Anda di halaman 1dari 95

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

APLIKASI POLMAS

1. Pengantar

Dalam kehidupan masyarakat madani yang bercirikan demokrasi


dan supremasi hukum, Kepolisian Negara RI (Polri) harus mampu
memberikan jaminan keamanan, ketertiban dan perlindungan hak
asasi manusia kepada masyarakat serta menunjukkan
transparansi dalam setiap tindakan, menjunjung tinggi kebenaran,
kejujuran, keadilan,kepastian dan manfaat sebagai wujud
pertanggung jawaban terhadap publik.

Proses reformasi yang telah dan sedang berlangsung untuk


menuju masyarakat sipil yang demokrasi membaur berbagai
perubahan didalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara. Polri yang saat ini sedang melaksanakan proses
reformasi untuk menjadi Kepolisian sipil, harus dapat
menyesuaikan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakat
dengan cara merubah paradigma yang menitik beratkan pada
pendekatan yang reaktif dan konvensional (kekuasaan) menuju
pendekatan yang proaktif dan mendapat dukungan publik dengan
mengedepankan kemitraan dalam rangka pemecahan masalah-
masalah sosial. Model penyelenggaraan fungsi kepolisian tersebut
dikenal dengan berbagai nama seperti Community Oriental
policing, Community Based Policing dan Neigh Bourhood Policing
dan akhirnya populer dengan sebutan Community Policing. Atas
dasar pertimbangan-pertibangan maka dipandang perlu untuk
mengadopsi konsep Community Policing dan menyesuaikan
dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat Indonesia serta
dengan cara dan nama Indonesia, tanpa mengenyampingkan
kemungkinan penggunaan penterjemahan istilah yang berbeda
terutama bagi keperluan Akademis , secara formal oleh jajaran
Polri model tersebut diberi nama “ Perpolisian Masyarakat” dan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 1
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

selanjutnya secara konseptual dan operasional disebut “Polmas”.


Pemikiran-pemikiran yang berkenaan dengan pengembangan
Polmas di pandang perlu dituangkan dalam suatu kebijakan dan
strategi organisasi dengan surat keputusan Kapolri No. Pol. :
Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005.

2. Standar Kompetensi

Setelah mempelajari Naskah Sekolah ini diharapkan peserta didik


memahami materi “ Polmas” sehingga mampu mengaplikasikan
dalam tugas, guna mewujudkan Polri yang sipil, yang mampu
membangun kemitraan dengan masyarakat dilingkungannya.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 2
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BAB I

MEMPERKENALKAN POLMAS

Kompetensi Dasar :

Peserta didik memahami pengertian Polmas, Prinsip-prinsip


Polmas, membandingkan Perpolisian yang ada di Asia serta
mempraktekkan Polmas.

Indikator Hasil Belajar :

Setelah mempelajari Bab I, peserta didik mampu :

1. Menjelaskan pengertian Polmas.


2. Menjelaskan tujuan Polmas.
3. Menjelaskan Prinsip-prinsip Polmas.
4. Menjelaskan prinsip Operasionalisasi Polmas/Skep 737.
5. Menjelaskan anggapan yang salah tentang Polmas.
6. Menyebutkan bukti efektifitas Polmas.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 3
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

1. Pengertian Polmas

Model Polmas “Perpolisian Masyarakat”, merupakan bentuk


perpolisian yang dikembangkan banyak negara dan merupakan
satu model Perpolisian yang sangat penting di Asia. Tidak seperti
model militeristik yang umumnya banyak terdapat di banyak
negara berkembang, Polmas memiliki potensi untuk menjadi model
perpolisian yang akan diikuti kebanyakan negara demokratis pada
abad ke –21.

Di negara-negara barat, model Polmas berkembang karena


organisasi kepolisian disana menyadari bahwa sebagian besar
upaya mereka untuk “memberantas kejahatan” tidaklah efektif.
Mereka pun mengadakan penelitian untuk mengetahui efektifitas
kegiatan yang terdapat dalam model perpolisian tradisional seperti
patroli preventif, reaksi cepat terhadap peristiwa-peristiwa
kejahatan, dan kegiatan investigasi kejahatan.

Dari penelitian itu, didapat hasil bahwa kegiatan perpolisian


tradisional meskipun tetap diperlukan tidak cukup efektif
memberantas kejahatan. Pendekatan perpolisian tradisional
membutuhkan peralatan teknologi tinggi. Pada saat yang sama,
kita juga menyadari bahwa penggunaan teknologi tinggi untuk
memberantas kejahatan dirasakan masih kurang memadai,
terutama karena anggaran dan sumber daya kepolisian yang tidak
cukup mendukung. Oleh karena itulah organisasi-organisasi
kepolisian di negara barat berkesimpulan perlunya dibentuk
kemitraan dengan masyarakat untuk memberantas kejahatan.

1.1 Penjelasan tentang Polmas

Definisi Polmas diberbagai negara memiliki perbedaan. Maklum


hal ini terjadi karena setiap negara memiliki latar belakang dan
budaya yang berbeda pula. Oleh karena itu, untuk menghindari
kemungkinan model ini pada akhirnya hanya terjebak menjadi satu
slogan tak berarti, bab ini akan memberikan penekanan pada
prinsip-prinsip dan komponen-komponen Polmas, dilengkapi studi
kasus dari pengalaman negara tertentu. Dengan begitu rasa
pesimisme dan kebingungan masyarakat dapat diperkecil atau
dihilangkan. Sekalipun bukan hal yang mudah untuk memberikan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 4
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

satu definisi khusus tentang Perpolisian Masyarakat, namun


paragrap berikut ini memberikan satu definisi yang cukup mewakili;
Polmas adalah sebuah filosofi, strategi operasional, dan
organisasional yang mendorong terciptanya suatu kemitraan baru
antara masyarakat dengan polisi dalam memecahkan masalah dan
tindakan-tindakan proaktif sebagai landasan terciptanya kemitraan
Polisi dan masyarakat berkerja sama sebagai mitra untuk
mengidentifikasi menetukan segala prioritas, dalam memecahkan
berbagai masalah yang sedang dihadapi seperti, kejahatan,
narkoba, ketakutan akan kejahatan, ketidak tertiban fisik. Sehingga
tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup diwilayah tempat polmas
diterapkan bisa tercapai.

Benar model Polmas menuntut adanya komitmen dari seluruh


jajaran organisasi kepolisian. Selain melaksanakan kegiatan-
kegiatan Perpolisian tradisional, Polisi harus menemukan cara
untuk mengekspresikan filosofi Polmas dengan menggali dan
menerapkan strategi proaktif. Tujuannya tentu saja untuk
mencegah dan memecahkan masalah sebelum hal itu menjadi
semakin serius.

Pelaksanaan Polmas didasarkan pada desentralisasi dan


personalisasi pelayanan Polisi. Pendekatan ini memungkinkan
Polisi memiliki kesempatan kebebasan, dan mandat untuk tetap
fokus pada pemecahan masalah berbasis masyarakat. Walhasil
wilayah yang bersangkutan dapat menjadi tempat yang lebih baik,
aman dan layak didiami.

Konsep Polmas mencakup dua unsur yakni Perpolisian dan


Masyarakat. Secara harfiah, perpolisian yang merupakan
terjemahan dari “ Policing “ berarti segala hal ihwal tentang
penyelenggaraan fungsi kepolisian. Dalam konteks ini, perpolisian
tidak hanya menyangkut hal-hal operasional (taktik atau teknik)
dan fungsi kepolisian tetapi juga pengelolaan fungsi kepolisian
secara menyeluruh mulai dari tataran puncak sampai kebawah
termasuk pemikiran-pemikiran filsafat yang melatar belakanginya.

1.2 Masyarakat yang dalam konteks Polmas berarti :

 Masyarakat atau komunitas yang berada didalam suatu


diwilayah kecil yang jelas batasnya (geographic-

PERPOLISIAN MASYARAKAT 5
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

community). Dalam menentukan batas wilayah komunitas


ini harus diperhatikan keunikan karakteristik geografis dan
sosial dari lingkungan tersebut, terutama efektifitas
pemberian pelayanan kepada warga masyarakat. Wilayah
tersebut dapat berbentuk rukun tetangga, rukun warga,
desa, banjar, dukuh, gampong, mukim, kelurahan ataupun
berupa pasar/pusat belanja/mal, daerah pusat industri,
pusat /komplek olahraga, terminal bus/stasiun kereta api/
bandara, sekolah, pusat rekreasi dan lain-lain.
 Dalam pengertian yang lebih luas, masyarakat dalam
pendekatan Polmas juga meliputi sekelompok orang yang
hidup dalam suatu wilayah yang lebih luas seperti
kecamatan bahkan kabupaten dan kota, sepanjang mereka
memiliki kepentingan yang sama. Sebagai contoh kelompok
berdasar etnis (suku), agama, profesi, hobi dan sebagainya.
Kelompok ini dikenal dengan istilah komunitas berdasar
kepentingan (community of interest).
Sebagai suatu strategi, Polmas berarti model perpolisian
yang menekankan kemitraan sejajar antara petugas Polmas
dengan masyarakat lokal. Kemitraan ini penting dalam
menyelesaikan dan mengatasi setiap permasalahan sosial
yang mengancam keamanan, ketertiban dan ketentraman
masyarakat. Pada akhirnya, kemitraan ini dapat mengurangi
kejahatan, rasa ketakutan akan terjadi kejahatan, dan
meningkatkan kualitas hidup warga setempat.
 Dalam pengertian ini, masyarakat tidak lagi menjadi objek
dalam penyelenggaraan fungsi kepolisian melainkan
sebagai subyek yang menentukan dalam mengelola sendiri
upaya penciptaan lingkungan yang aman dan tertib.
Petugas kepolisian sendiri berperan fasilitator dalam suatu
kemitraan.
 Pengelolaan kemitraan mengandung pengertian,
masyarakat berusaha menemukan, mengidentifikasi,
menganalisis dan mencari jalan keluar untuk memecahkan
berbagai masalah keamanan dan ketertiban umum.
Termasuk diantaranya adalah mengatasi pertikaian antar
warga, penyakit masyarakat dan permasalahan sosial lain
yang bersumber dari dalam kehidupan masyarakat.
Walhasil suasana kehidupan bersama yang damai dan
tentram dapat terwujud.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 6
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Perwujudan konsep Polmas pada tataran lokal


memungkinkan masyarakat setempat untuk memelihara
dan mengembangkan sendiri pengelolaan keamanan dan
ketertiban. Tentu saja hal ini tetap didasarkan atas norma-
norma sosial dan/atau kesepakatan-kesepakatan lokal
dengan mengindahkan peraturan-peraturan hukum yang
bersifat nasional, serta menjungjung tinggi prinsif-prinsif Hak
Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan individu dalam
kehidupan masyarakat yang demokratis.
Sebenarnya, Polmas sejalan dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam konsep system keamanan swakarsa
(siskam swakarsa) system keamanan Indonesia yang
muncul dari inisiatif warga. Konsep ini kemudian
disesuaikan dengan tren perpolisian dalam masyarakat
madani masa kini. Dengan demikian konsep tersebut tidak
semata-mata merupakan penjiplakan dari konsep umum
Polmas.

2. Prinsip - prinsip Polmas

Sebagai catatan, Polmas BUKANLAH satu atau lebih dari prinsip-


prinsip berikut ini, tetapi merupakan kombinasi dari kesemuanya.

Adapun prinsip-prinsip Polmas adalah sebagai berikut :


 Komunikasi Intensif
 Kesetaraan
 Kemitraan
 Transparansi
 Akuntabilitas
 Partisipasi
 Personalisasi
 Desentralisasi
 Otonomisasi
 Proaktif
 Orientasi pada pemecahan masalah
 Orientasi pada pelayanan
 Operasionalisasi Polmas

PERPOLISIAN MASYARAKAT 7
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

3. Prinsip-prinsip operasionalisasi polmas, meliputi :

 Transparansi dan akuntabilitas


Operasionalisasi oleh petugas polmas dan forum kemitraan
harus dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggung-
jawabkan kepada masyarakat setempat.
 Partisipasi dan kesetaraan
Operasionalisasi polmas harus dibangun atas dasar
kemitraan yang setara dan saling mendukung dengan
menjamin keikutsertaan warga dalam proses pengambilan
keputusan dan menghargai perbedaan pendapat
 Personalisasi
Petugas polmas dituntut untuk memberikan layanan kepada
setiap warga dengan lebih menekankan pendekatan pribadi
daripada hubungan formal yang kaku dengan menciptakan
hubungan yang dekat dan saling kenal diantar mereka.
 Penugasan permanent
Penempatan anggota polri sebagai petugas polmas
merupakan penugasan yang permanent untuk jangka yang
cukup lama, sehingga memiliki kesempatan untuk
membangun kemitraan dengan warga masyarakat dalam
wilayah yurisdiksi yang jelas batas-batasnya.
 Desentralisasi dan otonomisasi
Operasionalisasi polmas mensyaratkan adanya
desentralisasi kewenangan yang meliputi pemberian
tanggung jawab dan otoritas kepada petugas polmas dan
forum kemitraan Polisi-masyarakat (FKPM) sehingga
merupakan pranata yang bersifat otonom dalam mengambil
langkah-langkah pemecahan masalah termasuk
penyelesaian konflik antar warga maupun antara warga
dengan polisi/pejabat setempat.

Keefektifan operasionalisasi polmas ditentukan oleh hal-hal


sebagai berikut :

Perubahan pendekatan manajerial yang meliputi :

PERPOLISIAN MASYARAKAT 8
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Kapolsek bertanggung jawab untuk menunjang


keberhasilan pelaksanaan tugas polmas.
 Kapolres bersama staf terkait bertanggung jawab untuk
memperoleh dan menyediakan sumber daya dan dukungan
yang diperlukan untuk pemecahan masalah
 Perubahan persepsi dikalangan segenap anggota
kepolisian setempat bahwa masyarakat adalah Stakeholder
bukan saja kepada siapa polisi memberikan layanan tetapi
juga kepada siapa mereka bertanggung jawab.
 Pelaksanaan tugas setiap anggota satuan fungsi opersional
polri harus dijiwai dengan semangat ”melayani dan
melindungi” sebagai suatu kewajiban profesi
 Kerja sama dan dukungan pemerintah daerah dan DPRD
serta segenap komponen terkait yaitu : instansi pemerintah
terkait, pengusaha, lembaga - lembaga sosial
kemasyarakatan (termasuk LSM) dan media massa (media
elektronik dan media cetak).

4. Kesalah-pahaman mengenai Polmas

Perlu di garis bawahi Polmas bukanlah :


 Suatu bagian atau divisi yang terpisah dalam institusi
kepolisian, dan juga bukan merupakan tanggung jawab
seorang anggota Polisi (Polki/Polwan) saja.
 Polmas bukanlah sebuah tehnik.
 Polmas bukanlah hubungan masyarakat (Humas) atau
sebuah program yang dirancang khusus untuk memperbaiki
citra Polisi.
 Polmas tidak bersifat “lunak” terhadap kejahatan.
 Polmas bukan merupakan “pelayanan sosial”, tetapi
merupakan “pekerjaan polisi” yang sesungguhnya.
 Polmas bukan suatu obat mujarab.

5. Perbandingan model-model perpolisian

Tak kenal maka tak sayang, demikian pepatah kuno. Oleh karena
itu pengenalan dan pemahaman konsep Polmas perlu dilakukan
dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan
membandingkan polmas dengan model perpolisian tradisional.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 9
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Model Perpolisian “Tradisional”


Model Perpolisian Tradisional berupaya mengendalikan terjadinya
kejahatan melalui penegakan hukum yang reaktif dan peningkatan
patroli serta penggunaan teknologi (tinggi). Fokus dari model
perpolisian “tradisional” adalah melakukan patroli preventif,
memberikan reaksi/respons yang cepat terhadap kejadian
kejahatan, dan menindak lanjutinya dengan melakukan investigasi
kejahatan.

Seperti tersirat dilapangan, model ini tidak melibatkan hubungan


yang sangat penting, dan kemitraan dengan masyarakat.
Sayangnya, hal-hal ini menghasilakn jarak antara polisi dan
masyarakat. Konsep tradisional ini memunculkan citra bahwa polisi
tidak mengganggap penting keikut sertaan dalam masyarakat
sebagai mitra utama dalam perpolisian.

Pada konteks ini pendekatan Polmas berbeda dengan pendekatan


model perpolisian tradisional. Polmas berupaya mengendalikan
kejahatan melalui pencegahan secara proaktif melalui hubungan
kemitraan yang sudah terjalin dengan masyarakat. Tidak lagi
hanya tergantung pada teknologi mutakhir, mesin-mesin dan
penguasaan ilmu pengetahuan, konsep Polmas menunjukan
bahwa network atau jaringan manusia merupakan sumber utama
untuk mengontrol kejahatan. Tentu saja ada persyaratan utama
dalam penerapan Polmas. Perpolisian memiliki latar belakang dan
sejarah panjang dengan model militeristik. Sementara itu, Polmas
menuntut adanya keterlibatan dan kemitraan penuh masyarakat.
Mengingat adanya kegiatan dan fokus yang berlawanan, antara
perpolisian tradisional dan Polmas, maka perlu adanya perubahan
budaya dan strategi yang serta merta harus dilakukan apabila
polmas diterapkan sebagai strategi baru dalam organisasi
kepolisian.

Perubahan Kepolisian ini mencakup perubahan sikap, nilai-nilai,


dan norma-norma. Perubahan dalam konteks strategi berarti
merumuskan kembali hubungan antara polisi dan masyarakat yang

PERPOLISIAN MASYARAKAT 10
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

dilayaninya. Bentuk pelayanan yang diterima masyarakat dan cara


polisi menyampaikan pelayanan adalah fokus utama perubahan.

 Model Perpolisian “Militeristik”


Model perpolisian yang militeristik telah dianut Indonesia selama
beberapa dekade. Akibatnya, telah tercipta jarak yang besar
antara Polisi dan masyarakat. Model Perpolisian “militer” ini
merupakan model perpolisian yang ada dalam pikiran Polisi dan
para pemimpin saat ini, karena model tersebut mewakili
pengalaman perpolisian mereka yang utama. Sejak pemisahan
Polri dari ABRI, juga adanya hubungan dengan negara-negara
donor yang memberikan pelatihan Kepolisian, maka muncul satu
kesadaran untuk mengubah budaya dan strategi kepolisian.
Walhasil sekarang polisi telah menyadari tujuan dan kegiatan
“militer” dan polisi sangatlah berbeda dibanding yang ada pada
dekade lalu.

Militer adalah organisasi yang melindungi negara dengan cara


berperang, penggunaan senjata, dan kekuatan yang mematikan.
Pelatihan para anggota militer difokuskan pada hal yang berkaitan
dengan peperangan, penggunaan senjata, dan strategi militer
untuk melawan musuh dengan kekuatan untuk mematikan.
“Membunuh musuh” adalah suatu norma yang dapat diterima
dalam peperangan. Tentu saja pendekatan militeristik ini sangat
berbeda dengan prinsif polisi yang mengayomi dan melayani
masyarakat.

Fokus dari “budaya” dan strategi militer bukan pada melayani


masyarakat dengan cara menciptakan kemitraan, menyelesaikan
masalah, menghormati hak azasi manusia para warga negara,
membatasi penggunaan kekuatan, mencegah kejahatan, dan
menjamin hidup yang lebih baik bagi anggota masyarakat. Hal-hal
tersebut adalah serangkaian strategi penting bagi Polki dan
Polwan yang melayani dan melindungi masyarakat dari warga
masyarakat. Serangkaian strategi yang tepat dan cocok dalam
“Model Polmas”

6. Polmas di Indonesia

PERPOLISIAN MASYARAKAT 11
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Model perpolisian masyarakat yang telah diadopsi Polri, pada


tanggal 13 Oktober 2005, merupakan strategi baru perpolisian di
Indonesia. Seluruh anggota polri diharapkan dapat mendukung
penerapan Polmas. Caranya dengan cara membangun serta
membina kemitraan dengan masyarakat. Hal lain yang dapat
dilakukan adalah dengan selalu mengedepankan sikap proaktif
dan berorientasi pada pemecahan masalah. Prinsip tersebut telah
menjadi strategi organisasional dan operasional Polri yang baru.

