat. “Tiada sahabat seperti Yesus, Tuhan-
ku, Tuhan-ku.”

Bacaan tambahan: Ams 18:24; Mat 11:29; Yoh 8:12; II Kor 5:1; Why 3:20.

(No. 114)
APAKAH ENGKAU SUSAH
(Turn Your Eyes Upon Jesus = L.S.No 299)

Pengarang Lagu : Helen Howarth Lemmer, 1864-1961


Penggubah Lagu : helen Howarth Lemmel, 1864-1961

Ibrani 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada
Yesus, yang memimpin kita dalam iman, day yang membawa iman kita itu
kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul
salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah
kanan takhta Allah.

Aku memandang wajah Yesus...sungguh amat mengagumkan


Oh, wajah yang indah mulia; Oh kepedulian dalam jamahan-Nya
Di dunia ini saja kita sudah sangat diberkati, bagaimana besarnya berkat di
surga nanti? W. Spencer Walton

Di kehidupan sera cepat dewasa ini, sangat mudah bagi kita terperangkap
dalam hal-hal duniawi sehingga nilai-nilai kekekalan menjadi kabur dan hampir
terlupakan. Sejak menjalani kehidupan di bulan pertama setiap tahun, dan
melewati hari demi hari perjalanan sepanjang tahun, kita membutuhkan lagu ini
untuk mengingatkan bahwa Yesus Kristus harus menjadi pusat perhatian dan inti
kehidupan kita. Tujuan utama ialah mengejar kerajaan Allah dan kebenaran-Nya
dan mencapai kemenangan gemilang.

Pada tahun 1918, Hellen Howarth Lemmel, penulis dan penggubah lagu ini
menerima sepucuk traktat dari seorang sahabat misionari. Saat membaca traktat
tersebut, perhatiannya terpusat pada kalimat: “Sekarang, pandanglah pada Yesus,
lihatlah wajah-Nya yang mulia, dan akan anda dapati bahwa perkara-perkara
duniawi kelihatan suram.”

Tiba-tiba ia merasakan dan mendengarkan bisikan halus sebuah nada lagu


dalam hatinya. Sadar akan hal ini ia mulai mendengungkan lagunya dan pada
minggu berikut ia mengarang naskah lagu tersebut. Sejak hari itu hymne Helen
Lemmel telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan digunakan Tuhan
menantang umatNya di seluruh dunia untuk hidup bagi Dia dan pekerjaan-Nya.
Ambil tujuan untuk memandang wajah Yesus dan hidup dalam persekutuan
sepenuhnya dengan Dia sekarang dan seterusnya. Biarkan kata-kata lagu ini
mengignatkan ktia untuk menghadapi setiap situasi dengan wajah terpusat pada
Yesus.

“Pandanglah pada Yesus, Lihat wajah-Nya yang mulia. Dan lenyaplah


kesenangan dunia, Dalam trang kemuliaan-Nya.”
Bacaan tambahan : Yesaya 45:22; Matius 6:33; Kolose 3:1-4

(No. 115)
YESUS HARTA YANG TERINDAH
(Jesus is All the World to Me) L.S. No. 301

Pengarang Naskah : Will L. Thompson, 1847-1908


Penggubah Lagu : Will L. Thompson, 1847-1909

Pilipi 3:8,9 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan
Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah
aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku
memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri
karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena
kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan
berdasarkan kepercayaan.

Will L. Thompson, penulis dan penggubah lagu ini terkenal sebagai “Bard of
Ohio” karena talenta musiknya. Ia mnulis sejumlah besar lagu sekular dan hymne
gereja terkenal dan mengedit serta menerbitkan berbagai koleksi lagu. Namun
kepada Thompson diaktakan bahwa kesukaan terbesrnya ialah menulis dan
menyanyikan lagu-lagu gospel sederhana tentang Juruselamat dan Tuhan-nya. Ia
telah menyiapkan hymne Kristiani di antaranya dua lagu terkenal yang digunakan
Tuhan sampai sekarang. Kedua hymne tersebut ialah (1) suatu lagu kesaksian
orang kristen, “Jesus is All the World to Me”, dan (2) sebuah lagu panggilan yang
telah berpengaruh besar menuntun banyak orang kepad Juruselamat, “Softly and
Tenderly Jesus Is Calling”.

Pada suatu hari Will Thompson mengunjungi D.L. Moody, ketika evangelist
terkenal ini terbaring di tempat tidur menjelang kematiannya. Sebenarnya semua
orang telah dilarang untuk memasuki kamar Moody, tetapi ketika ia mendengar
bahwa Will Thompson hadir di rumahnya, ia memaksakan diri untuk ditemui Will.
Saat Thompson berdiri di sisi tempat tidur Moody, evangelis ini berkata: “Will,
saya merasa beruntung kalau menulis “Softly and Tenderly Jesus Is Calling”
melebihi semua yang telah saya lakukan seumur hidup saya.” Tidak lama setelah
ia mengucapkan kata-kata tersebut mengenai lagu yang selalu ia gunakan dalam
evangelisasinya, Moody kemudian membisikkan kata-kata ini: “Pulang, pulang.
Yeng letih amri pulang. Dengan tekun dan lembut Yesus memanggil orang
berdosa, marilah pulang.” Demikianlah Moody meninggal dunia dalam
kedamaian.
Sejak itu kata-kfata hymne Will Thompson tersebar luas melalui terbitan
koleksi hymnenya tahun 1904, dan hingga kini diekspresikan oleh semua umat
percaya atas dedikasi ketergantungan mereka pada Kristus. Tiga hal penting dalam
hidup ini (1) Hidup dalam kesempurnaan iman, (2) Hidup dalam penyesuaian diri,
dan (3) Hidup dalam pencapaian tujuan.

Bacaan tambahan : Yohanes 15:14,15; Pilipi 1:21; 4:12; 1 Petrus 2:21; 1


yohanes 2:25.
(No. 116)
DALAM HATIKU ADA LAGU
(I have a Song that Jesus Game Me) L.S. No. 302

Pengarang naskah : Elton M. Roth, 1891-1951


Penggubah Lagu : Elton M. Roth, 1891-1951
Mazmur 98:1,4 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah
melakukan perbuatan-perbuatan yfang ajaib; keselamatan telah dikerjakan
kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lenganNya yang kudus. Bersorak-
soraklah bagi TUHAN, hai seluluruh bumi, gembiralah, bersorak-sorailah dan
bermazmurlah!

Raja Salomo, salah seorang terbujak yang pernah hidup mengemukakan


ungkapan berikut: Amsal 15:13 Hati yang gembira membuat muka beseri-seri,
tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Dan Amsal 17:22 hati yang
gembira adalah obat yang manjur tetapi semangat yang patah mengeringkan
tulang.
Profesi medis juga telah menyadari bahwa mereka yang bergembira adalah yang
paling sehat. Tetapi bagaimana seseorang dapat memperoleh kegembiraan dan
sukacita? Anak-anak Tuhan tau bahwa semakin dekat kita dengan kristus semakin
bersukacitalah kita. Dan lebih dari itu, sukacita yang dialami haruslah juga
menjadi sukacita yang diekspresikan.