Strategi baru ini memungkinkan akan terjadinya garis komunikasi


dan tingkat pimpinan sampai tingkat bawah dalam struktur Polri.
Secara bertahap system polmas ini akan diimplementasikan ke
seluruh jajaran Polri.

Proses implementasi akan dimulai dengan memperkenalkan


polmas pada seluruh pendidikan Polri, seperti Sekolah Polisi
Nasional, Secapa, Selapa, PTIK, dan pusat-pusat pelatihan
lainnya. Polmas juga terus diupayakan untuk diperkenalkan
kepada jajaran Polri, mulai dari Babinkamtibmas, Polsek hingga
Polres/Polsekta dan Polwil. Proses pelatihan dilakukan dengan
cara melatih para anggota Polisi yang lebih senior terlebih dahulu.
Selanjutnya para senior secara otomatis akan melatih para
juniornya.

Gambar berikut adalah skema hubungan antara implementasi


polmas sebagai sebuah kebijakan dan strategi organisasional,
operasional, penerapan Polmas, dan struktur organisasi Polri.

MABES
POLRI

POLDA

POLRES/ POLRESTA/
POLTABES

POLSEK / POLSEKTA

PERPOLISIAN MASYARAKAT 12
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BABINKAMTIBMAS / POLICE POST

BABINKAMTIBMAS / POLICE POST


Peran forum-forum dalam menyukseskan pelaksanaan polmas.
Dalam rangka memfasilitasi pengenalan perpolisian masyarakat
dan menciptakan sebuah kemitraan dengan masyarakat yang
memperkuat komunikasi antara Polri dan masyarakat, model ini
meliputi pendirian forum Kemitraan Polisi – masyarakat pada
tingkat Polsek /Polsekta. Juga terdapat pengaturan pendirian sub
forum ditingkat pos polisi atau Babinkamtibmas. Forum kemitraan
tersebut tidak dengan sendirinya merupakan perpolisian
masyarakat, namun untuk memfasilitasi komunikasi dan
implementasi praktis perpolisian masyarakat secara terstruktur.
Forum-forum tersebut memungkinkan disusunnya dokumentasi
atas kegiatan-kegiatan yang dilakukan serta keputusan-keputusan
yang diambil, secara transparan dan terorganisir.

7. Sasaran dan tujuan forum kemitraan polisi dan


masyarakat (FKPM)

Sasaran dan tujuan pembentukan sebuah forum adalah sebgai


berikut :
 Membangun dan memelihara kemitraan antara Polisi dan
masyarakat.
 Secara bersama-sama mengenali, mengidentifikasi,
memprioritaskan dan memecahkan masalah-masalah sosial
yang terkait dengan kejahatan ancaman Kamtibmas,
masalah-masalah yang muncul akibat hubungan antara
polisi dan masyarakat yang kurang baik serta kualitas
penyediaan pelayanan.
 Memperbaiki hubungan antara polisi dan masyarakat
dengan membahas serta menindak lanjuti faktor-faktor yang
menyebabkan timbulnya persepsi dan tingkah laku negatif
seperti korupsi, dan kualitas pelayanan yang diberikan polisi
kepada masyarakat yang sedang mereka perbaiki.
 Mempererat hubungan dan meningkatkan komunikasi
antara polisi dan masyarakat.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 13
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Mengembangkan cara-cara serta mekanisme guna


mendukung upaya polisi untuk menjadi lebih transparan dan
akuntabel.
 Mendorong terwujudnya peliputan media yang obyektif
tentang berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
polisi.
 Mendorong timbulnya rasa hormat serta terwujudnya
penerapan terhadap prinsip-prinsip HAM (Hak Asasi
Manusia) dalam setiap tindakan dan perilaku Polisi dan
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
 Membangun kerja sama dengan institusi-institusi
pemerintah (Pemda) setempat serta mensosialisasikan
kepentingan polri dalam mengadakan kegiatan ini.
 Membangun kerja sama dengan kelompok bisnis, serta
kelompok-kelompok maupun organisasi-organisasi
setempat guna meningkatkan kepedulian dan kerja sama
dalam menjaga dan mewujudkan kamtibmas dan
kepentingan bersama.
 Membangun dan meningkatkan pemahaman masyarakat
dan polisi, mengenai keanekaragaman budaya, suku,
maupun ras yang ada di masyarakat setempat.
 Memulai suatu perubahan terhadap persepsi dan tingkah
laku yang ada di masyarakat.
 Mempererat hubungan dan kerjasama antara polisi dan
masyarakat secara menyeluruh dalam memenuhi semua
kebutuhan dalam menjalankan Perpolisian masyarakat
(Polmas).
 Mengadakan evaluasi terhadap hal-hal yang terkait dengan
perpolisian.

8. Bukti ke-efektifan Polmas

Hal berikut adalah indikator keberhasilan dan efektivitas Polmas.


 Berkurangnya tingkat kejahatan secara menyeluruh.
 Meningkatkan laporan terhadap kejahatan yang selama ini
jarang dilaporkan, seperti pemerkosaan, kekerasan dalam
rumah tangga, dan pelecehan terhadap anak-anak. Apabila
laporan jenis kejahatan ini meningkat dalam laporan polisi,

PERPOLISIAN MASYARAKAT 14
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

hal ini merupakan salah satu indikator meningkatnya


kepercayaan masyarakat terhadap polisi.
 Masyarakat memiliki persepsi yang lebih baik terhadap
polisi.
 Berkurangnya rasa takut terhadap aksi kejahatan.
 Adanya pelayanan polisi yang lebih baik dan professional
kepada masyarakat.
 Berkurangnya keadaan yang memicu terjadinya kejahatan.
 Adanya komunikasi yang lebih baik antara polisi dan
masyarakat.
 Masyarakat turut tanggung jawab terhadap terjadinya
kejahatan.

Tolok ukur keberhasilan FKPM :


a. Ada rapat dan pertemuan konsultasi resmi yang dihadiri
oleh seluruh anggota FKPM (polisi dan masyarakat) untuk
membahas persoalan-persoalan KAMTIBMAS (keamanan dan
ketertiban masyarakat).
b. Adanya persoalan KAMTIBMAS yang dibahas dalam rapat
untuk diidentifikasi, dianalisa dan dipecahkan secara bersama-
sama. Masalah tersebut bisa berupa kasus korupsi,
penanganan kasus pidana, serta kualitas pelayanan yang
diberikan polisi kepada masyarakat.
c. Adanya komunikasi dan koordinasi antara polisi dan
masyarakat dalam membahas persoalan-persoalan
KAMTIBMAS yang bisa dilihat dari hasil notulen rapat resmi
dalam rapat-rapat FKPM.
d. Adanya laporan dari pihak kepolisian kepada masyarakat
(melalui FKPM) dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai
penegakan hukum, penjaga Kamtibmas, pelayan dan pelindung
masyarakat, secara transparan dan akuntabel.
e. Adanya peliputan media secara obyektif tentang kinerja
baik kepolisian dalam menjalankan 3 fungsi utamanya.
f. Semakin meningkatnya pelayanan polisi terhadap
masyarakat, dan komitmen terhadap penerapan prinsip HAM
(Hak asasi Manusia) dalam setiap tindakan dan prilaku polisi.
Hal ini bisa dilihat dari semakin berkurangnya laporan
pengaduan masyarakat yang tekait dengan kedua hal tersebut.
g. Meningkatnya laporan masyarakat kepada polisi, terkait
dengan kasus-kasus yang selama ini jarang terungkap dan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 15
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

dilaporkan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan


yang dilakukan oleh aparat polisi dan militer dsb.
h. Adanya kerjasama dengan lembaga/instansi lain, kelompok
bisnis dan lain-lainnya guna meningkatkan kepedulian dan
komitmen untuk mewujudkan KAMTIBMAS demi kepentingan
bersama.
i. Adanya usulan, pandangan, monitoring, dan evaluasi yang
diberikan kepada polisi, terkait dengan hal-hal berikut :
 Pembangunan pos polisi dan penempatan personelnya.
 Respon dan tindak lanjut pengaduan yang disampaikan
masyarakat terhadap Polisi.
 Pelayanan izin dan perlindungan serta pengamanan
kegiatan keramaian yang diajukan masyarakat.
 Patroli ke kawasan pemukiman dan niaga.
 Perlakuan dan keterbukaan dalam proses hukum terhadap
pelaku kejahatan.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 16
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BABII

MEMBANGUN KEMITRAAN DENGAN


MASYARAKAT

Kompetensi Dasar :

Peserta didik memahami strategi membangun kemitraan dengan


masyarakat dan mampu memanfaatkan sumber daya masyarakat
untuk mencegah dan menekan kejahatan

Indikator Hasil Belajar :

Setelah mempelajari Bab ini peserta didik mampu :

1. Tujuan Polmas.
2. Menjelaskan Kepolisian sistem terbuka.
3. Menyebutkan keuntungan kemitraan.
4. Menjelaskan masyarakat berdasarkan kepentingan.
5. Menyebutkan strategi membangun kemitraan.
6. Menjelaskan faktor yang dapat mempengaruhi hubungan
Polisi dengan Masyarakat.
7. Menyebutkan Perilaku Polisi yang dapat dipercaya
masyarakat.
8. Menjelaskan bagaimana membangun kemitraan melalui
pencegahan.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 17
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

1. Tujuan Polmas

Setiap hal pasti punya tujuan, begitu pula penerapan polmas.


Tujuan polmas adalah mencegah dan menangani kejahatan
dengan cara mempelajari karakteristik maupun permasalahan
yang ada dalam lingkungan tertentu. Hasil yang diperoleh akan
dianalisis dan dipecahkan secara bersama-sama, melalui
kemitraan yang dibangun, oleh polisi dan masyarakat.

Berkaitan dengan tujuan tadi, dalam konteks perpolisian


masyarakat, ada dua komponen yang sangat penting, yakni
kemitraan dengan masyarakat dan pemecahan masalah.

Membangun dan membina rasa saling percaya adalah tujuan


utama dalam membina kemitraan dengan masyarakat. Sebagai
langkah awal tentu saja, kedua belah pihak harus mempunyai
keinginan bersama. Polisi harus mengakui pentingnya makna
kemitraan dan kerja sama dengan masyarakat, serta keuntungan
yang bisa diraih dari kerja sama tersebut. Sementara itu,
masyarakat juga harus mengakui perlunya menciptakan kemitraan
yang kuat dengan kepolisian untuk menciptakan wilayah yang
aman, tertib serta bebas dari rasa takut.

Benar, ada banyak faktor yang mempersulit “terciptanya rasa


saling percaya” antara polisi dengan masyarakat di Indonesia.
Telah berpuluh tahun masyarakat mengalami system perpolisian
yang cenderung militeristik. Hal ini menjadi penyebab utama
timbulnya sikap ketidak percayaan pada polisi. Jika masyarakat
berhubungan dengan polisi, maka kesan yang muncul adalah
pemerasan, pemaksaan, penindasan, arogan dan tertutup.

Persoalan belum berhenti disini. Masih ada lagi satu masalah


mendasar yang sangat menghambat terciptanya rasa saling
percaya, yaitu polisi yang melakukan korupsi. Masyarakat sering
melihat dengan mata kepala telanjang bahkan juga menjadi
korban, mereka sering dijadikan target atau obyek korupsi.
Meskipun korupsi merupakan satu masalah yang rumit di
Indonesia namun fakta menunjukkan korupsi telah “menciptakan
jarak” yang nyata antara masyarakat dengan polisi.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 18
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Pada titik ini, Polri harus menemukan cara yang cocok untuk
membangun kembali kepercayaan masyarakat yang mereka
layani. Polisi juga perlu menyadari, tindakan-tindakan apa saja
yang dapat memberikan pengaruh buruk terhadap hubungan
masyarakat. Lebih jauh lagi, polisi perlu memahami karakter dan
budaya masyarakat serta organisasi-organisasi dalam masyarakat
agar mampu menggerakkan masyarakat dalam kegiatan
pencegahan kejahatan dan pemecahan masalah. Fokus ini adalah
upaya pembekalan polisi untuk tugas-tugas tersebut.

2. Institusi Kepolisian dengan ”Sistem Terbuka”

Institusi kepolisian selama ini terkesan sebagai sebuah sistem


yang tertutup dan penuh dengan rahasia. Komunikasi dan kontak
yang dilakukan dengan pihak luar sangat terbatas. Itu sebabnya
tindakan Polisi sering tidak memperoleh simpati dan dukungan dari
masyarakat. Hal ini merupakan dampak dari kecenderungan Polisi
”Model Militeristik”

Perpolisian ”Model Sipil” atau ”Perpolisian Masyarakat” akan


berorientasi pada pencegahan kejahatan dan mengutamakan
kemitraan dengan masyarakat Keterlibatan masyarakat dalam
mengontrol, memberikan masukan serta memberi dukungan
kepada polisi, menandakan adanya hubungan baik dan
komunikasi secara teratur dan terus- menerus dengan masyarakat.
Ini artinya masyarakat harus bersifat terbuka agar dapat
melibatkan masyarakat.

Sistem yang terbuka berarti :


 Polisi siap berbagi informasi dengan publik.
 Melibatkan anggota masyarakat dalam pencegahan dan
penanganan masalah Kamtibmas.
 Komunikasi yang intens antara polisi dan masyarakat.

Dengan demikian, Polisi tidak boleh terisolasi melainkan harus


benar-benar menjadi bagian dari masyarakat yang dilayaninya. Hal
ini hanya dapat terwujud jika polisi menganggap dan
memperlakukan anggota masyarakat sebagai mitra sejati. Hanya
suatu sistem terbuka yang memungkinkan adanya komunikasi

PERPOLISIAN MASYARAKAT 19
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

yang saling menguntungkan dan yang bebas dari berbagai


prasangka.

Oleh sebab itu kemitraan dalam mendukung polisi dalam


pencegahan kejahatan membawa keuntungan-keuntungan bagi
masyarakat sebagai berikut :

 Komitmen untuk mencegah kejahatan.


Polmas berupaya untuk menegaskan kembali bahwa tugas
pokok polisi adalah mencegah kejahatan dan ketidak
tertiban.
 Adanya pengawasan dari masyarakat atas kegaiatan yang
dilakukan polisi.
Keterlibatan masyarakat dalam kinerja perpolisian
memungkinkan masyarakat akan menemukan jawaban atas
”apa” , ”mengapa” , dan ”bagaimana” polisi bekerja.
Keadaan seperti itu sangat jelas menimbulkan pengawasan
yang kritis serta diskusi-diskusi mengenai respon serta
efisiensi kerja polisi dalam menangani masalah-masalah
dalam masyarakat.
 Akuntabilitas polisi terhadap masyarakat.
Sebelum ada konsep polmas, polisi hanya
mempertanggungjawabkan kegiatannya kepada pihak
pimpinan kepolisian saja. Sekarang polisi juga diharuskan
bertanggung-jawab kepada masyarakat yang telah menjadi
mitra kerja. Warga yang dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan
seperti perencanaan strategi, pelaksanaan taktis, dan
pengembangan kebijakan, akhirnya membuat polisi lebih
menyadari dan lebih memperhatikan konsekuensi-
konsekuensi atas tindakan mereka.
 Pelayanan polisi yang disesuaikan
Sesuai pendekatan polmas, anggota polisi akan
ditempatkan disebuah lokasi dalam waktu lama. Oleh
karena itu mereka akan dituntut meningkatkan kemampuan
respon terhadap masalah-masalah yang ada dilingkungan.
Sejalan dengan dibentuk dan dipeliharanya hubungan
kemitraan polisi dan masyarakat, kedua belah pihak akan
memiliki kemampuan yang semakin baik saat bekerja
bersama dalam mengidentifikasi dan menangani masalah-

PERPOLISIAN MASYARAKAT 20
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

masalah yang mempengaruhi mutu kehidupan dilingkungan


mereka. Pihak kepolisian akan membangun rasa tanggung
jawab atau komitmen untuk menyelesaikan masalah-
masalah yang terjadi dilingkungan tersebut.
 Organisasi Masyarakat
Tingkat keterlibatan masyarakat dalam upaya polisi
menangani masalah-masalah dilingkungannya memberi
dampak signifikan terhadap hasil yang dicapai. Dengan kata
lain, keberhasilan dalam mencegah kejahatan tergantung
pada kerja sama polisi dan masyarakat-bukan hanya
bergantung pada satu pihak saja. Oleh sebab itulah,
masyarakatpun harus belajar mengenai soal-soal yang
dapat mereka lakukan bagi diri mereka mapun
lingkungannya. Agar berhasil, Polisi harus berperan aktif
membantu masyarakat melakukan hal tersebut.

3. Pengertian ”Masyarakat”

Setiap upaya membentuk kemitraan dengan ”masyarakat” harus


disertai dengan pemahaman tentang arti masyarakat.

Kata masyarakat tidak dapat didefinisikan secara singkat dan


sederhana sebab ”masyarakat” memiliki arti yang berbeda-beda
untuk tiap-tiap orang. Unit terkecil dari sebuah masyarakat adalah
keluarga (keluarga inti dan keluarga besar), lingkungan tetangga,
famili/warga dan lembaga-lembaga pendukungnya.

Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda, antara lain


budaya, nilai dan masalah yang beraneka ragam, terutama di
daerah perkotaan. Masyarakat juga tidak hanya terdiri dari
pemerintah daerah setempat tetapi ada juga lembaga-lembaga,
termasuk juga penduduk di sebuah lingkungan, disuatu daerah
tertentu.

Masyarakat meliputi kelompok-kelompok yang lebih kecil (sub


kelompok) yang disebut komunitas berdasarkan kepentingan,
yang meliputi :
 Tempat-tempat beribadah (masjid, pura, dan gereja-gereja).
 Sekolah/universitas.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 21
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Rumah sakit.
 Kelompok-kelompok sosial, perkumpulan, serikat.
 Badan-badan milik swasta dan umum.
 Penyedia jasa dan layanan, badan-badan usaha.
 Orang yang bekerja di satu daerah tertentu.
 Orang berkunjung ke daerah tersebut.

Komunitas berdasarkan kepentingan ini dibangun menurut


karakteristik ras, gender, umur dan pekerjaan anggotanya dalam
kurun waktu tertentu. Dengan kata lain, komunitas berdasarkan
kepentingan membentuk kelompok, dan membentuk lagi kelompok
baru ketika anggotanya mengidentifikasi adanya masalah yang
menuntut kelompok tersebut bersatu. Contohnya, Kelompok sosial
anak-anak muda yang dengan berjalannya waktu menjadi ”orang
tua”.

4. Kehadiran Polisi ditengah Masyarakat

”Masyarakat” yang menjadi tanggung jawab petugas patroli harus


merupakan sebuah wilayah yang kecil dan secara geografis, jelas
batasannya. Daerah patroli polisi harus diputuskan sedemikian
rupa, sehingga karakteristik geografis dan sosial yang khas dari
wilayah tersebut dapat dipertahankan. Dengan demikian polisi bisa
memberi pelayanan secara efektif.

Petugas patroli merupakan penyedia utama layanan kepolisian


dan paling banyak melakukan komunikasi dengan anggota
masyarakat. Dalam kegiatan perpolisian masyarakat, petugas
patroli memberi informasi kepada institusi kepolisian tentang hal-
hal yang diperlukan dalam kegiatan perpolisian tersebut.

Tentu saja, dalam tugas mereka, para petugas patroli tersebut


dibantu para Kapolres, Kapolsek, Kasat dan Ka Unit, serta
lembaga-lembaga pemerintah dan sosial terkait. Para pejabat
tinggi Polri serta mereka yang menjadi pimpinan bertanggung
jawab untuk memastikan bahwa mereka mendukung berbagai
upaya yang dilakukan anggota patrolinya.

Keefektifan polmas tergantung pada optimalisasi kontak positif


antara petugas patroli dengan anggota masyarakat. Patroli dengan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 22
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

mobil hanya merupakan salah satu metode untuk memberikan


pelayanan kepolisian. Kepolisian dapat menambah metode patroli
mobil dengan mengutamakan patroli jalan kaki karena dapat
menghilangkan isolasi anggota patroli mobil dengan masyarakat.

Seorang petugas patroli jalan kaki dapat memberikan suatu citra


”yang lebih lembut”. Selain itu juga bagi masyarakat, dalam
kesehariannya akan lebih mudah berhubungan, mendekati dan
berinteraksi dengan polisi. Patroli bersepeda, bersepeda motor,
atau berkuda juga akan membuat polisi lebih dekat dengan
masyarakat.

Penambahan ”kantor polisi kecil” atau pos polisi diwilayah tempat


anggota polisi bertugas juga akan membantu polisi ”lebih dekat”
dengan masyarakat. Dengan makin terdesentralisasi kehadiran
polisi (dan keputusan yang mereka ambil), ini akan membawa
pengaruh yang lebih baik terhadap kegiatan-kegiatan polmas serta
upaya membangun kepercayaan masyarakat.

5. Berbagai Strategi untuk Membangun Kepercayaan

Ketika masyarakat sudah menyadari pentingnya keberadaan polisi


yang terus-menerus dan positif ditengah mereka, berbagai upaya
harus dilakukan mendorong warga agar mereka mau memberikan
informasi yang relevan.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang dapat dilakukan polisi
untuk membangun dan menciptakan kemitraan dengan
masyarakat :
 Polisi dapat berbicara dengan kelompok-kelompok
dilingkungan tersebut.
 Berpartisipasi dalam kegiatan warga.
 Bekerja dengan badan-badan sosial.
 Turut ambil bagian dalam program yang bersifat edukatif
dan rekreatif bagi anak-anak, remaja, pemuda dan
perempuan.

Polisi menjadi bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari budaya


masyarakat . Sebaliknya masyarakat memberikan umpan balik
kepada polisi dalam menentukan skala prioritas untuk masa yang

PERPOLISIAN MASYARAKAT 23
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

akan datang sesuai dengan sumber daya masyarakat. Kegiatan-


kegiatan ini menjadi dasar bagi polisi untuk menggali sumber daya
tersebut dalam upaya memberantas kejahatan.

Kemitraan dengan masyarakat berarti memiliki perspektif


perpolisian yang tidak hanya ditekankan pada penegakan hukum
secara tradisional saja. Pandangan yang lebih luas ini diakui
memberikan nilai terhadap kegiatan-kegiatan yang membantu
terciptanya ketertiban dan kesejahteraan sebuah lingkungan.

Selain kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan diatas, polisi


dapat :
 Menolong korban kecelakaan atau kejahatan.
 Memberikan pertolongan darurat (PPPK).
 Membantu menyelesaikan konflik-konflik dalam rumah
tangga dan di lingkungan masyarakat (kekerasan rumah
tangga, perselisihan penyewa dan pemilik rumah, atau
pelecehan ras).
 Bekerja dengan penduduk dan pengusaha setempat untuk
meningkatkan kondisi lingkungan.
 Membantu pengaturan lalu lintas kendaraan bermotor,
pejalan kaki dan permasalahan parkir.
 Memberikan pelayanan sosial bagi orang yang rentan
terhadap kejahatan.
 Melindungi hak asasi manusia setiap anggota masyarakat.
 Memberi contoh sebagai warga negara yang baik (suka
menolong, hormat pada orang lain; jujur dan adil).

Pelayanan-pelayanan tersebut dapat membantu polisi untuk


membangun kepercayaan masyarakat. Jelas, kepercayaan ini
kemudian akan memudahkan polisi untuk mendapatkan akses
informasi yang lebih besar dan berharga dari masyarakat, yang
dapat mengarah pada pemecahan masalah dan pencegahan
kejahatan. Institusi kepolisian secara keseluruhan harus dilibatkan
dalam mobilisasi/menggerakkan masyarakat dan mendapatkan
kepercayaan dari mereka.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 24
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

6. Faktor - faktor yang Mempengaruhi Hubungan Polisi


Masyarakat

a. Perilaku polisi ditengah masyarkat


Berkali-kali telah ditekankan tentang perlunya hubungan
baik warga masyarakat dan citra polisi yang positif. Telah
disinggung pula sebelumnya korupsi yang terjadi
dilingkungan kepolisian telah menjatuhkan citra polisi
dengan sangat dalam. Memang tidak mudah untuk
memecahkan masalah ini sebab polisi bekerja dengan
orang-orang yang memiliki persepsi dan sikap yang
berbeda tentang korupsi
b. Menangani laporan / pengaduan
Berikut ini beberapa contoh situasi mengenai hubungan
antara polisi dengan masyarakat. Antara lain dalam hal
menjawab telepon, mendengarkan keluhan, membantu
orang yang datang ke pusat pengaduan masyarakat. Polisi
”melayani dan mengayomi” masyarakat. Polisi harus
menunjukkan sikap yang demikian ketika berkomunikasi
dengan masyarakat.
Polisi memiliki kewenangan atas warga dalam suatu
masyarakat, tetapi mereka tidak boleh dikendalikan oleh
kewenangan tersebut ketika berhubungan dengan warga.
Meskipun warga masyarakat yang datang melapor bersikap
kasar, polisi harus bersikap bijak menangani laporan
tersebut.
Haruslah disadari bahwa orang datang melapor ke kantor
polisi, ketika melaporkan suatu kejadian, mereka berada
dalam keadaan tidak tenang. Mereka menghubungi polisi
karena ada sesuatu yang salah, ada satu masalah atau
mereka telah menjadi korban.
Oleh karena itu, patut diingat bahwa kesan diberikan polisi,
serta persepsi orang lain mengenai polisi, merupakan hal
yang penting untuk mendukung terciptanya hubungan yang
baik dengan masyarakat.
c. Menangani tersangka dan tertuduh

PERPOLISIAN MASYARAKAT 25
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Selain aturan hukum dan institusi yang terkait dengan


pembahasan ini, sangat penting bagi anda untuk
memperlakukan orang yang menjadi tersangka atau
tertuduh dengan rasa hormat. Harus diingat, ketika
seseorang ditangkap, orang tersebut tidak saja kehilangan
kebebasannya tetapi harga dirinya juga hancur.

Oleh sebab itu, ada baiknya kita menyimak beberapa hal


berikut ini :
 Jangan gunakan kekerasan lebih dari seperlunya pada saat
melakukan penangkapan.
 Menghukum orang yang melanggar hukum bukanlah tugas
polisi, itu adalah tugas dan fungsi pengadilan. Oleh karena
itu, jangan gunakan metode-metode interogasi yang agresif
untuk mendapatkan informasi atau pengakuan dari pelaku
pelanggaran.
 Jelaskan kepada orang yang dicurigai atau tersangka
pelanggaran apa yang telah dia lakukan. Dia memiliki hak
untuk mengetahui alasan dia ditangkap. Sampaikan hal
tersebut sedemikian rupa sehingga dia mempercayai anda.
 Jika dia memerlukan bantuan hukum, upayakan agar
bantuan hukum disediakan
 Mungkin yang menjadi tersangka adalah penopang ekonomi
keluarga. Bantu dia dan keluarganya untuk mengatur
urusan-urusan dan kewajiban-kewajibannya.
 Hargai hak asasi manusia dari yang menjadi tersangka

d. Menangani korban
Disini kita membahas mengenai perbedaan antara korban
langsung dan korban tidak langsung. Korban langsung
adalah orang yang menjadi obyek sebuah kejahatan.
Misalnya orang yang diserang, dirampok, diperkosa atau
dibunuh. Sementara itu korban tidak langsung adalah
anggota keluarga atau kerabat dekat korban yang
menderita akibat kejahatan yang terjadi. Untuk menjaga
martabat korban, penting bagi anda untuk bersikap hormat.

7. Prilaku Polisi yang dapat dipercaya masyarakat

PERPOLISIAN MASYARAKAT 26
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Jangan menunjukkan kesan sinis, jangan menuduh korban


sebagai penyebab terjadinya kejahatan. Menjadi korban suatu
kejahatan adalah pengalaman yang traumatis bagi siapa saja, dan
setiap sikap negatif yang anda tunjukkan akan memperburuk
situasi.
 Berikan bantuan dan tunjukkan empati kepada korban
kejahatan. Hubungi pekerja sosial bila diperlukan, misalnya
dalam kasus konflik keluarga.
 Jangan mencatat pernyataan dari seorang yang mengalami
shock. Yang harus lebih dahulu dilakukan adalah
berkonsultasi dengan dokter pribadinya.
 Sikap anda harus menunjukkan anda benar-benar siap
memberi pelayanan kepada masyarakat.
 Korban-korban kejahatan, misalnya penganiayaan /
pemerkosaan anak perlakuan tidak senonoh, penyerangan,
dan perampokan harus ditangani dengan bijaksana. Ini tidak
berarti korban kejahatan lainnya tidak penting tetapi korban
kejahatan seperti ini biasanya mengalami trauma emosional
yang sangat dalam.

8. Membangun Kemitraan Melalui Pencegahan Kejahatan

Prinsip-prinsip perpolisian tidak cukup hanya mengarah pada sikap


proaktif. Polisi juga harus dapat melibatkan masyarakat dalam
proses perpolisian. Pencegahan kejahatan , dalam hal ini, dapat
diartikan sebagai beragam kegiatan proaktif dan reaktif yang
diarahkan kepada pelaku, korban dan lingkungan sosial dan fisik,
yang dilaksanakan sebelum atau setelah terjadinya kejahatan.

Kegiatan-kegiatan untuk mencegah terjadinya kejahatan


Mencegah kejahatan hendaknya selalu dilihat sebagai kegiatan
yang dilaksanakan polisi dan masayarakat untuk mengurangi
kejahatan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan polisi, misalnya
ditujukan lebih pada pelaku kejahatan. Pada pihak lain, kegiatan
masyarakat ditujukan untuk mengendalikan situasi atau
menghilangkan kesempatan terjadinya kejahatan. Berhubung
kedua pihak memiliki tujuan sama, keduanya harus saling
menyadari dan mengetahui kegiatan masing-masing, serta harus
ada koordinasi antara polisi dan masyarakat

PERPOLISIAN MASYARAKAT 27
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Peran polisi dalam mencegah kejahatan


Menghilangkan kesempatan terjadinya kejahatan, Organisasi
kepolisian hendaknya kreatif menciptakan program yang
melibatkan masyarakat. Program ini harus mampu memotivasi
anggota masyarakat untuk memainkan satu peran aktif dalam
mencegah terjadinya kejahatan. Polisi juga harus mendukung
program-program masyarakat yang ditujukan untuk mengurangi
kesempatan orang malakukan kejahatan

Patroli merupakan peran eksternal kepolisian yang khusus dalam


upaya pencegahan kejahatan. Patroli dapat didefinisikan sebagai
satu periode gerakan sistematis dengan maksud tertentu, yang
dilakukan seorang atau beberapa orang polisi disebuah tempat
atau melewati daerah tertentu, untuk mencapai tujuan perpolisian
tertentu (terutama yang bersifat preventif)

Peran masyarakat dalam mencegah kejahatan


Telah dijelaskan dan ditekankan betapa pentingnya kontribusi
masyarakat terhadap upaya pencegahan kejahatan. Walaupun
demikian polisi harus dan tetap menjadi pemegang kendali
dibelakang tiap-tiap kegiatan masyarakat meskipun hanya untuk
menumbuhkan motivasi serta perhatian. Tanpa tindakan yang
demikian, setiap kegiatan masyarakat yang ditujukan untuk
mencegah kejahatan akan mengalami kegagalan.

Strategi-strategi masyarakat
Kegiatan-kegiatan pencegahan kejahatan yang sudah dilakukan
tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang sudah sempurna.
Masyarakat dan polisi hendaknya terus dirancang kegiatan baru
lainnya untuk melengkapi aktivitas yang sudah ada
 Sistem keamanan Lingkungan – siskamling
 Sistem pengawasan kemanan kawasan bisnis

Forum-forum diskusi.
Setelah terbentuknya polmas, peran forum-forum diskusi tidak
dapat diabaikan. Dialog merupakan dasar terciptanya dukungan
masyarakat yang kuat. Forum-forum ini merupakan tempat dimana
polisi dan masyarkat saling bertemu dan sering merupakan tempat
mereka memecahkan masalah bersama.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 28
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Ceramah, pertemuan untuk penyampaian informasi, dan


penyuluhan
 Bahan yang dipublikasikan untuk pencegahan kejahatan
 E-Mail/Home Page
 Program komunikasi media masa
 Survei masyarakat

PERPOLISIAN MASYARAKAT 29
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BABIII

HAM DAN POLMAS


DALAM NEGARA DEMOKRASI

Kompetensi Dasar :

Peserta didik memahami dengan benar hubungan HAM dengan


Polmas dalam Negara Demokrasi

Indikator Hasil Belajar :

Setelah mempelajari Bab III, peserta didik mampu :


1. Menjelaskan pengertian HAM.
2. Menjelaskan hubungan HAM dan Polmas.
3. Menjelaskan pentingnya polisi menghormati HAM.
4. Menyebutkan hasil positif jika Polisi menghargai HAM.
5. Menyebutkan contoh pelanggaran HAM dan petugas
penegak hukum.
6. Menjelaskan prinsip-prinsip dasar penegak hukum.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 30
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

1. Hak Azasi Manusia dan Polmas dalam Demokrasi

Dalam masyarakat yang demokratis , anggota polisi dan


masyarakat bekerja sama bahu membahu. Bersama-sama
menjalin upaya menjamin keamanan dan perlindungan terhadap
setiap anggota masyarakat perempuan, laki-laki dan anak-anak,
tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama atau status politik.

Hubungan yang baik, antara polisi dan masyarakat, adalah syarat


mutlak sangat dibutuhkan dalam hal ini. Relasi yang baik tersebut
memungkinkan terjadinya penghormatan hak asasi manusia dalam
setiap tindakan polisi dan masyarakat. Hubungan yang baik juga
mampu meningkatkan saling pengertian antara polisi dan
masyarakat. Walhasil, usaha pemecahan masalah yang kreatif dan
tindakan-tindakan proaktif dalam perpolisian setiap hari dapat
berlangsung.

Pelatihan Hak Asasi Manusia mempunyai peranan yang sangat


penting dalam polmas. Pelatihan seperti itu menjamin
dilaksanakannya pelayanan yang etis oleh polisi dan
meningkatkan profesionalisme mereka. Penting bagi anggota polisi
untuk memahami peranan mereka dalam masyarakat dan
memahami hak-hak asasi orang-orang yang bekerja sama dengan
mereka.

Sebaliknya, masyarakat juga perlu mengerti peranan anggota


polisi dan apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu polisi
dalam melaksanakan tugasnya. Polmas adalah salah satu cara
yang paling efektif untuk menjamin bahwa hak asasi manusia
setiap orang dilindungi dan dihormati

Polmas dan hak-hak asasi manusia adalah dasar dari perpolisian


ketika polisi melakukan tugas mereka. Karena mereka melakukan
tugasnya berdasarkan kedua hal tersebut, maka anggota polisi
akan mampu membangun hubungan kerja yang baik dengan
masyarakat dan dengan demikian mereka mampu memberikan
pelayanan yang profesional.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 31
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

2. Pengertian Hak Asasi Manusia

Banyak definisi mengenai hak asasi manusia. Dan agaknya setiap


orang memiliki pendapat yang berbeda mengenai pentingnya
masing-masing hak tersebut. Namun, secara umum hak asasi
manusia didefinisikan sebagai ”prinsip tentang kesamaan dan
keadilan yang diterima secara umum” atau ” hak-hak moral yang
setara yang dimiliki semua orang sebagai manusia”

Berdasar pengertian tersebut, hak asasi manusia adalah milik


semua orang termasuk anggota polisi sekalipun. Hak asasi
manusia berarti kesamaan keadilan, dan kesetaraan.

Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk menjelaskan


hak asasi manusia.
 Memberikan Perlindungan Minimal
 Melekat (Inheren)
 Berlaku bagi semua (Universal)
 Tidak dapat dicabut
 Kesetaraan
 Tidak terpisahkan
 Fundamental
 Tidak Selamanya Mutlak (tidak absolut)
 Kewajiban negara

Hak Asasi Manusia memang dilindungi berdasarkan undang-


undang Dasar Republik Indonesia atau melalui peraturan lainnya.
Di Indonesia ada Uandang-undang khusus (UU No. 39/1999)
tentang Hak Asasi Manusia. Setiap orang memiliki hak untuk
memperjuangkan hak-hak mereka, akan tetapi kadang-kadang hak
asasi manusia dapat dibatasi jika hak tersebut bertentangan atau
ternyata mengganggu hak-hak orang lain. Anggota polisi harus
menghargai hak asasi manusia orang lain karena mereka pun
akan menghargai hak-hak kita.

3. Hubungan Hak Asasi Manusia dengan Polmas

PERPOLISIAN MASYARAKAT 32
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Perpolisian masyarakat adalah salah satu yang paling efektip


untuk menjamin perlindungan dan penghormatan atas hak asasi
manusia.
Apabila masyarakat memahami peran polisi maka mereka akan
mampu mengidentifikasi pelanggaran hak asasi manusia.
Landasan Polmas adalah kemitraan yang terjalin antara polisi dan
masyarakat yang patuh hukum. Dengan demikian, masyarakat
dengan sukarela mau membantu polisi dalam memberantas
kejahatan. Bekerja dalam kemitraan dengan masyarakat juga akan
menjamin munculnya berbagai pendekatan pemecahan masalah
yang krestif yang menghormati hak-hak asasi manusia.

4. Pentingnya Polisi Menghormati dan Melindungi


HAM

Tugas adalah melindungi, mengayomi, melayani dan menegakkan


hukum dalam rangka menciptakan situasi Kamtibmas. Anggota
masyarakat dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam
membantu polisi melaksanakan tugas-tugasnya. Antara lain,
dengan membantu polisi mengidentifikasi, memecahkan kasus
kejahatan, dan membersihkan masyarakat dari pelaku kejahatan
dan gangguan kamtibmas lainnya.

Patut kita sadari, partisipasi aktif masyarakat tidak datang begitu


saja. Petugas kepolisian tidak dapat mengharapkan partisipasi
aktif dari masyarakat apabila polisi sendiri tidak menghormati
masyarakat, menyalahgunakan wewenang, melanggar hak asasi
manusia, dan menunjukkan perilaku yang tidak profesional.
Anggota masyarakat tidak akan pernah mau percaya dan bekerja
dengan polisi yang melakukan kejahatan, yang menerima suap,
yang menutup-nutupi kejahatan, yang menggunakan kekerasan
yang berlebihan atau menunjukkan perilaku lainnya yang tidak etis.

Oleh karena itu, jika anggota polisi menghargai dan melindungi


hak asasi manusia setiap anggota masyarakat, hasil positif yang
dapat diraih adalah :
 Hubungan kerja sama yang lebih baik dengan
masyarakat
 Rasa percaya kepada polisi
 Rasa saling menghargai

PERPOLISIAN MASYARAKAT 33
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Kerja sama dalam memberantas kejahatan


 Lingkungan yang aman dan tertib
 Profesionalisme.
Catatan : Masih ada lebih banyak lagi hasil positif bagi polisi dan
masyarakat.
5. Pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh Petugas
Penegak Hukum

Salah satu aspek yang penting dalam penegakan hukum adalah


bagaimana hukum ditegakkan. Sebagian tanggung jawab Polri
adalah menghormati dan melindungi hak asasi manusia setiap
orang yang menjadi tanggung jawab mereka serta
mempertahankan penegakan hukum. Ini berarti petugas kepolisian
harus bertindak di dalam ruang lingkup hukum.

Selain itu, polisi juga mempunyai tanggung jawab untuk


melaksanakan tugas mereka dengan penuh disiplin dan
profesional. Namun juga ada juga terjadi beberapa oknum
kepolisian melanggar hukum atau melanggar Hak Asasi Manusia.
Tindakan seperti ini akan selalu dianggap sebagai kesalahan
serius dan harus ditangani dengan tegas dan tuntas.