Hal ini patut dipraktekkan dalam kehidupan masing-masing pribadi


sedemikia pula dalam pelayanan di jemaat. Kebaktian yang benar harus memiliki
ramuan sukacita perayaan. Pamazmur mengatakan bahwa ktia harus “bergembira,
bersorak sorai dan bermazmur bagi TUHAN dengan kecapi dan lagu yang
nyaring,” (Mazmur 98:5). Seringkali kehidupan umat percaya memberi impresi
bahwa pengalaman ke Kristenan adalah suatu disiplin kasar tanpa sukacita yang
ditanggung dalam rasa sakit tanpa berkeputusan sampai upah surga diberikan.
Terbukti bahwa sangat sedikit terlihat kegembiraan atau pujian dalam setiap
kesaksian.

Penulis naskah dan penggubah lagu ini, Elton Roth adalah seorang musisi
terkenal di jamannya. Sementra membantu kebaktian kebangunan rohani di Texas
pada musim panas tahun 1923, muncullah inspirasi kata dan nada hymne ini di
benak Elton. Malam itu juga ia memperkenalkan lagunya melalui suara 200 anak
laki-laki dan perempuan. Mereka menyanyi di alam terbuka dan kemudian seluruh
anggota jemaat bergabung dalam satu koor besar. Elton Roth berkata bahwa ia
sangat terkesan dan merasa seakan-akan seluruh tubuh dan jiwanya telah
ditransformasikan ke dalam lagu ini. Bila perbaktian dan pengalaman pribadi kita
dipenuhi lagu pujian dan sukacita, maka mudah bagi kita mendorong orang lain
untuk memiliki sukacita yang sama.

Sukacita tidak dapat ditemukan dalam: (1) Ketidakpercayaan. Voltaire


adalah tipe nyata-nyata seorang kafir. Ia menulis: “Saya ingin agar saya tidak
dilahirkan.” (2) Kepelisiran. Lord Byron hidup dalam kepelisiran. Ia menulis:
“Penyakit cacing, kebusukan, dan dukacita telah menggerogoti saya sendirian.” (3)
Uang. Jay Gould, milioner Amerika memiliki semua yang ia inginkan. Ketika
dalam keadaan sekarat ia berkata : “Saya tahu bahwa sayalah orang paling
sengsara di dunia..” (4) Posisi dan kemashyuran. Lord Beaconstield menikamati
sepuas-puasnya kedua hal ini. Ia menulis: “Masa muda adalah suatu kesalahan;
kedewasaan adalah suatu pergumulan; masa tua adalah suatu penyesalan.” (5)
Kebesaran militer. Alexander Agung (Iskandar Zulkarnain) mengalahkan dunia
pada jamannya. Setelah itu ia menangis dalam tendanya sebelum berkata: “Tidak
ada lagi dunia yang harus dikalahkan.” Sukacita tidak dapat ditemukan dalam apa
atau siapa pun. Sukacita sejati hanya diperoleh dalam Yesus kristus.

Bacaan tambahan: 1 Tawarikh 16:8-10; Nehemia 8;10; kolose 3:16.

(No.117)
TUHAN, TOPAN SEDANG MENDERU
(Master, the Tempest is Raging= L.S.No. 328)

Penggaran Naskah : Miss Mary Ann Baker,


Penggubah lagu : Horatio R. Palmer, 1832-1907

Markus 4:37-39 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dasyat dan ombak
menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan
air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-
muridNya membangunkan Dia dan berkata keapadaNya: “Guru, Engkau tidak
peduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata
kepada danau itu: “Diam! Tenang!” lalu angin itu reda dan danau itu menjadi
teduh sekali.

“Tuhan tidak perduli saya dalam keluarga saya,” kata Mary Ann Baker.
Mengapa demikian? Mary Ann baru saja menerima berita dari selatan bahwa
saudaranya yang sangat dia cintai telah meniggal dunia setelah menderita penyakit
berbulan-bulan. Mary Ann melukiskan saudaranya itu sebagai pemuda gagah
dengan karakter yang menjanjikan.” Penyakit yang di derita saudarnya itu juga
telah merenggut nyawa ayah dan ibunya. Pemuda Baker ini meninggalakan
Chicago dan megadakan perjalanan ribuan mil untuk mendapatkan iklim panas
yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Karena iklim musim salju yang lembab
membuat penyakitnya bertambah parah. Namun kondisi saudaranya semakin
memburuk dan ketika ia sakit keras ia meminta Mary Ann untuk mengunjunginya,
tetapi Ann sendiri sedang sakit. Mereka berdua, kakak beradik saling merim
telegram selama dua minggu berturut-turut sampai datang telegram terakhir dari
sahabatnya dan mengatakan bahwa adiknya sudah meningal dunia.

Mary Ann berkata: “Saya selalu berusaha untuk percaya kepada Kristus, dan
mengkonsekrasikan hidup saya kepadaNya. Tapi ini terlalu berat dan tidak dapat
lagi di tanggung. Apa yang telah saya perbuat sahingga ini semua menimpa saya?
Dan apa yang tidak saya perbuat sehingga Tuhan membalasnya pada saya?”

Namun setelah beberapa minggu berlalu, Tuhan menentramkan hatinya dan


kemudian dia sendiri saksikan, bahwa ia sendiri memiliki “hati yang tidak di
kuduskan.” Perlahan-lahan ia mengakui bahwa Bapa adalah Allah yang megasihi,
apakah di waktu sehat atau sakit, kaya atau miskin, dan apakah kita berhasil atau
gagal, hidup atau mati. Iman yang semakin dalam dan kaya mulai menguasainya
dan merubahnya dari seorang gadis yang pemberontak menjadi anak yang penurut.

Pada saat itu, di tahun 1874, Pendeta H.R. Palmer memintanya untuk
mengarang labu untuk pelajaran Sekolah Minggu. Salah satu tema pelajaran ialah
“Christ Stilling the Tempesst” (Kristus Mendiamkan Angin Ribut). Ayat di ambil
dari markus 4:37-39 yang mengandung kata-kata terkenal ini: Ia pun bangun,
menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu
angin itu redah dan danau itu menjadi teduh sekali.

Dari pengalaman tragedinya ia telah pelajari bahwa seringkali Kristus


mendiamkan hari yang gelisah, dan sesungguhnya seperti Ia mendiami lautan yang
bergelora. Dan mujizat Yesus itu juga telah merubah hati penakut para muridNya
sebagaimana mendiamkan elemen alam. Dan berdasarkah pengalaman hidupnya
itu ia menulis bait demi bait:
Tuhan, topan sedang menderu, Dan ombakpun memalu
Langit cerah menjadi hitam, Hilang segala harapan
Oh Tuhan, bangunlah sekarang, Berilah pertolongan
Bahaya kini sedang mengancam, Bergelora laut yang dalam.
Ketika selesai menulis, ia telah mendapat tiga bait dan chorus (Ulangan) dan
Dr. Palmer sendiri yang menggubah lagunya. Lagu ini pertama kali di terbitkan
dalam “Songs of Love for the Bibe School”, namun baru tujuh tahun kemudian
baru menjadi Hymne terkenal.