Beberapa contoh pelanggaran hak asasi manusia oleh petugas


kepolisian adalah sebagai berikut :
 Penangkapan dan penahanan seseorang yang tidak
berdasarkan hukum
 Perlakuan yang merendahkan, menyiksa, dan yang tidak
manusiawi
 Korupsi dan menerima suap
 Menggagalkan atau menghalangi terjadinya proses
peradilan (menutup-nutupi kejahatan)
 Penyiksaan , perlakuan tidak manusiawi dalam
penangkapan dan penahanan seseorang
 Perlakuan sewenang-wenang (hukuman fisik yang
ilegal)
 Perlakuan tidak manusiawi terhadap seseorang yang
melaporkan kasus pelanggaran hak asasi manusia oleh
orang lain

PERPOLISIAN MASYARAKAT 34
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Prosedur penggeledahan dan penyitaan yang tidak


berdasarkan hukum
 Penggunaan kekerasan yang berlebihan.

Ketika petugas kepolisian melakukan pelanggaran hak asasi


manusia dan hukum, kepercayaan masyarakat pun hilang. Polisi
menjadi tidak profesional karena mereka menjadi pelaku kejahatan
dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum.
Dalam pelajaran mengenai hak asasi manusia dan Polmas,
beberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia serius, seperti
penggunaan kekerasan yang berlebihan dan penggunaan senjata
api (senpi), penyiksaan, perlakuan yang tidak manusiawi, dan
merendahkan serta usaha menutup-nutupi kejahatan dan korupsi
akan dibahas lebih rinci.

6. Penyiksaan, Perlakuan yang tidak manusiawi dan


merendahkan

Penyiksaan, tindakan yag tidak manusiawi dan merendahkan


adalah pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Petugas
kepolisian dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan
pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini karena untuk tidak disiksa
adalah salah satu dari beberapa hak, dalam keadaan apapun juga,
yang tidak dapat dibatasi. Hak untuk tidak disiksa adalah hak tidak
mutlak
Larangan penyiksaan bersifat mutlak

Tidak ada pengecualian


Penyiksaan tidak pernah dianggap sah
Tidak ada pembelaan hukum bagi pelaku penyiksaan

Penggunaan kekerasan yang berlebihan dan senjata api

LEGALITAS NESESITAS PROFORSIONALITAS

PERPOLISIAN MASYARAKAT 35
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Ketika anggota polisi menggunakan kekerasan fisik saat


menegakkan hukum, ada tiga prinsip dasar penegakan hukum
yang menjadi panduan dalam kaitan hak asasi manusia dan
penegakan hukum.

(Ketika seorang petugas penegak hukum tidak mengikuti prinsip-


prinsip ini, maka tindakannya menjadi tidak lebih dari sebuah
tindakan kekerasan. Tindakannya juga bisa disebut sebagai
tindakan yang melanggar hukum dan tidak sejalan dengan prinsip-
prinsip dasar hak asasi manusia dan penegakan hukum).

Setiap kali seorang petugas penegak hukum harus mengambil


satu keputusan untuk menggunakan kekerasan, ada tiga
pertanyaan yang harus dijawab secara berurutan :
 Apakah penggunaan kekerasan berdasarkan hukum
(legal).
 Apakah penggunaan kekerasan dibutuhkan (nesesitas).
 Apakah penggunaan kekerasan proporsional terhadap
ancaman itu ?

Jika salah satu jawaban anda tidak, maka apapun bentuk


kekerasan yang digunakan dapat dianggap sebagai pelanggaran
HAM.

Melakukan kekerasan fisik secara etis dalam perpolisian


didasarkan pada satu (1) prinsif, yaitu proporsionalitas

Menurut prinsip ini, pertama-tama petugas kepolisian harus


bertanya kepada dirinya sendiri : ” Tujuan apa yang ingin dicapai
dalam sebuah situasi dan metode apa yang ingin digunakannya
untuk mencapai tujuan tersebut” Petugas kepolisian hanya boleh
menggunakan kekuatan secukupnya saja

Sesudah tujuannya tercapai, penggunaan kekuatan harus


dihentikan. Janganlah seseorang memberikan hukuman yang
berlebihan hanya karena sentimen pribadi. Situasi akan
menentukan tujuan. Selanjutnya, tujuan itulah yang akan berfungsi
sebagai pedoman untuk memilih metode-metode alternatip yang
akan digunakan.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 36
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Kekerasan yang seminimal mungkin adalah metode yang harus


kita pilih demi mencapai tujuan prinsip dasar. Penting untuk kita
ingat, tindakan penangkapan tersangka tetap membutuhkan
keseimbangan antara melakukan tugas polisi secara baik dan
meghormati hak-hak tersangka. Tersangka yang ditangkap juga
belum sepenuhnya dianggap bersalah sampai ada keputusan
pengadilan. Ingat, anda tidak boleh menangkap seseorang untuk
menghukum orang tersebut.

Ingatlah : Seorang tersangka dianggap tidak bersalah sampai


terbukti bersalah

Potensi tingkat kekerasan dalam melakukan penangkapan :


 Kehadiran Anggota polisi; menunjukkan Kewenangan
Polisi.
 Menggunakan kata-kata.
 Tindakan tangan kosong.
 Teknik Disfungsi Motorik (teknik melumpuhkan).
 Zat kimia.
 Tongkat Polisi dan Impact Weapons ( (senjata yang
mempunyai dampak khusus seperti : tongkat polisi, tameng
dan pisau).
 Penggunaan senjata api.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 37
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BABIV

PERLAKUAN TERHADAP
KELOMPOK RENTAN

Kompetensi Dasar :

Peserta didik sebagai anggota Polri memahami tentang konsep


kelompok rentan dalam masyarakat dan dapat memperkenalkan
kepada anggotanya.

Indikator Hasil Belajar :

Setelah mempelajari Bab IV , Peserta didik mampu :


1. Menyebutkan jenis-jenis kelompok rentan.

2. Menjelaskan aturan tambahan terhadap anak dan


perempuan sebagai.
3. korban dan tersangka kejahatan.
4. Menyebutkan contoh-contoh kekerasan dalam rumah
tangga.
5. Menjelaskan faktor yang dapat mempengaruhi
hubungan Polisi dan Masyarakat.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 38
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Apabila kita perhatikan dengan seksama, tidak semua anggota


Masyarakat mempunyai kemampuan yang sama untuk melindungi
diri sendiri. Beberapa kelompok, misalnya perempuan, anak-anak,
manula, orang cacat, pendatang, dan korban kejahatan, termasuk
dalam kelompok yang rentan dalam hal perlindungan diri.

Sering diperlakukan tidak adil, kerap menjadi korban kekerasan


fisik dan mental, serta tidak dapat melindungi diri sendiri adalah
sebab mengapa mereka disebut kelompok rentan. Polisi perlu
memberi perhatian dan perlakuan khusus agar hak asasi manusia
mereka terlindungi. Harus pula kita sadari bahwa kelompok rentan
adalah bagian dari masyarakat juga. Dengan demikian,
perlindungan terhadap mereka akan membantu terciptanya
hubungan yang lebih baik antara polisi dan keseluruhan
masyarakat.

1. Jenis – Jenis Kelompok Rentan

1.1. Anak-anak
1.2. Perempuan
1.3. Pendatang
1.4. Orang asing tergolong :
a. Orang mendapat ijin :
 Penduduk tetap
 Penduduk sementara
 Pencari suaka
 Pengungsi

PERPOLISIAN MASYARAKAT 39
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

b. Orang yang tidak mendapat ijin adalah Pendatang ilegal.


1.5. Korban kejahatan
1.6. Kelompok minoritas yang antara lain meliputi kelompok
suku, agama, etnis, ras kelompok dari kepercayaan tertentu,
kelompok dengan orientasi seksual khusus (homoseksual, gay,
lesbian, waria), orang cacat, dan orang miskin).

2. Anak-anak dan Perempuan sebagai Korban dan Tersangka


Kejahatan

Anak-anak adalah masa depan. Merekalah yang memegang peran


sangat penting bagi masyarakat dimasa mendatang. Merekalah
kelak yang akan menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia. Namun
demikian anak-anak juga merupakan salah satu kelompok rentan
dalam setiap masyarakat.

Anak-anak dalam kontek pembinaan polmas, juga memegang


peranan yang penting. Petugas polisi harus memiliki hubungan
yang baik dengan anak-anak. Turut serta dalam berbagai proyek
olah raga disekolah adalah contoh cara membina hubungan baik
dengan anak-anak. Melalui cara ini anak-anak akan lebih
menghargai dan menghormati polisi. Pada gilirannya polisi juga
akan lebih mudah mendapatkan akses informasi mengenai
berbagai kegiatan kriminal yang timbul dalam masyarakat.
Keamanan dan ketentraman masyarakat pun akan lebih
meningkat.

Sebelum lebih jauh membahas bagian ini, ada baiknya kita


mengetahui definisi anak-anak. Konvensi PBB mengenai hak-hak
anak (PBB 16 Juni 1995) menjabarkan definisi seorang anak
sebagai

Memperlakukan anak dengan tulus dan sungguh-sungguh adalah


salah satu aspek penting dalam menghormati hak-hak asasi
manusia. Oleh karena itu, ketika berhadapan dengan anak-anak,
petugas kepolisian harus :
 Bersikap sangat sabar.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 40
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Berusaha menimbulkan kepercayaan anak kepadanya.


 Memperhatikan bahwa anak-anak, terutama yang masih
kecil atau anak-anak yang tidak tau apa-apa, tidak dapat
langsung bahwa ia telah menjadi korban kekerasan atau
korban eksploitasi.
 Tanggap terhadap tanda-tanda adanya penyiksaan dan
eksploitasi.

Sebagai kelompok rentan, anak-anak memerlukan perlakuan


khusus, perhatian, dan perlindungan dari perlakuan kasar. Setiap
anak-anak berhak untuk diperlakukan dengan wajar dan sesuai
martabat mereka sebagai manusia.

Petugas polisi yang menangani anak yang menjadi korban


tindakan kejahatan harus lebih bersikap penuh kasih sayang
dibandingkan ketika mereka menangani korban yang sudah
dewasa. Anak yang melakukan tindak kejahatan juga harus
diperlakukan khusus. Perlakuan yang tidak sama dengan yang
diberikan terhadap orang dewasa yang melakukan kejahatan.

a. Anak-anak sebagai tersangka kejahatan

Menurut standar dan praktek internasional Hak Asasi Manusia


PBB tentang perlindungan anak, anak-anak berhak mendapatkan
semua jaminan hak asasi manusia yang menjadi hak orang
dewasa. Namun, disamping itu ada beberapa aturan tambahan
khusus anak-anak :
 Anak-anak harus diperlakukan sedemikian rupa supaya
harga diri dan martabat mereka meningkat sehingga
memudahkan mereka kembali bergabung dalam
masyarakat. Perlakuan terhadap anak-anak tetap
memperhatikan kepentingan si anak dan kebutuhan-
kebutuhan anak pada usia tersebut.
 Anak-anak tidak boleh disiksa, tidak boleh diperlakukan
dengan kejam atau tidak manusiawi. Anak-anak juga tidak
boleh dihukum dengan hukuman yang merendahkan
martabatnya sebagai manusia, hukuman fisik, atau
dipenjara seumur hidup tanpa ada kesempatan untuk
bebas.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 41
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Penahanan atau pemenjaraan anak harus merupakan


usaha terakhir apabila terpaksa, penahanan harus
diupayakan sesingkat mungkin.
 Tahanan anak-anak harus dipisahkan dari tahanan orang
dewasa.
 Anak-anak yang ditahan harus diijinkan untuk menerima
kunjungan dan menerima surat dari keluarganya.
 Harus ditentukan usia minimal anak untuk
mempertanggung jawabkan kejahatan yang dilakukannya.
 Harus diusahakan penyelesaian masalah diluar pengadilan
dan lembaga rehabilitasi.
 Privasi anak harus dihormati. Data catatan tentang anak
tersebut juga harus dijaga serta tetap dirahasiakan.
 Penggunaan kekerasan atau pengekangan fisik pada anak-
anak harus merupakan pengecualian dan hanya boleh
dilakukan ketika semua upaya telah digunakan dan gagal.
Tindakan inipun harus dilakukan sesingkat mungkin.
 Senjata tidak boleh dibawa kedalam lembaga rehabilitasi
anak dan remaja
 Disiplin atau hukuman boleh diterapkan, tetapi harus
dilakukan dengan menghormati martabat anak dan harus
tetap menanamkan rasa keadilan menghargai diri sendiri
serta menghargai hak asasi manusia
 Petugas yang menangani anak-anak dan remaja harus
mendapat pelatihan khusus dan kepribadian petugas
tersebut harus cocok untuk tugas tersebut.
 Kunjungan berkala, seperti juga kunjungan mendadak oleh
para pengawas ke fasilitas anak dan remaja harus
dilakukan.
 Orang tua anak harus diberi tahu jika terjadi penangkapan,
penahanan, pemindahan, jatuh sakit, cedera atau kematian.

b. Anak-anak sebagai korban kejahatan

Polisi harus memberikan perlindungan dan perhatian khusus bagi


anak-anak yang menjadi korban kejahatan. Semua anak harus
diperlakukan dengan adil dan dihargai martabatnya tanpa
memandang status dan latar belakang sosialnya. Anak miskin
yang menjadi korban kekerasan harus mendapat perlakuan sama
dengan yang didapat anak orang kaya.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 42
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Secara keseluruhan, anak-anak harus dilindungi dari eksploitasi


dan penyalahguanaan seksual. Polisi, dalam hal ini, memainkan
peranan penting dalam melindungi anak. Negara harus mengambil
tindakan untuk melindungi anak-anak dari bujuk rayu ataupun
paksaan untuk terlibat dalam aktifitas atau praktek seksual yang
melanggar hukum, prostitusi, pertunjukan atau bahan-bahan
pornografi. Polisi dengan demikian, juga harus membantu negara
dalam mencegah penculikan atau perdagangan anak untuk tujuan
apapun. Anak-anak harus dilindungi dari eksploitasi yang
membahayakan kesejahteraannya. Mereka harus dilindungi dari
penyalahgunaan narkoba. Negara juga harus mencegah
dimanfaatkannya anak-anak untuk menghasilkan atau
memperdagangkan obat-obatan terlarang.

c. Perempuan sebagai kelompok rentan

Perempuan pemegang peranan yang sangat penting dalam


masyarakat. Merekalah yang mendidik anak-anak, mengelola
rumah tangga, sekaligus menjalankan berbagai jenis profesi dalam
masyarakat.

Sebagai layaknya manusia, perempuan berhak menikmati


perlindungan hak asasi manusia di bidang politik, ekonomi, sosial,
budaya, sipil dan bidang-bidang lain. Hak-hak tersebut antara lain,
hak untuk hidup kesetaraan, kebebasan dan keamanan,
perlindungan hukum yang sama, bebas dari diskriminasi,
mendapatkan standar tertinggi untuk kesehatan mental dan
jasmani, juga mendapatkan kondisi kerja yang adil dan layak.
Perempuan juga berhak bebas dari penyiksaan, bebas dari
perlakuan kejam yang tidak manusiawi, serta bebas dari perlakuan
yang merendahkan martabat.

Dalam menerapkan polmas, perempuan juga dapat membantu


Polisi. Hubungan baik yang terbina antara polisi dan perempuan
akan sangat berguna dalam upaya meningkatkan keamanan dan
ketentraman masyarakat.

d. Perempuan sebagai korban kejahatan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 43
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Kekerasan berbasis jender, seperti tercantum dalam definisi yang


dirilis konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap
perempuan, adalah sebagai berikut.

”Kekerasan yang ditujukan kepada perempuan hanya karena ia


perempuan atau suatu kekerasan yang mempunyai dampak pada
perempuan secara tidak proporsional. Kekerasan terhadap
perempuan meliputi tindakan yang membuat cedera fisik,
penderitaan mental atau seksual. Kekerasan juga meliputi
ancaman untuk melakukan tindakan-tindakan diatas, atau tindakan
lainnya yang bersifat merampas kebebasan

Ketika perempuan menjadi korban kejahatan, anggota polisi harus


memberikan perhatian khusus. Berikut ini adalah hal-hal yang
harus diperhatikan.
 Petugas kepolisian harus selalu menghormati martabat
korban. Rasa hormat hendaknya tercermin dalam cara polisi
berbicara dan memperlakukan korban.
 Dalam kasus korban penyiksaan, naggota polisi (laki-laki
atau perempuan) harus menyadari bahwa dirinya
berhadapan seseorang yang telah diperlakukan sewenang-
wenang telah dianiaya, dan dipermalukan. Korban
penyiksaan jauh lebih rentan dibandingkan anggota
masyarakat lain.
 Biasanya, kalau yang menjadi korban adalah perempuan,
maka pihak pertama yang dihubungi adalah polisi. Karena
itu kesejahteraan dan kesehatan korban harus menjadi
prioritas utama bagi polisi. Tindakan kejahatan yang sudah
terlanjur terjadi itu tidak dapat dihilangkan. Namun, bantuan
dan penanganan yang tepat terhadap korban jelas dapat
membantu meringankan dampak negatif dari kejahatan
yang dialaminya.

e. Perempuan sebagai tersangka kejahatan

Tahanan perempuan bisa dikatakan berada dalam posisi


kelompok yang paling rentan. Mereka kerap menjadi korban kasus
pelanggaran hak asasi manusia yang paling memprihatinkan.
Petugas kepolisian yang seharusnya menjadi pihak pelindung,
justru menjadi pelaku kekerasan terhadap tahanan perempuan.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 44
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Pelanggaran hak asasi perempuan tahanan terjadi diseluruh dunia.


Oleh karena itu PBB telah menghimbau negara-negara
anggotanya untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam
menghapus tindakan kekerasan fisik terhadap tahanan
perempuan.

Langkah-langkah tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :


 Perempuan hanya boleh diinterogasi atau ditahan dibawah
pengawasan petugas polisi wanita.
 Perempuan yang ditangkap atau ditahan tidak boleh
diperlakukan secara berbeda dan harus dilindungi dari
segala bentuk kekerasan atau eksploitasi
 Tahanan perempuan harus diawasi dan digeledah oleh
petugas perempuan dan atau staf perempuan.
 Tahanan perempuan harus ditahan ditempat yang berbeda
dengan tahanan laki-laki
 Untuk perempuan yang sedang hamil dan ibu yang sedang
menyusui harus disediakan fasilitas khusus dalam proses
penahanan

Semua petugas kepolisian harus mengetahui bahwa penyerang


perempuan yang berada dalam tahanan secara seksual dianggap
sebagai suatu tindak penyiksaan atau kekerasan. Tindakan ini,
dalam keadaan apapun, tidak akan pernah ditelolir. Prosedur-
prosedur penanganan tahanan perempuan semestinya untuk
melindungi tahanan perempuan dan bukan untuk meperburuk
keadaan.

Apabila seorang anggota polisi mengetahui bahwa rekannya


melakukan kekerasan seksual terhadap seorang tahanan
perempuan, dia harus segera melaporkan kejadian tersebut
kepada pihak berwenang.

3. Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kekerasan dalam rumah tangga terjadi disemua negara penjuru


dunia. Kekerasan tersebut tidak hanya terjadi dalam keluarga
tetapi juga terjadi diantara orang yang menjalin hubungan dekat.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 45
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Polisi kadang kala memandang kekerasan dalam rumah tangga


sebagai urusan pribadi dan oleh karena itu polisi tidak selalu ingin
ikut campur.

Walaupun demikian ada beberapa langkah khusus yang harus


diambil ketika polisi menghadapi korban kekerasan dalam rumah
tangga. Ada beberapa standar dan praktek internasional yang
telah dikembangkan dan dapat digunakan sebagai pedoman
penerapan standar dan praktek penanganan korban kekerasan
dalam rumah tangga.