James A. Garfield, Presiden Amerika Serikat baru saja meninggalkan


kantornya di White House dalam perjalanan menuju William College, untuk
menghadiri reuni kalas tamatan tahun 1881. Seorang pencari kerja yang kecewa
menembak Garfield sementara ia berjalan menuju kereta api di Washington, D.C.
Selama 4 minggu Garfield berjuang di antara hidup dan mati dan di antara minggu-
minggu tersebut rakyat Amerika berulang-ulang melagukan lagu ini: “Tuhan,
Topan Sedang Menderu”. Mereka menyanyidan berdoa untuk kesembuhan
presidan Garfield, namun ia meninggal dunia pada tanggal 19 Septembaer 1881.
sejak itu dan seterusnya lagu ini dicetak dan diulang cetak dan diterbitkan dalam
buku-buku lagu dan secara permanen hidup dalam hati umat dan gereja.

Pengarang, Mary Ann Baker bertumbuh terus dalam kasih karunia dan
pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat, Yesus Kristus, sampai ia sendiri berkata:
“Jalan Tuhan adalah yang terbaik.”

Bacaan tambahan: Maz 95:5-7; Yes 57:19-21; Nah 1:4; Why 15:2,3; 22:1,2.

(No. 118)
AMAZING GRACE

Pengarang Naskah : John Newton, 1725-1807 ( veses 1-4 )


Jhon P. Rees, 1828-1900 ( vers 5 )
Pengaruh Lagu : Carell & Clayton’s Verginia Harmony, 1831

2 Korintus 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada
kamu, supaya kamu senantisa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah
berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
Jhon Newton, pengarang lirik lagu ini meyebut dirinya “ orang malang” . Ia
tinggalkan sekolah pada umur 11 tahun kemudian menjadi pelaut kasar dan
peminum. Akhirnya ia ikut serta dalam praktek tercela menangkap dan menjual
penduduk asli afrika selatan ke pasar-pasar budak seluruh dunia. Tetapi pada suatu
hari oleh kasih karunia Tuhan membusat hati pelaut penjual budak ini menjadi
sangat kecut ketika kapalnya dilanda angin topan yang ganas. Karena takut
mengalami kapal karam, newton mulai membaca buku The Imitation of Christ oleh
Thomas’a kempis. Tuhan menggunakan buku ini untuk menuntunnya dalan
pertobatan sejati dan secara dramatis merubah jalan hidupnya.

Setelah pengalaman tersebut, Newton merasa terpanggil untuk mengmbil


jurusan kependetaan melalui pengaruh besar dan dorongan dua bersaudara John
dan Charles Wesley bersama Gorge Whitefield. Pada umur 39 tahun John Newton
menujadi pendeta gereja Anglikan di desa kecil Olneym dekat Cambridge, Inggris.
Untuk menambah dampak kekuatan bagi khotbah-khotbahnya yang berapi-api,
Newton memperkenalkan hymne-hymne sederhana yang menyentuh menggantikan
nyanyian mazmur dan tahlil yang monoton dan membosankan. Bila tidak ada lagi
lagu baru, Newton mulai menulis naskah dibantu sahabat dekatnya,William
Cowper. Di tahun 1779 usaha bersama kedua orang ini menghasilkan buku lagu
Olney Hymns dan “ Amazing Grace” terdapat dalam koleksi ini.

Sampai saat kematiannya pada umur 82 tahun, John Newton tidak pernah
berhenti mengagumi kasi Allah yang mengubahnya dengan begitu sempurna.
Dekat kepada kematiannya ia berkata dengan suara keras dalam salah satu
khotbahnya : “Daya ingat saya sudah hampir punah, tetapi saya masih mengingat
dua hal, bahwa saya adalah seorang berdosa terbesar dan Kristus adalah
Juruselamat terbesar.”

Amazing grace, how sweet the sound, that saved a wretch like me. I
once was lost but now am found, was blind but now I see.

“Twas grace that taught my heart to fear, and grace my fears relieved;
ow precious did that grace appear the hour I first believed

Thru many dangers, toils and snares I have already come;


‘this grace hath brought me safe thus far, and grace will lead me home.

The Lord has promised good to me; His word my hope sucesres;
He will my shield and portion be as long as life endures.
When we’ve been there ten thousand years, bright shining as the sun;
We’ve less days to sing God’s praise than when we’d first begun.

Bacaan tambahan : I Taw 17:16,17; Yoh 1:16,17; Roma 5:20,21.

(No. 119)
BECAUSE HE LIVES

Pengarang Naskah : Gloria Gaither, 1942-


Pemggubah Lagu : William J. Gaither, 1936

Yohanes 14:19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi
kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.

Kebangkitan Kristus adalah jaminan kita dari sekurang-kurangnya dua


kebenaran dasar: (1) Ia memiliki kuasa untuk menyerahkan hidupNya bagi kita
dan pada akhirnya memuliakan kita untuk memerintah bersama Dia selama-
lamanya. (2) KebangkitanNya memustahilkan Dia hidup dalam hati kita dan
menjadikan kita seutuhnya dalam hidup sehari-hari.

Selama dua dekade lagu pujian Goria dan Bill Gaither telah memperkaya
hymne-hymne evangelisasi. Namun lagu yang menyoroti evangelisasi Gaither
secara istimewa yang menggambarkan falsafah mereka, yaitu prinsip kebangkitan
dalam rutunitas kehidupan sehari-hari ilalah “Because He Lives”. Bill Gaither
menceritakan suasana yang menyebabkan lirik-lirik lagu ini di tulis:

“Kami menulis “Because He Lives” setelah sekian lama tidak menulis lagu baru.
Pada akhir 1960-an, negara kami mengalami kekacauan besar disebabkan kultur
obat terlarang, dan teori gila yang mengatakan bahwa “Tuhan Telah Mati”. Ketika
saat-saat puncah peperangan di Vietnam, anak lelaki kami lahir. Masih teringat
oleh kami bahwa ini saat tersulit untuk membesarkan seorang anak di tengah-
tengah keadaan negara dan dunia yang begitu merosot. Seringkali kami kecewa
dengan semua hal ini. Namun lahirlah Benny yang di harapkah Gloria, isteri saya.
Kami telah dikaruniai dua anak wanita yang sangat kami cintai dan inilah anak
lelaki kami yang pertama. Menyambut kelahiran ini muncullah lirik yang
berbunyi: “How sweet to hold our new born baby, and feel the pride and joy he
gives, but better still the valm assurance that this child can face uncertain days
because He live.” (Betapa bahagia menimang bayi yang baru lahir, meresakan
kebanggaang dan sukacita yang di berkannya, tapi yang terbaik dari semua adalah
jaminan yang menentramkan bahwa anak ini mampu hadapi masa depan yang
tidak menentu sebab Kristus Hidup.”). Dan hal itu memberi kami keberanian
untuk berkata dengan kepala terangkat: ‘Karena Kristus hidup, kami dapat hadapi
hari esok.”