Contoh kekerasan dalam rumah tangga :


 Kekerasan fisik
 Kekerasan seksual
 Kekerasan emosional dan psikologis
 Kekerasan ekonomi
 Kekerasan verbal (dengan perkataan yang kasar)
 Intimidasi
 Pelecehan
 Mengikuti dan memata-matai
 Merusak harta benda atau propertio (rumah dan barang
lainnya)
 Memasuki rumah korban tanpa ijin.
 Sikap lain yang melecehkan atau yang berusaha menguasai
sesuatu.

Namun, penting untuk disadari untuk kekerasan dalam rumah


tangga adalah suatu bentuk kejahatan seperti layaknya kejahatan
lain. Oleh karena itu Polisi harus turun tangan.

Standar dan Praktek Internasional dalam penanganan kasus


kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
 Kekerasan terhadap perempuan dapat berupa kekerasan
fisik, seksual, atau psikologis. Sebagai contoh : pemukulan
berulang-ulang, penyiksaan seksual, kekerasan yang
berhubungan dengan mas kawin, perkosaaan yang
dilakukan suami terhadap isteri, praktek-praktek tradisional
yang membahayakan, kekerasan dan perkosaan diluar
hubungan suami isteri, pelecehan seksual, pelacuran

PERPOLISIAN MASYARAKAT 46
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

paksa, perdagangan perempuan, dan kekerasan yang


berkaitan dengan eksploitasi perempuan.
 Apapun betuknya, kekerasan terhadap perempuan adalah
perbuatan melanggar, merusak dan merampas hak asasi
manusia dan kebebasan dasar yang berhak dinikmati oleh
perempuan.
 Polisi harus melakukan tindakan yang sebaik-baiknya untuk
mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap
perempuan. Polisi harus menyelidiki dan menahan setiap
pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan dengan tidak
pandang bulu. Kekerasan yang dilakukan oleh pejabat
pemerintah atau pribadi, didalam rumah tangga, dalam
masyarakat ataupun dalam instansi-instansi pemerintah
harus ditangani dengan sebaik-baiknya.
 Polisi harus mengambil tindakan tegas untuk mencegah
agar perempuan tidak menjadi korban kekerasan. Polisi
juga harus memastikan agar seseorang tidak menjadi
korban untuk kedua kalinya hanya karena kelalaian polisi
atau karena praktek penegakan hukum yang tidak peka
dengan masalah jender.
 Kekerasan terhadap perempuan adalah suatu kejahatan
dan harus diberi hukuman yang setimpal, walaupun
kekerasan tersebut terjadi didalam keluarga.

Perlu kita sadari bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga


sering kali takut akan tindakan balas dendam apabila mereka
mengajukan tuntutan. Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan khusus
dengan pemberian perlindungan pada korban sehingga tindak
kekerasan tidak berlanjut. Pemberian rujukan untuk pemondokan
penampungan, dan perawatan kesehatan khusus juga diperlukan.

4. Hak-hak Korban kejahatan

Pimpinan Kepolisian harus memastikan agar semua anggota polisi


memperlakukan korban dengan simpati. Beberapa panduan bagi
polisi adalah sebagai berikut :

PERPOLISIAN MASYARAKAT 47
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Polisi harus memberikan informasi kepada korban kejahatan


sesegera mungkin, jika memungkinkan dalam bentuk tertulis,
tentang berbagai hal berikut :
 Identitas petugas yang menginvestasi
 Umpan balik secara teratur selama investigasi
 Tanggal persidangan kasus
 Pembatalan atau penundaan persidangan serta tanggal
baru
 Tanggal pembacaan vonis hukuman
 Hasil persidangan dan hukuman yang diputuskan
 Dimana dan kapan barang-barang korban yang telah disita
dapat diambil.
 Kompensasi
 Pembayaran biaya saksi.
Korban kejahatan harus didukung oleh anggota polri dengan cara
berikut :
 Korban/pelapor/saksi harus diperlakukan dengan hormat
dan sopan
 Pernyataan harus diambil dengan cara yang baik, peka dan
sensitif, serta profesional. Hal ini juga harus dilakukan
dengan menghormati privasi hak korban. Apabila
memungkinkan , proses berita acara pemeriksaan (BAP)
dilakukan tanpa disaksikan orang lain.
 Kasus-kasus harus diinvestigasi dengan cara yang
profesional, termasuk dengan memberikan umpan balik
secara teratur kepada korban.
 Korban harus diberi informasi mengenai prosedur tetap
yang harus diikuti polisi dalam menyelidiki suatu kejahatan.
 Polisi harus memberikan petunjuk tentang pencegahan
kejahatan.
 Polisi harus merujuk korban ke pelayanan medis dan atau
konseling serta jasa pendukung lain dalam masyarakat.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 48
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BABV

KETERAMPILAN KOMUNIKASI DALAM


POLMAS

Kompetensi Dasar :

Peserta didik dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi


guna mendukung penerapan Polmas

Indikator Hasil Belajar :

Setelah memelajari Bab V, peserta didik mampu :


1. Menjelaskan pengertian komunikasi.
2. Menjelaskan faktor-faktor penghambat komunikasi.
3. Menjelaskan suasana komunikasi yang ideal.
4. Menjelaskan komunikasi berempati.
5. Menjelaskan tehnik-tehnik wawancara.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 49
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

1. Keterampilan Berkomunikasi dalam Polmas

Komunikasi yang efektif sangat penting bagi organisasi dimana


pun di dunia. Bahkan, komunikasi yang efektif adalah kunci meraih
keberhasilan. Hal ini juga berlaku bagi organisasi kepolisian
karena setiap hari mereka berkomunikasi dengan orang dari
berbagi kelompok masyarakat.

Ada dua jenis komunikasi yang dibutuhkan dalam organisasi


kepolisian, internal dan eksternal. Komunikasi internal terjadi ketika
anggota kepolisian berkomunikasi dengan sesama anggota
kelompoknya, baik bawahan atau atasan. Sementara itu,
komunikasi eksternal terjadi ketika anggota kepolisian
berkomunikasi dengan departemen terkait dalam pemerintahan,
organisi-organisasi non pemerintah, kalangan bisnis, korban
kejahatan, pelaku kejahatan, dan anggota masyarakat lainnya.

Semua anggota polisi wajib mengetahui cara berkomunikasi yang


efektif, terutama jika kepolisian hendak menerapkan Polmas
sebagai filosofi dasar dan strategi operasional. Dalam
bekerjasama dengan masyarakat, dalam konteks Polmas,
dilakukan pendekatan dengan manajemen partisipatif. Walhasil,
komunikasi yang efektif menjadi syarat keberhasilan yang utama.

2. Faktor - faktor Penghambat Komunikasi

PERPOLISIAN MASYARAKAT 50
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Komunikasi adalah transaksi. Komunikasi bukan sekedar


mengucapkan kata-kata sebab aktivitas komunikasi baru terjadi
ketika kata-kata diucapkan “diterima”. Apabila ucapan pesan yang
dikirimkan “tidak diterima” oleh orang lain, maka tidak terjadi
transaksi, yang berarti tidak terjadi komunikasi.

Perlu dicatat bahwa sikap dan prasangka dapat menghambat


penerimaan pesan verbal. Walaupun pesan tersebut secara fisik
dapat didengar dan dimengerti, dengan adanya sikap dan
prasangka pada pihak penyampaian atau penerima pesan verbal
mungkin saja tidak tersampaikan.

Berikut ini beberapa faktor penghambat komunikasi :


 Jika orang yang berkomunikasi tidak sopan, bersikap
mengancam atau agresif, maka ada kemungkinn bahwa
pesannya tidak diterima.
 Jika terdapat banyak gangguan disekitar, ada orang lain
yang berbicara di dekat kita, mungkin saja kita tidak
menerima semua pesan yang dikomunikasikan.
 Jika yang diajk berkomunikasi adalah orang yang tidak kita
sukai. Tak dapat diingkari, kita akan lebih mendengarkan
seseorang yang kita sukai dan jelaskan bahwa perhatian
kita tergantung pada siapa yang bebicara.
 Kurangnya ketertarikan atas suatu pesan akan
menyebabkan pesan yang dikomunikasikan kurang akurat.
Kita akan lebih memperhatikan sesuatu topik yang menarik
dan tidak membosankan.
 Jika orang-orang sedang dalam kondisi terlalu
bersemangat, tegang, atau takut, maka mereka mungkin
tidak dapat menerima pesan yang disampaikan.
 Jika pesan yang kita dengarkan terlalu teknis atau banyak
menggunakan kata-kata aneh, kita akan bingung, frustrasi,
dan tidak dapat menerima pesan yang dikomunikasikan.
 Jika kita tidak mau mendengar atau melibatkan diri, maka
kita tidak akan berusaha mendengarkan atau melibatkan
diri.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 51
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Jika kita harus memikirkan hal-hal lain, atau ada hal lain
yang berputar dalam benak kita, kita akan mendapatkan
kesulitan untuk mendengarkan pesan dengan baik.
 Terlalu banyak informasi yang masuk, maka mungkin saja
kita hanya menerima sebagian dari informasi tersebut.

3. Suasana Komunikasi

Komunikasi merupakan suatu “transaksi” yang selalu terjadi dalam


suasana tertentu. Suasana ini bisa saja di kantor, kendaran, atau
mereka yang berada dijalanan. Kondisi alamiah ini berdampak,
bisa berupa pengaruh merugikan, menguntungkan, atau netral
terhadap proses komunikasi.

Emosi adalah salah satu bentuk suasana yang muncul ketika


terjadi komunikasi. Hal ini biasanya diekspresikan melalui bentuk-
bentuk komunikasi non verbal, bahasa tubuh seperti ekspresi
wajah, mengerutkan kening, sikap cara meletakkan tangan dan
telapak tangan , adalah indikasi suasana yang tercipta.

Sikap tubuh yang agresif mungkin saja mengindikasikan adanya


kecurigaan atau tuduhan apabila tubuh atau ekspresi wajah
disertai nada bicara tertentu, maka sang penerima dapat dengan
mudah mengidentifikasi suasana yang tercipta, apakah negatif
atau positif bagi suatu komunikasi

Apa Saja Yang Termasuk Dalam Suasana Komunikasi Yang


Ideal ?
Carl Rogers, seorang psikolog Amerika, mengembangkan sebuah
teori yang dikenal luas dikalangan ahli tentng perilaku penerima
suatu proses komunikasi. Agar bisa berlangsung efektif, demikian
teori Rogers, secara khusus pihak penyampai pesan harus
memfokuskan perhatian pada penerima pesan. Dengan demikian,
penerima pesan mendapat kesempatan berkomunikasi dengan
bebas dan nyaman.

Dasar pemikiran dari teori yang berorientasi pada penerima ini


ialah penerapan kriteria-kriteria berikut dalam percakapan :
 Kehangatan
 Empati

PERPOLISIAN MASYARAKAT 52
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Penerimaan
 Kerjasama
 Dukungan
 Ketulusan
 Rasa Hormat
Karakter Apa yang Menciptakan Suasana Komunikasi Negatif
Dalam praktek sehari-hari, kita bisa menjumpai adanya karakter-
karakter tertentu yang dapt menggngu komunikasi. Karakter ini
kadang-kadang terkait dengan profesi atau pekerjaan si
penyampai pesan.

Berikut ini adalah contoh-contoh karakter atau kecenderungan


yang harus dihindari :
 Prasangka buruk
 Kecurigaan berlebihan
 Gaya yang opresif
 Dorongan untuk menonjolkan diri
 Agresi
 Sikap yang tidak menghargai
 Sok berkuasa
 Tidak berempati

Polisi harus menyadari bahwa karakter-karakter seperti diatas


mempunyai dampak negatif terhadap komunikasi. Karakter seperti
itu harus dihindari dalam menjalankan tugas sebagai penegak
hukum, terutama dalam pekerjaan yang secara langsung
berhubungan dengan masyarakat.

4. Mendengarkan

Mendengarkan dengan baik akan mampu memberikan kita


pandangan yang akurat atas apa yang sedang dikomunikasikan.
Mendengarkan adalah suatu seni yang sangat menolong dalam
komunikasi yang efektif. Bahkan, kita bisa menyimpulkan bahwa
mendengarkan adalah suatu proses yang terjadi terus menerus
yang membentuk dasar komunikasi. Aktivitas mendengar tidak
hanya sekedar mengartikan informasi tetapi juga mencakup juga
usaha untuk membuka akses yang terus menerus, serta

PERPOLISIAN MASYARAKAT 53
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

melibatkan emosi terhadap usul atau saran lawan bicara kita


selama kita berkomunikasi dengannya.

a. Hambatan Dalam Proses Mengirim Dan Mendengarkan


Pesan
 Hambatan dari Pengiriman Pesan
 Hambatan dari Penerima Pesan
b. Mendengarkan Secara Efektif
 Merefleksi Materi
 Menunjukan Perasaan dan Emosi
 Mengulangi atau Menyebutkan Kembali dengan Kata-kata
Sendiri (Parfrasing)
c. Teknik Mendengarkan Secara Aktif
 Mahir mendengarkan secara aktif adalah suatu tantangan.
Pendengaran harus memberikan perhatian penuh dan
mampu bersikap obyektif, dalam situasi yang seringkali
tidak jelas terlihat akibat ditutup oleh “awan” emosi yang
tebal.
 Komunikasi Non verbal.

5. Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Berempati ?

Berempati adalah cara yang dilakukan seorang petugas polisi


untuk membuat anggota masyarakat menyadari bahwa polisi
memahami keadaannya. Polisi berusaha berpikir bersama dia,
kemudian memahami, bahkan “mengalami” keadaannya. Polisi
mencoba membayangkan atau mensualisasikan pengamatan dan
pengalaman anggota masyarakat tersebut tanpa kehilangan
identitasnya sebagai polisi.

Ada pepatah dalam Bahasa Inggris yang terjemahan harfiahnya


sebagai berikut : “Masukan kaki Anda ke dalam sepatunya”
(membayangkan bahwa Anda adalah dia). Pepatah tersebut cukup
menjelaskan apa yng dimaksud dengan empati. Pemahaman atau
pandangan seperti itu harus terbaca dalam sikap polisi dan secara
verbal (lisan) “dipindahkan” kepada anggota masyarakat yang
dihadapi polisi.

Tujuan Komunikasi Berempati

PERPOLISIAN MASYARAKAT 54
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Komunikasi berempati adalah teknik yang digunakan untuk


meningkatkan efektifitas komunikasi. Beberapa alasan mengapa
teknik ini digunakan, yaitu :
 Untuk membina hubungan dengan anggota masyarakat.
 Untuk tetap berhubungan dengan anggota masyarakat.
 Penentuan masalah-masalah masyarakat secara efektif.
 Menangani situasi yang sangat emosional.

6. Penerapan Keterampilan Berkomunikasi dalam Wawancara


Praktis

6.1. Prinsip-prinsip Wawancara

Sebagai seorang anggota polisi, anda akan menggunakan 70


persen waktu Anda untuk melakukan berbagai bentuk wawancara.
Hal ini dilakukan baik dengan cara menjawab telepon, berbicara
dengan pelapor dikantor polisi, membuat berita acara pemeriksaan
(BAP), atau mendatangi pelapor di lapangan.

Ada tiga komponen dalam wawancara, yaitu :


 Orang yang melakukan wawancara (pewawancara).
 Orang yang diwawancarai.
 Bahan wawancara.

Sebagai pewawancara, Anda harus menyadari bahwa Anda lah


yang harus mengendalikan sepenuhnya wawancara tersebut.
Anda adalah komponen terpenting dalam suatu wawancara.

6.2. Tehnik-tehnik Wawancara

Pada dasarnya wawancara hanya dapat dilakukan dalam dua


cara, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.

6.2.1. Wawancara Terstruktur atau Wawancara yang Dipersiapkan


Lebih Dahulu.
Langkah 1 : Siapkan Diri Anda dengan Baik.
a. Pelajari semua pernyataan dan dokumen yang ada
b. Pelajari semua barang bukti dan bahan – bahan yang ada

PERPOLISIAN MASYARAKAT 55
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

c. Dapatkan informasi secukupnya tentang orang yang


diwawancarai agar kita dapat mengajukan pertanyaan dan
memperoleh informasi yang tepat.
d. Jika anda harus mewawancarai pelapor sebagai korban
perkosaan, anda harus membaca kembali KUHP untuk
mengingat kembali tentang unsur-unsur dalam kasus
perkosaan. Mungkin juga anda harus memutuskan cara
yang tepat untuk menanganinya.

Langkah 2 : Pengetahuan Tentang Orang yang Akan di


Wawancarai.
a. Dapatkan sebanyak mungkin informasi tentang orang yang
akan diwawancarai.
b. Informasi penting yang perlu anda persiapkan :
 Latar belakang
 Ikatan budaya
 Kepribadian
 Reaksi dan sikap dalam menghadapi pertanyaan

Langkah 3 : Wawancara di Tempat Kejadian Perkara (TKP).


a. jika situasi mengijinkan, akan lebih baik jika wawancara
diadakan ditempat kejadian perkara (TKP). Jika ini tidak mungkin
atau jika pelapor keberatan, wawancara harus diadakan secara
tertutup disalah satu ruangan di kantor polisi
b. Adalah penting bahwa wawancara terstruktur dilakukan
segera setelah kejadian.
c. Aspek paling penting sehubungan dengan tempat
wawancara adalah kerahasiaan. Adalah suatu keharusan untuk
mengadakan wawancara di tempat tertutup dan menjaga privasi.
d. Wawancara harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
tidak terinterupsi oleh deringan telepon atau oleh orang-orang
yang keluar masuk ruangan

Langkah 4 :Wawancara dilakukan sambil memperagakan keadaan


di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
a. Minta orang yang diwawancarai agar mereka
memperagakan kembali seluruh kejadian di TKP. Ini harus
dilakukan sejak sebelum insiden terjadi, pada saat insiden terjadi,
dan setelah insiden terjadi.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 56
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

b. Orang yang diwawancara harus memberi informasi yang


sangat spesipik dan harus menyebutkan sampai hal yang paling
kecil.
c. Saksi harus menyebutkan apa yang dia rasakan, dia cium,
dia dengar, dia lihat, bahkan dia cicipi.
d. Diharapkan agar saksi menyebutkan keseluruhan kondisi
menyangkut kejahatan yang disaksikannya. Teknik tersebut dapat
membuat saksi mengingat kembali insiden yang terjadi dengan
menggunakan seluruh panca inderanya.

Langkah 5 : Meminta kepada Saksi untuk Menjelaskan secara


Lengkap.
Orang cenderung untuk tidak menyebutkan hal-hal yang mereka
anggap tidak penting. Mintalah kepada saksi untuk menyebutkan
semuanya (termasuk hal yang dianggap tidak penting).

6.2.2. Wawancara Tidak Terstruktur atau Wawancara Informal


Langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam wawancara tidak
tersetruktur, adalah :
Langkah 1 : Menenangkan korban atau Orang yang Diwawancarai.
Langkah 2 : Membuat Berita Acara Pemeriksaan.
Langkah 3 : Terapkan Pengetahuan Tentang Perilaku Manusia.
Langkah 4 : Buatlah Catatan.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 57
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BAB VI

PETUGAS POLMAS DAN RESOLUSI KONFLIK

Kompetensi Dasar :

Peserta didik memhami peran dalam Polmas, keterampilan yang


dibutuhkan dan ciri-ciri pembawaan yang harus dimiliki untuk
menerapkan Polmas sehingga dapat menangani , konflik dalam
pelaksanaan tugas

Indikator hasil belajar :

Setelah mempelajari Bab VI, peserta didik mampu :


1. Menjelaskan pengertian konflik.
2. Menjelaskan dua manajemen arena konflik.

3. Menjelaskan keterampilan yang harus dimiliki bagi


petugas Polmas.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 58
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

4. Menjelaskan delapan langkah dan lima langkah


rencana Negoasiasi.

Petugas Perpolisian Masyarakat dan Penanganan Konflik

Namun demikian, konflik tidak selamanya buruk. Biasanya konflik


berasal dari perbedaan pendapat. Maklum, tidak ada dua orang
berbeda yang melihat dunia dengan sudut pandang yang
sepenuhnya sama. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.
Mungkin saja, seseorang yang selalu menyetujui pendapat Anda,
hanya mengatakan apa yang ingin Anda dengar dan bukan
mengungkapkan apa yang dia anggap benar. Seorang petugas
Polmas harus selalu menyadari perihal “perbedaan cara pandang”
ini. Sering kali akar permasalahan yang memicu konflik dalam
masyarakat adalah perbedaan cara pandang.