God sent His son-they called Him Jesus, He came to love, heal and
forgive;
He lived and died to buy my pardon; an empty graves is there to prove
my Savior lives

Chorus: Because He lives I can face tomorrow, because He lives all fear
is gone; Because I Know He holds the future and life is worth the living
just because He lives.

How sweet to hold a new-born baby and feel the pride and joy he
gives;
But greater still the calm assurance: This child can face uncertain days
because Christ lives.

And then one day I’ll cross the river; I’ll fight life’s final war with pain;
And then as death gives way to vict’ry, I’ll see the lighth of glory-and I
know He lives.

Bacaan tambahan: Yohanes 6:40; Kol 3:3,4; II Tim 1:10; I Yoh 5:11.

(No. 120)
BURDENS ARE LIFTED AT CALVARY

Pengarang Naskah : John M, Moore, 1925-


Penggubah Lagu : John M, Moore, 1925-

Yesaya 1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! – firman TUHAN – Sekalipun


dosamu merah seperti kermizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun
dosamu merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Lagu istimewa ini ditulis pada tahun 1952 oleh seorang penulis lagu
kontemporer ternama, John M, Moore, sekarang adalah pendeta dan evangelist
gereja Baptis di toronto, canada. Hymne ini ditulis berdasarkan pengalaman Dr.
Moore ketika melayani sebagai adsister pemimpin Seaman’s Chapel di Glasgow,
Skotlandia, salah satu pusat evangelisasi terkemuka di wilayah tersebut. Moore
menulis: “Saya mengarang ‘Burdens Are Lifted at Calvary’ setelah melewati suatu
pengalaman menarik. Sekretaris sebuah perusahaan kapal terbesar menelepon ‘the
Seaman’s Chapel memeinta saya melawat seorang pelaut yang sakit keras di rumah
sakit Glasgow. Setelah mendapat ijin dari perawat yang bertugas, saya masuk ke
kamar si sakit. Selesai berbicara kepadanya beberapa saat, kemudian saya
memasukkan tangan ke dalam tas untuk mengambil sehelai traktat tanpa
mengetahui traktat apa yang akan dikeluarkan. Terbukti yang saya keluarkan ialah
traktat Pilgrim’s Progress dengan lukisan berwarna mengenai seorang peziarah
yang menghampiri salib dengan beban berat di punggungnya. Saya tunjukkan
gambar ini kepada pelaut tersebut dan secara singkat menceritakan pengalaman
peziarah ini yang juga merupakan pengalaman saya. Saya jelaskan bahwa ketika
saya datang ke kaki salib Kristus, beban saya terlepas sehingga perasaan berdosa
dan bersalah di hadapan Tuhan dihapuskan. Ketika saya tanyakan kepadanya:
‘Apakah engkau merasakan beban dosa di pundakmu hari ini?’ Ia menganggukkan
kepala. Kami kemudian berdoa dan tidak pernah saya lupakan senyuman
kedamaian dan jaminan terpancar dari wajah pelaut ini ketika ia berkata bahwa
bebannya sudah terangkat.

Malam itu juga, saya duduk didepan perapian dengan kertas dan pena, dan
tidak dapat lupakan kalimat ‘his burden are lifted’ (bebanya telah diangkat). Saya
mulai menulis, tidak sedikitpun berpikir bahwa hymne kecil saya ini telah menjadi
terkenal didunia ini. Sejak itu saya berkata bahwa mereka telah diberkati dan
diselamatkan lagu pujian ini. Jangkaulah seorang berbeban berat dengan dosa dan
urusan duniawi dan bagikan kesaksian anda mengenai imanmu dalam Kristus.”

Days are filled with sorrow and care; hearts are heavy and dread
Burdens are lifted at Calvary; Jesus is very near.

Chorus: Burden are lifted at Calvary, Calvary, Calvary


Burdens are lifted at Calvary; Jesus is very near.

Cast your care on Jesus today; leave your worry and fear
Bordens are lifted at Calvary, Jesus is very near.

Toubled soul, the Saviour can see ev’ry heartache and tear;
Burdens are lifted at Calvary, Jesus is very near.

Bacaan tambahan : Roma 3:24-26; I Kor 6:11; Ef 1:7-9.

(No.121)
CHRIST AROSES
Pengarang Naskah : Robert Lowry, 1826-1899
Penggubah Lagu : Robert Lowry, 1826-1899

Roma 6:8,9 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita
akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tau, bahwa Kristus, sesudah Ia
bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas
Dia.

“Alelluia, He is Risen!” “Alelluia, He is Risen!” (haleluyah, Ia telah


bangkit). Ungkapan ini merupakan salam hormat di era permulaan keKristenan
ketika mereka saling menyapa di setiap perayaa minggu paskah. Sepanjang abad
lalu, banyak jemaat mendapat inspirasi baru ketika merayakan paskah dengan
menyanyikan lagu “Christ arose”, yang di karang dan di gubah oleh Robert Lowry
pada tahun 1874.

Robert Lowry sangat di hormati di antara para penulis hymne gospel pada
jamannya. Ia pernah bertugas sebagai guru besar literatur di Bucknell Univesity,
melayani sebagai pendeta beberapa gereja Baptis di bagian timur Amerika dan
kemudian menjadi editor musik di Big Low Publishing Company. Sering kali
orang mengatakan bahwa kwalitas terbitan berbagai karangan Lowry telah
meninggkatkan mutu lagu-lagu keagamaan di negaranya.

Di suatu malam paskah pada tahun 1874 ketika memimpin renungan malam
di rumahnya, Robert Lowry terkesan dengan peristiwa-peristiwa sehubungan
dengan kebangkitan Kristus yang tercatat dalam Lukas 24:6,7 Ia tidak ada di sini,
Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang di katakanNya kepada kamu ketika Ia
masih di Galilea, yaitu bahwa Anak manusia harus di serahkan ke tangan
orang-orang berdosa dan di salibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
Segera ia menghampiri organ kecil di ruang tamu, memainkan lagu dan sekaligus
menulis kata-kata “Christ arose”. Lagu ini di terbitkan pada tahun berikutnya dan
setelah itu menjadi terkenal di antara umat-umat Tuhan seluruh dunia. Ijinkan
kebenaran kebangkitan Kristus membaharui hidup anda sepenuhnya.

Low in the grave He lay; Jesus, my Saviour. Waitng the coming day;
Jesus my Lord.

Chorus: Up from the grave He arose,


With a mighty triumph ;’er His foes
He arose a Victor from the dark domain,
And He lives forever with His saints to reign;
He arose! He arose! Hallelujah! Christ arose.