Konflik selalu dianggap buruk karena adanya aspek emosional di


dalam konflik. Ketika terjadi konflik, hal yang pasti ialah terdapat
perbedaan pendapat yang besar antara dua orang atau lebih.
Konflik biasanya berhubungan dengan kepentingan atau ide yang
secara pribadi sangat berarti bagi salah satu atau kedua belah
pihak yang terlibat, Polisi harus memandang dua kerangka
manajemen konflik :
 Menyelesaikan konflik dalam hubungan pada kemitraan
antara polisi (polki/polwan) dengan masyarakat. Sering ada

PERPOLISIAN MASYARAKAT 59
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

konflik antara berbagai kelompok kepentingan masyarakat


yang dibawa ke dalam forum kemitraan polisi masyarakat.
 Menyelesaikan konflik yang berkaitan dengan tugas-tugas
penegakan hukum anggota polisi. Konflik sering terjadi
ketika berurusan dengan orang-orang yang berkepribadian
sulit dalam investigasi, menegakan hukum, dan menangkap
tersangka yang dipercaya telah melakukan kejahatan.

Adanya dua kerangka konflik ini merupakan fakta di lapangan.


Polmas berkaitan dengan keduanya dalam tugas-tugas penegakan
hukum dan bekerjasama dengan masyarakat dalam sebuah
kemitraan untuk memberantas kejahatan.

Konflik yang tidak terpecahkan dapat mengarah kepada kekerasan


dan pembangkangan. Kunci untuk menangani konflik secara efektif
adalah dengan mempelajari keterampilan-keterampilan yang
dibutuhkan untuk menjadi “manajer konflik” dalam dua kerangka
konflik di atas.

Pengertian Konflik

Konflik dalam masyarakat adalah perbedaan pendapat yang wajar.


Perbedaan ini dikarenakan individu-individu atau kelompok-
kelompok yang ada, berbeda sikap, kepercayaan, nilai-nilai, atau
kepentingan.

Konflik dapat juga berasal dari persaingan masa lalu dan


perbedaan kepribadian. Penyebab konflik lainnya adalah ketika
usaha negosiasi dilakukan pada waktu yang tidak tepat atau
sebelumnya informasi yang dibutuhkan diperoleh.

a. Unsur-unsur Konflik

Apa penyebab konflik ?


 Kebutuhan
 Persepsi yang Berbeda Mengenai sebuah Masalah
 Wewenang
 Nilai

PERPOLISIAN MASYARAKAT 60
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Sebenarnya konflik dalam masyarakat tidak selamanya negatif.


Bahkan, konflik dapat menjadi konflik yang sehat, tentu jika
dikelola secara efektif.

Konflik yang sehat dapat menghasilkan


 Pertumbuhan inovasi
 Cara berpikir baru
 Toleransi atas perbedaan

Jika konflik dapat dipahami, maka konflik tersebut dapat dikelola


secara efektip, dengan meraih konsensus yang memenuhi
kepentingan individu dan masyarakat. Mengelola konflik dapat
menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak dan dapat juga
memperkuat hubungan. Tujuannya adalah sama-sama “menang”
dengan memperoleh setidak-tidaknya sebagian dari kepentingan
masing-masing.

b. Faktor-faktor yang Meningkatkan Konflik dalam Masyarakat


Petugas kepolisian harus menyadari kenyatan bahwa selain faktor-
faktor penyebab konflik seperti yang disebutkan diatas, ada juga
faktor-faktor lain, yang memperbesar konflik. Faktor-faktor tersebut
adalah :
 Kemacetan Komunikasi
 Perbedaan Aspirasi dalam Masyarakat
 Persepsi yang Berbeda-beda
 Perubahan Strategi
 Kelompok dan Perkumpulan Sosial

Konflik dan Kekerasan

Konflik dalam masyarakat memang tidak selamanya negatif.


Namun, jika tidak ditangani, konflik dapat mengakibatkan
kekerasan terhadap publik, bahkan kekerasan yang terorganisir.
Oleh karena itu, penting bagi anggota polisi untuk menyadari
faktor-faktor yang dapat mengubah konflik menjadi kekerasan.

Beberapa tanda konflik tersebut adalah :


 Meningkatkan frustrasi, ancaman, dan intimidasi.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 61
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Tidak adanya forum, prosedur, atau pihak ke-tiga yang


dapat dipercaya.
 Di terimanya ideologi kekerasan (“kekerasan dapat
digunakan”).
 Kontrol sosial yang lemah (masyarakat/keluarga tidak
mencegah konflik yang berbahaya).
 Hilangnya norma-norma kelompok, agama dan budaya.
 Tidak adanya alternatif solusi atas masalah yang dapat
diterima semua pihak.
 Adanya persepsi akan adanya ketidakadilan.
 Adanya persepsi bahwa tidak ada tanggung jawab atas diri
sendiri.
 Adanya persepsi pihak lain bertindak tidak manusiawi.
 Adanya sejarah kekerasan.

Keterampilan dan Kepribadian yang dibutuhkan dalam Menangani


Konflik

Penerimaan filosofi Polmas mensyaratkan Polri untuk mendukung


dan penyediaan bentuk dan peran anggota polisi yang baru dalam
penegakan hukum.

Bentuk dan peran petugas Polmas, antara lain :


 Penjaga Perdamaian
 Pelayan Masyarakat
 Penentang Kejahatan

a. Keterampilan Umum dalam Polmas

Untuk menjadi petugas Polmas yang baik, diperlukan


keterampilan-keterampilan bekerjasama dengan masyarakat,
sebagai berikut :

 Keterampilan Komunikasi
 Keterampilan untuk Memecahkan Masalah
 Keterampilan Kepemimpinan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 62
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Keterampilan Membangun Tim


Keterampilan Menangani Konflik dan Keterampilan
Melakukan Negosiasi (yang Menjadi Fokus dalam Bab Ini) :
 Mendapingi anggota masyarakat untuk menyelesaikan
pertikaiaan yang terjadi dalam masyarakat.
 Menyelesaikan konflik dalam peranan sebagai petugas
penegak hukum, ketika berurusan dengan orang-orang
yang konfrontatif.

b. Sifat-sifat Untuk Penanganan Konflik yang Sukses

Agar dapat berhasil dalam bekerja dengan masyarakat, petugas


Polmas harus memiliki kualitas seperti di bawah ini. Semua
kualitas tersebut membantu polisi dalam membangun kepercayaan
yang dibutuhkan dalam kemitraannya dengan masyarakat.
Kualitas (Kemampuan) Personal. Kualitas ini membantu polisi
memperoleh repulasi sebagai orang yang layak dipercaya Kualitas
(Kemampuan) Umum. Kualitas ini membantu anggota polisi untuk
memperoleh kepercayaan masyarakat sebagi mitra yang efektif
dan efisien.
Berbagai kemampuan untuk membangun kepercayaan sambil
bekerjasama dalam forum kemitraan polisi-masyarakat yang
disebutkan dibawah ini, akan membantu anggota polisi untuk
mendapatkan reputasi sebagai anggota forum yang adil,
transparan, dan percaya. Juga, meningkatkan kepercayaan antara
organisasi kepolisisan dan masyarakat secara signifikan.

Kualitas (Kemampuan) Personal, yaitu :


 Mengenali diri sendiri
 Percaya pada diri sendiri
 Sikap positif
 Disiplin pribadi
 Memotivasi pribadi
 Penampilan
 Sikap teratur
 Atur waktu
 Sikap tegas
 Cermat
 Akurat

PERPOLISIAN MASYARAKAT 63
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Kualitas (Kemampuan) Umum untuk Bekerja dengan Masyarakat,


yaitu :
 Berpengetahuan
 Sesuai jadwal
 Buat prioritas
 Alokasikan sumber daya secara efektif
 Selesaikan pekerjaan pengarsipan dan administratif
 Terima tanggung jawab
 Inovatif
 Konsisten
 Tepati janji

Kualitas untuk Membangun Kepercayan dalam Forum Kemitraan


Polisi – Masyarakat, yaitu :
 Membangun hubungan yang harmonis
 Memuji orang lain
 Katakan “tidak”
 Katakan “ya” jika mungkin
 Pilih “peperangan” Anda secara bijak
 Biarkan masalah pribadi tetap menjadi masalah pribadi
 Akui Kesalahan
 Terima tugas-tugas yang sulit
 Rencanakan secara sistematis
 Jangan buang-buang tenaga

Strategi Penanganan Konflik

Anggota polisi, berdasarkan sifat tugas, selalu secara langsung


berhadapan dengan penjahat. Petugas polisi tidak akan sanggup
hanya fokus pada sikap penjahat karena fokus semacam ini tidak
akan sanggup menangani konflik yang nyata.

Penting bagi petugas polisi mengidentifikasi hal-hal yang dapat


memicu konflik, bertindak preventif, dan dengan demikian
mengurangi kemungkinan terjadinya konflik. Ini adalah cara lain
untuk menjelaskan apa yang telah dibahas sebelumnya. Bahwa
petugas Polmas tidak hanya melakukan tindakan penegakan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 64
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

hukum semata tetapi juga menangani masalah sosial dan


mengendalikan suasana yang bisa memicu konflik.

a. Mengenali Cara-cara Penanganan Konflik

Solusi - solusi yang sebenarnya berimplikasi jangka panjang yaitu :


 Menghindar
 Mengakomodasi
 Bersaing
 Berkompromi
 Kolaborasi

b. Langkah-langkah Menyelesaikan Konflik dalam Diri Sendiri

Pendekatan dibawah ini dapat digunakan untuk menyelesaikan


konflik dalam diri sendiri.

Negosiasi dan Menangani Konflik dalam Penegakan Hukum

Petugas kepolisian harus mempelajari tentang keterampilan


bernegosiasi yang efektif. Karena mereka banyak menghabiskan
waktu untuk bernegosiasi dan mediasi dengan pihak-pihak yang
terlibat konflik. Kadang-kadang anggota polisi juga sering
menghadapi konflik secara langsung, dalam situasi taktis, ketika
berurusan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan atau
melanggar hukum.

Polisi harus mendapatkan kerja sama dalam hal :


 Mendapatkan informasi dan indetifikasi.
 Upaya mematuhi perintah petugas demi keselamatan itu
sendiri atau rekan.
 hal permintaan lainnya yang diperlukan untuk melakukan
penangkapan atau memberikan bukti pelanggaran.

Dalam situasi taktis seperti ini, kadang-kadang polisi harus


berurusan dengan orang-orang yang konfrontatif atau orang-orang
yang “sulit”. Rencana negosiasi taktis dibutuhkan untuk kontak-
kontak seperti ini, bahkan juga untuk orang-orang yang tidak
bersifat konfrontatif (bersedia berkerjasama). Gunakan “rencana-

PERPOLISIAN MASYARAKAT 65
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

rencana” ini daripada menangani suatu keadaan tanpa memiliki


strategi yang jelas. Bila strategi tidak jelas, pada akhirnya dapat
“memaksa” anggota polisi masuk dalam sutu keadaan yang
memaksa petugas menggunakan kekerasan fisik.

a. Penggunaan Negosiasi dalam Situasi Penegakan Hukum


Taktis

Negosiasi dalam “kerangka” ke –dua dari penangan konflik secara


subtansi berbeda dengan negosiasi yang melibatkan orang lain
dalm Polmas (menolong anggota masyarakat menyelesaikan
konflik). Kerangka baru dalam penangan knflik ini melibatkan
situasi tektis, dimana konflik timbul bukan karena perbedaan
pendapat, nilai atau budaya, tetapi karena terjadi pelanggaran
hukum. Petugas kepolisian memiliki tanggung jawab legal untuk
melaksanakan penegakan hukum.

Negosiasi dibutuhkan ketika berhadapan dengan seorang pelaku


yang tidak mau mematuhi peringatan tau perintah pad ssat ia
ditangkp. Atau, ketik polisi mengeluarkan kartu pernyataan
pelanggaran, atau tindakan lain yang melibatkan tugas-tugas
seorang polisi. Tujuan negosiasi bukan kompromi yang
dinegosiasikan, tetapi agar pelaku mematuhi perintah, permintaan,
atau peringatan polisi secara sukarela. Namun yang harus diingat,
isu penting dalam negosiasi adalah pengakuan terhadap Hak
Asasi Manusia dan keselamatan fisik polisi maupun pelaku.

Walaupun fokus melakukan negosiasi berbeda dalam situasi yang


taktis, topik-topik yang telah dibahas sebelumnya seperti “Ciri-ciri
Penanganan konflik”, “Keterampilan dan Kepribadian”, “Kualitas
untuk membangun kepercayaan dalam masyarakat”, dan “
Langkah-langkah menyelesaikan konflik dengan orang lain”, juga
berlaku dalam penegakan hukum taktis.

Anda akan melihat ciri-ciri dan kualitas ini dalam dua rencana
negosiasi taktis yang berikut.

b. Menang dengan Kata-kata dalam Situasi Taktis

Seorang polisi Amerika bernama George Thompson menciptakan


program komunikasi taktis bagi polisi, dengan nama “Verbal Judo”.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 66
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Dr. Thompson memperoleh gelar dokternya dibidang komunikasi.


Beliau juga memegang sabuk hitam judo. Dr. Thompson
menggunakan prinsip-prinsip filosofi beladiri Asia tersebut yang
diterapkan dalam komunikai pada situasi taktis yang dihadapi
polisi.

“Judo” dalam bahasa Jepang berarti “cara yang halus”. Thompson


menjelaskan bahwa verbal Judo ini menekankan beberapa konsep
penting. Satu yang paling penting adalah “rasa hormat” sopan
santun”. Walaupun pendekar samurai di Jepang sangat mahir
menggunakan keahlian beladiri, mereka tidak mengangap remeh
kesantunan dan rasa hormat.

Berikut ini adalah dua perencanan negosiasi “Verbal Judo” yang


dapat digunakan oleh polisi dalam situasi taktis :

 Delapan langkah perencanaan negosiasi taktis.


 Lima langkah perencanan negosiasi taktis untuk orang-
orang yang sulit.

Tujuan perencanan ini adalah untuk membantu polisi dalam situasi


penegakan hukum taktis. “Memang dengan kata-kata, “ akan
menyebabkan sipelaku mematuhi perintah dan dengan demikian
maka penggunaan kekerasan fisik dapat dihindari.

c. Kedelapan Langkah Perencanaan Negosiasi Taktis

Rencana negosiasi taktis dapat digunakan untuk menghentikan


kendaraan di jalan raya, mewawancari orang yang dicurigai, atau
keadaan lain dimana polisi harus mendekati orang-orang tertentu
dalam masyarakat. Langkah-langkah ini adalah sebagai berikut :
 Ketemu dan Menyapa
 Perkenalkan diri Anda
 Memberi penjelasan kepada Orang yang Ditangkap, tentang
alasan mengapa mereka dihentikan / ditahan
 Tanyakan pada orang tersebut mengapa pelanggaran
terjadi
 Minta SIM (dlam kasus pelanggaran lalu lintas) atau KTP,
atau Kartu Identitas Lain

PERPOLISIAN MASYARAKAT 67
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Minta surat-surat Registrasi Kendaraan Bermotor (STNK)


dan tanyakan dimana mereka meletakannya di dalam
mobil
 segera mengambil kesimpulan tentang situasi yang akan
dihadapi
 Akhiri pembicaran dengan kalimat penutup yang efektif dan
“nada yang positif”

Manfaat Delapan Langkah Perencanan Negosiasi Taktis adalah :


 Meningkatkan profesionalisme Polisi – melalui pendekatan
profesional maka polisi terlihat dan terdengar melakukan
pekerjaanya dengan profesional. Orang-orang yang melihat
dan mendengar akan mendaptkan kesan yang lebih baik
tentang polisi.
 Membantu “menyelamatkan” ketika melakukan kontak –
Profesionalisme dan sopan santun mengurangi amarah dan
permusuhan.
 Mengurang pengaduan atau keluhan warga masyarakat
terhadap Polisi Profesionalisme membangun kepercayan
dalam masyarakat.
 Mengurangi rasa tertekan dalam pribadi polisi – And tidak
pernah “kehilangan kata-kata” tetapi akan selalu tahu apa
yang akan Anda katakan dan apa yang akan Anda lakukan.
d. Lima Langkah Perencanan Negosiasi Taktis untuk Orang-
orang yang Konfrontatif

“Verbal Judo” digunakan ketika polisi menemukan perlawanan


dalam menghadapi seseorang dalam situasi taktis. Seperti dalam
Judo, ketika kita menghadapi penolakan fisik, reaksi yang baik
bukan menolak balik, tetapi dengan “menyerah” atau menghindari
penolakan.

Menggunakan kekuatan kekuatan lawan dan mengalahkannnya.


Orang yang melakukan pelanggaran hukum sering kali
menggunakan “kata” sebagai senjata. Dengan Kelima Langkah ini
petugas akan dapat menangkis kata-kata yang mengandung
amarah dan kemudian “mengalahkan” orang-orang yang
konfrontatif.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 68
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Dalam menerapkan Lima Langkah, ada dampak psikologi yang


cenderung tidak saja memperkecil kemungkinan adanya kontak
dengan orang yang konfrontatif, tetapi juga menenangkan emosi
orang bersangkutan. Tentu saja, ada saat-saat dimana permainan
kata tidak berhasil. Ini bisa saja disebabkan karena memang orang
tersebut sudah berniat untuk melakukan perlawanan, karena
sedang di bawah pengaruh alkohol, bingung, atau alasan-alasan
psikologis lainnya.

Lima Langkah dalam Perencanaan Negosisasi Taktis untuk Orang-


orang yang Konfrontatif adalah sebagai berikut :
 Minta atau perintahkan untuk mengikuti perintah.
 Jelaskan mengapa anda bertanya atau sebutkan tujuan
profesional anda.
 Menawarkan alternatif.
 Tanyakan, apakah ada hal-hal yang bisa anda katakan
untuk membuat orang tersebut mau bekerjasama.
 Bertindak.

BAB VII

PERPOLISIAN BERORIENTASI MASALAH

Kompetensi dasar :

Peserta didik memahami penanganan masalah bagi anggota


dilapangan dan anggota masyarakat

Indikator Hasil Belajar :

PERPOLISIAN MASYARAKAT 69
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Setelah mempelajari Bab VII, peserta didik mampu :


1. Menjelaskan pegertian masalah.
2. Menjelaskan pengertian Perpolisian berorientasi masalah.
3. Menjelaskan kleuntungan Perpolisian beroriwntasi masalah.
4. Menjelaskan pemecahan masalah dengan menggunakan
model SARE.

Perpolisian berorientasi masalah (PBM) dapat dijelaskan sebagai


strategi perpolisian yang menekankan pada penggunaan teknik-
teknik pemecahan masalah. Tujuannya agar polisi lebih efektif
dalam menangani kejahatan atau ketidak tertiban yang terjadi
berulang kembali atau yang saling berkaitan

Dalam konsep PBM, bentuk-bentuk kejadian yang jarang terjadi


disuatu daerah atau kejadian-kejadian yang tunggal
dikelompokkan sebagai satu kelompok masalah. Serangkaian
kejadian tersebut dipelajari penyebabnya dan dikembangkan
solusinya secara spesifik. Caranya, polisi bekerja sama dengan
masyarakat untuk menangani masalah dan penyebabnya dalam
jangka pendek, menengah dan panjang.

Selama ini pendekatan pemecahan masalah selalu menjadi


kegiatan informal perpolisian. Namun, PBM kini secara formal

PERPOLISIAN MASYARAKAT 70
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

mengenalkan pemecahan masalah sebagai praktik perpolisian


yang sistematis.

Herman Goldstein, Profesor hukum dari universutas Wisconsin,


menghabiskan 40 tahun untuk belajar dan bekerja dengan polisi.
Tuan Goldstein inilah yang disebut sebagai “ bapak PBM”.
Pendekatan pemecahan masalah yang sekarang dilakukan di
organisasi kepolisian diseluruh dunia adalah hasil karyanya.