Vainly they watch His bed; Jesus, my Saviour. Vainly they seal the
dead; Jesus my Lord.

Death cannot keep his prey; Jesus, my Savior. He tore the bars away;
Jesus, my Lord.

Bacaan tambahan: Mat 27:45-66; Yoh 19:41,42; I Kor 15:4.

(No. 122)
CLEANSE ME

Pengarang Naskah : J. Edwin Orr, 1912-1988


Penggubah Lagu : J. Edwin Orr, 1912-1988 (Maori Melody)

I Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil,
sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala
kejahatan.

Inspirasi kebangunan rohani yang menggetarkan hati di New Zealand telah


mendesak J. Edwin Orr untuk menggabungkan Mazmur 23 dan ayat 24 dari
Mazmur 139 dengan nada indah lagu rakyat kepulauan Polinesia. Sejak itu lagu
ini telah menjadi lagu pembukaan khotbah kebaktian kebangunan rohani Dr. Orr
yang memohon agar dirinya dibersihkan. Kemudian ia mengingatkan umat bahwa
menyadari akan dosa mereka, menerima penghapusan dosa dan menundukkan
kehendak mereka, nafsu, diri dan kesombongan kepada Yesus. Lagu tersebut
diakhiri dengan jaminan bahwa Allah akan mendengar seru doa dan memenuhi
kebutuhan kita.

J. Edwin Orr terkenal luas sebagai seorang evangelist unggul dan seorang
ilmuwan tersohor gerakan kebangunan kerohanian yang bersejarah. Ia telah
menulis sejumlah besar buku dan menjadi profesor misi sedunia. Ia juga adalah
dosen terbang yang mengadakan lokakarya pada 150 negara di dunia.

“Cleanse Me” di tulis tahun 1936 setelah konvesi Paskah di Ngaruawahia,


New Zealand. Kebaktian-kebaktian rohani yang mengesankan bermunculan di
seluruh kota. Terispirasi dengan tuntunan Roh Kudus, Dr. Orr. Dalam kebaktian
kebangunan rohani berikut di Australia dan di bagian dunia lainnya, ia
menggunakan lagu ini untuk mendorong suatu kebangkitan kerohaian. Tanpa
berkeputusan ia berdoa agar umat-umat Tuhan dengan rajin mendoakan
kebangunan rohani di mana saja di dunia ini.

Search me, O Fod, and know my heart today;


Try me, O Savior, know my thoughth, I pray
See if there be some wicked way in me;
Cleanse me from ev’ry sin and set me free.

I praise Thee, Lord, for cleansing me from sin,


Fulfill Thy Word and make me pure within.
Fill me with fire where once I burned with shame;
Grant my desire to magnify Thy name.

Lord, take my life and make it wholly Thine;


Fill my poor heart with Thy great love divine.
Take all my will, my passion, self and pride;
I now surrender, Lord, in me abide.

O Holy Ghost, revival comes from Thee,


Send a revival, start the work in me.
Thy workd declares Thou wilt supply our need;
For blessings now, O Lord, I humbly plead.

Bacaan tambahan : Im 19:2; Maz 51:7,10; 85:6; 139:23,24; Ef 1:4.

(No. 123)
CROWN HIM WITH MANY CROWNS

Pengarang Naskah : Marrhew Bridges, 1800-1894


Godfrey Thiring, 1823-1903
Penggubah Lagu : George J. Elvey, 1816-1893

Wahyu 19”12,13 Dan mataNya bagaikan nyala api dan di atas kepalaNa trdapat
banyak mahkota dan padaNYa ada tertulis suatu nama yang tidak di ketahyi
seorang pun, kecauli Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup
dalam darah dan namaNya ialah: “Firman Allah”.
Yesus Kristus: Kondensasi ke-Ilahian dan keagungan kemanusiaan
Philips Brooks

Dia yang telah disalibkan sambil memakai mahkota duri, sekarang di


makhotai dengan banyak mahkota sebagai Raja Sorga. Masing-masing mahkota
dalam setiap naskah lagu ini menggikan Kristus berdasarkan aspek-aspek pribadi
dan pelayananNya. Bait pertama menceritakan keabadian martabat Raja-Nya; bait
kedua untuk kasih dan penderitaan dalam penebusanNya; bait ketida bagi
kemenangan kebangkitan dan kenaikanNya; bait keempat mengemukakan Kristus
sebagai salah satu Oknum Tritunggal yang berhak dan layak disembah dan di puja.

Naskah lagu ibadah ini adalah usaha kombinasi dua orang anggota gereja
Anglikan yang berbeeda namun berkerinduan mengarang lagu yang meniggikan
penderitaan dan kemenangan Tuhan kita. Karya Matthew Bridges pertama kali
muncul pada tahun 1851 dengan enam bait. Duapuluh tiga tahun kemudian
Godfrey Thirng menulis enam bait tambahan yang diterbitkan dlam koleksinya
Hymns and sacred Lyrics. Sembangsih untuk lagu ini dalam susunanan bait demi
baitnya mencakup bait pertama, kedua dan ke-empat dari Bridges dan bait ketiga
dari Thring. Nada lagu, “Diademata” (Kata Grika untuk mahkota), di gubah
khusus untuk naskahnya oleh George Elvey, seorang organist ternama St. George’s
Chapel di Windsor, Inggris. Gereja ini merupakan gereja keluarga Kerajaan
Inggris selama bertahun-tahun.

Crown Him with many crowns, the Lamb upon His throne
Hark! How the heav’ny anthem drowns all music but its own
Awake, my soul, and sing of Him who died for thee
And hail Him as thy matchless King thru all eternity.

Crown Him the Lord of love: Behold His hands and side
Rich wounds, yet visible above, in beauty glorified
No angel in the sky can fully bear that sight
But downward bends his wond’ring eye at mysteries so bright.

Crown Him the Lord of life: who triumphed o’er the grave
Who rose vitorious to the strife for those He came to save
His glories now we sing, who died and rose on high
Who died eternall life to bring and lives that death may die.

Crown Him the Lord of heav’n: one with the Farher known
One with the Spirit thre Him fiv’n from yonder glorius throne
To Thee be endless praise, for Thou for us hast died
Be Thou, O Lord, thru endless days adore and magnified.

Bacaan tambahan: Rom 14:9; Ibr 2:7-10; Wah 1:5,6; 5:11-14; 19:1

(No. 124)
GREAT IS THY FAITHFULNESS

Pengarang Naskah : Thomas O. Chisholm, 1866-1960


Pengguah Lagu : William M. Runyan, 1870-1957

Ratapan 3:22,23 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya


rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

Salah satu pelajaran penting yang harus dikuasai dan dipelajari bangsa Israel
dalam perjalanan di padang belantara ialah bahwa Tuhan menyediakan “manna”,
roti surga atas dasar persediaan hari demi hari. Mereka tidak dapat hidup dengan
memakan manna yang sudah lama juga tidak untuk digunakan di hari-hari
mendatang (Keluaran 16:19-21).

Sementara banyak lagu dapat bertahan karena berasal dari pengalaman


dramatis pengarangnya, maka sederhana sekali lagu ini karena kesadaran
pengarang atas kesetiaan pemeliharaan Tuhan dari hari ke hari dalam
kehidupannya. Dekat pada akhir hayatnya di tahun 1960, Thomas Chisholm
menulis berikut ini: “Penghasilan saya tidak besar ditambah dengan kesehatan
yang terganggu sejak masa muda sampai dewasa ini. Tapi saya tidak pernah gagal
mencatat pemeliharaan Tuhan yang dengan ajaib memperagakan kepedulian-Nya
sehingga memungkinkan saya senantiasa bersyukur pada-Nya.”

Thomas Obediah Chisholm lahir di salah satu rumah kayu yang sederhana di
Franklin, Kentucky. Dari kehidupan yang sangat berkekurangan tanpa
mengenyam pendidikan menengah dan perguruan tinggi, ia entah bagaimana
memulai karirnya sebagai seorang guru pada umur 16 tahun disekolah yang sama
di mana ia menamatkan sekolah dasarnya. Setelah menerima Kristus sebagai
Juruselamat, ia menjadi editor The Pentacostal Herald dan kemudian diurapi
menjadi pendeta Methodist. Selama hidupnya ia menulis lebih dari 1.200 lirik
rohani yang sebagian besar digubah ke dalam hymne-hymne terkenal. Salah
satunya adalah hymne ini.

Great is Thy faithfulness, O God my Father!


There is no shadow of turning with Thee
Tho changest not; Thy compassions, they fail not
As thou hast been Thou forever will be.
Chours: Great is Thy faithfulness! Great is Thy faithfulness!
Morning by morning new mercies I see
All I have needed Thy hand hath provided
Great is Thy faithfulness, Lord, unto me.

Summer and winter, and springtime and harvest


Sun, moon and stars in their courses above
Join with all nature in manifold witness
To Thy great faithfulness, mercy and love.

Pardon for sin and a peace that endureth


Thies own dear presence to cheer and to guide
Strength for today and bright hope for tomorrow
Blessings all mine, with ten thousand beside.

Bacaan tambahan: Mazmur 9:10; 36:5-7; 102:11,12 Yakobus 1:17

(No. 125)
HIS EYE IS ON THE SPARROW

Pengarang Naskah : Civilla D. Martin, 1869-1948


Penggubah Lagu : Charles H. Gabriel, 1856-1932

Mazmur 10:29-31 Bukanlah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun
seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi diluar kehendak Bapamu.
Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah
kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

Pada suatu hari di tahun 1904, nyonya Civilia Martin, pengarang naskah
lagu ini mengunjungi seorang sahabatnya yang sakit. Ia bertanya kepada si sakit
apakah dia pernah merasa kecewa karena kondisi phisik sedemikian. Sahabatnya
dengan segera menanggapi: “Nyonya Martin, bagaimana mungkin saya bisa
kecewa sedangkan Bapa sorgawi saya memperhatikan dan memelihara saya.”
Terkesan atas jawaban dalam percakapan tersebut, nyonya martin segera
menyelesaikan sebuah naskah baru yang sejak itu menjadi sumber kekuatan umat
Tuhan di seluruh dunia.

Sungguh menarik bahwa untuk mengajarkan kebenaran besar, Tuhan kita


memilih burung kecil biasa di antara berjenis burung lainnya, burung kecil yang
kalau dijual, sangat tidak berharga. Di mata Tuhan, tidak seorang pun diremehkan.
Ia amat menaruh perhatian dan peduli dengan kehidupan kita yang terkecil
sekalipun. Juga perhatikan burung dan binatang lain yang digunakan Alkitab
untuk menginspirasikan kebenaran. Yesasa 40:31 tetapi orang-orang yang
menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama
rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak
menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. Dan Habakuk 3:17,18
Sekalipun pohon afra tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon
zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan
makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi
dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di
dalam Allah yang menyelamatkan aku.

Why should I feel discouraged, Why should the shadows come


Why should my heart be lonely and l ong for Heav’n and home
When Jesus is my portion? My constant Friend is He
His eye is on the sparrow, and I know He watches me
His eye is on the sparrow, and I know He watches me

Chorus: I sing because I’m happy; I sing because I’m free


For His eye is on the sparrow, and I know He watches me.

“Let not your heart be troubled,” His tender work I hear


And resting on His goodness, I lose my doubts and fears
Tho’ by the path He leadeth but one step I may see
His eye is on the sparrow, and I know He watches me
Whenever I am tempted, whenever clouds arise
When songs give place to singing, when hope within me dies
I draw the closer to Him; from care He sets me free
His eye is on the sparrow, and I know He watches me
His eye is on the sparrow, and I know He watches me.

Bacaan tambahan : Mazmur 40:17; Matius 6:28; Lukas 12:6,7,22-31;


Yakobus 1:1-11
(No.126)
HOW GREAT THOU ART

Pengarang Naskah : Stuart K. Hine, 1899-


Penggubah Lagu : Swedish Melody

Mazmur 145:2-4 Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak
memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan
sagnat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan
akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan
keperkasaan-Mu.

Hymne inspirasi untuk pujian dan pujaan ini mengingatkan kita akan kuasa
dan kasih Tuhan dalam ciptaan dan penebusan. Walaupun ditulis beberapa abad
lalu, hymne ini menjadi terkenal dan mulai akrab dengan kongregasi pada akhir
Perang Dunia II dan semakin terkenal secara internasional setelah Tim
Evangelisasi Billy Graham menggunakannya dalam kebaktian kebangunan rohani
pada akhir 1940-an dan permulaan 1950-an.

Naskah asli dikarang oleh seorang pendeta Swedia, Carl Boberg di tahun
1886. Sementara mengadakan perlawatan ke salah satu desa yang inda, Boberg
dihadang oleh hujan angin ribut disertai petir dan guruh. Petir dan guruh yang
mempesona dan menggetarkan itu segera berakhir, diikuti pancaran sinar matahari
dengan pemandangan alam yang mengagumkan. Ketenangan lingkungan dan
disertai siulan burung yang indah ditengah-tengah pepohonan sangat menyentuh
hatinya. Segera Boberg bertelut dalam kekaguman dan pujaan di hati kepada Allah
Yang Maha Agung, dan menulis sembilan bait pujian. Jemaat di Swedia mulai
menyanyikannya dengan nada lagu rakyat mereka. Naskahnya diterjemahkan dari
bahasa Swedia ke bahasa Jerman dan Rusia. Kemudian pendeta S. K. Hine dan
isterinya yang menjadi misionari ke Ukraina menerjemahkannya ke dalam bahasa
Inggris. Ketika pecah perang di tahun 1939, keluarga Hine kembali ke Inggris. Di
sana Pendeta Hine menambah bait ke-empat pada lagu tersebut. Sejak itu lagu ini
telah melayani dan menginspirasikan ribuan umat Tuhan diseluruh dunia.