Pada akhir tahun 1970-an, Goldstein menyarankan agar kepolisian


mengubah fokus dari fokus internal, yakni jumlah kendaraan,
jumlah petugas, dan pola penempatan ataf, menjadi fokus
eksternal yang dampaknya adalah kejahatan, ketakutan dan
ketidak tertiban.

Goldstein juga mengkampanyekan perlunya polisi sedikit


mengurangi pendekatan efisiensi yang menekankan pentingnya
anka (contohnya : jumlah penangkapan dan surat perintah).
Sebaliknya, Goldstein menekankan pentingnya pendekatan
efisiensi yang lebih berdampak pada turunnya tingkat kejahatan.

1. Pengertian Masalah

Masalah didefinisikan sebagai suatu kondisi yang mengejutkan,


merugikan, mengancam, menyebabkan ketakutan, atau cenderung
menyebabkan ketidaktertiban dalam masyarakat, terutama
kejadian-kejadian yang kelihatannya tidak saling berkaitan.
Sebenarnya jika kita amati lebih dalam, banyak masalah memiliki
kesamaan karakteristik, contohnya dalam pola, korban, atau lokasi
geograpis.

2. Pengertian Perpolisian Berorientasi Masalah

Sebenarnya, pendekatan pemecahan masalah bukan sekadar


model perpolisian. PBM adalah suatu strategi operasional yang
bertujuan mengelompokan kejadian-kejadian yang saling
berhubungan sebagai suatu kelompok masalah, mencari akar
penyebabnya, dan kemudian bersama dengan masyarakat
memformulasikan pemecahan permasalahan yang spesifik.
Tujuannya adalah untuk menangani masalah dan akar

PERPOLISIAN MASYARAKAT 71
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

permasalhannya, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun


jangka panjang.

Pemecahan masalah meliputi :


 Identifikasi masalah-masalah kejahatan, ketidak tertiban,
dan ketakutan dilingkungan warga.
 memahami kondisi yang vmenyebabkan terjadinya
permasalahan ini.
 mengembangkan dan mengimplementasikan solusi jangka
panjang.
 Menentukan dampaknya.

Unsur-unsur penting dalam PBM :


 Masalah adalah unsur dasar dalam pekerjan polisi.
 Masalah berdampak pada masayarakat, tidak hanya dalam
polisi.
 Pemecahan masalah mengharuskan polisi menanganinya
secara menyeluruh, bukan hanya penagnan yang cepat.
 Masalah harus dideskripsikan secara akurat.
 Dibutuhkan investigasi yang sistematis sebelum membuat
solusi.
 Pertimbangkan semua kemungkinan munculnya respon
atau tanggapan
 selesaikan masalah secara proaktif.
 Polisi harus diberi wewenang untuk melakukan dikresi
dalam proses pemecahan masalah yang dilakukan.
 menilai hasil-hsil respon yang baru dan tidak hanya sekedar
mengevaluasi aktivitas responnya.

3. Keuntungan Perpolisian Berorientasi Masalah

Bebagai unsur penting dalam masyarakat, antara lain konsultasi,


adaptasi, mobilisasi, akuntabilitas, dan mandat yang lebih luas,
tercakup dalam penerapan PBM. Melalui analisa masalah yang
dilakukan bersama dalam konteks sosial dan konteks tertentu,
polisi dan masyarakat yang bersama-sama menjadi jalan keluar.
Mereka melaksanakan solusi yang dipilih serta mengavaluasinya
bersama-sama.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 72
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Adapun Keuntungan PBM sebagai berikut :


 PBM memungkinkan polisi untuk mencegah masalah
dimasyarakat dengan cara menangani akar permasalahan.
 PBM melibatkan masyarakat dalam masalah yang terjadi
didaerahnya Walhasil, PBM dapat menumbuhkan dan
memelihara kerja sama antara polisi dan masyarakat. Hal
ini juga memperkuat kemitraan antara polisi dan masyarakt.
 PBM menciptakan kesempatan baru bagi staf operasional
untuk mengembangkan dan menggunakan bakat
menciptakan lingkungan kerja yang positif dan menantang,
serta kepuasan kerja yang lebih besar.

4. Model SARE dalam Pemecahan Masalah

Model SARE meliputi scanning, analisa, respon, dan evaluasi

a. Tahap I : SCANNING

Apakah masalah itu ? (Identifikasi)


Suatu kejadian baru dapat dianggap sebagai masalah jika
memenuhi dua kriteria berikut :
 Kejadiannya terjadi berulang-ulang atau saling berkaitan.
 Polisi maupun masyarakat prihatin terhadap permasalahan
tersebut.

Suatu masalah adalah kejadian yang terjadi berulang kali


atau saling berkaitan.

Jika ditemukan kejadian, telepon permintaan bantuan, pengaduan


yng kemungkinan besar terulang kembali, atau berkaitan dengan
kejadian-kejadian lainnya, maka hal ini sudah memenuhi syarat
sebagai permasalahan yang harus dipecahkan. Pencurian
berulang pada alamat yang sama, pola pencurian kendaraan
tertentu disuatu daerah, serta telepon permintaan bantuan atau
pengaduan yang berulang-ulang dari alamat yang sama, adalah
contoh permasalahan yang perlu ditangani.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 73
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Hubungan antar kejadian-kejadian yang saling berkiatan atau yang


berulang dapat dilihat dengan cara memfokuskan pada
karakteristik tertentu. Fokus tersebut adalah :
 Perilaku.
 Cari contoh penggunaan modus operandi yang sama.
 Cari contoh korban sama yang ditemukan.
 Cari contoh orang-orang yang sama, sperti korban, pelaku
atau pelapor terlibat.
 Cari apakah ada prilaku yang sama dari pelaku, korban,
atau saksi.
 Wilayah.

Orang
Perhatikan masalah atau kejadian yng dilkukan atau diprovokasi
oleh kelompok tertentu (misalnya, pengrusakan yang dilakukan
oleh remaja).

Waktu
Apakah kejadian-kejadian itu saling berkaitan, karena terjadi pada
waktu-waktu tertentu, misalnya pada jam tertentu dalam sehari,
pada hari tertentu dalam seminggu, atau pada musim tertentu ?

Cara-cara mengidentifikasi masalah kejahatan :


 Survey penduduk.
 Pertemuan masyarakat.
 Wawancara individu dengan anggota masyarakat.
 Forum masyarakat yang khusus menangani masalah
kejahatan.
 Wawancara dengan pekerja dari instansi kota lainnya.
 Informasi itu data dari kota lain.
 Pengaduan (masyarkat dan petugas).
 Analisa kejahatan.
 Diskusi dengan jajaran pimpinan.
 Diskusi dengan pengawas atau supervisor.
 Meninjau kembali data kejadian sebelumnya berdasarkan
lokasi, kejahatan, atau catatan telepon.
 Percakapan dengan petugas di ruang operator telepon.
 Meninjau kembali informasi data-data kepolisian.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 74
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Informasi dari staf, polisi, devinisi riset, dan perencanan


pemerintah setempat.
 Informasi dari kelompok-kelompok, organisasi dan asosiasi
nasional maupun internasional.
 Media massa.

Biasanya, kebanyakan permasalahan dapat diidentifikasi melalui


analisa riwayat kejahatan diwilayah dan analisa terhadap data
penggilan bantuan. Idealnya, sebuah pusat data harus dibangun
sehinga semu data dapat disimpan dan dianalisa. Hal ini
memungkinkan polisi untuk memperoleh gambaran secara lengkap
tentang semua masalah yang ada diwilayah hukumnya. Gambaran
menyeluruh ini juga dapat membantu polisi membuat skala
prioritas permasalahan, karana tak mungkin memecahkan semua
masalah pada waktu bersamaan.

Memilah Masalah
Dari proses pengidentifikasiaan masalah, secara tetap dapat
diketahui berapa banyak masalah yang dapat ditangani. Mengingat
terbatasnya sumber daya yang dimiliki, maka penting bagi polisi
untuk menentukan prioritas pemecahan masalah. Seperti kita
ketahui, prioritas tak dapat diambil jika dampak dan tingkat
keseriusan permasalahan belum diketahui. Oleh karena itu perlu
dilakukan analisa awal sebelum memprioritaskan permasalahan.

Analisa permasalhan setidak-tidaknya harus menjawab pertanyan


berikut :
 Bagaimna bentuk dan luasnya permasalahan yang
sebenarnya ?
 Apa dampak dan konsekuensi permasalahan tersebut ?
 Mengapa permasalah tersebut harus ditangani ?
 Apa yang sedang ditangni polisi terhadap masalah tersebut
dan apa hasilnya ?
 Siapa yang dapat diminta polisi untuk membantu mereka
menangani permasalahn tersebut ?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas harus dimasukan


kedalam laporan pendahuluan tentang permasalahan tersebut.

b. Tahap 2 : Analisa (Analisa Masalah)

PERPOLISIAN MASYARAKAT 75
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Analisa adalah tahap yang paling sulit dalam model SARE. Proses
ini bahkan sering dilewati polisi dan anggota masyarakat.
Penyebabnya, mereka cenderung terburu-buru dan sangat
bersemangat untuk mengembangkan solusi yang tepat waktu.

Padahal, tanpa memahami permasalahan yang sedang ditangani,


akan ada resiko yang besar terhadap solusi yang dikembangkan.
Solusi yang dipilih mungkin saja tidak ada gunannya untuk jangka
panjang. Permasalahapun tersebut kan tetap ada karena
pemecahannya berdasarkan dengan, bukan fakta.

Tujuan dari menganalisa masalah adalah untuk mengidentifikasi


dan memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya
masalah, yang mendukung terulangnya masalah dan hambatan
yang menghambat penanganannya. Sekali sudah diidentifikasikan,
faktor-faktor tersebut menjadi target potensial untuk diubah, karena
strategi dirancang untuk memperbaiki atau memperkecil dampak
masalah tesebut.

Tujuan analisa masalah adalah sebagai berikut :


a. Menentukan penyebab masalah.
b. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah.
c. Membedakan gejala dan penyebab.
d. Menganalisa orang-orang yang terlibat.
Masalah biasanya timbul dari interaksi antara semua.
Seseorang bisa melakukan tindakan yang mengakibatkan
ketakutan atau kerugian pada orang lain. Kadang-kadang
tindakan tersebut menimbulkan reaksi dari orang-orang
yang terpengaruh.
e. Pelaku.
Cobalah untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi
yang berkaitan dengan pelaku.
f. Korban.
Cobalah untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi
berikut sehubungan dengan korban.
g. Pihak ketiga.
Sering ditemukan bahwa ada orang, selain korban dan
pelaku, yang juga ikut terlibat. Beberapa dari mereka
mungkin saja berlaku sebagai saksi, pendukung korban,

PERPOLISIAN MASYARAKAT 76
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

atau pendukung si pelaku. Untuk mengetahuinya cobalah


kumpulkan informasi-informasi mengenai pihak ketiga
mengenai hal-hal berikut ini :
 Identifikasi
 Keterlibatan dan kepentingan terhadap masalah
 Faktor-faktor yang berdampak pada kerja sama mereka
dengan polisi
 Hubungan dengan korban dan atau pelaku

Segitiga Kejahatan
Segitiga kejahatan menawarkan cara yang mudah untuk
memahami dan menvisualisasikan masalah kejahatan. Segitiga
kejahatan juga menyediakan cara yang mudah untuk menjelaskan
tahap anlisa dengan menggunakan model SARE dan dapat
membentu peserta membuat suatu analisa. Ketiga elemen yang
disebutkan sebelumnya dipakai untuk mengilustrasikan bahwa
suatu tindak kejahatan terkonsentrasi, yakni pelaku, korban, dan
lokasi. Ketiga unsur tersebut bersama-sama membentuk satu
segitiga kejahatan.

Setelah Anda menegatahui siapa yang berada pada setiap sisi dari
segitiga kejahatn tersebut, anda harus melakukan analisa sebelum
menyiapkan strategi-strategi untuk memecahkan masalah
tersebut. Cari keterangan sebanyak mungkin mengenai korban,
pelaku di TKP untuk mengembangkan pemahaman tentang apa
yang terjadi penyebab masalah tersebut.

Sumber-sumber informasi yang memungkinkan :


 Bahan bacaan yang relevan
 Arsip polisi
 Anggota polisi
 Satuan kepolisian lainnya
 Sumber-sumber dalam masyarakat
 Pelaku

c. Tahap 3 : Respon (Merumuskan Respon Strategis)

Respon adalah tahap ketiga dalam model SARE (scanning,


analisa, respon dan evaluasi). Masalah akan tetap ada bila dalam

PERPOLISIAN MASYARAKAT 77
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

solusi jangka panjang tidak dicari penyebab utamannya.


Kreativitas juga dianjurkan. Cobalah mengarahkan masyarakat
untuk menggunakan pelindung yang ada semaksimal mungkin.

Agar terlaksana secara efektif, solusi yang dipilih harus


mempengaruhi minimal dua sisi dari egitiga kejhatan.
Mengusahaka solusi hanya pada sisi pelqku saja seringkali tidak
efektif, tidak jarang malah memberi peluang terhadap adanya
pelaku baru untuk menggantikan pelaku yang lama. Ini mungkin
saja terjadi karena belum ada tindakan yang dilakukan polisi untuk
mengubah sarang kejahatan atau posisi korban sebagai target
buruan. Penanganan harus dilakukan di dua sisi dari segitiga
kejahatan demi terciptanya solusi yang efektif dan berjangka
panjang.
Rumusan tentang sebuah paket respon strategis mewakili inti dari
pemecahan masalah dan dilakukan dalam empat langkah, sebagai
berikut :
 Langkah 1 : Identifikasi masalah
 Langkah 2 : Mencari dan menyusun kemungkinan sosial
 Langkah 3 : Mengavaluasi kemungkinan-kemungkinan
solusi
 Langkah 4 : Menyusun rencana implementasi solusi

d. Tahap 4 : Evaluasi

Banyak alasan pentingnya mengavaluasi strategi-strategi


pemecahan masalah. Alasan yang paling jelas adalah untuk
menilai secara langsung apakah stretegi pemecahn masalah yang
dimaksud sudah berjalan atau belum.

Ada dua jenis evaluasi yang harus dipertimbangkan sebagai


bagian dari setiap proyek yaitu, evaluasi proses dan evaluasi
dampak. Keduanya merupakan hal penting dengan alasan
berbeda.

Evalusi dilakukan secara terus menerus selama implementasi


rencana kegiatan, dimulai pada saat rencana tersebut
dilaksanakan. Evaluasi proses berkaitan dengan hal-hal
menentukan yang tercermin dari pertanyaan : Apakah rencana
sudah diimplementasikan dengan benar ? Apakah langkah-

PERPOLISIAN MASYARAKAT 78
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

langkah yang ditetapkan dalam rencana implementasi dijalankan


dengan benar ? Apakah ada masalah yang harus dipecahkan ?
Haruskah rencana implementasi dimodifikasi ? Apakah Rencana
tersebut kelihatannya berjalan ?

Sementara itu, evaluasi dampak berarti menilai konsekuensi atau


hasil dari strategi atau efek dari strtegi terhadap permasalahan.
Evaluasi dampak biasanya dijalankan dengan membandingkan
data “sebelum dan sesudah” atau dengan membandingkan
komunitas target dengan suatu kelompok “kontrol”. Hal-hal yang
harus dapat ditanyakan meliputi : apakah perencanan tersebut
menghasilkan sesuatu sesuai dengan tujuan yang sudah
ditetapkan ? Kesalahan apa yang telah dibuat ? Mengapa?.

BAB VIII

MENGELOLA PERUBAHAN

Kompetensi dasar :

PERPOLISIAN MASYARAKAT 79
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Peserta didik diharapkan berperan dalam rangka menerapkan


perubahan serta mampu mengatasi penolakan terhadap
perubahan secara efektif

Indikator Hasil Belajar :

Setelah mempelajari Bab VIII, peseta didik mampu :


1. Menjelaskan sumber-sumber perubahan.
2. Menjelaskan dampak perubahan.
3. Menyebutkan strategi untuk mengetasi penolakan
perubahan.
4. Menjelaskan tiga langkah dalam proses perubahan.

1. Pengertian Perubahan

Tak ada yang abadi didunia selain perubahan. Dia ada, terjadi
setiap saat, dan mempengaruhi setiap aspek kehidupan. Oleh
karena itu, bertindak proaktif untuk berubah adalah cara untuk
menguasai masa depan, baik secara individu maupun organisasi.

Bagi organisasi, perubahan adalah cara untuk tetap memiliki daya


saing dari belakang. Bagi individu, kesempatan-kesempatan yang

PERPOLISIAN MASYARAKAT 80
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

terciptakan perubahan akan sanggup memperkaya karir dan


kehidupan pribadi.

Ada tiga cara menghadapi perubahan : menolak, mengikuti, atau


memimpin. Seorang “penolak perubahan” berusaha untuk tetap
ditempat, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan karena, toh,
segala situasi terus berubah. Kebanyakan orang dan organisasi
yang awalnya menolak perubahan, pada akhirnya menyadari
bahwa tidak ada jalan lain kecuali menerima perubahan dan harus
mengejar ketinggalan akibat penolakan sebelumnya. Jika gagal,
mereka menghadapi kerugian akibat kalah kompetisi. Namun, jika
berhasil mereka akan menjadi pemimpin dalam perubahan

Pada titik ini, berusaha mengantisifasi atau ‘menjadi pemimpin’


perubahan ternyata juga sebuah paradoks. Bila berhasil,
organisasi bersangkutan berpotensi meraih status yang lebih aman
dalam persaingan. Sebaliknya, bila gagal, kerugian yang akan
terjadi, Walhasil, bisa disimpulkan bahwa mengantisipasi
perubahan adalah suatu hal yang terus menantang.

2. Keterbukaan dan Perubahan yang Tidak Direncanakan

Organisasi kepolisian dapat dianggap sebagai sistem terbuka dan


konsep “tingkat keterbukaan” dapat diperkenalkan. Semakin besar
jumlah informasi yang diketahui bersama oleh polisi dan
lingkungannya, semakin tinggi tingkat keterbukaannya.

Sistem perpolisian yang lebih terbuka, mau tidak mau, akan lebih
banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan yang lain.
Jika suatu organisasi terbuka dan berinteraksi secara terus
menerus dengan lingkungannya, maka organisasi tersebut akan
lebih tanggap terhadap pengaruh-pengaruh eksternal yang masuk
melalui keterbukaan sistem tersebut. Keterbukaan sistem ini
secara tidak langsung akan menimbulkan tingkat perubahan tidak
terencana yang lebih intensip. Hal ini terjadi karena sistem
organisasi kepolisian tidak memiliki kendali memadai atas
lingkungannya untuk mencegah terjadinya peristiwa seperti itu.

Ironisnya, cara termudah untuk menghindari perubahan-perubahan


yang tidak direncanakan semacam ini adalah dengan
mengesampingkan masukan-masukan dari lingkungan sekitar.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 81
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Tindakan ini memang akan membatasi dorongan untuk berubah.


Namun tindakan ini akan mengubah tingkat keterbukaan sebuah
sistem dan menggesernya menjadi sistem kerja yang lebih
tertutup. Sistem perpolisian tertutup seperti ini dianggap tidak
responsif terhadap masukan dari lingkungan.

Tingkat keterbukaan juga menunjukkan sebuah proses yang


dinamis. Sebagaian interaksi yang terjadi antara sisten dan
lingkungan sekitarnya bisa berjalan sesuai dengan prilaku sistem.
Sebagaian interaksi yang lain tidak sejalan. Contohnya, adalah
tepat jika sistem perpolisian merespon masukan dari Forum
Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) yang bertujuan menurunkan
kejahatan diwilayah tertentu. Namun, tidak tepat jika polisi
merespon permintaan sekelompok anggota masyarakat untuk
mengurangi kegiatan yang melanggar hukum dapat berkembang.