O Lord my God, when I in awesome wonder


Consider all the worlds Thy hands have made
I see the stars, I hear the rolling thunder
Thy pow’r throughout the universe displayed

Chorus: Then sings my soul, my Savior God, to Thee;


How great Thou art, How great Thou art
Then sings my soul, my Savior God, to Thee
How great Thou art, How great Thou art

When through the woods and forest glades I wander


And hear the birds sing sweetly in the trees
When I look down from lofty mountain grandeur
And hear the brook fand feel the gentle breeze.

And when I think God, His Son not sparing


Sent Him to die, I scarce can take it in
That on the cross, my burden gladly bearing
He bled and died to take away my sin.

When Christ shall come with shout of acclamation


And take me home, what joy shall fill my heart
Then I shall bow in humble adoration
And there proclaim, my God, how great Thou Art.

Bacaan tambahan: Ul 3:24; Maz 48:1; Yesaya 40:26-28; Rm 1:20.

(NO. 127)
JESUS LOVES ME, THIS I KNOW

Pengarang Naskah : Anna B. Warner, 1820-1915


Penggubah Lagu : William B. Bradbury, 1816-1868

Lukas 18:17 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak


menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke
dalamnya.”

Diceritakan mengenai seorang profesor di Princeton Seminary yang selalu


memberikan sebutan berikut ini kepada kelas tamatannya: “Saudara sekalian, ada
banyak hal di dunia ini dan juga di dalam Alkitab yang saya tidak mengerti, tetapi
satu hal yang saya yakini dan pastikan bahwa ‘Yesus mengasihiku, karena Alkitab
yang mengatakannya.’ Saudara sekalian itu saja sudah cukup. Selamat menikmati
hasil perjuangan anda selama ini dan Tuhan kiranya mengasihi dan memberkati.”

Dan tidak heran bila lagu yang lebih banyak dinyanyikan oleh anak-anak
melebihi lagu manapun adalah hymne karangan Anna Warner ini. Dikarang pada
tahun 1860 dan masih merupakan lagu pertama yang diajarkan kepada anggota
baru di negara-negara lainnya.

Anna menulis naskahnya atas kerjasama dengan adiknya Susan sebagai


bagian dari novel mereka yang berjudul Say and Seal, salah satu buku terlaris saat
itu. Mungkin ada di antara kita yang tidak terlalu ingat akan alur cerita yang
pernah menggetarkan hati banyak pembaca. Namun syair-syair sederhana yang
diutarakan oleh tuan Linden ketika ia menghibur Johnny Fax, seorang anak yang
sementara sekarat, masih menjadi hymne terkenal bagi jutaan anak-anak di seluruh
dunia.

William Bradbury, musisi dan penggubah lagu akalah seorang kontributor


terkemuka bagi perkembangan musik lagu-lagu gospel di Amerika. Ia menjadi
seorang pionir tersohor dalam musik lagu anak-anak di gereja maupun di sekolah-
sekolah. Pada tahun 11861 Bradbury menggubah lagu untuk naskah Anna Warner
dan secara pribadi menambah chours atau ulangan pada empat bait lagu tersebut.
Lagu ini muncul tahun berikut dalam koleksi buku lagu Bradbury, The Golden
Sower yang segera mendapat sambutan luar biasa dan tersebar luas di mana-mana.

Jesus loves me this I know, For the Bible tells me so


Little ones to Him belong; they are weak but He is strong

Chorus: Yes, Jesus loves me. Yes, Jesus loves me


Yes, Jesus loves me! The Bible tells me so.

Jesus loves me, loves me still; Tho I’m very weak and ill
That I might from sin be free; bled and died upon the tree

Jesus loves me! He who died; heaven’s gate to open wide


He will wash away my sin, let His little child come in.

Jesus loves me! He will stay; close beside me all the way
Thou hast bles and died for me; I will henceforth live for Thee.

Bacaan tambahan: Kej 33:5; Maz 127:3; Mat 11:25; Mark 10:16.

(No. 128)
PRECIOUS LORD, TAKE MY HAND

Pengarang Naskah : Thomas A. Dorsey, 1899-1993


Penggubah Lagu : Goerge N. Allen, 1812-1877
Adaptasi : Thomas A. Dorsey, 1899-1993

Yesaya 41:13 Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu
dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.”

Dari dalam hati yang berduka karena kematian isteri dan anaknya, Thomas
Dorsey berseru kepada Tuhan untuk menuntunnya: “melalui topan dan kegelapan.”
Katika itulah ia menulis baris demi baris naskah hymne ini yang telah meladeni
orang lain dengan sangat luar biasa. Lagu lembut yang ditulis oleh musisi hitam
pada tahun 1932 ini telah menjadi terkenal dikalangan umat Kristen dimana-mana.

Thomas A. Dorsey dibesarkan di Georgia sebagai seorang “anak pendeta”.


Setelah menjadi terkenal sebagai penggubah lagu-lagu jazz dan “blue” sejenis lagu
negro, betapapun akhirnya ia hanyut dari Tuhan. Setelah secara ajaib ia terhindar
dari kematian, Dorsey akhirnya kembali kepada Tuhan. Setelah kehidupannya
berubah secara drastis, ia mulai menulis lagu-lagu gospel dan turut menyanyi
dalam acara kebaktian gereja. Pada suatu malam kebaktian kebangunan rohani di
St. Louis, Missouri ia menerima berita telegram yang berisi berita tragis kematian
isteri dan bayi lelakinya. Terpaku dengan pukulan ini ia berseru kepada Tuhan.

Seminggu kemudian, ketika Dorsey memainkan jari-jarinya diatas


piano ia menciptakan baris demi baris lagu “Precious Lord” untuk mencocokkan
sebuah nada lagu yang ia kuasai. Hari minggu berikutnya, paduan suara Ebenezer
Baptis Church di South Chicago, Illinois menyanyikan lagu baru ini diiringi
Dorsey di piano. Seluruh jemaat menyambutnya dengan gemuruh dan sukacita.
Tuhan terus menuntun tangan Dorsey sehingga ia menulis sebanyak 250 lagu
gospel. Ia pernah berkata: “Tugas saya ialah menuntun orang kepada Kristus dari
pada mereka terbiarkan ditempat mereka sekarang berada. Saya menulis untuk
semua umat Tuhan. Yang saya bagikan kepada semua orang adalah kasih. Saya
berusaha meningkatkan semangat mereka dan biarkan mereka tau bahwa Allah
masih mengasihi mereka. Ia masih terus menyelamatkan.”

Precious Lord, take mye hand, lead me on, help me stand


I am tired, I am weak, I worn;
Thro’ the storm, thro’ the night
Lead me on to the light. Take my hand,
Precious Lord, lead me home

When my way grows drear, Precious Lord, linger near


When my life is almost gone. Hear my cry, hear my call
Hold my hand lest I fall. Take my hand,
Precious Lord, lead me home.