Perubahan yang tidak terencana bisa diperkecil kemungkinan


kemunculannya. Hal ini dilakukan dengan merancang sub-sistem
memantau indikator-indikator utama atau kunci kegiatan
lingkungan. Malalui pemantauan ketat pada indikator-indikator
utama, tak banyak perubahan yang tidak diprediksi muncul sebeb
semua sudah diantisipasi.

Namun demikian, betapapun ketat pemantau yang dilakukan


terhadap lingkungan, organisasi kepolisian tetap bisa menjadi
korban dari perubahan yang tidak terencana.

Sumber perubahan tak terencana antara lain berikut ini :


 Krisis lingkungan yang datang tiba-tiba dan tidak terprediksi
 Perubahan sistem secara internal maupun eksternal, seperti
penurunan kinerja sistem yang biasanya bertahap lalu tiba-
tiba berubah menjadi semakin cepat dengan efek yang
menghancukan, sehingga memaksa adanya perubahan
mendadak
 Adanya faktor psikologis dan sosial atau psikologis yang
secara tiba-tiba dan tidak terduga mempengaruhi anggota
internal atau masyarakat di luar sistem.

3. Pendorong Perubahan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 82
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Sebuah sistem terbuka bertukar sinyal melalui suatu perbatasan


dengan lingkungannya, misalnya melalui sebuah forum yang
dibentuk oleh polisi. Prinsip pertuklaran sinyal tersebut
memunculkan suatui konsep masukan terhadap sistem yng
mendorong dan memotivasi perubahan. Sinyal-sinyal ini dapat
disebut ”pendorong perubahan”.

Adapun sumber atau penyebab perubahan adalah sebagai


berikut :
 Lingkungan.
 Teknis.
 Struktural.
 Psikologis.
 Manajerial.
 Tujuan dan nilai.

Hal-hal berikut ini menunjukan sumber dari tipe-tipe pendorong


utama perubahan yang menjadi masukan bagi sistem perpolisian
dan memulai proses perubahan.

Internal
 Pemotongan biaya.
 Reaksi terhadap kejadian-kejadian yang tidak terduga.
 Beban pekerjaan dan tuntutan yang lebih berat.
 Tren manajemen.
 Teknologi informasi dan implementasi teknologi sejenis.
 Respon atas strategi organisasional, misalnya kualitas
pelayanan atau kinerja yang lebih baik.
 Arahan dari pejabat yang lebih tinggi.
 Visi untuk melakukan sesuai dengan lebih baik.

Eksternal
 Reaksi atas perubahan dilingkungan fisik , misalnya jalan
baru, kompleks, perumahan, kelompok penjahat.
 Kegagalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
 Reaksi atas perubahan didalam lingkungan. Manusia atau
sosial, misalnya perubahan tingkat kejahatan, harapan
masyarakat, norma-norma, nilai-nilai dan lain-lain.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 83
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Reaksi atas perubahan dalam lingkungan politik dan


ekonomi serta tujuan pemerintah.
 Reaksi atas perubahan dalam lingkungan teknologi,
misalnya perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi, pasokan energi dan dimanfaatkannya teknologi
oleh penjahat.

4. Penolakan terhadap Perubahan – Keseimbangan Perubahan

Anggapan bahwa penolakan terhadap perubahan selalu menjadi


fenomena negatif tidaklah tepat, walaupun seringkali dilihat seperti
itu. Semua organisasi, baik swasta maupun pemerintah, memiliki
kebutuhan untuk mengejar berbagai tujuan demi kelangsungan
hidupnya. Satu diantaranya adalah kebutuhan terhadap stabilitas,
yang seharusnya berjalan seimbang dengan kebutuhan akan
perubahan.
Organisasi-organisasi kepolisian menjalankan fungsinnya dalam
lingkungan manusia yang sangat tidak stabil. Seperti kita ketahui,
masyarakat dan pemerintah dapat berubah-ubah dengan cepat,
intens, dan meluas.

Faktor-faktor manusia dan sosial yang berkontribusi terhadap


penolakan untuk berubah merupakan suatu sub-istem psiko-sosial
yang rumit. Elemen-elemennya dapat dikatogorikan seperti
dibawah ini :
 Faktor psikologis.
 Faktor psiko-sosial.
 Biaya yang sudah dikeluarkan.
 Strategi-strategi personal.
 Kebingungan.

4.1.1 Faktor Psikologis

Berikut ini adalah faktor-faktor psikologis utama yang secara


terpisah ataupun dalam bentuk kombinasi dapt menghasilkan
penolakan individu atas perubahan organisasi. Ada banyak kondisi
psikologis yang tidak umum, bahkan tidak normal, yang terjadi
pada manusia yang bisa menghasilkan penolakan untuk berubah

PERPOLISIAN MASYARAKAT 84
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

atau menghambat kemampuan mengenai situasi yang tidak biasa,.


Termasuk dalam kondidi tidak umum ini, antara lain, adalah
ketakutan akut akibat sakit jiwa (psychopathic acute paranoia) dan
schzophrenia.

a. Ketidak pastian. Anggota staf yang tidak mengetahui secara


terperinci apa yang harus dilakukan atau apa yang dituntut
oleh system baru. Mereka dapat menciptakan situasi
dimana perubahan akan ditolak.

Ketidak pastian dapat timbul karena


 Komunikasi internal yang buruk
 Anggota tidak memperhatikan instruksi baru
 Ketidak mampuan atau keengganan untuk memahami apa
yang diminta
 Situasi yang pada dasarnya sudah tidak pasti dan tidak
dapat dibuat lebih pasti

b. Kurang percaya diri, Kurangnya kepercayaan diri seseorang


akan kemampuannya untuk melaksanakan tugas atau
prosedur baru akan menghalangi implementasi perubahan.

Kurangnya kepercayaan diri dapat timbul, karena :


 Kurangnya pelatihan atau komunikasi
 Tidak adanya kesempatan untuk bereksperimen pada
lingkungan yang aman.

c. Kekhawatiran, Kekhawatiran adalah suatu kondisi yang


diperburuk dengan kurangnya kepercayaan diri dan ketidak
pastian yang menghasilkan kegelisahan.

Kondisi ini pada gilirannya dapat menciptakan tingkatan stres yang


tidak dapat diterima dikalangan staf. Manusia biasanya
mengurangi sumber-sumber kekhawatiran. Jika hal ini dipandang
sebagai penghambat perubahan, maka secara selektif perubahan-
perubahan tersebut akan disepelekan atau ditolak

d. Stres, stres adalah suatu kondisi yang berpotensi


menghambat dan membatasi kinerja aktivitas rutin. Kasus

PERPOLISIAN MASYARAKAT 85
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

stres yang berat akan mengakibatkan tidak adanya


kreativitas, hilangnya harga diri, dan tidak dipedulikannya
tantangan baru. Yang bersangkutan akan cenderung tidak
memperdulikan perubahan.

e. Kebingungan, Kebingungan adalah suatu kondisi gangguan


mental sebagai akibat ketidak mampuan untuk
menghubungkan kegiatan masa kini dengan tuntutan-
tuntutan yang baru. Kondisi tersebut kemungkinan
diperburuk oleh kurangnya komunikasi internal atau oleh
kegagalan manajemen menyepakati tujuan yang jelas.

f. Takut, Takut adalah emosi yang ditimbulkan oleh


kemungkinan adanya bahaya yang akan datang. Reaksi
terhadap rasa takut tersebut bisa jadi dihadapi atau
melarikan diri. Ketakutan akan perubahan yang menjelang
tetapi tidak diketahui akan membatasi kinerja dan
menciptakan penolakan atas perubahan dimasa
mendatang. Bahkan sebelum rencananya dibuat.
Diperkenalkannya teknologi baru telah membuktikan
bagaimana beberapa anggota staf melarikan diri dari
kemungkinan mempelajari keterampilan baru.

g. Defresi, Defresi adalah suasana hati seseorang yang


merasa tidak berdaya, terlalu murung, dan tidak cakap. Hal
ini sering kali terkait dengan kondisi fisik dan mental lainnya.
Depresi akan sangat menghambat motivasi seseorang
untuk menjalankan pekerjaannya dan terutama untuk
mengembangkan atau mengimplementasikan perubahan.

4.1.2 Faktor-Faktor Psiko-Sosial

Pada bagian sebelumnya telah diuraikan konsep budaya


organisasi. Pentingnya budaya bagi proses perubahan diakui dan
dikembangkan sebagai target perubahan. Budaya organisasi juga
berperan penting bagi proses perubahan yang bersumber dri
potensi dari orang-orang dalam kelompok yang memiliki nilai yang
sama, baik yang bersifat menerima atau atau menolak perubahan.

4.1.3 Biaya yang Sudah Dikelurakan (sunk cost)

PERPOLISIAN MASYARAKAT 86
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Konsep ‘biaya yang sudah dikeluarkan’ merujuk pada situasi ketika


waktu, uang, dan energi telah diinvestasikan ke dalam sistem yang
ada oleh orang-orang kunci yang berusaha mempertahankan
pengaruh-pengaruh tertentu. Biaya yang sudah dikeluarkan bisa
mencangkup kepentingan tetap (vested interst). Namun, biaya
yang sudah dikeluarkan dapat juga mewakili sejumlah besar
investasi dari sumber-sumber milik pribadi dalam sistem yang ada,
yang dilakukan oleh seorang manajer yang berpengalaman
Akhirnya, apapun manfaat suatu rencana perubahan, seorang
manajer berpengalaman mungkin saja sangat menentang
perubahan karena ia telah mengeluarkan biaya tertentu. Dengan
demikian, usaha-usaha untuk mengubah status quo, baik oleh
konsultan eksternal atapun oleh perubahan (inovator).

4.1.4 Strategi-strategi

Kategori-kategori menunjukan beberapa cara yang bisa digunakan


manajer dalam bentuk strategi pribadi untuk menghindari
perubahan. Apakah cara-cara tersebut berhasil atau tidak, sangat
bergantung pada kondisi psikologis mereka dan sejauh mana
komitmen sang manajer untuk menolak perubahan, baik secara
perorangan atau bersama-sama.
 Menutup Diri
 Melihat kebelakang
 Menganggap enteng
 Tokenisme
 Spesialisasi

4.1.5 Kebingungan

Ketika seorang tidak memahami tujuan, mekanisme, atau


konsekuensi dari perubaha, ia akan memiliki kecenderungan untuk
menolaknya. Oleh karena itu, orang-orang yang terlibat dalam
proses implementasi, terutama pada lini manajer, ingin menjadi
efektif, perlu mengetahui yang harus dicapai.
Terpenting adalah masalah kebingungan atau ketidak pastian
mengenai apa yang akan dihadapi. Tidak adanya pengetahuan
tentang perubahan yang sudah terjadi atau yang hampir terjadi,
kabar burung serta spekulasi mengenai akibat negatifnya hampir
pasti akan berkembang.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 87
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

4.1.6 Dinamika individual

Keragaman individu tentu saja mempengaruhi perubahan dalam


organisasi. Jenis dan intensitas faktor-faktor manusia yang
mempengaruhi proses perubahan telah ditujukan oleh membentuk
sub-sistem psiko-sosial yang rumuit. Kompleksitas makin
bertambah dengan adanya berbagai macam respon individu pada
saat proses perubahan berlangsung dari waktu ke waktu.
Kemajuan respon perorangan inilah yang merupakan respon
dinamika terhadap perubahan.

5. Prinsip-prinsip Pengelolaan Perubahan untuk


Mengimple-mentasikan Perubahan dalam Sistem
Perpolisian
 Komunikasi
 Dukungan manajemen
 Kepemimpinan
 Sasaran Perubahan
 Perubahan paksaan dan Partisipasi
 Tim perubahan

6. Strategi-strategi untuk Mengatasi Penolakan Terhadap


Perubahan
 Pendidikan dan komunikasi
 Konsultasi.
 Partisipasi dan Keterlibatan
 Menyelidiki penolakan terhadap Perubahan
 Fasilitas dan Dukungan
 Negosiasi dan kesepakatan
 Manipulasi dan Kooptasi
 Paksaan Eksplisit dan Implisit

7. Proses Perubahan

a. Tahap 1 : Merencanakn Perubahan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 88
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Fokus pada tujuan


 Kenali tuntutan untuk berubah
 Memilih perubahan yang esensial
 Mengavaluasi tingkat kerumitan
 Merencanakan cara-cara melibatkan orang lain
 Memilih jawaban dan jangka waktu
 Membuat rencana kegiatan
 Mengantisivasi penolakan terhadap perubahan
 Menguji dan memeriksa rencana

b. Tahap 2 : Melaksanakan Perubahan

 Mengkomunikasikan perubahan
 Cara-cara untuk mengkomunikasikan perubahan
 Memberi tugas dan tanggung jawab
 Membangun komitmen
 Mengubah budaya organisasi
 Memberi penolakan

c. Tahap 3 : Mengkonsolidasikan perubahan

 Memantau kemajuan
 Meninjau ulang asumsi yang ada
 Mempertahakan momentum
 Memantapkan perubahan

BAB IX

PERPOLISIAN MASYARAKAT 89
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

PENERAPAN / IMPLEMENTASI POLMAS

Kompetensi Dasar :

Peserta didik memahami langkah-langkah inflementasi Polmas.

Indikator Hasil Belajar :

Setelam mempelajari Bab IX, peserta didik mampu :


1. Mejelaskan FKPM
2. Menjelaskan langkah-langkah penerapan FKPM
3. Menjelaskan tugas FKPM
4. Menjelaskan wewenang FKPM
5. Menjelakskan larangan FKPM
6. Menjelaskan kewajiban FKPM
7. Menyebutkan indikator keberhasilan Polmas

1. Kemitraan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 90
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Kemitraan adalah kunci para mitra dalam perpolisian harus


dibimbing untuk membentuk struktur dan proses yang mendukung
kemitraan dengan polisi. Hal ini penting untuk menjamin
tercapainya pemecahan masalah kejahatan, ketakutan dan ketidak
tertiban secara efisien. Dibentuknya FKPM atau komite polisi dan
masyarakat akan menjamin upaya-upaya yang dilakukan oleh
berbagai bentuk kemitraan.

Mitra diwilayah Polsek akan menyadari besarnya masalah


Kamtibmas dilingkungan mereka. Setelah menyadari hal ini,
mereka akan mengajukan usulan upaya-upaya yang terkoordinasi
untuk memecahkan masalah tersebut dengan efektif dan efisien.
Hal ini dapat dilaksanakan dengan melakukan perencanaan jangka
pendek, menengah, dan panjang.

Perlu ditekankan bahwa FKPM bukanlah Polmas, tapi sebuah


struktur yang dirancang untuk mengembangkan kemitraan
berdasar bentuk dengan struktur yang terukur dan terkontrol.
Pelaksanaan polmas tetap merupakan tanggung jawab setiap
anggota polisi.

2. Langkah-langkah Penerapan Polmas

2.1 Persiapan

 Kapolsek dan staf mengadakan rapat untuk menetukan


desa / kelurahan kawasan yang akan dijadikan tempat
penerapan polmas ( berdasarkan tingkat kerawanan
kejahatan )
 Melakukan penjajakan terhadap kebutuhan warga tentang
penerapan polmas, koordinasi dengan camat / Kades /
Lembaga perwakilan desa.
 Sosialisasi polmas kepada aparat dan tomas desa /
kelurahan atau kawasan oleh Kapolsek atau pejabat yang
ditunjuk.
 Jika masyarakat belum perlu tidak usah dipaksakan.
 Jika masyarakat sepakat, Kapolsek menunjuk petugas
Polmas, jika belum ada mengajukan ke Kapolres.

2.2 Pelaksanaan

PERPOLISIAN MASYARAKAT 91
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

a. Kapolsek dan petugas Polmas mengadakan persiapan


pembentukan FKPM dengan giat.
 Koordinasi dengan camat dan aparat desa setempat untuk
mengadakan sosialisasi polmas kepada warga masyarakat.
 Bersama-sama dengan tokoh / aparat desa / kelurahan /
kawasan melaksanakan pertemuan persiapan
pembentukan.

b. Kapolsek dan petugas polmas memfasilitasi pembentukan


FKPM dengan acara :
 Pembukaan
 Penjelasan tentang polmas
 Pemilihan anggota FKPM
 Pemilihan pengurus
 Do’a
 Punutup

2.3 Penentuan unsur-unsur FKPM berdasarkan perwakilan


yang ada

2.4 Penunjukan anggota atas dasar sukarela, dengan jumlah


anggota 10 – 20 orang

2.5 Pemilihan anggota dihindari pendekatan formal/politis

2.6 Kedudukan petugas polmas sebagai pengurus FKPM, tidak


mengurangi perannya sebagai petugas polri.

2.7 Penentuan tempat kegiatan sebelum BKPM (Balai


Kemitraan Polisi dan Masyarakat.

2.8 Penyusunan AD / ART jika perlu

2.9 Pelantikan pengurus FKPM oleh Camat / Kapolsek / Kades /


Lurah

PERPOLISIAN MASYARAKAT 92
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

3. Pengertian FKPM

 FKPM adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat


independen.
 FKPM dapat disebut dengan nama dan istilah lain atau
bahasa daerah tertentu atas dasar kesepakatan setempat.
 FKPM di bangun atas dasar kesepakatan bersama.

Adapun Model – model polmas yang dikembangkan dan


diterapkan di Indonesia :
 Modifikasi Pranata Sosial dan pola Perpolisian masyarakat
tradisional (Model A).
 Intensifikasi fungsi polri di bidang pembinaan masyarakat
(Model B).
 Penyesuaian Model Community Policing dari negara –
negara lain (Model C).

4. Tugas FKPM

 mengumpulkan data dan mengidentifikasi permasalahan


(deteksi).
 Ikut serta mengambil langkah-langkah yang proporsional
dalam rangka pelaksanaan fungsi kepolisian umum.
 Membahas permasalahan sosial aspek kamtibmas dalam
wilayah.
 Membahas dan menetapkan program kerja.
 Menindak lanjuti program kerja.
 Pantau pelaksanaan giat warga/situasi kamtibmas (wilayah
lain).
 Tampung/bahas/cari jalan keluar keluhan warga.
 Tampung/bahas/Salurkan keluhan warga (masalah sosial
lain).

5. Wewenang FKPM

 Membuat kesepakatan tentang hal-hal yang perlu dilakukan


dalam upaya mengidentifikasi dan mewujudkan kebutuhan
rasa aman dilingkungannya.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 93
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Secara kelompok atau perorangan dapat mengambil


tindakan kepolisian terbatas (tidak melakukan tindakan
Kepolisian contoh : upaya paksa).
 Memberikan pendapat dan saran kepada Kapolsek baik
tertulis maupun lisan.
 Menegakkan peraturan local (berkaitan dengan norma atau
kaidah yang berlaku dilingkungan masyarakat tersebut
contoh : bertamu tidak boleh lebih dari 24 jam, wajib lapor
kepada ketua RT).

Hak FKPM
Mendapatkan fasilitas baik materil maupun non materil sesuai
yang ditetapkan atau disepakati forum.

6. Kewajiban FKPM

Sama seperti kewajiban petugas (kecuali kode etik polri).

7. Larangan FKPM

 Membentuk suatu satuan tugas.


 Menggunakan atribut dan emblem (lambang/symbol) Polri.
 Tanpa bersama petugas Polmas, menangani penyelesaian
kasus-kasus kejahatan dan pelanggaran.
 Melakukan tindakan kepolisian (upaya paksa) terhadap
kasus kejahatan (kec. Tertangkap tangan).
 Mengatasnamakan atau mengkait-kaitkan hubungan
Polmas / FKPM dalam melakukan politik praktis.

8. Indikator Keberhasilan Polmas

 Intensitas giat forum.


 Puan forum temukan dan identifikasi akar masalah.
 Puan petugas Polmas dalam menyelesaikan masalah.
 Puan akomodasi/tanggapi keluhan masyarakat.
 Intensitas dan ekstensitas kunjungan warga oleh petugas
Polmas.
 Menurunkan angka kejahatan.
 Kebersamaan dan kepuasan masyarakat.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 94
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

 Menurunkan komplain masyarakat.

PERPOLISIAN MASYARAKAT 95