Bacaan tambahan : Maz 16:11; 27:11; 48:14; Yoh 10:3,4; 1 Yoh 1:7

(No. 129)
SWEETER AS THE YEARS GO BY

Pengarang Naskah : Lelia N. Morris, 1862-1929


Penggubah Lagu : Lelia N. Morris, 1862-1929

Mazmur 92:13-16 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan
tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam dibait
Tuhan akan bertunas dipelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih
berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu
benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan padaNya.

Sebagai umat percaya, menjadi semakin tua seharusnya berarti lebih


menyadari akan kasih Tuhan dan persekutuan denganNya, sama juga dengan
semakin berguna dalam pelayanan Kristiani. Tahun-tahun emas ini haruslah
menjadi tahun-tahun keberhasilah melebihi tahun-tahun sebelumnya. Persekutuan
seumur hidup bersama Kristus sudah harus menghasilkan kehidupan yang telah
ramun dan lunak dengan roh kasih karunia seperti Kristus. Hidup ini penuh
dengan banyak tuntutan dan tekanan, maka orang Kristen yang lanjut usia sudah
harus memiliki kesempatan untuk pelayanan yang efektif yang mungkin belum
pernah ia usahakan dan alami sebelumnya.

Tidak ada yang lebih tragis lagi bila melihat seorang Kristen dimasa tuanya
menjadi seorang yang tidak memiliki kepuasan dan hanya memusatkan perhatian
pada diri sendiri. Memang benar bahwa hidup kita ini adalah hasil pembawaan
hidup sebelumnya ketika masih dalam pertumbuhan, remaja, masa muda dan
kemudian masa menjelang hari tua. Kalau kita memiliki sikap positif dan
produktif dalam tahun-tahun emas ini kita sudah harus mengembangkan ciri
pembawaan sejak masih muda.
Pengarang dan penggubah lagu ini adalah Ny. Leila Morris, seorang pekerja
aktif gereja Methodist. Ia telah menulis lagu-lagu gospel selama 15 tahun bahkan
setelah ia kemudian menjadi buta, karangan dan gubahannya tidak pernah ia
hentikan. Lagu “Sweeter as the Years Go By” ditulis ketika ia menjadi buta pada
umur 50-an. Diceritakan bahwa Ny. Morris menggunakan papan tulis sepanjang 6
meter dengan baris-baris musik diatasnya untuk menolongnya mengisi baris-baris
tersebut dengan kata-kata naskah lagu. Walaupun demikian, Leila Morris telah
menulis sebanyak 1000 naskah hymne demikian pula nadanya. Cacat tubuhnya
tidak pernah menghalanginya untuk menjadi efektif dan produktif bagi Tuhan.
Bahkan selama masa butanya ia dapati bahwa Tuhan semakin manis ketika tahun-
tahun berlalu. Hormatilah orang tua. Pelajari kepuasan dan rahasia kegunaan
hidup mereka bagi Tuhan.

Of Jesus’ love that sought me, when I was lost in sin


Of wondrous grace that brought me back to His fold again
Of heights and depths of mercy, far deeper that the sea
And higher that the heavens, my thene shall ever be.

Chorus: Sweeter as the years go by, Sweeter as the years go by.


Richer
Fuller, deeper, Jesus’ love is sweeter
Sweeter as the years go by.

He trod in old Judea life’s fpathway long ago


The people thronged about Him, His saving grace to know
He healed the briken hearted, and caused the blind to see
And still His great heart yearneth in love for even me.

‘Twas wondrous love which led Him for us to suffer loss


To bear without a murmur the anguish of the cross
With saints redeemed in glory let us our voices raise
Till heaven and earth re-echo with our Redeemer’s prase.

Bacaan tambahan : Amsal 16:31; Yohanes 15:10,11

(NO. 130)
WHEN WE ALL GET TO HEAVEN

Pengarang Naskah : Eliza E. Hewitt, 1851-1920


Penggubah Lagu : Emily D. Wilson, 1865-1942
1 Tesalonika 4:16-18 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu
penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri
akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu
bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat
bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.
Demikianlah kita akan selama-selamanya bersama-sama dengan Tuhan.
Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan
ini.

Bagi anak Tuhan, akhir hidup pengembaraan di dunia ini hanyalah suatu
persediaan untuk memasuki hidup baru penuh kemuliaan saat Yesus datang di
awan-awan.

Pengharapan yang mulia menyegarkan keberanian dalam perjalanan


Bila masing-masing dalam hidup ini merindukan pengharapan
Dari kesusahan, kerja keras, penderitaan dan dosa akan dibebaskan
Kasih sempurna dan sukacita memenuhi hati sepanjang kekekalan.
John Fawcett

Liturgi dan pelayanan perbaktian kita harus sudah sejak sekarang merasakan
hari sukacita itu ketika mereka yang datang dari berbagai suku, bangsa, bahasa
dan kaum akan bersama-sama melihat Tuhan kita dan mengangkat suara
“nyanyikan dan sorakkan kemenangan.”

Eliza E. Hewitt, pengarang naskah lagu ini adalah seorang guru sekolah di
Philadelphia. Dia seorang Kristen setia yang dengan sepenuhnya mendedikasikan
waktu dan talentanya bagi gerakan sekolah Minggu pada pertengahan hingga akhir
abad XIX. Sebagaimana umumnya kebanyakan penulis lagu gospel ketika itu,
Eliza menulis naskah-naskahnya dengan tujuan menjangkau dan mengajar anak-
anak dengan kebenaran Injil. Dia banyak kali menghadiri perkemahan-
perkemahan gereja Methodist di Ocean Grove, New Jersey. Di sinilah ia
bergabung dengan Emily Wilson, isteri seorang pemimpin distrik gereja Methodist,
Philadelphia. Lagu ini telah menarik perhatian anak-anak dan sedemikian pula
orang tua dan pertama kali diterbitkan tahun 1898.

Antisipasi terhadap Surga seringkali dijelaskan sebagai napas bagi jiwa


manusia. 1 Yohanes 3:3 setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-
Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Ijinkan pikiran anda
tertuju kepada hari mulia itu, ketika seluruh keluarga besar Allah berkumpul untuk
merayakan puji dan puja bagi Tuhan kita selama-lamanya. Biarlah pengharapan
ini menyinari dan menerangi hari-hari kita di dunia agar senantiasa tekun, setia,
berharap dan melayani dengan semangat tinggi.

Sing the wondrous love of Jesus, Sing His mercy and His grace
In the mantions bright and bellssed He’ll prepare for us a place

Chorus: When we all get to heaven,


What a day of rejoicing that will be
When we all see Jesus, we’ll sing and shout the victory.

While we walk the pilgrim pathway


Clouds will over-spread the sky
But when trav’ling days are over not a shadow, not a sigh

Let us then be true and faithful, trusting, serving ev’ry day


Just one glimpse of Him in glory will the toils of life repay

Onward to the prize before us. Son His beauty we’ll behold
Soon the pearly gates will open, We shall tread the street of gold.

Bacaan tambahan: Amsal 16:31; Yohanes 15:10,11